You are on page 1of 3

Al-Qur'an

Al-Qur'an Berbicara BentukBumi

administrator / Rabu, 21 November 2012 08:16

Di era ketika teknologi belum berkembang mulai muncul pertanyaan seperti apakah bentuk bumi.
Dahulu kala banyak yang menganggap bahwa bumi itu datar maka ketika seseorang melakukan
perjalanan sampai pada ujungnya konon maka ia akan terjungkal ke angkasa.

Flat Earth Society

Anggapan yang demikian pun di era modern ini masih ada. Flat Earth Society (juga dikenal sebagai
International Flat Earth Society atau International Flat Earth Research Society) adalah sebuah organisasi
yang memiliki keyakinan bahwa bumi berbentuk datar, bertentangan dengan fakta-fakta ilmiah yang
menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Organisasi modernnya didirikan oleh seorang pria asal Inggris,
Samuel Shenton pada 1956, dan kemudian dipimpin oleh Charles K. Johnson, yang menjadikan
rumahnya di Lancaster, California, sebagai basis organisasi. Organisasi ini tidak lagi aktif semenjak
kematian Johnson pada 2001, namun baru-baru ini organisasi Flat Earth Society dimunculkan kembali
oleh presiden barunya, Daniel Shenton.

Pendukung Flat Earth Society pada masa kini tidak memiliki satu teori yang disetuju bersama. Tiap
anggota memiliki gagasan yang berbeda mengenai bagaimana Bumi diciptakan. Beberapa mendukung
gagasan bahwa bumi datar sepenuhnya, sementara yang lain mendukung bentuk cakram.

Daniel Shenton telah membangkitkan kembali organisasi Flat Earth society. Dalam suatu artikel di The
Guardian, Shenton mengatakan bahwa dia memiliki 60 anggota. Laporan tersebut juga menyatakan
Shenton memiliki situs web yang di dalamnya terdapat buletin organisasi dari tahun 1970-an dan 80-an.

Ilmuwan Barat Atau Islam?

Wacana bentuk bumi bundar baru berkembang di Barat pada abad ke-16 M. Adalah Nicoulas Copernicus
yang mencetuskannya. Di tengah kekuasaan Gereja yang dominan, Copernicus yang lahir di Polandia
melawan arus dengan menyatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan bola. Sejarah Barat
kemudian mengklaim bahwa Copernicus-lah ilmuwan pertama yang menggulirkan teori bumi bulat.
Kemudian juga dibuktikan oleh Ferdinand magelhaens ketika mengelilingi dunia pertama kali pada tahun
1522

Klaim Barat selama berabad-abad itu akhirnya telah terpatahkan. Sejarah kemudian mencatat bahwa
para sarjana Islam-lah yang mencetuskan teori bentuk bumi itu. Para sejarawan bahkan memiliki bukti
bahwa Copernicus banyak terpengaruh oleh hasil pemikiran ilmuwan Islam. Para sejarawan sains sejak
tahun 1950-an mengkaji hubungan Copernicus dengan pemikiran ilmuwan Muslim dari abad ke-11
hingga 15 M.
Hasil penelitian yang dilakukan Edward S Kennedy dari American University of Beirut menemukan
adanya kesamaan antara matematika yang digunakan Copernicus untuk mengembangkan teorinya
dengan matematika yang digunakan para astronom Islam –dua atau tiga abad sebelumnya. Copernicus
ternyata banyak terpengaruh oleh astronom Muslim seperti Ibn al-Shatir (wafat 1375), Mu'ayyad al-Din
al-'Urdi (wafat 1266) dan Nasir al-Din al-Tusi (wafat 1274).

Secara resmi, para sarjana Muslim telah mengeluarkan kesepakatan bersama dalam bentuk ijma tentang
bentuk bumi bundar. Teori bentuk bumi bulat diyakini oleh Ibnu Hazm (wafat 1069), Ibnu Al-Jawi (wafat
1200) dan Ibnu Taimiyah (wafat 1328). Penegasan ketika tokoh Islam itu untuk memperkuat hasil
penelitian dan penemuan yang dicapai astronom dan matematikus Muslim.

Sains Modern

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kini orang bisa melihat bentuk asli
bumi dari luar angkasa. Sehingga terbuktilah secara ilmiah bahwa bentuk bumi itu bulat. Dalam
kehidupan sehari-hari pun kita bisa membuktikan bahwa bumi bula, misalnya ketika ada kapal yang
hendak berlabuh yang kelihatan duluan cerobong baru badannya, ketika terjadi gerhana pasti bayangan
bumi berbentuk lengkungan dan kalau ada pesawat yang terbang dari satu titik untuk mengelilingi bumi
maka ia akan kembali pada titik semula itu.

Ketika Al-Quran Berbicara

Informasi mengenai bumi bulat, dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an mengenai
pergantian siang dan malam :

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan
memasukkan siang ke dalam malam?” (QS. Lukman (31) : 29).

Menurut ahli tafsir, kata memasukkan pada ayat di atas diartikan sebagai malam lambat laun berubah
menjadi siang demikian pula sebaliknya. Peristiwa ini hanya dapat terjadi jika bumi bukan datar tetapi
bulat. Jika bumi datar, maka akan terjadi perubahan secara tiba-tiba dari malam menjadi siang. Begitu
pula dari siang menjadi malam.

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar: Dia menutupkan malam atas siang dan
siang atas malam.” (QS. Az-Zumar (39) : 5).

Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat
penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam
kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau
menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.

Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama
lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi
berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur'an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah
diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat. Sa_
Dari berbagai sumber