You are on page 1of 31

PROPOSAL PENGAJUAN KERJA PRAKTEK

LAPANGAN MINYAK DAN GAS BUMI


BERDASARKAN ASPEK RESERVOIR,
PEMBORAN DAN PRODUKSI

Disusun Oleh:
RAHMAT VALDI
071001500115

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KEBUMIAN DAN ENERGI
UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2018

1
PENINJAUAN OPERASI PEMBORAN, PRODUKSI, DAN RESERVOIR
PADA PT PERTAMINA EP ASSET 1 LAPANGAN LIRIK

I. LATAR BELAKANG
Kerja praktek adalah salah satu mata Kuliah Prasyarat dalam kurikulum
akademik di Program Studi Teknik Perminyakan, Fakultas Teknologi Kebumian
dan Energi dengan bobot akademis 1 sks yang wajib ditempuh oleh mahasiswa
Teknik Perminyakan Program Strata 1 (S1) di Universitas Trisakti.
Melalui kerja praktek mahasiswa diharapkan tidak hanya mengerti tentang
pelaksanaan kerja secara teoritis, namun juga dapat mengerti aplikasinya di
lapangan. Kerja Praktek (KP) ini merupakan sebagian visualisasi dari mata kuliah
yang telah ditempuh seperti teknik pemboran, teknik produksi, dan teknik
reservoir.
Perkembangan ilmu dan teknologi dalam dunia Teknik Perminyakan yang
semakin canggihmenuntut mahasiswa Teknik Perminyakan untuk memahami
aplikasi dari teori-teori yang telah dipelajari dan mengetahui perkembangan
teknologi perminyakan tersebut, khususnya yaitu: aspek reservoir (basement rock,
cap rock, batuan induk, dan struktur stratigrafi), aspek pemboran (aspek-aspek
lithology yang perlu di pertimbangkan, perencanaan pemboran, dan penggunaaan
teknologi pemboran yang sangat canggih dalam peningkatan hasil eksploitasi) dan
aspek produksi (perhitungan produksi yang semaksimal mungkin dengan biaya
yang seminimal mungkin), serta dalam rangka peningkatan wawasan keilmuan
perminyakan yang menunjang bagi mahasiswa.

2
II. TUJUAN DAN MANFAAT
2.1. Tujuan :
 Untuk memenuhi salah satu kurikulum pada Program Studi Teknik
Perminyakan, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas
Trisakti.
 Mengetahui secara langsung bentuk, fungsi, maupun cara kerja dari
peralatan yang digunakan dan menambah pengalaman kerja di lapangan.

2.2.Manfaat :
 Menambah pengalaman praktek di lapangandan mampu mengaplikasikan
semua teori kuliah dengan di lapangan yang sebenarnya, sehingga pada
nantinya dapat digunakan sebagai bekal di kemudian hari.
 Mengetahui secara langsung semua aspek yang terkait dalam eksplorasi
maupun eksploitasi minyak bumi dan beberapa metoda peningkatan laju
produksi minyak bumi.
 Dapat mengaplikasikan teori dan konsep-konsep dalam perkuliahan
Teknik Reservoir, Teknik Pemboran, Teknik Produksidan seluruh
praktikum yang telah diberikan.

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1. ASPEK RESERVOIR
Reservoir adalah batuan yang poros dan permeabel dimana sebagai tempat
akumulasinya hidrokarbon yang ada di bawah permukaan tanah. Proses akumulasi
minyak bumi di bawah permukaan haruslah memenuhi beberapa syarat, yang
merupakan komponen suatu reservoir minyak dan gas bumi. Berikut 7 petroleum
sistem yang menjadi syarat adalah:
a. Source Rock
b. Batuan Reservoir
c. Lapisan penutup (cap rock)
d. Perangkap reservoir (reservoir trap)
e. Maturasi (Generasi)

3
f. Migrasi
g. Kondisi reservoir (tekanan dan temperature)

Gambar 3.1.1. Petroleum System


Cakupan aspek reservoir hydrocarbon pada dasarnya harus mengenali
distribusi karakteristik reservoir yang ada pada suatu lapangan migas.Distribusi
karakteristik reservoir meliputi distribusi sifat fisik batuan reservoir, sifat fisik
fluida reservoir, dan kondisi reservoirnya.Karakteristik reservoir dapat diperoleh
dari kegiatan coring dan analisa core, well logging, well testing dan analisa fluida
reservoir.Setelah memperoleh data distribusinya, maka dapat dilakukan
perhitungan untuk memperkirakan besarnya cadangan pada reservoir.
Dari analisa-analisa yang dilakukan akan didapatkan data-data karakteristik
dari batuan atau formasi yang dicerminkan oleh sifat fisik batuan reservoir yaitu :
1. Porositas
Adalah perbandingan volume kosong atau volume pori dengan
volume batuan total (Hawkins, B.C. Craft M. , Applied Petroleum
Reservoir Engineering Second Edition, 1991, hal 9). Dimana porositas
itu sendiri akan dinyatakan dengan fraksi atau persen. Data porositas
ini nantinya akan digunakan dalam perhitungan cadangan.
2. Permeabilitas
Adalah kemampuan batuan untuk meloloskan fluida.Permeabilitas ini
didasarkan dari percobaan H. Darcy menggunakan sampel

4
batuan.Dalam percobaan Henry Darcy menggunakan batupasir tidak
kompak yang dialiri air. Batupasir silindris yang porous ini 100%
dijenuhi cairan dengan viskositas µ (cp), dengan luas penampang A
(cm2), dan panjangnya L (cm). Kemudian dengan memberikan
tekanan masuk P1 (atm) pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran
dengan laju sebesar Q (cm3/sec), sedangkan P2 (atm) adalah tekanan
keluar.Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi
aliran turbulen, maka diperoleh harga permeabilitas absolute batuan.
Adapun dia melakukan percobaan dengan menggunakan beberapa
asumsi yaitu Resevoir homogen, fluida satu fasa, incompressiblefluid,
aliran laminar, fluida steady state flow, dan kondisi aliran yang
isothemal.
3. Saturasi
Adalah perbandingan volume pori yang diisi oleh fluida dengan
volume pori total (Hawkins, B.C. Craft M. , Applied Petroleum
Reservoir Engineering Second Edition, 1991, hal 11). Saturasi oil ini
dinyatakan dengan fraksi atau persen. Saturasi minyak ini selanjutnya
akan menggambarkan hubungannya dengan tekanan kapiler,
permeabilitas dan pengaplikasiannya dalam perhitungan cadangan.
4. Kompresibilitas
Adalah kemampuan batuan untuk ditekan atau menggambarkan
perubahan volume dalam perubahan tekanan.
5. Tekanan Kapiler
Didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada antara permukaan
dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)
sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang
memisahkan mereka.Tekanan kapiler mempunyai pengaruh yang
penting dalam reservoir minyak maupun gas, yaitu :
 Mengontrol distribusi saturasi di dalam reservoir
 Merupakan mekanisme pendorong minyak dan gas untuk bergerak
atau mengalir melalui pori-pori reservoir dalam arah vertical.

5
6. Wettabilitas
Didefinisikan sebagai suatu kecenderungan dari adanya fluida lain
yang tidak saling mencampur. Apabila dua fluida bersinggungan
dengan benda padat, maka salah satu fluida akan bersifat membasahi
permukaan benda padat tersebut, hal ini disebabkan adanya gaya
adhesi.

Perkiraan reservoir merupakan suatu langkah untuk dapat mengidentifikasi


reservoir, sehingga dapat dilakukan pembuktian apakah reservoir tersebut dapat
dikatakan prospek atau tidaknya.Perkiraan reservoir ini meliputi perkiraan
cadangan yang digunakan untuk memperkirakan ultimate recovery. Untuk
memperkirakan cadangan dapat dilakukan dengan tiga metoda yang umum
digunakan yaitu metoda volumetris, metoda materialbalance, dan decline curve.
Perkiraan produktifitas formasi dapat digunakan untuk memperkirakan rate
produksi optimum agar tercapai ultimate recovery-nya. Selain itu dari metode-
metode diatas berhubungan erat dengan perilaku reservoir dimana akan terkait
langsung dengan mekanisme pendorong yang berasal dari reservoir tersebut yaitu
Water Drive, Gas Cap Drive, Depletion Drive, Segregation Drive dan
Combination Drive.

Gambar 3.1.2. Water Drive Reservoir

6
Gambar 3.1.3. Gas Cap Drive Reservoir

Gambar 3.1.4. Depletion Drive Reservoir

Perkiraan reservoir ini sangat berperan terhadap perencanaan penyebaran


sumur-sumur produksi. Dalam perencanaan penyebaran sumur produksi
umumnya berhubungan dengan beberapa masalah antara lain berapa jumlah
sumur yang dapat dibor, spasi sumur tersebut, dan pola penyebaran sumurnya,
sehingga kandungan hydrocarbon dalam reservoir dapat terkuras secara maksimal
dan menghasilkan keuntungan ekonomis yang maksimal. Untuk mencapai hal-hal
tersebut, maka harus dipahami faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan

7
penyebaran sumur yaitu, distribusi cadangan termasuk geometri (bentuk dan
ukuran) cadangan, distribusi produktivitas, struktur geologi dan posisi struktur
serta mekanisme pendorong reservoir.
Sebelum membicarakan karakteristik dari fluida reservoir akan lebih baik
kita memahami diagram fasa antara Tekanan dan Temperatur.

Gambar 3.1.5. Diagram Fasa Fluida Reservoir

Dari diagram fasa diatas Fluida reservoir itu diklasifikasikan berdasarkan


kuantitas fasa ringan dan beratnya yang menyesuaikan terhadap penambahan
Tekanan dan temperature tertentu. Fluida reservoir diklasifikasikan menjadi :
1. Black Oil (Low Shrinkage Oil)
2. Volatile Oil (High Shrinkage Oil)
3. Retrograde gas Condensate
4. Wet Gas
5. Dry Gas

8
Gambar 3.1.6. Klasifikasi Fluida Reservoir

Setelah memahami pembagian barulah kita membicarakan mengenai


karakteristik dari fluida reservoir itu sendiri. Karakteristik fluida reservoir itu
dipengaruhi oleh sifat fisik dari fluida itu sendiri yaitu :
1. Kelarutan Gas Dalam Minyak (Rs)
Dari grafik dibawah dapat dilihat pengaruh tekanan terhadap kelarutan
gas dalam minyak dimana akan konstan ketika diatas tekanan bubble
point. Saat mencapai bubble point semakin rendah tekanannya maka akan
terjadi penurunan harga dari kelarutan gas dalam minyak (Rs).

Gambar 3.1.7. Pressure vs Kelarutan Gas dalam Minyak

2. Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)


Dari grafik di bawah dapat dilihat bahwa setiap penurunan tekanan

9
akanmembuat Bo meningkat sampai mencapai Tekanan bubble point.
Setelah mencapai bubble point ketika tekanan terus turun membuat Bo
akan menjadi turun karena adanya pembebasan gas dari oil yang
membuat volume menurun.

Gambar 3.1.8. Pressure vs Faktor Volume Formasi

3. Viskositas Oil
Dari grafik di bawah dapat dilihat bahwa pada tekanan diatas bubble
point setiap penurunan tekanan akan membuat viskositas dari oil akan
menurun sampai pada tekanan bubble point. Setelah mencapai bubble
point akan terjadi pembebasan gas dan membuat meningkatnya
viskositas setiap penurunan tekanannya karena menghilangnya fasa
ringan dari oil tersebut.

Gambar 3.1.9. Pressure vs Viskositas Minyak

4. Kompresibilitas Minyak
Adalah salah satu sifat fluida, yaitu seberapa mudah volume dari suatu

10
massa fluida dapat diubah apabila terjadi perubahan tekanan, artinya
seberapa mampu-mampatkah fluida tersebut.

Agar lebih mengenali data lapangan yang harus diperoleh untuk penyusunan
laporan disusun sebagai berikut :
a. Data sifat fisik batuan reservoir
b. Data sifat fisik fluida reservoir
c. Sejarah produksi sumur pada lapangan tertentu

3.2.ASPEK PEMBORAN

Gambar 4.2.1. Peralatan Pemboran


Pemboran yakni suatu proses membuat lubang dengan peralatan tertentu
atau khusus, yang di lakukan menembus lapisan-lapisan di bawah permukaan
bumi sampai pada target yang akan di capai.
Beberapa tahapan pada operasi pemboran, yaitu :
a. Pemboran eksplorasi
Pemboran yang dilakukan untuk membuktikan ada tidaknya hidrokarbon
serta untuk mendapatkan data-data bawah permukaan sebanyak mungkin.
b. Pemboran deliniasi
Pemboran yang bertujuan untuk mencari batas-batas penyebaran

11
migas.pada lapisan penghasilnya.
c. Pemboran pengembangan
Pemboran yang akan difungsikan sebagai sumur-sumur produksi.
d. Pemboran sumur-sumur sisipan ( InfilDrilling)
Pemboran yang letaknya diantara sumur-sumur yang telah ada dengan
tujuan untuk mengambil hidrokarbon dari area yang tidak terambil oleh
sumur-sumur sebelumnya yang telah ada.
Operasi pemboran harus didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu :
a. Sulitnya pembebasan lahan, mengingat terjadinya overlaping
ataskepentingan tata guna lahan beberapa instansi, misalnya :
 Daerah persawahan teknis 
 Daerah industri 
 Perkebunan dan Kehutanan 
b. Kepentingan sosial ekonomi penduduk.
c. Harga lahan dan pembuatan lokasi yang cukup mahal.
d. Dan lain sebagainya.
Operasi pengeboran putar (Rotary Drilling) modern mempunyai satu tugas
utama, yaitu mengebor suatu lubang secara aman dilapisan permukaan bumi
sampai menembus formasi yang kaya akan minyak atau gas bumi (lapisan
prospek). Lubang hasil pengeboran tadi setelah bagian dalamnya dilapisi dengan
casing disebut dengan lubang sumur, menjadi penghubung antara formasi tersebut
dengan permukaan tanah. Operasi-operasi pengeboran ini dimungkinkan dengan
menggunakan kompleks pengeboran (Drilling Complex) yang bermutu tinggi,
yaitu rig pengeboran putar yang modern (Rotary Drilling Rig).
Secara umum di dunia perminyakan kita kenal ada 2 jenis pemboran yakni “
Overbalance Drilling “, di mana kondisi dari tekanan hidrostatis ( Ph ) lumpur
kita berada di atas tekanan formasi ( Pf ), jenis pemboran ini sering juga di sebut
sebagai pemboran konvensional. Selanjutnya yang kedua yakni “ Underbalance
Drilling “, di mana kondisi dari tekanan lumpur pemboran ( Ph ) di bawah dari
tekanan formasi ( Pf ).
Rig pengeboran putar terdiri atas 5 (lima) sistem-sistem bagianutama :

12
1. Sistem Tenaga (Power System)

Gambar 3.2.2. Sistem Tenaga

Sistem tenaga terdiri dari 2 (dua) sub komponen utama, yaitu :


a. Sumber Tenaga Utama (Power Supply Equipment)
Ada dua jenis Prime Mover yang umum di kenal,yakni :
 Prime Mover Diesel
Prime mover ini berbahan bakar solar.
 Prime Mover Gas
Prime mover ini berbahan bakar gas, efektif untuk lapangan
yang banyak menghasilkan gas, sehingga gas ini dapat di
gunakan untuk bahan bakarnya.
b. Sistem Transmisi Tenaga (Distribution Equipment)
Dalam sistem transmisi ini juga ada dua jenis transmisi, yakni :
 Transmisi secara mekanik
Penyaluran sumber energy secara mekanik, menggunakan
rantai atau gear.
 Transmisi secara elektrik
Penyaluran sumber energy secara elektrikal dengan panel
control.

13
2. Sistem Pengangkat (Hoisting System)

Gambar 3.2.3. Sistem Pengangkatan


Sistem Pengangkat terdiri dari 2 (dua) sub bagian utama atau komponen yaitu:
a. Struktur penyangga :
 Menara Pengeboran Derrick
 Menara Pengeboran Mast
 Structure Bawah (Substructure) 
 Lantai Rig (Rig Floor)
b. Peralatan pengangkatan :
 Mesin Penarik (Draw work)
 Alat-alat Bagian Atas (Overhead Tools):
1) Balok Mahkota (Crown Block)
2) Balok Jalan (Travelling Block)
3) Kait (Hook)
4) Elevator
 Tali Pengeboran (Drilling Line)

14
3. Sistem Putar (Rotary System)

Gambar 3.2.4. Sistem Pemutar


Sistem pemutar mempunyai 3 (tiga) sub komponen utama, yaitu :
a. Peralatan Putar (Rotary Assembly)
 Meja Putar (Rotary Table)
 Master Bushing
 Kelly Bushing
 Rotary Slip
b. Rangkaian Pipa Bor :
 Swivel
 Kelly
 Drill Pipe (DP)
 Drill Collar (DC)
 Peralatan Khusus Bawah Permukaan (Specialized Down Hole
Tools), stabilizer, rotary reamers, dan shock absorber.
c. Mata Bor atau Pahat (Bit)
 Drag Bit
 Roller Cone Bit
 Diamond Bit
 Core Bit

15
 PDC Bit
4. Sistem Sirkulasi (Circulation System)

Gambar 3.2.5. Sistem Sirkulasi


Sistem sirkulasi terdiri dari :
a. Lumpur Pemboan (Drilling Fluid, Mud)
 Water-Base Mud
 Oil-Based Mud
 Air or Gas-Based Mud
b. Tempat Persiapan (Preparation Area)
 Mud House
 Steel Mud Pits/Tank
 Mixing Hopper
 Chemical Mixing Barrel
 Bulk Storage Bins
 Water Tank
 Reserve Pit
c. Peralatan Sirkulasi (Circulating Equipment)
 Mud Pit
 Mud Pump

16
 Pump Dischange and Return Lines
 Stand Pipe
 Rotary Hose
d. Tempat mengkondisikan Lumpur (Conditioning Area)
 Settling Tank
 Reserve Pits
 Shale Shaker
 Degasser
 Desander
 Desilter
 Mud-Gas Separator
5. Sistem Pencegahan Semburan Liar (BOP System)
Sistem pencegahan semburan liar terdiri dari 2 (dua) komponen utama, yaitu :
a. Rangkaian BOP Stack
 Annular Preventer 
 Ram Preventer 
 Drilling Spools 
 Casing Head (Well Head) 
b. Accumulator Unit
c. Sistem Penunjang (Supporting System)
 Choke Manifold 
 Kill Line 

17
Gambar 3.2.6. BOP Stack

Pada operasi pemboran ini sering juga kita hadapi berbagai masalah yang
terjadi yang sering kita kenal sebagai “ Hole Problem “.
Berikut berbagai masalah yang biasanya terjadi :
 Shale Problem
Masalah ini terjadi saat kita menembus lapisan shale.Apabila lapisan
shale tidak kompak dapat menyebabkan runtuh nya formasi. Apabila
menembus lapisan shale yang sangat reaktif, maka dapat
menyebabkan “ Swelling “.
 Kick
Kick ini terjadi apabila kondisi dari tekanan hydrostatic lumpur kita
di bawah tekanan formasi ( Ph< Pf ). Selain itu juga bias terjadi
karena kita menembus zona formasi “ Abnormal “.
 Loss Circulation
Permasalahan ini penyebabnya berbanding terbalik dengan “ Kick “,
“ Loss “ terjadi akibat tekanan hydrostatic lumpur kita jauh di atas

18
tekanan rekah formasi ( Ph > Prf ). Selain itu,juga dapat terjadi jika
kita menembus lapisan yang “ Subnormal “.
Beberapa jenis Loss circulation :
o Seepage
o Partial
o Total
 Pipe Sticking
Yakni kondisi di mana rangkaian dari drill string kita tidak dapat
bergerak baik itu naik turun atau juga berputar, ini di sebabkan
rangkaian kita terjepit oleh runtuhnya formasi atau terjepitnya
rangkaian pada dinding lubang bor.
Berikut jenis dari pipe sticking :
 Mechanical pipe sticking
 Differential pipe sticking
 Key seat.

3.3. ASPEK PRODUKSI
Hal utama yang harus diperhatikan dalam memproduksikan suatu sumur
adalah “laju produksi”, dimana besarnya harga laju produksi (q) yang diperoleh
harus merupakan laju produksi optimum.
Dua hal pokok yang mendasari teknik produksi adalah:
a. Gerakan fluida dari formasi ke dasar sumur, melalui media berpori.

Gambar3.3.1.Komponen Reservoir

19
b. Gerakan fluida dari dasar sumur ke permukaan, melalui media pipa.

Gambar3.3.2.Komponen Aliran dalam Pipa

Gerakan fluida dari formasi ke dasar sumur akan dipengaruhioleh :


a. Sifat-sifat fisik batuan dan fluida reservoir disekitar lubang bor.
b. Gradien tekanan antara reservoir dan lubang bor.
Kedua faktor diatas akan menentukan besarnya kemampuan reservoir untuk
mengalirkan fluida ke dasar sumur yang disebut Inflow PerformanceRelationship
(IPR).IPR adalah gambaran tentang kemampuan sumur yang bersangkutan untuk
memproduksikan atau menghasilkan fluida.
Harga PI yang diperoleh dari tes atau dari peramalan, merupakan gambaran
kualitatif mengenai kemampuan suatu sumur untuk berproduksi.Harga PI dapat
dinyatakan secara grafis, yang disebut grafik IPR.
Sedangkan PI (Productivity Index) adalah angka penunjuk (index) yang
digunakan untuk menyatakan kemampuan produksi suatu sumur pada kondisi
tertentu.Secara definisi PI adalah perbandingan antara laju produksi yang
dihasilkan suatu sumur, terhadap perbedaan tekanan (drawdown) antara tekanan
static (Ps) dengan tekanan pada saat terjadi aliran (Pwf) didasar sumur.
Untuk memudahkan pemahaman dalam pelaksanaan produksi, maka secara
sistematis dapat dikelompokkan sebagai berikut:

20
1. Penyelesaian Sumur (Well Completion)
a. Metoda penyelesaian sumur (Well Completion Method)
 Down-hole completion atau formation completion 
a) Open-hole completion (komplesi sumur dengan formasi
produktif terbuka) 
b) Cased-hole completion (komplesi sumur dengan formasi
produktif dipasang casing dan diperforasi)
c) Sand Exclussion Type Completion

Gambar 3.3.3. Jenis Down Hole Completion

21
 Tubing completion 
- Single Completion
- Commingle Completion


Gambar 3.3.4. Commingle Completion
- Multiple Completion
- Permanent Completion
 Well-head completion 

Gambar 3.3.5. Wellhead Completion

22
b. Tahap Perforasi

Gambar 3.3.6. Perforasi Sumur


c. Tahap Swabbing
 Penurunan Densitas Cairan 
 Penurunan Kolom Cairan 
2. Metoda Produksi :
a. Sembur Alam-SA (Natural Flow)
b. Sembur Buatan-SB (Artificial Lift)
 Gas Lift 
 Continous gas-lift 

Gambar 3.3.7. Mekanisme Operasi Continuous Gas Lift

23
 Intermittent gas-lift

Gambar3.3.8. Siklus Operasi Intermitent Gas Lift

 Pompa (Pump) 
 Pompa Sucker Rod

Gambar3.3.9.Sucker Rod Pump

24
 Pompa Sentrifugal Multistage

Gambar 3.3.10. Instalasi Electric Submersible Pump

Gambar 3.3.11. Motor Pompa ESP

25
 Hydraulic Jet Pump


Gambar 3.3.12.Hydraulic Jet Pump
 Progressing Cavity Pump

Gambar3.3.13. Progressing Cavity Pump

26

Gambar 3.3.14. Peralatan Bawah Permukaan
c. Chamber lift
3. Fasilitas Produksi Permukaan (Production Surface Facilities)
a. Peralatan Transportasi
 Flowline 
 Manifold 
 Header 
b. Fasilitas Peralatan Pemisah
 Separator 
 Berdasarkan Bentuknya (Horizontal, Vertical, Spherical) 
 Berdasarkan Tekanan Kerjanya (High, Medium, Low pressure) 
 Berdasarkan Fasa Yang Dipisahkan (Two, Three phase) 
 Oil Skimmer 
 Gas Dehydrator 
 Heater Treater 
 Wash Tank 

27
c. Fasilitas Penampung
 Berdasarkan susunan (primary tank, surge tank, dan emergency
storage tank) 
 Berdasarkan fungsi (test tank dan tangki penimbun) 
 Berdasarkan bahan pembentuk (bolted-steel tank, welded-steel
tank, wooden tank, dan plastic tank) 

3.4. ASPEK PENUNJANG LAINNYA
Fasilitas penunjang suatu lapangan migas sangat diperlukan didalam operasi
- operasi lapangan.Fasilitas ini mulai dari fasilitas pengeboran, fasilitas produksi,
dan fasilitas-fasilitas lain, baik untuk operasi perawatan sumur, penyelesaian
sumur, dan logging sumur.

3.5. ASPEK LINGKUNGAN


Upaya-upaya untuk mencegah dampak negatif dari kegiatan eksplorasi dan
eksploitasi sudah mulai dilakukan sejak tahap perencanaan yakni dengan
melakukan studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) untuk
kegiatan yang berdampak penting, dan studi Upaya Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) untuk kegiatan yang tidak
berdampak penting, serta Pembuatan Standard Operating Procedure (SOP).

28
IV. WAKTU PELAKSANAAN
Setelah disesuaikan dengan jadwal akademik, waktu penelitian
direncanakan selama …… pada tanggal …..
A. Pengusulan Rencana Kerja
Minggu Minggu Minggu Minggu
Kegiatan
ke ke ke ke
Orientasi Kantor dan
Lapangan
Praktek Lapangan dan
Pengumpulan Data

Analisa Data

Interpretasi data dan Diskusi

Pembuatanlaporan

B. Lokasi Penelitian
Kerja Praktek yang kami usulkan ini direncanakan akan dilaksanakan di
LAPANGAN LIRIK PT PERTAMINA EP ASSET-1 LAPANGAN LIRIK, RIAU

IV. MAHASISWA PEMOHON


1. Nama : Rahmat Valdi
NIM : 071001500115
Program Studi : Teknik Perminyakan
Alamat : Pulo Macan IX No. 84, RT.O4 RW.05, Tomang, Jakarta
Barat
Telepon : 085775069060
Email : rahmatvaldi@gmail.com

29
VI. PENUTUP
Demikian tinjauan pustaka yang diberikan merupakan tinjauan sekilas dari
literatur dan teori yang diberikan selama kuliah. Besar harapan bahwa ketiga
aspek tersebut dapat benar-benar diaplikasikan di lapangan selama kerja praktek
berlangsung dan ilmu maupun pengalaman yang sekarang dimiliki dapat
bertambah.
Demikian proposal Kerja Praktek ini kami ajukan, atas perhatian dan
bantuan yang diberikan kami ucapkan terima kasih.

VII. DAFTAR PUSTAKA


1. Koesoemadinata, R.P., “Geologi Minyak-dan Gasbumi”, Jilid I dan II,
Penerbit: ITB, Bandung, 1980.
2. Amix, J.W., Bass, D.M.Jr., Whiting, R.L., “Petroleum Reservoir
Engineering”, Toronto – London, Mc. Graw-Hill Book Co., 1960
3. Puji Santoso, Anas , “Diktat Kuliah Teknik Produksi I “,Jurusan Teknik
Perminyakan, UPN “Veteran” Yogyakarta.
4. Rubiandini R.S. , Rudi , “Diktat Kuliah Teknik Pemboran”, HMTM Patra,
ITB, Bandung, 1994.
5. http://visual.merriam-webster.com/energy/geothermal-fossil-
energy/oil/drilling-rig.php
6. Hawkins, B.C. Craft M. , Applied Petroleum Reservoir Engineering Second
Edition

30
LAMPIRAN

31