You are on page 1of 4

BAB III

ANALISA KASUS

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi yang
disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik.
Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi
(peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.

Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik barat dan
Karibia. lndonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah
tanah air.
Demam Dengue (DD) probable dengue merupakan penyakit demam akut
selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut:
- Nyeri kepala.
- Nyeri retro-orbital.
- Mialgia
- Artralgia.
- Ruam kulit.
- Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif).
- Leukopenia.(leuko < 5000)
- Trombosit < 150.000
- Hematokrit naik 5-10%
Dan pemeriksaan serologi dengue positif; atau ditemukan pasien DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.

berdasarkana anamnesa yang dilakukan, Pasien mengeluhkan demam yang


dirasakan ± 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam dirasakan terus-menerus
sepanjang hari namun pasien tidak mengecek suhunya tapi pasien merasa bahwa suhu
tubuhnya tinggi dan tidak membaik walaupun sudah minum obat penurun panas yang
dibelinya diwarung. Karena demamnya ini os menjadi tidak masuk bekerja dan
beristirahat dirumah. Demam juga disertai dengan menggigil, nyeri pada ulu hatinya
dan nyeri tenggorokkan. Dengan keluhan utama ini, dapat dipikirkan beberapa
diagnosis banding penyakit pasien yang mungkin dapat menyebabkan demam tinggi
yang terjadi akut, diantaranya yaitu bacterial infection dan viral infection. Infeksi
bakteri yang mungkin dapat terjadi pada umumnya yaitu Infeksi Saluran Napas Akut
(ISPA), Otitis Media Akut (OMA), atau Infeksi Saluran Kemih (ISK). Infeksi virus
yang mungkin dapat terjadi antara lain Demam Dengue (DD), Demam Berdarah
Dengue (DBD), atau Demam Chikungunya. Sedangkan infeksi parasit yang mungkin
dapat menyebabkan demam antara lain Tifoid dan Malaria.
Dari hasil anamnesis riwayat perjalanan penyakit didapatkan keluhan yang
sesuai dengan manifestasi klinis infeksi virus dengue yaitu adanya keluhan demam
akut selama 2-7 hari, disertai nyeri kepala, nyeri retro-orbital, serta perdarahan
langsung pada gusi, perdarahan pada kulit berupa ptekie, Diagnosis banding lain yang
mungkin dapat menyerupai infeksi dengue, misalnya diagnosis Malaria dapat
disiingkirkan dari tidak adanya riwayat berpergian ke daerah endemis. Tifoid juga
dapat disingkirkan karena riwayat perjalanan demam tidak memenuhi kriteria demam
tifoid serta keluhan gastrointestinal tidak dominan pada kasus.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan peningkatan suhu (38,7°C), gum bleeding,
nyeri tekan epigastrium, ptekie, dan rumple leed positif, sesuai dengan manifestasi
klinis yang terdapat pada DBD. Tifoid tongue negatif pada kasus, juga dapat
membantu menyingkirkan diagnosis Demam Tifoid.
Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien, dapat ditegakkan diagnosis
Suspek DBD Grade II (manifestasi klinis infeksi dengue dan perdarahan spontan tanpa
syok). Oleh karena kriteria diagnosis DBD belum terpenuhi seluruhnya, dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa Pemeriksaan Laboraturium berupa Darah Rutin,
khusunya Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, dan Leukosit. Selain itu juga dapat
dilakukan pemeriksaan serologis IgM Dengue dan IgD Dengue untuk menilai antibodi
yang terbentuk akibat infeksi virus Dengue.
Pemeriksaan darah rutin laboraturium seperti trombosit dilakukan pada
penderita DBD biasanya didapatkan trombositopenia pada demam hari 3-8, yang
disebabkan oleh supresi sum-sum tulang dan destruksi serta pemendekan masa hidup
trombosit. Kemudian pemeriksaan Hb dan Ht yang menunjukkan peningkatan
menandakan terjadinya plasma leakage, akibat dari peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang
ekstravaskular. Hal ini didapatkan pada pasien dimana pada pemeriksaan
laboraturium pertama didapatkan nilai WBC 2,19x109/L Hb 14,3 g/dl, Ht 39,2% dan
Trombosit 65.000/mm3. Monitoring penilaian laboraturium selanjutnya dibutuhkan
untuk melihat respon terapi yang diberikan pada pasien.
Untuk menentukan penatalaksanaan pasien infeksi virus dengue, perlu diketahui
klasifikasi derajat penyakit seperti tertera pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue3

Tatalaksana pasien ini meliputi tirah baring, lalu edukasi mengenai penyakit
DBD, tanda-tanda bahaya dan indikasi pulang bagi pasien, untuk makanan konsumsi
nasi biasa diberikan, lalu konsultasi dengan bagian gizi sehubungan dengan obesitas
pasien. Tatalaksana farmakologi diberikan untuk mengganti cairan yang hilang,
pasien diinfus dengan RL gtt XL/menit, lalu sebagai terapi simptomatik pada pasien
diberikan Omeprazole 2 x 40 mg/10 ml per IV dan Ondansentron 2 x 4 mg/2 ml tiap
12jam via IV untuk menangani keluhan mual serta Parasetamol 500mg/8jam per oral
(jika suhu >38,5°C).
Prognosis pasien ini bonam karena respon terhadap terapi baik. Kemudian
Edukasi yang diberikan kepada pasien dan orang tua adalah (1) penderita harus
istirahat, cukup minum, selain air putih dapat diberikan susu, jus buah, dapat
diberikan sedikit demi sedikit namun sering (2) menghindari dari gigitan nyamuk
(menggunakan lotion anti nyamuk atau memakai baju dan celana panjang), (3)
melakukan 3M plus (menguras, menutup, mengubur tempat penampungan air,
menaburkan bubuk abate, memelihara ikan pemankan jentik nyamuk, membersihkan
lingkungan, fogging, mencegah gigitan nyamuk dan memantau).