Вы находитесь на странице: 1из 112

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dewasa ini persaingan di dunia kerja sangat ketat. Setiap


perusahaan menginginkan tenaga kerja yang ahli dan
profesional yang tidak hanya mampu unggul dalam hal teori
namun juga ahli dalam pengaplikasiannya. Untuk memenuhi
tuntutan tersebut, hampir seluruh perguruan tinggi
menyediakan mata kuliah wajib praktik industri atau praktik
kerja lapangan dimana mahasiswa dapat belajar mengenai
hal-hal yang dibutuhkan dalam dunia kerja sesuai
bidangnya.

Salah satunya adalah Universitas Negeri Surabaya yang


juga memiliki mata kuliah wajib praktik industri. Pada
jurusan teknik sipil Universitas Negeri Surabaya
mengharuskan mahasiswa melakukan praktik industri
selama 60 hari kalender masehi atau 400 jam. Selama
melaksanakan kegiatan praktik industri tersebut, mahasiswa
diharapkan dapat mengetahui dan melakukan tahapan-
tahapan perencanaan baik secara administratif, manajemen
biaya dan perencanaan strukturnya, sehingga mahasiswa
mendapat pengalaman dan mampu menyimpulkan
keterkaitan antara teori dan bagaimana melakukan
perencanaan yang baik sebagai seorang perencana.

Dalam laporan ini, proyek yang direncanakan adalah


proyek pembangunan gedung pelayanan terpadu dan
gedung bedah sentral rumah sakit dr.Murjani yang berlokasi
2

di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan


Tengah.

Banyaknya gedung tinggi saat ini menyebabkan


transportasi vertikal di antara lantai-lantai gedung semakin
dibutuhkan. Seiring perkembangan zaman dan teknologi,
transportasi antar lantai dalam gedung dapat ditempuh
secara cepat dan efisien dengan menggunakan lift/elevator.
Lift/elevator adalah seperagkat alat angkut transportasi
vertikal yang mempunyai gerakan periodik dan digunakan
untuk mengangkut.menurunkan orang dan barang melalui
suatu guide rail vertical dengan menggunakan seperangkat
alat mekanik baik disertai alat otomatis ataupun manual.

Rumah sakit merupakan salah satu bangunan umum


dengan tingkat mobilisasi pengguna yang tinggi. Keberadaan
lift pada rumah sakit sangatlah penting untuk mempercepat
evakuasi pasien. Lift dapat mengagkut 8-20 orang untuk
sekali perjalanan serta lift haruslah aman dan nyaman bagi
penggunanya. Oleh karena itu perencanaan konstruksinya
sedikit berbeda karena menahan beban yang besar. Maka
laporan ini membahas mengenai struktur lift pada proyek
pembangunan gedung pelayanan terpadu dan gedung bedah
sentral rumah sakit dr. Murjani, Sampit, Kabupaten
Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Adapun hal-hal
yang diamati berkenaan dengan perencanaan konstruksi lift
tersebut sehingga sesuai dengan kompetensi lulusan strata 1.

B. TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan Praktik


Industri dibagi menjadi 2 yaitu:
3

1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana
merencanakan struktur lift dengan baik dan benar
sesuai atau tidak dengan teori yang diajarkan di
bangku kuliah.
b. Mahasiswa dapat mengetahui kinerja seorang
konsultan perencana sehingga dapat dijadikan bekal
ketika bekerja nanti.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat mengetahui perencanaan perhitungan
struktur lift.

C. MANFAAT

Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan Praktik Industri


adalah sebagai berikut:
a. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang tidak
didapat di bangku perkuliahan dan dapat dijadikan bekal
ketika bekerja nanti.
b. Mahasiswa mampu mengetahui kondisi pekerjaan
konsultan perencana yang sesungguhnya.
c. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan anggaran
biaya dengan baik dan benar.
d. Mahasiswa mampu melakukan perhitungan struktur lift.
4

Halaman ini sengaja dikosongkan


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Proyek
Menurut Iman Soeharto (1999) sebuah proyek memiliki
pengertian sebagai suatu kegiatan sementara yang berlangsung
dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya
teetentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk atau
diliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas.
Menurut Mas Suryanto dan Hasan Dani (2003), proses
perkembangan proyek terdiri dari tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1. Tahapan Perencanaan
Proyek dimulai dari adanya gagasan/ide dasar yan
muncul dari seseorang atau sekelompok orang
berdasarkan kebutuhan.
Gagasan/ide dasar ini dikembangkan secara tertulis untuk
mendefinisikan sebuah proyek dalam sebuah kerangka
acuan (term of references-TOR). Kemudian dilakukan studi
apakah proyek itu layak untuk dikerjakan ataukah tidak
ditinjau dari aspek ekonomi, teknis dan lingkungan. Proses
ini dikenal dengan istilah studi kelayakan proyek (feasibility
study).
2. Tahap Rancang Bangun dan Perekayasaan
Pada studi kelayakan dilakukan penilaian biaya,
menentukan konsep dan kriteria peencanaan serta analisa
perekayasaan. Jika hasil studi kelayakan menyatakan
bahwa proyek dapat diteruskan maka mulailah dikerjakan
pra rancangan berupa kegiatan pendanaan, pra rencana
serta penentuan metode dan rancangan pelaksanaan.
Dilnjutkan dengan finalisasi rancangan berupa
5
6

penyelesaian perizinan, gambar desain, dan gambar kerja,


rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) dan melengkapi
dokumen pelelangan.
3. Tahap Pelaksanaan Fisik
Dengan selesainya rancangan mulailah dilakukan
pelaksanaan fisik di lapangan yang diawali dengan
mobillisasi sumber daya dan persiapan lapangan,
pengadaan barang implementasi/konstruksi dan diakhiri
dengan serah terima.
4. Tahap Pemanfaatan
Dengan dilakukannya serah terima maka proyek telah
dapat dimanfaatkan yang diawali dengan tes operasional
dan dilanjutkan dengan operasional dan pemeliharaan.

B. Manajemen Proyek
Manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan
(knowledges), keterampilan (skills), alat (tools), dan teknik
(techniques) dalam aktivitas-aktivitas proyek untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan proyek (PMBOK,2004).
Menurut Mas Suryanto dan Hasan Dani (2003;3), proses
(fungsi) manajemen terdiri dari:
1. Planning (Perencanaan)
Perencanaan mencakup evaluasi dari perkembangan
masa lalu dan masa kini, penjajakan dan pemilihan dari
kondisi mendatang yang dinilai cukup memenuhi
keinginan bagi suatu organiasai, dan memutuskan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan apa, bilamana, dimana,
bagaimana, dan oleh siapa supaya mendapatkan kondisi-
kondisi yang diinginkan dalam jangkka waktu tertentu.
7

2. Organizing and Staffing (Pengaturan dam Penyediaan Staf)


Dari fungsi inilah tercipta bagan/struktur organisasi
sebagai sarana penentuan dan pengaturan serta pembagian
tugas antara orang dan kelompok orang yang terlibat di
dalam manajemen, dengan prinsip the right man un the right
job.
3. Directing (Pengarahan)
Fungsi manajemen ini mengarahkan organisasi yang
diciptakan menuju kepada sasaran yang telah
direncanakan. Suksesnya sebuah pengarahan terletak pada
kemampuan seorang pemimpin (manajer) dalam
memberikan motivasi serta pendelegasiaan tugas dan
tanggung jawab kepada bawahannya.
4. Coordinating (Koordinasi)
Kordinasi diperlukan agar program-program di dalam
organisasi dapat diselaraskan sehingga tidak terjadi
tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Koordinasi
tidak hanya terbatas di dalam organisasi tetapi ada
hubungannya dengan pihak-pihak luar yang terkait.
5. Controlling (Pengontrolan)
Pengontrolan dimaksudkan untuk memastikan bahwa
program yanng telah dijalankan sesuai dengan yang telah
direncanakan ataukah terjadi penyimpangan. Pada saat
fungsi kontrol dijalankan hasil-hasil pelaksanaan program
akan diukur potensinya. Bila terjadi penyimpanngan akan
dilakukan koreksi seperlunya.

C. Konsultan Perencana
Berdasarkan Kep. Dir. Jen Cipta Karya Dep. PU no
023/KPT S/CK/1992, perencana/konsultan perencanaan
adalah perorangan atau badan hukum yang melaksanakan
8

tugas konstruksi dalam bidang perencanaan karya bangunan


atau perencanaan lingkungan beserta kelengkapannya.
Menurut Mas Suryanto dan Hasan Dani (2003), dalam proyek
konstruksi tugaas dan kegiatan konsultan perencana antara
lain:
1. Kegiatan pada tahap persiapan, yang meliputi
mengumpulkan data dan innfrmasi lapangan, membuat
penafsiran secara garis besar terhadap arahan penugasan,
melakukan konsultasi dengan pemerintah daerah setempat
mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan
reencana proyek, perizinan, dan lain sebagainya.
2. Menyusun pra-rancangan, yang meliputi membuat
rancangan tapak, perkiraan biaya dan mengurus untuk
mendapatkan izin pendahuluan, izin prinsip atau advice
planning dari Pemerintah Daerah Setempat.
3. Menyusun pengembangan rancangan pelaksanaan, yang
meliputi pembuatan rancangan arsitektur beserta uraian
dan visualisasi dua atau tiga dimensi bila diperlukan,
membuat rancangan struktur dan utilitas beserta analisis
perhitungannya.
4. Menyusun rancangan detail, yang meliputi pembuatan
gambar-gambar detail, rencana kerja dan syarat-syarat,
rincian volume pekerjaan, rencana anggaran biaya dan
menyusun dokumen perencanaan.
5. Mempersiapkan paket lelang, yang meliputi membantu
pemilik proyek dalam menyusun dokumen perencanaan.
6. Dalam kegatan pelelangan membantu panitia pelelangan
dalam menyusun program pelelangan.
7. Dalam kegiatan pelelangan membanti panitia pelelangan
memberikan penjelasan termasuk berita acara penjelasan
pekerjaan, membantu dalam evaluasi penawaran,
9

menyusun ulang dokumen pelelangan dan melaksanakan


tugas-tugas yang sama jika pelelangan harus diulang.
8. Melaksanakan pengawasan berkala, meliputi pengamatan
terhadap proses konstruksi secara berkala, melakukan
penyesuain gambar dan teknik pelaksanaan konstruksi,
memberikan penjelasan atas permasalahan yang timbul
selama konstruksi, memberikan rekomendasi penggunaan
material, menyusun laporan akhir perencanaan.
9. Menyusun konsep petunjuk pemakaian dan pemeliharaan
hasil proyek, buku manual operasi peralatan dan
perlengkapan fasilitas dengan segala perubahan-
perubahan yang telah dilakukan selama konstruksi dan
sesuai dengan as built drawing.
10. Dalam kegiatan aplikasi VE memberikan penjelasan
rancangan untuk menyusun studi kelayakan VE,
melaksanakanpenyempurnaan rancangan sesuai
perubahan dari hasil studi VE yang telah disepakati,
bertanggung jawab terhadap hasil perancangan yang
diakibatkan oleh aplikasi VE.

D. Perencanaan Proyek
Menurut Iman Soeharto (1997), perencanaan merupakan
salah satu unsur penting dari konsep manajemen proyek
berdasarkan fungsinya. Perencanaan mencoba meletakkan
dasar dan tujuan serta menyusun langkah-langkah kegiatan
untuk mencapainya. Sistematika proses perencanaan
mengikuti urutan berikut: penentuan tujuan, penentuan
sasaran, pengkajian posisi awal terhadap tujuan, pemilihan
alternatif, dan penyusunan rangkaian langkah untuk mencapai
tujuan.
Berdasarkann PERATURAN MENTERI PEKERJAAN
UMUM NOMOR: 08/PRT/M/2011, perencana konstruksi
10

adalah penyedia jasa orang perseorangan atau badan usaha


yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan
jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam
bentuk dokumen perencanaan atau bentuk fisik lain.
Menurut Budi Santosa (2009), setelah kontrak proyek
ditandatangani, maka manajemen puncak dari perusahaan
yang mendapatkan pekeraan proyek harus memberi
wewenang untuk melakukan perencanaan, membuat jadwal
dan anggaran kepada tim proyek. Langkah-langkah
perencanaan meliputi:
a. Penentuan tujuan proyek dan kebutuhan-kebutuhannya.
Dalam hal ini perlu ditentukanhasilakhirproyek,
waktu,biaya danperformansi yang ditargetkan.
b. Pekeraan-pekeraan apa saja yang diperlukan untuk
mencapai tujuan proyek haruslah diuraikan dan didaftar.
c. Organisasi proyek dirancang untuk menentukan
departemendepartemen yang ada, subkontraktor yang
diperlukan dan manajermanajer yang bertanggungawab
terhadap aktivitas pekerjaan yang ada.
d. Jadwal untuk setiap aktivitas pekeraan dibuat, yang
memperlihatkan waktu tiap aktivitas, waktu mulai dan
batas selesai serta milestone.
e. Sebuah rencana anggaran dan sumberdaya yang
dibutuhkan dipersiapkan. Rencana ini akan memberikan
informasi mengenai jumlah sumberdaya dan waktu untuk
setiap aktivitas pekeraan.
f. Estimasi mengenai waktu, biaya dan performansi
penyelesaian proyek. Jika pekeraan proyek yang ditangani
rrip proyek yang perah dikerakan, perencanaan bisa
didasarkan pada pengalaman sebelumnya sebagai bahan
pembantu. Sedangkan hila proyek adalah pekerjaan yang
benar-benar baru maka perencanaan harus mulai dari
11

awal dan ini lebih sulit dilakukan. Unit fungsional yang


terlibat dalam pengeraan proyek perlu dilibatkan dalam
tahap perencanaan. Meskipun setiap unit
mengembangkan sendiri rencananya, akan dibuat
gabungan dari masing-masing untuk menghasilkan
Rencana Induk Proyek (RIP) atau Project Master Plan.
Permasalahan-permasalahan biasanya akan muncul
dalam tahap perencanaan ini. Area permasalahan yang
bisanya muncul antara lain:
1) Tujuan dan sasaran proyek tidak bisa disetujui oleh
semua pihak.
2) Tujuan proyek terlalu kaku sehingga kurang bisa
mengakomodasi perubahan-perubahan.
3) Tidak cukup untuk menentukan tujuan secara baik
4) Tujuan tidak cukup terkuantifikasi atau terukur.

Tahapan perencanaan proyek konstruksi diantaranya:

1. Tahap persiapan
a. Perencanaan administrasi
Persiapan administrasi merupakan kegiatan
paling awal dari konsultan setelah menerima Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK)/kontrak dari pemberi
kerja. Persiapan administrasi tersebut mencakup
pembuatan dokumen kontrak , pengurusan surat ijin
ke instansi terkait, pembuatan surat tugas personil
yang akan terlibat dalam penanganan proyek, surat
permohonan data, dan sebagainya. Pemberi SPMK
adalah owner.
Persiapan administrasi tersebut diusahakan dapat
diselesaikan sesegera mungkin sehingga tidak
menghambat pelaksanaan pekerjaan berikutnya.
Pekerjaan persiapan ini akan dilaksanakan oleh
12

seorang administrasi teknik yang telah cukup


berpengalaman dalam menangani pekerjaan sejenis,
sehingga diharapkan dapat dilaksanan sesuai dengan
waktu yang disediakan. Untuk itu, segala sesuatu
yanng terkait dengan masalah administrasi tersebut
akan selalu di bawah pengawasan team leader yang
bertanggung jawab atas penyelesaian seluruh
pekerjaan.
b. Mobilisasi personil dan koordinasi tim pelaksana
Setelah persiapan administrasi dapat
diselesaikan, selanjutnya seluruh tenaga ahli yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan akan
dimobilisir sesuai dengan jadwal penugasan yang
telah disusun. Dengan telah dimobilisasinya tenaga
ahli tersebut, maka kegiatan penanganan proyek telah
berjalan.
Tingkat keberhasilan suatu proyek tidak hanya
tergantung atas kemampuan dari para tenaga ahli
yang menangani, aan tetapi faktor koordinasi akan
memegang peranan kunci yang akan menentukan
kelancaran dan kesempurnaan hasil yang akan
dicapai. Dengan koordinasi, diharapkan tidak ada
kerancuan dan tumpang tindih pelaksanaan kegiatan
dari masing-masing tenaga ahli, sehingga dukungan
dari masing-masing personil akan memberikan hasil
yang optimal. Mengingat pentingnya koordinasi ini,
team leader akan memimpin langsung untuk
membicarakan dan mendiskusikan masalah-masalah
yang berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
1) Jadwal pelaksanaan pekerjaan
2) Peralatan yang akan dibutuhkan
3) Dukungan pendanaan, dan lain-lain
13

Disamping koordinasi antar tim konsulan,


koordinasi akan dilakukan pula dengan pemberi
kerja, khususnya dengan direksi pekerjaan. Hal ini
terkait dengan usaha menyamakan persepsi yang
sangat dibutuhkan sebagaimana dipersyaratkan
dama Kerangka Acuan Kerja.

Personil yang terlibat dalam perencanaan adalah:

a) Team Leader
Tugas dan wewenangnya adalah:
1) Mengkoordinir seluruh aktifitas tim dala
mengelola seluruh kkegiatan lapanngan dan
kantor.
2) Bertanggung jawab terhadap pemberi
pekerjaan yang berkaitan terhadap kegiatan
tim pelaksana pekerjaan dan pelaksanaan
pekerjaan yang berlangsunng saat ini.
3) Membuat schedule kegiatan pekerjaan.
4) Memonitor progres pekerjaan yang dilakukan
tenaga ahli.
5) Mengarahkan seluruh anggota tim dalam
menyiapkan laporan yang diperlukan.
6) Mengkaji ulang serta pengecekan
keseluruhan hasil pekerjaan yang telah
dilaksanakan.
7) Melaksanakan presentasi dengan direksi
pekerjaan dan instansi terkait.
8) Bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
b) Ahli Struktur
Tugas dan wewenangnya adalah:
14

1) Membuat perhitungan seluruh proyek


berdasarkan teknis yang telah ditetapkan
sebelumnya.
2) Membuat rancangan detail yang meliputi
pembuatan gammbar-gambar detail serta
rincian volume pekerjaan.
3) Memberikan penjelasan atas permasalahan
yang timbul selama masa konnstruksi.
c) Ahli Arsitektur
Tugas dan wewenangnya adalah:
1) Membuat gambar/desain dan dimensi
bangunnan secara lengkap dengan spesifikasi
teknis, fasilitas dan penempatannya.
2) Menentukan spesifikasi bahan bangnan
untuk finishing pada bangunan proyek.
3) Membuat gambar-gambar rancana dan
syarat-syarat teknis secara administtrasu
untuk pelaksanaan proyek.
4) Membuat perencanaan dan gambar-gambar
ulang atau revisi bilamana diperlukan.
5) Bertanggung jawab sepenuhnya atas hasiil
perencanaan yang dibuatnya apabila
sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan.
d) Ahli Mekanikal/Elektrikal
Tugas dan wewenangnya adalah:
1) Merencanakan instalasi yang menggunakan
tenaga mesin dan listrik serta berbagai
perlengkapan seperti misalnya AC,
perlengkapan penerangan, plumbing,
generator, pemadam kebakaran, telepon, dan
15

sound system sesuai dengan keadan dan fungsi


bangunan.
2) Memberikan penjelasan pada waktu rapat,
menyusun dokumen pelaksanaan dan
melakukan pengawasan berkala dan
melaporkannya pada kontraktor utama.
e) Ahli Lingkungan
Tugas dan wewenangnya adalah:
1) Menganalisis permasalahan-ppermasalahan
dan isu lingkungan.
2) Menyediakan sarana dan prasarana air bersih,
pengelolaan limbah dan air kotor, teknik
penyehatan.
f) Surveyor
Tugas dan wewenangnya adalah:
1) Membantu kegiatan survey dan pengukuran
diantaranya pengukuran topografi lapangan
dan melakukan penyusunan dan
penggambaran data-data lapangan.
2) Mencatat dan mengevaluasi hasil
pengukuran yang telah dilakukan sehingga
dapat meminimalisir kesalahan dan
melakukan tindak koreksi dan
pencegahannya.
3) Melakukan pelaksanaan survei lapangan dan
penyelidikan san pengukuran tempat-tempat
lokasi yang dikerjakan.
4) Melaporkan dan bertanggung jawab terhadap
hasil pekerjaan ke team leader.
g) Drafter Auto CAD
Tugas dan wewenangnya adalah:
16

Bersama-sama arsitek membuat gambar pra


rencana bangunan, gambar perencanaan
bangunan, serta gambar for construction yang
diserahkan kepada owner/pemilik proyek untuk
dijadikan pedoman dalam menghitung rencna
anggaran biaya bangunan serta pelaksanaan
pembangunan.
h) Estimator
Tugas dan wewenangnya adalah:
Membuat perhitungan rencana anggaran biaya
(RAB) proyek.
c. Pengumpulan data-data literatur
Pengumpulan data mengenai tahap-tahap dan
peraturan untuk perencanaan proyek konstruksi. Dan
untuk membuat karaya erencanaan/perancangan
diperlukan studi-studi terdahulu sebagai bahan
pertimbangan/perbandingan serta pembelajaran
untuk mendapatkan hasil karya perencanaan yang
maksimal dan sesuai dengan keinginan dari
pengguna jasa.
d. Mobillisasi peralatan dan perlengkapan
Jenis peralatan dan perlengkapan untuk
pekerjaan ini yaitu:
1) Peralatan kantor, yang terdiri dari komputer,
laptop, printer, scanner, plotter, mesin ketik, mesin
hitung, curvemeter, planimeter, dan perlengkapan
kantor lainnya.
2) Alat transportasi, terdiri dari kendaraan roda
empat dan kendaraan roda dua.
e. Penyidikan tanah
Untuk banginan bertingkat perlu diadakan
penyelidikan tanah dengan cara sondir dan boring.
17

f. Persiapan survey
Persiapan survey ini meliputi:
1) Penyiapan program kerja serta penyiapan metode
pendekatan.
2) Pengumpulan data topografi dan investigasi yang
sudah ada.
3) Melakukan studi literatur dan laporan hasil
penelitian yang relevan.
4) Pengumpulan laporan hasil studi terdahulu.
5) Menyiapkan rencana pelaksanaan survey dan
investigasi lapangan serta langkah dan detail
pelaksanaannya.
2. Analisa data tentang kondisi existing
Menganalisa kendala dan kekurangan yang ada serta
kebutuhan selanjutnya sebagai dasar dalam
merencanakan kebutuhan kedepannya.
3. Penyusunana studi perencanaan
Penyusunan studi perencanaan dilakukan dengan
survey dan investigasi lokasi. Survey dan investigasi lokasi
perlu dilaksanakan untuk mengetahui secara seksama
keadaan yang sebenarnya. Kegiatan survey ini selain
tempat kedudukan rencana gedung akan mencakup pula
daerah di sekitar tempat rencana gedungyang
diperkirakan akan mendapatkan pengaruh langsung dari
kegiatan ini. Survey yang dilakukan meliputi:
a. Survey pendahuluan
Survey pendahuluan dilaksanakan dengan tujuan
untuk mendapatkan data-data wal agar dalam
pelaksanaan tidak terjadi hambatan. Konsultan harus
melakukan survey pendahuluan untuk mendapatkan
gambaran wilayah studi dan mengidentifikasi
karakteristik wilayah studi.
18

1) Pengumpulan data primer


Pengumpulan data primer adalah metode
pengumpulan data dengan pengamatan atau
observasi langsung/pengamatan lapangan
sehinggga akan didapat informasi atau data
secara visual pada wilayah perencanaan. Data
primer terdiri dari data lokasi.
2) Pengumpulan data sekunder
Pengumpulan data sekunder adalah
metode pengumpulan data yang dimiliki
pihakk/instansi terkait maupun mmasyarat
setempat.
b. Survey eksisting
Pada dasarnya tujuan penngukuran adalah untuk
menentukan letak/kedudukan suatu obyek di atas
permukaan bumi dalam suatu sistem koordinat. Dan
dalam pelaksanaan pengukuran itu sendiri yang
dicari dan dicatat adalah angka-angka jark dan sudut
(M. Yusuf Gayo, 1983;5). Dalam survey konstruksi
(construction survey) juru ukur menandai dan
memberikan semua marka referensi sedemikian rupa
sehinngga tiap bangunan yang abru dapat
ditempatkan dengan tepat di atas tanah yang
bersangkutan. Juru ukur menyusun rencana tapak
(site plan) dengan menunjukkan hubungan antara
lahan dan semua bangunan yang didirikan di atasnya
dan menandai semua posisi horizontal dan
elevasinya masing-masing (J.R. Wirshing dan R.H.
Wirshing, 1995;195). Hasil akhir dari pekerjaan ini
adalah menghasilkan data ukur dan gambar peta
situasi (layout plan) kondisi eksisting dan gedung
yang akan direncanakan.
19

c. Tahap gambar pra desain arsitektural


Setelah dilakukan analisa-analisa terhadap
faktor-faktor pendukung dalam perencanaan, maka
dapat ditarik suatu output berupa:
a. Jarak antar blok/massa bangunan
b. Wujud arsitektur
c. Persyaratan teknis bangunan sesuai dengan
peraturan Direktorat Bina Pelayanan Penunjang
Medik dan Sarana Kesehatan

d. Tahap perhitungan dan desain gedung


Perhitungan dilakukan dengan 2 tahap yaitu:
a. Perhitungan sementara
Perhitungan sementara dilakukan tiap hari
terhadap hasil ukuran, hasil rapat, dan analisa
dari tim tersebut.
b. Perhitungan final
Perhitungan final dilakukan setelah semua
pekerjaan pengukuran selesai dilakukan.
e. Tahap penggambaran hasil desain

Penggamabaran dilakukan dalam 2 tahap:


a. Gambar pra-rencana
Gambar pra-rencana adalah terjemahan atau
visualisasi dari ide dan konsep perencanaan yang
telah digambarkan secara arsitektural, yang
selanjutnya akan dikonsultasikan kepada pemberi
tugas agar memenuhi persyaratan dan ketentuan
yang telah ditetapkan.
Gambar pra-rencana biasanya meliputi:
1. Gambar site plan dan layout plan
2. Gambar denah lantai
20

3. Gambar fasade
4. Gambar potongan
b. Gambar final
Penggambaran final akan dilakukan pada
kertas kalkir dengan ukuran A1 atau sesuai
dengan kebutuhan.

d. Kegiatan asistensi dan koordinasi


Pada tahap ini, konsultan perencana akan
mengasistnsi atau mengkoordinasika dengan pihak
pemberi tugas atau pemimpin pelaksana kegiatan,
dan dinas terkait untuk menyamakan persepsi dan
menampung ide, masukan maupun saran guna
penyempurnaan gambar dan desain yang
diharapkan bersama. Pelaksana kegiatan ini
memerlukan proses dan waktu yang cukup lama,
agar dapat mencapai hasil yang optimal bagi kedua
belah pihak.

e. Pengembangan, detail, dan engineering


Hasil dari asistensi dan koordinasi di atas
merupakan penyempurnaan dari gambar pra-
rencana, dan selanjutnya dikembangkan menjadi
gambar konstruksi dan detail sesuai hasil
perhitungan konstruksi yang dihasilkan sedemikian,
sehingga menjadi gambar yang lengkap sebagai
gambar kerja yang siap dijadikan dokumen tender
pelaksanaan.
Gambar kerja tersebut merupakan proses
pematangan dari seluruh proses perencanaan teknik
yang akan dijadikan sebagai pedoman dan pegangan
dalam pelaksanaan pembangunan fisik konstruksi di
21

lapangan oleh kontraktor pelaksana. Hasil dari tahap


ini berupa:
1) Gambar kerja lengkap
2) Perhitungan struktur dan konstruksi bangunan
3) Dokumen rencana kerja dan syarat-syarat (RKS)
4) Rencana Anggaran Biaya (RAB)

f. Tahap penyusunan laporan


Laporan yang disusun adalah:
1) Laporan pendahuluan
2) Laporan antara
3) Laporan akhir

E. Lift
a. Sejarah Lift
Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan
memasuki abad ke-13, tenaga manusia dan binatang
merupakan tenaga penggerak. Pada tahun 1850 telah
diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi
babak baru dalam sejarah elevator yaitu penemuan elevator
yang aman pertama di Dunia oleh Elisha Graves Otis.
Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New
York pada tahun 1857. Setelah meninggalnya Otis pada
tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan
warisan yang ditinggalkan oleh Otis dengan membentu Otis
Brothers & Co. pada tahun 1867. Pada tahun 1873 lebih dari
2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung
perkantoran, hotel, dan department store di seluruh Amerika,
dan lima tahun kemudian dipasanglah elevator penumpang
hidrolik Otis yang pertama. Era Pencakar Langit pada tahun
1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct connected
geared pertama yang sangat sukses. Pada tahun 1903, Otis
22

memperkenalkan desain yang akan menjadi tulang


punggung industri elevator, yaitu elevator listrik gearless
traction yang dirancang dan terbukti mengalahkan usia
bangunan itu sendiri. Hal ini membawa pada
berkembangnya jaman struktur-struktur tinggi, termasuk
yang paling menonjol adalah Empire State building dan World
Trade Center di New York, John Hancock Center di Chicago
dan CN Tower di Toronto.

b. Prinsip Kerja Lift


Cara kerja elevator secara umum yaitu elevator berjalan ke
arah atas atau ke arah bawah. Perubahan arah atas dan arah
bawah tersebut diatur berdasarkan permintaan tertinggi dan
permintaan terendah. Maksudnya adalah jika elevator sedang
berjalan ke arah atas, arah elevator akan berubah menjadi
bawah jika telah melayani permintaan pada lantai paling atas,
begitu pula dengan arah bawah jika elevator sedang berjalan
ke arah bawah, arah elevator akan berubah menjadi atas jika
telah melayani permintaan lantai paling bawah. Sistem kerja
elevator dapat dibagi menjadi dua yaitu simplex (tunggal) dan
duplex (ganda). Yang dimaksud dengan sistem kerja simplex
adalah elevator bekerja secara masing-masing atau tidak saling
berhubungan satu sama lain. Contohnya adalah dalam
sebuah perhitungan kebutuhan lift gedung terdapat 4 buah
elevator dengan 4 buah tombol, apabila tombol pertama
ditekan tidak akan mempengaruhi elevator lainnya,
sedangkan yang dimaksud dengan sistem kerja duplex adalah
sistem elevator yang saling berhubungan satu sama lain untuk
menyelesaikan tugasnya. Contoh dalam sebuah gedung
bertingkat di dalamnya terdapat 4 buah elevator dengan 2
tombol, jika salah satu tombol ditekan maka kedua tombol
23

akan menyala dan salah satu dari keempat elevator akan


melayani permintaan yang diminta.

F. Portal
1. Definisi Umum Struktur Portal
Rangka bangunan adalah bagian dari bangunan yang
merupakan struktur utama pendukung berat bangunan
dan beban luar yang bekerja padanya. Rangka bangunan
untuk bangunan bertingkat sederhana atau bertingkat
rendah. Umumnya berupa Struktur Rangka Portal (“Frame
Structure”,”Open Frame”). Struktur ini berupa kerangka
yang terdiri dari kolom dan balok yang merupakan
rangkaian yang menjadi satu kesatuan yang kuat.
Portal merupakan struktur rangka utama dari gedung
yang terdiri atas komponen-komponen balok dan kolom
yang saling bertemu pada titik-titik simpul (buhul), dan
berfungsi sebagai penahan beban dari gedung. Untuk
merencanakan portal yang berkualitas serta bermutu
tinggi maka diperlukan ketelitian dalam penghitungan.
Perencanaan portal perlu memperhatikan syarat-syarat
dan ketentuan yang berlaku yang tercantum dalam
peraturan gempa maupun peraturan beton baik
menggunakan peraturan yang berstandar nasional
maupun internasional.
Balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu
kesatuan. Balok menerima seluruh beban dari plat lantai
ke kolom-kolom pendukung. Hubungan balok dan kolom
adalah jepit- jepit, yaitu suatu sistem dukungan yang
dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horisontal.
Untuk menambah kekakuan balok, di bagian pangkal
pada pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebalnya.
24

Biasanya perencanaan portal dengan bahan beton


bertulang, ujung kolom bagian bawah dari portal tersebut
bertumpu/tertahan kuat pada pondasi dan dapat
dianggap/direncanakan sebagai perletakan jepit ataupun
sendi.
Hal-hal yang pperlu diperhatikan dalam
pendimensian portal adalah sebagai berikut:
1) Pendimensian balok
Tebal mminimum balok ditentukan dalam SK SNI
2847-2013 halaman 70 adalah untuk balok dengan
dua tumpuan sederhana memiliki tebal minimum
l/16, untuk balok dengan satu ujung menerus
memiliki tebal minimum l/18,5, sedangkan untuk
kedua ujung menerus memiliki tebal minium l/21,
untuk balok kantilever memiliki tebal minimu l/8
2) Pendimensian kolom
3) Analisa pembebanan
4) Menentukan gaya-gaya dalam

2. Komponen Penyusun Struktur Portal


a. Kolom
Kolom ialah suatu struktur yang mendukung
beban aksial dengan/tanpa momen lentur (Ali
Asroni, 2010:1). Menurut SNI 2847-2013, kolom
adalah komponen struktur dengan rasio tinggi
terhadap dimensi lateral terkecil melampaui 3 yang
digunakan terutama untuk menumpu beban tekan
aksial. Untuk komponen struktur dengan perubahan
dimensi lateral, dimensi lateral terkecil adalah rata-
rata dimensi atas dan bawah sisi yang lebih kecil.
Adapun urutan dalam menganalisis kolom:
25

1) Tulangan untuk kolom dibuat pennulangan


simetris berdasarkan kombinasi Pu dan Mu.
2) Beban desain kolom maksimum U = 1,2D + 1,6L
Keterangan:
U = beban terfaktor per unit panjang bentang
balok
D = beban mati
L = beban hidup
3) Momen desain kolom maksimum untuk ujung
atas dan ujung bawah.
Mu = 1,2 MDL + MLL
Keterangan:
Mu = momen terfaktor pada penampang
MDL = momen akibat beban mati
MLL = momen akibat beban hidup
4) Nilai kontribusi tetap terhadap deformasi
1,2𝐷
𝛽𝑥𝑑=
(1,2𝐷 + 1,6𝐿)
Keterangan:
ß = rasio bentang bersih arah memanjang
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat
tulangan tarik
5) Modulus Elastisitas
𝐸𝑐 = 4700 √𝑓′𝑐
f’c = kuat tekan beton
6) Nilai kekakuan kolom dan balok
a) lk = 1/12 x b x h3
b) lb = 1/12 x h x b3
𝐸𝑐 𝑥 𝐼𝑔
c) 𝐸 𝑙𝑘 =
2,5 (1+𝛽 𝑥 𝑑)
 untuk kolom
𝐸𝑐 𝑥 𝐼𝑔
d) 𝐸 𝑙𝑘 =
5 (1+𝛽 𝑥 𝑑)
 untuk balok
26

7) Nilai eksentrisitas
𝑀𝑢
𝑒=
𝑃𝑢
Keterangan:
e = eksentrisitas
Mu = momen terfakktor pada penampang
Pu = beban aksial terfaktor pada eksentrisitas
yang diberikan
8) Menentukan ψa dan ψb
𝐸𝑙𝑘
𝑙𝑙𝑘
𝜑= 𝐸𝑙𝑏
𝐸𝑖𝑏
9) Angka kelangsingan kolom
Kolom langsing dengan ketentuan:
𝐾𝑙𝑢
a) Rangka tapa pengaku lateral = < 22
𝑟
𝐾𝑙𝑢
b) Rangka dengan pengaku lateral = <
𝑟
𝑀1−𝑏
22 − 12 ( )
𝑀2−𝑏
Keterangan:
k = faktor panjang efektif komponen struktur
tekan
lu = panjang komponen struktur tekan yang
tidak ditopang
r = jari-jari putaran potongan lontang komponen
struktur tekan
a) Untuk semua komponen sruktur tekan
𝐾𝑙𝑢
dengan < 100 harus digunakan analisa
𝑟
pada SNI-2847-2012
𝐾𝑙𝑢 𝑀1−𝑏 𝐾𝑙𝑢
b) Apabila < 34 − 12 ( ) atau < 22,
𝑟 𝑀2−𝑏 𝑟
maka perencanaan harus menggunakan
metode pembesaran momen.
27

10) Pembesaran momen


Mc = δb x M2b + δs x M2s
𝐶𝑚
δb = 𝑃𝑢 ≥ 1,0
1−
Ø 𝑥 𝑃𝑐
𝐶𝑚
δs = 𝑃𝑢 ≥ 1,0
1−
Ø 𝑥 𝑃𝑐
𝑀1𝐵
Cm = 0,6 + 0,4 x ≥ 0,4  kolom dengan
𝑀2𝐵
pengaku
Cm = 1,0  kolom tanpa pengaku
Keterangan:
Mc = momen rencana yang diperbesar
δ = faktor pembesaran momen
Pu = beban rencana aksial terfaktor
Pc = beban tekuk Euler
11) Desain penulangan
Hitung tulangan kolom taksir dengan jumlah
tulanngan 2% luas kolom
𝐴𝑠
ρ = ρ’ =  As = As’
𝑏𝑥𝑑
12) Tentukan tulangan yang dipakai
𝐴𝑠 𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖
ρ = ρ’ =
𝑏𝑥𝑑
13) Memeriksa Pu terhadap beban seimbang
d = h-d’
600 𝑥 𝑑
Cb =
600+𝑓𝑦

b = ß1 x Cb
𝑐𝑏− 𝑑
fs’ = x 0,0003
𝑐𝑏
fs’ = fy
ØPn = 0,8 Ø (0,85 x f’c x ab x b + As’ x fs’ – As x
fy)
ØPn = Pu  beton belum hancur pada daerah
tarik
ØPn < Pu beton hancur pada daerah tarik
28

14) Memeriksa kekuatan penampang


a. Akibat keruntuhan tarik
ℎ ℎ 2
Pn = 0,85. f’c. b([( − 𝑒) + √( − 2) +
2 2

2 𝑥 𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦 𝑥 (𝑑−𝑑")
])
0,85 𝑥 𝑓 ′𝑐𝑥 𝑏

b. Akibat keruntuhan tekan


𝐴𝑠′ 𝑥 𝑓𝑦 𝑏 𝑥 ℎ 𝑥 𝑓′𝑐
Pn = 𝑒 + 3𝑥ℎ𝑥𝑒
( )+0,5 ( )+1,18
𝑑−𝑑′ 𝑑2

Keterangan:
ρ = rasio penulangan tarik non-prategang
ρ’ = rasio penulanngan tekan non-prategang
As = luas tulangan tarik non-prategang yang
dipakai
As’ = luas tulangan tekan non-prategang yang
dipakai
d = jarak dari serat tekan lentur ke pusat
tulangan tarik
d’ = jarak dari serat tekan terluar ke pusat
tulangan tekan
b = lebar daerah tekan komponen struktur
h = diameter penampang
f’c = mutu beton
fy = mutu baja
e = eksetnrisitas

c. Balok
Balok dapat didefinisikan sebagai salah satu dari
elemen struktur portal dengan bentang yang arahnya
horizontal. Beban yang bekerja pada balok biasanya
29

berupa beban lentur, beban geser maupun torsi


(momen puntir), sehingga perlu baja tulangan untuk
menahan beban-beban tersebut. Tulangan ini berupa
tulangan memanjang atau tulangan longitudinal
(yang menahan beban lentur) serta tulangan
geser/begel (yang menahan beban geser dan torsi).
Adapun urutan-urutan dalam menganalisis balok:
1) Menghitung pembebanan
2) Menentukan momen maksimum
3) Penentuan lentur lapangan dn tumpuan
a. Penulangan lentur lapangan’
a) Tentukan deff = h – ρ – Ø sengkang – ½
Ø tulangan
𝑀𝑢
b) k=
∅ 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2
 didapat nilai ρ dari tabel
(Istimawan)
As = ρ x b x d
As = luas tulangan tarik non-prategang
c) Pilih tulangan dengan dasar As
terpasang ≥ As diperlukan
b. Penulangan lentur tumpuan
𝑀𝑢
a) k =
∅ 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2
 didapat nilai ρ dari tabel
(Istimawan)
As = ρ x b x d
As = luas tulangan tarik non-prategang
b) Pilih tulangan dengan dasar As
terpasang ≥ As diperlukan
Keterangan:
As = luas tulangan tarik non-prategang
ρ = rasio penulangan tarik non-
prategang
beff = lebar efektif balok
30

d = jarak dari serat tekan terluar ke


pusat tulangan tarik.
4) Rencanakan tulangan geser
1
Vc = Ø ( √𝑓′𝑐) x bw x d
6
a) Vu ≤ Vc (tidak diperlukan tulangan geser
b) Vu ≤ Vn
𝑉𝑢
c) Vs perlu = – Vc
Ø
d) Vn = Vc + Vs
e) Vu ≤ Ø Vc + Ø Vs
3 𝑥 𝐴𝑣 𝑥 𝑓𝑦
f)
𝑏𝑤
Keterangan:
Vc = kuat geser nominal disumbangkan beton
Vu = kuat geser terfaktor pada penampang
Vn = kuat geser nominal
Vs = kuat geser nominal yang disumbangkan
tulangan geser
Av = luas tulangan geseer pada daerah sejarak s
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat
tulangan tarik
fy = mutu baja
bw = lebar balok

d. Shearwall
Ketentuan untuk dinding berdasarkan SNI 2847-2013
adalah:
a) nilai rasio hw/lw yang digunakan untuk
menentukan Vn untuk segmen-segmen dinding
harus yang lebih besar dari rasio-rasio untuk
dinding keseluruhan dan segmen dinding yang
ditinjau.
31

b) Tentukan baja tulangan horizontal dan


transversal minimmum yang diperlukan.
Periksa apakah dibutuhkan 2 layer tulangan.
Jika gaya terfaktor (Vu) melebihi kuat dinding
geser beton yang ada (Vu ada) maka harus
digunakan 2 layer.
Vu > Vu ada 1/6 Acv √𝑓′𝑐
c) Dinding harus mempunyai tulangan geser
terdistribusi yang memberikan tahanan dalam
dua arah ortogonal pada bidang dinding. Jika
hw/lw tidak melebihi 2,0, rasio tulangan ρl tidak
boleh kurang dari rasio tulangan ρt.
d) Untuk semua segmen dinding vertikal yang
menahan gaya lateral yang sama, kombinasi Vn
tidak boleh diambil lebih besar dari 0,66 Acv √fc’
, dimana Acv
adalah luas kombinasi bruto dari semua segmen
dinding vertikal. Untuk salah satu dari segmen
dinding vertikal individu, Vn tidak boleh
diambil lebih besar dari 0,83 Acw √fc’ dimana
Acw adalah luas penampang beton dari segmen
dinding vertikal individu yang ditinjau.
e) Untuk segmen dinding horizontal, termasuk
balok kopel, Vn tidak boleh diambil lebih besar
dari 0,83 Acw √fc’ dimana Acw adalah luas
penampang beton dari segmen dinding
horizontal atau balok kopel.
f) Vc tidak boleh diambil lebih besar dari
0,17λ√𝑓 ′ 𝑐hd untuk dinding yang dikenai
tekanan aksial.
g) Vc boleh yang lebih kecil dari nilai:
𝑁𝑢 𝑑
Vc = 0,27λ√𝑓 ′ 𝑐hd + atau
4𝑙𝑤
......................................(1)
32

𝑁𝑢 𝑑
𝑙𝑤 (0,1λ√𝑓 ′ 𝑐+0,2 )
Vc = [0,05λ√𝑓 ′ 𝑐 + 𝑀𝑢 𝑙𝑤
𝑙𝑤 ℎ
] ℎ𝑑

𝑉𝑢 2
...................(2)
Dimana lw adalah panjang keseluruhan
dinding, Nu adalah positif untuk tekan dan
negatif untuk tarik. Jika (Mu/Vu – lw/2) adalah
negatif, persamaan 2 tidak berlaku.
h) Bila Vu kurang dari 0,5ØVc maka tulangan
harus disediakan tulangan geser.
i) Rasio luas tulangan geser horizontal terhadap
luas beton bruto penampang vertikal ρt tidak
boleh kurang dari 0,0025
j) Spasi tulangan geser horizontal tidak boleh
melebihi yang terkecil dari lw/5, 3h, dan 450
mm, dimana lw adalah panjang keseluruhan
dinding.
k) Rasio luas tulangan geser vertikal terhadp luas
beton bruto penampang horizontal ρl tidak
boleh kurang dari yang lebih besar dari
ρl = 0,0025 + 0,5 (2,5 – hw/lw)( ρt – 0,0025)
dan 0,0025 dimana lw adalah panjang
keseluruhan dinding dan hw adalah tinggi
keseluruhan dinding.

e. Sloof
Sloof adalah balok yang menghubungkan pondasi
sebagai tempat menyalurkan beban dinding. Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada pernecanaan dan
perhitungan sloof adalah:
1) Tentukan dimensi sloof
2) Tentukan pembebanan pada sloof
a) Berat sendiri sloof
b) Berat dinding
33

c) Berat plesteran
3) Penulangan lentur lapangan dan tumpuan
a) Tentukan deff = h – ρ – Ø sengkang – ½ Ø
tulangan
𝑀𝑢
b) k =
∅ 𝑥 𝑏 𝑥 𝑑2
 didapat nilai ρ dari tabel
(Istimawan)
As = ρ x b x d
As = luas tulangan tarik non-prategang
c) Pilih tulangan dengan dasar As terpasang ≥
As diperlukan

Keterangan:
As = luas tulangan tarik non-prategang
ρ = rasio penulangan tarik non-prategang
beff = lebar efektif balok
d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat
tulangan tarik.
5) Cek tulangan geser yang diperlukan
1
Vc = Ø ( √𝑓′𝑐) x bw x d
6
d) Vu ≤ Vc (tidak diperlukan tulangan geser)
e) Vu ≤ Vn
𝑉𝑢
f) Vs perlu = – Vc
Ø
g) Vn = Vc + Vs
h) Vu ≤ Ø Vc + Ø Vs
𝐴𝑣 𝑥 𝑓𝑦 𝑥 𝑑
i) 𝑆 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 =
𝑉𝑠
Keterangan:
Vc = kuat geser nominal disumbangkan beton
Vu = kuat geser terfaktor pada penampang
Vn = kuat geser nominal
Vs = kuat geser nominal yang disumbangkan
tulangan geser
34

Av = luas tulangan geseer pada daerah sejarak s


d = jarak dari serat tekan terluar ke pusat
tulangan tarik
fy = mutu baja

f. Pondasi
Pondasi adalah struktur bagian paling bawah dari
suatu konstruksi (gedung, jembatan, jalan raya,
terowongan, dinding penahan, menara, tanggul, dan
lain-lain) yang berfungsi untuk menyalurkan beban
vertikal di atasnya (kolom) maupun beban horizontal
ke tanah.
Secara umum terdapat dua macam pondasi, yaitu:
1. Pondasi dangkal: dipakai untuk bangunan
bertanah keras atau bangunan-bangunan
sederhana. Yang termasuk pondasi dangkal
antara lain:
A) Pondasi batu kali setempat
B) Pondasi lajur batu kali
C) Pondasi tapak atau pelat beton setempat
D) Pondasi beton lajur
E) pondassi strauss
2. Pondasi dalam: dipakai untuk bangunan
bertanah lembek, bangunan berbentang lebar
(memiliki jarak kolom lebih dari 6 meter), dan
bangunan bertingkat. Yang termasuk pondasi
dalam antara lain:
A) Pondasi tiang pancang (beton, besi, pipa
baja)
B) Pondasi sumuran
C) Pondasi borpile
35

BAB III

PELAKSANAAN KEGIATAN PKL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Industri/Perusahaan dan Struktur


1. Organisasi dan Manajemen Industri/Perusahaan
PT Bina Karya (Persero) berdiri sejak tanggal 13
November 1962 berdasarkan Peraturan Pemerintah
No. 13/1962, berbentuk Perushaan Negara yang
diundangkan dalam Berita Lembaran Negara
Republik Indonesia No. 85 Tahun 1962. Dengan
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1970 Perusahaan
Negara berubah menjadi Perusahaan Perseroan dan
berdasarkan Perubahan Terakhir Anggaran Dasar
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bina Karya maka
modal dasar perusahaan mengalami perubahan dari
Rp. 10.912.000.000,00 menjadi Rp.60.000.000.000,00
melalui keputusan pemegang saham dan akta
perubahan yang disahkan pada tanggal 22 Juni 2016
oleh notaris Arnasya A. Pattinama, S.H.
Pada awal berdirinya perusahaan hanya
menangani bidang arsitek dan bangunan, namun
dengan berkembangnya lingungan bisnis yang
semakin meluas maka pelayanan yang diberikan
kujuga ikut mengalami perkembangan dan saat ini
telah menjadi perusahaan yang mampu menangani
jasa konsultasi multidisiplin teknik dan manajemen
secara luas.
36

Struktur Organisasi Perusahaan

DEWAN KOMISARIS

DIREKTUR UTAMA BOD

DIREKTUR

ASISTEN SENIOR ASISTEN SENIOR SENIOR MANAJER SENIOR MANAJER ASISTEN SENIOR
SENIOR MANAJER
MANAJER SDM & MANAJER SDM & DIVISI KEUANGAN & MANAJER SDM &
DIVISI GEDUNG
UMUM UMUM TRANSPORTASI SDM UMUM

ASISTEN SENIOR ASISTEN SENIOR ASISTEN SENIOR ASISTEN SENIOR


ASISTEN SENIOR ASISTEN SENIOR
MANAJER MANAJER SDM & MANAJER SDM & MANAJER SDM &
MANAJER MANAJER
KEUANGAN UMUM UMUM UMUM
37

2. Deskripsi Pelaksanaan Kegiatan


1. Identitas Industri/Perusahaan
1) Profil Perusahaan
a) Nama Perusahaan: PT Bina Karya
(Persero)
b) Status: Kantor Pusat
c) Alamat Kantor: Gedung Taman Sari
Hive Office Lt. 9, Jalan D.I Panjaitan Kav.
2, Cawang, Jakarta
Telepon: 021-8198445 [Hunting]-8195135
Fax: 021-8197490
Email: binakaryapusat@yahoo.com
d) Cabang Surabaya
Alamat: Pondok Candra Indah, Jalan
Rambutan IV No. Blok E 580 RT 01/RW
05 Ds. Wadungasri, Kec. Waru, Sidoarjo
– Jawa Timur 61256
Telepon: 0812 8356 7171
Email:
binakarya_cabangsurabaya@yahoo.com
e) Komisaris Utama: Ir. Panani Kesai, M.Sc.
f) Komisaris: Muhammad Fakhruddin,
S.E.
g) Direktur Utama: Ir. Swingly Parubak,
MM.
h) Direktur: Drs. Widya Budi Darmayana,
MM.
i) Badan Usaha : Perseroan Terbatas
j) Bidang Usaha: Konsultan Perencanaan
dan Pengawasan
k) Akta Pendirian Perusahaan
(1) Nomor: 58
(2) Tanggal : 15 Maret 1972
(3) Notaris : Djojo Muljadi
38

(4) Nomor Pengesahan Kementrian


Hukum dan HAM: Y.A.5/69/24
Tanggal 17 Februari 1973
l) Akta Perubahan
(1) Nomor: 7
(2) Tanggal: 3 Mei 2017
(3) Notaris: Arnasya A. Pattinama, SH
(4) Nomor Pengesahan Kementrian
Hukum dan HAM: AHU-
AH.01.03.0133744 Tanggal 05 Mei
2017
m) NPWP: 01.000.483.6-093.000
Tanggal 01/04/2012
Surat Pengukuhan PKP No: PEM-
01069/WPJ.19/KP.0403/2012
Tanggal 16/04/2012
Surat Keterangan Terdaftar(SKT) No. :
PEM-00269/WPJ.19/KP.0403/2012
Tanggal 05/04/2012
Penegasan Identitas Wajib Pajak No.: S-
018/WPJ.19/KP.0403/2012
Tanggal 20/06/2012
n) Bank: Bank Mandiri
o) Izin Usaha
(1) Izin Usaha Jasa Konstruksi
(a) Izin Usaha Jasa Konstruksi (KUJ)
Jasa Pengawasan Konstruksi
(Konsultan)
No. IUJK: 1-003385-3172-3-00074
Tanggal: 25 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Izin Usaha: Pemda
Provinsi DKI Jakarta
39

(b) Izin Usaha Jasa Konstruksi (KUJ)


Jasa Konsultansi Konstruksi
(Konsultan)
No. IUJK: 1-003385-3172-3-00074
Tanggal: 25 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Izin Usaha: Pemda
Provinsi DKI Jakarta

(c) Izin Usaha Jasa Konstruksi (KUJ)


Jasa Pengawas Konstruksi
(Konsultan)
No. IUJK: 1-003385-3172-3-00074
Tanggal: 25 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Izin Usaha: Pemda
Provinsi DKI Jakarta

(2) Sertifikat Badan Usaha


(a) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Konsultasi Konstruksi Pengawas
Reksyasa
No. SBU: 0323267
Tanggal: 21 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(b) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Konsultan Lainnya
No. SBU: 0323263
Tanggal: 21 Januari 2016
40

Berlaku sampai dengan: 20 Januari


2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(c) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Konsultan Spesialis
No. SBU: 0323268
Tanggal: 21 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(d) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Pengawas Konstruksi Arsitektur
No. SBU: 0323262
Tanggal: 21 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(e) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Perencana Konstruksi Arsitektur
No. SBU: 0323261
Tanggal: 21 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(f) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Perencana Konstruksi Penataan
Ruang
No. SBU: 0323264
Tanggal: 21 Januari 2016
41

Berlaku sampai dengan: 20 Januari


2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO
(g) Sertifikat Badan Usaha Jasa
Perencana Konstruksi Rekayasa
No. SBU: 0323266
Tanggal: 21 Januari 2016
Berlaku sampai dengan: 20 Januari
2019
Instansi Pemberi Usaha: LPJK-
INKINDO

(h) Tanda Daftar Perusahaan


Perseroan Terbatas
Nomor dan Tanggal:
09.04.1.71.00037/15 Maret 2017
Berlaku sampai dengan: 11 Maret
2022
Instansi Pemberi Izin Usaha: Dinas
Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah, dan Perdagangan
Pemda Provinsi DKI Jakarta
(i) Surat Izin Usaha Perdagangan
(SIUP)-Besar
Nomor dan Tanggal:
15520/24.1.0/31.75.00.000/1.824.27
1/2015/29 Mei 2015
Berlaku sampai dengan: 25 Mei
2020
Instansi Pemberi Izin Usaha: Dinas
Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah, dan Perdagangan
Pemda Provinsi DKI Jakarta
42

(j) Sertifkat OHSAS 18001:2007


Nomor: OSH 00762
Berlaku sampai dengan: 17 Mei
2018
Instansi Pemberi Izin Usaha:
Sucofindo Internasional Certification
Services (SICS)
(k) Sertifikat SNI ISO 9001:2008
Nomor: OSC 00848
Berlaku sampai dengan: 27 April
2018
Instansi Pemberi Izin Usaha:
Sucofindo Internasional Certification
Services (SICS)

2) Direksi Perusahaan
Komisaris Utama: Ir. Panani Kesai, M.Sc.
Komisaris: Muhammad Fakhruddin, S.E.
Direktur Utama: Ir. Swingly Parubak, MM.
Direktur: Drs. Widya Budi Darmayana,
M.M.
43

3) Daftar Pengurus/Tenaga Ahli Perusahaan


44

Gambar 3.3 Daftar Tenaga Ahli Perusahaan


45

3. Waktu dan Jadwal Kegiatan


Pelaksanaan praktik industri I dilakukan
selama 400 jam terhitung mulai dari tanggal 30
Oktober hingga 30 Januari 2018. Pelaksanaan
praktik industri ini menyesuaikan dengan
jadwal kuliah semester 7. Hari kerja PT Bina
Karya (Persero) adalah hari Senin-Sabtu mulai
pukul 08.00-17.00. Namun peserta praktik
industri hanya masuk pada hari Senin-Jumat.
Pelaksanaan praktik industri ini di PT Bina
Karya (Persero) bertepatan dengan hari libur
nasional Natal dan tahun baru sehingga
mengalami pemunduran jadwal.

4. Keterlibatan Mahasiswa Selama Praktik


Industri
Mekanisme Perencanaan Kegiatan
1. Tahapan persiapan
1) Penandatanganan SPK
Setelah pemenang lelang diumumkan,
konsultan perencana mengurus
administrasi keperluan kepada pemberi
jasa yaitu dinas pekerjaan umum
sebagai Pejabat Pembuat Komitmen
(PPK) berupa surat penandatanganan
perintah kerja dan data perusahaan.
Pada tahap ini mahasiswa tidak ikut
terlibat.
2) Pemahaman dan klarifikasi KAK
Konsultan perencana memahami dan
mengkaji KAK guna melengkapi
seluruh data dan informasi dari
pengguna jasa maupun pihak lain
terkait persyaratan pembangunan.
46

3) Pengumpulan data
Setelah diberi SPK, konsultan perencana
mulai mengumpulkan data dan
informasi yang mendukung kegiatan
perencanaan proyek dan mempelajari
DED gedung sebelumnya. Data yang
dimaksud adalah data primer seperti
data penngukuran tanah. Setelah itu
data sekunder seperti informasi
eksisting dan standarisasi perencanaan.

2. Tahap pra rencana/konsep desain


Pada tahapan ini, arsitek membuat
pradesain yakni rencana tapak dan rencana
penampilan bangunan. Konsultan
perencana merencanakan konsep program
ruang pada gedung yang direncanakan
serta memperkirakan besar biaya awal
perencanaan.
3. Tahap penyusunan pengembangan rencana
Dalam tahapan ini meliputi rencana
arsitektur, struktur, dan utilitas, membuat
garis besar spesifikasi teknis dan perkiraan
anggaran biaya.
4. Tahap penggambaran hasil desain
Pada tahap ini konsultan menghitung
kekuatan struktur bangunan. Setelah itu,
perhitungan dilanjutkan dengan
perhitungan penulangan komponen
struktur. Pada tahapan ini mahasiswa turut
andil dalam perhitungan kekuatan struktur
dan perhitungan komponen struktur dan
penulangannya. Selanjutnya membuat
47

gambar detail arsitektur, struktur, dan


utilitas, serta penyusunan RKS.

5. Spesifikasi Produk
Spesifikasi proyek Perencaanaan Gedung
Pelayanan Terpadu dan Bedah Sentral RSUD dr.
Murjani Sampit adalah sebagai berikut:
Nama proyek : Perencaanaan DED Gedung
Pelayanan Terpadu dan Review
DED Bedah Sentral RSUD dr.
Murjani Sampit
Lokasi Proyek : Jalan H.M. Arsyad nomor 65,
Sampit
Pemilik Proyek : RSUD dr. Murjani Sampit
Jumlah Lantai : 5 buah dan 4 buah
Konsultan Perencana : PT Bina Karya (Persero)
Luas Lahan: 38.157 m2
Luas Bangunan: 20.878 m2
Fungsi Bangunan: Gedung bedah sentral dan
pelayanan terpadu

6. Langkah-Langkah Operasi dan Produksi


Tahapan perencanaan gedung pelayanan
terpadu dan gedung bedah sentral RSUD dr.
Murjani, Sampit adalah sebagai berikut:
a) Program kerja perencanaan
b) Tahap persiapan perencanaan
c) Tahap pra rencana/konsep desain
d) Penyusunan pengembangan rencana
e) Penyusunan rencana detail
48

7. Standarisasi dan Kendali Mutu


Dalam perencanaan gedung RSUD dr.
Murjani perencanaan desain struktur merujuk
pada aturan-aturan yang telah ada seperti:
a) Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk
Gedung (PPIUG) 1987
b) Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa
Untuk Gedung (SNI 1726-2002)
c) Tata Cara Perencanaan Struktur Beton dan
Bahan Bangunan Gedung (SNI-03-1729-
2002)
d) Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk
Bangunan Gedung (SNI-03-1729-2002)
e) Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI-
1971)
f) Tata Cara Perhitungan Pembebanan Untuk
Bangunan Rumah dan Gedung (SNI-03-
1727-2002)

Proses kendali mutu PT Bina Karya (Persero)


adalah sebagai berikut:
a) Pengawasan terhadap proses survey dan
persiapan
b) Pengawasan terhadap proses pengerjaan
desain prarencana
c) Pengawasan terhadap pengerjaan
perhitungan dan gambar hasil desain
d) Pengawasan terhadap proses pengerjaan
RAB, EE, dan BQ
e) Pengawasan terhadap proses pengerjaan
Dokumen Pelelangan
49

8. Keselamatan Kerja
Dalam elaksanakan suatu pekerjaan,
keamanan dan keselamatan kerja merupakan
aspek penting yang harus dipertimbangkan.
Keberhasilan suatu proyek konstruksi tidak
terlepas dari penjaminan keselamatan dan
kesehatan bagi para pekerjanya, karena dengan
sumber daya yang terjamin, proyek dapat
berjalan lancar dan tepat waktu sehingga
memberikan keuntungan bagi perusahaan
maupun owner.
Penerapan keselamatan kerja PT Bina Karya
(Persero) adalah keselamatan kerja untuk
konsultan perencana adalah saat melakukan
survey di lapangan. Pihak perusahaan
menyediakan APD lengkap serta fasilitas yang
nyaman yang dapat menuunjang pekerjanya
seperti pencahayaan yang baik.

9. Kegiatan Pasca Produksi


Tahapan perencanaan gedung pelayanan
terpadu dan gedung bbedah sentral RSUD dr.
Murjani juga mencakup kegiatan setelah
produksi selesai dikerjakan. Kegiatan pasca
produksi dalam perencanaan gedung pelayanan
terpadu dan gedung bedah sentral RSUD dr.
Murjani secara garis besar berupa penyimpanan
dokumen-dokumen yang digunakan untuk
pelelangan proyek, gambar bestek, RAB, dan
laporan perhitungan struktur gedung.
Penyimpanan produk ini dilakukan untuk arsip
perusahaan dan sebagai bukti laporan
dilaksanakan. Selain penyimpanan dokumen
arsip konsultan perencana juga diwajibkan
50

melakukan proses pengadaan barang dan jasa


fisik. Konsultan membantu pengguna jasa dalam
pelaksanaan pekerjaan fisik bertugas sebagai
advisor jika ada permasalahan lapangan dengan
karya perencanaan. Kegiatan ini berdasarkan
KAK yang diberikan oleh owner kepada
konsultan perencana. Konsultan perencana juga
membantu owner dalam proses pelelangan
konntraktor, konsultan perencana ikut
mengawal proses pelelangan sampai tender ada
pemenangnya.

10. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat


a. Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam pelaksanaan
praktik industri ini adalah pihak PT Bina
Karya (Persero) yang sangat mendukung
dan mengarahkan mahasiswa dengan baik
dengan memberikan masukan dan arahan,
serta keleluasaan dalam mengatur jadwal
pelaksanaan praktik sehingga mahasiswa
mampu menyesuaikan dengan jadwal
kuliah yang berlangsung pada saat itu.

b. Faktor Penghambat
Faktor penghambat praktik industri ini
adalah lokasi proyek yang jauh sehingga
tidak memungkinkan mahasiswa untuk
dapat melakukan survey lokasi secara
langsung. Selain itu selama praktik
berlangsung, cuaca yang buruk
mempersulit mahasiswa dalam hal
akomodasi.
51

B. Pembahasan
1. Spesifikasi Produk
Spesifikasi proyek Perencaanaan Gedung Pelayanan
Terpadu dan Bedah Sentral RSUD dr. Murjani Sampit
adalah sebagai berikut:
Nama proyek : Perencaanaan DED Gedung
Pelayanan Terpadu dan Review
DED Bedah Sentral RSUD dr.
Murjani Sampit
Lokasi Proyek : Jalan H.M. Arsyad nomor 65,
Sampit
Pemilik Proyek : RSUD dr. Murjani Sampit
Jumlah Lantai : 5 buah dan 4 buah
Konsultan Perencana : PT Bina Karya (Persero)
Luas Lahan : 38.157 m2
Luas Bangunan : 20.878 m2
Fungsi Bangunan : Gedung bedah sentral dan
pelayanan terpadu

(a)
52

(b)
Gambar 3.4 Lokasi RSUD dr. Murjani

2. Perhitungan Preliminary
a. Perhitungan Preliminary Desain
Perhitungan dimensi balok kolom dapat
dilakukan dengan cara yaitu perhitungan
berdasarkaan bentang kolom dan prhitungan dimensi
balok kolom berdasarkan konsep beban kerja.
a) Perhitungan Preliminary desain balok
Pendimensian balok didesain berdasarkan
panjang bentang antar kolom atau tumpuan
sebagai berikut:
1 1
h = 𝑙- 𝑙
15 10
1 2
b = ℎ- ℎ
2 3

Keterangan:
l = jarak antar kolom atau tumpuan
h = tinggi balok
b = lebar balok
1) Balok B1
Bentang 800 – balok induk melintang
Batas dimensi balok B1
53

h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/12 x 800 = 66,67 ≈ 70cm


b= 1/2 x 75 = 35cm

2) Balok B3
Bentang 800 – balok induk melintang
Batas dimensi balok B3
h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/14 x 800 = 57,14 ≈ 60cm


b=1/2 x 60 = 30cm

3) Balok B4
Bentang 800 – balok induk memanjang
Batas dimensi balok B4
h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/15 x 800 = 53,33 ≈ 55cm


b=1/2 x 55 = 27,5 ≈ 30cm
4) Balok BA1
Bentang 800 – balok induk melintang
Batas dimensi balok BA1
h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/12 x 800 = 66,67 ≈ 70cm


b=1/2 x 70 = 35cm

5) Balok BA5
Bentang 800 – balok induk melintang
54

Batas dimensi balok BA5


h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/14 x 800 = 57,14 ≈ 60cm


b=1/2 x 60 = 30cm

6) Balok BA6
Bentang 800 – balok induk melintang
Batas dimensi balok BA6
h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/15 x 800 = 53,33 ≈ 55cm


b=1/2 x 55 = 27,5 ≈ 30cm

7) Balok BA8
Bentang 520 – balok ring
Batas dimensi balok BA8
h= 35-52cm
b = 17,5-26cm

h= 1/15 x 520 = 34,67 ≈ 35cm


b=1/2 x 35 = 17,5 ≈ 20cm

8) Balok Tie Beam


Bentang 800 – balok induk melintang
Batas dimensi balok
h= 55-80cm
b = 30-55cm

h= 1/14 x 800 = 57,14 ≈ 60cm


b=1/2 x 60 = 30cm
55

b) Perhitungan Preliminary Desain Pelat


Dimensi pelat = 260cm x 295cm

Gambar 3.5 Denah lift

Data perencanaan:
Ly = 29500mm
Lx = 2600mm
F’c = 29,05 Mpa
Fy = 240 Mpa
BA8 = 20cm x 35cm

𝑙𝑦 2950
Jenis pelat = = = 1,13 < 2  Pelat 2 arah
𝑙𝑥 2600

Bentang bersih pelat:


1) Pelat arah memanjang
Lny = ly – ((0,5 x lebar BA8) + (0,5 x lebar BA8))
Lny = 2950 – ((0,5 x 200) + (0,5 x 200))
Lny = 2750 mm

2) Pelat arah melintang


Lnx = lx – ((0,5 x lebar BA8) + (0,5 x lebar BA8))
Lnx = 2600 – ((0,5 x 200) + (0,5 x 200))
Lnx = 2400mm
56

Nilai ß:
𝑙𝑛𝑦 2750
ß= = = 1,15 < 2  kondisi pelat 2 arah
𝑙𝑛𝑥 2400

Sesuai SNI 03-2847-2013 pasal 8.12.2, lebar efektif


(be) diperhitungkan sebagai berikut:
a) Asumsi tebal pelat atap = 120mm
Beban mati
Berat sendiri pelat = 0,12 x 2400 = 288 kg/m2
Ac + pipa = 10 kg/m2
Instalasi listrik = 11 kg/m2 +
Total beban mati (DL) = 309 kg/m2

Beban hidup
Atap rumah sakit = 0,96kN/m2 = 97,89 kg/m2
Beban hujan = 20 kg/m2 +
Total beban hidup (LL) = 117,89 kg/m2
Maka 2DL = 2 x 309 = 618 kg/m > LL = 117,89
2

kg/m2. Dengan demikian metode perencanaan


langsung dapat digunakan.

b) Lebar efektif balok untuk arah melintang


bangunan (∟)
Be = bw + (2 x 6ht)
Be = 200 + (2 x 6 x 120)
Be = 1640

Lebar sayap = (be-bw)/2


Lebar sayap = (1640 – 200)/2
Lebar sayap = 720

Syarat: lebar sayap ≤ 6ht


720 ≤ 6 x 120
720 ≤ 720  OK
57

c) Lebar efektif balok untuk arah melintang


bangunan (┬)
Be = bw + (2 x 8ht)
Be = 200 + (2 x 8 x 120)
Be = 2120

Lebar sayap = (be-bw)/2


Lebar sayap = (2120 – 200)/2
Lebar sayap = 960

Syarat: lebar sayap ≤ 8ht


960 ≤ 8 x 120
960 ≤ 960  OK

d) Lebar efektif balok untuk arah memanjang


bangunan (∟)
Be = bw + (2 x 6ht)
Be = 200 + (2 x 6 x 120)
Be = 1640

Lebar sayap = (be-bw)/2


Lebar sayap = (1640 – 200)/2
Lebar sayap = 720

Syarat: lebar sayap ≤ 6ht


720 ≤ 6 x 120
720 ≤ 720  OK

Persamaan statis momen terhadap balok


melintang:
58

ℎ𝑡 ℎ𝑤 ℎ𝑡
(ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒 𝑥 )+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤 𝑥 ( + ))
Y= 2
(ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒)+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤)
2 2

120 230 120


(120 𝑥 2120 𝑥 2 )+(200 𝑥 230 𝑥 ( 2 + 2 ))
Y= (120 𝑥 2120)+(200 𝑥 230)
Y = 77,61
Perhitungan inersia balok dan inersia pelat pada
arah melintang:
1 1
I balok = ( x bw x y3) + (( x be x ht3) + (be x ht
3 12
ℎ𝑡 2 1
x (y + )) + (( x bw x (hw-y)3)
2 3
1 1
I balok = ( x 200 x 77,613) + (( x 2120 x 1203) +
3 12
120 2 1
(2120 x 120 x (77,61+ )) + (( x 200 x (230-
2 3
77,61)3)
I balok = 31164617 + 305280000 + 4817448678 +
235927273
I balok = 5389820568mm4

1
I pelat = ( x ht3 x ly)
12
1
I pelat = ( x 1203 x 2950)
12
I pelat = 424800000mm4

Persamaan statis momen terhadap balok


melintang:
59

ℎ𝑡 ℎ𝑤 ℎ𝑡
(ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒 𝑥 2 )+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤 𝑥 ( 2 + 2 ))
Y= (ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒)+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤)
120 230 120
(120 𝑥 1640 𝑥 )+(200 𝑥 230 𝑥 ( + ))
Y= 2
(120 𝑥 1640)+(200 𝑥 230)
2 2

Y = 81,79

Perhitungan inersia balok dan inersia pelat pada


arah melintang:
1 1
I balok = ( x bw x y3) + (( x be x ht3) + (be x ht
3 12
ℎ𝑡 2 1
x (y + )) + (( x bw x (hw-y)3)
2 3
1 1
I balok = ( x 200 x 81,793) + (( x 1640 x 1203) +
3 12
120 2 1
(1640 x 120 x (81,79 + )) + (( x 200 x (230-
2 3
81,79)3)
I balok = 36476181 + 236160000 + 3956546727 +
217040741
I balok = 4446223649mm4

1
I pelat = ( x ht3 x ly)
12
1
I pelat = ( x 1203 x 2950)
12
I pelat = 424800000mm4

Persamaan statis momen terhadap balok


memanjang:
60

ℎ𝑡 ℎ𝑤 ℎ𝑡
(ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒 𝑥 2 )+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤 𝑥 ( 2 + 2 ))
Y= (ℎ𝑡 𝑥 𝑏𝑒)+(𝑏𝑤 𝑥 ℎ𝑤)
120 230 120
(120 𝑥 1640 𝑥 )+(200 𝑥 230 𝑥 ( + ))
Y= 2
(120 𝑥 1640)+(200 𝑥 230)
2 2

Y = 81,79

Perhitungan inersia balok dan inersia pelat pada


arah memanjang:
1 1
I balok = ( x bw x y3) + (( x be x ht3) + (be x ht
3 12
ℎ𝑡 2 1
x (y + )) + (( x bw x (hw-y)3)
2 3
1 1
I balok = ( x 200 x 81,793) + (( x 1640 x 1203) +
3 12
120 2 1
(1640 x 120 x (81,79 + )) + (( x 200 x (230-
2 3
81,79)3)
I balok = 36476181 + 236160000 + 3956546727 +
217040741
I balok = 4446223649mm4

1
I pelat = ( x ht3 x ly)
12
1
I pelat = ( x 1203 x 2950)
12
I pelat = 424800000mm4

Mencari nilai m
merupakan rasio kekakuan balok dan pelat.
Nilai m yang semakin besar akan emberikan
retribusi nilai kekakuan yang semakin besar.
61

Sebaliknya, akan berdampak terhadap semakin


kecilnya deformasi yang akan terjadi.

Ecb . Ib
m =
𝐸𝑐𝑝 . 𝐼𝑝

Dimana:
E = modulus elastisitas beton (2x106kg/cm2)
Nilai 1 untuk arah melintang
E . I balok 1 4446223649
1= = = 10,47
𝐸 . 𝐼 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡 1 424800000

E . I balok 2 4446223649
2= = = 10,47
𝐸 . 𝐼 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡 2 424800000

E . I balok 2 5389820568
3= = = 12,69
𝐸 . 𝐼 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑡 2 424800000

Σ 10,47+10,47+12,69
Maka nilai m= = = 11,21 > 2
𝑛 3

Berdasarkan SK SNI 2002 ayat 11 butir 5 sub butir


3, jika harga m > 2, maka tebal pelat minimum
sebagai berikut:
𝑓𝑦 𝑓𝑦
ln(0,8+ ) ln(0,8+ )
h max ≤ 1500
h min ≤ 1500
36 36+9ß

dimana:
h = ketebalan pelat
ln = bentang terpanjang
fy = mutu baja tulangan
ß = ly/lx
62

BA8 BA8
BA8 BA8 BA8
BA8 BA8

2,6 m 2,6m 4m
m = 2950mm
ly

lx = 2600mm
240
2950(0,8+ )
h max ≤ 1500
36
h max ≤ 78,67mm

240
2950(0,8+ )
h min ≥ 1500
36+9𝑥1,13
h min ≥ 61,33mm

Maka tebal pelat yang digunakan adalah:

A) Pelat atap = 120 mm


B) Pelat lantai LMR = 150 mm
C) Untuk pelat pit lift diasumsikan tebalnya 200 mm
mengingat beban yang diterima oleh pelat akibat
lift.

Perhitungan dimensi balok dengan engineering


judgement
1) Perhitungan dimensi balok BA8 dan kolom
K9
Pada perhitungan dimensi balok BA8,
ukuran balok diasumsikan berdasarkan
63

perhitungan dimensi balok berdasarkan


bentang antar kolom yaitu BA8 = 200/350
Beban mati
Pelat = 0,12 x 2,4 = 0,288 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,35 x 24 x 2,4/36 = 0,112 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 24 x 2,4/36 = 0,128 ton/m2
Total DL = 0,528 ton/m2

Beban hidup
Lantai atap = 0,098 ton/m2
Beban hujan = 0,02 ton/m2
Total LL = 0,118 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 0,8224 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 0,8224 x 2,95 x 2,6 x 4
P = 25,23 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
= 9,68 Mpa

A = P/σ
25,23 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
= 260,6523cm2
= 26065,23mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 26065,23mm2
h = 161mm
b = A/h = 20185,95/350 = 57,67mm
Jadi, dimensi balok BA8 dengan
menggunakan konsep beban kerja hasilnya
64

tidak sama dengan asumsi perhitungan awal


sehingga dimensi yang digunakan adalah
hasil perhitungan berdasarkan bentang.
Beban mati
Pelat = 0,12 x 2,4 = 0,288 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,35 x 24 x 2,4/36 = 0,112 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 24 x 2,4/36 = 0,128 ton/m 2
Kolom = 0,35 x 0,35 x 2,85 x 2,4 x 4/36 = 0,0931
ton/m2
Total DL = 0,5862 ton/m2

Beban hidup
Lantai atap = 0,098 ton/m2
Beban hujan = 0,02 ton/m2
Total LL = 0,118 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 0,89224 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 0,89224 x 2,95 x 2,6 x 4
P = 27,37 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
= 9,68 Mpa

A = P/σ
27,37 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
= 282,7885cm2
= 28278,85mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 28278,85mm2
A = √28278,85mm
65

b = h = 168mm
dimensi yanng dihasilkan terlalu kecil
sehingga dimensi kolom yang digunakan
berdasarkan bentang antar kolom yaitu 350 x
350mm.

2) Perhitungan dimensi balok BA5


Pada perhitungan dimensi balok BA5, ukuran
balok diasumsikan berdasarkan perhitungan
dimensi balok berdasarkan bentang antar
kolom yaitu BA8 = 200/350
Beban mati
Pelat = 0,15 x 2,4 = 0,36 ton/m2
Balok = 0,3 x 0,6 x 6 x 2,4/36 = 0,072 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 6 x 2,4/36 = 0,032 ton/m2
Total DL = 0,464 ton/m2

Beban hidup
Lantai atap = 0,098 ton/m2
Total LL = 0,098 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 0,7136 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 0,7136 x 2,95 x 2,6 x 4
P = 21,89 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
= 9,68 Mpa

A = P/σ
21,89 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
66

= 226,1699cm2
= 22616,99mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 22616,99mm2
h = 600mm
b = A/h = 22616,99/600 = 37,7mm
Jadi, dimensi balok BA8 dengan
menggunakan konsep beban kerja hasilnya
tidak sama dengan asumsi perhitungan awal
sehingga dimensi yang digunakan adalah
hasil perhitungan berdasarkan bentang.
Beban mati
Pelat = 0,15 x 2,4 = 0,36 ton/m2
Balok = 0,3 x 0,6 x 6 x 2,4/36 = 0,072 ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 6 x 2,4/36 = 0,032 ton/m2
Kolom = 0,7 x 0,7 x 4,2 x 2,4 x 4/36 = 0,5488
ton/m2
Total DL = 1,0128 ton/m2

Beban hidup
Lantai atap = 0,098 ton/m2
Total LL = 0,098 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 1,37216 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 1,37216x 2,95 x 2,6 x 4
P = 42,1 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
= 9,68 Mpa
67

A = P/σ
42,1 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
= 434,8953cm2
= 43489,53mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 43489,53mm2
A = √43489,53mm
b = h = 209mm
dimensi yanng dihasilkan terlalu kecil
sehingga dimensi kolom yang digunakan
berdasarkan bentang antar kolom yaitu 700 x
700mm.

3) Perhitungan dimensi balok BA1


Pada perhitungan dimensi balok BA5, ukuran
balok diasumsikan berdasarkan perhitungan
dimensi balok berdasarkan bentang antar
kolom yaitu BA8 = 200/350
Beban mati
Balok = 0,35 x 0,7 x 4,5 x 2,4/36 = 0,0735
ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 6 x 2,4/36 = 0,032 ton/m 2
Total DL = 0,1055 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 0,1266 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 0,1266 x 2,95 x 2,6 x 4
P = 3,8841 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
68

= 9,68 Mpa

A = P/σ
3,8841 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
= 40,13 m2
= 4013 mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 4013 mm2
h = 700mm
b = A/h = 4013/7600 = 5,7mm
Jadi, dimensi balok BA8 dengan
menggunakan konsep beban kerja hasilnya
tidak sama dengan asumsi perhitungan awal
sehingga dimensi yang digunakan adalah
hasil perhitungan berdasarkan bentang.
Beban mati
Balok = 0,35 x 0,7 x 4,5 x 2,4/36 = 0,0735
ton/m2
Balok = 0,2 x 0,4 x 6 x 2,4/36 = 0,032 ton/m 2
Kolom = 0,7 x 0,7 x 4,2 x 2,4 x 4/36 = 0,5488
ton/m2
Total DL = 0,6543 ton/m2

Beban terfaktor
U = 1,2 DL + 1,6 LL = 0,78516 ton/m2
P = U x luas dimensi ruangan x jumlah lantai
P = 0,78516 x 2,95 x 2,6 x 4
P = 24,0887 ton

F’c = 29,05 Mpa


σ = f’c/3
= 29,05/3
= 9,68 Mpa
69

A = P/σ
24,0887 𝑥 1000
A=
9,68 𝑥 10
= 248,85 cm2
= 24885 mm2
Dimensi balok yang dipakai
A = 24885 mm2
A = √24885 mm
b = h = 157 mm
dimensi yanng dihasilkan terlalu kecil
sehingga dimensi kolom yang digunakan
berdasarkan bentang antar kolom yaitu 700 x
700mm.

c) Perhitungan Preliminary Desain Kolom


A) Kolom K1 (60/60)
Balok induk melintang 35/70
L balok = 260 cm
𝐸𝐼 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐸𝐼 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘

𝑙 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑙 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘
1 3 1
𝑏 ℎ 𝑥 35 𝑥 703
12

12
420 260
𝑏4 35 𝑥 703

420 260
b ≥ 66,36 ≈ 70cm
Jadi, kolom K1 berdimensi 70 x 70 cm

B) Kolom K2 (50/50)
Balok induk melintang 35/70
L balok = 260 cm
𝐸𝐼 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐸𝐼 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘

𝑙 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑙 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘
1 3 1
𝑏 ℎ 𝑥 35 𝑥 703
12

12
420 260
𝑏4 35 𝑥 703

420 260
b ≥ 66,36 ≈ 70cm
Jadi, kolom K2 berdimensi 70 x 70 cm
70

C) Kolom K9 (20/35)
𝐸𝐼 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝐸𝐼 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘

𝑙 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 𝑙 𝑏𝑎𝑙𝑜𝑘
1 1
𝑏 ℎ3 𝑥 20 𝑥 353
12
≥ 12
420 260
𝑏4 20𝑥 353

285 260
b ≥ 31,37 ≈ 35cm
Jadi, kolom K1 berdimensi 35 x 35 cm

3. Perhitungan Pembebanan
a) Pembebanan pada Lantai Gedung
A. Pembebanan lantai untuk ruang mesin lift
(h=0,2m)
1. Beban Mati (DL)
Spesi (tebal 5cm) = 5 x 21 = 105 kg/m2

Beban Hidup (LL)


Beban hidup pekerja= 0,96kN = 98 kg

B. Pembebanan pelat atap


1. Beban Mati (DL)
Spesi tebal 5cm = 5 x 21 =105 kg/m2
Instalasi listrik = 11 kg/m2
Ducting ac = 10 kg/m2
Total = 126 kg/m2

2. Beban Hidup (LL)


Beban hidup pekerja= = 98 kg/m2
Beban hujan = 18 kg
Total = 116 kg/m2
71

b) Pembebanan Lift
Beban yang bekerja akibat pergerakan elevator
dianggap sebagai beban terpusat akibat gaya yang
bekerja terhadap berat kapasitas elevator sendiri yang
diasumsikan elevator akan berhenti di setiap lantai
bangunan. Sedangkan beban reaksi akibat ruang mesin
lift dan pit lift sudah diketahui pada katalog sesuai
dengan spesifikasi elevator rencana.

Tabel 4.2 Beban Reaksi Lift


Speed Capacity Reaction (kN)
(m/s) Person Kg R1 R2 R3 R4
60 15 1000 35 27 36 15
Pit Reaction (kN)
RCAR RCWT
97,3 79,2

Maka besarnya gaya yang diakibatkan oleh


pergerakan elevator dengan kecepatan konstan (GLB)
adalah:
Rcar = 97,3 kN

Besarnya gaya akibat koefisien kejut adalah sebagai


berikut:
20
N = (1 + )x N
50+2,6
20
N = (1 + )x 97,3
50+2,6
N = 134,296 kN
72

(a)

(b) (c)
Gambar 3.6 (a) Machine Room Plan, (b) Shaft Elevation
(Section A-A) Gedung A, (c) Shaft Elevation (Section A-
A) Gedung B

Balok pengatrol mesin berfungsi untuk menaikkan


mesin lift ke lantai 5 sebelum diletakkan pada balok
perletakan mesin. Posisi balok ini berada pada lantai
teratas (pelat atap beton), pada tengah balok dipasang
hook sebagai pengait untuk meletakkan katrol.
73

Adapun balok perletakan mesin berfungsi untuk


menumpu mesin lift yang berada di lantai 5 ruang
mesin dalam bangunan ini. Jumlah balok perletakkan
mesin ada 2 buah dengan beban reaksi (R) yang
berbeda yaitu R1 = 35 kN, R2 = 27 kN, R3= 36 kN, dan
R4 = 15 kN.

c) Pembebanan pada Balok


A. Balok Perletakan Mesin Lift
Balok perletakan mesin lift menerima beban
akibat reaksi (berat lift + orang) sebesar :
R1 = 35 kN
R2 = 27 kN
Di dalam pelaksanaan digunakan balok baja H
150 X 150 X 7 X 10 (berat 31,5 kg/m) yang
diletakkan di atas balok perletakan tersebut,
sehingga reaksi-reaksi yang terjadi pada balok
diperhitungkan setengahnya saja + beban terpusat
balok baja. Sehingga besarnya R1 dan R2 adalah :
R3 = 3500/2 + 31,5.(2,6/2) = 3832,8 kg
R1 = 3600/2 + 31,5.(2,6/2) = 3932,8 kg
R3 + R4 = (3500 + 2700)/2 + 31,5.(2,6/2) = 3140,95
kg
R1 + R2 = (3600 + 1500)/2 + 31,5.(2,6/2) = 2590,95
kg
74

Gambar 3.7 Distribusi reaksi pada balok perletaan


mesin lift

Gambar 3.8 Pembebanan pada balok perletakan


mesin lift depan

Gambar 3.9 Pembebanan pada balok perletakan


mesin lift tengah
75

Gambar 4.1 Pembebanan pada balok perletakan


mesin lift belakang

B. Pembebanan Balok
Balok induk tidak hanya menerima beban yang
disalurkan oleh perlat namun juga memikul beban
tambahan yang diakibatkan oleh dinding. Oleh
karena itu, perhitungan beban mati tambahan
balok adalah sebagai berikut:
SDL = b x h x berat dinding
SDL1 = 5,2m x 110 kg/m2 = 572 kg
SDL1 = 2,95m x 110 kg/m2 = 324,5 kg

C. Pembebanan Pelat Pit Lift


Rcar + RCWT = 97,3 + 79,2 = 176,5 kN

Besarnya gaya akibat koefisien kejut adalah


sebagai berikut:
20
N = (1 + )x N
50+2,6
20
N = (1 + )x 176,5
50+2,6
N = 243,6 kN
76

4. Perhitungan Struktur
Sebelum melakukan perhitungan struktur, pertama-tama
menghitung beban gempa. Beban gempa dapat dilihat
melalui website pusat penelitian dan pengembangan
pemukiman. Berdasarkan website tersebut didapat hasil Ss
Kotawaringin sebesar 0,0019 dan S1 sebesar 0,021 dengan
jenis batuan kelas B. Setelah itu dilakukan penghitungan
gempa dengan cara respon spektrum. Kemudian dapat
dilanjutkan dengan perhitungan struktur. Perhitungan
struktur terdiri dari beberapa urutan yaitu:
a. Perhitungan pelat
b. Perhitungan balok
c. Perhitungan kolom
d. Perhitungan shearwall
e. Perhitungan pondasi

a. Perhitungan Pelat
Diasumsikan pelat menggunakan tulangan Ø10 baik
untuk arah x maupun y.
Selimut beton = 20mm
dx = tebal pelat – selimut beton – (0,5 x diameter
tulangan)
= 120 – 20 – (0,5 x 10)
= 95mm

dy = tebal pelat – selimut beton – diameter tulangan


- (0,5 x diameter tulangan)
= 120 – 20 – 10 - (0,5 x 10)
= 85mm

Tulangan tumpuan x
𝑀𝑢 405,53
𝑀𝑛 = = = 507,29kgm
Ø 0,8
77

𝑀𝑛 507,29 𝑥 104
𝑅𝑛 = = = 0,562
𝑏 𝑥 𝑑𝑥 2 1000 𝑥 852

𝑓𝑦 240
m= = = 9,72
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0058
𝑓𝑦 240
√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0056
4𝑓𝑦 4 𝑥 240
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
240 600+240

= 0,0441

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 9,72

2 𝑥 9,72 𝑥 0,562
√1 − = 0,0024
240

𝜌 digunakan = 0,0056 untuk menghitung kebutuhan


luas penampang tulangan.
Menentukan luas tulangan terpakai:
As tulangan = ρbd = 0,0056 x 1000 x 53 = 533,33 mm2
Berdasarkan tabel luas penampang tulangan baja per
meter panjang pelat, dipakai tulangan Ø10-100 (785
mm2)

Tulangan tumpuan y
𝑀𝑢 522,06
𝑀𝑛 = = = 652,575 kgm
Ø 0,8

𝑀𝑛 652,575 𝑥 104
𝑅𝑛 = = = 0,903
𝑏 𝑥 𝑑𝑦 2 1000 𝑥 852

𝑓𝑦 240
m= = = 9,72
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0058
𝑓𝑦 240
78

√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0056
4𝑓𝑦 4 𝑥 240
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
240 600+240

= 0,0441

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 9,72

2 𝑥 9,72 𝑥 0,903
√1 − = 0,0038
240

𝜌 digunakan = 0,0034 untuk menghitung kebutuhan


luas penampang tulangan.
Menentukan luas tulangan terpakai:
As tulangan = ρbd = 0,0056 x 1000 x 53 = 477,22 mm2
Berdasarkan tabel luas penampang tulangan baja per
meter panjang pelat, dipakai tulangan Ø10-150 (523,33
mm2)

Tulangan lapangan x
𝑀𝑢 330,22
𝑀𝑛 = = = 412,775 kgm
Ø 0,8

𝑀𝑛 412,775 𝑥 104
𝑅𝑛 = = = 0,457
𝑏 𝑥 𝑑𝑦 2 1000 𝑥 952

𝑓𝑦 240
m= = = 9,72
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0058
𝑓𝑦 240
√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0056
4𝑓𝑦 4 𝑥 240
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
240 600+240
79

= 0,0441

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 9,72

2 𝑥 9,72 𝑥 0,457
√1 − = 0,0019
240

𝜌 digunakan = 0,0056 untuk menghitung kebutuhan


luas penampang tulangan.
Menentukan luas tulangan terpakai:
As tulangan = ρbd = 0,0056 x 1000 x 53 = 533,3mm2
Berdasarkan tabel luas penampang tulangan baja per
meter panjang pelat, dipakai tulangan Ø10-100 (785
mm2)

Tulangan lapangan y
𝑀𝑢 425,11
𝑀𝑛 = = = 531,3875 kgm
Ø 0,8

𝑀𝑛 531,3875 𝑥 104
𝑅𝑛 = = = 0,736
𝑏 𝑥 𝑑𝑦 2 1000 𝑥 852

𝑓𝑦 240
m= = = 9,72
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0058
𝑓𝑦 240
√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0056
4𝑓𝑦 4 𝑥 240
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
240 600+240

= 0,0441

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 9,72

2 𝑥 9,72 𝑥 0,736
√1 − = 0,0031
240
80

𝜌 digunakan = 0,0056 untuk menghitung kebutuhan


luas penampang tulangan.
Menentukan luas tulangan terpakai:
As tulangan = ρbd = 0,0056 x 1000 x 53 = 212,22mm2
Berdasarkan tabel luas penampang tulangan baja per
meter panjang pelat, dipakai tulangan Ø10-150 (523,3
mm2)

a. Perhitungan Balok
a) Perhitungan penulangan lentur balok B1
d’ = s + Ø tulangan sengkang + ½ tulangan utama
= 20 + 10 + ½ x 19
= 39,5
d = h – d’
= 700 – 39,5
= 660,5
1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0035
𝑓𝑦 400
√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0034
4𝑓𝑦 4 𝑥 400
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
400 600+400

= 0,0236
𝑓𝑦 400
m= = = 16,2
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

𝑀𝑡 28329600
𝑅𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = = = 0,23
Ø𝑏𝑑 2 0,8 𝑥 350 𝑥 660,52

𝑀𝑙 14970000
𝑅𝑛 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = = = 0,12
Ø𝑏𝑑 2 0,8 𝑥 350 𝑥 660,52

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 16,2

2 𝑥 16,2 𝑥 0,23
√1 − = 0,00058
400
81

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 16,2

2 𝑥 16,2 𝑥 0,12
√1 − = 0,00031
400

b) Perhitungan As tulangan dan pemilihan tulangan


As tumpuan = ρbd = 0,0034 x 350 x 660,5 = 786mm2
Digunakan tulangan 6D19 (1701mm2)
As lapangan = ρbd = 0,0034 x 350 x 660,5 = 786mm2
Digunakan tulangan 6D19 (1701mm2)
As’ tumpuan = 20% x 786 = 393mm2
Digunakan tulangan 4D13 (531mm2)
As’ lapangan = = 20% x 786 = 393mm2
Digunakan tulangan 4D13 (531mm2)

c) Kontrol tulangan lentur


1) Lapangan
d’ = selimut beton
As = 1701 mm2
Cek tinggi tekan ekivalen balok, karena kondisi
underreinforce maka dikontrol momen nominal
dengan kondisi tumpuan tunggal.
𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦 1701 𝑥 400
𝑎= = = 12,29
0,85 𝑓 ′𝑐 𝐵 0,85 𝑥 29,05 𝑥 350
d = h – d’ = 700-39,05 = 660,5
Cek fs (tegangan tulangan) = fy (tegangan
leleh)
a/d = 12,29/660,5 = 0,02  a/d < ad
(tulangan lemah)
600
ab = 0,85 x = 0,51
600+400
Mn = T x Z
= As x fy (d-a/2)
= (1701 x 400 x(660,5 – 12,29/2)
= 445223142 Nmm
Mr = Ø Mn
82

= 0,8 x 445223142
= 356178514 Nmm
Syarat kondisi beton terjadi retak apabila
regangan melebihi regangan syarat (εc < 0,003)
𝑓𝑦 400
εy = = = 0,002
𝐸𝑠 200000
𝑎 12,29
εc = x εy = x 0,002 =
ß𝑑−𝑎 0,85 𝑥 660,5−12,29
0,00005
εc = 0,0005 < 0,002 OK

2) Tumpuan
Cek jarak antar tulangan
𝐵−2(𝑠𝑒𝑙𝑙𝑖𝑚𝑢𝑡 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛)−2Ø−𝑛.𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑢𝑡𝑎𝑚𝑎
X=
𝑛−1
350−2(20)−2𝑥 10−6 𝑥 19
=
6−1

= 35,2cm  OK
𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦 1701 𝑥 400
𝑎= = = 12,29
0,85 𝑓 ′𝑐 𝐵 0,85 𝑥 29,05 𝑥 350
d = h – d’ = 700-39,05 = 660,5
Cek fs (tegangan tulangan) = fy (tegangan
leleh)
a/d = 12,29/660,5 = 0,02  a/d < ad
(tulangan lemah)
600
ab = 0,85 x = 0,51
600+400
Mn = T x Z
= As x fy (d-a/2)
= (1701 x 400 x(660,5 – 12,29/2)
= 445223142 Nmm
Mr = Ø Mn
= 0,8 x 445223142
= 356178514 Nmm
Syarat kondisi beton terjadi retak apabila
regangan melebihi regangan syarat (εc < 0,003)
83

𝑓𝑦 400
εy = = = 0,002
𝐸𝑠 200000
𝑎 12,29
εc = x εy = x 0,002 =
ß𝑑−𝑎 0,85 𝑥 660,5−12,29
0,00005
εc = 0,0005 < 0,002 OK

d) Penulangan geser
1) Tumpuan
Ln = L – 0,5 ( b kolom + h kolom)
= 5200 – 0,5 (700+700)
= 4500 mm
0,5 𝐿𝑛−0,25 𝐿𝑛
Vu = 𝑥 𝑉𝑢 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛
0,5 𝐿𝑛
0,5 𝑥 4700 −0,25 𝑥 4700
= 𝑥 11163
0,5 𝑥 4700
= 5581 N
Vc = 0,17 x λ x √𝑓′𝑐 x b x d
= 0,17 x 0,75 x √29,05 x 350 x 700
= 168364,04 N
ØVc = 0,75 x 168364,04 = 126273,03 N
½ ØVc = ½ x 126273,03 = 63136,51 N
Vu < ½ ØVc
5581 < 63136  Kondisi 1
Pada kondisi 1 tidak diperlukan
tulanngan geser atau tulangan geser
minimal Ø8 dengan jarak tulangan geser
d/2 < s < 600
700/2 < s < 600
350 < s < 600
Maka s = 400 mm sehingga tulangan geser
yang digunakan adalah Ø10 – 400

2) Lapangan
Ln = L – 0,5 ( b kolom + h kolom)
= 5200 – 0,5 (700+700)
84

= 4500 mm
0,5 𝐿𝑛−0,25 𝐿𝑛
Vu = 𝑥 𝑉𝑢 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛
0,5 𝐿𝑛
0,5 𝑥 4700 −0,25 𝑥 4700
= 𝑥 10354
0,5 𝑥 4700
= 5177 N
Vc = 0,17 x λ x √𝑓′𝑐 x b x d
= 0,17 x 0,75 x √29,05 x 350 x 700
= 168364,04 N
ØVc = 0,75 x 168364,04 = 126273,03 N
½ ØVc = ½ x 126273,03 = 63136 N
Vu < ½ ØVc
5177 < 63136  Kondisi 1
Pada kondisi 1 tidak diperlukan
tulanngan geser atau tulangan geser
minimal Ø8 dengan jarak tulangan geser
d/2 < s < 600
700/2 < s < 600
350 < s < 600
Maka s = 400 mm sehingga tulangan geser
yang digunakan adalah Ø10 - 450

b. Perhitungan Kolom
Perhitungan tulangan lentur kolom
a) Data perencanaan:
b = 350 mm tinggi kolom = 4200 mm
h = 350 mm
Elemen di atasnya:
Balok BA8 (20/35) melintang
Balok BA8 (20/35) memanjang

Elemen di bawahnya:
Balok BA1 (35/70) melintang
Balok BA1 (35/70) memanjang
85

f’c = 29,05 Mpa


fy = 400 Mpa
Es = 200000 Mpa
Ec = 4700√𝑓′𝑐 = 4700 √29,05 = 25332 MPa
Ø tulangan lentur = 19mm
Ø tulangan lentur = 13mm
Tebal selimut beton = 20 mm

b) Tinggi efektif kolom


d = h – selimut beton - Ø sengkang – ½ Ø lentur
= 350 – 20 - 8 – ½ x 16
= 314
d’ = selimut beton + Ø sengkang + ½ Ø lentur
= 20 + 8 + ½ x 16
= 36
d” = h – selimut beton – Ø sengkang – ½ Ø lentur –
½h
= 350 – 20 -8 – ½ x 16 – ½ x 350
= 139

Gaya pada kolom didapatkan dari hasil SAP 2000 v


14
Pu dl = 118125 N
Pu (1,2DL + LL + 0,33 EX +EY) = 19524 N
Pu (1,2DL + LL + 0,33 EY +EX) = 142593 N

c) Syarat aksial kolom (SNI 2847 2013 pasal 21.3.2)


𝐴𝑔 𝑥 𝑓′𝑐 350 𝑥 350 𝑥 29,05 𝑥 𝑓′𝑐
= = 355863 N
10 10

d) Kontrol kelangsingan kolom


1,2 𝑃𝑢𝐷𝐿 1,2 𝑥 118125
ß= = = 7,26
𝑃𝑢(1,2𝐷𝐿+1,6𝐿𝐿) 19524

e) Panjang tekuk kolom


86

0,7 𝑥 3504
0,4 𝑥 𝑓 ′ 𝑐 𝑥 𝐼𝑔 0,4 𝑥 29,05 𝑥
Dengan EI = = 12
=
1+ß 1+7,26
1073837076271 Nmm2

Elemen di atasnya:
0,4 𝑥 𝑓 ′𝑐 𝑥 𝐼𝑔
EI =
1+ß
0,7 𝑥 200 𝑥3503
0,4 𝑥 29,05 𝑥
EI BA8 melintang = 12
=
1+7,26
613621186441 Nmm2
0,7 𝑥 200 𝑥3503
0,4 𝑥 29,05 𝑥
EI BA8 memanjang = 12
=
1+7,26
613621186441 Nmm2
Elemen di bawahnya: balok BA1
0,4 𝑥 𝑓 ′𝑐 𝑥 𝐼𝑔
EI =
1+ß
0,7 𝑥 6004
0,4 𝑥 29,05 𝑥
EI K2 = 12
= 9274088135593 Nmm2
1+7,26
0,7 𝑥 350 𝑥 7003
0,4 𝑥 29,05 𝑥
EI BA1 melintang = 12
=
1+7,26
8590696610169 Nmm2
0,7 𝑥 350 𝑥 7003
0,4 𝑥 29,05 𝑥
EI BA 1 memanjang = 12
=
1+7,26
8590696610169 Nmm2

Sehingga:
𝐸𝐼
( 𝑙 ) 𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚
Ψatas = 𝐸𝐼 𝐸𝐼
( ) 𝐵𝐴8 𝑚𝑒𝑙𝑖𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔+( ) 𝐵𝐴8 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔
𝑙 𝑙
1073837076271
( )
= 613621186441
2850
613621186441
( )+( )
5200 2950
= 1,16
𝐸𝐼 𝐸𝐼
( 𝑙 )𝑘𝑜𝑙𝑜𝑚 + ( 𝑙 )𝐾2
Ψbawah = 𝐸𝐼 𝐸𝐼
( ) 𝐵𝐴1 𝑚𝑒𝑙𝑖𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 + ( ) 𝐵𝐴1 𝑚𝑒𝑚𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔
𝑙 𝑙
1073837076271 9274088135593
( ) + ( )
= 2850
8590696610169
4200
8590696610169 = 0,06
( )+( )
5200 2950
87

Setelah digunakan diagram faktor panjang tekuk,


ditentukan k = 1,19

f) Radius girasi (r) = 0,3 x h = 0,3 x 700 = 210 mm


Kontrol kelangsingan:
kL/r ≥ 22  1,19 x 2850/210 = 105 ≥ 22  OK

g) Peninjauan kolom akibat momen


𝜋2 𝑥 𝐸𝐼 𝜋2 𝑥 1073837076271
𝑃𝑐 = = = 921413,3437 N
𝐾𝑙2 105 𝑥 28502
𝛴𝑃𝑐 = 35 𝑥 Pc = 35 x 921413,3437 = 32249467,03 N
Faktor pembesaran momen (δs)
1 1
δs = 𝛴𝑃𝑢 = 19524 = 1 ≥ 1  OK
1−( ) 1−( )
0,75 𝑥 𝛴𝑃𝑐 0,75 𝑥 32249467,03
Nilai pembesaran momen
M1 = M1ns + δs x M1s
= 33790637 + (1 x 12636202)
= 46426839,41 Nmm
88

M2 = M2ns + δs x M2s
= 11093956 + (1 x 126230009)
= 27323965,1 Nmm
Diambil yang terbesar  46426839,41 Nmm

h) Menentukan p perlu dari diagram interaksi


Sumbu horizontal
𝑀𝑢 𝑚𝑎𝑥 46426839,41
= = 0,055
Ø𝑏ℎ2 𝑥 0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,8 𝑥 350 𝑥 3502 𝑥 0,85 𝑥 29,05
Sumbu vertikal
𝑃𝑢 19524
= = 0,000081
Ø𝑏ℎ 𝑥 0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,8 𝑥 350 𝑥 350 𝑥 0,85 𝑥 29,05

Dari diagram interaksi didapatkan P= 1%

i) Menentukan As perlu
As perlu = ρbh = 0,01 x 350 x 350 = 1225 mm2
Tulangan yang dipakai adalah 7 D 16 (As = 1407
mm2)
j) Kontrol kondisi kolom terhadap kondisi berimbang
89

e > eb atau Pnb  hancur tarik


e < eb atau Pnb  hancur tekan
600 600
cb = 𝑥𝑑= 𝑥 314 = 188 mm
600+𝑓𝑦 600+400
ab = ß x cb = 7,26 x 188 = 160,14 mm
𝑐𝑏−𝑑′ 188−38
εs’ = 𝑥 𝜀𝑐𝑢 = 𝑥 0,003 = 0,0024
𝑐𝑏 188
𝑓𝑦 400
𝜀𝑦 = = = 0,002
𝐸𝑠 200000
Maka εs’ > εy  kondisi 1
Pnb = 0,65 x ((0,85 x f’c x ab x b) +(As pasang x fy) –
(As perlu x fy))
= 0,65 x ((0,85 x 29,05 x 159,375 x 350) + (1407 x
400) – (1225 x 400))
= 581093 N
Pn = Pu/Ø = 19524/0,65 = 30037 N
Periksa kuat penampang terhadap runtuh tarik
ØPn = Ø0,85 x (0,85 x f’c x (Ag – Ast) + (fy x Ast))
= 0,65 x 0,85 x (0,85 x 29,05 x (350 x 350 – 1225)
+ (400 x 1225)
= 1925232 N > 19524 N  OK
Periksa terhadap momen nominal
𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦
Mn = As x fy (𝑑 − 0,59𝑥 )
𝑓 ′𝑐𝑥 𝑏
1225 𝑥 400
= 1407 x 400 (313 – 0,59 x
29,05 𝑥 35
= 176719200 Nmm
ØMn = 0,8 x 176719200 = 141375360 Nmm > Mu 
OK
Kolom 700 x 700 mm dapat digunakan

Perhitungan tulangan geser kolom

a) Gaya pada kolom


𝑃𝑢(1,2𝐷𝐿+1,6𝐿𝐿) = 19524 N
Mn = 1758575000 Nmm
Mnt = Mn/Ø = 1758575000/0,75 = 2345000
Nmm
90

Mnb = Mn/Ø = 1758575000/0,75 = 2345000


Nmm
𝑀𝑛𝑡∓𝑀𝑛𝑏 2345000 ∓2345000
Vu = = = 1646 N
𝐿 2850
b) Syarat kuat tekan beton
√𝑓′𝑐 < 8,3
√29,05 < 8,3
5,39 < 8,3  OK
c) Kuat geser kolom
𝑁𝑢
Vc = 0,17 x [1+ x λ x √𝑓′𝑐 x b x d
14 𝑥 𝐴𝑔
3404321
= 0,17 x [1 + x 1 x √29,05 x 350 x
14 𝑥 350 𝑥 350
350
= 670579,34 N
Kuat geser tulangan geser
Vs min = 0,33 x b x d = 0,33 x 350 x 350 = 4042500
N
Vs max = 0,33 x √𝑓′𝑐 x b x d
= 0,33 x √29,05 𝑥 350 𝑥 350
= 11433916,65 N
2 Vs max = 2 x 11433916,65 = 22867833,3 N

d) Perencanaan tulangan geser


Perencanaan jarak sengkang
Smax < d/2 atau s max > 600 mm
Sedangkan menurut SNI 2847 2013 pasal 21.3..2
spasi maksimal sengkang tidak boleh lebih dari:
s < 8 Ø lentur
s < 8 x 16
s < 128 mm

s pakai < b/2


s pakai < 350/2
s pakai < 175 mm
91

s pakai < 24 Ø sengkang


s pakai < 24 x 8
s pakai < 192mm

s pakai < 300 mm


Dari pernyataan di atas diambil nilai terkecil
yaitu 128 , maka digunakan tulangan geser Ø8
- 150

e) Luas tulangan geser dengan 2 kaki


Av = 0,25 x x Ø sengkang 2
= 0,25 x x 82
= 226 mm2

0,062 𝑥 √𝑓′𝑐 𝑥 𝑏 𝑥 𝑠
Av min =
𝑓𝑦
0,062 𝑥 √29,05 𝑥 350 𝑥 150
=
400
= 44 mm2
0,35 𝑥 𝑏 𝑥 𝑠 0,35 𝑥 350 𝑥 150
Av min = = = 46 mm2
𝑓𝑦 400
Av pasang > Av min

f) Panjang pennyaluran
0,24 𝑥 𝑓𝑦 0,24 𝑥 400
Ldc = x db = x 29,05 = 517 mm
𝜆 𝑥 √𝑓′𝑐 1 𝑥 √29,05
Ldc = 0,043 x fy x db = 0,043 x 400 x 29,05 = 500
mm
Diambil yang terbesar yaitu 517 mm
Untuk sambungan lewatan tulangan vertikal
kolom
0,071 x fy x db = 0,071 x 400 x 29,05 = 825 mm
Diambil panjang sambungan yang dipakai 850
mm untuk sambungan lewatan tulangan
vertikal kolom.
92

c. Perhitungan Shearwall
a) Data perencanaan:
Vu = 20023,58 N
Ø = 0,85
h = 300 mm
Lw = 2950 mm
hw = 1700 mm
ℎ𝑤 1700
= = 0,58 ≤ 1,5  c = 0,25
𝑙𝑤 2950
Acv = h x Lw = 300 x 2950 = 885000 mm2
d = 0,8 lw = 0,8 x 2950 = 2360 mm
Vn = 0,83 √𝑓′𝑐 h d
= 0,83 x √29,05 x 200 x 2360
= 2111510 N

b) Periksa kecukupan penampang dinding geser:


Vc < 0,17 λ √𝑓′𝑐 h d
Vc < 0,17 x 1 x √29,05 x 300 x 2360
Vc < 648717 N
𝑁𝑢 𝑑
Vc ≤ 0,27 λ √𝑓′𝑐 h d +
4𝑙𝑤
10846,17 𝑥 2360
Vc ≤ 0,27 x 1 x √29,05 x 300 x 2360 +
4 𝑥 2950
Vc ≤ 1032484 N
𝑀𝑢 𝑙𝑤 8482716,13 2950
− = − = -1051
𝑉𝑢 2 20023,58 2
Vu < 0,5 Ø Vc
20023,58 < 0,5 x 0,85 x 689046
20023,58 < 438805 Perlu tulangan geser

c) Periksa pakah diperlukan 2 jajar (2 layer) tulangan:


Diperlukan 2 jajar tulangan apabila: Vu > ¼ Acv
√𝑓′𝑐
Vu > ¼ 885000 √29,05
20023,58 < 119249  diperlukan 1 jajar
tulangan. Namun, karena shearwall ini termasuk
93

dalam dinding basement, maka harus mempunyai


tulangan untuk setiap arah dipasang 2 lapis sejajar.

d) Desain tulangan geser untuk dinding


Menentukan tulangan geser arah horizontal :
Vn = 0,83 √𝑓′𝑐 h d
= 0,83 x √29,05 x 200 x 2360
= 2111510 N
Rasio minimum luas tulangan horizontal (ρt) =
0,0025
Dengan jarak s maksimum 450 mm
Av = ρt x luas shearwall per meter panjang
= 0,0025 x 0,3 x 1
= 0,0075 m2 = 750 mm2
0,25 𝑥 𝜋 𝑥 𝑑 2 0,25 𝑥 𝜋 𝑥 132 𝑥 1000
s= = = 176 mm
𝐴𝑣 750
maka tulangan yang dipakai D13-200
Dipasang tulangan horizontal D13-200

Menentukan tulangan geser arah vertikal:


Rasio minimum luas tulangan vertikal (ρt) = 0,0025
ℎ𝑤
ρl = 0,0025 + 0,5 (2,5 - ) x (ρt – 0,0025)
𝑙𝑤
1,7
ρl = 0,0025 + 0,5 (2,5 - ) x (0,0025 – 0,0025)
16,3
ρl = 0,0025
Av = ρt x luas shearwall per meter panjang
= 0,0025 x 0,3 x 1
= 0,0075 m2 = 750 mm2
0,25 𝑥 𝜋 𝑥 𝑑 2 0,25 𝑥 𝜋 𝑥 132 𝑥 1000
s= = = 176 mm
𝐴𝑣 750
maka tulangan yang dipakai D13-200
Dipasang tulangan horizontal D13-200

d. Perhitungan Tie beam


a) Perhitungan penulangan lentur balok B1
94

d’ = s + Ø tulangan sengkang + ½ tulangan utama


= 20 + 8 + ½ x 16
= 36
d = h – d’
= 600 – 36
= 564
1,4 1,4
𝜌 min = = = 0,0035
𝑓𝑦 400
√𝑓′𝑐 √29,,05
𝜌 min = = = 0,0034
4𝑓𝑦 4 𝑥 400
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 600
𝜌 max = 0,75 𝑥 x 0,85 x
𝑓𝑦 600+𝑓𝑦

0,85 𝑥 29,05 600


= 0,75 𝑥 x 0,85 x
400 600+400

= 0,0236
𝑓𝑦 400
m= = = 16,2
0,85 𝑥 𝑓′𝑐 0,85 𝑥 29,05

𝑀𝑡 9351900
𝑅𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = = = 0,122
Ø𝑏𝑑 2 0,8 𝑥 300 𝑥 5642

𝑀𝑙 14970000
𝑅𝑛 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = = = 0,035
Ø𝑏𝑑 2 0,8 𝑥 300 𝑥 564,2

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 16,2

2 𝑥 16,2 𝑥 0,12
√1 − = 0,00031
400

1 2𝑚𝑅𝑛 1
𝜌 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 = ( 1 − √1 − = (1−
𝑚 𝑓𝑦 16,2

2 𝑥 16,2 𝑥 0,035
√1 − = 0,00009
400

b) Perhitungan As tulangan dan pemilihan tulangan


As tumpuan = ρbd = 0,0034 x 300 x 564 = 575 mm2
Digunakan tulangan 7D16 (1407 mm2)
As lapangan = ρbd = 0,0034 x 300 x 564 = 575mm2
Digunakan tulangan 7D19 (1407mm2)
95

As’ tumpuan = 20% x 575 = 288 mm2


Digunakan tulangan 3D13 (398mm2)
As’ lapangan = = 20% x 575 = 288mm2
Digunakan tulangan 3D13 (398mm2)

c) Kontrol tulangan lentur


3) Lapangan
d’ = selimut beton
As = 1407 mm2
Cek tinggi tekan ekivalen balok, karena kondisi
underreinforce maka dikontrol momen nominal
dengan kondisi tumpuan tunggal.
𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦 1407 𝑥 400
𝑎= = = 10,75
0,85 𝑓 ′𝑐 𝐵 0,85 𝑥 29,05 𝑥 300
d = h – d’ = 600 - 36 = 564
Cek fs (tegangan tulangan) = fy (tegangan
leleh)
a/d = 10,75/564 = 0,02  a/d < ad
(tulangan lemah)
600
ab = 0,85 x = 0,51
600+400
Mn = T x Z
= As x fy (d-a/2)
= (1407 x 400 x(564 – 10,75/2)
= 314394150 Nmm
Mr = Ø Mn
= 0,8 x 314394150
= 251515320 Nmm
Syarat kondisi beton terjadi retak apabila
regangan melebihi regangan syarat (εc < 0,003)
𝑓𝑦 400
εy = = = 0,002
𝐸𝑠 200000
𝑎 12,29
εc = x εy = x 0,002 =
ß𝑑−𝑎 0,85 𝑥 564−10,75
0,00005
εc = 0,0005 < 0,002 OK
96

4) Tumpuan
Cek jarak antar tulangan
𝐵−2(𝑠𝑒𝑙𝑙𝑖𝑚𝑢𝑡 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛)−2Ø−𝑛.𝑑𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑢𝑡𝑎𝑚𝑎
X=
𝑛−1
300−2(20)−2𝑥 10−7 𝑥 16
=
7−1

= 31cm  OK
𝐴𝑠 𝑥 𝑓𝑦 1407 𝑥 400
𝑎= = = 10,75
0,85 𝑓 ′𝑐 𝐵 0,85 𝑥 29,05 𝑥 300
d = h – d’ = 700-36 = 564
Cek fs (tegangan tulangan) = fy (tegangan
leleh)
a/d = 10,75/564 = 0,02  a/d < ad
(tulangan lemah)
600
ab = 0,85 x = 0,51
600+400
Mn = T x Z
= As x fy (d-a/2)
= (1407 x 400 x(564 – 10,75/2)
= 314394150 Nmm
Mr = Ø Mn
= 0,8 x 314394150
= 251515320 Nmm
Syarat kondisi beton terjadi retak apabila
regangan melebihi regangan syarat (εc < 0,003)
𝑓𝑦 400
εy = = = 0,002
𝐸𝑠 200000
𝑎 12,29
εc = x εy = x 0,002 =
ß𝑑−𝑎 0,85 𝑥 564−10,75
0,00005
εc = 0,0005 < 0,002 OK

d) Penulangan geser
1) Tumpuan
Ln = L – 0,5 ( b kolom + h kolom)
= 5200 – 0,5 (700+700)
= 4500 mm
97

0,5 𝐿𝑛−0,25 𝐿𝑛
Vu = 𝑥 𝑉𝑢 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛
0,5 𝐿𝑛
0,5 𝑥 4700 −0,25 𝑥 4700
= 𝑥 227472
0,5 𝑥 4700
= 113736 N
Vc = 0,17 x λ x √𝑓′𝑐 x b x d
= 0,17 x 0,75 x √29,05 x 300 x 600
= 123696,029 N
ØVc = 0,75 x 123696,029 = 92772,022 N
½ ØVc = ½ x 92772,022 = 46386,01 N
Vu < ½ ØVc
113736 < 46386  Kondisi 2
S max1 = d/2 = 600/2 = 300 mm
𝑏𝑤 𝑥 𝑠
S max2 = 0,062 x √𝑓′𝑐 x
𝑓𝑦
300 𝑥 1000
= 0,062 x √29,05 x
240
= 418
Maka s = 100 mm sehingga tulangan geser
yang digunakan adalah Ø8 - 100
2) Lapangan
Ln = L – 0,5 ( b kolom + h kolom)
= 5200 – 0,5 (700+700)
= 4500 mm
0,5 𝐿𝑛−0,25 𝐿𝑛
Vu = 𝑥 𝑉𝑢 𝑡𝑢𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛
0,5 𝐿𝑛
0,5 𝑥 4700 −0,25 𝑥 4700
= 𝑥 12772
0,5 𝑥 4700
= 6386 N
Vc = 0,17 x λ x √𝑓′𝑐 x b x d
= 0,17 x 0,75 x √29,05 x 300 x 600
= 123696,029 N
ØVc = 0,75 x 123696,029 = 92772,022 N
½ ØVc = ½ x 92772,022 = 46386,01 N
Vu < ½ ØVc
5177 < 63136  Kondisi 1
98

Pada kondisi 1 tidak diperlukan


tulanngan geser atau tulangan geser
minimal Ø8 dengan jarak tulangan geser
d/2 < s < 600
600/2 < s < 600
300 < s < 600
Maka s = 350 mm sehingga tulangan geser
yang digunakan adalah Ø8 - 350

e. Perhitungan Pondasi
a) Data bahan
Jenis tiang pancang: beton bertulang penampang
persegi
Diameter tiang pancang: 0,4m
Panjang tiang pancang: 18m
Mutu beton (f’c): K500 atau 41,5 Mpa
Wc (berat jenis beton): 24kN/m3

b) Tahanan aksial tiang pacang


Berdasarkan kekuatan bahan
1) Luas penampang tiang
A =sxs
= 0,4 x 0,4
= 0,16 m2
2) Berat tiang pancang
Wp = A x L x Wc
= 0,16 m2 x 18 m x 24 kN/m2
= 69,12 kN
3) Kapasitas dukung nominal tiang pancang
Q ult = 0,30 x f’c x A – 1,2 x Wp
= 0,30 x 41500 x 0,16 – 1,2 x 69,12
= 1909,506 kN
= 190,9056 ton
Keterangan:
99

A = luas penampang tiang pancang (m2)


Wp = berat tiang pancang (kN)
Qult = kapasitas dukung nominal tiang
pancang (ton)

c) Berdasarkan tahanan ujung tiang


Kapasitas nominal tiang pancang secara empiris
dari nilai N hasil pengujian SPT menurut Metode
Mayerhoff 1956 dinyatakan dengan rumus:
Qult = 40 x Nb x Ab
Dengan: Qp = 400 x Nb x Ap
Dimana:
Nb = nilai SPT di sekitar dasar tiang dihitung dari
8D diatas dasar tiang hingga 4D di bawah dasar
tiang.
N = nilai SPT rata-rata disepanjang tiang
Ap = luas penampang dasar tiang (m2)

Tahanan penetrasi kerucut statis rata-rata dari 8D


di atas dasar hingga 4D di bawah dasar tiang
pancang, 4D di bawah ujung tiang dan 8D di atas
ujun tiang seperti berikut:
4D = 4 x 0,4 = 1,6 m
8D = 8 x 0,4 = 3,2 m
Atas = 18 – 3,2 = 15,8 m
Bawah = 18 + 1,6 = 19,6 m
3+5+41
Nb =
3
= 16,3 kg/cm = 1,63 ton/m
Qp = 400 x Nb x 0,16 = 400 x 1,63 x 0,16 = 104,32 ton
100

Tabel 3.1 Perhitungan Qs


Dept SPT 0,2 As Qs
(m) Blow/ft NSPT (m2) (ton)
0-2 1 0,2 0,16 0,032
2-4 1 0,2 0,16 0,032
4-6 2 0,4 0,16 0,064
6-8 2 0,4 0,16 0,064
8-10 4 0,8 0,16 0,128
10-12 5 1 0,16 0,16
12-14 4 0,8 0,16 0,128
14-16 3 0,6 0,16 0,096
16-18 5 1 0,16 0,16
18-20 41 8,2 0,16 1,312
TOTAL 2,176

Qult = Qp + Qs
= 104,32 +2,176
= 106,496 ton
𝑄𝑝+𝑄𝑠 106,496
Qall = = = 35,499 ton = 354,99 kN
𝐹 3
Keterangan:
Qp = daya dukung ujung tiang pancang
Qult = daya dukung pondasi terhadap kekuatan
tanah
Qall = daya dukung pondasi terhadap kekuatan
tanah dengan dibagi angka keamanan

d) Tahanan lateral tiang pancang


Berdasarkan defleksi tiang maksimum (Broms)
Tahanan lateral tiang (H) kategori tiang pancang,
dapat dihitung dengan persamaan:
H = y0 x kh x D/[2 x ß (e x ß + 1)]
Dengan:
ß = [kh x D/(4 x Ec x Ic)]0,25
101

Ec = 4700 x √𝑓 ′ 𝑐 𝑥 103 = 4700 x √41,5 𝑥 103 =


30277632 kN/m2
Dimana:
D = diameter tiang pancang (m)
L = panjang tiang pancang (m)
Kh= modulus subgrade horizontal (kN/m3)
= 0,15 Nspt = 0,15 x 96
= 14400
Ec = modulus elastis tiang (kN/m2)
Ic = momen inersia penampang (m4)
Ic = /64 x D4 = 0,002133
e = jarak beban lateral terhadap permukaan tanah
(m) = 0 m
y0 = defleksi tiang maksimum (m) = 0,010 m

ß = [14400 x 0,4/4 x 30277632 x 0,002133)] 0,25 =


0,3864225
ß x L = 0,3864225 x 18 = 6,96 > 2,5 maka termasuk
tiang panjang  OK

Tahanan lateral nominal tiang pancang


0,010 𝑥 14400 𝑥 0,4
H= = 74,53 kN
[2.0,3864225.(0.0,3864225+1)]

Berat pilecap
Wc = wc x Ly x h x Lx
= 24 x 2 x 0,8 x 1
= 38,4 kN

Total gaya aksial terfaktor


Pu = Puk + 1,2 x Wc
= 882,43 + 1,2 x 38,4
= 928,51 kN
102

Menentukan jumlah tiang pancang


𝛴𝑃𝑢
𝑛=
𝑃1 𝑡𝑖𝑎𝑛𝑔
928,51
=
354,99
= 2,62 ≈ 3 buah
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan maka dapat
dirangkum seperti di bawah ini:
Tabel 3.2 Perbandingan Perhitungan
No Elemen Perhitungan
Struktur Konsultan Mahasiswa
Tumpuan Lapangan Tumpuan Lapangan
1 Balok B1 Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:
25/70 25/70 35/70 35/70
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: atas: 2D19 atas: 6D19 atas: 2D19
12D19 Tulangan Tulangan Tulangan
Tulangan Samping: Samping: Samping:
Samping: 4D13 - -
4D13 Tulangan Tulangan Tulangan
Tulangan bawah: bawah: bawah:
bawah: 8D19 2D19 6D19
4D19 Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Sengkang: Ø10-150 Ø10-400 Ø10-450
Ø10-100

Balok B3 Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


20/40 20/40 30/60 30/60
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 6D16 atas: 2D16 atas: 6D19 atas: 2D19
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: Samping: Samping: Samping:
4D13 4D13 - -
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
3D16 6D16 2D19 6D19
103

Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:


Ø8-100 Ø8-150 Ø8-350 Ø8-150

Balok B4 Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


20/60 20/60 30/60 30/60
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 8D16 atas: 3D16 atas: 6D19 atas: 2D19
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: Samping: Samping: Samping:
4D13 4D13 - -
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
3D13 6D16 2D19 6D19
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-300 Ø8-350

Balok Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


BA1 25/70 25/70 35/70 35/70
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 8D19 atas: 2D19 atas: 6D19 atas: 2D19
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: Samping: Samping: Samping:
4D16 4D16 - -
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
4D19 6D19 2D16 6D16
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-350 Ø8-400

Balok Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


BA5 20/60 20/60 30/60 30/60
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 6D16 atas: 6D16 atas: 6D19 atas: 2D19
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: Samping: Samping: Samping:
4D13 4D13 4D13 4D13
104

Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan


bawah: bawah: bawah: bawah:
2D16 2D16 2D19 6D19
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-350 Ø8-400

Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


Balok 20/40 20/40 30/55 30/55
BA 6 Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 4D16 atas: 2D16 atas: 6D19 atas: 2D19
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: - Samping:- Samping:- Samping:-
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
2D16 2D16 2D19 6D19
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-300 Ø8-350

Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


Balok 20/30 20/30 20/35 20/35
BA 8 Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 3D16 atas: 3D16 atas: 4D16 atas: 2D16
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: - Samping:- Samping:- Samping:-
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
2D16 2D16 2D16 4D16
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-200 Ø8-250

Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


S1 20/40 20/40 20/40 20/40
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 4D16 atas: 4D16 atas: 4D16 atas: 2D16
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: - Samping:- Samping:- Samping:-
105

Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan


bawah: bawah: bawah: bawah:
2D16 2D16 2D16 4D16
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-100 Ø8-150 Ø8-100 Ø8-250

Dimensi: Dimensi: Dimensi: Dimensi:


TB 1 30/60 30/60 30/60 30/60
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
atas: 4D19 atas: 4D19 atas: 7D16 atas: 2D16
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
Samping: Samping: Samping: Samping:
4D16 4D16 - -
Tulangan Tulangan Tulangan Tulangan
bawah: bawah: bawah: bawah:
4D19 4D19 2D16 7D16
Sengkang: Sengkang: Sengkang: Sengkang:
Ø8-150 Ø8-150 Ø8-150 Ø8-350

2 Kolom Dimensi: 60/60 Dimensi: 70/70


K1 Tulangan: 16D19 Tulangan: 18D19
Sengkang: Ø8-150 Sengkang: Ø8-150

Kolom Dimensi: 50/50 Dimensi: 60/60


K2 Tulangan: 12D19 Tulangan: 13D19
Sengkang: Ø8-150 Sengkang: Ø8-150

Kolom Dimensi: 20/50 Dimensi: 30/50


K7 Tulangan: 14D16 Tulangan: 13D16
Sengkang: Ø10-150 Sengkang: Ø10-150

Kolom Dimensi: 20/50 Dimensi: 30/50


K8 Tulangan: 14D16 Tulangan: 15D19
Sengkang: Ø10-150 Sengkang: Ø10-150

Kolom Dimensi: 20/30 Dimensi: 35/35


K9 Tulangan: 16D16 Tulangan: 13D16
106

Sengkang: Ø10-150 Sengkang: Ø10-150

3 Pelat Tebal: 12cm Tebal: 12cm


atap Tulangan utama: Ø10- Tumpuan dan
200 lapangan x
Tulangan bagi: Ø10- Tulangan utama: Ø10-
200 100
Tumpuan dan
lapangan y
Tulangan utama: Ø10-
150
Tulangan bagi: Ø8-
200

Pelat Tebal: 15cm Tebal: 15cm


LMR Tulangan utama: Ø10- Tulangan utama: Ø10-
200 100
Tulangan bagi: Ø10- Tulangan bagi: Ø8-
200 150

Pelat Pit Tebal: 20cm Tebal: 20cm


Tulangan utama: D16- Tulangan utama: D16-
200 200
Tulangan bagi: Ø10- Tulangan bagi: Ø10-
200 150

4 Shearwall Tebal: 20cm Tebal: 30cm


Tulangan vertikal: D13- Tulangan vertikal:
200 D13-200
Tulangan horizontal: Tulangan horizontal:
D13-200 D13-200
107

5 Pondasi Jumlah: 2 buah Jumlah: 3 buah

C. Perbandingan Antara Teori dengan yang Terjadi di


Lapangan
Tabel 3.3 Perbandingan kesesuaian antara teori
dan di lapangan
No Kegiatan Teori Kondisi Kesesuaian Solusi
Lapangan Sesuai Tidak
1 Perhitungan Pada Dimensi V Perlu
balok B1 teori balok B1 dilakukan
dan BA1 bentang, adalah pengecekan
lebar 25/70 dimensi
balok dimana berdasarka
adalah lebar n
½ -2/3 balok enginneerin
dari tidak g
tinggi melampau judgement.
i ½-2/3 Jika masih
dari tinggi tidak sesuai
cek
tulangan
yang
digunakan
sehingga
kekuatan
yang
diinginkan
tercapai.
2 Perhitungan Pada Dimensi V Perlu
balok B3 teori balok B1 dilakukan
bentang, adalah pengecekan
lebar 20/60 dimendi
108

balok dimana berdasarka


adalah lebar n
½ -2/3 balok enginneerin
dari tidak g
tinggi melampau judgement.
i ½-2/3 Jika masih
dari tinggi tidak sesuai
cek
tulangan
yang
digunakan
sehingga
kekuatan
yang
diinginkan
tercapai.
2 Perhitungan Pada Dimensi V Perlu
balok BA5 teori balok B1 dilakukan
bentang, adalah pengecekan
lebar 20/60 dimendi
balok dimana berdasarka
adalah lebar n
½ -2/3 balok enginneerin
dari tidak g
tinggi melampau judgement.
i ½-2/3 Jika masih
dari tinggi tidak sesuai
cek
tulangan
yang
digunakan
sehingga
109

kekuatan
yang
diinginkan
tercapai.
3 Perhitungan Pada Dimensi V -
balok B3 teori balok B1
bentang, adalah
lebar 20/40
balok dimana
adalah lebar
½ -2/3 balok
dari tidak
tinggi melampau
i ½-2/3
dari tinggi
4 Perhitungan Pada Dimensi V -
balok BA8 teori balok B1
bentang, adalah
lebar 20/40
balok dimana
adalah lebar
½ -2/3 balok
dari tidak
tinggi melampau
i ½-2/3
dari tinggi
5 Perhitungan Pada Dimensi V Pperlu
kolom teori yang dilakukan
bentang, dihasilkan pengecekan
EI lebih kecil tulangan
kolom/l kembali
kolom ≥ sehingga
110

EI kekuatan
balok/l yang
balok diinginkan
terpenuhi.
6 Perhitungan As As V -
shearwall tulanga tulangan
n yang
terpakai digunakan
≥ As sudah
tulanga mencukup
n yang i sehingga
dihitun jarak
g tulangan
yang
dihasilkan
sesuai
perhitung
an.
7 Perhitungan As As V -
pelat tulanga tulangan
n yang
terpakai digunakan
≥ As sudah
tulanga mencukup
n yang i sehingga
dihitun jarak
g. tulangan
yang
dihasilkan
sesuai
perhitung
an.
111

8 Perhitungan Jumlah Jumlah V Perlu


pondasi tiang tiang dilakukan
pancang pancang pengecekan
yang yang ulang
dibutuh dihasilkan terhadap
kan kurang beban yang
dihasilk dari telah
an dari perhitung dimasukka
perband an. n ke dalam
ingan aplikasi.
antara
teganga
n ijin
dengan
teganga
n
ultimate.
112

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan kegiatan
praktik industri yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Tahap perencanaan struktur lift terdiri dari perhitungan
preliminary desain, perhitungan pembebanan,
perhitungan penulangan pelat, balok, kolom, shearwall,
dan pondasi.
2. Berdasarkan perhitungan yanng telah dilakukan dapat
diambil perbandingan antara perhitungan mahasiswa
dengan perhitungan konsultan tidak sama diakibatkan
asumsi yang digunakan berbeda.
B. Saran
1. Sebaiknya perencanaan balok, kolom, dan pelat
membandingkan antara teori bentang dengan engineering
judgement sehingga didapatkan hasil yang terbaik.
2. Sebaiknya praktik kerja lapangan dilakukan di awal
tahun karena perencanaan lebih banyak dilakukan di
awal tahun dan juga tidak terbentur banyak dengan hari
libur nasional.