You are on page 1of 7

Kasus II

MEDIAL PATELLA LUXATION (MPL)

Sinyalemen Nama pasien Calvin


Umur pasien 6 bulan
Jenis kelamin Jantan
Berat badan 3,24 kg
Suhu 38,2 °C
Nama pemilik Steven Liang
Alamat pemilik BSD sektor 1-6 blok D6
jl. Pare 3
Tanggal masuk 03 November 2016
Anamnesa Pada pemeriksaan sebelumnya tanggal 03 November
2016, keropeng pada kaki kiri dan kanan, makanan
caliber, aktif dan suka lari, sudah 1 minggu kaki
belakang kiri diseret dan jika berlari lumping. Tanggal
25 Januari 2017 kaki kiri, platella masuk ke dalam
lumping. 03 Maret 217 puasa 10 jam
Hasil pemeriksaan Hewan ketika berlari lumping, kaki kiri lebih pendek
daripada kaki kanan, palpasi di daerah lutut pada kaki
yang pincang terasa adanya pergeseran patella dari
lekukan trochlea. Arah bergesernya patella dapat
dirasakan bergeser kearah medial (dalam). Hasil
pemeriksaan X-Ray terlihat patella keluar dari lumping.
Diagnosa Medial Patella Luxation (MPL) dan Scabies
Differensial diagnose Cranial Cruciate ligament Ruptured dan Tendinitis
Patellae
Terapi Tanggal 03 November 2016
 Inj. Meloxicam 0,15 cc IM
 R/ B-Com VIII
S 2 dd 1 tab
 R/ Meloxicam I
S 1 dd ¼ tab
 Control 5 hari lagi, jika tidak ada perubahan
dilakukan X-Ray

16
 Dirumah sudah ada obat keropeng
Tanggal 25 Januari 2017
Inj. Iver 0,1 cc SC dan disarankan X-Ray, setelah
didapatkan hasil foto X-Ray
Tanggal 3 Februari
 Sebelumnya hewan telah dipuasakan selama 10
jam. Kemudian tindakan operasi dengan
 Inj. ACP 0,16 cc IM
 Inj. Medetin 0,1 cc IM
 Inj. Ketamin 0,55 cc IM
 Inj. Amoxicillin sodium 0,3 cc (20mg/kg bb)
 R/ Amoxicillin tab III
S 2 dd 1⁄6 tab 6 hari
 R/ Meloxicam 7,5 I
S 2 dd 1⁄6 tab

Pembahasan
Luxatio patella adalah suatu kondisi dimana patella tergelincir dari alur
normal pada bagian bawah tulang femur. Pada awalnya mungkin hewan akan merasa
kesakitan, kemudian berkembang menjadi artritis, menyebabkan rasa sakit dan
ketimpangan kronis. Biasanya anjing lahir dalam kondisi normal tetapi pada masa
pertumbuh akan mengalami masalah pada bagian kaki belakang, memungkinkan
tempurung lutut tergelincir masuk atau keluar dari alur sendi lutut. Pada Anjing
dicegahan untuk menekuk lutut dan menggosok permukaan sendi yang menyebabkan
arthritis. Pada beberapa anjing, tempurung lutut secara permanen keluar dari alur
sehingga menyebabkan hewan cacat permanen (Dan dkk., 2016). Kasus luxatio
patella sering ditemukan pada anjing-anjing ras kecil dan sedang seperti Chihuahua,
Pomeranian, poodle, Pekingese, Yorkshire terrier, pug, dan chow chow. Luxatio
patella kadang-kadang juga ditemukan pada ras besar seperti german shepherd
( Koesharjono, 2008). Menurut mostafa ddk., (2008) kejadian luxatio patella
disebabkan karena anjing memiliki keabnormalan struktur tulang.

17
Etiologi
tanda-tanda akan terjadinya luxatio patella sebenarnya sudah dapat dideteksi
sejak lahir, akan tetapi keadaan ini kebanyakan baru diketahui pada waktu anjing
sudah berumur 3-4 bulan. Kasus luxatio patella dapat dikelompokkan menjadi 2,
yaitu: kasus luxatio patella kearah medial (dalam) dan kasus luxatio patella ke arah
lateral (luar).
Kasus Medial Patella Luxation (MPL) lebih cenderung sering terjadi
dibandingkan dengan Medial Patella Luxation (LPL) (schein, 2016). MPL dapat
disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, faktor herediter, coxo-femoral
dysplasia, trauma dan cacat congenital. MPL karena cacat congenital ini lebih umum
terjadi ( perez dan lafuente, 2014).

Berdasarkan tingkat keparahannya, Luxatio patella dapat dibagi menjadi 4


tingkat, yaitu:
1. Tingkat I : patella bergeser dari tempatnya, namun dapat kembali ke
tempatnya sendiri tanpa tidakan manipulatif.
2. Tingkat II : patella bergeser dari tempatnya, namun masih dapat dikembalikan
ke tempatnya dengan tindakan manipulatif.
3. Tingkat III : patella bergeser secara mendadak pada saat anjing berdiri, namun
masih dapat dikembalikan ke tempatnya.
4. Tingkat IV : patella bergeser dan sudah tidak dapat dikembalikan ke
tempatnya.

Diagnosa
Luxatio patella dapat diketahui dari anamnesa, gejala klinis, maupun hasil
foto X-Ray dari kaki belakang. Diagnosa secara anamnesis, yaitu berupa adanya
trauma, mekanisme trauma yang sesuai dan ada rasa sendi yang keluar. Kemudian
melalui pemeriksaan klinis, adanya deformitas berupa hilangnya tonjolan tulang yang
normal, pemendekan dan kedudukan yang khas, adanya nyeri dan function laesa.
Klien datang dengan keluhan anjingnya sesekali mengangkat salah
satu kaki belakangnya pada waktu berjalan atau berlari.

18
Berdasarkan pemeriksaan klinis dengan palpasi di daerah lutut pada kaki yang
pincang terasa adanya pergeseran patella dari lekukan trochlea. Arah bergesernya
patella dapat dirasakan ke arah medial (dalam). Pemeriksaan klinis tersebut dapat
diperkuat dengan membuat foto X-Ray dari kaki kiri yang diduga bermasalah.
Interpretasi dari X-Ray menunjukan bahwa kejadian MPL pada anjing Chihuahua ini
berada pada tingkat I berdasarkan tingkat keparahannya.

a b

Gambar a. pemeriksaan fisik. b. pemeriksaan X-Ray

Terapi dan penanganan Medial Patella Luxation (MPL)


Penanganan untuk medial patella luxation berbeda antara satu hewan dengan
hewan lainnya. Hewan yang tidak menunjukan rasa sakit hanya perlu dirawat dengan
baik, diikuti dengan pemberian obat-obatan anti inflamasi, latihan dan istirahat.
Namun pada kasus yang parah harus dilakukan tindakan operasi (marietta, dkk.,
2016). Menurut Linney dkk (2011) tindakan operasi operasi merupakan cara yang
paling sering direkomendasikan untuk penangan kasus MPL pada anjing dengan
kombinasi rekontruksi jaringan lunak, memperdalam alur trochlea, dan transposisi
dari puncak tibia.
Mengembalikan patella pada posisi yang benar dan mempertahankan patella
pada tempatnya merupakan inti dari penanganan kasus MPL. Hal ini dapat dilakukan
dengan memindahkan patella serta ligamennya pada posisi yang benar yaitu pada
lekukan trochlea. Pada kasus-kasus tertentu dimana lekukan trochlea berbentuk datar
atau cembung sehingga lekukan tersebut perlu diperdalam dan dibuat bentuk
cembung terlebih dahulu (Koeh, 2002).
Sebelum penanganan dengan operasi perlu dilakukan pemberian premedikasi
dan anastesi. Acepromazin merupakan premedikasi yang sering digunakan karena

19
memiliki beberapa keuntungan sebagai antiemetik, antiaritmia, antihistamin,
(Amanda dan Mckune, 2014), menginduksi ketenangan ringan hingga sedang,
relaksasi otot, dan mengurangi aktivitas spontan terutama diakibatkan oleh antagonis
pusat dopaminergik (Lemke 2007). Acepromazin banyak digunakan untuk restrain
hewan kecil, namun tidak cocok digunakan pada hewan agresif karena hanya
menghasilkan sedatif ringan, yaitu dengan durasi yang relatif cepat dan onset yang
relatif lama (Vaisanen et al. 2002; Vesal et al. 2011).
Pemeberian anastesi kombinasi antara medetomidin dan ketamin tidak
berpengaruh pada refleks pupil, pengaruh yang berbeda secara nyata tampak pada
waktu mulai hilangnya rasa nyeri, tonus otot, kesadaran, refleks pedal, dan onset
sempurna (Pramesti, 2015). Efek anastesi dari medetomidin akan muncul 10-30 menit
setelah injeksi (Amanda dan Mckune, 2014) selanjutnya diberikan injeksi ketamin 10
menit sesudahnya.
Prosedur Operasi
Alat dan bahan
Alat yang digunakan yaitu pinset anatomis, pinset sirugis, scalpel, blade,
gunting bedah, needle holder, klem arteri, alisse tissue forcep, duk, duk klem, bipolar,
gergaji tulang, bor tulang, palu tulang, tang, glove, masker, baju bedah. Alat operasi
tersebut haruslah dalam keadaan steril sebeum diletakkan di meja khusus dan disusun
rapi.
Bahan yang digunakan yaitu alkohol 70%, iodine, acepromazin, ketamin,
medetomidin, wayer, benang operasi, NaCl fisiologis, amoxicillin sodium,
amoxicillin tablet, benang polyglycolic acid (PGA), benang monosyn, meloxicam,
gentamicin zalf, kasa, leukoplas, daryant-tulle.

Gambar. Persiapan alat dan bahan operasi

20
Persiapan operasi
Sebelum operasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fisik
hewan berupa penimbangan berat badan, suhu tubuh dan keadaan umum dari hewan
tersebut. Hewan telah dipuasakan selama 10 jam dengan tujuan agar kondisi usus
dalam keadaan kosong sehingga anjing tidak muntah saat teranastesi.
Rambut daerah sekitar patella dicukur menggunakan Clipper dan dibasi
dengan air lalu dicukur kembali dengan pisau silet untuk membersihkan bulu halus
diarea tersebut, kemudian diolesi dengan iodin. Selanjutnya hewan dinjeksikan
premedikasi acepromazin dengan dosis 0,16 mg/Kg bb secara Intramuskular (IM),
Setelah 10 menit hewan diinjeksikan medetin dosis 0,1 mg/kg bb secara IM dan 10
menit kemudian dilanjutkan dengan injeksi ketamin dosis 0,55 mg/kg bb IM

Pelaksanaan operasi
1. Hewan diletakkan di atas meja operasi dengan posisi lateral recumbency.
2. Diberikan injeksi antibiotic dan pain killer
3. Pasien ditutupi duk kecuali daerah yang akan dioperasi
4. Dibuat torehan pada bagian kulit luar membujur dari arah ujung femur hingga
pangkal tibia
5. Dipreparir bagian dibawah kulit
6. Diincisi fascia hingga tampak trochlea
7. permukaan trochlea yang terdiri dari tulang rawan diincisi dengan pola “v”
8. Kemudian sayatan tulang dikuakkan, lalu dikerok untuk memperdalam
lekukan sulcus troclea
9. pada anjing muda : tulang rawan beserta patella selanjutnya dikembalikan lagi
ke tempatnya (trochleoplasty). Trochleoplasty ini mudah dilakukan pada
anjing-anjing muda karena tulang rawannya masih tebal
10. Setelah patella dapat dikembalikan ke tempatnya maka segera dilakukan
fiksasi dengan jalan menjahit ligamentum patella dengan ligamentum
collateral bagia lateral
11. Diberikan antibiotik
12. Musculus dijahit dengan menggunkan metode interlock
13. Fascia dan kulit kembali dijahit dengan metode simple interrupted

21
14. Luka dibersihkan dan dioleskan antibiotik serta ditutup dengan daryant-tulle
dan kasa dan dibalut dengan leukoplas

Gambar. Proses
memperdalam Sulcus troclea

Perawatan Pasca Operasi


Penanganan pasca operasi meliputi :
1. Pasien pasca operasi ditempatkan pada kandang yang bersih dan kering.
2. Pengobatan : Pemberian antibiotik per oral 2 kali sehari selama 6 hari. Pemberian
antibiotik peroral yang adekuat mampu mencegah terjadinya infeksi sehingga
meski tanpa cairan antiseptik proses penyembuhan luka dapat tetap terjadi
(Kartono, dikutip oleh Oetomo, 1994). Salep antibiotik topical dapat membuat
luka tetap lembab dan mengurangi nyeri yang berkaitan dengan luka yang telah
mengering. Salep antibiotik dapat menembus luka dan mencegah infeksi.
3. Pemberian pain killer 2 kali sehari selama 3 hari.
4. Rehabilitasi dan medical check up.
5. Pengamatan/observasi terhadap kondisi pasien dan luka jahitannya.

Dua minggu pasca operasi, owner membawa hewannya untuk kontrol, hewan
sudah mampu berjalan dengan normal kembali dan bekas luka incisi sudah menyatu
dengan baik.

22