You are on page 1of 13

PERBEDAAN PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI USIA 0-6 BULAN ANTARA

BAYI YANG MENDAPAT ASI DENGAN SUSU FORMULA


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AMBARAWA
KABUPATEN SEMARANG

Eka Asvista Salviana *), Ari Andayani **), Auly Tarmali ***).

*) Mahasiswa Program Studi D-IV Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo


**)Staf Pengajar Program Studi D-IV Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
***) Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Ngudi Waluyo
Email: ekaasvistasalviana@gmail.com

ABSTRAK

Pengukuran berat badan merupakan pengukuran antropometri yang terpenting dalam


memeriksa status gizi bayi atau balita. Pemberian ASI selama 6 bulan membantu bayi memulai
kehidupan dengan baik. Di Kabupaten Semarang pencapaian ASI yang terendah adalah di
Puskesmas Ambarawa sebanyak 22,5% dari 26 puskesmas. Bayi yang mendapat ASI sebelum usia
6 bulan mempunyai resiko rendah untuk mengalami kelebihan berat badan, sedangkan sebaliknya
bayi yang mengonsumsi susu formula berisiko tinggi kelebihan berat badan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi
yang mendapat Asi dengan Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa.
Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif komperatif dengan pendekatan
comparative study, menggunakan teknik proportional random sampling dengan jumlah populasi 170
bayi dan jumlah sampel 63 bayi usia 0-6 bulan. Data diperoleh melalui Lembar Observasi dan Kartu
Menuju Sehat (KMS) kemudian dianalisis menggunakan uji Mann Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan rerata peningkatan berat badan bayi per bulan dengan ASI
eksklusif adalah 0,61 kilogram, lebih rendah dibandingkan bayi yang diberi susu formula yaitu 0,77
kilogram. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney untuk mengetahui perbedaan peningkatan berat
badan bayi antara bayi yang mendapat ASI dan susu formula didapatkan nilai p < 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan secara signifikan peningkatan berat badan bayi
usia 0-6 bulan antara bayi yang mendapat ASI dengan Susu Formula. Diharapkan petugas kesehatan
lebih menggalakan program pemberian ASI eksklusif bagi bayi selama 6 bulan secara berkala, dan
mendukung gerakan inisiasi menyusui dini dengan pemberian ASI eksklusif sesaat setelah bayi
lahir.

Kata kunci : Peningkatan berat badan, ASI eksklusif, susu formula.

1
ABSTRACT

Measurement of body weight is the most important anthropometric measurement in


checking the nutritional status of babies or toddlers. Giving breastfeeding achievement is in
Puskesmas Ambarawa as many as 22,5 % of the 26 health centers. Breastfed babies before 6 months
have a lower risk for overweight, while the opposite, the formula-fed infants are at high risk of
being overweight. The purpose of this study was to determine the Differences og Weight Gain or 0-
6 Months big Babies Getting Breastmilk and Formula Milk in Public Health Center (Puskesmas)
Ambarawa.
The research method used descriptive comparative with comperative study approach, using
proportional random sampling technique with the population of 170 babies and samples of 63
babies aged 0-6 months old. Data were obtained through Observation Sheet and Kartu Menuju
Sehat (KMS) and then analyzed by using the Mann Whitney test.
The results showed that the average weight gain per month with exclusive breastfeeding was
0.61 kg, lower than the formula-fed infants which was 0.77 kilograms. Based on the results of Mann
Whitney test to determine differences in weight gain between babies who received breast milk and
formula milk gor value p<0.05.
Thus showed that there were significant differences in weight gain among babies aged 0-6
months old who got breastmilk and formula milk. Based on the research health workers are
exclusive breastfeeding program for babies over 6 months old on a regular basis, and to support
early initation of breastfeeding movement with exclusive breastfeeding shortly after birth.

Keywords : Weight gain per month, exclusive breastfeeding, formula milk.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Status gizi diartikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan zat gizi. Status gizi sangat ditentukan oleh ketersediaan zat gizi dalam
jumlah cukup dan dalam kombinasi waktu yang tepat di tingkat sel tubuh agar berkembang dan
berfungsi secara normal. Status gizi ditentukan oleh sepenuhnya zat gizi yang diperlukan tubuh dan
faktor yang menentukan besarnya kebutuhan, penyerapan, dan penggunaan zat-zat tersebut
(Arianto, 2008).
Status gizi dapat diperoleh dengan pemeriksaan antopometri, salah satunya yaitu
pemeriksaan Berat Badan. Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling
sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Pada masa bayi-balita, berat badan dapat
digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi. Berat badan merupakan pilihan
utama karena parameter yang paling baik, mudah dipakai, mudah dimengerti, memberikan
gambaran status gizi sekarang (Nursalam, 2005).
Pengukuran berat badan merupakan pengukuran antropometri yang terpenting dalam
memeriksa status gizi bayi atau balita (Maryunani, 2010). Perubahan berat badan penting dicatat
untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai risiko mengalami malnutrisi (Arisman, 2010).
Menurut Hidayat (2008) penambahan berat badan pada bayi baru lahir rata-rata antara 300
gram sampai 350 gram, pada usia 1 bulan bayi akan mengalami kenaikan 150 sampai 250 gram,
usia 2 bulan mengalami kenaikan 500 sampai 600 gram, pada usia 3 bulan bayi mengalami
kenaikan 300 sampai 450 gram, usia 4 bulan kenaikan berat badan bayi 250 sampai 350 gram, usia
5 bulan kenaikan 2 kali berat badan lahir, umur 1 tahun berat bayi 3 kali berat badan lahir,
sedangkan umur 2 sampai 2,5 tahun berat badan bayi adalah 4 kali berat badan lahir.
Hasil Penelitian Dewi (2016) menunjukkan bayi yang mendapat ASI tumbuh lebih cepat
pada 2-3 bulan pertama kehidupan selanjutnya, namun secara keseluruhan sampai usia 6 bulan berat

2
badan bayi yang mendapat ASI lebih ringan dibanding yang tidak mendapat ASI. Hal ini karena
pertumbuhan yang optimal justru pertumbuhan yang ditunjukkan oleh bayi yang mendapat ASI.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2012), pemberian ASI usia 0-3
bulan hanya mencakup 49,8 %, usia 0-5 bulan mencakup 41,9%, usia 6-9 bulan mencakup 2,7 %,
usia 12-15 bulan mencakup 1,2 %, usia 12-23 bulan mencakup 0,9%, usia 20-23 bulan mencakup
0,9%. Dengan bertambahnya usia bayi maka semakin menurun tingkat pemberian ASI (Depkes,
2012).
Di Jawa Tengah cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan tahun 2015 sejumlah
56,1% (Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2015). Sedangkan di Kabupaten Semarang cakupan ASI
Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan tahun 2015 sejumlah 44,8% (Profil Kesehatan Kabupaten
Semarang, 2015). Data dari Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang mengenai data kesehatan
ibu dan anak, pencapaian ASI yang terendah adalah di Puskesmas Ambarawa sebanyak 22,5% dari
26 puskesmas di Semarang (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2015).
Pemberian ASI selama 6 bulan membantu bayi memulai kehidupan dengan baik, menjamin
nutrisi ideal yang sesuai kebutuhan bayi (Suherni dkk, 2009). Divisi Nutrisi, Aktifitas Fisik dan
Obesitas, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion (CDC) di Amerika
melakukan penelitian dan mendapatkan hasil bahwa bayi yang mendapat ASI sebelum usia 6 bulan
mempunyai risiko rendah untuk mengalami kelebihan berat badan sedangkan sebaliknya bayi yang
mengonsumsi susu formula berisiko tinggi kelebihan berat badan (IDAI, 2013).
Bayi yang diberi susu formula mendapatkan 71 atau 89 gram lebih berat badannya per bulan
dibandingkan yang diberi ASI. Sehingga peningkatan berat badan per bulan yaitu 729 gram untuk
bayi dengan ASI dan 780 gram untuk bayi dengan susu botol atau susu formula (Ruowei, 2012).
Pada bulan ke 4, bayi dengan ASI mengonsumsi 20% kalori lebih rendah per harinya dibandingkan
bayi dengan susu formula (Dennison, 2006).
Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat untuk bayi salah satunya sebagai nutrisi terbaik
karena ASI merupakan sumber gizi ideal dengan komposisi seimbang dan sesuai dengan kebutuhan
pertumbuhan pada bayi dan merupakan makanan bayi paling sempurna baik secara kualitas dan
kuantitas. Pemberian ASI eksklusif berperan penting pada pertumbuhan bayi ini didukung oleh
penelitian yang menyatakan bahwa ASI lebih baik jika dibandingkan dengan susu formula.
Keunggulan ASI yang berperan pada pertumbuhan dilihat dari protein, lemak, elektrolit, dan enzim
yang terkandung dalam ASI (Roesli, 2005).
Menurut Putriani (2010) berat badan bayi yang mendapat ASI lebih ringan dibanding bayi
yang mendapat susu formula sampai usia 6 bulan. Hal ini tidak berarti bahwa berat badan bayi yang
mendapat susu formula lebih baik dibanding bayi yang mendapat ASI. Berat berlebih pada bayi
yang mendapat susu formula justru menandakan terjadi kegemukan. Kegemukan ini dapat
berlangsung hingga beranjak dewasa nanti. Adapun bayi yang diberi ASI tidak perlu khawatir akan
kegemukan, karena ASI menyesuaikan kebutuhan energi tubuh bayi itu sendiri.
Akibat bayi mengalami obesitas dalam mengonsumsi susu formula dikarenakan kandungan
protein pada susu formula sekitar 3 kali lebih banyak dibanding ASI, kandungan lemak pada ASI
cenderung lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak pada susu
formula . Hal ini dikarenakan kandungan kalori dalam ASI diserap oleh tubuh bayi sesuai dengan
kebutuhan yang dibutuhkan oleh bayi. Namun tubuh bayi akan menyerap semua kalori yang
terdapat pada Susu Formula. Sehingga, bayi akan mengalami obesitas akibat mengonsumsi susu
formula tersebut.
Faktor yang mempengaruhi rendahnya pemberian ASI karena kurangnya pengetahuan dan
kesadaran ibu akan pentingnya pemberian ASI dan manfaat ASI bagi ibu dan bayi, kurangnya
dukungan petugas dan pelayanan kesehatan terhadap Program Peningkatan Penggunan Air Susu Ibu
(PP-ASI), maraknya promosi susu formula, dan kurangnya rasa percaya diri pada ibu serta tingkat
pendidikan ibu. Dukungan dari keluarga terutama suami juga menentukan kesuksesan atau
kegagalan dalam memberi ASI, sebab dukungan suami dapat menimbulkan rasa nyaman pada ibu
sehingga dapat mempengaruhi produksi ASI (Rahmawati & Dianning, 2010).
3
Susu formula adalah modifikasi dari susu sapi yang diubah komposisinya hingga dapat
digunakan sebagai pengganti ASI. Kandungan susu formula yang dibuat hampir menyerupai ASI dapat
menggantikan asupan nutrisi untuk bayi yang karena ibu atau bayi mengalami kontraindikasi
pemberian ASI (Indriarti, 2008). Namun bila susu formula diberikan secara berlebih dapat
menyebabkan obesitas dan muntah pada bayi (Lockhart & Saputra, 2014). Bayi yang diberi susu
formula cenderung tumbuh lebih dari seharusnya (Duggan, 2008).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 27 Januari 2017 di Wilayah Kerja
Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang, dilakukan pada 10 bayi ternyata terdapat 4 bayi yang
diberikan Asi dan 6 bayi yang diberikan susu formula. Dilihat dari catatan grafik berat badan pada
buku KMS, bayi yang diberi susu formula lebih cepat mengalami pertambahan berat badan
dibandingan bayi yang diberi ASI. Maka dari itu, pemberian ASI maupun susu formula sangat
mempengaruhi peningkatan berat badan.

Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang
mendapat Asi dengan Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten
Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI.
b. Untuk mengetahui gambaran peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan yang diberikan susu
formula.
c. Untuk mengetahui Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang
mendapat Asi dengan Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten
Semarang.

Manfaat Penelitian
1. Bagi Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan masyarakaat untuk memberikan ASI
secara eksklusif karena manfaatnya yang besar bagi bayi dan sebagai salah satu indikator dalam
meningkatkan upaya promosi kesehatan bayi.
2. Bagi Pelayanan Kesehatan
Memberikan informasi mengenai perbedaan pemberian ASI Eksklusif dan Susu Formula
terhadap pertumbuhan berat badan bayi usia 0-6 bulan serta diharapkan dapat digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam mensukseskan program ASI Eksklusif.
3. Bagi Peneliti
Untuk sumber informasi, menambah wawasan, dan pengalaman penulis khususnya dalam
hal penelitian mengenai Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi
yang mendapat Asi dan Susu Formula.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Menambah informasi dan wawasan mahasiswa tentang pengaruh pemberian ASI terhadap
pertumbuhan berat badan bayi usia 0-6 bulan serta sebagai bahan penambahan karya ilmiah pada
bagian ilmu kebidanan.

METODE PENELITIAN

Variabel penelitian ini terdiri dari dua yaitu : variabel bebas : ASI, Susu Formula dan variable
terikat : Peningkatan Berat Badan. Hipotesis penelitian ini adalah “ada Perbedaan Peningkatan Berat
Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang mendapat Asi dengan Susu Formula”. Penelitian ini
dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa, Kabupaten Semarang pada bulan April 2017.

4
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi yang telah berusia 6 bulan sejumlah 170 bayi.
Sampel dalam penelitian ini sejumlah 63 bayi dengan kriteria inklusi : merupakan bayi yang lahir
dengan berat badan dalam rentang normal, bayi dalam keadaan sehat, bayi memiliki KMS, yang
mencatat berat badan bayi lahir sampai usia 6 bulan atau ibu memiliki buku catatan pertumbuhan bayi,
bayi mengkonsumsi ASI saja, bayi mengkonsumsi susu formula saja dan orang tua bersedia menjadi
responden. Pada penelitian ini pengambilan sampling menggunakan teknik proportional random
sampling yang merupakan teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian memang tidak
tunggal tetapi gabungan dari dua atau tiga yaitu berstrata, proporsi dan acak. Instrumen penelitian ini
menggunakan Lembar Observasi.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian
A. Analisis Univariat
1. Gambaran Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang diberikan Susu Formula
Tabel 4.1 Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang Diberikan Susu Formula di
Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa, Kabupaten Semarang

Variabel n Mean SD Min Max


(kg) (kg) (kg) (kg)
Peningkatan BB 38 3.62 0.77 1.4 5.9

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 38 bayi usia 0-6 bulan yang diberikan susu
formula, memiliki peningkatan rata-rata berat badan sebesar 3,62 kg dengan standar deviasi
0,77 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 1,4 kg dan paling tinggi 5,9 kg.

2. Gambaran Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang diberikan ASI
Tabel 4.2 Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang Diberikan ASI di Wilayah
Kerja Puskesmas Ambarawa, Kabupaten Semarang

Variabel n Mean SD Min Max


(kg) (kg) (kg) (kg)
Peningkatan BB 25 3,08 0,61 2,3 4,7

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 25 bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI
eksklusif, memiliki peningkatan rata-rata berat badan sebesar 3,08 kg dengan standar deviasi
0,61 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 2,3 kg dan paling tinggi 4,7 kg.

B. Analisis Bivariat
Pada bagian ini disajikan analisis perbedaan peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan
antara bayi yang mendapat ASI dengan Susu Formula di Wilayah kerja Puskesmas Ambarawa
Kabupaten Semarang. Untuk mengetahui perbedaan ini digunakan uji Mann Whitney, hal ini
karena data yang diperoleh berdistribusi normal. Data tidak berdistribusi normal dibuktikan
dengan hasil berikut ini.

5
1. Uji Normalitas
Tabel 4.3 Uji Normalitas Data

Variabel Intervensi n p-value Kesimpulan


Peningkatan BB Susu Formula 38 0,009 Tidak Normal
ASI 25 0,059 Normal
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil p-value untuk variabel peningkatan BB yang
diberikan susu formula sebesar 0,009 < α (0,05), ini menunjukkan bahwa data peningkatan
BB pada bayi yang diberikan susu formula tidak berdistribusi normal. Sedangkan P-value
untuk peningkatan BB yang diberikan ASI sebesar 0,059 > α (0,05), ini menunjukkan bahwa
data peningkatan BB pada bayi yang diberikan ASI berdistribusi normal. Oleh karena ada
salah satu data tidak berdistribusi normal maka pengujian perbedaan dilakukan menggunakan
uji non parametrik, yaitu uji Mann Whitney.

2. Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang mendapat ASI
dengan Susu Formula
Tabel 4.4 Distribusi Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang
Mendapat ASI dengan Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa
Kabupaten Semarang

Variabel Intervensi N Mean SD Z p-value


Peningkatan Susu Formula 38 3,62 0,77 -3,307 0,001
BB ASI 25 3,08 0,61

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan berat badan bayi yang diberikan
susu formula sebesar 3,62 kg, lebih besar dibandingkan bayi yang diberikan ASI saja, yaitu
sebesar 3,08 kg.
Kemudian, berdasarkan uji Mann Whitney, didapatkan nilai Z hitung sebesar -3,307
dengan p-value sebesar 0,001. Terlihat bahwa p-value 0,001 <  (0,05), ini menunjukkan
bahwa ada perbedaan secara signifikan peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan antara
bayi yang mendapat ASI dengan Susu Formula di Wilayah kerja Puskesmas Ambarawa
Kabupaten Semarang. Perbedaan ini terlihat dimana pada bayi yang diberikan susu formula
menunjukkan peningkatan berat badan yang lebih besar dibanding bayi yang diberikan ASI
saja.

PEMBAHASAN

A. Analisis Univariat
1. Gambaran Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang Diberikan Susu
Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa, Kabupaten Semarang
Hasil penelitian diketahui bahwa dari 38 bayi usia 0-6 bulan yang diberikan susu
formula, memiliki peningkatan rata-rata berat badan sebesar 3,62 kg dengan standar deviasi
0,77 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 1,4 kg dan paling tinggi 5,9 kg.
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan berat badan bayi
yang diberikan susu formula tergolong cukup beragam. Ada bayi yang hanya meningkat
minimal 1,4 kg antara umur 0-6 bulan dan ada pula bayi yang meningkat maksimal 5,9 kg
antara umur 0-6 bulan.
Hal ini disebabkan banyak terdapat kelemahan-kelemahan jika bayi diberikan susu
formula, diantaranya: gangguan saluran pencernaan (muntah, diare). Judarwanto (2007)
6
menjelaskan bahwa anak yang diberi susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung,
“cegukan”, sering buang angin, sering rewel, susah tidur terutama malam hari. Saluran
pencernaan bayi dapat terganggu akibat dari pengenceran susu formula yang kurang tepat,
sedangkan susu yang terlalu kental dapat membuat usus bayi susah mencerna, sehingga
sebelum susu dicerna oleh usus akan dikeluarkan kembali melalui anus yang mengakibatkan
bayi mengalami diare. Oleh karena itu, jika anak terus-terusan mengalami diare pertumbuhan
berat badannya akan tehambat dan bayi menjadi kurus.
Kelemahan lain dari susu formula adalah bisa menyebabkan infeksi saluran penafasan.
Gangguan saluran pencernaan yang terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya
tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (Judarwanto, 2007).
Susu sapi tidak mengandung sel darah putih hidup dan antibiotik sebagai perlindungan tubuh
dari infeksi. Proses penyiapan susu formula yang kurang steril dapat menyebabkan bakteri
mudah masuk.
Kemudian bayi yang diberikan susu formula juga bisa mengalami kelebihan berat
badan yang tidak normal atau kegemukan. Hal ini karena kelebihan berat badan pada bayi
yang mendapatkan susu formula diperkirakan karena kelebihan air dan komposisi lemak
tubuh yang berbeda dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI (Khasanah, 2011).
Khasanah (2011) menambahkan bahwa susu formula banyak kelemahannya karena
terbuat dari susu sapi. Kelemahan tersebut antara lain; kandungan susu formula tidak
selengkap ASI, pengenceran yang salah, kontaminasi mikroorganisme, menyebabkan alergi,
bayi bisa diare dan sering muntah, menyebabkan bayi terkena infeksi, obesitas atau
kegemukan, pemborosan, kekurangan zat besi dan vitamin, mengandung banyak garam.
Kebanyakan susu formula berbasis susu sapi yang mengandung protein jauh lebih
banyak dari protein manusia, tidak sedikit bayi diare akibat susu formula karena gula susu
(laktosa). Susu formula kini banyak mengandung tambahan nutrisi berupa asam lemak seperti
AA dan DHA yang dipercaya dapat meningkatkan kecerdasan anak. Namun, bayi tidak
memiliki kemampuan untuk mencerna semua zat gizi tersebut. Sedangkan lemak yang
terdapat dalam ASI dapat dicerna maksimal oleh tubuh bayi dari pada lemak yang berada
dalam susu formula, sehingga tinja bayi masih berupa susu formula yang tidak dapat dicerna
oleh tubuh bayi (Roesli, 2005).
Dalam susu formula juga terdapat lemak jenuh maupun lemak tak jenuh. Lemak jenuh
dalam susu formula meliputi Butyric Acid, Caproic Acid, Caprylic Acid, Capric Acid, Lauric
Acid, Myristic Acid, Palmitic Acid, Stearic Acid, Arachidonic Acid, sedangkan lemak tak
jenuh meliputi Oleic Acid, Linoleic Acid, Linolenic Acid, dan Arachidonic Acid (Maheswari,
2009).

2. Gambaran Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan yang Diberikan ASI Eksklusif
di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa, Kabupaten Semarang
Hasil penelitian diketahui bahwa dari 25 bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI
eksklusif, memiliki peningkatan rata-rata berat badan sebesar 3,08 kg dengan standar deviasi
0,61 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 2,3 kg dan paling tinggi 4,7 kg.
Hasil peningkatan berat badan yang diberikan ASI eksklusif tersebut menunjukkan
peningkatan yang optimal, terlihat dari peningkatan berat badan bayi dalam rentang antara 2,3
kg sampai 4,7 kg dengan rata-rata peningkatan berat badan bayi 3,62 kg. Hal ini karena ASI
merupakan makanan yang ideal dan yang paling cocok untuk bayi. ASI juga merupakan
sumber makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan zat gizi yang sesuai untuk
kebutuhan bayi dan merupakan makanan yang paling sempurna. Zat-zat gizi yang berkualitas
tinggi terdapat pada ASI. ASI juga banyak mengandung nilai gizi yang tinggi seperti protein,
vitamin A, karbohidrat dan lemak rendah. Selain itu, ASI juga mengandung asam amino
essensial yang sangat penting untuk meningkatkan jumlah sel otak bayi yang berkaitan

7
dengan kecerdasan bayi dan sangat baik untuk kesehatan karena mengandung zat kekebalan
terhadap penyakit. Oleh karena itu, bayi yang diberikan ASI eksklusif akan memiliki
pertumbuhan yang optimal.
Sebagaimana dinyatakan Roesli (2005) ASI merupakan cairan biologis kompleks yang
mengandung semua nutrien yang diperlukan tubuh anak. Sifatnya yang sangat mudah diserap
tubuh bayi, menjadikan ASI nutrisi utama dan tidak tergantikan yang paling memenuhi
persyaratan untuk tumbuh kembang bayi. Pada usia 4 bulan berat badan bayi bisa mencapai 2
kali lipat dan kemudian mereka tumbuh dengan pesat. Hal ini didukung juga dengan
pemberian ASI.
Menurut Kementrian Kesehatan RI (2015) penambahan berat badan pada bayi umur 1
bulan mengalami kenaikan minimum 800 gram, umur 2 bulan 900 gram, umur 3 bulan 800
gram, umur 4 bulan 600 gram, umur 5 bulan 500 gram, dan umur 6 bulan 400 gram.
ASI mengandung nutrisi, hormon, unsur kekebalan, factor pertumbuhan, anti alergi,
serta anti inflamasi. Nutrisi dalam ASI mencakup hampir 200 unsur zat makanan. Unsur ini
mencakup hidrat arang, lemak, proten, vitamin dan mineral dalam jumlah yang proposional.
Kandungan hormon ASI jumlahnya sedikit, tetapi sangat diperlukan dalam proses
pertumbuhan dan sistem metabolisme. Zat hidrat arang dalam ASI dalam bentuk laktosa yang
jumlahnya akan berubah-ubah setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi
(Hubertin, 2004).
Penelitian ilmiah membuktikan bahwa bayi akan tumbuh lebih sehat dan lebih cerdas
dengan diberi ASI eksklusif selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya. ASI
merupakan sumber nutrisi dan imunitas yang paling baik untuk bayi yang sedang tumbuh
kembang (Hanafi, 2004). Pemberian ASI dilakukan melalui rangsangan isapan bayi pada
putting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan
hormon prolaktin. Prolaktin inilah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI. Semakin
sering bayi menghisap putting susu akan semakin banyak prolaktin dan ASI dikeluarkan. Pada
hari-hari pertama kelahiran bayi, apabila penghisapan putting susu cukup adekuat maka akan
dihasilkan secara bertahap 10-100 ml ASI. Produksi ASI akan optimal setelah hari 10-14 usia
bayi. Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI per hari (kisaran 600-1000 ml) untuk
tumbuh kembang bayi (Soetjiningsih, 2009).

B. Analisis Bivariat
1. Perbedaan Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 0-6 Bulan antara Bayi yang mendapat
Asi dengan Susu Formula di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten
Semarang
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan berat badan
bayi yang diberikan susu formula sebesar 3,62 kg, lebih besar dibandingkan bayi yang
diberikan ASI saja, yaitu sebesar 3,08 kg.
Perbedaan kedua kondisi tersebut bisa disebabkan karena bayi memperoleh jenis
makanan yang berbeda untuk dikonsmsi satu sama lain. Bayi yang mendapat susu formula,
jika tidak dilakukan secara tepat waktu hanya akan mendapatkan banyak lemak dan air secara
berlebihan, hal ini akan membuat bayi mengalami kegemukan yang tidak normal. Ini berbeda
jika bayi hanya diberikan ASI saja, kebutuhan nutrisi bayi akan dipenuhi secara optimal, yang
mana kandungan lemak di dalam ASI mudah dicerna dan diserap oleh bayi sehingga tidak
terjadi penimbunan lemak yang berlebihan pada bayi yang diberi ASI Eksklusif.
Kemudian, berdasarkan uji Mann Whitney, didapatkan nilai Z hitung sebesar -3,307
dengan p-value sebesar 0,001. Terlihat bahwa p-value 0,001 <  (0,05), ini menunjukkan
bahwa ada perbedaan secara signifikan peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan antara
bayi yang mendapat ASI dengan Susu Formula di Wilayah kerja Puskesmas Ambarawa
Kabupaten Semarang. Perbedaan ini terlihat dimana pada bayi yang diberikan susu formula
8
menunjukkan peningkatan berat badan yang lebih besar dibanding bayi yang diberikan ASI
saja. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan berat badan bayi 0-6 bulan yang diberikan
susu formula secara signifikan lebih besar daripada berat badan bayi yang diberikan ASI
eksklusif.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dinyatkaan oleh Dewi (2016) bahwa
kelompok bayi yang diberi susu formula memiliki angka kenaikan berat badan lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok bayi yang diberi ASI eksklusif yaitu sebesar 775 gram per
bulan. Bayi yang mendapat ASI tumbuh lebih cepat pada 2-3 bulan pertama kehidupan
selanjutnya, namun secara keseluruhan sampai usia 6 bulan berat badan bayi yang mendapat
ASI lebih ringan dibanding yang tidak mendapat ASI. Hal ini karena pertumbuhan yang
optimal justru pertumbuhan yang ditunjukkan oleh bayi yang mendapat ASI.
Hal senada juga dinyatakan Prasetyono (2010) bahwa perbedaan peningkatan berat
badan bayi per bulan antara bayi yang diberi ASI eksklusif dengan susu formula dapat
disebabkan karena kandungan pemanis buatan yang terlalu banyak dalam susu formula yang
banyak dijual di pasaran menyebabkan kenaikan berat badan sangat cepat pada bayi yang
diberikan susu formula.
Pada bulan pertama, bayi yang diberikan ASI eksklusif mendapatkan berat badan yang
lebih. Namun pada bulan kedua dan seterusnya laju percepatan pertumbuhan bayi dengan
susu formula lebih tinggi sehingga bayi lebih berat dan lebih tinggi pada akhir tahun
(Agostoni et al, 2015).
Perbedaan peningkatan berat badan bayi antara dua kelompok juga dapat disebabkan
oleh asupan kalori pada bayi berbeda. Kebutuhan kalori bayi pada usia 3-6 bulan sebanyak
110 kkal/kg/hari (Behrman, 2007). Bayi normalnya mengkonsumsi ASI sekitar 750-850 ml
per hari. Kadar lemak total yang terkandung dalam ASI sebanyak 4,2 g/100 ml sedangkan
kadar lemak total dalam susu formula sebanyak 4,4-6 g/100 ml (Koletzko et al, 2005).
Penelitian Hester et al (2012) menyebutkan rata-rata volume susu formula yang
dikonsumsi pada hakekatnya lebih tinggi daripada volume dari ASI. Dikarenakan lebih
besarnya asupan volume susu dan lebih tingginya kandungan energi pada susu formula, rata-
rata asupan energi pada hari ke 14 sampai 6 minggu kehidupannya pada bayi dengan susu
formula lebih tinggi yaitu 513 kkal/hari jika dibandingkan bayi dengan ASI yaitu 440
kkal/hari.
Singhal dan Lanigan (2007) juga menyebutkan memberikan ASI pada bayi
berhubungan dengan nafsu makan yang lebih rendah dengan pengaturan hormon leptin.
Selain itu bayi dengan ASI eksklusif tumbuh lebih lambat. Sebaliknya, bayi dengan susu
formula memiliki pengaturan nafsu makan yang lebih tinggi sehingga dapat membawa ke
arah terjadiya obesitas dan tumbuh dengan lebih cepat dibandingkan dengan yang diberi ASI.
Selain faktor di atas, perbedaan peningkatan berat badan bayi mungkin sebagian juga
dikarenakan orang tua dari bayi yang diberi susu formula memberikan susu formula dalam
jumlah lebih dan atau memperkenalkan makanan pada usia lebih dini. Sedangkan bayi yang
diberi ASI mengatur asupan energi mereka pada tingkat yang lebih rendah dari pada bayi
dengan susu formula (Dennison et al, 2006). Selanjutnya, juga disebabkan oleh beberapa
faktor lain. Kemungkinan faktor tersebut adalah faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor
genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak.
Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat
ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.

9
PENUTUP

Kesimpulan
1. Rata-rata peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan yang diberikan susu formula, sebesar 3,62
kg dengan standar deviasi 0,77 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 1,4 kg dan paling
tinggi 5,9 kg.
2. Rata-rata peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI eksklusif sebesar 3,08
kg dengan standar deviasi 0,61 kg. Peningkatan berat badan bayi paling rendah 2,3 kg dan paling
tinggi 4,7 kg.
3. Ada perbedaan secara signifikan peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan antara bayi yang
mendapat ASI dengan Susu Formula di Wilayah kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten
Semarang dengan p-value 0,001 <  (0,05).

Saran
1. Bagi Ibu Menyusui
Bagi ibu diharapkan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa tambahan makanan
apapun untuk pertumbuhan bayi yang optimal dan mencegah obesitas di masa yang akan datang.
2. Bagi Pelayanan Kesehatan atau Puskesmas
Bagi pelayanan kesehatan diharapkan untuk lebih menggalakkan program pemberian ASI
eksklusif bagi bayi selama 6 bulan secara berkala.
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan, kader posyandu, dan bidan agar dapat mendukung gerakan inisiasi
menyusui dini dengan pemberian ASI eksklusif sesaat setelah bayi lahir dan memberikan arahan
serta pengetahuan kepada ibu hamil dan menyusui.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lebih lanjut, untuk
meneliti tentang peningkatan berat badan bayi dengan mencari faktor lain: seperti faktor genetik
dan pola asuh.

DAFTAR PUSTAKA

Agostoni, C et al. 2015. Growth Patterns of Breast Fed and Formula Fed Infants in The First 12
Months of Life : An Italian Study. Arch Dis Child.

Anggraini. 2010. Asuhan Gizi : Nutritional Care Process. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek. Rineka Cipta : Jakarta.

Dennison, Barbara A et al. 2006. Rapid Infant Weight Gain Predicts Childhood Overweight. Obesity
Journal.14(3) : 491-499.

Depkes RI. 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.

Depkes RI. 2008. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta:
Depkes RI.

Dewi, VNL. 2016. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita . Jakarta : Salemba Medika

Dinkes Kabupaten Semarang. 2015. Profil Kesehatan Kabupaten Semarang 2015.

10
Duggan et al. 2008. Nutrition in Pediatrics. Hamilton: BC Decker Inc.

Haster, et al. 2012. Is the Macronutrient Intake of Formula-Fed Infants Greater Than Breast-Fed
Infants in Early Infancy. Review Article. Journal of Nutrition and Metabolism.

Hidayat. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika.

Hidayat, A. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.

Hubertin, S. 2004. Konsep Penerapan ASI Eksklusif: Buku Saku Untuk Bidan. Jakarta : EGC.

IDAI. 2013. Air Susu Ibu dan Perannya dalam Pencegahan Obesitas. URL: http://idai.or.id/public-
articles/klinik/asi/air-susu-ibu-dan-perannyadalampen-cegahan-obesitas.html. (Diakses 10
Januari 2017).

Indiarti, MT. 2008. A to Z The Golden Age; Merawat, Membesarkan, dan Mencerdaskan Bayi Anda
Sejak dalam Masa Kandungan Hingga Usia 3 Tahun. Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Judarwanto, Widodo. 2007, Enterobacter sakazakii, Bakteri Pencemar Susu. RS Bunda Jakarta &
Picky Eaters Clinic. URL : http://medicastore.com. (Diakses : 28 Maret 2017).

Kementrian Kesehatan RI. 2015. Kartu Menuju Sehat (KMS). URL : http://www.gizikia.depkes.go.id
/archives /816/kms. (Diakses 11 Januari 2017).

Kementrian kesehatan RI. 2012. Profil Kesehatan Indonesia. URL: http://www.depkes .go.id. (Diakses
10 Januari 2017).

Khasanah, Nur. 2011. ASI atau Susu Formula. Jogjakarta : FlashBook

Koletzko, B. et al. 2005. Global Standard for the Composition of Infant Formula : Recommendations
of an ESPGHAN Coordinated International Expert Group. J Pediatr Gastroenterol Nutr.

Lockhart & Saputra. 2014. Asuhan Kebidanan Neonatus Normal & Patologis. Tangerang : Binarupa
Aksara.

Notoatmojo, 2010. Metediologi PenelitianKesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.

Nursalam, dkk. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba Medika.

Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan (konsep, proses, dan praktik), Edisi 4,
volume 2. Alih Bhasa : Renata Komalasari, dkk. Jakarta : EGC.

Prasetyono (2010) Prasetyono, DS. 2010. Buku Pintar ASI Eksklusif : Pengenalan, Praktik, dan
Kemanfaatan-Kemanfaatannya. Yogyakarta : DIVA Press.

Prawiroharjo, S. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP.

11
Profil Jateng. 2015. Profil Kesehatan Profinsi Jawa Tengah. URL :
dinkesjatengprov.go.id/v2015/dokumen/profil2015/Profil_2015_fix.pdf. (Diakses : tanggal 27
Maret 2017).

Rahmawati & Dianning. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu
Menyusui di Kelurahan Padalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Jurnal Kes
MaDaSka. 1 (1): 8-17.

Roesli U. 2005. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya.

Ruowei Li et al. 2012. Risk of Bottle-feeding for Rapid Weight Gain During the First Year of Life.
Arch Pediatr Adolesc Med. 166(5) : 431-436.

Singhal, A & Lanigan, J. 2007. Breastfeeding, Early Growth and Later Obesity. Childhood Nutritions
Research Center.

Soetjiningsih. 2009. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta.

12
PERBEDAAN PENINGKATAN BERAT BADAN BAYI USIA 0-6 BULAN ANTARA BAYI
YANG MENDAPAT ASI DENGAN SUSU FORMULA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AMBARAWA
KABUPATEN SEMARANG

ARTIKEL

Oleh
EKA ASVISTA SALVIANA
NIM. 030216A034

PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN


UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
UNGARAN
2017

13