You are on page 1of 8

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian
Penelitian mengenai hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting
di dilaksanakan pada tanggal 8 Juni - 29 Juni 2018 di Desa Karanganyar,
Kecamatan Karanganyar. Pada penelitian ini diperoleh 47 sampel yang
memenuhi kriteria inklusi.
1. Karakteristik subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini, yaitu orang tua balita, diteliti
karakteristiknya berdasarkan latar belakang pendidikan dan pekerjaan.
Penelitian dilakukan pada 47 orang tua pemilik balita di Dusun I Desa
Karanganyar, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga dan dilakukan
pengambilan data pada subjek yang telah memenuhi kirteria inklusi dan
eksklusi.
Berdasarkan latar belakang pendidikan yang telah ditempuh oleh
responden, didapatkan hasil sesuai dengan grafik 4.1. dengan pembagian
menjadi empat kategori, yaitu tamat pendidikan sekolah dasar (SD),
tamat pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), tamat
pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), dan pertguruan tinggi.

Grafik 4.1. Distribusi frekuensi tingkat pendidikan responden


Berdasarkan grafik, diketahui bahwa mayoritas responden
memiliki latar belakang pendidikan tamat SLTP sebanyak 36,17 %,
diikuti dengan pendidikan tamat SLTA sebanyak 31,91 %, pendidikan
tamat SD sebanyak 27,66%, dan pendidikan perguruan tinggi sebanyak
4,26 %.
Berdasarkan latar belakang pekerjaan responden, didapatkan
hasil sesuai dengan grafik 4.2. dengan pembagian menjadi empat
kategori, yaitu buruh, ibu rumah tangga, pedagang, dan wiraswasta.
Dari grafik, diketahui bahwa mayoritas responden tidak bekerja (Ibu
rumah tangga) yaitu sebanyak 68,09 %, diikuti dengan pedagang
sebanyak 21,28 %, wiraswasta sebanyak 6,38 %, dan buruh sebanyak
4,26 % responden.

Grafik 4.2. Distribusi frekuensi pekerjaan responden

2. Status gizi anak berdasarkan tinggi badan sesuai usia


Pada penelitian ini dilakukan pengukuran tinggi atau panjang
badan untuk mengetahui status gizi dari anak responden jika dinilai
berdasarkan tinggi badan yang disesuaikan dengan usia anak (TB/U).
Berdasarkan tinggi badan yang disesuaikan dengan usia (TB/U), balita
dikategorikan menjadi balita normal dan balita stunting. Distribusi
frekuensi balita normal dan stunting ditunjukan pada Grafik 4.3. Dari
seluruh balita, didapatkan hasil sebanyak 57,45 % balita memiliki
tinggi badan yang normal sesuai dengan usianya, sementara sisanya
sebanyak 42,55 % balita diketahui memiliki tinggi badan yang kurang
dari nilai seharusnya sesuai dengan tinggi badannya (Stunting).

Grafik 4.3. Distribusi frekuensi balita berdasarkan status gizi


menurut tinggi/panjang badan (TB/U)

3. Pola Asuh Makan

Gambar 4.1. Pola asuh makan


Gambar di atas menunjukkan persentase pola asuh makan yang
diberikan orangtua terhadap anaknya dimana sebanyak 93.62% atau
sejumlah 44 balita mendapatkan pola asuh makan yang baik,
sedangkan sisanya sebanyak 6.38% atau 3 balita tidak mendapatkan
pola asuh makan yang baik. Berdasarkan hasil analisis univariat
dengan menggunakan uji Chi-Square diperoleh p= 0.787 (p>0.05)
hasil tersebut menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara
pola asuh makan yang diberikan ibu terhadap kejadian stunting. Maka
dapat dikatakan ibu yang memberikan perhatian dan dukungan
terhadap anak dalam hal ini akan memberikan dampak positif pada
keadaan status gizi anak. Hal ini dapat disebabkan karena sebagian
besar responden ibu adalah ibu rumah tangga, sehingga memiliki lebih
banyak waktu dan perhatian dalam pengasuhan makan anaknya. Hasil
ini sesuai atau sejalan dengan pendapat Husaini (2000), yang
mengatakan peran keluarga terutama ibu dalam mengasuh anak akan
menentukan tumbuh kembang anak. Serta menurut Sawadogo et al,
(2006) perilaku ibu dalam menyusui atau memberi makan, cara makan
yang sehat, memberi makanan yang bergizi dan mengontrol besar
porsi yang dihabiskan akan meningkatkan status gizi anak. Hal ini
sesuai dengan penelitian Sirajuddin (2013) yang menyatakan bahwa
pemberian pola asuh makan tidak memiliki hubungan yang signifikan
dengan baiknya status gizi anak.
4. Pola Asuh Kesehatan

Gambar 4.2. Pola Asuh Kesehatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 68.09% atau


sejumlah 32 balita mendapatkan pola asuh kesehatan yang baik.
Sedangkan sebesar 31.91% atau 15 balita tidak mendapatkan pola
asuh kesehatan yg baik. Pelaksanaan posyandu di desa karanganyar
dilakukan secara rutin setiap bulannya sehingga membantu pelayanan
kesehatan ibu dan balita. Kesehatan anak harus mendapat perhatian
dari orang tua yaitu dengan segera membawa anak yang sakit ke
tempat pelayanan kesehatan terdekat. Balita sangat rentan terhadap
berbagai macam penyakit, seperti infeksi saluran pernafasan, diare dan
campak (Soetjiningsih, 2001).
Berdasarkan hasil analisis univariat dengan menggunakan uji Chi-
Square diperoleh p=0.576 (p>0.05), hasil ini menunjukan tidak
adanya hubungan yang signifikan antara pemanfaatan pelayanan
kesehatan dengan pertumbuhan panjang badan anak dan kejadian
stunting. Dimana pada hasil penelitian ini para orangtua khususnya
ibu menggunakan pemanfaatan pelayanan kesehatan terdekat seperti
praktek bidan untuk penanganan segera saat anaknya sakit. Hasil
penelitian ini didukung dengan teori dan beberapa hasil penelitian
yang lain, yang mengatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan
mempengaruhi perkembangan anak. Pelayanan kesehatan adalah
akses atau keterjangkauan anak dan keluarga terhadap upaya
pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan seperti imunisasi,
pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, penimbangan anak,
penyuluhan kesehatan dan gizi, serta sarana kesehatan yang baik
seperti posyandu, puskesmas, praktek bidan atau dokter, rumah sakit,
dan pesediaan air bersih. Tidak terjangkaunya pelayanan kesehatan
(karena jauh dan atau tidak mampu membayar), kurangnya pendidikan
dan pengetahuan merupakan kendala masyarakat dan keluarga
memanfaatkan secara baik pelayanan kesehatan yang tersedia. Hal ini
dapat berdampak juga pada status gizi anak (Ayu, 2008). Kesehatan
anak harus mendapat perhatian dari para orang tua yaitu dengan cara
segera membawa anaknya yang sakit ketempat pelayanan kesehatan
yang terdekat (Soetjiningsih, 1995). Jika anak sakit hendaknya ibu
membawanya ketempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit,
klinik, puskesmas dan lain-lain (Zeitlin et al, 2000).
5. Pola Asuh Stimulasi Psikososial
Gambar 4.3. Pola Asuh Stimulasi Psikososial
Gambar di atas menunjukkan persentase pola asuh stimulasi
psikososial dimana sebanyak 21.28% atau sejumlah 10 balita
mendapatkan pola asuh stimulasi psikososial yang baik, sedangkan
sisanya sebanyak 78.72% atau 37 balita tidak mendapatkan pola asuh
stimulasi psikososial yang baik. Berdasarkan hasil analisis univariat
dengan menggunakan uji Chi-Square diperoleh hasil p=0,10 (p>0.05)
yang menunjukan tidak adanya hubungan yang signifikan antara
rangsangan psikososial dengan pertumbuhan panjang badan anak dan
kejadian stunting. Pada penelitian ini, asuhan psikososial yang
diberikan ibu responden terhadap anaknya menunjukkan hasil yg
buruk, tetapi hal ini tidak berpengaruh terhadap terjadinya stunting.
Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya oleh Zeitlin et al, (2000)
yang meniliti anak-anak yang tetap tumbuh dan berkembang dengan
baik dalam keterbatasan lingkungan dimana sebagian besar anak
lainnya mengalami kekurangan gizi. Dalam penelitian lain
menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan rangsangan psikososial
dari ibu dan lingkungan sekitar yang positif maka secara tidak
langsung akan memberikan dampak positif pula pada keadaan status
gizi anak. Dimana rangsangan psikososial menurut Atkinson dkk
(1991) adalah rangsangan berupa perilaku seseorang. Pendapat Engle
(2000), rangsangan psikososial yang baik berkaitan dengan kesehatan
anak sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi status gizi
anak. terhadap orang lain yang ada di sekitar lingkungannya seperti
orang tua, saudara kandung dan teman bermain.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh gizi, pola asuh
kesehatan, dan pola asuh psikososial dengan kejadian stunting pada balita
di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa Karanganyar.
2. Persentase balita stunting pada Posyandu Budi Rahayu 1 Desa
Karanganyar adalah 42,55%
3. Sebanyak 6,38% keluarga memiliki pola asuh makan yang buruk, 31,91%
pola asuh kesehatan buruk, dan 21,28% pola asuh psikososial buruk pada
balita di Posyandu Budi Rahayu 1 Desa Karanganyar

B. SARAN
1. Untuk mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting, diperlukan
penanganan dimulai sejak dini, seperti perlunya pemantauan pertumbuhan
balita dengan pengukuran tinggi badan secara berkala melalui posyandu.
2. Sosialisasi pemberian makanan tambahan, penyuluhan cara mengasuh dan
merawat anak, dan melaksanakan promosi kesehatan tentang makanan
seimbang bagi anak-anak dan balita agar ibu, keluarga, pengasuh dapat
mengetahui kebutuhan asupan makan yang diperlukan oleh balita dan
anak-anak.

DAFTAR PUSTAKA

A Nurul, 2012. Hubungan Antara Perilaku Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Gizi
dengan Status Gizi Balita di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten
Malang. Jurnal.
A.C Ross, dkk. 2014. Modern Nutrition In Health And Disease 11th Edition.
Lippincot Williams and Wilkins. USA.

Adi AC, Andrias DR, 2010. Balita Pada Rumahatangga Miskin Di Kabupaten
Prioritas Kerawanan Pangan Di Indonesia Lebih Rentan Mengalami
Gangguan Gizi. Jurnal. Universitas Airlangga.

Adriani M, Kartika V, 2011.Pola Asuh Makan Pada Balita Dengan Status Gizi
Kurang Di Jawa Timur, Jawa Tengah Dan Kalimantan Tengah,Tahun
2011.

Arisman MB, 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran.
Jakarta : ECG.
Diana FM, 2006. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Anak. Jurnal
Kesehatan Masyarakat.

Elizabeth B. Hurlock. 2005. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.


Engle PL, Bentley M, Pelto G, 2000. The Role of Care in Nutrition Programmers :
Current Research and a Research Ganda. Proceeding of The Nutrition
Society 59 : 25-35.