You are on page 1of 15

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh

(suhu mencapai >380C). kejang demam dapat terjadi karena proses intracranial maupun

ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan sampai

dengan 5 tahun (Amid dan Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).

Menurut Marvin A. Fishman (2007), kejang demam terjadi pada 2-4% anak usia

di bawah 6tahun. Kriteria diagnostik mencakup: kejang pertama yang dialami oleh anak

berkaitan dengan suhu yang lebih tinggi dari pada 38°C; anak berusia kurang dari

6tahun; tidak ada tanda infeksi atau peradangan susunan saraf pusat; anak tidak

menderita gangguan metabolik sistemik akut. Kejang demam bersifat dependen-usia,

biasanya terjadi pada anak berusia antara 9 dan 20 bulan; kejang jarang dimulai sebelum

usia 6 bulan.

Kejang demam merupakan gangguan transien pada anak yang terjadi bersamaan

dengan demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan neurologik yang paling

sering dijumpai pada anak-anak dan menyerang sekitar 4% anak. Kebanyakan serangan

kejang terjadi setelah usia 6 bulan dan biasanya sebelum usia 3 tahun dengan

peningkatan frekuensi serangan pada anak-anak yang berusia kurang dari 18 bulan.

Kejang demam jarang terjadi setelah usia 5 tahun. (Dona L.Wong, 2008).

A. Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
a. Sel Saraf (Neuron)

Merupakan sel tubuh yang berfungsi mencetuskan dan menghantarkan

impuls listrik. Neuron merupakan unit dasar dan fungsional sistem saraf yang

mempunyai sifat exitability, artinya siap memberi respon apabila terstimulasi.

Salah satu sel saraf mempunyai badan sel (sama) yang mempunyai satu atau

lebih tonjolan(dendrit). Tonjolan-tonjolan ini keluar dari sitoplasma sel saraf.


Satu atau dua ekspansi yang sangat panjang disebut akson. Serat saraf adalah

akson dari satu neuron.

b. Sistem Saraf Pusat (Central Neuron Sistem)

Sistem saraf pusat (central neuron sistem) terdiri atas otak dan medulla

spinalis. Dibungkus oleh selaput meningen yang berfungsi untuk melindungi

CNS. Meningen terdiri atas 3 (tiga) lapis yaitu terdapat rongga-rongga (space)

yaitu :

1) Rongga epidural (epidural space). Berada diantara tulang tengkorak dan

durameter. Rongga ini berisi pembulu darah dan jaringan lemak yang

berfungsi sebagai bantalan.


2) Rongga subdural (subdural space). Berada diantara diameter dan arachnoid

yang berisi cairan serosa.


3) Rongga sub arachnoid (subarachnoid space). Terdapat diantara arachnoid dan

plameter, berisi cairan serebrospinalis.

Secara fisiologis sistem saraf pusat ini berfungsi untuk interprestasi,

intekrasi, koordinasi dan inisiasi berbagai impuls saraf. Otak terdiri dari otak

besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum) dan batang otak (brainstem).

1) Cerebrum (otak besar)

Terdiri dari dua belahan yang disebut Hemipherium cerebri dan

keduanya dipisahkan oleh fissure longitudinalis cerebri menjadi hemisfer

kanan dan kiri. Hemisfer cerebri dibagi menjadi lobus – lobus yang diberi

nama sesuai dengan tulang diatasnya, yaitu :

a) Lobus frontalis
b) Lobus parietalis
c) Lobus occipitalis
d) Lobus temporalis
2) Batang otak (brainstem)
Terdiri atas diencephalons, mid brain, pond, medulla oblongata

merupakan tempat berbagai macam pusat vital seperti pernapasan pusat

vasemotor, pusat pengaturan kegiatan jantung, pusat muntah, bersin dan

batuk.

3) Cerebellum (otak kecil)

Terletak dibagian belakang kranium menempati fosa cerebri posterior

dibawah lapisan cluaramer. Tentrium cerbelli, dibagian depannya terdapat

batang otak. Berat cerebellum sekitar 150 gram atau ±8% dari berat batang

otak seluruhnya. Cerebellum dapat dibagi menjadi hemisfer cerebella kanan

dan kiri yang dipisahkan oleh vesmis. Fungsi cerebellium pada umumnya

adalah mengkoordinasi gerakan-gerakan otot sehingga gerakan dapat

terlaksana dengan sempurna.

4) Pembuluh darah

Otak merupakan organ tubuh yang bekerja terus-menerus tentu

membutuhkan suplai darah yang cukup terdiri secara kontinu agar fungsi otak

berlangsung dengan baik. Jaringan otak mendapat suplai darah dari dua arteri

besar yaitu arteri carotis intra kanan dan kiri dan arteri vertebralis kanan dan

kiri.

5) Cairan Otak (cerebro spinalis fluid)

Di dalam jaringan otak terdapat 4 buah rongga yang saling

berhubungan yang disebut ventrikulus yang berisi cairan otak. Cairan otak

terdapat dalam spantum subaracnoidal dan ventrikulus. Cairan otak

diproduksi oleh flexus choroideus ventrikulus lateralis kanan kemudian

masuk ke dalam ventrikulus lateralis, dari ventrikulus lateralis kanan dan kiri

terdapat lubang yang disebut foramen luscka dan bagian tengah terdapat
lubang yang disebut foramen megendie. Fungsi cairan otak adalah sebagai

bantalan otak agar terhindar dari benturan atau terutama

kepala,mempertahankan tekanan cairan normal otak yaitu 10-20 mmHg serta

memperlancar metabolisme dan sirkulasi darah di otak.

2. Fisiologi

Sistem persyarafan terdiri dari sel-sel saraf (neuron) yang tersusun

membentuk sistem saraf pusat perifer. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri atas otak dan

medulla spinalis sedangkan sistem saraf tepi (perifer) merupakan susunan saraf

diluar ssp yang membawa pesan ke dan dari sistem saraf pusat. Stimulasi

(rangsangan) yang diterima oleh tubuh baik yang bersumber dari lingkungan internal

maupun eksternal menyebabkan berbagai perubahan dan menuntut tubuh untuk

mampu mengadaptasinya sehingga tubuh tetap seimbang, upaya tubuh dalam

mengadaptasi berlangsung melalui kegiatan sistem saraf disebut sebagai kegiatan

refleks. Bila tubuh tidak mampu mengadaptasinya maka akan terjadi kondisi yang

tidak seimbang atau sakit.

Stimulasi diterima oleh reseptor ( penerima rangsang) sistem saraf yang

selanjutnya akan dihantarkan oleh sistem saraf tepi ke sistem saraf pusat. Di sistem

saraf pusat impuls diolah untuk kemudian meneruskan jawaban (respon) kembali

melalui sistem saraf tepi menuju efektor yang berfungsi pencetus jawaban akhir.

Jawaban yang terjadi dapat berupa jawaban yang dipengaruhi oleh kemauan

(volunter) dan jawaban yang tidak dipengaruhi oleh kemauan (involunter).

Jawaban yang volunter melibatkan sistem saraf somatik sedangkan involunter

melibatkan sistem saraf otonom yang berfungsi sebagai efektor dari sistem saraf

somatic adalah otot polos, otot jantung dan kelenjar sebasea.

Secara garis besar sistem saraf mempunyai 4 (empat) fungsi tentang :


a. Menerima informasi (rangsangan) dari dalam maupun dari luar tubuh melalui

saraf sensori (afferent sensory pathway).


b. Mengkomunikasikan informasi antara sistem saraf perifer dari sistem saraf pusat.
c. Mengelolah informasi yang diterima baik ditingkat medulla spinalis maupun

diotak untuk selanjutnya menentukan jawaban (respon).


d. Menghantarkan jawaban secara cepat melalui saraf motorik (effereny motorik

pathway) ke organ-organ tubuh sebagai control atau modifikasi dari tindakan.

B. Patofisiologi

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak diperlukan energi

yang didapat dari metabolisme. Bahan baku metabolisme otak yang terpenting adalah

glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan

diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler.

Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa

yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran

yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam

keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+)

dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium ((Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida

(CLˉ). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah,

sedang diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya karena perbedaan jenis dan

konsentrasi ion didalam dan diluar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang

disebut potensial membrane dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial ini

diperlukan energy dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.

C. Etiologi

Menurut Randle John (1999) kejang demam dapat disebabkan oleh:


1. Demam tinggi. Demam dapat disebabkan oleh karena tonsilitis, faringitis, otitis

media, gastroentritis, bronkitis, bronchopneumonia, morbili, varisela,demam

berdarah, dan lain-lain.


2. Efek produk toksik dari mikroorganisme (kuman dan otak) terhadap otak.
3. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal.
4. Perubahan cairan dan elektrolit.
5. Faktor predispisisi kejang deman, antara lain:
a. Riwayat keluarga dengan kejang biasanya positif, mencapai 60% kasus.

Diturunkan secara dominan, tapi gejala yang muncul tidak lengkap.


b. Angka kejadian adanya latar belakang kelainan masa pre-natal dan perinatal

tinggi
c. Angka kejadian adanya kelainan neurologis minor sebelumnya juga tinggi, tapi

kelainan neurologis berat biasanya jarang terjadi.

Penyebab kejang demam belum dapat dipastikan. Pada sebagian besar anak,

tingginya suhu tubuh, bukan kecepatan kenaikan suhu tubuh, menjadi faktor pencetus

serangan kejang demam. Biasanya suhu demam lebih dari 38°C dan terjadi saat suhu

tubuh naik dan bukan pada saat setelah terjadinya kenaikan suhu yang lama. (Dona

L.Wong, 2008).

Penyebab kejang mencakup faktor-faktor perinatal, malformasi otak kogenital,

faktor genetik, penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis), penyakit demam, gangguan

metabolisme, trauma, neuplasma toksin, sirkulasi, dan penyakit degeneratif sususnan

syaraf. Kejang disebut ideopatik bila tidak dapat ditemukan penyebabnya.(Cecily L. Betz

dan A.sowden, 2008).

D. Manifestasi Klinis

Kondisi yang dapat menyebabkan kejang demam antara lain; infeksi yang

mengenai jaringan ekstrakranial seperti tonsilitis, otitis, media akut, bronkitis. (Riyadi dan

sujono, 2009).
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan

kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan

saraf pusat misalnya tonsillitis, otitis media akut ,bronchitis, furunkulosis dan lain-lain.

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung

singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau

akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri , begitu kejang berhenti anak tidak memberi

reaksi apapun untuk sejenak tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun

dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf .

Menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul pertanyaan sifat

kejang atau gejala manakah yang mengakibatkan anak menderita kejang. Untuk itu

Livingstone membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan yaitu :

1. Kejang demam sederhana (simple febrile convulsion)


2. Epilepsi yang provokasi oleh demam (epilepsy triggered offever)

Di subbagian Anak FKUI-RSCM Jakarta, kriteria Livingstone tersebut setelah

dimodifikasi dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam

sederhana yaitu :

1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan – 4 tahun.


2. Kejang berlangsung sebentar saja, tidak lebih dari 15menit.
3. Kejang bersifat umum.
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak

menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun melebihi 4 kali.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari tujuh kriteria

tersebut (modifikasi Livingstone) digolongkan pada epilepsi yang provokasi oleh demam.

Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan

timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja.


Telah diketahui bahwa kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat anak

menderita suhu tinggi, dapat sampai hiperpireksia. Kejang demam dapat disebabkan

karena adanya infeksi ekstrakranial misalnya OMA. Berbeda dengan meningitis atau

ensefalitis, tumor otak mempunyai kelainan pada otak sendiri. Perlu diingat bahwa kejang

demam hanya terjadi pada anak usia tertentu. Tetapi epilepsi yang diprovokasi oleh

demam juga menyebabkan kejang , oleh karena itu anamnesis yang teliti sangat

diperlukan. (Ngastiyah,1997).

E. Jenis-jenis Kejang

Secara umum kejang dibagi dalam 2 kategori besar yakni kejang bersifat lokal

atau di namakan kejang parsial dan kejang bersifat umum.

1. Kejang parsial

Kejang parsial terdiri atas dua yakni bersifat sederhana dan kompleks . Kejang

yang sederhana memiliki ciri sebagai berikut : kesadaran tidak terganggu, adanya

tanda seperti kedutan di wajah,tangan atau salah satu bagian sisi tubuh. Biasanya

disertai dengan adanya muntah, berkeringat, muka merah serta adanya dilatasi pada

pupil dan adanya tanda keseimbangan terganggu seperti mau jatuh, adanya rasa takut.

Sedangkan gejala dari kejang parsial yang kompleks memiliki ciri sebagai

berikut : adanya gangguan kesadaran meskipun pada awalnya sebagai gejala yang

sederhana, adanya gerakan yang otomatis seperti mengecap-ecapkan bibir, gerakan

menguyah, atau adanya gerakan tangan.

2. Kejang Umum (konvulsif dan Nonkonvulsif)

Kejang umum dapat terdiri atas kejang absens, kejang mioklonik, kejang

tonik-klonik, kejang atonik, status epileptikus. Kejang tersebut memiliki ciri yang

berbeda-beda seperti berikut :


a. Kejang absens, memiliki ciri gangguan kewaspadaan dan respon sifitas, tatapan

terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik, umumnya dimulai pada

usia 4 dan 14 tahun dan sering sembuh dengan sendirinya pada saat usia 18 tahun.
b. Kejang Mioklonik, memiliki ciri adanya kedutan pada daerah otot yang dapat

terjadi secara mendadak, sedangkan mioklonik lanjutan dapat terjadi pada orang

sehat selama tidur dan bila kondisi patologis dapat bersifat kedutan dan

berlangsung kurang dari 5 detik serta kehilangan kesadaran hanya sedikit.


c. Kejang Tonik- Klonik, dapat ditandai dengan hilangnya kesadaran, kaku pada otot

ekstremitas, batang tubuh dan wajah, yang dapat terjadi kurang dari satu menit.

Kemudian disertai hilangnya kontrol pada kandung kemih dan usus, adanya

gerakan klonik pada ekstremitas atas dan bawah serta adanya tanda letargi .
d. Pada kejang atonik dapat terjadi kehilangan tonus secara mendadak sehingga

dapat menyebabkan kelopak mata menurun, kepala menunduk, dan dapat jatuh ke

tanah yang terjadi secara singkat tanpa adanya peringatan .


e. Status epileptikus, dapat didahului dengan kejang tonik-klonik umum secara

berulang, tidak sadar, dapat terjadi depresi pernapasan, hipotensi dan hipoksia.

(A.Aziz Alimul Hidayat, 2006).

F. Test Diagnostik

Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dengan Kejang demam

antara lain :

1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Elektrolit, tidak seimbang dapat berpengaruh atau menjadi predisposisi pada

aktivitas kejang.
b. Glukosa, hipoglikemia, N 80-120 mg/dl
c. Ureum/kreatini ; meningkat N 10-50mg/dl, kreatinin <1,4 mg/dl
d. Sel darah merah (Hb) ; menurun N 14-18 g/dl , 12-16 g/dl
e. Lumbal fungsi ; untuk mendeteksi tekanan abnormal dari CSS, tanda-tanda

infeksi, perdarahan dilakukan bila ada kecurigaan klinis meningitis.


2. EEG (Elektroencephalography)

Untuk menentukan adanya kelainan pada SSP, EEG dilakukan sedikitnya 1

minggu setelah suhu normal tidak menunjukkan kelainan pada kejang demam

sederhana. EEG abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan

terjadinya epilepsi atau kejang demam berulang di kemudian hari.

3. Scan-CT : tidak dianjurkan pada kejang demam yang baru terjadi untuk pertama

kalinya.
4. Pemeriksaan Radiologis
a. Foto tengkorak diperhatikan simetris tulang tengkorak, destruksi tulang,

peningkatan tekanan intrakranial.


b. Pneumonsefalografi dan ventrikulografi dilakukan atas indikasi tertentu yaitu

untuk melihat gambaran otak sehingga dapat diketahui adanya atropi oata, tumor

serebri, hidrosefalus arachnoiditis.


c. Arteriografi, untuk melihat keadaan pembuluh darah diotak, apakah ada

penyumbatan, peregangan.

G. Komplikasi
1. Epilepsi terjadi akibat adanya kerusakan pada daerah lobus temporalis yang

berlangsung lama dan dapat menjadi matang.


2. Hemiparese, biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama

(berlangsung lebih dari setengah jam) baik kejang yang bersifat umum maupun

kejang fokal.
3. Retardasi Mental, terjadi pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan

perkembangan atau kelainan neurologik ditemukan IQ yang lebih rendah. Apabila

kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam, kemungkinan

retardasi mental adalah 5 kali lebih besar.


4. Terulangnya Kejang, kemungkinan terjadinya ulangan kejang pada 6 bulan pertama

dari serangan pertama.


5. Kematian, dengan penanganan kejang yang tepat dan cepat, prognosa biasanya baik,

tidak sampai terjadi kematian.

H. Diagnosa dan Rencana Keperawatan Kejang Demam


1. Risiko tinggi obstruksi jalan nafas berhubungan dengan penutupan faring oleh lidah,

spasme otot bronkus.


a Hasil yang di harapkan : Frekuensi pernapasan meningkat 28-35 x/menit, irama

pernafasan regular dan tidak cepat, anak tidak terlihat terengah-engah.


b Rencana tindakan:
1) Monitor jalan nafas, frekwensi pernafasan, irama pernafasan tiap 15 menit saat

penurunan kesadaran.
Rasional: frekwensi pernapasan yang meningkat tinggi dengan irama yang

cepat sebagai salah satu indikasi sumbatan jallan nafas oleh benda asing,

contohnya lidah.
2) Tempatkan anak pada posisi semifowler dengan kepala ekstensi.
Rasional: posisi semifowler akan menurunkan tahanan intra abdominal

terhadap paru-paru. Hiperekstensi membuat jalan nafas dalam posisi lurus dan

bebas dari hambatan.


3) Pasang tongspatel saat timbul serangan kejang.
Rasional: mencegah lidah tertekuk yang dapat menutupi jalan nafas.
4) Bebaskan anak dari pakaian yang ketat
Rasional: mengurangi tekanan terhadap rongga thorax sehingga terjadi

keterbatasan pengembangan paru.


5) Kolaborasi pemberian anti kejang (diazepam dengan dosis rata-rata 0,3

Mg/KgBB/kali pemberian.
Rasional: diazepam bekerja menurunkan tingkat fase depolarisasi yang cepat

di sistem persyarafan pusat sehingga dapat terjadi penurunan pada spasma otot

dan persyarafan perifer.


2. Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan oksigen darah.
a. Hasil yang di harapkan : jaringan perifer (kulit) terlihat merah dan segar, akral

teraba hangat.
b. Rencana tindakan:
1) Kaji tingkat pengisian kapiler perifer.
Rasional: kapiler kecil mempunyai volume darah yang relatif kecil dan cukup

sensitif sebagai tanda terhadap penurunan oksigen darah.


2) Pemberian oksigen dengan memakai masker atau nasal bicanul dengan dosis

rata-rata 3 liter/menit.
Rasional: oksigen tabung mempunyai tekanan yang lebih tinggi dari oksigen

lingkungan sehingga mudah masuk ke paru-paru. Pemberian dengan masker


karena mempunyai prosentase sekitar 35% yang dapat masuk ke saluran

pernafasan.
3) Hindarkan anak dari rangsangan yang berlebihan baik suara, mekanik,

maupun cahaya.
Rasional: rangsangan akan meningkatkan fase eksitasi persarafan yang dapat

menaikkan kebutuhan oksigen jaringan.


4) Tempatkan pasien pada ruangan dengan sirkulasi udara yang baik (ventilasi

memenuhi ¼ dari luas ruangan).


Rasional: meningkatkan jumlah udara yang masuk dan mencegah hipoksemia

jaringan.
2. Hipertermi berhubungan dengan infeksi kelenjar tonsil, telinga, bronkus atau pada

tempat lain.
a. Hasil yang diharapkan : suhu tubuh perektal 36-37ºC, kening anak tidak teraba

panas. tidak terdapat pembengkakan, kemerahan pada tongsil atau

telinga.mleukosit 5.000-11.000 mg/dl


b. Rencana tindakan:
1) Pantau suhu tubuh anak tiap setengah jam.
Rasional: peningkatan suhu tubuh yang melebihi 39ºC dapat beresiko

terjadinya kerusakan saraf pusat karena akan meningkatkan neurotransmiter

yang dapat meningkatkan eksitasi neuron.


2) Kompres anak dengan alkohol atau air dingin.
Rasional: saat di kompres panas tubuh anak akan berpindah ke media yang

digunakan untuk mengkompres karena suhu tubuh relatif tinggi.


3) Beri pakaian anak yang tipis dari bahan yang halus seperti katun.
Rasional: pakaian yang tipis akan memudahkan perpindahan panas dari tubuh

ke lingkungan. Bahan katun akan menghindari iritasi kulit pada anak karena

panas yang tinggi akan membuat kulit sensitif terhadap cidera.


4) Jaga kebutuhan cairan anak tercukupi melalui pemberian intravena.
Rasional: cairan yang cukup akan menjaga kelembapan sel, sehingga sel tubuh

tidak mudah rusak akibat suhu tubuh yang tinggi.


5) Kolaborasi pemberian antipiretik (aspirin dengan dosis 60 mg/tahun/kali

pemberian), antibiotik.
Rasional: antipiretik akan mempengaruhi ambang panas pada hipotalamus.

Antipiretik juga akan mempengaruhi penurunan neurotransmiter seperti

prostaglandin yang berkontribusi timbulnya nyeri saat demam.


3. Risiko gangguan pertumbuhan (berat badan rendah) berhubungan dengan penurunan

asupan nutrisi.
a. Hasil yang di harapkan : orang tua anak menyampaikan anaknya sudah gampang

makan dengan porsi makan di habiskan setiap hari (1 porsi makan)


b. Rencana tindakan:
1) Kaji berat badan dan jumlah asupan kalori anak.
Rasional: berat badan adalah salah satu indikator jumlah massa sel dalam

tubuh, apabila berat badan rendah menunjukkan terjadi penurunan jumlah dan

massa sel tubuh yang tidak sesuai dengan umur.


2) Ciptakan suasana yang menarik dan nyaman saat makan seperti di bawa ke

ruangan yang banyak gambar untuk anak dan sambil di ajak bermain.
Rasional: dapat membantu peningkatan respon korteks serebri terhadap selera

makan sebagai dampak rasa senang pada anak.


3) Anjurkan orangtua untuk memberikan anak makan dengan kondisi makanan

hangat.
Rasional: makanan hangat akan mengurangi kekentalan sekresi mukus pada

faring dan mengurangi respon mual gaster.


4) Anjurkan orang tua memberikan makanan pada anak dengan porsi sering dan

sedikit.
Rasional: mengurangi massa makanan yang banyak pada lambung yang dapat

menurunkan rangsangan nafsu makan pada otak bagian bawah.


4. Risiko cidera (terjatuh, terkena benda tajam) berhubungan dengan penurunan respon

terhadap lingkungan.
a. Hasil yang di harapkan : anak tidak terluka atau jatuh saat serangan kejang.
b. Rencana tindakan:
1) Tempatkan anak pada tempat tidur yang lunak dan rata seperti bahan matras.
Rasional: menjaga posisi tubuh lurus yang dapat berdapak pada lurusnya jalan

nafas.
2) Pasang pengaman di kedua sisi tempat tidur.
Rasional: mencegah anak terjatuh.
3) Jaga anak saat timbul serangan kejang.
Rasional: menjaga jalan nafas dan mencegah anak terjatuh.