You are on page 1of 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah
struktur lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra
atau ruas tulang belakang. Ada beberapa jenis gangguan pada kolumna
vertebralis, seperti: lordosis dan kifosis. Lordosis adalah kelainan pada
tulang belakang yang menyebabkan punggung penderita terlalu masuk pada
daerah pinggang. Kifosis adalah suatu lengkung anteroposterior tulang
belakang dimana punggung menjadi terlalu membungkuk, umumnya pada
daerah toraks namun kadang pada daerah torakolumbal atau sakral (Hagler,
2012).
Tingkat prevalensi kifosis scheuerman di Amerika sekitar 0,4 % -
8%. Sedangkan sebuah study oleh Ambrecht et al, ditemukan ditemukan
prevalensi penyakit ini di Eropa sekitar 80% pada orang berusia 50 tahun
keatas, dengan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita (Medscape.com,
2016). Menurut ahli orthopedik dan rematologi RSU Dr. Soetomo Surabaya,
dr. Ketut Martiana Sp. Ort. (K), 4,1 % dari 2000 anak SD hingga SMP di
Surabaya, setelah diteliti ternyata mengalami tulang bengkok. Bahkan dari
hasil rongten sebagai bentuk pemeriksaan lanjutan diketahui yang
kebengkokannya mencapai 10derajat sebanyak 1,8 %, sedangkan yang lebih
dari 10 derajat sebanyak 1 % (Rahayu, 2008dalam Rakhmad Rosadi, 2009.
Tulang belakang terdiri dari tulang kecil yang bertumpuk satu sama
lain. Normalnya tulang belakang sejajar, lurus kebawah dan sedikit
melengkung. Tulang belakang yang mengalami gangguan memeiliki
kelengkungan yang berlebihan sehingga tulang menjadi tidak sejajar. Pada
gangguan tulang belakang lordosis dan kifosis dapat memepengaruhi citra
tubuh, harga diri dan dapat menyebabkan nyeri. Pada tingkat keparahan
yang tinggi tindakan konservatif tidak cukup, sehingga terkadang diperlukan
tindakan pembedahan.
Dalam penatalaksanaan lordosis dan kifosis diperlukan penanganan
yang tepat. Karena itu, sebagai perawat kita harus memahami dan

1
mengetahui apa yang dimaksud dengan lordosis dan kifosis serta
penatalaksanaannya. Agar kita dapat memeberikan asuhan keperawatan
pada klien dengan lordosis dan kifosis dengan tepat. Oleh karena itu, kami
akan memebahas materi tentang asuhan keperawatan pada klien dengan
lordosis dan kifosis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi tulang belakang?
2. Apa yang dimaksud dengan lordosis?
3. Apa yang dimaksud dengan kifosis?
4. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan lordosis dan
kifosis?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi tulang belakang
2. Untuk mengetahui gangguan tulang belakang lordosis
3. Untuk mengetahui gangguan tulang belakang kifosis
4. Untuk mengetahui asuhan keperawatan klien dengan lordosis dan
kifosis

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang


Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah
struktur lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra
atau ruas tulang belakang. Diantara tiap ruas tulang pada tulang belakang
terdapat bantalan tulang rawan. Panjang rangkaian tulang belakang pada
orang dewasa dapat mencapai 57 – 67 cm. Seluruhnya terdapat 33 ruas
tulang, 24 buah di antaranya adalah tulang-tulang terpisah dan 9 ruas
sisanya bergabung membentuk 2 tulang (Pearce, 2005).
Tulang belakang dibentuk dari tulang-tulang kecil (vertebra) yang
tersusun kokoh bersama diskus. Kolumna vertebra yang sehat ketika dilihat
dari samping akan menunjukkan sedikit kurva. Kurva tersebut membantu
tulang belakang menyerap beban pergerakan tubuh dan gravitasi
(WebMD.com, 2014).
Vertebra dikelmpokkan dan dinamakan sesuai dengan daerah yang
ditempatinya.
1. Tujuah vertebra servikal atau ruas tulang leher membentuk daerah
tengkuk.
2. Dua belas vertebra torakalis atau ruas tulang punggung membentuk
bagian belakan torax atau dada.
3. Lima vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membentuk daerah
lumbal atau pinggang.
4. Lima vertebra sakralis atau ruas tulang kelangkang membentuk sakrum
atau tulang kelangkang.
5. Empat vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging membentuk tulang
koksigeus atau tulang tungging.
Setiap vertebra terdiri atas dua bagian, yang anterior disebut badan
vertebra danyang posterior disebut arkus neuralis yang melingkari kanalis
neuralis (foramen vertebra atau saluran sumsum tulang belakang) yang
dilalui sumsum tulang belakang (Pearce, 2005).

3
1. Vertebra Servikalis
Vertebra servikalis atau ruas tulang leher adalah yang paling
kecil. Kecuali yang pertama dan kedua, yang berbentuk istimewa, maka
ruas tulang leher pada umumnya mempunyai ciri; badannya kecil dan
persegi panjang, lebih panjang dari samping ke samping dibanding
depan ke belakang. Lengkungnya besar. Prosesus spinosus atau taju duri
di ujungnya memecah dua atau bifida. Prosesus transversanya atau taju
sayap berlubang lubang karena banyak foramina untuk lewatnya arteri
vertebralis.
Vertebra servikalis ketujuan adalah vertebra pertama yang
mempunyai prosesus spinosus tidak terbelah. Prosesus ini mempunyai
tuberkel pada ujungnya, membentuk gambaran yang jelas di tengkuk
bagian bawah. Karena ciri khusus ini maka tulang ini disebut vertebra
prominens.
2. Vertebra Torakalis
Vertebra torakalis atau ruas tulang punggung lebih besar dari
servikal dan di sebelah bawah menjadi lebih besar. Ciri khas vertebra

4
torakalis adalah sebagai berikut; badannya berbentuk lebar lonjong
dengan faset atau lekukan kecil di setiap sisi untuk menyambung iga;
lengkungnya agak kecil, prosesus spinosus panjang dan mengarah ke
bawah, sedangkan prosesus transversus yang membantu mendukung iga
adalah tebal dan kuat serta memuat faset persendian untuk iga.
3. Vertebra Lumbalis
Vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang adalah yang terbesar.
Badannya sangat besar dibanding dengan badan vertebra lainnya.
Prosesus spinosusnya lebar dan berbentuk seperti kapak kecil.. Prosesus
spinosusnya panjang dan langsing. Ruas keliama membentuk sendi
dengan sakrum pada sendi lumbo sakral.
4. Sakrum
Sarum atau atulang kelangkang berbentuk segitiga dan terletak
pada bagian bawah kolumna vertebralis, terjepit diantara kedua tulang
inominata (tulang koxa) dan membentuk bagian belakang dinding pelvis
(panggul). Dasar dari sakrum terletak diatas bersendi dengan vertebra
lumbalis kelima dan membentuk sendi intervertebral yang khas. Tepi
anterior dari basis sakrum membentuk promontorium sakralis. Dinding
kanalis sakralis berlubang-lubang untuk dilalui saraf sakral. Apeks dari
sakrum bersendi dengan tulang koksigeus. Disisinya sakru bersendi
dengan tulang ileum dan membentuk sendi sakra-iliaka.
5. Koksigeus
Koksigeus atau tulang tungging terdiri atas empat atau lima
vertebra yang rudimenter yang bergabung menjadi satu.
6. Lengkung Kolumna Vertebralis
Kalau dilihat dari samping maka kolumna vertebralis
memperlihatkan empat kurva atau lengkung anteroposterior: lengkung
vertikal pada daerah leher melengkung ke depan, daerah torakal
melengkung ke belakang, daerah lumbal melengkung ke depan dan
daerah pelvis melengkung ke belakang.
Kedua lengkung yang menghadap posterior, yaitu yang terakal
dan pelvis disebut primer karena mereka mempertahankan lengkung

5
aslinya ke belakang dari tulang belakang yaitu bentuk “C” sewaktu janin
dengan kepala membengkok ke bawah sampai batas dada dan gelang
panggul dimiringkan ke atas ke arah depan badan.
Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah
sekunderlengkung servikal berkembang ketika kanak-kanak mengangkat
kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki dan lengkung
lumbal di bentuk ketika ia merangkak, berdiri dan berjalan dan
mempertahankan tegak.
7. Sendi Kolumna Vertebralis
Sendi kolumna vertebra. Sendi ini dibentuk oleh bantalan tulang
rawan yang diletakkan di antara setiap dua vertebra, di kuatkan oleh
ligamentum yang berjalan di depan dan di belakang badan vertebra
sepanjang kolumna vertebralis. Massa otot di seitap sisi membantu
dengan sepenuhnya kestablian tulang belakang.
Diskus intervertebralis atau cakram antar ruas adalah bantalan
tebal dari tulang rawan fibrosa yang terdapat di antara badan vertebra
yang dapat bergerak.
Gerakan sendi yang terbentuk antara cakram dan vertebra adalah
persendian dengan gerakan yang terbatas saja dan termasuk sendi jenis
simpisis, tetapi jumlahnya yang banyak memberi kemungkinan
membengkok kepada kolumnanya secara keseluruhan. Gerakannya yang
mungkin adalah flexi atau membengkok ke depan, extensi,
membengkok ke depan, membengkok lateral ke setiap sisi dan rotasi
atau berputar ke kanan dan ke kiri.
8. Fungsi Kolumna Vertebralis
Kolumna vertebralis bekerja sebagai pendukung badan yang
kokoh dan sekaligus juga bekerja sebagai penyangga dengan perantaraan
tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungannya memberi
fleksibilitas dan memungkinkan membengkok tanpa patah. Cakramnya
juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila
menggerakkan berat badan seperti waktu berlaru dan meloncat, dan

6
dengan demikian otak dan sumsum belakang terlindung terhadap
goncangan.
Kolumna vertebralis juga memikul berat badan, menyediakan
permukaan untuk kaitan otot dan mebentuk tapal batas posterior yang
kukuh untuk rongga badan dan memberi kaitan pada iga (Pearce, 2005).
2.2 Lordosis
A. Pengertian
Lordosis adalah kelainan pada tulang belakang yang
menyebabkan punggung penderita terlalu masuk pada daerah pinggang.
Lordosis disebabkan oleh sikap tubuh yang buruk, pembentukan tulang
punggung yang kurang sempurna sejak lahir dan beberapa faktor lain
(Middleditch, 2005).
Lordosis merupakan kurvatura masuk kedalam yang berlebihan
dari tulang lumbar yang terkadang dapat dilihat pada wanita hamil atau
obesitas atau individu dengan tumor abdominal (Black, 2014).

B. Etiologi
Faktor penyebab antara lain:
1. Jenis kelamin
Lordosis lebih sering terjadi pada perempuan, terutama saat
dalam masa kehamilan. Pada saat hamil, hormon kehamilan
merupakan relaksan yang meregangkan otot dan sendi daerah
pinggul sehingga tulang punggung cenderung lebih melengkung ke
depan mengikuti beban dari bayi (Middleditch, 2005).
2. Posisi tubuh

7
Jika berdiri dalam waktu yang sangat panjang, maka akan
terjadi pergeseran pada tulang belakang bagian pinggang. Lordosis
akan lebih terlihat pada mereka yang memiliki otot pada bagian
pinggang lemah.
Posisi duduk yang salah dapat menyebabkan pertumbuhan
dan posisi tulang individu mengalami kelainan (Price, 2012).
3. Alas kaki
Alas kaki dengan hak tinggi akan meningkatkan resiko
lordosis. Hak tinggi akan menyebabkan pusat grafitasi tubuh
berpindah ke depan dan meningkatkan kelengkungan tulang
punggung (Middleditch, 2005).
4. Kegemukan
Kegemukan berpengaruh pada kurvatura lumbalis dalam
bidang sagital, yaitu timbulnya hiperlordosis. Hal ini karena pada
kegemukan ditemukan kelemahan otot abdominal yang akan
merubah garis gravitasi dan pusat gravitasi ke depan sehiingga
beban axial hanya terjadi pada kolumna vertebralis saja terutama
paada L5-S1 sehingga moment force yang berlebihan akan
meningkatkan kurva lordosis. Pada kegemukan juga terjadi
kelemahan otot gluteal yang meningkatkan sudut inklinasi pelvis
dan menambah kurva lordosis lumbal (Azwar, 2004 dalam Widodo,
2008).
Menurut WebMD.com, penyebab lordosis yaitu:
1. Achondroplasia, merupakan gangguan dimana tulang tidak tumbuh
secara normal, mengakibatkan perawakan pendek.
2. Spondylolisthesis, yaitu suatu kondisi dimana tulang slip ke depan,
biasanya di bagian punggung bawah.
3. Osteoporosis, dimana tulang menjadi rapuh dan mudah rusak.
4. Obesitas.
5. Kiposis.
6. Discitis, yaitu inflamasi diskus intervertebra yang paling sering
muncul karena infeksi.

8
C. Manifestasi Klinis
1. Postur tubuh Swayback, dengan bokong menjadi lebih menonjol.
2. Membentuk jarak yang jauh antara lantai dan pinggang bila
berbaring.
3. Nyeri punggung dan rasa tidak nyaman.
4. Mengalami masalah dalam gerakan.
D. Patofisiologi
Lordosis disebabkan karena adanya penambahan kurva lordosis
pada bagian tulang belakang khususnya lumbal. Beberapa penyebabnya
yaitu kehamilan, obesitas atau kegemukan, penyakit dari kongenital
seperti achodroplasia yang merupakan kelainan pertumbuhan pada
tulang belakang akibat mutasi gen, penyakit infeksi dan posisi tubuh
yang buruk.
Kurva anterior pada spinal lumbal yang melengkung berlebihan
pada saat pertumbuhan di dalam janin dapat memicu terjadinya
lordosis, diskus intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika
usia bertambah tua. Pada lansia akan menjadi fibrokartilago yang padat
dan tak teratur. Diskus lumbal bawah, L4 – L5 dan L5- S1 dapat
menderita stess mekanis paling berat dan perubahan degenerasi terberat
apabila didukung oleh kesalahan aktivitas dan cara duduk yang salah.
Penonjolan faset dapat mengakibatkan penekanan pada akar saraf ketika
keluar dari kanalis spinalis, yang dapat menyebabkan nyeri menyebar
sepanjang saraf tersebut (Smeltzer, Hinkle, Bare, & Cheever, 2010).
Kegemukan juga dapat menjadi penyebab lordosis dikarenakan adanya
kelemahan otot abdominal dalam menyongkong tubuh sehingga tubuh
menggantikannya dengan tulang belakang dan membuat tubuh lebih
condong ke arah depan (lordosis).
Posisi tubuh yang buruk dapat juga menyebabkan kelainan pada
pertumbuhan tulang belakang seperti berdiri yang terlalu lama dan
posisi duduk yang terlalu condong ke depan.

9
E. WOC

Obesitas Kehamilan Penyakit Kongenital Posisi Tubuh

Kelemahan pada Menghasilkan hormon Adanya gangguan pada Berdiri dalam waktu
pertumbuhan vertebra
otot-otot abdominal relaksan berlebih yang sangat panjang

Deformasi tulang belakang


Berusaha menjaga Merengangkan otot dan Otot pinggang yang
condong ke depan
tegaknya postur tubuh sendi di daerah pinggul lemah

Penambahan kurva
Menegakkan tubuh Tulang punggung Pergeseran pada
dengan vertebra cenderung ke arah depan lordosis vertebra pinggang

Melengkungkan Mengikuti beban janin Meningkatkan kurva


bagian lumbal lordosis

Penambahan kurva
lordosis lumbalis

LORDOSIS

Posisi tubuh yang MK : Gangguan Peningkatan tekanan


condong ke arah depan Citra Tubuh lempeng tulang belakang

Merasa penampilan Degenerasi lempeng


tidak menarik tulang belakang

Penolakan dan rasa Kesulitan dalam Lengkungan vertebra


malu berlebih melakukan aktivitas lumbal yang berlebih

MK : Harga Diri MK : Hambatan Nyeri pada pinggang

Rendah Situasional Mobiltas Fisik dan punggung bawah

10
MK : Nyeri Akut
F. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan fisik dengan uji Adam Forward Bend.
Klien diminta membungkuk kedepan dengan lengan ekstensi dan
lutut lurus. Setiap peningkatan dan penurunan lordosis dan kiposis
diamati dari samping.
2. Radiologi menggunakan Spine X-Ray, MRI atau CT Scan.
Untuk menilai derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai
maturitas skeletal dengan metode Risser.
G. Penatalaksanaan
Jika diperlukan terapi terdiri dari alat penguat, fusi spinal atau
osteotomi (Black, 2014).
1. Konservatif
Bagi kebanyakan orang, lordosis tidak menyebabkan
masalah kesehatan yang signifikan jika tidak ditangani. Namun,
karena tulang belakang bertanggung jawab untuk banyak gerakan
dan fleksibilitas maka sangat penting untuk menjaga tulang
belakang yang sehat. Peningkatan risiko masalah dengan tulang
belakang, pinggul korset, kaki, dan organ internal dapat terjadi
apabila penanganan tidak dilakukan.
a. Jika lordosis ringan, maka pengobatan biasanya tidak
diperlukan.
b. Jika pasien mengalami gejala atau ketidaknyamanan, maka
pasien dapat mengikuti program terapi fisik dimana latihan
bisa dilakukan, di bawah bimbingan terapis, untuk
memperkuat otot-otot dan meningkatkan jangkauan gerak.
c. Obat-obatan seperti NSAID atau penghilang rasa sakit dapat
digunakan untuk mengurangi rasa sakit atau bengkak jika ada.
d. Menurunkan berat badan.
2. Operatif
Spinal instrumentasi, menggunakan kait, batang dan sekrup
atau kawat untuk memperbaiki kurva tulang (Spinal Fusion).
Artificial Disc Replacement, diskus yang degeneratif diganti.

11
Kiphoplasty, sebuah balon dimasukkan kedalam kolumna untuk
meluruskan dan mentabilkan dan mengurangi nyeri (WebMD.com,
2014).

H. Komplikasi
1. Cidera neurologis (4-5%)
2. Kebocoran cerebrospinal (samapai 7,4%)
3. Pseudoarthrosis (10-22%)
4. Koreksi yang inadekuat (5-11%).
I. Prognosis
Jika kelengkungan kurang dari 20%, biasanya tidak perlu
dilakukan pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan
secara teratur setiap 6 bulan. Pada anak-anak yang masih tumbuh,
kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30%, karena itu biasanya
dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk
membantu memperlambat progresivitas kelengkungan tulang belakang.
Prognosis pada umumnya baik pada kasus ringan dan dapat semakin
memburuk bila terdapat herniasi pada sumsum tulang belakang.
2.3 Kifosis
A. Pengertian
Kifosis adalah suatu lengkung anteroposterior tulang belakang
dimana punggung menjadi terlalu membungkuk, umumnya pada daerah
toraks namun kadang pada daerah torakolumbal atau sakral (Hagler,
2012).

12
Kifosis adalah gangguan tulang belakang progresif dimana
punggung atas menunjukkan sebuah kelengkungan ke depan abnormal,
mengakibatkan kelainan tulang yang kadang-kadang digambarkan
sebagai bungkuk.

B. Klasifikasi
1. Kifosis kongenital
Pada beberapa kasus, tulang belakang tidak berkembang
dengan baik saat janin dalam kandungn. Tulang mungkin tidak
terbentuk sebagaimana mestinya. Beberapa tulang mungkin
menyatu. Kondisi ini dapat menyebabkan kifosis progresif ketika
anak tumbuh.

2. Kifosis postural
Kifosis postural adalah yang paling umum. Kifosis postural
sering berkaitan dengan posisi membungkuk yang jarang
menyebabkan nyeri. Kifosis postural biasanya terlihat selama masa
remaja, dan lebih umum pada anak perempuan.
Biasanya dapat sembuh dengan sendirinya maupun dengan
terapi fisik untuk membantu memperkuat otot-otot punggung dan

13
memperbaiki postur tubuh. Bungkuknya punggung tidak
menyebabkan komplikasi yang serius. Pembedahan jarang
diperlukan untuk kifosis postural.

3. Kifosis Shceuerman’s
Seperti halnya kifosis postural, kifosis Shceuerman’s sering
terlihat jelas selama masa remaja, namun pada kifosis
Shceuermann’s kelainan signifikan lebih parah dibanding kifosis
lainnya. Scheuermann menggunakan istilah osteokondritis karena
lempeng akhir epifisis vertebra mengalami osifikasi secara tak
beraturan (Apley, 1995).
C. Etiologi
Penyebab kiposis menurut WebMD.com:
1. Kelainan kongenital.
2. Posisi tubuh yang kurang baik.
3. Scheuermann’s desease.
4. Arthritis.
5. Osteoporosis.
6. Spina bifida.
7. Infeksi kolumna vertebra.
8. Tumor.
Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 1.400 anak sekolah
di Spanyol menyebutkan banyak anak yang membawa tas punggung
mereka melebihi 10-15% berat badan, ini menempatkan mereka pada
resiko menderita gangguan tulang belakang. Hasilnya, 1 dari 4 siswa

14
mengalami keluahan saklit punggung lebih dari 15 hari dan 70% dari
siswa dengan sakit punggung didiagnosa skolios (Tempo.co, 2012).
D. Manifestasi Klinis
1. Kompensasi Lordosis
2. Lengkung torax meningkat pada posisi berdiri atau membungkuk
kedepan.
3. Sikap badan yang kurang baik / jelek.
4. Nyeri ringan pada apeks lengkung tulang belakang.
Pasien mungkin mengeluhkan nyeri punggung dan penat;
keluhan ini kadang-kadang meningkat setelah akhir masa pertumbuhan
dan dapat menjadi berat (Apley, 1995).
Gejala yang paling umum dari penyakit Scheuermann adalah
rasa sakit dan deformitas. Nyeri biasanya terjadi pada daerah apikal
setelah duduk untuk waktu yang lama dan karena gerakan. Nyeri juga
menurun ketika pertumbuhan berhenti (Yaman, 2014).
E. Patofisiologi
Pada orang muda sudut lengkung thorakal berkisar 10º-25º.
Nilai sudut ini bervariasi tergantung usia, jenis kelamin dan kondisi
patologis.
Pada postur kifosis dijumpai diskus mengalami pemipihan pada
bagian ventral dan pelebaran pada bagian dorsal, akibatnya nukleus
terdorong dan terjebak pada bagian dorsal, gerakan ekstensi terkunci
dan terjadi kontraktur pada posisi tersebut serta membuat iritasi pada
ligamen longitudinal posterior. Pada kapsul ligamen juga akan terjadi
pemanjangan pada satu sisi dan sisi lain terjadi pemendekan sehingga
memungkinkan terjadi ketegangan pada ligamen kapsul tersebut.
Suatu cacat pada lempeng-lempeng tulang rawan akan
menyebabkan ketegangan pada bagian anterior dari korpus vertebra.
Pergeseran traumatik dari lempeng epifisis terjadi pada anak-anak
karena bertambahnya kekuatan tulangnya selama pertumbuhan pada
masa pubertas. Mungkin terdapat juga osteoporosis vertebra dan diskus
dapat mengalami herniasi kedalam tulang yang rapuh (Apley, 1995).

15
F. WOC

Trauma pada tulang Infeksi pada kolumna Kelainan Congenital Kebiasaan Posisi
belakang vertebra, osteoporosis Tubuh yang Buruk

Ketidaktepatan Pembentukan vertebra Posisi duduk lama


Kerusakan tulang
dalam pengobatan tidak sempurna yang tidak tegak
belakang

Penyambungan tulang Deformitas tulang Bentuk abnormal Posisi tubuh


tidak sempurna belakang tulang belakang membungkuk

Deformitas tulang Posisi pelvic ke


belakang posterior

Adanya lengkungan pada Muncul kurva


tulang belakang kifosis thorakal

KIFOSIS

Posisi tubuh Saat inspirasi otot


membungkuk intercostalis tertekan

Perubahan Merasa dirinya Ekspansi paru tidak


penampilan diri kurang menarik adekuat

MK : Gangguan MK : Harga Diri Terjadi sesak nafas


Citra Tubuh Rendah Situasional

MK : Ketidakefektifan
Pola Napas
Keterbatasan ruang Terjadi kekakuan Merasa nyeri pada
gerak normal sendi bagian belakang

MK : Hambatan MK : Nyeri Akut


Mobilitas Fisik
16
G. Pemeriksaan diagnostik
Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
fisik. Juga dilakukan pemeriksaan neurologis untuk mengetahui adanya
kelemahan atau perubanan sensasi.
Rontgen tulang belakang dilakukan untuk mengetahui kondisi
kifosis. Pada foto lateral tulang belakang, ujung lempeng dari beberapa
vertebra yang berdekatan (biasanya T6-T10) tampak tak teratur atau
mengalami fragmentasi. Untuk menentukan derajad kemiringan
menggunakan pengukuran Cobb Angle. (Apley, 1995).

H. Penatalaksanaan
Pengobatan kifosis tergantung penyebab, kondisi dan
manifestasi klinis yang muncul. Pengobatan kifosis bawaan umumnya
dilakukan saat penderita masih balita. Pembedahan sebaiknya dilakukan
seawal mungkin untuk mencegah kondisi kifosis bertambah parah.
Kifosis postural bisa disembuhkan dengan berbagai tehnik
olahraga seperti berenang dengan gaya punggung atau dada.
Kurva sebesar 40º atau kurang hanya membutuhkan latihan
untuk memperkuat punggung dan latihan sikap tubuh. Kelengkungan
pada anak yang masih mempunyai masa pertumbuhan beberapa tahun
memberi respon yang baik terhadap pemakaian penyangga selama 12-
24 bulan (Apley, 1995).
Mengatasi osteoporosis diperlukan untuk mencegah terjadinya
fraktur pada kasus kiposis yang disebabkan oleh osteoporosis. Olah

17
raga, pengaturan pola makan dengan asupan nutrisi tinggi kalsium dapat
memperlambat atau menghentikan progresifitas osteoporosis.
Penatalaksanaan pada kasus kifosis meliputi (Hagler, 2012):
1. Bedrest pada matras keras (dengan atau tanpa traksi) dan dengan
brace untuk mengoreksi lengkung tulang belakang sampai proses
pertumbuhan selesai.
2. Menekan pelvik untuk mengurangi lumbar lordosis, meregangkang
kontraktur otot yang terjadi dan hiperekstensi thorax untuk
meluruskan lengkung kifosis.
3. Spinal arthrodesis (jarang diperlukan kecuali kiposis menyebabkan
kerusakan neurologik, lengkung tulang belakang lebih dari 60º,
atau nyeri punggung yang membandel dan melumpuhkan).
4. Fusi Spinal
Remaja yang lebih tua atau dewasa dengan kurva kaku lebih
dari 60º dapat membutuhkan koreksi dengan operasi. Pada pasien
yang kerangkanya sudah matur atau ada tanda-tanda paresis spastik
mengancam merupakan indikasi bedah gabungan anterior posterior
(Bradford (1980) dalam Apley, 1995).
Spinal instrumentasi, menggunahan kait, batang dan sekrup
atau kawat untuk memperbaiki kurva tulang (Spinal Fusion).
Artificial Disc Replacement, diskus yang degeneratif diganti.
Kiphoplasty, sebuah balon dimasukkan kedalam kolumna untuk
meluruskan dan mentabilkan dan mengurangi nyeri (WebMD.com,
2014).

18
Nursing Consideration:
1. Setelah pembedahan, cek neuromuskuler klien tiap 2-4 jam selama
48 jam, laporkan setiap ada perubahan. Rubah posisi dengan sering,
gunakan metode Logroll
2. Tawarkan analgetik 3-4 jam.
3. Pertahankan balance cairan dan monitor tanda ileus.
4. Pertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat.
5. Dorong suport dari keluarga.
6. Jika klien membutuhkan brace, cek kondisi brace setiap hari.
7. Lakukan perawatan kulit dengan teliti.
8. Sediakan suport emosional dan dorong komunikasi.
9. Libatkan klien dan keluarga dalam mengambil keputusan dan
perawatan.
10. Bantu dalam pengangkatan jahitan dan penggunaan balutan
(biasanya 10 hari post operasi).
11. Dukung ambulasi secara bertahap.
I. Komplikasi
1. Masalah body image.
2. Nyeri punggung yang parah dan melumpuhkan.
3. Penekanan rusuk pada paru-paru.
Komplikasi pada penderita yang menjalani prosedur operasi
(Scheuermann kifosis) terjadi lebih tinggi pada usia dewasa dibanding
usia yang lebuh muda. Komplikasi yang harus diantisipasi dan
diwaspadai yaitu (Medscape, 2014):
1. Kematian.
2. Kerusakan neurologis.
3. Kegagalan alat.
4. Pseudoarthrosis.
5. Komplikasi dari thoracotomy, chect-tube.
6. Blood clots.
7. Emboli paru.
8. Infeksi luka operasi.

19
9. Komplikasi karena anasthesi dan posisi.
J. Prognosis
Pada penggunaan brace, bila penggunaannya tepat dapat
memperbaiki 50% kerusakan. Namun bila brace bergeser, perbaikan
kurva tulang juga akan berangsur hilang. Berdasaarkan penelitian pada
120 penderita Scheuermann kifosis yang dilakukan penilaian selama 5
tahun, 69% kurve dapat bertahan paling kurang 3º. Bracing tidak
bermanfaat pada penderita kifosis dengan kurve lebih dari 74º.
Sepertiga penderita failed bracing dan memerlukan pembedahan.
Pembedahan yang dilakukan pada Scheuermann kifosis
diperkirakan dapat memperbaiki kifosi dan menghentikan progresifitas
kerusakan. Dalam berbagai laporan juga mengesankan bahwa
menghilangkan rasa nyeri dan mengembalikan aktivitas normal adalah
termasuk alasan dilakukannya pembedahan.

2.4 Latihan Aktivitas Fisik


Beberapa gerakan latihan fisik untuk gangguan bentuk tulang belakang
(UNY, n.d.):
1. Neck, Back and Shoulder Flattener

Sasaran : Kifosis, lordosis.


Pelaksanaan : 1. Sikap awal telentang, lutut ditekuk,
lengan di samping dengan telapak tangan
ke bawah.
2. Tarik nafas, kembangkan dada, leher
menapak pada lantai dengan peregangan
pendek, dorong dagu ke dada.
3. Mengetahui punggung dan leher lurus
pada lantai, dan disertai pengeluaran
nafas.

20
4. Pinggang lurus pada lantai, luruskan kaki
perlahan, rasakan pinggang terangkat
sedikit menjauhi lantai. Secara normal
jarak pinggang dan lantai tidak terlalu
besar.

2. Breaking Chain

Sasaran : Kifosis, lordosis.


Pelaksanaan : 1. Berdiri membelakangi sudut (tembok)
kaki terpisah kurang lebih 6 inci, letakan
ke dua tangan bersama-sama di depan
dada dengan siku lurus terhadap bahu.
2. Seolah-olah memotong rantai dengan
kekuatan mendorong, tangan terkepal,
terpisah tertahankan, siku luruh terhadap
bahu, gerakkan bahu bersama-sama
dengan menarik nafas.
3. Lipat panggul dan tekan punggung
bagian bawah serapat mungkin dengan
dinding.
4. Tahan posisi ini 10 detik.
5. Rileks dan keluarkan nafas.
6. Latihan boleh dilakukan dengan posisi
duduk.

21
3. Abdominal Curl

Sasaran : Lordosis.
Pelaksanaan : 1. Sikap awal telentang, siku ditekuk
disamping tubuh 90º, lutut ditekuk.
2. Mulai dari kepala, tekuk tubuh perlahan
kedepan kurang lebih 45º, angkat
punggung sebagian dari lantai.
3. Kontrol dan luruskan perlahan-lahan.

4. Mad Cat

Sasaran : Lordosis.
Pelaksanaan : 1. Sikap awal merangkak.
2. Mendorong punggung keatas dengan otot
perut dan bokong, tundukkan kepala
sambil menarik nafas.

5. Knee-Chest Curl

Sasaran : Lordosis.
Pelaksanaan : 1. Sikap awal telentang, lutut ditekuk,
lengan disisi badan ditekuk dengan
telapak tangan keatas.

22
2. Dorong lutut menyentuh dada dengan
otot perut dan menekuk tulang
punggung.
3. Tahan dan luruskan kembali.

6. Four Count Wall Weight

Sasaran : Kifosis
Pelaksanaan : 1. Sikap awal berdiri menghadap beban,
pegang beban kearah depan, bahu lurus.
2. Pegang beban dengan jari, lengan lurus,
tahan betis, taarik beban ke samping
panggul.
3. Kembali, tarik beban kesamping luar, bahu
lurus.
4. Kembali, tarik bebal lurus keatas kepala.
5. Kembali dan ulangi.

7. Tense and Stretch

Sasaran : Skoliosis

23
Pelaksanaan : 1. Sikap awal berdiri tegak (menghadap
cermin)
2. Angkat tangan vertikal keatas kepala,
berlawanan arah dengan bentuk kurve
terbuka (lengan kanan bagi skoliasis kiri
C), putar ujung tangan kiri kearah luar
dan tekan dengan kuat sampai kesamping
badan.
3. Tahan 10 detik kemudian ambil posisi
biasa.
4. Ulangi latihan beberapa kali.

8. Elbow Side Falling

Sasaran : Skoliosis
Pelaksanaan : 1. Sikap awal menghadap kesamping
miring pada tulang punggung.
2. Tahanlah dengan lutut kearah dalam,
luruskan lengan yang berlawanan, bahu
tinggi, dan angkat panggul.
3. Turunkan panggul pada lantai.
4. Ulangi.

24
9. Horizontal Ladder

Sasaran : Kifosis, skoliosis


Pelaksanaan : 1. Sikap awal menggantung dengan
pegangan selebar bahu.
2. Menggantung dipertahankan.
3. Latihan dapat ditingkatkan dengan
berayun.

25
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 ASKEP Umum Lordosis


1. Pengkajian
A. Anamnesa
a) Data demografi.
Data tentang identitas pribadi pasien (Penyakit lordosis lebih
sering ditemukan pada wanita, terutama saat hamil).
b) Keluhan utama.
Hal-hal yang dirasakan sangat mengganggu klien sampai dating
ke pelayanan kesehatan Misalnya pasien mengeluhkan nyeri di
bagian punggung. Gejala lordosis pada setiap orang berbeda,
namun gejala yang paling sering muncul adalah pantat
penderitanya terlihat sangat menonjol. Selain itu, penderitanya
juga akan mengalami gangguan neuromuskular, distrofi otot dan
gangguan displasia pinggul. Gejala lain yang sering dialami oleh
seorang penderita lordosis adalah terjadinya perubahan pada
kandung kemih, rasa sakit pada punggung, dan rasa nyeri pada
kaki.
c) Riwayat penyakit sekarang.
Tanyakan bagaimana proses terjadinya keluhan utama (waktu,
prognosis, jenis nyeri, mulai kapan dirasakan, bagaimana
tindakan yang dilakukan, dll).
Keluhan yang dirasakan, misalnya nyeri, karakteristik, sudah
berapa lama keluhan dirasakan, faktor pencetus dan pemberat,
penanganan yang telah dilakukan.
d) Riwayat kesehatan masa lalu.
Tanyakan adanya riwayat trauma, riwayat operasi berhubungan
dengan tulang belakang.
e) Riwayat penyakit keluarga

26
Tanyakan apakah dalam anggota keluarganya memiliki riwayat
penyakit sejenis, atau penyakit yang berhubungan dengan
muskuluskeletal
f) Riwayat pekerjaan.
Pekerjaan yang membutuhkan posisi berdiri lama dan atau yang
meningkatkan tekanan pada tulang belakang, menggunakan
sepatu hak tinggi dalam berkerja.
g) Kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan
Tanyakan apakah klien memiliki kebiasan yang kurang tepat
seperti kebiasaan duduk dengan posisi yang salah.
h) Riwayat nutrisi.
Nutrisi yang cukup memberikan kekuatan pada tulang.
i) Riwayat psikososial spiritual.
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya,
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
keluarganya maupun dalam masyarakat. Kaji bagaimana
kemampuan untuk melakukan kewajian dalam beribadah
(terganggu atau tidak).
B. Pemeriksaan fisik
Periksa tanda-tanda vital. Postur tubuh saat berdiri, bentuk
tulang belakang daerah pinggang yang melengkung berlebihan ke
dalam, pantat menonjol, perut terlihat lebih maju. Observasi klien
saat berjalan untuk melihat adanya gerakan abnormal, keterbatasan
gerakan, ekspresi menahan nyeri.
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang
yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan
ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam
kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang
panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya
menandakan adanya patah tulang.

27
b. Mengkaji tulang belakang
Lordosis (deviasi kearah dalam kurvatura servikal lumbal
melebihi batas fisiologis)
c. Mengkaji sistem persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas,
stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.
d. Mengkaji sistem otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi,
dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk
memantau adanya edema atau atrofi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal.
Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain.
Berbagai kondisi neurologis yang berhubungan dengan cara
berjalan abnormal (misalnya cara berjalan spastic
hemiparesis - stroke, cara berjalan selangkah-selangkah –
penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar –
penyakit Parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yanglebih
panas atau lebih dingin dari lainnya dan
adanyaedema.Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji
denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d. agen cidera fisik (trauma)
Domain 12. Kenyamanan, Kelas 1. Kenyamanan fisik, Kode
00132
2) Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal
Domain 4. Aktivitas/Istirahat, Kelas 2. Aktivitas/Olahraga,
Kode 00085
3) Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh (karena
penyakit)

28
Domain 6. Persepsi Diri, Kelas 3. Citra tubuh, Kode 00118
4) Harga diri rendah situasional b.d Gangguan fungsi
Domain 6. Persepsi Diri, Kelas 2. Harga diri, Kode 00120
3. Intervensi
Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
Nyeri akut b.d. Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Nyeri (1400) :
agen cidera fisik asuhan keperawatan 2x24  Lakukan pengkajian nyeri yang
(trauma) jam diharapkan nyeri klien komprehensif meliputi lokasi, karakteristik,
berkurang dengan kriteria onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
Domain 12. hasil : atau berat nyeri dan factor pencetus.
Kenyamanan, 1. Tingkat nyeri (2102)  Gali bersama pasien factor-faktor yang dapat
Kelas 1.  Klien tidak menurunkan atau memperberat nyeri.
Kenyamanan mengerang dan  Kendalikan factor lingkungan yang dapat
fisik, Kode menangis mempengaruhi respon pasien terhadap
00132  Tidak ada ekspresi ketidaknyamanan (mis. Suhu, pencahayaan,
wajah nyeri dll).
 Klien dapat  Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
beristirahat  Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi
 Frekuensi nafas (seperti, relaksasi, akupressur, dll).
normal (20-  Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk
24x/menit) membantu penurunan nyeri.
 Tekanan darah 2. Pemberian analgetik (2210)
normal (100-120/  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan
70-90 mmHg) keparahan nyeri sebelum mengobati pasien.
 Denyut nadi radial  Cek perintah pengobatan meliputi obat,
normal (60- dosis, dan frekuensi obat analgetik yang
90x/menit) diresepkan.
 Cek adanya riwayat alergi obat
 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
setelah memberikan algetik

29
Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Peningkatan mekanika tubuh (0140)
mobilitas fisik asuhan keperawatan 3x24  Kaji komitmen pasien untuk belajar dan
b.d gangguan jam diharapkan klien menggunakan postur (tubuh) yang benar.
muskuloskeletal mampu bergerak dan  Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam
bermobilisasi, dengan mengembangkan peningkatan mekanika
Domain 4. kriteria hasil : tubuh sesuai indikasi.
Aktivitas/Istirah 1. Pergerakan (0208) :  Informasikan pada pasien tentang struktur
at, Kelas 2.  Gerakan otot tidak dan fungsi tulang belakang serta postur yang
Aktivitas/Olahra terganggu optimal untuk bergerak dan menggunakan
ga, Kode 00085  Gerakan sendi tidak tubuh.
terganggu  Edukasi pasien tentang pentingnya postur
2. Ambulasi (0200) : (tubuh) yang benar.
 Klien dapat  Bantu untuk menghindari duduk dalam
menopang berat posisi yang sama dalam jangka waktu yang
badan lama.
 Berjalan dengan  Monitor perbaikan postur (tubuh)/ mekanika
pelan tubuh pasien
2. Terapi latihan : ambulasi (0221)
 Konsultasikan pada ahli terapi fisik
mengenai rencana ambulasi, sesuai
kebuutuhan.
 Bantu pasien dengan ambulasi awal dan jika
dibutuhkan.
 Bantu pasien untuk berdiri dan ambulasi
dengan jarak tertentu dan dengan sejumlah
staf tertentu..
 Dorong ambulasi independen dalam batas
aman.
Gangguan citra Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan citra tubuh (5220)
tubuh b.d keperawatan 3x24 jam  Tentukan harapan citra diri pasien didasarkan
perubahan diharapkan citra tubuh pada tahap perkembangan.

30
fungsi tubuh klien kembali bagus,  Gunakan bimbimngan antisipasif
(karena dengan kriteria hasil : menyiapkan pasien terkait dengan
penyakit) 1. Citra tubuh (1200) : perubahan-perubahan citra tubuh yang (telah)
 Gambaran internal diprediksi.
Domain 6. diri klien positif  Bantu pasien untuk mendiskusikan
Persepsi Diri,  Adanya kepuasan perubahan—perubahan (bagian tubuh)
Kelas 3. Citra dengan fungsi disebabkan adanya penyakit atau
tubuh, Kode tubuh pembedahan, dengan cara yang tepat.
00118  Adanya sikap  Bantu pasien mendiskusikan stressor yang
positif dalam mempengaruhi citra diri terkait dengan
penggunaan kondisi kongenital, cidera, penyakit atau
strategi untuk pembedahan.
meningkatkan  Bantu pasien untuk mengidentifikasi bagian
penampilan tubuhnya yang memiliki persepsi positif
 Adanya kepuasan terkait dengan tubuhnya.
dengan penampilan  Identifikasi cara untuk menurunkan dampak
tubuh dari adanya perubahan bentuk melalui
pakaian, rambut palsu, atau kosmetik ,
dengan cara yang tepat.
Harga diri Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan harga diri (5400)
rendah keperawatan 3x24 jam  Monitor pernyataan pasien mengenai harga
situasional b.d diharapkan harga diri klien diri.
Gangguan kembali  Tentukan kepercayaan diri pasien dalam hal
fungsi meninngkat/percaya diri, penilaian diri.
dengan kriteria hasil :  Bantu pasien menemukan penerimaan diri.
Domain 6. 1. Harga diri (1205) :  Dukung (melakukan) kontak mata pada saat
Persepsi Diri,  Tingkat berkomunikasi dengan orang lain.
Kelas 2. Harga kepercayaan diri  Monitor frekuensi verbalisasi negatif
diri, Kode meningkat terhadap diri.
00120  Mempertahankan 2. Peningkatan koping (5230)
kontak mata  Gunakan pendekatan yang tenang dan
 Adanya verbalisasi

31
penerimaan diri memberikan jaminan.
 Adanya  Berikan suasana penerimaan
komunikasi terbuka  Bantu pasien dalam mengidentifikasi tujuan
jangka pendek dan jangka panjang yang
tepat.

4. Evaluasi
1) Klien terbebas dari nyeri / skala nyeri menurun
2) Klien tidak mengalami hambatan dalam mobilitas fisiknya
3) Klien tidak mengalami gangguan citra tubuh
4) Klien kembali memilik harga diri yang tinggi
3.2 ASKEP Umum Kifosis
1. Pengkajian
a) Data demografi.
Kifosis kongenital dan Scheuermann biasa ditemukan sejak
usia muda karena kelainan telah terjadi sejak dalam kandungan
dimana pembentukan tulang belakang tidak sempurna. Kifosis
postural terjadi secara sekunder dan biasanya terjadi pada usia
remaja dan dewasa.
b) Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan biasanya nyeri punggung dan penat.
c) Riwayat penyakit sekarang
Nyeri dikaji (PQRST). Sudah berapa lama keluahan dirasakan,
progresifitas, dan usaha penanganan yang telah dilakukan.
d) Riwayat perkembangan.
Pada kifosis kongenital kelainan bentuk tubuh mungkin sudah
bisa terlihat. Saat kehamilan, pertumbuhan dan perkembangan
tuang belakang janin sudah bisa dilihat dengan USG.
e) Riwayat pekerjaan.
Kifosis postural bisa terjadi sebagai komplikasi dari cedera
yang mungkin terjadi berhubungan dengan pekerjaan.
f) Kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan

32
Riwayat sering memikul beban berat dimasa lalu bisa menjadi
penyebab kifosis.
g) Riwayat nutrisi.
Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik, terutama kalsium dan
fosfor berperan penting untuk kekuatan tulang dan
keseimbangan tubuh.
h) Riwayat kesehatan masa lalu.
Pengalaman kecelakaan atau trauma fisik, penyakit yang
pernah diderita, seperti osteoporosis, riwayat pembedahan
tulang belakang merupakan hal penting yang berhubungan
dengan kejadian kifosis.
i) Riwayat psikososial spiritual.
Kaji respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya,
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
keluarganya maupun dalam masyarakat.
j) Riwayat penyakit keluarga
Kifosis Scheuerman merupakan penyakit idiopatik dimana
penyebab utama belum diketahui secara jelas, namun ada
kemungkinan penyakit ini bisa diturunkan.
k) Pemeriksaan fisik
Meliputi pemriksaan tanda-tanda vital. Postur tubuh saat
berdiri, bentuk lengkung tulang punggung. Kaji juga
kemungkinan adanya kompensasi lordosis. Observasi klien
saat berjalan untuk melihat adanya gerakan abnormal,
keterbatasan gerakan.
2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d. agen cidera fisik (trauma)
Domain 12.Kenyamanan, Kelas 1. Kenyamanan fisik, Kode
00132
2) Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal

33
Domain 4.Aktivitas/Istirahat, Kelas 2.Aktivitas/Olahraga, Kode
00085
3) Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh (karena
penyakit)
Domain 6.Persepsi Diri, Kelas 3. Citra tubuh, Kode 00118
4) Harga diri rendah situasional b.d Gangguan fungsi
Domain 6. Persepsi Diri, Kelas 2. Harga diri, Kode 00120
5) Ketidakefektifan pola Napas b.d Deformitas tulang
Domain 4. Aktivitas/istirahat, Kelas 4. Respons
Kardiovaksular/Pulmonal Kode 00032
3. Rencana Keperawatan
Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
Nyeri akutb.d. agen Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Nyeri (1400) :
cidera fisik asuhan keperawatan 2x24  Lakukan pengkajian nyeri yang
(trauma) jam diharapkan nyeri klien komprehensif meliputi lokasi,
berkurang dengan criteria karakteristik, onset/durasi, frekuensi,
Domain 12. hasil : kualitas, intensitas atau berat nyeri dan
Kenyamanan, 1. Tingkat nyeri (2102) factor pencetus.
Kelas 1.  Klien tidak  Gali bersama pasien factor-faktor yang
Kenyamanan fisik, mengerang dan dapat menurunkan atau memperberat
Kode 00132 menangis nyeri.
 Tidak ada ekspresi  Kendalikan factor lingkungan yang dapat
wajah nyeri mempengaruhi respon pasien terhadap
 Klien dapat ketidaknyamanan (mis. Suhu,
beristirahat pencahayaan, dll).
 Frekuensi nafas  Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
normal (16-20  Ajarkan penggunaan teknik non
x/menit) farmakologi (seperti, relaksasi,
 Tekanan darah akupressur, dll).
normal (100-120/  Dukung istirahat/tidur yang adekuat untuk
70-90 mmHg) membantu penurunan nyeri.

34
 Denyutnadi radial 2. Pemberian analgetik (2210)
normal (60-  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
100x/menit) dan keparahan nyeri sebelum mengobati
pasien.
 Cek perintah pengobatan meliputi obat,
dosis, dan frekuensi obat analgetik yang
diresepkan.
 Cek adanya riwayat alergi obat
 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
setelah memberikan algetik
Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Peningkatan mekanika tubuh (0140)
mobilitas fisik b.d asuhan keperawatan 3x24  Kaji komitmen pasien untuk belajar dan
gangguan jam diharapkan klien menggunakan postur (tubuh) yang benar.
muskuloskeletal mampu bergerak dan  Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam
bermobilisasi, dengan mengembangkan peningkatan mekanika
Domain 4. criteria hasil : tubuh sesuai indikasi.
Aktivitas/Istirahat, 1. Pergerakan (0208) :  Informasikan pada pasien tentang struktur
Kelas 2.  Gerakan otot tidak dan fungsi tulang belakang serta postur
Aktivitas/Olahraga, terganggu yang optimal untuk bergerak dan
Kode 00085  Gerakan sendi tidak menggunakan tubuh.
terganggu  Edukasi pasien tentang pentingnya postur
2. Ambulasi (0200) : (tubuh) yang benar.
 Klien dapat  Bantu untuk menghindari duduk dalam
menopang berat posisi yang sama dalam jangka waktu
badan yang lama.
 Berjalan dengan  Monitor perbaikan postur (tubuh)/
pelan mekanika tubuh pasien
2. Terapi latihan: ambulasi (0221)
 Konsultasikan pada ahli terapi fisik
mengenai rencana ambulasi, sesuai
kebuutuhan.

35
 Bantu pasien dengan ambulasi awal dan
jika dibutuhkan.
 Bantu pasien untuk berdiri dan ambulasi
dengan jarak tertentu dan dengan
sejumlah staf tertentu..
 Dorong ambulasi independen dalam batas
aman.
Gangguan citra Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan citra tubuh (5220)
tubuh b.d keperawatan 3x24 jam  Tentukan harapan citra diri pasien
perubahan fungsi diharapkan citra tubuh klien didasarkan pada tahap perkembangan.
tubuh (karena kembali bagus, dengan  Gunakan bimbimngan antisipasif
penyakit) criteria hasil : menyiapkan pasien terkait dengan
1. Citra tubuh (1200) : perubahan-perubahan citra tubuh yang
Domain 6. Persepsi  Gambaran internal (telah) diprediksi.
Diri, Kelas 3. Citra diri klien positif  Bantu pasien untuk mendiskusikan
tubuh, Kode 00118  Adanya kepuasan perubahan-perubahan (bagian tubuh)
dengan fungsi tubuh disebabkan adanya penyakit atau
 Adanya sikap positif pembedahan, dengan cara yang tepat.
dalam penggunaan  Bantu pasien mendiskusikan stressor yang
strategi untuk mempengaruhi citra diri terkait dengan
meningkatkan kondisi kongenital, cidera, penyakit atau
penampilan pembedahan.
 Adanya kepuasan  Bantu pasien untuk mengidentifikasi
dengan penampilan bagian tubuhnya yang memiliki persepsi
tubuh positif terkait dengan tubuhnya.
 Identifikasi cara untuk menurunkan
dampak dari adanya perubahan bentuk
melalui pakaian, rambut palsu, atau
kosmetik, dengan cara yang tepat.
Harga diri rendah Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan harga diri (5400)
situasional b.d keperawatan 3x24 jam  Monitor pernyataan pasien mengenai

36
Gangguan fungsi diharapkan harga diri klien harga diri.
kembali  Tentukan kepercayaan diri pasien dalam
Domain 6. Persepsi meninngkat/percaya diri, hal penilaian diri.
Diri, Kelas 2. dengan criteria hasil :  Bantu pasien menemukan penerimaan
Harga diri, Kode 1. Hargadiri (1205) : diri.
00120  Tingkat kepercayaan  Dukung (melakukan) kontak mata pada
diri meningkat saat berkomunikasi dengan orang lain.
 Mempertahankan  Monitor frekuensi verbalisasi negative
kontak mata terhadap diri.
 Adanya verbalisasi 2. Peningkatan koping (5230)
penerimaan diri  Gunakan pendekatan yang tenang dan
 Adanya komunikasi memberikan jaminan.
terbuka  Berikan suasana penerimaan
 Bantu pasien dalam mengidentifikasi
tujuan jangka pendek dan jangka panjang
yang tepat.
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor Pernafasan
pola Napas b.d keperawatan dalam 3x24  Monitor kecepatan irama kedalaman dan
Deformitas tulang jam pola nafas klien kesulitan bernafas
kembali normal, dengan  Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan,
Domain 4. Kriteria Hasil : penggunaan otot-otot bantu nafas, dan
Aktivitas/istirahat,  Frekuensi pernafasan ketidaretraksi pada otot supraclaviculas
Kelas 4. Respons dalam rentang dan interkosta
Kardiovaksular/Pul normal (12-  Monitor saturasi oksigen pada pasien
monal Kode 00032 20x/menit) yang tersedasi
 Irama pernafasan  Auskultasi suara nafas, catat area dimana
klien reguler terjadi penurunan atau tidak adanya
 Saturasi oksigen ventilasi dan keberadaan suara nafas
klien dalam batas tambahan
normal (>95%)  Monitor hasil pemeriksaan ventilasi
 Klien tidak mekanik, catat peningkatan tekanan

37
menggunakan otot inspirasi dan penurunan volume tidal
bantu nafas saat  Monitor keluhan sesak nafas pasien
bernafas termasuk kegiatan yang meningkatkan
atau memperburuk sesak nafas tersebut
 Berikan bantuan terapi nafas jika
diperlukan

3.3 ASKEP Kasus Lordosis


Ny. X berusia 35 th bekerja sebagai pegawai bank datang kerumah sakit
dengan keluhan nyeri punggung setelah melahirkan dan mengatakan
kesulitan saat berjalan. Ny. X mengatakan bahwa setelah melahirkan tidak
menggunakan korset, selain itu Ny. X juga memiliki kebiasaan
menggunakan sepatu heels setinggi 10 cm setiap pergi kekantor. Hasil
pemeriksaan didapatkan kelainan pada struktur tulang Ny. X. Saat berjalan
Ny. X terlihat seperti bebek sehingga Ny. X merasa kesulitan saat berjalan.
Ny. X mengatakan bahwa dia merasa malu dengan kondisinnya saat ini dan
klien merasa tubuhnya tidak seperti dulu, sekarang tubuhnya jelek dan
terlihat aneh.
1. Pengkajian
A. Anamnesa
a) Data demografi.
Nama : Ny. X
Usia : 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Mulyorejo
b) Keluhan utama.
Klien mengatakan nyeri pada punggung dan kesulitan saat
berjalan
P: Nyeri memberat ketika beraktivitas dan terlalu sering berdiri
Q: Nyeri tumpul
R: Nyeri didaerah punggung
S: 3 (tiga)

38
T: Nyeri terus menerus dengan skala ringan
c) Riwayat penyakit sekarang.
Klien mengatakan setelah melahirkan mengeluhkan nyeri
punggung. Klien tidak tahu pasti kapan awalnya merasa nyeri.
Awalnya klien berpikir nyeri yang dirasakan merupakan akibat
melahirkan, namun setelah 1 bulan nyeri tidak kunjung
menghilang ditambah lagi saat klien bercermin klien merasa
berntuk punggungnya kedepan sehingga pantatnya terlihat
seperti bebek dan klien kesulitan saat berjalan.
d) Riwayat kesehatan masa lalu.
Klien mengatakan tidak pernah memiliki riwayat penyakit yang
berhubungan dengan muskuloskeletal dan tidak pernah memiliki
riwayat operasi.
e) Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarganya memiliki riwayat penyakit
sejenis, atau penyakit yang berhubungan dengan
muskuluskeletal.
f) Riwayat pekerjaan.
Klien bekerja sebagai pegawai bank yang menuntut klien untuk
menggunakan heels dan berdiri selama 6 jam perhari.
g) Kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan
Klien mengatakan tidak memiliki kebiasaan yang dapat
mengganggu kesehatannya seperti kebiasaan duduk yang buruk.
h) Riwayat nutrisi.
Klien mengatakan setiap harinya tidak ada masalah dalam
nutrisinya. Klien mengatakan selalu menghabiskan makanannya
dan mengkonsumsi ikan dan buah setiap hari.
i) Riwayat psikososial spiritual.
Klien mengatakan bahwa dia merasa malu dengan kondisinnya
saat ini dan klien merasa tubuhnya tidak seperti dulu, sekarang
tubuhnya jelek dan terlihat aneh. Klien terlihat memakai masker
dan mengguakan jaket tebal untuk menutupi bentuk tubuhnya.

39
Tidak ada masalah dalam beribadah, klien tetap menjalankan
kewajibannya dalam beribadah.
C. Pemeriksaan fisik
Nadi: 86 x/menit, suhu: 36,5 oc, TD: 130/90 mmHg, RR: 21
x/menit. Postur tubuh klien terlihat adanya bentuk tulang belakang
daerah pinggang yang melengkung berlebihan ke dalam, pantat
menonjol, perut terlihat lebih maju. Saat berjalan klien terlihat
seperti bebek dan terlihat kesulitan dengan ekspresi menahan nyeri.
a. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas tulang belakang.
b. Mengkaji tulang belakang
Lordosis (deviasi kearah dalam kurvatura servikal lumbal
melebihi batas fisiologis)
c. Mengkaji sistem persendian
Gerakan klien terbatas akibat adanya perubahan bentuk
anatomi.
d. Mengkaji sistem otot
Kekuatan dan koordinasi otot menurun, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Klien terlihat kesulitan dalam berjalan dan cara berjalan
seperti bebek.
f. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Tidak ada gangguan
C. Analisa Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
Ds: klien mengeluh Kehamilann Nyeri akut
nyeri punggung 
Do: klien terlihat Menghasilkan
meringis menahan hormon relaksan
sakit, Nadi: 86 berlebih
x/menit, suhu: 36,5 
o
c, TD: 130/90 Merengangkan otot

40
mmHg, RR: 21 dan sendi di daerah
x/menit pinggul
P: Nyeri memberat 
ketika beraktivitas Mengikuti beban
dan terlalu sering janin
berdiri 
Q: Nyeri tumpul Lordosis
R: Nyeri didaerah 
punggung Peningkatan tekanan
S: 3 (tiga) lempeng tulang
T: Nyeri terus belakang
menerus dengan 
skala ringan Lengkungan
vertebra lumbal
yang berlebih

Nyeri pungung

Nyeri akut
Ds: klien mengeluh Kehamilan Hambatan mobilitas fisik
kesulitan saat 
berjalan Menghasilkan
Do: Postur tubuh hormon relaksan
klien terlihat adanya berlebih
bentuk tulang 
belakang daerah Merengangkan otot
pinggang yang dan sendi di daerah
melengkung pinggul
berlebihan ke dalam, 
pantat menonjol, Mengikuti beban
perut terlihat lebih janin

41
maju. Saat berjalan 
klien terlihat seperti Lordosis
bebek dan terlihat 
kesulitan dengan Peningkatan tekanan
ekspresi menahan lempeng tulang
nyeri. belakang

Lengkungan
vertebra lumbal
yang berlebih

Kesulitan dalam
melakukan aktivitas

Hambatan mobilitas
fisik
Ds: Klien Kehamilan Gangguan citra tubuh
mengatakan bahwa 
dia merasa malu Menghasilkan
dengan kondisinnya hormon relaksan
saat ini dan klien berlebih
merasa tubuhnya 
tidak seperti dulu, Merengangkan otot
sekarang tubuhnya dan sendi di daerah
jelek dan terlihat pinggul
aneh. 
Do: Klien terlihat Mengikuti beban
memakai masker janin
dan mengguakan 
jaket tebal untuk Lordosis
menutupi bentuk

tubuhnya.

42
Posisi tubuh yang
condong kearah
depan

Gangguan citra
tubuh

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d. agen cidera fisik (trauma)
Domain 12. Kenyamanan, Kelas 1. Kenyamanan fisik, Kode
00132
2) Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal
Domain 4. Aktivitas/Istirahat, Kelas 2. Aktivitas/Olahraga,
Kode 00085
3) Gangguan citra tubuh b.d perubahan fungsi tubuh (karena
penyakit)
Domain 6. Persepsi Diri, Kelas 3. Citra tubuh, Kode 00118
3. Intervensi
Diagnosa NOC NIC
Keperawatan
Nyeri akut b.d. Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Nyeri (1400) :
agen cidera fisik asuhan keperawatan 2x24  Lakukan pengkajian nyeri yang
(trauma) jam diharapkan nyeri klien komprehensif meliputi lokasi, karakteristik,
berkurang dengan kriteria onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
Domain 12. hasil : atau berat nyeri dan factor pencetus.
Kenyamanan, 1. Tingkat nyeri (2102)  Gali bersama pasien factor-faktor yang dapat
Kelas 1.  Nyeri yang menurunkan atau memperberat nyeri.
Kenyamanan dilaporkan  Kendalikan factor lingkungan yang dapat
fisik, Kode berkurang mempengaruhi respon pasien terhadap
00132  Tidak ada ekspresi ketidaknyamanan (mis. Suhu, pencahayaan,
wajah nyeri dll).
(meringis menahan  Kurangi atau eliminasi faktor yang dapat

43
nyeri) mencetuskan atau meningkatkan nyeri
 Frekuensi nafas  Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri.
normal (16-  Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi
20x/menit) (seperti, relaksasi, akupressur, dll).
 Tekanan darah 2. Pemberian analgetik (2210)
normal (100-120/  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas dan
70-90 mmHg) keparahan nyeri sebelum mengobati pasien.
 Denyut nadi radial  Cek perintah pengobatan meliputi obat,
normal (60- dosis, dan frekuensi obat analgetik yang
100x/menit) diresepkan.
 Cek adanya riwayat alergi obat
 Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
setelah memberikan analgetik
Hambatan Setelah dilakukan tindakan 1. Peningkatan mekanika tubuh (0140)
mobilitas fisik asuhan keperawatan 3x24  Kaji komitmen pasien untuk belajar dan
b.d gangguan jam diharapkan kesulitan menggunakan postur (tubuh) yang benar.
muskuloskeletal mobilisasi klien dapat  Kolaborasikan dengan fisioterapis dalam
berkurang, dengan kriteria mengembangkan peningkatan mekanika
Domain 4. hasil : tubuh sesuai indikasi.
Aktivitas/Istirah 1. Pergerakan (0208) :  Informasikan pada pasien tentang struktur
at, Kelas 2.  Gangguan gerakan dan fungsi tulang belakang serta postur yang
Aktivitas/Olahra otot berkurang optimal untuk bergerak dan menggunakan
ga, Kode 00085  Gangguan gerakan tubuh.
sendi berkurang  Edukasi pasien tentang pentingnya postur
 Cara berjalan lebih (tubuh) yang benar.
baik  Bantu untuk menghindari duduk dalam
2. Cara berjalan (0222) : posisi yang sama dalam jangka waktu yang
 Postur saat berjalan lama.
lebih baik  Monitor perbaikan postur (tubuh)/ mekanika
 Keseimbangan saat tubuh pasien
berjalan baik

44
Gangguan citra Setelah dilakukan asuhan 1. Peningkatan citra tubuh (5220)
tubuh b.d keperawatan 2x24 jam  Gunakan bimbimngan antisipasif
perubahan diharapkan citra tubuh menyiapkan pasien terkait dengan
fungsi tubuh klien kembali bagus, perubahan-perubahan citra tubuh yang (telah)
(karena dengan kriteria hasil : diprediksi.
penyakit) 1. Citra tubuh (1200) :  Bantu pasien untuk mendiskusikan
 Gambaran internal perubahan-perubahan (bagian tubuh)
Domain 6. diri klien positif disebabkan adanya penyakit atau
Persepsi Diri,  Adanya kepuasan pembedahan, dengan cara yang tepat.
Kelas 3. Citra dengan fungsi  Bantu pasien mendiskusikan stressor yang
tubuh, Kode tubuh mempengaruhi citra diri terkait dengan
00118  Adanya sikap kondisi kongenital, cidera, penyakit atau
positif dalam pembedahan.
penggunaan  Monitor frekuensi dari pernyataan
strategi untuk mengkritisi diri
meningkatkan  Tentukan apakah perubahan citra tubuh
penampilan berkontribusi pada peningkatan isolasi sosial
 Adanya kepuasan  Bantu pasien untuk mengidentifikasi bagian
dengan penampilan tubuhnya yang memiliki persepsi positif
tubuh terkait dengan tubuhnya.
 Identifikasi cara untuk menurunkan dampak
dari adanya perubahan bentuk melalui
pakaian, rambut palsu, atau kosmetik ,
dengan cara yang tepat.

4. Evaluasi
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam nyeri klien
berkurang
2. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam kesulitan
mobilisasi klien berkurang
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam citra tubuh klien
kembali bagus

45
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesmpulan
Lordosis disebabkan karena adanya penambahan kurva lordosis pada
bagian tulang belakang khususnya lumbal. Beberapa penyebabnya yaitu
kehamilan, obesitas atau kegemukan, penyakit dari kongenital seperti
achodroplasia yang merupakan kelainan pertumbuhan pada tulang belakang
akibat mutasi gen, penyakit infeksi dan posisi tubuh yang buruk. Kifosis
adalah suatu lengkung anteroposterior tulang belakang dimana punggung
menjadi terlalu membungkuk, umumnya pada daerah toraks namun kadang
pada daerah torakolumbal atau sakral (Hagler, 2012). Pada penderita
lordosis dan kifosis dapat muncul beberapa masalah keperawatan, masalah
keperawatan yang sering muncul yaitu: nyeri, ganggua mobilitas gangguan
citra tubuh dan harga diri rendah.
4.2 Saran
Masalah pada tulang belakang dapat menimbulkan beberapa masalah
keperawatan, sebagai perawat kita harus mampu memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan lordosis dan kifosis. Oleh karena itu semoga
dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan wawasan tenteng lordosis
dan kifosis terutama bagi mahasiswa keperawatan.

46
DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. G. (1995). Buku Ajar Orthopedi. (A. Kartini, Ed.) (7th ed.). Jakarta:
Widya Medika.
Black, J. M. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. (A. Suslia, Ed.) (8 Buku 1).
Singapore: Elsevier.
Hagler, D. (2012). Lippincott’s Visual Nursing-A Guide to Deseases, Skills and
Treatmens (2nd ed.). Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins.
Medscape. (2014). Scheuermann Kyphosis. Retrieved September 25, 2016, from
emedicine.medscape.com/article/1266349-treatment#d9
Middleditch, A. (2005). Functional Anatomy of The Spine (2nd ed.). Elsevier.
Pearce, E. C. (2005). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia.
Price, S. A. (2012). Patofisiologi (6 Vol 2). Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C., Hinkle, J. L., Bare, B. G., & Cheever, K. H. (2010). Brunner &
Suddarth Textbook of Medical Surgical Nursing (12th ed.). Philadelphia:
Lippncott Williams & Wilkin.
Tempo.co. (2012). Beban Ransel Sekolah Anak Picu Kelainan Tulang. Jakarta:
Tempo.co. Retrieved from
https://m.tempo.co/read/news/2012/04/09/060395763/beban-ransel-sekolah-
anak-picu-penyakit-tulang
UNY. (n.d.). 40 Macam Latihan Aktivitas Fisik Untuk Kondisi Khusus. Retrieved
from http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Komarudin, M.A./40
MACAM LATIHAN AKTIVITAS FISIK UNTUK.pdf
WebMD.com. (2014). Spine Curvature Disorders. Retrieved September 24, 2016,
from http://www.webmd.com/back-pain/guide/types-of-spine-curvature-
disorders
Widodo, W. S. (2008). Korelasi antara Kegemukan dengan Peningkatan Kurva
Lumbal Bidang Sagital. Jurnal Kes, 1 No. 2 i. Retrieved from
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/1467/jurnal kes vol
1 no 2 i 155-164.pdf?sequence=1
Yaman, O. (2014). Kyphosis: Diagnosis, Classification and Treatment Methods.
Turkish Neurosurgery, 24, 62–74. Retrieved from
http://www.turkishneurosurgery.org.tr/pdf/pdf_JTN_1284.pdf

47