You are on page 1of 2

Perbedaan Antara PKP dan NON PKP

Akhir-akhir ini sering terdengar bahwa bagaimana cara perusahaan kita agar bisa terbit faktur
pajak ? Lalu keuntungan dari perusahaan kita PKP itu apa ? nah disini akan dibahas tentang
perbedaan antara PKP dengan Non PKP.

Pengusaha Kena Pajak, sering disebut PKP adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan
Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (UU PPN) 1984 dan perubahannya, tidak termasuk
Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali
Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Sedangkan Pengusaha dapat didefinisikan sebagai orang pribadi atau badan dalam bentuk
apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor
barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak
berwujud dari luar Daerah, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah.

Dalam artian bisa di katakan mengenai Pengertian Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah :
Orang Pribadi atau Badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiatan usaha atau
pekerjaannya yang :

 menghasilkan Barang Kena Pajak (BKP).


 mengimpor Barang Kena Pajak (BKP).
 mengekspor Barang Kena Pajak (BKP).
 melakukan usaha perdagangan.
 memanfaatkan Barang Kena Pajak (BKP) tidak berwujud dari luar
daerah.
 melakukan usaha Jasa Kena Pajak (JKP).
 memanfaatkan Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar daerah.

Untuk menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) bagi Orang Pribadi atau Badan harus
mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Nomor Pokok
Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) ke Kantor Pelayanan Pajak dengan ketentuan sebagai
berikut:

1. Setiap Orang Pribadi atau Badan harus mendaftarkan diri untuk


mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (PKP) apabila
Peredaran usaha atau Omzet dalam 1 (satu) tahun lebih dari
Rp.4.800.000.000,-.
2. Bagi Orang Pribadi atau Badan yang mempunyai Peredaran usaha atau
Omzet dalam 1 (satu) tahun tidak lebih dari Rp.4.800.000.000,-. dapat
mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena
Pajak (PKP) dan disebut Pengusaha Kecil Kena Pajak.
3. Dalam hal Orang Pribadi atau Badan telah dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan jumlah peredaran bruto dan/atau
penerimaan brutonya dalam satu tahun buku tidak melebihi Rp
4.800.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dapat mengajukan
permohonan pencabutan pengukuhan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Bagi perusahaan yang mau PKP itu tergantung dari perusahaan karena tidak menjadi
keharusan bagi perusahaan.Tetapi apabila perusahaan tersebut belum PKP maka perusahaan
tersebut tidak dapat membuat faktur pajak, untuk pembeli yang tidak kena PPN dan dia sudah
PKP tidak ada masalah berarti perusahaan tersebut tidak ada ppn masukannya.

Disini saya menjelaskan perbedaan antara PKP dan non PKP :

 Perusahaan yang PKP

1. Pengusaha yang telah wajib menjadi Pengusaha Kena Pajak atau


Pengusaha Kecil yang memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak seperti
tersebut diatas berkewajiban untuk :

1) Melaporkan usahanya (mendaftarkan perusahaannya) untuk dikukuhkan menjadi


Pengusaha Kena Pajak.

2) Memungut PPN/PPn BM yang terutang.

3) Menyetor PPN/PPnBM yang terutang (yang kurang dibayar)

4) Melaporkan PPN/PPn BM yang terutang (menyampaikan SPT Masa PPN/PPn BM).

1. Pengusaha kecil yang menyerahkan Barang Kena Pajak/Jasa Kena


Pajak tidak wajib menjadi Pengusaha Kena Pajak tetapi boleh memilih
menjadi Pengusaha Kena Pajak atau tidak. Dengan demikian, atas
penyerahan Barang Kena Pajak/Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kecil
tidak dikenakan PPN, kecuali jika Pengusaha Kecil tersebut memilih
dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
2. Apabila sampai dengan suatu bulan dalam satu tahun buku, peredaran
bruto (omzet) Pengusaha telah melewati batasan Pengusaha Kecil,
Pengusaha tersebut wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
menjadi Pengusaha Kena Pajak, selambat-lambatnya akhir bulan
berikutnya.
3. Apabila dalam satu tahun buku peredaran bruto Pengusaha Kena Pajak
tidak melebihi batasan Pengusaha kecil, maka Pengusaha Kena Pajak
yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan pencabutan sebagai
Pengusaha Kena Pajak.

Hak PKP :

1. Pengkreditan Pajak Masukan atas perolehan BKP/JKP


2. Restitusi atau kompensasi atas kelebihan PPN

 Non PKP

Non PKP tidak boleh mengkreditkan Pajak Masukan yang diterima atas Perolehan BKP/JKP.