You are on page 1of 8

MOTIVASI

A. Pengertian

Motif dan motivasi merupakan dua kata yang sangat erat berhubungan, motif dalam bentuk masih
pasif dan motivasi merupakan sesuatu yang telah aktif. Motif berasal dari bahasa latin,movere
yang berarti bergerak atau to move (Branca,1964). Suatu dorongan yang berasal dari dalam diri
individu itulah yang disebut motif. Dorongan yang terdapat dalam diri manusia berkaitan erat
dengan kebutuhan, namun terkadang dorongan bisa terlepas dari adanya suatu kebutuhan tertentu.
Energy pada perilaku manusia diperoleh dari adanya dorongan untuk mencapai kebutuhannya.
Hamalik (1992) mengemukakan, motivasi adalah suatu perubahan energy dalam pribadi seseorang
yang ditandai dengan munculnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan tersebut.

Jadi motivasi adalah dorongan yang telah aktif , sehingga terjadi perubahan energy dalam diri
manusia yang menggerakkannya untuk mencapai tujuan atau kebutuhannya. Pada umumnya,
setiap dorongan dari dalam diri individu terjadi dalam rangka mencapai suatu tujuan, namun
demikian ada dorongan yang terjadi tidak berkaitan langsung dengan tujuan yang akan dicapai
yang telah direncanakan sebelumnya. Dorongan yang demikian sering terjadi karena seseorang
mengalami perubahan emosi.

B. Jenis Motif
Motif ada berbagai jenis sesuai dengan sudut pandangnya. Dalam hal ini motif hanya
dibahas dari sudut pandang asal motif. Djamarah (2002) mengemukakan berdasarkan asal
motif dapat dibedakan menjadi motif internal yang disebut motif instrinsik dan motif
eksternal yang disebut motif ekstrinsik
1. Motif instrinsik
Merupakan motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan stimuli dari
luar, karena dalam diri individu telah ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu.
Motif itu instrinsik jika tujuannya inheren dengan situasi aktivitas dan bertemu dengan
kebutuhan dan tujuan individu untung menguasai segala sesuatu yang ada dalam
aktivitas tersebut. Sesorang yang telah memiliki motif instrinsik, ia secara sadar akan
melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motif dari luar dirinya. Dalam
aktivitas belajar, motif instrinsik sangat diperlukan terutama dalam belajar mandiri,
karena seseorang yang tidak memiliki motif instrinsik sulit melakukan aktivitas belajar
secara kontinu. Sebaliknya seseorang yang memiliki motif instrinsik selalu ingin maju
dalam belajar. Motif instrinsik sangat penting dalam suatu aktivitas un tuk mencapai
suatu tujuan yang maksimal. Seseorang yang memiliki motif instrinsik cenderung
menjadi orang terdidik, berpengetahuan dan mempunyai keahlian dalam bidang
tertentu.
Gemar belajar dan membaca dalam aktivitas yang tidak pernah sepi dari seseorang
yang memiliki motif instrinsik. Kreativitas membaca adalah kunci inovasi dalam
pembinaan pribadi yang lebih terarah. Tidak ada seorang pun di masa kini yang berilmu
tanpa aktivitas membaca. Evolusi pemikiran manusia yang makin maju dalam
rentangan masa tertentu karena membaca. Dorongan untuk membaca dan belajar
bersumber dari kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang terdidik dan
berpengetahuan. Jadi, motif instrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan
esensial bukan sekedar atribut dan sermonial. Motif instrinsik inilah motif yang baik
diantara jenis motif yang ada.
2. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah kebalikan dari motif instrinsik. Motif ekstrinsik adalah motif
yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Suatu kegiatan dikatakan
karena motif ekstrinsik jika seseorang menempatkan tujuan aktivitasnya di luar factor-
faktor situasi aktivitas tersebut, sebagai contoh, seseorang belajar karena hendak
mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya seperti untuk mencapai
kehormatan, atau gelar tertentu. Motivasi ekstrinsik tetap diperlukan agar seseorang
mau beraktivitas. Dalam konteks belajar, pendidik yang baik adalah pendidik yang
pandai membangkitkan minat peserta didik dalam belajar dengan memanfaatkan motif
ekstrinsik dalam berbagai bentuknya. Motif ekstrinsik tidak selalu buruk akibatnya.
Dalam suatu keadaan motif ekstrinsik dapat digunakan untuk membantu seseorang
memperhatikan suatu kegiatan yang harus dilakukan.

C. Teori motivasi
Perilaku manusia itu didorong oleh motif tertentu, sehingga manusia itu berprilaku. Dalam
hal ini ada berbagai teori motif, di antaranya :
1. Teori insting
Menurut McDougall perilaku itu disebabkan karena insting dimana insting merupakan
perilaku yang innate (bawaan) dan insting akan mengalami perubahan karena
pengalaman (Walgito,2010). Pendapat McDougall mendapat tanggapan yang berbeda
dari Allport yang menerbitkan buku psikologi sosial tahun 1924, yang berpendapat
bahwa perilaku manusia itu disebabkan karena banyak factor, termasuk orang-orang
yang ada di sekitarnya dengan perilakunya
2. Teori dorongan
Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongan-
dorongan atau drive tertentu. Crider menyatakan, dorongan demikian berkaitan dengan
kebutuhan organism yang mendorong organisme berperilaku. Organisme memiliki
kebutuhan tersendiri dan organisme ingin memenuhi kebutuhannya, akan terjadi
ketegangan dalam diri organisme itu. Jika organism itu berperilaku dan dapat
memenuhi kebutuhannya itu, akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan –
dorongan tersebut (Walgito,2010).
3. Teori insentif
Menurut Walgito(2010), teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa perilaku
organisme itu disebabkan karena adanya insentif. Suatu insentif akan mendorong
organisme untuk berperilaku. Insentif disebut juga sebagai reinforcement, ada yang
positif dan ada yang negatif. Reinforcement yang positif berkenaan dengan
hadiah,sedangkan reinforcement negatif berkenaan dengan hukuman.
4. Teori atribusi
Teori ini menjelaskan tentang penyebab perilaku organisme oleh disposisi internal atau
oleh disposisi eksternal. Fitz (dalam Walgito, 2010) mengemukakan, pada dasarnya
perilaku manusia dapat atribusi internal, tetapi juga dapat atribusi eksternal. Seseorang
berperilaku, bisa oleh dorongan internal dan bisa juga karena dorongan eksternal, atau
dari dorongan internal dan dorongan eksternal
5. Teori kognitif
Fishbein dan Ajzen mengemukakan, seseorang harus memilih perilaku tertentu yang
harus dilakukan. Pada umumnya yang bersangkutan akan memilih suatu alternative
perilaku yang akan membawa manfaat sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan. Ini
yang disebut Subjektive expected utility (Walgito,2010). Dalam memilih ini factor
berfikir berperan dalam menentukan pilihannya. Dengan berpikir seseorang akan dapat
melihat sesuatu yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangan di samping melihat
sesuatu yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan akan
sesuatu yang dapat terjadi dalam bertindak. Pilihannya tentunya berdasarkan prioritas
akan manfaat yang sebesar-besarnya yang diperoleh terhadap pilihannya tersebut.

D. Fungsi Motivasi
Motif instrinsik maupun motif ekstrinsik berfungsi sama sebagai pendorong, penggerak ,
dan pengarah perilaku seseorang. Djamarah (2002) mengemukakan secara rinci, fungsi
motivasi sebagai pendorong, penggerak, dan pengarah perbuatan sebagai berikut :
1. Motivasi sebagai pendorong perilaku
Pada mulanya, tidak ada hasrat untuk melakukan sesuatu tetapi karena ada sesuatu yang
dicari, muncullah minatnya untuk melakukan suatu kegiatan tersebu. Sesuatu yang
dicari itu ingin memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang akan dilakukannya.
Sesuatu yang belum diketahui itu akhirnya mendorong seseorang untuk berperilaku.
Jadi, perilaku seseorang didorong oleh adanya motif tertentu dalam aktivitas
kehidupannya, sebagai contoh, seseorang yang ingin hidup tenang dan bahagiaa, maka
ia didorong oleh motif agar berpikir positif, optimis, serta belajar menerima kenyataan.
2. Motivasi sebagai penggerak perilaku
Dorongan psikologis yang muncul merupakan suatu kekuatan yang tidak terbendung,
yang kemudian menjelam dalam bentuk gerakan psikofisik. Dalam keadaan demikian,
seseorang telah melakukan aktivitasnya dengan optimal utnuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Akal pikiran berproses yabng cenderung tunduk akan kehendak perilaku
mencapai tujuan. Sikap berada dalam kepastian perilaku dan akal pikiran membedah
nilai dalam wacana, prinsip, dalil, dan hokum, sehingga mengerti sepenuhnya isi yang
terkandung di dalamnya.
3. Motivasi sebagai pengarah perilaku
Seseorang dapat menyeleksi atau mengarahkan suatu perilaku tertentu untuk mencapai
tujuan. Perilaku yang tidak mendukung untuk mencapai tujuan itu akan disingkirkan,
sebaliknya perilaku tertentu yang mendukung pencapaian tujuan yang diinginkan akan
dilakukan dengan semangat dan antusias. Motivasi sebagai pengarah perilaku akan
terus berorientasi pada pencapaian tujuan. Konsentrasi ditujukan dan diarahkan pada
suatu perilaku kea rah yang ingin dicapai. Segala sesuatu yang mengganggu pikirannya
dan yang dapat membuyarkan konsentrasinya diupayakan untuk disingkirkan. Itulah
peranan motif yang mengarahkan perilaku seseorang dalam beraktivitas untuk
mencapai kebutuhannya.

E. Stress dan Motivasi


Stres merupakan suatu kejadian yang harus dihadapi dalam rangka mencapai suatu
kebutuhan, karena stress erat kaitannya dengan kebutuhan. Kebutuhan seseorang didorong
oleh suatu penggerak yang disebut motif atau motivasi. Seseorang yang mengalam
kekurangan kebutuhan tertentu dalam kondisi normal ia akan mengalami stress yang sesuai
dengan kondisinya. Stress dalam taraf yang mampu untuk dikelola sesuai dengan batas
kemampuannya, akan menjadi pendorong atau motivasi untuk beraktivitas dalam rangka
mencapai kebutuhannya. Jadi stress merupakan pendorong atau sebagai motivasi untuk
mencapai tujuan atau kebutuhan. Hasil penelitian Notvitasari (2005) menemukan bahwa
stress yang terlalu rendah atau terlalu tinggi pada seseorang karyawan menyebabkan
kinerja karyawan tersebut menjadi rendah. Dari hasil penelitian ini, dapat diketahui bahwa
stress sedang atau stress dalam batas-batas yang mampu untuk dikelola oleh seseorang
sangat diperlukan untuk menimbulkan motivasi atau menggerakkan dirinya agar
melakukan upaya-upaya yang terarah untuk mencapai kinerja,prestasi,atau tujuan yang
optimal sesuai dengan potensinya.

F. Faktor yang memengaruhi motivasi


Menurut Irwanto dkk. (1991), berbagai factor yang memengaruhi motivasi sebagai berikut:
1. Faktor yang berasal dari lingkungan
Ada sejumlah factor dari lingkungan yang dapat memengaruhi motivasi seseorang.
Factor tersebut diantaranya kegaduhan, adanya bahaya dari lingkungan, desakan guru,
atau tekanan dari orang yang berpengaruh .
2. Factor yang berasal dari dalam diri individu
Factor yang berasal dari dalam individu adalah harapan, cita-cita,emosi, insting, dan
keinginan.
3. Nilai dari suatu objek
Tujuan atau insentif atau nilai dari suatu objek bisa dari dalam individu dan bisa juga
dari luar individu. Factor dari dalam diri individu meliputi: kepuasaan kerja dan
tanggung jawab. Nilai dari suatu objek dari luar individu mencakup: status, uang,
kehormatan, dan pangkat.

G. Cara memberikan motivasi


Menurut Djamarah(2002), ada berbagai cara memotivasi seseorang agar perilakunya sesuai
dengan kebutuhan atau tujuan yang ingin dicapai, diantaranya :
1. Memberikan hadiah
Hadiah yang diberikan kepada orang lain bisa dalam berbagai bentuk, tergantung dari
keinginan pemberi atau yang diberikan atau sesuai dengan prestasi yang dicapai.
Penerima hadiah tidak tergantung dari kedudukan, jabatan, profesi, jenis kelamin, dan
umur individu. Pada hakikatnya, hadiah diberikan untuk mempertahankan dan
meningkatkan perilakunya berkenaan dengan prestasi yang telah dicapainya. Hadiah
dapat diberikan dalam bentuk penghargaan psikologis seperti pujian, dalam bentuk
materi seperti barang, atau langsung dengan memberikan uang atauapun dalam bentuk
beasiswa. Dalam dunia pendidikan, hadiah dapat dijadikan saran motivasi untuk
mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
2. Kompetisi
Kompetisi sebagai suatu persaingan yang sehat bisa digunakan sebagai alat untuk
memotivasi individu agar bersemangat melakukan kegiatannya. Dalam pendidikan
kompetisi antarindividu maupun dalam kelompok sangat diperlukan agar proses
pembelajaran menjadi kondusif. Iklim kelas yang kondusif dan kreatif serta didukung
oleh peserta didik yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, sangat potensial
menciptakan kompetisi yang sehat dan produktif.
3. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada peserta didik agar merasakan pentingnya tugas dan
menerima sebagai suatu tantangan agar bekerja keras dengan mempertaruhkan harga
dirinya merupakan bentuk motivasi yang penting. Individu akan berupaya dengan keras
sesuai potensinya agar memperoleh prestasi terbaik untuk menjaga eksistensi harga
dirinya. Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas dan prestasi terbaik yang dapat
dicapai merupakan kebanggaan untuk harga dirinya.
4. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif dapat pula digunakan untuk memotivasi
jika dilakukan dengan tepat. Hukuman merupakan alat motivasi yang baik jika
dilakukan dengan pendekatan humanistic dan dimaksudkan agar tehukum mengetahui
yang seharusnya dilakukan, hukuman hendaknya diberikan dengan logis bukan karena
emosional atau dendam. Hukuman yang mendidik dimaksudkan agar individu tidak
mengulangi kesalahan yang telah diperbuatnya. Hukuman yang berbentuk fisik seperti
memukul, menjewer, dan sejenisnya adalah hukuman yang main hakim sendiri tentu
melanggar hukum dan tidak mendidik, sehingga cenderung melahirkan permusuhan
dan kebencian.
5. Minat
Minat merupakan kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang
berbagai aktivitas. Individu yang berminat terhadap suatu aktivitas akan
memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Minat pada
hakikatnya adalah penerimaan akan suatu hubungan anatar diri sendiri dengan sesuatu
di luar diri, makin kuat atau dekat hubungan tersebut, makin besar minatnya, minat
tidak hanya diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa seseorang
lebih menyukai sesuatu daripada yang lainnya, tetapi juga diimplementasikan melalui
partisispasi aktif dalam suatu kegiatan. Seseorang yang berminat terhadapat sesuatu,
cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang
diminati itu dan sama sekali tidak menghiraukan sesuatu yang lain. Minat merupakan
alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan dalam belajar maupun
beraktivitas. Tumbuhkanlah minat pada seseorang, maka ia akan termotivasi untuk
melakukan kegiatan tersebut

H. Hubungan Konflik, Kebutuhan, Tujuan, dan Motivasi


Menurut Walgito(2010), motivasi mempunyai sifat siklus (melingkar), yaitu dengan
timbulnya motivasi, memicu terjadinya perilaku untuk mencapai kebutuhan sesuai dengan
tujuannya. Dalam mencapai tujuan berkenaan dengan kebutuhan yang ada, sering muncul
adanya suatu konflik dimana jika tujuan sudah tercapai, motivasi itu berhenti, namun akan
kembali seperti semula apabila ada kebutuhan lagi. Pada tahap pertama, timbulnya keadaan
pemicu atau dorongan dapat timbul karena organisme itu merasa ada kekurangan dalam
kebutuhannya, seperti kurang tidur. Motif juga bisa timbul karena pengaruh stimulus luar,
misalnya gambar yang merangsang.

I. Motivasi dan konflik


Menurut Kurt Lewin, ada tiga macam konflik motif, yaitu :
1. Approach-approach conflict
Konflik ini timbul jika individu menghadapi dua motif atau lebih yang semuanya
mempunyai nilai positif bagi individu bersangkutan, dan individu harus memilih di
antara motif yang ada. Memilih motif yang sama baiknya inilah menimbulkan konflik.
2. Avoidance-avoidance conflict
Konflik motif ini timbul jika individu menghadapi dua atau lebih motif yang semuanya
mempunyai nilai negatif bagi individu tersebut. Individu tidak boleh menolak
semuanya, tetapi harus memilih satu dari motif yang ada. Keadaan ini tentu sulit
baginya tapi harus tetap memilih, di sanalah konflik itu muncul
3. Approach-avoidance conflict
Munculnya konflik ini diawali akibat adanya pilihan yang mengandung nilai yang
positif, sekaligus juga mengandung nilai yang negatif. Keadaan demikian dapat
menimbulkan konflik pada individu bersangkutan.

Dalam mengahadapi bermacam-macam motif tersebut, ada beberapa kemungkinan


respons yang dapat diambil oleh individu yang bersangkutan, yaitu :
1. Memilih atau menolak
Dalam mengahadapi berbagai motif, individu dapat melakukan pilihan yang tegas,
jika perbedaan antara motif yang satu dengan yang lain begitu nyata, akan mudah
untuk melakukan pilihan. Dalam suatu kondisi sering terjadi motif yang perbedaan
antara keduanya begitu tipis, sehingga seakan-akan keduanya sama, hal demikian
akan menimbulkan konflik dalam diri individu bersangkutan. Keadaan ini membuat
diri individu dihadapkan pada suatu kesulitan yang besar dalam mengambil suatu
keputusan.
2. Kompromi
Dalam mengahadapi dua motif, ada kemungkinan individu mengambil keputusan
yang bersifat kompromis, dalam arti menggabungkan keduanya. Kompromi bisa
dilakukan, maka konflik dapat diatasi. Tetapi, jika langkah kompromi tidak bisa
dilakukan, hal tersebut dapat menimbulkan konflik. Contoh, seorang ingin
melanjutkan studi, tetapi juga ingin bekerja , maka kedua keinginan ini dapat
dikompromikan yaitu bekerja sambil belajar, tapi jika seorang gadis memiliki dua
pacar, kedua pacar tersebut tidak dapat dinikahi semua pada suatu waktu, gadis
tersebut harus memilih diantar keduanya.
3. Ragu-ragu
Individu diharuskan memilih atau menolak dua motif, maka timbul keragu-raguan
pada diri individu tersebut, hal ini terjadi dalam keadaan konflik. Seakan-akan
individu berayun dari satu hal ke hal yang lain. Individu hamper memutuskan
mengambil yang satu tetapi juga yang lainnya akan diambil, sehingga pilihan
beralih dari yang satu ke lainnya. Keragu-raguan terjadi karena masing-masing
motif mempunyai nilai yang sama atau hampir sama antara yang satu dengan yang
lainnya, perbedaannya sangat tipis.
Kebimbangan atau keragu-raguan, pada umumnya tidak menyenangkan bagi
individu yang bersangkutan karena menggangu kehidupan psikisnya. Keadaan ini
dapat di atasi dengan cara individu mengambil suatu keputusan dengan
mempertimbangkan untung ruginya dengan cermat. Sehingga perlu dibuat daftar
alasan yang teliti. Keputusan yang diambil adalah pilihan yang terbaik.
Kebimbangan terkadang berlangsung lama, sehingga sangat mengganggu aktivitas
individu bersangkutan. Oleh karena itu, individu mengambil keputusan sembarang
saja, dan ia beranggapan bahwa adanya suatu keputusan akan lebih baik daripada
tidak ada keputusan sama sekali. Ada kemungkinan individu menangguhkan
persoalannya untuk sementara waktu, hingga individu tersebut menghadapi motif
atau objek itu secara tenang, yang selanjutnya individu akan dituntun oleh kata
hatinya dalam mengambil keputusan tersebut. Pada umumya keputusan diambil
oleh kata hati bersifat : subjektif, seolah-olah irasional dan dalam keputusan
tersebut bukan pikiran yang memutuskan, tetapi keputusan diambil dari lubuk hati,
dari kata hati individu yang bersangkutan. (walgito,2010)