You are on page 1of 2

4.

3 emotional labor

Selain physical & mental labor, semua pekerjaan juga mengharuskan


setiap karyawan untuk menggunakan emotional labor.

Emotional labor adalah komponen kunci dari performa kerja yang efektif.
Seperti halnya:
 Kita berekpektasi Pramugari untuk menyenangkan
 Direktur pemakaman (ini dari sananya gini) harus sedih
 Emosi dokter pada saat menangani pasien harus netral, dsb
Sama seperti seorang manager yang mengharapkan karyawannya untuk
sopan dan tidak saling bermusuhan dengan rekan kerjanya yang lain.

Untuk menganalisa emotional labor, kita membagi emosi menjadi felt


emotions (emosi yang dirasakan) dan displayed emotions (emosi yang
ditampilkan).

Felt emotions adalah emosi kita yang sebenarnya. Sedangkan displayed


emotions adalah apa yang perusahaan butuhkan untuk ditampilkan oleh
karyawan, dan dianggap tepat dalam pekerjaan tertentu.
Contohnya:
Manager harus terlihat serius ketika memberikan evaluasi pada karyawan
yang performa kerjanya buruk, tetapi harus terlihat tenang ketika
dimarahi oleh GM.

Maka dari itu, menampilkan emosi palsu mengharuskan kita untuk


menekan emosi yang sebenarnya.

Surface acting adalah menyembunyikan perasaan yang asli dan ekspresi


emosional sebagai respon terhadap peraturan yang ada.
contohnya:
karyawan yang tersenyum kepada customer walaupun dia sedang
badmood.
Deep acting adalah merubah perasaan yang asli berdasarkan peraturan
yang ada.
Oleh sebab itu, surface acting deals with displayed emotions dan deep
acting deals with felt emotions.

Emotional Dissonance (disonansi emosional) adalah ketika seorang


karyawan harus menjalankan suatu emosi tertentu padahal yang
dirasakannya adalah emosi lain. Jika disonansi emosional ini berlangsung
dalam kurun waktu yang lama akan menyebabkan: kelelahan kerja,
penurunan kinerja dan rendahnya kepuasan kerja.

4.4 Affective Events Theory (AET)


AET adalah sebuah model yang menunjukkan bahwa suatu kejadian di
tempat kerja menyebabkan reaksi emosional pada pihak karyawan, yang
kemudian mempengaruhi sikap dan perilaku di tempat kerja.
Contohnya:
Ketika suatu perusahaan mengalami pengurangan karyawan, karyawan
akan merasakan lebih banyak emosi negatif karena khawatir akan
dipecat. Hal ini menyebabkan karyawan tersebut insecure dan takut,
sehingga menghabiskan lebih banyak waktu untuk menghawatirkan hal
tersebut daripada untuk bekerja. Inilah salah satu contoh nyata penururan
kinerja.