You are on page 1of 6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sabun
Sabun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan
lemak atau minyak. Bahan baku pembuatan sabun adalah minyak atau lemak
dengan senyawa alkali atau senyawa basa. Bahan pendukung pembuatan sabun
yang digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna
maupun dari daya tariknya diantaranya yaitu natrium klorida, natrium karbonat,
natrium fosfat, zat pewangi, dan zat pewarna. Sabun juga memiliki sifat fisik dan
kimia, yaitu sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan
dihidrolisis parsial oleh air. Oleh karena itu, larutan sabun dalam air bersifat basa.
Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, tetapi
peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini, sabun dapat
menghasilkan buih setelah garam magnesium atau kalsium dalam air mengendap.
Angka penyabunan adalah suatu bilangan yang menunjukan jumlah miligram dari
kalium hidroksida yang diperlukan untuk menyabun 1 gram dari berat minyak
atau lemak. Minyak atau lemak terdiri dari asam-asam lemak yang mempunyai
berat molekul rendah melalui proses saponifikasi berat molekul tersebut akan
menjadi berat molekul tinggi dari asam lemak pada gliserida.
Di samping pentingnya angka penyabunan dalam proses pembuatan sabun,
masih terdapat beberapa bilangan lainnya yang berhubungan dengan proses
pembuatan sabun. Bilangan tersebut adalah acid value dan hanner value. Acid
value adalah jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam
lemak bebas didalam 1 gram minyak atau lemak. Hanner value adalah bilangan
yang menyatakan persentase asam-asam lemak yang tidak dapat larut dalam
lemak atau minyak.Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk
mencuci dan membersihkan. Berdasarkan bentuknya, sabun yang dikenal pada
saat ini ada bermacam-macam diantaranya berupa sabun cair (liquid soap), sabun
padat opaque (sabun padat biasa), dan juga sabun padat transparan.
Di pasaran, sabun padat lebih sering digunakan oleh masyarakat pada
umumnya, selain harganya lebih ekonomis dibandingkan dengan sabun mandi
jenis lain, kandungan gliserinnya juga tidak banyak yang hilang. Kadar gliserin
pada sabun umumnya berkisar antara 4-20%. Pada umumnya, sabun yang beredar
di pasaran memiliki kandungan gliserin yang rendah karena telah banyak
dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel, dan bahan kosmetik.
Gliserin merupakan hasil samping reaksi saponifikasi yaitu reaksi
pembentukan sabun. Fungsi dari gliserin pada sabun adalah untuk melembabkan
kulit. Sabun padat dibuat dari lemak dengan NaOH, misalnya Na-Palmitat dan
Na-Stearat. Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak
dan minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak
mempunyai dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan atom
karbon 8-12. Secara umum, reaksi antara kaustik dengan gliserol dan sabun
disebut dengan saponifikasi. Minyak dengan kandungan asam lemak rantai
pendek dan ikatan tak jenuh akan menghasilkan sabun cair. Sedangkan rantai
panjang dan jenuh menghasilkan sabun yang tak larut pada suhu kamar.
Sabun mandi merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam
lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa,
dengan atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Jika
lemak atau minyak dihidrolisis, akan terbentuk gliserol dan asam lemak yang
dengan adanya Na (NaOH) akan terbentuk sabun karena sabun merupakan garam
Na atau K dari asam lemak. Sabun Na dan K larut dalam air, sedangkan Ca dan
Mg tidak larut. Sabun Na (sabun keras) digunakan untuk mencuci. Setiap minyak
dan lemak mengandung asam lemak yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang berbeda.
Kualitas sabun salah satunya ditentukan oleh pengotor yang terdapat pada
lemak atau minyak yang dipakai. Pengotor tersebut antara lain berupa hasil
samping minyak atau lemak, protein, partikulat, vitamin, pigmen, senyawa fosfat
dan sterol. Selain itu, hasil degradasi minyak selama penyimpanan akan
mempengaruhi bau dan warna sabun. Salah satu kelemahan sabun adalah apabila
digunakan pada air keras maka sabun akan mengendap sebagai lard.
Larutan alkali yang tertinggal ditentukan dengan titrasi menggunakan HCl
sehingga KOH yang bereaksi dapat diketahui. Dalam penetapan bilangan
penyabunan, biasanya larutan alkali yang digunakan adalah larutan KOH, yang
diukur dengan hati-hati ke dalam tabung dengan menggunakan buret atau pipet.
Keberadaan sabun yang hanya berfungsi sebagai alat pembersih dirasa kurang,
mengingat pemasaran dan permintaan masyarakat akan nilai lebih dari sabun
mandi. Oleh karena itu, sekarang dikembangkan lagi sabun mandi yang
mempunyai nilai lebih, seperti pelembut kulit, antioksidan, mencegah gatal-gatal
dan pemutih dengan penampilan yang menarik. Perkembangan tersebut
disesuaikan dengan perkembangan zat-zat aditif yang telah ada. Selain itu,
ditambahkan zat pengisi (filler) untuk menekan biaya supaya lebih murah.
Ditinjau dari jenis dan fungsinya, sabun dapat kategorikan sebagai berikut:
1. Transparant soap..
2. Castile soap..
3. Deodorant soap..
4. Acne soap..
5. Cosmetic soap atau bar cleanse.
6. Superfatted soap..
7. Oatmeal soap..
8. Natural soap.

2.2. Saponifikasi
Saponifikasi merupakan suatu reaksi yang disebabkan karena minyak atau
lemak dicampur dengan larutan alkali. Saponifikasi secara sederhana dapat
didefinisikan sebagai proses pembuatan sabun yang mengandalkan reaksi
hidrolisis asam lemak oleh adanya basa kuat. Contoh lemak atau minyak yang
bisa dipakai sebagai bahan baku pembuatan sabun adalah minyak sayur, minyak
jelantah, minyak zaitun, dan minyak kedelai. Contoh senyawa basa yang biasa
digunakan dalam proses pembuatan sabun adalah NaOH, Na2CO3, dan KOH.
Mekanisme reaksi saponifikasi melibatkan dua macam senyawa yaitu
berupa asam lemak dan senyawa alkali atau basa kuat (soda kaustik). Saat kedua
senyawa tersebut direaksikan, maka produk yang dihasilkan setelah dicampurkan
adalah garam dan alkoholnya. Alkohol yang dihasilkan dalam reaksi tersebut
merupakan gliserol, sedangkan garam yang terbentuk merupakan produk sabun.
Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan
senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan
untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya
tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun
diantaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan
pewarna. Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah
reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan
gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut:
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -> C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR (2.1.)
Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk
utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga
memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan
alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki
struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air,
tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam
bentuk ion. Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, yaitu sabun cair dan
sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang
digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium
hidroksida atau soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium
hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga
mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan.
2.3. Mekanisme Kerja Sabun
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus
ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut
dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam
air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan
tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air
karena membentuk misel (micelles), yakni kumpulan 50-150 molekul sabun yang
rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung ionnya menghadap air.
Sabun mandi merupakan garam logam alkali (biasanya disebut garam
natrium) dari asam lemak. Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat
dari minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar. Bagian
kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik. Karena sifat inilah
sabun mampu mengangkat kotoran dari badan dan pakaian. Selain itu, pada
larutan, surfaktan akan menggerombol membentuk misel setelah melewati
konsentrasi tertentu yang disebut Konsentrasi Kritik Misel (KKM).
Sabun memiliki kemampuan untuk mengemulsi kotoran berminyak
sehingga dapat dibuang dengan pembilasan..Kemampuan ini disebabkan oleh dua
sifat sabun yaitu rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-
polar, seperti tetesan-tetesan minyak dan ujung anion molekul sabun, yang tertarik
pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari
tetesan minyak lain..Karena tolak-menolak antara tetes sabun-minyak, maka
minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi..
Sabun merupakan pembersih yang sangat baik karena kemampuannya
untuk bertindak sebagai agen pengemulsi..Suatu pengemulsi mampu
mendispersikan satu cairan ke dalam cairan tak larut lain..Hampir semua senyawa
termasuk dalam salah satu dari dua kategori yaitu hidrofilik dan hidrofobik. Air
dan apa pun yang akan bercampur dengan air merupakan hidrofilik..Minyak dan
apa pun yang akan bercampur dengan minyak adalah hidrofobik..Ketika air dan
minyak dicampur mereka terpisah, itulah sebabnya mengapa senyawa hidrofilik
dan hidrofobik tidak bisa bersatu. Ketika lemak atau minyak dicampur dengan
larutan sabun-air, molekul sabun bekerja sebagai jembatan antara molekul air
polar dan molekul minyak non-polar. Karena molekul sabun memiliki kedua sifat
non-polar dan polar molekul sabun akan membentuk misel dan menjebak lemak
dalam misel. Karena misel larut dalam air, dengan mudah dapat dibersihkan.
Jika partikel kotoran memiliki lapisan sedikit berminyak maka mereka
akan menempel pada kulit seperti lumpur basah. Kulit sering memiliki cukup
minyak di atasnya untuk membuat partikel kotoran menempel. Tapi tidak seperti
lumpur, kotoran ini akan tetap terjebak karena minyak tidak menguap dan kering
tidak seperti air. Untuk menghilangkan kotoran minyak yang melekat adalah
dengan menghancurkan minyak lengket. Suatu cairan kemudian dapat diterapkan
dan kotoran akan rontok dan dihanyutkan yang membuat sabun khusus atau ciri
khas dari sabun adalah kemampuan untuk menghilangkan minyak.