You are on page 1of 2

ARTIKEL PENDIDIKAN

PENDIDIKAN DI INDONESIA SEHARUSNYA


Oleh : Laurentia Swardani Eka Pangensih / 161434017

Pendidikan sejatinya merupakan hak dasar bagi setiap individu. Pendidikan adalah
sarana penumbuhan dan pengembangan dimensi-dimensi kemanusiaan menuju terwujudnya
kehidupan yang memposisikan manusia pada derajat kemanusiaannya yang hakiki. Pendidikan
bukanlah tempat membentuk manusia yang hanya menentukan aspek kecerdasannya (kognitif),
seperti yang selama ini tampak dalam realitas pendidikan di Indonesia ataupun sebagai
melestarikan hegemoni atau penindasan terhadap kaum lemah ataupun kelompok yang dominan.
Pendidikan adalah upaya mencapai kemerdekaan, pembebasan, dan kesetaraan bagi setiap
individu maupun kelompok yang terlibat dalam pendidikan, terutama bagi peserta didik.

Masalah pendidikan di Indonesia telah diatur dalam Undang-Undang UU No. 20 Tahun


2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dengan jelas mengatakan bahwa “Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi
warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Pendidikan yang seperti diungkapkan
di atas seharusnya merupakan hak setiap individu yang berasal dari beragam latar belakang.
Latar belakang individu yang heterogen dan pluralis bukanlah penghalang bagi setiap orang
untuk memperoleh akses pendidikan yang layak.

Namun, harapan indah tersebut bukanlah sesuatu yang benar-benar terwujud


sepenuhnya. Adanya kesenjangan, diskriminasi, dan perbedaan pendidikan (sekolah) terhadap
peserta didik masih jelas di mata kita. Orang yang kaya dan tak berpunya mendapat pendidikan
yang berbeda sesuai kemampuan finansialnya dalam membayar pendidikan. Orang kaya tentu
mudah menyekolahkan keluarganya (anaknya) untuk mendapatkan pendidikan yang layak,
bagus, dan mewah walaupun kemampuan akademik anaknya tidak sekaya uangnya. Sementara
orang dari keluarga miskin tentu sulit mendapatkan pendidikan yang layak bahkan mungkin
tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak walaupun kemampuan akademik yang
cemerlang dan brilian.

Selain itu, sistem pendidikan kita, yang menjiplak standarisasi dari Barat, lebih senang
mempersaingkan siswa satu sama lain, bukannya memahami potensi kreatifitas setiap anak didik
dan mengupayakan pengembanganya. Pengukuran kualitas pendidikan melalui UN misalnya,
justru mendegradasi kualitas anak-anak didik kita menjadi penghafal dan tak punya kemampuan
berfikir memadai.

Penyelenggaraan pendidikan nasional sudah seharusnya menggunakan paradigma baru,


yaitu mutu. Perubahan paradigma ini tidak berarti masalah-masalah lama yang masih tersisa
diabaikan, tetapi dibawa ke ranah dan cara pandang baru. Yaitu cara pandang keluar (outward
looking) dan cara pandang ke dalam (inward looking). Dengan demikian, rancangan pendidikan
nasional mesti bertolak dari kebutuhan, masalah, dan situasi kebangsaan kita dewasa ini.

Menurut realitas, masyarakat Indonesia yang plural adalah termasuk ke dalam bangsa
timur. Bangsa yang hidup dalam khazanah nilai-nilai tradisional berupa kehalusan rasa, hidup
dalam kasih sayang cinta akan kedamaian, persaudaraan, ketertiban, kejujuran, dan sopan dalam
tutur kata dan tindakan, serta menghargai kesetaraan derajat kemanusiaan dengan sesama. Nilai-
nilai itu disemai dalam dan melalui pendidikan anak sejak usia dini. Dalam praktek penyemaian
itu pendidik menempatkan peserta didiknya sebagai subjek, bukan objek pendidikan. Artinya
peserta didik diberi ruang yang seluas-luasnya untuk melakukan eksplorasi potensi-potensi
dirinya dan kemudian berekspresi secara kreatif, mandiri dan bertanggung jawab. Sementara itu
pendidik atau pamong adalah orang yang menuntun proses pengekspresian potensi-potensi diri
peserta didiknya agar terarah dan tidak desdruktif bagi dirinya dan sesamanya.