You are on page 1of 28

HUBUNGAN TEKANAN DARAH DENGAN VERTIGO PADA

PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU


MUHAMMADIYAH CEPU

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Keperawatan
Oleh
Widya Novana Fita
NIM:E520173407

PEMBIMBING :
1. Dewi Hartinah,S.Kep,Ners.,M.Si.Med
2. M.Purnomo,S.Kep.,M.Hkes

JURUSAN S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


KUDUS

2018
HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul “HUBUNGAN TEKANAN DARAH DENGAN VERTIGO


PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH CEPU”
ini telah disetujui dan diperiksa oleh Pembimbing skripsi untuk dipertahankan
dihadapan Tim Penguji Skripsi Jurusan Keperawatan Stikes Muhammadiyah
Kudus, pada:

Hari :

Tanggal :

Nama : Widya Novana Fita

NIM : E520173407

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Dewi Hartinah,S.Kep,Ners.,M.Si.Med M.Purnomo,S.Kep.,M.Hkes

NIDN : NIDN:

Mengetahui

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus

Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes.(Epid)

NIDN :
HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dengan judul “HUBUNGAN TEKANAN DARAH DENGAN VERTIGO


PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH CEPU”
ini telah diuji dan disahkan oleh Tim Penguji skripsi Jurusan Keperawatan Stikes
Muhammadiyah Kudus, pada:

Hari :

Tanggal :

Nama : Widya Novana Fita

NIM : E520173407

Penguji Utama Penguji Anggota

Dewi Hartinah,S.Kep,Ners.,M.Si.Med M.Purnomo,S.Kep.,M.Hkes

NIDN : NIDN:

Mengetahui

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus

Ketua

Rusnoto, SKM.,M.Kes.(Epid)

NIDN :
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Widya Novana Fita

NIM : E520173407

Menyatakan bahwa skripsi judul : “HUBUNGAN TEKANAN DARAH DENGAN


VERTIGO PADA PASIEN HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH CEPU “ merupakan :

1. Hasil Karya yang dipersiapkan dan disusun sendiri

2. Belum pernah disampaikan untuk mendapatkan ..................

Oleh karena itu pertanggungjawaban skripsi ini sepenuhnya berada pada diri
saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

Kudus, Desember 2017

Penyusun,

Widya Novana Fita

NIM : E520173407
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
hidayah dan anugerah-Nya sehingga skripsi ini bisa terselesaikan. Shalawat serta
salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga serta para
sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Skripsi yang berjudul “Hubungan
Tekanan Darah Dengan Vertigo Pada Pasien Hipertensi” ini diajukan untuk
memenuhi syarat memperoleh derajat sarjana keperawatan pada Fakultas
Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Kudus.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada


pihak-pihak yang telah berperan serta dalam membantu penyelesaian Karya Tulis
Ilmiah ini. Ucapan terima kasih diberikan kepada:

1. Allah SWT karena berkat pertolongan dan izin dari-Nya, skripsi ini dapat
selesai pada waktunya
2. Nabi Muhammad SAW yang menjadi panutan agar selalu bersikap positif
terhadap tantangan yang dialami penulis Commented [d1]: Dihapus saja, karena diatas sudah ada

3. Bapak Rusnoto SKM,M.kes selaku direktur Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Commented [d2]: Rusnoto, SKM., M.Kes (Epid)

Kudus. Commented [d3]: Ketua

4. Ibu Dewi Hartinah,S.Kep,Ners.,M.Si.Med dan Bapak


Moh.Purnomo,S.Kep.,M.Hkes selaku Dosen Pembimbing pertama yang
telah memberikan pengarahan dan bimbingan kepada penulis selama
penyusunan skripsi ini. Commented [d4]: Dipisah pembimbing utama dan anggota

5. Suami dan putra putri kami, yang telah memberikan semangat, doa dan
pertolongan demi lancarnya studi penulis
6. Semua pihak yang telah membantu dalam kelancaran penelitian ini dan
penyelesaian karya tulis ilmiah ini yang tidak dapat penulis ucapkan satu
persatu

Penulis menyadari, bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun penulisannya,
untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis mengharapkan skripsi
ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah khasanah ilmu pengetahuan.
Terimakasih..

Cepu,23 juni 2018

Widya Novana Fita


BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Commented [d5]: Urutkan mulai dari fenomena atau kejadian
vertigo baru tekanan darah, kemudian ditambah survei awal ke 10
pasien vertigo bagaimana tekanan darah mereka

Tekanan darah merupakan tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri
darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia.
Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur
seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas
pembuluh arteri akibat denyut jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor
bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara
pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Tekanan darah dalam kehidupan
seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, di mana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. (wikipedia, 2017)

Vertigo merupakan perasaan tubuh berputar-putar ataupun benda di


sekeliling tubuh berputar-putar. Vertigo termasuk kedalam gangguan
keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan,
rasa seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik (sidharta, 2009).

Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan igo
yang berarti kondisi. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang secara
definitif merupakan ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau
sensasi tubuh yang berputar terhadap lingkungan atau sebaliknya, lingkungan
sekitar kita rasakan berputar. (Iskandar Junaidi, 2013).

Vertigo merupakan salah satu gangguan yang paling sering dialami dan
menyusahkan sebagian besar manusia. Umumnya keluhan vertigo menyerang
sebentar saja ; hari ini terjadi, besok hilang. Namun, ada juga vertigo yang
kambuh lagi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun. Pada umumnya
vertigo yang terjadi disebabkan oleh stress, mata lelah, dan makanan/minuman
tertentu. Selain itu, vertigo bisa bersifat fungsional dan tidak ada hubungannya
dengan perubahan-perubahan organ di dalam otak. Otak sendiri sebenarnya
tidak peka terhadap nyeri. Artinya, pada umumnya vertigo tidak disebabkan oleh
kerusakan yang terjadi di dalam otak. Namun, suatu ketegangan atau tekanan
pada selaput otak atau pembuluh darah besar di dalam kepala dapat
menimbulkan rasa sakit yang hebat pada kepala.(Iskandar Junaidi, 2013).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa vertigo adalah sensasi dimana
seseorang merasa dirinya atau lingkungan berputar yang dapat disebabkan oleh
gangguan pada otak atau pada telinga bagian dalam.

Berdasarkan penyebabnya vertigo dibagi menjadi 2 yaitu vertigo perifer


dan vertigo sentral. Vertigo sentral umumnya disebabkan karena gangguan
vaskuler, sedangkan pada vertigo perifer berhubungan dengan manifestasi
patologis di telinga. Prevalensi vertigo di Jerman untuk usia 17 hingga 79
tahun adalah 30%, 24% diasumsikan karena kelainan vestibuler. Di Amerika,
prevalensi disfungsi vestibular sekitar 35% populasi dengan umur 40 tahun
ke atas. Di Indonesia angka kejadian vertigo sangat tinggi, pada tahun
2010 dari usia 40 sampai 50 tahun sekitar 50% yang merupakan keluhan
nomor tiga paling sering dikeluhkan oleh penderita yang datang ke praktek
umum, setelah nyeri kepala, dan stroke. Umumnya vertigo ditemukan
sebesar 15% darikeseluruhan populasi dan hanya 4-7% yang diperiksakan
ke dokter. (Roseane, 2016)

Sering dijumpai pada pasien vertigo memiliki tekanan darah yang tinggi >
140/90 mmHg. Hal ini terjadi karena takanan yang tinggi tersebut diteruskan
hingga ke pembuluh darah di telinga, akibatnya fungsi telinga akan
keseimbangan akan terganggu dan menimbulkan vertigo sebagai gejalanya.
(Roseane, 2016).

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan prevalensi yang meningkat


seiring dengan bertambahnya usia, 90% usia dewasa dengan tekanan darah
normal berkembang menjadi hipertensi tingkat 1 (Stockslager dan Schaeffer,
2008). Meningkatnya tekanan darah, gaya hidup yang tidak seimbang, dan
pertambahan usia dapat meningkatkan faktor risiko muncul berbagai penyakit
seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal (Departemen
Kesehatan, 2006).

Hipertensi dapat disertai dengan pusing mendadak dan berputar yang


disebut vertigo. Vertigo sendiri dapat disebabkan oleh kelainan di dalam
telinga tengah, pada saraf yang menghubungkan telinga dengan otak, dan
kelainan penglihatan karena adanya perubahan tekanan darah yang terjadi
secara tiba-tiba. Prevalensi vertigo di Amerika sebesar 85% yang disebabkan
oleh gangguan sistem vestibular akibat adanya perubahan posisi atau
gerakan kepala (Marchiori, Melo, Possette, dan Correa, 2010). Prevalensi
hipertensi pada lansia di Amerika sebesar 65,4% pada tahun 1998 – 2000
(Departemen Kesehatan, 2006). Di Indonesia sendiri prevalensi hipertensi
pada tahun 2013 sebesar 25,8% (Riskesdas, 2013). Hampir 50% pasien lansia
yang berobat ke dokter mengeluh mengalami vertigo sehingga vertigo
sendiri merupakan keluhan terbanyak ke-3 yang dilaporkan oleh lansia. Bila
melihat tingginya prevalensi yang terjadi, dapat dikatakan hipertensi yang
disertai vertigo sendiri merupakan penyakit yang umum terjadi pada lansia.
(Kresensiana Yosriani, 2014).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan :
1. Apakah terdapat hubungan antara tekanan darah tinggi dengan kejadian
vertigo di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu ?
2. Apakah terdapat hubungan antara vertigo dengan tekanan darah tinggi di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu? Commented [d6]: Bagaimana hubungan ……(judul) tahun 2018?

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekanan darah
dengan kejadian vertigo pada pasien hipertensi di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Cepu.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui apakah tekanan darah tinggi dapat menyebabkan Commented [d7]: dihapus

kejadian vertigo Commented [d8]: dihapus diganti


pada pasien hipertensi di …
b. Untuk mengetahui kejadian vertigo pada pasien hipertensi di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Cepu.

D. RUANG LINGKUP Commented [d9]: untuk peneliti, untuk stikes muh kudus,
untuk pku muh cepu, untuk peneliti selanjutnya
1. Lingkup Materi
Penelitian ini akan dilakukan fokus pada kajian tentang hubungan
tekanan darah dengan kejadian vertigo pada pasien hipertensi.
2. Lingkup Responden
Responden penelitian ini adalah pasien dewasa yang menderita vertigo
disertai dengan tekanan darah tinggi yang berjumlah 30 orang.
3. Lingkup Lokasi
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu
dikarenakan sering dijumpai pasien vertigo yang disertai hipertensi.
4. Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2018 sampai Agustus 2018 yaitu
mulai dari studi pendahuluan, penyusunan proposal, pengumpulan data
sampai pengumpulan laporan hasil penelitian.

E. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi ilmu pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan


pengetahuan ilmiah mengenai hubungan antara tekanan darah dengan kejadian
vertigo pada pasien hipertensi. Semoga dengan penelitian ini dapat memperkaya
penelitian ilmiah tentang kondisi pasien vertigo di Indonesia maupun diluar
negeri. Melalui penelitian ini, diharapkan penelitian mengenai kejadian vertigo
yang disertai hipertensi dapat bertambah.

2. Bagi petugas medis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi petugas


medis dalam menangani kasus vertigo yang disertai hipertensi. Jika kondisi
tersebut dipahami, diharapkan petugas medis dapat mengedukasi dan
menanganinya.

3. Instansi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Cepu

Sebagai sumber informasi demi peningkatan mutu pelayanan perawatan


secara efektif dan efisien mengenai kejadian vertigo yang disertai dengan
tekanan darah tinggi.
4. Bagi Peneliti

Penelitian ini merupakan proses belajar dan upaya meningkatkan


pengetahuan dan wawasan tentang hubungan tekanan darah dengan kejadian
vertigo pada pasien hipertensi.

5. Bagi peneliti selanjutnya.

Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini dapat menjadi acuan untuk dijadikan
penelitian yang menarik untuk diteliti sehingga dapat diketahui hubungan
tekanan darah dengan kejadian vertigo pada pasien hipertensi ke depannya.

F. KEASLIAN PENELITIAN

Sejauh studi yang dilakukan oleh penulis untuk mendukung judul penelitian
ini, penulis tidak menemukan adanya kesamaan judul dengan penelitian lain.
Namun penulis terinspirasi dan mendapat bahan pembelajaran dari karya tulis
beberapa peneliti yang berhubungan dengan judul. Penelitian yang menjadi acuan
peneliti dapat dilihat pada tabel berikut ini :
No. Peneliti Judul Metode Hasil Commented [d10]: tambah kolom perbedaan yang isisnya apa
1. Kresensiana evaluasi drug deskriptif Identifikasi Drug Related saja yang berbeda dengan penelitian ini ?
Yosriani, related evaluatif. Problems pada
Maria Wisnu problems penggunaan obat sistem
Donowati, pada pasien kardiovaskular dan
Aris Widayat geriatri antivertigo pada pasien
(2014) dengan geriatri dengan
hipertensi hipertensi
disertai vertigo disertai vertigo bersifat
di rs panti rini potensial. Ditemukan 1
yogyakarta kasus dosis kurang, 8
agustus 2013 kasus interaksi dan efek
samping obat, dan 9
kasus dosis berlebi
2. Roseane, Vertigo Perifer Diagnosis vertigo perifer
Fattah, pada Wanita juga hipertensi
Susianti dan Usia 52 Tahun grade 1 dan intervensi
Putu (2016) dengan yang dilakukan pada
Hipertensi kasus ini telah sesuai
Tidak dengan beberapa
Terkontrol literatur.
Penatalaksanaan vertigo
dan
hipertensi dapat berupa
penatalaksanaan
umum dan
medikamentosa yang
disesuaikan keadaan
pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA Commented [d11]: tolong dibuat benang merah antara
tekanan darah, vertigo dan hipertensi
buat kerangka teori

A. TEKANAN DARAH

Tekanan darah merupakan tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri
darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia.
(wikipedia, 2017)

Tekanan darah adalah kekuatan darah dalam menekan dinding pembuluh


darah. Setiap kali berdetak (sekitar 60 - 70 kali permenit dalam keadaan
istirahat), jantung akan memompa darah melewati pembuluh darah. Tekanan
terbesar terjadi ketika jantung memompa darah (dalam keadaan mengempis),
dan ini disebut tekanan sistolik. Ketika jantung beristirahat (dalam keadaan
mengembang), tekanan darah berkurang dan disebut tekanan diastolik
(Soenarta, 2015)

Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur
seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas
pembuluh arteri akibat denyut jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor
bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara
pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Tekanan darah dalam kehidupan
seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, di mana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. (wikipedia, 2017)

B. HIPERTENSI
1. Definisi

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur
paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda. Secara umum, seseorang
dianggap mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih tinggi dari
140/90mmHg. Hipertensi juga sering diartikan sebagai suatu keadaan dimana
tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 80
mmHg. (ardiansyah, 2012).
Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi
esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer, untuk
membedakannya dengan hipertensi lain yang sekunder karena sebab- sebab
yang diketahui. (sudoyo, 2009)

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg)


Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Tingkat 1 140-159 90-99
(hipertensi ringan)
Sub grup : 140-149 90-94
perbatasan
Tingkat 2 160-179 100-109
(hipertensi
sedang)
Tingkat 3 ≥ 180 ≥ 110
(hipertensi berat)
Hipertensi sistol ≥ 140 < 90
terisolasi
Sub grup : 140-149 < 90
perbatasan

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7

Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg)


Normal <120 Dan <80
Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89
Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99
Hipertensi tahap 2 ≥ 160 Atau ≥ 100

Batasan hipertensi menurut The Fourth Report on the


Diagnosis,Evaluation,and Treatment of High Blood Pressure in Children and
Adolescent adalah sebagai berkut :
a. Hipertensi adalah nilai rata – rata tekanan darah sistolik dan atau
diastolik lebih dari persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin,usia,dan
tinggi badan pada pengukuran sebanyak 3 kali atau lebih.
b. Prehipertensi adalah nilai rata – rata tekanan darah sistolik dan atau
diastolik antara persentil ke-90 dan 95. Pada kelompok ini harus
diperhatikan secara teliti adanya factor risiko seperti obesitas. Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk menjadi hipertensi pada masa dewasa dibandingkan
dengan anak yang normotensi.
c. Anak remaja dengan nilai tekanan darah diatas 120/80mmHg harus
dianggap suatu prehipertensi.
d. Seorang anak dengan nilai tekanan darah diatas persentil ke-95 pada
saat diperiksa ditempat praktik atau rumah sakit, tetapi menunjukkan
nilai yang normal saat diukur diluar praktik atau rumah sakit, disebut
dengan white-coat hypertension. Kelompok ini memiliki prognosis yang
lebih baik dibandingkan dengan yang mengalami hipertensi menetap
untuk menderita hipertensi atau penyakit kardiovaskular dikemudian
hari.
e. Hipertensi emergensi adalah hipertensi berat disertai komplikasi yang
mengancam jiwa,seperti ensefalopati (kejang,stroke,deficit fokal),payah
jantung akut,edema paru,aneurisma aorta,atau gagal ginjal akut.

2. Etiologi

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan


penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
prevalensi hipertensi seperti umur, obesitas, asupan garam yang tinggi adanya
riwayat hipertensi dalam keluarga. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi
menjadi dua golongan, yaitu :

a. Hipetensi Primer
Hipertensi primer adalah hipertensi esensial atau hipertensi yang 90%
tidak diketahui penyebabnya. Beberapa faktor yang diduga berkaitan
dengan berkembangnya hipertensi esensial diantaranya :
1) Genetik; individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan
hipertensi, berisiko lebih tinggi untuk mendapatkan penyakit ini
ketimbang mereka yang tidak.
2) Jenis kelamin dan usia; laki- laki yang berusia 35-50 tahun dan
wanita pascamenopouse beresiko tinggi untuk mengalami
hipertensi.
3) Diet; konsumsi diet tinggi garam atau kandungan lemak, secara
langsung berkaitan dengan berkembangnya penyakit hipertensi.
4) Berat badan/obesitas (25% lebih berat diatas berat badan ideal )
juga sering dikaitkan dengan berkembangnya hipertensi.
5) Gaya hidup merokok dan konsumsi alkohol dapat meningkatkan
tekanan darah (bila gaya hidup tersebut masih deiterapkan).
b. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder adalah jenis hipertensi yang penyebabnya
diketahui. Beberapa gejala atau penyakit yang menyebabkan hipertensi
jenis ini antara lain :
1) Coarctation aorta, yaitu penyempitan aorta congenital yang
(mungkin) terjadi pada beberapa tingkat aorta torasik atau aorta
abdominal. Penyempitan ini menghambat aliran darah melalui
lengkung aorta dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah di
atas area konstriksi.
2) Penyakit parenkim dan vaskular ginjal. Penyakit ini merupakan
penyebab utama hipertensi sekunder.
3) Penggunaan kontrasepsi hormonal (estrogen).
4) Gangguan endokrin
5) Kegemukan dan gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga).
6) Stress, yang cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah
untuk sementara waktu. (ardiansyah, 2012)

3. Patofisiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah
melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin
mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan
dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin,
meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi. Untuk pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan
tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung ( volume sekuncup ), mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer.( Brunner & Suddarth, 2002 )

4. Manifestasi klinis

Pada pemeriksaan fisik, mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain


tekanan darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina,
seperti perdarahan eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah,
dan pada kasus berat didapatkan edema pupil (edema pada diskus optikus).

Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakkan gejala


sampai bertahun – tahun. Gejal, bila ada, biasanya menunjukkan adanya
kerusakan vaskuler, dengan manifest yang khas sesuai system organ yang
divaskularisasi oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Penyakit arteri coroner
dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi. Hipertrofi
ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat
dipaksa berkonstraksi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabila
jantung tidak mampu lagi menahan beban kerja, maka dapat terjadi gagal
jantung kiri. Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifestasi sebagai
nokturia (peningkatan urinasi pada malam hari) dan azotemia (peningkatan
nitrogen urea darah dan kreatinin). Keterlibatan pembuluh darah otak dapat
menimbulkan stroke atau serangan iskemik transien yang bermanifestasi sebagai
paralisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau gangguan tajam
penglihatan. (Suddarth, 2002)

Menurut Sudarmoko (2015),gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah


dijumpai sebagai berikut :

a. Gangguan penglihatan
b. Gangguan saraf
c. Gangguan jantung
d. Gangguan fungsi ginjal
e. Gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang perdarahan
pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan
kesadaran hingga koma.

Perdarahan sereberal biasanya berkembang dalam beberapa jam dengan


vomitus berulang dan ketidakmampuan berjalan atau berdiri. Pada kasus yang
ringan mungkin tidak terdapat tanda neorologik. Nyeri kepala oksipital dan pusing
atau vertigo merupakan gejala utama. (Asdie, 2000)

Penyakit tekanan darah tinggi merupakan “sepanjang umur” tetapi


penderitanya dapat hidup secara normal seperti layaknya orang sehat asalkan
mampu mengendalikan tekanan darahnya dengan baik. Dilain pihak, orang yang
masih muda dan sehat harus selalu memantau tekanan darahnya, minimal
setahun sekali. Apalagi bagi mereka yang mempunyai faktor- faktor pencetus
hipertensi seperti kelebihan berat badan, penderita kencing manis, penderita
penyakit jantung, riwayat keluarga yang menderita hipertensi, perokok dan orang
yang pernah dinyatakan tekanan darahnya sedikit tinggi. Hal ini dilakukan bila
hipertensi diketahui lebih dini, pengendaliannya dapat segera dilakukan.

Untuk dapat menghindari terjangkitnya penyakit hipertensi dapat


ditanggulangi dengan cara :

a. Megurangi konsumsi garam dan lemak jenuh.


b. Melakukan olahraga secara teratur dan dinamik (yang tidak
mengeluarkan tenaga yang terlalu banyak) seperti berenang, jogging,
jalan cepat dan bersepeda.
c. Menghentikan kebiasaan merokok.
d. Menjaga kestabilan berat badan, menghindarkan kelebihan berat badan
maupun obesitas, tetapi usahakan jangan menurunkan berat badan
dengan menggunakan obat-obatan karena umumnya obat penurun
berat badan dapat menaikkan tekanan darah.

C. VERTIGO
1. Pengertian

Vertigo merupakan perasaan tubuh berputar-putar ataupun benda di


sekeliling tubuh berputar-putar. Vertigo termasuk kedalam gangguan
keseimbangan yang dinyatakan sebagai pusing, pening, sempoyangan, rasa
seperti melayang atau dunia seperti berjungkir balik. (sidharta, 2009)

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar.
Pengertian vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik
akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing
berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa
pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang
tersebut sedang tidak bergerak. (wikipedia, 2017)

Vertigo adalah adanya sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau
lingkungan sekitarnya dengan gejala lain yang timbul terutama sari system
suatu gejala pusing berputar saja, tetapi merupakan suatu kumpulan gejala atau
satu sindrom yang terdiri gejala somatic (nistagmus,unstable) otonomik (pucat,
keringat dingin,mual,muntah), pusing dan gejala psikiatrik. (Sutarni, 2016)

2. Etiologi

Etiologi vertigo dapat dibagi menjadi :

a. Otologi
Ini merupakan 24-61% kasus vertigo (paling sering), dapat disebabkan
oleh BBV (benign paroxysmal positional vertigo), penyakit Meniere,
parese N.VIII (vestibulokoklearis), maupun otitis media.
b. Neurologis
Merupakan 23-30% kasus, berupa :
1) Gangguan serebrovaskular batang otak, serebelum
2) Ataksia karena neuropati
3) Gangguan visus
4) Gangguan serebelum
5) Sklerosis multiple
6) Malformasi Chiari, yaitu anomali bawaan dimana serebelum dan
medulla oblongata menjorok ke medulla spinalis melalui foramen
magnum.
7) Vertigo servikal.
c. Interna
Kurang lebih 33% dari keseluruhan kasus terjadi karena gangguan
kardiovaskular. Penyebabnya bisa berupa tekanan darah yang naik atau
turun, aritmia kordis, penyakit jantung coroner, infeksi, hipoglikemi, serta
intoksikasi obat, misalnya nifedipin, benzodiazepine, Xanax.
d. Psikiatrik
Terdapat pada lebih dari 50% kasus vertigo. Biasanya pemeriksaan
klinis dan laboratoris menunjukkan hasil dalam bebas normal.
Penyebabnya bisa berupa depresi, fobia, anxietas, serta psikosomatis.
e. Fisiologis
Misalnya, vertigo yang timbul ketika melihat ke bawah saat kita berada
di tempat tinggi. (Sutarni, 2016)
3. Klasifikasi
Berdasarkan kelompok studi vertigo PERDOSSI 2012,vertigo dibagi
menjadi :
a. Vertigo vestibuler
Timbul pada gangguan sistem vestibular, menimbulkan sensasi
berputar, timbulnya episodik, diprovokasi oleh gerakan kepala, dan
bisa disertai rasa mual/muntah. Berdasarkan letak lesinya dikenal
ada 2 jenis vertigo vestibular, yaitu :
1) Vertigo vestibular perifer
Terjadi pada lesi di labirin dan nervus vestibularis. Vertigo
vestibular perifer timbulnya lebih mendadak setelah perubahan posisi
kepala, dengan rasa berputar yang berat, disertai mual/muntah dan
keringat dingin. Bisa disertai gangguan pendengaran berupa tinitus
atau ketulian, dan tidak disertai gejala neurilogis fokal seperti
hemiparesis, dipoplia, perioral parestesia, penyakit paresisifasialis.
Penyebabnya antara lain adalah benign paroxysmal positional vertigo
(BPPV), penyakit Meniere, neuritisvestibularis, oklusi a. labirin,
labirinitis, obat ototoksik, autoimun, tumor N.VIII, Microvascular
compression dan perilymph fistel.

2) Vertigo vestibular sentral


Timbul pada lesi di nucleus vestibularis di batang otak, atau
thalamus sampai ke korteks serebri. Vertigo vestibular sentral
timbulnya lebih lambat, tidak terpengaruh oleh gerakan kepala. Rasa
berputarnya ringan, jarang disertai mual/muntah, atau kalau ada
ringan saja. Tidak disertai gangguan pendengaran. Penyebabanya
antara lain migraine, CVD, tumor, epilepsy, demielinisasi, dan
degenerasi.
b. Vertigo nonvestibuler

Vertigo nonvestibuler seringkali sulit dideskripsikan secara jelas


oleh pasien. Pasien biasanya mengeluhkan rasa pusing, kekosongan
di kepala, dan gelap pada mata. Kondisi oscillopsia dan gejala
otonom tidak pernah ditemukan. Lesi pada bagian saraf pusat dapat
menyebabkan nistagmus patologis. Vertigo nonvestibuler bisa
disebabkan lesi pada bagian nonvestibuler dari sistem regulator
keseimbangan atau bisa juga disebabkan kesalahan proses informasi
di sistem saraf pusat(misal karena lesi cerebelar). Hipotensi ortostatik
dan stenosis aorta dapat menjadi penyebab vertigo nonvestibuler
(wikipedia, 2017).

Timbul pada gangguan sistem proprioseptif atau sistem visual,


menimbulkan sensasi bukan berputar, melainkan rasa melayang,
goyang, berlangsung konstan/kontinu, tidak disertai rasa
mual/muntah, serangan biasanya dicetuskan oleh gerakan objek
sekitarnya, misalnya di tempat keramaian atau lalu lintas macet.
(Sutarni, 2016)

Perbedaan vertigo vestibular dengan nonvestibular

Gejala Vertigo vestibular Verigo nonvestibualar


sensasi Rasa berputar Melayang,goyang
Tempo serangan episodik Kontinu/konstan
Mual/muntah + -
Gangguan pendengaran +/- -
Gerakan pencetus Gerakan kepala Gerakan objek visual

Perbedaan vertigo vestibular perifer dengan sentral

Gejala Perifer Sentral


Bangkitan Lebih mendesak Lebih lambat
Beratnya vertigo Berat Ringan
Pengaruh gerakan kepala ++ +/-
Mual/muntah/keringatan ++ +
Gangguan pendengaran +/- +/-
Tanda fokal otak - +/-

Berdasarkan gejala klinis yang menonjol, vertigo dapat pula dibagi


menjadi tiga kelompok, yaitu :

a. Vertigo paroksismal
Ciri khas : serangan mendadak, berlangsung beberapa menit atau
hari, menghilang sempurna, suatu ketika muncul lagi, dan di antara
serangan penderita bebas dari keluhan.
Berdasar gejala penyertanya dibagi :
1) Dengan keluhan telinga, tuli atau telinga berdenging: sindrom
Meniere, arakhnoiditis pontosereberalis, TIA vertebrobasilar,
kelainan odontogen, tumor fossa posterior.
2) Tanpa keluhan telinga: TIA vertebrobasilar, epilepsi, migrain,
vertigo anak.
3) Timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi: vertigo posisional
paroksismal benigna.
b. Vertigo kronis
Ciri khas: vertigo menetap lama, keluhan konstan tidak membentuk
serangan-serangan akut. Berdasarkan gejala penyertanya dibagi:
1) Dengan keluhan telinga: otitis media kronis, tumor
serebelopontin, meningitis TB, labirinitis kronis, lues serebri.
2) Tanpa keluhan telinga: kontusio serebri, hipoglikemia, ensefalitis
pontis, kelainan okuler, kardiovaskular dan psikologis, post
traumatik sindrom, intoksikasi dan kelainan endokrin.
3) Timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi: hipotensi
orthostatic, vertigo servikalis.
c. Vertigo yang serangannya akut berangsur-angsur bekurang tetapi
tidak pernah bebas serangan.
Berdasar gejala penyertannya dibagi :
1) Dengan keluhan telinga: neuritis N.VIII, trauma labirin,
perdarahan labirin, herpes zoster otikus.
2) Tanpa keluhan telinga: neuritis vestibularis, sclerosis multiple,
oklusi arteri serebeli inferior posterior, ensefalitis vestibularis,
sclerosis multiple, hematobulbi. (Sutarni, 2016)

4. Manifestasi klinis

Gejala vertigo sulit dibedakan dengan mabuk gerakan, sehingga mabuk


gerakan dianggap sebagai vertigo psikologis, misalnya sebagai akibat
rangsangan gerakan kendaraan, alat putar di taman ria, dan lain sebagainya.
(PERDOSSI, 2012)

Keluhan pusing (Dizziness) pasien dapat dikategorikan ke dalam empat jenis


gejala, yaitu :

a. Vertigo ; ditemukan sensasi gerakan, berputar, muntah dan gangguan


keseimbangan.
b. Disequilibrium ( ketidakseimbangan ) ; gangguan keseimbangan dan gait
tanpa sensasi kepala yang abnormal. Pasien merasa goyang tetapi tidak
ada ilusi gerakan atau sensasi akan pingsan. Penyebab yang paling
umum adalah penuaan. Penuaan menyebabkan defisit multisensoris yang
mempengaruhi keseimbangan. Penyebab lain adalah neuropati perifer,
gangguan musculoskeletal, gangguan gait, dan penyakit Parkinson. Jika
pasien mengeluh disequilibrium dan juga memiliki gait yang buruk,
mungkin ada penyebab sentral seperti masalah di serebelum sehingga
harus dilakukan evaluasi neurologis yang lebih mendalam.
c. Presinkope ; terdapat perasaan hendak pingsan, kepala terasa ringan,
mual, gangguan penglihatan. Pasien dapat juga merasa lemas seluruh
tubuh (general weakness). Gejala sering terjadi ketika pasien bangkit dari
berbaring atau posisi duduk. Gejala biasanya lebih berat di pagi hari. Tidak
ada gejala gejala yang dialami pasien ketika telentang. Penyebabnya
antara lain hipotensi ortostatik, disfungsi otonom yang dapat disebabkan
oleh diabetes, dan penyakit kardiovaskular seperti aritmia, infark miokard,
dan stenosis arteri karotis. Obat – obatan seperti anti-hipertensi dan obat
anti-aritmia kadang- kadang dapat menyebabkan presinkop.
d. Lightheadedness; keluhan tidak begitu jelas, kepala tersa ringan, pasien
merasa seperti melayang atau seperti terputus dari lingkungan sekitarnya.
Yang perlu diperhatikan adalah pada gejala ini pasien tidak pernah benar
– benar jatuh. Penyebab yang umum adalah hiperventilasi, hipoglikemi,
anemia, trauma kepala, dan kelainan psikogenik seperti depresi, ansietas,
atau fobia. (Sutarni, 2016)

5. Patofisiologi

Dalam kondisi alat keseimbangan baik sentral maupun perifir yang tidak
normal atau adamnya gerakan yang aneh/berlebihan , maka tidak terjadi proses
pengolahan input yang wajar dan munculah vertigo. Selain itu terjadi pula
respons penyesuaian otot- otot yang tidak adekuat,sehingga muncul gerakan
abnormal mata (nistagmus), unsteadiness/ataksia sewaktu berdiri/berjalan dan
lainnya. Sebab pasti mengapa terjadi gejala tersebut belum diketahui.

Beberapa teori tentang terjadinya vertigo antara lain :

a. Teori rangsangan berlebihan (overstimulasi)

Dasar teori ini adalah suatu asumsi bahwa makin banyak dan makin cepat
rangsangan (gerak kendaraan), makin berpeluang menimbulkan sindrom vertigo
akibat gangguan fungsi alat keseimbangan tubuh (AKT). Jenis rangsangan AKT
yang ada pada saat ini antra lain kursi putar Barany, faradisasi/galvanisasi dan
irigasi telinga, serta kendaraan laut dan darat. Menurut teori ini, sindrom vertigo
timbul akibat rangsangan berlebihan terhadap kanalis semisirkulasi
menyebabkan hiperemi dari organ dan munculnya sindrom vertigo (vertigo,
nistagmus, mual dan muntah).

b. Teori konfliks sensoris

Dalam keadaan normal (fisiologis), impuls yang diterima akan


diperbandingkan antara sisi kiri dengan kanan, antara impuls yang berasal dari
penglihatan dengan proprioseptik dan vestibular secara timbal balik. Pengolahan
informasi/impuls berjalan secara reflektoris lewat proses yang normal dengan
hasil akhir terjadinya penyesuaian otot-otot penggerak/penyangga tubuh dan
pengerak bola mata. Oleh karena itu, maka tubuh dan kepala tetap tegak serta
berjalan lurus (tidak sempoyongan atau deviasi arah) serta dapat melihat objek
penglihatan dengan jelas meskipun sedang bergerak (jalan,lari). Disamping
itu,juga tidak ada keluhan vertigo dan gejala lainnya. Menurut teori konflik
sensoris, sindrom vertigo muncul manakala ada disharmoni masukan sensoris
dari kedua sisi (kanan-kiri) dan/atau antara masukan dari ketiga jenis
(vestibulum, visus, proprioseptik) reseptor AKT. Keadaan ini bisa sebagai akibat
rangsangan berlebihan, lesi system vestibular sentral atau perifer, sedemikian
hingga menyebabkan pusat pengolah data di otak mengalami kebingungan dan
selanjutnya pemrosesan masukan sensoris menempuh jalur tidak normal.
Proses tidak normal ini akan menimbulkan perintah (keluaran) dari pusat AKT
menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan keadaan yang sedang dihadapi dan
membangkitkan tanda kegawatan. Perintah/keluaran yang tidak sesuai akan
menimbulkan reflex antisipatif yang salah dari otot-otot ekstremitas (deviasi jalan,
sempoyongan), penyangga tubuh (deviasi saat posisi tegak) otot, dan otot
penggerak mata (nistagmus). Tanda kegawatan, berupa vertigo yang bersumber
dari korteks otak dan keringat dingin disertai mual muntah yang berasal dari
aktivitas system saraf otonom. Teori konfliks sensoris ini belum dapat
mengungkap terjadinya vertigo akibat kelainan psikis, dan terjadinya
habituasi/adaptasi yang bermanfaat untuk penanggulangan vertigo.

c. Teori neural mismatch


Dikemukakan oleh Reason, seorang pakar psikologi di University of
Leicester yang tekun meneliti mabuk kendaraan, bahwa timbulnya gejala
disebabkan oleh terjadinya mismatch (ketidaksesuaian/discrepancy) antara
pengalaman gerakan yang sudah disimpan di otak dengan gerakan yang sedang
berlangsung/dihadapi. Rangsangan gerakan yang sedang berlangsung tersebut
dirasakan aneh/asing/tidak sesuai dengan harapan dan merangsang kegiatan
berlebihan dari system saraf pusat, termasuk system saraf otonom dan muncul
gejala-gejala vertigo. Namun, bilamana gerakan berlangsung terus maka pola
gerakan yang baru akan mengoreksi pola gerakan yang sudah ada dimemori.
Pada saat inilah gejalanya menghilang dan orang terebut dalam keadaan
teradaptasi. Makin besar ketidaksesuaian pola gerakan yang dialami dengan
memori maka makin hebat sindrom yang muncul. Makin lama proses sensory
rearrangement maka makin lama pula adaptasi orang tersebut terjadi.

d. Teori ketidakseimbangan saraf otonomik

Teori yang berdasar atas cara kerja obat antivertigo (antimabuk gerakan) ini
menduga sindrom terjadi karena ketidakseimbangan saraf otonom akibat
rangsang gerakan. Bila ketidakseimbangan mengarah ke dominasi saraf simpatik
timbul sindrom tersebut, sebaliknya, bila mengarah ke dominasi saraf
parasimpatik sindrom menghilang.

e. Teori neurohumoral/sinaps

Munculnya sindrom vertigo berawal dari pelepasan corticotropin releasing


hormone/factor (CRH/CRF) dari hipotalamus akibat rangsang gerakan, kelainan
organik dan atau psikis (stress). CRH selanjutnya meningkatkan aktivitas saraf
simpatis di lokus seruleus, hipokampus,dan korteks serebri melalui mekanisme
influks kalsium. Akibatnya keseimbangan saraf otonom mengarah kedominasi
saraf simpatis dan timbul gejala pucat, rasa dingin di kulit, keringat dingin, dan
vertigo. Bila dominasi mengarah ke saraf parasimpatis sebagai akibat
otoregulasi, maka muncul gejala mual, muntah, dan hipersalivasi. Rangsangan
ke lokus seruleus juga berakibat panik. CRH juga dapat meningkatkan stress
hormon melalui jalur hipotalamus-hipofise-adrenalin. Rangsangan ke korteks
limbik menimbulkan gejala ansietas dan/atau depresi. Bila sindrom tersebut
berulang akibat rangsangan atau latihan, maka siklus perubahan dominasi saraf
simpatis dan parasimpatis bergantian tersebut juga berulang sampai suatu ketika
terjadi perubahan sensitivitas reseptor (hiposensitif) dan jumlah reseptor serta
penurunan influks kalsium. Dalam keadaan ini pasien tersebut telah mengalami
adaptasi. (Sutarni, 2016)

6. Penatalaksanaan vertigo

Tujuan utama terapi vertigo adalah mengupayakan tercapainya kualitas


hidup yang optimal sesuai dengan perjalanan penyakitnya, dengan mengurangi
atau menghilangkan sensasi vertigo dengan efek samping obat yang minimal.

Terapi vertigo meliputi beberapa perilaku yaitu pemilihan medikamentosa,


rehabilitasi dan operasi. Pilihan terapi vertigo mencakup :

a. Terapi simptomatik, melalui farmakologi.


b. Terapi kausal, mencakup :
1) Farmakoterapi
2) Prosedur reposisi partikel (pada BPPV)
3) Bedah
c. Terapi rehabilitasi
d. Hindari faktor pencetus dan memperbaiki lifestyle
Pemilihan terapi vertigo sangat tergantung dari tipe dan kausa vertigo.
(Sutarni, 2016)
BAB III

METODE PENELITIAN