You are on page 1of 15

Thoraks Normal

Foto PA tidak menunjukkan kelainan dari vaskularisasi pulmoner, dengan jarak SIC
yang normal dan diafragma membentuk kubah.
1. PPOK

A. Bronkitis Kronis

BK ringan dengan peningkatan corakan BK sedang dengan peningkatan corakan dan


di parakardial kanan emfisema

BK sedang dengan peningkatan corakan bronkovesikular


dan bronkiektasis kanan dan kiri.
Pada bronkitis kroniks, foto toraks PA dan lateral tidak selalu memperlihatkan
gambaran khas, dapat normal ataupun hanya berupa peningkatan corakan bronkovaskuler di
basal paru bisa terdapat peribronchial cuffing (penebalan dinding bronkus dan bronkiolus).
Penggolongan secara radiologi dibagi dalam tiga golongan. Pada golongan ringan ditemukan
peningkatan corakan bronkovaskuler di basal paru, pada golongan sedang, selain peningkatan
corakan bronkovaskuler di basal paru dapat ditemukan emfisema, dan kadang-kadang dapat
disertai bronkiektasis di parakardial kanan dan kiri. Pada golongan berat merupakan golongan
sedang ditambah komplikasi seperti cor pulmonale.

B. Emfisema
Pada emfisema, foto toraks PA dan lateral gambaran secara umum hiperinflasi sehingga
terjadi penambahan ukuran paru anterior – posterior, bentuk toraks kifosis, tulang retrosternal
melebar dan jarak antata tulang iga melebar. Hiperinflasi aerasi paru yang bertambah pada
seluruh paru atau lobaris atau segmental menyebabkan hiperlusen. Diafragma letak rendah
dengan bentuk diafragma datar dan peranjakan diafragma berkurang.
Emfisema lobaris Emfisema bulla
Pada emfisema lobaris, hiperlusen pada bagian paru yang terkena dengan perdorongan
mediastinum ke kontralateral. Pada emfisema bulla, kantong radiolusen di perifer lapangan
paru terutama di apeks paru dan bagian basal paru.

Predileksi emfisema berdasarkan anatomi.


Emfisema sentrilobular. Biasanya ditemukan di lobus atas. Dapat terlihat arteri
sentrilobuler di antara lusensi. Bagian perifer biasanya tidak terkena. Berrmanifestasi sebagai
hipodens dengan punched-out appearance.
Emfisema Panlobular. Biasanya lebih sering mengenai lobus bawah, dengan destruksi
keseluruhan dari lobus paru. Pada bagian yang terkena terlihat hipodens.
Emfisema paraseptal. Mengenai bagian perifer lobus dan menyebabkan lusensi
subpleura.
2. Pneumonia
A. Pneumonia Lobaris
Pada foto radiologi dapat ditemukan:
- Melibatkan satu atau beberapa lobu.s
- Air bronchogram , adalah fenomena dimana udara di dalam bronkus (lusen) terlihat di
sekitar alveolus (opak)
- konsolidasi atau terdapat eksudasi/ transudasi/ darah di ruang udara alveolar, warna opak,
lebih putih dari infiltrat
- kavitas berbentuk seperti ruang, bisa terdapat oleh pneumonia karena Klebsiella, pada
lobus atas
- infiltrat, warna opak, seperti kapas. Infiltrat pada lobus kanan bawah biasanya pneumonia
aspirasi.
- dapat juga terjadi komplikasi berupa efusi pleura dengan tanda-tanda meniscus sign
(opasitas seperti U), efek posisi (supine atau erect) terkait fluid layering,
Pada foto toraks PA dan lateral terdapat gambaran konsolidasi homogen pada lobus
tengah paru kanan. Terdapat air bronchogram.

Hasil CT scan toraks menampilkan gambaran hiperdens di lobus atas kiri sampai ke perifer.
B. Bronkopneumonia
Pada foto radiologi dapat ditemukan:
- Khas biasanya menyerang beberapa lobus, hal ini yang membedakan dengan pneumonia
lobaris.
- Tampilan opak patchy, berupa bercak yang mengikutsertakan alveoli secara tersebar.
- penebalan peribronkial
kavitas
- pneumatoceles, kavitas hiperlusen, berisi udara di parenkim paru
- dapat juga terjadi komplikasi berupa efusi pleura
- konsolidasi di bronkiolus respirasi, terminal dan alveolus
- tidak ada air bronchogram

Pada gambar ini tampak konsolidasi inhomogen pada lobus tengah kanan dan lobus bawah
kiri.
Pada CT Scan tampak gambaran hiperdens namun tidak menjalar sampai perifer.
C. Pneumonia interstitial
Pneumonia interstisial dapat juga dikatakan sebagai pneumonia fokal/difus, di mana
terjadi infiltrasi edema dan sel-sel radang terhadap jaringan interstisial paru. Septum alveolus
berisi infiltrat limfosit, histiosit, sel plasma dan neutrofil.
Pada foto radiologi dapat ditemukan:
- infiltrat opak, pola reticular dan reticulonodular
- dapat juga ditemukan peningkatan corakan bronkovaskular
- dapat juga ditemukan efusi pleura
- pada fase akut dapat tampak gambaran peribronchial cuffing

Foto toraks tampak gambaran perironchial cuffing. Corakan bronkovaskular


meningkat, hiperaerasi, dan bercak-bercak inifiltrat dapat ditemukan.
3. Asma Bronkial
Foto toraks 75% pasien menunjukkan hasil tidak ada kelainan. Apabila ada kelainan u
umumnya dikarenakan kondisi hiperinflasi yang menyebabkan:
- Hemidiafragma mendatar, lebih jelas terlihat pada foto lateral.
- Diagragma kehilangan ketinggian konveksnya
- Pengukuran jarak retrosternal membuat garis horizontal dari sebuah titik, 3 cm dibawah
jarak antara manubrium dan corpus sternalis, korteks posterior sternum dan titik aorta
ascending yang normalnya < 2, 5 cm.
- Terdapat air trapping dibuktikan antara dua foto (inspirasi maksimal dan ekspirasi
maksimal) gerakan vertikal kurang dari 3 cm.
- Gambaran iga horizontal lebih dari 8 iga anterior atau 10 iga posterior di atas diafragma.
- Pada garis midklavikular terdapat udara (lusen) di bawah jantung peningkatan diamater
anteroposterior (barrel chest) paru
- Terdapat penurunan corakan bronkovaskuler.
- Penebalan dinding peribronchial peribronchial cuffing karena berkumpulnya cairan
interstitial jika dilihat di distal menunjukkan doughnut sign, terlihat pada 48% penderita
asma.
- Tanda-tanda edema pulmoner, jarang, biasanya pada asma akut. Opasifikasi menyerupai
batwing / butterfly appearance. Kerley lines A panjang 2-6 cm, ketebalan < 1 mm,
memanjang dari hilus ke lobus atas menggambarkan penebalan septa interlobular. Kerley
B panjang 1-2 cm di perifer paru, di basal paru menggambaran penebalan septa
interlonular sub pleura. Kerley C garis pendek, tidak mencapai pleura dan tidak menjauh
dari hilus (bukan A, B, D?. Kerley D mirip seperti kerley B , tetapi sering terlihat di bagian
lateral di retrosternal air gap.
Foto thoraks pada penderita asma menunjukkan hiperinflasi, dengan gambaran
hemidiafragma mendatar.
4. TB Paru.