You are on page 1of 1

Menurut Kovack (1992) dalam Karliansyah (1999), salah satu cara pemantauan pencemaran udara

adalah dengan menggunakan tumbuhan sebagai bioindikator. Kemampuan masing-masing tumbuhan


untuk menyesuaikan diri berbeda-beda sehingga menyebabkan adanya tingkat kepekaan, yaitu sangat
peka, peka dan kurang peka. Tingkat kepekaan tumbuhan ini berhubungan dengan kemampuannya
untuk menyerap dan mengakumulasikan logam berat. Sehingga tumbuhan adalah bioindikator
pencemaran yang baik. Dengan demikian daun merupakan organ tumbuhan sebagai bioindikator yang
paling peka terhadap pencemaran.

Menurut Karliansyah (1999), tumbuhan sangat efektif sebagai akumulator pencemaran udara, oleh
karenanya tumbuhan terutama bagian daun adalah bagian yang paling peka terhadap pencemaran
udara, namun hal ini seringkali tidak tampak secara morfologis. Deteksi dapat dilakukan melalui
pengamatan reaksi fisiologis biokimia, ekologi dan analisis di udara. Analisis di udara secara langsung
sangat sulit dilakukan, tetapi untuk mengetahui adanya pencemaran melalui analisis pada daun
tumbuhan dapat dilakukan, pengaruh pencemaran udara pada daun dapat dilihat dari kerusakan secara
makroskopis seperti klorosis, nekosis atau secara mikroskopis (anatomi) seperti struktur sel atau dari
perubahan secara fisiologis dan kimia seperti perubahan klorofil dan metabolisme.

Tanaman peneduh merupakan tanaman yang ditanam sebagai tanaman penghijauan. Adapun tanaman
peneduh yang ditaman di pinggir jalan raya selain berfungsi sebagai penyerap unsur pencemar secara
kimiawi, juga secara fisik dapat berfungsi sebagai peredam suara baik secara kualitatif maupun
kuantitatif (Anonim, 1989). Pohon Angsana (Pterocarpus indicus Willd) dan pohon Glodogan (Polyalthia
longifolia Bent & Hook. F) merupakan jenis tanaman yang banyak digunakan sebagai tanaman peneduh
jalan. Hal ini karena kedua jenis tanaman tersebut memiliki akar yang dapat bertahan terhadap
kerusakan yang disebabkan oleh getaran kendaraan, mudah tumbuh di daerah panas dan tahan
terhadap angin sehingga cocok digunakan sebagai tanaman peneduh jalan yang akan dapat menyerap
unsur pencemaran yang berasal dari asap kendaraan bermotor khususnya timah hitam (Pb).

Stomata dalam bahasa Yunani berarti mulut (Prawiranata et al., 1995). Stomata merupakan celah dalam
epidermis yang dibatasi oleh dua sel epidermis khusus yaitu sel penutup. Dengan mengubah bentuknya,
sel penutup mengatur pelebaran dan penyempitan celah. Sel yang mengelilingi stomata dapat bebentuk
sama atau berbeda dengan sel epidermis lainnya. Sel ini dinamakan sel tetangga yang berperan dalam
perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup dalam mengatur lebar celah ( Estiti, 1995).
Stomata bersama-sama sel tetangga disebut perlengkapan stomata atau kompleks stomata ( Fahn,
1991).