You are on page 1of 9

Manusia dengan Tuhan

http://nasional.kompas.com/read/2008/12/23/16092131/Jangan.Paksa.Mereka.Pilih.Agama

Jangan Paksa Mereka Pilih Agama


Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 23 Desember 2008 | 16:09 WIB

Selain tak mencantumkan agama atau dituliskan beragama "lainnya" di KTP, sebagian
masyarakat adat juga mengaku mengalami hambatan dalam mendapatkan akses fasilitas publik.
Sesepuh masyarakat adat Merapu, Sumba Barat, NTT, Elmawo Mudde (70-an tahun)
menceritakan, anak-anaknya sempat mengalami kesulitan saat akan masuk ke sekolah.
Persyaratan memasuki pendidikan formal, menyertakan akte kelahiran dan surat baptis (bagi
yang beragama Nasrani). "Anak-anak tidak punya pilihan, karena harus sekolah. Jadi tipu diri,
dipaksa pilih agama supaya bisa sekolah. Sama juga kalau mau jadi PNS (pegawai negeri sipil),"
kata Elma, yang biasa disapa Mama, yang dijumpai saat menghadiri Seren Taun 2008 di
Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Steering Committee Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Emmy Sahertian
mengatakan, selain kesulitan saat akan mengurus KTP, sejumlah masyarakat adat juga memilih
untuk membuat akte kelahiran di luar nikah bagi anaknya. Sebab, pernikahan yang dilakukan
secara adat menurut kepercayaan yang mereka anut, tak dicatatkan secara legal di catatan sipil.

"Hak hidup itu kan sebenarnya melekat pada hak asasi. Misalnya hak menikah. Tapi gara-gara
administrasi kependudukan, pernikahannya tidak diakui. Anak-anaknya kemudian ikut
terdampak pada akte kelahirannya karena orangtuanya tidak punya akte kawin," ujar Emmy.
Pemerintah, menurut Emmy, selama ini hanya memahami budaya terbatas pada seni, artefak dan
lokasinya. Padahal, di tengah masyarakat adat sendiri masih melekat agama dan kepercayaan
lokal yang dianut masyarakat setempat. "Pemerintah tidak melihat bahwa manusia dan
kepercayaan juga merupakan satu kesatuan dari budaya yang tidak bisa diabaikan.
Bagaimanapun, budaya tidak bisa terlepas dari spiritualitas budaya. Selama ini, eksotisme
budaya diekspos tapi spiritualitas budaya diabaikan. Masih banyak masyarakat adat kita yang
hidup dengan identitas yang sangat kuat, dengan kepercayaan agama lokal mereka," papar
Emmy.

Kepercayaan masyarakat adat, selama ini hanya tercatat di Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata. Hal inilah yang kemudian membuat dikotomi antara agama resmi yang tercatat di
Departemen Agama, dengan agama lokal yang dianut masyarakat adat.

Apa harapan mereka?


Meski terbilang sebagai kaum minoritas, masyarakat adat hidup berdampingan secara damai
dengan masyarakat di mana mereka tinggal. Perbedaan keyakinan, selama ini tak menimbulkan
hambatan dalam bersosialisasi.
Salah satu anggota Komunitas Masyarakat Adat Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu
(Dayak Losarang), Dedi mengisahkan, masyarakat Losarang yang merupakan basis
komunitasnya menerima mereka dengan baik.
"Masyarakat sudah menerima kami dengan baik, dan sosialisasinya tidak ada masalah. Kami
saling memberi, saling membantu. Hanya pemerintah saja yang tidak memberikan keadilan bagi
kami. Kami tidak bicara kebenaran, karena kebenaran itu milik Tuhan," kata Dedi. Hal serupa
juga diungkapkan Mama. Di Sumba Barat, yang 60 persen masyarakatnya penganut Merapu,
hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat setempat yang beragama lain. "Enam
agama bukan berarti ada 6 Tuhan, Tuhan tetap satu. Hanya cara kita menyembah berbeda. Warna
kulit boleh beda, tapi kita semua satu, orang Indonesia. Kalau pemerintah menerima (penganut
kepercayaan), terima kasih. Harapan saya, kami tidak perlu diakui, tapi jangan paksa pilih
agama. Kalau bisa, tidak perlu ada kolom agama di KTP, sehingga tidak hambat kami," ujar
Mama."Kami orang Indonesia, hanya mengharapkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,
seperti dijanjikan dalam Pancasila," kata Dedi.
Manusia dengan Waktu

Pengesahan APBD Klungkung 2011 Masih Perlu Waktu Lama

Semarapura (Bali Post) –

Gugatan anggota dewan terhadap Sekda Klungkung, Ketut Janapria, yang menyerahkan hasil klarifikasi
RAPBD 2011 ke Gubernur sebelum dibahas bersama DPRD, ternyata akibat kesalahpahaman. Menurut
Sekda Janapria yang dimintai konfirmasi Minggu (6/3) kemarin, klarifikasi itu memang belum waktunya
dibahas dengan DPRD. Mengingat, beberapa hal yang menjadi pertanyaan tim evaluasi gubernur hanya
menyangkut beberapa pos anggaran di eksekutif (beberapa SKPD, red).

"Saya tidak mungkin berani mengambil tindakan tidak sesuai prosedur," ungkap Sekda Janapria. Ini
berarti, pengesahan RAPBD Klungkung 2011 menjadi APBD dipastikan masih membutuhkan waktu lama.
Minimal, masih perlu dua kali proses selama evaluasi dari tim gubernur hingga akhirnya Gubernur
mengeluarkan verifikasi yang sesungguhnya. Berkaitan dengan gugatan dewan, Janapria menduga
akibat miskomunikasi dan kesalahpahaman. Sebab, klarifikasi yang diminta tim gubernur memang
belum waktunya dibahas dengan anggota DPRD. Pasalnya, saat panitia anggaran (panggar) eksekutif dan
badan anggaran (bangar) legislatif Klungkung dipanggil tim evaluasi gubernur untuk dimintai klarifikasi,
Selasa (1/3) lalu, panggar eksekutif belum mampu menjawab sepenuhnya secara lisan apa yang menjadi
pertanyaan tim gubernur. Karenanya, panggar eksekutif meminta waktu untuk memberi klarifikasi
secara tertulis keesokan harinya (Rabu, 2/3, red).

"Beberapa hal yang dipertanyakan tim evaluasi sebagian besar menyangkut pos-pos anggaran di
eksekutif. Makanya saya belum membahasnya dengan DPRD. Melainkan, hanya dengan beberapa SKPD
terkait," tandasnya. Hasil pembahasan dengan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) itulah yang
diserahkan ke Gubernur. Kini, Klungkung menunggu verifikasi yang sesungguhnya dari Gubernur.
Verifikasi itu nantinya bisa berupa imbauan, saran atau perintah. "Nah, verifikasi (berupa
imbauan/saran/perintah) itulah nanti dibahas bersama eksekutif-legislatif," tambahnya seraya berharap
DPRD bisa memahami hal tersebut karena dirinya tak mungkin mengambil tindakan di luar mekanisme.

Sebelumnya, anggota DPRD Klungkung menuding hasil verifikasi yang diserahkan Sekda Janapria ke
Gubernur, Rabu (2/3) lalu tidak sah. Alasannya, tidak melalui mekanisme. Verifikasi dilakukan tanpa
melibatkan DPRD. Bahkan, DPRD sama sekali tidak tahu apa hasil verifikasi tersebut. Menurut mereka,
evaluasi Gubernur mestinya dibahas bersama eksekutif-legislatif. Diakui, anggota dewan dua kali
diundang rapat untuk membahas evaluasi Gubernur yakni Rabu (2/3) dan Kamis (3/3) lalu. Namun,
undangan rapat itu menurut mereka tidak jelas karena pada kenyataannya sama sekali tidak ada rapat.
(kmb20)
(msh/msh) Manusia dengan Alam

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=2753

27 Juli 2008

Percepat Kerusakan Alam Bali Denpasar (Bali Post) –

Kerusakan alam di Bali tidak terlepas dari campur tangan manusia. Secara umum, manusia terus
berkembang dari waktu ke waktu. Bali dengan luas yang kurang dari 10 ribu km persegi, dihuni rata-rata
550 orang per kilometer perseginya dan akan terus membesar. Padahal standar ideal hanya 240 orang
per kilometer persegi. Masalah pemukiman di Bali, khususnya di wilayah perkotaan sudah sepatutnya
menjadi perhatian semua pihak. Alam Bali makin tergerus sedemikian rupa. Ambil contoh ketika
sempadan sungai maupun jurang diserobot begitu saja oleh bangunan, baik untuk tempat tinggal,
maupun untuk kepentingan pariwisata. Penopang kelangsungan hidup orang Bali kini banyak dijual demi
mengeruk keuntungan.

Pengamat ekotourism dari Unud A.A. Raka Dalem, Sabtu (26/7) kemarin, mengatakan kerusakan alam
Bali diakibatkan alam yang tidak lagi mampu menampung keserakahan manusia. Alam dirusak begitu
saja, tanpa ada upaya untuk pemulihan. Dari hal tersebut kemudian mulai timbul berbagai
permasalahan baik menyangkut fisik maupun sosial yang terjadi di masyarakat.

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Tentu saja manusia. Raka Dalem menyebut, seluruh
komponen di masyarakat harus ikut serta mengembalikan ataupun menjaga kelangsungan alam Bali.
Dari sisi pemerintah misalnya. Dalam hal ini pemerintah mesti konsisten dalam penegakan peraturan
dan perundang-undangan. Sebagai pemangku kepercayaan masyarakat pemerintah mesti mengerti dan
berjalan di atas koridor yang telah ditentukan. Jangan seperti yang terjadi kebanyakan. Pemerintah
seakan tidak ingat aturan. Sebagian ingat, tapi tidak mau melaksanakan. 'Mungkin karena aturan terlalu
banyak dan cepat diubah, makanya cepat bingung,' ujar Raka.

Di lain sisi, yakni masyarakat, beberapa hal juga patut dikritisi. Secara umum, masyarakat lokal ikut andil
dalam kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayahnya. Suatu contoh, lahan sawah yang secara
kuantitas kian menipis. Banyak sawah yang dikonversi atas kehendak masyarakat lokal. Teba atau lahan
hijau milik orang Bali yang seharusnya dijaga, terpaksa dilacurkan pada investor berduit.

Meski demikian, masyarakat lokal pada umumnya terpaksa menjual lahannya. Himpitan kebutuhan
eknonomi rumah tangga memaksa mereka melakukannya. Daya beli masyarakat yang rendah, kini sudah
menjelma menjadi musuh dari kelangsungan lingkungan hidup. (ded)
Manusia dengan Manusia

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=2&id=56323

Di Samuantiga Ganyar Bentrok, Lima Luka-lukaGianyar (Bali Post) –

Dua kelompok anak muda, Senin malam (12/9) sekitar pukul 22.30 wita terlibat bentrok di kawasan Pura
Samuantiga, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar. Bentrok dua kelompok ini mengakibatkan lima orang
luka-luka. Dua di antaranya mengalami luka berat, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Mereka yang mengalami luka sebagaimana laporan polisi di antaranya Pande Made Darmayasa, Pande
Nyoman Kriswajana, Gede Agus Krisna asal Temon, Pejeng Kelod, Tampaksiring, Putu Gede Saputra dan
A.A. Gede Hendra Mardiana asal Tatiapi, Pejeng, Tampaksiring. Dari kelima orang tersebut, Pande
Darmayasa dan Hendra Saputra (tulang hidung patah) mengalami luka paling parah hingga dirawat ke
rumah sakit Sanjiwani.

Kasubag Humas Polres Gianyar AKP I Ketut Alit Sudarsana mengatakan, pascabentrokan polisi telah
memeriksa dua orang yang diduga sebagai pelaku. Mereka itu Komang Suryawan alias Rakuti (21) dan
Komang Rujana (28) alias Botak. Dalam kasus ini polisi belum menentukan status dari kedua warga
Banjar Taman, Desa Bedulu tersebut. Peristiwa bentrokan ini berawal dari adanya salah paham antara
dua pemuda, yakni Pande Darmayasa asal Temon dengan Komang Suryawan alias Rakuti (28) asal Banjar
Taman, Bedulu, Sabtu (10/9) lalu. Kesalahpahaman dari saling geber gas sepeda motor di jalan depan
Pura Samuantiga hingga sampai ada tantangan perkelahian. Kemudian berlanjut Senin malam. Saat itu
Rakuti dilihat oleh Pande Darmayasa melintas di Klusu, Pejeng, dalam acara pertandingan bola voli.
Kemudian, Darmayasa bersama temannya sekitar sepuluh sepeda motor mengejar Rakuti hingga depan
Pura Samuantiga. Sesampainya di lokasi, kedatangan massa Darmayasa disambut puluhan orang yang
merupakan kelompok dari Rakuti, yang saat itu juga baru datang dari bertanding bola voli.
Pertemuan dua kelompok pemuda itu akhirnya berujung bentrok. Kekuatan kelompok dari Rakuti lebih
besar akhirnya membuat kelompok Darmasaya kalang kabut. Sebanyak lima orang mengalami luka
parah dan berlarian meninggalkan lokasi. Satu orang akhirnya berhasil diamankan warga, hingga datang
anggota buser Reskrim Polres Gianyar dipimpin kanit Buser Iptu Kerisaji Wibisono. Dari lokasi kejadian,
berhasil diamankan sejumlah balok kayu, dan sebuah double stick (caku), serta dua pasang sandal.
(kmb16)
Manusia dengan Karya

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=7440

12 Nopember 2008

Budaya Indonesia Harus Dilindungi HaKiDenpasar (Bali Post) –

Semua karya budaya bangsa Indonesia termasuk kain tenun tradisional Bali, harus dilestarikan.
Pelestarian itu meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Hal itu ditegaskan Direktur
Tradisi Ditjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata IGN. Widja, S.H. dan
Kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisi (BPSNT) Bali, NTB dan NTT Drs. I Made Purna, M.Si. saat
pemaparan hasil penelitian kain tenun tradisioanal Bali dan Lombok di Kantor BPSNT, Selasa (11/11)
kemarin.

Dalam pemaparan hasil penelitian yang dipandu Dra. S. Swarsi, M.Si. itu, pakar dari Unhi I.B. Dharmika,
M.A. dan Unud Wayan Suwena membahas hasil penelitian tenun tradisional di Lombok (dipaparkan
Made Satyananda) dan hasil penelitian tenun tradisional Bali (dipaparkan Made Sumerta). 'Kita harus
melindungi karya budaya Indonesia secara bersama-sama. Dalam tataran perlindungan, karya budaya
bangsa yang kita miliki mesti didaftarkan di Departemen Hukum dan HAM untuk mendapatkan HaKI. Di
samping itu, ada juga upaya perlindungan yang lebih baik melalui UNESCO. Jadi, ada dua cara
perlindungan yakni melalui Departemen Hukum dan HAM dan UNESCO,' katanya. Dalam kaitan dengan
perlindungan melalui Departemen Hukum dan HAM, Departemen Budpar telah melakukan MoU dengan
departemen tersebut. 'Menteri Budpar telah mengirim surat ke seluruh Gubernur agar karya budaya
yang ada di daerah masing-masing didaftarkan di Departemen Hukum dan HAM,' katanya. Demikian
pula melalui BPSNT, dilakukan upaya inventarisasi karya budaya secara bertahap. Sementara upaya
perlindungan dari UNESCO, Indonesia tahun 2003 telah berhasil menetapkan wayang sebagai karya
budaya dunia. Sementara tahun 2005, keris dapat perlindungan UNESCO. Sekarang sudah masuk usulan
ke UNESCO Paris agar batik juga mendapat perlindungan badan dunia tersebut. Demikian juga karya
budaya yang lain, diharapkan mendapatkan perlindungan dari UNESCO. 'Secara yuridis, pihak lain tidak
akan bisa mengklaim karya budaya milik bangsa kita jika kita telah milindunginya secara hukum. Karena
itu perlu ada antisipasi dengan jalan mendaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM. Cara lainnya
dengan penamaan sehingga tidak mudah diklaim, seperti tenun tradisional Bali (songket Bali), Reog
Ponorogo dan sebagainya,' ujarnya.

Kepala BPSNT Bali, NTB, NTT Made Purna mengatakan hal yang sama. Melalui penelitian kain tenun
tradisional, pihaknya berupaya menginventarisasi kantong-kantong kain tenun yang ada di Bali dan
Lombok. 'Dalam rangka mengamankan karya budaya ini, paling tidak kami sudah berupaya melakukan
inventarisasi, menidaklanjuti amanat Menteri. Warisan yang ada perlu kita lindungi,' katanya sembari
menyebutkan, tradisi menenun sudah ada hampir bersamaan dengan kegiatan bercocok tanam.

Manusia Dengan Waktu

http://balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=50287

12 April 2011

Produksi Sampah 5.094 Meter Kubik Potensial Jadi ''Bom Waktu'' bagi Bali

Masalah sampah sepertinya tidak pernah tuntas. Walau sudah ditangani petugas DKP, tetap saja ada
keluhan yakni banyak onggokan sampah tidak diangkut. Saat ini Bali memproduksi sampah sampai 5.094
meter kubik per hari dan belum semuanya bisa ditangani. Bila tak dikelola dengan baik, sampah
potensial menjadi ''bom waktu'' bagi daerah ini.

PERSOALAN sampah bagi Bali sudah sejak lama. Apalagi dengan perkembangan jumlah penduduk di
daerah ini meningkat cukup tajam, dipastikan produksi sampah makin membeludak.
Saat ini, sejumlah tumpukan sampah tampak menggunung di berbagai lokasi karena daya angkut
armada sampah yang terbatas. Sisi lain, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga
tetap berlanjut. Potensi persoalan sampah jadi bom waktu yang siap meledak setiap saat makin besar,
mengingat reaksi penolakan dari masyarakat mulai bermunculan begitu di wilayahnya direncanakan
akan dibangun tempat pembuangan akhir (TPA). Dihubungi Senin (11/4) kemarin, Kepala Badan
Lingkungan Hidup Provinsi Bali Ir. A.A. Gede Alit Sastrawan, M.T. tidak menampik persoalan sampah
berpotensi jadi bom waktu bagi Bali. Dikatakannya, perilaku sebagian masyarakat Bali yang cenderung
konsumtif turut membengkakkan volume sampah di Bali. Sebagai gambaran, saat ini volume sampah di
daerah perkotaan di Bali rata-rata mencapai 5.094 meter kubik per hari. Tentunya, tumpukan sampah
yang volumenya mencapai ribuan meter kubik per hari itu memerlukan tempat pembuangan akhir yang
cukup luas jika ingin tertangani secara baik ditambah ketersediaan armada pengangkut sampah dalam
jumlah yang tidak sedikit. Harus diakui, belum seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat Bali
dapat ditangani secara tuntas.

''Oleh karena itu, partisipasi segenap komponen masyarakat Bali dalam penanganan masalah sampah
bersifat mutlak jika tidak ingin bom waktu itu benar-benar meledak,'' katanya mengingatkan.
Dikatakannya, bukan perkara mudah untuk membangun TPA baru lantaran terganjal keterbatasan lahan
maupun reaksi penolakan dari masyarakat. Alit Sastrawan meminta masyarakat Bali lebih bijaksana
dalam menangani sampah. Ditegaskan, masyarakat wajib memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang
besar terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Secara sederhana, masyarakat diharapkan
membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Hal itu akan mempermudah petugas
kebersihan ketika memungut dan mengangkutnya ke TPA. ''Tak kalah pentingnya, masyarakat harus
membangun kesadaran untuk mengurangi volume sampah yang diproduksinya setiap hari seoptimal
mungkin. Jika setiap keluarga memiliki kesadaran seperti itu, tentunya tumpukan sampah yang saat ini
terlihat menggunung di mana-mana dapat ditekan seminimal mungkin,'' katanya.

Dalam konteks mengurangi volume sampah itu, pejabat asal Bangli ini meminta masyarakat
mengimplementasikan prinsip 3R yakni reduce (mengurangi pemakaian benda-benda yang
menghasilkan sampah), reuse (memakai kembali benda-benda sehingga tidak langsung dibuang dan jadi
sampah) dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi benda-benda yang bisa digunakan kembali).
Dikatakan, dalam pengimplementasian prinsip 3R ini kegiatan pemilahan antara sampah organik dan
anorganik merupakan kunci sukses. Sayang, pelaksanaan prinsip kelola sampah dengan 3R ini belum jadi
budaya dan kebiasaan orang kebanyakan. ''Kesadaran inilah yang perlu terus-menerus dibangun di
masyarakat. Salah satu kendala utama penyebab rendahnya tingkat guna ulang, daur ulang dan
pemanfaatan sampah adalah masyarakat Indonesia tidak terbiasa memilah sampah, baik di sumber
maupun di tempat penampungan sementara,'' katanya. Terkait pengelolaan sampah di Indonesia,
katanya, pemerintah sudah menetapkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 yang mengubah
paradigma menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources
recycle).
Dikatakan, tiga aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan pengurangan sampah yaitu
pembatasan timbunan sampah, pendauran-ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. Ketiga
kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan
ingkungan. Kegiatan pengurangan sampah itu juga bermakna agar seluruh lapisan masyarakat, baik
pemerintah, kalangan dunia usaha maupun masyarakat luas melaksanakan ketiga kegiatan tersebut
melalui upaya-upaya yang cerdas, efisien dan terprogram.

Susun Perda

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan pihaknya telah menyusun peraturan daerah atau
perda tentang sampah. ''Saat ini kami sedang menyusun perda sampah. Payung hukumnya harus ada
dulu. Ini sudah kita lakukan sejak satu tahun lalu. Menyusun perda itu tidak bisa cepat-cepat, banyak hal
yang harus dikaji,'' jelasnya. Dengan adanya perda yang khusus mengatur tentang sampah ini, Bali
diharapkan akan menjadi provinsi yang bersih dan hijau seperti slogan Bali Clean and Green, yang
menjadi target Pemerintah Provinsi Bali ke depan. Kepala Biro Humas Pemprov Bali Putu Suardhika
mengatakan, sampah yang dihasilkan dari Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan mencapai 800 ton
per hari kini diolah menjadi pembangkit sumber energi lsitrik di Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu
(IPST) Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) di Suwung, Denpasar. ''Ini salah satu upaya
kami dalam mengatasi sampah yang berlimpah,'' ucapnya. IPST Sarbagita ini juga membuktikan bahwa
sampah ternyata juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi jika mampu diolah dengan baik. Sampah tidak
hanya dapat dijadikan pupuk kompos, tetapi juga dapat diolah menjadi energi pembangkit listrik.
(ian/par)