You are on page 1of 6

ARTIKEL MENGENAI SUBJEK DAN OBJEK HUKUM

PENGANTAR HUKUM BISNIS C

Nama : Agassy Rahmawati Mitha Suanda

Nim : 01031181621021

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2016
Subjek hukum
Adalah segala sesuatu yang mempunyai hak dan kewajiban untuk
bertindak dalam hukum.

Subjek hukum dibagi 2 jenis:


1. Subjek Hukum Manusia (orang)
Setiap orang yang mempunyai kedudukan yang sama dalam hak dan
kewajiban.
Pada prinsipnya orang sebagai subjek hukum dimulai sejak lahir hingga
meninggal dunia.
Selain itu juga ada manusia yang tidak dapat dikatakan sebagai subjek
hukum. Seperti :
1. Anak yang masih dibawah umur, belum dewasa, dan belum menikah.
2. Orang yang berada dalam pengampunan yaitu orang yang sakit
ingatan, pemabuk, pemboros.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1330, oleh hukum


dinyatakan tidak cakap untuk melakukan sendiri perbuatan hukum ialah:
1. Orang yang belum dewasa.
2. Orang yang diletakkan di bawah pengampuan seperti orang yang
hilang ingatan
3. Orang perempuan dalam pernikahan (wanita kawin)

2. Subjek Hukum Badan Usaha


Suatu perkumpulan atau lembaga yang dibuat oleh hukum dan
mempunyai tujuan tertentu. Sebagai subjek hukum, badan usaha
mempunyai syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum yaitu :
1. Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan anggotanya
2. Hak dan Kewajiban badan hukum terpisah dari hak dan kewajiban
para anggotanya.

Badan hukum sebagai subjek hukum dapat dibedakan menjadi dua


macam, yaitu:
A. Badan hukum publik, seperti negara, propinsi, dan kabupaten.
B. Badan hukum perdata, seperti perseroan terbatas (PT), yayasan, dan
koperasi
OBJEK HUKUM
Objek hukum
adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi subjek hukum dan dapat
menjadi objek dalam suatu hubungan hukum. Objek hukum dapat
berupa benda atau barang ataupun hak yang dapat dimiliki serta bernilai
ekonomis.

Jenis objek hukum berdasarkan pasal 503-504 KUH Perdata disebutkan


bahwa benda dapat dibagi menjadi 2, yakni:

1. Benda Bergerak
Adalah suatu benda yang sifatnya dapat dilihat, diraba, dirasakan
dengan panca indera, terdiri dari benda berubah / berwujud.

2. Benda Tidak Bergerak


Adalah suatu benda yang dirasakan oleh panca indera saja (tidak dapat
dilihat) dan kemudian dapat direalisasikan menjadi suatu kenyataan,
contohnya merk perusahaan, paten, dan ciptaan musik/lagu.
Kalijodo yang tak berjodo

Hukum merupakan suatu hal yang bersifat mengikat dan harus dipatuhi oleh setiap
warga negara indonesia. Hukum memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat
seperti mengayomi dan melindungi hak hak dari warga negara itu sendiri. Semua
orang tanpa terkecuali harus mendapatkan kedudukan yang sama di mata hukum.
Seperti halnya mengenai hak untuk mendapatkan tempat tinggal dalam pasal berikut
UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM Pasal 40: “Setiap orang berhak
untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak”.

Tapi bagaimanakah jika rumah yang telah ditempati bertahun tahun dan sebagai
warisan turun temurun menjadi hancur berantakan karena di lakukan penggusuran
paksa oleh pihak yang berwenang?

Pada tanggal 29 Febuari 2016, Pemerintah DKI Jakarta bersama ratusan aparat
gabungan telah melakukan penggusuran paksa di kawasan kalijodo. Didalam
kawasan tersebut terdapat ribuan rumah warga yang berdiri sejak bertahun tahun.
Para warga telah memperlihatkan bahwa mereka sudah menetap di kawasan
tersebut semenjak tahun 1959.

Penduduk di wilayah tersebut telah melakukan upaya agar sebisa mungkin


bangunan yang mereka tempati selama bertahun tahun tersebut tidak digusur tetapi
karena banyaknya aparat gabungan, mereka dengan berat hati melihat rumah
mereka di robohkan begitu saja.
Penggusuran di kawasan kalijodo merupakan wewenang dari pemerintah DKI
Jakarta dengan alasan utama penertiban karena kawasan Kalijodo masuk dalam
jalur hijau dan banyak bangunan ilegal. Daerah bantaran sungai berstatus sebagai
tanah negara dan akan dikembalikan fungsinya sebagai ruang terbuka hijau.Tetapi
apakah penggusuran secara paksa merupakan hal yang tepat? Penggusuran paksa
yang melibatkan ribuan penduduk tetap kawasan kalijodo , merupakan pelanggaran
hak atas tempat tinggal warga, dan juga hak atas pelanggaran pekerjaan yang layak
melalui pemusnahan sumber mata pencahariannya dikawasan tersebut.

Dalam pandangan pemerintah, menduduki suatu wilayah pinggiran sungai


merupakan tindakan yang salah karena dapat menyebabkan berbagai kerugian
seperti banjir,aliran sungai yang terhambat oleh sampah sehingga dapat
menimbulkan berbagai penyakit. Tetapi, dalam proses melakukan tindakan agar
warga kalijodo dapat meninggalkan tempat tinggal tersebut merupakan hal yang
salah.

Menurut fakta yang ada, bahwa pemberian surat peringatan penggusuran dilakukan
dengan cara intimidasi karena melibatkan ratusan aparat gabungan bersenjata yang
berkeliling di pemukiman warga kemudian terjadinya tindakan intimidasi aparat yang
mendatangi rumah-rumah warga dan menanyakan kapan akan melakukan
pengosongan dan pembongkaran rumah. Setelah pasca penggusuran pun
pemerintah tidak pernah melakukan upaya musyawarah kepada warga, tidak pernah
menjelaskan tujuan dari penggusuran, tidak pernah memberikan informasi yang
jelas tentang riwayat lahan dan kegunaan lahan pasca penggusuran. Pemerintah
pun hanya memberikan solusi sepihak dengan cara memindahkan ke rumah susun
sewa adalah tindakan pengusiran tanpa memperhatikan kepentingan warga.

Tindakan warga untuk pindah kerumah susun dikarenakan atas dasar keterpaksaan
ditengah intimidasi yang dilakukan. Setelah mereka dipindahkan ke rumah susun,
yang mereka dapatkan adalah kondisi rumah susun sewa yang tidak layak sebab
tidak tersedianya air bersih, rumah susun yang belum selesai dibangun, jauh dari
tranportasi publik, dan jauh dari sumber nafkah.

Apakah penggusuran secara paksa adalah melanggar HAM ? jawabannya adalah


iya dan merupakan pelanggaran HAM yang berat menurut Resolusi Komisi Hak
Asasi Manusia PBB Nomor 77 Tahun 1993 (1993/77) menyatakan
bahwa “penggusuran paksa termasuk dalam pelanggaran berat terhadap hak asasi
manusia, khususnya hak atas perumahan yang layak”
Pernyataan tersebut menyatakan bahwa penggusuran paksa secara global telah
mengakibatkan jutaan manusia di dunia hidup secara tidak layak di bawah garis
kemiskinan. Dan juga pemerintah melanggar Konvenan Internasional tentang Hak
Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya yang telah diratifikasi melalui UU Nomor 11 tahun
2005 dalam melakukan penggusuran ada berbagai hal penting yang harus dilakukan
oleh pemerintah. Yaitu pemerintah wajib mengadakan musyawarah kepada warga
secara tulus, wajib mencari semua kemungkinan alternatif penggusuran, wajib
memberikan pemberitahuan yang layak dan beralasan yang jelas terhadap warga,
dan wajib memastikan tidak ada warga yang mengalami penurunan kualitas
kehidupan dari kehidupan sebelumnya digusur.

Sampai saat ini, belum adanya tanggapan pemerintah mengenai penggusuran


secara paksa yang dilakukan dan terpaksa ribuan penduduk kalijodo tersebut harus
menempati rusun tersebut karena tidak ada pilihan lain. Penggusuran di kawasan
kalijodo merupakan sebuah ketidak adilannya hukum di indonesia, kawasan kalijodo
merupakan sebagian besar adalah tempat perjudian,prostitusi dan perdagangan
minuman keras tetapi seharusnya pemerintah memberhentikan kegiatan tersebut
dengan tegas bukan menggusur warga dengan alasan alasannya, kemudian
pemerintah tidak boleh sewenang wenangnya memindahkan mereka apalagi
dengan cara kekerasan. Semua warga negara siapapun mereka memiliki HAM.
Jangan hanya menuding mereka (warga kalijodo) melanggar aturan karena
menghuni tanah negara sehingga bisa mengusir mereka dengan sewenang
wenangnya. Dengan kesimpulan diatas bahwa Hukum di Indonesia masih jauh
dikatakan adil, hukum seharusnya bisa dengan adil bukan hanya berpihak kepada
pihak yang berkuasa tetapi juga harus berpihak kepada rakyat bawah dan
menengah.