You are on page 1of 3

Kerja Sama Operasional (KSO) Dalam Bidang Perencanaan

Oleh: Izas Amar Mega Satiti

Dalam pembangunan nasional, jasa konstruksi mempunyai peranan penting dan


strategis mengingat jasa konstruksi menghasilkan produk akhir, baik yang berupa
sarana maupun prasarana yang berfungsi mendukung pertumbuhan dan perkembangan
berbagai bidang, terutama bidang ekonomi, sosial dan budaya untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur yang merata sebagaimana tercantum dalam Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Partisipasi swasta dalam pengadaan proyek-proyek infrastruktur tentunya


merupakan fenomena yang cukup baru dalam pelaksanaan proyek-proyek di Indonesia,
oleh karena itu penguasaan tanah oleh investor menjadi sangat penting karena tanah
adalah obyek utama dari pengembangan proyek-proyek itu sehingga akan timbul suatu
kecenderungan bahwa investor akan berupaya untuk menguasai tanah seluas-luasnya
dengan modal minim, yang memunculkan konsep baru seperti BOT (Build Operate
Transfer), BOO (Build Operate Own), BROT (Build Rent Operate Transfer), KSO
(Kerja Sama Operasional/Joint Operation), usaha patungan, ruislag dan sebagainya [2].

Kerja Sama Operasi (KSO) adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana
masing-masing sepakat untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan
aset dan atau hak usaha yang dimiliki dengan menanggung keuntungan dan kerugian
secara bersama [4]. Umumnya sebuah badan usaha melakukan KSO untuk memperluas
wilayah usaha atau menguatkan kualitas produknya. Contohnya, perjanjian KSO antara
PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk dengan PT. Jaya Real Property, dan lain-lain. KSO
didasarkan atas waktu kerja sama (by time), sehingga masa berakhirnya KSO adalah
setelah masa kerja sama yang disepakati berakhir, bukan pada Break Event Point (BEP)
dari besarnya investasi yang ditanamkan oleh investor. Prinsip KSO berbeda dengan
pola “Cicilan/Kredit” maupun “Leasing/Sewa Pakai”. Berdasarkan penjelasan
mengenai KSO di atas dapat dipahami bahwa kegiatan usaha yang ditawarkan
kontraktor kepada klien berupa investasi yang mengadopsi prinsip-prinsip hukum
kontrak. Hal ini tentunya menjadikan investasi tersebut lebih profesional dalam
pelaksanaannya [3].
Perjanjian Kerja Sama Operasi (KSO) sebagai wadah yang mempertemukan
kepentingan satu pihak dengan pihak lain menuntut bentuk pertukaran kepentingan
yang adil. Oleh karena itu haruslah termuat hak dan kewajiban para pihak secara
seimbang dan proporsional [1]. Hubungan bisnis yang terjalin diantara para pihak
dalam perjanjian Kerja Sama Operasi (KSO) umumnya bertujuan untuk saling bertukar
kepentingan. Dalam bisnis pertukaran kepentingan para pihak senantiasa dituangkan
dalam bentuk perjanjian mengingat setiap langkah bisnis adalah langkah hukum.

Tanggung jawab sekutu yaitu para sekutu dapat dituntut kreditor sama rata,
walau pemasukan mereka tidak sama kecuali diperjanjikan bahwa mereka hanya
bertanggungjawab seimbang dengan pemasukkannya; jika salah satu sekutu
mengadakan hubungan dengan pihak ketiga atas nama persekutuan, maka persekutuan
dapat langsung menggugat pihak ketiga tersebut. Keuntungan dan kerugian ditentukan
dalam perjanjian; jika tidak diperjanjikan berlaku ketentuan Pasal 1633 KUH Perdata
“Pembagian keuntungan kerugian seimbang dengan pemasukan masing-masing sekutu
ke dalam persekutuan dan terhadap sekutu yang hanya memasukkan tenaga kerja
disamakan dengan pemasukan yang paling sedikit” [2].

PEMILIK PROYEK
(INVESTOR)

KONSULTAN
KONTRAKTOR KONSULTAN
PERENCANA
(KSO) PENGAWAS
(KSO)

Keterangan :
FIRM KSO
Garis Komando
(PEMILIK ASET) Garis Tanggung Jawab
Garis Koordinasi

Gambar 1. Garis Komando Proyek


Sumber : data pribadi, 2017

Gambar di atas merupakan sebuah gambaran hubungan antara Pemilik


Proyek/Owner (Investor) dengan Firm KSO (Pemilik Aset-Kontraktor dan Perencana)
dan Konsultan Pengawas (MK) dalam rancang bangun (design and build contract).
Dalam sistem rancang bangun, posisi Kontraktor merupakan Team Leader Project
berada di atas Konsultan Perencana. Berbeda dengan konvensional dimana posisi
Konsultan Perencana sebagai Team Leader Project yang membawahi Kontraktor dan
Sub Kontraktor.
Dalam praktiknya, sistem kontrak KSO lebih sering digunakan untuk kontrak
rancang bangun (design and build contract). Secara teknis istilah rancang bangun
(design and build contract) adalah lebih jelas menggambarkan pembagian tugas dalam
kontrak tersebut. Kontraktor melaksanakan perencanaan dan pembangunan,
perencanaan dapat dilakukan melalui konsultan perencana, tetapi kontrak perencana
kepada kontraktor bukan kepada pengguna jasa. Selain mendapat keuntungan,
kontraktor sekaligus mendapat bayaran untuk jasa perencanaan. Sistem pembayaran
dilakukan melalui per termin. Pengguna jasa tidak lagi menempatkan konsultan
pengawas tetapi cukup menunjuk wakil yang fungsi dan tugasnya mengamati
pelaksanaan pekerjaan agar sesuai dengan spesifikasi teknis dan jadwal [5].

Diperlukan jaminan kemampuan membayar dari pengguna jasa yang besarnya


senilai kontrak dan masa berlaku selama masa pelaksanaan. Diperlukan kehati-hatian
pengguna jasa dalam memilih kontraktor karena semua aspek pembangunan proyek
dipercayakan kepada satu perusahaan. Sehingga profesionalisme dan bonafiditas
perusahaan harus benar-benar dipertimbangkan dalam memilih kontraktor.

Daftar Referensi
1. Ibrahim, Johanes dan Lindawaty Sewu. (2003). Hukum Bisnis dalam Persepsi
Manusia Modern. Bandung: Refika Aditama.
2. Santoso, Budi. (2008). Aspek Hukum Pembiayaan Proyek Infrastruktur Model
BOT (Build Operate Transfer). Solo: Genta Press.
3. Nindyahwati, Linna. (2013). Perjanjian Kerja Sama Operasi Proyek
Pembangunan Jalan Tol/Freeway Paket 2 Samboja-Palaran 1 Kalimantan
Timur. Tesis magister, Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
4. www.madecerik.net/about/ diakses tanggal 7 September 2017
5. www.slideshare.net/ZainaKhoerunnisaNuru/bab-ii-gambaran-umum-proyek
diakses tanggal 12 September 2017