You are on page 1of 1

Aku menatap lembaran kertas-kertas di depanku dengan senyum hampa. Kosong.

Tak
bernyawa. Kertas putih dan hijau yang terserak bersama tulisan-tulisan di atasnya. Tulisan
tanganku tentangmu. Tentangmu yang pernah mengiringi langkahku beberapa waktu lalu.
Membawaku dalam luapan rasa kagum yang dalam. Saking dalamnya hingga tanpa aku sadar
berubah jadi luapan suka, sayang, atau apapun itu yang kini justru aku sadari sebagai rasa
cinta.
Kamu memang bukan orang yang istimewa di mata banyak orang, tetapi seulas
senyum yang kau ukir saat pertama kali kita bertegur sapa dulu mampu membuatku merasa
nyaman berdiri di samping orang yang kukenal pun tidak. Itu dirimu.
“Biar kutemani kesananya,” ucapmu sambil menjajari langkahku yang cepat.
Aku mengangguk saja. Itulah pertama kalinya aku mendengar suaramu langsung. Aku
tahu siapa kamu. Tetapi aku tidak pernah berinteraksi langsung dengan dirimu. Mengingat
kita yang beda kelas meskipun satu angkatan dan satu jurusan.
Aku memanggilmu “A”. Bukan dari panggilan Aa, ananta, ataupun yang lain. Cukup
A huruf pertama dalam Alphabet.
“Mbak, tadi aku liat dia,” ujar adikku santai saat aku sedang asyik dengan buku yang
kubaca.
“Siapa?” tanyaku sambil mengerutkan alis dan menurunkan bukuku.
“Dia mbak, perlu sebut merk juga?” ledeknya sambil tertawa kecil seperti biasa.
Aku hanya menanggapinya dengan menghembuskan napas kasar tidak peduli. Aku
tahu dia yang dimaksud adikku. Itu adalah si A. Entah, sejak kapan adikku merasa wajib
lapor setiap kali habis bertemu dengan A. Adikku yang bernama Laras ini selalu bilang kalau
A sering memperhatikanku. Cerita konyol. Bukan hal yang mungkin dilakukan oleh orang
seperti A ini, setidaknya menurutku.