You are on page 1of 40

Efek Laktasi Terhadap Tekanan Darah Postpartum Pada Wanita Dengan

Hipertensi Gestasional Dan Preeklamsia

Malamo E, Countourisa,b,c Eleanor B,b,c Brianna C,a,b,c Andrew D,b,d Althouse,c,e


Kathryn,b,c Arun, Janet
a
Sekolah Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Komunitas, Universitas British Columbia, Vancouver,
BC, Kanada b Departemen Obstetrics & Gynaecology, Universitas British Columbia, Vancouver,
BC, Kanada c Rumah Sakit Anak BC, Vancouver, BC, Kanada d Departemen Obstetrics &
Gynaecology, Universitas King Saud, Rumah Sakit Universitas King Khalid, Riyadh, Saudi
Arabia e Departemen Statistika, Universitas British Columbia, Vancouver, BC, Kanada

Latar Belakang Wanita dengan riwayat Hasil Hipertensi gestasional terjadi pada 42
hipertensi dalam kehamilan memiliki subyek (11%) dan preeklamsia terjadi pada 33
peningkatan risikountuk mengalami hipertensi subjek (9%). Wanita yang menyusui berjumlah
dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
217 (57%) subyek dengan 78 (21%) menyusui
Menyusui telah dikaitkan dengan penurunan
risiko hipertensi pada ibu, baik dalam periode ≥ 6 bulan. Wanita yang menyusui lebih banyak
postpartum dan di kemudian hari. Namun, dari kalangan wanita dengan usia yang agak
sedikit yang diketahui tentang apakah menyusui lebih tua, lebih berpendidikan, dan memiliki
memiliki manfaat kardioprotektif pada wanita status sosial ekonomi yang lebih tinggi. Pada
dengan gangguan hipertensi kehamilan seperti wanita yang memiliki hipertensi gestasional,
preeklamsia atau hipertensi gestasional. menyusui dikaitkan dengan tekanan darah
sistolik (P = 0,02) dan tekanan darah diastolik (P
Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk
mengkarakterisasi hubungan antara menyusui = 0,02) yang lebih rendah. Asosiasi ini menetap
dan tekanan darah postpartum pada wanita walaupun setelah penyesuaian untuk usia, ras,
dengan preeklamsia dan hipertensi gestasional. tingkat pendidikan, berat badan sebelum hamil,
dan waktu persalinan. Namun, bagi wanita yang
Desain Penelitian Data diperoleh dari wanita memiliki preeklamsia dan wanita yang tetap
yang berpartisipasi dalam penelitian. Paparan normotensif selama kehamilan, menyusui tidak
Prenatal dan Pencegahan Preeklamsia (n = 379;
dikaitkan dengan tekanan darah postpartum baik
66% Afrika Amerika; 85% mengalami kelebihan
berat badan atau obesitas). Perempuan dalam analisis bivariat atau multivariat.
yangterdaftar adalah wanita yang selama hamil
kontrol kedokter dan melakukan kunjungan post Kesimpulan Penelitian ini menemukan bahwa
stpartum (rata-rata, 9,1 bulan setelah melahirkan) menyusui berhubungan dengan tekanan darah
selama pengumpulan data menyusui dan tekanan postpartum yang lebih rendah pada wanita
darah. Terdapat hubungan yang signifikan antara
overweight yang mengalami hipertensi
tekanan darah postpartum dan menyusui pada
wanita normotensif selama kehamilan, menderita gestasional tetapi tidak pada wanita yang
hipertensi gestasional, atau preeklamsia dinilai mengalami preeklamsia. Penelitian selanjutnya
dengan analisis varian. Model regresi linear diperlukan untuk mengeksplorasi hubungan
digunakan untuk menyesuaikan usia ibu, ras, laktasi dan tekanan darah di kemudian hari untuk
tingkat pendidikan, berat badan sebelum hamil, wanita dengan hipertensi dalam kehamilan.
dan waktu persalinan.
Kata Kunci Hipertensi gestasional, hipertensi,
laktasi, tekanan darah post partum, preeklamsia

Pengantar

H
ipertensi dalam kehamilan risiko hipertensi dan penyakit
semakin sering di Amerika kardiovaskular di kemudian hari.7-9
Serikat,1-6 dan wanita yang Secara khusus, wanita dengan
mengalami preeklamsia atau riwayat preeklamsia memiliki risiko
hipertensi gestasional memiliki sekitar dua kali lipat kejadian

1
kardiovaskular dalam 5-15 tahun kejadian hiperkolesterolemia,
setelah kehamilan dibandingkan diabetes, dan sindrom metabolik
dengan wanita yang normotensif yang lebih rendah.13-15 Laktasi
selama kehamilan.7 Demikian pula, mempengaruhi beberapa hormon,
wanita dengan riwayat hipertensi yang berdampak pada tekanan
gestasional memiliki peningkatan darah, di antaranya adalah
risiko hipertensi, penyakit jantung oksitosin,16 prolaktin,17 kortisol,18
iskemik, dan stroke di kemudian estrogen, dan progesteron. Pada
hari.10 wanita dengan berat badan normal,
Pedoman American Heart menyusui telah dikaitkan dengan
Association untuk pencegahan tekanan darah yang rendah pada 1
penyakit kardiovaskular (CVD) pada bulan postpartum.19,20 Setidaknya
wanita, menyarankan bahwa wanita terdapat 9 penelitian14,19-26 yang
dengan gangguan hipertensi meneliti hubungan antara menyusui
kehamilan harus menerima dan tekanan darah ibu setelah
perawatan pasca kehamilan dan menopause yang secara konsisten
perawatan berkelanjutan dokter menunjukkan bahwa ibu yang tidak
layanan primer atau dokter ahli menyusui lebih mungkin untuk
jantung untuk memantau dan mengalami hipertensi. Namun,
mengendalikan faktor risiko untuk perbedaan pengaruh menyusui pada
CVD seperti hipertensi, diabetes, preeklamsia atau hipertensi
dan hiperlipidemia.11 gestasional tidak dipahami dengan
Wanita dengan riwayat baik.
preeklamsia juga dapat mendapatkan Oleh karena itu kami
manfaat dari intervensi gaya hidup mengkarakterisasi hubungan antara
seperti olahraga, perubahan menyusui dan tekanan darah
kebiasaan diet, dan penghentian postpartum pada wanita yang
merokok.12 Sedikit yang mengalami atau tidak mengalami
memperhatikan tentang peran ASI preeklamsia atau hipertensi
dalam memperbaiki kesehatan gestasional. Kami berhipotesis
kardiovaskular. bahwa peserta yang tidak menyusui
Peningkatan durasi menyusui memiliki tekanan darah postpartum
telah dikaitkan dengan penurunan yang lebih tinggi dari ibu yang
risiko CVD pada wanita dan angka menyusui, terlepas dari apakah

1
mereka mengalami hipertensi memiliki riwayat hipertensi,
gestasional atau preeklamsia atau diabetes, atau gangguan kejang,
normal setelah pengaturan faktor memiliki penyakit hati, jantung, atau
perancu yang relevan. penyakit ginjal, memiliki gangguan
vaskular kolagen, memiliki
Bahan dan Metode penyalahgunaan obat atau alkohol,
Peserta memiliki anomali janin besar, atau
Populasi penelitian berasal mengalami kematian janin
dari 3 penelitian Paparan Prenatal disingkirkan dari penelitian.
dan Pencegahan Preeklamsia, Sebagai bagian dari protokol
penelitian prospektif pada dampak penelitian, para wanita diminta
obesitas terhadap risiko preeklamsia untuk melakukan pemeriksaan atau
pada wanita yang melakukan kunjungan postpartum minimal 3
perawatan antepartum, persalinan, bulan setelah melahirkan. Dari
dan perawatan postpartum di Rumah kelompok awal (n= 651), terdapat
Sakit Ibu dan Anak Universitas 437 wanita melakukan kunjungan
Pittsburgh Medical Center.27 postpartum 3-24 bulan setelah
Kriteria kelayakan di melahirkan. Terdapat 55 wanita
antaranya adalah usia 18-40 tahun, yang hamil kembali pada periode
kehamilan tunggal, dan usia follow up dan dengan demikian tidak
kehamilan 6-16 minggu pada saat memenuhi syarat untuk kunjungan
dimasukkan dalam penelitian. postpartum dan dikeluarkan dari
Wanita dengan berat badan berlebih analisis kami.
dan obesitas (indeks massa tubuh Untuk penelitian ini, kami
[IMT],> 25 kg/m2) direkrut secara menyingkirkan perempuan yang
khusus dengan jumlah sebesar 85% memiliki kunjungan postpartum
dari populasi penelitian untuk < 6 bulan setelah melahirkan karena
memeriksa mekanisme yang perempuan tersebut tidak akan
menghubungkan obesitas dengan memiliki data mengenai apakah
preeklamsia dan hipertensi mereka menyusui hingga 6 bulan
gestasional, kelompok kecil dari dan mereka yang memiliki
wanita kurus diikutsertakan dalam kunjungan postpartum pada saat
penelitian untuk perbandingan. lebih dari 24 bulan setelah
Wanita dengan IMT < 18, melahirkan. Selain itu, 3 peserta

2
mengikuti kunjungan postpartum normal (IMT, 18.5-24.9 kg/m2),
tetapi tidak dicatat tentang data kelebihan berat badan (IMT, 25-29.9
tekanan darah dan dengan demikian kg/m2), obesitas derajat I (IMT, 30
dieksklusikan. Analisis terakhir 34.9 kg/m2), derajat II (IMT, 35-
kami melibatkan 379 perempuan 39.9 kg/m2), dan derajat III (IMT, 40
(nilai mean kunjungan postpartum kg/m2).
adalah 9,1 bulan, median 7,0 bulan, Personil penelitian yang
SD, 4,3 bulan). Semua wanita terlatih mengukur berat badan dan
melakukan informed consent secara tekanan darah peserta dengan
tertulis dan penelitian ini menerima metode standar (diukur dua kali
persetujuan oleh University of setelah peserta telah duduk selama 5
Pittsburgh Institutional Review menit saat istirahat dan ketiga
Board (nomor persetujuan kalinya jika 2 pengukuran pertama
PRO14080003). bervariasi lebih dari 10 mm Hg).
Pada saat pendaftaran, peserta Data persalinan di antaranya
mengisi kuesioner yang mencakup adalah usia kehamilan saat
informasi demografis (usia, ras, melahirkan, jenis persalinan, dan
paritas, status perkawinan, komplikasi kehamilan yang
pendidikan, pendapatan, pekerjaan, dirangkum dari catatan medis
riwayat merokok, dan rencana untuk persalinan. Hipertensi gestasional
menyusui) serta tinggi dan berat (2 atau lebih pengukuran tekanan
badan sebelum hamil yang darah (TD) > 140/90 mmHg) dan
dilaporkan sendiri oleh peserta. preeklamsia (hipertensi gestasional
Terdapat korelasi yang tinggi antara ditambah proteinuria) yang
hasil pengukuran berat badan ditentukan berdasarkan pedoman
pertama dan berat badan American College of Obstetricians
prepregnansi yang dilaporkan and Gynecologists pada tahun
sendiri adalah tinggi (> 0,97). 2002.28 dan diputuskan oleh tim 3
IMT sebelum hamil (kilogram penelitian paparan Prenatal dan
per meter persegi) dihitung dengan Pencegahan Preeklamsia
berat badan dan tinggi badan yang berdasarkan tinjauan grafik
dilaporkan sendiri dan dikategorikan menggunakan kriteria penelitian
berdasarkan pedoman World Heatlh yang ketat. Lima perempuan yang
Organization sebagai berat badan datang pada kunjungan postpartum

3
memiliki riwayat hipertensi kronis. atau memberikan susu yag dipompa
Namun, tak satu pun dari wanita ini untuk bayi Anda?" dan "Berapa
mengalami preeklamsia. minggu atau bulan Anda memberi
Pada kunjungan postpartum, ASI atau memberi asi pompa pada
data berat badan dan tekanan darah bayi Anda?" Berdasarkan pada
dikumpulkan lagi oleh personil pertanyaan-pertanyaan ini, peserta
penelitian yang terlatih. Sebuah dikelompokkan menjadi 4
variabel untuk menilai perubahan kelompok: tidak pernah menyusui,
berat badan postpartum menyusui < 3 bulan, menyusui 3-6
dibandingkan dengan prepartum, bulan, dan menyusui > 6 bulan.
bergantung pada waktu follow up,
didefinisikan sebagai (berat badan Analisis Statistik
postpartum [pon] – berat badan Karakteristik maternal (mean
prepartum [pon])/follow up bulanan ± SD atau n [%]) dibandingkan
postpartum. menurut riwayat menyusui
menggunakan analisis varians untuk
Riwayat Laktasi variabel kontinyu dan tes chi square
Pada kunjungan postpartum, untuk variabel kategori. Kami
peserta menyelesaikan kuesioner kemudian menguji hubungan antara
yang menilai praktek ASI mereka. menyusui dan TD postpartum untuk
Untuk menilai durasi ASI, peserta peserta dengan (1) kehamilan
awalnya ditanyakan, "Apakah Anda normotensif, (2) kehamilan
pernah memberikan asi kepada anak preeklamsia, atau (3) kehamilan
anda baik secara langsung ataupun hipertensi gestasional.
menggunakan pompa setelah Kami menggunakan analisis
melahirkan, bahkan untuk waktu varians untuk membandingkan
singkat?" Mereka yang menjawab perbedaan baik pada tekanan darah
tidak, ditempatkan di kategori tidak sistolik (TDS) dan tekanan darah
pernah menyusui. Mereka yang diastolik (TDD) postpartum antara
menjawab ya, kemudian masing-masing 4 kelompok
dikategorikan berdasarkan durasi, menyusui. Regresi linear digunakan
tergantung pada jawaban mereka untuk menyesuaikan faktor perancu
untuk 2 pertanyaan tambahan: potensial dan mediasi variabel yang
"Apakah Anda menyusui langsung diantaranya adalah pendidikan ibu

4
(indikator status sosial ekonomi pada kunjungan postpartum
yang paling kuat terkait dengan penelitian, dan 379 yang di follow
komplikasi kehamilan dan risiko up antara 6 dan 24 bulan dilibatkan
CVD pada wanita29,30), usia, ras, dalam penelitian ini. Secara umum,
waktu persalinan, kelahiran wanita yang datang ke kunjungan
prematur, dan IMT sebelum hamil postpartum lebih banyak adalah
dengan perempuan yang tidak orang Afrika Amerika dan
pernah menyusui sebagai kategori pendapatan rendah (Tabel
referensi. Tambahan).
Setelah penyesuaian asuransi Wanita yang menyusui dalam
atau pendapatan dalam hal edukasi jangka waktu yang lebih lama
tidak mengubah hasil utama dari cenderung lebih tua, lebih
hubungan antara menyusui dan TD berpendidikan, dan memiliki
postpartum. Kami melakukan pendapatan yang lebih tinggi dan
analisis sensitivitas membatasi cenderung melaporkan bahwa
sampel untuk wanita nulipara saja mereka telah merencanakan untuk
dan wanita obesitas saja (IMT> 30 menyusui, dengan lebih dari 90%
kg/m2) untuk mengkonfirmasi dari wanita yang menyusui selama
bahwa hubungan yang diamati lebih dari 3 bulan yang melaporkan
konsisten dengan semua pendekatan. bahwa mereka berencana untuk
Analisis statistik dilakukan dengan menyusui pada saat persalinan.
menggunakan SAS versi 9.4 (SAS (Tabel 1).
Institute, Cary, NC) dan Stata versi Terdapat 33 wanita dengan
13.0 (Stata Corp, College Station, preeklamsia (9%) dan 42 dengan
TX). hipertensi gestasional (11%);
prevalensi preeklamsia dan
Hasil hipertensi gestasional adalah tidak
Peserta jauh berbeda pada masing-masing
Kohort awal terdiri dari 651 kelompok menyusui. Durasi
perempuan terutama yang obesitas menyusui tidak mengubah
dan kelebihan berat badan. Dari perubahan berat badan dalam
jumlah tersebut, 437 (67%) datang periode postpartum.

5
Tabel 1. Karakteristik Maternal padaKelompok Menyusui

Tekanan Darah Postpartum TDS atau TDD postpartum pada


berdasarkan Durasi Menyusui perempuan yang tetap normotensif
Pada para peserta yang selama kehamilan pada seluruh
memiliki hipertensi gestasional yang kelompok menyusui. Demikian pula,
menyusui lebih lama memiliki pada perempuan yang mengalami
tekanan darah sistolik dan diastolik preeklamsia, tidak ada perbedaan
yang lebih rendah secara signifikan yang signifikan dalam TDS atau
(Tabel 2). Namun, tidak ada TDD postpartum seluruh kelompok
perbedaan yang signifikan dalam menyusui. Analisis gabungan

6
melibatkan wanita dengan hipertensi preeklamsia tidak menunjukkan
gestasional dan wanita dengan perubahan TD postpartum.

Tabel 2. Hubungan antara Lama Menyusui dengan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Rerata

Dalam model yang disesuaikan disesuaikan, wanita dengan


secara lengkap (Tabel 3), perempuan hipertensi gestasional memiliki TDD
yang menderita hipertensi postpartum yang signifkan lebih
gestasional memiliki TDS rendah jika mereka menyusui selama
postpartum yang signifikan lebih > 6 bulan (β = -16.9 mm Hg, 95%
rendah jika mereka menyusui CI, -27.8 hingga -6.0). Pada wanita
selama> 6 bulan (β = -16.1 mmHg, yang normotensif dan pada wanita
95% confidence interval [CI], -27.7 yang mengalami preeklamsia, model
hingga -4,5) dibandingkan dengan yang disesuaikan secara penuh tidak
mereka yang tidak pernah menyusui. mengidentifikasi apapun hubungan
Demikian pula, dalam model yang yang signifikan antara durasi
menyusui dan TD post partum.

Tabel 3. Hubungan antara Lama Menyusui dengan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik pada
Model yang Disesuaikan

7
Komentar Demikian pula, sebuah review
Dalam penelitian ini TD ibu grafik retrospektif dari wanita
dinilai, rata-rata, 8 bulan setelah Jepang yang memiliki kehamilan
melahirkan, wanita dengan normal menunjukkan penurunan
hipertensi gestasional memiliki TD yang kecil tapi signifikan dalam TD
yang secara signfikan lebih rendah postpartum pada 1 bulan postpartum
jika mereka menyusui selama lebih pada perempuan yang menyusui
dari 6 bulan dibandingkan dengan dibandingkan dengan mereka yang
mereka yang tidak menyusui; ini tidak melakukannya.19 Penting,
tidak meluas pada wanita yang sebuah penelitian eksperimental
menyusui selama 3-6 bulan atau pada mencit menemukan bahwa
selama < 3 bulan. Pada wanita yang TDS menurun pada bulan 1 dan 2
memiliki hipertensi gestasional, postpartum pada tikus yang
perbedaan TD postpartum pada diizinkan untuk menyusui
perempuan yang menyusui dan tidak dibandingkan dengan mereka yang
menyusui adalah sama besarnya dicegah untuk menyusui.32
dengan penurunan TD sebesar 12- Jalur endokrin terlibat dalam
15 mmHg yang diperkirakan pada laktasi dapat berkontribusi untuk
pasien hipertensi yang memulai menurunkan TD postpartum dengan
pengobatan agen antihipertensi lini mengurangi penanda inflamasi.
pertama.31 Secara khusus, oksitosin mungkin
Temuan ini konsisten dengan memainkan peran dalam
penelitian sebelumnya yang mengurangi inflamasi16 dan
menunjukkan bahwa menyusui memiliki beberapa manfaat
terkait dengan TD yang lebih rendah kardioprotektif. Selain itu, menyusui
pada periode pospartum19,20 serta di dapat mempengaruhi faktor-faktor
kemudian hari.14,19-26 Dalam sebuah yang mempengaruhi TDS seperti
penelitian prospektif dari 71 wanita kekakuan arteri.33
sehat, TDS menurun di periode Anehnya, dalam penelitian ini,
postpartum (1-5 bulan) dan secara menyusui tidak berhubungan dengan
signifikan lebih rendah pada wanita postpartum BP antara peserta yang
yang menyusi dibandingkan dengan memiliki preeklamsia atau di antara
mereka yang tidak, independen dari mereka yang tetap normotensif
IMT sebelum hamil.20 selama kehamilan. Hal ini mungkin

8
mencerminkan perbedaan mendasar kardiovaskular, menunjukkan bahwa
dalam patofisiologi hipertensi hipertensi gestasional dan
gestasional dan preeklamsia. preeklamsia sebenarnya adalah 2
Meskipun baik hipertensi proses yang berbeda. Oleh karena
gestasional dan preeklamsia berbagi itu, masuk akal bahwa menyusui
banyak faktor risiko,34 mereka mungkin memiliki efek yang lebih
memiliki perbedaan yang jelas pada TD postpartum pada wanita
dalam patofisiologi. Pada dengan hipertensi gestasional
preeklamsia, peptida antiangiogenic ketimbang dengan preeklamsia,
yang berasal dari plasenta yang dibuktikan dalam hasil kami.
meningkat, yang mengakibatkan Penelitian kami juga tidak
disfungsi endotel dan akhirnya menemukan hubungan antara
mengurangi aliran darah melalui menyusui dan penurunan TD
arteri spiral yang memasok postpartum pada perempuan yang
plasenta.35,36 tetap normotensif selama kehamilan.
Penelitian yang baru juga Temuan ini berbeda dari apa yang
menunjukkan bahwa wanita dengan telah dilaporkan sebelumnya tentang
preeklamsia memiliki perubahan efek laktasi pada TD pada periode
kardiovaskular postpartum persisten postpartum yag lebih cepat dan
diantaranya adalah disfungsi sistolik mungkin karena fakta bahwa
ventrikel kiri, disfungsi diastolik, sebagian besar peserta dalam
dan hipertropi ventrikel.37 Mencit penelitian ini di follow up selama
percobaan dengan preeklamsia telah rata-rata 9,1 bulan setelah
menunjukkan kurangnya penurunan melahirkan dan median 7,0 bulan di
TD postpartum dengan menyusui.38 dibandingkan dengan penelitian
Sebagai perbandingan, hipertensi sebelumnya yang hanya 1-5 bulan
gestasional telah digambarkan post partum.
sebagai hipertensi laten munucul Selain itu, perlu dicatat bahwa
sementara akibat kehamilan,35 mayoritas wanita dalam penelitian
dengan peningkatan risiko ini memiliki kelebihan berat badan
perkembangan menjadi hipertensi atau obesitas sebelum hamil (nilai
esensial. Wanita dengan hipertensi mean IMT, 32,5 kg/m2). Beberapa
gestasional tidak memiliki temuan penelitian telah mengidentifikasi
perubahan sistemik proteinuria atau interaksi antara obesitas sebelum

9
kehamilan dan hubungan antara Amerika di Pennsylvania.
menyusui dan retensi berat badan Khususnya, sebagian besar peserta
Meskipun menyusui telah dikaitkan didominasi wanita dengan kelebihan
dengan kurangnya retensi berat berat badan dan Afrika Amerika
badan postpartum bagi ibu yang dalam penelitian ini yang
memiliki berat normal sebelum merencanakan untuk menyusui
hamil, menyusui telah dikaitkan sebelum persalinan untuk menyusui
dengan peningkatan retensi berat selama > 3 bulan, yang mendukung
badan setelah melahirkan untuk ibu gagasan bahwa konseling prenatal
yang mengalami obesitas sebelum tentang ASI, terutama untuk wanita
kehamilan.40 Karena beberapa dengan hipertensi gestasional,
peserta dalam penelitian ini mungkin sangat penting.
mengalami IMT sebelum hamil Kekuatan penelitian ini
yang normal, kami mungkin telah meliputi fakta bahwa TD diukur
melewatkan efek laktasi pada TD pada saat yang sama dan bahwa
postpartum yang bisa terlihat pada riwayat laktasi dikumpulkan, dan
sampel yang lebih besar dari wanita keduanya diukur secara standar
dengan berat badan normal. setelah melahirkan, mengurangi
Penelitian sebelumnya telah kemungkinan adanya bias. Selain
menunjukkan bahwa periode itu, informasi rinci tentang gangguan
prenatal menawarkan kesempatan hipertensi kehamilan dikumpulkan
penting untuk mengedukasi dari rekam medis menggunakan
perempuan tentang perubahan gaya protokol penelitian ajudikasi formal,
hidup yang dapat mempengaruhi sehingga memastikan bahwa
kesehatan mereka di masa depan.41 preeklamsia dan hipertensi
Dengan berpartisipasi dalam gestasional dapat dibedakan.
penelitian ini, perempuan mungkin Namun, ada keterbatasan yang
telah menerima konseling prenatal disebutkan. Ketika membagi peserta
yang meningkatkan niat mereka berdasarkan durasi menyusui dan
untuk menyusui. gangguan hipertensi spesifik
Laporan keinginan untuk kehamilan, ukuran sampel menjadi
menyusui lebih tinggi dari yang kecil dan akan membutuhkan lebih
diharapkan pada wanita banyak peserta untuk secara
berpenghasilan rendah Afrika memadai didukung. Selain itu,

10
meskipun peserta dalam penelitian makanan bayi dari kesehatan ibu.
ini diikuti hingga 24 bulan setelah Secara khusus, wanita tidak ditanya
melahirkan, follow up yang lebih secara khusus tentang memompa
lama diperlukan untuk sepenuhnya payudara vs menyusui. Dengan
menilai hubungan antara menyusui menerima konseling prenatal tentang
dan kesehatan jantung ibu di menyusui, hasil tentang niat untuk
kemudian hari. menyusui dan keberhasilan
Selama penelitian kami, menyusui mungkin telah meningkat.
definisi American College of Selain itu, kami memilih untuk
Obstetricians and Gynecologists tidak menyesuaikan IMT baik
tentang hipertensi gestasional dan sebelum hamil atau setelah
preeklamsia adalah yang kami melahirkan karena kepedulian
gunakan; Namun, definisi ini telah terhadap kolinearitas. Terakhir, ada
diperbarui.42 Definisi untuk perbedaan sosial ekonomi yang
preeklamsia sekarang termasuk signifikan antara wanita yang
wanita tanpa proteinuria yang menyusui dan mereka yang tidak..
memiliki temuan sistemik lain yang Kesimpulannya, penelitian ini
sesuai dengan preeklamsia; dengan menunjukkan bahwa menyusui
definisi yang lebih baru, beberapa dapat menurunkan TD postpartum,
wanita kita kategorikan sebagai terutama di kalangan wanita dengan
memiliki hipertensi gestasional kehamilan yang mengalami
sederhana mungkin telah bergeser ke hipertensi gestasional. Follow up
kelompok preeklamsia. Klasifikasi jangka panjang diperlukan untuk
lebih lanjut dari subtipe preeklamsia menilai hubungan menyusui dengan
diantaranya adalah ringan vs berat TD kedepannya pada perempuan
tidak dicatat atau juga data tentang dengan hipertensi dalam kehamilan.
lama perawatan di neonatal intensive Selain itu, penelitian masa depan
care unit juga tidak dicatat. diperlukan untuk memahami
Keterbatasan lain adalah patofisiologi perubahan TD selama
kurangnya ukuran eksklusivitas kehamilan dan periode postpartum,
menyusui, meskipun konstruksi ini khususnya pada mereka yang
mungkin lebih relevan ketika mengalami gangguan hipertensi
mempertimbangkan pemberian kehamilan.

11
BAB I
PENDAHULUAN

Wanita dengan riwayat preeklamsia dan hipertensi gestasional memiliki


peningkatan risiko untuk mengalami gangguan kardiovaskular dalam 5 sampai 15
tahun setelah kehamilan dibandingkan dengan wanita yang normotensif selama
kehamilan. Dari beberapa penelitian diketahui bahwa menyusui mempengaruhi
beberapa hormon yang berdampak pada tekanan darah, termasuk oksitosin,
prolaktin, kortisol, estrogen, dan progesterone.1
Populasi penelitian dari jurnal yang akan ditelaah berasal dari studi
Prenatal Exposures dan Preeklamsia Prevention, studi prospektif dari dampak
obesitas terhadap risiko preeklamsia pada wanita yang mendapatkan perawatan
antepartum, inpartu, dan postpartum di Magee-Womens Hospital University of
Pittsburgh Medical Center. Meningkatnya durasi menyusui telah dikaitkan dengan
penurunan risiko CVD pada wanita dan tingkat yang lebih rendah dari
hiperkolesterolemia, diabetes, dan sindrom metabolik. Namun, apakah menyusui
mungkin mempengaruhi wanita dengan preeklamsia atau hipertensi gestasional
tidak benar-benar diketahui. Hal tersebut yang mendasari dilakukannya penelitian
mengenai dampak menyusui terhadap tekanan darah pada ibu hamil.1
Telaah jurnal ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara
menyusui dan tekanan darah post partum pada wanita yang mengalami atau tidak
mengalami preeklamsia atau hipertensi gestasional, dengan hipotesis bahwa
peserta yang tidak menyusui akan memiliki tekanan darah postpartum yang lebih
tinggi daripada ibu yang menyusui, baik yang mengalami hipertensi gestasional
atau preeklamsia.

12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. LAKTASI

2.1.1. Definisi3
Menyusui atau laktasi adalah suatu proses dimana seorang bayi menerima
air susu dari payudara ibu. Menyusui yang dikategorikan ASI eksklusif adalah
gerakan menghisap dan menelan dari mulut sang bayi langsung ke puting susu
ibu. Pada bayi baru lahir akan menyusu lebih sering, rata-rata 10-12 kali menyusu
tiap 24 jam. Bayi yang sehat dapat mengosongkan payudara sekitar 5-7 menit,
sedangkan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam.

2.1.2. Anatomi Glandula Mammae2


Glandula mammae adalah organ reproduksi aksesoris pada wanita. Pada
wanita terletak setinggi costae II sampai costae VI, di pertengahan antara sternum
sampai axilla. Pada puncak mammae terdapat papilla serta areola mammae.
Papilla mammae terletak ditengah areola dan berbentuk conus atau silinder yang
tingginya bervariasi. Di dalam areola mammae terdapat pula glandulae areolares
dan glandulae sebacea.
Glandulae mammae terdiri atas 15-20 kelenjar tubuler yang bercabang-
cabang. Cabang-cabang terminal melingkar-lingkar dan membentuk lobuli
mammae. Mereka dikelilingi oleh jaringan pengikat longgar yang di dalamnya
banyak terdapat kapiler-kapiler. Di keliling jaringan pengikat itu terdapat jaringan
pengikat yang lebih padat. Kelenjar dengan jaringan pengikat ini membentuk
corpus mammae. Corpus mammae melanjutkan diri sebagai cauda axillaris yang
melingkungi tepi musculus pectoralis mayor ke dalam fossa axillaris.
Tiap kelenjar terdiri atas ductus lactiferous. Sebagian ductus lactiferous
bersatu masuk ke papilla mammae. Sebelum masuk ke papilla mammae, ductus
lactiferous melebar menjadi sinus lactiferous, kemudian menyempit lagi dan
berjalan sejajar di dalam papilla mammae sebagai ductus excretorii. Pada waktu

13
kehamilan, terjadi pertumbuhan duktus- duktus, dan ujung duktus-duktus itu
berkembang menjadi alveolus.

2.1.3. Fisiologi Laktasi 3


Glandula mammae adalah organ reproduksi aksesoris pada wanita. Pada
wanita terletak setinggi costae II sampai costae VI, di pertengahan antara sternum
sampai axilla. Pada puncak mammae terdapat papilla serta areola mammae.
Papilla mammae terletak ditengah areola dan berbentuk conus atau silinder yang
tingginya bervariasi. Di dalam areola mammae terdapat pula glandulae areolares
dan glandulae sebacea.

a. Reflek penghasilan ASI


Hormon yang berpengaruh dalam penghasilan ASI adalah hormone
prolaktin, yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior yang di stimuli oleh PRH
(Prolactin Releasing Hormon) di hipothalamus. Prolaktin bertanggung jawab atas
produksi ASI. Rangsangan produksi prolaktin bergantung pada pengosongan ASI
dari payudara. Makin banyak ASI yang dikeluarkan atau dikosongkan dari
payudara, makin banyak ASI yang dibuat. Proses pengosongan payudara sampai
pembuatan ASI disebut reflek prolaktin.

b. Reflek aliran/ Let Down


Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofisis anterior, rangsangan
yang berasal dari isapan bayi akan menghasilkan rangsangan saraf yang
dilanjutkan ke dalam kelenjar hipofisis posterior. Akibatnya, hipofisis posterior
menghasilkan oksitosin yang menyebabkan sel-sel myoepithelial di sekitar alveoli
akan berkontraksi dan mendorong air susu masuk ke pembuluh laktifer sehingga
lebih banyak air susu yang mengalir keluar. Keadaan ini disebut reflek oksitosin
atau let down reflex. Namun reflek ini dapat dihambat oleh faktor emosi atau
psikologis dari ibu.

14
2.1.4. Perubahan Hormonal pada Wanita yang Menyusui3
a. Ketika hamil kadar prolaktin normal 10-25 ng/mL naik menjadi 200- 400
ng/mL dan terus meningkat tajam pada permulaan menyusui sehingga
terjadi hiperprolactinemia. Kemudian mulai menurun, tetapi apabila
frekuensi menyusui tetap dipertahankan maka kadarnya bisa tetap diatas
normal selama 18 bulan atau lebih.
b. FSH akan kembali dalam waktu 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan.
Sedangkan LH sangat rendah setelah melahirkan, akan naik setelah 15
sampai 20 hari dan tidak berubah selama menyusui, tetapi masih dibawah
normal.
c. Selama tidak adanya inisiasi menstruasi pada wanita yang sedang menyusui,
respon stimuli LH ke GnRH dikurangi, sedang respon FSH normal.
Walaupun kadar FSH normal tapi respon balik positif antara hipofisis dan
ovarium tetap gagal, sehingga sekresi estrogen dan progesteron oleh
ovarium masih dibawah normal. Kegagalan tersebut disebabkan pengaruh
LH ditekan sehingga kematangan folikel menjadi terganggu dan pada
akhirnya folikel tersebut tidak bisa berproliferasi. Hal ini serupa dengan apa
yang terlihat pada wanita yang sudah tidak menstruasi lagi meskipun
FSHnya pada tingkat yang normal.

15
2.2. HORMON OKSITOSIN
Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut
lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi
yang tepat hormon ini akan dilepas kedalam darah. Hormon ini di beri nama
oksitosin berdasarkan efek fisiologisnya yakni percepatan proses persalinan
dengan merangsang kontraksi otot polos uterus. Peranan fisiologik lain yang
dimiliki oleh hormon ini adalah meningkatkan ejeksi ASI dari kelenjar mammae.

2.2.1. Mekanisme Pelepasan Oksitosin3


Impuls neural yang terbentuk dari perangsangan papilla mammae
merupakan stimulus primer bagi pelepasan oksitosin sedangkan distensi vagina
dan uterus merupakan stimulus sekunder. Estrogen akan merangsang produksi
oksitosin sedangkan progesterone sebaliknya akan menghambat produksi
oksitosin. Selain di hipotalamus, oksitosin juga disintesis di kelenjar gonad,
plasenta dan uterus mulai sejak kehamilan 32 minggu dan seterusnya. Konsentrasi
oksitosin dan juga aktivitas uterus akan meningkat pada malam hari.
Pelepasan oksitosin endogenus ditingkatkan oleh: Persalinan Stimulasi
serviks, vagina dan payudara; Estrogen yang beredar dalam darah; Peningkatan
osmolalitas/konsentrasi plasma; Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi
darah; dan Stress, stress yang disebabkan oleh tangisan bayi akan menstimulasi
pengeluaran ASI.
Pelepasan oksitosin disupresi oleh: Alkohol; Relaksin; Penurunan
osmolalitas/konsentrasi plasma; dan Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi
darah.

2.2.2. Mekanisme Kerja Oksitosin3


a. Pada otot polos uterus3
Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, hormon ini akan
menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis
farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses
persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin

16
Dengan dosis beberapa miliunit permenit intra vena, rahim yang hamil sudah
berkontraksi demikian kuat sehingga seakan-akan dapat membunuh janin yang
ada didalamnya atau merobek rahim itu sendiri atau kedua-duanya.
Kehamilan akan berlangsung dengan jumlah hari yang sudah ditentukan
untuk masing-masing spesies tetapi faktor yang menyebabkan berakhirnya suatu
kehamilan masih belum diketahui. Pengaruh hormonal memang dicurigai tetapi
masih belum terbukti. Estrogen dan progesterone merupakan factor yang dicurigai
mengingat kedua hormon ini mempengaruhi kontraktilitas uterus. Juga terdapat
bukti bahwa katekolamin turut terlibat dalam proses induksi persalinan.
Karena oksitosin merangsang kontraktilitas uterus maka hormon ini
digunakan untuk memperlancar persalinan, tetapi tidak akan memulai persalinan
kecuali kehamilan sudah aterm. Didalam uterus terdapat reseptor oksitosin 100
kali lebih banyak pada kehamilan aterm dibandingkan dengan kehamilan awal.
Jumlah estrogen yang meningkat pada kehamilan aterm dapat memperbesar
jumlah reseptor oksitosin. Begitu proses persalinan dimulai serviks akan
berdilatasi sehinga memulai refleks neural yang menstimulasi pelepasan oksitosin
dan kontraksi uterus selanjutnya. Faktor mekanik seperti jumlah regangan atau
gaya yang terjadi pada otot, mungkin merupakan hal penting.
Pada kelenjar mammae . Fungsi fisiologik lain yang kemungkinan besar
dimiliki oleh oksitosin adalah merangsang kontraksi sel mioepitel yang
mengelilingi mammae, fungsi fisiologik ini meningkatkan gerakan ASI kedalam
duktus alveolaris dan memungkinkan terjadinya ejeksi ASI.
Reseptor membran untuk oksitosin ditemukan baik dalam jaringan uterus
maupun mammae. Jumlah reseptor ini bertambah oleh pengaruh estrogen dan
berkurang oleh pengaruh progesterone. Kenaikan kadar estrogen yang terjadi
bersamaan dengan penurunan kadar progester6n dan terlihat sesaat sebelum
persalinan mungkin bisa menjelaskan awal laktasi sebelum persalinan. Derivat
progesterone lazim digunakan untuk menghambat laktasi postpartum pada
manusia.

17
b. Pada ginjal3
ADH dan oksitosin disekresikan secara terpisah kedalam darah bersama
neurofisinnya. Kedua hormon ini beredar dalam bentuk tak terikat dengan protein
dan mempunyai waktu paruh plasma yang sangat pendek yaitu berkisar 2-4 menit.
Oksitosin mempunyai struktur kimia yang sangat mirip dengan Vasopresin/ADH,
sebagaimana diperlihatkan dibawah ini:

Cys-Tyr-Phe-Gln-Asn- Cys-Pro-Arg-Gly-NH2 : Arginin Vasopresin


Cys-Tyr-Phe-Gln-Asn- Cys-Pro-Lys -Gly-NH2 : Lisin Vasopresin
Cys-Tyr-Lie-Gln-Asn- Cys-Pro-Arg-Gly-NH2 : Oksitosin

Masing-masing hormon ini merupakan senyawa nono apeptida yang


mengandung molekul sistein pada posisi 1 dan 6 yang dihubungkan oleh jembatan
S—S. Sebagian besar binatang menpunyai Arginin Vasopresin, meskipun
demikian hormon pada babi dan spesies lain yang terkait, mempunyai lisin yang
tersubtitusi pada posisi 8. Karena kemiripan structural yang erat tersebut tidaklah
mengherankan kalau oksitosin dan ADH masing-masing memperlihatkan
sebagian efek yang sama/tumpang tindih.
Salah satu efek penting yang tidak diingini pada oksitosin adalah anti
diuresis yang terutama disebabkan oleh reabsorbsi air. Abdul Karim dan Assali
(1961) menunjukan dengan jelas bahwa pada wanita hamil maupun tidak hamil
oksitosin mempunyai aktivitas anti diuresis. Pada wanita yang mengalami diuresis
sebagai akibat pemberian air, apabila diberikan infus dengan 20 miliunit oksitosin
permenit, biasnya akan mengakibatkan produksi air seni menurun. Kalau dosis
ditingkatkan menjadi 40 miliunit permenit, produksi air seni sangat menurun.
Dengan dosis yang sama apabila diberikan dalam cairan dekstorse tanpa elektrolit
dalam volume yang besar akan dapat menimbulkan intoksikasi air. Pada umunnya
kalau pemberian oksitosin dalam dosis yang relatif tinggi dalam jangka waktu
yang agak lama maka lebih baik meningkatkan konsentrasi hormon ini dari pada
menambah jumlah cairan dengan konsentrasi hormon yang rendah . Efek anti
diuresis pemberian oksitosin intravena hilang dalam waktu beberapa menit setelah

18
infus dihentikan. Pemberian oksitosin im dengan dosis 5-10 unit tiap 15-30 menit
juga menimbulkan anti diuresis tetapi kemungkinan keracunan air tidak terlalu
besar karena tidak desertakan pemberian cairan tanpa elektrolit dalam jumlah
besar. Oksitosin dan hormon ADH memiliki rumus bangun yang sangat mirip ,
hal ini akan menjelaskan mengapa fungsi kedua hormon ini saling tumpang tindih.
Peptida ini terutama dimetabolisme dihati, sekalipun eksresi adrenal ADH
menyebabkan hilangnya sebagian hormon ini dengan jumlah yang bermakna dari
dalam darah.
Gugus kimia yang penting bagi kerja oksitosin mencakup gugus amino
primer pada sistein dengan ujung terminal –amino: gugus fenolik pada tirosin ;
gugus tiga carboksiamida pada aspa-ragin, glutamin serta glisinamida; dan ikatan
disulfida (s----s). Delesi atau subtitusi gugus ini pernah menghasilkan sejumlah
analog oksitosin. Sebagai contoh penghapusan gugus amino primer bebas pada
belahan terminal residu sistein menghasilkan desamino oksitosin yang memiliki
aktivitas anti diuretika empat hingga lima kali lebih kuat dari pada aktivitas anti
diuretika hormon oksitosin.

c. Pada pembuluh darah3


Oksitosin bekerja pada reseptor hormon antidiuretik (ADH) untuk
menyebabkan penurunan tekanan darah khususnya diastolik karena vasodilatasi.
Secher dan kawan-kawan (1978) selalu mendapatkan adanya penurunan tekanan
darah arterial sesaat namun cukup nyata apabila pada wanita sehat diberikan 10
unit bolus oksitosin secara intravena kemudian segera diikuti kenaikan kardiak
autput yang cepat. Mereka juga menyimpulkan bahwa perubahan henodinamik ini
dapat membahayakan jiwa seorang ibu bila sebelumnya sudah terjadi hipovolemi
atau mereka yang mempunyai penyakit jantung yang membatasi kardiak autput
atau yang mengalami komplikasi adanya hubungan pintas dari kanan kekiri.
Dengan demikian maka oksitosin sebaiknya tidak diberikan secara intravena
dalam bentuk bolus, melainkan dalam larutan yang lebih encer, dalam bentuk
infus atau diberikan suntikan intramuskular.

19
2.3. REGULASI TEKANAN DARAH

2.3.1. Definisi3
Tekanan darah menggambarkan keadaan hemodinamik. Hemodinamik
adalah suatu keadaan dimana tekanan dan aliran darah dapat mempertahankan
perfusi atau pertukaran zat di jaringan. Tekanan darah diukur dalam satuan
milimeter merkury (mmHg) dan direkam dalam dua angka, yaitu tekanan sistolik
(ketika jantung berdetak) terhadap tekanan diastolik (ketika jantung relaksasi).
Tekanan darah sistolik merupakan jumlah tekanan terhadap dinding arteri setiap
waktu jantung berkontraksi atau menekan darah keluar dari jantung. Tekanan
diastolik merupakan jumlah tekanan dalam arteri sewaktu jantung beristirahat.
Aksi pompa jantung memberikan tekanan yangmendorong darah melewati
pembuluh-pembuluh. Setiap jantung berdenyut, darah dipompa keluar dari
jantung kedalam pembuluh darah, yang membawa darah ke seluruh tubuh. Jumlah
tekanan dalam sistem penting untuk mempertahankan pembuluh darah tetap
terbuka.

2.3.2. Regulasi Tekanan Darah2


Faktor utama yang mempengaruhi tekanan darah adalah curah jantung,
tekanan pembuluh darah perifer dan volume atau aliran darah. Faktor-faktor yang
meregulasi (mengatur) tekanan darah bekerja untuk periode jangka pendek dan
jangka panjang.

a. Sistem Persarafan3
Sistem persarafan mengontrol tekanan darah dengan mempengaruhi
tahanan pembuluh perifer. Tujuan utamanya adalah: Mempengaruhi distribusi
darah sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan bagian tubuh yang lebih
spesifik; Mempertahankan tekanan arteri rata-rata (MAP) yang adekuat dengan
mempengaruhi diameter pembuluh darah menyebabkan perubahan yang bermakna
pada tekanan darah. Penurunan volume darah menyebabkan konstriksi pembuluh
darah seluruh tubuh kecuali pembuluh darah yang memperdarahi jantung dan

20
otak, tujuannya adalah untuk mengalirkan darah keorgan-organ vital sebanyak
mungkin.

b. Peranan Pusat Vasomotor3


Pusat vasomotor yang mempengaruhi diameter pembuluh darah adalah
pusat vasomotor yang merupakan kumpulan serabut saraf simpatis. Peningkatan
aktivitas simpatis menyebabkan vasokontriksi menyeluruh dan meningkatkan
tekanan darah. Sebaliknya penurunan aktivitas simpatis memungkinkan relaksasi
otot polos pembuluh darah dan menyebabkan penurunan tekanan darah sampai
pada nilai basal. Pusat vasomotor dan kardiovaskular akan bersamasama
meregulasi tekanan darah dengan mempengaruhi curah jantung dan diameter
pembuluh darah. Impuls secara tetap melalui serabut eferen saraf simpatis (serabut
motorik) yang keluar dari medulla spinalis pada segmen T1 sampai L2, kemudian
masuk menuju otot polos pembuluh darah terutama pembuluh darah arteriol
sehingga selalu dalam keadaan konstriksi sedang yang disebut dengan tonus
vasomotor. Derajat konstriksi bervariasi untuk setiap organ. Umumnya serabut
vasomotor mengeluarkan epinefrin yang merupakanvasokonstriktor kuat. Akan
tetapi, pada otot rangka beberapa serabut vasomotor mengeluarkan asetilkolin
yang menyebabkan dilatasi pembuluh darah.

c. Refleks Baroreseptor3
Refleks baroresptor merupakan reflek paling utama dalam menentukan
kontrol regulasi dan denyut jantung dan tekanan darah. Mekanisme reflek
baroreseptor dalam meregulasi perubahan tekanan darah adalah dengan cara
melakukan fungsi reaksi cepat dari baroreceptor, yaitu dengan melindungi siklus
selama fase akut dari perubahan tekanan darah. Pada saat tekanan darah arteri
meningkat dan meregang, reseptor-reseptor ini dengan cepat mengirim impulsnya
ke pusat vasomotor dan menghambatnya yang mengakibatkan terjadi vasodilatasi
pada ateriol dan vena sehingga tekanan darah menurun.

21
d. Refleks Kemoreseptor3
Apabila kandungan oksigen atau pH darah turun atau kadar karbondioksida
dalam darah meningkat, maka kemoreseptor yang akan diarkus aorta dan
pembuluh-pembuluh besar dileher mengirim impuls ke pusat vasomotor dan
terjadilah vasokontriksi yang membantu mempercepat darah kembali ke jantung
dan ke paru. Dengan meningkatnya tekanan darah akan mengakibatkan
peningkatan pada potensial aksi ke pusat pengontrolan kardiovascular
(Cardiovascular Control Center: CCC). CCC direspon oleh menurunnya imput
simpatis dan meningkatnya parasimpatis ke dalam jantung. Keadaan ini
menyebabkan menurunnya cardiac output. CCC ini juga menurunkan input
simpatis kedalam pembuluh darah, terjadilah vasodilatasi yang menyebabkan
tahanan perifer yang rendah, sehingga menyebabkan penurunan tekanan darah.
Mekanisme kompensasi ini akan memberikan respon kepada baroreseptor untuk
mengembalikan tekanan darah dalam keadaan normal dan sebaliknya.

e. Pengaruh Pusat Otak Tertinggi3


Reflek yang meregulasi tekanan darah diintegrasikan pada batang otak
(medula) dengan memodifikasi tekanan darah arteri melalui penyaluran kepusat
medularis.

f. Kontrol Kimia3
Kadar oksigen dan karbondioksida membantu meregulasi tekanan darah
melalui refleks kemoreseptor, sejumlah kimia darah juga mempengaruhi tekanan
darah dengan bekerja langsung pada otot polos atau pusat vasomotor. Hormon
yang paling penting dalam tekanan darah adalah sebagai berikut:
1) Hormon yang dikeluarkan medula adrenal selama masa stress adalah non
epinefrin dan epinefrin yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal ke dalam darah.
Kedua hormon ini mengakibatkan respons “fight or flight” sehingga
mempengaruhi diameter pembuluh darah dan rangsangan simpatis
2) Faktor natriuretik atrium. Dinding atrium jantung mengeluarkan hormon
peptide yang disebut dengan faktor natriuretik atrial yang menyebabkan

22
volume darah dan tekanan darah menurun. Hormon ini adalah antagonis
aldosteron dan menyebabkan ginjal mengeluarkan garam dan air yang lebih
banyak dari tubuh dengan demikian volume darah akan menurun. Hormon ini
juga menyebabkan dan menurunkan pembentukan LCS di otak.
3) ADH (hormon antidiuretik). Hormon ini diproduksi di hipotalamus dan
merangsang ginjal untuk menahan air mengakibatkan peningkatan reabsorbsi
air yang berpengaruh dalam peningkatan volume dan menurunkan osmolaritas
cairan ekstra selulue (CES). Akibatnya dapat berpengaruh terhadap
hemeostasis tekanan darah.
4) Agiotensin II terbentuk akibat adanya renin yang dikeluarkan oleh ginjal saat
perfusi ginjal tidak adekuat. Hormon ini menyebabkan vasokonstriksi yang
hebat. Sehinggademikian terjadi peningkatan tekanan darah yang cepat.
Hormon ini juga merangsang pengeluaran aldosteron yang akan meregulasi
tekanan darah untuk jangka yang panjang melalui penahanan air.
5) Nitric Okside (NO) disebut juga dengan endothelium derived relaxing factor
(EDRF), merupakan vasokonstriktor yang dikeluarkan oleh sel endotel akibat
adanya peningkatan kecepatan aliran darah dan adanya mulekul-mulekul
seperti asetilkolin, bradikinin dan nitrigliserin. Hormon ini bekerja melalui
cyclic GMP second messenger, hormon ini sangat cepat dihancurkan dan efek
vasodilatasinya sangat singkat.

g. Alkohol3
Konsumsi alkohol menyebabkan penurunan tekanan darah melalui
penghambat pengeluaran ADH dan penekanan pada pusat vasomotor, sehingga
menyebabkan vasodilatasi terutama pada kulit. Yang akan memproduksi
angiotensin II, sebuah vasokonstriktor kuat yang akan mengakibatkan tekanan
darah sistemik, meningkatkan kecepatan aliran darah ke ginjal sehingga perfusi
ginjal meningkat. Angiotensin II juga merangsang korteks adrenal untuk
mengeluarkan aldosteron, suatu hormon yang mempercepat absorbsi garam dan
air yang berdampak pada peningkatan tekanan darah.

23
2.4. HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN3

Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang kerapkali muncul


selama kehamilan dan dapat menimbulkan komplikasi pada 2-3
persen kehamilan. Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan morbiditas/
kesakitan pada ibu (termasuk kejang eklamsia, perdarahan otak, edema paru
(cairan di dalam paru), gagal ginjal akut, dan penggumpalan/ pengentalan darah di
dalam pembuluh darah) serta morbiditas pada janin (termasuk pertumbuhan janin
terhambat di dalam rahim, kematian janin di dalam rahim, solusio plasenta/
plasenta terlepas dari tempat melekatnya di rahim, dan kelahiran prematur). Selain
itu, hipertensi pada kehamilan juga masih merupakan sumber utama penyebab
kematian pada ibu.
Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu:
1. Hipertensi kronik: hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang
diukur setelah beristirahat selama 5-10 menit dalam posisi duduk) yang
telah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau hipertensi yang timbul
sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu.
2. Preeklamsia-Eklamsia: peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah
usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan penambahan berat
badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada pemeriksaan
laboratorium dijumpai protein di dalam air seni (proteinuria). Eklamsia:
preeklamsia yang disertai dengan kejang.
3. Preeklamsia superimposed pada hipertensi kronik: preeklamsia yang terjadi
pada perempuan hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil.
4. Hipertensi gestasional: hipertensi pada kehamilan yang timbul pada
trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda
preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah
melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya
hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.

24
Preeklamsia terjadi pada kurang lebih 5% dari seluruh kehamilan, 10% pada
kehamilan anak pertama, dan 20-25% pada perempuan hamil dengan riwayat
hipertensi kronik sebelum hamil. Faktor risiko ibu untuk terjadinya preeklamsia
antara lain meliputi kehamilan pertama, pasangan/ paternitas baru, usia lebih
muda dari 18 tahun atau lebih tua dari 35 tahun, riwayat preeklamsia pada
kehamilan sebelumnya, riwayat keluarga dengan preeklamsia, obesitas/
kegemukan, dan selang waktu jarak antar kehamilan kurang dari 2 tahun atau
lebih dari 10 tahun.
Dasar penyebab preeklamsia diduga adalah gangguan pada fungsi endotel
pembuluh darah (sel pelapis bagian dalam pembuluh darah) yang menimbulkan
vasospasme pembuluh darah (kontraksi otot pembuluh darah yang menyebabkan
diameter lumen pembuluh darah mengecil/ menciut). Perubahan respons imun ibu
terhadap janin/ jaringan plasenta (ari-ari) diduga juga berperan pada terjadinya
preeklamsia. Kerusakan endotel tidak hanya menimbulkan mikrotrombosis difus
plasenta (sumbatan pembuluh darah plasenta) yang menyebabkan plasenta
berkembang abnormal atau rusak, tapi juga menimbulkan gangguan fungsi
berbagai organ tubuh dan kebocoran pembuluh darah kapiler yang bermanifestasi
pada ibu dengan bertambahnya berat badan ibu secara cepat, bengkak (perburukan
mendadak bengkak pada kedua tungkai, bengkak pada tangan dan wajah), edema
paru, dan/ atau hemokonsentrasi (kadar hemoglobin/ Hb lebih dari 13 g/dL).
Plasenta yang tidak normal akibat mikrotrombosis difus, akan menurunkan aliran
darah dari rahim ke plasenta. Hal tersebut akan memengaruhi kehidupan janin dan
bermanifestasi secara klinis dalam bentuk pertumbuhan janin terhambat di dalam
kandungan/ rahim dan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit).

25
BAB III
TELAAH KRITIS

A. TELAAH KRITIS JURNAL

1. Judul Jurnal
Effects of lactation on postpartum blood pressure among women with
gestational hypertension and preeclampsia

2. Gambaran Umum
a. Latar Belakang
Wanita dengan riwayat preeklamsia dan hipertensi gestasional
memiliki peningkatan risiko untuk mengalami gangguan kardiovaskular
dalam 5 sampai 15 tahun setelah kehamilan dibandingkan dengan wanita
yang normotensif selama kehamilan. Populasi penelitian berasal dari studi
Prenatal Exposures dan Preeklamsia Prevention 3, studi prospektif dari
dampak obesitas terhadap risiko preeklamsia pada wanita yang
mendapatkan perawatanantepartum, inpartu, dan postpartum di Magee-
Womens Hospital dari University of Pittsburgh Medical Center.
Meningkatnya durasi menyusui telah dikaitkan dengan penurunan risiko
CVD pada wanita dan tingkat yang lebih rendah dari hiperkolesterolemia,
diabetes, dan sindrom metabolik. Menyusui mempengaruhi beberapa
hormon, yang berdampak pada tekanan darah, termasuk oksitosin,
prolaktin, kortisol, estrogen, dan progesterone. Namun, apakah menyusui
mungkin mempengaruhi wanita dengan preeklamsia atau hipertensi
gestasional tidak benar-benar diketahui. Oleh karena itu kami
mengidentifikasi hubungan antara menyusui dan tekanan darah post
partum pada wanita yang mengalami atau tidak mengalami preeklamsia
atau hipertensi gestasional. Kami berhipotesis bahwa peserta yang tidak
menyusui akan memiliki tekanan darah postpartumyang lebih tinggi

26
daripada ibu yang menyusui, baikyangmengalami hipertensi gestasional
atau preeklamsia.

b. Bahan dan Metode Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif yang dilakukan pada
wanita yang selama hamil kontrol ke dokter dan melakukan kunjungan
post partum (rata-rata, 9,1 bulan setelah melahirkan) selama pengumpulan
data menyusui dan diukur tekanan darah. Data ini termasuk data
demografik dan data klinis ibu dan bayi yang dikumpulkan oleh petugas
medis terlatih menggunakan blanko yang terstandarisasi dan aturan-aturan
penulisan. Perempuan yang terdaftar adalah yang memenuhi kriteria
inklusi meliputi usia 18-40 tahun, kehamilan tunggal, dan usia kehamilan
6-16 minggu pada saat dimasukkan dalam penelitian. Wanita dengan IMT
<18, memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau gangguan kejang,
memiliki penyakit hati, jantung, atau penyakit ginjal, memiliki gangguan
vaskular kolagen, memiliki penyalahgunaan obat atau alkohol, memiliki
anomali janin besar, atau mengalami kematian janin disingkirkan dari
penelitian. Selain itu, perempuan yang memiliki kunjungan postpartum <6
bulan setelah melahirkan karena perempuan tersebut tidak akan memiliki
data mengenai apakah mereka menyusui hingga 6 bulan dan mereka yang
memiliki kunjungan postpartum pada saat lebih dari 24 bulan setelah
melahirkan. Sehingga berdasarkan kriteria inklusi tersebut, analisis
terakhir kami melibatkan 379 perempuan (nilai mean kunjungan
postpartum adalah 9,1 bulan, median 7,0 bulan, SD, 4,3 bulan).
Karakteristik maternal (mean±SD atau n [%]) dibandingkan menurut
riwayat menyusui menggunakan analisis varians untuk variabel kontinyu
dan tes chi square untuk variabel kategori.

c. Hasil
Pada wanita yang memiliki hipertensi gestasional, menyusui dikaitkan
dengan tekanan darah sistolik (P = 0,02) dan tekanan darah diastolik (P =

27
0,02) yang lebih rendah. Kohort awal terdiri dari 651 perempuan terutama
yang obesitas dan kelebihan berat badan. Dari jumlah tersebut, 437 (67%)
datang pada kunjungan postpartum penelitian, dan 379 yang di follow up
antara 6 dan 24 bulan dilibatkan dalam penelitian ini. Secara umum,
wanita yang datang ke kunjungan postpartum lebih banyak adalah orang
Afrika Amerika dan pendapatan rendah (Tabel Tambahan). Wanita yang
menyusui dalam jangka waktu yang lebih lama cenderung lebih tua, lebih
berpendidikan, dan memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan cenderung
melaporkan bahwa mereka telah merencanakan untuk menyusui, dengan
lebih dari 90% dari wanita yang menyusui selama lebih dari 3 bulan yang
melaporkan bahwa mereka berencana untuk menyusui pada saat
persalinan. (Tabel 1).

Tabel 1. Karakteristik Maternal padaKelompok Menyusui

28
Terdapat 33 wanita dengan preeklamsia (9%) dan 42 dengan
hipertensi gestasional (11%); prevalensi preeklamsia dan hipertensi
gestasional adalah tidak jauh berbeda pada masing-masing kelompok
menyusui. Durasi menyusui tidak mengubah perubahan berat badan dalam
periode postpartum. Pada para peserta yang memiliki hipertensi
gestasional yang menyusui lebih lama memiliki tekanan darah sistolik dan
diastolik yang lebih rendah secara signifikan (Tabel 2). Namun, tidak ada
perbedaan yang signifikan dalam TDS atau TDD postpartum pada
perempuan yang tetap normotensif selama kehamilan pada seluruh
kelompok menyusui. Demikian pula, pada perempuan yang mengalami
preeklamsia, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam TDS atau TDD
postpartum seluruh kelompok menyusui. Analisis gabungan melibatkan
wanita dengan hipertensi gestasional dan wanita dengan preeklamsia tidak
menunjukkan perubahan TD postpartum.

Tabel 2. Hubungan antara Lama Menyusui dengan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Rerata

Dalam model yang disesuaikan secara lengkap (Tabel 3), perempuan yang
menderita hipertensi gestasional memiliki TDS postpartum yang
signifikan lebih rendah jika mereka menyusui selama> 6 bulan (β = -16.1
mmHg, 95% confidence interval [CI], -27.7 hingga -4,5) dibandingkan
dengan mereka yang tidak pernah menyusui. Demikian pula, dalam model
yang disesuaikan, wanita dengan hipertensi gestasional memiliki TDD
postpartum yang signifkan lebih rendah jika mereka menyusui selama > 6

29
bulan (β = -16.9 mm Hg, 95% CI, -27.8 hingga -6.0). Pada wanita yang
normotensif dan pada wanita yang mengalami preeklamsia, model yang
disesuaikan secara penuh tidak mengidentifikasi apapun hubungan yang
signifikan antara durasi menyusui dan TD post partum.

Tabel 3. Hubungan antara Lama Menyusui dengan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
pada Model yang Disesuaikan

d. Diskusi
Dalam penelitian ini tekanan darah ibu dinilai, rata-rata, 8 bulan setelah
melahirkan, wanita dengan hipertensi gestasional memiliki tekanan darah
lebih rendah secara signifikan jika mereka menyusui selama lebih dari 6
bulan dibandingkan dengan mereka yang tidak menyusui; ini tidak meluas
ke wanita yang menyusui selama berbulan-bulan 3-6 atau <3 bulan. Di
antara wanita yang memiliki hipertensi gestasional, perbedaan postpartum
BP antara perempuan yang melakukan dan tidak laktasi adalah sama
besarnya dengan 12-15 mm Hg penurunan BP diharapkan antara pasien
hipertensi yang memulai baris pertama antihipertensi agent. Temuan ini
konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
menyusui terkait dengan BP lebih rendah di dia periodpostpartum
langsung serta di kemudian hari. Jalur endokrin yang terlibat dalam
menyusui dapat berkontribusi untuk menurunkan BP pasca partum dengan
mengurangi penanda inflamasi. Secara khusus, oksitosin mungkin
memainkan peran dalam mengurangi inflammation dan memiliki beberapa
manfaat kardioprotektif. Selain itu, menyusui dapat mempengaruhi faktor-

30
faktor yang mempengaruhi SBP seperti kekakuan arteri dan penyesuaian.
Anehnya, dalam penelitian ini, menyusui tidak berhubungan dengan
postpartum BP antara peserta yang memiliki preeklamsia atau di antara
mereka yang tetap normotensif selama kehamilan. Hal ini mungkin
mencerminkan perbedaan mendasar dalam patofisiologi hipertensi
gestasional dan preeklamsia. Meskipun kedua hipertensi gestasional dan
preeklamsia berbagi banyak faktor risiko, mereka memiliki perbedaan
yang jelas dalam patofisiologi. Pada preeklamsia, anti peptida angiogenik
berasal plasenta yang meningkat, yang mengakibatkan disfungsi endotel
dan akhirnya mengurangi aliran darah melalui arteri spiral yang memasok
placenta. Sebagai perbandingan, hipertensi gestasional telah digambarkan
sebagai hipertensi laten diungkapkan sementara oleh kehamilan, dengan
peningkatan risiko pengembangan hipertensi esensial. Wanita dengan
hipertensi gestasional tidak memiliki temuan sistemik proteinuria atau
perubahan kardiovaskular, menunjukkan bahwa hipertensi gestasional dan
preeklamsia sebenarnya adalah 2 proses yang berbeda. Oleh karena itu,
masuk akal bahwa menyusui mungkin memiliki lebih banyak efek
daripada postpartum BP antara wanita dengan hipertensi gestasional
dibandingkan dengan preeklamsia, yang dibuktikan dalam hasil kami.
Studi kami juga tidak menemukan hubungan antara menyusui dan
mengurangi pasca persalinan BP di antara perempuan yang tetap
normotensif selama kehamilan. Temuan ini berbeda dari apa yang telah
dilaporkan sebelumnya tentang efek laktasi di BP pada periode postpartum
lebih cepat dan mungkin karena fakta bahwa sebagian besar peserta dalam
penelitian ini ditindaklanjuti selama rata-rata 9,1 bulan setelah melahirkan
dan median 7,0 bulan di dibandingkan dengan hanya 1-5 bulan setelah
melahirkan dalam penelitian sebelumnya. Selain itu, perlu dicatat bahwa
mayoritas wanita dalam penelitian ini, dengan desain, kelebihan berat
badan atau obesitas sebelum hamil (berarti BMI, 32,5 kg/m2). Beberapa
studi telah mengidentifikasi interaksi antara sebelum hamil obesitas dan
hubungan antara menyusui dan berat retention. Meskipun menyusui telah

31
dikaitkan dengan kurang postpartum retensi berat bagi ibu yang memiliki
berat normal sebelum hamil, menyusui telah dikaitkan dengan peningkatan
postpartum retensi berat badan bagi ibu yang obesitas sebelum kehamilan.
Karena beberapa peserta dalam penelitian ini memiliki BMI kehamilan
yang normal , kita mungkin telah kehilangan efek laktasi pada postpartum
BP yang bisa terlihat di antara sampel yang lebih besar dari wanita dengan
berat badan normal. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa
periode prenatal menawarkan kesempatan penting untuk mendidik
perempuan tentang perubahan gaya hidup yang dapat mempengaruhi
kesehatan mereka di masa yang akan datang. Dengan berpartisipasi dalam
penelitian ini, perempuan mungkin telah menerima konseling prenatal
yang meningkatkan niat mereka untuk menyusui karena peserta melaporan
berniat untuk menyusui lebih tinggi dari yang diharapkan di antara
berpenghasilan rendah wanita Amerika Afrika di Pennsylvania.
Khususnya, sebagian besar peserta Amerika didominasi kelebihan berat
badan dan Afrika dalam penelitian ini yang merencanakan untuk menyusui
sebelum kelahiran berhasil menyusui selama > 3 bulan, yang mendukung
gagasan bahwa kehamilan konseling tentang menyusui, terutama bagi
wanita dengan kehamilan hipertensi, mungkin sangat penting. Kekuatan
penelitian ini meliputi fakta bahwa BP diukur pada saat yang sama bahwa
sejarah laktasi dikumpulkan, dan keduanya diukur secara standar lama
setelah melahirkan, mengurangi kemungkinan bias. Selain itu, informasi
rinci tentang gangguan hipertensi kehamilan dikumpulkan dari catatan
medis menggunakan protokol penelitian ajudikasi formal, sehingga
memastikan bahwa preeklamsia dan hipertensi gestasional dibedakan.

e. Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa menyusui
dapat menurunkan postpartum BP, terutama di kalangan wanita dengan
kehamilan terkena hipertensi gestasional. Tindak lanjut jangka panjang
diperlukan untuk menilai hubungan menyusui nanti-hidup BP antara

32
perempuan dengan gangguan hipertensi dari kehamilan. Selain itu, studi
masa depan diperlukan untuk sepenuhnya memahami patofisiologi
perubahan BP selama kehamilan dan periode postpartum, khususnya di
antara mereka yang mengalami gangguan hipertensi kehamilan.

B. TELAAH KRITIS
Jurnal yang diakses dari American Journal of Obstetrics and Gynecology
ini merupakan bagian dari kedokteran berbasis bukti (evidence-based medicine)
diartikan sebagai suatu proses evaluasi secara cermat dan sistematis suatu artikel
penelitian untuk menentukan reabilitas, validitas, dan kegunaannya dalam praktik
klinis. Komponen utama yang dinilai dalam critical appraisal adalah validity,
importancy, applicability. Tingkat kepercayaan hasil suatu penelitian sangat
bergantung dari desain penelitian dimana uji klinis menempati urutan tertinggi.
Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian dimulai dari
komponen pendahuluan, metodologi, hasil, dan diskusi. Masing-masing
komponen memiliki kepentingan yang sama besarnya dalam menentukan apakah
hasil penelitian tersebut layak atau tidak digunakan sebagai referensi.
Telaah kritis meliputi semua komponen dari suatu penelitian dimulai dari
komponen pendahuluan, metodologi, hasil, dan diskusi. Masing-masing
komponen memiliki kepentingan yang sama besarnya dalam menentukan apakah
hasil penelitian tersebut layak atau tidak digunakan sebagai referensi.

Penilaian PICO VIA (Population, Intervention, Comparison, Outcome,


Validity, Importancy, Applicability)

I. Population
Populasi penelitian berasal dari studi Prenatal Exposures dan Preeklampsia
Prevention 3, studi kohort prospektif dari dampak obesitas terhadap risiko
preeklamsia pada wanita yang mendapatkan perawatan antepartum, inpartu,
dan postpartum di Magee-Womens Hospital dari University of Pittsburgh
Medical Center. Kohort awal terdiri dari 651 perempuan terutama yang

33
obesitas dan kelebihan berat badan. Sebagai bagian dari protokol penelitian,
para wanita diminta untuk melakukan pemeriksaan atau kunjungan
postpartum minimal 3 bulan setelah melahirkan. Dari kelompok awal (n=
651), terdapat 437 wanita melakukan kunjungan postpartum 3-24 bulan
setelah melahirkan. Terdapat 55 wanita yang hamil kembali pada periode
follow up dan dengan demikian tidak memenuhi syarat untuk kunjungan
postpartum dan dikeluarkan dari analisis kami. Untuk penelitian ini, kami
menyingkirkan perempuan yang memiliki kunjungan postpartum < 6 bulan
setelah melahirkan karena perempuan tersebut tidak akan memiliki data
mengenai apakah mereka menyusui hingga 6 bulan dan mereka yang
memiliki kunjungan postpartum pada saat lebih dari 24 bulan setelah
melahirkan. Selain itu, 3 peserta mengikuti kunjungan postpartum tetapi
tidak dicatat tentang data tekanan darah dan dengan demikian dieksklusikan.
Analisis terakhir kami melibatkan 379 perempuan (nilai mean kunjungan
postpartum adalah 9,1 bulan, median 7,0 bulan, SD, 4,3 bulan). Semua
wanita melakukan informed consent secara tertulis dan penelitian ini
menerima persetujuan oleh University of Pittsburgh Institutional Review
Board (nomor persetujuan PRO14080003).

II. Intervention
Pada penelitian ini tidak dilakukan intervensi kepada peserta penelitian.
Peserta penelitian hanya diminta untuk melengkapi kuisioner dan
diwawancarai mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tekanan
darah postpartum dan durasi menyusui.

III. Comparison
Untuk menggambarkan hubungan antara durasi menyusui dan tekanan darah
postpartum pada wanita dengan hipertensi gestasional dan preeklamsia.

34
IV. Outcome
Pada wanita yang memiliki hipertensi gestasional, menyusui dikaitkan
dengan tekanan darah sistolik (P = 0,02) dan tekanan darah diastolik (P =
0,02) yang lebih rendah. Peserta yang memiliki hipertensi gestasional yang
menyusui lebih lama memiliki tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih
rendah secara signifikan. Namun, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam
TDS atau TDD postpartum pada perempuan yang tetap normotensif selama
kehamilan pada seluruh kelompok menyusui. Demikian pula, pada
perempuan yang mengalami preeklamsia, tidak ada perbedaan yang
signifikan dalam TDS atau TDD postpartum seluruh kelompok menyusui.
Analisis gabungan melibatkan wanita dengan hipertensi gestasional dan
wanita dengan preeklamsia tidak menunjukkan perubahan TD postpartum.
Dalam model yang disesuaikan, perempuan yang menderita hipertensi
gestasional memiliki TDS postpartum yang signifikan lebih rendah jika
mereka menyusui selama> 6 bulan (β = -16.1 mmHg, 95% confidence
interval [CI], -27.7 hingga -4,5) dibandingkan dengan mereka yang tidak
pernah menyusui. Demikian pula, dalam model yang disesuaikan, wanita
dengan hipertensi gestasional memiliki TDD postpartum yang signifkan
lebih rendah jika mereka menyusui selama > 6 bulan (β = -16.9 mm Hg, 95%
CI, -27.8 hingga -6.0). Pada wanita yang normotensif dan pada wanita yang
mengalami preeklamsia, model yang disesuaikan secara penuh tidak
mengidentifikasi hubungan apapun yang signifikan antara durasi menyusui
dan TD post partum.

V. Study Validity
Research questions
 Is the research question well-defined that can be answered using
this study design?
Ya. Metode penelitian dengan kohort prospektif dapat menjawab tujuan
dari penelitian ini, yaitu mengetahui hubungan antara durasi menyusui

35
dan tekanan darah postpartum pada wanita dengan hipertensi gestasional
dan preeklamsia.

 Does the author use appropriate methods to answer their question?


Ya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analytics
statistics, metode ini tepat untuk menganalisis hubungan antara durasi
menyusui dan tekanan darah postpartum pada wanita dengan hipertensi
gestasional dan preeklamsia. Penulis menggunakan analisis varian pada
variabel berkelanjutan dan uji X2 pada variabel kategorik untuk
menganalisis perbandingan karakteristik ibu menurut riwayat menyusui.
Penulis kemudian menguji hubungan antara menyusui dan tekanan darah
pasca melahirkan untuk peserta dengan (1) kehamilan normotensif, (2)
kehamilan preeklamsia, atau (3) kehamilan hipertensi gestasional.
Analisis statistik dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan SAS
versi 9.4 (SAS Institute, Cary, NC) dan Stata versi 13.0 (Stata Corp,
College Station, TX).

 Is the data collected in accordance with the purpose of the


research?
Ya. Data yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian. Subjek penelitian
adalah 651 wanita yang berpartisipasi dalam penelitian Prenatal
Exposures dan Preeklamsia Preventionyang mendapatkan perawatan
antepartum, inpartu, dan postpartum di Magee-Womens Hospital dari
University ofPittsburgh Medical Center. Namun, hanya 379 wanita yang
memenui kriteria inklusi sebagai subjek penelitian.

Randomization
 Was the randomization list concealed from patients, clinicians, and
researchers?
Penelitian ini tidak menggunakan metode pengambilan sampel secara
randomisasi melainkan dengan menggunakan metode total sampling.

36
Interventions and co-interventions
 Were the performed interventions described in sufficient detail to
be followed by others? Other than intervention, were the two groups
cared for in similar way of treatment?
Penelitian ini hanya mengambil data sesuai dengan kriteria inklusi dan
eksklusi tanpa melakukan intervensi terhadap subjek penelitian.

VI. Importance
Is this study important?
Ya. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena wanita dengan riwayat
hipertensi dalam kehamilan memiliki peningkatan risiko untuk mengalami
hipertensi dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Terlepas dari fakta
bahwa menyusui telah dikaitkan dengan penurunan risiko hipertensi pada
ibu, baik dalam periode postpartum dan di kemudian hari. Namun, sedikit
yang diketahui tentang apakah menyusui memiliki manfaat kardioprotektif
pada wanita dengan gangguan hipertensi kehamilan seperti preeklamsia atau
hipertensi gestasional. Hasil dari studi ini dapat memberikan informasi pada
klinisi dan ibu hamil mengenai efek laktasi terhadap penurunan tekanan
darah pada ibu dengan hipertensi dalam kehamilan.

VII. Applicability
 Are your patient so different from these studied that the results may
not apply to them?
Ya, cukup berbeda karena penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat
dimana terdapat perbedaan dalam segi karakteristik demografi yang
mungkin dapat mempengaruhi kejadian hipertensi gestasional dan
preeklamsia. Namun, populasi dalam penelitian hampir sama dengan
populasi di Indonesia, sehingga kemungkinan hasil yang tidak jauh
berbeda akan terjadi bila penelitian ini diterapkan di Indonesia.

37
 Is your environment so different from the one in the study that the
methods could not be use there?
Ya, cukup berbeda karena penelitian ini dilakukan di Amerika Serikat
dimana terdapat perbedaan dalam segi karakteristik demografi. Namun,
metode penelitian studi kohort dalam penelitian ini dapat diterapkan
apabila kedepannya akan dilakukan penelitian yang berkaitan dengan
riwayat laktasi dan tekanan darah postpartum.

Kesimpulan: Jurnal ini valid, penting, dan dapat diterapkan sehingga jurnal ini
dapat digunakan sebagai referensi.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Malamo E, Countouris Eleanor B, Brianna C, Andrew D, Althouse, Kathryn,


Arun, dan Janet. 2017. Effects of Lactation on Postpartum Blood Pressure
among Women with Gestational Hypertension and Preeclampsia. American
Journal of Obstetrics and Gynecology 2(046): 1-8.
2. Paulsen, F. dan Waschke. 2010. Sobotta: Altas der Anatomie des Menschen
Kopf, Hals, und Neuroanatomie. Book 3. 23th edition. Elsevier GmbH.
Munchen. Terjemahan Pendit, U., Hartanto, H., Nugroho, A., Ramadhani, D.,
dan Diani, A. 2013. Sobotta Atlas Anatomi Manusia Kepala, Leher, dan
Neuroanatomi. Jilid 3. Edisi 23. EGC. Jakarta.
3. Guyton, A. Clifton. dan J.E. Hall. 2007. Textbook of Medical Physiology.
11th edition. Elsevier. Singapore. Terjemahan Irawati. 2012. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC. Jakarta.

39