Вы находитесь на странице: 1из 6

Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.

1 Tahun 2016

PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI


SDLB PROF. DR. SRI SOEDEWI MASJCHUN SOFWAN, SH JAMBI TAHUN 2014
Suryati1, Rahmawati
Abstract
Indonesia in 2004 an estimated 475,000 people and now every one of the 150 children born
autism. Impaired social interaction is often found in people with autism and is a typical symptom of
autism.
This study is a quantitative research design (pre-experimental designs), to form one group
pretest-posttest design. This study aims to determine the effect of Play Therapy on Children Autism
Social Interaction. The population is all people with autism in SLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun
Sofwan, SH Jambi were 17 childrens who grade 1-3 (age 6-8 years). This study was conducted in
July 2014, data was collected by observation. Then analyzed using univariate and bivariate
analysis. Bivariate analysis using t-test.
The results of the statistical test p-value 0:00 obtained it can be concluded there effect Play
Therapy on Social Interaction Autistic Children in SLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan,
SH Jambi in 2014.
Expected SDLB may consider the use of play therapy as an adjunctive therapy for people with
autism.
Keyword: terapi bermain, interaksi sosial, autisme
PENDAHULUAN Sedangkan di Indonesia yang jumlah
Autisme adalah ketidakmampuan penduduk berkisar 340 juta jiwa pada tahun
perkembangan yang biasanya terlihat 2011, perbandingannya 8 dari setiap 1000
sebelum usia dua setengah tahun dan orang merupakan penderita Autis. Angka
ditandai dengan gangguan pada wicara dan ini terhitung cukup tinggi mengingat pada
bahasa, mobilitas, dan hubungan tahun sebelumnya, hanya 2 orang yang
interpersonal (Speer, 2007). Gangguan diketahui mengidap autis (Citydirectory,
autistik (dahulu disebut autisem infantil dini) 2011).
ditandai dengan interaksi sosial timbal balik Autis masih menjadi mimpi buruk bagi
yang menyimpang, keterampilan komunikasi sebagian besar orangtua. Beberapa orang tua
yang terlambat dan menyimpang serta langsung merasa stres saat mendengar
kumpulan aktivitas serta minat yang anaknya didiagnosis autis (Yosep, 2010).
terbatas. Gangguan autistik diyakini terjadi Anak autistik tidak dapat menunjukkan
dengan angka kira-kira 5 kasus per 10.000 tanda samar keterkaitan sosial pada orang
anak (0,05 %) (Kaplan dan Sadock, 2010). tua dan orang lain. Kontak mata yang lebih
Menurut data dari Unesco pada tahun jarang atau buruk adalah temuan yang lazim,
2011, terdapat 35 juta orang penyandang perkembangan sosial anak autis ditandai
autis di seluruh dunia. Rata-rata 6 dari 1000 dengan gangguan. Anak autistik sering tidak
orang di dunia telah mengidap autis memahami atau membedakan orang-orang
(Citydirectory, 2011).Autis dapat terjadi yang penting dalam hidupnya serta dapat
pada semua kelompok masyarakat kaya, menunjukkan ansietas berat ketika rutinitas
miskin, di desa, kota, berpendidikan, biasanya terganggu (Kaplan dan sadock,
maupun tidak, serta semua kelompok etnis 2010).
dan budaya di dunia. Jumlah anak yang Autisme sejauh ini memang belum bisa
terkena autis semakin meningkat pesat disembuhkan (not curable) tetapi masih
diberbagai belahan dunia. Pada tahun 2007 dapat diterapi (treatable). Dengan intervensi
di AS menurut laporan Center for Disease yang tepat, perilaku-perilaku yang tidak
Control memiliki rasio 1 : 150 (diantara 150 diharapkan dari pengidap autisme dapat
anak, ada 1 anak autisme). Sementara di dirubah. Pada penanganan yang tepat, dini,
Inggris disebutkan rasio 1 : 100 dan menurut intensif dan optimal, penyandang autisme
Siti Fadillah Supari (Menteri Kesehatan bisa normal. Mereka dapat berkembang dan
pada saat itu) dalam pembukaan rangkaian mandiri dimasyarakat. Kemungkinan normal
Expo Peduli Autisme 2008 lalu mengatakan, bagi pengidap autisme tergantung dari berat
jumlah penderita autis di Indonesia pada tidaknya gangguan yang ada (Hasdianah,
tahun 2004 tercatat 475.000 penderita daan 2013).
sekarang diperkirakan setiap 1 dari 150 anak Terapi yang biasa diberikan pada
yang lahir, menderita autisme (Kaplan dan penderita autis adalah terapi dengan
Sadock, 2010). pendekatan psikodinamis, terapi dengan
intervensi behavior, intervensi biologis dan
terapi bermain (Terapi bermain adalah cara
alamiah bagi anak untuk mengungkapkan
1
Dosen Akper Telanai Bhakti Jambi
142
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

konflik pada dirinya yang tidak disadari sosial anak autis di Semarang diketahui
(Wong dalam Rosyidi, 2013). bahwa terapi bermain terbukti efektif
Sebagian besar teknik terapi bermain meningkatakan interaksi sosial anak. Usia 6-
yang dilaporkan dalam literatur 8 tahun menjadi sasaran dalam penelitian
menggunakan basis pendekatan karena pada tahap ini anak baru mengenal
psikodinamika atau sudut pandang analitis. interaksi dengan orang lain (mulai sekolah)
Hal ini sangat menarik karena pendekatan sehingga interaksi yang terjadi masih kurang
ini secara tradisional dianggap diharapkan dengan dilakukan terapi
membutuhkan komunikasi verbal yang bermain, maka anak akan mau berinteraksi
tinggi, sementara populasi autistik tidak dengan orang lain.
dapat berkomunikasi secara verbal. Namun Berdasarkan data yang diperoleh dari
terdapat juga beberapa hasil penelitian yang BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Jambi
menunjukkan penggunaan terapi bermain diketahui bahwa jumlah anak dengan
pada penyandang autisme dengan berdasar kebutuhan Khusus di Kota Jambi sekitar 560
pada pendekatan perilaku (Landreth, 2001 anak. Sedangkan data yang diperoleh dari
dalam Hasdianah, 2013 ). SDLB Kota Jambi diketahui bahwa jumlah
Efektivitas penggunaan terapi bermain penderita Autis di Sekolah tersebut sebanyak
masih cukup sulit diketahui karena sampai 17 orang (SLB Kota Jambi, 2013)
saat ini kebanyakan literatur masih Berdasarkan hasil survey awal terhadap
memaparkan hasil kasus per kasus. Namun salah satu guru di SLB diketahui bahwa di
Bromfield, Lanyado, & Lowery menyatakan SLB ada terapi untuk anak anak autis tetapi
bahwa klien mereka menunjukkan bukan terapi bermain, lebih ke terapi
peningkatan dalam bidang perkembangan perilaku. Aktivitas bermain memang sering
bahasa, interaksi sosial, dan berkurangnya dilakukan tapi tidak termsuk dalam bentuk
perilaku stereotip, setelah proses terapi. terapi.
Mereka dikatakan juga dapat mentransfer Berdasarkan fenomena di atas maka
ketrampilan ini di luar seting bermain. peneliti ingin meneliti tentang “ pengaruh
Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa terapi bermain terhadap interaksi sosial anak
model terapi bermain yang terintegrasi autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana Masjchun Sofwan, SH Jambi tahun 2014
program ini ditujukan untuk meningkatkan 1. Tujuan umum
interaksi sosial dan melatih ketrampilan Untuk mengetahui Pengaruh Terapi
bermain simbolik. Mundschenk & Sasso Bermain terhadap Interaksi Sosial Anak
juga melaporkan hal yang sama (Hasdianah, Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
2013). Masjchun Sofwan, SH Jambi tahun 2014
Berdasarkan luasnya batasan terapi 2. Tujuan Khusus
bermain maka penerapannya bagi a. Untuk mengetahui gambaran
penyandang autisme memerlukan batasan- interaksi sosial anak autis sebelum
batasan yang lebih spesifik, disesuaikan terapi bermain di SLB Prof. Dr. Sri
dengan karakteristik penyandang autisme Soedewi Masjchun Sofwan, SH
sendiri. Pada anak penyandang autisme, Jambi tahun 2014
terapi bermain dapat dilakukan untuk b. Untuk mengetahui gambaran
membantu mengembangkan ketrampilan interaksi sosial anak autis setelah
sosial, menumbuhkan kesadaran akan terapi bermain di SLB Prof. Dr. Sri
keberadaan orang lain dan lingkungan Soedewi Masjchun Sofwan, SH
sosialnya, mengembangkan ketrampilan Jambi tahun 2014
bicara, mengurangi perilaku stereotip, dan c. Untuk mengetahui Pengaruh Terapi
mengendalikan agresivitas.Berbeda dengan Bermain terhadap Interaksi Sosial
anak-anak non autistik yang secara mudah Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri
dapat mempelajari dunia sekitarnya dan Soedewi Masjchun Sofwan, SH
meniru apa yang dilihatnya, maka anak-anak Jambi tahun 2014
autistik memiliki hambatan dalam meniru METODE PENELITIAN
dan ketrampilan bermainnya kurang variatif. Penelitian ini merupakan penelitian
Hal ini menjadikan penerapan terapi kuantitatif, menggunakan desain penelitian
bermain bagi anak autisme perlu sedikit pre experimental designs yaitu penelitian
berbeda dengan pada kasus yang lain praeksperimen, dengan bentuk one group
(Hasdianah, 2013). pretest-posttest design. Lokasi penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti adalah di Sekolah Luar Biasa Kota Jambi,
(2009) dengan judul pengaruh terapi penelitian ini dilaksanakan pada bulan 11-24
bermain terhadap peningkatan interaksi Juli tahun 2014. Populasi dalam penelitian

143
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

ini adalah seluruh penderita autis usia 6-8 pengisian lembar chek list yang terdiri dari
tahun di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi pilihan jawaban ya dan tidak dengan item
Masjchun Sofwan, SH Jambi yang masih observasi sebanyak 5 item. Analisi bivariat
aktif sebanyak 17 orang. Usia 6-8 tahun Uji statistik yang digunakan adalah (t-test)
mejadi sasaran dalam penelitian karena pada dengan derajat kemaknaan 0,05.
tahap ini anak baru mengenal interaksi HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan orang lain (mulai sekolah) sehingga Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
interaksi yang terjadi masih kurang bahwa hasil pengukuran pertama sebelum
diharapkan dengan dilakukan terapi dilakukan terapi bermain diketahui bahwa
bermain, maka anak akan mau berinteraksi hanya 2 responden yang mau menatap mata
dengan orang lain. Pada penelitian ini (11,8%) dan selebihnya tidak ada interaksi.
pengambilan sampel dengan menggunakan Gambaran interaksi sosial anak autis
tehnik Total Sampling. Pengumpulan data sebelum dilakukan terapi bermain terlihat
dalam penelitian ini diperoleh melalui pada tabel beriku ini:
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Komponen Interaksi Sosial Anak Autis
Sebelum Terapi Bermain Di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi tahun
2014
No Interaksi sosial Hasil observasi
Ya f Tidak F
1 Mau menatap mata 2 11.8 15 88.2
2 Menoleh saat nama dipanggil 0 0.0 17 100.0
3 Mau bermain dengan teman 0 0.0 17 100.0
sebaya
4 Tidak Asyik bermain dengan 0 0.0 17 100.0
dunianya sendiri
5 Ada empati dengan 0 0.0 17 100.0
lingkungan sekitar
Berdasarkan hasil pengukuran kedua asyik dengan dunia sendiri belum ada
(setelah dilakukan terapi bermain) diperoleh perubahan.
hasil 11 responden (64,7%) mau menatap Setelah dilakuakn terapi bermain telihat
mata dan 10 responden (58,8%) menoleh peruhanan interaksi sosial anak autis.
saat dipanggil, namun pada komponen mau Gambaran interaksi sosial anak autis setelah
bermain dengan teman, empati dan tidak dilakukan terapi bermain terlihat pada tabel
beriku ini:
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Komponen Interaksi Sosial Anak Autis
Setelah Terapi Bermain di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun
2014
No Interaksi sosial Hasil observasi
Ya f Tidak F
1 Mau menatap mata 11 64.7 6 35.3
2 Menoleh saat nama 10 58.8 7 41.2
dipanggil
3 Mau bermain dengan 0 0.0 17 100.0
teman sebaya
4 Tidak Asyik bermain 0 0.0 17 100.0
dengan dunianya sendiri
5 Ada empati dengan 0 0.0 17 100.0
lingkungan sekitar
Berdasarkan hasil analisis Uji t diperoleh pelaksanaan terpai bermain pada anak autis
perbedaan rata-rata interaksi sosial sbegaimana terlihat pada tabel berikutr ini:
responden sebelum dengan tsesudak
Rata-Rata Interaksi Sosial Responden Berdasarkan Pengukuran Pertama Dan Kedua Di
SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Interaksi sosial Mean SD SE P value N
Sebelum terapi 0.12 0.33 0.08 0.00 17
Setelah terapi 1.24 0.90 0.21
Rata-rata interaksi sosial anak autis interaksi sosial setelah dilakukan terapi
sebelum dilakukan terapi bermain adalah adalah 1,18 dengan standar deviasi 0,928.
0.12 dengan standar deviasi 0,33. Pada Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value
pengukuran kedua setelah dilakukan terapi 0.00 maka dapat disimpulkan ada pengaruh
bermain didapat rata-rata interaksi sosial Terapi Bermain terhadap Interaksi Sosial
anak autis 1,24 dengan standar deviasi 0.90. Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Terlihat nilai mean perbedaan antara Masjchun Sofwan, SH Jambi tahun 2014.
interaksi sosial sebelum dilakukan terapi dan 1. Keterbatasan Penelitian

144
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

Keterbatasan yang peneliti temukan pada sehingga terlihat sangat asyik dengan
saat proses pengumpulan data adalah sangat dunianya sendiri.
sulit memberikan penjelasan pada anak autis Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa
untuk mengikuti terapi sesuai anjuran dari dalam interaksi sosial adalah adanya upaya
peneliti. Sehingga peneliti harus berulang- transaksi-transaksi dalam mencapai
ulang mengilang dan menjelaskan pad anak. hubungan timbal balik, dengan harapan
Pada saat pelaksanaan terapi bermain anak sebagaimana tujuan yang diharapkan mampu
tidak bisa kembali ke rumah (warna) yang diserap dan diaplikasikan sebagai sesuatu
ditetapkan sebagi rumah anak, terkadang yang perlu diterima dan dijalankan. Untuk
peneliti dan enumerator harus membantu itu perlu penguat atau dorongan agar proses-
anak untuk kembali ke tempat asalnya. proses negoisasi dalam interaksi sosial
Disamping itu minimnya kontak yang bisa berjalan sesuai dengan tujuan yang
dilakukan dengan anak mengakibatkan diharapkan (Nasir dkk, 2011).
setelah terapi bermain hanya sedikit Upaya yang peneliti lakukan untuk
komponen yang bisa berubah, kendala lain menciptakan kontak yang baik adalah
dalam penelitian ini adalah waktu, karena dengan menyampaikan informasi dengan
waktu penelitian hanya 2 minggu, maka tidak cepat disertai bermain dan
terapi bermain hanya bisa dilakukan lima menggunakan fasilitator untuk
kali, hal ini juga mungkin yang menjadi menjembatani agar menyampaikan maksud
penyebab hanya sedikit item yang dapat peneliti kepada anak.
berubah sebelum dan sesudah dilakukan 3. Gambaran interaksi sosial anak autis
terapi bermain. Jika terapi dlakukan secara setelah terapi bermain di SLB Prof. Dr.
intens dan dengan melibatkan banyak anak Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH
diharapkan interaksi sosial yang tercipta Jambi tahun 2014
akan semakin baik. Disamping itu anak autis Berdasarkan hasil pengukuran kedua
karena memiliki kesibukan sendiri sehingga (setelah dilakukan terapi bermain) diperoleh
konsentrasinya tidak fokus pada hal yang hasil 11 responden (64,7%) mau menatap
diperintahkan. mata dan 10 responden (58,8%) menoleh
2. Gambaran interaksi sosial anak autis saat dipanggil, namun pada komponen mau
sebelum terapi bermain di SLB Prof. Dr. bermain dengan teman, empati dan tidak
Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH asyik dengan dunia sendiri belum ada
Jambi tahun 2014 perubahan.
Berdasarkan hasil pengukuran pertama Setelah dialkukan terapi bermain
(sebelum terapi bermain) diketahui bahwa terdapat perubahan dalam interaksi sosial,
hanya 2 responden yang mau menatap mata hal ini dapat dilihat sudah banyak anak yang
(11,8%) dan selebihnya tidak ada interaksi. mau menoleh saat dipanggil, dan ada kontak
Interaksi sosial adalah hubungan- mata saat diajak bicara.
hubungan dinamis yang menyangkut : Menurut Nasir dkk (2011) hakikat
hubungan antar individu-individu, individu- interaksi sosial terletak pada kesadaran yang
kelompok, kelompok -kelompok dalam mengarahkan pada tindakan orang lain. Di
bentuk kerja sama serta persaingan atau sini, hakikatnya harus ada orientasi timbal
pertikaian. Interaksi sosial adalah hubungan balik antara pihak-piliak yang bersangkutan
antara dua atau lebih individu manusia, di tanpa menghiraukan isi perbuatannya.
mana kelakuan yang satu mempengaruhi, Banyaknya anak yang interaksi sosial
mengubah, atau memperbaiki kelakuan sudah mulai ada bisa terjadi karena rasa
individu lainnya atau sebaliknya (Nasir dkk, percaya sudah tebentuk dan mulai timbul
2011). rasa nyaman pada saat bermain. Namun
Dari hasil pengukuran pertama interaksi karena intensitas terapi bermain yang tidak
sosial sangat minim dari 5 komponen yang banyak hanya 5 kali interaksi sosial yang
di observasi hanya pada kontak mata yang terbentuk hanya pada 2 item observasi yaitu
ada interaksi itupun hanya 2 orang. kontak mata dan menoleh saat dipanggil.
Minimnya interaksi sosial bisa terjadi karena Upaya yang perlu dilakukan adalah
responden baru mengenal peneliti sehingga sebaiknya terapi bermain bisa
kontak yang terjadi sangat sedikit. dipertimbangkan sebagai terapi tambahan
Disamping itu rasa percaya terhadap orang untuk meningkatkan interaksi diantara anak.
lain belum terjalin sehingga interaksi antar Dengan dilakukan dalam waktu yang lama
anak dan peneliti sangat dibatasi.dan mala diharapkan dapat memperbaiki
mungkin responden belum tahu tujuan anak interaksi antar anak.
diajak bermain. Disamping itu anak belum
terlalu terbiasa kontak dengan orang banyak

145
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

4. Pengaruh Terapi Bermain terhadap mereka juga dapat menstransfer


Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB keterampilan ini diluar seting bermain
Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, (Hasdianah, 2013).
SH Jambi tahun 2014 Menurut asumsi peneliti semakin lama
Hasil uji statistik didapatkan nilai p- terapi diterapkan pada anak maka interaksi
value 0.00 maka dapat disimpulkan ada sosial akan semakin baik, hal ini dapat
pengaruh Terapi Bermain terhadap Interaksi dilihat dari hasil observasi selama peneliti
Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri melakukan penelitian, pada dasarnya anak
Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi tahun autis juga bisa berinteraksi dengan
2014. lingkungan namun memerlukan waktu yang
Penelitian ini sejalan dengan penelitian lebih lama dibandingkan dengan anak yang
Chusaeri (2009) dengan judul efektivitas tidak mengalami masalah mental. Jika terapi
terapi bermain sosial untuk meningkatkan dilakukan terus menerus dan dengan teknik
kemampuan dan keterampilan sosial bagi yang bervariasi maka akan meningkatan
anak dengan gangguan autism. Penelitian interaksi anak terhadap lingkungan dan
dengan metode eksperimen dengan 11 orang secara tidak langsung melatih kemampuan
subyek menggunakan treatment terapi motorik dan kreatifitas anak sehingga dapat
bermain kelompok untuk meningkatkan lebih mandiri.
kemampuan dan keterampilan sosial Keberhasilan program terapi bermain
menunjukkan hasil yang cukup signifikan. sangat ditentukan oleh bagus tidaknya kerja
Sehingga hasil eksperimen tersebut dianggap sama terapis dengan orang tua dan orang-
efektif dengan nilai z = -2.940. Artinya orang lain yang terlibat dalam pengasuhan
terdapat perbedaan yang signifikan antara anak sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan
mean skor kemampuan dan keterampilan proses transfer ketrampilan yang sudah
sosial sebelum dan sesudah pemberian terapi diperoleh selama terapi yang harus terus
bermain. dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan
Hasil penelitian ini mendukung teori di luar program terapi.
yang menyatakan bahwa terapi bermain Dari hasil penelitian ini dapat disimpulan
adalah cara alamiah bagi anak-anak untuk bahwa terapi bermain dapat meningkatkan
mengungkapkan konflik pada dirinya yang interaksi sosial anak, untuk itu disarankan
tidak disadari (Rosyidi, 2013). Bermain kepada pihak SDLB untuk
adalah bagian integral dari masa kanak- mempertimbangkan pengggunaan terapi
kanak, media yang unik untuk memfasilitasi bermain sebagai salah satu terapi pada anak
perkembangan ekspedisi bahasa, autis. Pelaksanaan terapi bermain dapat
ketrampilan komunikasi, perkembangan dilakukan dengan bekerjasama dengan
emosi, keterampilan sosial, keterampilan beragai pihak seperti akademisi dan lintas
pengambilan keputusan, dan perkembangan sektor yang membidangi masalah anak
kognitif pada anak-anak (Hasdianah, 2013). berkebutuhan khusus seperti dinas sosial.
Anak bermain pada dasarnya agar ia Hasil penelitian ini mendukung
memperoleh kesenangan, sehingga tidak penelitian sebelumnya dan sesuai dengan
akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar konsep teori yang ada yang mana
mengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan dismpulkan terapi bermain dapat
anak seperti halnya makan, perawatan dan meningkatkan keterampilan sosial anak,
cinta kasih. Fungsi utama bermain adalah bahkan pada anak autis sekalipun, hal ini
merangsang perkembangan sensoris- tentunya dapat dijadikan masukan bagi
motorik, perkembangan sosial, profesi keperawatan untuk melakukan
perkembangan kreativitas, perkembangan intervensi khusus pada anak dengan
kesadaran diri, perkembangan moral dan kebutuhan khusus seperti autis untuk diberi
bermain sebagai terapi (Ambarwati & Nita, terapi bermain dalam waktu yang
2012). berkesinambungan dan dilakukan oleh pihak
Dari hasil analisis diketahui bahwa ada SDLB.
perubahan interaksi sosial sebelum dan SIMPULAN
seudah meskipun masih minimal. Hal ini 1. Hasil pengukuran pertama (sebelum
sesuai teori Efektivitas penggunaan terapi terapi bermain) menunjukkan bahwa
bermain masih cukup sulit diketahui namun hanya 2 responden yang mau menatap
Bromfield, lanyado dan lowery menyatakan mata (11,8%) dan selebihnya tidak ada
bahwa klien mereka menunjukkan interaksi
peningkatan dalam bidang perkembangan 2. Hasil pengukuran kedua (setelah
bahasa, interaksi sosial dan berkurangnya dilakukan terapi bermain) menunjukkan
perilaku stereotip, setelah proses terapi bahwa 11 responden (64,7%) mau

146
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.1 Tahun 2016

menatap mata dan 10 responden (58,8%) Kaplan & Sadock. (2010). Buku Ajar
menoleh saat dipanggil, namun pada Psikiatri Klinis. Ed. 2. Jakarta : EGC
komponen mau bermain dengan teman, Mirza. (2007). Mendidik Anak Autis Dan
empati dan tidak asyik dengan dunia Gangguan Mental Lain Menuju Anak
sendiri belum ada perubahan Cerdas Dan Sehat . Yogyakarta :
3. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan Kata Hati
bahwa hasil uji statistik didapatkan nilai Nasir dkk. (2011). Komunikasi Dalam
p-value 0.00 maka dapat disimpulkan Keperawatan Teori dan Aplikasi.
ada pengaruh Terapi Bermain terhadap Jakarta: Salemba Medika
Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi
Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, Penelitian Kesehatan. Jakarta:
SH Jambi tahun 2014. Rineka Cipta
Saran Rosyidi. (2013). Prosedur Praktek
1. SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Keperawatan Jilid I. Jakarta: TIM
Sofwan, SH SLB Kota Jambi, (2013). Laporan bulanan
Diharapkan dapat mempertimbangkan SLB
penggunaaan terapi bermain sebagai Speer. (2007). Recana Asuhan Perawatan
terapi tambahan bagi penderita autis. Pediatrik dengan Klinikal Pathways.
2. Bagi Peneliti lain Jakarta :EGC
Diharapkan dapat melakukan penelitian Sumantri. 2012 Autisme tersedia dalam
dengan desain dan variabel yang http://mantrinews.blogspot.com/2012
berbeda. /03/autisme.html diakses 13 Mei
3. Bagi Profesi Keperawatan 2014
Diharapkan perawat khususnya perawat Sunaryo. (2004). Psikologi untuk
di komunitas yang menaungi anak Keperawatan. Jakarta: EGC
berkebutuhan khusus agar dapat Supartini.( 2004). Buku Ajar Konsep Dasar
menerapkan terapi bermain sebagai salah Keperawatan Anak. Jakarta. EGC
satu intervensi keperawatan untuk Veskarisyanti. (2008). 12 Terapi Autis
mengatasi masalah interaksi sosial yang Paling Efektif Dan Hemat .
terjadi pada anak autis. Yogyakarta : Pustaka Anggrek
DAFTAR PUSTAKA Wong. (2009). Buku Ajar Keperawatan
Ambarwati & Nita. (2012). Buku Pintar Pediatrik Wong. Jakarta: EGC
Asuhan Keperawatan Bayi dan Yosep. (2009). Keperawatan Jiwa.
Balita. Yogyakarta : Cakrawala Ilmu Bandung: PT Refika Aditama
Andriani (2003) . Jurnal Autisme : Masa
Kanak . Program Studi Psikologi
Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara . Available FTP:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/1
23456789/3635/1/psikologi- elvi.pdf
diakses 13 Mei 2014
Citydirectory (2011).
http://vivirizkiamelia.blogspot.com/2
012/05/angka-kejadian-autis-
2011.html
Chusaeri (2009).Efektivitas terapi bermain
sosial untuk meningkatkan
kemampuan dan keterampilan sosial
bagi anak dengan gangguan autism.
Fadhli. (2010). Buku Pintar Kesehatan
Anak. Yogyakarta : Pustaka Naggrek
Hasdianah. (2013). Autis Pada Anak
Pencegahan, Perawatan dan
Pengobatan. Yogyakarta: Nuha
Medika
Hidayat, A A. (2007). Metode Penelitian
Keperawatan dan teknik analisa
data. Jakarta: Salemba Medika
Huzaemah. (2010). Kenali Autisme Sejak
Dini. Jakarta : Pustaka Populer Obor

147
Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Interaksi Sosial Anak Autis di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi Tahun 2014