You are on page 1of 8

’Labuh Gentuh’’ Mengharmoniskan Hubungan Manusia dengan Alam‘

RABU (16/12) ini umat Hindu di Bali menggelar upacara karya agung Labuh
Gentuh, Mendak Toya, Pakelem di Danau Batur dan di puncak Gunung Batur
(Danu Kertih). Apa makna upacara Labuh Gentuh?
Dosen Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar Wayan Suka Yasa dan
Wayah Budiutama mengatakan Labuh Gentuh adalah prosesi ritual tawur yang
bertujuan untuk memohon keharmonisan alam. Prosesi ini menggunakan sarana
upacara berupa hewan kurban atau sato. ‘’Fungsi upacara sesungguhnya
mengingatkan umat agar selalu melakukan atau menjaga kelestarian alam.
Dalam konteks sekala, umat dididik untuk memelihara alam seperti danau,
gunung, hutan dan sumber-sumber air lainnya. Dalam upacara itu sejatinya
ada pesan pelestarian yang mesti ditindaklanjuti dengan aksi,’’ kata
Budiutama dan Wayan Suka Yasa, Minggu (13/12) . Karena itu aksi
nyatanya adalah umat hendaknya terus melakukan pemeliaraan danau melalui
penghijauan, jangan mengotori air danau dengan limbah, jangan menebang
hutan sembarangan dan sebagainya. Dengan demikian kesucian dan kebersihan
serta ketersediaan air danau tetap terjaga. Dengan tersedianya air danau,
kesuburan tanah Bali akan tetap terpelihara, yang pada akhirnya bermuara
pada kesejahteraan umat.
Sementara dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Ketut Wiana
mengatakan, Labuh Gentuh merupakan nama banten tawur untuk upacara
pecaruan dalam tingkatan madya. Labuh Gentuh maknanya sama dengan caru
yang lain yakni untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam. Dalam
pengertian, bahwa manusia wajib menguasai dirinya untuk menumbuhkan cinta
kasih pada alam, seperti danau dan sumber air lainnya.
Hal yang sama dikatakan dosen IHDN Denpasar Prof. Ketut Subagiasta. Ia
mengatakan Labuh Gentuh merupakan upaya harmonisasi alam semesta melalui
pelaksanaan butha yadnya. Melalui upacara ini umat memohon kepada Ida Sang
Hyang Widi Wasa agar terjadi keharmonisan alam--alam terproteksi atau
lestari. Dalam konteks Danu Kertih, diharapkan kelestarian danau tetap
terpeliara, air danau selalu tersedia, suci dan bersih. ‘’Melalui upacara
ini diharapkan tercipta sarwa hita atau sarwa sukerta--semua unsur yang
ada menjadi senang (hita) dan memperoleh kerahayuan (sukerta),’’ ujar
Subagiasta.
Melalui upacara Danu Kertih, umat memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widi
Wasa agar dianugerahkan air yang cukup untuk kerahayuan jagat. Melalui
prosesi ritual itu, air danau diharapkan tetap lestari dan suci. ‘’Upacara
danu kertih, wana kertih dan segara kertih sesungguhnya merupakan
bentuk-bentuk kearifan Hindu yang bertujuan untuk mencapai sukertaning
palemahan yakni lestarinya alam lingkungan,’’ ujarnya. (08)
Di Samuantiga Ganyar Bentrok, Lima Luka-lukaGianyar (Bali Post) -
Dua kelompok anak muda, Senin malam (12/9) sekitar pukul 22.30 wita terlibat bentrok di kawasan Pura
Samuantiga, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar. Bentrok dua kelompok ini mengakibatkan lima orang
luka-luka. Dua di antaranya mengalami luka berat, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Mereka yang mengalami luka sebagaimana laporan polisi di antaranya Pande Made Darmayasa, Pande
Nyoman Kriswajana, Gede Agus Krisna asal Temon, Pejeng Kelod, Tampaksiring, Putu Gede Saputra dan
A.A. Gede Hendra Mardiana asal Tatiapi, Pejeng, Tampaksiring. Dari kelima orang tersebut, Pande
Darmayasa dan Hendra Saputra (tulang hidung patah) mengalami luka paling parah hingga dirawat ke
rumah sakit Sanjiwani.
Kasubag Humas Polres Gianyar AKP I Ketut Alit Sudarsana mengatakan, pascabentrokan polisi telah
memeriksa dua orang yang diduga sebagai pelaku. Mereka itu Komang Suryawan alias Rakuti (21) dan
Komang Rujana (28) alias Botak. Dalam kasus ini polisi belum menentukan status dari kedua warga
Banjar Taman, Desa Bedulu tersebut.
Peristiwa bentrokan ini berawal dari adanya salah paham antara dua pemuda, yakni Pande Darmayasa
asal Temon dengan Komang Suryawan alias Rakuti (28) asal Banjar Taman, Bedulu, Sabtu (10/9) lalu.
Kesalahpahaman dari saling geber gas sepeda motor di jalan depan Pura Samuantiga hingga sampai ada
tantangan perkelahian.
Kemudian berlanjut Senin malam. Saat itu Rakuti dilihat oleh Pande Darmayasa melintas di Klusu,
Pejeng, dalam acara pertandingan bola voli. Kemudian, Darmayasa bersama temannya sekitar sepuluh
sepeda motor mengejar Rakuti hingga depan Pura Samuantiga. Sesampainya di lokasi, kedatangan
massa Darmayasa disambut puluhan orang yang merupakan kelompok dari Rakuti, yang saat itu juga
baru datang dari bertanding bola voli.
Pertemuan dua kelompok pemuda itu akhirnya berujung bentrok. Kekuatan kelompok dari Rakuti lebih
besar akhirnya membuat kelompok Darmasaya kalang kabut. Sebanyak lima orang mengalami luka
parah dan berlarian meninggalkan lokasi. Satu orang akhirnya berhasil diamankan warga, hingga datang
anggota buser Reskrim Polres Gianyar dipimpin kanit Buser Iptu Kerisaji Wibisono. Dari lokasi kejadian,
berhasil diamankan sejumlah balok kayu, dan sebuah double stick (caku), serta dua pasang sandal.
(kmb16)
Putu Rudana Tembus Gedung DPR/MPRPamerkan Lukisan Karya Maestro dan
Pelukis BaliMANAGING Director Museum Rudana, Peliatan, Ubud, Putu Supadma,
MBA melakukan terobosan baru. Dia tak hanya memamerkan lukisan di gedung-
gedung kesenian, galeri, museum atau ruang pameran di tempat-tempat umum,
tetapi kali ini menembus ruang pameran Gedung MPR/DPR-RI, Senayan, Jakarta.
Padahal selama ini, gedung wakil rakyat itu, mungkin 'tabu' untuk pameran seni-
budaya, mengingat di sana merupakan 'rumah' wakil rakyat. Selama ini, gedung
tadi paling-paling dijejali buku-buku, data atau file mengenai dunia politik, sehingga pameran seni
merupakan hal terbaru yang masuk gedung MPR/DPR-RI.

Saat puncak HUT ke-63 MPR/DPR-RI, Jumat (29/8) lalu, Museum Rudana memamerkan lukisan karya
maestro dan pelukis ternama dari Bali di ruang pameran gedung setempat. Pameran ini menyertakan 31
lukisan dan berlangsung selama tiga bulan. Bisa juga berlanjut, dengan tema berbeda-beda.

Pemrakarsa pameran Putu Rudana mengatakan, pelukis yang pameran yakni Srihadi Soedarsono,
Nyoman Gunarsa, Made Wianta, IB Indra (IBI), serta pelukis tradisional Bali: Wayan Bendi, Wayan Satu,
dan Kebut. Sedangkan pamerannya bertema 'Sinergi Seni Membangun Indonesia'. Tema itu diangkat
mengingat seni bisa berada di semua lini kehidupan, termasuk bersinergi dengan politik. Hal ini juga
menunjukkan bahwa seni dan politik membuka wahana baru bagi wakil rakyat supaya bahu-membahu
membangun bangsa tanpa membedakan parpol.

Pameran lukisan yang baru pertama kalinya diadakan di ruang pameran MPR/DPR-RI Senayan ini sangat
menarik para pejabat, anggota MPR/DPR, DPD RI, termasuk undangan lainnya yang terdiri atas para
dubes negara sahabat. Pameran ini juga bisa disaksikan oleh masyarakat luas yang berkunjung ke sana.
Menariknya, kalangan dubes yang hadir memberikan apresiasi yang tinggi tentang karya pelukis
Indonesia. Sebut saja Dubes Libia, Kolumbia dan Maroko, berlama-lama menatap lukisan yang
disinergikan ke Gedung MPR/DPR. Terlebih lagi, tema Bali yang disuguhkan mampu membuat mereka
ingin lebih dekat dengan masyarakat Indonesia. (kmb/*)
Jagat Bali Keajaiban Kekuatan Tuhan di Pura Goa Giri
PutriKEHIDUPAN umat Hindu di Bali, tak bisa dipisahkan dari
kegiatan ritual keagamaan. Setiap hari, ritual upacara selalu
digelar, mulai dari tingkatan terkecil (rumah) hingga lebih besar
di pura. Tentunya dengan harapan mendapat kemakmuran dan
kesejahteraan.
Dengan srada dan bhakti yang benar-benar tulus, suci, nirmala,
umat berharap dapat mewujudkan tujuan hidup Moksartam
Jagatdhita Ya Ca Iti Dharma. Di Bali, salah satu pura yang sering dijadikan tempat matirthayatra adalah
Pura Goa Giri Putri di Nusa Penida. Tepat, bila umat tangkil ke pura ini memohon anugerah
kesejahteraan lahir batin, agar murah rezeki, dipermudah jalan menuju kesuksesan dalam berusaha,
kedamaian hidup, keselarasan dan keharmonisan rumah tangga.
Nama pura ini berawal dari lokasinya di sebuah goa. Tampat/lubang yang ada di dalam tanah baik di
perbukitan atau gunung yang memiliki rongga dengan lebar dan panjang tertentu. Giri Putri, merupakan
nama yang diberikan untuk sebuah goa di Dusun Karangsari, Suana, Nusa Penida. Giri artinya
bukit/pegunungan. Putri artinya perempuan cantik. Dalam konsep ajaran Hindu, putri yang dimaksud
adalah sebuah simbolis bagi kekuatan/kesaktian Tuhan yang memiliki sifat keibuan (kewanitaan). Jadi,
Goa Giri Putri dimaksudkan tempat bersemayamnya kekuatan/kesaktian Tuhan dalam manifestasinya
berupa seorang perempuan/wanita cantik yang disebut Hyang Giri Putri yang tiada lain adalah salah satu
saktinya dan kekuatan Tuhan dalam wujudnya sebagai Siwa.
Goa Giri Putri berada di ketinggian 150 meter di atas permukaan air laut. Memiliki panjang sekitar 310
meter dan terdapat 6 tempat bersembahyang atau pelinggih.
Sebelum tahun 1990, Goa Giri Putri hanyalah sebuah goa yang dijadikan objek wisata lokal, terutama
saat gari raya Galungan dan Kuningan. Di samping air yang ada di Taman Goa dijadikan tirtha khususnya
oleh masyarakat Karangsari tiap ada upacara Panca Yadnya.
Sebagai bentuk pelestarian dan menjaga keberadaan Goa Giri Putri sebagai tempat persembahyangan
sekaligus objek wisata spiritual dan budaya, muncullah ide membangun pelinggih-pelinggih sebagai
tempat pemujaan kepada para Dewa yang bersemayam di Pura Goa Giri Putri. Ada enam pelinggih dan
kekuatan Tuhan yang bersemayam di Pura Goa Giri Putri. Di antaranya pelinggih Hyang Tri Purusa,
Hyang Wasuki, Hyang Giripati, Hyang Giri Putri, Payogan dan Hyang Siwa Amerta, Sri Sedana/Ratu
Syahbandar dan Dewi Kwam Im.
Bukan hanya saat piodalan yang berlangsung pada purnamaning kalima, Pura Goa Giri Putri selalu padat
dikunjungi pemedek setiap harinya. Apalagi, Pura Goa Giri Putri masuk dalam daftar deretan pura yang
dijadikan objek wisata spiritual di Nusa Penida.
Bukan hanya umat Hindu yang tangkil, pejabat tinggi nasional juga kerap bersembahyang di Pura Goa
Giri Putri, terutama saat ada kegiatan di Kecamatan Nusa Penida. Jika tangkil ke Pura Goa Giri Putri, saat
turun di pelataran parkir kemudian menyeberang jalan, pemedek langsung berhadapan dengan jalan
berundak-undak yang berjumlah 110 undak. Sampai di atas, bertemu pelingih pertama Hyang Tri
Purusa, berupa sebuah padmasana yang berada persis di depan mulut goa.
Bendesa Pakraman Karangsari, I Nyoman Dunia, S.Pd. dan Pemangku Pura Goa Giri Putri, Ketut Darma,
MBA menuturkan, sesuai petunjuk niskala yang sering diterima para supranatural, yang melinggih di
pura ini kekuatan Ida Sang Hyang Widhi dalam perwujudannya sebagai Hyang Tri Purusa (ajaran Siwa
Sidantha) yang terdiri dari Paramasiwa, Sadasiwa dan Siwatma.
Paramasiwa berarti Nirguna-Brahman yakni Tuhan dalam keadaan suci murni tanpa terkena pengaruh
maya. Kekal abadi, tidak berubah, tidak dilahirkan dan tidak mati, wyapi wyapaka nirwikara. Sadasiwa
yakni saguna-brahman, Tuhan dalam keadaan saguna (Mahakuasa), bersifat gaib, suci dan mulia.
Sedangkan siwatma yakni Tuhan dalam pengaruh maya yang menjadi sumber hidup atau jiwatma bagi
segala makhluk. Jadi, kekuatan Tuhan yang dipuja di pelinggih pertama itu yakni Hyang Tri Purusa.
Dimana, tempat memohon anugerah perlindungan dari segala pengaruh negatif, kebahagiaan lahir batin
dan memohon tuntunan dalam menjalankan tugas hidup.
Setelah bersembahyang di Tri Purusa, pemedek selanjutnya memasuki areal Goa Giri Putri. Kesan
pertama bagi siapa pun yang baru pertama kali tangkil ke pura ini, pasti akan merasa takut, waswas dan
berpikir tidak mungkin bisa masuk. Karena, ketika melihat mulut goa yang berukuran kecil. Ini sebuah
keajaiban kekuatan Tuhan. Goa ini hanya bisa dilalui satu orang saja. Selebihnya, pemedek akan
tercengang dengan keajaiban yang ada dan pasti tidak menyangka bahwa rongga goa sangat lebar dan
tinggi, diperkirakan bisa menampung hingga 5.000 pemedek.
Begitu melewati terowongan, pemedek kembali menemukan pelinggih Hyang Wasuki yang berupa Sapta
Petala. Hyang Wasuki merupakan salah satu manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sifat
penolong, penyelamat dan pemberkah kemakmuran. Karena Hyang Wasuki diwujudkan dalam bentuk
naga bersisik emas berkilauan penuh pernak-pernik mutiara dan mahkota hingga ke ekornya. Hyang
Wasuki juga senantiasa menjaga keseimbangan alam bawah (pertiwi) demi keselamatan dan
kesejahteraan umat manusia beserta mahkluk lainnya. Makanya, umat Hindu yang tangkil di pelinggih
ini selalu memohon keselamatan, kedamaian dan ketentraman umat
pada umumnya dan khususnya keluarga, ujar Mangku Ketut Darma.
Usai sembahyangan di Hyang Wasuki, pemedek melanjutkan persembahyangan di pelinggih ketiga
berupa padmasana.
Pelinggih ini merupakan tempat berstananya Hyang Giripati/Siwa, penyineban Ida Bhatara dan tempat
pelukatan. Di pelinggih ini, sebelum pemedek melakukan persembahyangan, wajib melakukan pelukatan
Dasa Mala terlebih dahulu dengan memohon tirtha pelukatan kepada Ida Hyang Giri Putri, Dewi Gangga
dan Hyang Giri Pati agar segala papa klesa, sarwa roga yang bersifat asuri sampat, baik sekala maupun
niskala bisa diruwat, dilebur dan dimusnahkan. ''Setelah prosesi pelukatan selesai, baru melakukan
persembahyangan di pelinggih Giripati guna memohon pasupati pelukatan sehingga secara lahir batin
kita terlepas dari hal-hal negatif,'' kata Bendesa Nyoman Dunia.
Persembahyangan berikutnya, adalah di pelinggih keempat yakni tempat berstananya Hyang Giri Putri.
Sebelum menaiki tangga, pemedek terlebih dahulu menjumpai sebuah pelinggih berupa pengrurah
linggih Ida Ratu Tangkeb Langit sebagai penjaga Ida Hyang Giri Putri. Saat pemedek berada di areal luhur
Giri Putri, akan dijumpai pelinggih Hyang Giri Putri yang berdampingan dengan pelinggih pengaruman
sebagai tempat menstanakan simbol-simbol dewa-dewi berupa arca dan rambut sedana. Yang paling
unik dari pelinggih ini, yakni keberadaannya di tengah-tengah atas dinding goa. ''Agar bisa tangkil dan
bersembahyang di pelinggih ini, harus menaiki tangga dulu (kini sudah terbuat dari pelat mobil),'' ujar
pemangku Ketut Darma.
Di pelinggih ini, pemedek memohon anugerah untuk mewujudkan harapan-harapan hidup,
penyembuhan penyakit melalui percikan tirtha. Sebelumya didahului dengan memohon izin dari Hyang
Giri Putri, Hyang Tri Purusa, Hyang Giri Pati, Hyang Wasuki, Hyang Maha Dewa, Hyang Sri Sedana dan
Dewi Kwam Im.
Ada juga pelinggih Payogan. Pelinggih ini berupa padmasana, sebenarnya dalam satu ruangan dengan
Giri Putri. Jaraknya sekitar 7 meter. Sesuai namanya merupakan, pelinggih ini merupakan tempat
peraduan Hyang Giri Putri-Hyang Giri Pati. Tempat khusus melakukan tapa, yoga dan semadi. Orang
bijak sering menyebut sebagai tempat Ida Ratu Niyang-Ratu Kakiang. Ada juga yang menyebut Linggih
Ida Hyang siwa dalam wujud Tri Purusa.
Terakhir, pelinggih Hyang Siwa Amerta, Sri Sedana/Ratu Syahbandar dan Dewi Kwam im. Pelinggih ini
berada diujung tenggara. Dimana pemedek bisa melihat dengan jelas pancaran sinar matahari yang
seolah-olah memberi obor suci dari kilauan cahaya Sang Hyang Surya. Di area ini ada dua padmasana
tempat berstananya Hyang Siwa Amerta/Mahadewa dan Gedongsari linggih Ida Hyang Sri Sedana/Ratu
Syahbandar, Ratu Ayu Mas Melanting serta dua patung Kwam Im. Semuanya merupakan dewa
pemurah, pengasih dan penyayang serta kemakmuran.
Secara umum, ditempat ini merupakan perpaduan konsep Siwa-Buda serta tempat bagi pemedek
memohon anugrah kesejahteraan lahir bathin, agar murah rejeki, dipermudah jalan menuju kesuksesan
dalam berusaha, kedamaian hidup, keselarasan dan keharmonisan rumah tangga serta memohon
anugerah. (bal)
Sehari, Produksi Sampah 5.094 Meter KubikPotensial Jadi ''Bom Waktu'' bagi BaliMasalah sampah
sepertinya tidak pernah tuntas. Walau sudah ditangani petugas DKP, tetap saja ada keluhan yakni
banyak onggokan sampah tidak diangkut. Saat ini Bali memproduksi sampah sampai 5.094 meter kubik
per hari dan belum semuanya bisa ditangani. Bila tak dikelola dengan baik, sampah potensial menjadi
''bom waktu'' bagi daerah ini.

PERSOALAN sampah bagi Bali sudah sejak lama. Apalagi dengan perkembangan jumlah penduduk di
daerah ini meningkat cukup tajam, dipastikan produksi sampah makin membeludak.
Saat ini, sejumlah tumpukan sampah tampak menggunung di berbagai lokasi karena daya angkut
armada sampah yang terbatas. Sisi lain, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga
tetap berlanjut. Potensi persoalan sampah jadi bom waktu yang siap meledak setiap saat makin besar,
mengingat reaksi penolakan dari masyarakat mulai bermunculan begitu di wilayahnya direncanakan
akan dibangun tempat pembuangan akhir (TPA).
Dihubungi Senin (11/4) kemarin, Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Ir. A.A. Gede Alit
Sastrawan, M.T. tidak menampik persoalan sampah berpotensi jadi bom waktu bagi Bali. Dikatakannya,
perilaku sebagian masyarakat Bali yang cenderung konsumtif turut membengkakkan volume sampah di
Bali. Sebagai gambaran, saat ini volume sampah di daerah perkotaan di Bali rata-rata mencapai 5.094
meter kubik per hari. Tentunya, tumpukan sampah yang volumenya mencapai ribuan meter kubik per
hari itu memerlukan tempat pembuangan akhir yang cukup luas jika ingin tertangani secara baik
ditambah ketersediaan armada pengangkut sampah dalam jumlah yang tidak sedikit. Harus diakui,
belum seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat Bali dapat ditangani secara tuntas.
''Oleh karena itu, partisipasi segenap komponen masyarakat Bali dalam penanganan masalah sampah
bersifat mutlak jika tidak ingin bom waktu itu benar-benar meledak,'' katanya mengingatkan.
Dikatakannya, bukan perkara mudah untuk membangun TPA baru lantaran terganjal keterbatasan lahan
maupun reaksi penolakan dari masyarakat. Alit Sastrawan meminta masyarakat Bali lebih bijaksana
dalam menangani sampah. Ditegaskan, masyarakat wajib memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang
besar terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Secara sederhana, masyarakat diharapkan
membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Hal itu akan mempermudah petugas
kebersihan ketika memungut dan mengangkutnya ke TPA.
''Tak kalah pentingnya, masyarakat harus membangun kesadaran untuk mengurangi volume sampah
yang diproduksinya setiap hari seoptimal mungkin. Jika setiap keluarga memiliki kesadaran seperti itu,
tentunya tumpukan sampah yang saat ini terlihat menggunung di mana-mana dapat ditekan seminimal
mungkin,'' katanya.
Dalam konteks mengurangi volume sampah itu, pejabat asal Bangli ini meminta masyarakat
mengimplementasikan prinsip 3R yakni reduce (mengurangi pemakaian benda-benda yang
menghasilkan sampah), reuse (memakai kembali benda-benda sehingga tidak langsung dibuang dan jadi
sampah) dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi benda-benda yang bisa digunakan kembali).
Dikatakan, dalam pengimplementasian prinsip 3R ini kegiatan pemilahan antara sampah organik dan
anorganik merupakan kunci sukses. Sayang, pelaksanaan prinsip kelola sampah dengan 3R ini belum jadi
budaya dan kebiasaan orang kebanyakan. ''Kesadaran inilah yang perlu terus-menerus dibangun di
masyarakat. Salah satu kendala utama penyebab rendahnya tingkat guna ulang, daur ulang dan
pemanfaatan sampah adalah masyarakat Indonesia tidak terbiasa memilah sampah, baik di sumber
maupun di tempat penampungan sementara,'' katanya.
Terkait pengelolaan sampah di Indonesia, katanya, pemerintah sudah menetapkan Undang-undang
Nomor 18 Tahun 2008 yang mengubah paradigma menjadi pengurangan di sumber (reduce at source)
dan daur ulang sumber daya (resources recycle).
Dikatakan, tiga aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan pengurangan sampah yaitu
pembatasan timbunan sampah, pendauran-ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. Ketiga
kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan
ingkungan. Kegiatan pengurangan sampah itu juga bermakna agar seluruh lapisan masyarakat, baik
pemerintah, kalangan dunia usaha maupun masyarakat luas melaksanakan ketiga kegiatan tersebut
melalui upaya-upaya yang cerdas, efisien dan terprogram.

Susun Perda

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan pihaknya telah menyusun peraturan daerah atau
perda tentang sampah. ''Saat ini kami sedang menyusun perda sampah. Payung hukumnya harus ada
dulu. Ini sudah kita lakukan sejak satu tahun lalu. Menyusun perda itu tidak bisa cepat-cepat, banyak hal
yang harus dikaji,'' jelasnya.
Dengan adanya perda yang khusus mengatur tentang sampah ini, Bali diharapkan akan menjadi provinsi
yang bersih dan hijau seperti slogan Bali Clean and Green, yang menjadi target Pemerintah Provinsi Bali
ke depan.
Kepala Biro Humas Pemprov Bali Putu Suardhika mengatakan, sampah yang dihasilkan dari Denpasar,
Badung, Gianyar dan Tabanan mencapai 800 ton per hari kini diolah menjadi pembangkit sumber energi
lsitrik di Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan
Tabanan) di Suwung, Denpasar. ''Ini salah satu upaya kami dalam mengatasi sampah yang berlimpah,''
ucapnya.
IPST Sarbagita ini juga membuktikan bahwa sampah ternyata juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi
jika mampu diolah dengan baik. Sampah tidak hanya dapat dijadikan pupuk kompos, tetapi juga dapat
diolah menjadi energi pembangkit listrik. (ian/par)