Вы находитесь на странице: 1из 103

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN ”N” DENGAN

POST OP BENIGNA PROSTATE HYPERPLASIA


DI RUANG AR-RAHMAN
RSUD HAJI MAKASSAR

OLEH :

RIJALUL FIKRI
NIM : 132 514

AKADEMI KEPERAWATAN ANGING MAMMIRI


PROVINSI SULAWESI SELATAN
2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN ”N” DENGAN POST OP

BENIGNA PROSTATE HYPERPLASIA

DI RUANG AR-RAHMAN

RSUD HAJI MAKASSAR

Hasil Karya Tulis Ilmiah

Untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat

Mencapai gelar ahli madya keperawatan

RIJALUL FIKRI

132514

AKADEMI KEPERAWATAN ANGING MAMMIRI

PROVINSI SULAWESI SELATAN

2016
HALAMAN PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah dengan Judul : ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN TN ”N” DENGAN POST OP BENIGNA PROSTATE

HYPERPLASIA DI RUANG AR-RAHMAN

RSUD HAJI MAKASSAR

Di susun oleh :

RIJALUL FIKRI

132514

Telah diperiksa dan disetujui untuk dipertahankan pada

Seminar Hasil Karya Tulis Ilmiah

Tanggal 13 Juni 2016

Mengetahui :

Pembimbing I Pembimbing II

Dr.Pius Nalang, S.ST, M.Kes Syaputra Artama, S.Kep.,Ns

PENGESAHAN
Telah dipertahankan di depan tim penguji Karya Tulis Ilmiah (KTI) pada
Akademi Keperawatan Anging Mammiri Provinsi Sulawesi Selatan

Pada Tanggal 28 Juni 2016

Tim Penguji
Tanda Tangan

1. DR. Pius Nalang, S.ST, M.Kes (..........................................)

2. Syaputra Artama, S.Kep, Ns (..........................................)

3. Rachmawaty Rasyid, S.ST, S.Kep.,MM (..........................................)

Mengesahkan :

Direktur Akper Anging Mammiri


Provinsi Sulawesi Selatan

Dr.Hj.Halwatiah,.S.Kep.,Ns.,M.Kes.,MM.,CMH
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. IDENTITAS PENULIS

Nama : Rijalul Fikri

Tempat/Tanggal Lahir : Sinjai, 25 Mei 1995

Suku Bangsa : Bugis

Jenis Kelamin : Laki - Laki

Agama : Islam

Alamat :Jl. Kh. Ahmad Dahlan Kecamatan

Sinjai Utara Kabupaten Sinjai

B. RIWAYAT PENDIDIKAN

1.SDN 152 Cemmeng Kabupaten Sinjai tahun 2001 sampai dengan

tahun 2007.

2.SMP Negeri 2 Sinjai Utara tahun 2007 sampai dengantahun 2010.

3.Madrasah Aliyah Negeri 2 Sinjai Utara tahun 2010 sampai dengan

tahun 2013.

4.Program DIII Keperawatan Akper Anging Mammiri Provinsi Sulawesi

Selatan tahun 2013 sampai dengantahun 2016.


ABSTRAK

Rijalul Fikri : “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Tn ”N” Dengan Post Op

Benigna Prostate Hyperplasia Di Ruang Ar-Rahman RSUD Haji Makassar.

Dibimbing oleh Dr.Pius Nalang, dan Syaputra Artama.

Benigna Prostate Hyperplasia adalah pembesaran progresif dari kelenjar

prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai

derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinalis. Menurut World Health

Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2014, dua diantara tiga lansia

diseluruh dunia yang berjumlah 600 juta,hidup dan bertempat tinggal di negara-

negara sedang berkembang, kenaikan sebanyak ini akan terjadi di Asia..

Sedangkan berdasakan penderita jumlah BPH di RSUD Haji Makassar 3 tahun

terakhir yaitu pada tahun 2013 sebanyak 47 kasus, 2014 sekitar 33 kasus dan

pada tahun 2015 sebanyak 24 kasus. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini

adalah untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Tn”N” dengan

kasus Benigna Prostate Hyperplasia mengingat tingginya angka penyakit ini.

Untuk itu perlu mendapatkan perhatian yang serius dari tenaga kesehatan.

Dalam kasus ini penulis menggunakan metode studi kasus untuk mendapatkan

pengetahuan yang lebih jelas tentang Benigna Prostate Hyperplasia melalui

pendekatan proses keperawatan dengan tahap pengkajia data, perencanaan,

implementasi dan evaluasi, dimana penelitian berlangsug dari tanggal 13-15 Mei

2016 di Ruang Ar-Rahman RSUD Haji Makassar.

Kata Kunci : Benigna Prostate Hyperplasia


KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dengan segala kekurangan dapat

menyelesaikan proposal ini tepat pada waktunya dengan judul’ “Asuhan

keperawatan pada pasien dengan gangguan “Benigna Prostate Hyperplasia ”

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan hasil proposal ini masih jauh

dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis

meminta kepada para pembaca agar senantiasa dapat memberikan kritik dan

saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan hasi lproposal.

Ucapan terima kasih dan pengharggan kepada :

1. Ibu Dr.Hj. Halwatiah, S.Kep, Ns, M.Kes, MM,.CMH selaku Kepala UPTD

Akper Anging Mammir iProvinsi Sulawesi Selatan.

2. Bapak DR. Pius Nalang, S.ST, M.Kes selaku pembimbing I yang dalam

kesibukan sehari-hari masih dapat menyempatkan diri untuk mengarahkan

dalam penulisan ini.

3. Bapak Syaputra Artama, S.Kep, Ns selaku pembimbing II yang dalam

kesibukan sehari-hari masih dapat menyempatkan diri untuk mengarahkan

dalam penulisanini.

4. Ibu Rachmawaty Rasyid, S.ST, S.Kep.,MM selaku penguji yang dalam

kesibukan sehari-hari masih dapat menyempatkan diri untuk mengarahkan

dalam penulisan ini.

5. Para staf dan para dosen pembimbing mata ajar di UPTD Akper Anging

Mammiri Provinsi Sulawesi Selatan.


6. Teristimewa kepada kedua orang tuasaya ayahanda Abdul Rahmandan

ibunda Najmah serta semua keluarga yang telah memberikan dukungan

moral, materi, dan doa restunya kepada penulis dalam menyelesaikan

proposal ini, jasa-jasamu tak akan bisa kubalas sampai akhir hidupku.

7. Terima kasih kepada sahabat-sahabatku Adi Putra Utama, Rajiv Fahrullah

dan Muh. Thamrin yang telah banyak memberikan saran dan motivasi dalam

penulisan proposal.

8. Terima kasih kepada keluarga besar Lembaga Dakwah Kampus Izzatul Islam

(Izzis) yang telah meluangkan waktu dan buah pemikiranya dalam

penyusunan proposal ini.

Disadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam

proposal ini.Oleh Karena itu, sumbangan saran dan kritik sangat diharapkan,

demi perbaikan tulisan-tulisan selanjutnya.

Akhir kata semoga segala bantuan dan kebaikan yang telah diberikan

kepada penulis merupakan amal jariyah dihadapan Allah SWT dan semoga

proposal ini dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai pedoman bagi rekan-

rekan perawat mencapai profesionalis medalam meningkatkan mutu

pelayanan terkhusus bagi penulis sendiri

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, Juni 2016

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Benigna Prostate Hyperplasia(BPH) merupakan penyakit yang biasa

terjadi pada laki-laki usia lanjut, ditandai denganpertumbuhan yang sangat

cepat pada kelenjar prostat yaitu pada epitel prostat dan daerah transisi

jaringan fibromuscular pada daerahperiurethral, sehingga dapat menghalangi

dan mengakibatkan pengeluaran urin yang tertahan. Data prevalensitentang

BPH secara mikroskopi dan anatomi sebesar 40% dan 90 % terjadi pada

rentang usia 50-60 tahundan 80-90 tahun.(Amalia, R. 2012)

NWorld Health Organization (WHO) melaporkan pada tahun 2014, dua

diantara tiga lansia diseluruh dunia yang berjumlah 600 juta,hidup dan

bertempat tinggal di negara-negara sedang berkembang, kenaikan sebanyak

ini akan terjadi di Asia. Sampai sekarang ini, penduduk di 11 negara anggota

WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142

juta orang dan diperkirakan akan terus meningkat hingga tiga kali lipat di

tahun 2050. Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup ini, WHO

memperkirakan jumlah penderita benignaprostate hyperplasia di dunia adalah

sekitar 30 juta penderita dan akan meningkat pula pada tahun-tahun

mendatang.(Rasyidin, Zahi, Mahyuddin & Harkas. Y. 2013)

Prevalensi penyakit Benigna Prostate Hyperplasia(BPH) di Indonesia

tahun 2013 adalah sebesar 0,2% atau diperkirakan sebanyak 25.012

penderita. Propinsi yang memiliki prevalensi kanker prostat tertinggi adalah

D.I.Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan yaitu sebesar


2

0,5%, sedangkan berdasarkan estimasi jumlah penderita penyakit kanker

postat terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Jawa

Tengah.(Infodatin Kemenkes RI,2013)

Penyebab terjadinya BPH hingga saat ini belum diketahui secara pasti,

tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan

peningkatan kadar dihidrotesteron (DHT) dan proses aging (penuaan)

(Haryono R, 2013).

Data di Rumah Sakit Tk II Pelamonia Makassar Selama 3 tahun terakhir

dimana pada tahun 2012 ditemukan sebanyak 36 pasien diantaranya yang

dirawat sebanyak 21% dan mengalami operasi sebanyak 15% , pada tahun

2013 sebanyak 62 pasien diantaranya yang dirawat sebanyak 32% dan

mengalami operasi sebanyak 30%, pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien

diantaranya yang dirawat sebanyak 24% dan mengalami operasi sebanyak

20% sedangkan pada tahun 2015 belum terakumulasi.(Nur A, 2014).

Berdasarkan latar belakang dan fakta diatas penulis tertarik untuk menyusun

suatu proposal “Asuhan keperawatan pada pasien dengan BPH (Benigna

Prostate Hyperplasia)”.

B. Rumusan Masalah

“Bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan BPH

(Benigna Prostate Hyperplasia).?"


3

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum

Untuk menerapkan dan melaksanakan asuhan keperawatan pada

pasien dengan gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

2. Tujuan Khusus

a. Untuk melaksanakan pengkajian keperawatan pada pasien

dengan gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

b. Untuk merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan

gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

c. Untuk menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien

dengan gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

d. Untuk melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien

dengan gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

e. Untuk melaksanakan evaluasi keperawatan pada pasien dengan

gangguan BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

D. Manfaat Penulisan

1. Manfaat bagi mahasiswa

Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang penerapan dan

aplikasi dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan pada

pasien dengan gangguan BPH “Benigna Prostate Hyperplasia”.

2. Manfaat bagi institusi

Sebagai sumber informasi dalam meningkatkan mutu pendidikan di

masa yang akan datang.


4

3. Manfaat bagi profesi

Sebagai suatu referensi dan sumber pengetahuan bagi tenaga

keperawatan untuk meningkatkan kualitas Asuhan Keperawatan

secara komprehensif, sehingga berimplikasi pada peningkatan kualitas

kesehatan.

4. Manfaat keluarga dan pasien

Untuk dapat memberikan pengetahuan dan informasi mengenai BPH

dan upaya pencegahan penyakit.

E. Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran secara singkat dan menyeluruh

tentang isi penulisan proposal ini, penulis menggunakan sistematika

penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

B. Rumusan masalah

C. Tujuan penulisan

D. Manfaat penulisan

E. Sistematika penulisan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keperawatan

B. Konsep proses keperawatan

BAB III TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian

B. Diagnosa keperawatan
5

C. Perencanaan

D. Implementasi

E. Evaluasi

BAB IV PEMBAHASAN

A. Diagnosa keperawatan

B. Perencanaan

C. Implementasi

D. Evaluasi

BAB VPENUTUP
A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Keperawatan

1. DefenisiBenigna Prostate Hyperplasia

Ada beberapa pengertian penyakit Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)

menurut beberapa ahli adalah :

a. Benigna Prostate Hyperplasia adalah pembesaran progresif dari

kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun)

menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran

urinalis. (Padilla,2012)

b. Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran kelenjar dan

jaringan seluler kelenjar prostat yang berhubungan dengan perubahan

endokrin berkenaan dengan proses penuaan. Prostat adalah kelenjar

yang berlapis kapsula dengan berat kira-kira 20 gram, berada di sekliling

uretra dan di bawah leher kandung kemih pada pria. Bila terjadi

pembesaran lobus bagian tengah kelenjar prostat akan menekan dan

uretra akan menyempit. (Suharyanto T & Madjid A,2013)

c. BPH (Benigna Prostate Hyperplasia) adalah pembesaran progresif dari

kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obsrtuksi dan ritriksi pada

jalan urine (urethra). (Clevo RM & Margareth TH, 2012)


7

2. Etiologi

Mulai ditemukan pada umur kira-kira 45 tahun dan frekuensi makin

bertambah sesuai dengan betambahya umur, sehingga diatas umur 80

tahun kira-kira 80% mendertita kelainan ini. Sebagai etiologi sekarang

dianggap ketidak seimbangan endokrin,testosteron dianggap

mempengaruhi bagian tepi prostat, sedangkan estrogen (Dibuat oleh

kelenjar adrenal) mempengaruhi bagian tengah prostat. (Clevo RM &

Margareth TH, 2012)

Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi dapat dikaitkan

dengan keberadaan hormonal yaitu hormon laki-laki (androgen yaitu

testosteron). Diketahui bahwa hormon estrogen juga ikut berperan sebgai

penyebab BPH. Hal ini, didasarkkan pada fakta bahwa BPH terjadi ketika

seorang laki-laki kadar hormon estrogen meningkat dan kadar hormon

testosteron menurun, dan ketika jaringan prostat menjadi lebih sensiti

terhadap estrogen serta kurang responsive terhadap : dihidrotestosterone

(DHT), yang merupakan testosterone eksogen. (Suharyanto T & Madjid

A,2013)

3. Patofisiologi

Prostat sebagai kelenjar ejakulat memiliki hubungan fisiologis yang

sangat erat dengan dengan dihidrotestosterone(DHT). Hormon ini

merupakan hormon yang memacu pertumbuhan prostat sebagai kelenjar

ejakulat yang nantinya akan mengoptimalkan fungsinya. Hormon ini di

sintesis dalam kelenjar prostat dari hormon testosterone dalam darah.

Selain DHT yang sebagai precursor, estrogen juga memiliki pengaruh

terhadap pembesaran kelenjar prostat.


8

Seiring denganpenambahan usia, maka prostat akan lebih sensitif

dengan stimulasi androgen, sedangkan estrogen mampu memberikan

proteksi terhadap BPH. Dengan pembesaran yang sudah melebihi

normal, maka akan terjadi desakan pada taraktus urinarius. Pada tahap

awal, obstruksi traktus urinarius jarang menimbulkan keluhan, karena

dengan dorongan mengejan dan kontraksi yang kuat. Detrusor mampu

mengeluarkan urine secara spontan. Namun, obstruksi yang sudah kronis

membuat dekompensasi dari m. detrusor untuk berkontraksi yang

akhirnya menimbulkan obstruksi saluran kemih.(Prabowo E & Pranata

AE, 2014)

BPH terjadi pada umur yang semakin tua (> 45 tahun) dimana fungsi

testis sudah menurun. Akibat penurunan fungsi testis ini menyebabkan

ketidak seimbangan hormon testosterone dan dehidrotesteosterone

sehingga mamacu pertumbuhan/pembesaran prostat.

Maksroskopik dapat mencapai 60-100 gram dan kadang-kadang lebih

besar lagi hingga 200 gram atau lebih.Tonjolan biasanya terdapat pada

lobus lateralis dan lobus medius, tetapi tidak dapat mengenai bagian

posterior dari lobus medialis, yaitu bagian yang dikenal sebagai lobus

posterior, yang sering merupakan tempat berkembangya karsinoma

(Moore).

Tonjolan ini dapat menekan urethra dari lateral sehingga lumen

urethra meyerupai celah, atau menekan dari bagian tengah. Kadang-

kadang penonjolan itu merupakan suatu polip yang sewaktu-waktu dapat

menutup lumen urethra. (Clevo RM & Margareth TH,2012)

4. Manifestasi Klinis
9

Gejala-gejala BPH dapat diklasifikasikan karena obstruksi dan

iritasi. Gejala-gejala obstruksi meliputi hesitancy, intermitten, pengeluaran

urin yang tidak tuntas, aliran urin yang buruk, dan retensi urin.

Gejala-gejala iritasi meliputi seiring berkemih, seiring berkemih di malam

hari (nokturia), dan urgency (dorongan ingin berkemih)

Dengan adanya stasis urin di dalam kandung kemih akan berisiko

terjadinya infeksi saluran kemih dan batu kandung kemih. Batu kandung

kemih terbentuk dari kristalisasi dari garam-garam di dalam urin residu.

Menurut Suharyanto T & Madjid. A (2013), Manifestasi klinis klien dengan

BPH adalah :

a. Poliuria (seiring buang air kemih), Karena kandung kemih hanya

mampu mengeluarkan sedikit air kemih.

b. Aliran air kemih menjadi terhambat, karena terjadi penyempitan uretra.

c. Hematuria (air kemih mengandung darah), akibat kongesti basis

kandung kemih.

d. Retensi urin

e. Hidronefrosis dan kegagalan ginjal, terjadi akibat tekanan balik

melewati ureter ke ginjal

5. Komplikasi

Komplikasi pada benigna prostate hyperplasia menurut Clevo RM&

Margareth TH (2012),yaitu :

a. Urinary traktus infection adalah masuknya kuman atau bibit penyakit

dimana pada urin yang diperiksa ditemukan mikrooorganisme lebih

dari 10.000 per ml.


10

b. Retensi urin akut adalah ketidakmampuan untuk melakukan urinasi

meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut atau

suatu keadaan penumpukan urine di kandung kemih dan tidak punya

kemampuan untuk mengosongkanya secara sempurna.

c. Obstruksi dengan dilatasi uretra,hidronefrosis, dan gangguan fungsi

ginjal.

6. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan diagnostik menurut Prabowo E & Pranata AE(2014),

yang dilakukan untuk mengetahui apakah pembesaran prostat ini bersifat

benigna atau maligna dan untuk memastikan tidak adanya penyakit

penyerta lainya yaitu :

a. Urinalis dan kultur urine

Pemeriksaan ini untuk menganalisa ada tidaknya infeksi dan RBC(red

blood celI) dalam urine yang memanifestasikan adanya perdarahan/

Hematuria.

b. DPL (Deep Peritoneal Lavage)

Pemeriksaan pendukung ini untuk melihat ada tidaknya perdarahan

internal dalam abdomen. Sampel yang diambil adalah cairan abdomen

dan diperiksa jumlah sel darah merahnya.

c. Ureum, elektrolit dan serum kreatinin

Pemeriksaan ini untuk menentukan status fungsi ginjal. Hal ini sebagai

data pendukung untuk mengetahui penyakit komplikasi dari BPH,

karena osbtruksi yang berlangsung kronis seringkali menimbulkan

Hidronefrosis yang lambat laun akan memperberat fungsi ginjal dan

pada akirnya menjadi gagal ginjal.


11

d. PA (Patologi Anatomi)

Pemeriksaan ini dilakukan dengan sampel jaringan pasca operasi.

Sampel jaringan akan dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk

mengetahui apakah hanya bersifat benigna atau maligna, sehingga

akan menjadi landasan untuk treatment selanjutnya.

e. Catatan harian berkemih

Setiap hari perlu dilakukan evaluasi output urine sehingga akan

terlihat bagaimana siklus rutinitas miksi dari pasien. Data ini menjadi

bekal untuk membandigkan dengan pola eliminasi urine yang normal.

f. Uroflowmetri

Dengan menggunakan alat pengukur, maka akan terukur pancaran

urine. Pada obstruksi dini seringkali pancaran melemah bahkan

meningkat. Hal ini disebabkan obstruksi dari kelenjar prostat pada

truktus urinarius. Selain itu, volume residu urine juga harus diukur.

Normalnya residual urine < 100 ml. Namun, residual yang tinggi

membuktikan bahwa vesika urinaria tidak mampu mengeluarkan urine

secara baik karena adanya obstruksi.

g. USG Ginjal dan Vesika Urinaria

USG Ginjal bertujuan untuk melihat adanya komplikasi penyerta dari

BPH, misalnya hidronefrosis. Sedangkan USG pada vesika urinaria

akan memperlihatka gambaran pembesaran kelenjar prostat.


12

7. Penatalaksanaan

Menurut Padilla(2012), modalitas terapi BPH adalah :

a. Observasi

Yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3-6 bulan kemudian

setiap tahun tergantung keadaan klien.

b. Medikamentosa

Terapi ini diindikasikan pada BPH dengan keluhan ringan, sedang,

dan berat tanpa disertai penyulit. Obat yang digunakan berasal dari:

Phitoterapi (misalnya: Hipoxis rosperi, serenos repens, dan lain-

lain), gelombang alfa blocker dan gotongan supresor androgen.

c. Pembedahan

Indikasi pembedahan pada BPH adalah :

1) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin

akut.

2) Klien dengan residual urin > 100 ml.

3) Klien dengan penyulit.

4) Terapi medikamentosa tidak berhasil

5) Flowmetri menunjukan pola obstruktif.

Pembedahan dapat dilakukan dengan :

1) TURP (Trans Uretral Resektion Prostate → 90-95% ).

2) Retropubic atau extravesical prostatectomy.

3) Perenial prostatectomy

4) Suprapubic atau transvesical prostatectomy

d. Alternatif lain (misalnya: Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, dan

terapi Ultrasonik).
13

Menurut Haryono R (2013), penatalaksanaan pada pasien BPH adalah :

a. Terapi medikamnetosa

1) Penghambat andrenergenik misalnya Prazosin, Dexazosin, Alfluzosi

n atau a 1a (tamsulosin).

2) Penghambat enzim 5-a-reduktase, misalnya finasteride

3) Fisioterapi, misalnya eviprosat

b. Terapi bedah: waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi

tergantung beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi terapi bedah, yaitu :

1) Reteinsio urin lambung

2) Hematuria

3) Tanda penurunan fungsi ginjal

4) Infeksi saluran kencing berulang

5) Tanda–tanda obstruksi berat yaitu divertikal, hidroureter, dan

hidronefrosis .

6) Ada batu saluran kemih

Macam – macam tindakan bedah pada klien BPH :

a. Prostatektomi

Ada berbagai macam prostatektomi yang dapat dilakukan, masing

-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan antara lain :

1) Prostatektomi suprapubis

Adalah salah satu metode mengangkat kelenjar melalui insisi

abdomen, yaitu suatu insisi yang dibuat dalam kandung kemih dan

kelenjar prostat diangkat ke atas.


14

2) Prostatektomi perineal

Adalah mengangkat kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum.

Cara ini lebih praktis dibanding cara yang lain, dan sangat berguna

untuk biopsi terbuka.

3) Prostatektomi retropubik

Adalah suatu teknik yang lebih umum dibanding pendekatan

suprapubik dimana insisi abdomen lebih rendah mendekati kelenjar

prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa

memasuki kandung kemih.

b. Insisi prostat Transuretral (TUIP)

Yaitu suatu prosedur menangani BPH dengan cara memasukkan

instrumen melalui uretra. Satu atau dua buah kapsul prostat untuk

mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi kontrinfeksi

saluran kemihi uretral.

c. TURP (Transuretral Reseksi Prostat)

TURP adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra

menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop

dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan

alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik.


15

B. Konsep Proses Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian adalah pengumpulan data yang berhubungan dengan

pasien secara sistematis, meliputi fisik, psikologi, sosiokultural, spiritual,

kognitif, kemampuan fungsional, perkembangan ekonomi dan gaya hidup.

Pengkajian mencakup data yang dikumpulkan melalui wawancara,

pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, laboratorium dan

diagnostik, serta review catatan sebelumnya.(Carpenito cit Dian Husada,

2012)

Menurut Andra S.P & Yessie M.P, (2013) Dalam memberikan asuhan

keperawatan pada pasien yang membutuhkan perawatan tidak terlepas

dari pendekatan dengan proses keperawatan. Proses keperawatan yaitu

suatu proses pemecahan yang dinamis dalam usaha untuk memperbaiki

dan melihat pasien sampai ketaraf optinum melalui suatu pendekatan yang

sistematis untuk mengenal, membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari

dengan melalui langkah-langkah yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan,

dan evaluasi keperawatan yang berkesinambungan.

Berikut ini tinjauan teoritis tentang pelaksanaan asuhan keperawatan

pada pasien dengan penyakit Benigna prostate hyperplasia :

a. Langkah-langkah pengkajian

1) Data biografi

Meliputi :

a) Identitas pasien yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, suku

atau bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat,


16

tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, catatan

kedatangan.

b) Keluarga terdekat yang dapat dihubungi yaitu nama, umur, jenis

kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan sumber informasi,

beserta nomor telepon.

2) Riwayat kesehatan atau perawatan

Meliputi :

a) Keluhan utama/ alasan masuk rumah sakit. Biasanya klien

mengeluh nyeri pada saat miksi, pasien juga mengelu sering

buang air kecil berulang-ulang (anyang-anyangan), terbangun

untuk miksi pada malam hari, perasaan ingin miksi yang sangat

mendesak, kalau mau miksi harus menunggu lama, harus

mengedan, kencing terputus-putus.

b) Riwayat kesehatan sekarang

(1) Pasien mengeluh sakit pada saat miksi dan harus menunggu

lama, dan harus mengedan.

(2) Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual

(3) Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa

(4) Pasien mengeluh sering buang air kecil berulang-ulang

(5) Pasien mengeluh sering terbangun untuk miksi pada malam

hari

c) Riwayat kesehatan dahulu

Apakah pasien pernah menderita BPH sebelumnya dan apakah

pasien pernah dirawat di rumah sakit sebelumya.


17

d) Riwayat kesehatan keluarga

Mungkin diantara keluarga pasien sebelumnya ada yang penderita

penyakit yang sama dengan penyakit pasien sekarang.

3) Pola fungsi kesehatan meliputi :

Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan, pola nutrisi dan

metabolisme, pola eliminasi, pola aktifitas dan tidur, pola kognitif dan

persepsi, persepsi diri dan konsep diri, pola peran hubungan, pola

seksual dan repsoduksi, pola koping dan toleransi stres, keyakinan

dan kepercayaan.

4) Pemeriksaan fisik

Pada waktu melakukan inspeksi keadaan umum pasien mengalami

tanda-tanda penurunan mental seperti neuropati perifer. Pada waktu

palpasi adanya nyeri tekan pada kandung kemih.(Andra S.P & Yessie

M.P, 2013)

a) Data dasar pengkajian

(1) Sirkulasi

Tanda ; peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal)

(2) Eliminasi

Gejala :

(a) Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine tetesan

(b) Keragu-raguan pada berkemih awal

(c) Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih

dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih.

(d) Nokturia, dysuria, hematuria

(e) Duduk untuk berkemih


18

(f) Infeksi saluran berkemih berulang, riwayat batu (statis

urinaria)

(g) Tandanya adalah : Massa padat dibawah abdomen bawah

(distensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih, dan

hernia inguinalis, hemoroid (mengakibatkan peningkatan

tekanan abdominal yang memerlukan pengosongan

kandung kemih mengatasi tahanan).

(3) Makanan / cairan

Gejala :

(a) Anoreksia, mual, muntah

(b) Penurunan berat badan

(4) Nyeri / kenyamanan

Gejala :

(a) Nyeri suprapubik, panggul atau panggung, tajam, kuat

(pada prostat akut)

(b) Nyeri panggung bawah

(5) Keamanan

Gejala :Demam

(6) Seksualitas

Gejala :

(a) Masalah tentang efek kondisi / penyakit kemampuan

seksual

(b) Takut inkontinentia / menetes selama hubungan intim

(c) Penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi


19

(7) Penyuluhan dan pembelajaran

Gejala :

(a) Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal

(b) Penggunaan antihipersensitif atau antidepresan, antibiotik

urinaria atau gen antibiotik, obat yang dijual bebas, batuk

flu/alergi obat mengandung simpatomimetik.


20
21

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon

individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual

atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya,

perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan

intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi,

mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito cit Dian

Husada, 2012).

Adapun diagnosa keperawatan yang muncul menurut NANDA NIC-NOC,

(2015) adalah :

a. Gangguan elminasi urine berhubungan dengan sumbatan saluran

pengeluaran pada saluran pada kandung kemih: Benigna Prostate

Hyperplasia.

b. Nyeri akut berhubungan dengan agent injuri fisik (spasme kandung

kemih).

c. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai efek

sekunder dari prosedur pembedahan.

d. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping

pembedahan.

e. Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal.

f. Retensi urine

g. Ansietas berhubungan dengan perasaan takut terhadap tindakan

pembedahan.
22

3. Intervensi keperawatan

Intervensi keperawatan adalah sesuatu yang telah

dipertimbangkan secara mendalam, tahap yang sistematis dari proses

keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan

masalah. (Carpenito cit Dian Husada, 2012)

Dalam perencanaan keperawatan, perawat menetapkannya

berdasarkan hasil pengumpulan data dan rumusan diagnosa

keperawatan yang merupakan petunjuk dalam membuat tujuan dan

asuhan keperawatan untuk mencegah, menurunkan, atau

mengeliminasi masalah kesehatan klien.(Kozier cit Dian Husada, 2012)


23

Tabel 2.1 intervensi BPH (Benigna prostate hyperplasia)

Diagnosa
No Tujuan/Kriteria Intervensi
Keperawatan
1 2 3 4
1. Gangguaneliminasiurin NOC : NIC :
Defenisi :Disfungsi pada 1. Urinary elimination Urinary Retention Care
eliminasi urine 2. Urinary contiunence 1. lakukan penilaian kemih yang
Batasan Karakteristik : Kriteriahasil : komprehensif berfokus pada
1. Disuria 1. Kandung kemihkosong inkontinensia(misanya, output
2. Seringberkemih secara penuh urin, pola berkemih, fungsi
3. Anyang-anyangan 2. Tidakadaresidu urine > 100- kognitif,dan masalah kencingpre
4. Inkontinensia 200 cc aksisten)
5. Nokturia 3. Intake cairan dalam rentang n 2. Memantau penggunaan obat
6. Retensis ormal dengan sifat antikolinergik
7. Dorongan 4. Bebas dari infeksi atau properti alpha agonis.
Faktor yang berhubungan saluran kemih 3. Memonitor efek dari obat-
1. Obstruksi anatomic 5. Tidak ada spasme bladder obatan yang diresepkan,
2. Penyebab multiple 6. Balance cairanseimbang Seperti calcium channel
3. Gangguan sensori blockers dan antikolirgenik.
motorik 4. Menyediakan penghapusanpriva
4. Infeksisalurankemih si
5. Gunakan kekuatansugesti deng
an menjalankan
air ataudisiram toilet.
6. Merangsang reflex kandungkem
ih dengan menerapkan
dinginuntukperut,
membelaitinggibatinatau air.
7. Sediakan waktu yang cukup
Untuk pengosongan kandungke
mih (10 menit).
8. Gunakan spirit wintergreen di
pispot atauuranil.
2. Nyeri akut NOC : NIC :
Defenisi : pengalaman 1. Pain level Paint Management
sensori dan emosional 2. Pain control 1. Lakukanpengkajiannyerisecar
yang tidak menyenangkan 3. Comfort level a komprehensiftermasuk lokas
yang muncul akibat KriteriaHasil i, karakteristik, durasi,
kerusakan jaringan yang 1. Mampu mengontrolnyeri frekuensi, kualitas danfaktorpr
aktual atau potensial atau (tahu penyebab nyeri,mampu esipitasi.
digambarkan dalam hal ke menggunakan teknik 2. Observasireaksi nonverbal
rusakan sedemikian rupa Nonfarmakologik untuk dariketidaknyamanan.
(International Association mengurangi nyeri, mencari 3. Gunakanteknikkomunikasitera
for the study of Pain): bantuan) peutikuntukmengetahuipengal
awitan yang tiba-tiba 2. Melaporkan bahwa nyeri amannyeripasien.
atau lambat dari intensitas berkurang dengan 4. Kaji kultur yang
ringan hingga berat menggunakan manajemenny mempengaruhi responnyeri.
dengan akhir yang dapat eri. 5. Evaluasipengalamannyerimas
diantisipasi atau 3. Mampu mengenali nyeri alalu
diprediksi dan (skala, intensitas, frekuensi
berlangsung <6 bulan.
24

1 2 3 4
Batasan karakteristik : dan tandanyeri) 6. Evaluasi bersama pasien
1. Perubahan seleramak 4. Menyatakan rasa dan tim kesehatan lain
an nyaman setelah nyeri 7. Ketidakefektifan control nyeri
2. Perubahan tekananda berkurang. masalampau.
rah 8. Bantu
3. Perubahan frekuensi pasiendankeluargauntuk men
Jantung cari dan
4. Perubahan frekuensi menemukandukungan.
pernapasan 9. Kontrollingkungan yang
5. Laporanisyarat dapat mempengaruhi nyeri
6. diaforesis seperti suhu
7. Perilaku distraksi ruangan, penchayaan dan
(mis:berjalan mondar kebisingan
mandir mencari Analgesic administration
Orang lain dan atau 1. Tentukan lokasi,
Aktifitas lain, aktifitas karakteristik, kualitas danderaj
yang berulang. at nyeri sebelumpemberianob
8. Mengekspresikan at
perilaku (mis: gelisah 2. Cekinstruskidoktertentangjenis
merengek,menangis) obat, dosis, danfrekuensi.
9. Masker wajah (mis., 3. Cekriwayatalergi
mata kurangbercahay 4. Pilih analgesik yang
a,tampakkacau, diperlukanatau kombinasidari
gerakanmataberpenc anlgesik ketikapemberianlebih
aratautetappada satu darisatu.
Fokusmeringis) 5. Tentukan pilihan analgesikterg
10. Sikap melindungiare antungtipedanberatnyanyeri.
a nyeri. 6. Tentukan analgesik pilihan,
11. Fokus menyempit rute pemberian dan dosis
(mis: gangguanpers optimal.
epsi nyeri, 7. Pilihrutepemberiansecara IV,
hambatan proses IM
berfikir, penurunan untukpengobatannyerisecarat
Interaksidengan eratur.
orang danlingkunga 8. Monitor vital sign sebelumdan
n) sesudah pemberiananalgesikp
12. Indikasinyeri yang ertama kali
dapat diamati 9. Berikananalgesiktepatwaktuter
13. Perubahan posisiunt utamasaatnyerihebat.
uk menghindarinyeri 10. Evaluasi efektifitasanalgesik,
14. Sikap tubuhmelindu tanda dan gejala.
ngi
15. Dilatasi pupil
16. Melaporkan nyerise
cara verbal
17. Gangguantidur
25

1 2 3 4
Faktor yang berhubungan
1. Agen cedera
(mis:bilogis,zat kimia,fisik,
psikologis).
3. Resiko infeksi NOC : NIC :
Defenisi: Mengalami  Immune status Infection control (kontrol infeksi)
pengingkatan resiko  Knowledge : infection control 1. Bersihkan lingkungan
terserang organisme  Rinfeksisalurankemihkontrol setelah dipakai pasien lain.
patogenik. Kriteria hasil : 2. Pertahankanteknikisolasi
Faktor-faktor resiko: 1. Klien bebas daritanda dan ge 3. Batasipengunjungbilaperlu
1. Penyakitkronis jalainfeksi 4. Instruksikan kepadapengunjuu
a. Diabetes militus 2. Mendeskripsikan proses nguntukmencucitangan saat b
b. Obesitas penularan penyakit, factor erkunjung dan setelah berkunj
2. Pengetahuan yang yang mempengaruhi ungmeniinggalkanpasien.
tidak cukup untuk penularan serta 5. Gunakansabunantimikrobaunt
menghindari penatalaksanaanya. ukcucitangan.
pemanjanan pathogen 3. Menunjukkan 6. Cucitangansetiapsebelumdan
a. Pertahanan tubuh kemampuan untuk sesudah tindakankeperawatan
primer yang tidak mencegah timbulnya .
adekuat. infeksi 7. Gunakan baju, sarungtangan s
b. Gangguan peristalsis 4. Jumlahleukositdalambatas ebagai alatpelindung.
c. Kerusakanintegritas normal 8. Pertahankan lingkunganasepti
kulit 5. Menunjukkanperilakuhidup kselamapemasanganalat.
(pemasangan sehat 9. Gantiletak IV periferdan line
kateter Intravena, central dan dressing
prosedur invasif). sesuaidenganpetunjukumum.
d. Perubahan sekresi 10. Gunakanketeterintermitenuntu
pH. k menurunkan infeksikandungk
e. Penurunan kerja encing
siliaris 11. Tingkatkan intake nutrisi
f. pecahketubandini
g. pecah ketuban lama
h. merokok
i. stasis cairantubuh
j. trauma jaringan
(mis: trauma
destruksijaringan)
3. Ketidakadekuatan
pertahanansekunder
a. Penurunan
hemoglobin
b. Imunosupresi
(mis:imunitas di
dapat tidakadekuat, a
genfarmaseutikal
termasuk
26

1 2 3 4
imunosupresan,
steroid,antibodi
monoclonal,
imunomudulator)
c. Supresi respon
inflamasi
4. Vaksinasi tidak
adekuat
5. Pemajanan terhadap
patogen lingkunganme
ningkat.
6. Wabah
7. Prosedurinvasi
8. Malnutrisi
4. Resiko Perdarahan NOC : NIC :
Defenisi : Beresiko 1. Blood lose severity Bleeding precautions
mengalami penurunan 2. Blood koagulation 1.Monitor tanda-tanda
volume darah yang dapat Kriteria Hasil : perdarahan
menganggu kesehatan. 1. Tidak ada hematuria 2.Catat nilai Hb dan Ht
Faktor resiko dan hematesis sebelum dan sesudah
1. Aneurisme 2. Kehilangan darah terjadinya perdarahan
2. Sirkumsisi yang terlihat 3.Monitor nilai lab (koagulasi)
3. Defisiensi 3. Tekanan darah dalam yang meliputi PT
pengetahuan batas normal sistol (protrombin time), PTT(partial
4. Koagulasi intravaskuler dan diastole trombloplastin time),
diseminati 4. Tidak ada perdarahan trombosit
5. Riwayat jatuh pervagina 4.Monitor TTV ortostatik
6. Gangguan 5. Tidak ada distensi 5.Pertahankan bed rest
gastrointestinal abdominal selama perdarahan aktif
(mis : penyakit ulkus 6. Hemoglobin dan 6.Kolaborasi dalam pemberian
lambung, polip, varise) hematrokrit dalam produk darah (platelet atau
7. Gangguan hati batas normal fresh frozen plasma)
(mis:sirosis,hepatitis) plasma,PT(protrombin time), 7.Lindungi pasien dari trauma
8. Koagulopati inheren PTT (partial trombloplastin yang dapat menyebabkan
(mis : trombositopenia) time) dalam batas normal. perdarahan
9. Komplikasi pasca 8.Hindari mengukur suhu
partum (mis : otoni lewat rectal
uteri, retensi plasenta) 9.Hindari pemberian aspirin
10. Trauma Efek dan anticoagulant
samping terkait 10. Anjurkan pasien untuk
terapi (mis : meningkatkan intake
pembedahan, makanan yang banyak
pemberian obat, mengandung vitamin K
pemberian produk 11. Hindari terjadinya konstipasi
darah defisiensi dengan menganjurkan untuk
trombosit,kemoterapi mempertahankan intake
cairan yang edekuat dan
pelembut fese
27

1 2 3 4
Bleeding reduction
1. Identifikasi penyebab
perdarahan
2. Monitor trend tekanan darah
dan parameter hemodinamik
(CVP,pulmonary capillary/
artery wedge pressure
3. Monitor penentu pengiriman
oksigen ke jaringan (Pa02,
Sa02 dan level Hb dan
Caridiac output)
4. Perthahankan patensi IV line

Bleeding reduction: wound/luka


1. Lakukan manual pressure
(tekanan) pada area
perdarahan
2. Gunakan ice pack pada area
perdarahan
3. Lakukan pressure dressing
(perban yang menekan) pada
area luka
4. Tinggikan ekstremitas yang
perdarahan
5. Monitor ukuran dan karakteristik
hematoma
6. Monitor nadi distal dari area
yang luka atau perdarahan
7. Instruksikan pasien untuk
menekan area luka pada saat
bersin atau batuk
8. Instruksikan pasien untuk
membatasi aktifitas

Bleeding reduction
gastrointestinal
1. Observasi adanya darah
dalam sekresi cairan tubuh
:emesis, feces, urine, residu
lambung, dan drainase luka.
2. Monitor complite blood count
dan leukosit
3. Kolaborasi dalam pemberian
terapi: lactule atau vasopressin
4. Lakukan pemasangan NGT
untuk memonitor sekresi dan
perdarahan lambung.
5. Lakukan bilas langsung
dengan NaCl dingin
28

1 2 3 4

6. Dokumentasikan warna,
jumlah, dan karakteristik feses
7. Hindari pH lambung yang
ekstrim dengan kolaborasi
pemberian antacids atau
histamine blocking agent)
8. Kurangi faktor stress
9. Pertahankan jalan nafas
10. Hindari penggunaaan
antikoagulant
11. Monitor status nutrisi
pasien
12. Berikan cairan Intravena
13. Hindari penggunaan aspirin
dan ibuprofen

5. Risiko ketidakefektifan NOC : NIC :


perfusi ginjal 1. Circulation status Acid-base Management
Defenisi : Beresiko 2. Electrolit and acid 1. Observasi status hidrasi
terhadap penurunan 3. Base balance (kelembaban membran
sirkulasi darah keginjal 4. Fluid balance mukosa, TD ortostatik,
yang dapat menganggu 5. Hidration dan keadekuatan dinding
kesehatan 6. Tissue prefusion nadi)
Faktor risiko 7. Urinary eliminasion 2. Monitor HMT, ureum,
1. Sindrome Kriteria Hasil : albumin, total protein, serum
kompartement 1. Tekanan systole osmolalitas dan urine
abdomen diastole dalam batas 3. Observasi tanda-tanda
2. Usia lanjut normal cairan berlebih/retensi (CVP
3. Nekrosis kortikal 2. Tidak ada gangguan meningkat, oedema,
Bilateral mental, orientasi distensi vena leher dan
4. Luka buang air kecil kognitif dan kekuatan asites)
5. Pembedahan jantung otot 4. Pertahankan intake dan
6. Bypass kardiopulmonal 3. Na, K, Cl, Ca, Mg, output secara akurat
7. Diabetes militus BUN, Creat dan Biknat 5. Monitor TTV
8. Pajanan terhadap dalam batas normal 6. Monitor glukosa darah
Toksisn 4. Tidak ada distensi arteri dan serum, elektrolit
9. Jenis kelamin wanita vena leher urine
10. Glomerulonefritis 5. Tidak ada bunyi paru 7. Monitor hemodinamik status
11. Hipertensi tambahan 8. Bebaskan jalan nafas
12. Hiposemia, hipoksia 6. Intake output 9. Manajement akses
13. Infeksi (mis : sepsis, seimbang intravena
infeksi likal) 7. Tidak ada oedema Pasien hemodialisis
14. Interstitial nephritis perifer dan asites 1. Observasi terhadap
15. Keganasan 8. Tidak ada rasa dehidrasi
16. Hipertensi malignan haus yang abnormal 2. Monitor TD
17. Asidosis metabolik 9. Membran mukosa 3. Monitpr BUN, Creat, HMT,
18. Multitrauma, lembab dan elektrolit
polinefritis
29

1 2 3 4
19. Stenosis arteri renalis 10. Hematokrit dbn 4. Timbang BB sebelum dan
20. Penyakit ginjal (ginjal 11. Warna dan bau sesudah prosedur
polikitik) urine dalam batas normal 5. Kaji status mental
21. Merokok 6. Monitor CT
22. Penyalahgunaan zat 7. Pasien peritoneal dialysis
Sindrome respon 8. Kaji temprature, TD, denyut
inflamasi sistemik perifer, RR, dan BB
23. Efek samping terkait 9. Kaji BUN, creat pH, HMT,
terapi (mis: obat, elektrolit selama prosedur
pembedahan) emboli 10. Monitor adanya respiratory
vaskuler distres
24. Vaskulitis 11.Monitor banyaknya dan
penampakan cairan
12. Monitor tanda-tandainfeksi
6. Retensi Urine NOC : NIC :
Defenisi : pengosongan 1. Urinary elimination Urinary retention care
Kandung kemih tidak 2. Urinary continance 1. Monitor intake dan output
komplit 3. Kriteria hasil : 2. Monitor penggunaan obat
Batasan karakteristik 4. Kandung kemih antikoliogenik
1. Tidak ada haluaran kosong secara penuh 3. Monitor derajat distensi
urine 5. Tidak ada residu urin bladder
2. Distensi kandung > 100-200 cc 4. Instruksikan pada pasien
kemih 6. Bebas dari infeksi dan keluarga untuk
3. Menetes saluran kemih mencatat output urine
4. Disuria 7. Tidak ada spasme 5. Sediakan privasi untuk
5. Sering berkemih bladder eliminasi
6. Inkontinensia aliran 8. Balance cairan 6. Stimulasi refleks bladder
berlebih seimbang Instruksikan pada pasien
7. Residu urine dan keluarga untuk
8. Sensasi kandung mencatat output urine
kemih penuh 7. Sediakan privasi untuk
9. Berkemih sedikit eliminasi
Faktor yang berhubungan 8. Stimulasi refleks bladder
1. Sumbatan dengan kompres dingin pada
2. Tekanan ureter tinggi abdomen
3. Inhibasi urkus reflex 9. Katerisasi jika perlu
4. Sfingter kuat 10. Monitor tanda dan gejala
Infeksi saluran kemih
(panas, Hematuria,
perubahan bau dan
urine
Urinary eliminationt
Management
7. Ansietas NOC : NIC :
Defenisi : perasaan tidak 1. Anxiety self-control Anxiety Reduction (penurunan
nyaman atau kehawatiran 2. Anxiety level kecemasan)
yang samar disertai 3. Coping 1. Gunakan pendekatan yang
respon autonom (sumber menenangkan
30

1 2 3 4

sering kali tidak spesifik Kriteria hasil 2. Nyatakan dengan jelas


atau tidak diketahui oleh 1. Klien mampu harapan terhadap pelaku
individu); perasaan takut mengidentifikasi dan pasien
yang disebabkan oleh mengungkapakan 3. Jelaskan semua prosedur
antisipasi terhadap gejala cemas dan apa yang dirasakan
bahay. Hal ini merupakan 2. Mengidentifikasi, selama prosedur
isyarat kewaspadaan mengungkapkan dan 4. Pahami perspektif pasien
yang memperingatkan menunjukan teknik terhadap situasi stres
individu akan adanya untuk mengontrol cemas. 5. Temani pasien untuk
bahaya dan kemampuan 3. Vital sign dalam batas memberikan keamanan
individu untuk bertindak normal dan mengurangi takut
menghadapi ancaman. 4. Postur tubuh, 6. Dorong keluarga untuk
Batasan Karakteristik ekspresi wajah, menemani anak
1. Perilaku : bahasa tubuh dan 7. Lakukan back / neck rub
a. Penurunan tingkat aktifitas 8. Dengarkan dengan penuh
produktifitas menunjukan perhatian
b. Gerakan yang berkurangya 9. Identifikasi tingkat
ireleven kecemasan. kecemasan
c. Gelisah 10. Bantu pasien mengenal
d. Melihat sepintas situasi yang
e. Insomnia menimbulkan kecemasan
f. Kontak mata yang 11. Dorong pasien untuk
buruk megungkapkan perasaan,
g. Mengekspresikan ketakutan, persepsi
kehawatiran 12. Instruksikan pasien
karena perubahan menggunakan teknik
dalam peristiwa relaksasi
hidup 13. Berikan obat untuk
h. Agitasi mengurangi kecemasan
i. Mengintai
j. Tampak waspada
2. Afektif
1. Gelisah, distres
2. Kesedihan yang
mendalam
3. Ketakutan
4. Perasaan tidak
edekuat
5. Berfokus pada diri
sendiri
6. Peningkatan
Kewaspadaan
7. Irabilitasi
8. Gugup senang
berlebihan
9. Rasa nyeri yang
meningkatkan
ketidak berdayaan
31

1 2 3 4

10. Peningkatan rasa

ketidakberdayaan
yang perisisten
11. Bingung,
menyesal
12. Ragu/tidak
percaya diri
13. Khawatir
3. Fisiologis
a. Wajah tegang,
tangan tremor
b. Peningkatan
keringat
c. Peningkatan
Ketegangan
d. Suara bergetar
4. Simpatik
1. Anoreksia
2. Eksitasi
Kardiovaskular
3. Diare, mulut kering
4. Wajah merah
5. Jantung berdebar
debar
6. Peningkatan
tekanan darah
7. Peningkatan denyut
nadi
8. Peningkatan reflek
9. Peningkatan
frekuensi
pernafasan, pupil
melebar
10. Kesulitan
bernapas
11. Vasokontriksi
superfisial
12. Lemah, kedutan
pada otot
5. Parasimpatik :
1.Nyeri abdomen
2.Penurunan tekanan
darah
3.Penurunan denyut
nadi
4.Diare,mual,vertigo
5.Letih,gangguan tidur
32

1 2 3 4

6.Kesemutan pada
ekstremitas
7.Sering berkemih
8.Anyang-anyangan
9. Dorongan segera
berkemih
6.Kognitif
1. Menyadari gejala
fisiologis
2. Bloking fikiran
3. Penurunan lapang
persepsi
4. Kesulitan
berkonsentrasi
5. Penurunan
kemampuan untuk
memecahkan
masalah
6. Ketakutan terhadap
konsekuensi yang
tidak spesifik
7. Lupa, gangguan
perhatian
8. Khawatir,melamun
9. Cenderung
menyalahkan orang
lain
Faktor yang berhubungan
1.Perubahan dalam
(status ekonomi,
lingkungan, status
kesehatan, pola
interaksi, fungsi
peran, status peran)
2.Pemajanan toksin
3.Terkait keluarga
4.Herediter
5.Infeksi/kontaminan
interpersonal
6.Penularan
penyakit interpersonal
7.Krisis maturasi, krisis
situasional
8.Stres, ancaman
kematian
9.Penyalahgunaan zat
10. Ancaman pada
(status ekonomi,
33

1 2 3 4
ingkungan,status
kesehatan)
11. Pola interaksi
12. Fungsi peran, status
peran, konsep diri
13. Konflik
tidakdisadari
mengenai tujuan
penting hidup
14. Konflik tidak disadari
mengenai nilai yang
esensial/penting
kebutuhan yang
tidak dipenuhi

Sumber : NANDA NIC-NOC, 2015


4. Implementasi keperawatan benigna prostate hyperplasia

Implementasi merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk

mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai dimulai

setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders

untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena

itu rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi

faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan klien. (Carpenito

cit Dian Husada, 2012)

5. Evaluasi

Evaluasi adalah bagian akhir dari proses keperawatan . Semua

tahap proses keperawatan ( diagnosis, tujuan, intervensi ) harus

dievaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk apakah tujuan dalam

rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan

pengkajian ulang.Ada tiga alternatif yang dapat dipakai perawat dalam

memutuskan, sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan itu tercapai,

yaitu tujuan tercapai, tujuan tercapai sebagian dan tujuan tidak

tercapai. Untuk dapat menilai maka dilihat dari perilaku klien sebagai

berikut:

1. Tujuan tercapai jika klien mampu menunjukkan perilaku pada waktu

atau tanggal yang telah ditentukan, sesuai dengan pernyataan

tujuan.

2.Tujuan tercapai sebagian jika klien telah mampu menunjukkan

perilaku, tetapi tidak seluruhnya sesuai dengan pernyataan tujuan

yang telah ditentukan. .

36
37

3.Tujuan tidak tercapai jika klien tidak mampu atau tidak mau sama

sekali menunjukkan perilaku yang diharapkan, sesuai dengan

tujuan yang telah ditentukan.


38

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. STUDI KASUS

I. Pengkajian

a. Identitas Pasien

Nama : Tn. ”N”

Tempat / Tanggal Lahir : Bontobila, 16 Mei 1953

Umur : 63 Tahun

Jenis Kelamin : Laki – Laki

Alamat : Jl. Bontobila Desa Biringala

Barombong

Status Perkawinan : Kawin

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Makassar

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Petani

Tanggal masuk RS : 27/04/2016

Tanggal Pengkajian : 13/05/2016

Diagnosa Medik : Post Op Benigna Prostate

Hyperplasia
Keluaraga Terdekat yang Dapat Dihubungi :

Nama : Ny “N”

umur : 28 Tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Jl. Bontobila Desa Biringala

Barombong

Sumber informasi : Anak pasien.

II. Status kesehatan sekarang

1. Keluhan Utama : Nyeri

P (Paliatif) :Pasien merasa nyeri di daerah abdomen.

Q (Qualitas) : Nyeri seperti tertusuk - tusuk

R (Region) : Nyeri pada area suprapubik luka bekas operasi.

S (Skala) : Skala 5 (nyeri sedang)

T (Time) : Tidak menentu

2. Faktor Pencetus : Efek pembedahan

3. Lamanya Keluhan : ± 3 hari yang lalu

4. Timbulnya keluhan : Mendadak

5. Faktor yang memperberat : Apabila banyak bergerak

6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi : Berbaring dan istirahat

III. Riwayat Kesehatan dahulu

83
84

1. Penyakit yang pernah dialami

a. Pasien pernah mengalami penyakit demam, mual muntah, sakit

perut pada saat Pasien masih anak-anak.

b. Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan.

c. Pasien tidak pernah dioperasi sebelumnya.

2. Riwayat penyakit yang lalu

Pasien tidak mempunyai masalah kesehatan yang serius

3. Pasien tidak ingat lagi imunisasi yang pernah diberikan saat anak-

anak

4. Pasien tidak pernah mengalami alergi baik makanan atau minuman

tetapi Pasien alergi terhadap obat-obatan seperti : Antasida,

Amoxilin, Asam mefenamat, antalgin.

5. Pasien pernah mengonsumsi obat-obatan :

Obat antibiotik, obat analgesik, obat ambasid.

6. Pola kegiatan sehari-hari

a. Pola Nutrisi

1) Makanan

a) Sebelum sakit

(1) BB : 80 kg

(2) Tinggi badan : 175 cm

(3) Nafsu makan : Baik

(4) Frekuensi : 3x sehari

(5) Jenis : Nasi, Lauk, Sayur

BB 80
IMT : TB2
X 100 % = 1752 X 100 %

84
85

80
: 30,6 X 100 % = 26,14 (Gizi lebih)

b. Selama sakit

(1) BB : 75 Kg

(2) Nafsu makan : Baik

(3) Frekuensi : 3x sehari

(4) Jumlah porsi : Dihabiskan

(5) Jenis : Bubur, Sayur


BB 75
(6) IMT : TB2
X 100 % = 1752 X 100 %

75
: 30,6 X 100 % = 25,50 (Gizi lebih)

IMT Status Gizi Kategori

1 2 3

< 17.0Gizi Kurang Sangat Kurus

17.0 - Gizi Kurang Kurus

18.5 Gizi Baik Normal

18.5 - Gizi Lebih Gemuk>

25.0 Gizi Lebih Sangat

25.0 - Gemuk

27.0

27.0

85
86

2) Minum

a) Sebelum sakit

Frekuensi : 6 – 8 gelas / 24 jam

Jumlah : ± 2500 cc

Jenis : Air Putih

b) Selama sakit

Frekuensi : 5 – 9 gelas / 24 jam

Jumlah : ± 2500 cc

Jenis : Air Putih, Infus RL 500 mg /24

tts/mnt

b. Pola eliminasi

a.BAB

Sebelum sakit

Frekuensi : 1x sehari

Waktu : Malam Hari

Konsistensi : Padat

Selama sakit

Frekuensi : 1x BAB dalam 4 har selama di

rawat di RS

Waktu : Pagi hari

b.BAK

Sebelum sakit

Frekuensi : ± 7x sehari

Warna : Kuning

Bau : Amoniak

86
87

Selama sakit

Frekuensi : 1500 cc dalam sehari / terpasang

kateter

Warna : Kemerahan

Bau : Amoniak

c. Pola tidur dan istirahat

a) Sebelum sakit

Waktu tidur (jam) : Malam : 21.00 - 04.30 Wita

Siang : 13.00 – 15.00 Wita

Lama tidur / hari : Malam : ± 8 jam

Siang : ± 3 jam

Kebiasaan saat tidur : tidak ada

Kesulitan dalam tidur : tidak ada

b) Perubahan selama sakit

Waktu tidur (jam) : Malam : 24.00 – 04.00 Wita

Siang : 14.00 – 14.30 Wita

Lama tidur / hari : Malam : ± 5 jam Siang : ± 1 jam

Kebiasaan saat tidur : tidak ada

Kesulitan dalam tidur : pegal pada kedua kaki, dan

terbangun untuk buang air kecil

d. Pola aktifitas dan latihan

a) Sebelum sakit

1) Kegiatan dalam pekerjaan : Bertani di sawah

2) Olahraga : Tidak pernah

87
88

3) Kegiatan diwaktu luang : Nonton tv, dan berkumpul

bersama keluarga

b. Perubahan selama sakit

Seluruh aktifitas Pasien dibantu oleh keluarga seperti makan dan

minum.

e. Pola pekerjaan

a) Sebelum sakit

Jenis pekerjaan : Petani

Jadwal kerja : Pagi – siang

f. Riwayat keluarga

Genogram

GI

G II

70

63 6
G III 5

29 2
8

88
89

Keterangan

: Laki-laki : Meninggal

: Perempuan : Garis Keturunan

: Garis Perkawinan : : Pasien

- - - - : Garis serumah

GI : Kakek dan Nenek pasien meninggal dunia karena tanpa ada sebab

G II : Ayah pasien adalah anak ke dua dari tiga bersaudara bersaudara yang

meninggal karena tanpa ada sebabdan Ibu pasien anak ke tiga dari

lima bersaudara yang meniggal karena penyakit hipertensi

G III : Pasien adalah anak ke empat dari lima bersaudara. Pasien berumur 63

tahun yang mengalami penyakit BPH dan pasien memiliki 2 orang

anak

g. Aspek Psikososial

1. Pola pikir dan persepsi

a. Alat bantu yang digunakan

Pasien tidak memiliki alat bantu baik kaca mata maupun alat

bantu pendengaran.

b. Kesulitan yang dialami

Pasien tidak mampu membaca dan menulis.

2. Persepsi sendiri

a. Hal yang paling dipikirkan saat ini adalah Pasien khawatir

dengan kondisi kesehatanya dan beharap segera sembuh

agar dapat beraktifitas seperti biasanya.

89
90

b. Perubahan selama sakit : Pasien tidak mampu lagi bekerja

karena kedua kakinya lumpuh.

3. Suasana hati : Pasien nampak berharap cepat

sembuh

3. Hubungan berkomunikasi

a. Pasien berbicara jelas, menggunakan bahasa Makassar dan

Indonesia.

b. Kehidupan keluarganya sesuai dengan adat istiadat

Makassar dan pembuat keputusan keluarga adalah Pasien

sebagai kepala keluarga dengan pola komunikasi yang

terarah yaitu musyawarah.

c. Keuangan Pasien sudah sangat memadai dengan

penghasilan per 3 bulan Rp. 3.000.0000

4. Hubungan seksual

Status Pasien sudah kawin .

5. Pertahanan koping

Pengambilan keputusan oleh Pasien sebagai kepala

keluarga.Yang disukai dari pasien sendiri tidak ada adapun yang

ingin dirubah dari kehidupan tidak ada. Hal yang dilakukan jika

stres adalah beribadah dan tidur

a. Yang dilakukan perawat agar Pasien nyaman dan aman yaitu

mendengarkan semua keluhannya.

6. Spiritual

90
91

Pasien menganut agama islam dan percaya bahwa sejak sumber

kekuatanya dari ALLAH SWT. Selama di RS Pasien hanya dapat

berdoa dan bertawakkal agar cepat sembuh.

h. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum : Baik

2. Tingkat kesadaran : Composmentis

Tanda – tanda vital :

TD : 130/80 mmHg
Normal Tekanan Darah
Dewasa tua : 130-150 mmHg
Nadi : 84x/mnt
Normal nadi
Lansia : 60-90 x/mnt

Pernapasan : 24x / mnt

Normal Penapasan

Lansia : 14-24 x/mnt

Suhu : 36,5℃

Normal suhu

Normal : 36,6oC-37,2 oC

3. Kepala : Bentuk mesochepal

a. Rambut : warna putih, lurus, tidak ada Ketombe

b. Mata & wajah : konjungtiva pucat, pupil isokor, gerak bola

mata ke segala arah, tidak ada strabismus,

wajah Pasien nampak meringis .

c. Hidung : tidak terdapat sputum, tidak ada sekret,

penciuman baik, tidak ada deviasi.

91
92

d. Mulut : bibir lembab, gigi masih lengkap, terdapat

karang gigi.

e. Leher : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran

kelenjar tiroid.

f. Dada dan thoraks: bentuk dada simetris, pergerakan mengikuti

pola nafas

g. Paru – Paru :

1). Inspeksi : Normal (eupnea) : teratur dan frekuensi 12 –

20 x/ menit

2). Perkusi : suara paru resonan

3). Palpasi : pergerakan dada simetris, nyeri tekan tidak

ada, taktil pramitus.

4). Auskultasi : terdengar suara vesikuler di seluruh daerah

paru.

h. Jantung

Inspeksi : Tidak ada getaran apex terlihat.

Palpasi : Denyut jantung teraba, tidak ada nyeri

tekan.

Perkusi : Pekak

Auskultasi : 1. Bunyi jantung I dan jantung II murni dan

teratur (Lub – Dup).

2. Tidak terdengar bunyi jantung

abnormal (Cs3 – Cs4)

i. Abdomen

92
93

1). Inspeksi : adanya luka post op, balutan pada luka

bersih, terpasang drain di daerah

intercostals 7-8-9 mid aksilaris line/dorsal

axillar line, warna kemerahan, jumlah 100

cc, tidak ada oedema.

2). Auskultasi : terdengar bising usus, peristaltik 16x/

menit.

3). Perkusi : suara timpani hampir diseluruh permukaan

abdomen.

4). Palpasi : tidak ada pembesaran hepar, limfa, ada

nyeri tekan.

j. genetalia

Tidak ada luka, terpasang kateter, terpasang verban pada

gland penis, terpasang cairan irigasi NaCl 0,9%, urine

kemerahan tidak ada tanda–tanda infeksi pada area

pemasangan kateter.

k. Ekstremitas

Atas : Kulit sawo matang, tidak ada edema, kuku

bersih, terpasang infus RL 20 tts/mnt pada

tangan kanan, tidak ada edema.

Kekuatan otot : Kekuatan penuh (skor5)

Bawah : Kedua kaki tidak bisa digerakkan, tampak

edema pada kedua betis, tidak ada luka,

nampak kedua kaki dipijat oleh anaknya.

93
94

Kekuatan otot : Otot sama sekali tidak mampu bergerak,

tampak berkontraksi, bilalengan/ tungaki

dilepaskan, akan jatuh 100% pasif (skor 0).

0 : Otot sama sekali tidak mampu bergerak, tampak

berkontraksi, bilalengan/ tungaki dilepaskan, akan

jatuh 100% pasif.

1 :Tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada

tahanan sewaktu jatuh.

2 : Mampu menahan tegak yang berarti mampu menahan

gaya gravitasi (saja), tapi dengan sentuhan akan jatuh.

3 : Mampu menahan tegak walaupun sedikit didorong

tetapi tidak mampu melawan tekan/dorongan dari

pemeriksa.

4 :Kekuatan kurang dibandingkan sisi lain.

5 :Kekuatan penuh.

l. Penyuluhan dan pembelajaran

Tidak ada riwayat keluarga dengan penyakit kanker, hipertensi,

dan penyakit ginjal. Dan pasien juga tidak pernah

menggunakan anti hipertensi dan antidepresan dan pasien juga

tidak pernah menggunakan obat yang dijual bebas, pasien

sering alergi terhadap obat-obatan.

i. Pemeriksaan Penunjang

1. Pengobatan

a. Injeksi Ketorolac amp/8 jamIV

b. Ranitidin 1 amp/8 jam IV

94
95

2. pemeriksaan laboratorium 13/05/2016

Pemeriksaan Nilai Rujukan

1 2 3

WBC 6.5 103/ mm3 ( 4.3 – 10.8 )

RBC 3.27 L 103/ mm3 ( 4.20 – 5.40 )

HGB 8.9 L g/dl ( 17.0 – 18.0 )

HCT 28.1 L % ( 37.0 – 52.0 )

PLT 200 103/ mm ( 150 – 450 )

PCT 135 % ( 100 – 500 )

Pemeriksaan Nilai Rujukan

1 2 3

MCV 86 µm3 ( 80 – 99 )

MCH 27.2 pg ( 27.0 – 31.0 )

MCHC 31.6 L g/d ( 33.0 – 37.0 )

RDW 15.2 H % ( 10.0 – 16.0 )

MPV 6.8 µm3 ( 6.5 – 11.0 )

PDW 9.4 L % ( 10.0 – 18.0 )

95
96

VIII. Klasifikasi Data

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF

1 2

1. Pasien mengatakan nyeri 1.Ekspresi wajah nampak

pada area supra pubik luka meringis.

bekas operasi. 2. Pasien nampak lemah

2. Pasien mengatakan 3.Nampak kedua kaki sulit

badanya terasa lemah. digerakkkan

3. Pasien mengatakan tidak 4.Nampak kedua kaki dipijat oleh

bisa mengerakkan kedua anaknya

kakinya. 5.Terpasang kateter

4. Pasien mengatakan kedua 6.Terpasang verban pada gland

kakinya keram penis

5. Pasien mengatakan BAK 7.Terpasang cairan irigasi NaCl

melalui kateter. 0,9 %.

6. Pasien mengatakan susah 8. Urine kemerahan

tidur dan sering terbangun 9. Konjungtiva nampak pucat

7. Pengkajian nyeri TTV.

P : Pasien merasa nyeri TD : 130/80 mmHg

ketika banyak bergerak Nadi : 84x/mnt

Q : Nyeri seperti (tertusuk-tusuk) Pernapasan : 24x / mnt

R : Nyeri pada area supra Suhu : 36,5℃

pubik luka bekas operasi.

S : Skala 5 (nyeri sedang)

T : Tidak menentu

96
97

Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1 2 3 4

1 Data Subjektif : Hyperplasia pada kelenjar Nyeri

1. Pasien mengatakan nyeri prostat

pada area supra pubik luka

bekas operasi. Tindakan pembedahan TURP

2. Pasien mengatakan (Transurethral resection of the

badanya terasa lemah. prostate)

3. Pengkajian nyeri

P : Pasien merasa nyeri Terputusnya kontinuitas jaringan

ketika banyak

bergerak Merangsang pengeluaran

Q : Nyeri seperti tertusuk (Histamine, prostaglandin, dan

-tusuk bradikinin)

R : Nyeri pada area supra

pubik luka bekas Medula Spinalis

operasi.

S : Skala 5 (nyeri sedang) Thalamus

T : Tidak menentu

Data Objektif : Cortex cerebri

1. Ekspresi wajah nampak

meringis. Nyeri

2. Pasien nampak lemah

97
98

1 2 3 4

TTV.

TD :130/70 mmHg

Nadi : 80x/mnt

Pernapasan : 24x / mnt

Suhu : 36,5℃

2 Data subjektif : Gangguan pada sendi Gangguan Mobilitas

1. Pasien mengatakan tidak

bisa mengerakkan kedua Akifitas tonus otot menjadi

kakinya. berkurang

2. Pasien mengatakan kedua

kakinya keram Gangguan Mobilitas

Data objektif :

1. Nampak kedua kaki sulit

digerakkkan

2. Nampak kedua kaki dipijat

oleh anaknya.

3 Data subjektif : Tindakan pembedahan TURP Perubahan pola

1. Pasien mengatakan BAK eliminasi

melalui kateter. Hambatan aliran urine

Data Objektif :

1. Terpasang kateter Distensi kandung kemih

2. Terpasang cairan irigasi

NaCl 0,9% Terpasang kateter dan spoling

3. Urine kemerahan

98
99

Perubahan pola eliminasi

1 2 3 4

4 Data Subjektif : Tindakan pemebedahan TURP Resiko infeksi

1. Pasien mengatakan

terpasang kateter pada alat Tindakan infasif pemasangan

genetalianya. kateter

Data Objektif :

1. Terpasang kateter Infasi Kuman

2. Terpasang verban pada

gland penis Resiko infeksi

3. Terpasang cairan irigasi

Nacl 0,9

4. Urine kemerahan

5 Data Subjektif : Tindakan pemebedahan TURP Gangguan pola tidur

1. Pasien mengatakan susah

tidur dan sering terbangun Nyeri

Data Objektif :

1. Pasien nampak lemah Mengaktifkan RAS

2. Konjungtiva nampak (Reticular activating system)

pucat

Ketidaknyamanan

Pasien terjaga

Gangguan pola tidur

99
100

Rencana asuhan keperawatan

Nama : Tn.N Tanggal pengkajian : 27 April 2016

No.Rm : 00 12 25 Tanggal MRS : 13 Mei 2016

Ruangan : Ar – Rahman Dx.Medis : Post OP BPH

Rencana asuhan keperawatan


No Diagnosa Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional

1 2 3 4 5

1 Nyeri berhubungan Nyeri berkurang atau 1. Kaji nyeri, perhatikan 1. Nyeri tajam,

dengan spasmus hilang dengan kriteria lokasi dan intensitas intermitten dengan

kandung kemih dan hasil : nyeri (skala 0-10). dorongan berkemih/

insisi sekunder pada 1. Pasien mengatakan pasase urine sekitar

TURP ditandai dengan: nyeri berkurang / kateter menunjukan

Data Subjektif : hilang. spasme kandung

1. Pasien mengatakan 2. Ekspresi wajah kemih.

nyeri Pasien tenang. 2. Ajarkan penggunaan 2. Menurunkan

pada area supra 3. Pasien akan tidur/ teknik relaksasi tekanan Otot

pubik luka istirahat dengan termasuk latihan memfokuskan

bekas operasi. tepat. nafas dalam, kembali perhatian

2. Pasien mengatakan 4. Tanda – tanda vital vasisualisasi. dan dapat

badanya terasa dalam batas normal. meningkatkan

lemah. kemampuan koping.

Data Objektif : 3. Jagalah selang 3. Sumbatan pada

1. Ekspresi wajah drainase urine aman selang kateter oleh

nampak meringis dipaha untuk bekuan darah dapat

2. Pengkajian nyeri mencegah menyebabkan

100
101

1 2 3 4 5

P : Pasien merasa peningkatan tekanan distensi kandung

nyeri ketika pada kandung kemih. kemih dengan

banyak bergerak Peningkatan

Q : Nyeri seperti spasme.

tertusuk 4. Observasi 4. Mengetahui

-tusuk tanda- tanda vital. perkembangan lebih

R : Nyeri pada area lanjut.

Supra pubik luka 5. Kolaborasi dengan 5. Menghilangkan

bekas operasi. dokter untuk nyeri dan mencegah

S : Skala 5 (nyeri memberikan spasmus kandung

sedang) obat – obatan kemih.

T : Tidak menentu ( analgetik atau anti

3. Pasien nampak spasmodic)

lemah

TTV.

TD :130/70 mmHg

Nadi : 80x/mnt

Pernapasan : 24x / mnt

Suhu : 36,5

101
102

1 2 3 4 5

2. Gangguan mobilitas Agar pasien mampu 1. Kaji derajat mobilitas 1. Mengetahui derajat

fisik berhubungan mengerakkan kaki yang dihasilkan oleh imobiltas Pasien.

dengan kedua kaki sulit secara terarah dalam cedera atau

digerakkan ditandai lingkungan sendiri atau pengobatan.

dengan : tanpa bantuan orang 2. Latih Pasien 2. Melatih mobilisasi

Data subjektif : lain. melakukan rentang dini dapat

1. Pasien mengatakan gerak aktif pada meminimalkan

tidak bisa ekstremitas yang kontraktur pada

mengerakkan kedua sakitdan tidak sakit. ekstremitas dan

kakinya. meningkatkan aliran

2. Pasien mengatakan darah.

kedua kakinya 3. Ubah posisi secara 3. Menghindari

keram. periode dan dorong terjadinya dekubitus

Data objektif : untuk pada sisi yang

1. Nampak kedua kaki Latihan. sering tertekan.

sulit digerakkkan.

2. Nampak kedua kaki

dipijat oleh

anaknya.

102
103

1 2 3 4 5

3. Perubahan pola Dapat mencapai waktu 1. Pertahankan 1. Agar kateter tidak

eliminasi berhubungan penyembuhan eliminasi kepatenan, posisi bergeser dari posisi

dengan proses Pasien kembali normal selang dan drainase nya dan mencegah

pemebedahan TURP dengan kriteria hasil : kantung. terhambatnya aliran

ditandai dengan : 1. BAK Pasien dalam urine.

Data subjektif : batas normal. 2. Dorong peningkatan 2. Memperthankan

1. Pasien 2. BAK teratur bebas dan pertahankan hidrasi urine baik

mengatakan BAK dari distensi pemasukan yang serta sebagai

melalui kateter. kandung kemih. akurat. pembilas kandung

Data Objektif : 3. Tidak terpasang kemih dan

1. Terpasang kateter kateter. mencegah

2. Terpasang cairan terjadinya endapan.

irigasi NaCl 0,9% 3. Observasi input dan 3. Untuk mengetahui

3. Urine kemerahan output melalui keseimbangan input

kateter. dan output cairan.

4. Observasi warna 4. Untuk mengetahui

urine melaui melalui keseimbangan

urine bag. pengeluaran warna

urine bag.

5. Kolaborasi medis 5. Untuk mencuci

untuk irigasi kandung kandung kemih dan

kemih sesuai indikasi bekuan darah dan

pada periode operasi. untuk

mempertahankan

103
104

1 2 3 4 5

6. potensi kateter

aliran urine.

4 Resiko tinggi infeksi Pasien tidak 1. Kaji adanya tanda- 1. Untuk mengetahui

berhubungan dengan menunjukan tanda – tanda infeksi. secara dini adanya

prosedure invasive : tanda infeksi. Dengan tanda- tanda infeksi

alat selama kriteria hasil : sehingga dapat

pembedahan, kateter, 1. Pasien tidak diberikan intervensi

irigasi kandung kemih mengalami infeksi. selanjutnya.

sering, ditandai 2. Dapat mencapai 2. Anjurkn intake cairan 2. Output urine

dengan : waktu yang cukup (2500- sehingga resiko

Data Subjektif : penyembuhan 3000) sehingga dapat terjadi ISK dikurangi

1. Pasien mengatakan 3. Tanda - tanda menurunkan dan

terpasang kateter vital dalam batas potensial infeksi. mempertahankan

pada alat normal dan tidak fungsi ginjal.

genetalianya. ada tanda – tanda 3. Pertahankan potensi 3. Menghindari reflex

Data Objektif : shock. urobag dibawah. baik urine yang

1. Terpasang kateter dapat memasukkan

2. Terpasang verban bakteri ke kandung

pada gland penis kemih.

3. Terpasang cairan 4. Observasi tanda – 4. Mencegah sebelum

irigasi NaCl 0,9% tanda vital, laporkan terjadi shock.

4. Urine kemerahan tanda – tanda shock

dan demam.

5. Observasi urine : 5. Mengidentifikasi

104
105

warna, jumlah dan adanya bakteri.

bau.

1 2 3 4 5

5. Gangguan pola tidur Kebutuhan tidur pasien 1. Jelaskan pada Pasien 1. Meningkatkan

berhubungan dengan terpenuhi dengan dan keluarga pengetahuan

nyeri sebagai efek kriteria hasil : penyebab gangguan Pasien sehingga

pembedahan ditandai 1. Pasien mampu tidur dan mau kooperatif

dengan : beristirahat/ tidur kemungkinan cara dalam tindakan

Data Subjektif : dalam waktu yang menghindari. keperawatan

1. Pasien cukup . 2. Ciptakan suasana 2. Suasana tenang

mengatakan susah 2. Pasien yang mendukung akan mendukung

tidur dan sering mengungkapkan suasana tenang istirahat.

terbangun sudah bisa tidur dengan mengurangi

Data Objektif : 3. Pasien mampu kebisingan.

1. Pasien nampak menjelaskan faktor 3. Beri kesempatan 3. Menentukan

lemah penghambat tidur. Pasien untuk rencana mengatasi

2. Konjungtiva mengungkapkan gangguan.

nampak pucat penyebab gangguan

tidur

105
106

Implementasi

Nama : Tn.N Tanggal MRS : 27 April 2016

No.Rm : 00 12 25 Tanggal pengkajian : 13 Mei 2016

Ruangan : Ar – Rahman Dx.Medis : Post OP BPH

Hari /Tanggal Diagnosa Jam Implementasi

1 2 3 4

Sabtu, 14 Mei I 10.00 1. Mengkaji nyeri, perhatikan

2016 lokasi dan intensitas nyeri

(skala 0-10).

Hasil : Nyeri pada daerah

Suprapubik dan gland penis

dengan skala 5

(sedang)

10.10 2. Mengajarkan penggunaan

teknik relaksasi termasuk

latihan nafas dalam,

vasisualisasi.

Hasil : Pasien mengerti

tentang teknik nafas dalam.

10.15 3. Mengontrol selang drainase

urine aman dipaha untuk

mencegah peningkatan

tekanan pada kandung

kemih.

Hasil : Selang drainase

106
107

1 2 3 4

telah difiksasi pada paha

10.30 4. mengobservasi tanda–

tanda vital.

Hasil : TTV.

TD :130/80 mmHg

Nadi : 70x/mnt

Pernapasan : 22x / mnt

Suhu : 36℃

10.40 5. Penatalaksanaan dengan

dokter untuk memberikan

obat–obatan

(analgetik atau anti

spasmodic)

Hasil : Tidak dilakukan


II 10.50 1. Mengkaji derajat mobilitas

yang dihasilkan oleh cedera

atau pengobatan.

Hasil : kedua kaki Pasien

tidak bisa digerakkan .

2. Melatih Pasien melakukan

rentang gerak aktif pada

ekstremitas yang sakit dan

tidak sakit.

Hasil : kedua kaki Pasien

107
108

1 2 3 4

selalu digerakkan ke atas, ke

samping kiri dan kanan

dibantu oleh anaknya.

10.55 3. mengubah posisi secara

periode dan dorong untuk

Latihan.

Hasil : Posisi Pasien semi

fowler dan kaki ditekuk

dibantu oleh anaknya.

III 11.10 1. Mempertahankan kepatenan,

posisi selang dan drainase

kantung.

Hasil : posisi kateter, selang

dan kantong drainase tidak

bergeser.

11.15 2. Mendorong peningkatan dan

pertahankan pemasukan

yang akurat.

Hasil : pasien minum 7 gelas

/hari

11.25 3. Mengobservasi input dan

output melalui kateter.

Hasil :

Input :± 2000 cc/hari

108
109

1 2 3 4

Output : ± 1500 cc/hari

11.30 4. Mengobservasi warna urine

melaui melalui urine bag.

Hasil : warna urine

kemerahan

11.35 5. Penatalaksanaan medis untuk

irigasi kandung kemih sesuai

indikasi pada periode operasi.

Hasil : terpasang cairan irigasi

kandung kemih

(Nacl)

IV 11.40 1. Mengaji adanya tanda-tanda

infeksi.

Hasil : tidak nampak adanya

tanda-tanda infeksi

11.50 2. Menganjurkan intake cairan

yang cukup (2500-3000)

sehingga dapat menurunkan

potensial infeksi.

Hasil : pasien minum ±7

gelas/hari

11.55 3. mempertahankan potensi

urine bag dibawah.

Hasil :posisi urine bag

109
110

1 2 3 4

diletakkan/ tergantung

disamping tempat tidur.

12.10 4. Mengobservasi tanda – tanda

vital, laporkan tanda – tanda

shock dan demam.

Hasil : Suhu tubuh 36℃

12.40 5. Mengobservasi urine : warna,

jumlah dan bau.

Hasil : warna kemerahan,

Jumlah 1500 cc/hari,

Bau amoniak

V 12.50 1. Menjelaskan pada Pasien dan

keluarga penyebab gangguan

tidur dan kemungkinan cara

menghindari.

Hasil :pasien dan kelauarga

mengerti tentang penjelasan

yang diberikan dan sudah

tidak bertanya lagi.

13.00 2. Menciptakan suasana yang

mendukung suasana tenang

dengan mengurangi

kebisingan.

110
111

1 2 3 4

Hasil : mengurangi

pengunjung pasiensehingga

pasien bisa beristirahat

tenang.

13.15 3. Memberi kesempatan Pasien

untuk mengungkapkan

penyebab gangguan tidur

Hasil : pasien sudah

mengerti gangguan

tidurnya disebabkan .

karena rasa nyeri akibat

tindakan pembedahan dan

keram pada kedua kaki.

111
112

Implementasi

Nama : Tn.N Tanggal MRS : 27 April 2016

No.Rm : 00 1225 Tanggal pengkajian : 13 Mei 2016

Ruangan : Ar – Rahman Dx.Medis : Post OP BPH

Hari /Tanggal Diagnosa Jam Implementasi

1 2 3 4

Minggu 15 Mei I 08.30 1. Mengkaji nyeri,

2016 perhatikan lokasi dan

intensitas nyeri (skala 0-

10).

Hasil : Skala Nyeri 2

(sedang)

08.40 2. Mengajarkan penggunaan

teknik relaksasi termasuk

08.50 3. latihan nafas dalam,

vasisualisasi.

Hasil : Pasien sudah

mampu melakukam

tentang teknik nafas

dalam.

08.55 4. Mengontrol selang

drainase urine aman

dipaha untuk mencegah

peningkatan tekanan

112
113

1 2 3 4

09.00 5. pada kandung kemih.

Hasil : Selang drainase

telah difiksasi pada paha

6. Mengobservasi tanda –

tanda vital.

Hasil : TTV.

TD :120/80 mmHg

Nadi : 80x/mnt

Pernapasan : 20x / mnt

Suhu : 36,5℃

7. Penatalaksanaan dengan

dokter untuk memberikan

obat–obatan (analgetik

atau anti spasmodic)

Hasil : Tidak dilakukan

II 09.15 1. Mengkaji derajat mobilitas

yang dihasilkan oleh

cedera atau pengobatan.

Hasil : kedua kaki Pasien

tidak digerakkan.

09.20 2. Melatih Pasien melakukan

rentang gerak aktif pada

ekstremitas yang sakit

dan tidak sakit.

113
114

1 2 3 4

Hasil : kedua kaki Pasien

selalu digerakkan ke atas, ke

samping kiri dan kanan

dibantu oleh anaknya.

09.25 3. mengubah posisi secara

periode dan dorong untuk

Latihan.

Hasil : Posisi Pasien

semi

fowler dan kaki

ditekuk dibantu

oleh anaknya

III 09.30 1. Mempertahankan

kepatenan, posisi selang

dan drainase kantung.

Hasil : posisi kateter,

selang dan kantong

drainase tidak bergeser.

09.20 2. Mendorong peningkatan

dan pertahankan

pemasukan yang akurat.

Hasil : pasien minum 8

gelas /hari

09.30 Mengobservasi input dan

114
115

1 2 3 4

3. output melalui kateter.

09.35 Hasil :

Input :± 2000 cc/hari

Output : ± 1500 cc/hari

4. Mengobservasi warna

urine melaui melalui urine

09.40 bag.

Hasil : warna urine masih

kemerahan

5. Penatalaksanaan medis

untuk irigasi kandung

kemih sesuai indikasi

pada periode operasi.

Hasil : masih terpasang

cairan irigasi kandung

kemih

(Nacl)

IV 09.45 1. Mengaji adanya tanda-

tanda infeksi.

Hasil : nampak adanya

tanda-tanda infeksi

karena perban yang

kotor pada kateter dan

115
116

1 2 3 4

09.50

verban belum diganti.

2. Menganjurkan intake

cairan yang cukup

(2500-3000) sehingga

dapat menurunkan

potensial infeksi.

09.55 Hasil : pasien minum ±8

gelas/hari

3. mempertahankan

potensi urine bag

dibawah.

Hasil :posisi urine bag

10.00 diletakkan/ tergantung

disamping tempat tidur.

4. Mengobservasi tanda–

tanda vital, laporkan

tanda–tanda shock dan

demam.

10.15 Hasil : Suhu tubuh

36,5℃

5. Mengobservasi urine :

warna, jumlah dan bau.

Hasil : warna : kemerahan

116
117

1 2 3 4

V 12.50 Jumlah 1500 cc/hari

Bau amoniak.

1. Menjelaskan pada Pasien

dan keluarga penyebab

gangguan tidur dan

kemungkinan cara

menghindari.

Hasil :Pasien dan

13.00 kelauarga mengerti tentang

penjelasan yang diberikan.

2. Menciptakan suasana yang

mendukung suasana

tenang dengan mengurangi

kebisingan.

Hasil : Suasana tenang

belum tercipta karena

jumlah pengunjung/

13.15 keluarga pasien yang

terlalu banyak.

3. Memberi kesempatan

Pasien untuk

mengungkapkan penyebab

gangguan tidur

Hasil : pasien mengatakan

117
118

1 2 3 4

gangguan tidurnya

disebabkan karena rasa

nyeri akibat tindakan

pembedahan dan keram

pada kedua kaki

118
119

Evaluasi

Nama : Tn.N Tanggal MRS : 27 April 2016

No.Rm : 00 12 25 Tanggal pengkajian : 13 Mei 2016

Ruangan : Ar – Rahman Dx.Medis : Post OP BPH

Hari /Tanggal Diagnosa Jam Evaluasi

1 2 3 4

Sabtu, 14 Mei I 15.00 S : Pasien mengatakan

2016 masih nyeri pada daerah

supra pubik.

O :Pasien nampak meringis

dengan skala 5 (sedang)

A : Masalah belum teratasi

Pasien masih

merasakan nyeri pada

daerah suprapubik luka

bekas operasi.

P : lanjutkan intervensi

1. Kaji nyeri, perhatikan

lokasi dan intensitas

nyeri (skala 0-10).

2. Ajarkan penggunaan

teknik relaksasi

termasuk latihan nafas

dalam, vasisualisasi.

119
120

1 2 3 4

3. Jagalah selang

drainase urine aman

dipaha untuk

mencegah peningkatan

tekanan pada kandung

kemih,

4. Observasi tanda–

tanda vital.

5. Kolaborasi dengan

dokter untuk

memberikan obat-

obatan

6. (analgetik atau anti

spasmodic)

II 15.15 S : Pasien mengatakan

masih belum bisa

mengerakkan kedua

kakinya.

O : kedua kaki nampak

keram

120
121

1 2 3 4

A : Masalah belum teratasi

Kedua kaki pasien

masih tidak bisa

digerakkan.

P : lanjutkan intervensi

1. Kaji derajat mobilitas

yang dihasilkan oleh

cedera atau

pengobatan.

2. Latih Pasien

melakukan rentang

gerak aktif pada

ekstremitas yang

sakitdan tidak sakit.

3. Ubah posisi secara

periode dan dorong

untuk Latihan.

III 15.25 S : Pasien mengatakan

BAK melaui kateter.

O : Pasien berkemih

melalui kateter dan

nampak urine

kemerahan

A : Masalah belum teratasi

121
122

1 2 3 4

Pasien masih dipasangi

kateter.

P : lanjutkan intervensi

1. Pertahankan

kepatenan, posisi

selang dan drainase

kantung.

2. Dorong peningkatan

dan pertahankan

pemasukan yang

akurat.

3. Observasi input dan

output melalui kateter

4. Observasi warna urine

melaui melalui urine

bag

5. Kolaborasi medis untuk

irigasi kandung kemih

sesuai indikasi pada

periode operasi.

IV 15.30 S : Pasien mengatakan

masih terpasang kateter.

O : Nampak Terpasang

Kateter,Terpasang

122
123

1 2 3 4

verban pada gland

penis, Terpasang cairan

irigasi NaCl 0,9%

A : Masalah belum teratasi

Masih terpasang kateter,

terpasang verban pada

daerah suprapubik,

terpasang cairan NaCl

0,9%.

P : lanjutkan intervensi

1. Kaji adanya tanda-tanda

infeksi.

2. Anjurkn intake cairan yang

cukup (2500-3000)

sehingga dapat

menurunkan potensial

infeksi.

3. Pertahankan potensi

urobag dibawah.

4. Observasi tanda–tanda

vital, laporkan tanda–tanda

shock dan demam.

Observasi urine : warna,

jumlah dan bau.

123
124

1 2 3 4

15.40 S : Pasien mengatakan

Susah tidur dan sering

terbangun.

O : Pasien nampak lemah

A : Masalah belum teratasi

Pasien tidak bisa tidur

karena nyeri pada

daerah suprapubik dan

keram pada kedua kaki.

P : lanjutkan intervensi

1. Jelaskan pada Pasien dan

keluarga penyebab

gangguan tidur dan

kemungkinan cara

menghindari.

2. Ciptakan suasana yang

mendukung suasana

tenang dengan

mengurangi kebisingan

3. Beri kesempatan Pasien

untuk mengungkapkan

penyebab gangguan tidur

124
125

Evaluasi

Nama : Tn.N Tanggal MRS : 27 April 2016

No.Rm : 00 12 25 Tanggal pengkajian : 13 Mei 2016

Ruangan : Ar – Rahman Dx.Medis : Post OP BPH

Hari /Tanggal Diagnosa Jam Evaluasi

1 2 3 4

Minggu, 15 Mei I 15.30 S : Pasien mengatakan

2016 sudah tidak nyeri lagi.

O : ekspresi nampak

tenang.

A : Masalah teratasi

Nyeri pada daerah

suprapubik luka bekas

operasi sudah tidak ada

lagi

P : Pertahankan intervensi

II 15.40 S : Pasien mengatakan

masih belum bisa

mengerakkan kedua

kakinya.

O : kedua kaki nampak

keram

A : Masalah belum teratasi

Kedua kaki Pasien

125
126

1 2 3 4

tidak bisa digerakkan

P : lanjutkan intervensi

1. Kaji derajat mobilitas yang

dihasilkan oleh cedera atau

pengobatan.

2. Latih Pasien melakukan

rentang gerak aktif pada

ekstremitas yang sakitdan

ptidak sakit.

3. Ubah posisi secara

periode dan dorong untuk

Latihan.

III 15.25 S : Pasien mengatakan

BAK melaui kateter.

O : Pasien berkemih

melalui kateter dan

nampak urine

kemerahan

A : Masalah belum teratasi

Kateter masih

terpasang, drain masih

terpasang.

P : lanjutkan intervensi

126
127

1 2 3 4

1. Pertahankan kepatenan,

Posisi selang dan

darinase kantung.

2. posisi selang dan

drainase kantung.

3. Dorong peningkatan dan

pertahankan pemasukan

yang akurat.

4. Observasi input dan

output melalui kateter

5. Observasi warna urine

melaui melalui urine bag

6. Kolaborasi medis untuk

irigasi kandung kemih

sesuai indikasi pada

periode operasi.

IV 15.30 S : Pasien mengatakan

masih terpasang kateter.

O : Terdapat tanda – tanda

Infeksi karena perban

yang sudah kotor

A : Masalah belum teratasi

Verban sudah kotor dan

belum diganti.

127
128

1 2 3 4

P : lanjutkan intervensi

1.Kaji adanya tanda-tanda

infeksi.

2. Anjurkan intake cairan

yang cukup (2500-

3000) sehingga dapat

menurunkan potensial

infeksi.

3. Pertahankan potensi

urobag dibawah.

4. Observasi tanda – tanda

vital, laporkan tanda–

tanda shock dan

demam.Observasi urine

: warna, jumlah dan bau.

V 15.40 S : Pasien mengatakan

sudah bisa tidur.

O : Ekspresi pasien nampak

ceria

A : Masalah teratasi

Pasien sudah bisa

tertidur nyenyak dan

tidak terbangun lagi.

P : Pertahankan intervensi

128
129

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, penulis akan menguraikan secara sistematis adanya

kesenjangan antara teori dengan kasus nyata yang dirawat secara langsusng

selama tiga hari dari tanggal 15 Mei 2016 sampai 17 Mei 2016 pada Tn.N

Dengan Gangguan Benigna Prostate Hyperplasia Di Ruang AR-Rahman Rumah

Sakit Umum Daerah Haji dengan menggunakan proses keperawatan meliputi :

A. Pengkajian

Pada tahap pengkajian telah diuraikan sebuah kasus Infeksi Saluran

Kemih pada Tn.N umur 63 tahun masuk rumah sakit tanggal 27 April 2016

dengan keluhan pasien merasa nyeri pada suprapubik karena susah buang

air kecil dan nyeri pada daerah gland penis.

Data yang muncul pada pasien adalah :

Data subjektif

3. Pasien mengatakan nyeri pada area supra pubik luka bekas

operasi.

4. Pasien mengataka badanya terasa lemah.

5. Pasien mengatakan tidak bisa mengerakkan kedua kakinya.

6. Pasien mengatakan kedua kakinya keram.

7. Pasien mengatakan BAK melalui kateter.

8. Pasien mengatakan susah tidur dan sering terbangun

9. Pengkajian nyeri

P : Pasien merasa nyeri ketika banyak bergerak

Q : Nyeri seperti (tertusuk-tusuk)

R : Nyeri pada area supra pubik luka bekas operasi.

129
S : Skala 5 (nyeri sedang)

T : Tidak menentu

Data objektif

1.Ekspresi wajah nampak meringis.

2. Pasien nampak lemah

3.Nampak kedua kaki sulit digerakkkan

4.Nampak kedua kaki dipijat oleh anaknya

5.Terpasang kateter

6.Terpasang verban pada gland penis

7.Terpasang cairan irigasi NaCl 0,9 %.

8. Urine kemerahan

9. Konjungtiva nampak pucat

TTV.

TD : 130/80 mmHg

Nadi : 84x/mnt

Pernapasan : 24x / mnt

Suhu : 36,5℃

Sedangkan menurut teori Biasanya pasien mengeluh nyeri pada

saat miksi, pasien juga mengelu sering buang air kecil berulang-

ulang (anyang-anyangan), terbangun untuk miksi pada malam hari,


perasaan ingin miksi yang sangat mendesak, kalau mau miksi harus

menunggu lama, harus mengedan, kencing terputus-putus.

Berdasarkan hal tersebut tidak ditemukan adanya kesenjangan

dikarenakan sesuai dengan teori maka masalah utama pasien adalah

rasa nyeri.

B. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data, Penulis menerapkan diagnosa

keperawatan pada Tn.N adalah :

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi

sekunder pada TURP.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kedua kaki lumpuh.

3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan proses pemebedahan

TURP.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedure invasive : alat

selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek

pembedahan.

Sedangkan menurut diagnosa keperawatan yang muncul

menurut NANDA NIC-NOC, (2015) adalah :

a. Gangguan elminasi urine berhubungan dengan sumbatan saluran

pengeluaran pada saluran pada kandung kemih: Benigna Prostate

Hyperplasia.

b. Nyeri akut berhubungan dengan agent injuri fisik (spasme kandung

kemih).
c. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan sebagai

efek sekunder dari prosedur pembedahan.

d. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma efek samping

pembedahan.

e. Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal.

f. Retensi urine

g. Ansietas berhubungan dengan perasaan takut terhadap tindakan

pembedahan.

Dari data diatas terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang

dikaji penulis yaitu diagnosa keperawatan pada Teori ada tujuh Diagnosa

sedangkan di lapangan Cuma ada Tiga diagnosa keperawatan dan dua

diantaranya diagnosa yang ditemukan tidak ada dalam teori.

C. Intervensi

Perumusan diagnosa keperawatan disesuaikan dengan kepustakaan

yang meliputi diagnosa menurut NANDA NIC-NOC, (2015).

Intervensi keperawatan pada teori agak berbeda dengan intervensi pada

kasus karena disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Intervensi keperawatn

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi

sekunder pada TURP.

Intervensi yang disusun oleh penulis adalah Kaji nyeri, perhatikan lokasi

dan intensitas nyeri (skala 0-10), Anjurkan pada pasien untuk tidak

duduk dalam waktu yang lama sesudah tindakan TURP, Ajarkan

penggunaan teknik relaksasi termasuk latihan nafas dalam,

vasisualisasi, Kontrol selang drainase urine aman dipaha untuk


mencegah peningkatan tekanan pada kandung kemih, Observasi tanda

–tanda vital,Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat – obatan

(analgetik atau anti spasmodic).

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kedua kaki lumpuh.

Intervensi yang disusun oleh penulis adalah Kaji derajat mobilitas yang

dihasilkan oleh cedera atau pengobatan, Latih pasien melakukan

rentang gerak aktif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit, Ubah

posisi secara periode dan dorong untuk Latihan.

3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan proses pemebedahan

TURP.

Intervensi yang disusun oleh penulis adalah Pertahankan kepatenan,

posisi selang dan drainase kantung, Dorong peningkatan dan

pertahankan pemasukan yang akurat, Oservasi input dan output melalui

kateter, Observasi warna urine melaui melalui urine bag, Kolaborasi

untuk irigasi kandung kemih sesuai indikasi pada periode operasi.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedure invasive : alat

selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering

Intervensi yang disusun oleh penulis adalah Kaji adanya tanda-tanda

infeksi, Anjurkan intake cairan yang cukup (2500-3000) sehingga dapat

menurunkan potensial infeksi, Pertahankan potensi urine bag dibawah,

Observasi tanda – tanda vital, laporkan tanda – tanda shock dan

demam, Observasi urine : warna, jumlah dan bau.


5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek

pembedahan.

Intervensi yang disusun oleh penulis adalah Jelaskan pada pasien dan

keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara menghindari,

Ciptakan suasana yang mendukung suasana tenang dengan

mengurangi kebisingan, Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan

penyebab gangguan tidur.

D. Implementasi

Pelaksanaan keperawatan dilaksanakan intervensi yang dibuat untuk

mencapai tujuan yang diharapkan. Pelaksanaan ini dilaksanakan selama

tiga hari di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dengan kerja sama

dari pasien, keluarga dan kepala ruangan perawatan Ar-Rahman.

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi

sekunder pada TURP.

Penulis melaksanakan semua intervensi yang telah disusun berkat

kerja sama yang baik dari semua pihak.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kedua kaki lumpuh.

Penulis melaksanakan semua intervensi yang telah disusun berkat

kerja sama yang baik dari semua pihak.

3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan proses pemebedahan

TURP.

Penulis melaksanakan semua intervensi yang telah disusun berkat

kerja sama yang baik dari semua pihak.


4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedure invasive : alat

selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Penulis melaksanakan semua intervensi yang telah disusun berkat

kerja sama yang baik dari semua pihak.

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek

pembedahan.

Penulis melaksanakan semua intervensi yang telah disusun berkat

kerja sama yang baik dari semua pihak.

E. Evaluasi

Pada tahap ini penulis melakukan evaluasi terhadap asuhan

keperawatan dengan menggunakan dua metode yaitu metode proses dan

metode hasil. Untuk evaluasi hasil di sesuaikan dengan tujuan yang telah

dicapai pada masing-masing diagnosa keperawatan yang muncul yaitu:

1. Nyeri berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi sekunder

pada TURP.

Kriteria hasil yang telah dicapai adalah Pasien mengatakan nyeri

berkurang / hilang, Ekspresi wajah pasien tenang, Pasien akan tidur/

istirahat dengan tepat, Tanda – tanda vital dalam batas normal.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kedua kaki lumpuh.

Diagnosa ini belum teratasi karena kedua kaki pasien masih lumpuh.

3. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan proses pemebedahan

TURP.

Kriteria hasil yang telah dicapai adalah BAK teratur bebas dari distensi

kandung kemih.

Diagnosa ini belum teratasi karena pasien masih terpasang kateter.


4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedure invasive : alat

selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.

Kriteria hasil yang telah dicapai adalah Tanda - tanda vital dalam batas

normal dan tidak ada tanda – tanda shock.

Diagnosa ini belum teratasi karena pasien masih memiliki tanda-tanda

infeksi pada daerah terpasang kateter.

5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri sebagai efek

pembedahan.

Kriteria hasil yang telah dicapai adalah Klien mampu beristirahat/ tidur

dalam waktu yang cukup, Klien mengungkapkan sudah bisa tidur.Klien

mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.

.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada pengkajian data yang ditemukan pada kasus Benigna Prostate

Hyperplasia yaitu nyeri pada area suprapubik POST TURP.

2. Masalah keperawatan yang ditemukan berdasarkan data dari hasil

pengkajian yaitu: Nyeri, Gangguan mobilitas fisik, Perubahan pola

eliminasi, Resiko tinggi infeksi, Gangguan pola tidur.

3. Rencana asuhan keperawatan berpedoman pada teori dan beberapa tidak

terdapat pada teori namun tetap memperhatikan kondisi klien, pasilitas

yang ada dan kebijakan rumah sakit.

4. Pelaksanaan implementasi perpedoman pada intervensi yang telah di

tetapkan dan tetap memperhatikan kondisi klien, pasilitas yang ada serta

kerja sama dengan tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit.

5. Pada evaluasi keperawatan 2 masalah dapat teratasi yaitu nyeri dan

gangguan pola tidur,dan ada 2 masalah yang belum teratasi yaitu

Gangguan mobilitas fisik, Perubahan pola eliminasi, dan Resiko tinggi

infeksi.

6. Kesenjangan antara teori dan kasus nyata tidak terlalu banyak perbedaan,

hanya saja ada beberapa data yang didapatkan dari hasil pengkajian yang

tidak terdapat dari teori dan beberapa data terdapat pada teori tidak di

terapkan pada kasus nyata.


B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat di

berikan pada pihak yang terkait:

1. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan kepada perawat agar memberikan asuhan keperawatan atau

Health Education secara profesional dalam merawat pasien agar tidak

terjadi komplikasi atau keadaan-keadaan yang dapat memperlambat

proses penyembuhan serta memperbaiki sarana dan prasarana yang

menunjang pelayanan di Rumah Sakit

2. Bagi pendidikan

Penulis mengharapkan agar institusi pendidikan meningkatkan mutu

pendidikan dalam menghadapi perkembangan dunia dan menghasilkan

lulusan yang berkualitas dalam menerapkan asuhan keperawatan di

rumah sakit kususnya pada paien dengan hernia inguinalis dextra.

3. Bagi keluarga

Dukungan keluarga bagi penderrita hernia inguinalis dextra sangat

membantu dalam mempercepat penyembuhan dan mengembalikan

fungsi tubuh kembali normal serta keluargalah yang paling berperan

dalam meningkatkan serta menjaga kesehatan dalam lingkungan

keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R. (2012). Faktor-faktor terjadinya pembesaran prostat jinak.


Semarang.http//www.prosiding seminar nasional.Unimus
Tanggal akses 29 November 2015

Clevo.RM &Margareth.TH. (2012).Asuhan keperawatan medikal bedah dan


penyakit dalam, Yogyakarta: Nuha Medika

Husada, D. (2012). Konsep proses, dokumentasi dan berfikir kritis dalam proses
keperawatan.www//http:dianhusadaKDKI.co.id
Tanggal akses 3 desember 2015

Haryono, R. (2013). Keperawatan medikal bedah: sistem perkemihan.


Yogyakarta: Rapha Publishing

Kemenkes. RI. (2015).Prevalensi kanker prostat di Indonesia. www//http:Infodatin


kemenkesri.com
Tanggal akses 25 November 2015

Nur, A. (2014). Asuhan keperawatan pada klien Tn.T dengan Hypertropi prostat
di Ruang Bedah lantai IV Rs. TK II Pelamonia Makassar.
www//http:asmanurs.AsuhankeperawatanpadaklienTn.Tdenganhypertro
piprostat.com
Tanggal akses 5 Desember 2015

Nurarif, AH & Kusuma.H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan


diagnosa medis NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction

Padilla, (2012), Buku ajar: Keperawatan medikal bedah,. Yogyakarta: Medikal


Book.

Probowo.E & Pranata AE, (2014). Buku ajar asuhan keperawatan sistem
perkemihan. Yogyakarta: Nuha Medika

Rasyidin, Zahi. Mahyuddin & Harkas. Y. (2013). Faktor-faktor yang berhubungan


dengan kejadian hipertropi prostat. Jurnal Stikes Nani
Hasanuddin.Volume 2 nomor (3)

Suharyanto.T. dan Madjid.A.(2013),Asuhan keperawatan pada klien dengan


gangguan sistem perkemihan. Jakarta:TIM.

Wijaya, SA. & Putri, M.Y. (2013).Keperawatan medikal bedah: Keperawatan


dewasa, teori, contoh askep. Yogyakarta: Nuha Medika.