You are on page 1of 35

HUBUNGAN PERILAKU DAN HIGIENE SISWA DENGAN INFEKSI KECACINGAN

DI SD NEGERI 09 DESA KARANG SUCI ARGAMAKMUR BENGKULU UTARA


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seperti negara-negara berkembang lainnya, Indonesia masih termasuk kedalam
negara yang banyak terdapat penyakit yang disebabkan sanitasi lingkungan. Salah satu
penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi cacingan dimana penyakit ini
merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan (Depkes RI, 2004).
Penyakit kecacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh karena masuknya
parasit (berupa cacing) ke dalam tubuh manusia. Jenis cacing yang sering ditemukan
menimbulkan infeksi adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk
(Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Necator americanus) yang ditularkan melalui
tanah (Soil Transmitted Helminthiasis). Kerugian yang ditimbulkan akibat kecacingan
sangat besar utamanya terhadap perkembangan fisik, intelegensia, dan produktivitas anak
yang merupakan generasi penerus bangsa (Dinkes Jatim, 2005).
Hasil survei penyakit kecacingan di Sekolah Dasar di beberapa Propinsi di
Indonesia pada tahun 1986-1991 menunjukkan prevalensi sekitar 60%-80%, sedangkan
untuk semua umur berkisar antara 40%-60%. Survei Subdit Diare pada tahun 2002-2003
pada 40 Sekolah Dasar di 10 Propinsi di Indonesia menunjukkan prevalensi berkisar antara
2,2% - 96,3%. Prevalensi penyakit kecacingan pada anak sekolah dasar daerah
transmigrasi di propinsi Bengkulu meliputi A. lumbricoides 65%, T. Trichiura 55% dan
cacing tambang 22%, hal ini disebabkan karena sanitasi dasar yang kurang memenuhi
syarat kesehatan dan juga disebabkan perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan
kesehatan lingkungan dan pribadi (Helmi, 2000). Angka prevalensi penyakit kecacingan
anak sekolah dasar Renah Panjang Kecamatan Lubuk Sandi dengan prevalensi 49,9% yaitu
A. lumbricoides 34% dan T. trichiura 15,9% (Gazali, 2008).
Anak usia sekolah merupakan potensial di masa mendatang yang harus memiliki
kesehatan mental maupun fisiknya. Dalam hubungan dengan infeksi kecacingan, beberapa
penelitian ternyata menunjukkan bahwa anak usia sekolah merupakan golongan yang
sering terkena infeksi kecacingan karena sering berhubungan dengan tanah (Depkes RI,
2004).
Perilaku seseorang dapat tumbuh dengan baik dikarenakan pengetahuan dan
pengalaman sehingga hal tersebut bisa mengahasilkan sesuatu yang baik pula termasuk
niali kesehatan. Kurangnya pengetahuan anak tentang infeksi cacingan merupakan faktor
dasar seorang anak berperilaku. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Mahzumi (2000) bahwa terdapat penurunan kejadian infeksi cacingan pada anak sekolah
dasar setelah diberikan pendidikan kesehatan.
Keadaan sanitasi yang belum memadai, keadaan sosial ekonomi yang masih rendah
dan kebiasaan manusia mencemari lingkungan dengan tinjanya sendiri, didukung oleh
iklim yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan cacing merupakan beberapa
faktor penyebab tingginya prevalensi infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah di
Indonesia (Zit, 2000).
Vince dalam Poespoprojo dan Sadjimin (2000) menyatakan bahwa infeksi cacingan
pada manusia dipengaruhi oleh perilaku, lingkungan tempat tinggal dan manipulasi
terhadap lingkungan, misalnya tidak tersedianya air bersih dan tempat pembuangan faeces
yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai
“HUBUNGAN PERILAKU DAN HIGIENE SISWA DENGAN INFEKSI
KECACINGAN DI SD NEGERI 09 DESA KARANG SUCI ARGAMAKMUR
BENGKULU UTARA”.

1.2. Perumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah :


Bagaimana hubungan perilaku dan higiene siswa dengan infeksi kecacingan di SD Negeri
07 Desa Karang Suci Argamakmur Kecamatan Argamakmur Bengkulu Utara?
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan perilaku dan higiene siswa dengan infeksi


kecacingan di SD Negeri 07 Desa Karang Suci Argamakmur Kecamatan
Argamakmur Bengkulu Utara
1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) siswa SD


Negeri 07 Desa Karang Suci Argamakmur Kecamatan Argamakmur
Bengkulu Utara
2. Untuk mengetahui higiene (kebersihan kuku, kebersihan diri dan
penggunaan alas kaki siswa SD Negeri 07 Desa Karang Suci Argamakmur
Kecamatan Argamakmur Bengkulu Utara
3. Untuk mengetahui siswa SD Negeri 07 Desa Karang Suci Argamakmur
Kecamatan Argamakmur Bengkulu Utara yang terinfeksi dan tidak
terinfeksi kecacingan melalui pemeriksaan laboratorium.
4. Mengetahui hubungan perilaku (pengetahuan,sikap dan tindakan) dengan
infeksi cacingan pada siswa SD Negeri 07 Desa Karang Suci Argamakmur
Kecamatan Argamakmur Bengkulu Utara
1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis
Untuk menambah wawsan mengenai hubungan perilaku higiene terhadap infeksi
kecacingan serta untuk membuat penulis sadar pentingnya menjaga kebersian agar
tidak terinfeksi penyakit kecacingan.
2. Bagi Masyarakat
Untuk memberi wawasan kepada masyarakat agar selalu menjaga keberishan diri
dan lingkungan pada kehidupan sehari-hari. Selain itu masyarakat dapat
menyarankan keluarganya yang belum mengetahui agar menerapkannya kepada diri
sendiri.
3. Bagi Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pustaka dibagian kesehatan untuk
dapat dipelajari oleh generasi-generasi penerus akademis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perilaku

Perilaku manusia dapat dilihat dari 3 (tiga) aspek, yaitu aspek fisik, psikis dan
sosial yang secara rinci merupakan repleksi kejolak kejiwaan seperti : pengetahuan,
motivasi, persepsi sikap dan sebahagian yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor-
faktor pengalaman, keyakinan, cara fisik dan sosial budaya masyarakat
(Notoatmodjo,1993)
Perilaku seseorang terdiri dari 3 bagian yaitu kognitif, afektif dan fsikomotor.
Kognitif dapat diukur dari pengetahuan avektif dari sikap atau tanggapan dan fsikomotor
diukur melalui tindakan praktek yang dilakukan (Notoatmodjo,1993)
Menurut Notoatmojo, Perilaku dapat diukur dengan cara mengukur unsur-unsur
perilaku dimana salah satu adalah pengetahuan dengan cara memperoleh data atau
informasi tentang indikator-indikator pengetahuan tersebut. Untuk dapat menentukan
tingkat pengetahuan terhadap sanitasi lingkungan dilakukan melalui wawancara.
Perilaku sehat pada dasarnya adalah respons seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan makanan serta
lingkungan. Sebagai contoh perilaku yang berkaitan dengan lingkungan, misalnya perilaku
seseorang berhubungan dengan pembuangan kotor yang menyangkut dari segi-segi
higiene, pemeliharaan, teknik dan penggunaannya.

Menurut Anwar (1983) perilaku sehat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti :

1. Latar belakang seseorang yang meliputi norma-norma yang ada, kebiasaan, nilai
budaya dan keadaan sosial ekonomi yang berlaku di masyarakat.
2. Kepercayaan meliputi manfaat yang didapat, hambatan yang ada, kerugian dan
kepercayaan bahwa seseorang dapat terserang penyakit.
3. Sarana merupakan tersedia atau tidaknya fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat.

Perilaku kesehatan dapat dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan


interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya menyangkut pengetahuan dan sikap
tentang kesehatan. Menurut Depkes RI (1988), salah satu aspek yang penting dalam
penanggulangan infeksi kecacingan adalah dengan cara meningkatkan pengetahuan dan
perilaku keluarga tentang higiene perorangan serta sanitasi lingkungan.

2.1.1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah adanya penginderaan terhadap suatu
objek dan sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang. Penelitian Roger tahun
1974 yang dikutip Notoatmodjo, (2003), mengungkapkan sebelum orang mengadopsi
perilaku baru, terlebih dahulu terjadi proses yang berurutan, yakni :
1. Awareness (kesadaran), yakni saat orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
lebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Pada tahap ini sikap
subjek sudah mulai tumbuh.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya. Hal ini berarti bahwa sikap responden sudah lebih baik.
4. Trial, yakni subjek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
5. Adaption, yakni saat subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

Menurut Notoadmojo (2005) perilaku dikembangkan menjadi 3 (tiga) tingkat yaitu


pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil
tau seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilkinya. Secara garis besar
pengetahuan dibagi dalam 5 (lima) tingkat yaitu :
1. Tahu (know) diartikan hanya sebagai memanggil memori yang telah ada sebelumnya
diartikan sebagai memanggil memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati
sesuatu.
2. Memahami (comprehension) memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap
objek tearsebut tetapi dapat menginterprestasikannya.
3. Aplikasi (applications) apabila telah memahami objek yang dimaksud dalam
pengaplikasikan prinsip tersebut pada situasi yang lain.
4. Analisis (analysis) kemampuan seseorang untuk menjabarkan kemudian mencari
hubungan antara komponen terdapat suatu masalah.
5. Sintesis (synthesis) kemampuan seseorang untuk menerangkan dalam suatu hubungan
yang logis.
2.1.2. Sikap

Sikap merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat dahulu dari seseorang tetapi
hanya dapat ditafsirkan karena . Seorang ahli psikologi sosial Newcomb menyatakan
bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
pelaksanaan dari motif tertentu.
Menurut Notoadmodjo (1997), sikap terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu:

1. Menerima (Receiving), diartikan bahwa orang (subjek) mau dan mau memperhatikan
stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespon (Responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap yang berarti orang
(subjek) menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuiting), indikasinya adalah adanya ajakan kepada orang lain untuk
mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.
4. Bertanggung jawab (Responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.

Sikap dalam bersifat positif dan


dapat bersifat negatif. Pada sikap positif kecendrungan tindakan adalah mendekati,
menyenangi, mengharapkan objek tertentu (Notoadmodjo (2005). Sedangkan sikap negatif
terdapat sikap menjauhi, menghindari, membenci tidak menyukai objek tertentu. Sikap
tersebut mempunyai 3 komponen yaitu :

1. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep suatu objek.

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek

3. Kecendrungan untuk bertindak.

2.1.3. Tindakan

Suatu sikap yang dapat mewujudkan sebuah tindakan tetapi memerlukan faktor
pendukung dan fasilitas untuk mewujudkannya.
Tingkat-tingkat praktek (Notoadmodjo, 1997) :

1. Persepsi (Perception), yakni mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan


dengan tindakan yang akan diambil.
2. Respon terpimpin (Guided Respon), yakni melakukan sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar.
3. Mekanisme (Mecanism), yakni apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu
dengan benar secara otomatis ataupun sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan.
4. Adaptasi (Adaption), yakni suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi
kebenaran tindakannya tersebut.

2.2. Higiene

Higiene merupakan hal yang sangat penting diperhatikan terutama pada saat
perkembangan. Dengan kesehatan pribadi yang buruk pada masa tersebut akan dapat
mengganggu perkembangan kualitas sumber daya manusia. Higiene yang belum memadai
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya prevalensi kecacingan.
Menurut Azwar (1996) Higiene adalah usaha kesehatan masyarakat yang mempelajari
pengaruh kondisi lingkungan terhadap kesehatan manusia, upaya untuk mencegah
timbulnya penyakit karena pengaruh lingkungan tersebut, serta membuat kondisi
lingkungan sedemikian rupa sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan. Keadaan higiene
yang tidak baik seperti tangan dan kuku yang kotor, kebersihan diri dan penggunaan alas
kaki hal ini dapat menimbulkan infeksi kecacingan.
Untuk menjaga kesehatan pribadi tentu saja tidak lepas dari kebiasaan-kebiasaan
sehat yang dilakukan setiap hari. Higiene perorangan pada anak sekolah dasar meliputi :

2.2.1. Kebersihan Kulit


Kebersihan kulit biasanya merupakan cerminan utama dalam penilaian kesehatan.
Maka sangat perlu untuk dijaga kebersihannya. Pemeliharaan keseahatan kulit tidak
terlepas dari kebersihan lingkungan, makanan yang dimakan serta kebiasaan hidup sehari-
hari.
Untuk selalu memelihara kebersihan kulit, kebiasaan-kebiasaann yang sehat harus
selalu diperhatikan, seperti:
1. Mandi minimal 2x sehari
2. Mandi memakai sabun
3. Menjaga kebersihan pakaian
4. Menjaga kebersihan lingkungan
5. Makan yang bergizi terutama sayur-sayuran dan buah-buahan
6. Menggunakan barang-barang keperluan sehari-hari milik sendiri (Notoatmodjo, 1997)

2.2.2. Kebersihan Tangan, Kaki, dan Kuku

Tangan, kaki, dan kuku yang bersih akan membuat indah apabila dipandang. Kuku
yang kotor dapat menyebabkan penyakit-penyakit tertentu :
1. Pada kuku sendiri :
a. Cantengan yaitu radang bawah/pinggir kuku
b. Jamur kuku
2. Pada tempat lain :
a. Luka infeksi pada tempat garukan
b. Cacingan

Untuk menghindari hal-hal tersebut di atas, perlu diperhatikan sebagai berikut :


1. Membersihkan tangan sebelum makan
2. Memotong kuku secara teratur
3. Membersihkan lingkungan
4. Mencuci kaki sebelum tidur (Odang, 1995)

2.3. Sanitasi Lingkungan

Sanitasi lingkungan merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Oleh karena
itu untuk mencapai kemampuan hidup sehat di masyarakat, maka hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
2.3.1. Penyediaan Air Bersih

Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan


masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan
(Slamet, 1996).

Air merupakan kebutuhan yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk di dunia,
khususnya sebagai air minum. Namun air dapat juga menimbulkan berbagai gangguan
kesehatan terhadap si pemakai (Sutrisno, 1991).
Air bersih juga merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan
masyarakat. Berbagai keperluan seperti mandi, mencuci kakus dan wudhu membutuhkan
air yang memenuhi syarat dari segi kualitas dan mencukupi dari segi kuantitas.

Untuk itu penyediaan air bersih harus memenuhi persyaratan dari segi :

a. Kualitas : Tersedia air bersih yang memenuhi syarat kesehatan (fisik, kimia,

dan bakteriologis).

b. Kuantitas : Tersedia air bersih minimal 60 liter/hari

c. Kontinuitas : Air minum dan air bersih tersedia pada setiap kegiatan yang
membutuhkan secara berkesinambungan.

Syarat kualitas air secara fisik adalah tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau dan
jernih. Secara kimia air yang baik tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia
ataupun mineral terutama zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Dan syarat bakteriologis
semua air minum hendaknya dapat terhindar dari kemungkinan terkontaminasi bakteri
terutama bakteri pathogen.
Mengingat bahwa tidak mungkin air yang dikonsumsi seratus persen sesuai dengan
persyaratan kesehatan, namun air yang ada diusahakan sedemikian rupa mendekati syarat-
syarat yang tercantum dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 416/ Menkes/Per/1990.
Evaluasi dampak kesehatan dari usaha sektor penyediaan air bersih dan sanitasi
selama kurun waktu 1969-1990 menunjukkan bahwa liputan penyediaan air bersih dan
sanitasi terus naik, akan tetapi insiden penyakit bawaan air juga naik. Hal ini mungkin
disebabkan oleh :
1. Liputan yang masih sangat rendah (penyediaan air bersih 44%, sanitasi 26,8%)
sehingga tidak memberi dampak pada penyakit bawaan air.
2. Meningkatnya penyediaan air bersih yang berarti meningkatnya limbah, sedangkan
pengelolaan limbah yang ada pada hakekatnya lebih berbahaya dari pada penyediaan
air bersih yang kurang diperhatikan.
3. Pemanfaatan air yang tidak saniter, karena pelaksanaan penyediaan air bersih dan
sanitasi tidak disertai dengan penyuluhan higiene perseorangan yang efektif (Slamet,
1996).
2.3.2. Toilet dan Kamar Mandi

Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan


mengumpulkan kotoran/najis yang lazim disebut WC, sehingga kotoran atau najis tersebut
berada dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit
dan mengotori lingkungan pemukiman (Ditjen PPM & PLP, 1992).
Pembuangan tinja yang tidak saniter akan menyebabkan berbagai macam penyakit
seperti : Diare, Cholera, Dysentri, Poliomyelitis, Ascariasis dan sebagainya. Kotoran
manusia merupakan buangan padat. Selain menimbulkan bau, mengotori lingkungan juga
merupakan media penularan penyakit pada masyarakat.
Perjalanan agent penyebab penyakit melalui cara transmisi seperti dari tangan, maupun
melalui peralatan yang terkontaminasi ataupun melalui mata rantai lainnya. Dimana
memungkinkan tinja atau kotoran yang mengandung agent penyebab infeksi masuk
melalui saluran pencernaan.
Untuk itu persyaratan toilet dan kamar mandi harus memenuhi persyaratan:
a) Toilet selalu dalam keadaan bersih
b) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, tidak licin, berwarna terang dan mudah
dibersihkan
c) Ada pembuangan air limbah dari toilet dan kamar mandi, dilengkapi dengan penahan
bau
d) Letak toilet dan kamar mandi tidak berhubungan langsung dengan tempat pengelolaan
makanan (dapur, ruang makan)
e) Lubang penghawaan harus berhubungan langsung dengan udara luar
f) Harus dilengkapi dengan slogan untuk memelihara kebersihan
g) Tidak terdapat penampungan atau genangan air yang dapat menjadi tempat perindukan
binatang pengerat dan serangga.

2.3.3. Pengelolaan Sampah

Sampah ialah sesuatu bahan/benda padat yang terjadi karena berhubungan dengan
aktifitas manusia yang tidak dipakai lagi, tidak disenangi dan dibuang dengan cara-cara
saniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia (Kusnoputranto, 1983)
Atas dasar defenisi tersebut maka sampah dapat dibedakan atas dasar sifat-sifat
biologis dan kimianya sehingga mempermudah pengelolaannya. Pengelolaan sampah perlu
didasarkan atas berbagai pertimbangan :
1. Untuk mencegah terjadinya penyakit
2. Konservasi sumber daya alam
3. Mencegah gangguan estetika
4. Pemanfaatan kembali
5. Kuantitas dan kualitas sampah akan meningkat

Pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak


langsung. Pengaruh langsung adalah karena kontak langsung dengan sampah misalnya
sampah beracun. Pengaruh tidak langsung dapat dirasakan akibat proses pembusukan,
pembakaran dan pembuangan sampah. Efek tidak langsung dapat berupa penyakit bawaan,
vektor yang berkembang biak di dalam sampah.
Mengingat efek daripada sampah terhadap kesehatan maka pengelolaan sampah
harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Tersedia tempat sampah yang dilengkapi dengan penutup
2. Tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, tahan karat, permukaan bagian dalam
rata dan dilengkapi dengan penutup
3. Tempat sampah dikosongkan setiap 1 x 24 jam atau 2/3 bagian telah terisi penuh
4. Jumlah dan volume tempat sampah disesuaikan dengan volume sampah yang
dihasilkan setiap kegiatan
5. Tersedia tempat pembuangan sampah sementara yang mudah dikosongkan, tidak
terbuat dari beton permanen, terletak di lokasi yang mudah terjangkau kendaraan
pengangkut sampah dan harus dikosongkan sekurang-kurangnya 3 x 24 jam.

2.3.4. Pengelolaan Air Limbah

Dalam kehidupan sehari-hari pengolahan air limbah dilakukan dengan cara


menyalurkan air limbah tersebut jauh dari tempat tinggal tanpa diolah sebelumnya atau
menyalurkan air limbah tersebut setelah diolah sebelumnya. Air buangan yang dibuang
tidak saniter dapat menjadi media perkembangan mikroorganisme pathogen, larva nyamuk
ataupun serangga yang dapat menjadi media transmisi penyakit seperti cholera, typhus
abdominalis, dysentri basiller dan sebagainya.
Sarana pembuangan air limbah yang sehat harus memenuhi persyaratan teknis
sebagai berikut :
1. Tidak mencemari sumber air bersih
2. Tidak menimbulkan genangan air yang menjadi sarang serangga/nyamuk
3. Tidak menimbulkan bau
4. Tidak menimbulkan becek, kelembaban dan pandangan yang tidak menyenangkan

Untuk itu pengelolaan limbah harus memiliki persyaratan teknis apabila belum ada
atau tidak terjangkau oleh sistem pengolahan limbah perkotaan. Kualitas air limbah yang
dibuang ke lingkungan harus mempunyai persyaratan baku mutu air limbah sesuai
peraturan.

2.4. Infeksi Kecacingan Pada Manusia

Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di negara-negara yang


sedang berkembang di daerah tropic adalah penyakit investasi cacing usus. Cacing
umumnya tidak menyebabkan penyakit berat sehingga seringkali diabaikan walaupun
sesungguhnya memberikan gangguan kesehatan. Tetapi dalam keadaan investasi berat atau
keadaan yang luar biasa, kecacingan cenderung memberikan analisa yang keliru ke arah
penyakit lain dan tidak jarang dapat berakibat fatal.
Cacing-cacing usus pada manusia di antaranya adalah Ascaris lumbricoides,
Trichuris trichiura, Necator americanus/Ancylostoma duodenale yang penularannya
melalui tanah yang dicemari tinja manusia sehingga distribusi frekuensinya masih
tergolong tinggi di Indonesia (Gandahusada, dkk, 2000).

2.4.1. Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)

Jumlah orang di dunia yang terinfeksi Ascaris mungkin hanya kedua setelah infeksi
cacing kremi, Enterobius vermicularis. Ascaris telah dikenal pada masa Romawi sebagai
Lumbricus teres (dikacaukan dengan cacing tanah yang umum) dan mungkin telah
menginfeksi manusia selama ribuan tahun. Lebih banyak terdapat di daerah yang beriklim
panas dan lembab, tetapi dapat juga hidup di daerah yang beriklim sedang. (Garcia, 1996).
Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides) adalah
ascariasis.

a. Morfologi

Ascaris lumbricoides adalah cacing nematode terbesar, cacing betina dewasa mempunyai
bentuk tubuh posterior yang membulat, berwarna putih kemerah-merahan dan mempunyai
ekor lurus tidak melengkung. Cacing betina mempunyai panjang 22-35 cm dan memiliki
lebar 3-6 mm. Sementara cacing jantan dewasa mempunyai ukuran lebih kecil, dengan
panjangnya 12-31 cm dan lebarnya 24 mm, juga mempunyai warna yang sama dengan
cacing betina, tetapi mempunyai ekor yang melengkung kearah ventral. Kepalanya
mempunyai tiga bibir pada ujung anterior (bagian depan) dan mempunyai gigi-gigi kecil
atau dentikel pada pinggirnya, bibirnya dapat ditutup atau dipanjangkan untuk
memasukkan makanan.
Alat reproduksi dan saluran pencernaan mengapung didalam rongga badan, cacing
jantan mempunyai dua buah speculum yang dapat keluar dari kloaka dan pada cacing
batina vulva terbuka pada pembatasan sepertiga bahan anterior dan tengah, bagian ini lebih
kecil dan dikenal sebagai cacing kopulasi.
Telur yang dibuahi (fertilized) berbentuk ovoid dengan ukuran 600 – 70 X 30 – 50
µ. Bila baru dikeluarkan tidak infektif dan berisi satu sel tunggal. Sel ini dikelilingi suatu
membrane vitelin yang tipis untuk meningkatkan daya tahan telur cacing tersebut terhadap
lingkungan sekitarnya, sehingga dapat bertahan hidup sampai satu tahun. Disekitar
membrane ini ada kulit bening dan tebal yang dikelilingi lagi oleh lapisan albuminoid ini
kadang-kadang dilepaskan atau hilang oleh zat kimia yang menghasilkan telur tanpa kulit
(decorticated). Di dalam rongga usus, telur memperoleh warna kecoklatan dari pigmen
empedu.
Telur yang tidak dibuahi (unfertilized) berada dalam tinja, bentuk telur lebih
lonjong dan mempunyai ukuran 88 – 94 X 40 - 44µ, memiliki dinding yang tipis, berwarna
coklat dengan lapisan albuminoid yang kurang sempurna dan isinya tidak teratur (Soedarto,
1991).

b. Siklus Hidup Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)

Cacing dewasa biasanya hidup didalam rongga usus muda. Cacing ini mendapat makanan
dari makanan hospes yang setengah dicernakan dan mungkin dari sel mukosa usus. Cacing
jantan atau betina dapat ditemukan terpisah pada orang-orang dengan infeksi yang ringan
sekali. Seekor cacing betina mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan 26 juta butir
telur, dan sehari rata-rata dikeluarkan 200.000 butir. Telurnya belum membelah bila
dikeluarkan oleh hospes dengan tinja. Suhu yang rendah menghambat pertumbuhan kira-
kira 250C dengan batas antara 210C dan 300C. Suhu yang lebih rendah menghambat
pertumbuhan tetapi menguntungkan lamanya kehidupan. Pada suhu 370C telur hanya
tumbuh sampai stadium delapan sel. Karena telur memerlukan zat arang, maka
pertumbuhan terhambat bila terdapat dalam lingkungan yang membusuk. (Brown, 1983).
Telur yang infekstif, bila ditelan oleh manusia, menetas di bagian atas usus muda,
dan mengeluarkan larva rabditiform (berukuran 200-300 kali 14µ), yang menembus
dinding usus yang masuk vena kecil atau pembuluh limfe. Melalui sirkulasi portal larva ini
masuk ke hepar, kemudian ke jantung dan paru-paru. Larvanya mungkin sampai di paru-
paru hanya 0,01 mm, maka kapiler tersebut pecah dan larva keluar ke alveoli. Kadang-
kadang beberapa larva dapat masuk ke jantung kiri melalui vena paru-paru dan disebarkan
sebagai emboli keberbagai alat dalam badan. Larva bermigrasi atau dibawa oleh
bronchiolus ke bronchus, naik ke trachea sampai ke epiglottis, dan turun melalui
oesophagus ke usus muda. Selama masa hidupnya di dalam paru-paru, larva membesar
sampai lima kali ukuran semula, yaitu 1,5 mm panjangnya. Setelah sampai di dalam usus
larva mengalami perubahan kelima. Cacing betina yang bertelur didapati dalam waktu
kira-kira 2 bulan setelah infeksi, dan hidup selama 12 sampai 18 bulan (Brown, 1983).

c. Patologi dan Gejala Klinis

Gejala yang timbul pada manusia dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan
larvanya. Infeksi yang hanya mengandung 10-20 ekor cacing biasanya tanpa gejala klinis
dan baru diketahui sebagai penderita apabila telah dilakukan pemeriksaan tinja atau cacing
dewasa keluar bersama tinja (Brown, 1983, Hadiwartono, 1994).
Gangguan karena larva biasanya terjadi pendarahan yang kecil pada dinding
alveolus dan akan timbul gangguan pada paru yang disertai dengan batuk, demam dan
eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrate, yang menghilang dalam waktu tiga minggu,
keadaan ini yang disebut sindromloeffler. Gangguan ini disebabkan oleh cacing dewasa
biasanya ringan, kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti mual-
mual, nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.
Cacing gelang ini mempunyai cairan tubuh yang dapat menimbulkan reaksi toksik
sehingga terjadi gejala demam disertai alergi misalnya gatal-gatal, oedema wajah,
konjungitis dan iritasi saluran pernafasan bagian atas. Selain itu cacing dewasa juga dapat
menimbulkan berbagai akibat yang bersifat mekanik, seperti obstruksi usus, intususepsi.
Migrasi cacing ke organ misalnya lambung, esophagus, mulut, hidung, rima glottis atau
bronkus dapat menyumbat pernafasan penderita, dan dapat terjadi apendiksitis,
penyumbatan saluran empedu, abses hati dan pankreatitis akut (Brown, 1983).
Cacing dewasa pada anak-anak menimbulkan kekurangan gizi, dan cairan tubuh
cacing dapat menimbulkan reaksi sehingga terjadi gejala mirip demam tifoid disertai tanda
alergi misalnya urtikaria, oedema diwajah. Konjungtif dan iritasi pernafasan bagian atas.
Akibat mekanik misalnya obstruksi usus, intususepsi atau perforasi ulkus di usus.

Migrasi cacing ke organ-organ (Ascaris Ektopi) misalnya kelambung, esophagus


mulut, hidung, terjadi apendisitis, abses hati, obstruksi saluran empedu dan pankreatitis
akut (Soedarto, 1991).

d. Pengobatan dan Pencegahan Cacing Gelang (Ascaris lumbricoides)


- Pengobatan

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau secara massal pada


masyarakat. Untuk perorangan dapat dipergunakan bermacam-macam obat misalnya
piperazin, pirantel pamoat atau mebendazol (Gandahusada, dkk, 2000).
- P enyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna, higiene keluarga
dan higiene pribadi seperti :
1. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.
2. Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih
dahulu menggunakan sabun.
3. Bagi yang mengkonsumsi sayuran segar (mentah) sebagai lalapan, hendaklah dicuci
bersih dan disiram lagi dengan air hangat.

Karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun,
pencegahan dan pemberantasan di daerah endemic adalah sulit. Adapun upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah sebagai berikut :
1. Mengadakan kemoterapi misal setiap 6 bulan sekali di daerah endemic ataupun daerah
yang rawan terhadap penyakit ascariasis.
2. Memberi penyuluhan tentang sanitasi lingkungan.
3. Melakukan usaha aktif dan preventif untuk dapat mematahkan siklus hidup cacing
misalnya memakai jamban/WC.
4. Makan makanan yang dimasak saja.
5. Menghindari sayuran mentah (hijau) dan selada di daerah yang menggunakan tinja
sebagai pupuk.

2.4.2. Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Infeksi cacing ini (cacing cambuk) lebih sering terjadi di daerah panas, lembab dan
sering terlihat bersama-sama dengan infeksi Ascaris. Jumlah cacing dapat bervariasi,
apabila jumlah-jumlahnya sedikit, pasien biasanya tidak terpengaruh dengan adanya
cacaing ini (Garcia, 1996). Nama penyakit yang disebabkan oleh cacing cambuk
(Trichuris trichiura) adalah Trichuriasis.
a. Morfologi Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Cacing dewasa bentuknya silindris seperti cambuk dimana bagian yang tipis/halus
seperti benang adalah bagian interior/kepala dan bagian yang tebal adalah posterior/ekor.
Cacing jantan panjangnya 5 cm, ekornya melengkung. Telur berukuran 50 -54 µ x 32 µ,
berbentuk tempayan dengan semacam penonjolan yang jernih pada kedua kutub. Kulit telur
luar berwarna kekuning-kuningan dan bagian dalamnya jernih (Gandahusada, 2000).

b. Siklus Hidup Cacing Cambuk (Trichuris trichiura)

Cacing betina setiap harinya menghasilkan telur 3.000 – 10.000 butir telur yang
dibuahi dikeluarkan dari hospes bersama tinja. Telur menjadi matang dalam waktu 3-6
minggu dalam lingkungan yang sesuai. Telur matang adalah telur yang berisi larva yang
merupakan infektif. Cara infeksi langsung yaitu bisa secara kebetulan hospes menelan telur
matang. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus. Sesudah
menjadi dewasa, cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke dalam colon, terutama
sekum, jadi tidak ada siklus paru. Cacing ini dapat hidup beberapa tahun di usus bessar
hospes (Gandahusada, 2000).
Masa pertumbuhan, mulai dari telur yang tertelan sampai menjadi cacing dewasa
yang meletakkan telur ialah kira-kira 30 sampai 90 hari. Hidupnya mungkin selama
beberapa tahun (Brown, 1983).

c. Patologi dan Gejala Klinis

Pada umunya Trichuris trichiura dapat menimbulkan efek traumatic dan efek
toksik pada penderita. Kerusakan terjadi pada tempat melekat cacing pada mukosa usus
daerah coecum, sedangkan pada infeksi yang berat akan terjadi penyumbatan apendiks dan
proses peradangan pada coecum calon dan apendiks tersebut. Pada infeksi berat juga dapat
terjadi intoksikasi dan anemia tetapi mekanismenya belum jelas. Cacing yang
menghasilkan lytic substance ini juga menghisap darah penderita. Ultikari dan gejala-
gejala alergi lain dapat pula dijumpai pada penderita Trichuris trichiura.
Infeksi Trichuris trichiura tanpa komplikasi umumnya menunjukkan gejala-gejala
dan keluhan nyeri epigastrum, nyeri perut dan punggung, muntah, konstipasi dan vertigo.
Pada infeksi berat sering dijumpai prolapsus rekcti. Beberapa menunjukkan gambaran
mirip infeksi cacing tambang yang berat dengan oedema pada muka dan tangan, dispnea,
dilatasi jantung, insomnia, sakit kepala dan demam ringan.
Pada anak-anak, cacing ini tersebar di seluruh colon dan rectum. Kadang-kadang
terlihat mukosa rectum yang mengalami prolapsus akibat mengejannya penderita pada
waktu defakasi. Cacing inki memasukkan kepalanya ke dalam mukosa usus, hingga terjadi
trauma yang menimbulkan iritasi dan peradangan

mukosa usus. Pada tempat perlekatnya dapat terjadi pendarahan. Disamping itu cacing ini
menghisap darah hospesnya, sehingga menyebabkan anemia.
Bila infeksi yang berat dan menahun, menunjukkan gejala-gejala nyata seperti diare
yang sering diselingi dengan sindrom disentri, anemia, berat badan turun dan kadang-
kadang disertai prolapsus rectum pada anak (Gandahusada, dkk, 2000).

Bila infeksi ringan, biasanya asymptomatis (tanpa gejala). Bila jumlah cacingnya
banyak, biasanya timbul diare dengan faeces yang berlendir, nyeri perut, dehidrasi,
anemia, lemah dan berat badan menurun (Entjang, 2001).

d. Pengobatan dan Pencegahan

Dahulu infeksi Trichuris trichiura sulit sekali diobati. Obat seperti tiabendazol dan
ditiazinin tidak memberikan hasil yang memuaskan. Sekarang dengan adanya mebendazol
dengan dosis 2 x 100 mg selama 3 hari atau dosis tunggal 500 mg, albendazol dosis
tunggal 400 mg dan oksantel pirantel pamoat dosis tunggal 10-15 mg/kgBB, infeksi cacing
trichuris trichiura dapat diobati dengan hasil yang cukup baik (Gandahusada, dkk, 2000).

Sedangkan pencegahannya dapat dilakukan dengan cara yaitu dalam hal


pembuangan tinja haruslah memenuhi syarat sehingga dapat mengurangi jumlah infeksi
dan jumlah cacing. Hal ini penting diperhatikan bila berhubungan dengan anak-anak yang
melakukan defekasi di tanah (Garcia, 1996).

2.4.3. Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale/ Necator americanus)

Infeksi cacing tambang ditemukan pada daerah hangat yang lembab dan
mengakibatkan berbagai penyakit pada manusia, meski morbiditasnya lebih banyak
disbanding mortalitasnya. Meskipun secara morfologik terdapat perbedaan yang nyata
antara dua cacing tambang yang umum terdapat pada manusia (cacing dewasanya),
stadium diagnostiknya (telur) ternyata identik (Garcia, 1996). Nama penyakit yang
disebabkan oleh cacing tambang (Ancylostoma duodenale/ Necator americanus) adalah
ancylostomiasis.

a. Morfologi Cacing Tambang (Ancylostoma duodenale/Necator americanus)

Cacing tambang dewasa adalah nematode yang kecil seperti silindris, dan berwarna putih-
putih keabu-abuan. Panjang cacing betina adalah 9-13 x 0,35-0,66 mm dan panjang cacing
jantan 5-11 x 0,45 mm. Ancylostoma duodenale lebih besar daripada Necator americanus.
Cacing ini mempunyai kutikulum yang relatif tebal. Alat kelamin pada jantan adalah
tunggal dan pada yang betina berpasangan. Pada ujung posterior cacing jantan terdapat
busa caudal yang merupakan membrane yang lebar dan jernih dengan garis-garis seperti
tulang iga, bursa ini dipakai untuk memegang cacing betina selama kopulasi.
Cacing Necator americanus setelah mati biasanya menyerupai huruf S, sedangkan
Ancylostoma duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar,
necator americanus mempunyai gigi berbentuk lempeng dari titin, sedangkan Ancylostoma
duodenale ada dua pasang gigi berbentuk kerucut (Brown, 1983).

b. Siklus Hidup Cacing Tambang

Hospes definitif parasit ini adalah manusia. Cacing tambang mengkaitkan diri pada
mukosa usus halus dengan gigi di dalam rongga mulutnya. Cacing betina Necator
americanus mengeluarkan telur kurang lebih 9.000 butir perhari, sedangkan Ancylostoma
duodenale kurang lebih 10.000 butir perhari.

Telur yang dikeluarkan bersama dengan tinja pada lingkungan yang sesuai, akan
menetas menjadi larva rhabditiform stadium pertama dalam waktu 24-48 jam. Kondisi
optimum untuk perkembangan larva antara lain terlindung dari cahaya matahari yang kuat,
terletak pada tanah dengan ukuran partikel dan struktur yang sesuai dan temperature antara
28-320 C untuk Necator americanus, dan antara 20-270C untuk Ancylostoma duodenale.

Pada kondisi yang menguntungkan larva Necator americanus akan mengalami


moulting sebanyak dua kali di luar tubuh manusia dan akan berubah menjadi larva
filariform yang merupakan larva stadium tiga yang infektif pada manusia. Larva ini secara
normal akan bertahan hidup selama 3-6 minggu dan mempunyai life span maksimal 15
minggu.
Infeksi pada manusia terjadi ketika larva filariform menembus kulit kaki. Kadang-
kadang Ancylostoma duodenale dapat menginfeksi manusia melalui mulut. Setelah
menembus kulit, larva akan mengikuti aliran limfe atau pembuluh darah kapiler dan
menuju ke paru-paru. Larva kemudian naik ke bronkus dan trachea, dan pada akhirnya
masuk ke usus menjadi cacing dewasa. Migrasi melalui darah dan paru-paru ini
berlangsung kira-kira 1 minggu, sedangkan siklus dari larva menjadi cacing dewasa
berlangsung 7-8 minggu, setelah periode ini larva mengalami perubahan lagi menjadi
cacing dewasa muda dan mempunyai rongga mulut sementara untuk mengalami makanan.
Kemudian menjadi cacing dewasa yang matang yang bertelur 5-6 minggu setelah infeksi
(Brown, 1983).

c. Patologi dan Gejala Klinis

Bila larva menembus kulit terbentuk maculopapula dan eritem yang terbatas,
sehingga dapat menimbulkan penyakit “ground itch” dengan gejala gatal, erythem, papula,
erupsi dan vesicular pada kulit. Setelah larva sampai ke paru-paru maka akan
menimbulkan batuk dan pnomonitis. Bila larva dalam jumlah besar sekaligus bermigrasi
melalui paru-paru atau pada orang-orang yang telah peka, mungkin timbul bronchitis atau
pneumonitis.
Pada infeksi akut dengan banyak cacing, dapat disertai kelemahan, nausea, muntah,
sakit perut, diare dengan tinja hitam atau merah (tergantung jumlah darah yang keluar),
lesu, dan pucat. Seperti pada infeksi parasit lainnya, jumlah cacing yang banyak pada anak-
anak dapat menimbulkan gejala sisa yang serius dan kematian. Selama fase usus akut dapat
dijumpai peningkatan eosinofilia perifer. Pada infeksi kronik, lesu dan kadar hemoglobin
sampai 5 g/dl atau kurang (Brown, 1983).
d. Pengobatan dan Pencegahan

Pirantel pamoat (Combantrin, Pyrantin, Pirantel, dll) dan mebendazol (Vermox,


Vermona, Vercid, dll) memberikan hasil cukup baik, bilaman digunakan beberapa hari
berturut-turut (Gandahusada, dkk, 2000).

Sedangkan pencegahannya didalam masyarakat, infeksi cacing tambang dapat


dikurangi atau dihindarkan dengan :
- Sanitasi pembuangan tinja

- Melindungi orang-orang yang mungkin mendapat infeksi (susceptible).

- Mengobati orang-orang yang mengandung parasit (Brown, 1983).


2.5. Upaya Pencegahan Penyakit Cacing

Hal-hal yang perlu dibiasakan agar tercegahnya dari penyakit cacingan sebagai

berikut :

1. Biasakan mencuci tangan sebelum makan atau memegang makanan. Gunakan sabun
dan bersihkan bagian kuku jemari yang kotor.
2. Biasakan menggunting kuku secara teratur seminggu sekali.

3. Tidak membiasakan diri menggigiti kuku jemari tangan atau menghisap jempol.

4. Tidak membiasakan bayi dan anak bermain-main di tanah.

5. Tidak membuang hajat di kebun, parit, sungai, atau danau. Biasakan buang hajat di
jamban.
6. Biasakan membasuh tangan dengan sabun sehabis dari jamban.

7. Biasakan tidak jajan penganan yang tidak tertutup saji atau yang terpegang-pegang
tangan.
8. Di wilayah yang banyak terjangkit penyakit cacing, periksakan diri ke Puskesmas
secara teratur. Lebih-lebih kalau ada tanda atau gejala cacingan.

9. Segera mengobati penyakit cacing sampai tuntas.

10. Penyakit cacing berasal dari telur cacing yang tertelan, bukan karena makan ikan. Telur
cacing tertelan akibat kebersihan diri dan lingkungan yang kurang baik.
11. Biasakan makan daging yang sudah benar-benar matang dan bukan yang mentah atau
setengan matang.
12. Biasakan berjalan kaki ke mana-mana beralas kaki.

13. Biasakan makan lalap mentah yang sudah dicuci bersih dengan air yang mengalir.

14. Obat cacing hanya diberikan kepada orang yang benar-benar mengidap penyakit cacing
(Nadesul, 1997).
2.6. Dampak Infeksi Cacingan

2.6.1. Dampak Terhadap Status Kesehatan

Manusia merupakan hospes beberapa nematode usus. Sebagian besar daripada


nematode ini menyebabkan dampak kesehatan masyarakat di Indonesia. Adapun dampak
dari masing-masing cacing antara lain sebagai berikut :

a. Dampak cacing gelang (Ascaris lumbricoides)

Bila cacing gelang tidak atau hanya sedikit akan menyebabkan kerusakan, zat-zat
yang dibentuk oleh cacing yang hidup atau mati dapat menimbulkan manifestasi keracunan
pada orang yang rentan, seperti wajah kelihatan oedema, insomnia, perut buncit, muntah-
muntah, tidak nafsu makan dan penurunan berat badan.

b. Dampak cacing cambuk (Trichuris trichiura)

Bila infeksi ringan, biasanya asymptomatis (tanpa gejala). Penderita dengan infeksi
cacing cambuk menahun yang sangat berat menunjukkan suatu gambaran klinis yang khas
yang terdiri dari atas anemia berat, diare bercampur darah, sakit perut, mual dan muntah,
dehidrasi, dan berat badan turun (Brown, 1983).
c. Dampak cacing tambang (Ancylostoma duodenale/ Necator americanus)

Pada tempat masuknya larva menembus kulit akan menimbulkan rasa gatal.
Migrasi larva yang menembus alveolus akan menyebabkan perdarahan-perdarahan kecil,
namun sering sekali tidak menunjukkan gejala-gejala pneumonia. Gejala klinik yang
ditimbulkan adalah lemah, lesu, pucat, sesak nafas bila bekerja berat, tidak enak perut,
perut buncit, anemia, dan malnutrisi. Anemia karena cacing tambang biasanya berat.

Hemoglobin biasanya 10 gr% cc darah dan jumlah eritrosit dibawah 1.000.000 mm3 . Jenis
anemia adalah anemia hypocromic microcytic (Entjang, 2003).

2.6.2. Dampak Terhadap Sumber Daya Manusia

Infeksi kecacingan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap


penurunan sumber daya manusia, mengingat kecacingan akan menghambat pertumbuhan
fisik dan produktifitas kerja. Dampak dari anak yang terinfeksi kecacingan akan kelihatan
letih, lesu, malas makan, kurus. Hal tersebut dapat mengakibatkan IQ anak menurun atau
anak menjadi kurang cerdas.
Kecacingan mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif, = penyerapan
(absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara kumulatif, infeksi kecacingan dapat
menimbulkan kerugian zat gizi berupa kalori dan protein serta kehilangan darah. Selain
dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan dan produktifitas kerja, dapat
menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya (KepMenKes
No.424/MENKES/SK/VI/2006).

2.7 Kerangka Teori

- Perilaku Infeksi Kecacingan


- Higiene
-
- Sanitasi
lingkungan - Jenis-jenis
cacing
- Morfologi
- Siklus Hidup
- Patofisiologi
dan gejala
Klinis

Pencegahan dan Dampak


Pengobatan
-
-

Status Sumber Daya


Kesehatan Manusia
2.8 Kerangka Konsep

Perilaku Siswa SDN 09


Desa Karang Suci

- Infeksi Kecacingan

Higiene Perorangan Siswa SD


09 Desa Karang Suci

2.9. Hipotesis :

1. Ada hubungan antara perilaku (pengetahuan, sikap dan tindakan) siswa SD Negeri
09Desa Karang Suci dengan infeksi kecacingan di Desa Juma Teguh Kecamatan
Siempat Nempu Kabupaten Dairi
2. Ada hubungan antara higiene perorangan (kebersihan kuku, kebersihan diri dan
frekuensi mandi) siswa SD Negeri 030375 dengan infeksi kecacingan di Desa Juma
Teguh Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan rancangan cross sectional study
yaitu melihat hubungan perilaku dan higiene siswa SD Negeri 030375 dengan infeksi
kecacingan di Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi tahun 2008.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1. Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 030375 Desa Juma Teguh
Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi, hal ini berdasarkan survey prevalensi
kecacingan yang dilaksanakan oleh BTKL Medan pada anak sekolah dasar dan belum
pernah dilakukan penelitian mengenai hubungan perilaku dan higiene dengan infeksi
kecacingan.

3.2.2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan April - Mei 2008.

3.3. Populasi dan


Sampel
3.3.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III, IV dan V SD Negeri
030375 Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten Dairi yaitu sebanyak 74
orang.
3.3.2. Sampel

Sampel adalah seluruh populasi (total sampling) yaitu 74 orang.

3.4. Metode Pengumpulan Data

3.4.1. Data Primer

Data yang diperoleh dengan cara melakukan pengamatan langsung pada anak
sekolah dasar untuk mengetahui perilaku dan higiene serta hasil infeksi kecacingan
diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium di UPT Puskesmas Buntu Raja Kabupaten
Dairi.

3.4.2. Data Sekunder

Data yang diperoleh dari UPT Puskesmas Buntu Raja yaitu data 10 penyakit
terbesar, SD Negeri 0340375, dan studi kepustakaan yang mendukung untuk penelitian ini.
3.4.3. Metode Pemeriksaan Faeces

Sebelum pemeriksaan faeces dilakukan terlebih dahulu pot faeces dibagikan kepada
responden sehari sebelum dilakukan pemeriksaan kemudian pagi harinya dikumpulkan
kembali lalu faeces tersebut dibawa ke Laboratorium ke Puskesmas Buntu Raja Kecamatan
Siempat Nempu Kabupaten Dairi. Metode yang di gunakan memeriksa faeces untuk
menentukan seseorang terinfeksi kecacingan atau tidak digunakan dengan metode Kato
Katz. Prosedur metode kato katz adalah sebagai berikut, (Prasetyo,1995) :

4. Bahan-bahan yang diperlukan :

a. Larutan gliserin hijau malikat

b. 100 bagian aquadest

c. 100 bagian gliserin

d. Larutan fenol 66 %

e. Larutan hijau malkis 3 %

5. Alat-alat :

a. Kaca benda

Lembar selopan 2-5 x 3 cm

Kertas saring

Batang aplikator lidi

2. Cara Kerja :

Rendam lembar selofon dalam larutan gliserin hijau malikat selama lebih 24 jam

Ambil faeces dengan aplikator dalam larutan 50-60 mg (sebesar kacang)


Letakkan diatas kaca benda benda kemudian tutup dengan selofan yang sudah direndam
dan tekan selopan dengan kaca benda.

Keringkan larutan yang berlebihan dengan kertas saring

Diamkan sediaan selama 1 jam pada suhu kamar

Periksa di atas mikroskop

3. Interprestasi :

Positif infeksi kecacingan : Bila didapatkan dari hasil pemeriksaan laboratorium ada
telur cacing di dalam faeces.
Negatif infeksi kecacingan : Bila tidak didapatkan dari hasil pemeriksaan laboratorium
ada telur cacing di dalam faeces.
3.5. Defenisi Operasional

1. Higiene adalah kebersihan pada siswa sekolah dasar yang teridiri dari

1. Kebersihan kuku (tidak panjang,bersih dan tidak dalam keadaan kotor).

2. Kebersihan diri (menjaga kebersihan pakaian, mencuci tangan sebelum


makan,mencuci tangan dengan sabun setelah BAB, frekuensi mandi.
3. Frekuensi mandi (minimal 2 kali sehari)

4. Infeksi kecacingan adalah berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan


menggunakan metode Kato Katz untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing dalam
faeces yaitu :
- Positif infeksi kecacingan : Bila didapatkan dari hasil pemeriksaan laboratorium
ada telur cacing di dalam faeces.
- Negatif infeksi kecacingan : Bila tidak didapatkan dari hasil pemeriksaan
laboratorium ada telur cacing di dalam faeces.
6. Perilaku adalah aktifitas siswa yang erat kaitannya dengan infeksi kecacingan yang
meliputi :
Pengetahuan adalah kemampuan siswa tentang infeksi kecacingan.
Sikap adalah tanggapan atau persepsi siswa terhadap infeksi kecacingan.

Tindakan adalah bentuk perbuatan atau aktifitas nyata dari siswa terhadap infeksi
kecacingan
3.6. Aspek Pengukuran

1. Aspek pengukuran adalah mengukur pengetahuan, sikap dan tindakan siswa berupa
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan infeksi kecacingan, higiene dengan
menggunakan skala Guttman, (Sugiyono, 2002).
a. Pengetahuan

Pengetahuan ini dapat diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah
diberi nilai (skor). Tiap pertanyaan mempunyai nilai 0 sampai nilai 1 dengan kriteria :
- Jawaban benar =1

- Jawaban salah =0

Berdasarkan jumlah nilai tersebut, pengetahuan diklasifikasikan dalam 2 kategori


a. Baik, jika jawaban benar responden ≥ 75% apabila responden menjawab
pertanyaan benar 13 - 17
b. Buruk, jika jawaban benar responden < 75% apabila responden apabila
responden menjawab pertanyaan 1 – 12.
6. Sikap

Sikap diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi nilai (skor).

Tiap pertanyaan mempunyai nilai 0 sampai nilai 1 dengan kriteria :

- Jawaban setuju =1

- Jawaban tidak setuju = 0

Berdasarkan jumlah nilai tersebut, sikap diklasifikasikan dalam 2 kategori :

a. Baik, jika jawaban benar responden ≥ 75% apabila responden menjawab


pertanyaan benar 4 - 5
Buruk, jika jawaban benar responden < 75% apabila responden menjawab
pertanyaan benar 1 - 3
c. Tindakan

Tindakan diukur dengan memberikan jawaban dari kuesioner yang telah diberi nilai

(skor). Tiap pertanyaan mempunyai nilai 0 sampai nilai 1 dengan kriteria :

1. Jawaban ya =1

2. Jawaban tidak =0

Berdasarkan jumlah nilai tersebut, tindakan diklasifikasikan dalam 2 kategori:

a. Baik, jika jawaban benar responden ≥ 75% apabila responden menjawab pertanyaan
benar 4 - 5
b. Buruk, jika jawaban benar responden < 75% apabila responden menjawab

pertanyaan benar 1 - 3
4. Higiene

Observasi higiene diukur berdasarkan nilai (skor) yang dijumlahkan pada 5 pertanyaan.

Tiap pertanyaan mempunyai nilai 0 sampai nilai 1 dengan kriteria :

1. Jawaban setuju =1

2. Jawaban tidak setuju =0

Berdasarkan jumlah nilai tersebut, Higiene diklasifikasikan dalam 2 kategori:

a. Baik, jika jawaban ya ≥ 75% apabila responden menjawab pertanyaan benar - 2

- 3 baik

b. Buruk, jika jawaban tidak < 75% apabila responden menjawab pertanyaan benar -

1 buruk

3.7. Analisa Data

Analisa data dilakukan dengan menyajikan data dalam bentuk tabel kemudian
dilanjutkan dengan analisa statistik untuk mengetahui ada tidaknya hubungan variabel-
variabel dalam penelitian yaitu hubungan perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan) dan
higiene (kebersihan kuku, kebersihan diri, frekuensi mandi) siswa SD Negeri 030375
dengan infeksi kecacingan di desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu Kabupaten
Dairi Tahun 2008 . Karena data yang digunakan adalah data yang diklasifikasikan atas
kategori (dikelompokkan) maka uji statistik dilakukan dengan menggunakan uji Chi
Square dengan α = 0,05.
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, 1996. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Mutiara Sumber Widia, Jakarta.

Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Medan, 2007. Hasil Survei Prevalensi


Fasciolopsiasis dan Kecacingan Lainnya Tahun 2007. Medan

Brown, Harold W, 1983. Dasar Parasitologi Klinis, Edisi ke-V, PT. Gramedia, Jakarta.

Depkes RI, 1990. Peraturan Menteri Kesehatan RI, No.416/Menkes/Per/IX/1990, Tentang


Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air, Jakarta.

…………., 2002. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010.

Jakarta.

…………, 2004. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan di Era


Desentralisasi. Depkes RI, Jakarta.

Depkes RI, 2004. Profil PPM-PL Tahun 2004. Ditjend PPM-PL, Jakarta.

Entjang, Indan, 2001. Mikrobiologi dan Parasitologi Untuk Akademi Keperawatan,

Citra Aditya Bakti, Bandung.

Gandahusada, Srisasi, Ilahude, 2000. Parasitologi Kedokteran. Edisi III, Fakultas


Kedokteran UI, Jakarta

Garcia, Lynne S, 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Alih Bahasa : Makimian,


Cetakan I, EGC, Jakarta.

Hadiwartomo, 1994. Masalah Penyakit Cacing di Indonesia. Universitas Gajah Mada,


Yogyakarta.
Kusnoputranto, H, 1989. Kesehatan Lingkungan, FKM UI, Jakarta.

Mahzumi W, 2000. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Angka Kecacingan


Dalam Program Pemberian Obat Cacing Anak Usia Sekolah, Thesis, Program
Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.

Notoatmodjo, S, 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta, Jakarta.

........................., 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.

------------------, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Rineka Cipta, Jakarta.

………………, 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta,


Jakarta. Nadesul, Handrawan, 1997. Bagaimana Kalau Kecacingan. Cetakan II,
Puspa Swara, Jakarta.

Onggowaluyo, J.S, 2002. Parasitologi Medik I, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Poespoprodjo JR, Sadjimin, 2000. Hubungan Antara Tanda dan Gejala Penyakit

Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Usia Sekolah Dasar di


Kecamatan Ampama Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Jurnal

Epidemiologi Indonesia, Jakarta.

Prasetya,L, 1993. Pengaruh Program Pemberantasan Kecacingan Terhadap Perilaku


Orangtua SD di Kelurahan Pisangan Baru Jakarta Timur Tahun 1993,
Jakarta.

Sadjimin, 2000. Gambaran Epidemiologi Kejadian Kecacingan pada Siswa SD di


Kecamatan Ampana Kota Poso Sulawesi Tengah, Jurnal Epidemiologi
Indonesia, Volume 4, Halaman : 1-2, Jakarta.

Siregar,M.A, Analisa Perilaku Pemulung Anak Terhadap Infeksi Cacing dan Peran

Instansi Lintas sektoral Dalam Upaya Pencegahan Penyakit akibat Kerja


Ditempat Pembuangan Sampah Akhir Namo Bintang Kabupaten Deli Serdang,

Tesis, 2002.

Slamet, JS, 1996. Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Soedarto, 1991. Helmintologi Kedokteran. EGC, Jakarta.

Sugiyono, 2002. Metode Penelitian Administratif, Penerbit Alfabetha, Bandung.