Вы находитесь на странице: 1из 25

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kalimantan Timur merupakan salah satu penghasil tambang yangmemiliki potensi
sumber daya alam yang kaya di Indonesia, minyak mentah,emas, intan, dan
batubara adalah beberapa hasil tambang yang berskala besar ditiap tahunnya .
Tambang batubara merupakan produk andalan yang berasal dari Kalimantan
Timur sekarang ini. Namun, batubara adalah suatu kategori sumber daya alam
yang tak terbaharui, sehingga keberadaannya harus dijaga. Sehingga
pembangunan nasional dapat bergulir terus-menerus dengan
mengedepankansumber daya alam yang dikelola secara baik.Salah satu tujuan
pembangunan nasional adalah meningkatkankesejahteraan masyarakat yang
berkeadilan dan berprikemanusiaan. Ketersediaansumberdaya alam dalam
meningkatkan pembangunan sangat terbatas dan tidak merata, sedangkan
permintaan sumberdaya alam terus meningkat, akibat peningkatan pembangunan
untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Namun, dalamtahap pembangunan
nasional, beberapa masyarakat kini dianggap berkesan acuhs ecara minor terutama
akan ”aturan main” dalam menanggapi lingkungan,dikhawatirkan akan terjadi
ekploitasi lahan usaha yang pada akhirnya gangguan kesetimbangan lingkungan
tidak dapat dihindarkan.Dalam rangka upaya mengendalikan pencemaran dan
kerusakanlingkungan akibat pembangunan maka, perlu dilakukan perencanaan
pembangunan yang dilandasi prinsip pembangunan berkelanjutan. Prinsip
pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan memadukan kemampuan
lingkungan, sumber daya alam dan teknologi ke dalam proses pembangunan
untuk menjamin generasi masa ini dan generasi masa mendatang. Analisa
mengenai dampak lingkungan lahir dengan dirumuskannya undang- undang
tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, yaitu National Environmental
Policy Act (NEPA), pada tahun 1969. Amdal merupakan suatu reaksi masyarakat
terhadap kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang
terutama disebabkan oleh pembangunan dan penggunaan teknologi yang
berlebihan dan terkesan mengabaikan lingkungan. Hal ini termasuk dalam
kesehatan lingkungan yang dalam artian derajat kesehatan tergantung
terhadapkondisi lingkungan. Oleh sebabnya, apabila ada perubahan-perubahan
terjadi pada kondisi lingkungan di sekitar manusia, akan terjadi pula perubahan-
perubahan pada kondisi kesehatan masyarakat dalam lingkungan
masyarakattersebut.Di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
PengelolaanLingkungan Hidup pasal 18 ayat 1, menyatakan bahwa setiap rencana
usahadan/atau kegiatan yamg mempunyai dampak besar dan penting wajib
dilakukankajian AMDAL. Kajian AMDAL tersebut perlu dilakukan guna
mengurangidampak negatif yang ditimbulkan dari operasional kegiatan terutama
pencemaranudara yang diperkirakan punya pengaruh buruk terhadap kesehatan.

1.2 Rumusan dan Batasan Masalah


Rumusan masalah yang dikaji dalam makalah ini adalah:
1 Bagaimana ringkasan informasi awal rencana kegiatan pertambangan batu
bara di PT. KaltimPrima Coal sesuai Lampiran 5 PermenLH No. 5/2012?
2 Apa dampak lingkungan yang terjadi akibat kegiatan pertambangan di PT.
Kaltim Prima Coal?
3 Baku Mutu Lingkungan apa yang harus dirujuk dalam kegiatan pertambangan
di PT. Kaltim Prima Coal?
4 Bagaimana dampak sosial masyarakat akibat kegiatan pertambangan di PT.
Kaltim Prima Coal?
5 Penapisan kewajiban dokumen lingkungan yang wajib dimiliki oleh kegiatan
pertambangan di PT. Kaltim Prima Coal?

Pada penulisan makalah ini ditentukan beberapa asumsi sebagai batasan sebagai
berikut:
1 Kajian hanya membahas kegiatan utama PT. Kaltim Prima Coal
2 Diasumsikan bahwa masyarakat menerima rencana pertambangan batu bara di
PT. KaltimPrima Coal dan tidak terjadi gejolak sosial
3 Makalah tidak menghitung besarnya perubahan komponen lingkungan akibat
kegiatan.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan Makalah
Tujuan dan manfaat dalam penyusunan makalah ini adalah:
1 Mengetahui proses penerapan Undang-Undang Lingkungan Hidup terhadap
kewajiban PT. KaltimPrima Coal untuk menyusun kajian lingkungan bagi
kegiatan penambangan batubaranya.
2 Mengetahui isu-isu lingkungan pertambangan batu bara di PT. KaltimPrima
Coal
3 Melakukan proses penapisan kegiatan pertambangan batu bara di PT.
KaltimPrima Coal sesuai tata laksana penilaian dan pemeriksaan dokumen
lingkungan hidup (AMDAL)
BAB 2 LANDASAN TEORI

2
2.1 Landasan Teori
Sebagai rujukan dalam penulian makalah ini dilakukan pengumpulan data melalui
kajian-kajian yang relevan terhadap kegiatan pertambangan serta merujuk pada
beberapa peraturan perundangan tentang lingkungan hidup dan pertambangan.
Dalam penulisan ini, rujukan dasar aturan mengenai kewajiban suatu badan usaha
dan/atau perorangan untuk melengkapi kegiatannya dengan dokumen lingkungan
hidup yang digunakan adalah:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan
3. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang
Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
4. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup
5. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2013 tentang
Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup Serta
Penerbitan Izin Lingkungan.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, setiap kegiatan wajib memiliki
Izin Lingkungan yang dalam proses penerbitannya harus terlebih dahulu diawali
dengan penyusunan dokumen lingkungan. Sesuai PerMen LH Nomor 16 Tahun
2012 pasal 2 ayat (1) dokumen lingkungan hidup terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu:
1. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup)
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sesuai yang selanjutnya
disebut Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
2. UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup - Upaya Pemantaua
Lingkungan Hidup)
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup - Upaya Pemantaua Lingkungan Hidup
adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang
tidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau
Kegiatan
3. SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan Hidup)
Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup adalah pernyataan kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya di luar usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL

2.2 Penapisan Dokumen Lingkungan Hidup


Proses penapisan kegiatan dilakukan untuk mengetahui dokumen lingkungan
apakah yang wajib dimiliki suatu kegiatan sebagai persyaratan kelengkapan
penerbitan Izin Lingkungan. Merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
yang Wajib Memiliki AMDAL, proses penapisan dilakukan melalui beberapa
tahapan, yaitu:
Keterangan:
1 Pemrakarsa mengisi ringkasan informasi awal atas rencana usaha dan/atau
kegiatan yang diusulkan. lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan wajib
sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku dan Peta Indikatif Penundaan
Izin Baru yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2011.
2 Uji ringkasan informasi dengan daftar jenis rencana usaha dan/atau kegiatan
yang wajib memiliki amdal (Lampiran I PerMen LH No. 16 Tahun 2012)
Daftar Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
No Jenis Kegiatan Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus
K.1 MINERAL BATUBARA
1. Eksploitasi (Operasi Produksi) Luas wilayah kegiatan
Mineral dan Batubara operasi produksi
a. Luas Perizinan ≥ 200 ha berkorelasi dengan luas
b. Luas daerah terbuka untuk ≥ 50 ha penyebaran dampak
pertambangan (kumulatif
pertahun)
2. Eksploitasi (Operasi
Produksi) Batubara
a. Kapasitas,dan/atau ≥ 1.000.000 Jumlah pemindahan material
ton/tahun berpengaruh terhadap
b. Jumlah material penutup ≥ 4.000.000 bank intensitas dampak yang akan
yang dipindahkan cubic meter terjadi
(bcm)/tahun
Sumber: PerMen LH No 5 Tahun 2012

3 Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang;
TERMASUK dalam daftar pada lampiran I PerMen LH No. 16 Tahun 2012,
maka:
4. Terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan, disimpulkan
wajib memiliki amdal.
5. Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang;
TIDAK TERMASUK dalam daftar pada lampiran I, maka:
6. Uji lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan apakah lokasi tersebut berada di
dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan lindung? Catatan:
a. Gunakan daftar kawasan lindung pada Lampiran III (kawasan lindung
dimaksud wajib ditetapkan sesuai ketentuan peraturan perundangan); dan
b. Gunakan kriteria berbatasan langsung dengan kawasan lindung (Pasal 3
ayat (3)).
Kawasan Lindung yang dimaksud dalam Peraturan Menteri ini sebagai
berikut:
 kawasan hutan lindung;
 kawasan bergambut; dan
 kawasan resapan air.
 sempadan pantai;
 sempadan sungai;
 kawasan sekitar danau atau waduk;
 suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut;
 cagar alam dan cagar alam laut;
 kawasan pantai berhutan bakau;
 taman nasional dan taman nasional laut;
 taman hutan raya;
 taman wisata alam dan taman wisata alam laut;
 kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;
 kawasan cagar alam geologi ;
 kawasan imbuhan air tanah;
 sempadan mata air;
 kawasan perlindungan plasma nutfah;
 kawasan pengungsian satwa;
 terumbu karang; dan
 kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi
7. Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang
TIDAK BERADA di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan
lindung, maka:
8. Terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan, disimpulkan
wajib memiliki UKL-UPL atau SPPL (Lihat Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup tentang UKL-UPL dan SPPL).
9. Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang;
BERADA di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan lindung,
maka:
10. Uji ringkasan informasi dengan kriteria pengecualian atas jenis daftar jenis
rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan amdal yang
berada dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan lindung.
11. Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang;
TERMASUK dalam kriteria pengecualian dalam Pasal 3 ayat (4), maka:
12. Terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan, disimpulkan
wajib memiliki UKL-UPL atau SPPL (Lihat Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup tentang UKL-UPL dan SPPL).
13. Jika:
a. rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan; atau
b. terdapat usaha dan/atau kegiatan pendukung atas usaha dan/atau kegiatan
yang diusulkan yang;
TIDAK termasuk dalam kriteria pengecualian dalam Pasal 3 ayat (4), maka:
14. Terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan, disimpulkan
wajib memiliki Amdal.

2.2.1 Pertambangan Batubara


Batubara merupakan salah satu tambang bahan bakar fosil yang
dimilikiIndonesia yang kaya. Secara umum, batubara adalah batuan sedimen
dalam tanahyang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organic utamanya
adalah sisa-sisatumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan yang
selama beribu-ribu tahun lamanya. Unsur utamanya adalah karbon (berwarna
hitam pekat), hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen serta tidak menutup
kemungkinan memiliki zat-zat tambahan yang kandungannya kecil. Batubara
dalam tambang memiliki bijih yang sangat kasar dalam bentuk serbuk, pasir dan
terkadang batuan yang cukup hingga besar.
Kegiatan pertambangan yaitu suatu kegiatan untuk mengambil bahan galian
berharga dari lapisan bumi, Selama kurun waktu 50 tahun, konsep dasar
pengolahan relatif tidak berubah, yang berubah adalah skala kegiatannya.
Mekanisasi peralatan dan teknologi pertambangan telah menyebabkan skala
pertambangan semakin besar dan ekstraksi kadar rendah pun menjadi
ekonomissehingga semakin luas dan dalam lapisan bumi yang harus digali. Ini
menyebabkan kegiatan tambang menimbulkan dampak lingkungan
Kegiatan pertambangan selain menimbulkan dampak lingkungan,
jugamenimbulkan dampak sosial kompleks. Oleh sebab itu, AMDAL suatu
kegiatan pertambangan harus dapat menjawab dua tujuan pokok (World Bank,
1998),“(1). Memastikan bahwa biaya lingkungan, sosial dan kesehatan
dipertimbangkandalam menentukan kelayakan ekonomi dan penentuan alternatif
kegiatan yangakan dipilih. (2).Memastikan bahwa pengendalian, pengelolaan,
pemantauan sertalangkah-langkah perlindungan telah terintegrasi di dalam
desain danimplementasi proyek serta rencana penutupan tambang.”
Kegiatan pertambangan batubara merupakan kegiatan eksploitasi sumberdaya
alam yang tidak dapat diperbaharui dan umumnya membutuhkan investasi yang
besar terutama untuk membangun fasilitas infrastruktur.
Karakteristik yang penting dalam pertambangan batubara ini adalah bahwa
pasar dan harga sumberdaya batubara ini yang sangat prospektif menyebabkan
industri pertambangan batubara dioperasikan pada tingkat resiko yang tinggi
baik dari segi aspek fisik, perdagangan, sosial ekonomi maupun aspek politik.
Kegiatan penambangan batubara dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode yaitu (Sitorus, 2000) :
1. Penambangan permukaan (surface/ shallow mining) , meliputi tambang
terbuka penambangan dalam jalur dan penambangan hidrolik.
2. Penambangan dalam (subsurfarcel deep mining).
Kegiatan penambangan terbuka (open mining) dapat mengakibatkan gangguan
seperti
a. Menimbulkan lubang besar pada tanah.
b. Penurunan muka tanah atau terbentuknya cekungan pada sisa bahan galian
yang dikembalikan ke dalam lubang galian.
c. Bahan galian tambang apabila di tumpuk atau disimpan pada stock fliling
dapat mengakibatkan bahaya longsor dan senyawa beracun dapat tercuci ke
daerah hilir.
d. Mengganggu proses penanaman kembali reklamasi pada galian tambang yang
ditutupi kembali atau yang ditelantarkan terutama bila terdapat bahan beracun,
kurang bahan organiklhumus atau unsur hara telah tercuci .
Sistem penambangan batubara yang sering diterapkan oleh perusahaan-
perusahaan yang beroperasi adalah sistem tambang terbuka (Open Cut Mining) .
Penambangan batubara dengan sistem tambang terbuka dilakukan dengan
membuat jenjang (Bench) sehingga terbentuk lokasi penambangan yang sesuai
dengan kebutuhan penambangan.
Metode penggalian dilakukan dengan cara membuat jenjang serta membuang
dan menimbun kembali lapisan penutup dengan cara back filling per blok
penambangan serta menyesuaikan kondisi penyebaran deposit sumberdaya
mineral, (Suhala eta/., 1995).
Sedangkan pertambangan skala besar, tailing yang dihasilkan lebih banyak lagi.
Pelaku tambang selalu mengincar bahan tambang yang tersimpan jauh di dalam
tanah, karena jumlahnya lebih banyak dan memiliki kualitas lebih baik. Untuk
mencapai wilayah konsentrasi mineral di dalam tanah, perusahaan tambang
melakukan penggalian dimulai dengan mengupas tanah bagian atas (top soil).
Top Soil kemudian disimpan di suatu tempat agar bisa digunakan lagi untuk
penghijauan setelah penambangan. Tahapan selanjutnya adalah menggali batuan
yang mengandung mineral tertentu, untuk selanjutnya dibawa ke processing
plant dan diolah. Pada saat pemrosesan inilah tailing dihasilkan. Sebagai limbah
sisa batuan dalam tanah, tailing pasti memiliki kandungan logam lain ketika
dibuang.
Kegiatan penambangan apabila dilakukan di kawasan hutan dapat merusak
ekosistem hutan. Apabila tidak dikelola dengan baik, penambangan dapat
menyebabkan kerusakan lingkungan secara keseluruhan dalam bentuk
pencemaran air, tanah dan udara.
Cara pengangkutan batu bara ke tempat batu bara tersebut akan digunakan
tergantung pada jaraknya. Untuk jarak dekat, batu bara umumnya diangkut
dengan menggunakan ban berjalan atau truk. Untuk jarak yang lebih jauh di
dalam pasar dalam negeri, batu bara diangkut dengan menggunakan kereta api
atau tongkang atau dengan alternatif lain dimana batu bara dicampur dengan air
untuk membentuk bubur batu dan diangkut melalui jaringan pipa.
Kapal laut umumnya digunakan untuk pengakutan internasional dalam ukuran
berkisar dari Handymax (40-60,000 DWT), Panamax (about 60-80,000 DWT)
sampai kapal berukuran Capesize (sekitar 80,000+ DWT). Sekitar 700 juta ton
(Jt) batu bara diperdagangkan secara internasional pada tahun 2003 dan sekitar
90% dari jumlah tersebut diangkut melalui laut.
Pengangkutan batu bara dapat sangat mahal – dalam beberapa kasus,
pengangkutan batu bara mencapai lebih dari 70% dari biaya pengiriman batu
bara. Tindakan-tindakan pengamanan diambil di setiap tahapan pengangkutan
dan penyimpan batu bara untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup.
BAB 3 PEMBAHASAN

3
3.1 Deskripsi Kegiatan PT. Kaltim Prima Coal
PT. Kaltim Prima Coal merupakan perusahaan tambang batubara yangterletak di
Kabupaten Kutai Timur yang didirikan dengan akta No 28 tanggal 8 Maret 1982
dan mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman RI sesuai dengan Surat
Keputusan No. Y.A.5/208/25 tanggal 16 Maret 1982 dan telah diumumkan dalam
Berita Negara Republik Indonesia tanggal 20 Juli 1982 No 61Tambahan Nomor
967. Sejak awal beroperasi pada tahun 1992, KPC merupakan perusahaan modal
asing (PMA) yang dimiliki oleh British Petroleum International Ltd (BP) dan
Conzinc Rio Tinto of Australia Ltd. (Rio Tinto) dengan pembagian saham
masing-masing 50%. Berdasarkan Akta No. 9 tanggal 6 Agustus 2003 dan Bukti
Pelaporan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia RI No. C-UM 02
01.12927 tertanggal 11 Agustus 2003, saham KPC dimiliki oleh BP dan Rio
Tingo telah dialihkan kepada Kalimantan Coal Ltd. Dan Sengata Holding Ltd, dan
yang selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2005, sesuai dengan Akta Notaris No 3
tanggal 18 Oktober 2005, PT. Bumi Resources Tbk telah mengakusisi saham
Kalimantan Coal Ltd dan Sengata Holding Ltd. Berdasarkan akta notaris No 34
tanggal 4 Mei 2007, pemegang saham PT Kaltim Prima Coal mengalihkan 30%
sahamnya kepada Tata Power (Mauritius) Ltd. Berdasarkan Perjanjian Kontrak
Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) yang ditandatangai pada
tanggal 8 April 1982, pemerintah memberikan izin kepada KPC untuk
melaksanakan eksplorasi, produksi dan memasarkan batubara dari wilayah
perjanjian sampai dengan tahun 2021. Wilayah perjanjian PKP2B ini mencakup
daerah seluas 90.938 Ha di Kabupaten Kutai Timur, Propinsi Kalimantan Timur.
Ringkasan informasi awal atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan
dilakukan penapisan merujuk pada besaran-besaran kegiatan maupun bagian dari
kegiatan pertambangan batubara oleh PT. Kaltim Prima Coal. Sebelum dilakukan
penapisan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menentukan
wajib tidaknya rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut memiliki amdal, maka
pemrakarsa wajib mengisi ringkasan informasi awal sebagai berikut:
Tabel 1. Ringkasan Deskripsi Kegiatan Penambangan Batubara PT. Kaltim Prima Coal
a. PT. Kaltim Prima Coal
b. Nama Penanggung jawab :
c. Telp / Fax : +62 549 52 1155 / +62 549 52 1701
d. Nama rencana usaha dan/atau kegiatan : Pertambangan Batubara
Identitas pemrakarsa Kapasitas Produksi 70 Juta Ton/tahun oleh PT. Kaltim Prima Coal
areal seluas 90.938 Ha
e. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan: Kecamatan Sangatta
Utara, Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Rantau Pulung
Kabupaten Kutai Timur
NO. HAL INFORMASI SKALA/BESARAN KETERANGAN
INFORMASI
TAMBAHAN
1. Penambangan PT. Kaltim Prima Coal Kapasitas produksi
batubara berencana melakukan 70.000.0000
penambangan ton/tahun
batubaraA dengan
metode penambangan
terbuka
2. Lokasi rencana Kecamatan Sangatta
usaha dan atau Utara, Kecamatan
kegiatan Bengalon dan
Kecamatan Rantau
Pulung Kabupaten
Kutai Timur
berdasarkan Peraturan
Daerah Nomor 11
Tahun 2012 Tentang
Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten
Kutai Timur tahun
2012-2032 termasuk
dalam kawasan
pertambangan,
pemukiman dan hutan
konversi.
Area yang telah
mendapatkan izin
eksploitasi telah
mengeluarkan area
yang diajukan yang
termasuk dalam Peta
Indikatif Penundaan
Izin Baru yang
ditetapkan melalui
Inpres Nomor 10
a. PT. Kaltim Prima Coal
b. Nama Penanggung jawab :
c. Telp / Fax : +62 549 52 1155 / +62 549 52 1701
d. Nama rencana usaha dan/atau kegiatan : Pertambangan Batubara
Identitas pemrakarsa Kapasitas Produksi 70 Juta Ton/tahun oleh PT. Kaltim Prima Coal
areal seluas 90.938 Ha
e. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan: Kecamatan Sangatta
Utara, Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Rantau Pulung
Kabupaten Kutai Timur
Tahun 2011
4. Tipe rencana usaha Status kegiatan saat ini
dan/atau kegiatan dalam proses perizinan.
ditinjau dari tahapan Kegiatan penambangan
pelaksanaannya telah dilakukan
eksplorasi tambang
yang menjadi dasar
dalam penyusunan
detail desain tambang.
5. Tipe rencana usaha Kegiatan penambangan
dan/atau kegiatan batubara
ditinjau dari telaahan adalah kegiatan non
budidaya atau non budidaya
budidaya
Sumber: Analisa penyusun, 2015

3.2 Dampak Lingkungan Tambang Batubara


Pencemaran lingkungan hidup adalah: masuknya atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi, dan atau komponenlain ke dalam lingkungan hidup oleh
kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya
Industri batu bara sangat memperhatikan masalah keselamatan. Tambang batu
bara bawah tanah yang dalam memiliki risiko keselamatan yang lebih tinggi
daripada batu bara yang ditambang pada tambang terbuka. Meskipun demikian,
tambang batu bara moderen memliki prosedur keselamatan standar kesehatan dan
keselamatan serta pendidikan dan pelatihan pekerja yang sangat ketat, yang
mengarah pada peningkatan yang penting dalam tingkat keselamatan baik di
tambang bawah tanah maupun tambang terbuka (lihat grafik pada halaman 11
untuk perbandingan tingkat keselamatan di tambang batu bara AS dengan sektor-
sektor industri lainnya).
3.2.1 Dampak Lingkungan Tambang Batubara Terhadap Pencemaran Air
Permukaan batubara yang mengandung pirit (besi sulfide) berinteraksi dengan
air menghasilkan Asam sulfat yang tinggi sehingga terbunuhnya ikan-ikan di
sungai, tumbuhan, dan biota air yang sensitive terhadap perubahan pH yang
drastis.
Batubara yang mengandung uranium dalam konsentrasi rendah, torium, dan
isotop radioaktif yang terbentuk secara alami yang jika dibuang akan
mengakibatkan kontaminasi radioaktif. Meskipun senyawa-senyawa ini
terkandung dalam konsentrasi rendah, namun akan memberi dampak signifikan
jika dibung ke lingkungan dalam jumlah yang besar. Emisi merkuri ke
lingkungan terkonsentrasi karena terus menerus berpindah melalui rantai makan
dan dikonversi menjadi metilmerkuri, yang merupakan senyawa berbahaya dan
membahayakan manusia. Terutama ketika mengkonsumsi ikan dari air yang
terkontaminasi merkuri.
Seperti halnya aktifitas pertambangan lain di Indonesia, Pertambangan batubara
juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan hidup yang cukup parah,
baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air Penambangan Batubara secaralangsung
menyebabkan pencemaran air, yaitu dari limbah penducian batubara tersebut
dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah pencucian tersebut
mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi keruh, Asam, dan
menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan pencucian batubara tersebut.
Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat-zat yang sangat
berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut
mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn),
Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat yang dapat
menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

3.2.2 Dampak Lingkungan Tambang Batubara Terhadap Pencemaran Udara


Polusi/pencemaran udara yang kronis sangat berbahaya bagi kesehatan. Menurut
logika udara kotor pasti mempengaruhi kerja paru-paru. Peranan polutan ikut
andil dalam merangsang penyakit pernafasan seperti influensa,bronchitis dan
pneumonia serta penyakit kronis seperti asma dan bronchitis kronis.
Antaranya dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan dan masalah
kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan penggunaannya.
Batubara dan produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan kerak sisa
pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti arsenik, timbal,
merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium, cromium, tembaga,
molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat berbahaya jika dibuang di
lingkungan.

3.2.3 Dampak Lingkungan Tambang Batubara Terhadap Pencemaran tanah


Penambangan batubara dapat merusak vegetasi yang ada, menghancurkan profil
tanah genetic, menggantikan profil tanah genetic, menghancurkan satwa liar dan
habitatnya, degradasi kualitas udara, mengubah pemanfaatan lahan dan hingga
pada batas tertentu dapat megubah topografi umum daerah penambangan secara
permanen.
Disamping itu, penambangan batubara juga menghasilkan gas metana, gas ini
mempunyai potensi sebagi gas rumah kaca. Kontribusi gas metana yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia, memberikan kontribusi sebesar 10,5% pada
emisi gas rumah kaca.
Aktivitas pertambangan batubara juga berdampak terhadap peningkatan laju
erosi tanah dan sedimentasi pada sempadan dan muara-muara sungai.
Kejadian erosi merupakan dampak tidak langsung dari aktivitas pertambangan
batubara melainkan dampak dari pembersihan lahan untuk bukaan tambang dan
pembangunan fasilitas tambang lainnya seperti pembangunan sarana dan
prasarana pendukung seperti perkantoran, permukiman karyawan,Dampak
penurunan kesuburan tanah oleh aktivitas pertambangan batubara terjadi pada
kegiatan pengupasan tanah pucuk (top soil) dan tanah penutup (sub
soil/overburden). Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup akan merubah
sifat-sifat tanah terutama sifat fisik tanah dimana susunan tanah yang terbentuk
secara alamiah dengan lapisan-lapisan yang tertata rapi dari lapisan atas ke
lapisan bawah akan terganggu dan terbongkar akibat pengupasan tanah tersebut.
3.3 Peraturan Perundangan, Baku Mutu Lingkungan, Standarisasi dan Peraturan
Internasional Yang Berlaku di Bidang Pertambangan Batubara
Tabel 1. Baku Mutu Lingkungan Yang Berlaku Pada Kegiatan Pertambangan
Batubara
No Komponen Peraturan Yang Berlaku
Lingkungan
1 Kualitas Air Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No.111 Tahun 2003 - Pedoman Mengenai Syarat
dan Tata Cara Perizinan Serta Pedoman Kajian
Pembuangan Air Limbah ke Air atau Sumber Air
2 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No.112 Tahun 2003 - Baku Mutu Air Limbah
Domestik
3 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
No.113 Tahun 2003 - Baku Mutu Air Limbah Bagi
Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batu Bara
4 Kualitas Udara Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara
5 Keputusan MENLH Nomor KEP-
13/MENLH/03/1995 tentang Baku Mutu Emisi
Sumber Tidak Bergerak
6 Keputusan MENLH Nomor KEP-
50/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat
Kebauan
7 Keputusan Kepala Bapedal Nomor KEP-
205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman Teknis
Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak
Bergerak
8 Keputusan MENLH Nomor KEP-
45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar
Pencemar Udara
9 Keputusan Kepala Bapedal Nomor KEP-
107/BAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman Teknis
Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi Indeks
Standar Pencemar Udara
10 Peraturan MENLH Nomor 04 Tahun 2009 tentang
Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan
Bermotor Tipe Baru
11 Peraturan MENLH Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Tipe Baru Kategori L3
12 Peraturan MENLH Nomor 23 Tahun 2012 tentang
Perubahan Atas Peraturan MENLH Nomor 10
Tahun 2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L3
13 Tingkat Kebisingan Keputusan MENLH Nomor KEP-
48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat
No Komponen Peraturan Yang Berlaku
Lingkungan
Kebisingan
14 Peraturan MENLH Nomor 07 Tahun 2009 tentang
Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor
Tipe Baru
15 Tingkat Getaran Keputusan MENLH Nomor KEP-
49/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Getaran
16 Kualitas Tanah
17 Timbulan Limbah B3
18 Tata Guna Lahan Peraturan Pemerintah No.3 Tahun 2008 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6
Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan
Hutan
Sumber: Analisa penyusun, 2015

3.4 Dampak Terhadap Manusia


Dampak pencemaran pencemaran akibat penambangan batubara terhadap
manusia, munculnya berbagai penyakit antara lain :
1. Dampak Pertambangan Batubara Terhadap Kesehatan Masyarakat Sekitar
Limbah pencucian batubara zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia jika airnya dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit kulit pada
manusia seperti kanker kulit. Kaarena Limbah tersebut mengandung
belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam
sulfat (H2sO4), di samping itu debu batubara menyebabkan polusi udara di
sepanjang jalan yang dijadikan aktivitas pengangkutan batubara. Hal ini
menimbulkan merebaknya penyakit infeksi saluran pernafasan, yang dapat
memberi efek jangka panjang berupa kanker paru-paru, darah atau lambung.
Bahkan disinyalir dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat.

2. Dampak Pertambangan Batubara Terhadap Gangguan Kesehatan yang


Dialami Pekerja Tambang
Gangguan-gangguan kesehatan yang sering dialami oleh pekerja
tambangdiantaranya :
a. Debu, tumpahan bahan kimia, asap-asap yang beracun, logam-logam
berat dan radiasi dapat meracuni penambang dan
menyebabkangangguan kesehatan sepanjang hidup mereka.
b. Mengangkat peralatan berat dan bekerja dengan posisi tubuh yang
janggal dapat menyebabkan luka-luka pada tangan, kaki, dan punggung.
c. Penggunaan bor batu dan mesin-mesin vibrasi dapat
menyebabkankerusakan pada urat syaraf serta peredaran darah, dan
dapatmenimbulkan kehilangan rasa, kemudian jika ada infeksi yang
sangat berbahaya seperti gangrene, bisa mengakibatkan kematian.
d. Bunyi yang keras dan konstan dari peralatan dapat
menyebabkanmasalah pendengaran, termasuk kehilangan pendengaran.
e. jam kerja yang lama di bawah tanah dengan cahaya yang redup
dapatmerusak penglihatan.
f. Bekerja di kondisi yang panas terik tanpa minum air yang cukup
dapatmenyebabkan stres kepanasan. Gejala-gejala dari stres kepanasan
berupa pusing-pusing, lemah, dan detak jantung yang cepat,
kehausanyang sangat, dan jatuh pingsan.

3. Dampak Pertambangan Batubara Terhadap Pemukiman Sekitar


Penambangan dapat menyebabkan kecelakaan-kecelakaan yang seriusseperti
kebakaran-kebakaran, ledakan-ledakan, atau lorong-lorong galian yangrubuh
yang dapat menimbulkan dampak pada orang-orang yang bermukim
dikomunitas sekitar tambang. Dampak dan bahaya yang mengancam
kesehatan masih juga dirasakan di tempat-tempat bekas daerah yang pernah
ditambang,karena orang-orang dapat terpapar limbah tambang dan bahan-
bahan kimia yangmasih melekat di tanah dan di air.

4. Terganggunya Arus Jalan Umum


Banyaknya lalu lalang kendaraan yang digunakan untuk angkutan batubara
berdampak pada aktivitas pengguna jalan lain. Semakin banyaknya
kecelakaan, meningkatnya biaya pemeliharaan jembatan dan jalan, adalah
sebagian dari dampak yang ditimbulkan.

5. Konflik Lahan
Konflik lahan kerap terjadi antara perusahaan dengan masyarakat lokal yang
lahannya menjadi obyek penggusuran. Kerap perusahaan menunjukkan
kearogansiannya dengan menggusur lahan tanpa melewati persetujuan
pemilik atau pengguna lahan. Atau tak jarang mereka memberikan ganti
rugi yang tidak seimbang denga hasil yang akan mereka dapatkan nantinya.

6. Pergeseran Sosial-Budaya Masyarakat


Tidak hanya konflik lahan, permasalahan yang juga sering terjadi adalah
diskriminasi. Akibat dari pergeseran ini membuat pola kehidupan mereka
berubah menjadi lebih konsumtif. Bahkan kerusakan moralpun dapat terjadi
akibat adanya pola hidup yang berubah.

7. Peningkatan Ekonomi Masyarakat


Tidak dapat di pungkiri bahwa batubara adalah salah satu bahan tambang
yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Indonesia adalah salah
satu negara penghasil batubara terbesar no.2 setelah Australia hingga tahun
2008. Total sumber daya batubara yang dimiliki Indonesia mencapai
104.940 Milyar Ton dengan total cadangan sebesar 21.13 Milyar Ton.
Namun hal ini tetap memberikan efek positif dan negatif. Hal positifnya
adalah bertambahnya devisa negara dari kegiatan penambanganya.
Secara teoritis usaha pertambangan ditujukan untuk kesejahteraan
masyarakat. Para pekerja tambang selayaknya bekerja sama dengan
masyarakat sekitar. Salah satu bentuknya dengan cara memperkerjakan
masyarakat sekitar dalam usaha tambang sekitar, sehingga membantu
kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

3.5 Penapisan Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Batubara PT. Kaltim
Prima Coal
Proses penapisan kegiatan pertambangan batubara PT. Kaltim Prima Coal
menggunakan sistematikan penapisan yang diatur dalam Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha
Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
3.5.1 Justifikasi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan
PT. Kaltim Prima Coal bermaksud untuk melakukan penambangan batubara.
Kapasitas tambang batubara yang akan dioperasikan ini adalah sebesar
70.000.000 ton per tahun dengan luas eksplorasi 90.938 ha, seperti yang tertuang
dalam izin penambangan yang telah dikeluarkan dengan Nomor 510 perizinan
PKP2B dengan kontrak kerjasama (izin PKP2B no. J2/Ji. D4/16/82) tertanggal 8
April 1982. Sebagaimana tabel berikut ini :

3.5.2 Alasan Wajib AMDAL


Penyusunan AMDAL Penambangan batubara oleh PT. Kaltim Prima Coal ini
dilakukan dengan merujuk kepada Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 22 ayat (1) yang
menyatakan bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan yang berdampak penting
terhadap lingkungan hidup wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan pada Pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa Setiap Usaha
dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL atau UKL-UPL Wajib
Memiliki Izin Lingkungan dan Pasal 3 ayat (1) yang isinya menerangkan bahwa
Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang berdampak Penting terhadap Lingkungan
Hidup Wajib Memiliki AMDAL, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).
Format penulisan AMDAL merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen
Lingkungan Hidup Lampiran I yang isinya memuat tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Kerangka Acuan.
Sesuai dengan yang tertuang pada Lampiran I, Huruf K. Bidang
Pertambangan, Sub K.1. kegiatan Mineral Batubara, Nomor 1 untuk Eksploitasi
(Operasi Produksi) Mineral dan Batubara, dimana kegiatan penambangan
batubara oleh PT. Kaltim Prima Coal memiliki kategori sebagai berikut:
Tabel 2. Kriteria Penapisan Wajib AMDAL Penambangan Batubara PT. KPC
No Kategori Wajib Besaran Kegiatan PT. Kesimpulan
AMDAL KPC
1 Luas Perizinan ≥ 200 luas daerah eksploitasi Wajib AMDAL
ha 90.938 ha > 200 ha
2 Luas daerah terbuka Rencana tambang ±100 Wajib AMDAL
untuk pertambangan ≥ ha dibuka per tahun
50 ha (kumulatif yaitu > dari 50 ha/tahun
pertahun)
3 Kapasitas ≥ 1.000.000 Kapasitas 70 juta Wajib AMDAL
ton/tahun ton/tahun > 1 juta
ton/tahun
4 Jumlah material Tidak ada keterangan -
penutup yang
dipindahkan≥
4.000.000 bank cubic
meter (bcm)/tahun
Sumber: Analisa penyusun, 2015

Sesuai dengan analisa di atas maka Penambangan batubara oleh PT. Kaltim
Prima Coal dinyatakan bahwa untuk semua besaran wajib AMDAL.
4 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kesimpulan
Kegiatan penambangan batubara oleh PT. Kaltim Prima Coal di Kecamatan
Sangatta Utara, Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Rantau Pulung Kabupaten
Kutai Timur memiliki kapasitas produksi 70.000.000 ton/tahun dengan luas izin
eksploitasi seluas 90.938 Ha.
Kegiatan penambangan batubara akan menimbulkan dampak pencemaran pada
komponen lingkungan baik tanah, air, udara, getaran kebisingan akibat dari
perubahan tata guna lahan serta limbah yang dihasilkan dalam proses operasinya.
Pemerintah telah menetapkan berbagai peraturan untuk perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan penambangan batubara, namun
perlu dilakukan perumusan hingga baku mutu lingkungan tersebut dapat
diaplikasikan.
Dampak sosial dari kegiatan penambangan batubara sangat merugikan, namun
memiliki potensi pengelolaan yang besar namun perlu adanya komitmen dari
pemrakarsa untuk melakukan pengelolaan.
Kegiatan penambangan batubara oleh PT. Kaltim Prima Coal di Kecamatan
Sangatta Utara, Kecamatan Bengalon dan Kecamatan Rantau Pulung Kabupaten
Kutai Timur memiliki kapasitas produksi 70.000.000 ton/tahun dengan luas izin
eksploitasi seluas 90.938 Ha wajib memiliki dokumen AMDAL karena telah
melampaui kapasitas wajib AMDAL sesuai PErMen LH No 05 Tahun 2012
tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Memiliki Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

4.2 Saran
Dalam pelaksanaan penambangan batubara tetap perlu dilakukan pengendalian,
pemantauan serta pengawasan dampak sehingga kegiatan penambangan batubara
dapat memberikan manfaat dengan meminimasi kerusakan lingkungan yang
terjadi. Penerapan AMDAL dapat menjadi pedoman dan rujukan dalam
pengelolaan serta pemantauan lingkungan hidup.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Potensi Bahaya Tambang Batubara Bawah Tanah .

http://www.kamusilmiah.com Tanggal akses 25 November 2015.

Bilad, M. Roil . 2010.Dampak Lingkungan Penggunaan Batubara Sebagai Bahan Bakar


Pengomprongan Tembakau Virginia.

http://www.sasak.org. Tanggal akses 25 November 2015.

Dwi.2009.Analisa CSR pada PT. Kaltim Prima Coal.(http://fotodeka.wordpress.com/, 7


Mei 2010)

Fiyanto, Arif. 2008. Pembangunan PLTU 10.000 MW : Solusi Keliru Pemerintah dalam
Mengatasi Krisis Listrik.

http://mentarikalahari.wordpress.com.Tanggal akses 07 Mei 2010.

Hendry. 2009.Bahan Galian Batubara.

http://mangkutak.wordpress.com Tanggal akses 07 Mei 2010.

Nugroho, Sudarmanto Budi. 2009. Pengaruh Kegiatan Penambangan BatubaraTerhadap


Kualitas Udara Ambien.

http://docs.google.comTanggal akses 07Mei 2010.

Uliyah, Luluk. 2010.Awas, Pertambangan Batubara Sumber Krisis Air


KalimantanTerkini.

http://borneo2020.org. Tanggal akses 07 Mei 2010.

Wijanto, Sigit.___.LIMBAH B3 DAN KESEHATAN.(http://limbah.pdf.com, 7


Mei2010)