You are on page 1of 2

Nama : Gusti Ngurah Dwiantara

NIM : P07134015014

Prodi : DIII Analis Kesehatan

Bahasa Indonesia

Soal:

Sudahkah bahasa Indonesia sesuai dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional dan bahasa
Negara?

Jawab:

Sudah, karena kelahiran bahasa Indonesia tidak akan lepas dari ikrar Sumpah Pemuda pada
28 Oktober 1982. Yang berisi:

1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kedudukan pertama dari bahasa Indonesia sabagai bahasa nasional dibuktikan dengan
digunakannya bahasa Indonesia dalam bulir- bulir Sumpah Pemuda.

1. Bahasa Indonesia sebagai kebangaan Bangsa


Kedudukan kedua ini dibuktikan dengan masih digunakkannya bahasa Indonesia
hingga saat ini juga. Hal ini membuktikan betapa besarnya kebanggaan dan rasa cinta
bangsa Indonesia terhadap bahasanya sendiri. Tidak seperti Negara lain yang harus
menggunakan bahsa Negara persemakmurannya.

2. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan pemersatu bangsa yang berbeda suku,
agama, ras adat dan budaya
Kedudukan ketiga adalah bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dibuktikan
dengan digunakannya bahsa Indonesia pada kegiatan sehari – hari seperti pada media-
media komunikasi atau pada acara-lainnya.

Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara bersumber pada Undang-Undang


Dasar 1945 bab XV pasal 36 yang berbunyi, “ Bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.”
Landasan konstitusional ini memberikan kedudukan yang kuat bagi bahasa Indonesia untuk
digunakan dalam berbagai kegiatan dan urusan kenegaraan.
Dan sebagai bahasa Negara berarti bahasa Indonesia adalah bahasa resmi. Dengan begitu
bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tertib, cermat, dan masuk akal.
Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan baku. Tingkat kebakuanya diukur oleh
aturan kebahasaan dan logika pemakaia. Dari dua tugas itu, posisi bahasa Indonesia perlu

1
mendapatkan perhatian khusus terutama bagi pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan
penerapan seperti tersebut diatas. Maka bahasa indonesia tidak akan terpinggirkan oleh
bahasa asing karena dalam sejarahnya sendiri bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan.

1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan


Kedudukan pertama dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan digunakannya bahasa Indonesia dalam naskah proklamasi
kemerdekaan RI 1945. Mulai saat itu dipakailah bahasa Indonesia dalam segala
upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan baik dalam bentuk lisan maupun tulis.

2. Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan


Kedudukan kedua dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di lembaga
pendidikan dari taman kanak-kanak, maka materi pelajaran yang berbentuk media
cetak juga harus berbahasa Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan menerjemahkan
buku-buku yang berbahasa asing atau menyusunnya sendiri. Cara ini akan sangat
membantu dalam meningkatkan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu
pengetahuan dan teknolologi (iptek).

3. Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan


perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah
Kedudukan ketiga dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan digunakannya Bahasa Indonesia dalam hubungan antar badan
pemerintah dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu
hendaknya diadakan penyeragaman sistem administrasi dan mutu media komunikasi
massa. Tujuan agar isi atau pesan yang disampaikan dapat dengan cepat dan tepat
diterima oleh masyarakat.

4. Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu


dan Teknologi.
Kedudukan keempat dari Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara
dibuktikan dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi, baik melalui buku-
buku pelajaran, buku-buku populer, majalah-majalah ilmiah maupun media cetak
lainnya. Karena sangatlah tidak mungkin bila suatu buku yang menjelaskan tentang
suatu kebudayaan daerah, ditulis dengan menggunakan bahasa daerah itu sendiri, dan
menyebabkan orang lain belum tentu akan mengerti.