You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Infark miokard akut (AMI) didefinisikan sebagai nekrosis

miokardium yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat

sumbatan akut pada arteri koroner. Sumbatan ini sebagian besar disebabkan

oleh ruptur plak ateroma pada arteri koroner yang kemudian diikuti oleh

terjadinya thrombosis, vasokontriksi, reaksi inflamasi dan mikroembolisasi

distal. Kadang-kadang sumbatan akut ini dapat pula disebabkan oleh spasme

arteri koroner, emboli atau vaskulitis (Muttaqin, 2012: 73). Tanda dan gejala

dari Infark maiokard akut terjadi nyeri dada yang terjadi secara mandadak dan

terus-menerus tidak mereda, nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat,

dingin, diaphoresis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual

muntah (Kasron, 2012: 40). Keluhan yang khas ialah nyeri dada restrosternal,

seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau tertindih barang berat.

Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan

kepunggung dan epigastris (Kasron, 2012: 39).

Menurut World Health Organization (WHO, 2008), terhitung sebanyak

7.200.000 (12,2%) kematian terjadi akibat penyakit infark miokard akut di

seluruh dunia. Penyakit infark miokard akut adalah penyebab utama kematian

pada orang dewasa. Infark miokard akut adalah penyebab kematian nomor dua

di negara berpenghasilan rendah, dengan angka mortalitas 2.470.000 (9,4%),

di Indonesia pada tahun 2002 penyakit infark miokard akut merupakan

penyebab kematian pertama dengan angka mortalitas 220.000 (14%) (WHO,

2008).
Direktorat Jendral Yanmedik Indonesia meneliti tahun 2007, jumlah

pasien penyakit jantung yang menjalani rawat inap dan rawat jalan di RS di

Indonesia adalah 239.548 jiwa. Kasus tebanyak adalah kasus penyakit jantung

iskemik, yaitu 110,183 kasus. Care fatality rate (CFR) tertinggi terjadi pada

infark miokard akut (13,49%) dan kemudian diikuti oleh gagal jantung

(13,42%) dan penyakit jantung lainnya (3,37%) (Depkes, 2009 dalam Yunani

dan Wijayanti, 2013).

Dari beberapa masalah keperawatan pada pasien infark miokard akut

salah satunya yaitu nyeri akut. Nyeri adalah bentuk suatu rasa sensorik

ketidaknyamanan yang bersifat subyektif dan pengalaman emosional yang

tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau

potensial yang di rasakan dalam kejadian-kejadian di mana terjadi kerusakan

(Smeltze dan Bare, 2002 dalam Andarmoyo, 2013). Nyeri akut adalah nyeri

yang terjadi setelah cidera akut, penyakit atau intervensi bedah dan memiliki

awitan yang cepat dengan intensitas yang bervariasi dari ringan sampai berat

dan berlangsung untuk waktu yang singkat, atau dari beberapa detik kurang

dari 6 bulan (Andarmoyo, 2013, 36-37). Nyeri dada secara luas dapat

didefinisikan sebagai keluhan nyeri atau rasa tidak nyaman yang timbul pada

dada bagian anterior di atas epigastrium dan dibawah mandibula. Rasa nyeri

yang berasal dari jantung dapat dirasakan di rahang atau lengan (Setyohadi et

al, 2012: 378).

Berdasarkan jurnal keperawatan Novarenta, 2013, dari penanganan

nyeri akut di atas salah satunya menggunakan tehnik Guided Imagery. Tahnik
Guided Imagery adalah metode relaksasi untuk mengkhayalkan tempat dan

kejadian berhubungan dengan rasa relaksasi yang menyenangkan. Khayalan

tersebut memungkinkan klien memasuki keadaan atau pengalaman relaksasi

(Kaplan & Sadock, 2010 dalam Novarenta, 2013). Guided Imagery

memepunyai elemen yang secara umum sama dengan relaksasi, yaitu sama-

sama membawa klien kearah relaksasi. Tujuan dari tehnik Guided Imagery

yaitu menimbulkan respon psikofisiologis yang kuat seperti perubahan dalam

fungsi imun (Potter & Perry, 2009 dalam Novarenta, 2013). Manfaat dari

tehnik Guided Imagery yaitu sebagai intervensi perilaku untuk mengatasi

kecemasan, stres dan nyeri (Smeltzer & Bare, 2002 dalam Novarenta, 2013).

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh Guided Imagery terhadap perubahan
intensitas nyeri pada pasien Infark Miokard Akut
1.3 Manfaat
A. Manfaat Praktis
Menambah ilmu pengetahuan perawat tentang managemen nyeri
Guided Imagery terhadap perubahan intensitas nyeri pasien IMA
B. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam pemberian intervensi
keperawatan
BAB II

METODE DAN TINJAUAN TEORITIS


2.1 Metode Pencarian
Analissi jurnal ini menggukan 3 (dua) media atau metode pencarian jurnal,
yaitu sebagai berikut :
1. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan alamat situs :
www.pnri.go.id
2. ncbi dengan alat situs : https://www.ncbi.nlm.nih.gov
3. Google Schoolar dengan alamat situs: : http://scholar.google.co.id
2.2 Konsep Tentang Teoritis
A. Infark Miokard Akut (IMA)
1. Definisi
Infark miokard akut (AMI) didefinisikan sebagai nekrosis miokardium

yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan akut

pada arteri koroner. Sumbatan ini sebagian besar disebabkan oleh

ruptur plak ateroma pada arteri koroner yang kemudian diikuti oleh terjadinya

thrombosis, vasokontriksi, reaksi inflamasi, dan mikrosembolisasi distal.

Kadang-kadang sumbatan akut ini dapat pula disebabkan oleh spasme arteri

koroner, emboli, atau vaskulitis (Muttaqin, 2012: 73). Infark miokard akut

adalah kematian jaringan otot jatung (miokard) yang disebabkan olehh

insufisiensi siplai/banyaknya darah baik secara relatif maupun secara absolut

(Murwani, 2011: 73).

2. Etiologi

Penyebabnya dapat karena penyempitan kritis arteri koroner akibat

arterosklerosis atau oklusi arteri komplet akibat embolus atau thrombus.

Penurunan aliran darah koroner dapat juga disebabkan oleh syok dan
hemoragi. Pada setiap kasus terdapat ketidakseimbangan antara suplai dan

kebutuhan oksigen miokard (Rendi dan Margareth, 2012: 201).

3. Manifestasi Klinis

Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-

remas, ditekan, ditusuk, panas atau tertindih barang berat. Nyeri dapat

menjalar ke lengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan ke punggung

dan epigastrium. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pektoris dan tak

responsif terhadap nitrogliserin. Kadang-kadang, terutama pada pasien

diabetes dan orang tua, tidak ditemukan nyeri sama sekali. Nyeri dapat

disertai perasaan mual, muntah, sesak, pusing, keringat dingin, berdebar-

debar atau sinkope. Pasien sering tampak ketakutan. Walaupun AMI dapat

merupakan manifestasi pertama peyakit jantung koroner namun bila

anamnesis dilakukan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului keluhan-

keluha angina, perasaan tidak enak di dada atau epigastrium (Kasron, 2012:

39).

4. Patofisiologi

AMI terjadi ketika iskemik yang terjadi berlangsung cukup lama yaitu

lebih dari 30-45 menit sehingga menyebabkan kerusakan seluler yang

ireversibel. Bagian jantung yang terkena infark akan berhenti berkontraksi

selamanya. Iskemia yang terjadi paling banyak disebabkan oleh penyakit

arteri koroner/coronary artery disease (CAD). Pada penyakit ini terdapat

materi lemak (plague) yang telah terbentuk dalam beberapa tahun di dalam

lumen arteri koronria (arteri yang mensuplai darah dan oksigen pada jantung).
Plague dapat ruptur sehingga menyebabkan terbentuknya bekuan darah pada

permukaan plague. Jika bekuan menjadi cukup besar, maka bisa menghambat

aliran darah baik total maupun sebagian pada arteri koroner. Terbendungnya

aliran darah menghambat darah yang kaya oksigen mencapai bagian otot

jantung yang disuplai oleh arteri tersebut. Kurangnya oksigen akan merusak

otot jantung. Jika sumbatan itu tidak ditangani dengan cepat, otot jantung

yang rusak itu akan mulai mati. Selain disebabkan oleh terbentuknya

sumbatan oleh plague ternyata infark juga bisa terjadi pada orang dengan

arteri koroner normal (5%). Diasumsikan bahwa spasme arteri koroner

berperan dalam beberapa kasus ini (Kasron, 2012: 36-37).

Spasme yang terjadi bisa dipicu oleh beberapa hal antara lain:

mengkonsumsi obat-obatan tertentu, stress emosional, merokok, dan paparan

suhu dingin yang ekstrim. Spasme bisa terjadi pada pembuluh darah yang

mengalami aterosklorotik sehingga bisa menimbulkan oklusi kritis sehingga

bisa menimbulkan infark jika terlambat penanganannya (Kasron, 2012: 37).

Pada sebagian besar pada kasus ini, infark terjadi jika plak aterosklerosis

mengalami firus, ruptur atau ulserasi dan jika kondisi lokal atau sistemik

memicu trombogenesis, sehingga terjadi thrombus mural pada lokasi ruptur

yang mengakibatkan oklusi arteri koroner. Penelitian histologis menunjukkan

plak koroner cenderung mengalami ruptur jika mempunyai fibrous cap yang

tipis dan inti kaya lipid (lipid rich core). Selanjutnya pada ruptur plak,

berbagai agonis (kolagen, ADP, epinefrin, serotonin) memicu aktivitas


trombosit, yang selanjutnya akan memproduksi dan melepaskan tromboksan

A2 (vasokonstriktor lokal yang poten) (Sudoyo et al, 2009: 1741)

B. Nyeri

1. Pengertian

Menurut Tournaire & Theu-Yonneau (2007) dalam Judha et al (2012)

mendefisikan nyeri sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan, baik

sensori maupun emosional yang berhubungan dengan resiko atau aktualnya

kerusakan jaringan tubuh. Nyeri merupakan suatu mekanisme proteksi bagi

tubuh, timbul ketika jaringan sedang rusak, dan menyebabkan individu

tersebut bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri (Curton, 1983 dalam

Prasetyo, 2010). Melzack dan Wall (1988) dalam Judha et al (2012)

mengatakan bahwa nyeri adalah pengalaman pribadi, subjektif, yang

dipengaruhi oleh budaya, persepsi seseorang, perhatian dan vareabel-

vareabel psikologis lain, yang mengganggu perilaku yang berkelanjutan dan

memotivasi setiap orang untuk menghentikan rasa tersebut.

2. Klasifikasi nyeri

Jenis nyeri Berdasarkan jenisnya, nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri

perifer, nyeri sentral, dan nyeri psikogenik:

1. Nyeri perifer

Nyeri perifer dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai

berikut :

 Nyeri superfisial: rasa nyeri muncul akibat rangsangan pada kulit dan

mukosa.
 Nyeri viseral: rasa nyeri akibat rangsangan pada reseptor nyeri di rongga

abdomen, cranium, dan toraks.

 Nyeri alih: nyeri rasa dirasakan di daerah lain yang jauh dari jaringan

penyebab nyeri.

2. Nyeri sentral

Nyeri sentral adalah nyeri yang muncul akibat rangsangan pada medula

spinalis, batang otak dan thalamus.

3. Nyeri psikogenik

Nyeri psikogenik dalah nyeri yang penyebab fisiknya tidak diketahui.

Umumnya nyeri ini disebabkan oleh faktor psikologis.

Selain jenis-jenis nyeri yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat

juga beberapa jenis yang lain. Contohnya adalah sebagai berikut.

 Nyeri somatik: nyeri yang berasal dari tendon, tulang, saraf dan

pembuluh darah.

 Nyeri menjalar: nyeri yang terasa dibagian tubuh yang lain, umumnya

disebabkan oleh kerusakan atau cidera pada organ viseral.

 Nyeri neurologis: bentuk nyeri tajam yang disebabkan oleh spasme di

sepanjang atau di beberapa jalur saraf.

3. Pengukuran intensitas nyeri

a) Skala deskriptif (Verbal Descriptor Scale, VDS)

Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri

yang lebih objektif. Berupa sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima

kata pendiskripsi yang tersusun dengan jarak yang sma dengan sepanjang
garis dan dilakukan dengan meminta klien memilih intensitas nyeri yang

dirasa (Potter & Perry, 2006: 1518-1519).

Diskriptif

Tidak nyeri Nyeri Nyeri Nyeri Nyeri yang


ringan sedang berat tidak tertahankan

b) Skala Numerik (Numerical Rating Scales, NRS)

Skala numerik digunakan sebagai pengganti alat pendiskripsi kata. Klien

menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Paling efektif digunakan

sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Bila digunakan untuk menilai

direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR, 1992 dalam Potter & Perry,

2006: 1518-1519).

c) Skala wajah atau Wong-Baker FACES Rating Scale

Pengukuran intensitas nyeri dengan skala wajah dilakukan dengan

cara memerhatikan mimik wajah pasien pada saat nyeri tersebut

menyerang. Cara ini diterapkan pada pasien yang tidak dapat menyatakan

intensitas nyerinya dengan skala angka, misalnya anak - anak dan lansia.

Skala wajah dapat digambarkan sebagai berikut (Saputra, 2012: 217-218).


C) Teknik guided magery

1. Pengertian

Menurut Kaplan & sadock, 2010 dalam Novarenta,

2013 mengatakan bahwa tehnik Guided Imagery adalah metode relaksasi

untuk mengkhayalkan tempat dan kejadian berhubungan dengan rasa

relaksasi yang menyenangkan. Khayalan tersebut memungkinkan klien

memasuki keadaan atau pengalaman relaksasi. Guided Imagery menggunakan

imajinasi seseorang dalam suatu yang direncanakan secara khusus untuk

mencapai efek positif tertentu. Imajinasi bersifat individu dimana individu

menciptakan gambaran mental dirinya sendiri, atau bersifat terbimbing.

Banyak tehnik imajinasi melibatkan imajinasi visual tapi tehnik ini j uga

menggunakan indera pendengaran, pengecapan dan penciuman (Potter &

Perry, 2009 dalam Novarenta, 2013). Guided Imagery merupakan tehnik yang

menggunakan imajinasi seseorang untuk mencapai efek positif tertentu

(Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2010 dalam Patasiket al, 2013).

2. Tujuan

Guided Imagery memepunyai elemen yang secara umum sama

dengan relaksasi, yaitu sama-sama membawa klien kearah relaksasi. Tujuan

dari tehnik Guided Imagery yaitu menimbulkan respon psikofisiologis yang

kuat seperti perubahan dalam fungsi imun (Potter & Perry, 2009 dalam

Novarenta, 2013). Penggunaan Guided Imagery tidak dapat memusatkan

perhatian pada banyak hal dalam satu waktu oleh karena itu klien harus

membayangkan satu imajinasi yang sangat kuat dan menyenangkan.


3. Manfaat

Manfaat dari tehnik Guided Imagery yaitu sebagai intervensi

perilaku untuk mengatasi kecemasan, stres dan nyeri (Smeltzer dan Bare,

2002 dalam Novarenta, 2013). Menjelaskan aplikasi klinis Guided Imagery

yaitu sebagai penghancur sel kanker, untuk mengontrol dan mengurangi rasa

nyeri, serta untuk mencapai ketenangan dan ketentraman (Potter & Perry,

2009 dalam Novarenta, 2013).

Guided Imagery merupakan imajinasi yang direncanakan secara

khusus untuk mencapai efek positif. Dengan membayangkan hal-hal yang

menyenangkan maka akan terjadi perubahan aktifitas motorik sehingga otot-

otot yang tegang menjadi relaks, respon terhadap bayangan menjadi semakin

jelas. Hal tersebut terjadi karena rangsangan imajinasi berupa hal-hal yang

menyenangkan akan menjalankan kebatang otak menuju sensor thalamus

untuk diformat. Sebagian kecil rangsangan itu ditransmisikan ke amigdala

dan hipokampus, sebagian lagi dikirim ke korteks serebri. Sehingga pada

korteks serebri akan terjadi asosiasi pengindraan. Pada hipokampus hal-hal

yang menyenangkan akan diproses menjadi sebuah memori. Ketika terdapat

rangsangan berupa imajinasi yang menyenangkan memori yang tersimpan

akan muncul kembali dan menimbulkan suatu persepsi. Dari hipokampus

rangsangan yang telah mempunyai makna dikirim ke amigdala yang akan

membentuk pola respon yang sesuai dengan makna rangsangan yang

diterima. Sehingga subjek akan lebih mudah untuk mengasosiasikan dirinya

dalam menurukan sesuai nyeri yang dialami (Novarenta, 2013: 187).


Mekanisme imajinasi positif dapat melemahkan psikoneuroimmunologi yang

mempengaruhi respon stress, selain itu dapat melepaskan endorphin yang

yang melemahkan respon rasa sakit dan dapat mengurangi rasa sakit atau

meningkatnya ambang nyeri (Hart, 2008 dalam mariyam dan widodo, 2012:

230).

4. Langkah – Langkah

Tehnik ini dimulai dengan proses relaksasi pada umumnya yaitu

meminta kepada klien untuk perlahan-lahan menutup matanya dan fokus pada

nafas mereka, klien didorong untuk relaksasi mengosongkan pikiran dan

memenuhi pikiran dengan bayangan untuk membuat damai dan tenang

(Rahmayati, 2010 dalam Patasik et al, 2013).

Menurut Kozier & Erb, (2009) dalam Novarenta, (2013),

mengatakan bahwa langkah-langkah dalam melakukan Guided Imagery yaitu:

a. Untuk persiapan, mencari lingkungan yang nyaman dan tenang, bebas dari

distraksi. Lingkungan yang bebas dari distraksi diperlukan oleh subjek

guna berfokus pada imajinasi yang dipilih. Untuk pelaksanaan, subjek

harus tahu rasional dan keuntungan dari tehnik imajinasi terbimbing.

Subjek merupakan partisipan aktif dalam latihan imajinasi dan harus

memahami secara lengkap tentang apa yang harus dilakukan dan hasil

akhir yang diharapkan. Selanjutnya memberikan kebebasan kepada subjek.

Membantu subjek ke posisi yang nyaman dengan cara: membantu subjek

untuk bersandar dan meminta menutup matanya. Posisi nyaman dapat

meningkatkan fokus subjek selama latihan imajinasi. Menggunakan


sentuhan jika hal ini tidak membuat subjek terasa terancam. Bagi beberapa

subjek, sentuhan fisik mungkin menggangu karena kepercayaan budaya

dan agama mereka.

b. Langkah berikutnya menimbulkan relaksasi. Dengan cara memanggil

nama yang disukai. Berbicara jelas dengan nada yang tenang dan netral.

Meminta subjek menarik nafas dalam dan perlahan untuk merelaksasikan

semua otot. Untuk mengatasi nyeri atau stress, dorong subjek untuk

membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Setelah itu membantu subjek

merinci gambaran dari bayangannya. Mendorong subjek untuk

menggunakan semua inderanya dalam menjelaskan bayangan dan

lingkungan bayangan tersebut.

c. Langkah selanjutnya meminta subjek untuk menjelaskan perasaan fisik

dan emosional yang ditimbulkan oleh bayangannya. Dengan mengarahkan

subjek untuk mengeksplorasi respon terhadap bayangan karena ini akan

memungkinkan subjek memodifikasi imajinasinya. Respon negatif dapat

diarahkan kembali untuk memberikan hasil akhir yang lebih positif.

Selanjutnya memberikan umpan balik kontinyu kepada subjek. Dengan

memberi komentar pada tanda-tanda relaksasi dan ketentraman. Setelah itu

membawa subjek keluar dari bayangan. Setelah pengalaman imajinasi dan

mendiskusikan perasaan subjek mengenai pengalamannya tersebut. Serta

mengidentifikasi setiap hal yang dapat meningkatkan pengalaman

imajinasi. Selanjutnya motivasi subjek untuk mempraktikkan tehnik

imajinasi secara mandiri.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Author Judul Metode Hasil Source
Hendry Imam PEMBERIAN Pre Eksperimen Penggunaan tehnik Guided Imagery efektif schoolar
Darmiko untuk menurunkan intensitas nyeri skala
TEKNIK GUIDED
nyeri dari 6 menjadi 5, namun tidak bisa
IMAGERY
hilang sepenuhnya
TERHADAP
PENURUNAN NYERI
PADA PASIEN
DENGAN AMI
(INFARK MIOKARD
AKUT)

Sri Sumartini PENGARUH GUIDED Quasi experiment Hasil penelitian menunjukkan bahwa repository.unpad
IMAGERY
dengan kelompok terdapat perbedaan bermakna intensitas
RELAXATION
TERHADAP kontrol. nyeri Angina Pectoris antara sebelum dan
INTENSITAS NYERI
sesudah perlakuan baik pada kelompok
ANGINA PECTORIS
PADA PASIEN intervensi maupun pada kelompok
SINDROM KORONER
kontrol, dan hasil kelompok intervensi
AKUT
lebih baik daripada pada kelompok
kontrol
Peggy Burhenn, GUIDED IMAGERY FOR The authors’ aim Sebagian besar dari survei ini, Oncology
MS, CNS, PAIN CONTROL was to test the pasien rawat inap menunjukkan bahwa Nursing Society
AOCNS feasibility of a 42% pasien menyatakan nyeri berkurang
nurse-led guided setelah melakukan imaginasi terbimbing.
imagery
intervention on
two medical
oncology
inpatient units
Victoria Menzies, EFFECTS OF GUIDED Longitudinal, Penelitian ini menunjukkan efektivitas liebertpub
Ann Gill Taylor, IMAGERY ON
prospective, two- imaginasi terbimbing dalam meningkatkan
Cheryl OUTCOMES OF PAIN,
Bourguignon FUNCTIONAL group, status fungsional dan rasa self-efficacy
STATUS, AND SELF-
randomized, untuk mengelola rasa sakit dan gejala lain
EFFICACY IN
PERSONS DIAGNOSED controlled clinical dari FM. Namun, laporan rasa sakit
WITH FIBROMYALGIA
trial partisipan tidak berubah.
Endrayani PENGARUH TEKNIK Quasi Berdasarkan hasil penelitian dan eprints.ums
RELAKSASI GUIDED
Sehono Eksperimental pembahasan, maka kesimpulan dari
IMAGERY TERHADAP
PENURUNAN NYERI Design penelitian ini adalah: (1) tingkat nyeri
PADA PASIEN PASCA
responden sebelum perlakuan pada
OPERASI FRAKTUR DI
RSUD DR. MOEWARDI kelompok eksperimen dan kelompok
SURAKARTA
kontrol sebagian besar mengalami nyeri
sedang, (2) Tingkat nyeri responden
sesudah perlakuan pada kelompok
eksperimen sebagian besar mengalami
nyeri sedang dan ringan, sedangkan pada
kelompok kontrol rata-rata mengalami
nyeri sedang, (3) ada pengaruh yang
signifikan teknik relaksasi guided imagery
terhadap penurunan nyeri pada pasien
pasca operasi fraktur.
Affan Novarenta GUIDED IMAGERY eksperimen single Hasil pengukuran dengan menggunakan JIPT
UNTUK MENGURANGI
case study skala numeric pain distress menunjukkan
RASA NYERI SAAT
MENSTRUASI adanya penurunan intensitas nyeri
menstruasi. Penelitian ini dapat menjadi
pengetahuan bagi masyarakat bahwa
guided imagery merupakan salah satu
alternatif intervensi dalam mengurangi
nyeri menstruasi.
3.2 Pembahasan

1. Artikel ini dipublikasikan oleh stikes kusuma husada dengan peneliti

Hendry Imam Darmiko tahun 2014, penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui perubahan intensitas nyeri setelah tindakan imaginai

terbimbing. Dengan memberikan intervensi pada pasien dengan nyeri

dada di ruang ICVCU rumah sakit Dr. Moewardi Surakarta. Dari hasil

wawancara yang dilakukan peneliti didapatkan Penggunaan tehnik

Guided Imagery akan efektif jika dilakukan beberapa hari seperti

yang disebutkan di jurnal Novarenta 2013 yaitu dilakukan 7 hari,

Namun pada kasus ini karena keterbatasan waktu penulis hanya

melakukan 2 hari dan hasilnya bisa menurunkan skala nyeri dari 6

menjadi 5, namun tidak bisa hilang sepenuhnya.

2. Artikel ini dipublikasikan oleh Universitas Padjajaran dengan peneliti

Sri Sumartini tahun 2012, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

perubahan intensitas nyeri setelah tindakan imaginai terbimbing.

Dengan memberikan intervensi pada pasien dengan nyeri angina

pectoris di rumah sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Pemilihan sampel

dengan consecutive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi yaitu

23 pasien kelompok intervensi dan 23 kelompok kontrol, dengan uji

statistik menggunakan Mann Withney test yaitu analisis bivariabel

independent berjenis kategorik tidak berpasangan dan uji statistik

Wilcoxon test analisis bivariabel untuk variabel dependent berjenis

kategorik berpasangan dengan nilai p<0,05. Penelitian dilakukan


selama 15 menit setelah mendapatkan terapi standar, dan waktu

penelitian dimulai tanggal 5 Desember 2011 sampai dengan 3 Januari

2012 di Rumah Sakit pendidikan di Bandung. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna intensitas nyeri

Angina Pectoris antara sebelum dan sesudah perlakuan baik pada

kelompok intervensi maupun pada kelompok kontrol, dan hasil

kelompok intervensi lebih baik daripada pada kelompok kontrol. Hal

ini menyatakan bahwa guided imagery relaxation dapat menurunkan

intensitas nyeri angina pectoris pada pasien sindrom koroner akut dan

penelitian yang sama terutama dalam mengurangi nyeri. Simpulan

didapatkan ada pengaruh Guided Imagery relaxation terhadap

penurunan intensitas nyeri angina pektoris, peran perawat dalam

mengembangkan teknik ini sebagai proses asuhan keperawatan secara

mandiri.

3. Artikel ini diteliti oleh Peggy Burhenn, MS, CNS, AOCNS, peneliti ini

bertujuan untuk melihat efektifitas imaginasi terbimbing terhadap

Sebagian besar dari survei ini pasien rawat inap menunjukkan bahwa

42% pasien menyatakan nyeri berkurang setelah melakukan imaginasi

terbimbing.

4. Hasil penelitian oleh Victoria Menzies,Ann Gill Taylor, Cheryl

Bourguignon. Penelitian ini menunjukkan efektivitas imaginasi

terbimbing dalam meningkatkan status fungsional dan rasa self-

efficacy untuk mengelola rasa sakit dan gejala lain dari FM. Namun,
laporan rasa sakit partisipan tidak berubah.

5. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Endrayani Sehono 2010, yang

tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh teknik

relaksasi guided imagery terhadap penurunan nyeri pasien pasca

operasi fraktur. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka

kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) tingkat nyeri responden

sebelum perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

sebagian besar mengalami nyeri sedang, (2) Tingkat nyeri responden

sesudah perlakuan pada kelompok eksperimen sebagian besar

mengalami nyeri sedang dan ringan, sedangkan pada kelompok kontrol

rata-rata mengalami nyeri sedang, (3) ada pengaruh yang signifikan

teknik relaksasi guided imagery terhadap penurunan nyeri pada pasien

pasca operasi fraktur di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.

6. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Affan Novarenta 2013, Tujuan

penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah guided imagery efektif

untuk mengurangi rasa nyeri saat menstruasi. Desain yang digunakan

adalah eksperimen single case study yang dilakukan pada 3 orang

subjek. Hasil pengukuran dengan menggunakan skala numeric pain

distress menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri menstruasi.

Penelitian ini dapat menjadi pengetahuan bagi masyarakat bahwa

guided imagery merupakan salah satu alternatif intervensi dalam

mengurangi nyeri menstruasi.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
Infark miokard akut (AMI) didefinisikan sebagai nekrosis
miokardium yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pasokan darah
akibat sumbatan akut pada arteri koroner. Tanda dan gejala dari Infark
maiokard akut terjadi nyeri dada penanganan nyeri akut di atas salah
satunya menggunakan tehnik Guided Imagery. Tahnik Guided
Imagery adalah metode relaksasi untuk mengkhayalkan tempat dan
kejadian berhubungan dengan rasa relaksasi yang menyenangkan.
Khayalan tersebut memungkinkan klien memasuki keadaan atau
pengalaman relaksasi. Dimana menurut penelitian-penelitian yang
dibahas sebelumnya tehnik ini dapat mengurangi intensitas nyeri
skala ringan sampai sedang
4.2 SARAN

1. Bagi Perawat
Diharapkan literature review ini khususnya bagi perawat dapat
menambah referensi tentang pengaruh guided imagery terhadap penurunan
intensitas nyeri
2. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan analisis jurnal pengaruh guided imagery terhadap


penurunan intensitas nyeri menjadi salah satu tindakan pada pasien dengan
gangguan rasa nyaman yaitu nyeri dalam upaya peningkatan pelayanan
dirumah sakit
DAFTAR PUSTAKA
Andarmoyo, S, (2013), Konsep Dasar Proses Keperawatan Nyeri, Ar-ruzz
media, Yogyakarta.
Dermawan, Deden, (2012), Proses Keperawatan Penerapan konsep Dan
Kerangka Kerja, Gosyen, Yogyakarta.
Judha M, et al. (2012). Teori pengukuran nyeri dan nyeri persalinan, Nuha
Medika.Yogyakarta.
Kasron. (2012). Buku Ajar Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Nuha Medika,
Yogyakarta.
Muttaqin, Arif. (2012). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
system Kardiovaskuler. Salemba Medika, Jakarta.
Muwarni, Arita. (2011), Perawatan Pasien Penyakit Dalam, Gosyen
Publishing, Jakarta.
Novarenta, Affan, (2013). Guided Imagery untuk mengurangi rasa nyeri saat
menstruasi, Vol. 01, No.02.