You are on page 1of 4

BAB VI

MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM

28 Juni 2008 http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=3&id=1408

Langgar Etika, Rizal Ramli Dicopot dari Komisaris BUMN

Jakarta(Bali Post) – Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian era pemerintahan Megawati Soekarno
harus merelakan dicopot jabatannya sebagai komisaris utama di salah satu Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) strategis. Pemerintah pun tidak menampik, pencopotan Rizal yang melalui Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Semen Gresik (Persero) . Posisi Rizal Ramli sebagai
komisaris utama diganti Dedy Aditya Sumanegara yang sebelumnya merupakan Dirut PT Aneka
Tambang (Persero). Namun, Dirut PT Semen Gresik Dwi Sutjipto menampik sinyalemen itu. Menurutnya
penggantian Rizal Ramli murni merupakan keinginan pemegang saham dan tidak terkait dengan
aktivitasnya di Komite Bangkit Indonesia (KBI).

Kesempatan sama, Deputi Meneg BUMN Bidang Industri Strategis Roes Aryawijaya juga menyatakan,
tidak mengetahui alasan tepat kementrian mengenai pergantian posisi Rizal Ramli sebagai komisaris
utama di Semen Gresik. 'Jangan dikait-kaitkan dengan aktivitas politik Rizal Ramli,' ujarnya seraya
menambahkan keputusan RUPSLB itu merupakan keputusan profesional para pemegang saham. Sebagai
informasi, Badan Intelijen Negara (BIN) menuding KBI di balik aksi demontrasi yang berujung aksi
anarkis, menentang pemerintah menaikkan harga BBM. Selama ini, KIB dinilai kritis terhadap kebijakan
pemerintah terutama di bidang perekonomian. Lain halnya dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil yang
tidak menampik pencopotan Rizal Ramli dari komisaris utama PT Semen Gresik berasal dari pihaknya.

Kemenneg BUMN selaku pemegang saham secara resmi menilai kehadiran Rizal Ramli tidak menjamin
adanya nilai tambah terhadap perseroan. Kemenneg BUMN juga beranggapan, Rizal Ramli telah
melanggar etika sehingga ditakutkan menganggu kinerja perseroan. Menurutnya, dalam sebuah
perusahaan berlaku hukum dan mekanisme yang sudah disepakati bersama termasuk standar kewajiban
hukum dan etika antara direksi dan komisaris yang harus dilaksanakan terhadap perseroan.

Sedangkan terhadap harga saham, kata Sofyan, karena yang bersangkutan menempatkan diri pada posisi
yang dalam pertimbangan pemerintah tidak berpengaruh positif bagi perseroan maka tidak berdampak
banyak. 'Masing-masing orang mempunyai pandangan politik. Kita pun punya pandangan politik, itu
tidak masalah. Tetapi kemudian ada aksi yang dilakukan berpengaruh kepada perusahaan publik jelas
berbahaya. Kalau perusahaan tertutup tidak masalah,' urainya. Menurut Sofyan, perusahaan publik tidak
bisa menerima perlakuan seperti itu dan untuk kepentingan itu pihaknya telah memberikan hak kepada
Rizal Ramli untuk membela diri sebagaimana tindakan korporasi pada umumnya. 'Tidak ada masalah
karena sudah diberitahukan sebelumnya secara tertulis, kemudian kami juga sudah memberikan hak untuk
membela diri,' katanya. (kmb1)
Pendapat :

Menurut saya pada kasus pelanggaran etika ini, sangat begitu menarik. Karena disini terlihat jelas
ketegasan dari suatu peraturan dimana seorang Rizal Ramli yang seorang komisaris utama di salah satu
Badan Usaha Milik Negara ( BUMN ) ini harus merelakan jabatannya. Karena dituduh melakukan aksi
demonstrasi yang berujung aksi anarkis, menentang pemerintah menaikkan harga BBM. Pencopotan ini
saya rasa memang cocok dilakukan di perusahaan publik agar tidak membahayakan perusahaan ini di
kemudian hari.

Solusi :

Solusi yang dapat saya berikan pada kasus ini sebenarnya tidak ada, karena saya mendukung apa
yang dilakukan BUMN kepada Rizal Ramli. Dan juga sebaiknya BUMN tidak memberikan kesempatan
membela diri walaupun tindakan membela diri itu dibenarkan, karena mungkin saja dengan membela diri
suatu saat nanti Rizal Ramli dapat kembali. Dan itu mungkin dapat membahayakan perusahaan di
kemudian hari.
BAB VI

MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM

24 Mei 2010 http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=35881

Anak Divonis Enam Tahun, Ibu Terdakwa Tuntut Keadilan

Denpasar (Bali Post) – Terdakwa Wayan Agus yang diduga terlibat dalam pembunuhan pasangan suami
istri pemilik toko sepatu Sejahtera Sugianto Halim-Feny Maria Sulianto, akhirnya divonis enam tahun
penjara, pada sidang di PN Denpasar, Senin (24/5) kemarin. Majelis Hakim yang diketuai Sigit Sutanto
menyatakan terdakwa melanggar pasal 340 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP (pembunuhan berencana).

Vonis enam tahun penjara yang dijatuhkan langsung disambut tangis ibu terdakwa Made Deti Artini.
Wanita yang dengan setia mendampingi anaknya setiap persidangan ini menyatakan bisa menerima vonis
yang mesti dijalani anaknya itu. Cuma baginya tidak adil, jika Arif dibiarkan bebas
berkeliaran. ‘’Saya terima hukuman tersebut.Bagaimana pun anak saya juga bersalah. Namun demikian
aparat hukum mesti juga adil dengan menyeret Arif. Anak saya tidak mungkin membunuh, jika tidak
dijebak,’’ katanya sambil menangis. Sementara Edward Tobing yang bertindak selaku kuasa hokum
korban sependapat dengan ibunya Agus. Pihaknya merasa kasihan atas hukuman yang mesti dijalani
Agus. ‘’Dengan dibuktikannya pasal 340 KUHP, polisi mau tidak mau harus menyidik Arif. Tidak ada
alasan lagi, menyatakan yang bertanggung jawab terhadap kasus ini hanya Agus dan Fahrudin,’’ katanya.
Hakim sependapat dengan pembuktian jaksa soal perbuatan yang dilakukan terdakwa. Berdasarkan hasil
pemeriksaan dalam sidang yang diperkuat dengan keterangan saksi-saksi dan pengakuan terdakwa,
dianggap cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Bantahan yang dibuat terdakwa atas
keterlibatannya pada kasus pembunuhan tersebut, sesungguhnya makin membuktikan perbuatan
terdakwa. Atas penilaian tersebut, hakim menyatakan tidak ada alasan pembenar maupun pemaaf yang
dapat menghapus kesalahan terdakwa.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus pembunuhan tersebut terjadi pada Kamis 10 Desember 2009
sekitar pukul 20.00 Wita, di Toko Sepatu Sejahtera, Jalan Wahidin No. 47 Denpasar. Bermula dari
terdakwa Agus dan Fahrun yang mengaku didatangi oleh Arief Sugiarto Alias Lie fuk Sen (diperiksa
dalam berkas perkara terpisah), pada Senin (7/12) di dekat lampu merah Jalan Wahidin Denpasar. Namun
karena saat itu terburu-buru, Arief meminta agar Fahrudin menemuinya pada Kamis (10/12) Sekitar pukul
18.00 di lapangan Lumintang. Selain Fahrudin, Arief juga menghubungi Wayan Agus melalui hand
phone (HP) dan meminta agar terdakwa datang ke tempat yang sama. Selanjutnya, atas permintaan Arief,
Fahrun dan Wayan Agus kemudian memenuhi permintaan dan datang ke Lapangan lumintang. Dalam
pertemuan pada 10 Desember 2010 tersebut, Arief mengajak Fahrun dan Wayan Agus untuk membunuh
Sugianto Halim dan istrinya Fenny Maria, dengan iming-iming Rp 15 juta kepada kedua terdakwa.
Karena Fahrun sedang memerlukan uang untuk biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit, akhirnya
ajakan Arief itu disanggupi.(015)
Pendapat :

Pada kasus ini, benar apa yang dikatakan oleh ibu terdakwa Made Deti Artini, kenapa arif
dibiarkan bebas berkeliaran padahal dia yang mempengaruhi Terdakwa Wayan Agus dengan uang untuk
membunuh Pasangan suami-istri pemilik toko sepatu Sejahtera Sugianto Halim-Feny Maria Sulianto. Ini
membuktikan bahwa untuk mendapatkan keadilan di negeri ini sangat sulit. Apalagi ini berkaitan dengan
hukum, hukum di Indonesia saat ini sudah kelihatan kebobrokannya. Keadilan di Indonesia sekarang
sering dibilang lebih memihak kalangan masyarakat menengah keatas dari pada masyarakat bawah.
Keadilan di Indonesia saja masih bisa di beli, untuk mendapatkan keadilan di negeri ini begitu sulit tapi
dengan uang mencari keadilan itu sangat mudah. Ini sebenarnya harus segera dibenahi agar masyarakat
Indonesia semua mendapat keadilan yang sama.

Solusi :

Solusi yang dapat saya berikan adalah Ibu terdakwa bisa saja menuntut hakim agar arif juga
dihukum karena dia sudah mempengaruhi Wayan Agus dan Fahrun. Polisi juga sebaiknya mengusut
ulang siapa saja yang melakukan pembunuhan dan mencari dalang dari kasus tersebut. Dan yang paling
penting para penegak hukum jangan mudah disuap.