You are on page 1of 17

Bab II

Tinjauan Pustaka

2.1 Tinjauan Teori


2.1.1 Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah terhadap dinding
pembuluh darah dan ditimbulkan oleh desakan darah terhadap dinding arteri ketika
darah tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Besar tekanan bervariasi tergantung
pada pembuluh darah dan denyut jantung. Tekanan darah paling tinggi terjadi ketika
ventrikel berkontraksi (tekanan sistolik) dan paling rendah ketika ventrikel berelaksasi
(tekanan diastolik).1 Terdapat dua macam kelainan tekanan darah, antara lain yang
dikenal sebagai hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah
rendah. Hipertensi telah menjadi penyakit yang menjadi perhatian di banyak Negara di
dunia, karena hipertensi seringkali menjadi penyakit tidak menular nomor satu di
banyak negara.2,3

2.1.1.1 Fisiologi Tekanan Darah


Tekanan darah berarti daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan
luas dinding pembuluh darah yang hampir selalu dinyatakan dalam milimeter air raksa.
Tekanan darah merupakan faktor yang amat penting pada sistem sirkulasi. Peningkatan
atau penurunan tekanan darah akan mempengaruhi homeostasis di dalam tubuh.10-12
Tekanan darah selalu diperlukan untuk daya dorong mengalirnya darah di dalam arteri,
arteriola, kapiler dan sistem vena, sehingga terbentuklah suatu aliran darah yang
menetap. Tekanan darah diatur melalui beberapa mekanisme fisiologis untuk menjamin
aliran darah ke jaringan yang memadai. Tekanan darah ditentukan oleh curah jantung
(cardiac output, CO) dan resistensi pembuluh darah terhadap darah. Curah jantung
adalah volume darah yang dipompa melalui jantung per menit, yaitu isi sekuncup
(stroke volume, SV) x laju denyut jantung (heart rate, HR).13
Resistensi merupakan hambatan aliran darah dalam pembuluh, tetapi tidak
dapat diukur secara langsung dengan cara apapun. Resistensi bergantung pada tiga
faktor, yaitu viskositas (kekentalan) darah, panjang pembuluh, dan jari-jari
pembuluh.14-15 Aliran darah yang mengalir di sirkulasi dalam periode waktu tertentu,
secara keseluruhan adalah 5000 ml/menit pada sirkulasi total orang dewasa dalam
keadaan istirahat. Aliran darah ini disebut curah jantung karena merupakan jumlah

5
darah yang dipompa ke aorta oleh jantung setiap menitnya. Kecepatan aliran darah
yang melalui seluruh sistem sirkulasi sama dengan kecepatan pompa darah oleh jantung
yakni, sama dengan curah jantung. Isi sekuncup jantung dipengaruhi oleh tekanan
pengisian (preload), kekuatan yang dihasilkan oleh otot jantung, dan tekanan yang
harus dilawan oleh jantung saat memompa (afterload). Normalnya, afterload
berhubungan dengan tekanan aorta untuk ventrikel kiri, dan tekanan arteri untuk
ventrikel kanan. Afterload meningkat bila tekanan darah meningkat, atau bila terdapat
stenosis (penyempitan) katup arteri keluar. Peningkatan afterload akan menurunkan
curah jantung jika kekuatan jantung tidak meningkat. Baik laju denyut jantung maupun
pembentukan kekuatan, diatur oleh sistem saraf otonom.13
Tekanan darah rata-rata menurun secara progresif di sepanjang sistem arteri.
Penurunan biasanya tajam pada arteri terkecil dan arteriol (diameter <100 μm), karena
pembuluh memberikan resistensi terbesar terhadap aliran. Jantung memompa darah
secara kontinyu ke dalam aorta, sehingga tekanan rata-rata di aorta menjadi tinggi, rata-
rata sekitar 100 mmHg. Demikian juga, karena pemompaan oleh jantung bersifat
pulsatil, sebagai akibat pengosongan ritmik ventrikel kiri, tekanan arteri berganti-ganti
antara nilai tekanan sistolik 120 mmHg dan nilai tekanan diastolik 80 mmHg.12
Pada orang dewasa sehat, tekanan pada puncak setiap pulsasi, yang disebut
tekanan sistolik, adalah sekitar 120 mmHg. Pada titik terendah setiap pulsasi, yang
disebut tekanan diastolik, nilainya sekitar 80 mmHg. Perbedaan nilai antara kedua
tekanan ini sekitar 40 mmHg, yang disebut tekanan nadi. Dua faktor utama yang
memengaruhi tekanan nadi : (1) curah isi sekuncup dari jantung, dan (2) komplians
(distensibilitas total) dari percabangan arteri. Tekanan nadi pada orang lanjut usia
kadang-kadang meningkat sampai dua kali nilai normal, karena arteri menjadi lebih
kaku akibat arteriosklerosis dan karenanya, arteri relatif tidak lentur. Beberapa pusat
yang mengawasi dan mengatur perubahan tekanan darah, yaitu12 :
1. Sistem syaraf yang terdiri dari pusat-pusat yang terdapat di batang otak,
misalnya pusat vasomotor dan diluar susunan syaraf pusat, misalnya
baroreseptor dan kemoreseptor.
2. Sistem humoral atau kimia yang dapat berlangsung lokal atau sistemik,
misalnya renin-angiotensin, vasopressin, epinefrin, norepinefrin, asetilkolin,
serotonin, adenosin dan kalsium, magnesium, hidrogen, kalium, dan
sebagainya.

6
3. Sistem hemodinamik yang lebih banyak dipengaruhi oleh volume darah,
susunan kapiler, serta perubahan tekanan osmotik dan hidrostatik di bagian
dalam dan di luar sistem vaskuler.

2.1.1.2 Faktor Resiko yang Mempengaruhi Tekanan Darah


a) Usia
Tekanan darah erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang
semakin besar risiko terserang hipertensi. Kategori Umur Menurut Depkes RI
(2009) Masa balita 0 - 5 tahun, kanak-kanak 5 - 11 tahun, remaja awal 12 - 16
tahun, remaja akhir 17 - 25 tahun, dewasa awal 26- 35 tahun, dewasa akhir 36-
45 tahun, lansia awal 46- 55 tahun, lansia akhir 56 - 65 tahun, manula > 65
tahun.15 Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang – orang berusia
diatas 40 tahun, namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh
orang usia muda. Sebagian besar hipertensi primer terjadi pada usia 25-45
tahun dan hanya pada 20% terjadi dibawah usia 20 tahun dan diatas 50 tahun.
Hal ini disebabkan karena orang pada usia produktif jarang memperhatikan
kesehatan, seperti pola makan dan pola hidup yang kurang sehat seperti
merokok. Ditemukan kecenderungan peningkatan prevalensi menurut
peningkatan usia dan biasanya pada usia ≥ 40 tahun. Pada saat terjadi
penambahan usia sampai mencapai tua, terjadi pula risiko peningkatan
penyakit yang meliputi kelainan syaraf, kejiwaan, kelainan jantung dan
pembuluh darah serta berkurangnya fungsi panca indera dan kelainan
metabolism pada tubuh.1,16
Hasil analisis mendapatkan faktor umur mempunyai risiko terhadap
hipertensi. Semakin meningkat umur responden semakin tinggi risiko
hipertensi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian lainnya yaitu, penelitian
Zamhir Setiawan yang menemukan bahwa prevalensi hipertensi makin
meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 25-44 tahun
prevalensi hipertensi sebesar 29%, pada umur 45-64 tahun sebesar 51% dan
pada umur >65 Tahun sebesar 65%. Penelitian Hasurungan pada lansia
menemukan bahwa dibanding umur 55-59 tahun, pada umur 60-64 tahun
terjadi peningkatan risiko hipertesi sebesar 2,18 kali, umur 65-69 tahun 2,45
kali dan umur >70 tahun 2,97 kali. Tingginya hipertensi sejalan dengan
bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah

7
besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah
menjadi kaku, sebagai akibat adalah meningkatnya tekanan darah sistolik.5

b) Jenis Kelamin
Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat
angka yang cukup bervariasi. Dari laporan Riskesdas tahun 2007,
perbandingan persentase hipertensi pada laki-laki sebesar 30,4% dan
hipertensi pada perempuan sebesar 31,5%. Pada penelitian Aris Sugiarto,
analisis bivariat jenis kelamin perempuan sudah tidak terbukti sebagai faktor
risiko hipertensi dengan nilai p = 0,31; OR = 0,79 dan 95% CI = 0,51 – 1,24.
Setelah dianalisis secara bersama- sama dalam analisis multivariat, jenis
kelamin perempuan juga tidak terbukti sebagai faktor risiko hipertensi.4,7
Beberapa ahli masih mempunyai kesimpulan berbeda tentang hal ini. Bila
ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang
cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka
prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Prevalensi di Sumatera
Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di
Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita. Ahli lain
mengatakan pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan wanita
dengan rasio sekitar 2,29 mmHg untuk peningkatan darah sistolik.5
Sedangkan menurut Arif Mansjoer, dkk, pria dan wanita menapouse
mempunyai pengaruh yang sama untuk terjadinya hipertensi. Menurut MN.
Bustan bahwa wanita lebih banyak yang menderita hipertensi dibanding pria,
hal ini disebabkan karena terdapatnya hormon estrogen pada wanita. Hal
tersebut kemungkinan juga disebabkan variabel jenis kelamin perempuan
dipengaruhi oleh variabel lain yang lebih kuat sebagai faktor risiko
hipertensi.1,17 Tingginya risiko pria untuk mengalami hipertensi sebagaimana
yang ditemukan dari hasil analisis ini, sejalan dengan temuan Zambir
Setiawan. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan hipertensi dari pada
wanita, seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat (merokok dan konsumsi
alkohol), depresi dan rendahnya status pekerjaan, perasaan kurang nyaman
terhadap pekerjaan dan pengangguran.5

8
c) Status Gizi
Kegemukan (obesitas) merupakan ciri khas dari populasi hipertensi,
dan dibuktikan bahwa faktor ini memiliki kaitan erat dengan terjadinya
hipertensi di kemudian hari. Semakin besar massa tubuh, makin banyak darah
yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini
berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri.
Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar
insulin dalam darah. Berat badan dan IMT berkorelasi langsung dengan
tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Peningkatan insulin
menyebabkan tubuh menahan natrium dan air. Untuk mengetahui seseorang
memiliki berat badan yang berlebih atau tidak, dapat dilihat dari perhitungan
BMI (Body Mass Index) atau Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks massa tubuh
diukur dengan berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam
meter kuadrat, dikategorikan sebagai kurus IMT ≤18,4, normal IMT 18,5 –
25,0, gemuk IMT ≥ 25,1.18,19
Menurut Utoyo (1996) dalam Suryati 2005, hubungan tekanan darah
dengan berat badan, lebih nyata untuk tekanan sistolik daripada tekanan
diastolik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang bermakna
antara IMT dengan hipertensi (p < 0,05). Pada penderita hipertensi ditemukan
sekitar 20-30 % memiliki berat badan lebih. Salah satu faktor risiko hipertensi
yang dapat dikontrol adalah obesitas. Risiko hipertensi pada seseorang yang
mengalami obesitas adalah 2 hingga 6 kali lebih tinggi dibanding seseorang
dengan berat badan normal (Muniroh, Wirjatmadi, 2007). Berdasarkan hasil
penelitian diketahui bahwa ada 76,9% responden hipertensi yang memiliki
IMT yang menunjukan gizi lebih (obesitas) dan 6,1% yang memiliki IMT
yang menunjukan gizi tidak lebih atau normal. Penelitian ini menunjukkan
adanya hubungan antara berat badan dengan hipertensi. Bila berat badan
meningkat diatas berat badan ideal maka risiko hipertensi juga meningkat.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian Framingham yang menunjukan bahwa
orang yang obesitas akan mengalami peluang hipertensi 10 kali lebih besar.1,6

9
d) Aktifitas Fisik atau Olahraga
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi, karena
olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang akan
menurunkan tekanan darah. Olahraga juga dikaitkan dengan peran obesitas
pada hipertensi. Kurang melakukan olahraga akan meningkatkan
kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah akan
memudahkan timbulnya hipertensi. Kurangnya aktifitas fisik meningkatkan
risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan.
Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung
yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada
setiap kontraksi. Makin keras dan sering otot jantung harus memompa, makin
besar tekanan yang dibebankan pada arteri.7 Frekuensi olahraga yang baik
yaitu bila seseorang melakukan olahraga dalam waktu seminggu dilakukan 3-5
kali dan dilakukan secara teratur dengan intensitas yang sedang dapat
menurunkan tekanan darah. rekuensi dan intensitas yang dilakukan harus
sesuai dengan atau petunjuk yang benar seperti berolahraga dengan durasi 30-
60 menit dan frekuensi dilakukan 3-5 kali dalam seminggu dengan intensitas
sedang dapat menurunkan tekanan darah pasien hipertensi.20
Menurut penelitian yang dilakukan Arza dkk, proporsi responden yang
mengalami kejadian hipertensi dengan tingkat aktivitas rendah lebih tinggi
yaitu sebesar 40,2% dibandingkan dengan jumlah responden yang memiliki
tingkat aktivitas tinggi yaitu sebesar 11,7%. Dari pengolahan data dengan uji
chi-square didapat nilai P = 0,003. Ini berarti bahwa ada hubungan yang
bermakna antara tingkat aktivitas dengan kejadian hipertensi pada orang
dewasa. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Amani (2012) yang
mendapatkan hasil penelitian bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
aktivitas fisik dengan kejadian hipertensi yaitu sebesar 81,5%. Hal ini sesuai
dengan pendapat Susalit bahwa olahraga lebih banyak dihubungkan dengan
pengelolaan hipertensi, karena olah raga yang teratur dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Demikian juga dengan
Purwati yang mempunyai pendapat yang sama, bahwa orang yang kurang aktif
melakukan olahraga pada umumnya cenderung mengalami kegemukan. Selain
itu, olahraga juga dapat menghilangkan stress yang merupakan salah satu
faktor yang menunjang terjadinya hipertensi.8

10
e) Riwayat Merokok
Merokok menyebabkan peningkatan tekanan darah (sistolik dan
diastolik) dan frekuensi denyut jantung selama 15 menit setelah merokok
dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Walaupun merokok telah
diketahui meningkatkan resiko penyakit hipertensi, sampai saat ini belum
diketahui bila berhenti merokok dapat menurunkan tekanan darah. Seseorang
dikatakan perokok bila telah merokok setelah 6 bulan sejak dimulainya
merokok. Hubungan antara rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler
telah banyak dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar
tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseoramg lebih dari satu
pax rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang
tidak merokok. Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida
yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak
lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses
aterosklerosis dan hipertensi.21
Berdasarkan hasil uji statistik antara kebiasaan merokok dengan
tekanan darah didapat ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok
dengan tekanan darah(p = 0,000) sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Siburain (2004). Menurut literatur, nikotin dan karbondioksida yang
terkandung dalam rokok akan merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri,
elastisitas pembuluh darah berkurang sehingga menyebabkan tekanan darah
meningkat (Depkes,2007). Mekanisme ini menjelaskan mengapa responden
yang merokok setiap hari memiliki risiko untuk menderita hipertensi.1
f) Riwayat Hipertensi dalam Keluarga
Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan)
juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama pada hipertensi primer.
Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko
hipertensi 2-5 kali lipat. Menurut Sheps, hipertensi cenderung merupakan
penyakit keturunan. Jika seorang dari orang tua kita mempunyai hipertensi
maka sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan mendapatkannya
pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita
mendapatkan penyakit tersebut 60%. Pada peneitian Aris S, riwayat keluarga
dengan hipertensi atau keturunan terbukti sebagai faktor risiko terjadinya
hipertensi, dengan nilai p = 0,0001,OR adjusted = 4,04 dan 95% CI = 1,92 –

11
8,47. Hal tersebut berarti bahwa orang yang orang tuanya (ibu, ayah, nenek
atau kakek) mempunyai riwayat hipertensi, berisiko terkena hipertensi sebesar
4,04 kali dibandingkan orang yang orang tuanya tidak menderita hipertensi.7
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Julia Hippisley-Cox
dkk, yang menyatakan bahwa riwayat keluarga dengan hipertensi memberikan
risiko 3,38 kali terhadap kejadian hipertensi. Peran faktor genetik terhadap
timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi
lebih banyak pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot
(berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi
primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi,
bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan
dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala. 7

2.1.2 Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah
sistolik diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg yang memberi gejala
berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga bisa menyebabkan kerusakan lebih
berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi),
penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta
penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Selain penyakit
tersebut dapat pula menyebabkan gagal ginjal, diabetes mellitus dan lain-lain.2 Menurut
data WHO 2011, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi
mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi 29,2% di tahun
2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di Negara maju dan 639
sisanya berada di Negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Jumlah penderita
hipertensi esensial sebesar 90-95%, sedangkan jumlah penderita hipertensi sekunder
sebesar 5-10%.1,4

2.1.2.1 Klasifikasi Hipertensi


Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi,
hipertensi derajat 1, dan derajat 2 (Tabel 2.1).3,22

12
Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII.22

2.1.2.2 Etiologi Hipertensi


Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam.
Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau
hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di
kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab
yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi
sekunder, endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat
diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.1,3
1. Hipertensi primer (essensial)
Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi
essensial (hipertensi primer). Literatur lain mengatakan, hipertensi essensial
merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi. Beberapa mekanisme yang
mungkin berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi,
namun belum satupun teori yang tegas menyatakan patogenesis hipertensi
primer tersebut. Hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga, hal ini
setidaknya menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting
pada patogenesis hipertensi primer. Menurut data, bila ditemukan gambaran
bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai
kecenderungan timbulnya hipertensi essensial. Banyak karakteristik genetik
dari gen-gen ini yang mempengaruhi keseimbangan natrium, tetapi juga di
dokumentasikan adanya mutasi-mutasi genetik yang merubah ekskresi
kallikrein urine, pelepasan nitric oxide, ekskresi aldosteron, steroid adrenal,
dan angiotensinogen.
2. Hipertensi sekunder
Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari
penyakit komorbid atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan
darah. Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis
atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering.

13
Obat-obat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan
hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah.
Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan
obat yang bersangkutan atau mengobati / mengoreksi kondisi komorbid yang
menyertainya sudah merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi
sekunder.

2.1.2.3 Patofisiologi Hipertensi


Tekanan darah dipengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain volume
intravaskular, sistem saraf otonom, dan renin angiotensin aldosteron sistem. Volume
vaskular memegang peranan penting dalam tekanan darah. Peningkatan volume darah
dalam tubuh menyebabkan peningkatan kardiak output. Tekanan darah arteri
dipengaruhi oleh kardiak output dan resistensi perifer. Kardiak output sendiri
dipengaruhi oleh frekuensi nadi dan curah jantung. Resistensi perifer dipengaruhi oleh
struktur vaskular. Pada sistem saraf otonom, terdapat dua eseptor adrenergik yang
berpengaruh terhadap tekanan darah yaitu reseptor α dan reseptor β yang terdiri dari α1,
α2, β1, dan β2. Reseptor α1 terletak di postsinaps otot halus dan dapat menimbulkan
vasokontriksi. Reseptor α2 terletak di presinaps saraf postganglionik yang memproduksi
norepinefrin. Aktifasi dari reseptor β1 di miokardial menstimulasi frekuensi jantung dan
kekuatan kontraksi jantung. Aktifasi dari reseptor β2 merelaksasi otot polos pada
pembuluh darah dan menyebabkan vasodilatasi. 2,3
Pada sistem renin angiotensin aldosteron memegang peranan pada
vasokonstriksi pembuluh darah. Renin terbanyak diproduksi oleh arteriol aferen.
Prorenin diproduksi ke dalam sirkulasi dan berifat seperti renin. Terdapat 3 macam
stimulus dari sekresi renin yaitu penurunan transport NaCl pada lengkung henle pars
ascenden, penurunan tekanan arteriol afferen renal, dan stimulus saraf simpatis melalui
reseptor β1. Angiotensin diubah menjadi angiotensin I oleh renin, angiotensin 1 diubah
menjadi angiotensin II oleh ACE-Kinase, angiotensin II memproduksi aldosteron.
Aldosteron merupakan mineralokortikoid poten yang meningkatkan reabsorpsi sodium
pada korteks renal. Pada penelitian hewan, kadar aldosteron yang tinggi menyebabkan
fibrosis kardiak dan hipertrofi ventrikel kiri.2,3

14
2.1.3 Hipotensi
Hipotensi adalah keadaan dimana tekanan darah sistolik dibawah 100 mmHg dan
tekanan diastolik dibawah 60 mmHg. Hipotensi terjadi ketika terdapat ketidakseimbangan
antara kapasitas vaskular dan volume darah (pada hakikatnya darah terlalu sedikit untuk
mengisi pembuluh) atau ketika jantung terlalu lemah untuk mendorong darah. Ketika tekanan
darah turun sedemikian rendah sehingga aliran darah ke jaringan tidak adekuat maka keadaan
ini disebut syok sirkulasi.23

2.1.3.1 Klasifikasi Hipotensi


1. Hipotensi Postural
Hipotensi postural merupakan jenis hipotensi yang mendadak karena
perubahan posisi tubuh, biasanya pada saat sedang berdiri dari posisi duduk
atau dari posisi berbaring. Tekanan darah turun karena jantung tidak dapat
memompa cukup darah sehingga terjadi kekurangan oksigen di otak. Kondisi
ini paling umum terjadi pada lansia disebabkan oleh mekanisme fisiologis
yang terlambat, yang normalnya mengompensasi perubahan postur tubuh.12,23
2. Hipotensi Postprandial
Hipotensi postprandial merupakan jenis hipotensi yang mendadak
setelah mengkonsumsi makanan. Setelah makan, darah mengalir cepat
kesaluran pencernaan, dan untuk mengkompensasi penurunan mendadak
dalam pembuluh, laju detak jantung meningkat dan beberapa pembuluh darah
menyempit.
3. Hipotensi karena saraf
Dalam kondisi normal, jika anda berdiri atau berjalan selama jangka
waktu tertentu, gaya gravitasi menarik darah ke ujung-ujung bagian bawah
tubuh anda, yang menyebabkan tekanan darah turun. Pada sebagian orang
suplai darah tidak dapat terpenuhi karena adanya masalah komunikasi pada
sistem syaraf yang menyampaikan perintah dari otak kepada jantung, sehingga
jantung tidak segera meningkatkan laju detaknya dan terjadilah ketidak-
seimbangan sirkulasi darah.
4. Hipotensi Akut
Hipotensi yang munculnya tiba-tiba dengan faktor pencetus. Hipotensi
jenis ini merupakan hipotensi yang berbahaya di bandingkan jenis lainnya,

15
karena di sebabkan oleh menurunnya tekanan darah seseorang secara tiba-
tiba.12,23

2.1.3.2 Etiologi Hipotensi


Terjadinya tekanan darah rendah di pengaruhi 3 hal, apabila sesuatu atau ke tiganya
mengalami gangguan penurunan maka tekanan darah akan turun.23
1. Volume curah jantung, yakni kekuatan otot jantung untuk menguncup
mengeluarkan darah dari rongga otot jantung ke seluruh tubuh.
2. Frekuensi nadi yaitu berapa kali jantung berdenyut dalam satu menitnya.
Semakin tinggi heart rate, semakin tinggi pula tekanan darah.
3. Tegangan perifer atau tegangan kekakuan pembuluh darah. Makin kaku
pembuluh darah, makin tinggi tekanan darah. Demikian juga sebaliknya makin
lembek pembuluh darah maka tekanan darah akan semakin rendah.

2.1.4 Daging Merah


Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan produk hasil pengolahan
jaringan-jaringan tersebut yang dapat dikonsumsi sebagai makanan tanpa menimbulkan
gangguan kesehatan bagi yang mengkonsumsinya. Organ-organ seperti hati, ginjal, jantung,
paru–paru, otak, limpa, pankreas dan jaringan otot termasuk ke dalamnya. Walaupun
demikian, secara umum, jika disebutkan daging, biasanya hubungannya dengan jaringan otot
hewan. Pembahasan diarahkan pada daging yang berasal dari jaringan otot.10 Dari fisiknya,
daging bisa kita kelompokkan menjadi daging merah (contohnya daging sapi, babi, kambing,
domba, kuda, kerbau), daging unggas (ayam, itik, bebek, angsa dan kalkun), seafood (daging
dari hewan perairan terutama ikan, juga daging kerang, udang, lobster, kepiting dan lainnya)
dan daging hewan buruan (hewan liar). Jenis daging yang umum dikonsumsi adalah daging
sapi, kambing, domba, babi, ayam, bebek, itik, dan ikan. Sementara daging dari beberapa
24,25
jenis hewan lainnya dikonsumsi oleh kalangan terbatas.
Belakangan banyak dilaporkan bahwa konsumsi daging bisa meningkatkan resiko
penyakit kardiovaskuler dan kanker kolon, yang menyebabkan timbulnya persepsi negatif
terhadap peran daging terhadap kesehatan. Komponen daging yang disebut-sebut
bertanggung jawab terhadap terjadinya penyakit-penyakit ini adalah kadar lemak dan
komposisi asam lemaknya. Di Indonesia daging kambing adalah satu makanan favorit
terutama sate kambing. Daging kambing yang dikonsumsi memang bisa menyebabkan
tekanan darah seseorang menjadi tinggi, apalagi jika orang tersebut sudah memiliki riwayat

16
hipertensi (tekanan darah tinggi). Naiknya tekanan darah ini kandungan kalium pada daging
sapi lebih tinggi daripada daging kambing, dan kandungan natrium lebih tinggi pada daging
kambing daripada daging sapi yang mengakibatkan GFR dan aliran darah ginjal meningkat
20-30% setelah seseorang makan daging dengan protein tinggi.24,26

2.1.4.1 Hubungan Daging Merah terhadap Tekanan Darah


Hipertensi sering ditemukan pada orang yang mengkonsumsi daging
merah dan jarang ditemukan pada orang yang mengkonsumsi sayuran. Pada
penelitian Appleby PN dibedakan menurut prevalensi yang mengkonsumsi
daging merah, daging ikan, sayuran, dan vegan sebesar 15,0%, 9,8%, 9,8%,
dan 5,8% untuk laki-laki dan 12,1%, 9,6%, 8,9%, dan 7,7% untuk
perempuan.10 Energi yang terdapat dalam makanan dibagi sesuai dengan
konsumsi daging merah yang telah diproses dan belum diproses yang
dikategorikan dengan 1, 1 - 2,9, 3 - 4,9, dan lebih dari 5 porsi / minggu. untuk
daging merah yang belum di proses sama dengan 100 gram /porsi. untuk
daging merah yang sudah diproses dianggap sebanyak 50 gram / porsi.11
Dari studi Lajous M tersebut diperoleh bahwa wanita yang
mengonsumsi ≥5 porsi olahan daging merah per minggu (1 porsi = 50 gram)
memiliki risiko hipertensi 17% lebih tinggi daripada wanita yang
mengonsumsi <1 porsi per minggu (HR: 1,17, 95% CI: 1,09 s/d 1,26 ; P =
0.0002). Tidak ada hubungan yang diamati antara konsumsi daging merah
yang belum diproses (non-olahan) dan hipertensi. Wanita yang mengonsumsi
daging merah yang belum diproses ≥5 porsi per minggu (1 porsi = 100 gram)
dengan wanita yang mengonsumsi daging merah non-olahan <1 porsi per
minggu, multivariat HR menunjukkan sebesar 0,99 (95% CI: 0,91 s/d 1,08, P =
0,63).11
Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan asupan daging merah
dengan 103 g / hari dikaitkan dengan peningkatan 1,25 mmHg dan 0,73
mmHg tekanan darah sistolik dan diastolik, masing-masing. Sebuah studi
Turki yang meneliti faktor risiko kardiovaskular perkotaan dan pedesaan juga
melaporkan bahwa daging merah berhubungan positif dengan risiko hipertensi.
Konsumsi daging merah berbeda diantara berbagai negara. konsumsi daging
merah terendah ditemukan pada china sebanyak 24 gram / 24 jam dan
prevalensi tertinggi tidak mengkonsumsi daging merah sebesar 26%. Rata -

17
rata konsumsi daging merah di jepang sebesar 39 gram / 24 jam, 91 gram / 24
jam di Inggris, dan 76 gram / 24 jam di Amerika Serikat. kosumsi daging
merah secara positif berhubungan denagan tekanan darah sistolik dan
diastolik. Peningkatan konsumsi daging merah sebesar 103 gram / 24 jam
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 1,25 mmhg
dan tekann darah diastolik sebesar 0,73 mmHg. Salah satu contoh daging
merah adalah daging sapi. Konsumsi daging sapi sebanyak 75 gram / 24 jam
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah sistolik sebesar 0.90 mmHg
dan tekanan darah diastolik 0.50 mmHg. Penelitian konumsi daging merah
terhadap tekanan darah dilakukan dengan metode penelitian subcohort dengan
jumlah sampel sebanyak 2238 orang.26

2.1.4.2 Komponen Nutrisi dalam Daging Merah


1. Protein
Protein adalah komponen solid terbesar didalam daging, sehingga
daging dapat dikatakan sebagai makanan sumber protein. Protein yang
dikandung oleh daging merupakan protein yang sempurna dalam arti mereka
mensuplai semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh dan mudah
dicerna. Daging bukan merupakan makanan sumber karbohidrat. Secara
umum, daging hanya mengandung karbohidrat dalam bentuk glikogen sekitar
0.5 – 1.0%.27
2. Vitamin
Dari kandungan vitaminnya, daging merah dan daging unggas
merupakan sumber vitamin B kompleks yang sangat baik, terutama tiamin,
riboflavin, niasin, vitamin B6, B12 dan folacin. Ikan (terutama ikan yang
kandungan lemaknya tinggi) dan minyak ikan adalah sumber dari vitamin larut
lemak seperti vitamin A dan D, selain juga mengandung vitamin E dan K. Dari
kelompok vitamin yang larut air, maka tiamin, niasin dan riboflavin terdapat
dalam jumlah yang relatif tinggi.
3. Mineral
Daging merah merupakan sumber yang baik untuk semua mineral,
kecuali kalsium. Dibandingkan dengan zat besi dan seng yang terdapat
didalam bahan pangan nabati, maka zat besi dan seng dalam daging merah
lebih mudah diabsorpsi. Kandungan mineral daging unggas mirip dengan

18
daging merah, tetapi dalam jumlah yang relatif lebih rendah. Sementara itu,
kalsium merupakan komponen utama didalam daging ikan terutama ikan-ikan
kecil yang dikonsumsi bersama-sama tulangnya.
4. Lemak, asam lemak, kolesterol dan nilai kalorinya
Kadar lemak produk daging bervariasi sangat luas tergantung pada
berbagai faktor seperti spesies, pakan, jenis potongan, seberapa besar
penghilangan lemak yang dilakukan selama proses pengolahan. Sekarang ini,
kadar lemak didalam daging merah yang rendah lemak (lean meat) ada yang
kurang dari 5% sehingga tidak bisa dikatakan sebagai makanan berenergi
tinggi. Secara umum, kandungan lemak didalam daging merah (yang sudah
dibuang lemak bawah kulit/lemak subkutannya) relatif lebih tinggi daripada
unggas ataupun seafood.
Pada daging merah yang lemak visualnya sudah dibuang, kandungan
lemaknya masih tetap bervariasi tergantung pada kandungan lemak marbling
didalam daging. Daging dengan lemak marbling yang lebih besar otomatis
akan lebih tinggi kandungan lemaknya. Marbling adalah istilah populer untuk
lemak intramuskuler, yakni lemak yang secara visual terlihat sebagai butiran
lemak putih yang tersebar diantara serat-serat daging. Jika lemak sub-kutan
dan lemak yang terletak antar otot daging bisa dibuang, maka lemak marbling
tidak. Sehingga, untuk memilih daging yang berlemak rendah, maka pilihlah
daging yang lemak marblingnya sedikit.27

2.1.4.3 Kandungan dan Sumber Carnitine dalam Daging Merah


Carnitine merupakan sebuah substansi yang berasal dari asam amino
esensial metionin dan lisin yang memiliki sifat seperti vitamin tapi tidak bisa
dikategorikan sebagai vitamin. Fungsi Carnitine adalah untuk membantu
transportasi asam lemak melewati membran mitokondria (pusat produksi
energi pada tingkat sel) yang mengubah cadangan lemak yang ada di dalam
tubuh menjadi energi. Meskipun tubuh juga bisa membuatnya, proses produksi
Carnitine sangat kompleks yang melibatkan sejumlah vitamin, mineral, dan
asam amino. Carnitine merupakan faktor penting dalam metabolisme lemak.
Tiga transporter carnitine telah diidentifikasi: kation organik transporter Na-1
(OCTN1), OCTN2, dan OCTN3 bahwa serapan carnitine dari cairan
ekstraseluler. Pada manusia, carnitine diserap pada mukosa usus kecil oleh

19
transpor aktif yang tergantung pada sodium dan transpor pasif. Dalam darah,
carnitine tidak memerlukan protein sebagai pembawa, dan ada dalam bentuk
bebas atau bentuk acylcarnitine.28
Makanan yang berasal dari hewan seperti daging merah, ikan, ayam dan
susu adalah sumber terbaik dari carnitine. Secara umum semakin merah
daging, semakin tinggi kandungan carnitine-nya. Carnitine tersedia dalam 2
bentuk yaitu D dan L, yang merupakan isomer cermin satu dengan yang
lainnya. Hanya L-carnitine yang aktif dalam tubuh dan adalah bentuk yang
ditemukan dalam makanan. Orang dewasa yang pola makannya termasuk
daging merah dan produk hewani yang lain dapat memperoleh 60-180
miligram carnitine setiap harinya. Vegan memperoleh lebih sedikit (10-12
miligram) sebagai akibat mereka menghindari makanan yang berasal dari
hewan. Sebagian besar 54-68% carnitine yang berasal dari makanan diserap di
usus halus dan masuk kedalam aliran darah. Ginjal menyimpan carnitine
dengan efisien, sehingga bahkan pola makan yang kurang mengandung
carnitine pengaruhnya sangat kecil terhadap jumlah total carnitine dalam
tubuh. Sisa carnitine dalam tubuh tidak dimetabolisme melainkan dikeluarkan
melalui urine sebanyak diperlukan melalui ginjal untuk menjaga kestabilan
konsentrasi darah.25,28

2.1.4.4 Peran dan Manfaat Carnitine dalam Daging Merah


Carnitine di metabolisme oleh mikrobiota di dalam usus sehingga
berubah menjadi Trimethylamine-N-Oxide (TMAO). Trimethylamine-N-
Oxide mengurangi sintesis asam empedu, meningkatkan transport kolesterol,
sehingga meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Dalam percobaan yang
dilakukan terhadap tikus yang diberikan diet tinggi carnitine, terdapat
peningkatan kadar kolesterol dalam darah tikus tersebut. Hiperlipidemia
tersebut mengakibatkan stress pada endotelial pembulu darah. Pada pembuluh
darah ditemukan monosit dan limfosit, monosit tersebut mengakibatkan
hipertrofi otot polos pembuluh darah. Hipertrofi pembuluh darah
mengakibatkan penebalan otot polos pembuluh darah dan penyempitan lumen
pembuluh darah yang merupakan titik awal dari hipertensi. Pada pembuluh
darah tikus juga ditemukan artehrosklerosis yang merupakan penyebab dari
hipertensi.24

20
Sebuah studi tujuh tahun menarik pada pria Chicago yang diukur
tekanan darah dan asupan gizi setiap tahunnya menjamin gagasan bahwa
Carnitine dapat menjadi kunci untuk memahami peran daging merah dalam
hipertensi. Dari peserta penelitian, pria paruh baya yang makan antara 8-20
porsi daging sapi, sapi dan domba per bulan mengalami peningkatan rata-rata
0,70 mmHg tekanan darah sistolik per tahun, sementara daging babi tekanan
darah meningkat sebesar 0,38 mmHg. Pria yang makan lebih dari 20 porsi
daging sapi, sapi, dan domba per bulan mengalami peningkatan tekanan darah
tahunan 0,78 mmHg (dibandingkan dengan daging babi di 0,24 mmHg).
Ketika dikontrol untuk usia, berat badan, tinggi badan, pendidikan, rokok per
hari, konsumsi alkohol, konsumsi energi total, dan asupan makanan lain
seperti ikan, buah-buahan, sayuran, daging babi, dan unggas, angka-angka ini
meningkat, menunjukkan konsumsi antara 8-20 porsi daging sapi, sapi, dan
domba bertanggung jawab untuk peningkatan 0,77 mmHg per tahun dan
konsumsi lebih dari 20 porsi bertanggung jawab untuk peningkatan 0,85
mmHg. Di antara semua kelompok makanan dipelajari, kelompok ditemukan
untuk meningkatkan tekanan darah yang paling adalah daging sapi / sapi /
domba kelompok; tertinggi kedua adalah daging babi. kelompok makanan ini
juga memiliki kandungan Carnitine pertama dan kedua tertinggi, masing-
masing.24

21