You are on page 1of 13

MENCEGAH RISIKO SKIZOFRENIA

MENCEGAH RISIKO SKIZOFRENIA Dosen Pembimbing: T.S Iswahyudi H. W., S.Sos., M.Si. Disusun Oleh: Eileen Anastasia Wignyo

Dosen Pembimbing:

T.S Iswahyudi H. W., S.Sos., M.Si.

Disusun Oleh:

Eileen Anastasia Wignyo

150117088

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

2017-2018

  • A. Tema : Gangguan Mental

  • B. Topik : Skizofrenia

C. Pohon Judul Gangguan Mental Skizofrenia Bipolar
C.
Pohon Judul
Gangguan
Mental
Skizofrenia
Bipolar

Penyebab

Resiko

Penyebab Resiko Cara mengatasi

Cara mengatasi

  • D. Rumusan judul : Risiko Gangguan Mental Skizofrenia serta cara mencegahnya Judul : Mencegah risiko Skizofrenia

  • E. Abstrak : Risiko menurut KBBI adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Gangguan mental adalah gangguan yang terjadi didalam diri seseorang bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga. Didalam gangguan mental terdapat penyakit yang bernama skizofrenia. Dan penyakit tersebut bisa dicegah dengan beberapa cara bisa dengan pengobatan dini dan pelatihan psikosial.

  • F. Kata kunci : mental, skizofrenia

G. Kerangka Karangan

  • 1. Mental

    • 1.1 Pengertian Mental

    • 1.2 Gangguan Mental

    • 1.3 Macam Gangguan Mental

      • 2. Skizofrenia

        • 2.1 Pengertian skizofrenia

        • 2.2 Ciri ciri skizofrenia

        • 2.3 Penyebab Skizofrenia

        • 2.4 Resiko Skizofrenia

          • 3. Cara mencegah Skizofrenia

          • 4. Simpulan

1.

Mental

  • 1.1 Pengertian Mental Mental menurut KBBI adalah bersangkutan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga: bukan hanya pembangunan fisik yang diperhatikan, melainkan juga pembangunan. Mental dimiliki oleh semua manusia, dan sifatnya berbeda- beda dan didapatkan dari fase fase perkembangan dari lahir sampai dewasa.

  • 1.2 Gangguan Mental (Mental disorder) Gangguan mental menurut buku PPDGJ III adalah sindrom yang ditandai dengan gangguan penglihatan yang signifikan secara klinis didalam individu, pengaturan emosi, atau lingkungan yang mencerminkan disfungsi dalam proses psikologis, biologis, atau proses perkembangan yang tidak mendasari fungsi mental. Gangguan mental biasanya berhubungan dengan kesusahan atau ketidakmampuan dalam aktivitas sosial, pekerjaan, atau kegiatan penting lainnya. Tapi seperti kematian orang yang dicintai itu bukan mental disonder, penyimpangan sosial misal politik agama dan seksual itu bukan bagian dari mental disorder kecuali hal itu hasil konflik dari disfungsi dalam individu.

  • 1.3 Macam Gangguan mental Banyak sekali macam gangguan mental yang ada, dan yang sudah terbagi didalam buku dsm lima yang menjadi acuan untuk melihat gangguan klinis yang terjadi pada seseorang. Ada beberapa klasifikasi mental disorder menurut PPDGJ III yaitu sebagai berikut Neurodevelopmental Disorder, Skizofrenia Spektrum dan Other Peychotic Disorder, Bipolar and Related Disorder, Depresi Disorder, Anxiety disorder, obsesif - complusive d related disorder, trauma and stresor-related disorder, somatic symtom and related

disorder, feeding and eateng disorder, elimination disorder, sleep-wake disorder, seksual disfunction , gender dysphoria, dan masih banyak lagi.

2.

Skizofrenia

  • 2.1 Pengertian Skizofrenia Skizofrenia menurut DSM 5 adalah salah satu gangguan mental, yang artinya adalah suatu sindrom yang secara klinis bermakna dan menimbulkan disfungsi dalam pekerjaan. Berdasarkan PPDGJ III, gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologi yang secara klinis bermakna dan secara khas berkaitan dengan gejala, penderitaan (distres) dalam fungsi psikosial. Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan dari pikiran dan persepsi seorang yang menderita tersebut serta diikuti dengan afeksi yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul. Gejala yang kronis yang sudah menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri. (sitat dalam Sitaniapessy, 2013)

  • 2.2 Ciri-ciri skizofrenia

Terdapat banyak gejala skizofrenia namun menurut PPDGJ (sitat dalam Sitaniapessy, 2013) harus ada sedikitnya gejala yang jelas yaitu Tought echo, tought insertion/ithdrawal, broadcasting, Delusion of control, influence, passivity, perception, Halusinasi auditorik, Waham2 menetap jenis lainnya yang tidak wajar dan mustahil. Atau terdapat sedikitnya dua gejala yang secara jelas misalkan Halusinasi pancaindra mana saja yang menetap, disertai waham yang mengambang, arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan, in koherensi, neologisme, perilaku kata tonik, gaduh gelisah, posturing, negativisme, mutisme, gejala-gejala negatif seperti apatis, kurangnya kuantitas berbicara, menarik diri, dan lain lain dan gejala tersebut sudah terjadi lebih dari 1 bulan.

  • 2.3 Penyebab Skizofrenia Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamine (zat neurotransmiter yang bertugas membawa pesan antar sel-sel otak) bisa menjadi penyebab terjadinya skizofrenia lalu masih berhubungan dengan biologis mungkin karena bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal, lalu genetik yang diturunkan dari orang tua (penyakit keturunan), kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi, dan terpapar racun atau virus saat masih di dalam kandungan saat ibu hamil, kondisi lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal bisa juga menjadi pemicu penyakit ini lalu peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh akibat penyakit autoimun dan peradangan, dan yang paling sering menjadi penyebab adalah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin, kokain, dan ganja. Dan penggunaan kokain dan amfetamin bisa menyebabkan kumatnya gejala skizofrenia pada penderita yang sudah sembuh dan memicu gejala psikosis. Psikosis bisa dikenali dari perubahan drastis pada perilaku penderita skizofrenia, misalnya tiba-tiba bingung, cemas, marah, atau curiga pada orang-orang di sekitar. Ada juga penyebab dari psikosial kebanyakan karena stres yang berlebihan karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.

  • 2.4 Resiko Skizofrenia

Efek Emosional Rasa bersalah, dendam, marah, malu, kebingungan dan keputusasaan adalah beberapa emosi yang dirasakan oleh mereka yang terkait dan merawat seseorang dengan skizofrenia. Orang tua merasa bersalah dan marah jika mereka memiliki anak dengan skizofrenia,

karena mereka khawatir entah bagaimana menyebabkan penyakit berkembang. Anak-anak penderita skizofrenia rentan terhadap perasaan bersalah, dendam amarah, dan kebingungan. Anak-anak kecil sangat rentan jika orang tua dengan skizofrenia melibatkan mereka dalam pemikiran delusi mereka. Saudara kandung dari orang dengan skizofrenia dapat merasa bingung dan marah karena saudara atau saudari mendapatkan perhatian lebih dan mereka tidak. Efek sosial Efek sosial berkaitan dengan keberadaan manusia yang tidak mungkin berdiri sendiri. Tidak berhenti pada dirinya sendiri. Manusia harus dilihat dalam hubungannya dengan pihak luar secara horizontal, yakni dunia sekelilingnya. Ia harus berada bersama sesuatu atau seseorang lain. Ia selalu hidup dalam sebuah interelasi dan interaksi yang berkesinambungan. Dia tidak dapat tumbuh tanpa relasi dan interaksi.

3.

Cara mencegah risiko skizofrenia

Seperti yang dipaparkan disub sebelumnya, bahwa skizofrenia termasuk salah satu penyakit mental disorder yang banyak terjadi dimasyarakat. Lalu skizofrenia sendiri juga penyakit yang memberikan dampak atau risiko yang tidak sederhana, ada efek emosional dan efek sosial yang merugikan dirinya sendiri maupun orang orang yang berada dilingkungannya. Oleh karena itu ada beberapa paparan mengenai cara mencegah penyakit skizofrenia ini terjadi, tetapi karena belum ada indikasi yang jelas penyebab munculnya Skizofrenia membuat penyakit ini sulit dicegah. Namun beberapa hal berikut mungkin dapat dipilih sebagai langkah pencegahan sebelum Skizofrenia pada penderita semakin parah.

  • 1. Pengobatan Karena penyebab skizofrenia tidak dapat diprediksi secara pasti, tapi

kita bisa memilih pengobatan secara dini sebelum terkena gejala skizofrenia. Ini adalah beberapa pengobatan atau pengecekan

Tes laboratorium, karena salah satu penyebab Skizofrenia adalah adanya kelainan otak. Dokter akan memeriksa kondisi otak agar dapat mengetahui kondisi yang sesungguhnya. Tes darah mungkin juga bisa dilakukan untuk menghitung sel darah secara lengkap. Tes pencitraan, Magnetik Resonance Imaging (MRI) dan CT Scan akan dipilih untuk menjalankan rekam medis ini. Evaluasi tim medis, dokter yang menangani akan mengevaluasi keadaan melalui penampilan dan sikap yang di tunjukan. Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat memberi kesimpulan apakah memang positif mengidap Skizofrenia atau tidak.

  • 2. Pelatihan Psikososial

Setelah melakukan pengobatan medis, pengobatan secara sosial juga perlu dilakukan, disebut dengan terapi sosial karena gunanya adalag melatih pasien skizofrenia tetap dapat hidup di keluarga dan masyarakat.

Terapi individu Pelatihan pengelolaan stres oleh penderita sendiri agar dapat menghindari ke kambuhan sedini mungkin. Pelatihan keterampilan sosial Pelatihan ini berguna untuk melatih kemampuan komunikasi dan interaksi penderita terhadap orang- orang di sekitarnya. Terapi keluarga Pelatihan ini ditujukan untuk keluarga penderita Skizofrenia agar dapat berhubungan dengan penderita Skizofrenia dengan baik.

4.Simpulan

Dari beberapa penjelasan diatas, diketahui bahwa skizofrenia merupakan salah satu penyakit mental disorder yang banyak ditemui di Indonesia ada beberapa penyebab penyakit ini terjadi di dalam diri seseorang, dan ada juga berapa resiko yang pastinya fatal bagi orang yang mengidap penyakit ini. Lalu banyak juga bentuk bentuk pencegahan untuk menghindari terjadinya skizofrenia yang lebih parah meskipun penyebab dari penyakit skizofrenia ini belum diketahui secara paati hanya banyak faktor faktor yang mendukung terjadinya penyakit skizofrenia pada seseorang. Maka untuk menghindari terjadinya korban penyakit skizofrenia lebih banyak maka dibutuhkan pencegahan ini.

Pustaka Acuan

American Psychological Association. (2013). Diagnosic and Statistical of Mental disorder edition “DSM V”. Washington, DC: Authors.

Maslim, Rusdi. (2001). Buku saku diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III. Jakarta. Universitas UNIKA Atma Jaya.

Septiawan, Ebta. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia (daring). Retrieved from https://kbbi.web.id

Sitaniapessy, Desy A. (2013). SKIZOFRENIA (Studi Kasus Dampak Psiko-Sosial Penderita Skizofrenia Bagi Keluarga Di KotaWaingapu-Sumba Timur). Salatiga. Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW