You are on page 1of 34

POTENSI PELEPASAN N-NH4+ DAN N-NO3- TANAH

ANDISOL YANG DITANAMI SAYURAN DI DAERAH


DATARAN TINGGI

ANGGI TRESNAWATI HIDAYAT

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
ABSTRAK
ANGGI TRESNAWATI HIDAYAT. Potensi Pelepasan N-NH4+ dan N-NO3- Tanah
Andisol yang Ditanami Sayuran di Daerah Dataran Tinggi. Dibimbing oleh BETTY
MARITA SOEBRATA dan LADIYANI RETNO W.
Nitrogen merupakan salah satu unsur hara esensial bagi tanaman namun
ketersediaannya rendah di dalam tanah. Nitrogen diserap oleh tanaman dalam bentuk
NH4+ (amonium) dan NO3- (nitrat). Nitrogen organik dalam tanah mudah berubah
sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi pelepasan N-NH4+ dan N-NO3-
pada tanah Andisol yang ditanami sayuran di daerah dataran tinggi. Contoh tanah andisol
yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari tanah yang dikelola petani 1 dan 2 di
daerah Kejajar Wonosobo dan Sumowono Semarang. Tahap analisis dimulai dengan
persiapan contoh lalu dimasukkan ke dalam pipa paralon (diameter 5,4 cm dan tinggi 10
cm) untuk diinkubasi. Inkubasi dilakukan selama 102 hari dengan sampling sebanyak 9
kali dengan waktu sampling 0, 7, 18, 31, 46, 60, 74, 88, dan 102 hari. Tahap berikutnya
kadar NH4+ dan NO3- pada tanah tersebut dianalisis dengan metode KCl dan CaCl2 secara
spektrofotometri.
Berdasarkan hasil penelitian, potensi pelepasan kadar N-NH4+ tanah Kejajar
Wonosobo pada petani 1 dan 2 berturut-turut sebesar 7,45 dan 7,15 mg/kg, sedangkan
kadar N-NO3- petani 1 dan 2 berturut-turut sebesar 111,20 dan 123,41 mg/kg. Potensi
pelepasan kadar N-NH4+ tanah Sumowono Semarang petani 1 dan 2 berturut-turut
sebesar 7,23 dan 7,17 mg/kg, sedangkan kadar N-NO3- petani 1 dan 2 berturut-turut
sebesar 94,95 dan 103,55 mg/kg. Laju mineralisasi amonium atau nitrat mempunyai pola
yang hampir sama pada tanah Andisol Kejajar Wonosobo dan Sumowono Semarang.

ABSTRACT

ANGGI TRESNAWATI HIDAYAT. Mineralization potency of N-NH4+ and N-NO3- at


Andisol Soil planted vegetables on highly upland. Supervised by BETTY MARITA
SOEBRATA and LADIYANI RETNO W.
Nitrogen is one of essential minerals for plant but it has less availability in the
soil. Nitrogen is absorbed by plant as NH4+ (ammonium) and NO3- (nitrate). Nitrogen
organic in the soil is easy to change so this experiment was carried out to measure
mineralization potency of N-NH4+ and N-NO3- at Andisol Soil planted vegetables on
highly upland. Andisol soils sample used came from Kejajar Wonosobo and Sumowono
Semarang represent farmer 1 and 2. The first step of analysis was preparation of soil
sample, and put it into PVC (diameter 5,4 cm and high 10 cm) for incubation. Experiment
needed 102 days incubation with 9 times sampling with time duration of each sampling is
0, 7, 18, 31, 46, 60, 74, 88, and 102 days. Then, NH4+ and NO3- contents of the soil were
analyzed using KCl and CaCl2 spectrofotometri method.
Based on the experiment, mineralization potency of released N-NH4+ at Kejajar
Wonosobo from soil farmer 1 and 2 were 7,45 and 7,15 mg kg-1, whereas N-NO3- of
farmer 1 and 2 were 111,20 and 123,41 mg kg-1, respectively. Mineralization potency of
released N-NH4+ at Sumowono Semarang from soil farmer 1 and 2 were 7,23 and 7,17
mg kg-1, whereas N-NO3- of farmer 1 and 2 were 94,95 and 103, 55 mg kg-1, respectively.
Ammonium or Nitrate mineralization processes almost has same pattern in andisol soils
at Kejajar Wonosobo and Sumowono Semarang.
POTENSI PELEPASAN N-NH4+ DAN N-NO3- TANAH
ANDISOL YANG DITANAMI SAYURAN DI DAERAH
DATARAN TINGGI

ANGGI TRESNAWATI HIDAYAT

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
+ -
Judul : Potensi Pelepasan N-NH4 dan N-NO3 Tanah Andisol yang Ditanami
Sayuran di Daerah Dataran Tinggi
Nama : Anggi Tresnawati Hidayat
NIM : G44204032

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Betty Marita Soebrata, S.Si., M.Si. Ir. Ladiyani Retno W., M.Sc.
NIP 131 694 523 NIP 080 118 973

Mengetahui

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Institut Pertanian Bogor

Dr. drh. Hasim, DEA


NIP 131 578 806

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Segala puji dan syukur atas segala rahmat dan karunia Allah SWT
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berdasarkan hasil penelitian dengan
+ -
judul Potensi Pelepasan N-NH4 dan N-NO3 Tanah Andisol yang Ditanami
Sayuran di Daerah Dataran Tinggi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2008
sampai Juli 2008 di Laboratorium Uji Tanah Balai Penelitian Tanah, Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Betty Marita
Soebrata, S.Si. M.Si. selaku pembimbing I dan Ibu Ir. Ladiyani Retno W, MSc.
selaku pembimbing II yang memberikan masukan dan nasihatnya. Selain itu,
kepada Prof. Dr. Ir. M. Sri Saeni, MS. (Alm), kedua orang tua, Mas Agung, Bu
Diah, Pak Dedi, Pak Iwan, Teh Iin, Teh Puji, dan Hardiriyanto atas masukan
ilmunya, beserta teman-teman kimia angkatan 41 yang telah memberikan
dukungan dan doanya. Sebagai penutup, penulis berharap penelitian ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Januari 2009

Anggi Tresnawati Hidayat


RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sumedang pada tanggal 17 Januari 1986 dari ayah


bernama Lukman Hidayat dan ibu bernama Ade Kurniawati. Penulis adalah anak
ke-1 dari 2 bersaudara.
Tahun 2004 penulis lulus dari SMU Negeri 1 Situraja dan pada tahun yang
sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB pada
Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Penulis melakukan praktik lapangan pada tahun 2007 di SEAMEO
BIOTROP. Judul yang dipilih adalah Pengaruh Penambahan Pupuk dan
Perbedaan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman Jarak Pagar. Selama
mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten Kimia Fisik pada tahun ajaran
2007/2008.
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... vii

PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA
Tanah Andisol .. ...................................................................................... 1
Sayuran di Dataran Tinggi ..................................................................... 1
Nitrogen dalam Tanah............................................................................. 2
Metode Penetapan Senyawa Nitrogen .................................................... 3
Kadar Air................................................................................................. 3
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan ....................................................................................... 3
Metode Analisis ...................................................................................... 3
Persiapan Contoh ................................................................................... 3
Inkubasi Tanah ....................................................................................... 3
Penentuan Kadar Air .............................................................................. 4
Penentuan Kadar Amonium Tanah ........................................................ 4
Penentuan Kadar NitratTanah ................................................................ 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Tanah Awal ................................................................................... 4
Kadar Air ............................................................................................... 5
Mineralisasi Nitrogen Tanah Andisol Kejajar Wonosobo ...................... 5
Mineralisasi Nitrogen Tanah Andisol Sumowono Semarang ................ 6
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan ................................................................................................ 7
Saran .................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 8
LAMPIRAN ………………………………………………………………… 10
DAFTAR GAMBAR

Halaman
1 Kadar air contoh tanah Andisol Kejajar Wonosobo pada perlakuan
inkubasi .................................................................................................. 5
2 Kadar air contoh tanah Andisol Sumowoo Semarang pada perlakuan
inkubasi ................................................................................................... 5
3 Hubungan konsentrasi N-NH4+ dan hari inkubasi pada tanah
Andisol Kejajar Wonosobo ................................................................... 6
4 Hubungan konsentrasi N-NO3- dan hari inkubasi pada tanah
Andisol Kejajar Wonosobo ................................................................... 6
5 Hubungan konsentrasi N-NH4+ dan hari inkubasi pada tanah
Andisol Sumowono Semarang .............................................................. 7
6 Hubungan konsentrasi N-NO3- dan hari inkubasi pada tanah
Andisol Sumowono Semarang .............................................................. 7

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1 Pembuatan pereaksi dan larutan.............................................................. 11
2 Data analisis sifat tanah awal ................................................................. 12
3 Kriteria penilaian sifat-sifat tanah .......................................................... 13
4 Bagan alir kerja ...................................................................................... 14
5 Perhitungan analisis tanah ...................................................................... 15
6 Kurva standar amonium ......................................................................... 16
7 Kurva standar nitrat ................................................................................ 17
8 Data analisis penghitungan kadar amonium daerah Kejajar
Wonosobo ............................................................................................... 18
9 Data analisis penghitungan kadar nitrat daerah Kejajar Wonosobo ....... 20
10 Data analisis penghitungan kadar amonium daerah Sumowono
Semarang ................................................................................................. 22
11 Data analisis penghitungan kadar nitrat daerah Sumowono
Semarang ................................................................................................ 24
PENDAHULUAN akan menyebabkan masalah lingkungan yang
disebabkan oleh pencucian nitrat setelah masa
Pertanian sayuran menduduki tempat panen tanaman.
khusus dalam sistem pertanian di Indonesia Penelitian ini bertujuan mengukur
karena pengusahaannya yang sangat intensif. potensi pelepasan N-NH4+ dan N-NO3- pada
Sayuran biasanya diusahakan di daerah tanah Andisol yang ditanami sayuran di
dataran tinggi karena tanah yang subur dan daerah dataran tinggi.
suhu yang mendukung untuk pertumbuhan
tanaman tersebut. Salah satu jenis tanah yang
merupakan sentra produksi sayuran di
TINJAUAN PUSTAKA
Indonesia adalah tanah andisol dengan luas Tanah Andisol
sekitar 5,39 juta Ha (Puslitbangtanak 2006).
Tanah andisol merupakan tanah yang berasal Tanah adalah bahan mineral tidak padat
dari bahan vulkan dan kaya bahan organik. (unconsolidated) yang terletak di permukaan
bumi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor
Peningkatan produksi tanaman sangat
berkaitan dengan keadaan hara dalam tanah. genetik serta lingkungan yang meliputi bahan
Jenis dan jumlah unsur hara yang diberikan induk, iklim (termasuk kelembapan dan suhu),
organisme (makro dan mikro), dan topografi
harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman
untuk tingkat produksi tertentu. Pupuk pada suatu periode tertentu (Hanafiah 2005).
merupakan salah satu sumber unsur hara yang Tanah juga merupakan kumpulan dari benda
alam di permukaan bumi yang tersusun dalam
dibutuhkan oleh tanaman, sehingga berguna
untuk meningkatkan produksi pertanian. horison-horison, terdiri atas campuran bahan
Penggunaan pupuk yang berlebihan berbahaya mineral, bahan organik, air, dan udara, serta
bagi lingkungan dan kesehatan manusia merupakan media untuk tumbuhnya tanaman
sehingga penggunaannya harus diefisienkan. (Hardjowigeno 2003). Setiap jenis tanah
memiliki kandungan bahan organik yang
Nitrogen merupakan salah satu unsur
hara esensial bagi tanaman namun berbeda-beda, bergantung pada tingkat
ketersediaannya rendah di dalam tanah karena ketinggian dan horizon tanah (Darmawijaya
1990).
mudah mengalami pencucian dan penguapan.
Nitrogen dibutuhkan dalam jumlah besar Tanah andisol merupakan tanah yang
untuk mendukung pertumbuhan tanaman. berwarna gelap khususnya pada lapisan atas.
Tanah ini umumnya dibentuk oleh bahan
Sumber utama nitrogen di dalam tanah adalah
bahan organik, sehingga keberadaan bahan vulkanik dan banyak ditemukan di dataran
organik akan menentukan jumlah dan tinggi di sekitar gunung berapi (Hardjowigeno
2003). Tanah andisol memiliki porositas yang
ketersediaan N dalam tanah. Menurut
Soepardi (1996) nitrogen diserap oleh tinggi, memiliki kapasitas memegang air
tanaman dalam bentuk NH4+ (amonium) dan tinggi, tetapi ketahanan terhadap erosi rendah.
Tanah andisol memiliki potensi yang cukup
NO3- (nitrat) yang diperoleh dari perombakan
N organik menjadi N-mineral melalui proses besar untuk dimanfaatkan secara optimum.
biokimia kompleks dengan membebaskan gas Sifat kimia dari tanah andisol ditandai dengan
reaksi tanah agak masam sampai netral (pH
CO2.
Ion–ion nitrat, nitrit, dan amonium 5,0–6,5), kejenuhan basa sekitar 20-40%,
jumlahnya bergantung pada jumlah pupuk kapasitas tukar kation sekitar 20-30 me/100g
yang diberikan dan kecepatan dekomposisi kandungan C dan N tinggi tetapi rasio C/N
bahan tanah. Hasil penelitian Umariah (2007) rendah, kandungan kalium sedang, kandungan
fosfor rendah, berat jenis < 0.85% dan pada
menjelaskan bahwa metode analisis yang
baik untuk penetapan NH4+ dengan metode kapasitas lapang kelembaban tanah > 15% dan
ekstraksi KCl dan metode ekstraksi CaCl2 kandungan bahan organik pada lapisan atas 5-
20 % (Tan 1991).
digunakan untuk penetapan NO3-. Penelitian
Ushama (2006) menjelaskan potensi Sayuran di Dataran Tinggi
mineralisasi N-NH4+ dan N-NO3- tanah
Andisol Getasan Semarang memiliki pola Tanaman sayuran biasanya merujuk pada
kenaikan dan penurunan N-NH4+ yang hampir tunas, daun, buah, dan akar tanaman yang
sama akan tetapi tidak untuk ketersediaan N- lunak dan dapat dimakan secara utuh atau
NO3- . sebagian, segar/mentah atau dimasak, sebagai
Defisiensi nitrogen selama masa pelengkap pada makanan (Williams 1993).
pertumbuhan dapat menurunkan hasil Jenis sayuran yang diusahakan dan ditemukan
tanaman. Di lain pihak kelebihan nitrogen di pasar-pasar jauh lebih banyak di daerah
tropis daripada di negara-negara iklim sedang.
Lebih dari 100 jenis (spesies) tanaman senyawa serupa menjadi senyawa asam
dibudidayakan sebagai sayuran di berbagai amino. Reaksi yang terjadi sebagai berikut
bagian daerah tropis terutama di daerah (Soepardi 1983):
dataran tinggi.
protein R-NH2 + CO2 + energi
Usaha pertanian sayuran dipengaruhi oleh
ketinggian tempat. Tipe-tipe usaha pertanian Amonifikasi adalah proses enzimatik
sayuran yang berbeda dapat dijumpai di yang mengubah senyawa amino menjadi
dataran tinggi dan dataran rendah, dan secara amonium dengan bantuan bakteri heterotrof.
luas perbedaan ini dapat dinyatakan melalui Kecenderungan NH4+ terbentuk karena
jenis sayuran yang ditanam. Beberapa jenis kehadiran ion-ion hidrogen dalam tanah, dan
tertentu secara tradisional diusahakan di ikatan yang kuat terbentuk antara amonia dan
dataran tinggi seperti kubis krop, kubis bunga, hidrogen dari penyatuan elektron (Foth 1998).
wortel, brokoli, kucai, kentang, dan Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
sebagainya. Jenis lain seperti sayuran buah,
kacang panjang, dan terong secara tradisional R-NH2 + H2O R-OH + NH3 + energi
+
diusahakan di dataran rendah. Sayuran yang NH3 + H NH4+
ditanam di daerah dataran tinggi lebih
menghasilkan produksi yang tinggi karena Amonium yang terbentuk pada proses ini : (1)
dipengaruhi oleh suhu yang lebih rendah diubah menjadi N-NO3- melalui nitrifikasi; (2)
dibandingkan di dataran rendah. Suatu diserap oleh tanaman; (3) digunakan langsung
kenyataan fisiologi yang umum bahwa suhu oleh mikroorganisme heterotrof dalam
yang lebih rendah lebih memicu pertumbuhan dekomposisi C-organik untuk proses
akar, bunga, dan organ-organ penyimpanan selanjutnya; (4) fiksasi dalam kisi-kisi mineral
serta memicu perkembangan buah dan biji liat; dan (5) diubah menjadi N2 dan dilepaskan
(Williams 1993). perlahan kembali ke atmosfer (Havlin et al.
1999).
Nitrogen dalam Tanah Menurut Wiederholt dan Johnson (2005)
nitrifikasi merupakan konversi amonium
Nitrogen merupakan salah satu unsur hara
makro bagi pertumbuhan tanaman yang sangat melalui nitrit (NO2-) menjadi nitrat (NO3-).
diperlukan untuk pembentukan atau Proses ini merupakan proses biologis yang
memerlukan bakteri spesifik sebagai mediasi.
pertumbuhan seperti daun, batang, dan akar
(Hakim 1986). Nitrogen diserap oleh tanaman Selain itu, proses ini terjadi secara cepat pada
dengan kuantitas terbanyak dibandingkan tanah yang hangat, lembap, dan cukup air.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nitrifikasi
dengan unsur lain yang didapatkan dari tanah
(Krisna 2002). Sumber nitrogen di dalam dalam tanah adalah jumlah amonium, populasi
tanah adalah dari fiksasi oleh bakteri nitrifikasi, reaksi tanah, aerasi tanah,
kelembapan tanah, dan suhu (Havlin et al.
mikroorganisme, air irigasi dan hujan,
absorpsi amoniak, perombakan bahan organik, 1999). Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
dan pemupukan (Delwice diacu dalam 2NH4+ +3O2Nitrosomonas 2NO2-+2H2O+4H+
Chapman 1975). Nitrogen di dalam tanah Nitrobacter
mempunyai dua bentuk utama, yaitu nitrogen 2NO2- + O2 2NO3-
organik dan nitrogen anorganik berupa Menurut Pang dan Letey (2000) nitrogen
amonium (NH4+), amoniak (NH3), nitrit (NO2- dalam bentuk nitrat lebih mobil dan mudah
), dan nitrat ( NO3-) (Stevenson 1982). pindah ke dalam air tanah yang menyebabkan
Mineralisasi merupakan proses konversi degradasi kualitas air. Tanaman dapat
nitrogen bentuk organik menjadi bentuk mengadsorpsi nitrat melalui akar-akarnya dan
mineral (Krisna 2002). Menurut Soepardi digunakan untuk memproduksi protein.
(1996) ion-ion nitrat, nitrit, dan amonium Pencucian nitrat merupakan proses pergerakan
jumlahnya bergantung pada jumlah pupuk yang menurunkan nitrat melalui profil tanah
yang diberikan dan kecepatan dekomposisi oleh air tanah. Perkolasi air tanah merupakan
bahan tanah. Laju mineralisasi nitrogen kejadian fisik kehilangan nitrat. Nitrat mudah
bergantung pada suhu, rasio C/N, pH tanah, larut dan bergerak dalam tanah yang airnya
dan susunan mineral lempung (Sanchez berlebih di bawah zona akar. Standar yang
1992). Menurut Havlin et al. (1999), proses ditetapkan untuk jumlah nitrat yang
mineralisasi melibatkan dua reaksi yaitu diperbolehkan dalam air minum adalah 50
reaksi aminisasi dan amonifikasi yang terjadi mg/l (Permenkes No.416/1990).
melalui aktivitas mikroorganisme heterotrofik. Kehilangan nitrogen pada pertanian dapat
Aminisasi adalah pemecahan protein dan terjadi melalui denitrifikasi, volatilisasi, dan
kehilangan NO3- karena proses pencucian. dapat ditimbang, sedangkan dalam metode
Denitrifikasi pada kondisi anaerob menurut tidak langsung zat yang akan ditentukan
Soepardi (1983) reaksinya sebagai berikut : bobotnya diperoleh dari bobot sebelum dan
sesudah proses. Kadar air tanah dapat
NO3- + 2H+ + 2e- NO2- + H2O
mempengaruhi ekosistem yang terdapat pada
NO2- + 2H2O NH4+ + 2O2 + 2e- tanah, oleh karena itu pada proses analisis
dilakukan pengukuran sebagai faktor koreksi
Metode Penetapan Senyawa Nitrogen dari setiap kondisi tanah yang berbeda.
Analisis tanah pada dasarnya bertujuan
memberikan data sifat fisika dan kimia serta BAHAN DAN METODE
unsur hara dalam tanah (Puslittanah 2005).
Penetapan nitrogen total dalam tanah dapat Alat dan Bahan
ditentukan dengan metode Kjeldahl yang Alat-alat yang digunakan adalah
didasarkan ketetapan bahwa senyawa spektrofotometer Uv-Vis Hitachi U-2010.
nitrogen organik dan anorganik dapat Bahan-bahan yang digunakan adalah contoh
dioksidasi dalam lingkungan asam sulfat tanah Andisol yang dikelola dari Bapak
membentuk amonium sulfat. Amonium sulfat Sudarto (petani 1) dan Bapak Cipto (petani 2)
yang terbentuk disuling dengan penambahan di daerah Kejajar Wonosobo serta dari Bapak
NaOH yang akan membebaskan NH3. NH3 S. Dono (petani 1) dan Bapak Sumarno
yang tersuling akan diikat oleh asam borat dan (petani 2) di daerah Sumowono Semarang.
dapat dititrasi dengan H2SO4 dengan
menggunakan indikator conway (Widjik & Metode Analisis
Hardjono 1996). Metode analisis tanah dilakukan
Metode penetapan senyawa nitrogen berdasarkan pada standar analisis kimia tanah
dilakukan dengan metode ekstraksi dengan dan tanaman Balittanah (Balittanah 2005).
menggunakan KCl dengan dasar bahwa NH4+
dan NO3- dalam tanah dapat dibebaskan oleh Persiapan Contoh
KCl 1 N menjadi amonium klorida dan kalium Pengeringan tanah dilakukan pada suhu
nitrat (Bertrand et al. 2006). Nitrat dapat juga kamar. Setelah kering, contoh tanah
diekstraksi dengan menggunakan CaCl2 dihaluskan dengan lumpang porselin dan
(Suhardi 2005). Metode ekstraksi CaCl2 yang diayak dengan ayakan yang mempunyai
digunakan pada penentuan nitrat, sedangkan diameter pori 2 mm. Setelah itu, contoh
untuk penentuan amonium menggunakan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang
metode ekstraksi KCl (Umariah 2007). berlabel nomor contoh tanah.
Amonium dan nitrat yang telah dibebaskan
dari tanah dapat diukur dengan Inkubasi Tanah
spektrofotometer (Widjik & Hardjono 1996). Tanah dimasukkan ke dalam pipa paralon
Panjang gelombang yang digunakan untuk berdiameter 5,4 cm dan tinggi 10 cm dengan
penentuan nitrat adalah panjang gelombang jumlah tanah untuk masing-masing petani
210 nm dan 275 nm. Panjang gelombang 275 berdasarkan pada berat jenis dan ruang pori
nm digunakan sebagai pengkoreksi dari dari tanah. Setelah itu ditambahkan air dan
serapan bahan organik. Panjang gelombang pipa ditutup dengan plastik bening serta
yang digunakan untuk pengukuran amonium dilubangi kecil-kecil. Setelah itu dilakukan
yaitu 636 nm. Panjang gelombang tersebut sampling sebanyak 9 kali dengan waktu
digunakan karena memberikan nilai serapan sampling 0, 7, 18, 31, 46, 60, 74, 88, dan 102
yang maksimum. hari dari awal inkubasi.
Kadar Air Contoh tanah dari setiap sampling
diletakkan di atas selembar plastik kemudian
Penentuan kadar air dapat dilakukan diaduk sampai merata. Setelah itu, contoh
dengan metode gravimetri. Gravimetri tanah dimasukkan ke dalam kantong plastik
merupakan cara penentuan jumlah zat dan diberi label untuk dipergunakan pada
berdasarkan pada penimbangan hasil reaksi pengukuran selanjutnya.
setelah bahan yang dianalisis direaksikan
(Harjadi 1993). Metode gravimetri terdiri atas
dua jenis, yaitu gravimetri secara langsung
dan tidak langsung. Pada metode gravimetri
langsung zat yang akan ditentukan
merupakan suatu hasil analisis yang bobotnya
Penentuan Kadar Air kriteria penilaian sifat-sifat tanah
menunjukkan tanah yang dikelola petani 1 dan
Contoh tanah ditimbang sebanyak 5 g
2 Kejajar Wonosobo mempunyai kadar C-
dalam pinggan aluminium yang telah
organik yang tinggi, sedangkan tanah yang
diketahui bobotnya. Contoh tanah dikeringkan
dikelola petani 1 dan 2 Sumowono Semarang
dalam oven bersuhu 105 ºC selama 24 jam.
mempunyai kadar rendah (Lampiran 3).
Setelah contoh tanah didinginkan di dalam
Tanah Kejajar Wonosobo yang dikelola
eksikator, kemudian contoh tanah beserta
oleh petani 1 dan 2 mempunyai kadar N-total
wadah ditimbang. Bobot tanah yang hilang
berturut-turut sebesar 0,27% dan 0,29%,
adalah bobot air.
sedangkan tanah yang dikelola oleh petani 1
Penentuan Kadar Amonium Tanah dan 2 Sumowono Semarang mempunyai
kadar N-total berturut-turut sebesar 0,15% dan
Sebanyak 10 g contoh tanah
0,14%. Menurut Balittanah (2005) kriteria
dimasukkan ke dalam botol kocok dan penilaian sifat-sifat tanah menunjukkan bahwa
ditambahkan larutan KCl 1 N sebanyak 50 ml. tanah yang dikelola oleh petani 1 dan 2
Setelah itu larutan contoh tanah dikocok
Kejajar Wonosobo mempunyai kadar N-total
dengan menggunakan mesin pengocok selama sedang dan tanah yang dikelola oleh petani 1
60 menit. Setelah 60 menit larutan tersebut dan 2 Sumowono Semarang mempunyai kadar
disaring. Filtrat yang diperoleh ditampung
N-total rendah.
pada botol film. Sebanyak 1 ml filtrat Perbandingan antara C-organik dan N-
ditambahkan dengan pereaksi 1, pereaksi 2 total yang diperoleh berkisar antara 12 sampai
dan NaOCl 5 % masing-masing sebanyak 2 14. Berdasarkan data yang diperoleh rasio
ml dan setiap penambahan dikocok. Setelah C/N tanah Andisol Kejajar Wonosobo dan
itu didiamkan selama 30 menit. Larutan filtrat
Sumowono Semarang termasuk sedang.
tersebut diukur absorbansnya dengan Konsentrasi bahan organik tanah dapat diduga
spektrofotometer Uv-Vis pada panjang dari konsentrasi karbon organik dan rasio
gelombang 636 nm. Konsentrasi larutan
C/N.
standar amonium yang digunakan adalah 0, 2, Mikroorganisme membutuhkan karbon
4, 8, 12, 16, dan 20 ppm (Lampiran 1). untuk menyediakan energi dan nitrogen untuk
Penentuan Kadar Nitrat Tanah pemeliharaan dan pembentukan sel-sel tubuh.
Semakin banyak kandungan nitrogen semakin
Sebanyak 10 g contoh tanah dimasukkan cepat bahan organik terurai, karena jasad renik
ke dalam botol kocok dan ditambahkan yang menguraikan bahan organik memerlukan
larutan CaCl2 0,01 M sebanyak 50 ml. Setelah nitrogen untuk perkembangannya. Semakin
itu larutan contoh tanah dikocok dengan lanjut tingkat dekomposisi semakin kecil rasio
menggunakan mesin pengocok selama 60 C/N. Jika rasio C/N dari bahan organik segar
menit. Setelah 60 menit larutan tersebut yang dibenamkan ke dalam tanah lebih besar
disaring. Filtrat yang diperoleh ditampung dari 20, mikroorganisme yang terlibat di
pada botol film, lalu diukur absorbansnya dalam proses dekomposisi tersebut biasanya
dengan spektrofotometer Uv-Vis pada sulit memperoleh C/N yang memadai dari
panjang gelombang 210 nm dan 275 nm. bahan organik itu sendiri, sehingga harus
Konsentrasi larutan standar nitrat yang mengambil N yang tersedia di sekitarnya.
digunakan adalah 0, 0,5, 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm Tanaman akan kalah dalam persaingan apabila
(Lampiran 1). tidak ada N yang tersedia dalam jumlah yang
cukup, dan tanaman akan mengalami
HASIL DAN PEMBAHASAN defisiensi N. Transformasi residu organik
Sifat Tanah Awal menjadi bahan organik yang stabil (humus)
akan menyebabkan hubungan yang konsisten
Analisis sifat kimia tanah awal telah antara C dengan N (Bohn et al. 1979).
dilakukan untuk mengetahui sifat kimia tanah Laju mineralisasi nitrogen bergantung
sebelum dilakukan inkubasi. Data analisis pada suhu, rasio C/N, pH tanah, dan susunan
sifat kimia tanah disajikan pada Lampiran 2. mineral lempung (Sanchez 1992). Susunan
Hasil yang diperoleh kadar C-organik pada mineral lempung liat akan memberikan
tanah yang dikelola petani 1 dan 2 Kejajar suasana yang kondusif bagi proses
Wonosobo berturut-turut sebesar 3,61% dan mineralisasi. Pada tanah dengan kadar mineral
3,38%, sedangkan pada tanah yang dikelola lempung liat lebih tinggi secara umum
petani 1 dan 2 Sumowono Semarang berturut- mempunyai kadar bahan organik serta ion-ion
turut sebesar 1,77% dan 1,99%. Berdasarkan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme dalam
menyusun tubuhnya secepat P, Ca, dan Mg
80
lebih banyak dari tanh lempung berpasir.
Bahan organik merupakan sumber energi bagi

Kadar air (%)


60

mikroorganisme dan dapat menyumbangkan 40


nitrogen dalam bentuk amonium ataupun
20
nitrat. Tanah daerah Kejajar Wonosobo
memiliki tekstur lempung berpasir akan 0

mengalami proses mineralisasi yang lebih 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110


Hari inkubasi
sedikit atau rendah daripada tanah Sumowono
petani 1 petani 2
Semarang yang memiliki tekstur lempung liat
dengan asumsi kadar bahan organik yang
tersedia sama. Gambar 2 Kadar air contoh tanah andisol
Sumowono Semarang pada
Kadar Air
perlakuan inkubasi
Kadar air contoh tanah yang digunakan
ditentukan dengan metode gravimetri tidak Mineralisasi Nitrogen Tanah Andisol
langsung. Suhu 105°C digunakan untuk Kejajar Wonosobo
menghilangkan air pada tanah yang terikat
secara fisik. Penentuan kadar air ini sangat Hasil penetapan N-NH4+ tanah Andisol
penting dalam penentuan kadar amonium dan dengan waktu inkubasi tanah pada Gambar 3.
nitrat dalam tanah dan digunakan sebagai Konsentrasi N-NH4+ pada tanah awal sebelum
faktor koreksi. inkubasi dari kedua petani tinggi. Konsentrasi
Berdasarkan hasil analisis pada tanah N-NH4+ tanah petani 1 sebesar 12,24 mg/kg
awal sebelum inkubasi kadar air tanah yang dan konsentrasi N-NH4+ tanah petani 2
dikelola oleh petani 1 dan 2 Kejajar sebesar 24,61 mg/kg. Hal ini dikarenakan
Wonosobo berturut-turut sebesar 34,89% dan ketersediaan amonium masih tinggi dan bahan
34,51%, sedangkan kadar air tanah yang organik yang cukup hingga memungkinkan
dikelola oleh petani 1 dan 2 Sumowono reaksi amonifikasi. Setelah inkubasi dilakukan
Semarang berturut-turut sebesar 10,97% dan terjadi penurunan kadar amonium yang terjadi
19,82% (Lampiran 7-10). Namun setelah pada kedua petani. Inkubasi yang dilakukan
dilakukan penambahan air sampai didapatkan dalam kondisi aerob dan aerasi yang baik akan
keadaan air kapasitas lapang dan inkubasi. menyebabkan proses nitrifikasi berlangsung
Pada hari ke-7 sampai hari ke-102 terjadi dengan cepat. Konsentrasi N-NH4+ yang
kenaikan kadar air. Selama proses inkubasi terbentuk dari ketersedian amonium awal atau
kadar air relatif stabil pada kisaran 55,35%- hasil dekomposisi dari bahan organik akan
62,20% pada tanah petani 1 dan 50,01%- diubah menjadi N-NO3- sehingga konsentrasi
57,44% pada tanah petani 2 di daerah Kejajar N-NH4+ menurun.
Wonosobo. Kadar air pada tanah petani 1 Penurunan konsentrasi N-NH4+ yang
berkisar 40,98%-44,20% dan pada tanah tidak signifikan tetapi relatif stabil terjadi dari
petani 2 berkisar 35,47%-46,68% di daerah hari ke-7 sampai hari ke-60 dari 9,71 mg/kg
Sumowono Semarang. menjadi 6,31 mg/kg terjadi pada tanah petani
1. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu
tersebut berlangsung proses amonifikasi dan
80
nitrifikasi yang seimbang yang didukung
Ka da r a i r (% )

60 dengan tersedianya bahan organik,


40 mikroorganime, oksigen, dan air. Pada hari
ke-74 terjadi kenaikan konsentrasi N-NH4+
20
sebesar 9,80 mg/kg. Namun, terjadi
0 penurunan konsentrasi N-NH4+ kembali
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
menjadi 4,29 mg/kg pada hari ke-88 lalu naik
Hari inkubasi pada akhir inkubasi yaitu hari ke-102 menjadi
petani 1 petani 2 7,16 mg/kg. Pada tanah petani 2 berdasarkan
Gambar 3, konsentrasi N-NH4+ di dalam tanah
Gambar 1 Kadar air contoh tanah andisol tidak stabil. Selama berlangsung proses
Kejajar Wonosobo pada perlakuan inkubasi dari hari ke-7 sampai ke-102 selalu
inkubasi mengalami peningkatan dan penurunan
konsentrasi N-NH4+ antara 5,00 mg/kg sampai
9,33 mg/kg. Hal ini dikarenakan terjadi proses

Konsentrasi N -N O3 (m g/k g)
160
nitrifikasi dan denitrifikasi yang berganti. 140
Proses penyimpanan dengan menutup 120
100
paralon dengan plastik yang dilubangi kecil- 80
kecil dapat menyebabkan aerasi kurang 60
40
lancar, selanjutnya kondisi anaerob pada tanah 20
meningkat. Kondisi anaerob menyebabkan 0
terjadi proses denitrifikasi. Proses ini 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

mengubah NO3- menjadi NH4+ sehingga Hari inkubasi

meningkatkan konsentrasi N-NH4+ dalam petani 1 petani 2


tanah. Proses denitrifikasi yang menghasilkan Gambar 4 Hubungan konsentrasi N-NO3- dan
NH4+, oksigen, elektron dan air akan hari inkubasi pada tanah Andisol
meningkatkan kondisi aerob sehingga dapat Kejajar Wonosobo
terjadi proses nitrifikasi dan kembali terjadi
penurunan konsentrasi N-NH4+. Pada tanah petani 1 konsentrasi N-NO3-
sebelum inkubasi sebesar 15,44 mg/kg.
(m g /kg )

30
Setelah inkubasi dilakukan peningkatan
konsentrasi N-NO3- terjadi dari awal inkubasi
25
20
sampai akhir, yaitu dari 78,88 mg/kg pada hari
K o nsentra si N -N H 4

15
ke-7 sampai 123,01 mg/kg pada hari ke-102.
10
5
Hal ini karena proses nitrifikasi yang baik
0
dengan ketersedian amonium yang cukup.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 Konsentrasi N-NO3- pada tanah petani 2
Hari inkubasi sebelum inkubasi sebesar 24,55 mg/kg.
petani 1 petani 2 Kemudian setelah inkubasi terjadi
peningkatan konsentrasi sampai 129,28 mg/kg
Gambar 3 Hubungan konsentrasi N-NH4+ dan pada hari ke-46. Namun pada hari ke-60
hari inkubasi pada tanah Andisol konsentrasi N-NO3- menurun menjadi 128,48
Kejajar Wonosobo mg/kg, lalu naik kembali pada hari ke-74
Hasil penetapan konsentrasi N-NO3- pada menjadi 136,75 mg/kg, tetapi pada akhir
tanah Andisol Kejajar Wonosobo pada inkubasi terjadi penurunan konsentrasi
berbagai hari pengamatan disajikan pada menjadi 123,01 mg/kg. Kemungkinan
Gambar 4. Pada tanah awal sebelum inkubasi penurunan ini terjadi karena proses
ketersediaan N-NO3- rendah dikarenakan denitrifikasi.
proses nitrifikasi belum banyak terjadi. Potensi pelepasan kadar N-NH4+ tanah
Setelah itu terjadi kenaikan konsentrasi N- Kejajar Wonosobo petani 1 dan 2 berturut-
NO3- dikarenakan tersedianya oksigen yang turut sebesar 7,45 mg/kg dan 7,15 mg/kg,
cukup sehingga terjadi kondisi aerob. Kondisi sedangkan kadar N-NO3- petani 1 dan 2
aerob menyebabkan terjadinya nitrifikasi berturut-turut sebesar 111,20 mg/kg dan
menghasilkan nitrat dengan bahan baku 123,41 mg/kg.
amonium yang ada dalam tanah dan dibantu
oleh ketersediaan air sebagai media bagi Mineralisasi Nitrogen Tanah Andisol
mikroorganisme untuk proses tersebut Sumowono Semarang
sehingga konsentrasi N-NO3- meningkat Hasil penetapan konsentrasi N-NH4+
(Prantl et al. 2006). Menurut Havlin et al. tanah Andisol Sumowono Semarang dengan
proses nitrifikasi dapat terjadi sangat cepat waktu inkubasi disajikan pada Gambar 5.
karena suasana hangat, lembap, dan cukup air Berdasarkan gambar tersebut konsentrasi N-
sehingga bakteri nitrifikasi dapat berkembang NH4+ pada petani 1 pada hari ke-0 sebesar
biak dan menghasilkan N-NO3- dengan cepat. 22,63 mg/kg, lalu setelah inkubasi terjadi
penurunan yang cukup signifikan pada hari
ke-7 sampai hari ke-31 dari 13,24 mg/kg
mg/kg menjadi 4,68 mg/kg. Kemungkinan
disebabkan proses nitrifikasi yang berjalan
cepat karena bahan organik, oksigen, air, dan
mikroorganisme yang cukup tersedia.
Konsentrasi pada hari ke-46 mengalami
peningkatan kembali walaupun sedikit
menjadi 5,32 mg/kg sampai hari ke-88 sebesar
8,35 mg/kg. Konsentrasi N-NH4+ pada akhir 160
inkubasi menurun menjadi 6,21 mg/kg. Hal

K onsentrasi N-NO 3 (mg/kg)


140
ini kemungkinan terjadi karena penurunan 120

kembali bahan organik yang digunakan untuk 100

proses amonifikasi sehingga proses tersebut 80


60
mulai berkurang. 40
Pada tanah petani 2 sebelum inkubasi 20

konsentrasi N-NH4+ yaitu dari 44, 94 mg/kg. 0


0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Setelah inkubasi dilakukan terjadi penurunan Hari inkubasi
konsentrasi N-NH4+ yang signifikan menjadi petani 1 petani 2
6,47 mg/kg pada hari ke-7. Hal ini
dikarenakan proses ketersediaan amonium Gambar 6 Hubungan konsentrasi N-NO3- dan
yang banyak dan aerasi yang baik sehingga hari inkubasi pada tanah Andisol
proses nitrifikasi berjalan dengan cepat. Pada Sumowono Semarang
inkubasi hari berikutnya tidak terjadi Pada tanah awal sebelum inkubasi
perubahan konsentrasi yang signifikan. konsentrasi N-NO3- tanah petani 2 sebesar
Namun pada hari ke-88 konsentrasi N-NH4+ 7,87 mg/kg dan sampai akhir inkubasi terjadi
agak meningkat menjadi 11,96 mg/kg peningkatan konsentrasi N-NO3- menjadi
kemungkinan terjadi kareana proses 125,92 mg/kg pada hari ke-102. Hal ini karena
denitrifikasi, tetapi turun kembali pada hari ketersediaan bahan-bahan untuk proses
ke-102 menjadi 5,33 mg/kg karena proses nitrifikasi masih mencukupi, sehingga proses
nitrifikasi. nitrifikasi berjalan dengan cepat dan lancar.
Potensi pelepasan kadar N-NH4+ tanah
50
Konsentrasi N-NH4

40
Sumowono Semarang petani 1 dan 2 berturut-
turut sebesar 7,23 mg/kg dan 7,17 mg/kg,
(mg/kg)

30

20 sedangkan kadar N-NO3- petani 1 dan 2


10 berturut-turut sebesar 94,95 mg/kg dan 103,55
0 mg/kg.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110
Hari inkubasi
SIMPULAN DAN SARAN
petani 1 petani 2
Simpulan
Gambar 5 Hubungan konsentrasi N-NH4+ dan
hari inkubasi pada tanah Andisol Berdasarkan hasil penelitian dapat
Sumowono Semarang disimpulkan bahwa pada tanah Andisol
Kejajar Wonosobo dan Sumowono Semarang
Hasil penetapan konsentrasi N-NO3- terjadi mineralisasi nitrogen dalam bentuk
tanah Andisol Sumowono Semarang dengan NH4+ dan NO3-. Potensi pelepasan kadar N-
waktu inkubasi disajikan pada Gambar 6. NH4+ tanah Kejajar Wonosobo dan
Kurva tersebut memperlihatkan bahwa Sumowono Semarang petani 1 lebih besar
konsentrasi N-NO3- tanah petani 1 sebelum daripada petani 2 dengan nilai berkisar 7,15%-
inkubasi sebesar 19,71 mg/kg dan terjadi 7,45%. Potensi pelepasan kadar N-NO3- tanah
peningkatan konsentrasi N-NO3- sampai hari Kejajar Wonosobo dan Sumowono Semarang
ke-60 menjadi 111,27 mg/kg. Hal ini karena petani 1 lebih kecil daripada petani 2 dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi proses nilai berkisar 94,95%-123,41%. Potensi
nitrifikasi masih terpenuhi dari ketersediaan pelepasan kadar N-NO3- tanah Kejajar
amonium, air, dan mikroorganisme yang Wonosobo lebih besar daripada tanah
banyak serta didukung kelembapan tanah Sumowono Semarang. Kadar N-NH4+
yang tinggi. Namun, pada hari ke-74 terjadi menurun dengan cepat sebelum 10 hari
penurunan konsentrasi menjadi 108,30 mg/kg inkubasi kemudian cenderung melandai.
kemungkinan terjadi proses volatisasi yang Kadar N-NO3- meningkat dengan cepat dari
mengubah nitrat menjadi NO2. Pada terakhir hari ke-0 sampai hari ke-7 inkubasi. Laju
inkubasi terjadi peningkatan konsentrasi mineralisasi amonium atau nitrat mempunyai
sehingga pada akhirnya konsentrasi N-NO3- pola yang hampir sama pada tanah Andisol
menjadi 115,78 mg/kg. Hal ini kemungkinan Kejajar Wonosobo dan Sumowono Semarang.
disebabkan proses nitrifikasi yang berjalan
lancar.
Saran for Soil and Agroclimate Research and
Development, Bogor, Indonesia.
Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan
untuk mempelajari mineralisasi yang Pang XP, Letey J. 2000. Organic farming:
dipengaruhi populasi dan jenis challenge of timing nitrogen availability
mikroorganisme, dosis pupuk, dan bahan to crop nitrogen requirement. Soil Sci.
organik yang ditambahkan. Soc. Am. J. 64:247-253.
Prantl R, Tesar M, Huber M, Lechner P. 2006.
DAFTAR PUSTAKA Changes in carbon and nitrogen pool
Balittanah. 2005. Penuntun Analisis Kimia during in-situ acration of old landfills
Tanah dan Tanaman. Bogor: Balai under varying conditions. Waste
Penelitian Tanah. Management 26:373-380.

Bertrand I, Delfosse O, Mary B. 2006. Carbon Puslitbangtanak. 2006. Andisol. [terhubung


and nitrogen mineralization in acidic, berkala].http://soillimate.or.id/index.php
limed and calcareous agricultural soils: opinon=com_content&task=view&id=17
apparent and actual effects. Soil Biol &Itemid=38. html [25 Apr 2008].
Biochem 39:276-288. Randall GW, Goss MJ. 2001 Nitrate Losses to
Bohn HL, McNeal BL, O’Connor GA. 1979. Surface Water through Subsurface, Tile
Soil Chemistry. New York: J Wiley. Drainage. Di dalam: Follet RF dan
Hatfield JL, editor. Nitrogen in the
Chapman HD. 1975. Diagnostic Criteria for Environment: Sources, Problems, and
Plant and Soil. New Delhi: Eurasia Management. Ámsterdam: Elsevier
Publishing House Ltd. Science B.V. hlm:95-122.
Darmawijaya. 1990. Klasifikasi Tanah. Resh HM. 1983. Hydroponic Food
Yogjakarta: Gajah Mada University Pr. Production. 2nd Ed. California:
[Depkes]. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan Woodbridge Pr.P. 335.
Republik Indonesia Nomor Sanchez PA. 1992. Sifat dan Pengelolaan
416/Menkes/PERIX/1990 tentang Syarat- Tanah Tropika. Bandung: ITB Pr.
syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Jakarta: Depkes. Soepardi G. 1983. Dasar-dasar Ilmu Tanah.
Bogor: IPB Pr.
Foth HD. 1998. Fundamental of Soil Science.
John Wiley. Soepardi G. 1996. Sifat dan Ciri Tanah.
Bogor. IPB Pr.
Hakim N. 1986. Dasar- Dasar Ilmu Tanah.
Yogyakarta: Gajah Mada University Pr. Stevenson, F.J. 1982. Origin and Distribution
of N in Soil. In F.J. Stevenson (ed.)
Hanafiah KA. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Nitrogen in Argicultural Soils. American
Tanah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Society of Agronomy, Madison, WI.
Hardjowigeno S. 2003. Ilmu Tanah. Jakarta: Suhardi. 2005. Pengaruh penggunaan tanah
Akademika Pressindo. gambut sebagai lahan pertanian terhadap
Harjadi W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. perubahan pola laju mineralisasi nitrogen.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. 7:104-
110.
Havlin, JL, Beaton JD, Tisdale SL, Nelsen
WL. 1999. Soil Fertility and Fertilizers, Tan KH. 1991. Dasar-dasar Kimia Tanah.
6th Edition. Prentice Hall, New Jersey. Gumadi DH,penerjemah. Yogyakarta:
Gajah Mada University Pr.
Krisna KR. 2002. Soil Fertility and Crop
Production. Science Publisher. Umariah S. 2007. Perbandingan Metode
Analisis Senyawa Nitrogen dengan KCl
N-Balance Project Report. 2006. Nitrogen dan CaCl2 di Beberapa Kedalaman
Balances in Vegetable Production in Tanah yang Ditanami Bawang Daun
Central Java: a Tool for Improving [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika
Nitrogen use Efficiency for Small Holder dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB.
Farmer. First Year Report. Indonesian
Soil Reseacrh Institute, Indonesian Center
Ushama P. 2006. Potensi Mineralisasi N-
NH4+ dan N-NO3- Tanah Andisols
Getasan Semarang [skripsi]. Bogor:
Universitas Pakuan.
Widjik S, Hardjono. 1996. Metode Analisis
Tanah. Jakarta: Astra Agro Niaga.
Wiederholt R, Johnson B. 2005. Behaviour in
the environment. [terhubung berkala].
http://www.ag.ndsu.udu.html [15 Sep
2007].
Williams CN. 1993. Produksi Sayuran Di
Daerah Tropika. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Pr.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Pembuatan pereaksi dan larutan

Ektrak KCl 1 N : Sebanyak 74,55 g kristal KCl dilarutkan ke dalam labu takar
1000 ml dengan akuades.

Ektrak CaCl2 0,01 M : Sebanyak 1,48 g kristal CaCl2 dilarutkan ke dalam labu
takar 1000 ml dengan akuades.

Standar pokok 1000 ppm NH4+ : Sebanyak 4,7143 g serbuk (NH4)2SO4 pekat
(kering 105º C) dilarutkan ke dalam labu takar 1000 ml dengan akuades.

Standar 20 ppm NH4+ dalam KCl 1 N : Sebanyak 2 ml standar 1000 ppm


dipipet ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan ektrak KCl 1 N.

Standar pokok 1000 ppm NO3- : Sebanyak 1.6290 g serbuk KNO3 pekat di
larutkan ke dalam labu takar 1000 ml dengan akuades.

Standar 5 ppm NO3- dalam CaCl2 0,01 M : Sebanyak 0,5 ml standar 1000 ppm
dipipet ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan dengan ekstrak CaCl2 0,01 M

Pereaksi 1 KCl : Sebanyak 25 gram K-Na-Tartrat dilarutkan dalam akuades dan


25 gram NaOH dilarutkan dalam akuades. Kemudian kedua larutan tersebut
dicampurkan dan ditera sampai 500 ml.

Pereaksi 2 KCl : Sebanyak 50 gram NaOH dilarutkan ke dalam akuades dan


ditambahkan 62,5 gram fenol yang telah dilarutkan terlebih dahulu dalam akuades
lalu ditera sampai 500 ml.

Deret standar amonium pada KCl


Penetapan amonium dilakukan dengan pembuatan deret standar (0-20 ppm)
NH4+. Standar 20 ppm NH4+ dalam KCl 1 N dipipet 0;0,1;0,2;0,4;0,6;0,8 dan 1 ml
ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan ekstrak KCl 1 N hingga menjadi
1 ml. Deret standar ini memiliki konsentrasi 0;2;4;8;12;16;dan 20 ppm dan
Kemudian deret standar ini ditambahkan 2 ml pereaksi 1, 2ml pereaksi 2, dan 2 ml
NaOCl 5%.Kemudian dikocok dan diukur absorbansnya pada panjang gelombang
636 nm.

Deret standar nitrat pada CaCI2


Penetapan anomium dilakukan dengan pembuatan deret standar (0-5 ppm
NO3-. Standar 50 ppm NO3- dalam CaCI2 0,01 M dipipet 0;0,5;0,1;0,2;0,3;0,4;dan
0,5 ml ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan ekstrak CaCI2 0.001 M
hingga menjadi 5 ml. Deret standar ini memiliki konsentrasi 0;0,5;1;2;3;4 dan 5
ppm NO3-. Kemudian dikocok diukur absorbansnya pada panjang gelombang 210
nm dan 275 nm.
Lampiran 2 Data analisis sifat kimia tanah*
Bahan Organik
Pasir Debu Liat
Lokasi Petani C N Tekstur
C/N (%) (%) (%)
(%) (%)
Sudarto
3,61 0,27 13
Kejajar (petani 1) Lempung
52 31 17 Berpasir
Wonosobo Cipto
3,38 0,29 12
(petani 2)
S. Dono
1,77 0,15 12
Sumowono (petani 1) Lempung
26 44 30 Liat
Semarang Sumarno
1,99 0,14 14
(petani 2)
*Sumber: Laporan penelitian N-Balance 2006
Lampiran 3 Kriteria penilaian sifat-sifat tanah (Balittanah 2005)
Nilai
Jenis analisis
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi
C organik (%) < 1.00 1-2.0 2.01-3 3.01-5 >5
N total (%) < 0.1 0.1-0.2 0.21-0.5 0.51-0.75 > 0.75
C/N <5 5-10 11-15 16-25 > 25

P2O5 HCl 25 % (mg/100 g) < 15 15-20 21-40 41-60 >60


> 15
P2O5 Bray 1 (ppm) <4 5-7 8-10 11-15
P2O5 Olsen (ppm) <5 5-10 11-15 16-20 > 20
> 60
K2O HCl 25% < 10 10-20 21-40 41-60
KTK (me/100 g) <5 5-16 17-24 25-40 > 40
Susunan kation (me/100 g)
Ca <2 2-5 6-10 11-20 > 20
Mg < 0.4 0.4-1.0 1.1-2.0 2.1-8.0 >8
K < 0.1 0.1-0.3 0.4-0.5 0.6-1.0 >1
Na < 0.1 0.1-0.3 0.4-0.7 0.8-1.0 >1
KB (%) < 20 20-40 41-60 61-80 > 80
Kemasaman
Al (me/100 g) <5 5-10 11-20 20-40 > 40
Sangat Agak Agak
masam Masam masam Netral netral Alkali
pH H2O 4.5 4.5-5.5 5.6-6.5 6.6-7.5 7.6-8.5 > 8.5
Lampiran 4 Bagan alir kerja

Sampel Tanah
Sampel Tanah

Inkubasi Tanah

Ekstraksi dengan KCl 1N Kadar Air Ekstraksi dengan CaCl2 0,01M

+ 2 ml pereaksi 1→ kocok
+ 2 ml pereaksi 2 → kocok Pengukuran NO3-
+ 2 ml NaOCl 5% → kocok pada λ 210 nm dan λ 275 nm

Pengukuran NH4+ pada λ 636 nm

Keterangan:
Pereaksi 1: 25 g K-Na-tartrat + 25 g NaOH
Pereaksi 2: 62,5 g phenol + 50 g NaOH
Lampiran 5 Perhitungan analisis tanah

Penentuan Kadar Air

Kadar Air (KA) = (bobot cawan + bobot basah) – (bobot cawan +bobot kering) x 100%
(bobot cawan +bobot kering) – bobot cawan

Kadar Air (KA) = (2,850 + 5,010) – (2,850 +3,714) x 100% = 34,89%


(2,850 +3,714) – 2,850

Faktor Koreksi (fk) = 100 + KA


100
Faktor Koreksi (fk) = 100 + 34,89 = 1.35
100
Penentuan kadar amonium tanah

[NH4+] (mg/kg) = [NH4+] kurva x fk x volume ekstrak


Bobot tanah
[NH4+] (mg/kg) = 2,460 mg/L x 1.350 x 50 mL x 1L x 1000g
10 g 1000 mL 1 kg

[NH4+] (mg/kg) = 16,60 mg/kg

[N-NH4+] (mg/kg) = 14/18 x [NH4+]


= 12,91 mg/kg

Penentuan kadar nitrat tanah

[NO3-] (mg/kg) = [NO3-] kurva x fk x fp x volume ekstrak


Bobot tanah
[NO3-] (mg/kg) = 11,465 mg/L x 1.350 x 10 x 50 mL x 1L x 1000g
10 g 1000 mL 1 kg

[NO3-] (mg/kg) = 77,33 mg/kg

[N-NO3-](mg/kg) = 14/62 x [NO3-]


= 17,46 mg/kg
Lampiran 6 Kurva standar amonium
Standar amonium hari ke-0 Standar amonium hari ke-7
160 y = 7,8072x - 6,8635 200
140 R2 = 0,9853
150 y = 7,8737x - 3,1672

Absorbans
120
R2 = 0,9974
Absorbans

100
100
80
60 50
40
20 0
0 0 5 10 15 20 25
0 5 10 15 20 25
konsentrasi NH4 (ppm )
Konsentrasi NH4 (ppm )

Standar amonium hari ke-18 Standar amonium hari ke-31


200 200
y = 7,0043x - 3,6092
150 R2 = 0,9981

Absorbans
150 y = 6,9863x - 4,4505
Absorbans

R2 = 0,9971
100 100

50
50

0
0
0 5 10 15 20 25
0 5 10 15 20 25

Konsentrasi NH4 (ppm ) Konsentrasi NH4 (ppm )

Standar amonium hari ke-46 Standar amonium hari ke-60


200 200
y = 7,3635x - 4,5051
y = 7,3447x - 4,6246 150
Absorbans

150 R2 = 0,9965
R2 = 0,9964
Absorbans

100
100
50
50
0
0
0 5 10 15 20 25
0 5 10 15 20 25 KOnsentrasi NH4 (ppm )
Kons entrasi NH4 (ppm )

Standar amonium hari ke-74 Standar amonium hari ke-88


200 200
y = 7,7261x - 6,2884 y = 7,5862x - 2,9061
150 150
Absorbans

R2 = 0,9901
Absorbans

R2 = 0,9985
100 100

50 50

0 0
0 5 10 15 20 25
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi NH4 (ppm )
Konsentrasi NH4 (ppm )

Standar amonium hari ke-102


200

y = 6,3063x - 4,1416
150
R2 = 0,9955
Absorbans

100

50

0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi NH4 (ppm )
Lampiran 7 Kurva standar nitrat
Standar nitrat hari ke-0 Standar nitrat hari ke-7
700 700 y = 125,17x - 5,8703
y = 131,17x + 16,13
600 600 R2 = 0,9988
R2 = 0,9939
500
Aborbans

500

Absorbans
400
400
300
300
200
100 200
0 100
0 1 2 3 4 5 0
0 1 2 3 4 5
Konsentrasi NO3 (ppm )
k ons e ntras i NO3 (ppm )

Standar nitrat hari ke-18 Standar nitrat hari ke-31

700 y = 123,58x - 3,2133 700


600 600 y = 127x - 9,7782
R2 = 0,9997

Absorbans
500 R2 = 0,999
Absorbans

500
400 400
300 300
200 200
100 100
0 0
0 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4 5
Konsentrasi NO3 (ppm ) Konsentrasi NO3 (ppm )

Standar nitrat hari ke-46 Standar nitrat hari ke-60


700 700
y = 131,07x - 10,937 y = 123,39x - 25,068
600 600
R2 = 0,9937 R2 = 0,9974
Absorbans

500 500
Absorbans

400
400
300
300
200
200 100
100 0
0 0 1 2 3 4 5
0 1 2 3 4 5
Konsentras i NO3 (ppm )
Kons e ntrasi NO3 (ppm )

Standar nitrat hari ke-74 Standar nitrat hari ke-88


700 700
y = 125,33x - 2,5188 600 y = 125,47x - 5,8362
600
R2 = 0,9999 R2 = 0,9992
Absorbans

500
Absorbans

500
400 400
300 300
200
200
100
100
0
0
0 1 2 3 4 5
0 1 2 3 4 5
Konsentrasi NO3 (ppm )
Konsentrasi NO3 (ppm )

Standar nitrat hari ke-102


700
y = 125,5x - 8,8891
600
R2 = 0,9995
500
Absorbans

400
300
200
100
0
0 1 2 3 4 5
Konsentrasi NO3 (ppm )
Lampiran 8 Data analisis penghitungan kadar amonium ( N-NH4+) daerah Kejajar Wonosobo
Cwn Tnh Cwn+Tnh [NH4+]
kosong Bsh 105oC
Tnh Krng % Abs [NH4+ ] [N-NH4 ]
Hari Petani Fk Abs 636 nm Slope Intercept Kurva Rerata
KA terkoreksi (mg/kg) (mg/kg)
g g g g (mg/l)
2,850 5,010 6,564 3,714 34,89 1,35 17 15 7,8000 -4,2000 2,46 16,60 12,91
PETANI 1 12,24
2,850 5,010 6,564 3,714 34,89 1,35 15 13 7,8000 -4,2000 2,21 14,67 11,51
0
1,710 5,020 5,442 3,732 34,51 1,35 35 33 7,8000 -4,2000 4,77 32,08 24,95
PETANI 2 24,61
1,710 5,020 5,442 3,732 34,51 1,35 34 32 7,8000 -4,2000 4,64 31,21 24,28
2,847 5,053 5,989 3,142 60,82 1,61 14 13 7,8737 -3,1672 2,05 16,51 12,84
PETANI 1 2,830 5,082 5,980 3,150 61,33 1,61 11 10 7,8737 -3,1672 1,67 13,49 10,49 9,71
2,815 5,207 5,998 3,183 63,59 1,64 5 4 7,8737 -3,1672 0,91 7,45 5,79
7
2,822 5,047 6,036 3,214 57,03 1,57 7 6 7,8737 -3,1672 1,16 9,14 7,11
PETANI 2 2,838 5,123 6,118 3,280 56,19 1,56 6 5 7,8737 -3,1672 1,04 8,10 6,30 6,35
1,715 5,018 4,869 3,154 59,10 1,59 5 4 7,8737 -3,1672 0,91 7,24 5,63
1,705 5,554 5,119 3,414 62,68 1,63 2 1 6,9863 -4,4505 0,78 6,35 4,94
PETANI 1 2,828 5,137 5,989 3,161 62,51 1,63 6 5 6,9863 -4,4505 1,35 10,99 8,55 7,03
2,822 5,029 5,938 3,116 61,39 1,61 5 4 6,9863 -4,4505 1,21 9,76 7,59
18
1,698 5,165 4,954 3,256 58,63 1,59 3 2 6,9863 -4,4505 0,92 7,32 5,70
PETANI 2 2,835 5,278 6,229 3,394 55,51 1,56 14 13 6,9863 -4,4505 2,50 19,42 7,84
2,821 5,148 6,109 3,288 56,57 1,57 8 7 6,9863 -4,4505 1,64 12,83 9,98
1,705 5,554 5,119 3,414 62,68 1,63 5 4 7,0043 -3,6092 1,09 8,84 6,87
PETANI 1 2,828 5,137 5,989 3,161 62,51 1,63 6 5 7,0043 -3,6092 1,23 9,99 7,77 7,75
2,822 5,029 5,938 3,116 61,39 1,61 7 6 7,0043 -3,6092 1,37 11,07 8,61
31
1,698 5,165 4,954 3,256 58,63 1,59 6 5 7,0043 -3,6092 1,23 9,75 7,58
PETANI 2 2,835 5,278 6,229 3,394 55,51 1,56 5 4 7,0043 -3,6092 1,09 8,45 6,57 6,34
2,821 5,148 6,109 3,288 56,57 1,57 3 2 7,0043 -3,6092 0,80 6,27 4,88
2,826 5,065 5,959 3,133 61,67 1,62 3 3 7,3447 -4,6246 1,04 8,39 6,53
PETANI 1 2,795 5,024 5,989 3,194 57,29 1,57 5 5 7,3447 -4,6246 1,31 10,31 8,02 7,57
1,701 5,115 4,894 3,193 60,19 1,60 5 5 7,3447 -4,6246 1,31 10,50 8,16
46
1,683 5,170 4,939 3,256 58,78 1,59 6 6 7,3447 -4,6246 1,45 11,48 8,93
PETANI 2 2,829 5,071 6,145 3,316 52,93 1,53 5 5 7,3447 -4,6246 1,31 10,02 7,79 9,33
2,816 5,019 6,027 3,211 56,31 1,56 9 9 7,3447 -4,6246 1,86 14,50 11,28
Lanjutan lampiran 8 Data analisis penghitungan kadar amonium ( N-NH4+) daerah Kejajar Wonosobo
Cwn Tnh Cwn+Tnh Tnh [NH4+]
kosong Bsh 105oC Krng Abs [NH4+ ] [N-NH4 ]
Hari Petani % KA Fk Abs 636 nm Slope Intercept Kurva Rerata
terkoreksi (mg/kg) (mg/kg)
g g g g (mg/l)
2,826 5,320 6,155 3,329 59,81 1,60 1 3 7,3635 -4,5051 1,02 8,14 6,33
PETANI 1 2,795 5,038 5,935 3,140 60,45 1,60 1 3 7,3635 -4,5051 1,02 8,18 6,36 6,31
1,703 5,192 4,997 3,294 57,62 1,58 1 3 7,3635 -4,5051 1,02 8,03 6,25
60
1,683 5,611 5,378 3,695 51,85 1,52 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,77 6,82
PETANI 2 2,829 5,068 6,168 3,339 51,78 1,52 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,77 6,82 6,86
2,819 5,276 6,239 3,420 54,27 1,54 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,91 6,93
2,826 5,274 6,168 3,342 57,81 1,58 5 6 7,7261 -6,2884 1,59 12,55 9,76
PETANI 1 2,795 5,166 6,075 3,280 57,50 1,58 4 5 7,7261 -6,2884 1,46 11,51 8,95 9,80
1,703 5,145 4,925 3,222 59,68 1,60 6 7 7,7261 -6,2884 1,72 13,73 10,68
74
1,683 5,502 5,240 3,557 54,68 1,55 3 4 7,7261 -6,2884 1,33 10,30 8,01
PETANI 2 2,829 5,244 6,277 3,448 52,09 1,52 3 4 7,7261 -6,2884 1,33 10,13 7,88 7,97
2,819 5,674 6,483 3,664 54,86 1,55 3 4 7,7261 -6,2884 1,33 10,31 8,02
2,826 5,065 5,959 3,133 61,67 1,62 4 2 7,5862 -2,9061 0,65 5,23 4,07
PETANI 1 2,795 5,024 5,989 3,194 57,29 1,57 4 2 7,5862 -2,9061 0,65 5,09 3,96 4,29
1,701 5,115 4,894 3,193 60,19 1,60 5 3 7,5862 -2,9061 0,78 6,24 4,85
88
1,683 5,170 4,939 3,256 58,78 1,59 6 4 7,5862 -2,9061 0,91 7,23 5,62
PETANI 2 2,829 5,071 6,145 3,316 52,93 1,53 4 2 7,5862 -2,9061 0,65 4,94 3,85 5,00
2,816 5,019 6,027 3,211 56,31 1,56 6 4 7,5862 -2,9061 0,91 7,11 5,53
2,826 5,169 6,208 3,382 52,84 1,53 -1 3 6,3063 -4,1416 1,13 8,65 6,73
PETANI 1 2,795 5,070 5,981 3,186 59,13 1,59 -1 3 6,3063 -4,1416 1,13 9,01 7,01 7,16
1,703 5,109 5,019 3,316 54,07 1,54 0 4 6,3063 -4,1416 1,29 9,95 7,74
102
1,683 5,023 5,076 3,393 48,04 1,48 1 5 6,3063 -4,1416 1,45 10,73 8,35
PETANI 2 2,829 5,051 6,155 3,326 51,86 1,52 -1 3 6,3063 -4,1416 1,13 8,60 6,69 7,52
2,819 5,606 6,553 3,734 50,13 1,50 0 4 6,3063 -4,1416 1,29 9,69 7,54
Lampiran 9 Data analisis penghitungan kadar nitrat (N-NO3-) daerah Kejajar Wonosobo
Cwn Tnh Cwn+Tnh Tnh Abs Abs [NO3-]
kosong Bsh 105oC Krng % Abs Abs- [N-NO3]
Hari Petani Fk 210 275 fp Abs*fp slope intercept kurva [NO3- ] rerata
KA terkoreksi blanko (mg/kg)
g g g g nm nm (mg/l) (mg/kg)
2,850 5,010 6,564 3,714 34,89 1,35 488 4 484 10 4840 4800 415,0 42,1 11,465 77,33 17,46
PETANI 1 15,44
2,850 5,010 6,564 3,714 34,89 1,35 378 4 374 10 3740 3700 415,0 42,1 8,814 59,45 13,42
0
1,710 5,020 5,442 3,732 34,51 1,35 675 5 670 10 6700 6660 415,0 42,1 15,947 107,25 24,22
24,55
PETANI 2 1,710 5,020 5,442 3,732 34,51 1,35 694 6 688 10 6880 6840 415,0 42,1 16,380 110,17 24,88
2,847 5,053 5,989 3,142 60,82 1,61 513 -2 515 10 5150 5270 125,17 -5,8703 42,15 338,93 76,53
PETANI 1 2,830 5,082 5,980 3,150 61,33 1,61 506 8 498 10 4980 5100 125,17 -5,8703 40,79 329,05 74,30 78,88
2,815 5,207 5,998 3,183 63,59 1,64 568 -1 569 10 5690 5810 125,17 -5,8703 46,46 380,05 85,82
7
2,822 5,047 6,036 3,214 57,03 1,57 649 1 648 10 6480 6600 125,17 -5,8703 52,78 414,37 93,57
PETANI 2 2,838 5,123 6,118 3,280 56,19 1,56 725 1 724 10 7240 7360 125,17 -5,8703 58,85 459,56 103,77 98,34
1,715 5,018 4,869 3,154 59,10 1,59 668 0 668 10 6680 6800 125,17 -5,8703 54,37 432,54 97,67
1,705 5,554 5,119 3,414 62,68 1,63 307 -2 309 20 6180 6300 127 -9,7782 49,68 404,13 91,26
PETANI 1 2,828 5,137 5,989 3,161 62,51 1,63 273 -2 275 20 5500 5620 127 -9,7782 44,33 360,20 81,34
2,822 5,029 5,938 3,116 61,39 1,61 338 0 338 20 6760 6880 127 -9,7782 54,25 437,78 98,85 90,48
18
1,698 5,165 4,954 3,256 58,63 1,59 394 -1 395 20 7900 8020 127 -9,7782 63,23 501,48 113,24
PETANI 2 2,835 5,278 6,229 3,394 55,51 1,56 421 0 421 20 8420 8540 127 -9,7782 67,32 523,45 118,20
2,821 5,148 6,109 3,288 56,57 1,57 355 -1 356 20 7120 7240 127 -9,7782 57,08 446,89 100,91 110,78
2,830 5,080 5,958 3,128 62,40 1,62 474 2 472 20 9440 9320 123,58 -3,2133 75,443 612,61 138,33
PETANI 1 2,820 5,070 6,221 3,401 49,07 1,49 321 2 319 20 6380 6260 123,58 -3,2133 50,681 377,76 85,30 105,05
2,830 5,130 5,997 3,167 61,98 1,62 318 3 315 20 6300 6180 123,58 -3,2133 50,034 405,23 91,50
31
2,840 5,150 6,116 3,276 57,20 1,57 516 18 498 20 9960 9840 123,58 -3,2133 79,651 626,07 141,37
PETANI 2 2,820 5,060 6,057 3,237 56,32 1,56 411 6 405 20 8100 7980 123,58 -3,2133 64,600 504,90 114,01 127,40
1,720 5,100 5,013 3,293 54,87 1,55 457 3 454 20 9080 8960 123,58 -3,2133 72,530 561,65 126,82
2,826 5,065 5,959 3,133 61,67 1,62 355 2 353 20 7060 7960 131,07 -10,937 60,81 491,58 111,00
PETANI 1 2,795 5,024 5,989 3,194 57,29 1,57 353 2 351 20 7020 7920 131,07 -10,937 60,51 475,89 107,46 107,74
1,701 5,115 4,894 3,193 60,19 1,60 336 2 334 20 6680 7580 131,07 -10,937 57,92 463,88 104,75
46
1,683 5,17 4,939 3,256 58,78 1,59 444 3 441 20 8820 9720 131,07 -10,937 74,24 589,42 133,10
PETANI 2 2,829 5,071 6,145 3,316 52,93 1,53 422 3 419 20 8380 9280 131,07 -10,937 70,89 542,01 122,39 129,28
2,816 5,019 6,027 3,211 56,31 1,56 449 3 446 20 8920 9820 131,07 -10,937 75,01 586,19 132,37
Lanjutan lampiran 9 Data analisis penghitungan kadar nitrat (N-NO3-) daerah Kejajar Wonosobo
Cwn Tnh Cwn+Tnh Tnh Abs Abs [NO3-]
kosong Bsh 105oC Krng Abs Abs- [N-NO3 ]
Hari Petani % KA Fk 210 275 fp Abs*fp slope intercept kurva [NO3- ] rerata
terkoreksi blanko (mg/kg)
g g g g nm nm (mg/l) (mg/kg)
2,826 5,320 6,155 3,329 59,81 1,60 345 0 345 20 6900 7980 123,39 -25,068 64,88 518,39 117,05
PETANI 1 2,795 5,038 5,935 3,140 60,45 1,60 358 -1 359 20 7180 8260 123,39 -25,068 67,15 538,66 121,63 119,01
1,703 5,192 4,997 3,294 57,62 1,58 354 -1 355 20 7100 8180 123,39 -25,068 66,50 524,06 118,34
60
1,683 5,611 5,378 3,695 51,85 1,52 428 1 427 20 8540 9620 123,39 -25,068 78,17 593,50 134,02
PETANI 2 2,829 5,068 6,168 3,339 51,78 1,52 376 0 376 20 7520 8600 123,39 -25,068 69,90 530,48 119,79 128,48
2,819 5,276 6,239 3,420 54,27 1,54 411 0 411 20 8220 9300 123,39 -25,068 75,57 582,94 131,63
2,826 5,274 6,168 3,342 57,81 1,58 497 1 496 20 9920 9960 125,33 -2,5188 79,49 627,22 141,63
PETANI 1 2,795 5,166 6,075 3,280 57,50 1,58 352 -1 353 20 7060 7100 125,33 -2,5188 56,67 446,28 100,77 122,15
1,703 5,145 4,925 3,222 59,68 1,60 430 1 429 20 8580 8620 125,33 -2,5188 68,80 549,30 124,04
74
1,683 5,502 5,240 3,557 54,68 1,55 492 0 492 20 9840 9880 125,33 -2,5188 78,85 609,84 137,71
PETANI 2 2,829 5,244 6,277 3,448 52,09 1,52 526 0 526 20 10520 10560 125,33 -2,5188 84,28 640,88 144,72 136,75
2,819 5,674 6,483 3,664 54,86 1,55 457 1 456 20 9120 9160 125,33 -2,5188 73,11 566,06 127,82
2,826 5,080 6,077 3,251 56,26 1,56 434 -11 445 20 8900 9340 125,47 -5,8362 74,49 581,96 131,41
PETANI 1 2,795 5,011 6,064 3,269 53,29 1,53 431 -11 442 20 8840 9280 125,47 -5,8362 74,01 567,23 128,08 126,85
1,703 5,071 4,939 3,236 56,71 1,57 396 -11 407 20 8140 8580 125,47 -5,8362 68,43 536,16 121,07
88
1,683 5,187 5,031 3,348 54,93 1,55 332 -10 342 20 6840 7280 125,47 -5,8362 58,07 449,82 101,57
PETANI 2 2,829 5,076 6,189 3,360 51,07 1,51 495 -11 506 20 10120 10560 125,47 -5,8362 84,21 636,09 143,63 133,27
2,819 5,022 6,141 3,322 51,17 1,51 535 -11 546 20 10920 11360 125,47 -5,8362 90,59 684,71 154,61
2,826 5,169 6,208 3,382 52,84 1,53 402 0 402 20 8040 8620 125,5 -8,8891 68,76 525,43 118,65
PETANI 1 2,795 5,070 5,981 3,186 59,13 1,59 463 0 463 20 9260 9840 125,5 -8,8891 78,48 624,42 141,00 139,44
1,703 5,109 5,019 3,316 54,07 1,54 543 0 543 20 10860 11440 125,5 -8,8891 91,23 702,77 158,69
102
1,683 5,023 5,076 3,393 48,04 1,48 470 0 470 20 9400 9980 125,5 -8,8891 79,59 589,15 133,03
PETANI 2 2,829 5,051 6,155 3,326 51,86 1,52 467 0 467 20 9340 9920 125,5 -8,8891 79,11 600,73 135,65 123,01
2,819 5,606 6,553 3,734 50,13 1,50 341 -1 342 20 6840 7420 125,5 -8,8891 59,19 444,35 100,34
Lampiran 10 Data analisis penghitungan kadar amonium ( N-NH4+) daerah Sumowono Semarang
Cwn Cwn+Tnh [NH4+]
Tnh Bsh Tnh Krng % Abs [NH4+ ] [N-NH4 ]
Hari Petani kosong 105oC Fk Abs 636 nm Slope Intercept Kurva Rerata
KA terkoreksi (mg/kg) (mg/kg)
g g g g (mg/l)
5,236 5,028 9,767 4,531 10,97 1,11 37 35 7,8000 -6,9000 5,37 29,81 23,18
PETANI 1 22,63
5,236 5,028 9,767 4,531 10,97 1,11 35 33 7,8000 -6,9000 5,12 28,38 22,08
0
2,840 5,030 7,038 4,198 19,82 1,20 70 68 7,8000 -4,2000 9,26 55,45 43,13
41,94
PETANI 2
2,840 5,030 7,038 4,198 19,82 1,20 66 64 7,8000 -4,2000 8,744 52,38 40,74
2,825 5,246 6,510 3,685 42,36 1,42 39 38 7,8737 -3,1672 5,23 37,22 28,95
PETANI 1 2,911 5,084 6,433 3,522 44,35 1,4`4 5 4 7,8737 -3,1672 0,91 6,57 5,11 13,24
3,418 5,019 6,996 3,578 40,27 1,40 6 5 7,8737 -3,1672 1,04 7,28 5,66
7
3,401 5,536 7,273 3,872 42,98 1,43 7 6 7,8737 -3,1672 1,16 8,32 6,47
PETANI 2 3,429 5,676 7,350 3,921 44,76 1,45 6 5 7,8737 -3,1672 1,04 7,51 5,84 6,47
3,323 5,304 7,078 3,755 41,25 1,41 8 7 7,8737 -3,1672 1,29 9,12 7,09
2,813 5,388 6,594 3,781 42,50 1,43 5 4 6,9863 -4,4505 1,21 8,62 6,70
PETANI 1 1,705 5,105 5,309 3,604 41,65 1,42 4 3 6,9863 -4,4505 1,07 7,55 5,87
3,415 5,055 6,989 3,574 41,44 1,41 2 1 6,9863 -4,4505 0,78 5,52 4,29 5,62
18
3,551 5,122 6,923 3,372 51,90 1,52 5 4 6,9863 -4,4505 1,21 9,19 7,15
PETANI 2 3,407 5,194 7,003 3,596 44,44 1,44 6 5 6,9863 -4,4505 1,35 9,77 7,60
3,354 5,018 6,846 3,492 43,70 1,44 5 4 6,9863 -4,4505 1,21 8,69 6,76 7,17
2,813 5,388 6,594 3,781 42,50 1,43 3 2 7,0043 -3,6092 0,80 5,71 4,44
PETANI 1 1,705 5,105 5,309 3,604 41,65 1,42 3 2 7,0043 -3,6092 0,80 5,67 4,41 4,68
3,415 5,055 6,989 3,574 41,44 1,41 4 3 7,0043 -3,6092 0,94 6,67 5,19
31
3,551 5,122 6,923 3,372 51,90 1,52 6 5 7,0043 -3,6092 1,23 9,34 7,26
PETANI 2 3,407 5,194 7,003 3,596 44,44 1,44 6 5 7,0043 -3,6092 1,23 8,88 6,90 6,48
3,354 5,018 6,846 3,492 43,70 1,44 4 3 7,0043 -3,6092 0,94 6,78 5,27
2,706 5,045 6,052 3,346 50,78 1,51 3 3 7,3447 -4,6246 1,04 7,83 6,09
PETANI 1 2,818 5,033 6,374 3,556 41,54 1,42 2 2 7,3447 -4,6246 0,90 6,38 4,96 5,32
2,803 5,174 6,491 3,688 40,29 1,40 2 2 7,3447 -4,6246 0,90 6,33 4,92
46
2,829 5,091 6,439 3,610 41,02 1,41 2 2 7,3447 -4,6246 0,90 6,36 4,95
PETANI 2 2,810 5,107 6,414 3,604 41,70 1,42 3 3 7,3447 -4,6246 1,04 7,36 5,72 4,94
2,846 5,046 6,456 3,610 39,78 1,40 1 1 7,3447 -4,6246 0,77 5,35 4,16
Lanjutan lampiran 10 Data analisis penghitungan kadar amonium ( N-NH4+) daerah Sumowono Semarang
Cwn Cwn+Tnh Tnh [NH4+]
Tnh Bsh Abs [NH4+ ] [N-NH4 ]
Hari Petani kosong 105oC Krng % KA Fk Abs 636 nm Slope Intercept Kurva Rerata
terkoreksi (mg/kg) (mg/kg)
g g g g (mg/l)
2,768 5,410 6,596 3,828 41,33 1,41 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,16 6,35
PETANI 1 2,808 5,142 6,432 3,624 41,89 1,42 3 5 7,3635 -4,5051 1,29 9,16 7,12 6,61
2,804 5,695 6,823 4,019 41,70 1,42 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,18 6,36
60
2,790 5,347 6,612 3,822 39,90 1,40 2 4 7,3635 -4,5051 1,16 8,08 6,28
PETANI 2 2,833 5,558 6,834 4,001 38,92 1,39 3 5 7,3635 -4,5051 1,29 8,97 6,97 6,77
1,691 5,181 5,376 3,685 40,60 1,41 3 5 7,3635 -4,5051 1,29 9,07 7,06
2,768 5,343 6,526 3,758 42,18 1,42 2 3 7,7261 -6,2884 1,20 8,55 6,65
PETANI 1 2,808 5,211 6,513 3,705 40,65 1,41 3 4 7,7261 -6,2884 1,33 9,36 7,28 7,79
2,804 5,365 6,600 3,796 41,33 1,41 6 7 7,7261 -6,2884 1,72 12,15 9,45
74
2,790 5,340 6,610 3,820 39,79 1,40 4 5 7,7261 -6,2884 1,46 10,21 7,94
PETANI 2 2,833 5,771 6,941 4,108 40,48 1,40 4 5 7,7261 -6,2884 1,46 10,26 7,98 8,41
1,691 5,395 5,569 3,878 39,12 1,39 6 7 7,7261 -6,2884 1,72 11,96 9,31
2,706 5,045 6,052 3,346 50,78 1,51 13 11 7,5862 -2,9061 1,83 13,82 10,75
PETANI 1 2,818 5,033 6,374 3,556 41,54 1,42 8 6 7,5862 -2,9061 1,17 8,31 6,46 8,35
2,803 5,174 6,491 3,688 40,29 1,40 10 8 7,5862 -2,9061 1,44 10,08 7,84
88
2,829 5,091 6,439 3,610 41,02 1,41 15 13 7,5862 -2,9061 2,10 14,78 11,50
PETANI 2 2,810 5,107 6,414 3,604 41,70 1,42 14 12 7,5862 -2,9061 1,96 13,92 10,83 11,96
2,846 5,046 6,456 3,610 39,78 1,40 18 16 7,5862 -2,9061 2,49 17,42 13,55
2,768 5,500 6,677 3,909 40,70 1,41 0 4 6,3063 -4,1416 1,29 9,08 7,06
PETANI 1 2,808 5,320 6,569 3,761 41,45 1,41 -1 3 6,3063 -4,1416 1,13 8,01 6,23 6,21
2,804 5,004 6,358 3,554 40,80 1,41 -2 2 6,3063 -4,1416 0,97 6,86 5,33
102
2,790 5,012 6,473 3,683 36,08 1,36 -1 3 6,3063 -4,1416 1,13 7,71 5,99
PETANI 2 2,833 5,076 6,512 3,679 37,97 1,38 -3 1 6,3063 -4,1416 0,82 5,62 4,37 5,13
1,691 5,221 5,636 3,945 32,34 1,32 -2 2 6,3063 -4,1416 0,97 6,44 5,01
Lampiran 11 Data analisis penghitungan kadar nitrat (N-NO3-) daerah Sumowono Semarang
Cwn Tnh Cwn+Tnh Tnh Abs Abs [NO3-]
kosong Bsh 105oC Krng % Abs Abs- [N-NO3 ]
Hari Petani Fk 210 275 fp Abs*fp slope intercept kurva [NO3- ] rerata
KA terkoreksi blanko (mg/kg)
g g g g nm nm (mg/l) (mg/kg)
5.236 5.028 9.767 4.531 10,97 1,11 208 -12 220 10 2200 2160 131,2 16,1 16,341 90,67 20,47
PETANI 1 19,71
5.236 5.028 9.767 4.531 10,97 1,11 191 -13 204 10 2040 2000 131,2 16,1 15,121 83,90 18,94
0
2,840 5,030 7,038 4,198 19,82 1,20 236 3 233 10 2330 2290 415,0 42,1 5,417 32,45 7,33
7,87
PETANI 2
2,840 5,030 7,038 4,198 19,82 1,20 269 3 266 10 2660 2620 415,0 42,1 6,212 37,21 8,40
2,825 5,246 6,510 3,685 42,36 1,42 419 -1 420 10 4200 4320 125,17 -5,8703 34,56 246,00 55,55
PETANI 1 2,911 5,084 6,433 3,522 44,35 1,44 401 -2 403 10 4030 4150 125,17 -5,8703 33,20 239,63 54,11 56,74
3,418 5,019 6,996 3,578 40,27 1,40 474 8 466 10 4660 4780 125,17 -5,8703 38,23 268,17 60,55
7
3,401 5,536 7,273 3,872 42,98 1,43 532 -2 534 10 5340 5460 125,17 -5,8703 43,67 312,17 70,49
PETANI 2 3,429 5,676 7,350 3,921 44,76 1,45 549 -3 552 10 5520 5640 125,17 -5,8703 45,11 326,47 73,72 71,45
3,323 5,304 7,078 3,755 41,25 1,41 538 0 538 10 5380 5500 125,17 -5,8703 43,99 310,66 70,15
2,813 5,388 6,594 3,781 42,50 1,43 272 -2 274 20 5480 5600 127 -9,7782 44,17 314,73 71,07
PETANI 1 1,705 5,105 5,309 3,604 41,65 1,42 274 -1 275 20 5500 5620 127 -9,7782 44,33 313,96 70,89
3,415 5,055 6,989 3,574 41,44 1,41 251 -2 253 20 5060 5180 127 -9,7782 40,86 288,99 65,26 69,07
18
3,551 5,122 6,923 3,372 51,90 1,52 318 -3 321 20 6420 6540 127 -9,7782 51,57 391,69 88,45
PETANI 2 3,407 5,194 7,003 3,596 44,44 1,44 308 -2 310 20 6200 6320 127 -9,7782 49,84 359,95 81,28
3,354 5,018 6,846 3,492 43,70 1,44 340 -3 343 20 6860 6980 127 -9,7782 55,04 395,45 89,29 86,34
5,090 5,730 9,148 4,058 41,20 1,41 329 5 324 20 6480 6360 123,58 -3,2133 51,491 363,53 82,09
PETANI 1 5,130 5,720 9,160 4,030 41,94 1,42 339 5 334 20 6680 6560 123,58 -3,2133 53,109 376,90 85,11 84,89
5,070 5,470 8,865 3,795 44,14 1,44 349 11 338 20 6760 6640 123,58 -3,2133 53,756 387,41 87,48
31
5,060 5,090 8,597 3,537 43,91 1,44 413 14 399 20 7980 7860 123,58 -3,2133 63,629 457,83 103,38
PETANI 2 5,200 5,380 8,961 3,761 43,05 1,43 327 2 325 20 6500 6380 123,58 -3,2133 51,652 369,44 83,42 94,83
5,100 5,800 9,138 4,038 43,64 1,44 385 7 378 20 7560 7440 123,58 -3,2133 60,230 432,56 97,67
2,706 5,045 6,052 3,346 50,78 1,51 333 5 328 20 6560 7460 131,07 -10,937 57,00 429,71 97,03
PETANI 1 2,818 5,033 6,374 3,556 41,54 1,42 355 5 350 20 7000 7900 131,07 -10,937 60,36 427,13 96,45 94,75
2,803 5,174 6,491 3,688 40,29 1,40 335 5 330 20 6600 7500 131,07 -10,937 57,30 401,97 90,77
46
2,829 5,091 6,439 3,61 41,02 1,41 344 5 339 20 6780 7680 131,07 -10,937 58,68 413,75 93,43
PETANI 2 2,810 5,107 6,414 3,604 41,70 1,42 370 5 365 20 7300 8200 131,07 -10,937 62,65 443,85 100,23 95,50
2,846 5,046 6,456 3,61 39,78 1,40 345 5 340 20 6800 7700 131,07 -10,937 58,83 411,16 92,84
Lanjutan lampiran 11 Data analisis penghitungan kadar nitrat (N-NO3-) daerah Sumowono Semarang
Cwn Tnh Cwn+Tnh Tnh Abs Abs [NO3-]
kosong Bsh 105oC Krng Abs Abs- [N-NO3 ]
Hari Petani % KA Fk 210 275 fp Abs*fp slope intercept kurva [NO3- ] rerata
terkoreksi blanko (mg/kg)
g g g g nm nm (mg/l) (mg/kg)
2,768 5,410 6,596 3,828 41,33 1,41 366 0 366 20 7320 8400 123,39 -25,068 68,28 482,49 108,95
PETANI 1 2,808 5,142 6,432 3,624 41,89 1,42 392 0 392 20 7840 8920 123,39 -25,068 72,49 514,30 116,13 111,27
2,804 5,695 6,823 4,019 41,70 1,42 364 0 364 20 7280 8360 123,39 -25,068 67,96 481,47 108,72
60
2,790 5,347 6,612 3,822 39,90 1,40 392 -1 393 20 7860 8940 123,39 -25,068 72,66 508,23 114,76
PETANI 2 2,833 5,558 6,834 4,001 38,92 1,39 387 -1 388 20 7760 8840 123,39 -25,068 71,85 499,02 112,68 115,03
1,691 5,181 5,376 3,685 40,60 1,41 402 0 402 20 8040 9120 123,39 -25,068 74,12 521,02 117,65
2,768 5,343 6,526 3,758 42,18 1,42 417 0 417 20 8340 8380 125,33 -2,5188 66,88 475,46 107,36
PETANI 1 2,808 5,211 6,513 3,705 40,65 1,41 408 0 408 20 8160 8200 125,33 -2,5188 65,45 460,25 103,93 108,30
2,804 5,365 6,600 3,796 41,33 1,41 447 3 444 20 8880 8920 125,33 -2,5188 71,19 503,09 113,60
74
2,790 5,340 6,610 3,820 39,79 1,40 473 2 471 20 9420 9460 125,33 -2,5188 75,50 527,72 119,16
PETANI 2 2,833 5,771 6,941 4,108 40,48 1,40 508 2 506 20 10120 10160 125,33 -2,5188 81,09 569,56 128,61 119,28
1,691 5,395 5,569 3,878 39,12 1,39 436 -1 437 20 8740 8780 125,33 -2,5188 70,08 487,44 110,07
2,768 5,095 6,428 3,660 39,21 1,39 502 -12 514 20 10280 10720 125,47 -5,8362 85,49 595,01 134,36
PETANI 1 2,808 5,119 6,491 3,683 38,99 1,39 413 -12 425 20 8500 8940 125,47 -5,8362 71,30 495,49 111,88 118,79
2,804 5,225 6,546 3,742 39,63 1,40 404 -12 416 20 8320 8760 125,47 -5,8362 69,86 487,76 110,14
88
2,790 5,021 6,532 3,742 34,18 1,34 445 -13 458 20 9160 9600 125,47 -5,8362 76,56 513,63 115,98
PETANI 2 2,833 5,201 6,716 3,883 33,94 1,34 449 -13 462 20 9240 9680 125,47 -5,8362 77,20 517,00 116,74 120,02
1,691 5,118 5,389 3,698 38,40 1,38 476 -13 489 20 9780 10220 125,47 -5,8362 81,50 563,98 127,35
2,768 5,500 6,677 3,909 40,70 1,41 430 -1 431 20 8620 9200 125,5 -8,8891 73,38 516,21 116,56
PETANI 1 2,808 5,320 6,569 3,761 41,45 1,41 426 -1 427 20 8540 9120 125,5 -8,8891 72,74 514,46 116,17 115,78
2,804 5,004 6,358 3,554 40,80 1,41 423 0 423 20 8460 9040 125,5 -8,8891 72,10 507,60 114,62
102
2,790 5,012 6,473 3,683 36,08 1,36 467 -1 468 20 9360 9940 125,5 -8,8891 79,27 539,40 121,80
PETANI 2 2,833 5,076 6,512 3,679 37,97 1,38 463 -1 464 20 9280 9860 125,5 -8,8891 78,64 542,48 122,50 125,92
1,691 5,221 5,636 3,945 32,34 1,32 530 -1 531 20 10620 11200 125,5 -8,8891 89,31 591,01 133,45