You are on page 1of 6

Analisis Jurnal

Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang


Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS.
DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 – Desember 2012

Peneliti : Erdina dkk

Topik : Jurnal Kesehatan Andalas. 2016

Tahun : 2016

Vol dan Halaman : 5(3)

Latar Belakang

Kejang demam didefinisikan sebagai bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38°C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Kejang
demam merupakan kejang yang paling sering terjadi pada anak. Sebanyak 2% sampai 5%
anak yang berumur kurang dari 5 tahun pernah mengalami kejang disertai demam dan
kejadian terbanyak adalah pada usia 17-23 bulan. Secara umum kejang demam memiliki
prognosis yang baik, meskipun memiliki prognosis yang baik, namun kejang demam tetap
menjadi hal yang menakutkan bagi orang tua. Adanya faktor-faktor yang berhubungan
dengan terjadinya kejang demam berulang adalah riwayat kejang demam dalam keluarga,
usia kurang dari 12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang, dan cepatnya kejang setelah
demam.4 Selain empat faktor di atas, adanya faktor jenis kelamin, riwayat epilepsi dalam
keluarga, dan kejang demam kompleks pada kejang demam pertama juga ditambahkan
sebagai faktor prediktif kejang demam berulang.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan mengetahui gambaran faktor
yang menyebabkan terjadinya kejang berulang pada anak.

.
Metode

Penelitian ini merupakan deskriptif dengan tinjauan retrospektif dengan menggunakan


desain penelitian cross sectional yaitu variabel-variabel yang termasuk faktor risiko dan
variabel yang merupakan efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. Data yang
diteliti berupa data sekunder dari rekam medis pasien yang didiagnosis kejang demam di
Poliklinik Anak RS Dr. M. Djamil Padang. Populasi adalah semua pasien yang berobat ke
Poliklinik Anak RS Dr. M. Djamil Padang selama Januari 2010 – Desember 2012 dengan
diagnosis kejang demam berulang pada lebih dari satu episode demam. Penelitian ini
menggunakan total sampling di mana seluruh pasien kejang demam berulang pada periode
Januari 2010 – Desember 2012 diambil sebagai sampel

Hasil

Penelitian yang melibatkan 40 orang pasien yang mengalami kejang demam berulang
pada kurun waktu Januari 2010 hingga Desember 2012 pada penelitian ini ditemukan hampir
separuh kejang demam berulang terjadi pada pasien yang mengalami kejang demam pertama
pada usia 11 – 20 bulan, yaitu sebanyak 19 orang (47,5%). lebih dari separuh kejang demam
berulang terjadi pada pasien perempuan yaitu sebanyak 25 orang (62,5%). lebih dari separuh
kejang demam berulang terjadi pada pasien yang memiliki riwayat kejang demam dalam
keluarga yaitu sebanyak 29 pasien (72,5%). lebih dari separuh kejang demam berulang terjadi
pada kelompok pasien yang tidak memiliki riwayat epilepsi dalam keluarga yaitu sebanyak
39 orang (97,5%). terjadi pada pasien yang mengalami kejang demam sederhana pada kejang
demam pertama yaitu sebanyak 24 pasien (60%).

Kesimpulan

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kejang demam berulang didapatkan


dari kepustakaan meliputi usia pasien ketika mengalami kejang demam pertama pada usia 11
– 20 bulan, kebanyakan jenis kelamin pasien perempuan, riwayat kejang demam dalam
keluarga pasien, riwayat epilepsi dalam keluarga pasien, tipe kejang demam pertama pada
pasien mengalami kejang demam sederhana pada kejang demam pertama, durasi demam
sebelum bangkitan kejang demam pertama dan suhu tubuh pasien pada bangkitan kejang
demam pertama
kejang demam berulang terjadi pada pasien yang mengalami kejang demam pertama
pada usia 11 – 20 bulan, kejang demam berulang lebih banyak terjadi pada pasien dengan
jenis kelamin perempuan, kejang demam berulang juga lebih banyak terjadi pada pasien yang
memiliki riwayat kejang demam dalam keluarga, sebagian besar kejang demam berulang
terjadi pada kelompok pasien yang tidak memiliki riwayat epilepsi dalam keluarga, dan
kejang demam berulang lebih banyak terjadi pada pasien yang mengalami kejang demam
sederhana pada kejang demam pertama.
Elizabeth, J, Corwin. (2009). Buku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.

Brunner & Suddarth. 2008. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta: EGC

Carpenito, Lynda Juall- Moyet. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta :
EGC
Topik : obesity, mobilization, critically ill patients, physiotherapy

Penulis : Seher Ozyurek

Tahun : 2012

Judul : Respiratory and Hemodynamic Responses to Mobilization of Critically Ill

Obese

Jurnal : Cardiopulmonary Physical Therapy Journal

Vol dan Halaman : Vol 23 No 1

1. Patient (P)

Penelitian dilakukan di Institutional Review Board di Dokuz Universitas Eylul. Data


dikumpulkan dari file pasien dan formulir evaluasi fisioterapi. Pasien obesitas sakit kritis
yang menerima mobilisasi sesi dalam program fisioterapi mereka selama tinggal di ICU.
Anestesiologi dan Reanimasi Intensif Perawatan Unit rumah sakit universitas antara Januari
2007 dan Januari 2010 telah dimasukkan dalam penelitian ini. Pelajaran ini telah disetujui
oleh Institutional Review Board di Dokuz Universitas Eylul. Pasien diklasifikasikan sebagai
obesitas menurut definisi dari criteria Organisasi Kesehatan Dunia.

2. Intervention (I)

Desain Penelitian ini adalah retrospektif. Dari file 31 pasien yang menerima mobilisasi dalam
program fisioterapi mereka selama ICU tetap memenuhi semua aspek penelitian. Sebanyak
31 pasien obesitas menerima 37 sesi mobilisasi di ICU. Semua sesi mobilisasi dilakukan
setelah pasien yang diekstubasi. Peristiwa mobilisasi termasuk 26 (70,3%) duduk di tepi
tempat tidur, 3 (8,1%) berdiri, 8 (21,6%) berjalan ke kursi dan duduk di kursi. Sebanyak 7
temuan intoleransi tercatat di 6 pasien. Pasien memiliki temuan intoleransi. Ketidaktoleranan
Temuan termasuk kenaikan atau penurunan SBP (20 mmHg atau lebih), kenaikan atau
penurunan HR (20 denyut / menit atau lebih). Meskipun temuan intoleransi, tidak ada
kerusakan status klinis terjadi selama sesi mobilisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

mengetahui pengaruh mobilisasi pada parameter pernapasan dan hemodinamik di pasien sakit
kritis obesitas.
3. Comparator (C)

Jurnal 1

Penelitian ini menyelidiki hemodinamik dan tanggapan pernapasan untuk mobilisasi dini dan
efek dari mobilisasi pada oksigenasi. Meskipun 7 dari 37 sesi mobilisasi telah temuan
intoleransi, mobilisasi tidak menimbulkan kerusakan status klinis. Pada dua dari 7 intolerence
Temuan, besarnya SBP atau HR meningkat sangat kecil bila dibandingkan dengan memilih
temuan intoleransi (di satu pasien: 21 denyut / peningkatan menit di HR, di lain Pasien: 21
peningkatan mmHg di SBP). Tidak ada intervensi tertentu diterapkan selama mobilisasi
untuk menstabilkan kardiorespirasi parameter. Temuan utama dari studi ini adalah mobilisasi
yang dapat dilakukan dengan aman pada pasien sakit kritis obesitas jika parameter
kardiorespirasi terus dipantau. Temuan ini mirip dengan penelitian mobilisasi lainnya, yang
meneliti efek dari mobilisasi di pasien sakit kritis dengan diagnosis lainnya. Ada beberapa
hasil studi peneliti telah berspekulasi bahwa durasi duduk dan berjalan kaki dapat
mempengaruhi tanggapan cardiopulmonary dalam pemulihan. Dalam penelitian ini tidak
mengukur durasi duduk dan berjalan kaki ke kursi. Ini adalah keterbatasan dari penelitian.
Dalam penelitian ini, hanya 8 pasien (21,6%) berhasil berjalan ke kursi dan duduk di kursi.
Mayoritas pasien (N = 26, 70,3%) duduk di tepi tempat tidur.

Outcome

Pengaruh mobilisasi pada parameter hemodinamik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa HR berbeda secara signifikan ketika 3 tahap mobilisasi
dibandingkan (F = 3,79, p = 0.049). denyut jantung secara signifikan menurun dalam 5 menit
periode pemulihan bila dibandingkan dengan postmobilization nilai-nilai (p <0,05). Tidak
ada perbedaan yang signifikan dalam parameter hemodinamik lainnya (p> 0,05) (Tabel 2).