You are on page 1of 87

Proposal Penelitian

ANALISA KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN


USAHA TERNAK KELINCI POTONG
( Studi Kasus Kampoeng Kelinci Gunung Mulya Tendjolaya Bogor )

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana


Ekonomi syariah

NUR FAJAR
1011.2.2.006

PRODI BISNIS MANAJEMEN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM TERPADU MODERN
SAHID BOGOR 2013
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan PROPOSAL PENELITIAN
yang berjudul “Analisa Kelayakan Dan Strategi Pengembangan Usaha Ternak
Kelinci Potong ( Studi Kasus Kampoeng Kelinci Gunung Mulya Tendjolaya
Bogor ). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan strategi pengembangan
usaha ternak kelinci potong di daerah penelitian yakni Kampoeng Kelinci Gunung
Mulya Tendjolaya Bogor .
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kesalahan serta kekurangan pada
isi dari penelitian ini, baik karena keterbatasan pengetahuan ataupun kendala
selama penelitian. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik
dari para pembaca untuk menyempurnakan hasil penelirian ini. Penulis tidak lupa
pula untuk meminta maaf apabila terdapat kesalahan penulisan skripsi ini.

Bogor 18 February 2013

Nur Fajar
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. iiiv
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... v
I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ............................................................ 3
1.3. Tujuan ................................................................................. 6
1.4. Manfaat ............................................................................... 6
1.5. Ruang Lingkup ................................................................... 7
II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 8
2.1. Teknik Budidaya Kelinci ................................................... 8
2.2. Agroindustri ....................................................................... 9
2.3. Agroindustri Kelinci ........................................................... 10
2.4. Tinjauan Penelitian Terdahulu ........................................... 11
III KERANGKA PEMIKIRAN ..................................................... 13
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................. 13
3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis .......................................... 13
3.1.2. Teori Biaya dan Manfaat ........................................ 17
3.1.3. Analisis Kriteria Investasi ...................................... 18
3.1.4. Analisis Sensitivitas ............................................... 18
3.1.5. Konsep Nilai Tambah ............................................. 19
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ....................................... 20
IV METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 22
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian .............................................. 22
4.2. Metode Penentuan Sampel ................................................. 22
4.3. Metode Pengumpulan Data .................................................. 22
4.4. Metode Pengolahan Data ................................................... 23
4.4.1. Analisis Kelayakan Non-Finansial .......................... 23
4.4.2. Analisis Kelayakan Finansial ................................. 24
4.4.2.1. NPV ....................................................... 24
4.4.2.2. Net B/C .................................................. 24
4.4.2.3. IRR ......................................................... 25
4.4.2.4. DPP ........................................................ 25
4.4.2.5. Analisis Sensitivitas ............................... 26
4.4.3. Analisis Nilai Tambah .............................................. 26
4.5. Asumsi Dasar ....................................................................... 27
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Rata-rata Konsumsi Protein (gram) per Kapita
Kelompok Makanan Tahun 2009-2011 ........................................................ 1
2. Neraca Nasional Produk DagingTahun 2009-2010
(000 ton) .......................................................................................................... 2
3. Kadar Gizi Daging Kelinci, Ayam, danTernak Lainnya ............................... 3
4. Populasi Ternak Nasional Tahun 2006-2010(000 Ekor) ................................. 4
5. Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu ........................................... 12
6. Prosedur Analisis Nilai Tambah Metode Hayami ........................................ 27

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman
1. Kerangka Pemikiran Operasional .............................................. 21

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara agraris dimana mata pencaharian
penduduknya sebagian besar adalah di sektor pertanian dan peternakan merupakan
salah satu sub sektor pertanian yang berkontribusi terhadap perkembangan Produk
Domestik Bruto (PDB) sebesar 12 persen setiap tahunnya. 1 Kontribusi sub sektor
peternakan dilihat dari nilai yang dihasilkan dari beberapa produk unggulan,
seperti daging, susu, dan telur. Sub sektor peternakan memiliki visi yaitu untuk
memenuhi kebutuhan gizi masyarakat akan protein hewani dan memperkuat
ketahanan pangan negara. Ketahanan pangan merupakan kemampuan dari sebuah
negara dalam memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakatnya dengan
memanfaatkan sumberdaya berbasis lokal.
Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan
sektor pertanian, dimana sektor ini memiliki nilai strategis dalam memenuhi
kebutuhan pangan yang terus meningkat atas bertambahnya jumlah penduduk
Indonesia, dan pengingkatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia dan taraf
hidup petani dan nelayan. Keberhasilan pembangunan tersebut ternyata
berdampak pada perubahan konsumsi masyarakat yang semula lebih banyak
mengkonsumsi karbohidrat ke arah konsumsi seperti daging, telur, susu. Lebih
lanjut dijelaskan akan telur dan daging ayam dalam negeri saat ini telah dapat
dipenuhi oleh produksi lokal, akan tetapi susu dan daging sapi maupun daging
kelinci masih sangat kekurangan. Berbagai usaha pembangunan peternakan tekah
di upayakan oleh pemerintah sampai pelosok daerah namun masih terdapat
kekurangan produksi yang akan mensuplay kebutuhan penduduk Indonesia akan
protein hewani. ( Budiarto, A. 1991 )

Kondisi peternakan kelinci potong saat ini masih mengalami kekurangan


dan jarang ditemui di daerah-daerah, karena pertambahan populasi tidak seimbang

1
http://www.livestockreview.com/2012/01/kontribusi-peternakan-dalam-pdb-lebih-dari-
12/[diakses tanggal 20 Maret 2012]

4
dengan kebutuhan daging nasional. Dan sangat sulit untuk mendapatkan bibit
kelinci pedaging yang bagus untuk di budidayakan. Di indonesia kebutuhan
kelinci potong ini masih sangat kecil.padahal sangat baik untuk memenuhi
kebutuhan daging nasional yang berasal dari beberapa pemasok yaitu : peternakan
rakyat ( ternak lokal ), Industri peternakan rakyat ( hasil penggemukan ex-import )
dan import daging. Selanjutnya dijelaskan bahwa untuk tetap menjaga
keseimbangan penawaran dan permintaan ternak potong. Usaha peternakan rakyat
tetap menjadi tumpuan utama, namun tetap menjaga kelestarian sumberdaya
ternak sehingga setiap tahun mendapat tambahan akhir positif. ( Anonimus. 1993)

Pembangunan peternakan ditujukan untuk meningkatkan produksi hasil ternak


yang sekaligus meningkatkan pendapatan peternak, menciptakan lapangan
pekerjaan serta meningkkatkan populasi dan mutu genetik ternak. Dalam
pelaksanaannya dilakukan dengan cara panca usaha ternak untuk itu ditingkatkan
pengadaan bibit ternak, bibit rumput, obat-obatan dan vaksin, kredit dan
penyuluhan. ( Tohir, K.A, 1991 )

Salah satu kebijakan pemerintah dalam pembangunan subsektor


peternakan di Indonesia adalah upaya untuk mencukupi kebutuhan protein hewani
dalam swasembada daging nasional 2014. Pada gilirannya, upaya ini akan
berpengaruh pada peningkatan kecerdasan bangsa. ( Santosa, U, 1997 )

Salah satu sumberdaya peternakan lokal yang potensial dijadikan subsitusi


penghasil daging lainnya adalah kelinci. Menurut Sarwono (2009), kelinci
termasuk ke dalam ternak potong non-ruminansia yang potensial jika dilihat dari
aspek produksi dan aspek reproduksi. Dari kedua aspek tersebut, kelinci yang
dikelola secara intensif dengan manajemen ternak akan berkembang biak
sebanyak 8-12 kali dalam setahun dan mampu melahirkan sekitar 4-12 ekor anak
kelinci, sehingga dalam setahun dapat menghasilkan kurang lebih 50 ekor anakan.

Ternak kelinci, khususnya kelinci potong merupakan salah satu sumber


daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki gizi tinggi dan nilai
ekonomis yang tinggi pula, serta penting artinya di dalam kehidupan masyarakat.
Sebab sepasang induk kelinci bisa menghasilkan beberapa anakan kelinci yang

iv
banyak dan dapat menjadi penghasil daging, di samping itu ada juga seperti pupu
k kandang, kulit yang halus, tulang yg penuh mineral, urine yang berfungsi untuk
membasmi hama tumbuhan dan sayuran, dan lain sebagainya. Daging sangat
besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani. Kelinci merupakan
hewan pemakan rumput yang sangat berperan sebagai bahan bergizi rendah yang
diubah menjadi bahan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam
bentuk daing. ( Sugeng, Y.B, 1992 )

Memelihara kelinci sangat menguntungkan, karena todak hanya


menghasilkan daging atau anak yang banyak, tetapi juga menghasilkan bulu yang
halus, pupuk kandang, urine pembasmi hama dan sebagai binatang yang sangat
digemari anak-anak, sebagai penghasil daging, karkas kelinci memiliki
kandungan kolagen yang tinggi an gizi yang paling bagus di banding dengan
daging lain. ( yono, C.R, 1998)

Ternak kelinci sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis lebih besar dari
ternak lain, usaha ternak juga merupakan usaha yang lebih menarik sehingga
mudah merangsang pertumbuhan usaha. Sebaliknya hewan ternak yang nlai
manfaat dan ekonominya rendah pasti akan terdesak mundur dengan sendirinya.
Hal ini bisa dibuktikan dari perkembangan ternak kelinci di Indonesia lebih maju
dari pada ternak kecil lainnya seperti ayam yang sering mengalami kebangkrutan,
bebek yang terlalu besar biaya pakannya yang tidak seimbang dengan hasil
produksi.
Manfaat kelinci yang sangat banyak dan nilai ekonominya yang tinggi
dapat dilihat dari mutu dan harga daging atau kulit menjadi makanan kelas
menengah keatas dibandingkan dengan daging lainnya, kelinci juga merupakan
hewan yang berhubungan dengan binatang kesayangan jadi banyak masyarakat
membudidayakannya secara lokal. Kelinci juga biasanya digunakan sebagai
tabungan para petani di desa-desa, yang pada umumnya telah terbiasa bahwa pada
saat-saat panen mereka menjual hasil panen, kemudian dibelikan lagi beberapa
indukan, dan bila musim paceklik atau ada keperluan yang mendadak bisa di lepas
atau di jual lagi. Hasil ikutannya masih sangat berguna, seperti kotoran bagi usaha
pertanian, tulang-tulang bisa digiling untuk tepung tulang sebagai bahan baku

iv
mineral atau lem, bulu yang halus bisa dijadikan kerajinan, urine kelinci bisa
untuk membasi hama. Banyak usaha ternak kelinci ini di Indonesia dan mampu
memberikan lapangan pekerjaan dan menjadi usaha yang menjanjikan dimasa
depan sehingga dapat menghidupi banyak keluarga ( Brahmantyo, B 1998 )

Saat ini, sentra budidaya kelinci Indonesia tersebar di beberapa daerah,


yakni Berastagi, Bogor, Lembang, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Magelang,
Semarang, Temanggung, Batu, Malang, Magetan, Blitar, Kediri, Bedugul-
Tabanan, dan Wamena. Pasar komoditi kelinci pun tersebar di beberapa daerah,
seperti Sumatera Barat, Lampung, Batam, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Timur, dan Sulawesi Utara. 2
Bogor sebagai salah satu sentra budidaya kelinci di Indonesia
mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat dan kabupaten. Bentuk
perhatian dan dukungan yang diberikan berupa pencanangan dan pengembangan
Kampung Wisata Kelinci. Populasi kelinci di Kabupaten Bogor mengalam
ipeningkatan setiap tahunnya (Lampiran 1). Daerah yang memiliki populasi
kelinci terbanyak pada tahun 2010 adalah Tenjolaya sebanyak 4265 ekor.

1.2. Perumusan Masalah


Pada tahun 1982, pemerintah pernah menganjurkan agar kelinci
diternakkan secara intensif dalam rangka meningkatkan mutu gizi masyarakat
khususnya masyarakat pedesaan. Akan tetapi, kebijakan ini gagal ditengah jalan
karena harga bibit kelinci yang tergolong mahal. Perkembangan peternakan.

kelinci Indonesia cenderung lambat karena hanya dijadikan sebagai usaha


sampingan keluarga yang dikelola sederhana. Populasi kelinci pada tahun 2007
hingga 2009 mengalami peningkatan. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun
2009 sebanyak 3.437.000 ekor. Di tahun berikutnya, populasi kelinci mengalami
penurunan yang drastis menjadi 834.000 ekor atau sebesar 75,73 persen (Tabel 4).

2
[Pusllitbangnak] Pusat Pelatihan dan Pengembangan Peternakan. 2012
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/1069/ [Diakses 1 Maret 2012]

iv
Tabel 4. Populasi Ternak Nasional Tahun 2006 – 2010 (000 Ekor)
Tahun
Ternak
2006 2007 2008 2009 2010
Sapi Potong 10.875 11.515 12.257 12.760 13.582
Sapi Perah 369 374 458 475 488
Kerbau 2.167 2.086 1.931 1.933 2.000
Kambing 13.790 14.470 15.147 15.858 16.620
Domba 8.980 9.514 9.605 10.199 10.725
Babi 6.218 6.711 6.838 6.975 7.477
Kuda 398 401 393 399 419
Kelinci 0 708 748 3.473 834
Ayam Buras 291.085 272.251 243.423 249.963 257.544
Ayam Petelur 100.202 111.489 107.955 111.418 105.210
Ayam Pedaging 797.527 891.659 902.052 1.026.379 986.872
Itik 32.481 35.867 39.840 40.680 44.302
Puyuh 0 6.640 6.683 14.429 7.054
Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan (2011)

Rendahnya populasi kelinci di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal.


Pertama, adanya anggapan bahwa kelinci sebagai hewan ternak marginal dan
sederhana. Kedua, pembudidayaan kelinci masih berjalan sendiri-sendiri
sehingga bargaining position peternak rendah. Ketiga, bibit unggul kelinci yang
sulit ditemukan serta mahal. Keempat, harga pakan konsentrat yang mahal.
Kelima, cuaca ekstrim yang akhir-akhir ini sering terjadi di IndonesiaMaka dari
itu, keberadaan kampoeng kelinci di gunung mulya tendjolaya bogor yang
merupakan program pemerintah dapat di jadikan acuan untuk perkembangan
kelinci di bogor.

iv
Dari uraian diatas, permasalahan yang dapat dikaji dalam penelitian ini
adalah :
1) Bagaimana ketersediaan input ( bibit, pakan, kandang, modal, tenaga kerja )
untuk usaha ternak kelinci potong ?
2) Apakah usaha ternak kelinci potong layak dikembangkan secara ekonomis
di daerah penelitian ?
3) Bagaimana strategi ternak kelinci potong di masa depan ?

1.3. Tujuan peneilitan


Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan
dari penelitian ini adalah:
1) Mengidentifikasi ketersediaan input ( bibit, kandang, pakan. Modal, tenaga
kerja ) untuk usaha ternak kelinci potong di daerah penelitian.
2) Mengetahui apakah usaha ternak kelinci potong tersebut layak atau tidak
layak untuk dikembangkan secara ekonomis di daerah penelitian.
3) Menentukan strategi usaha ternak kelinci potong di masa depan.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:


1) Peternak, sebagai bahan informasi untuk mengembangkan ternak kelinci
potong di daerah-daerah.
2) Peneliti yang ingin mendapatkan informasi atau sebagai bahan referensi bagi
penelitiannya yang berhubungan dengan penelitian ini.
3) Pemerintah daerah sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
kebijakan pengembangan ternak kelinci di Kabupaten Bogor yang lebih baik
serta menyusun strategi yang optimal untuk meningkatkan kesejahteraan
peternak kelinci.

6
1.5. Ruang Lingkup

1) Ruang lingkup pada penelitian ini dilakukan dalam batasan regional


yaitu pada Kampoeng Kelinci Gunung Mulya Tendjolaya bogor
dengan komoditi kelinci.
2) Penelitian berfokus pada usaha ternak kelinci potong dan Strategi
pengembangan usaha ternak kelinci potong . Analisis yang akan
dilakukan pada penelitian yaitu analisis kelayakan usaha dan strategi
pengembangan usaha.
.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Tinjauan pustaka


Kelinci ternakan dibedakan dalam bermacam-macam ras. Masing-masing
ras memiliki tipe pemeliharaan yang berbeda, seperti untuk penghasil wool (bulu),
fur (bulu dan kulit), dwiguna (daging dan kulit), dan sebagai hewan peliharaan.
Ras kelinci yang diternakan dengan tujuan penghasil wool adalah ras Angora.
Untuk diambil fur, dapat memilih ras Silver atau Rex. Sedangkan untuk dwiguna,
memilih bibitan ras New Zealand White atauFlemish Giant. Untuk hewan
peliharaan adalah ras Polish, Lop atau Nederland Dwarf.
Sebelum melakukan usaha ternak keinci, terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh peternak, antara lain:
1) Pemilihan Bibit
Bibit kelinci dapat dilihat dari kondisi fisik kelinci yang prima mulai dari
kepala, telinga, mata, hidung, mulut, kaki, badan, bulu, ekor, hingga dubur.
Selain itu, pemilihan bibit juga harus memperhatikan keturunan (silsilah
keluarga) dan kesehatan reproduksi kelinci.
2) Pakan
Jenis, jumlah, dan mutu pakan yang diberikan sangat menentukan
pertumbuhan, kesehatan, dan perkembangan kelinci. Pakan yang pada
umumnya diberikan kepada kelinci berupa hijauan, hay, dan konsentrat.
3) Kandang dan Perlengkapan
Syarat pertama yang harus diperhatikan untuk membangun kandang kelinci
adalah cukupnya sinar matahari. Kandang dapat terbuat dari kombinasi
bambu, kawat, dan kayu. Kandang kelinci terbagi menjadi tiga tipe, yakni
battery,postal, dan ranch. Selain itu, kandang dilengkapi dengan tempat
pakan, minum, dan sarang beranak yang disesuaikan dengan budget peternak.
4) Perkembangbiakan
Dibandingkan dengan hewan ternak lainnya, kelinci termasuk hewan yang
intensitas melahirkan cukup tinggi. Dalam satu tahun, kelinci dapat
melahirkan 12 kali karena masa bunting hanya 30-35 hari dengan rata-rata
kelahiran 4-12 ekor anak.

iv
5) Pemuliaan
Pemulian bertujuan untuk mendapatkan indukan yang lebih baik dan
mempertahankan sifat yang spesifik pada kelinci. Pemulian kelinci dibedakan
dalam tiga kategori, yaitu cross breed, in breed, dan line breed.
6) Penyakit
Tingkat kematian kelinci berkisar antara 15-40 persen dari setiap
kelahiran. Salah satu penyebab tingginya tingkat kematian dari kelinci adalah
adanya penyakit. Penyakit yang umumnya menyerang kelinci adalah diare
dan buduk (scabies).

2.2. Agroindustri
Agroindustri merupkan salah satu subsistem agribisnis yang bermanfaat
untuk memberikan nilai tambah pada suatu komoditi. Agroindustri menjadi
sangat dibutuhkan dalam pengelolaan komiditi tertentu karena karakteristik
produk pertanianyang perishable, tidak tahan lama, dan bulky. Selain itu,
agroindustri dapat menyerap tenaga kerja sehingga pengangguran berkurang.
Menurut Supriyati et al (2006), struktur agroindustri berdasarkan jumlah tenaga
dibedakan menjadi empat skala industri adalah sebagai berikut:
1) Industri Rumah Tangga : 1-4 orang
2) Industri Kecil : 5-10 orang
3) Industri Menenga : 20-99 orang
4) Indstri Besar : 100 orang.
Dari keempat skala industri yang telah dijelaskan di atas, industri besar
memberikan kontribusi yang besar dalam memaksimalkan nilai tambah secara
optimal karena kualitas dan kontinuitas produk pertanian yang terjamin,
sumberdaya manusia yang kompeten, dan teknologi yang canggih. Akan tetapi,
industri skala rumah tangga yang memberikan kontribusi yang besar dalam
penyerapan tenaga kerja. Oleh sebab itu, diantara keempat skala industri pada
struktur agroindustri harus menjalinkan kerjasama untuk mencapai penyerapan
tenaga kerja dan nilai tambah yang optimal.

9
2.3. Agroindustri Kelinci
Kelinci termasuk kedalam hewan yang zero waste karena memiliki
manfaat mulai dari daging hingga limbah. Pengolahan yang dilakukan dapat
meningkatkan nilai tambah terhadap suatu komoditi. Pengolahan dari komoditi
kelinci dapat dibedakan menjadi 3 segmen, yaitu daging, kulit-bulu, dan manure.
1) Daging Kelinci
Daging kelinci termasuk dalam golongan daging putih karena memiliki serat yang halus.
Daging putih memiliki beberapa keunggulan, yaitu mengandung kadar lemak yang rendah
dan kadar protein yang tinggi. Keistimewaan dari daging kelinci adalah kadar kalori,
kolesterol, dan natrium yang rendah sehingga daging kelinci identik dengan daging sehat.
Daging kelinci dapat diolah menjadi beberapa produk yang telah diterima oleh konsumen.
Produk-produk yang dihasilkan, antara lain:
a) Nugget Kelinci
Nugget menjadi salah satu makanan olahan yang disajikan dalam waktu relatif singkat
sehingga popular di masyarakat. Nugget dapat dibuat dari berbagai jenis daging, salah
satuna adalah kelinci. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat produk ini antara
lain: daging, tepung sagu, bumbu, omega 3, dan tepung panir (tepung roti).
b) Bakso Kelinci
Bakso merupakan salah satu olahan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia.
Produk olahan yang berbahan baku daging kelinci dengan campuran beberapa bahan
penunjang seperti tepung sagu dan bumbu memiliki cita rasa tinggi. Salah satu produsen
yang memproduksi bakso kelinci adalah Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) di
Bogor.
c) Sosis Kelinci
Asal usul nama sosis berasal dari bahasa latin yakni salsus yang berarti diawetkan
dengan garam. Sosis merupakan makanan yang berbahan dasar daging halus sicampur
dengan tepung dan bumbu serta dimasukan kedalam pembungkus. Bahan pembuatan
bakso hampir sama dengan bakso, tetapi sosis memerlukan bahan pelengkap berupa
pembungkus (casing).

10
d) Sate Kelinci
Sate kelinci menjadi salah satu makanan khas daerah pengunungan, seperti Bandung
dan Puncak. Sate kelinci memiliki cita rasa yang unik dan tekstur daging yang lembut
sehingga digemari oleh konsumen. Bahan pembuatan sate kelinci terdiri dari daging,
bumbu, kecap, bawang, dan cabai rawit.
2) Kulit-Bulu Kelinci
Kulit-bulu merupakan produk lain dari kelinci yang potensial untuk diolah. Kulit-bulu
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakaian berbulu, jaket, selendang, tas, dompet, dan
boneka. Pasar kulit bulu terdapat di beberapa negara Eropa, Rusia, Amerika Serikat, dan Asia
Utara. Harga satu lembar kulit-bulu kelinci berkisar antara US$ 15-18 per lembar.
3) Manure Kelinci
Manure atau kotoran kelinci memiliki nilai guna yang baik bagi pertumbuhan tanaman
karena dapat diolah menjadi pupuk cair dan kompos. Air seni kelinci bisa diolah menjadi
penyubur tanaman anggrek dan pembasmi penyakit di daun, sedangkan kotorannya dapat
diolah menjadi kompos organik.

2.4. Tinjauan Penelitian Terdahulu


Penelitian mengenai studi kelayakan pada komoditi peternakan sudah banyak dilakukan
oleh beberapa peneliti sebelumnya, seperti Nugroho (2000), Sumiarti (2004), Widagdho (2008),
dan Syafrul (2010). Widhagdho (2008) dan Sumiarti (2004) melakukan penelitian pada komoditi
kelinci, sedangkan Nugroho (2000) dan Syafrul (2010) melakukan penelitian pada komoditi sapi.
Penelitian yang dilakukan oleh Widagdho (2008), dan Syafrul (2010) menganalisis dengan
menggunakan NPV, Net B/C, IRR, dan PP. Namun, Sumiarti (2004) tidak memasukan Net B/C
sebagai alat analisis dan menggantinya dengan Gross B/C. Nugroho (2000) juga tidak memasukan
alat analisis kelayakan PP dalam perhitungan.
Aspek-aspek yang dianalisis oleh Widagdho (2008), Sumiarti (2004), dan Syafrul (2010)
dibedakan atas dua aspek utama, yakni aspek finansial dan aspek non-finansial. Tetapi, Nugroho
(2000) hanya menganalisis dari segi aspek

11
finansial saja. Dari analisis yang dilakukan oleh keempat peneliti sebelumnya, usaha yang akan
dijalankan layak untuk dikembangkan.
Widagdho (2008) menggunakan tiga skenario untuk menggambarkan pilihan-pilihan pada
pengusahaan kelinci. Dari hasil analisis, skenario pertama yang paling menguntungkan dan
sebaiknya dilakukan oleh pelaku bisnis karena budidaya anakan kelinci dan penjualan kelinci
daging lebih profitable. Sumiarti (2004) menggunakan empat skenario dan Syafrul (2010)
menggunakan dua skenario. Nugroho (2000) tidak menggunakan skenario dalam menganalisis
kelayakan usaha.
Widagdho (2008) dan Syafrul (2010) hanya menganalisis kelayakan usaha pada tempat
penelitiannya, tetapi Sumiarti (2004) menambahkan analisis usahatani dalam perhitungan dengan
alat analisisnya adalah sistem bagi hasil. Hal tersebut juga serupa dengan Nugroho (2000) yang
menggunakan analisis nilai tambah metode Hayami untuk memperkuat kelayakan usaha
pengolahan susu murni Milk Treatment di KPBS Pengalengan. Perbedaan dan persamaan antara
penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Perbedaan dan Persamaan dengan Penelitian Terdahulu


No. Penelitian/Tahun Persamaan Perbedaan
1. Nugroho / 2000 Menganalisis kelayakan usaha Selain menghitung aspek
ternak sapi hanya berdasarkan finansial dan nilai tambah,
aspek finansial dan diperlukan analisis aspek
menghitung nilai tambah pada non-finansial, seperti
unit pengolahan susu. aspek pasar, aspek teknis,
aspek manajemen dan
hukum, aspek sosial,
ekonomi dan budaya,
serta aspek lingkungan.
2. Sumiarti / 2004 Menganalisis kelayakan usaha Menghitung nilai tambah
ternak kelinci berdasarkan olahan daging kelinci.
aspek finansial dan aspek non-
finansial.
3. Widagdho / 2008 Menganalisis kelayakan usaha Dilakukan pada
ternak kelinci berdasarkan peternakan rakyat di
aspek finansial dan non- Kabupaten Bogor dan
finansial pada sebuah menghitung nilai tambah
peternakan kelinci. olahan kelinci.
4. Syafrul / 2010 Menganalisis kelayakan usaha Menghitung nilai tambah
yoghurt berdasarkan aspek olahan kelinci pada unit
finansial dan aspek non- usaha pengolahan
finansial. KOPNAKCI.

12
I KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis


Pada subbab ini, akan dijelaskan mengenai teori dan konsep yang
berhubungan dengan penelitian analisis kelayakan usaha ternak kelinciserta nilai
tambah pengolahan daging kelinci menjadi nugget dan bakso pada Koperasi
Peternak Kelinci, Bogor.

3.1.1. Studi Kelayakan Bisnis


Sebuah studi kelayakan dapat ditelaah pada awal kegiatan ataupun pada saat kegiatan
tersebut telah berlangsung. Kebutuhan studi kelayakan ini terkait dengan investasi yang ditanam
oleh beberapa pihak. Investasi adalah penanaman modal yang berjangka waktu lama dengan
harapan manfaat dapat dinikmati di masa yang akan datang.
Pihak-pihak yang membutuhkan laporan dari kelayakan bisnis, diantaranya:
1) Pihak Investor
Calon investor akan mempelajari laporan kelayakan bisnis yang telah dibuat karena
mereka memiliki kepentingan langsung tentang keuntungan yang dapat diperoleh serta
jaminan atas modal yang telah ditanam.
2) Pihak Kreditor
Calon kreditor perlu mempertimbangkan laporan kelayakan bisnis yang telah dibuat
dengan melihat tingkat bonafiditas dan agunan yang dimiliki oleh perusahaan.
3) Pihak Manajemen Perusahaan
Hasil laporan kelayakan bisnis dapat berguna bagi perusahaan dalam mengambil langkah-
langkah strategis yang perlu dilakukan kedepannya serta alokasi pendanaan internal ataupun
pendanaan eksternal.
4) Pihak Pemerintah dan Masyarakat
Penyusunan studi kelayakan bisnis secara tidak langsung dipengaruhi oleh adanya
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Proyek-proyek bisnis yang mendukung
kebijakan pemerintah tentunya akan dijadikan prioritas
5) Bagi Tujuan Pembangunan Ekonomi
Dengan adanya kelayakan pada sebuah proyek ataupun bisnis dapat berkontribusi bagi
pendapatan daerah setempat sehingga terjadi peningkatan taraf kehidupan masyarakat,
khususnya di sekitar usaha.
Secara garis besar, kelayakan dibagi menjadi dua kelompok aspek, yaitu aspek kelayakan
finansial dan aspek kelayakan non-finansial. Aspek kelayakan finansial dapat pula dikatakan
sebagai aspek keuangan, sedangkan aspek non-finansial terdiri dari lima aspek terkait. Setiap
aspek yang dianalisis saling terkait sehingga hasil analisis aspek-aspeknya pun menjadi
terintergasi.
1) Aspek Pasar
Pada aspek pasar, hal-hal yang diperhatikan dalam analisis adalah tersedianya pasar
potensial bagi produk yang akan dihasilkan. Analisis aspek pasar bertujuan untuk melihat
seberapa besar luas pasar, harga, perkiraan penjualan, pertumbuhan permintaan, dan market
share dari produk. Menurut Nurmalinaet al. (2010), aspek pemasaran terkait pula dengan
pemasaran. Bauran pemasaran dan strategi pemasaran adalah beberapa langkah yang dapat
dikaji oleh pelaku usha. Untuk bauran pemasaran, dikenal dengan istilah 4P, yakniproduct,
price, promotion, dan place. Strategi pemasaran terdiri atas segmentation, targeting, dan
positioning. Penentuan lokasi distribusi dan tempat penjualan produk menjadi pelengkap
yang harus dipenuhi untuk memasarkan produk.
2) Aspek Teknis
Aspek teknis teknis berhubungan dengan kegiatan operasional sebuah usaha yang
mengubah faktor-faktor produksi menjadi produk yang bernilai ekonomis. Hal-hal yang perlu
dipahami dalam menganalisis aspek teknis, antara lain:
a) Penentuan lokasi usaha
Penentuan lokasi usaha dipengaruhi oleh beberapa variabel utama seperti
ketersediaan bahan baku, letak pasar yang ingin digapai, dan ketersediaan sarana dan
prasarana penunjang.
b) Penentuan luas produksi

14
Luasan produksi dibatasi oleh adanya permintaan pasar, kapasitas mesin, bahan
baku yang dipergunakan, dan ketersedian bahan baku pendukung.
c) Pemilihan teknologi dan mesin
Teknologi dan mesin yang sangat modern belum tentu sesuai dengan keberadaan
bisnis yang ada. Masing-masing mesin yang ada memiliki umur ekonomis yang berbeda
sehingga diperlukan biaya perawatan yang berbeda pula.
d) Penentuan lay-out usaha
Lay-out yang baik harus memperhatikan jarak antara produksi dan penjualan
sehingga meminimalkan biaya produksi.
3) Aspek Manajemen dan Hukum
Aspek manajemen mempelajari struktur organisasi yang jelas dengan
garis tanggung jawab yang tegas diantara pihak-pihak yang terlibat. Jumlah
tenaga kerja juga perlu disesuaikan dengan skala bisnis serta bentuk badan
usaha yang akan dijalankan.Hal-hal yang perlu dipahami pada aspek hukum
adalah jenis-jenis badan usaha karena bergantung pada jumlah modal yang
dibutuhkan dan jumlah pemilik. Jenis-jenis badan hukum yang ada di
Indonesia, antara lain: perusahaan perseorangan, firma, perserikatan
komanditer, perseroan terbatas, yayasan, dan koperasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menganalisis aspek hukum adalah bentuk
badan usaha yang dijalankan, perizinan dari instansi pemerintah, serta kelengkapan pendirian
usaha (akta tanah, NPWP, PBB, IMB, dan susunan pengurus koperasi).
4) Aspek Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Keberadaan dari sebuah bisnis diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat setempat melalui penyerapan tenaga kerja untuk mengurangi adanya
pengangguran. Disamping itu, bisnis harus menyesuaikan dengan kebudayaan yang ada di
lokasi sekitar bisnis agar tidak timbul konflik.Hal-hal yang harus digali pada aspek sosial,
ekonomi dan budaya di sebuah usaha, yaitu:

15
a) Pengaruh keberadaan bisnis terhadap perkembangan sarana prasarana sebagai salah satu
pemenuhan fasilitas di masyarakat sekitar.
b) Peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar sebagai akibat keberadaaan bisnis melalui
penyerapan tenaga kerja.
c) Peranan bisnis yang dilakukan terhadap daerah setempat, misalnya untuk bisnis skala
besar yang berkontribusi terhadap PDRB.
d) Pengaruh struktur kebudayaan yang mengakar di masyarakat di sekeliling bisnis.
e) Pengaruh pertumbuhan penduduk yang berakibat pada perubahan komposisi tingkat
tenaga kerja, dilihat dari tingkat pastisipasi angkatan kerja maupun tingkat
pengangguran (khususnya usaha berskala besar).
5) Aspek Lingkungan
Informasi yang biasanya digali pada aspek ini berkisar kondisi lingkungan yang
mendukung bisnis, dampak yang ditimbulkan setelah adanya bisnis, serta kemampuan usaha
untuk meminimalisasi dampak-dampak (jika bisnis berdampak negatif). Cara meminimalisasi
dampak melalui penanganan dan pengolahan terhadap limbah bisnis.
6) Aspek Keuangan
Pada aspek keuangan, dana pembiayaan menjadi hal terpenting yang perlu
diperhatikan. Sumber pembiayaan pun dapat berasal dari modal pribadi ataupun pinjaman.
Sumber permodalan berupa pinjaman memperhatikan tingkat suku bunga pinjaman agar
selama waktu pengembalian tidak tersendat. Hal-hal yang harus diperhatikan pada aspek
keuangan, antara lain:
a) Mengetahui komponen biaya-biaya yang diperlukan selama bisnis berlangsung.
b) Sumber-sumber pendanaan selama bisnis berlangsung.
c) Mengetahui kebutuhan biaya investasi yang diperlukan selama bisnis dijalankan.
d) Mengerahui kebutuhan biaya operasional (biaya tetap dan biaya variabel) yang
dibutuhkan selama bisnis dijalankan.

16
e) Kriteria penilaian investasi dengan bantuan beberapa metode analisis yang menilai
kelayakan bisnis tersebut.

3.1.2. Teori Biaya dan Manfaat


Pada dasarnya, tujuan dilakukannya analisis kelayakan bisnis adalah untuk
membandingkan biaya dan manfaat dari kegiatan usaha. Bisnis atau proyek dianggap layak ketika
manfaat yang diterima oleh pelaku usaha lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan selama
siklus produksi. Komponen biaya yang biasanya diperhitungkan dalam analisis kelayakan sebagai
pengeluaran pada awal maupun bisnis berlangsung, antara lain:
1) Biaya Investasi
Investasi adalah sejumlah uang yang dikeluarkan pada awal kegiatan dengan harapan
mendapatkan sejumlah manfaat dikemudian hari. Komponen yang termasuk dalam biaya
investasi, seperti tanah, mesin, dan gedung.
2) Biaya operasional
Biaya operasional adalah sejumlah uang yang dikeluarkan setiap kegiatan
berproduksi. Tidak seperti biaya investasi, biaya operasional dihitung dalam setiap kegiatan
produksi. Biaya operasional dibedakan menjadi dua komponen, yaitu :
a) Biaya tetap
Biaya tetap adalah pengeluaran selama kegiatan produksi yang tidak dipengaruhi
oleh perkembangan produksi. Yang termasuk kedalam biaya tetap, antara lain gaji,
telepon, listrik, dan asuransi karyawan.
b) Biaya variabel
Biaya variabel adalah pengeluaran yang diperngaruhi oleh perkembangan
produksi ataupun penjualan setiap kegiatan. Yang termasuk dalam komponen ini adalah
biaya pembelian input, sarana produksi, dan upah tenaga kerja.
Manfaat adalah nilai yang diperoleh setelah kegiatan produksi
berlangsung. Untuk mempermudah mengukur manfaat dari kegiatan produksi,
biasanya manfaat tersebut dikonversikan dalam mata uang.

17
3.1.3. Analisis Kriteria Investasi
Dalam studi kelayakan bisnis, besarnya investasi perlu dianalisis untuk melihat kondisi
aliran kas pada sebuah usaha. Metode yang umumnya digunakan untuk mengkaji investasi adalah
metode discounted cash flowdimana nilai manfaat dan biaya setiap tahun perlu didiskonto
menggunakan discount factor (DF). Kriteria investasi yang umumnya digunakan untuk menilai
layak atau tidak sebuah kegiatan usaha adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio
(Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Discounted Payback Period (DPP).
Net Present Value (NPV) merupakan manfaat bersih tambahan yang diterima selama
umur bisnis pada tingkat discount factor tertentu. Oleh karena itu, untuk melakukan perhitungan
kelayakan investasi dengan kriteria NPV dibutuhkan data aliran kas keluar awal, aliran kas masuk
bersih di masa yang akan datang, dan rate of return minimum yang diinginkan.
Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) adalah manfaat bersih yang menguntungkan bisnis yang
dihasilkan terhadap setiap satu satuan kerugian dari bisnis tersebut. Jadi, Net B/C diukur
berdasarkan perbandingan total manfaat bersih sekarang yag bernilai positif dengan total manfaat
bersih sekarang yang bernilai negatif.
Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode penilaian kelayakan investasi yang
digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang
diharapkan di masa yang akan datang. Metode interpolasi digunakan dalam perhitungan untuk
mengetahui tingkat bunga tersebut dengan cara trial and error.
Discounted Payback Period (DPP) merupakan alat analisis untuk
mengetahui seberapa cepat investasi bisa kembali (Nurmalina et al. 2010).
Kegiatan produksi dikatakan layak jika nilai PP lebih kecil dibandingkan umur
ekonomis dari investasi terbesar.

3.1.4. Analisis Sensitivitas


Analisis sensitivitas melihat perubahan-perubahan yang terjadi disekitar bisnis yang akan
atau sedang berjalan yang dapat mempengaruhi kelayakan dari bisnis tersebut. Menurut Gittinger
(1986), perubahan tersebut dapat terjadi pada

18
faktor input, faktor output ataupun keduanya. Perubahan dari faktor-faktor tersebut akan
mempengaruhi nilai dari NPV, Net B/C, dan IRR. Perubahan-perubahan yang biasanya terjadi
dalam bisnis, antara lain : harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan dalam biaya, dan hasil
produksi.

3.1.5. Konsep Nilai Tambah


Nilai tambah adalah pertambahan nilai dari suatu produk yang ditimbulkan karena
adanya suatu aktivitas khusus, baik dalam hal pengolahan ataupun pemasaran. Produk pertanian
yang memiliki karakteristik mudah rusak dan bulky memerlukan teknologi dalam hal pemasaran
maupun pengolahan. Melalui proses pengolahan, produk pertanian akan berubah bentuk serta
fungsinya. Salah satu metode yang bertujuan untuk mengukur nilai tambah pada pengolahan
komoditi adalah metode Hayami.
Menurut Hayami (1987), kegiatan pengolahan produk pertanian dapat diklasifikasikan
menjadi tiga tahap. Tahap pertama, pengolahan dilakukan dalam skala rumah tangga yang masih
sangat sederhana. Tahap kedua, pengolahan dilakukan dalam skala industri rumahan. Tahap
ketiga, pengolahan produk pertanian dilakukana dalam skala pabrik-pabrik kecil. Perbedaan
diantara ketiga tahapan aktivitas pengolahan produk pertanian terletak pada penggunaan modal
berupa tenaga kerja.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah selama proses pengolahan dilihat dari dua
aspek, yakni aspek teknis dan aspek pasar. Aspek teknis yang mempengaruhi terdiri atas kapasitas
produk, jumlah bahan baku yang akan digunakan dan tenaga kerja, sedangkan aspek pasar yang
mempengaruhi adalah harga ouput, upah tenaga kerja, harga bahan baku, dan nilai input lain selain
bahan baku dan tenaga kerja.
Dasar dari perhitungan analisis nilai tambah adalah per kg hasil, standar harga yang
digunakan untuk bahan baku dan produksi ditingkat pengolah atau produsen. Nilai tambah
menggambarkan imbalan bagi tenaga kerja, modal, dan manajemen industri. Informasi yang
dihasilkan dari Metode Nilai Tambah Hayami pada proses pengolahan, antara lain:
1) Perkiraan besarnya nilai tambah (Rp).

19
2) Imbalan bagi tenaga kerja (Rp), menunjukkan besarnya upah yag diterima tenaga kerja
langsung.
3) Keuntungan pengolahan (Rp), menunjukkan bagian yang diterima pengusaha karena
menanggung risiko usaha.
4) Marjin pengolahan (Rp), menunjukan kontribusi pemiliki faktor produksi selain bahan baku
yang digunakan dalam proses produksi.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional


Kelinci merupakan salah satu sumber protein hewani yang baik untuk kesehatan karena
mengandung kadar kolesterol yang rendah dan protein yang tinggi. Beberapa daerah di Indonesia
tengah mengembangkan potensi pengembangan agribisnis kelinci, salah satunya adalah Bogor.
Pengembangan agribisnis kelinci didukung oleh adanya keputusan Kementerian Pertanian
Republik Indonesia yang diwakili oleh Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan
Kesehatan Hewan. Desa yang berkesempatan menjadi role model pengembangan kelinci tersebut
adalah Desa Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.3
Pengembangan kawasan ini bekerjasama dengan Koperasi Peternak Kelinci
(KOPNAKCI). Pada umumnya, peternak menjual sebatas kelinci anakan karena risiko yang lebih
kecil. Salah satu unit usaha yang ada di KOPNAKCI adalah unit pengolahan daging kelinci. Unit
pengolahan ini beroperasi dua kali dalam seminggu dimana setiap produksi membutuhkan 10 ekor
kelinci yang diterima dari anggota koperasi.
Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mengetahui kelayakan usaha ternak
kelinci yang dilihat dari dua aspek, yakni aspek finansial dan aspek non-finansial. Selain itu,
melihat perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dengan menggunakan metode switchingvalue.
Pengolahan daging kelinci tentunya akan memberikan nilai tambah pada komoditi ini, sehingga
diperlukan pula analisis nilai tambah pada pengolahan dengan metode Hayami. Hasil dari analisis
tersebut akan dilihat layak atau tidaknya bisnis ini dikembangkan. Untuk

3
http://www.beritabogor.com/2011/09/koperasi-peternak-kelinci-bogor.html

20
memperjelas kerangka penelitian , dapat dilihat pada Gambar 1.

Isu Nasional:
1. Kurangnya pasokan daging nasional
2. Pemenuhan kebutuhan gizi
3. Kelinci sebagai alternatif sumber protein hewani

Pengembangan Agribisnis Kelinci

Usaha Ternak Unit Usaha: Pengolahan


Kelinci Daging Kelinci

Skenario I: Skenario II: Nugget Bakso


Kelinci Anakan Kelinci Potong

Kelayakan Usaha Nilai Tambah


Aspek Non- Aspek
Finansial: Finansial:
1. Pasar 1. NPV
2. Teknis 2. Net B/C
3. Manajemen 3. IRR
Hukum 4. DPP
4. Sosial 5. Sensitivitas
Ekonomi dan
Budaya
5. Lingkungan

Layak Tidak Layak

Pengembangan Evaluasi

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional

21
II METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan di Kampoeng Kelinci Gunung Mulya Kecamatan
Tendjolaya Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian
ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kampoeng
Kelinci merupakan daerah dengan populasi kelinci terbanyak di tahun 2012 di
KabupatenBogor dan merupakan program Direktorat Jendral Peternakan Dan
kesehatan Hewan Republik Indonesia. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan
January hingga Maret 2012.

4.2. Metode Penentuan Sampel


Sampel dari penelitian adalah peternak kelinci yang berada di daerah
kampoeng, desa Gunung mulya kecamatan tendjolaya kabupateng bogor. Jumlah
peternak kelinci di desa tendjolaya adalah 50 KK dan untuk populasi ternak
kelinci di Kampoeng kelinci desa gunung mulya sebanyak 800 ekor. Sampel
ditentukan dengan metode simple random sampling yaitu pengambilan sample
secara acak sederhana. Sample dalam penelitian ini adalah peternak kelinci di
desa gunung mulya kecamatan tendjolaya dengan jumlah 20 responden.

4.3. Metode Pengumpulan Data


Data yang dipergunakan dalam penelitian ni berupa data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dan wawancara
dengan para peternak dengan menggunakan daftar kuisioner yang telah di
persiapkan sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi instansi terkait
seperti Badan Pusat Statistik, Dinas Peternakan Kabupaten Bogor, dan Direktorat
Jenderal Peternakan.

4.4. Metode Analisis Data


Hipotesis 1 di uji dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu dengan
mengamati sejauh mana ketersediaan input ( lahan pengembangan, kandang,
pakan, tenaga kerja, dan modal ) di daerah penelitian.
Hipotesis 2 di uji dengan Return Of Invesment ( ROI ) yang merupakan
suatu ukuran rasio untuk mengetahui tingkat pengembalian modal usaha.
Komponen pada analisis ini adalah pendapatan bersih dan jumlah pendapatan
modal.

Dengan rumus sebagai berikut :

Pendapatan Bersih ( Net Income )


X 100 %
ROI = Total Aser ( Modal )

Keterangan :

- Jika ROI > tingkat suku bunga bank yang berlaku, maka
usaha ini layak untuk dilaksanakan .
- Jika ROI < tingkat suku bungayang berlaku, maka usaha
ini tidak layak untuk dilaksanakan.

Hipotesis 3 di uji dengan menggunakan matrik SWOT. Matrik ini


menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang
dihadapi peternak kelinci potong di daerah penelitian dan disesuaikan dengan
kelemahan yang dimilikinya. Berdasarkan gambaran tersebut kita akan dapat
melihat bagaimana strategi pengembangan usaha ternak kelinci potong di daerah
penelitian.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Bogor


Secara georgrafis, Kabupaten Bogor terletak pada koordinat 6 o18’ 6o47’10 LS dan
106o23’45 – 107o13’30 BT. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Jakarta ini memiliki luas
wilayah daratan sebesar 298.838.304 hektar. Batas administrasi Kabupaten Bogor sebagai berikut:
Utara : Kabupaten Tangerang dan Kota Bekasi
Selatan : Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur
Barat : Kabupaten Lebak (Provinsi Banten)
Timur : Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Karawang
Tengah : Kota Bogor
Bogor memiliki curah hujan yang tinggi kurang lebih 4000 mm per tahun dengan
ketinggian wilayah sekitar 100 – 2500 m dpl sehingga sangat cocok untuk usaha pertanian. Usaha
pertanian yang dimaksud tidak dalam arti sempit, melainkan termasuk perkebunan, perikanan,
peternakan, dan kehutanan.
Salah satu pertanian yang potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Bogor adalah
peternakan. Pengembangan sub sektor peternakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan protein hewani serta meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui
penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Komoditi unggulan peternakan dari
Kabupaten Bogor antara lain domba, kambing, sapi perah, sapi potong, dan beberapa jenis ayam.
Berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjennak), sub sektor peternakan
tengah mengembangkan komoditi aneka ternak. Pengembangan aneka ternak diluar ternak besar
dan kecil dijadikan sebagai pilot project yang bertujuan untuk merealisasikan swasembada daging
Indonesia pada tahun 2014. Hewan-hewan yang termasuk dalam aneka ternak adalah burung
puyuh, kelinci, dan merpati. Kawasan yang menjadi salah satu basis pengembangan aneka ternak
adalah Bogor.
Pilot Project yang ditetapkan oleh Ditjennak berupa pengembangan komoditi kelinci di
Kabupaten Bogor. Pilot Project sedang dipersiapkan melalui pencanangan “Kampung Kelinci”.
Kampung kelinci merupakan salah satu kawasan terintegrasi yang mengembangkan kelinci
sebagai hewan ternak utama
mulai dari sub sistem hulu hingga sub sistem hilir. Kampung kelinci juga menyediakan segala
informasi terkait budidaya, manfaat, dan pengolahan kelinci. Lokasi kampung kelinci berada di
daerah Tenjolaya, desa Gunung Mulya. Dalam pengelolaannya, Ditjennak bekerja sama dengan
Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) dalam hal mengatur, melaksanakan, dan mengawasi
penyelenggaraan Kampung Kelinci.

5.2. Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI)


Koperasi Peternak Kelinci atau yang dikenal dengan KOPNAKCI didirikan pada tanggal
17 Mei 2011 atas gagasan beberapa orang SMD. SMD adalah singkatan dari Sarjana Membangun
Desa yang memiliki visi dan misi untuk memajukan pertanian, khususnya pada sektor peternakan.
Pada awalnya, KOPNAKCI dibentuk atas dasar pertimbangan :
1) Komoditas kelinci dapat dijadikan sebagai subsitusi penghasil protein hewani berupa daging
dalam upaya peningkatan kualitas masyarakat dalam hal.
2) Komoditas kelinci sedang pada tahap pengembangan oleh pemerintah pusat dan ditargetkan
menjadi salah satu komoditas pilihan pengganti sapi dan hewan ternak lainnya.
3) Sebagai wadah dan sarana untuk menampung aspirasi peternak kelinci di Kabupaten Bogor
untuk mencapai skala ekonomis dan kapasitas produksi yang besar serta memiliki
bargaining position.
4) Sebagai pusat informasi bagi peternak kelinci yang menjadi anggota koperasi baik dalam hal
budidaya maupun pemasaran.
5) Untuk mengembangkan komoditas kelinci sebagai one village, one product di Kabupaten
Bogor.
6) Koperasi terbentuk dari program Sarjana Membangun Desa (SMD) di wilayah Bogor untuk
membantu para peternak menghadapi berbagai permasalahan yang muncul selama
pengusahaan ternak kelinci.
Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) Bogor yang baru genap satu tahun pada bulan
Mei telah memiliki 23 kelompok peternak di Kabupaten Bogor (Lampiran 2). Berdasarkan SK
Dinas Peternakan Kabupaten Bogor, Koperasi peternak kelinci (KOPNAKCI) memiliki 8 daerah
pengembangan, yaitu:

31
Tenjolaya, Pamijahan, Ciomas, Dramaga, Tamansari, Cibungbulang, Ciampea, Cijeruk, dan
Kemang.
Struktur organisasi KOPNAKCI terdiri atas pengurus dan badan pengawas di bawah
lembaga-lembaga terkait, seperti Disnak Kabupaten Bogor, Dinas Perindustrian Kabupaten Bogor,
Fakultas Peternakan IPB, Balitnak Kementan RI, Ditjennak RI, dan Himakindo. Pengurus
bertugas untuk melaksanakan kegiatan koperasi yang memiliki keterampilan bekerja memadai,
sedangkan badan pengawas bertugas untuk mengontrol kegiatan yang berlangsung di koperasi.
Badan pengurus KOPNAKCI terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, dan
bendahara.
Berdasarkan AD/AR tahun 2011, KOPNAKCI menyelenggarakan rapat
anggota setiap bulan. Tujuan diadakannya rapat bulanan adalah untuk membahas
pemasalahan seputar usaha ternak kelinci serta menemukan solusi diantara
anggota koperasi. Setiap akhir tahun KOPNAKCI mengadakan evaluasi kegiatan
selama satu tahun pada rapat anggota tahunan. KOPNAKCI memiliki enam unit
usaha, yakni unit feedmill, unit fertilizer, unit holding ground, unit meat
processing, unit fur processing, dan unit breeding center.

5.2.1. Anggota KOPNAKCI


Peternak yang tergabung dalam KOPNAKCI melakukan usaha ternak kelinci tersebar di
Kabupaten Bogor. Orientasi usaha ternak dibedakan menjadi dua, yakni kelinci anakan dan kelinci
potong. Sebagian besar anggota KOPNAKCI hanya menjual ternak sebatas kelinci anakan. Dari
23 kelompok yang telah terdaftar sebagai anggota, hanya ada satu kelompok yang menjual kelinci
potong berumur empat bulan yakni Kelompok SK2R. Jenis kelinci yang diorientasian sebagai
kelinci potong adalah jenis New Zealand White. Persentase kelompok ternak kelinci yang menjual
kelinci anakan dan kelinci potong adalah 95,65 persen berbanding 4,35 persen.
Untuk orientasi usaha ternak kelinci anakan, jenis kelinci yang dijual oleh
para peternak pun sangat beragam, mulai dari jenis New Zealand White hingga
Angora. Perbedaan jenis kelinci juga mempengaruhi harga jual yang ditetapkan
oleh peternak. Kelinci anakan jenis New ZealandWhite yang berumur satu bulan
dikenakan harga jual sebesar Rp 12.000 per ekor, sedangkan jenis Nederland

32
Dwarf dijual seharga Rp 50.000. Jenis kelinci anakan yang akan dibudidayakan
oleh peternak antara lain New Zealand White, Nederland Dwarf, Resa, English
Angora, Jersey Wolly,Fussy Lop, dan English Spot (Lampiran 3).

5.2.2. Unit Usaha Dapur Kebita


Salah satu unit bisnis pada Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) yang memberikan
nilai tambah pada komoditi kelinci adalah unit pengolahan daging kelinci. Unit pengolahan daging
kelinci disebut pula dengan nama “Dapur Kebita”. Dapur Kebita telah didirikan sejak bulan Maret
2011 dengan pendiri yaitu Nengsih Kumala Sari. Adapun tujuan didirikannya Dapur Kebita, antara
lain:
1) Merupakan program SMD (Sarjana Membangun Desa) yang menjadi hasil Rapat Umum
untuk mendirikan pengolahan daging kelinci.
2) Untuk melaksanakan sistem agribisnis dari hulu hingga hilir pada komoditi kelinci.
3) Untuk mensejahterahkan peternak kelinci (khususnya bagi anggota KOPNAKCI).
4) Sebagai wadah sosialisasi bahwa produk kelinci aman dan layak dikonsumsi serta sehat
bagi penderita kolesterol.
5) Memberikan nilai tambah pada komoditi kelinci melalui pengolahan daging kelinci menjadi
berbagai macam produk olahan.
Dapur Kebita beroperasi dua kali dalam semiggu, yakni di hari Selasa dan Sabtu. Produk
daging kelinci yang dihasilkan oleh Dapur Kebita dibedakan menjadi dua, yaitu produk olahan dan
produk masakan. Produk olahan kelinci terdiri dari nugget, baso, tahu, cilok, dan dendeng,
sedangkan produk masakan kelinci terdiri dari ungkeb dan drumstick kelinci. Perbedaan dari kedua
produk ini adalah kontinuitas produksi dimana produk masakan kelinci diproduksi jika ada
pesanan khusus. Produk-produk daging kelinci dijual dengan harga yang berbeda,seperti nugget
dijual dengan harga Rp 20.000 per 250 gram, bakso seharga Rp 15.000 per 200 gram, tahu seharga
Rp 17.500/200 gram, dan cilok dijual dengan harga Rp 30.000 per 300 tusuk.
Tenaga kerja yang dipekerjakan berjumlah tiga orang. Dua orang bertugas untuk
melakukan pemotongan dan pemisahan daging kelinci dari kulit dan tulang,

33
sedangkan satu orang lainnya bertugas selama proses pengolahan, pemasakan, dan pengemasan
produk olahan kelinci. Untuk memudahkan pengolahan daging kelinci, Dapur Kebita
menggunakan beberapa alat dan mesin sebagai investasi usaha seperti food processor,
meatgrinder, alat pengukus, blender, mixer, cooler, dan vacuum siller. Harga masing-masing
investasi yang digunakan pada unit usaha pengolahan daging kelinci “Dapur Kebita” adalah
sebagai berikut:
1) Food Processor : Rp 1.000.000
2) Meat Grinder : Rp 500.000
3) Alat Pengukus : Rp 400.000
4) Blender : Rp 400.000
5) Mixer : Rp 400.000
6) Cooler : Rp 1.000.000
7) Vacuum Siller : Rp 1.200.000

5.3. Karaktertistik Responden


Karakteristik responden yang dibahas meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, ,
dan pengalaman beternak.. Responden merupakan peternak kelinci yang menjadi anggota
KOPNAKCI.Jumlah peternak yang diwawancarai dalam tahap pengambilan data sebanyak 17
orang. Akan tetapi, yang diambil hanya 15 responden dengan alasan responden masih melakukan
usaha ternak kelinci lebih dari satu tahun. Mayoritas responden berjenis kelamin pria dengan
persentase sebesar 93,332 persen. Responden yang berjenis kelamin wanita hanya satu orang
yakni Nengsih Kumala Sari dari Kelompok Ternak Binatani di Pasir Eurih.
Umur responden di Koperasi Peternak Kelinci berkisar antara 18 tahun sampai 53 tahun.
Hal ini menggambarkan bahwa responden masih sangat produktif untuk melakukan usaha ternak
kelinci dengan rata-rata umur terdistribusi dari 21-30 tahun sebesar 33,33 persen.
Tingkat pendidikan yang telah dilalui oleh responden sangat beragam,
mulai dari lulusan Sekolah Dasar hingga pasca sarjana. Rata-rata responden
merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 6 orang dengan
persentase sebesar 40 persen. Responden yang menjadi anggota KOPNAKCI
dapat dikatakan telah menerima pendidikan formal yang mencukupi.

34
IIIANALISIS KELAYAKAN ASPEK NON-FINANSIAL

Pada Bab VI akan membahas mengenai analisis kelayakan usaha ternak


kelinci yang dilihat dari aspek non-finansial. Aspek non-finansial terdiri dari
aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum, sosial, ekonomi dan budaya serta
lingkungan.

6.1. Aspek Pasar


Pada umumnya, kelinci yang dijual adalah kelinci anakan. Kelinci yang sudah siap dijual
biasanya telah berumur satu bulan (lepas sapih). Penjualan kelinci anakan yang mampu dipenuhi
oleh peternak berkisar antara 10-100 ekor per minggu dengan rata-rata penjualan sebesar 50 ekor
per minggu. Permintaan kelinci anakan rata-rata sebanyak 100 ekor per minggu sehingga supply
dan demand kelinci anakan terdapat gap. Hal ini menunjukan potensi bagi peternak untuk
memperluas skala usaha agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Besar kecilnya penawaran
yang dilakukan oleh responden tergantung oleh beberapa faktor, seperti kondisi cuaca sekitar.
Aspek pasar yang selanjutnya akan dikaji adalah bauran pemasaran dengan istilah 4P,
yaitu product, price, promotion, dan place, sedangkan siklus kehidupan produk dapat dilihat pada
Lampiran 4. Responden menjual kelinci anakan lokal dan kelinci anakan ras. Kelinci anakan ras
dijual dengan harga 5 kali lebih tinggi dibandingkan harga kelinci anakan lokal. Yang termasuk ke
dalam golongan kelinci anakan ras adalah jenis Fussy Lop, Rex, Resa, Nederland Dwarf, Deutch,
Angora, dan Flemis Giant, sedangkan yang termasuk ke dalam kelinci anakan lokal merupakan
hasil persilangan kelinci ras dengan lokal seperti Lion dan New Zealand White. Selain kelinci
anakan, responden juga menjual kelinci potong. Kelinci potong yang dimaksud berupa kelinci
afkir berumur tiga tahun yang tidak produktif menghasilkan anakan kelinci, baik betina atau
jantan. Berdasarkan hasil pengamatan, peternak tidak menggunakan strategi pemasaran dari usaha
budidaya kelinci orientasi kelinci anakan tidak ada karena usaha hanya dijadikan usaha sampingan.
Kelinci anakan dibedakan menjadi dua kategori, yakni kelinci lokal dan kelinci ras.
Kelinci anakan lokal dijual berkisar Rp 10.000-Rp 15.000 per ekor
dan kelinci anakan ras dijual berkisar Rp 50.000-Rp 200.000 per ekor tergantung pada kualitas
kelinci. Produk sampingan berupa kelinci afkir dijual langsungkepada pihak koperasi untuk diolah
pada unit pengolahan daging kelinci seharga Rp 20.000/kg/bobot hidup.
Konsumen yang biasanya membeli kelinci anakan adalah tengkulak dan langsung kepada
hobbiest. Kelinci yang langsung kepada hobbiest biasanya ditawarkan melalui promosi di jejaring
sosial seperti facebook, sedangkan kelinci yang dijual kepada tengkulak tidak memerlukan
promosi karena tengkulak langsung datang ke kandang setiap akhir pekan (hari sabtu dan minggu).
Promosi lainnya yang dilakukan oleh para responden adalah dengan cara mengikuti pameran dan
bazaar kelinci.
Kelinci anakan langsung dijual kepada tengkulak di masing-masing daerah. Kemudian,
tengkulak akan menjual kembali kepada pedagang besar yang ada di kota untuk didistribusikan
kepada pedagang pengecer di Bogor. Alasan responden lebih menyukai untuk menjual kelinci ke
tengkulak karena pembayaran yang mudah yakni cash. Selain itu, tengkulak juga memberikan
bantuan permodalan kepada responden tanpa dikenakan bunga dengan syarat kelinci anakan harus
dijual kepada tengkulak tersebut. Alasan lainnya adalah terkait dengan biaya dan waktu yang
relatif efisien serta kontinuitas pembelian. Selain menjual kepada tengkulak, responden menjual
hasil ternak kepada para hobbiest. Produk sampingan berupa kelinci afkir dijual kepada pihak
koperasi. Rantai pemasaran kelinci dapat dilihat pada Gambar 2.

Pengumpul Pedagang Pedagang Konsumen


Desa Besar Pengecer

Peternak
Kelinci Konsumen

Unit Pengolahan KOPNAKCI


“Dapur Kebita”

Keterangan: : Produk Utama Kelinci (Kelinci Anakan)


: Produk Sampingan Kelinci (Kelinci Afkir)

Gambar 2. Alur Pemasaran Usaha Ternak Kelinci

36
6.1.1. Hasil Analisis Aspek Pasar
Berdasarkan pembahasan pada aspek pasar, peluang usaha ternak kelinci masih sangat
terbuka lebar. Hal ini dikarenakan permintaan masing-masing konsumen yang setiap tahunnya
meningkat. Tengkulak (pengumpul) sebagai konsumen utama membeli kelinci anakan setiap akhir
pekan langsung di tempat pembudidayaan kelinci. Tengkulak pasti akan membeli kelinci anakan
yang dihasilkan oleh responden setiap minggu walaupun produksi kelinci yang dihasilkan sedikit.
Kelinci anakan juga dijual langsung kepada konsumen yaitu para pecinta kelinci. Harga kelinci
yang dijual langsung kepada konsumen (hobbiest) lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima
dari penjualan kepada tengkulak. Hal ini dikarenakan konsumen (hobbiest) lebih selektif terhadap
kesehatan dan penampilan fisik kelinci yang sehat. Selain menghasilkan kelinci anakan sebagai
produk utama, usaha ternak kelinci juga memiliki produk sampingan yaitu kelinci afkir. Kelinci
afkir dijual kepada pihak koperasi untuk didistribusikan pada unit usaha pengolahan daging.
Sistem pembayaran kelinci anakan dan kelinci afkir yang dibeli oleh konsumen berupa
cash.Sejauh ini responden juga tidak memiliki kendala dalam hal pasar dan pemasaran kelinci
sehingga layak untuk dijalankan.

6.2. Aspek Teknis


Aspek teknis membahas kegiatan operasional usaha ternak kelinci
orientasi penjualan anakan. Komponen-komponen yan harus diperhatikan pada
aspek teknis, antara lain lokasi usaha, luas produksi, proses produksi, lay out, dan
pemilihan jenis teknologi.

6.2.1. Lokasi Usaha Ternak Kelinci


Lokasi usaha ternak kelinci umumnya terletak pada daerah yang beriklim sejuk seperti
daerah Tenjolaya, Cijeruk, dan Cibungbulang. Penentuan lokasi usaha ternak didasarkan pada
karakteristik kelinci yang baik jika dibudidayakan pada daerah iklim sejuk. Hal ini terkait dengan
agroekosistem daerah setempat. Alasan lainnya adalah usaha ternak kelinci sudah menjadi tradisi
bagi masyarakat sekitar. Hampir setiap rumah masyarakat ketiga desa dapat dijumpai kandang-

37
kandang pembudidayaan kelinci baik untuk komersil maupun untuk peliharaan pribadi.

6.2.2. Luas Produksi Usaha Ternak Kelinci


Dalam satu minggu, rata-rata peternak mampu menghasilkan 50-100 ekor
anakan kelinci. Besar kecilnya jumlah kelinci anakan bergantung pada jumlah
indukan yang dimiliki oleh peternak. Hal ini terkait dengan kemampuan finansial
masing-masing peternak.

6.2.3. Proses Produksi Usaha Ternak Kelinci


1) Persiapan Bangunan dan Kandang Kelinci
Langkah pertama yang harus dipersiapkan sebelum melakukan usaha
ternak kelinci adalah persiapan bangunan dan kandang kelinci. Rata-rata
bangunan kelinci yang dipergunakan untuk usaha ternak berukuran sekitar
112 m2. Ukuan kandang yang digunakan adalah 60 cm x 50 cm x 70 cm
dengan tipe kandang kelinci yang digunakan adalah tipe battery, baik yang
tunggal maupun tingkat. Kandang tipe battery hanya dapat menampung satu
ekor indukan kelinci dan beberapa anak kelinci yang baru lahir (Gambar 3).

Gambar 3. Kandang Tipe Battery Tunggal dan Bertingkat

Bahan-bahan pembuatan kandang dan bangunan yang bisa digunakan


antara lain bambu dan kayu. Bagian bangunan dan kandang kelinci yang
perhatikan meliputi:
 Lantai kandang
Lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan yang tidak melukai kelinci
yakni bambu. Lantai kandang sengaja dibuat renggang agr kotoran kelinci
dapat jatuh ke bawah. Jarak antar bambu adalah sebesar 2-3 cm.
 Dinding

38
Dinding kandang kelinci terbuat dari susunan bambu yang dikombinasikan
dengan kawat ram. Pembuatan dinding yang mengkombinasikan bambu
dan kawat ram dapat menekan biaya serta lebih tahan lama.
2) Persiapan Perlengkapan Lainnya
Bangunan dan kandang kelinci juga dilengkapi dengan beberapa
perlengkapan pendukung seperti tempat makan, tempat minum, dan sarang
beranak.
 Tempat makan
Tempat makan kelinci biasanya terbuat dari susunan bambu memanjang
yang menyatu dengan kandang. Adapula yang menggunakan tempat
makan yang terbuat dari plastik.
 Tempat minum
Pada dasarnya, kelinci tidak begitu memerlukan air untuk minum karena
sebagian besar pakan yang diberikan oleh peternak berupa hijauan
karenapakan hijauan telah mengandung air yang cukup untuk ternak.
Tempat minum terbuat dari plastik yang dibuat menyerupai dot bayi.
 Sarang beranak
Sarang beranak sangat diperlukan bagi kelinci indukan betina sebelum
melahirkan. Sarang beranak dibuat dari kayu berbentuk kotak dengan
ukuran adalah 30 cm x 40 cm x 25 cm (Gambar 4). Sarang beranak
dipergunakan satu minggu sebelum melahirkan dan selama masa
menyusui.

Gambar 4. Sarang Beranak

3) Pemilihan Bibit (Indukan Betina dan Jantan)


Salah satu kunci sukses dalam pembudidayaa kelinci adalah pemilihan
bibit yang berkualitas. Bibit yang berkualitas memiliki ciri-ciri fisik seperti:

39
mata kelinci yang bening, kuku yang bersih, dan tidak ditemukan scabies
disekujur tubuh. Bibit kelinci diperoleh dari sesama peternak dan balai
peternakan. Bibit yang dipilih sebagai indukan telah berumur 8 bulan untuk
betina dan berumur 10 bulan untuk bibit jantan.
Harga yang ditetapkan diantara peternak dan instansi pemerintahan
sangat berbeda. Harga bibit kelinci tingkat peternak terdistribusi mulai harga
Rp 35.000-Rp 350.000 per ekor, sedangkan ditingkat dinas peternakan mulai
harga Rp 150.000-Rp 250.000 per ekor. Harga bibit kelinci jantan lebih
mahal dibandingkan harga bibit betina karena kelinci jantan termasuk dalam
kelinci ras karena untuk menghasilkan anakan yang beragam dengan
keunikan pada bulu, warna, mata, atau ukuran.
4) Pakan
Pakan kelinci dibedakan atas dua macam, yakni pakan hijauan dan
pakan konsentrat. Pakan utama yang diberikan setiap hari adalah berupa
pakan hijauan. Pakan hijauan yang dimaksud berupa rumput-rumput liar dan
daun ubi. Takaran pemberian pakan hijauan disesuaikan dengan populasi
kelinci yang dimiliki. Rata-rata porsi pakan hijauan yang diberikan adalah 1,5
kg per ekor untuk satu hari. Opsi pakan lainnya yang diberikan adalah pakan
konsentrat. Pakan konsentrat dapat diperoleh dari pelet kelinci yang sudah
jadi ataupun racikan. Takaran pakan konsentrat yang diberikan dalam satu
hari adalah 70-200 gram/ekor dengan rata-rata pemberian adalah 100
gram/ekor.
Pemberian pakan dilakukan pada pagi hari yakni sekitar pukul 10.00
WIB dan pada sore hari sekitar pukul 18.00 WIB. Intensitas waktu pemberian
pakan bagi kelinci disesuaikan oleh kemampuan peternak dalam
menyediakan pakan. Pakan konsentrat diberikan pada pagi hari, sedangkan
pakan hijauan akan diberikan pada sore hari menjelang malam. Pakan hijauan
diberikan kepada kelinci dengan porsi yang lebih banyak pada malam hari
karena kelinci memiliki kecenderungan aktif. Pakan hijauan akan lebih baik
jika dilayukan terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air.
5) Perkembangbiakan

42
Kelinci dewasa yang siap dikawinkan biasanya berumur antara 8-10
bulan. Kelinci yang sudah mencapai masa birahi akan mengeluarkan perilaku
yang aneh seperti tampak gelisah. Jika tanda tersebut mulai ditunjukan oleh
kelinci, satu hari kemudian kelinci indukan betina dan jantan akan digabung
dalam satu kandang bersama. Perkawinan kelinci dapat terjadi secara alamiah
atau dibantu oleh peternak.
Untuk mendeteksi tingkat keberhasilan dari perkawinan, peternak akan
meraba bagian perut belakang kelinci setelah tiga hari. Jika pembuahan
kelinci berhasil, maka dibagian perut indukan betina akan ada benjoalan
seperti biji kurma. Apabila pembuahan gagal, keesokan harinya indukan
betina akan dikawinkan lagi dengan indukan jantan berbeda.
Kelinci indukan betina bunting selama 30-32 hari. Kelinci yang sedang
bunting harus mendapatkan perhatian khusus karena nafsu makan kelinci
bunting bertambah besar. Proporsi pakan harus diperhatikan agar kelinci tidak
kekurangan gizi selama bunting. Perilaku sebelum melahirkan yang akan
dilakukan oleh sang induk betina adalah merontokan bulu. Bulu-bulu tersebut
berfungsi sebagai penghangat bagi bayi-bayi kelinci. Kelinci akan segera
dikawainkan selang satu hari kelahiran sebelumnya karena bahwa kelinci
indukan yang baru melahirkan masih dalam keadaan yang subur.
Rata-rata kelahiran anak kelinci dari setiap kelahiran adalah 6-10 ekor
dengan tingkat kematian sebesar 15 persen. Anak kelinci yang baru lahir
dalam keadaan buta dan belum ditumbuhi oleh bulu. Oleh sebab itu, anak
kelinci dihangatkan dengan bulu-bulu kelinci indukan betina (Gambar 5).

Gambar 5. Kelinci Anakan Umur Satu Minggu dalam Sarang Beranak

6) Panen

42
Kelinci indukan betina biasanya melahirkan bayi-bayinya pada hari ke-
30. Umumnya, jumlah bayi kelinci yang lahir antara 1-12 ekor. Bayi kelinci
akan menyusui pada induknya selama satu bulan. Oleh karena itu, asi
merupakan makanan pokok bagi bayi kelinci. Setelah berumur empat minggu,
bayi kelinci (kelinci anakan) akan belajar untuk makan. Kelinci yang sudah
lepas sapih akan dijual kepada konsumen masing-masing antara lain
tengkulak

Gambar 6. Kelinci Anakan Umur Empat Minggu

6.2.4. Layout Usaha Ternak Kelinci


Layout usaha ternak kelinci mencakup layout bangunan dan kandang. Gambar kedua
layout usaha ternak kelinci dapat dilihat pada Gambar 7.

1 2

3 4
5
Keterangan: (1) : Pintu Masuk Bangunan Kelinci
( 2,3,4,5): Kandang Kelinci

Gambar 7. Layout Bangunan dan Kandang Kelinci

6.2.5. Hasil Analisis Aspek Teknis


Secara argoekosistem, usaha ternak kelinci sudah tepat dilakan di daerah
dataran tinggi yang beriklim sejuk. Hal ini dikarenakan kelinci cocok hidup pada
tempat yang sejuk. Lokasi usaha ternak kelinci didukung dengan potensi alam
sekitar dalam hal penyediaan pakan hijauan sebagai pakan utama kelinci. lokasi
usaha ternak kelinci didirikan sekitar kawasan pemukiman penduduk sehingga
bangunan dan kandang kelinci dilengkapi dengan fasilitas pencahayaan. Hal-hal
yang diperhatikan sebelum memulai usaha ternak meliputi persiapan bangunan

42
dan kandang, persiapan perlengkapan lain dan pemilihan indukan kelinci.
Bangunan dan kandang kelinci biasanya terbuat dari kombinasi bambu, kayu, dan
kawat. Setiap kandang kelinci dilengkapi dengan perlengkapan pendukung
sepertisarang beranak, tempat makan, dan tempat minum. Berdasarkan hasil
analisis aspek teknis, usaha ternak kelinci layak dilakukan.

6.3. Aspek Manajemen dan Hukum


Bentuk badan usaha yang digunakan adalah koperasi dengan akta legalitas No.3 Tanggal
12 Juli 2011. Struktur manajemen yang terdapat pada Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI)
terdiri dari pengurus, badan pengawas, dan anggota. Badan pengurus bertanggung jawab atas
pelaksanaan program yang dilakukan oleh koperasi. Susunan badan pengurus pada koperasi adalah
ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, dan bendahara. pengurus koperasi dipilih oleh
anggota kontrol, koperasi juga membentuk manajer unit usaha dan manajer program. Manajer
usaha bertugas untuk melaporkan kegiatan yang telah dilaksanakan kepada pengurus koperasi.
Manajer unit usaha pada koperasi antara lain manajer unit pabrik pakan, manajer pembibitan,
manajer pengolahan limbah, manajer pemasaran, manajer unit pengolahan hasil ternak, dan
manajer unit pengolahan kulit. Manajer program terdiri dari manajer program penyuluhan dan
pelatihan, manajer pelayanan kesehatan hewan, manajer arisan, dan manajer pengembangan
kelembagaan.
Koperasi peternak Kelinci (KOPNAKCI) melaksanakan empat fungsi manajemen, yakni
Planning, Organizing, Leading, dan Controling. Perencanaan dilakukan oleh badan pengurus
dibantu oleh perwakilan masing-masing kelompok (anggota). Hasil rencana yang telah dibuat
dikoordinasikan pada masing-masing manajer unit usaha dan program yang berhubungan. Setiap
manajer usaha berkewajiban melaporkan hasil kegiatan unit usaha kepada badan pengurus untuk
evaluasi terhadap rencana yang telah dibuat. Gambar 8 adalah susunan organisasi pada Koperasi
Peternak Kelinci.

42
Ketua

Wakil Ketua Sekretaris W. Sekretaris Bendahara

Manajer Unit Usaha: Manajer Program:


 Unit pabrik pakan  Program penyuluhan dan
 Unit pembibitan pelatihan
 Unit pengolahan limbah  Program pelayanan
 Unit pemasaran kesehatan hewan
 Unit pengolahan hasil ternak  Program arisan kelinci
 Unit pengolahan kulit  Program pengembangan
kelembagaan

Gambar 8. Struktur Organisasi KOPNAKCI


Anggota Koperasi Peternak Kelinci

6.3.1. Hasil Analisis Aspek Manajemen dan Hukum


Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) telah memiliki struktur
organisasi yang jelas. Struktur organisasi terdiri dari badan pengurus, manajer unit
usaha, manajer program, dan anggota. Badan pengurus dan manajer yang ada
pada KOPNAKCI juga merupakan anggota koperasi. Struktur organisasi pada
koperasi menggambarkan job description diantara anggota. Koperasi
melaksanakan keempat fungsi manajemen yakni perencanaan, pengorganisasiaan,
pengarahan, dan pengontrolan.

6.4. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya


Keberadaan Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) secara tidak langsung memiliki
dampak bagi masyarakat sekitar. Jika dilihat dan ditelaah lebih dalam dari aspek sosial, koperasi
memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk bergabung kedalam keanggotaan
koperasi. Koperasi menyediakan informasi dan membantu para anggota dalam hal usaha ternak
kelinci. Informasi yang didapatkan dari koperasi dapat diterapkan oleh peternak didalam menjalani
usahanya. Pengetahuan yang semakin banyak dimiliki oleh peternak akan

43
membantu pengembangan usaha sehingga pengangguran dikalangan usia produktif menurun.
Tingkat pengangguran yang sedikit menurun disebabkan oleh adanya peningkatan
pendapatan masyarakat dan pemerataan kesempatan kerja melalui wirausaha. Jika ditelaah dari
dampak secara daerah dan nasional, peran koperasi ini belum memberikan dampak yang nyata
karena koperasi baru berusia satu tahun dan masih pada tahap pengembangan.
Ternak kelinci yang ada di Kabupaten Bogor merupakan salah satu adat istiadat turun
temurun sehingga tidak ada pertentangan dari masyarakat sekitar. Pengembangan komoditi ini
justru disambut baik oleh masyarakat, khususnya di daerah Tenjolaya sebagai kawasan “Kampung
Kelinci”.

6.4.1. Hasil Analisis Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya


Jika dilihat dari ketiga aspek, usaha ternak kelinci tidak memiliki
hambatan dan rintangan dalam pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan kelinci sudah
menjadi salah satu hewan aneka ternak yang banyak ditemukan di setiap rumah.
Keberadaan koperasi mampu mendorong kalangan muda untuk melakukan
perubahan melalui wirausaha kelinci mulai dari hulu hingga hilir. Anggota
diberikan fasilitas berupa seminar ataupun rapat anggota yang menghadirkan
pakar-pakar kelinci. semakin banyak informasi dan pengetahuan yang dimiliki
oleh peternak akan menigkatkan kemampuan dalam hal budidaya. Kemampuan
tersebut secara langsung akan meningkatkan pendapatan anggota yang merupakan
bagian dari masyarakat. Usaha ternak kelinci dapat disimpulkan layak untuk
dijalankan serta keberadaan koperasi sama sekali tidak bertentangan dengan
ketiga aspek, yakni aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

6.5. Aspek Lingkungan


Limbahberupa urin dan feses dari kelinci tidak menganggu lingkungan
sekitar. Keduanya dapat dipergunakan sebagai pupuk organik bagi petani sekitar.
Urin yang dihasilkan oleh kelinci biasanya ditampung untuk dikemas dalam botol
ukuran 1000 ml. sedangkan feses dikemas dalam karung ukuran kecil. Masing-
masing limbah kelinci dijual dengan harga sekitar Rp 5.000/botol dan Rp
7.000/karung. Tidak semua peternak melakukan penanganan dan pengolahan

44
limbah kelinci untuk tujuan komersil karena hasil limbah kelinci tidak
dikomersialkan untuk dijual. Usaha ternak kelinci biasanya dilakukan di sekitar
pemukiman penduduk, tetapi bau yang ditimbulkan tidak mengganggu warga
sekitar sehingga respon bernilai positif. Tidak seperti halnya dengan usaha ternak
sapi dan kambing yang mengeluarkan aroma tidak sedap.

6.5.1. Hasil Analisis Aspek Lingkungan


Limbah yang ditimbulkan dari usaha ternak kelinci tidak mengganggu
warga sekitar kandang budidaya. Limbah kelinci berupa urin dan feses justru
memberikan manfaat yang dapat dipergunakan sebagai pupuk organik pada lahan
pertanian sehingga dapat disimpulkan bahwa secara aspek lingkungan usaha
ternak kelinci layak untuk dijalankan. Secara ekonomi, limbah kotoran kelinci
memiliki nilai komersil jika dilakukan penanganan yang serius. Limbah dapat
dikemas dalam botol ataupun dikemas dalam karung. Dari hasil pengalaman yang
didapatkan oleh peternak, limbah kelinci berupa urin dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman seperti tanaman jambu kristal.

45
IV ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

Aspek finansial pada usaha ternak akan menilai berapa besar nilai manfaat
yang dihitung dalam satuan rupiah dengan besar biaya yang dikeluarkan selama
umur bisnis. Analisis kelayakan finansial dari dua skenario usaha ternak kelinci
dengan kriteria kelayakan yang meliputi NPV, Net B/C, IRR, dan DPP. Analisis
kelayakan finansial bertujuan untuk menilai kelayakan usaha dari dua skenario
secara finansial. Skenario I adalah keadaaan yang terjadi pada saat turun lapang.
Orientasi usaha ternak kelinci yang dilakukan oleh peternak adalah menjual
kelinci anakan berumur satu bulan. Skenario II adalah rencana kedepan yang akan
dilakukan oleh Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) untuk memenuhi
permintaan kelinci potong.

7.1. Analisis Kelayakan Skenario I

7.1.1. Arus Peneriamaan (Inflow)


Skenario I adalah usaha ternak yang memiliki orientasi jual hanya sebatas kelinci anakan.
Kelinci yang digolongkan sebagai anakan adalah kelinci yang telah berumur satu bulan dan telah
lepas sapih. Pada skenario I, arus penerimaan terdiri dari penjualan kelinci anakan dan salvage
value berupa kelinci afkir. Kelinci afkir adalah kelinci indukan tidak produktif yang berumur
diatas tiga tahun. Jumlah kelinci indukan yang dibudidayakan pada skenario I sebanyak 52 ekor.
Kelinci indukan betina berjumlah 47 ekor, sedangkan kelinci indukan jantan berjumlah lima ekor.
Dari setiap kelahiran, kelinci indukan diasumsikan mampu menghasilkan lima ekor anakan dengan
tingkat kematian sebesar 15 persen sehingga kelinci anakan yang siap dijual berjumlah empat
ekor.
Seekor kelinci indukan betina mampu melahirkan 12 kali dalam satu tahun, sehingga
dalam satu tahun menghasilkan kelinci anakan sebanyak 48 ekor. Pada tahun pertama, kelinci
hanya mampu melahirkan 10 kali karena bulan pertama dipergunakan sebagai tahap persiapan
usaha ternak yaitu persiapan bangunan dan kandang kelinci. Kelinci indukan akan dikawinkan
pada bulan kedua hingga seterusnya dengan memperhatikan pola perkawinan. Pola
perkawinandibagi menjadi menjadi empat siklus dalam satu bulan. Pola
perkawinan kelinci seperti ini bertujuan untuk mendapatkan penerimaan dari hasil penjualan
anakan kelinci setiap minggu karena perkawinan antar siklus perkawinan berjarak satu minggu.
Anak kelinci yang lahir akan menjalani masa menyusui selama satu bulan sebelum siap dijual ke
pasar.
Harga kelinci anakan yang dijual sangat bervariasi sehingga dalam penelitian ini
diasumsikan harga anakan adalah Rp 20.000 per ekor. Harga kelinci anakan diperoleh dari hasil
rata-rata harga yang ada dilapang dibagi dengan jumlah responden. Selain kelinci anakan, harga
yang perlu diketahui adalah harga kelinci afkir yakni Rp 20.000/kg/bobot hidup dengan estimasi
bobot hidup sebesar 2 kg. Penerimaan dari penjualan kelinci anakan pada skenario I dapat dilihat
pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Penjualan Kelinci Anakan Skenario I


Tahun Penerimaan (Rp)
1 31.140.000
2 44.420.000
3 44.420.000

Selain dari hasil penjualan kelinci anakan, penerimaan juga diperoleh dari nilai sisa
(salvage value). Nilai sisa (salvage value) adalah nilai dari biaya investasi yang tidak habis
terpakai selama umur bisnis. Nilai sisa digolongkan sebagai tambahan penerimaan pada sebuah
bisnis. Pada skenario I, nilai sisa (salvage value) yang masuk dalam arus penerimaan adalah
sebesar Rp 2.875.000. Nilai sisa diperoleh dari investasi berupa kelinci indukan yang telah afkir
dan sarang beranak. Nilai sisa dari skenario I dapat dilihat pada Lampiran 5.

7.1.2. Arus Pengeluaran (Outflow)


Arus pengeluaran pada usaha ternak kelinci terdiri dari pengeluaran untuk biaya investasi,
biaya tetap, dan biaya variabel. Biaya investasi adalah sejumlah dana yang dikeluarkan pada awal
usaha untuk membeli perlengkapan penunjang bisnis dengan tujuan mendapatkan manfaat
dikemudian hari. Barang-barang dapat digolongkan sebagai investasi jika umur pakainya lebih dari
satu tahun selama bisnis berlangsung. Biaya tetap dan biaya variabel adalah dua komponen yang

47
terdapat dalam biaya operasional. Perbedaan dari kedua biaya tersebut adalah besarnya biaya
variabel berbanding lurus dengan perkembangan jumlah produksi.
1) Biaya Investasi
Pada skenario I, biaya investasi usaha ternak kelinci meliputi pembelian kelinci indukan,
lahan, bangunan, kandang, sarang beranak, tempat makan, dan tempat minum. Biaya investasi
terbesar adalah pada pembuatan bangunan dan pembelian sebesar Rp 5.600.000 dan biaya terkecil
adalah pada pembelian sarang beranak. Tabel 8 menampilkan biaya investasi usaha ternak kelinci
pada tahun pertama.
Kelinci yang dipilih untuk menjadi calon indukan telah melewati masa dewasa, yakni
umur 8 bulan bagi indukan betina dan umur 10 bulan bagi indukan jantan. Luas lahan rata-rata
yang dipergunakan untuk usaha ternak kelinci adalah sebesar 112 m2 dengan luas bangunan kelinci
sebesar 112 m2. Ukuran masing-masing kandang kelinci adalah 60 cm x 50 cm x 70 cm.

Tabel 8. Biaya Investasi Usaha Ternak Skenario I


Umur
Harga
No Uraian Satuan Unit Ekonomis Nilai (Rp)
Satuan (Rp)
(thn)
1. Indukan Betina Ekor 47 3 85.000 3.995.000
2. Indukan Jantan Ekor 5 3 120.000 600.000
3. Lahan m2 112 3 50.000 5.600.000
4. Bangunan m2 81 3 50.000 5.600.000
5. Kandang Unit 98 3 65.000 3.380.000
6. Sarang Beranak Unit 78 2 10.000 470.000
7. Tempat Makan Unit 94 1 10.000 520.000
8. Tempat Minum Unit 90 1 10.000 520.000
Total 20.685.000

Untuk mengganti invetasi yang telah habis masa pakainya, responden memiliki biaya re-
investasi. Biaya re-investasi dikeluarkan untuk membeli beberapa komponen investasi seperti
sarang beranak, tempat makan, dan tempat minum. Masing-masing investasi tersebut hanya
memiliki umur ekonomis selama 1-2 tahun sehingga pada tahun ke-2 dan ke-3 harus dilakukan re-
investasi. Biaya re-investasi untuk tempat makan dan minum sebesar Rp 520.000 pada tahun ke-2

48
dan ke-4, sedangkan sarang beranak sebesar Rp 470.000 pada tahun ke-3. Tabel 9 menunjukan
biaya re-investasi pada usaha ternak skenario I.

Tabel 9. Biaya Re-Investasi Usaha Ternak Skenario I


No. Uraian Biaya (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) Tahun ke-
1. Sarang Beranak 470.000 2 3
2. Tempat Makan 520.000 1 2,3
3. Tempat Minum 520.000 1 2,3

2) Biaya Tetap
Biaya tetap yang dikeluarkan selama kegiatan usaha ternak meliputi pembayaran listrik,
biaya pemeliharaan, dan gaji karyawan (Lampiran 6). Rata-rata pembayaran listrik yang
dikeluarkan dalam satu bulan adalah sebesar Rp 25.000. Umumnya, kandang hanya dilengkapi
dengan dua buah bohlam berdaya rendah. Biaya pemeliharaan bangunan dan kandang kelinci yang
dikeluarkan setiap bulan adalah sebesar Rp 200.000. Biaya pemeliharaan diperlukan untuk
mengganti perlengkapan kelinci yang rusak, seperti penggantian kawat, bambu, dan kayu yang
sudah lapuk pada kandang. Selain dipergunakan untuk hal tersebut, biaya pemeliharaan juga
ditujukan untuk memperbaiki kerusakan pada bangunan kelinci. Jumlah karyawan rata-rata yang
dipekerjakan adalah satu orang. Karyawan tetap bertugas untuk membersihkan kandang kelinci
serta mengurus keperluan pakan yang dibutuhkan ternak. Karyawan yang bertugas di kandang
digaji sebesar Rp 500.000 setiap bulannya.
3) Biaya Variabel
Komponen yang termasuk kedalam biaya variabel, antara lain : pakan, obat, vitamin, dan
upah tenaga kerja langsung. Pakan yang diberikan kepada ternak dibedakan menjadi dua, yaitu
pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan berupa campuran dari rumput liar dengan daun
umbi-umbian. Porsi pakan hijauan yang diberikan untuk setiap indukan kelinci adalah 1,5 kg.
Pakan hijauan yang dibutuhkan dalam satu hari untuk jumlah ternak sebanyak 52 ekor adalah 78
kg atau setara dengan 28.080 kg dalam satu tahun. Selain mempekerjakan pegawai tetap, usaha
ternak skenario I juga membutuhkan buruh harian yang dibayar berdasarkan kebutuhan pakan
ternak setiap harinya. Setiap 25 kg atau satu karung pakan hijauan diberikan upah sebesar Rp
10.000 sehingga upah tenaga

49
kerja langsung pada tahun pertama adalah sebesar 10.296.000, sedangkan pada tahun berikutnya
sebesar Rp 11.232.000.
Pakan selanjutnya yang diberikan adalah pakan konsentrat. Pakan konsentat merupakan
campuran dari hijauan dengan dedak ayam. Setiap indukan kelinci diberikan pakan konsentrat
sebanyak 100 gram per hari. Pada tahun pertama, biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pakan
konsentrat adalah sebesar Rp 5.148.000, sedangkan pada tahun ke-2 dan ke-3 adalah sebesar Rp
5.616.000 per tahunnya.
Komponen selanjutnya yang termasuk dalam biaya variabel adalah vitamin dan obat-
obatan. Jenis vitamin yang diberikan kepada ternak adalah B-Complex IPI. Harga satu botol
vitamin IPI adalah Rp 5000 per 50 butir. Pemberian vitamin dilakukan setiap dua minggu dengan
takaran satu butir. Jumlah vitamin yang diberikan dapat meningkat selaras dengan peningkatan
jumlah ternak yang dimiliki peternak. Selain itu, kelinci jga mendapatkan pengobatan jika
terjangkit penyakit. Penyakit yang umumnya menyerang ternak adalah scabies dan diare. Untuk
menanggulangi keadaan tersebut, responden memberikan obat merek Intermectin. Intensitas
pemberian obat-obatan untuk setiap ternak berbeda karena penanganan hanya dilakukan bagi
kelinci yang sakit. Harga satu botol obat merek Intermectin adalah Rp 65.000 per 10 ml. Rincian
biaya variabel dapat dilihat pada Lampiran 7.

7.1.3. Analisis Kriteria Investasi


Sebelum menganalisis dan membahas kelayakan finansial dari usaha ternak kelinci
skenario I pada perhitungan cash flow, diperlukan laporan laba rugi. Berdasarkan laporan laba
rugi, usaha ternak kelinci skenario I menunjukan bahwa laba bersih yang diterima oleh peternak
bernilai positif mulai dari tahun pertama. Laporan laba rugi secara detail dapat dilihat pada
Lampiran 8 serta untuk melihat laba bersih setiap tahunnya terdapat pada Tabel 10.

Tabel 10. Laba Bersih Usaha TernakSkenario I


Tahun Laba Bersih (Rp)
1 199.950
2 8.866.650
3 10.992,900

50
Kriteria yang dipergunakan untuk menilai layak atau tidak sebuah usaha pada penelitian
ini, yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR),
dan Discounted Payback Period (DPP). Ketiga kriteria kelayakan disajikan dalam tabulasi cash
flow yang dapat dilihat pada Lampiran 9. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada
usaha ternak kelinci skenario I pada tingkat discount rate 5,75 %, diperoleh NPV sebesar Rp
11.221.545,55. Besarnya NPV didapatkan dari selisih antara total inflow dan total outflow yang
dikalikan dengan discount factor. NPV yang bernilai positif menunjukan bahwa usaha ternak
dengan orientasi hasil akhir berupa kelinci anakan layak untuk dijalankan karena nilai manfaat
bersih saat ini sebesar Rp 11.221.545,55 selama umur bisnis berlangsung yakni tiga tahun.
Kriteria selanjutnya adalah penilaian Net B/C yang diperoleh dari hasil perhitungan usaha
ternak skenario I. Nilai Net B/C pada usaha ternak skenario I adalah 1,81. Hal ini menunjukan
setiap satu rupiah yang dikeluarkan pada usaha ternak kelinci skenario I akan menghasilkan
manfaat sebesar 1,81. Usaha yang memiliki nilai Net B/C lebih besar dari satu dapat dikatakan
layak untuk dijalankan.
Nilai IRR pada usaha ternak skenario I adalah sebesar 58 persen. Hal ini menunjukan
bahwa pengembalian investasi yang ditanamkan sebesar 5,75 persen akan menghasilkan NPV
bernilai 0. IRR dapat dikatakan layak jika lebih besar daripada tingkat suku bunga (discount rate).
Kriteria investasi lainnya adalah Payback Period. Nilai PP pada usaha ternak skenario I adalah 2
tahun 6 bulan. Investasi yang telah ditanamkan pada awal usaha akan kembali pada tahun ke-2
bulan 6 sehingga usaha layak untuk dijalankan. Hasil perhitungan NPV, Net B/C, IRR, dan DPP
dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Analisis Finansial Usaha Ternak Skenario I


Kriteria Investasi Nilai
NPV (Rp) 11.221.545,55
Net B/C 1,81
IRR (%) 58
DPP 2 Tahun 6 Bulan

51
7.1.4. Analisis Switching Value
Analisis switching value merupakan salah satu metode analisis sensitivitas yang
mengukur perubahan maksimal yang dapat terjadi pada input dan output. Perubahan maksimal
yang terjadi dilihat ketika NPV bernilai 0 atau IRR bernilai sama dengan discount rate (tingkat
suku bunga). Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara dengan beberapa peternak,
permasalahan terbesar yang terjadi pada usaha ternak kelinci adalah penurunan produksi kelinci
dan kenaikan harga pakan konsentrat. Perubahan maksimal yang dapat terjadi pada penurunan
produksi kelinci adalah sebesar 12,97 persen, sedangkan kenaikan harga pakan konsentrat sebesar
92,72 persen. Penurunan produksi sebesar 12,97 persen menunjukan bahwa peternak hanya
mampu bertahan untuk usaha kelinci jika penurunan produksi kelinci ≤ 12,97 persen. Jika
penurunan produksi melebihi batas maksimum, maka usaha ternak akan mengalami kerugian.
Kenaikan pakan sebesar 92,72 persen menunjukan bahwa peternak dapat terus memberikan pakan
kepada ternak jika kenaikan harga pakan kelinci ≤ 92,72 persen.
Berdasarkan hasil analisis sensitivitas menggunakan metode switching value, variabel
yang paling berpengaruh nyata terhadap usaha adalah penurunan produksi kelinci. Hasil analisis
switching value disajikan dalam Tabel 12, sedangkan cash flowdapat dilihat pada Lampiran 10 dan
11.

Tabel 12. Hasil Analisis Switching Value Usaha Ternak Skenario I


Variabel Perubahan Maksimal (%)
Penurunan Produksi Kelinci 12,97
Kenaikan Harga Pakan Konsentrat 92,72

7.2. Analisis Kelayakan Skenario II

7.2.1. Arus Peneriamaan (Inflow)


Skenario II adalah rencana yang akan dilakukan oleh pihak koperasi untuk
mengembangkan komoditi kelinci terkait memenuhi permintaan kebutuhan akan daging kelinci.
Usaha ternak akan difokuskan pada orientasi kelinci potong umur empat bulan. Jenis kelinci yang
dipilih adalah jenis Rex karena daging kelinci jenis ini bercita rasa lezat dan bulu yang dimiliki
bernilai tinggi untuk diolah

52
kembali. Kelinci jenis rex mampu menghasilkan daging kelinci sekitar 1,5 kg per ekor.
Jumlah indukan kelinci yang dibudidayakan pada skenario II adalah sebanyak 110 ekor,
dimana 100 ekor adalah indukan betina dan 10 ekor adalah indukan jantan. Seekor indukan betina
diasumsikan menghasilkan empat ekor anakan mulai dari kelahiran hingga kelinci potong siap
jual. Pada tahun pertama, jumlah kelinci potong yang dihasilkan belum maksimal karena bulan ke-
1 sebagai tahap persiapan kebutuhan kelinci. Indukan kelinci akan menghasilkan kelinci potong
siap jual di bulan ke-7 hingga bulan ke-12 adalah sebanyak 2400 ekor. Pada tahun ke-2 hingga ke-
3, kelinci potong yang siap dijual adalah sebanyak 4.800 ekor. Harga kelinci potong umur empat
bulan jenis Rex adalah Rp 20.000 per kg dengan bobot hidup ternak sebesar 2,5 kg. Hasil
penjualan kelinci potong Tabel 13.

Tabel 13. Hasil Penjualan Kelinci Potong Skenario II


Tahun Penerimaan (Rp)
1 120.000.000
2 240.000.000
3 240.000.000

Komponen penerimaan lainnya adalah nilai sisa (salvage value). Nilai sisa
(salvage value) diterima pada tahun ke-3 disaat umur bisnis berakhir yakni
sebesar Rp 6.050.000. Nilai sisa pada usaha ternak kelinci diperoleh dari
penjualan kelinci afkir dan sarang beranak. Besarnya nilai sisa dapat dilihat pada
Lampiran 12.

7.2.2. Arus Pengeluaran (Outflow)


Arus pengeluaran pada usaha ternak skenario II dibagi menjadi tiga komponen
biaya,biaya investasi, biaya tetap, dan biaya variabel.
1) Biaya Investasi
Investasi adalah suatu kegiatan penanaman modal pada awal usaha yang mengharapkan
manfaat dikemudian hari. Biaya investasi pada usaha ternak kelinci skenario II meliputi indukan
kelinci, lahan, bangunan, kandang (baterrydan postal), sarang beranak, tempat makan, dan tempat
minum. Investasi terbesar

53
dikeluarkan untuk membeli indukan kelinci sebanyak 110 ekor adalah Rp27.500.000. Harga
seekor indukan kelinci jenis Rex adalah Rp 250.000. Investasi terkecil pada skenario II adalah
sarang beranak sebesar Rp 1.100.000. Lahan dan bangunan diperluas agar menampung jumlah
kandang yang dibutuhkan usaha ternak. Pada skenario II, kandang kelinci ditambah dengan jenis
kandang postal. Kandang postal adalah kandang kelinci yang mampu menampung beberapa
kelinci anakan lepas sapih dari jenis kelamin sejenis dan umur sama. Jumlah kelinci anakan yang
umumnya ditampung pada kandang jenis ini adalah sebanyak 4 ekor. Pemisahan kelinci anakan
kedalam kandang-kandang postalbertujuan untuk meminimalisir perkelahian antar anak kelinci.
Untuk lebih jelasnya, Tabel 14 akan menampilkan rincian biaya investasi usaha ternak skenario II.

Tabel 14. Biaya Investasi Usaha Ternak Skenario II


No Uraian Satuan Jumlah Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp)
1. Indukan Kelinci Ekor 110 250.000 27.500.000
2. Lahan m2 150 50.000 7.500.000
3. Bangunan m2 150 50.000 7.500.000
4. Kandang Battery Buah 110 65.000 7.150.000
5. Kandang Postal Buah 100 65.000 6.500.000
6. Sarang Beranak Buah 110 10.000 1.100.000
7. Tempat Makan Buah 210 10.000 2.100.000
8. Tempat Minum Buah 210 10.000 2.100.000
Total Biaya Investasi 61.450.000

Investasi pada skenario II berupa sarang beranak, tempat makan, dan tempat minum harus
dilakukan re-investasi. Besarnya re-investasi disajikan dalam Tabel 15.

Tabel 15. Biaya Re-Investasi Usaha TernakSkenario II


No. Uraian Biaya (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) Tahun Ke-
1. Sarang Beranak 1.100.000 2 3
2. Tempat Makan 2.100.000 1 2,3
3. Tempat Minum 2.100.000 1 2,3

2) Biaya Tetap
Komponen biaya tetap yang dikeluarkan meliputi pembayaran gaji karyawan, biaya
pemeliharaan, dan pembayan listrik. Biaya tetap yang harus

54
dikeluarkan setiap tahun adalah sebesar Rp 9.900.000. Rincian biaya tetap dapat dilihat pada
Lampiran 13.
3) Biaya Variabel
Komponen biaya variabel pada usaha ternak skenario II meliputi biaya pakan, obat,
vitamin, dan upah tenaga kerja langsung, Pakan yang diberikan terdiri dari dua jenis yaitu pakan
hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan yang diberikan kepada kelinci indukan dan kelinci
muda berbeda. Kelinci indukan mendapatkan porsi pakan yang lebih besar daripada kelinci muda
yaitu sebesar 1,5 kg per hari. Kelinci muda lepas sapih mendapat porsi pakan sebanyak 0,5 kg per
hari. Perbedaan porsi pakan kepada hewan ternak karena kelinci indukan memerlukan asupan
makanan lebih banyak agar dapat menghasilkan anakan kelinci yang sehat.
Pakan konsentrat yang diberikan terdiri dari dua bahan utama, yakni dedak dan ampas
tahu. Dedak diberikan kepada kelinci indukan, sedangkan ampas tahu diberikan kepada kelinci
muda. Jumlah pakan yang diberikan kepada masing-masing kelompok ternak adalah 100 gr dan 70
gr. Pada tahun pertama, biaya pakan konsentrat harus dipersiapkan adalah sebesar Rp 39.690.000.
Pada selanjutnya, biaya pakan adalah sebesar Rp 55.080.000.
Untuk menjaga dan mencegah hewan ternak dari kondisi buruk, kelinci juga diberikan
tambahan obat dan vitamin. Vitamin diberikan dua kali dalam sebulan, sedangkan obat diberikan
hanya kepada ternak yang sakit. Pada tahun pertama, biaya pembelian obat dan vitamin yang
dikeluarkan oleh peternak adalah Rp 3.592.000. Kedua biaya semakin meningkat di tahun ke-2
hingga ke-3 karena jumlah populasi kelinci bertambah. Biaya yang harus dipersiapkan adalah
sebesar Rp 4.704.000 per tahun.
Biaya variabel lainnya adalah upah tenaga kerja langsung. Tenaga kerja langsung
diberikan upah sesuai kebutuhan pakan ternak. Setiap karung berkapasitas 25 kg pakan hijauan
dihargai sebesar Rp 10.000. Upah tenaga kerja langsung di tahun pertama sebesar Rp 79.380.000,
sedangkan ditahun berikutnya sebesar Rp 110.160.000. Lampiran 14 menampilkan rincian biaya
variabel selama umur bisnis.

55
7.2.3. Analisis Kriteria Investasi
Langkah pertama yang harus diperhatikan dalam menilai kelayakan usaha adalah
membuat tabulasi perhitungan penerimaan dan pengeluaran. Tabulasi dapat disusun dalam sebuah
laporan laba rugi dan cash flow. Besar nilai laba bersih dari usaha ternak kelinci skenario II dapat
dilihat pada Tabel 16 dan laba rugi secara didetail dapat dilihat pada Lampiran 15.

Tabel 16. Laba Bersih Usaha Ternak Skenario II


Tahun Nilai Laba Bersih (Rp)
1 (33.603.666,67)
2 29.317.000
3 33.854.500

Kriteria yang dipergunakan untuk menilai layak atau tidak sebuah usaha pada penelitian
ini, yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit-Cost (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR),
dan Discounted Payback Period (DPP) (Tabel 17). Ketiga kriteria kelayakan disajikan dalam
tabulasi cash flow yang dapat dilihat pada Lampiran 15. NPV dari skenario II adalah sebesar Rp
13.024.330,83 yang menunjukan bahwa nilai manfaat sekarang dari usaha ternak orientasi kelinci
potong sebesar Rp 13.024.330,83 selama umur bisnis.

Tabel 17. Hasil Analisis Finansial Usaha Ternak Skenario II


Kriteria Kelayakan Finansial Nilai
NPV (Rp) 13.024.330,83
Net B/C 1,19
IRR (%) 19
DPP 2 tahun 4 bulan

Nilai Net B/C pada usaha ternak skenario II adalah 1,19. Setiap rupiah yang dikeluarkan
pada usaha ternak orientasi kelinci pong akan menghasilkan manfaat sebesar 1,19. Usaha yang
memiliki nilai Net B/C lebih besar dari satu dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Nilai IRR
pada usaha ternak skenario II adalah sebesar 19 persen. IRR dapat dikatakan layak jika lebih besar
daripada tingkat suku bunga (discount rate). Kriteria investasi lainnya adalah Payback Period.
Nilai PP pada usaha ternak skenario II adalah 2 tahun 4bulan. Dari

56
keempat kriteria investasi, dapat disimpulkan bahwa secara finansial usaha ternak kelinci potong
layak dilaksanakan.

7.2.4. Analisis Switching Value


Analisis switching value melihat dua perubahan yang umumnya terjadi pada usaha ternak
kelinci, yakni penurunan produksi kelinci dan kenaikan harga pakan konsentrat. Analisis ini
bertujuan untuk melihat sampai batas maksimal kedua perubahan dapat mempengaruhi bisnis.
Penurunan maksimal produksi kelinci skenario II adalah sebesar 3,05 persen. Hal ini menunjukan
bahwa usaha akan tetap berjalan jika penurunan kelinci potong yang dihasilkan ≤ 3,05 persen.
Perubahan yang lebih besar diatas 3,05 persen akan mengakibatkan usaha ternak gulung tikar
(bangkrut) karena penerimaan lebih kecil dibanding pengeluaran. Kenaikan maksimal harga pakan
konsentrat kelinci adalah sebesar 11,90 persen. Harga pakan konsentrat diatas ambang batas
perubahan sebesar 11,90 persen akan menyebabkan usaha bangkrut.
Berdasarkan hasil analisis sensititas menggunakan metode switching value, variabel yang
paling berpengaruh nyata terhadap usaha adalah penurunan produksi kelinci. Hasil analisis
switching value disajikan dalam Tabel 18, sedangkan cash flow dapat dilihat pada Lampiran 17
dan 18.

Tabel 18. Hasil Analisis Switching Value Usaha Ternak Skenario II


Variabel Perubahan Maksimal (%)
Penurunan Produksi Kelinci 3,05
Kenaikan Harga Pakan Konsentrat 11,90

57
V ANALISIS NILAI TAMBAH

Analisis nilai tambah pada daging kelinci ditujukan untuk olahan nugget dan bakso
kelinci karena komposisi penggunaan daging selama satu kali produksi lebih dari 50 persen dari
bahan secara keseluruhan (Tabel 19). Komposisi daging kelinci dengan bahan baku pendukung
pada produk nugget berbanding 70:30, sedangkan produk bakso kelinci berbanding 65:35
(Lampiran 19)
Input utama pada unit pengolahan daging kelinci didapatkan dari para peternak yang
tergabung dalam KOPNAKCI dengan harga Rp 20.000/kg/bobot hidup. Kelinci yang disuplai dari
peternak merupakan kelinci afkir berumur tiga tahun.
1) Nugget Kelinci
Nugget kelinci merupakan salah satu produk olahan daging kelinci yang diproduksi di
unit Dapur Kebita. Jenis kelinci yang dipergunakan sebagai bahan baku utama adalah kelinci afkir.
Dapur Kebita membutuhkan 10 ekor kelinci afkir untuk menghasilkan 5 kg fillet daging kelinci.
Bahan baku utama dicampur dengan beberapa bahan pendukung seperti sagu 2,5 kg, bumbu Rp
50.000, omega 3 (nabati jagung) 0,25 kg, dan tepung roti 2 kg.
Nugget kelinci dikemas dalam plastik kedap udara dengan berat 250 gram
per kemasan. Tahapan dalam mengolah bahan baku daging kelinci mejadi
produk nugget terdiri dari beberapa tahapan yang dapat dilhat pada Gambar 9.

Fillet Kelinci dihaluskan


Grinder
Campur dengan Sagu dan Bumbu Halus
Food Processor
Tuang ke Loyang untuk dicetak

Kukus

Pemotongan Sesuai Ukuran Cetakan

Pengulitan dengan Tepung Roti


Cooler
Pendinginan
Vacuum Siler
Pengemasan
Gambar 9. Tahapan Pembuatan Nugget Kelinci
2) Bakso Kelinci
Produk olahan daging kelinci lainnya yang layak untuk dicoba adalah bakso kelinci.
Daging kelinci yang dibutuhkan untuk membuat bakso kelinci berupa fillet sebanyak 5 kg. Sama
seperti halnya nugget kelinci, bahan pendukung bakso tidak terlalu berbeda. Perbedaan yang ada
hanyalah pada proporsi setiap bahan dan bakso kelinci tidak menggunakan bahan tepung roti untuk
pengulitan. Proporsi antara bahan baku utama dengan bahan pendukung, antara lain:
sagu 3 kg, Omega 3 0,15 kg, dan bumbu Rp 30.000.
Proses pembuatan bakso kelinci lebih singkat jika dibandingkan nugget kelinci karena
waktu yang dibutuhkan hanya selama 2 jam. Setiap kemasan bakso kelinci berisi 200 gram dalam
plastik kedap udara. Adapun tahapan pembuatan bakso kelinci dapat dilihat pada Gambar 10.

Fillet Kelinci dihaluskan


Grinder
Campur dengan Sagu dan Bumbu Halus
Food Processor
Cetak dengan Bantuan Sendok

Rebus, Angkat dan Tiriskan


Vacuum Siller
Pengemasan
Gambar 10. Tahapan Pembuatan Bakso Kelinci

Dari hasil perhitungan nilai tambah pada Tabel 20, dapat diketahui bahwa masing-masing
hasil (output) berupa olahan nugget dan bakso kelinci di unit usaha Dapur Kebita adalah sebanyak
7,5 kg dan 8 kg. Kedua produk olahan menggunakan bahan baku utama berupa fillet daging kelinci
sebanyak 5 kg. Fillet daging kelinci diperoleh dari 10 ekor kelinci afkir dengan bobot hidup
sebesar 2 kg. Jadi, dapat dikatakan bahwa dua ekor kelinci afkir sebanding dengan satu kg fillet
daging.
Tenaga kerja yang dipekerjakan selama pengolahan berjumlah tiga orang. Masing-masing
tenaga kerja memiliki tugas yang berbeda. Dua orang bertugas untuk memotong kelinci sekaligus
memisahkan daging kelinci dengan tulang dan

59
kulit, sedangkan satu orang bertugas untuk mengolah daging kelinci hingga pengemasan produk.

Tabel 19. Nilai Tambah Olahan Kelinci Dapur Kebita


Nilai
Variabel
Nugget Bakso
I. Output, Input, dan Harga
1. Output (Kg) 7,5 8
2. Input (Kg) 5 5
3. Tenaga Kerja (HOK) 3 3
4. Faktor Konversi 1,5 1,6
5. Koefisien Tenaga Kerja (HOK) 0,6 0,6
6. Harga Output (Rp) 80.000 75.000
7. Upah Tenaga Kerja Langsung (Rp/HOK) 26666,67 26666,67
II. Penerimaan dan Keuntungan
8. Harga Bahan Baku (Rp/Kg) 80.000 80.000
9. Sumbangan Input Lain (Rp/Kg) 21.800 13.500
10. Nilai Ouput (Rp/Kg) 120.000 120.000
11.a. Nilai Tambah (Rp/Kg) 18.200 26.500
b. Rasio Nilai Tambah (%) 0,15 0,22
12.a. Pendapatn Tenaga Kerja Langsung (Rp/Kg) 16.000 16.000
b. Pangsa Tenaga Kerja (%) 0,88 0,60
13.a. Keuntungan (Rp/Kg) 2.200 10.500
b. Tingkat Keuntungan (%) 0,12 0,40
III. Balas Jasa Pemilik Faktor-Faktor Produksi
14. Marjin (Rp/Kg) 40.000 40.000
a. Pendapatan Tenaga Kerja Langsung (%) 0,40 0,40
b. Sumbangan Input Lain (%) 0,55 0,34
c. Keuntungan Pemilik Perusahaan (%) 0,06 0,26

Faktor konversi adalah pembagian antara hasil (output) olahan kelinci berupa nugget dan
bakso dengan bahan baku utama (input) yang digunakan pada satu kali produksi. Bahan baku
utama kedua produk adalah fillet daging kelinci. Besarnya faktor konversi pada produk nugget
sebesar 1,5 yang menunjukan bahwa satu kg fillet daging kelinci dapat menghasilkan 1,5 kg
nugget. Faktor konversi pada bakso kelinci sebesar 1,6 yang menunjukan bahwa satu kg fillet
kelinci dapat menghasilkan 1,6 kg bakso.

60
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, tenaga kerja yang dipergunakan pada unit
usaha Dapur Kebita berjumlah 3 orang. Besarnya koefisien tenaga kerja pada kedua produk
bernilai sama yakni 0,6 karena input berupa fillet daging kelinci dan jumlah tenaga kerja yang
dipekerjakan besarnya sama. Koefisien tenaga kerja sebesar 0,6 menunjukan bahwa unit usaha
Dapur Kebita membutuhkan tenaga kerja sebesar 0,6 untuk dapat mengolah 1kg bahan baku
utama. Oleh sebab itu, untuk mengolah 5 kg fillet daging kelinci membutuhkan 3 orang pekerja.
Produk olahan yang dihasilkan oleh unit usaha Dapur Kebita dijual dengan perbedaan
harga. Olahan nugget kelinci dijual dengan harga Rp 80.000 per kg, sedangkan olahan bakso dijual
dengan harga Rp 75.000 per kg. Dapur Kebita menjual produk-produknya dalam kemasan kecil
berukuran 200-250 gr. Harga per kemasan nugget sebesar Rp 20.000 per 250 gr dan bakso sebesar
Rp 15.000 per 200 gr.
Biaya yang dikeluarkan oleh unit usaha Dapur Kebita untuk membayar tenaga kerja
sebesar Rp 80.000 dengan rincian dua orang bertugas untuk memotong dan memisahkan daging
kelinci sebesar Rp 50.000 dan 1 orang bertugas selama proses pengolahan dan pengemasan
sebesar Rp 30.000. Jadi, upah tenaga kerja langsung pada kedua produk olahan sebesar Rp
26.666,67 untuk satu kali proses produksi (Tabel 20).

Tabel 20. Pendapatan Tenaga Kerja Langsung pada Unit Dapur Kebita
Jumlah Tenaga Total
Pekerjaan Upah (Rp)
Kerja (HOK) (Rp)
Pemotongan (fillet) 2 25.000 50.000
Pengolahan-Pengemasan 1 30.000 30.000
Rata-rata 26666,67

Bahan pendukung yang dipergunakan selama proses pengolahan nugget dan bakso kelinci
tidak terlalu berbeda. Bahan pendukung untuk mengolah nugget kelinci terdiri dari tepung sagu
sebanyak 2,5 kg, bumbu sebesar Rp 50.000, tepung roti sebanyak 2 kg, omega 3 sebanyak 0,25 kg,
dan kemasan sebanyak 30. Biaya yang dikeluarkan untuk bahan pendukung untuk nugget kelinci
sebesar Rp 109.000. Biaya yang dibutuhkan untuk membeli bahan pendukung bakso kelinci

61
lebih murah jika dibandingkan nugget kelinci yakni sebesar Rp 67.500. Perincian biaya yang
dikeluarkan terdiri dari tepung sagu sebanyak 3 kg, bumbu sebesar Rp30.000, omega 3 sebanyak
0,15 kg, dan kemasan sebanyak 40. Jadi, sumabangan input lain per kg pada produk nugget adalah
Rp 21.800/kg dan pada produk bakso adalah Rp 13.500/kg. Rincian biaya bahan pendukung pada
produk nugget dan bakso dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 21. Sumbangan Input Lain pada Olahan Kelinci


Komponen Jumlah (Unit) Harga (Rp/Unit) Total (Rp)
Nugget Kelinci
Tepung Sagu 2,5 Kg 5.000 12.500
Bumbu 50.000
Tepung Roti 2 Kg 10.000 20.000
Omega 3 (Nabati Jagung) 0,25 Kg 70.000 17.500
Kemasan 30 Kemasan 300 9.000
Total (Rp) 109.000
Bakso Kelinci
Tepung Sagu 3 Kg 5.000 15.000
Bumbu 30.000
Omega 3 (Nabati Jagung) 0,15 Kg 70.000 10.500
Kemasan 40 Kemasan 300 12.000
Total (Rp) 67.500

Nilai output merupakan hasil perkalian antara komponen faktor konversi dengan harga
output. Kedua produk olahan daging kelinci mempunyai nilai output (produk) yang sama yakni
sebesar Rp 120.000/kg. Makna dari nilai output pada olahan nugget adalah 1,5 kg nugget yang
dihasilkan dari 1 kg fillet kelinci dapat dijual sebesar Rp 120.000, sedangkan pada olahan bakso
adalah 1,6 kg bakso yang dihasilkan dari 1 kg fillet kelinci dapat dijual dengan harga sebesar Rp
120.000.
Perhitungan utama yang hendak dicari dari kedua olahan daging kelinci adalah besarnya
nilai tambah. Nilai tambah merupakan hasil pengurangan dari nilai output, sumbangan imput lain,
dan harga bahan baku. Dari kedua produk yang dihasilkan oleh unit usaha Dapur Kebita, produk
yang memiliki nilai tambah yang besar adalah bakso kelinci. Hal ini dikarenakan biaya yang
dikeluarkan

62
untuk sumbangan bahan pendukung lebih kecil yakni sebesar Rp 13.500/kg. Produk bakso kelinci
tidak menggunakan tepung roti sebagai bahan pendukungsehingga dapat menghemat biaya
produksi. Oleh sebab itu, rasio nilai tambah bakso lebih besar dibandingkan nugget kelinci yakni
sebesar 22 persen.
Tenaga kerja yang dipekerjakan pada unit usaha Dapur Kebita mendapatkan pendapatan
(upah) tenaga kerja sebesar Rp 16.000 dari setiap kilogram bahan baku fillet daging kelinci yang
dipergunakan selama produksi. Besarnya upah tenaga kerja yang diterima oleh tiga orang pekerja
pada unit Dapur Kebita adalah sama karena jumlah bahan baku utama dan jumlah tenaga kerja
digunakan juga sama. Namun, pangsa tenaga kerja pada pada pengolahan produk nugget lebih
besar daripada bakso karena nilai tambah yang dihasilkan hanya sebesar Rp 18.200/kg. Pangsa
tenaga kerja dihitung dalam satuan persen dimana merupakan hasil pembagian dari pendapatan
tenaga kerja langsung dengan nilai tambah dan dikali 100 persen. Pangsa tenaga kerja untuk
produk nugget sebesar 88 persen dan produk bakso sebesar 60 persen.
Keuntungan yang mampu diterima oleh Dapur Kebita untuk kedua produk olahannya
bernilai berbeda. Keuntungan terbesar diperoleh dari pengolahan bakso kelinci sebesar Rp 10.500
dari setiap kilogram bahan baku utama sehingga tingkat keuntungan yang dinyatakan dalam satuan
persen adalah sebesar 40 persen. Keuntungan yang besar pada olahan bakso karena biaya produksi
jauh lebih murah yakni sebesar Rp 67.500 untuk 5 kg fillet kelinci. Keuntungan yang diterima dari
pengolahan nugget kelinci hanya sebesar Rp 2.200 dengan tingkat keuntungan sebesar 12 persen.
Analisis nilai tambah selanjutnya adalah menghitung marjin usaha yang terdiri dari
pendapatan tenaga kerja langsung, sumbangan input lain, dan keuntungan pemilik perusahaan.
Kedua produk olahan dari Dapur Kebita memiliki nilai margin yang sama yakni sebesar Rp 40.000
karena nilai output dan harga bahan baku yang dipergunakan sama sehingga pendapatan tenaga
kerja langsung dalam satuan persen adalah sebesar 40 persen. Jika dilihat dari komponen biaya
produksi, produk olahan nugget kelinci membutuhkan biaya yang besar sebesar Rp 109.000
sehingga sumbangan input lain juga menjadi besar yaitu sebesar 55 persen dengan tingkat
keuntungan bagi pemilik usaha hanya sebesar 6 persen. Produk nugget memberikan nilai balas jasa
untuk sumbangan input lain sebesar 34 persen dengan imbalan bagi pemilik usaha sebesar 26
persen.

64
VI KESIMPULAN DAN SARAN

9.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil peneliitian yang dilakukan di Koperasi Peternak Kelinci
(KOPNAKCI), maka dapat disimpulkan beberapa kesimpulan antara lain:
1) Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) merupakan salah satu koperasi
pertama di Indonesia yang menghimpun peternak kelinci di wilayah
Kabuoaten Bogor. Usaha ternak yang dilakukan oleh anggota KOPNAKCI
umumnya adalah penjualan kelinci anakan berumur satu bulan. Analisis
kelayakan aspek non-finansial pada usaha ternak ini meliputi aspek pasar,
teknis, manajemen dan hukum, sosial, ekonomi dan budaya beserta
lingkungan. Hasil analisis aspek-aspek non-finansial pada usaha ternak
kelinci orientasi penjualanan kelinci anakan menunjukan bahwa usaha ternak
yang dilakukan oleh anggota KOPNAKCI layak untuk dilaksanakan. Pada
aspek pasar, hasil produk berupa kelinci anakan sudah memiliki pasar sendiri
sehingga peternak tidak perlu melakukan upaya promosi. Konsumen biasanya
langsung datanng ke kandang setiap akhir pekan. Konsumen yang merupakan
pedagang pengumpul siap menampung berapapun jumlah kelinci anakan Jika
dilihat dari aspek teknis, peternak sudah memahami teknik budidaya kelinci.
Skala usaha ternak kelinci masih tergolong kecil karena rata-rata jumlah
kepemilikan indukan kelinci adalah sebanyak 50 ekor. KOPNAKCI sebagai
wadah penghimpun peternak telah memiliki struktur organisasi yang terdiri
dari ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris, dan bendahara serta
beberapa staf manajer. Usaha ternak kelinci jika dilihat dari aspek sosial
dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penurunan tingkat
kemiskinan dan pemerataan lapangan pekerjaan. Setiap anggota secara tidak
langsung belajar untuk berwirausaha dari usaha ternak kelinci. Dalam
pelaksanaannya, usaha ternak kelinci juga tidak bertentangan dengan adat
istiadat setempat.
2) Analisis kelayakan aspek non-finansial memperhatikan empat kriteria
investasi, yakni Net Prezent Value (NPV), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C),
Internal Rate of Return (IRR), dan Discounted Payback Period (DPP).
Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga deposito Bank
Indonesia (BI) sebesar 5,75 persen. Analisis kelayakan aspek finansial
dilakukan pada dua skenario, yakni skenario I dan skenario II. Berdasakan
hasil analisis pada kedua skenario, usaha ternak kelinci layak dilaksanakan
karena hasilnya telah memenuhi kriteria investasi.
3) Analisis switching value bertujuan untuk melihat perubahan maksimal dari
sebuah usaha agar dapat dihindari. Penurunan produksi kelinci pada kedua
skenario sangat berpengaruh terhadap usaha dibandingkan kenaikan harga
pakan. Penurunan produksi kelinci pada skenario II lebih sensitif
dibandingkan skenario I. Besarnya penurunan produksi kelinci dimasing-
masing skenario adalah 12,97 persen di skenario I dan 3,05 persen di skenario
II. Penurunan produksi kelinci yang melewati batas maksimum perubahan
akan mengakitbatkan kerugian.
4) Analisis nilai tambah yang dilakukan pada unit usaha Dapur Kebita
menunjukan bahwa produk olahan bakso kelinci memberikan nilai tambah
yang besar sebesar Rp 26.500 dan rasio nilai tambah sebesar 22 persen.
Produk olahan nugget kelinci memiliki nilai tambah sebesar Rp 18.200 dan
rasio nilai tambah sebesar 15 persen karena biaya-biaya produksi yang
dibutuhkan lebih besar dibandingkan bakso. Tingkat keuntungan yang
diterima dari pembuatan nugget adalah sebesar Rp 2.200, sedangkan
keuntungan dari bakso adalah sebesar Rp 10.500 untuk satu kali proses
produksi. Rasio nilai tambah pada kedua produk olahan kelinci masih sangat
rendah. Hal ini menunjukan bahwa unit usaha Dapur Kebita termasuk
kedalam agroindustri skala ruma tangga.

9.2. Saran
1) Bagi anggota koperasi, usaha ternak kelinci orientasi penjualan kelinci
anakan umur satu bulan lebih layak dilaksanakan karena lebih
menguntungkan.
2) Bagi peternak perlu memperhatikan penurunan produksi kelinci bagi usaha
ternaknya karena perubahan ini lebih sensitif dan berpengaruh dibandingkan
kenaikan harga pakan konsentrat. Langkah-langkah pencegahan yang dapat
dilakukan untuk meminimalisir penurunan tersebut adalah dengan

66
memperhatikan kebersihan kandang kelinci karena udara disekitar yang
kurang baik membawa pengaruh negatif bagi kesehatan ternak.
3) Bagi Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI) sebaiknya membuat pakan
konsentrat sendiri untuk menekan biaya operasional terutama untuk usaha
ternak skenario II. Kenaikan harga pakan konsentrat pada skenario II lebih
sensitif jika dibandingkan skenario I karena pakan konsentrat mulai diberikan
pada kelinci lepas sapih hingga pembesaran kelinci.
4) Unit usaha Dapur Kebita seharusnya lebih memfokuskan untuk memproduksi
olahan bakso kelinci karena memiliki nilai tambah yang lebih besar sebesar
22 persen dengan tingkat keuntungan bagi pemilik usaha sebesar 26 persen.

67
DAFTAR PUSTAKA

[DEPTAN] Departemen Pertanian. Statistik Peternakan. 2011. Peternakan dan Kesehatan Hewan
2011. Jakarta: Departemen Pertanian.

. 2011.
Populasi Ternak Nasional Tahun 2006 – 2010 (000 Ekor). Jakarta: Depatemen Pertanian.

[DISNAKKAN] Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor. 2011. Populasi Kelinci
Kabupaten Bogor Tahun 2008-2010. Bogor: Dinasnakkan Kabupaten Bogor.

Gittinger, J. Price. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Edisi Kedua. Jakarta:
Universitas Indonesia.

Hayami, Y. et al. 1987. Agricultural Marketing and Processing in Upland Java. A Prespective
From a Sunda Village. Bogor: CGPRT Centre.

Nugroho, Arief Pramudyo. 2000. Kelayakan Finansial dan Nilai Tambah Kegiatan Usaha
Pengolahan Susu Murni di Milk Treatment Koperasi Peternakan Bandung Selatan Jawa
Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Nurmalina, Rita. Et al. 2010. Studi Kelayakan Bisnis. Bogor: Departemen Agribisnis FEM-IPB.

Raharjo, Yono C. 2005. Prospek, Peluang, dan Tantangan Agribisnis Ternak Kelinci. Di Dalam
Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci Puslitbang
Peternakan.

Sarwono, B. 2009. Kelinci Potong dan Hias. Jakarta: PT ArgoMedia Pustaka.


Sumiarti, Siti. 2004. Analisis Kelayakan Investasi Usaha Agribisnis Kelinci (Oryctolagus
cuniculus) pada Peternakan Kelinci Agro Wira Tani Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor
Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Syafrul, Auliya. 2010. Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Yoghurt di Perusahaan Dafarm
Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Umar, Husein. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Widagdho, Nandana Duta. 2008. Analisis Kelayakan Usaha Peternakan Kelinci Asep’s Rabbit
Project Lembang Kabupaten Bandung Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.

68
LAMPIRAN

Lampiran 1. Populasi Kelinci Kabupaten Bogor Tahun 2008 – 2010 (Ekor)

Tahun Tahun
Kecamatan Kecamatan
2008 2009 2010 2008 2009 2010
Nanggung 411 248 732 Cariu 301 292 219
Leuwiliang 764 287 890 Tanjungsari 75 0 219
Leuwi Sadeng 110 464 404 Jonggol 0 52 99
Pamijahan 4637 2296 3735 Cileungsi 264 316 298
Cibungbulang 621 663 1262 Klapanunggal 60 42 102
Ciampea 238 259 895 Gunung Putri 0 0 0
Tenjolaya 166 521 4265 Citeureup 0 0 0
Dramaga 0 0 535 Cibinong 284 251 394
Ciomas 176 181 553 Bojonggede 59 59 0
Tamansari 241 327 719 Tajur Halang 87 87 40
Cijeruk 79 244 220 Kemang 46 49 63
Cigombong 81 450 271 Rancabungur 60 122 121
Caringin 105 80 86 Parung 214 145 183
Ciawi 332 1153 1227 Ciseeng 0 207 352
Cisarua 1176 2478 3148 Gn. Sindur 0 0 0
Megamendung 640 2338 3357 Rumpin 0 0 100
Sukaraja 0 17 23 Cigudeg 0 0 0
Bbk. Madang 52 159 289 Sukajaya 0 0 0
Sukamakmur 0 254 366 Jasinga 0 0 0
Tenjo 0 69 72 Pr. Panjang 83 55 85
Total 11362 14165 25324
Sumber: Disnakan Kab. Bogor (2011)

69
Lampiran 2. Kelompok Peternak Binaan KOPNAKCI
No. Nama Kelompok Lokasi
1. Kelompok Tani Ternak Bina Tani Desa Pasir Eurih
2. Kelompok Tani Ternak Asy-Syabab2 Desa Laladon
3. Kelompok Tani Tegalwaru Desa Tegalwaru
4. Kelompok Tani Ternak Bina Mandiri Desa Citapen
5. Kelompok Tani Ternak Km26 Desa Pondok Udik
6. Kelompok Tani Ternak Wahana Taruna Karya Desa Gunung Mulya
7. Kelompok Tani Ternak Budi Asih Desa Gunung Mulya
8. Big Rabbit Farm Desa Cijulang
9. Agribuana Farm Desa Cemplang
10. SK2R Farm Desa Pagelaran
11. Tryas Nakci Desa Parakan
12. Sukaharja Farm Desa Sukaharja
13. Mandiri Rabbit Desa Purwasari
14. Rea Kelinci Desa Pagelaran
15. Kelompok Tani Ternak Jaya Tani Desa Sukajadi
16. Kelompok Tani Ternak Muara Jaya Desa Muara
17. Kelompok Tani Raja Nanggrang Berkah Desa Nanggrang
18. Kelompok Tani Ternak Mitra Farm Desa Sukawening
19. Kelompok Tani Ternak Family Umam Desa Ciaruteun Udik
20. Kelompok Tani Fajar Rabbitry Desa Cibatok Satu
21. Kelompok Tani Utari Desa Pasir Eurih
22. Kelompok Tani Binatani Mandiri Desa Purwasari
23. Kelompok Tani Binatani Lestari Desa Gunung Mulya
Sumber: KOPNAKCI (2012)

70
Lampiran 3. Jenis-jenis Kelinci

Nederland Dwarf English Angora

Fussy Lop Deutch

New Zealand White Rex

New Zealand White dan Lion Head

71
73
Bulan Bulan
Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan
Ke-1 Ke-12
Ke-2 Ke-3 Ke-4 Ke-5 Ke-6 Ke-7 Ke-8 Ke-9 Ke-10 Ke-11
Uraian
Kegiatan
1 2 3 1 2 3 4
4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Banguna
n dan
Kandang

Lampiran 5. Nilai Sisa (Salvage Value) Usaha Ternak Skenario I


Lampiran 4. Siklus Kehidupan Usaha Ternak Kelinci

Pembelia
n
Indukan
dan
Adaptasi
Pengawi
nan
Kelinci
Indukan
Masa
Mengand
ung
Masa
Melahirk
an
Masa
Menyusu
i
Kelinci
Anakan
Umur
Biaya Investasi Penyusutan Nilai Sisa
No. Uraian Ekonomis
(Rp) (Rp/Tahun) (Rp)
(thn)
1. Indukan Betina 3.995.000 3 1.331.666,67 0
2. Indukan Jantan 600.000 3 200.000 0
3. Bangunan 5.600.000 3 1.866.666,67 0
4. Kandang 3.380.000 3 1.126.666,67 0
5. Sarang Beranak 980.000,00 2 235.000 235.000
6. Tempat Makan 294.000,00 1 520.0000 0
7. Tempat Minum 245.000,00 1 520.000 0
Total Nilai Sisa 235.000

No. Uraian Nilai Sisa (Rp)


1. Indukan Kelinci 2.600.000
2. Sarang Beranak 235.000
Total 2.835.000

73
Lampiran 6. Biaya Tetap Usaha Ternak Skenario I
No. Uraian Harga (Rp/Unit) Kebutuhan/Tahun Total Harga (Rp)
1. Listrik 25.000/bulan 12 bulan 300.000
2. Biaya Pemeliharaan 200.000/bulan 12 bulan 2.400.000
3. Gaji Karyaman 500.000/bulan 12 bulan 6.000.000
Total Biaya Tetap 8.700.000

74
Lampiran 7. Biaya Variabel Usaha Ternak Skenario I

Lampiran 7.1. Biaya Variabel Tahun Pertama Skenario I


No. Uraian Satuan Jumlah Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp)
1. Pakan Konsentrat kg 1.761 3.000 5.148.000
2. Obat botol 11 65.000 715.000
3. Vitamin botol 1.144 100 114.400
Upah Tenaga Kerja
4. Langsung HOK 1 10.296.000 10.296.000
Total Biaya 16.273.400

Lampiran 7.2. Biaya Variabel Tahun Ke-2 dan Ke-3 Skenario I


No. Uraian Satuan Jumlah Harga Satuan (Rp) Nilai (Rp)
1. Pakan Konsentrat kg 1.872 3.000 5.616.000
2. Obat botol 13 65.000 845.000
3. Vitamin botol 1.248 100 124.800
Upah Tenaga Kerja
4. Langsung HOK 1 11.232.000 11.232.000
Total Biaya 17.817.800

75
Lampiran 8. Laporan Laba Rugi Usaha Ternak Skenario I
Tahun
No. Komponen
1 2 3
A. PENERIMAAN
Penjualan Kelinci Anakan 31.140.000,00 44.240.000,00 44.240.000,00
Nilai Sisa 2.835.000,00
TOTAL PENERIMAAN 31.140.000,00 44.240.000,00 47.075.000,00
B. BIAYA OPERASIONAL
1. BIAYA TETAP
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Pemeliharaan Bangunan dan
Kandang 2.400.000,00 2.400.000,00 2.400.000,00
Penyusutan 5.800.000,00 5.800.000,00 5.800.000,00
TOTAL BIAYA TETAP 14.500.000,00 14.500.000,00 14.500.000,00
2. BIAYA VARIABEL
Pakan 5.148.000,00 5.616.000,00 5.616.000,00
Vitamin 114.400,00 124.800,00 124.800,00
Obat-Obatan 715.000,00 845.000,00 845.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 10.296.000,00 11.232.000,00 11.232.000,00
TOTAL BIAYA VARIAVEL 16.273.400,00 17.817.800,00 17.817.800,00
TOTAL BIAYA
OPERASIONAL 30.773.400,00 32.317.800,00 32.317.800,00
C. EBT (LABA KOTOR) 366.600,00 11.922.200,00 14.757.200,00
D. PAJAK (25%) 91.650,00 2.980.550,00 3.689.300,00
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
E. EAT (LABA BERSIH) 199.950,00 8.866.650,00 10.992.900,00

76
Lampiran 9. Cash FlowUsaha Ternak Skenario I
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Anakan 31.140.000,00 44.240.000,00 44.240.000,00
2. Nilai Sisa 2.835.000,00
Total Inflow 31.140.000,00 44.240.000,00 47.075.000,00
II. Outflow
Biaya Investasi
Indukan Betina 3.995.000,00
Indukan Jantan 600.000,00
Lahan 5.600.000,00
Bangunan 5.600.000,00
Kandang 3.380.000,00
Sarang Beranak 470.000,00 470.000,00
Tempat Makan 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Tempat Minum 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Total Biaya Investasi 20.685.000,00 1.040.000,00 1.510.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan Kandang 2.400.000,00 2.400.000,00 2.400.000,00
Total Biaya Tetap 8.700.000,00 8.700.000,00 8.700.000,00

Biaya Variabel
Pakan 5.148.000,00 5.616.000,00 5.616.000,00
Vitamin 114.400,00 124.800,00 124.800,00
Obat-Obatan 715.000,00 845.000,00 845.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 10.296.000,00 11.232.000,00 11.232.000,00
Total Biaya Variabel 16.273.400,00 17.817.800,00 17.817.800,00
Pajak (25%) 91.650,00 2.980.550,00 3.689.300,00
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 45.825.050,00 30.613.350,00 31.792.100,00
III. Net Benefit (14.685.050,00) 13.626.650,00 15.282.900,00
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (13.886.572,10) 12.185.079,00 12.923.038,65
NPV 11.221.545,55
IRR 58%
PV Positif 25.108.117,65
PV Negatif (13.886.572,10)
Net B/C 1,81
Payback Period 2 tahun 6 bulan

77
Lampiran 10. Analisis Switching Value Penurunan Produksi Kelinci Sebesar 12,97
persen pada Skenario I
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Anakan 27.100.486,03 38.501.140,08 38.501.140,08
2. Nilai Sisa 2.835.000,00
Total Inflow 27.100.486,03 38.501.140,08 41.336.140,08
II. Outflow
Biaya Investasi
Indukan Betina 3.995.000,00
Indukan Jantan 600.000,00
Lahan 5.600.000,00
Bangunan 5.600.000,00
Kandang 3.380.000,00
Sarang Beranak 470.000,00 470.000,00
Tempat Makan 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Tempat Minum 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Total Biaya Investasi 20.685.000,00 1.040.000,00 1.510.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan Kandang 2.400.000,00 2.400.000,00 2.400.000,00
Total Biaya Tetap 8.700.000,00 8.700.000,00 8.700.000,00

Biaya Variabel
Pakan 5.148.000,00 5.616.000,00 5.616.000,00
Vitamin 114.400,00 124.800,00 124.800,00
Obat-Obatan 715.000,00 845.000,00 845.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 10.296.000,00 11.232.000,00 11.232.000,00
Total Biaya Variabel 16.273.400,00 17.817.800,00 17.817.800,00
Pajak (25%) 1.545.835,02 2.254.585,02
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 45.733.400,00 29.178.635,02 30.357.385,02
III. Net Benefit (18.632.913,97) 9.322.505,06 10.978.755,06
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (17.619.776,80) 8.336.271,98 9.283.504,83
NPV 0,00
IRR 5,75%
PV Positif 17.619.776,81
PV Negatif (17.619.776,80)
Net B/C 1,00
Payback Period

78
Lampiran 11. Analisis Switching Value Kenaikan Harga Pakan Konsentrat
Sebesar 92,72 persen pada Skenario I
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Anakan 31.140.000,00 44.240.000,00 44.240.000,00
2. Nilai Sisa 2.835.000,00
Total Inflow 31.140.000,00 44.240.000,00 47.075.000,00
II. Outflow
Biaya Investasi
Kelinci Indukan Betina 3.995.000,00
Kelinci Indukan Jantan 600.000,00
Lahan 5.600.000,00
Bangunan 5.600.000,00
Kandang 3.380.000,00
Sarang Beranak 470.000,00 470.000,00
Tempat Makan 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Tempat Minum 520.000,00 520.000,00 520.000,00
Total Biaya Investasi 20.685.000,00 1.040.000,00 1.510.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan Kandang 2.400.000,00 2.400.000,00 2.400.000,00
Total Biaya Tetap 8.700.000,00 8.700.000,00 8.700.000,00

Biaya Variabel
Pakan 9.921.215,80 10.823.144,51 10.823.144,51
Vitamin 114.400,00 124.800,00 124.800,00
Obat-Obatan 715.000,00 845.000,00 845.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 10.296.000,00 11.232.000,00 11.232.000,00
Total Biaya Variabel 21.046.615,80 23.024.944,51 23.024.944,51
Pajak (25%) 1.678.763,87 2.387.513,87
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 50.506.615,80 34.518.708,38 35.697.458,38
III. Net Benefit (19.366.615,80) 9.721.291,62 11.377.541,62
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (18.313.584,68) 8.692.870,68 9.620.714,00
NPV 0,00
IRR 5,75%
PV Positif 18.313.584,69
PV Negatif (18.313.584,68)
Net B/C 1,00
Payback Period

79
Lampiran 12. Nilai Sisa (Salvage Value) Usaha Ternak Skenario II
Umur
Penyusutan/Thn
No. Uraian Biaya Investasi Ekonomis Nilai Sisa (Rp)
(Rp)
(thn)
1. Indukan (Rex) 27.500.000 3 9.166.667 0
2. Bangunan 7.500.000 3 2.500.000 0
3. Kandang Battery 7.150.000 3 2.383.333,33 0
4. Kandang Postal 6.500.000 3 2.166.666,67 0
5. Sarang Beranak 1.100.000 2 550.000 550.000
6. Tempat Makan 2.100.000 1 2.100.000 0
7. Tempat Minum 2.100.000 1 2.100.000 0
Total Nilai Sisa 20.966.666,67 550.000

No. Uraian Nilai Sisa (Rp)


1. Indukan Kelinci 5.500.000
2. Sarang Beranak 550.000
Total 6.050.000

80
Lampiran 13. Biaya Tetap Usaha Ternak Skenario II
No. Uraian Harga (Rp/Unit) Kebutuhan/Tahun Total Harga (Rp)
1. Listrik 25.000/bulan 12 bulan 300.000
2. Biaya Pemeliharaan 300.000/bulan 12 bulan 3.600.000
3. Gaji Karyaman 500.000/bulan 12 bulan 6.000.000
Total Biaya Tetap 9.900.000

81
Lampiran 43. Biaya Variabel Usaha Ternak Skenario II

Lampiran 14.1. Biaya Variabel Skenario I Tahun Pertama


Populasi (Ekor) Biaya Pakan Konsentrat
Biaya Upah
Indukan Kelinci
Biaya Tenaga
Kelinci Potong Biaya
Bulan Indukan Kelinci Vitamin Kerja
(Populasi x (Populasi x Obat (Rp)
Kelinci Potong (Rp) Langsung
30 x Rp 30 x Rp
(Rp)
300) 100)
1 - - - - - - -
2 110 - 990.000 - 130.000 22.000 1.980.000
3 110 - 990.000 - 130.000 22.000 1.980.000
4 110 400 990.000 1.200.000 130.000 102.000 4.380.000
5 110 800 990.000 2.400.000 130.000 182.000 6.780.000
6 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
7 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
8 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
9 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
10 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
11 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
12 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
Total Biaya Variabel 10.890.000 28.800.00 1.430.000 2.162.000 79.380.000

Total Keseluruhan Biaya Variabel Tahun Pertama (Rp) 122.662.000

Lampiran 14.2. Biaya Variabel Tahun ke-2 dan ke-3 Skenario II


Populasi (Ekor) Biaya Pakan Konsentrat
Indukan Kelinci Biaya Upah
Biaya
Kelinci Potong Biaya Tenaga Kerja
Bulan Indukan Kelinci Vitamin
(Populasi x (Populasi x Obat (Rp) Langsung
Kelinci Potong (Rp)
30 x Rp 30 x Rp (Rp)
300) 100)
1 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
2 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
3 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
4 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
5 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
6 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
7 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
8 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
9 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
10 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
11 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
12 110 1200 990.000 3.600.000 130.000 262.000 9.180.000
Total Biaya Variabel 11.880.000 43.200.000 1.560.000 3.144.000 110.160.000

Total Biaya Keseluruhan Tahun ke2 dan Ke-3 (Rp) 169.944.000

82
Lampiran 15. Laporan Laba Rugi Usaha Ternak Skenario II
Tahun
No Komponen
1 2 3
A. PENERIMAAN
Penjualan Kelinci Potong 120.000.000 240.000.000 240.000.000
Nilai Sisa 6.050.000
TOTAL PENERIMAAN 120.000.000 240.000.000 246.050.000
B. BIAYA OPERASIONAL
1. BIAYA TETAP
Gaji Karyawan 6.000.000 6.000.000 6.000.000
Listrik 300.000 300.000 300.000
Pemeliharaan Bangunan dan
Kandang 3.600.000 3.600.000 3.600.000
Penyusutan 20.966.666,67 20.966.666,67 20.966.666,67
TOTAL BIAYA TETAP 30.866.666,67 30.866.666,67 30.866.666,67
2. BIAYA VARIABEL
Pakan 39.690.000,00 55.080.000,00 55.080.000,00
Obat-Obatan 1.430.000,00 1.560.000,00 1.560.000,00
Vitamin 2.162.000,00 3.144.000,00 3.144.000,00
Upah Tenaga Kerja Tidak Tetap 79.380.000,00 110.160.000,00 110.160.000,00
TOTAL BIAYA VARIABEL 122.662.000,00 169.944.000,00 169.944.000,00
TOTAL BIAYA
OPERASIONAL 153.528.666,67 200.810.666,67 200.810.666,67
C. EBT (LABA KOTOR) (33.528.666,67) 39.189.333,33 45.239.333,33
D. PAJAK (25%) 9.797.333,33 11.309.833,33
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
E. EAT (LABA BERSH) (33.603.666,67) 29.317.000,00 33.854.500,00

83
Lampiran 16. Cashflow Skenario II
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Potong 120.000.000,00 240.000.000,00 240.000.000,00
2. Nilai Sisa 6.050.000,00
Total Inflow 120.000.000,00 240.000.000,00 246.050.000,00
II. Outflow
Biaya Investasi
Kelinci Indukan 27.500.000,00
Lahan 7.500.000,00
Bangunan 7.500.000,00
Kandang Battery 7.150.000,00
Kandang Koloni 6.500.000,00
Sarang Beranak 1.100.000,00 1.100.000,00
Tempat Makan 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Tempat Minum 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Total Biaya Investasi 61.450.000,00 4.200.000,00 5.300.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan
Kandang 3.600.000,00 3.600.000,00 3.600.000,00
Total Biaya Tetap 9.900.000,00 9.900.000,00 9.900.000,00

Biaya Variabel
Pakan 39.690.000,00 55.080.000,00 55.080.000,00
Vitamin 2.162.000,00 3.144.000,00 3.144.000,00
Obat-Obatan 1.430.000,00 1.560.000,00 1.560.000,00
Upah Tenaga Kerja
Langsung 79.380.000,00 110.160.000,00 110.160.000,00
Total Biaya Variabel 122.662.000,00 169.944.000,00 169.944.000,00
Pajak (25%) 9.797.333,33 11.309.833,33
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 194.087.000,00 193.916.333,33 196.528.833,33
III. Net Benefit (74.087.000,00) 46.083.666,67 49.521.166,67
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (70.058.628,84) 41.208.449,53 41.874.510,13
NPV 13.024.330,83
IRR 19%
PV Positif 83.082.959,67
PV Negatif (70.058.628,84)
Net B/C 1,19
Payback Period 2 tahun 4 bulan

84
Lampiran 17. Analisis Switching Value Penurunan Produksi Kelinci Sebesar
3,05 persen pada Skenario II
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Potong 116.336.667,15 232.673.334,30 232.673.334,30
2. Nilai Sisa 6.050.000,00
Total Inflow 116.336.667,15 232.673.334,30 238.723.334,30
II. Outflow
Biaya Investasi
Kelinci Indukan 27.500.000,00
Lahan 7.500.000,00
Bangunan 7.500.000,00
Kandang Battery 7.150.000,00
Kandang Koloni 6.500.000,00
Sarang Beranak 1.100.000,00 1.100.000,00
Tempat Makan 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Tempat Minum 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Total Biaya Investasi 61.450.000,00 4.200.000,00 5.300.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan Kandang 3.600.000,00 3.600.000,00 3.600.000,00
Total Biaya Tetap 9.900.000,00 9.900.000,00 9.900.000,00

Biaya Variabel
Pakan 39.690.000,00 55.080.000,00 55.080.000,00
Vitamin 1.430.000,00 1.560.000,00 1.560.000,00
Obat-Obatan 2.162.000,00 3.144.000,00 3.144.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 79.380.000,00 110.160.000,00 110.160.000,00
Total Biaya Variabel 122.662.000,00 169.944.000,00 169.944.000,00
Pajak (25%) 7.965.666,91 9.478.166,91
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 194.087.000,00 192.084.666,91 194.697.166,91
III. Net Benefit (77.750.332,85) 40.588.667,40 44.026.167,40
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (73.522.773,38) 36.294.769,34 37.228.004,04
NPV 0,00
IRR 5,75%
PV Positif 73.522.773,38
PV Negatif (73.522.773,38)
Net B/C 1,00
Payback Period

85
Lampiran 18. Analisis Switching Value Kenaikan Harga Pakan Konsentrat
Sebesar 11,90 persen pada Skenario II
Tahun
No. Uraian Komponen
1 2 3
I. Inflow
1. Produk Utama
Kelinci Potong 120.000.000,00 240.000.000,00 240.000.000,00
3. Nilai Sisa 6.050.000,00
Total Inflow 120.000.000,00 240.000.000,00 246.050.000,00
II. Outflow
Biaya Investasi
Kelinci Indukan 27.500.000,00
Lahan 7.500.000,00
Bangunan 7.500.000,00
Kandang Battery 7.150.000,00
Kandang Koloni 6.500.000,00
Sarang Beranak 1.100.000,00 1.100.000,00
Tempat Makan 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Tempat Minum 2.100.000,00 2.100.000,00 2.100.000,00
Total Biaya Investasi 61.450.000,00 4.200.000,00 5.300.000,00

Biaya Operasional
Biaya Tetap
Gaji Karyawan 6.000.000,00 6.000.000,00 6.000.000,00
Listrik 300.000,00 300.000,00 300.000,00
Perawatan Bangunan dan Kandang 3.600.000,00 3.600.000,00 3.600.000,00
Total Biaya Tetap 9.900.000,00 9.900.000,00 9.900.000,00

Biaya Variabel
Pakan 44.415.061,64 61.637.228,39 61.637.228,39
Obat-Obatan 1.430.000,00 1.560.000,00 1.560.000,00
vitamin 2.162.000,00 3.144.000,00 3.144.000,00
Upah Tenaga Kerja Langsung 79.380.000,00 110.160.000,00 110.160.000,00
Total Biaya Variabel 127.387.061,64 176.501.228,39 176.501.228,39
Pajak (25%) 8.158.026,23 9.670.526,23
PBB 75.000,00 75.000,00 75.000,00
Total Outflow 198.812.061,64 198.834.254,63 201.446.754,63
III. Net Benefit (78.812.061,64) 41.165.745,37 44.603.245,37
DF 5,75 % 0,946 0,894 0,846
PV/Tahun (74.526.772,23) 36.810.797,91 37.715.974,32
NPV 0,00
IRR 5,75%
PV Positif 74.526.772,24
PV Negatif (74.526.772,23)
Net B/C 1,00
Payback Period 3 tahun 6 bulan

86
Lampiran 19. Produk Olahan Nugget dan Bakso Kelinci

Bakso Kelinci Nugget Kelinci

Sumber: KOPNAKCI (2012)

87