You are on page 1of 4

“Merawat perkaderan: Keteladanan instruktur dalam

mengemban amanah perkaderan di zaman milenial”

MERAJUT INSTRUKTUR HMI POTENSIAL BERBASIS


TIGA SENTUHAN KETELADANAN DI ERA MILINEAL

Dinamika perkaderan yang terjadi didalam HMI dewasa ini merupakan sebuah
bentuk ketidakseimbangan dalam proses perkaderan, dimana mainstream yang terlalu
didominasi lebih menjurus kepada pola perkaderan yang berorientasi politik
(kepentingan) bukan konsen terhadap pendidikan (tradisi intelektual), banyaknya kader-
kader (alumni) HMI yang menjadi politisi dan sedikitnya kader-kader HMI yang
menjadi pemikir serta cendikiawan merupakan sebuah bukti ketidakseimbangan pola
perkaderan di HMI, sangat berbeda ketika HMI mengalami masa kejayaan dulu.
Seiring dengan godaan dan dinamika mahasiswa yang kian kompleks, HMI
memiliki tantangan untuk mengikuti student interest dan memenuhi student need
sekaligus. Di satu sisi, HMI harus dapat menarik minat mahasiswa “zaman now”
dengan menyesuaikan keinginan mereka, tetapi juga dalam waktu yang bersamaan juga
harus menjaga agar kualitas kader HMI tidak menurun, dan bahkan harapannya bisa
lebih baik.

Tampak dari sini, ideolog organisasi menjadi asing dengan fungsi


ideologisasinya. Problem bertambah dengan ketidakmampuan dalam mengelola training
karena anggapan training sebatas hanya ritunitas organisasi yang harus dilakukan.
Adalah betul bahwa training merupakan rutinitas yang dilakukan oleh organisasi,
namun bila kecenderungan hanya sampai disini dan menjadi paradigma, maka kita
terjebak pada aspek prosedural saja. Dengan paradigma tersebut, tentu yang terjadi
yaitu pengguguran kewajiban tanpa mendapatkan proses yang sebenarnya yaitu
ideologisasi. Terkikisnya idealisme kader, stagnasi dialektika, degradasi kualitas
ideology organisasi muncul dari tidak memahami secara mendalam peran ideology
(pendidik).
Memahami Kader HMI yang selalu fleksibel mengikuti perkembangan zaman
dihadapkan kepada tantangan generasi milenial. Tetapi bukan berarti nhal ini tidak
mungkin untuk dilakukan. Mau tidak mau, suka tidak suka, jika HMI tetap ingin
mewujudkan tujuan—terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan
Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridlai
Allah swt.—hal itu harus dilakukan

Menjadi Instruktur HMI potensial memang sudah menjadi kewajiban di era


Milenial. Potensial yang dimaksud bukan hanya ahli dalam satu bidang saja, tapi ahli
dalam berbagai bidang lain. Kalau hanya ahli dalam satu bidang yang dikuasainya saja,
maka Instruktur tersebut masih tergolong Instruktur biasa saja, belum Instruktur
extraordinary". Lantas, bagaimanakah Instruktur HMI potensial di era milenial yang
dimaksud?

1. Instruktur HMI Ibarat Burung Elang

Sayap lebar, mata tajam, paruh kokoh, dan cengkraman cakar kaki yang
kuat. Ini analogi yang seharusnya ada di tiap Instruktur HMI masa kini. Ibarat elang
yang ingin terbang tinggi, Instruktur harus mampu melebarkan "sayap" di bidangnya
masing-masing. Tidak hanya terpaku di satu buku, namun memperbanyak literasi di
berbagai sumber dan referensi lain. Melakukan "research" atau penelitian, studi
kasus, mencari pembenaran, atau bahkan melihat dari sisi lain. Ingat, di dunia ini
ada hitam dan ada putih, ada pro dan kontra, ada sisi "kiri" dan ada sisi "kanan".
Instruktur yang baik, harus bisa memahami semua sisi tersebut baiknya..

2. Instruktur HMI Itu Psikolog

Seorang Instruktur HMI potensial, harus mampu memahami perilaku setiap


Kader yang diajarnya. Bila tidak mampu, belum menjadi Instruktur potensial
Tiap kader memiliki latar belakang berbeda, kondisi kejiwaan juga berbeda,
penanganannya pun juga berbeda. Bila lingkup pendidikan anda memiliki ahli
psikolog, akan sangat membantu, namun bila tidak, Insturuktur HMI adalah
psikolog. Oleh sebab itu, setiap Instruktur baiknya belajar ilmu dasar psikolog,
berteman dengan psikolog, mencari literasi tentang psikologi dan sering
berkonsultasi. Ini kewajiban, bukan nilai tambah bagi Instruktur.

3. Instruktur HMI Dan Aplikasi

Tidak dipungkiri lagi, teknologi adalah jendela dunia ke arah yang lebih
baik. Bahasa kasarnya saat ini, Instruktur HMI yang tidak melek teknologi sama
dengan "ndeso" (bahasa jawa=kampungan, ketinggalan zaman, tradisional,
konvensional, kuper). Instruktur HMI milenial wajib, (sekali lagi wajib!)
memahami perkembangan internet dan aplikasi terkini. Instruktur HMI
konvensional hanya sebatas mampu menggunakan mesin ketik di masa lampau,
namun guru online harus mampu memahami kerja laptop dan smartphone untuk
mendukung cara ajar mereka. Inipun tidak sekedar mampu mengoperasikan, tapi
mampu mengoptimalkan fungsinya. Mencari sumber, contoh, literasi, referensi,
bahan ajar berkualitas melalui teknologi adalah kewajiban Instruktur milenial, bukan
lagi kebutuhan sekunder tapi primer. Bila belum bisa, belajarlah, bertanya atau
otodidak. Akan sangat miris apabila ada Instruktur yang bilang "saya tidak bisa",
Instruktur HMI lembek kalau saya bilang. Teknologi tidak memakan usia tertentu,
semua kalangan mampu memanfaatkan teknologi. Hanya yang malas bergerak yang
akan bilang seperti itu.

Apalagi perkembangan media sosial yang tinggi saat ini, Instruktur HMI
milenial harus mampu mengikuti. Anak milenial mengedepankan media sosial dan
aplikasi sebagai kebutuhan primer bersosialisasi. Perlu ada pengawasan dan kontrol
yang bijak dari Instruktur untuk memahami. Akan lebih baik memanfaatkannya
dalam materi belajar di lingkup pendidikan.