You are on page 1of 3

FAKTUR PAJAK BAGI PEDAGANG ECERAN

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait dengan Faktur Pajak


Sederhana akhir-akhir ini membuat saya kembali tergelitik untuk menulis topik tentang yang
biasanya dulu menggunakan Faktur Pajak Sederhana, yaitu Pedagang Eceran yang melakukan
penjualan kepada konsumen akhir yang biasanya tidak ada identitas pembelinya. Padahal istilah
Faktur Pajak Sederhana sudah tidak berlaku lagi sejak diberlakukannya UU Nomor 42 Tahun
2009 pada tanggal 1 April 2010 yang merupakan perubahan terakhir dari Undang-undang Nomor
8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM. Sehingga praktis sejak saat itu tidak ada lagi
dikotonomi istilah faktur pajak standar dan faktur pajak sederhana. Semua sekarang disebut
sebagai Faktur Pajak saja. Yang membedakan sekarang adalah apakah faktur pajak itu lengkap
atau faktur pajak tidak lengkap.

Pengertian PKP Pedagang Eceran

Menurut Pasal 1 ayat (6) PER-24/PJ/2012 yang disebut sebagai PKP Pedagang Eceran
(Selanjutnya disebut sebagai PKP PE) adalah PKP yang dalam kegiatan usaha
atau pekerjaannya melakukan :

a. penyerahan Barang Kena Pajak dengan cara sebagai berikut :


1. melalui suatu tempat penjualan eceran atau langsung mendatangi dari satu tempat konsumen
akhir ke tempat konsumen akhir lainnya;
2. dengan cara penjualan eceran yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir, tanpa didahului
dengan penawaran tertulis, pemesanan tertulis, kontrak, atau lelang; dan
3. pada umumnya penyerahan Barang Kena Pajak atau transaksi jual beli dilakukan secara tunai
dan penjual atau pembeli langsung menyerahkan atau membawa Barang Kena Pajak yang
dibelinya; atau

b. penyerahan JKP dengan cara sebagai berikut :


1. melalui suatu tempat penyerahan jasa secara langsung kepada konsumen akhir atau langsung
mendatangi dari satu tempat konsumen akhir ke tempat konsumen akhir lainnya;
2. dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir, tanpa didahului penawaran
tertulis, pemesanan tertulis, kontrak, atau lelang; dan
3. pada umumnya pembayaran atas penyerahan JKP dilakukan secara tunai.

Contoh tempat penjualan eceran yaitu toko, gerai atau kios. Dalam memori penjelasan
Pasal 20 PP No. 1 Tahun 2012, yang dimaksud dengan “konsumen akhir” adalah pembeli yang
mengkonsumsi secara langsung barang tersebut, dan tidak digunakan atau dimanfaatkan untuk
kegiatan produksi atau perdagangan.

Faktur Pajak bagi PKP Pedagang Eceran

PKP PE wajib menerbitkan faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak atas penyerahan
atau penjualan barang kena pajak atau jasa kena pajak. Bagi PKP PE , kode dan nomor seri
Faktur Pajak yang digunakan untuk penomoran Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 ayat (1) huruf e angka 2 UU KUP (yaitu faktur pajak yang tidak menyebutkan identitas
pembeli serta nama dan tandatangan) tidak mengikuti ketentuan penomoran Faktur
Pajak sebagaimana diatur dalam PER-24/PJ/2012, sehingga bagi PKP PE tersebut tidak akan
dikenakan sanksi Pasal 14 UU KUP, berupa denda 2%.

Dirjen Pajak mengeluarkan ketentuan khusus mengenai faktur pajak bagi PKP PE
melalui Per Dirjen Pajak Nomor PER-58/PJ/2010 tanggal 13 Desember 2010 tentang Bentuk
Dan Ukuran Formulir Serta Tata Cara Pengisian Keterangan Pada Faktur Pajak Bagi Pengusaha
Kena Pajak PE .

Faktur Pajak atas penyerahan Barang Kena Pajak oleh PKP PE paling sedikit harus
memuat keterangan :
a. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang
Kena Pajak;
b. jenis Barang Kena Pajak yang diserahkan;
c. jumlah Harga Jual yang sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai atau
besarnya Pajak Pertambahan Nilai dicantumkan secara terpisah;
d. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut; dan
e. kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak yang dapat berupa
nomor nota, kode nota, atau ditentukan sendiri oleh PKP PE.
(Pasal 3 ayat 1 dan Pasal 5 PER-58/PJ/2010)

Faktur Pajak yang dibuat PKP PE dapat berupa : bon kontan, faktur penjualan, segi cash
register, karcis, kuitansi, atau tanda bukti penyerahan atau pembayaran lain yang sejenis.
Sedangkan Bentuk dan ukuran formulir Faktur Pajak disesuaikan dengan kepentingan PKP PE.
Pengadaan formulir Faktur Pajak dilakukan oleh PKP PE.

Faktur Pajak yang dibuat PKP PE dibuat paling sedikit dalam 2 (dua) rangkap yang
peruntukannya masing-masing sebagai berikut :
- Lembar ke-1 : disampaikan kepada pembeli Barang Kena Pajak.
- Lembar ke-2 : untuk arsip Pengusaha Kena Pajak yang membuat Faktur
Pajak.

Faktur Pajak dianggap telah dibuat dalam 2 (dua) rangkap atau lebih dalam hal Faktur
Pajak tersebut dibuat dalam 1 (satu) lembar yang terdiri dari 2 (dua) atau lebih bagian atau
potongan yang disediakan untuk disobek atau dipotong. Lembar ke-2 Faktur Pajak dapat berupa
rekaman Faktur Pajak dalam bentuk media elektronik yaitu sarana penyimpanan data, antara
lain : diskette, Digital Data Storage (DDS) atau Digital Audio Tape (DAT) dan Compact
Disc (CD).

Tambahan :
1. PKP PE diperkenankan juga untuk menerbitkan Faktur Pajak secara lengkap
meskipun penyerahan BKP dilakukan kepada konsumen akhir, misalnya dalam hal
pembeli sebagai konsumen akhir adalah Pemungut PPN.
2. Dalam memori penjelasan PP No. 1 Tahun 2012 disebutkan Pengusaha Kena
Pajak yang bukan PE tetapi melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa
Kena Pajak secara eceran akan mengalami kesulitan dalam menerbitkan Faktur Pajak
apabila diperlakukan sama dengan Pengusaha Kena Pajak pada umumnya yang
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak tidak secara
eceran. Untuk itu, perlu diberikan penegasan dan penjelasan bahwa Pengusaha Kena
Pajak yang melakukan penyerahan dengan karakteristik secara eceran termasuk
dalam pengertian Pengusaha Kena Pajak PE . Termasuk dalam pengertian Pengusaha
Kena Pajak PE adalah Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan jasa
secara eceran. Jadi misalkan PKP pabrikan atau distributor misalnya menyerahkan
sebagian barang hasil produksinya secara eceran, maka PKP pabrikan tersebut juga
dapat menerbitkan faktur pajak yang tanpa identitas pembeli dan tanpa nama dan
tanda tangan penjual.