You are on page 1of 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bronchopneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang

disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun benda asing yang ditandai dengan

gejala panas tinggi, gelisah, dipsnea, napas cepat, dan dangkal, muntah, diare serta

batuk kering, dan produktif (Hidayat, 2009).

Bronchopneumonia merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi

penyebab utama kesakitan dan kematian. Khususnya pada anak-anak insiden

penyakit infeksi meningkat pada usia 1-5 tahun (GASS, 2013). Penyakit penyerta

pada pasien bronchopneumonia yang cukup dominan adalah gizi buruk, sedangkan

penyakit penyerta lainya adalah Asma, Anemia, Tansilofangitis, dan Diare. Hal ini

menunjukan bahwa ada keterkaitan antara bronchopneumoniaa dengan gizi buruk

karena gizi buruk dapat mempengaruhi imunitas. Jika tubuh mempunyai imunitas

yang kuat, maka mikroorganisme yang meginfeksi tubuh secara spontan akan

dihancurkan (Habibu & Ngemba, 2014).

Pneumonia menyumbang 16% dari semua kematian anak-anak di bawah 5

tahun, menewaskan 920.136 anak-anak pada tahun 2015. Pneumonia adalah

penyakit infeksi yang terbesar tunggal kematian pada anak-anak di seluruh dunia.

Pneumonia mempengaruhi anak-anak dan keluarga di mana-mana, namun paling

lazim di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara. Anak-anak dapat dilindungi dari

1
2

pneumonia, hal itu dapat dicegah dengan intervensi sederhana, dan diperlakukan

dengan biaya rendah, obat berteknologi rendah dan perawatan (WHO, 2018).

Di Indonesia sampai dengan tahun 2014, angka cakupan penemuan

pneumonia balita tidak mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara

20%-30%. Pada tahun 2015 terjadi peningkatan menjadi 63,45%. Angka kematian

akibat pneumonia pada balita sebesar 0,16%, lebih tinggi dibandingkan dengan

tahun 2014 yang sebesar 0,08%. Pada kelompok bayi angka kematian yang sebesar

0,15%. Perkiraan kasus pneumonia secara nasional sebesar 3,55% namun angka

perkiraan kasus provinsi menggunakan angka yang berbeda-beda sesuai angka

yang telah ditetapkan. Perkiraan presentase kasus pneumonia pada balita menurut

provinsi di Indonesia; Jawa timur perkiraan kasusnya adalah 4,45% dari rata-rata

3,55% di seluruh provinsi di Indonesia (Kemenkes, 2015). Ini menunjukkan

bahwa Jawa Timur berada di atas angka rata-rata kasus pneumonia (Kemenkes,

2015).

Insiden pneumonia di kabupaten Ponorogo pada tahun 2010 sebanyak 220

kasus, dan mengalami peningkatan pada tahun 2011 sebanyak 971 kasus. Pada

tahun 2012 penderita pneumonia sebanyak 1202 kasus, mengalami penurunan

pada tahun 2013 sebanyak 833 kasus. Tahun 2014 ditemukan sebanyak 764 kasus

(Dinkes Kabupaten Ponorogo, 2015).

Perjalanan brochopneumonia bermula dari sumber infeksi di saluran

pernafasan, daya tahan saluran nafas yang terganggu dan obstruksi mekanik

saluran pernapasan sehingga menyebabkan aspirasi bakteri berulang, dan

mengakibatkan peradangan pada bronkus menyebar ke parenkim paru. Tidak


3

hanya itu peradangan pada brokus dan paru juga dapat mengakibatkan

meningkatnya produksi mukosa dan peningkatan gerakan silia pada lumen brokus

sehingga menimbulkan peningkatan reflek batuk, batuk yang terjadi akan

mengakibatkan distensi abdomen sehingga pasien akan mengalami mual muntah,

sehingga penderita mengalami anoreksia yang dapat mengakibatkan

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (Riyadi & Sukarmin,

2009). Ketidakseimbangan nutrisi pada penderita bronchopneumonia yang tidak

segera di atasi akan menyebabkan malnutrisi yang dapat membuat kelemahan otot

pernafasan dan gagal nafas. Malnutrisi juga dapat berdampak pada respon

metabolik terhadap injuri dan mengubah fungsi organ, (Muttaqin, 2012).

Intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah dengan

memberikan asuhan keperawatan pada pasien Menurut NIC (Nursing

Interventions Clasifications, 2013) adalah Manajemen Nutrisi; tentukan status gizi

pasien; yaitu degan menentukan diet pada pasien yaitu pada pasien

bronkopneumonia dengan makanan tinggi kalori tinggi protrin (TKTP) (Suganda,

2013), identifikasi alergi atau intoleransi makanan, memberikan makanan sedikit-

sedikit tapi sering atau menentukan pola makan juga dapat berpengaruh signifikan

pada status gizi anak (Sari dkk, 2016), pantau turgor kulit, pantau mual muntah.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada pasien

bronkopneumoni disebabkan salah satunya adalah adanya infeksi pada saluran

pernafasan. Infeksi ini yang menyebab pasien mengalami mual muntah dan

kurangnya nafsu makan. Untuk meringankan gejala infeksi pada saluran


4

pernafasan salah satu intervensinya adalah dapat diatasi melalui pemberian

minuman jahe madu. Dengan pemberian jahe madu dapat menurunkan keparahan

batuk pada anak, karena kandungan atsiri pada jahe. Sedangkan kandungan

antibiotik pada madu dapat menyembuhkan infeksi seperti batuk. Hasil penelitian

Ramadhani (2014) bahwa pemberian minuman jahe madu dapat menurunkan

keparahan batuk seperti batuk produktif, pilek, rewel dan tidak nafsu makan.

Berdasarkan informasi dan masalah diatas, maka penulis tertarik

menyusun karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada klien

Bronkopneumonia Anak dengan Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari

Kebutuhan Tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo”.

B. Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini di batasi pada Asuhan Keperawatan pada

klien Bronchopneumonia pada Anak dengan Masalah Keperawatan

Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh di RSUD Dr. Harjono

Ponorogo.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas maka rumusan

masalah studi kasus ini adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien

Bronkopneumonia Anak dengan Masalah Keperawatan Ketidakseimbangan

Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo?”.

D. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
5

Secara umum studi kasus ini adalah melaksanakan asuahan

keperawatan pada anak dengan Bronkopneumonia dengan masalah

keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh di RSUD

Dr. Harjono Ponorogo.

2. Tujuan Khusus

a. Melakuakan pengkajian keperawatan pada anak dengan

Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

b. Menetapkan diagnosis keperawatan pada anak dengan Bronkopneumonia

dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

c. Menyususun perencanaan keperawatan pada anak dengan

Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada anak dengan

Bronkopneumonia dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

e. Melakukan evaluasi keperawatan pada anak dengan Bronkopneumonia

dengan masalah keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh di RSUD Dr. Harjono Ponorogo.

E. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis
6

a. Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam

keperawatan tentang penanganan pasien bronkopneumonia dengan

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

b. Hasil penelitian ini bermanfaat untuk informasi dan penjelasan tentang

keperawatan brokopneumonia dengan ketidakseimbangan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Pasien

Manfaat bagi pasien adalah membantu pasien dalam menangani masalah

bronkopneumonia dengan tindakan yang benar, sehingga masalah

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pasien teratasi.

b. Bagi perawat

Manfaat penelitian ini bagi perawat adalah meningkatan kemampuan

keperawatan dalam mengembangkan asuhan keperawatan pada klien

bronkopneumonia dengan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan tubuh.

c. Bagi Rumah Sakit

Manfaat penelitian bagi rumah sakit adalah menerapkan manajemen

nutrisi dan monitor nutrisi dalam bentuk pelayanan kesehatan yang dapat

digunakan sebagai bentuk kaulitas atau mutu asuhan keperawatan di

Rumah Sakit.

d. Bagi Institusi Pendidikan


7

Manfaat penelitian ini bagi institusi pendidikan sebagai bahan untuk

meningkatakan mutu pembelajaran, pengembangan kurikulum

keperawatan Anak, terutama tentang asuhan keperawatan pada

bronkopneumonia dengan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuahan tubuh.