You are on page 1of 21

Laporan Kasus Hipertensi dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga

di Wilayah Kerja Puskesmas Kec. Tirtajaya Kab. Karawang


Periode Desember 2017 sampai dengan Januari 2018

Oleh:

Egy Pradana Yudhistira


11.2015.347

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Januari 2018
Kata Pengantar

Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan family folder tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat
untuk memenuhi salah satu tugas dalam Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana. Laporan ini bertujuan untuk mengetahui
Kejadian Hipertensi pada Usia Lanjut di Wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Tirtajaya,
Kabupaten Karawang dan edukasinya dengan pendekatan kedokteran keluarga. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dr. Melda Suryana, M.Epid selaku pembimbing, keluarga
besar Puskesmas Kecamatan Tirtajaya dan pasien. Penulis berharap dari laporan ini dapat
diketahui faktor risiko Hipertensi, serta edukasi mengenai pola hidup sehat bagi penderita
Hipertensi pada Usia Lanjut di Puskesmas Kecamatan Tirtajaya. Semoga laporan ini bermanfaat
bagi pembaca. Akhir kata, penulis menyadari masih banyak kekurangan dari laporan ini. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, sehingga di masa
yang akan datang penulis dapat menjadi lebih baik lagi.

Jakarta, Januari 2018

Penulis
Bab 1
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan
berlanjut ke suatu organ target sepert stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk
pembuluh darah), ginjal dan hipertrofi ventrikel kiri (untuk otot jantung).1 Hipertensi adalah
suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut
dapat terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan
oksigen dan nutrisi tubuh. Menurut WHO pada tahun 2014 dan the International Society of
Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan dan
menyebabkan 9,4 juta kematian serta mencakup 7% dari beban penyakit di dunia. Diperkirakan
negara yang paling merasakan dampaknya adalah negara berkembang termasuk Indonesia.1
Peningkatan tekanan darah merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner, stroke
iskemik serta stroke hemoragik. Tingkat tekanan darah terbukti berhubungan dengan
peningkatan risiko stroke dan penyakit jantung koroner.2 Hipertensi menyebabkan setidaknya
45% kematian karena penyakit jantung dan 51% kematian karena penyakit stroke di Indonesia.
Kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner dan
stroke diperkirakan akan terus meningkat mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.3 Selain
penyakit jantung koroner dan stroke, komplikasi tekanan darah meliputi gagal jantung, penyakit
vaskular perifer, kerusakan ginjal, perdarahan retina dan gangguan penglihatan.2
Prevalensi hipertensi di Jawa Barat tahun 2013 sebesar 29,4% dari 46.300.543 jiwa atau
sebesar 13.612.359 jiwa penduduk Jawa Barat yang menderita penyakit hipertensi.4 Untuk
Provinsi Jawa Barat persentase perokok adalah 27,1%. Persentase merokok menurut jenis
kelamin berdasarkan RISKESDAS tahun 2013 didapatkan bahwa pada laki-laki lebih banyak
dibandingkan pada perempuan (47,5% banding 1,1%).5
Bab 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang
akan berlanjut ke suatu organ target sepert stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner
(untuk pembuluh darah), ginjal dan hipertrofi ventrikel kiri (untuk otot jantung).1
Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara
kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika dibiarkan, penyakit ini dapat
mengganggu fungsi organ-organ lain, terutama organ-organ vital seperti jantung dan ginjal.
Didefinisikan sebagai hipertensi jika pernah didiagnosis menderita hipertensi atau penyakit
tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan (dokter/perawat/bidan) atau belum pernah
didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat diwawancara sedang minum obat medis untuk
tekanan darah tinggi (minum obat sendiri).6
Seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥140
mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang.
Tekanan darah sistolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar penentuan
diagnosis hipertensi.7

2.2 Epidemiologi Hipertensi


Berdasarkan data WHO pada tahun 2014 terdapat sekitar 600 juta penderita
hipertensi diseluruh dunia dan menyebabkan 9,4 juta kematian serta mencakup 7% dari
beban penyakit di dunia. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah, prevalensi
hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas tahun 2007 di Indonesia adalah sebesar
31,7%. Menurut provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39,6%)
dan terendah di Papua Barat (20,1%). Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun 2013
terjadi penurunan sebesar 5,9% (dari 31,7% menjadi 25,8%). Penurunan ini bisa terjadi
berbagai macam faktor, seperti alat pengukur tensi yang berbeda, masyarakat yang sudah
mulai sadar akan bahaya penyakit hipertensi. Prevalensi tertinggi di Provinsi Bangka
Belitung (30,9%), dan Papua yang terendah (16,8)%). Prevalensi hipertensi di Indonesia
yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang
didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5 persen. Jadi, ada 0,1
persen yang minum obat sendiri. Selanjutnya gambaran di tahun 2013 dengan
menggunakan unit analisis individu menunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk
Indonesia menderita penyakit hipertensi. Jika saat ini penduduk Indonesia sebesar
252.124.458 jiwa maka terdapat 65.048.110 jiwa yang menderita hipertensi. Suatu kondisi
yang cukup mengejutkan.8
Terdapat 5 provinsi yang prevalensinya tertinggi berdasarkan hasil Riskesdas 2013,
dengan tertinggi di Provinsi Bangka Belitung (30,9%) atau secara absolut sebanyak 30,9%
x 1.380.762 jiwa = 426.655 jiwa, disusul provinsi Kalimantan Selatan (30,8%) dengan
perhitungan secara absolut sebanyak 30,8% x 3.913.908 = 1.205.483 jiwa, provinsi
Kalimantan Timur (29,6%) dengan perhitungan secara absolut sebanyak 29,6% x
4.115.741 jiwa = 1.218.259 jiwa, provinsi Jawa Barat (29,4%) dengan perhitungan secara
absolut didapatkan sebanyak 29,4% x 46.300.543 jiwa = 13.612.359 jiwa, dan provinsi
Gorontalo (29,4%) dimana perhitungan secara absolut didapatkan sebanyak 29,4% x
1.134.498 jiwa = 33.542 jiwa.8
Sedangkan untuk jumlah penderita hipertensi terendah di 5 provinsi berdasarkan
hasil Riskesdas 2013 ialah provinsi Riau (20,9%) dengan perhitungan secara absolut
sebanyak 20,9% x 6.358.636 jiwa = 1.328.954 jiwa, disusul provinsi Papua Barat
(20,5%) dimana perhitungan secara absolut didapatkan sebanyak 20,5% x 877.437 jiwa =
179.874 jiwa, provinsi DKI Jakarta (20,0%) dengan perhitungan secara absolut
didapatkan sebanyak 20,0% x 10.135.030 jiwa = 2.027.006 Jiwa, provinsi Bali (19,9%)
dimana dengan perhitungan secara absolut didapatkan sebanyak 19,9% x 4.225.384 jiwa
= 840.851 jiwa, dan provinsi Papua (16,8%) dengan perhitungan absolut didapatkan
sebanyak 16,8% x 3.468.432 jiwa = 585.720 jiwa.8
Adapun prevalensi hipertensi berdasarkan jenis kelamin pada tahun 2007
didapatkan perempuan (31,9%) dan laki-laki (31,2%) sedangkan pada tahun 2013
didapatkan perempuan (28,8%) dan laki-laki (22,8%). Berdasarkan hasil data tersebut
dimana prevalensi hipertensi menurut jenis kelamin didapatkan pada perempuan lebih
tinggi dibanding laki-laki.8
2.3 Klasifikasi Tekanan Darah
Klasifikasi hipertensi yang diagnosis dengan merujuk klasifikasi Joint National
Committee VII (JNC VII) 2003, yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥140
mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 2.1.
Dan klasifikasi terbaru saat ini dengan merujuk klasifikasi Joint National Committee VIII
(JNC VIII) 2013 yang dapat dilihat pada tabel 2.2, dimana klasifikasi hipertensi tersebut
berdasarkan usia dan penyakit komorbid.
Tabel 2.1 Classification of blood pressure for adults in JNC-VII 2003
Category Systolic Blood Pressure Diastolic Blood Pressure
(mmHg) (mmHg)
Normal <120 or <80
Pre-hypertension 120-139 or 80-89
Stage 1 hypertension 140-159 or 90-99
Stage 2 hypertension >160 or >100
Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, Cushman WC, Green LA, Izzo JL et al. Seventh report of the Joint National Committee
on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, Hypertension. Archives of Internal Medicine:
2003; 1206-1252.

Tabel 2.2 Classification of blood pressure for adults in JNC-VIII 2013


Patient Subgroup Target SBP Target DBP
(mmHg) (mmHg)
≥60 years <150 <90
<60 years <140 <90
≥18 years with CKD <140 <90
≥18 years with diabetes <140 <90
James PA, Oparil S, Carter BL, Cushman WC, Dennison C, Handler J et al. 2014 Evidence-Based Guideline for The
Management of High Blood Pressure in Adults: Report from the Panel member Appointed to the Eight Joint National Committee
(JNC 8). JAMA; 18 Dec 2013; 507-520.

Adapun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi:


2.3.1. Berdasarkan Penyebab
2.3.1.1. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial
Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik), walaupun
dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak
(inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.2
2.3.1.2. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita
hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%,
penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu
(misalnya pil KB).2
2.3.2. Berdasarkan Bentuk Hipertensi
Berdasarkan bentuk hipertensi, dibagi manjadi hipertensi diastolik (diastolic
hypertension), hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi), hipertensi
sistolik (isolated systolic hypertension).2
2.4 Etiologi Hipertensi
Penyebab hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu esensial dan sekunder. Sebanyak 90 %
hipertensi esensial dan hanya 10 % yang penyebabnya diketahui seperti penyakit ginjal,
kelainan pembuluh darah, dan kelainan hormonal. Hipertensi primer didefinisikan jika
penyebab hipertensi tidak dapat diidentifikasi. Ketika tidak ada penyebab yang dapat di
identifikasi, sebagian besar merupakan interaksi yang kompleks antara genetik dan interaksi
lingkungan. Biasanya hipertensi esensial terjadi pada usia antara 25-55 tahun dan jarang pada
usia di bawah 20 tahun. Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh sleep apnea, obat-obatan,
gangguan ginjal, coarctation aorta, pheochromocytoma, penyakit tiroid dan paratiroid.9
2.4. 1. Penyakit ginjal
Penyakit ginjal adalah penyebab terbanyak pada hipertensi sekunder. Hipertensi
dapat timbul dari penyakit diabetes nefropati ataupun inflamasi glomerulus, penyakit
intertisial tubulus, dan polikista ginjal. Kebanyakan kasus berhubungan dengan
peningkatan volume intravascular atau peningkatan system renin-angiotensin-
alodesteron.10
2.4. 2. Renal vascular hypertension
Arteri stenosis ginjal dapat muncul pada 1-2 % pasien hipertensi. Penyebabnya
pada orang muda adalah fibromuscular hyperplasia. Penyakit pembuluh darah ginjal
yang lain adalah karena aterosklerosis stenosis dari arteri renal proksimal.
Mekanisme hipertensinya berhubungan dengan peningkatan renin berlebih karena
pengurangan dari aliran darah ke ginjal. Hipertensi pembuluh darah ginjal harus
dicurigai jika terdapat keadaan seperti berikut: (1) terdapat pada usia sebelum 20
tahun atau sesudah usia 50 tahun. (2) bruit pada epigastrik atau artery renal. (3) jika
terdapat penyakit atrerosklerosis dari arteri perifer, 15-25 % pasien dengan
aterosklerosis tungkai bawah yang simtomatik terdapat artery stenosis ginjal. (5)
terjadi penurunan fungsi ginjal setelah pemberian penghambat ACE.10
2.4. 3. Hiperaldosteron primer
Penyakit ini timbul karena sekresi yang berlebihan dari aldosteron oeh korteks
adrenal. Pada pasien hipertensi dengan hipokalemia, krn pengeluaran kalium yang
berlebih melalui urin (biasanya > 40 mEq/L).11
2.4. 4. Sindrom Cushing
Pada penderita sindroma Cushing, hipertensi timbul sekitar 75-85 %. Patogenesis
tentang terjadinya hipertensi pada sindroma Cushing masih tidak jelas. Mungkin
dihubungkan dengan retensi garam dan air dari efek mineralocorticoid karena
glukokortikoid berlebih.11
2.4. 5. Pheochromocytoma
Tumor yang mensekresikan katekolamin yang berada di medulla adrenal dan
menyebabkan hipertensi sekitar 0,05 %.11
2.4. 6. Coarctation of the aorta
Coarctation of the aorta merupakan penyakit jantung congenital tersering yang
menyebabkan hipertensi. Insiden sekitar 1-8 per 1000 kelahiran.10

2.5. Diagnosis

Dalam menegakkan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan


yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil. Algoritma
diagnosis ini diadaptasi dari Canadian Hypertension Education Program seperti yang dapat
dilihat pada gambar 1.7
Gambar 1. Algoritma Diagnosis Hipertensi Berdasarkan The Canadian Recommendation for The
Management of Hypertension 2014.

Sumber: PERKI INA Heart Association. Pedoman tatalaksana hipertensi pada penyakit kardiovaskular. Jakarta: PERKI(1); 2015.

2.6. Tatalaksana Hipertensi


2.6.1. Non Medikamentosa
Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan
darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan
kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko
kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal,
yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut,
tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko
kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.7
Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah:7
 Penurunan berat badan
Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-
buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti
menghindari diabetes dan dislipidemia.7
 Mengurangi asupan garam
Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional
pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam
pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang,
diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada
pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari.7
 Olah raga
Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 –60 menit/hari, minimal 3
hari/minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak
memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk
berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di
tempat kerjanya.7
 Mengurangi konsumsi alkohol
Walaupun konsumsi alkohol belum menjadi pola hidup yang umum di Negara
kita, namun konsumsi alkohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan
perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alkohol lebih
dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan
tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alkohol sangat
membantu dalam penurunan tekanan darah.7
 Berhenti merokok
Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat
menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama
penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.7
2.6.2. Medikamentosa

Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi
derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani pola hidup
sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi
yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping, yaitu :7

 Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal


 Berikan obat generik (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya
 Berikan obat pada pasien usia lanjut (diatas usia 80 tahun) seperti pada usia 55–80 tahun,
dengan memperhatikan faktor komorbid
 Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan
angiotensin II receptor blockers (ARBs)
 Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi farmakologi
 Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.7

Algoritma tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai guidelines memiliki


persamaan prinsip, dan gambar 2 dibawah ini adalah algoritma tatalaksana hipertensi secara
umum, yang dikutip dari A Statement by the American Society of Hypertension and the
International Society of Hypertension 2013.7

Gambar 2. Algoritma Tatalaksana Hipertensi Berdasarkan the American Society of Hypertension


and the International Society of Hypertension 2013.

Sumber: PERKI INA Heart Association. Pedoman tatalaksana hipertensi pada penyakit kardiovaskular. Jakarta: PERKI(1); 2015.

2.7. Prognosis
Hipertensi tidak dapat disembuhkan, namun dpaat dikontrol dengan terapi yang sesuai.
Terapi obat dan modifikasi gaya hidup umumnya dapat mengontrol tekanan darah agar tidak
merusak organ target. Oleh karena itu, obat antihipertensi harus terus diminum untuk
mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi.12
Daftar Pustaka

1. Narayana IPA, Sudhana IW. Gambaran kebiasaan merokok dan kejadian hipertensi pada masyarakat
dewasa di wilayah kerja Puskesmas Pekutatan I. Bali: SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas
Udayana/RSUP Sanglah; 2013.
2. WHO. Raised blood pressure. Jenewa: World Health Organization; 2014.
3. Kemenkes RI, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. Infodatin: Hipertensi. Jakarta:
Kemenkes RI; 2014.
4. Balitbang Kemenkes RI. Riset kesehatan dasar. Jakarta: Balitbang Kemenkes RI; 2013.
5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) tahun 2013.h.133-5. Diunduh 20 Januari 2018.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
6. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset kesehatan dasar
tahun 2013.Diunduh tanggal 20 Januari 2018.
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
7. PERKI INA Heart Association. Pedoman tatalaksana hipertensi pada penyakit kardiovaskular.
Jakarta: PERKI(1); 2015.
8. Departemen Kesehatan. Hipertensi. Infodatin: pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI;
2014.h.3-5. Diunduh tanggal 20 Januari 2018.
http://www.depkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-info-datin.html
9. Chobanian AV et al. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention: detection,
evaluation, and treatment of high blood pressure; JNC 7 report. JAMA: 2003 May;289(19):2560–72.
10. Kasper, Braunwald, Fauci, et al. Harrison’s principles of internal medicine 17th edition. New York:
McGrawHill; 2008.
11. McPhee, Stephen J, et al. Current medical diagnosis and treatment. New York: McGrawHill; 2009.
12. Alwi I, Salim S, Hidayat R, Kurniawan J, Tahapary DL. Hipertensi dalam: penatalaksanaan
di bidang ilmu penyakit dalam, panduan praktik klinis. Jakarta: Interna Publishing;
2015.h.413.
Bab 3
Laporan Kasus

Puskesmas : Puskesmas Kecamatan Tirtajaya

Identitas Pasien
Nama : Tn. Muhammad Asep
Umur : 64 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SD
Alamat : Dusun Tanjungkerta RT 07/RW 03 Desa Medankarya, Kec. Tirtajaya
Kab. Karawang

Riwayat Biologis Keluarga :


Keadaan kesehatan sekarang : Kurang
Kebersihan perorangan : Cukup
Penyakit yang sering diderita : Sakit kepala, leher kaku, badan pegal- pegal
Penyakit keturunan : Hipertensi
Penyakit kronis/ menular : Tidak ada
Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
Pola makan : Baik (3 kali sehari)
Pola istirahat : Cukup
Jumlah anggota keluarga : 4 orang

Psikologis Keluarga
Kebiasaan buruk : Tidak ada
Pengambilan keputusan : Anak sulung
Ketergantungan obat : Tidak ada
Tempat mencari pelayanan kesehatan : Posbindu per bulan dan Puskesmas Tirtajaya
Pola rekreasi : Kurang
Keadaan Rumah/ Lingkungan
Jenis bangunan : Permanen
Lantai rumah : Sebagian semen, sebagian tanah
Luas rumah : 50 x 50 m2
Penerangan : Baik
Kebersihan : Baik
Ventilasi : Baik
Dapur : Ada
Jamban keluarga : Ada
Sumber air minum : Air isi ulang
Sumber pencemaran air : Tidak ada
Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
Sistem pembuangan air limbah : Ada
Tempat pembuangan sampah : Ada
Sanitasi lingkungan : Kurang

Spiritual Keluarga
Ketaatan beribadah : Baik
Keyakinan tentang kesehatan : Cukup

Keadaan Sosial Keluarga


Tingkat pendidikan : SMP
Hubungan antar anggota keluarga : Baik
Hubungan dengan orang lain : Baik
Kegiatan organisasi sosial : Tidak ada
Keadaan ekonomi : Cukup

Kultural Keluarga
Adat yang berpengaruh : Sunda
Daftar Anggota Keluarga
No Nama Hub dgn Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Keadaan Keadaan Imunisasi KB
KK kesehatan gizi

1. Muhammad Suami 64 SD Tidak Islam Baik Baik  -


Asep tahun bekerja

2. Neneng Isteri 50 SD Ibu rumah Islam Baik Baik  -


Herawati tahun tangga

3. Dudi Anak 29 SMP Sopir Islam Baik Baik  -


Kurniadi
tahun

4. Muawanah Anak 24 SMP Guru Islam Baik Baik  -


tahun Mengaji

Keluhan Utama
Sakit kepala sejak 1 minggu.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh sakit kepala sejak 1 minggu yang lalu. Pasien juga mengeluhkan
leher kaku. Pasien tidak pernah minum obat darah tinggi dengan rutin. Pasien biasa
minum obat saat merasa sakit kepala atau leher terasa kaku saja. Pasien terkadang datang
ke posbindu di desa untuk berobat hipertensi. Pasien tidak pernah kontrol ke puskesmas
dan hanya di posbindu saja. Pasien juga mengaku sudah mengurangi frekuensi konsumsi
makanan yang mengandung banyak garam.

Riwayat Penyakit Dahulu


Penyakit maag, kencing manis, penyakit jantung, asma dan alergi, tuberkulosis disangkal.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Status Generalis :
● Tekanan Darah : 180 / 100 mmHg
● Nadi : 90 x/menit
● Pernapasan : 20 x/menit
● Berat Badan : 73 kg
● Tinggi Badan : 160 cm

Status Generalis
Kulit : Kulit berwarna sawo matang, ikterus (-), sianosis(-)
Kepala :Bentuk normal, tidak teraba benjolan, rambut berwarna
abu-abu terdistribusi merata, tidak mudah dicabut.
Mata OD : Bentuk normal, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, palpebra superior et inferior tidak edema, pupil
bulat dengan diameter kurang lebih 3 mm, reflek cahaya
(+), arkus senilis (+).
OS : Bentuk normal, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, palpebra superior et inferior tidak edema, pupil
bulat dengan diameter kurang lebih 3 mm, reflek cahaya
(+), arkus senilis (+).
Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, tidak ada sekret,
tidak ada serumen
Hidung : Bentuk normal, tidak ada sekret, tidak ada deviasi septum
Mulut : Bentuk normal, bibir lembab, lidah tidak kotor, arkus
faring simetris, letak uvula di tengah, faring tidak
hiperemis, tonsil T1-T1 tenang, mukosa mulut tidak ada
kelainan.
Gigi : Karies (+)
Leher : Trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba membesar
Kelenjar getah bening : Retroaurikuler, submandibula, cervical, supraclavicula,
axilla, inguinal tidak membesar
Toraks : Dinding toraks simetris pada keadaan statis dan dinamis,
tidak ada retraksi sela iga.
Paru-paru :
Inspeksi: Gerak dinding dada simetris
Palpasi: Vokal fremitus kiri dan kanan sama
Perkusi: Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi: Suara napas vesikuler, ronkhi kasar -/-,
wheezing -/-
Jantung :
Inspeksi: Tidak terlihat pulsasi iktus kordis
Palpasi: Teraba pulsasi iktus kordis di sela iga IV garis
midclavicularis sinistra
Perkusi: Tidak dilakukan
Auskultasi: Bunyi jantung I-II reguler,murmur (-),gallop (-)
Abdomen Inspeksi: Tampak datar, tidak tampak pelebaran vena
Palpasi: Supel, nyeri tekan epigastrium (-), pembesaran
hepar & lien (-), turgor kulit baik
Perkusi: Timpani
Auskultasi: Bising usus (+) normal
Extremitas : Extremitas superior et inferior tidak ada edema dan tidak
ada deformitas. Refleks fisiologis: + / + ,
Refleks patologis:- / -

Diagnosis Penyakit: Hipertensi Esensial, karena tidak didapatkan penyakit lain sebagai penyebab
hipertensi. Tn. M Asep mempunyai kebiasaan memakan makanan yang mengandung banyak
garam.

Diagnosis Keluarga: Menurut keterangan pasien, pasien tidak mengetahui apakah orang tuanya
juga menderita hipertensi. Namun pasien membenarkan bahwa adiknya juga mengalami hipertensi
juga.
Anjuran Penatalaksanaan Penyakit:
a. Promotif
Penyuluhan tentang definisi hipertensi, gejala hipertensi, faktor-faktor risiko terjadinya
hipertensi dan pencegahan hipertensi misal dengan penyuluhan tentang hidup sehat, kurangi
makanan yang banyak mengandung garam, beraktifitas fisik, dan coba untuk tetap tidak
merokok.
b. Preventif
Kegiatan skrining dan deteksi untuk menemukan penyakit. Kegiatan yang dapat dilakukan
antara lain pemeriksaan kesehatan setiap tahun agar dideteksi hipertensi atau tidak,
menerapkan pola hidup sehat seperti menurunkan asupan garam, meningkatkan konsumsi
buah-buahan dan sayur, menurunkan asupan lemak, menurunkan berat badan berlebih, dan
melakukan latihan fisik dan olah raga teratur.
c. Kuratif
Bila ditemukan kasus, maka dapat dilakukan pengobatan dini agar penyakit tersebut tidak
menjadi parah. Terapi yang dapat diberikan adalah Hidroklorotiazid 1 x 25mg, atau Captopril
2 x 12,5 mg. Pasien juga sedang mengkonsumsi obat Captopril dari Puskesmas.
d. Rehabilitatif
Rehabilitatif adalah suatu kegiatan difokuskan kepada mempertahankan kualitas hidup penderita
yang telah mengalami penyakit yang cukup berat. Pada pasien belum perlu dilakukan tindakan
rehabilitatif selain pemeriksaan tekanan darah teratur ke puskesmas untuk memastikan tekanan
darah dalam batas terkontrol dan untuk memeriksakan tanda-tanda kerusakan organ target dan
komplikasi akibat hipertensi tersebut. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
mata karena menurut pasien dia sudah membuat kaca mata tetapi masih kabur. Ini adalah untuk
membuang kemungkinan komplikasi hipertensi pada mata pasien dan mencari penyebab
penglihatan kabur pasien.

Prognosis:
 Penyakit
Bila pasien teratur meminum obat yang diberikan dan selalu memeriksa tekanan darahnya ke
Puskesmas secara teratur, dan didukung dengan pola hidup s
ehat yang baik maka prognosis penyakit pasien adalah baik (dubia et bonam).
 Keluarga
Adanya hubungan yang baik antar anggota keluarga pasien serta keluarga yang sangat
mendukung kesehatan pasien dapat membuat suasana keluarga yang sehat jasmani dan rohani
dan prognosisnya baik untuk pasien maupun keluarganya
 Masyarakat
Untuk masyarakat sekitar pasien tinggal, karena hipertensi yang diderita pasen tidak menular,
maka prognosisnya ad bonam.

Resume
Telah diperiksa seorang bapak (Tn.M Asep) berumur 64 tahun dengan keluhan pusing sejak 1
minggu. Keluhan lain yang mengarah ke penyakit penyerta disangkal. Pasien tinggal di
pemukiman penduduk yang kebersihannya kurang diperhatikan. Pasien mempunyai kebiasaan
makan makanan yang mengandung tinggi garam. Pasien juga mengatakan bahwa anggota
keluarganya ada yang mengalami hipertensi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain
pemeriksaan tekanan darah rutin, test darah rutin, pemeriksaan gula darah, kolesterol total serum,
kolesterol HDL dan LDL. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan mata
karena menurut pasien dia sudah membuat kaca mata tetapi masih kabur. Ini adalah untuk
membuang kemungkinan komplikasi hipertensi pada mata pasien dan mencari penyebab
penglihatan kabur pasien.

Analisis Kasus
Pada 15 Januari 2018 yang lalu saya melakukan kunjungan rumah ke Desa Medankarya

dan bertemu dengan seorang pasien laki-laki bernama Tn.Muhammad Asep. Tn. M. Asep

berumur 64 tahun mengeluh sering pusing sejak 1m minggu yang lalu. Pasien mengatakan

memiliki penyakit hipertensi yang telah lama dideritanya. Kondisi pasien tampak sehat, tidak ada

demam dan keluhan lainnya. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah adalah

180/100mmHg. Kemudian, saya lakukan kunjungan rumah melihat kondisi rumah pasien, dari

situ didapatkan keterangan bahwa Tn.M. Asep sudah menderita hipertensi sejak 20 tahun lalu.

Pertama kali dia mengetahui mengenai penyakitnya ini adalah secara tidak sengaja karena dia

disuruh oleh teman-temannya untuk melakukan pemeriksaan umum di praktek Mantri setempat
karena umurnya yang semakin lanjut. Sewaktu kunjungan, kondisi pasien dalam keadaan baik,

tidak ada demam. Pasien memiliki pendidikan sampai tingkat tamat SD. Pasien menyatakan

bahwa sebelum ini dia bekerja di perusahaan membuat pakaian. Akan tetapi, karena usia yang

sudah lanjut dan disarankan anak-anaknya untuk istirahat, akhirnya dia berhenti dari

pekerjaannya. Pasien mengatakan sangat senang makanan yang asin-asin (mengandung tinggi

garam). Rumah pasien terletak di lingkungan yang teratur dan tidak padat. Luas kawasan rumah

pasien kira-kira 50 x 50 m2 dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi. Terdapat sistem

limbah dan pembuangan sampah yang memenuhi syarat kesehatan. Akan tetapi, pencahayaan

didalam rumah kurang baik karena tidak ada jendela yang mencukupi. Satu-satunya jendela yang

ada di dalam rumah pasien juga tidak digunakan dengan sepenuhnya karena ditutup akibat

daripada debu yang masuk kedalam rumah. Jadi, sumber pengudaraan yang ada di rumah tersebut

hanyalah pintu rumah. Sumber cahaya matahari yang masuk juga terbatas. Kebersihan dalam

rumah baik. Namun, rumah agak berbau apek karena pengaruh kurangnya pencahayaan. Sumber

air minum berasal dari air isi ulang, dan air tersebut digunakan untuk keperluan memasak,

mencuci dan mandi. Hubungan pasien dengan semua anggota keluarga terjalin dengan baik.

Semua keluarga saling bekerjasama dan pasien terlihat bahagia dengan keluarga yang

dimilikinya. Karakter pasien yang ramah dan sering bercanda juga membuat keluarga ini

harmonis. Selain itu, pasien juga sering berkomunikasi dengan saudara-saudaranya yang tinggal

di luar daerah. Keluarga pasien juga sering berkomunikasi dan berbaur dengan tetangga mereka.

Sumber pendapatan keluarga ini adalah sepenuhnya oleh kedua anaknya yang telah bekerja.

Semua anggota keluarganya menjalankan ibadah mereka dengan baik. Beliau sering ke masjid

setiap salat 5 waktu. Dan sering melakukan pengajian di rumah bersama isteri dan anak-anaknya.

Tn. Asep beserta kelurganya cenderung masih kurang memiliki pengetahuan tentang hipertensi

terutama kebiasaan makanan yang harus dicegah dan perlu rutinnya kontrol ke Pelayanan

Kesehatan setempat.
Lampiran Foto Kegiatan