You are on page 1of 3

BAHAN AJAR ANALISIS KADAR SERAT KASAR

PENGERTIAN SERAT

A. PENGERTIAN SERAT KASAR


Serat adalah bagian dari tanaman yang tidak dapat diserap oleh tubuh. Serat adalah zat
non gizi, ada dua jenis serat yaitu :
1. Serat makanan (dietary fiber) yaitu serat makanan yang larut dalam air
2. Serat kasar (crude fiber) yaitu serat makanan yang tidak dapat larut dalam air
Istilah dari serat makanan (dietary fiber) harus dibedakan dengan istilah serat kasar (crude
fiber) yang biasa digunakan dalam analisis proksimat bahan pangan. Serat kasar merupakan
bagian dari karbohidrat dan didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan
larutan asam sulfat standar dan sodium hidroksida pada kondisi yang. Sebagian besar berasal
dari sel dinding tananam dan mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin. Serat kasar
merupakan ukuran yang cukup baik dalam menentukan serat dalam sampel.

B. MANFAAT SERAT
Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air,
selulosa dan pektin. Adanya serat membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui
saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan serat, feses dengan
kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus dan mengalami
kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar karena gerakan-gerakan
peristaltik usus besar menjadi lebih lamban. Kadar serat kasar terlalu tinggi dapat
mengganggu pencernaan zat lain. Daya cerna serat kasar dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain kadar serat dalam pakan, komposisi penyusun serat kasar dan aktivitas
mikroorganisme (Maynard dkk., 2005)
Serat kasar bermanfaat untuk mengatasi sembelit, mencegah kanker terutama
kanker kolon dan mengontrol berat badan. Serat makanan mempunyai daya serap air
yang tinggi adanya serat makanan dalam feses menyebabkan feses dapat menyerap
air yang banyak sehingga volumenya menjadi besar dan teksturnya menjadi lunak.
Adanya volume feses yang besar akan mempercepat kontraksi usus untuk lebih cepat
buang air-waktu transit makanan pada kolon lebih cepat. Volume feses yang besar
dan tekstur yang lunak dapat mengencerkan senyawa karsinogenik yang terkandung
di dalamnya, sehingga konsentrasinya jauh lebih rendah dengan demikian akan
terjadi kontak antara zat karsinogenik dengan konsentrasi yang rendah dengan usus
besar, dan kontak ini pun terjadi dalam waktu yang cukup singkat sehingga tidak
memungkinkan terjadinya sel-sel kanker.
C. METODE ANALISIS PENETAPAN KADAR SERAT KASAR
Analisis kadar serat kasar berdasarkan analisis proksimat, yaitu suatu metoda analisis kimia
untuk mengidentifikasikandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat
pada suatu zatmakanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat
menggolongkan komponen yang ada pada bahan pakan berdasarkan komposisi kimia dan
fungsinya.
Tabel 1. Komponen Berbagai Fraksi Hasil Analisis Proksimat

Kelebihan analisis proksimat, antara lain:


a) kebanyakan laboratorium menggunakan sistem ini,
b) alat mahal dan canggih kurang dibutuhkan,
c) menghasilkan hasil analisis secara garis besar,
d) dapat menghitung Total Digestible Nutrient (TDN) berdasarkan hasil analisis
proksimat dan
e) memberikan penilaian secara umum peman-faatan makanan pada ternak.
Gambar 1. Bagan rangkuman analisis proksimat
Langkah pertama metode pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan
semua bahan yang larut dalam asam dengan pendidihan dalam asam sulfat. Bahan yang
larut dalam alkali dihilangkan dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu
yang tidak larut dikenal sebagai serat kasar. Metode uji kualitatif yang biasa dipakai
untuk menguji serat kasar adalah dengan pereaksi Schweltzar (kupra – ammonium –
hidroksida), karena selulosa adalah suatu zat yang berwarna putih dan tidak larut
dalam hampir semua pelarut. Pada analisa penentuan serat kasar diperhitungkan
banyaknya zat – zat yang tidak larut dalam asam encer atau basa encer dengan kodisi
tertentu

D. TUJUAN ANALISIS SERAT KASAR


Serat kasar sangat penting dalam penilaian kualitas bahan makanan karena angka ini
merupakan indeks dan menentukan nilai gizi makanan tersebut. Selain itu, kandungan serat kasar
dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses pengolahan, misalnya proses penggilingan
atau proses pemisahan antara kulit dan kotiledon, dengan demikian persentase serat dapat dipakai
untuk menentukan kemurniaan bahan atau efisiensi suatu proses.