You are on page 1of 4

Menghitung Pajak Badan

Pajak badan adalah pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak badan. Wajib pajak badan bisa
berupa PT, koperasi, yayasan, dll. Perhitungan ini akan mengacu pada Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2008. Perhitungan ini berlaku untuk badan yang memiliki peredaran bruto
di atas Rp 4.800.000.000,00 dan yang melakukan pekerjaan bebas. Hal ini sejak diberlakukannya
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013 (akan dibahas di lain kesempatan).
Perhitungan pajak badan yang akan dijelaskan tidak termasuk koreksi fiskal, jadi kita akan
membahas perhitungan pajak secara umum saja.
Berdasarkan UU Nomor 36 Tahun 2008 pasal 31E. Maka tarif pajak badan yang berlaku dapat
dijelaskan sebagai berikut:

Peredaran Bruto Tarif


Rp 0,00 – Rp 4.800.000.000,00 (50% x 25%)
Rp 4.800.000.000,00 – Rp 50.000.000.000,00 (50% x 25%) dan 25%
Rp 50.000.000.000,00 ke atas 25%

Dari tabel di atas dapat diambil pemahaman sederhana. Jika yang menentukan tarif adalah
peredaran bruto perusahaan, maka yang dikalikan dengan tarif adalah laba usaha yang sesuai
dengan peraturan perpajakan. Sebenarnya tarif pajak badan adalah tarif tunggal sebesar 25%.
Namun, pemerintah memberikan fasilitas tambahan tarif 50% untuk penghasilan di bawah Rp
4.800.000.000,00. Untuk badan yang penghasilannya tidak sampai Rp 4.800.000.000,00 dapat
menggunakan perhitungan ini jika bergerak dibidang pekerjaan lepas. Karena jika tidak akan
diberlakukan PP Nomor 46 Tahun 2013.
Pada wajib pajak badan yang memiliki peredaran bruto di antara Rp 4.800.000.000,00 sampai Rp
50.000.000.000,00 akan menggunakan 2 (dua) tarif dalam menghitung pajaknya. Tarif yang pertama
adalah tarif yang dikenai fasilitas 50% untuk penghasilan sampai Rp 4.800.000.000,00. Jadi kita
harus menentukan dulu laba kena pajak yang merupakan bagian dari peredaran bruto Rp
4.800.000.000,00. Hal ini dapat dijelaskan dengan rumus sebagai berikut :

Laba Kena Pajak yang Akan Rp 4.800.000.000,00


= x Laba Kena Pajak
Dikalikan Tarif Berfasilitas Peredaran Bruto
Setelah mengetahui jumlah laba kena pajak yang akan dikalikan dengan tarif berfasilitas, kemudian
mencari laba kena pajak yang akan dikalikan dengan tarif tunggal 25% dengan rumus sebagai
berikut:

Laba Kena Pajak yang Laba Kena Pajak yang


= Laba Kena Pajak -
dikalikan dengan tarif 25% dikalikan tarif berfasilitas
Kemudian masing-masing laba kena pajak tersebut dikalikan dengan tarifnya sendiri-sendiri. Hasilnya
dijumlahkan dan itulah pajak badan yang wajib disetor.

Langsung ke contoh saja biar semakin paham.

1. CV AAA bergerak dalam usaha bebas yang tidak dikenai PP Nomor 46 Tahun 2013. Pendapatan
yang diperoleh selama tahun 2013 sebesar Rp 4.700.000.000,00. HPP pada usaha tersebut sebesar
Rp 4.000.000.000,00 dan biaya usaha sebesar Rp 200.000.000,00. Dari penjelasan soal di atas
berapakah pajak badan yang harus di setor?

Jawaban:

Penjualan Rp 4.700.000.000,00
HPP Rp -
4.000.000.000,00
Laba Kotor Rp 700.000.000,00
Biaya Usaha Rp 200.000.000,00 -
Laba Kena Pajak Rp 500.000.000,00
Perhitungan pajak badan:
= 25% x 50% x Rp 500.000.000,00
= 12,5% x Rp 500.000.000,00
= Rp 62.500.000,00
Jadi pajak yang harus dibayarkan sebesar Rp 62.500.000,00

2. PT AAA bergerak dalam usaha perdagangan. Pendapatan yang diperoleh selama tahun 2013
sebesar Rp 10.700.000.000,00. HPP pada usaha tersebut sebesar Rp 9.000.000.000,00 dan biaya
usaha sebesar Rp 300.000.000,00. Dari penjelasan soal di atas berapakah pajak badan yang harus
di setor?

Jawaban:

Penjualan Rp 10.700.000.000,00
HPP Rp 9.000.000.000,00 -
Laba Kotor Rp 1.700.000.000,00
Biaya Usaha Rp 300.000.000,00 -
Laba Kena Pajak Rp 1.400.000.000,00
Laba Kena Pajak yang akan dikalikan tarif berfasilitas 50%:

Rp 4.800.000.000,00
= x Rp 1.400.000.000,00
Rp 60.700.000.000,00
= Rp 110.708.402,00 dibulatkan ribuan ke bawah (Rp
110.708.000,00)
Laba Kena Pajak yang akan dikalikan dengan tarif tunggal 25%:
= Rp 1.400.000.000,00 - Rp 110.708.000,00
= Rp 1.289.292.000,00

Perhitungan pajak badan:

(50% x 25%) x Rp 110.708.000,00 = Rp 13.838.500,00


25% x Rp 1.289.292.000,00 = Rp 322.323.000,00 +
Pajak badan = Rp 336.161.500,00
Jadi pajak yang harus dibayar sebesar Rp 336.161.500,00

3. PT AAA bergerak dalam usaha perdagangan. Pendapatan yang diperoleh selama tahun 2013
sebesar Rp 60.700.000.000,00. HPP pada usaha tersebut sebesar Rp 58.000.000.000,00 dan biaya
usaha sebesar Rp 1.000.000.000,00. Dari penjelasan soal di atas berapakah pajak badan yang harus
di setor?

Jawaban:

Penjualan Rp 60.700.000.000,00
HPP Rp -
58.000.000.000,00
Laba Kotor Rp 2.700.000.000,00
Biaya Usaha Rp 300.000.000,00 -
Laba Kena Pajak Rp 2.400.000.000,00
Perhitungan pajak badan:
= 25% x Rp 2.400.000.000,00
= Rp 600.000.000,00
Jadi pajak yang harus dibayar sebesar Rp 600.000.000,00

Di atas adalah contoh menghitung pajak badan yang sesuai dengan peraturan yang sudah
dijelaskan. Untuk badan yang memiliki peredaran bruto antara Rp 4.800.000.000,00 sampai dengan
Rp 50.000.000.000,00 memang sedikit ribet, tapi sebenarnya mudah saja. Semoga bermanfaat.

Diberkati untuk Memberkati.

Diposting oleh abraham turnip di 19.52


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)


Lebih Update, Follow IG Kita Yuk

 marmutt_shop

Arsip Blog

 ► 2018 (1)
 ► 2017 (5)
 ► 2016 (5)
 ► 2015 (15)
 ▼ 2014 (57)
o ► Desember (4)
o ► November (4)
o ► Oktober (34)
o ► September (1)
o ► Juni (1)
o ▼ Mei (13)
 PPh Pasal 21 Pegawai Masuk dan Keluar di Pertengah...
 PPh Pasal 21 Pesangon dan Tunjangan Hari Tua
 PPh Pasal 21 untuk Bukan Pegawai, Tenaga Ahli, dan...
 PPh Pasal 21 Pegawai Tidak Tetap
 PPh Pasal 21 THR untuk Pegawai Tetap
 PPh Pasal 21 Pegawai Tetap
 PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak Badan
 PPh Pasal 25 Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi
 Mengenal PP 46 Tahun 2013
 Perhitungan Penghasilan Neto Menggunakan Norma
 Menghitung Pajak Badan
 Menghitung Pajak Orang Pribadi
 Pengurang Penghasilan untuk Menghitung Pajak Orang...
Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.