You are on page 1of 18

Agung Julianto

Senin, 13 Mei 2013


PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN
Terbentuknya negara Indonesia dilatar belakangi oleh perjuangan seluruh bangsa.
Sudah sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak negara atau bangsa lain, karena
potensinya yang besar dilihat dari wilayahnya yang luas dengan kekayaan alam yang banyak.
Kenyataannya ancaman datang tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Terbukti, setelah
perjuangan bangsa tercapai dengan terbentuknya NKRI, ancaman dan gangguan dari dalam
juga timbul, dari yang bersifat kegiatan fisik sampai yang idiologis. Meski demikian, bangsa
Indonesia memegang satu komitmen bersama untuk tegaknya negara kesatuan Indonesia.
Dorongan kesadaran bangsa yang dipengaruhi kondisi dan letak geografis dengan dihadapkan
pada lingkungan dunia yang serba berubah akan memberikan motivasi dalam menciptakan
suasana damai.

Sejak merdeka negara Indonesia tidak luput dari gejolak dan ancaman yang membahayakan
kelangsungan hidup bangsa. Tetapi bangsa Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan
dan kedaulatannya dari agresi Belanda dan mampu menegakkan wibawa pemerintahan dari
gerakan separatis. Ditinjau dari geopolitik dan geostrategi dengan posisi geografis, sumber
daya alam dan jumlah serta kemampuan penduduk telah menempatkan Indonesia menjadi
ajang persaingan kepentingan dan perebutan pengaruh antara negara besar. Hal ini secara
langsung maupun tidak langsung memberikan dampak negatif terhadap segenap aspek
kehidupan sehingga dapat mempengaruhi dan membahayakan kelangsungan hidup dan
eksitensi NKRI. Untuk itu bangsa Indonesia harus memiliki keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional sehingga berhasil mengatasi
setiap bentuk tantangan ancaman hambatan dan gangguan dari manapun datangnya.

Disinilah letak kepentingan Ketahanan Nasional bagi bangsa Indonesia, untuk tetap teguh
berdiri sebagai satu kesatuan Negara Indonesia, untuk menghindari segala jenis ancaman dan
bahaya yang bermaksud menghancurkan atau merusak hakekat dan pendirian Bangsa
Indonesia. Ketahanan Nasional memiliki salah satu tujuan yakni untuk menjaga keamanan
dan ketentraman bangsa Indonesia dari segala bahaya. Itulah sebabnya pentingnya
perlindungan Negara di bidang Pertahanan dan Keamanan negara Karena itu, Fungsi
Pertahanan dan Keamanan negara diselenggarakan melalui usaha membangun dan membina
kemampuan, daya tangkal negara dan bangsa serta menanggulangi setiap ancaman meliputi
subfungsi pertahanan, subfungsi keamanan dalam negeri dan subfungsi keamanan ketertiban
masyarakat.

Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.
Hal ini merupakan dasar dari sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta.
Pelaksanaannya diatur dengan memenuhi keadilan dan pemerataan dalam menjalankan
tugas pertahanan dan keamanan nasional. Dalam sistem pertahanan dan keamanan
rakyat semesta, ABRI yang tumbuh dari rakyat serta bersama dalam kemanunggalan
dengan rakyat menegakkan dan mengisi kemerdekaan bangsa, menjadi inti dalam sistem
tersebut.
Pertahanan dan keamanan nasional yang disusun berdasarkan sistem Pertahanan dan
Keamanan Rakyat Semesta akan mampu mensukseskan perjuangan nasional pada umumnya,
pembangunan nasional pada khususnya dan mengamankannya dari setiap ancaman,
sehingga usaha bangsa dalam mencapai tujuan nasional dapat berlangsung dalam suasana
damai, aman, tenteram, tertib dan dinamis.Pembinaan pertahanan dan keamanan nasional
diusahakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dan keamanan, yang meliputi
kemampuan kekuatan di darat, di laut, di udara, penertiban dan penyelamatan
masyarakat, sehingga mampu melaksanakan tugas-tugas pertahanan dan keamanan
nasional sesuai dengan keperluan dan tantangan yang dihadapi oleh negara dan bangsa
Indonesia.
Kekayaan Angkatan Bersenjata RI sebagai kekuatan sosial, bersama kekuatan sosial
lainnya, memikul tugas dan tanggung jawab perjuangan bangsa dalam mengisi
kemerdekaan dan memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pem-
binaan kemampuan ABRI sebagai kekuatan sosial diarahkan agar Angkatan Bersenjata RI
dalam kemanunggalannya dengan rakyat, mampu secara aktif melaksanakan kegiatan
pembangunan nasional, serta dapat meningkatkan peranannya dalam memperkokoh
ketahanan nasional. Di samping itu, operasi Bakti ABRI merupakan peluang untuk
menyumbangkan sesuatu yang berharga kepada masyarakat .
1.1 Penegasan Mengenai Judul
Dalam kesempatan ini kita akan membahas pertahanan nasional dan keamanan Negara
Republik Indonesia, kita sebagai penerus bangsa, kita harus punya jiwa patriotisme terhadap
Negara Republik Indonesia, kita harus bisa menjaga bangsa ini dari pesaing yang ingin
menguasai kekayaan sumber daya alam Indonesia yang kaya, seperti yang sudah di bahas di
awal tadi. Banyak sekali yang ingin menguasai bangsa ini, makanya begitu penting sekali
pertahanan dan keamanan Negara.
1.2 Alasan Pemilihan Judul
Karena saya memilih judul ini saya sangat tertarik sekali dengan pokok pembahasan, tentang
pertahanan nasional dan keamanan Negara. Saya ingin sekali mengupas masalah pertahanan
Negara kita ini apakah sudah bagus pertahanan Negara ini, makanya kita harus paham
tentang pertahanan nasional karena, Negara ini sangat kaya sekali dengan sumber daya alam.
1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :


1.Dengan adanya makalah yang berjudul Ketahanan Nasional ini dapat mengetahui apa
pengertian-pengertian ketahanan nasional.
2.Penulis mengiginkan makalah ini menjadi bahan bacaan yang menarik bagi para pembaca.
3.Penulis berharap makalah ini dapat menjadi bahan materi pada mata kuliah pendidikan
kewarganegaraaan dan dalam tugas yang sama.

BAB II
KEADAAN DAN MASALAH

Strategi nasional bangsa Indonesia yang mengutamakan pembangunan nasional untuk


peningkatan kesejahteraan rakyat, merupakan kepentingan nasional yang utama. Oleh
karena itu segenap upaya nasional, baik ke dalam maupun ke luar harus menunjang.
suksesnya pembangunan nasional. Sehubungan dengan itu, upaya pertahanan dan
keamanan nasional berkewajiban mendukung usaha pembangunan itu dengan menjamin
terpeliharanya suasana dan kondisi masyarakat yang damai, aman, tenteram, tertib dan
dinamis. Pembangunan pada hakekatnya adalah suatu proses perubahan masyarakat dari
suatu keadaan tertentu menuju suatu keadaan baru yang lebih baik dan lebih maju. Dan
setiap perubahan akan selalu menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan, sehingga
akibat-akibat yang ditimbulkan oleh gangguan keseimbangan yang lahir dari proses
perubahan ini akan merupakan suatu perubahan keadaan yang harus dihadapi dan diatasi
secara terus menerus.

Kondisi fisik bumi Indonesia serta letak geografisnya di dunia mengandung faktor-faktor
penentu strategis yang relatif permanen. Garis-garis pantainya yang panjang, laut
teritorial beserta selat-selatnya, dan wilayah udaranya menjadi jalur pelayaran dan
penerbangan internasional. Wilayah perbatasan yang belum berkembang, mewujudkan
suatu pola permasalahan tersendiri. Perkembangan sosial ekonomi dan kepadatan penduduk
yang sangat tinggi di daerah-daerah tertentu, mengandung pula permasalahan yang relatif
permanen. Semua itu memerlukan perhatian dari segi pertahanan dan keamanan
nasional. Sebagai suatu bangsa yang berada dalam lingkungan dunia yang luas,
perjuangan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dapat mengakibatkan
kepentingan bangsa Indonesia dihadapkan kepada kepentingan bangsa lain. Dalam keadaan
demikian, bangsa Indonesia yang cinta damai mengutamakan penyelesaian masalah melalui
perundingan dan diplomasi. Tetapi, karena tidak ada jaminan bahwa bangsa lain tidak
akan menggunakan perang sebagai cara penyelesaian, maka bangsa Indonesia harus
menjalankan upaya untuk membela dirinya terhadap berbagai bentuk perang yang
mungkin dilancarkan terhadapnya oleh bangsa lain.
Walaupun perang umum dapat diharapkan tidak akan terjadi dalam jangka waktu lima tahun
yang akan datang, namun perang terbatas tetap merupakan ancaman yang sukar untuk
dapat dicegah, sedang kegiatan subversi senantiasa akan merupakan bahaya laten yang
akan memanfaatkan setiap keadaan dalam negeri bangsa-bangsa yang sedang
berkembang. Oleh karena itu upaya pertahanan dan keamanan haruslah dapat
mewujudkan kemampuan untuk dapat menghadapi dan menanggulangi ancaman perang
terbatas, dan mencegah serta mengatasi kegiatan subversi dalam berbagai bentuknya.
Dalam pengkajian masalah pertahanan dan keamanan nasional diketemukan banyak ketidak-
pastian. Ketidak pastian masa depan menuntut tersedianya jaminan dalam berbagai bentuk.
Pertama, perkembangan keadaan yang dapat melahirkan ancaman harus dapat diketahui
segera. Suatu kemampuan intelijen harus dimiliki agar dapat mewujudkan jaminan
tersedianya waktu peringatan yang maksimum. Kedua, persiapan pertahanan dan
keamanan nasional tidak dapat ditunda sampai munculnya suatu ancaman secara pasti.
Perkembangan-perkembangan yang mendadak menuntut tersedianya kekuatan siap yang
cukup, yang jika perlu dalam waktu yang singkat masih dapat diperbesar lagi dengan
mengaktifkan kekuatan cadangan. Ketiga, berbagai peristiwa dalam berbagai bentuk
dapat timbul kemudian. Pengkajian harus senantiasa dilakukan terhadap peristiwa -
peristiwa yang belum terjadi, tetapi dapat merupakan bentuk peristiwa yang dapat saja
timbul di masa depan.

Kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia perlu diamankan terhadap ancaman
perang dan segala bentuk gangguan keamanan. Kepentingan nasional yang demikian
tinggi nilainya, harus dijamin kelangsungannya oleh Bangsa Indonesia sendiri dan tidak
boleh disandarkan kepada kekuatan bangsa lain. Ketetapan bangsa Indonesia untuk tidak
mengikatkan diri dalam suatu persekutuan atau fakta pertahanan, memperkuat keharus-
an untuk selalu bersandar pada kemampuan sendiri. Di samping itu, kepentingan
Indonesia terhadap perdamaian dunia, khususnya keamanan di kawasan Asia Tenggara,
mewajibkan bangsa Indonesia untuk turut serta dalam upaya internasional maupun
regional untuk memelihara keamanan dan perdamaian. Beban kewajiban ini dapat berupa
suatu kekuatan pemelihara perdamaian, sebagai salah satu sahamnya dalam kerjasama
internasional. Sebagai suatu bangsa yang cinta damai, Indonesia lebih mengutamakan
penyelesaian pertentangan melalui jalan kebijaksanaan politik dari pada jalan militer.
Meskipun demikian dalam keadaan tertentu, kemampuan Hankamnas yang berdiri di
belakangnya, berguna untuk mendukung kebijaksanaan politik. Oleh karena itu bagi
Indonesia adalah penting untuk menampakkan dirinya sebagai suatu negara yang
menangani setiap permasalahan Hankamnas secara bersungguh-sungguh serta untuk
menunjukkan bahwa kekuatan yang dimilikinya mempunyai kemampuan yang harus
diperhitungkan.
Kepentingan-kepentingan nasional lainnya menuntut dijalankannya politik bebas dan aktif
oleh Negara Republik Indonesia, yang diabdikan kepada kepentingan nasional. Politik
bebas dan aktif juga bertujuan turut serta dalam usaha mencapai dan me melihara
perdamaian dunia, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang sangat besar pengaruhnya
terhadap segenap upaya pembangunan nasional.
Sebagai suatu negara yang belum dapat menghasilkan sendiri segala keperluannya,
Indonesia, berkepentingan untuk dapat melangsungkan hubungan ekonomi dengan negara-
negara lain di dunia. Suasana aman dan damai di seluruh dunia akan memungkinkan
Indonesia memasarkan hasil-hasil produksinya ke segenap penjuru dunia, dan sebaliknya
memperoleh segenap keperluan yang belum dapat dihasilkan sendiri dari negara yang dapat
menyediakannya. Sehubungan dengan kepentingan itu, bangsa Indonesia merasa wajib
untuk turut serta dalam setiap usaha mewujudkan dan memelihara perdamaian dunia.
Mengingat bentuk dan letak geografis Indonesia sebagai suatu wilayah lautan dengan
pulau-pulau di dalamnya serta segala sifat dan corak khasnya, maka implementasi nyata
dari Wawasan Nusantara menjadi kepentingan Hankamnas, di satu pihak untuk dapat
menjamin keutuhan wilayah nasional dan melindungi sumber-sumber kekayaan alam
beserta eksploitasinya, serta di lain pihak untuk menunjukkan kemampuan Hankamnas
dalam menegakkan hak dan kedaulatan Negara Republik Indonesia. Suatu hal yang sangat
panting yang terkandung dalam Wawasan Nusantara adalah posisi yang diambil oleh
Bangsa Indonesia dalam mengartikan tanah air Indonesia sebagai satu kesatuan politik,
kesatuan sosial budaya, kesatuan ekonomi dan kesatuan wilayah Hankamnas.
Hankamnas pada hakekatnya merupakan hasil upaya total yang mengintegrasikan
segenap potensi dan kekuatan politik, ekonomi, sosial-budaya dan militer bagi
kepentingan nasional Setiap manusia Indonesia segara perorangan akhirnya akan meru-
pakan subyek maupun obyek yang utama, sehingga karenanya harus dibekali dan
diperkuat untuk dapat menjalankan peranannya baik sebagai pelaku maupun sebagai
benteng keamanan nasional. Dengan ideologi Pancasila dan nilai-nilai nasional lainnya
sebagai bekal yang tangguh, serta dilengkapi dengan pengetahuan dan ketrampilan,
diharapkan spontanitas dan militansi segenap rakyat Indonesia dapat dikerahkan dalam
menghadapi setiap ancaman dan gangguan yang dapat membahayakan keamanan dan
kelangsungan, hidup bangsa, tanpa mengenal menyerah.
Pertahanan ini disertai upaya untuk meningkatkan kemampuan organisasi komando dan
pengendalian antar Angkatan. Untuk seluruh Kekuatan Pertahanan ini perlu dibangun atau
ditingkatkan fasilitas-fasilitas pangkalan, baik yang berupa pangkalan operasi maupun
asrama kesatuan, yang lokasinya sedapat mungkin disesuaikan dengan rencana
pengembangan wilayah. Program Utama ini terdiri dari Program Bala Pertahanan
Wilayah, Program Bala Pertahanan Terpusat, Program Angkutan Terpusat, Program
Bala Cadangan dan Program Intelijen, dan Komunikasi Terpusat.
BAB III

PENETAPAN PEMROGRAMAN

3.1 Program Bala Pertahanan Wilayah


Program ini meliputi kegiatan sebagai berikut:
a) Pembinaan TNI-AD diprioritaskan pada peningkatan pembinaan teritorial sampai ke
pelosok-pelosok wilayah Nasional untuk dapat menciptakan kondisi teritorial yang
mantap serta dapat menumbuhkan desa sebagai pangkal kekuatan pertahanan rakyat
semesta meningkatkan kemampuan kekuatan pemukul wilayah termasuk kemampuan
pembekalan dan pemeliharaan wilayah serta meningkatkan kemampuan aparatur intelijen
dari tingkat Kodam sampai dengan tingkat Koramil, sehingga dapat melaksanakan
penginderaan sedini mungkin, menghambat, melokalisasikan dan menetralisasikan setiap
gangguan dan ancaman.
b) Pembinaan TNI-AL diprioritaskan pada peningkatan pengendalian laut dan
peningkatan pembinaan perlawanan rakyat di laut guna mendukung kemampuan
pengamatan laut teritorial dalam rangka mengimplementasikan Wawasan Nusantara dan
meningkatkan sistem dukungan administrasi dan logistik yang mampu menunjang operasi-
operasi, baik yang dilaksanakan oleh Kekuatan Wilayah maupun Kekuatan Terpusat.

c) Pembinaan TNI-AU diprioritaskan pada peningkatan kemampuan komando dan


pengendalian operasi udara dalam rangka membantu pelaksanaan operasi-operasi darat dan
laut; peningkatan kemampuan pengamatan udara dengan memanfaatkan segenap potensi
yang ada dalam wilayah seperti organisasi penerbangan sipil dan rakyat; meningkatkan
sistem dukungan administrasi dan logistik yang mampu menunjang operasi-operasi, baik
yang dilaksanakan .oleh kekuatan wilayah maupun oleh kekuatan terpusat.

3.2 Program Bala Pertahanan Terpusat

Program ini meliputi kegiatan sebagai berikut:


a) Pembinaan TNI-AD diprioritaskan pada peningkatan kekuatan pemukul yang memiliki
daya tempur dan kesiapan yang tinggi, mobilitas darat dan lintas udara yang memadai,
beserta perlengkapan yang lebih baik.
b) Pembinaan TNI-AL diprioritaskan pada peningkatan kemampuan peperangan di laut dan
peningkatan kemampuan pengamatan laut dengan mengembangkan kekuatan-kekuatan
tempur laut yang tergabung dalam Eskader TNI-AL.
c) Pembinaan TNI-AU diprioritaskan pada peningkatan kemampuan pengamatan udara,
penyerangan udara dan pertahanan udara.

3.3 Program Angkutan Terpusat


Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan pemindahan strategis pasukan,
perlengkapan dan perbekalan keseluruh wilayah Nusantara, dengan membentuk dan atau
menyempurnakan satuan-satuan angkutan strategis, terutama laut dan udara. Program Bala
Cadangan
Program ini meliputi kegiatan pembentukan satuan-satuan tempur cadangan untuk
meningkatkan kekuatan bala pertahanan wilayah, khususnya dalam rangka
meningkatkan kemampuan peperangan wilayah satuan-satuan angkutan darat, laut dan
udara cadangan untuk meningkatkan kemampuan pemindahan strategis serta personil
militer cadangan dalam rangka membangun satuan-satuan, dan cadangan. Untuk itu,
perlu segera disiapkan ketentuan-ketentuan serta petunjuk-petunjuk .
3.4 Program Intelijen dan Komunikasi Terpusat.
Program ini meliputi kegiatan:
a) Peningkatan kemampuan intelijen strategis melalui peningkatan kemampuan personil yang
ada dan penambahan tenaga-tenaga ahli, serta meningkatkan penginderaan dan apresiasi
terhadap lingkungan strategis di dalam negeri maupun di luar negeri, yang meliputi
bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, psychologi dan militer, sehingga per-
ubahan-perubahan tersebut dapat di identifikasikan dengan teliti dan cermat serta
dapat memberikan cukup waktu untuk bertindak.
b) Peningkatan pelaksanaan kegiatan topografi dan hidrografi untuk melengkapkan data bumi
dan perairan wilayah Nusantara, yang punya arti penting bagi upaya pertahanan dan
keamanan maupun kesejahteraan nasional.
c) Peningkatan kemampuan komunikasi strategis yang meliputi pendayagunaan segenap
peralatan modern yang sudah ada.
3.5 Program Utama Kekuatan

Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan kepolisian daerah untuk dapat
memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, mampu memberikan pelayanan dan
penyelenggaraan penyelamatan masyarakat, penanggulangan gangguan terhadap keamanan
dan ketertiban masyarakat serta kemampuan penegakan hukum yang dapat menindak,
membuktikan di depan pengadilan dan melaksanakan putusan pengadilan atas perbuatan
penyimpangan terhadap hukum.

1) Program Kepolisian Pusat


Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan untuk penanggulangan gangguan-
gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat yang bersifat khusus, berintensitas
tinggi dan memerlukan pencegahan serta penindakan secara khusus.
2) Program Angkutan Terpusat
Kebutuhan pemindahan strategis Polri dipenuhi oleh Angkutan Terpusat dari Program
Utama Kekuatan Pertahanan.
3) Program Bantuan Keamanan Masyarakat
Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan menyelenggarakan upaya
keamanan oleh rakyat sendiri, dan peningkatan kemampuan dari berbagai kepolisian khusus
yang dibentuk dalam badan-badan pemerintah tertentu.
4) Program Intelijen Kepolisian
Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan penginderaan gejala atau
kecenderungan yang dapat mengarah kepada timbulnya gangguan terhadap keamanan dan
ketertiban masyarakat, yang disebabkan oleh perkembangan dan perubahan tata hidup
masyarakat di dalam negeri dan masyarakat dunia umumnya, sehingga pencegahan
dapat dilaksanakan sedini dan secepat mungkin.
Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemampuan kepolisian daerah untuk dapat
memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, mampu memberikan pelayanan dan
penyelenggaraan penyelamatan masyarakat, penanggulangan gangguan terhadap keamanan
dan ketertiban,
masyarakat serta kemampuan penegakan hukum yang dapat menindak, membuktikan di
depan pengadilan dan melaksanakan putusan pengadilan atas perbuatan penyimpangan
terhadap hukum.
3.6 Program Utama Dukungan Umum
1) Program Penelitian dan Pengembangan
Program ini meliputi kegiatan peningkatan penyelenggaraan penelitian dan
pengembangan dengan menitik beratkan pada perwujudan dan pen yempurnaan
doktrin pertahanan dan keamanan nasional, sehingga menghasilkan tatanan dengan
hirarki yang tepat, mengkait dan m erupakan satu kebul at an. Dal am bidang
perl engkapan dan peral atan, di adakan kerja sam a yang erat dengan berbagai
lembaga peneliti an dan pengembangan yang ada, dengan memanfaatkan
seban yak mungkin hasil -hasil yang di capai oleh lem baga tersebut.

2) Program Pembekalan dan Pemeliharaan Terpusat


Program ini meliputi kegiatan peningkatan kemam puan yang diprioritaskan pada
peningkatan atau perwujudan kemampuan produksi senjata ringan, amunisi,
bahan-bahan peledak dan pendorong serta alat -alat perhubungan pembentukan
persediaan bekal perang yang memadai untuk menghadapi keadaan-keadaan
darurat, dan peningkatan kemampuan per baikan besar dan modifikasi alat
tempur utama, serta peningkatan kemampuan produksi suku cadang dalam
rangka swadaya di bidang pemeliharaan.

3) Program Pendidikan, Kesehatan dan Kegiatan Umum Personil


Program ini meliputi kegiatan peningkatan pembi naan personil baik
militer/polisi maupun sipil untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Di
bidang personil militer/polisi diprioritaskan pada peningkatan
keahlian/kejuruan jabatan melalui p engadaan yang tepat, pendidikan
pembentukan dan pendidikan keah lian/k e j u r u a n ya n g s e b a i k - b a i k n ya ,
s e h i n g g a m e n g h a silkan pejuang yang terdukung oleh kemampuan profesional yang
sesuai dengan jabatan dan kepangkatan. Di bidang personil sipil meningkatkan penggunaan
pegawai sipil dalam upaya pertahanan dan keamanan nasional sehingga menjadi komplemen
dari pada personil militer/polisi untuk tugas-tugas yang tidak memerlukan kwalifikasi
militer/polisi. Peningkatan perawatan personil terutama pada bidang subsistensi dan
kesehatan. Peningkatan usaha penyaluran personil yang habis masa dinasnya atau
memberikan bantuan agar dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan setelah selesai
menjalankan dinas sehingga dapat menjadi pendorong dan penggerak pembangunan

4). Program Administrasi dan Manajemen


Program ini meliputi kegiatan peningkatan administrasi dan manajemen yang terutama
diprioritaskan pada fungsionalisasi dan efisiensi segenap badan pertahanan dan
keamanan; menyempurnakan sistem manajemen sehingga mewujudkan suatu
pembinaan partisipatif di semua tingkat, dengan menyusun sistem administrasi dan
manajemen yang memadai, lengkap dan menyeluruh, yang mampu menjamin efisiensi
penggunaan segenap sumber daya.

BAB IV
CONTOH KASUS
4.1 Indonesia Vs Malaysia - Fenomena Perbatasan Negara Berdaulat
Berbicara soal batas wilayah yang memisahkan satu negara dengan negara lain merupakan
permasalahan yang sangat konflek sekali. Tidak jarang hampir disetiap negara sering terjadi
konflik antar negara lebih banyak terfokus pada persoalan perbatasan.
Pada peraturan dan perundangan-undangan Dewan Keamanan PBB tentang pengaturan dan
kesepakatan perbatasan wilayah negara di dunia menyebutkan bahwa perbatasan adalah
garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah politik atau yurisdiksi seperti
negara, negara bagian atau wilayah subnasional.
Perbatasan yang terdapat di daratan suatu wilayah biasanya ditandai dengan tanda-tanda
patok atau tugu yang sudah menjadi kesepakatan bersama antara pemerintah negara-negara
yang memiliki batas satu daratan dengan bukti kesepakatan yang ditandatangani bersama
dibawah naungan Dewan Keamanan PBB yang menangani tentang perbatasan suatu batas
negara berdaulat. Selain ditandai dengan patok atau tugu, perbatasan batas wilayah negara
berdaulat bisa juga ditandai dengan bentangan memanjang bangunan berbentuk pagar batas
yang tentunya berdasarkan kesepakatan bersama pula.
Sementara itu yang masih sangat sulit untuk ditandai dan dibuktikan dengan tanda yang
akurat dan identik adalah soal tanda batas perbatasan wilayah yang memisahkan satu negara
dengan negara lain yang berhubungan dilautan lepas dan batas wilayah penerbangan.
Disinilah yang sering kali terjadi konflik antar negara dan warga perbatasan.
Di Indonesia sendiri soal perbatasan antar wilayah batas negara dengan negara tetangga
lainnya hingga sekarang masih belum terselesaikan dengan tuntas. Pesoalan perbatasan di
Indonesia dengan negara-negara tetangganya sering kali terjadi kesalah pahaman, dan hal itu
sering terjadi pelanggaran yang banyak dilanggar oleh negara-negara tetangga, seperti batas
wilayah perbatasan antara Indonesia Malaysia, Indonesia Singapura, Indonesia Philipina,
Indonesia Papuanugini, Indonesia Timor Leste, dan Indonesia Australia.
Pelanggaran perbatasan batas suatu negara sering terjadi dilakukan oleh tingkah laku politik
berkepentingan oleh salah satu negara perbatasan yang melibatkan warga masyarakat di
perbatasan, militer dan perubahan peta perbatasan yang sepihak oleh negara yang
menginginkan suatu perluasan wilayah yang banyak memiliki kandungan sumber alam.
Di Indonesia sendiri hal tersebut diatas sering terjadi semacam itu, dan biasanya selalu
dimulai dengan provokasi ganda yang dilakukan oleh negara tetangganya. Baik dengan cara
penyerobotan batas wilayah perbatasan dengan invansi militer, penghilangan tanda bukti
batas perbatasan, pembangunan ilegal sebuah bangunan atau kawasan yang dibangun
melebihi batas negara yang telah disepakati, atau juga adanya perubahan peta perbatasan
yang sepihak yang dilakukan oleh negara bersangkutan (salah satu negara tetangga yang
berkeinginan untuk memperluas wilayah teritorialnya dengan melakukan perubahan peta
internasional soal tanda batas garis perbatasan wilayah negara secara ilegal dan sepihak).
4.2 Malaysia Pelanggar Perbatasan Indonesia Terbanyak:
Ditahun 2008 - 2009, pelanggaran perbatasan nagara Indonesia dengan negara tetangganya
sering banyak dilanggar oleh Malaysia. Ini terbukti dengan adanya pelanggaran perbatasan
wilayah negara masih terus dilakukan oleh negara tetangga. Malaysia yang paling sering
melakukan pelanggaran batas wilayah RI.
Hal itu terungkap pada rapat kerja (raker) Komisi I dengan menteri-menteri di jajaran Politik,
Hukum dan Keamanan (Polhukam), di Jakarta, Senin (2 Maret 2009). Menko polhukam
Widodo AS (pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode I) itu
memaparkan tentang berbagai pelanggaran terhadap wilayah RI yang terjadi dalam kurun
waktu Januari hingga Desember 2008.
Dari catatan Kementrian Polhukam, Provinsi Kalimantan Timur adalah wilayah RI yang
paling sering mengalami pelanggaran wilayah oleh negara lain. Untuk pelanggaran wilayah
perbatasan perairan Indonesia, di perairan Kalimantan Timur dan seputar Laut Sulawesi telah
terjadi 21 kali pelanggaran oleh Kapal Perang Malaysia dan enam kali oleh Kapal Polisi
Maritim Malaysia.
Sementara di perairan lainnya sebanyak tiga kali, ucapnya. Dalam raker yang juga dihadiri
Menteri Pertahanan, Kepala BIN, Jaksa Agung, Panglima TNI dan Kapolri itu, Widodo
mengungkapkan, pelanggaran wilayah perbatasan udara paling banyak terjadi juga di wilayah
Kalimantan Timur.
Selama 2008, terjadi 16 kali pelanggaran wilayah udara di Kaltim, sebutnya. wilayah lain
yang juga mengalami pelanggaran kedaulatan udara antara lain tiga kali di Papua, dua kali di
wilayah Selat Malaka dan tujuh kali di wilayah-wilayah lain di Indonesia.
Sementara untuk pelanggaran wilayah darat, diantaranya berupa pemindahan patok-patok
batas wilayah di Kalimantan Barat. Pemindahan patok batas terjadi di Sektor Tengah, Utara
Gunung Mumbau, Taman Nasional Betung Kerihun, Kecamatan Putu Sibau, serta Kabupaten
Kapuas Hulu, kata Widodo. Selain itu, mantan Panglima TNI ini melanjutkan, pelanggaran
wilayah perbatasan darat juga dilakukan oleh para pelintas batas yang tidak memiliki
dokumen yang sah.
Pada raker yang dipimpin Ketua Komisi I DPR Theo L Sambuaga itu, Widodo juga
menjelaskan perihal berbagai tindakan atas pelanggaran kedaulatan wilayah RI. Untuk
pelanggaran wilayah darat, Departeman Luar Negeri RI telah mengirimkan sejumlah nota
protes ke negara pelanggar. Kasus pelanggaran wilayah darat juga dibawa ke forum Genera
Border Committe (GBC) Indonesia-Malaysia maupun Joint Border Committe (JBC)
Indonesia-Papua Nugini. Dan untuk pelanggaran wilayah perairan dan udara nasional, telah
direspon dengan pengusiran langsung oleh satuan operasional TNI, serta pengiriman nota
protes oleh Deplu, tutur Widodo. (berita hankam)

4.3 Militer Diraja Malaysia Memasuki Wilayah Perairan Indonesia Di Ambalat


Ditahun 2010, tepatnya di bulan Agustus 2010 yaitu sebanyak tiga orang petugas dari KKP
ditangkap oleh polisi perairan Malaysia setelah menangkap tujuh nalayan Malaysia yang
ketahuan menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia. Tiga orang petugas dari KKP
kemudian ditahan di Malaysia dan mereka dibebaskan dengan cara dibarter dengan tujuh
nelayan Malaysia.
Dalam peristiwa ini spontan mendapat banyak protes dari waga negara Indonesia, dan
termasuk protes keras dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap
pemerintahan Malaysia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia Fadel Muhammad mengatakan Malaysia
meremehkan Indonesia dengan memperlakukan tiga petugas dari kementeriannya yang
ditangkap polisi air Malaysia kurang layak.
“Tiga orang petugas dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) yang ditangkap polisi
air Malaysia ditahan dikantor polisi Malaysia, dipakaikan pakaian tahanan, dan pada saat
keluar ruangan tangannya diborgol,” kata Fadel Muhammad pada diskusi polemik
“Indonesia-Malaysia: Serumpun tapi Tidak Rukun” di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, perlakuan polisi Malaysia itu meremehkan Indonesia. Apalagi tiga orang
tersebut adalah petugas resmi yang ditangkap saat menjalankan tugasnya yakni menangkap
tujuh nelayan Malaysia yang ketahuan menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia.
Fadel meminta kepada pemerintah untuk bersikap lebih tegas karena kalau terus-menerus
seperti ini ia mengkhawatirkan tindakan Malaysia akan semakin meremehkan Indonesia.
Sementara itu, Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan Brigjen I Wayan Midhio
mengatakan, pejabat di Kementerian Pertahanan bergaul banyak dengan pejabat di
Kementerian Pertahanan maupun militer dari Malaysia.
“Setahu saya tidak ada pejabat militer Malaysia yang meremehkan Indonesia,”
katanya.
Untuk menjaga pertahanan di wilayah perbatasan, kata dia, Kementerian Pertahanan
melakukan kerja sama pertahanan dengan Malaysia maupun dengan Singapura.
Insiden di Bintan, Kepulauan Riau yang melibatkan nelayan Malaysia, tiga petugas Dinas
Kelautan dan Perikanan serta pemerintah Indonesia dan Malaysia sebenarnya menunjukkan
lemahnya pertahanan laut Indonesia.
” Kami minta kasus sengketa Malaysia jadi momentum membenahi pengelolaan wilayah
perbatasan maritim” kata Mahfudz Sidik, Anggota Komisi Pertahanan DPR dalam diskusi di
Jakarta, Sabtu 21 Agustus 2010.
Dalam diskusi itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengakui, pertahanan
maritim Indonesia masih lemah. Ini karena kurangnya koordinasi antara satu pihak dengan
lainnya. ” Dilihat dari yang berperan, harusnya lebih dari cukup. Tapi ini karena tak pernah
ada kerjasama” kata Fadel.
Menurut Fadel, keamanan di laut Indonesia ditangani pasukan dari Kementerian Kelautan
dan Perikanan, Badan Koordinasi Keamanan Laut, kepolisian, TNI Angkatan Laut, dan
petugas dari bea cukai. “Saya sudah lapor Presiden untuk ditata, agar kejadian dengan
Malaysia kemarin tidak terjadi lagi dan tidak saling menyalahkan,” kata Fadel.
Nantinya pengamanan kawasan maritim, Fadel berharap ditangani Kementerian Politik,
Hukum dan Keamanan.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan I Wayan Midhio mengakui perlu ada kesepakatan untuk
mengatur keamanan laut. “UU-nya belum ada, perlu dirancang untuk kepastian pembagian
penjagaan,” kata Dia.

BAB V
ANALISIS
5.1 Perbatasan Laut
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar 81.900 kilometer,
memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik perbatasan darat (kontinen) maupun
laut (maritim). wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia,
Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste dan Papua
Nugini (PNG). Wilayah perbatasan laut pada umumnya berupa pulau-pulau terluar yang
jumlahnya 92 pulau dan termasuk pulau-pulau kecil. Beberapa diantaranya masih perlu
penataan dan pengelolaan yang lebih intensif karena mempunyai kecenderungan
permasalahan dengan negara tetangga.
5.2 Perbatasan Darat
Batas darat wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan negara-negara Malaysia,
Papua New Guinea (PNG) dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di tiga
pulau, empat Provinsi dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik
perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula negara tetangga yang berbatasannya baik, bila
ditinjau dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budayanya.
5.3 Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005
Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional 2004-2009)
telah menetapkan arah dan pengembangan wilayah Perbatasan Negara sebagai salah satu
program prioritas pembangunan nasional. Pembangunan wilayah perbatasan memiliki
keterkaitan yang sangat erat dengan misi pembangunan nasional, terutama untuk menjamin
keutuhan dan kedaulatan wilayah, pertahanan keamanan nasional, serta meningkatkan
kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan. Paradigma baru, pengembangan wilayah-wilayah
perbatasan adalah dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung
berorientasi sehingga wilayah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas
ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan pembangunan wilayah
Perbatasan Negara menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dengan
tidak meninggalkan pendekatan keamanan (security approach). Sedangkan program
pengembangan wilayah perbatasan (RPJM Nasional 2004-2009), bertujuan untuk :
(a) menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang
dijamin oleh Hukum Internasional;
(b) meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial
dan budaya serta keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan
dengan negara tetangga. Disamping itu permasalahan perbatasan juga dihadapkan pada
permasalahan keamanan seperti separatisme dan maraknya kegiatan-kegiatan ilegal.
5.4 Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2005
Tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2006 (RKP 2006) telah pula menempatkan
pembangunan wilayah perbatasan sebagai prioritas pertama dalam mengurangi disparitas
pembangunan antarwilayah, dengan program-program antara lain Percepatan pembangunan
prasarana dan sarana di wilayah perbatasan, pulau-pulau kecil terisolir melalui kegiatan : (i)
pengarusutamaan DAK untuk wilayah perbatasan, terkait dengan pendidikan, kesehatan,
kelautan dan perikanan, irigasi, dan transportasi, (ii) penerapan skim kewajiban layanan
publik dan keperintisan untuk transportasi dan kewajiban layanan untuk telekomunikasi serta
listrik pedesaan;Pengembangan ekonomi di wilayah Perbatasan Negara; Peningkatan
keamanan dan kelancaran lalu lintas orang dan barang di wilayah perbatasan, melalui
kegiatan : (i) penetapan garis batas negara dan garis batas administratif, (ii) peningkatan
penyediaan fasilitas kapabeanan, keimigrasian, karantina, komunikasi, informasi, dan
pertahanan di wilayah Perbatasan Negara (CIQS); Peningkatan kapasitas kelembagaan
pemerintah daerah yang secara adminstratif terletak di wilayah Perbatasan Negara.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kondisi “perbatasan tanpa batas” yang sudah dibiarkan mengambang selama 65 tahun
Indonesia merdeka ini akan terus menjadi bumerang bagi Indonesia dan Malaysia. Hal ini
sudah tentu dapat menjadi potensi konflik yang besar bagi hubungan Indonesia dan Malaysia
apabila tidak diselesaikan, terlebih berada di beberapa kawasan yang krusial karena keempat
kawasan tersebut tidak saja terkait dengan permasalahan kedaulatan, tetapi juga nilai
ekonomi seperti jalur perdagangan, perikanan, dan sumber daya alam.
Hal seperti ini sebetulnya dapat dihindari apabila Indonesia telah menyelesaikan
permasalahan perbatasan sebelum suatu isu menjadi besar. apabila telah dilakukan jauh
sebelumnya, peluang pencapaian kesepakatan dalam ruang negosiasi juga masih besar. Sudah
sepatutnya Indonesia mulai memberikan konsentrasinya pada permasalahan perbatasannya
sebagai “ancaman yang konstan terhadap kedaulatan”. Maka dari itu pemerintah Indonesia
harus lebih tegas,dan tidak ada lagi perseteruan antara Negara tetangga nyaitu Malaysia.
6.2 Saran
Kita sebagai WNI (Warga Negara Indonesia) harus biasa membantu mempertahankan
Negara ini dari Negara yang ingin menguasai kekayaan bangsa Indonesia seperti ,pulau-
pulau, kebudayaan, dll. Jangan samapai kita ini saling bermusuhan sesama WNI, kita harus
mempunyai prinsip hidup yang baik, dan sebagai warga Negara yang baik, kita tidak boleh
ragu dalam mengambil keputusan, apa lagi perintah harus benar tepat dalam mengambil
keputusan, jangan sampai kita mau di adu dombakan oleh bangsa lain.

DAFTAR PUSTAKA
 BUKU
Muhji, H. achmad, et alle. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN,
Gunadarma, JKT 2007
UU RI No 3 tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara

UU RI No 34 tahun 2004 Tentang Tentara Negara Indonesia


Zubaidi, H. Achmad, dkk. 2002. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.

Yogyakarta: Paradigma.

 WEBSITE
http://www.tugaskuliah.info/2010/03/makalah-ketahanan-nasional pendidikan.html

http://www.organisasi.org

http://kompas.com/keamanan-negara-ri/kasus-ambalat

http://indoskripsi.com

http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/2004/34TAHUN2004UU.htm
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_3_02.htm