You are on page 1of 12

Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X.

Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)


Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK HEREDITAS DI KELAS XII IPA SMA
NEGERI 1 BATANG KUIS TAHUN PEMBELAJARAN 2016/2017

Maisyarah1)*, Hasruddin2), Rengkap Sitepu3), Supini4)

1
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Psr. V,
Medan Estate, Medan, Indonesia, 20221
2
Dosen Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Psr. V, Medan Estate, Medan,
Indonesia, 20221
3
Guru Biologi SMA Negeri 1 Batang Kuis, Jalan Pendidikan, Paya Gambar, Kec. Batang Kuis, Kab. Deli Serang, 20372
*E-mail: masiyarah.sembiring@yahoo.com

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui kesulitan belajar siswa pada materi pokok hereditas yang
ditinjau dari aspek kognitif dan faktor penyebab. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis. Sampel penelitian diambil secara
total sampling sebanyak 134 siswa. Instrumen penelitian adalah tes objektif dan angket. Data dianalisis dengan
teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Persentase tingkat kesulitan belajar siswa pada setiap
aspek kognitif soal Pengetahuan (C1) sebesar 47,44% termasuk dalam kategori kesulitan sedang, Pemahaman (C 2)
sebesar 52,35% termasuk dalam kategori kesulitan sedang, Aplikasi (C3) sebesar 42,32% termasuk dalam kategori
kesulitan sedang, Analisis (C4) sebesar 61,44% termasuk dalam kategori kesulitan tinggi, Evaluasi (C5) sebesar
65,30% termasuk dalam kategori kesulitan tinggi, dan Kreasi (C6) sebesar 73,88% termasuk dalam kategori kesulitan
tinggi; (2) Persentase kesulitan belajar setiap indikator soal pada materi pokok hereditas meliputi: indikator
mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi DNA sebesar 47,31% termasuk dalam kategori kesulitan sedang,
indikator mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi RNA sebesar 59,95% termasuk dalam kategori kesulitan
sedang, indikator mengaitkan hubungan antara gen, DNA, kromosom sebesar 33,77% termasuk dalam kategori
kesulitan rendah, indikator sintesis protein sebesar 57,61% termasuk dalam kategori kesulitan sedang, indikator
menjelaskan keterkaitan gen, DNA-RNA-polipeptida dan sintesis protein sebesar 62,37% termasuk dalam kategori
kesulitan tinggi, indikator mendeskripsikan pembelahan mitosis dan meiosis sebesar 44,93% termasuk dalam
kategori kesulitan sedang, indikator mendeskripsikan fase-fase pembelahan mitosis dan meiosis sebesar 42,29%
termasuk dalam kategori kesulitan sedang, dan indikator menghubungkan pembelahan sel dengan pewarisan sifat
sebesar 53,98% termasuk dalam kategori kesulitan sedang; dan (3) Faktor penyebab kesulitan siswa dalam
mempelajari materi hereditas adalah inteligensi, minat, motivasi, suasana rumah, materi pelajaran dan media
massa.

Kata Kunci : aspek kognitif, indikator pembelajaran, kesulitan belajar, hereditas

ABSTRACT
This research aimed to detect the learning difficulties of student on Heredity subject matter viewed from
cognitive aspect and causal factors. The method used is quantitative descriptive. Population in this research is all
student of class XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis. The sample was taken in total sampling as many as 134 students.
Data collection technique used diagnostic test about heredity subject matter and questionnaire. Data were
analyzed by percentage technique. The results of this research after data analysis showed that: (1) The percentage
of student's learning difficulties in cognitive aspect from knowledge aspect (C 1) is 47.44% belongs to medium
category of difficulty, comprehension (C2) is 52.35% belongs to medium category of difficulty, application (C 3) is
42.32% belongs to medium category of difficulty, analysis (C4) is 61.44% belongs to high category of difficulty,
evaluation (C5) is 65.30% belongs to high category of difficulty, and creation (C6) is 73.88% belongs to high category
of difficulty; (2) The percentage of learning difficulties in learning indicator of heredity subject matter include:
Describing the structure, character,and function of DNA indicator is 47.31% belongs to medium category of
difficulty, Describing the structure, character, and function of RNA indicator is 59.95% belongs to medium category
of difficulty, Linking the relationship between genes, DNA, chromosomes indicator is 33.77% belongs to low

1
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

category of difficulty, Protein synthesis indicator is 57.61% belongs to medium category of difficulty, Explain the
linkage of genes, DNA-RNA-polypeptide and protein synthesis indicator is 62.37% belongs to high category of
difficulty, Describe mitotic and meiotic divisions indicator is 44.93% belongs to medium category of difficulty,
Describe the phases of mitotic and meiotic division indicator is 42.29% belongs to medium category of difficulty,
Link cell division with inheritance indicator is 53.98% belongs to medium category of difficulty; and (3) Factor
difficulty student in learning of heredity subject matter is intelligence, interest, motivation, home atmosphere,
subject matter and media.

Keywords: cognitive aspect, learning indicator, learning difficulties, heredity

PENDAHULUAN
Kesulitan belajar sering ditemukan pada siswa. Kesulitan belajar yaitu suatu keadaan siswa yang
mengalami penurunan kinerja akademik atau prestasi belajar (Syah, 2012: 184). Hal ini juga dijelaskan Sianturi dan
Gultom (2016: 171) bahwa kesulitan belajar siswa merupakan suatu kondisi belajar yang ditandai dengan adanya
hambatan dalam kegiatan pembelajaran sehingga memerlukan usaha lebih giat lagi untuk dapat mengatasinya.
Kesulitan belajar siswa dapat dilihat dari hasil belajar yang dicapainya. Aktivitas belajar siswa tidak selamanya
berjalan lancar. Hal ini dapat dilihat dari cara menangkap pelajaran yang kadang-kadang cepat, kadang-kadang
lama, atau kadang-kadang lancar dan kadang-kadang tidak.
Genetika merupakan konsep/materi sains yang penting untuk diajarkan di sekolah. Dinyatakan oleh
Theodosius Dobzhansky dalam Roini (2013: 1) bahwa “Nothing in biology is understandable except the light of
genetics. Genetics is the core biological science”. Genetika menjadi dasar bagi pengembangan ilmu biologi maupun
ilmu lain yang terkait dengan biologi. Pernyataan tersebut memberikan penegasan bahwa genetika memiliki kaitan
erat dengan cabang-cabang ilmu biologi lainnya.
Uraian di atas menunjukkan bahwa materi genetika sangat penting sehingga penguasaan materi ini oleh
siswa sangat diharapkan. Namun kenyataannya bahwa materi genetika merupakan materi yang sulit dipelajari oleh
siswa SMA. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian di SMA Turki oleh Tekkaya, et al. (2001: 145) bahwa sistem
hormon, gen dan kromosom, mitosis dan meiosis, sistem saraf juga genetika mendel merupakan materi yang sulit
dipelajari oleh siswa. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Haambokoma di Zambia (2007: 1)
bahwa genetika dilaporkan sebagai topik yang sulit dipelajari siswa dan juga topik yang sulit untuk diajarkan guru.
Siswa mengalami kesulitan belajar pada sub-sub materi genetika: persilangan, istilah genetika, mitosis dan meiosis,
begitu juga mutasi.
Menurut Topcu dan Pekmez (2009: 55), banyak penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari konsep
genetika diantaranya adalah siswa tidak memahami konsep utama genetika, kesulitan dalam memahami transfer
informasi genetika dan penentuan sex, kesulitan yang terkait dengan metode mengajar guru dan buku teks. Hal ini
juga sesuai dengan hasil penelitian yang diungkapkan oleh Haambokoma (2007: 1) bahwa siswa mengalami
kesulitan belajar genetika disebabkan oleh ketidakmampuan guru untuk menjelaskan materi secara jelas kepada
siswa, topik tidak diajarkan, penyajian materi pelajaran terlalu cepat, sikap negatif siswa terhadap topik dan
kurangnya media pembelajaran yang tepat dan alokasi waktu yang tidak memadai untuk pengajaran topik.
Demikian juga hasil observasi dan wawancara dengan guru biologi SMA Negeri 1 Batang Kuis bahwa hasil
belajar siswa pada materi genetika, tepatnya pada materi hereditas 60% masih di bawah KKM sedangkan nilai
kriteria ketuntasan minimal di sekolah tersebut adalah 75. Belum tercapainya nilai KKM pada materi hereditas
menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang disebabkan oleh minat belajar siswa yang masih
kurang dalam belajar biologi khususnya hereditas, keterbatasan buku pegangan, media yang digunakan guru saat
mengajar materi hereditas belum memadai dan pelaksanaan praktikum yang belum terealisasi.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Batang Kuis pada bulan Maret sampai dengan Mei tahun
2017. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA
Negeri 1 Batang Kuis yang terdiri atas 4 kelas berjumlah 134 siswa. Sampel penelitian ini adalah total sampel yaitu
berjumlah 134 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah 35 soal pilihan berganda

2
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

untuk mengumpulkan data kesulitan siswa dan 30 soal angket untuk untuk mengumpulkan data faktor penyebab
kesulitan siswa dalam mempelajari materi hereditas. Soal pilihan berganda yang digunakan untuk penelitian
terlebih dahulu divalidasi oleh validator ahli dan diuji coba kelayakannya di luar sampel meliputi uji validitas, uji
reliabilitas, taraf kesukaran soal, dan daya pembeda. Kisi-kisi tes soal pilihan berganda dapat dilihat pada Tabel 1 di
bawah ini:

Tabel 1. Kisi-Kisi Tes Soal Pilihan Berganda


No Kompetensi Indikator Tingkatan/Nomor Soal Jumlah
Dasar C1 C2 C3 C4 C5 C6 Soal
1. Menjelaskan Mendeskripsikan struktur, sifat dan fungsi 3 7 5
konsep gen, DNA 5 15
DNA, dan 11
kromosom Mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi 9 2 3
RNA 13

Mengaitkan hubungan antara gen, DNA, 17 1 4


kromosom 21 6
2. Menjelaskan Mendeskripsikan sintesis protein 18 20 25 28 30 5
hubungan gen
DNA-RNA- Menjelaskan keterkaitan gen DNA-RNA- 26 4 8 29 31 35 7
polipeptida polipeptida dan sintesis protein 10
dan proses
sintesis protein
3. Menjelaskan Mendeskripsikan pembelahan mitosis dan 22 19 32 5
keterkaitan meiosis 23 24
antara proses
pembelahan Mendeskripsikan fase-fase pembelahan dan 34 12 3
mitosis dan tempat terjadinya mitosis dan meiosis 14
meiosis
dengan Menghubungkan pembelahan sel dengan 27 16 3
pewarisan sifat pewarisan sifat 33
Jumlah 14 7 7 3 2 2 35

Sedangkan untuk angket sikap hanya divalidasi oleh validator ahli. Kisi-kisi angket dapat dilihat pada Tabel
2 di bawah ini:

Tabel 2. Kisi-Kisi Angket


No Indikator Deskripsi Nomor Soal Jumlah
1 Kesehatan Termasuk: 1,2,3 3
Kesiapan fisik
Kemampuan mendengar
Kemampuan melihat
2 Inteligensi Termasuk: 4,5,6 3
Ingatan
Kecakapan diri
Keingintahuan siswa
3 Minat Termasuk: 7,8,9 3
Total waktu maksimal belajar dirumah
Kerelaan diri
Kesiapan dalam belajar
4 Motivasi Termasuk: 10,11,12 3

3
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

Harapan dalam mencapai cita-cita


Harapan untuk mendapatkan nilai yang baik
Keinginan menjadi terkenal
5 Orang tua Termasuk: 13,14,15 3
Partisipasi orang tua dalam memfasilitasi belajar siswa
Dorongan dan motivasi belajar dari orang tua
6 Suasana rumah Temasuk: 16,17,18 3
Fasilitas belajar di rumah
Kenyamanan belajar di rumah
Suasana sekitar rumah
7 Guru Termasuk: 19,20,21 3
Cara guru mengajar
Sikap guru dalam pembelajaran
Metode yang digunakan guru dalam mengajar
8 Lingkungan Sekolah Termasuk: 22,23,24 3
Kapasitas buku dari sekolah
Fasilitas sekolah
Fasilitas belajar
9 Materi pelajaran Termasuk: 25,26,27 3
Asumsi siswa tentang materi hereditas
Level inteligensi siswa
10 Media Termasuk: 28,29,30 3
Pemanfaatan media massa dalam belajar materi
hereditas
Total 30

Untuk menentukan tingkat penguasaan siswa dalam memahami materi hereditas dapat diperoleh dari
penggunaan rumus daya serap siswa pada setiap aspek kognitif C 1-C6 dan indikator pembelajaran dengan rumus
(Aswirna, 2012: 161) sebagai berikut:

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎


Daya Serap = × 100%
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙

Setelah memperoleh daya serap siswa dalam bentuk persentase pada setiap aspek kognitif C1-C6 dan
indikator pembelajaran, maka diperoleh persentase kesulitan belajar siswa dengan cara 100%-daya serap. Maka
akan diperoleh kriteria kesulitan belajar berdasarkan kategori tingkat kesulitan seperti pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Persentase Kategori Tingkat Kesulitan


Skor Kesulitan (%) Kriteria Kesulitan
0 – 20 Sangat rendah
21 – 40 Rendah
41 – 60 Sedang
61 – 80 Tinggi
81 – 100 Sangat tinggi

Sedangkan hasil angket dianalisis dengan cara menganalisis data angket dengan mencari persentase dari
setiap indikator yang diteliti. Pengolahan data angket dihitung dengan rumus sebagai berikut:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎


Persentase Jawaban = × 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
Sehingga diperoleh pengaruh faktor kesulitan belajar siswa berdasarkan kategori seperti pada Tabel 4 dibawah ini.

4
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

Tabel 4. Persentase Kategori Pengaruh Faktor-Faktor Kesulitan Belajar Siswa


Interval Kategori
81% - 100% Sangat menghambat
61% - 80% Menghambat
41% - 60% Cukup menghambat
21% - 40% Kurang menghambat
0% - 20 % Tidak menghambat

HASIL DAN PEMBAHASAN


HASIL
Hasil Analisis Tes pada Materi Hereditas
Berdasarkan skor yang diperoleh maka didapat persentase tingkat kesulitan belajar siswa dan kriteria
kesulitan belajar siswa pada setiap aspek kognitif tersebut dapat diketahui. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 1.1
berikut ini.

Kesulitan Belajar pada Aspek Kogntiif


80 65.3
73.88
Tingkat Kesulitan

61.44
60 47.44
52.35 C1 = Pengetahuan
42.32
40
(%)

C2 = Pemahaman
20 C3 = Aplikasi
0 C4 = Analisis
C1 C2 C3 C4 C5 C6 C5 = Evaluasi
Aspek Kognitif

Gambar 1.1. Diagram Kesulitan Belajar pada Aspek Kogntitif

Setelah melakukan analisis terhadap kesulitan belajar siswa pada aspek kognitif, selanjutnya dilakukan
analisis terhadap kesulitan belajar siswa pada aspek indikator pembelajaran. Berdasarkan skor yang diperoleh maka
diperoleh persentase tingkat kesulitan belajar siswa dan kriteria kesulitan belajar siswa pada setiap indikator
pembelajaran. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel Gambar 1.2 berikut.

Kesulitan Belajar pada Aspek Indikator Pembelajaran


80 Indikator 1 Mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi DNA
Tingkat Kesulitan (%)

59.95 57.61 62.37


Indikator 2 Mendeskripsikan struktur, sifat, dan fungsi RNA
60 53.98
47.31 44.93 42.29
Indikator 3 Mengaitkan hubungan antara gen, DNA,
kromosom
40 33.77 Indikator 4 Sintesis Protein

Indikator 5 Menjelaskan keterkaitan gen, DNA-RNA-


20 polipeptida dan sintesis protein
Indikator 6 Mendeskripsikan pembelahan mitosis dan
meiosis
Indikator 7 Mendeskripsikan fase-fase pembelahan mitosis
0 dan meiosis
Indikator 8 Menghubungkan pembelahan sel dengan
1 2 3 4 5 6 7 8 pewarisan sifat

Aspek Indikator

Gambar 1.2. Diagram Tingkat Kesulitan Belajar Siswa pada Aspek Indikator Pembelajaran Materi Hereditas

5
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

Hasil Analisis Angket Faktor Penyebab Kesulitan Belajar


Dari hasil angket yang diberikan dapat diperoleh persentase faktor penyebab kesulitan belajar siswa baik
dari faktor internal maupun faktor eksternal hasilnya disajikan pada Gambar 1.3 dan Gambar 1.4 dibawah ini.

100 Faktor Internal


Persentase (%)

79.98 78.35
66.12 Kesehatan
50 Intelegensi
30.43
Minat
0 Motivasi
Faktor Internal
Gambar 1.3. Diagram Faktor Internal Kesulitan Belajar Siswa

Faktor Eksternal
100 79.34
73.18 Orang Tua
61.5
Persentase (%)

53.35 Suasana Rumah


50 44.65 46.19
Guru

0 Lingkungan Sekolah

Faktor Eksternal Materi Pelajaran

Gambar 1.4. Diagram Faktor Eksternal Kesulitan Belajar Siswa

Pembahasan Hasil Penelitian


Kesulitan Belajar Siswa pada Aspek Kognitif
1. Aspek Pengetahuan/Mengingat (C1)
Siswa masih kesulitan dalam mengingat fungsi RNA, karakteristik DNA, keterkaitan gen-DNA-polipeptida
dan proses sintesis protein, pembelahan mitosis dan meiosis beserta fase-fase pembelahannya. Pengetahuan
mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan (Winkel, 2009: 274). Mengingat
yaitu meningkatkan ingatan atas materi yang disajikan dalam bentuk yang sama seperti yang diajarkan (Siregar dan
Nara, 2010: 9). Aspek kognitif C1 ini termasuk aspek kognitif paling rendah, karena aspek kognitif ini bersifat
pengetahuan hafalan yang hanya menuntut siswa untuk dapat mengingat kembali konsep-konsep seperti rumus,
definisi, istilah-istilah. Adanya kemampuan mengingat dan menghafal yang menjadi dasar pemahaman untuk
konsep-konsep berikutnya (Sudjana, 2010: 23). Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat.
Karena yang terjadi pada siswa adalah belajar hafalan akibatnya siswa kesulitan mengingat materi pelajaran atau
lupa. Lupa (forgetting) adalah hilangnya kemampuan untuk menyebutkan atau memunculkan kembali apa-
apa/sesuatu hal yang sebelumnya telah dipelajari. Hal-hal yang bersifat hafalan (substansial-material) mudah cepat
dilupakan dibandingkan hasil proses mental (fungsional struktural) yang lebih tinggi (Zunitasari, dkk, 2016: 23).

2. Aspek Pemahaman/Memahami (C2)


Siswa masih kesulitan dalam memahami struktur DNA, fungsi RNA, proses transkripsi, jumlah kromosom
pada siklus sel, dan ciri-ciri pembelahan mitosis. Pemahaman mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan
arti dari bahan yang dipelajari (Winkel, 2009: 274). Memahami yaitu mampu membangun arti dari pesan
pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, tulisan maupun grafis (Siregar dan Nara, 2010: 9). Seorang peserta didik

6
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci
tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir
yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. Namun tidaklah berarti bahwa pengetahuan tidak perlu
dinyatakan, sebab untuk dapat memahami perlu terlebih dahulu mengetahui atau mengingat (Sudjana, 2010: 24).

3. Aspek Penerapan/Menerapkan (C3)


Pada soal aspek C3 ini masih banyak siswa yang belum mengerti mengenai proses transkripsi dan urutan
basa nitrogen pada RNAd yang dibetuk oleh rantai DNA dan proses pembelahan mitosis dan meiosis . Menerapkan
dapat diartikan menggunakan prosedur untuk mengerjakan latihan maupun memecahkan masalah (Siregar dan
Nara, 2010: 9). Penerapan yaitu kemampuan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata
cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru
dan kongkret. Aplikasi ataupun penerapan adalah merupakan proses berpikir setingkat lebih tinggi daripada
pemahaman (Sudijono, 2013: 51). Adanya kemampuan dinyatakan dalam aplikasi suatu rumus pada persoalan yang
belum dihadapi atau aplikasi metode kerja pada pemecahan problem baru (Winkel, 2009: 275). Banyak siswa yang
menganggap biologi adalah mata pelajaran yang sulit dan hanya dapat dipelajari dengan cara hapalan sehingga
mereka hanya menghapalkan fakta-fakta, prinsip, dan teori yang disampaikan oleh guru tanpa berusaha untuk
menemukan, mengembangkan serta menerapkan ide-ide yang ada dalam pikiran mereka.

4. Aspek Analisis/Menganalisis (C4)


Aspek kognitif C4 (menganalisis) merupakan aspek yang memanfaatkan kecakapan kompleks dari aspek-
aspek sebelumnya. Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat
memilah integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal
memahami cara kerja serta memahami sistematikanya. Bila kecakapan analisis telah dapat berkembang pada
seseorang maka ia akan dapat mengaplikasikannya pada situasi baru secara kreatif (sudjana, 2010: 27). Hal ini juga
dijelaskan Faisal (2015: 108) bahwa kategori proses kognitif yang keempat, yaitu menganalisis adalah salah satu
proses kognitif pada kategori ini adalah mengorganisasi. Proses kognitif mengorganisasi melibatkan proses
identifikasi elemen-elemen komunikasi atau situasi dan proses mengenali bagaimana elemen-elemen ini
membentuk sebuah struktur yang koheren.

5. Aspek Evaluasi/Mengevaluasi (C5)


Penilaian/penghargaan/evaluasi (Evaluation) adalah merupakan jenjang berpikir tinggi dalam ranah
kognitif taksonomi bloom. Penilaian atau evaluasi merupakan kemampuan seseorang untuk membuat
pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide, misalnya jika seseorang dihadapkan pada bebarapa pilihan,
maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik, sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada
(Sudijono, 2013: 52). Mengevaluasi diartikan membuat pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar tertentu
(Siregar dan Nara, 2010: 9). Kemampuan ini dinyatakan dalam memberikan penilaian dengan jalan memberikan
penilaian terhadap objek studi menggunakan kriteria tertentu (Winkel, 2009: 276).

6. Aspek Kreasi/Mencipta (C6)


Mencipta merupakan proses kognitif yang melibatkan peyusunan elemen-elemen menjadi sebuah
keseluruhan yang koheren dan fungsional. Kategori mencipta mencakup proses kognitif merumuskan,
menggeneralisasikan merencanakan, merancang, memproduksi dan merencanakan kembali (Faisal, 2015: 104).
Kreasi/menciptakan yaitu melibatkan proses menyusun elemen-elemen menjadi sebuah kesatuan yang koheren
dan fungsional yang akhirnya dapat menghasilkan sebuah produk baru yang belum pernah ada sebelumnya.
Klasifikasi objektif kreasi melibatkan siswa memproduksi sebuah produk orisinal (Siregar dan Nara, 2010: 9).
Semakin tinggi tingkat kemampuan kognitif pada soal, maka cenderung memiliki tingkat kesulitan yang makin
tinggi. Hal ini terjadi karena siswa masih mudah mengerjakan soal yang bersifat mengingat, memahami dan
menyimpulkan dibandingkan dengan soal pada aspek penerapan, sintesis dan kreasi yang menuntut siswa untuk
dapat membandingkan, mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dasar dan pengetahuan serta siswa harus
dapat membuat dan mengambil suatu kesimpulan (Haryati, 2009: 24).

7
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

Kesulitan Belajar Siswa pada Tiap Indikator Pembelajaran Materi Hereditas


1. Mendeskripsikan Struktur, Sifat, dan Fungsi DNA
Siswa berpendapat bahwa materi substansi gen yakni struktur, sifat dan fungsi DNA ini adalah materi yang
sulit, berbelit-belit, cakupannya luas, banyak menghapal istilah-istilah asing dan tidak bisa dilihat langsung sehingga
mengakibatkan siswa sulit memahaminya. Hal tersebut didukung oleh Murni (2013: 206) bahwa substansi genetika
merupakan konsep dengan topik yang sangat luas dan rumit. Cakupan materinya antara lain struktur gen, DNA,
RNA, ekspresi gen, replikasi, sintesis protein dan kromosom. Materi substansi genetika susah untuk diamati, apalagi
tanpa bantuan peralatan khusus. Akibatnya konsep ini menjadi salah satu konsep yang dianggap sulit oleh siswa.
Subkonsep struktur organisasi gen membahas tentang struktur DNA dan RNA, fungsi gen, bagian-bagian gen, dan
pengendalian ekspresi gen. Subkonsep ini cukup kompleks dan banyak sekali menggunakan istilah-istilah asing.

2. Mendeskripsikan Struktur, Sifat, dan Fungsi RNA


Siswa mengalami kesulitan karena siswa merasa bahwa materi ini merupakan materi yang susah,
membutuhkan ingatan yang tinggi karena banyak menghapal istilah-istilah asing dan sulit membedakan istilah-
istilah tersebut, materi yang luas pembahasannya sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dalam mempelajari
materi tersebut. Subkonsep struktur organisasi gen membahas tentang struktur DNA dan RNA, fungsi gen, bagian-
bagian gen, dan pengendalian ekspresi gen. Subkonsep ini cukup kompleks dan banyak sekali menggunakan istilah-
istilah asing. Hasil wawancara yang dilakukan Murni (2010: 210) juga menunjukkan bahwa penyebab terjadinya
kesulitan antara lain karakter konsep substansi genetika yang bersifat abstrak, banyak istilah asing, bahasanya sulit,
serta ketidaksiapan siswa dalam menerima materi tersebut.

3. Mengaitkan Hubungan antara Gen, DNA, Kromosom


Siswa kelas XII SMA Negeri 1 Batang Kuis berpendapat bahwa materi kromosom merupakan materi yang
abstrak sehingga siswa mudah lupa dalam mengingat materi ini. Walaupun materi hubungan gen, DNA dan
kromosom ini termasuk dalam kategori kesulitan rendah namun terdapat beberapa siswa yang menganggap bahwa
materi ini membosankan sehingga siswa sulit memahaminya. Seperti dikutip dari Suparyana (2014: 1) bahwa
materi biologi yang sulit dimengerti oleh sebagian besar siswa sekolah menengah adalah genetika. Kesulitan
tersebut karena materi genetika bersifat esoterik dan abstrak, yang meliputi obyek-obyek yang mikroskopik dan
proses-proses di luar pengalaman siswa sehari-hari. Selain itu, materi genetika termasuk dalam materi yang
membosankan dan melelahkan. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam memahami konsep genetika.

4. Sintesis Protein
Siswa SMA Negeri 1 Batang Kuis mengalami kesulitan dalam mempelajari materi sintesis protein
dikarenakan guru terlalu cepat menjelaskan tahap-tahap sintesis protein, banyak istilah-istilah yang rumit
dimengerti sehingga menyebabkan siswa bingung, materi yang kompleks dan luas. Seperti dikutip dari Murni (2013:
209) bahwa subkonsep struktur organisasi gen dan mekanisme sintesis protein dianggap sebagai subkonsep paling
sulit. Pada subkonsep ini juga terdapat banyak istilah asing. Siswa juga kesulitan membedakan beberapa istilah
yang digunakan pada subkonsep sintesis protein. Pada hasil penelitian Haambokoma (2001: 1) juga didapatkan
bahwa faktor-faktor kesulitan belajar siswa salah satunya disebabkan oleh guru terlalu cepat ketika mengajarkan
konsep tersebut sehingga siswa kesulitan dalam memahami konsep.

5. Menjelaskan Keterkaitan Gen, DNA-RNA-Polipeptida dan Sintesis Protein


Siswa SMA Negeri 1 Batang Kuis mengalami kesulitan dalam mempelajari materi keterkaitan gen, DNA-
RNA-Polipeptida dan sintesis protein dikarenakan siswa berpendapat bahwa materi ini berbelit-belit, abstrak,
membutuhkan panalaran yang tinggi untuk mempelajarinya, guru terlalu cepat menjelaskan tahap-tahap sintesis
protein, banyak istilah-istilah yang rumit dimengerti sehingga menyebabkan siswa bingung materi yang kompleks
dan luas, serta banyak siswa yang tidak menyukai materi ini. Subkonsep struktur organisasi gen dan mekanisme
sintesis protein dianggap sebagai subkonsep paling sulit. Pada subkonsep ini juga terdapat banyak istilah asing.
Siswa juga kesulitan membedakan beberapa istilah yang digunakan pada subkonsep ini. Menurut hasil penelitian
Murni (2013: 209) subkonsep sintesis protein sulit dipahami karena terdiri atas tahapan-tahapan yang rumit dan
melibatkan banyak enzim yang susah diingat fungsi dari masing-masingnya (Suhermiati, 2015: 986). Pada hasil

8
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

penelitian Haambokoma (2001: 1) juga didapatkan bahwa faktor-faktor kesulitan belajar siswa salah satunya
disebabkan oleh guru terlalu cepat ketika mengajarkan konsep tersebut sehingga siswa kesulitan dalam memahami
konsep.

6. Mendeskripsikan Pembelahan Mitosis dan Meiosis


Pada indikator ini, siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis mengalami kesulitan belajar yang
tergolong sedang dengan persentase siswa yang mengalami kesulitan belajar sebesar 44,93%, sementara itu siswa
yang dapat memahami materi (daya serap) sebesar 55,07%. Hal tersebut juga didukung oleh hasil penelitian
Hambookoma (2007: 1) bahwa Pada mitosis dan meiosis, siswa kesulitan dalam memahami istilah mitosis dan
meiosis, tahapan dalam pembelahan mitosis dan meiosis, serta tidak dapat membedakan pembelahan mitosis dan
meiosis.Ini menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa kelas XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis tahun
pembelajaran 2016/2017 pada aspek indikator keenam termasuk dalam kategori sedang artinya dalam
menyelesaikan soal-soal indikator keenam, siswa masih mengalami kesulitan tetapi masih dalam level yang rendah.
Pada indikator ini, siswa mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan pembelahan meiosis dan mitosis. Siswa
merasa kesulitan karena siswa tidak mengerti dengan penjelasan guru mengenai konsep pembelahan mitosis dan
meisosis. Siswa beranggapan materi tersebut abstrak, banyak hapalan, dan membutuhkan penalaran yang tinggi
untuk dapat mempelajarinya.

7. Mendeskripsikan Fase-Fase Pembelahan Mitosis dan Meiosis


Pada indikator ini, siswa mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan fase-fase pembelahan meiosis dan
mitosis dan tempat terjadinya mitosis dan meiosis. Hal ini juga didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
Pasaribu (2014: 46) bahwa kriteria kesulitan yang diperoleh siswa pada indikator mendeskripsikan fase-fase
pembelahan mitosis dan meiosis termasuk kepada tingkatan yang sedang, hal ini dikarenakan daya serap rata-rata
yang diperoleh pada indikator tersebut yaitu sebesar 67,55% dan tingkat kesulitan belajar sebesar 32,45%. Siswa
merasa kesulitan karena siswa tidak mengerti dengan penjelasan guru mengenai konsep pembelahan mitosis dan
meisosis. Banyak siswa yang tidak menyukai materi ini. Siswa beranggapan materi tersebut abstrak, banyak
hapalan, dan membutuhkan penalaran yang tinggi untuk dapat mempelajarinya.

8. Menghubungkan Pembelahan Sel dengan Pewarisan Sifat


pada aspek indikator kedelapan termasuk dalam kategori sedang artinya dalam menyelesaikan soal-soal
indikator kedelapan, siswa masih mengalami kesulitan tetapi masih dalam level yang rendah. Pada indikator ini,
siswa mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan fase-fase pembelahan meiosis dan mitosis dan
menghubungkannya dengan pewarisan sifat, serta proses spermatogenesis.
Dari kedelapan indikator tersebut, indikator yang tingkat kesulitannya tergolong tinggi bagi siswa kelas XII
IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis adalah indikator nomor lima, yaitu menjelaskan keterkaitan gen, DNA-RNA-
polipeptida dan sintesis protein. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil tes belajar siswa, bahwa hanya sedikit siswa
yang dapat menjawab dengan benar soal-soal dengan topik menjelaskan keterkaitan gen, DNA-RNA-polipeptida
dan sintesis protein.

Faktor Penyebab Kesulitan Belajar


1. Faktor Internal
Hampir semua siswa dalam keadaan sehat pada saat mempelajari materi hereditas. Begitu juga dengan
kesehatan pendengaran dan penglihatan siswa, hampir semua siswa dapat mendengar dengan jelas materi
hereditas yang disampaikan guru dan hampir semua siswa dapat melihat dengan jelas tulisan guru di papan tulis
pada saat mempelajari materi hereditas namun terdapat beberapa siswa yang kadang-kadang merasa tidak sehat,
memiliki pendengaran dan penglihatan yang tidak baik pada saat mempelajari materi hereditas ataupun pada saat
guru menjelaskan materi tersebut. Seperti yang dikutip dari Slameto (2010: 54) bahwa kesehatan seseorang
berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu,
selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk jika badannya dalam keadaan
lemah ataupun terdapat gangguan-gangguan, kelainan-kelainan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

9
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

Dari rata-rata skor siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut diperoleh hasil bahwa siswa kurang
mudah mengingat materi hereditas yang telah disampaikan guru, kebanyakan siswa jarang atau terdapat siswa
yang tidak pernah sama sekali mengeluarkan pendapat pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan
beberapa siswa tidak pernah menjawab pertanyaan dari guru ataupun dari teman pada saat diskusi dan
pembelajaran. Hal ini juga didukung oleh Sapuroh (2010: 57), dalam penelitian yang dilakukan tentang analisis
faktor kesulitan belajar siswa dominan adalah faktor internal atau diri sendiri yaitu sebesar 79,34% yang
menyangkut dengan inteligensi, minat dan motivasi. Berdasarkan hasil yang didapat pada penelitian ini, siswa
mengalami kesulitan belajar dikarenakan siswa kurang memiliki kawan dalam berdiskusi sehingga siswa tidak
memiliki target yang ingin dicapainya yang menyebabkan siswa putus asa dalam belajar.
Banyak siswa yang kurang menyukai bahkan tidak menyukai materi hereditas. Siswa hanya kadang-kadang
saja mempersiapkan diri di rumah sebelum mempelajari materi hereditas di sekolah dan banyak siswa juga hanya
kadang-kadang saja memperhatikan guru saat mengajar materi hereditas, dan banyak siswa yang sedikit
meluangkan waktunya untuk mengulang kembali pelajaran di rumah dan bahkan ada yang tidak pernah sama
sekali. Hal serupa juga didapatkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan Putri (2014: 50) bahwa faktor minat
merupakan faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dengan persentase 60,59% yakni termasuk ke dalam
kategori berpengaruh terhadap kesulitan belajar siswa. Minat siswa yang rendah ditunjukkan salah satunya yakni
siswa tidak menyukai materi pelajaran dan siswa malas mengulangi pelajaran di rumah.
Berdasarkan hasil analisis motivasi siswa dalam belajar materi hereditas diperoleh bahwa sebagian besar
siswa beranggapan bahwa semua usaha belajar yang dilakukan sepenuhnya untuk mendapatkan nilai yang baik dan
untuk mendapatkan popularitas teman dan guru, beberapa siswa juga beranggapan bahwa materi hereditas tidak
mendukung dalam pencapaian cita-cita dan bakat yang dimiliki. Dari hasil tersebut dapat diperoleh bahwa sebagian
besar siswa tidak mempunyai motivasi yang positif dalam mempelajari materi hereditas sehingga menyebabkan
kurangnya minat siswa dalam mempelajari materi tersebut. Seperti dikutip dari Dalyono (2015: 234) bahwa
motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan
semakin besar kesuksesan belajarnya. Seseorang yang besar motivasinya akan giat berusaha, gigih, tidak mau
menyerah, giat membaca buku-buku untuk meningkatkan prestasinya untuk memecahkan masalahnya.

2. Faktor Eksternal
Dukungan dan perhatian orang tua merupakan salah satu faktor yang menghambat siswa dalam
mempelajari materi hereditas. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa beberapa siswa kurang mendapat dukungan
dari orang tuanya untuk membeli buku sebagai sumber lain selain yang diberikan sekolah bahkan terdapat siswa
yang tidak mendapat dukungan sama sekali untuk membeli buku sebagai sumber lain. Terdapat beberapa siswa
yang kurang mendapat motivasi dari orangtua nya untuk belajar secara teratur, mengerjakan tugas sekolah dan
belajar sungguh-sungguh. Seperti yang dikutip dari Slameto (2010: 61) bahwa orang tua yang kurang/tidak
memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak
memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam belajar,
tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan/melengkapi alat belajarnya, tidak memperhatikan apakah
anak belajar atau tidak, tidak mahu tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami
dalam belajar dan lain-lain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajarnya.
Susana rumah yang mendukung merupakan salah satu faktor yang menghambat siswa dalam mempelajari
materi hereditas. Suasana rumah yang dimaksud adalah sebagai situasi atau kejadian-kejadian yang sering terjadi di
dalam keluarga dimana anak berada dan belajar. Suasana rumah juga merupakan faktor yang penting. Suasana
keluarga yang gaduh mengakibatkan anak tidak dapat belajar dengan baik. Anak akan selalu terganggu
konsentrasinya, sehingga sukar untuk belajar. Demikian juga suasana rumah yang selalu tegang, selalu banyak
cekcok diantara anggota keluarga dan selalu ditimpa kesedihan akan mewarnai suasana keluarga yang melahirkan
anak-anak yang tidak sehat mentalnya (Dalyono, 2015: 238). Kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta
perkampungan yang terlalu padat akan memilki pengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa. Hubungan antar
anggota keluarga yang kurang harmonis, akan menimbulkan suasana kaku dan tegang dalam keluarga, yang
menyebabkan anak kurang bersemangat untuk belajar.
Guru merupakan salah satu faktor yang menghambat siswa dalam mempelajari materi hereditas. Dari hasil
penelitian diperoleh bahwa hampir semua siswa sangat menyukai guru mata pelajaran biologi nya, tetapi terdapat

10
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

beberapa siswa kurang menyukai metode belajar yang digunakan guru saat mengajar materi hereditas dan
terdapat beberapa siswa yang beranggapan bahwa guru agak cepat dalam menjelaskan materi hereditas tersebut.
Faktor guru merupakan faktor yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan belajar siswa. Hal ini sejalan
dengan studi yang dilakukan oleh Narwoto (2013: 232) yang menyatakan bahwa kinerja mengajar guru mempunyai
pengaruh yang positif dan signitfikan terhadap prestasi belajar siswa.
Lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor yang menghambat siswa dalam mempelajari materi
hereditas. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat beberapa siswa menganggap buku-buku
pelajaran khususnya buku tentang hereditas kurang banyak disediakan di sekolah tersebut dan juga terdapat
beberapa siswa yang beranggapan bahwa sarana dan prasarana sekolah kurang memadai dalam memenuhi
kebutuhan mereka dalam belajar. Keberadaan sarana dan prasarana dapat membantu memperlancar proses
pembelajaran disekolah. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran dapat menunjukkan kondisi
pembelajaran yang baik. Dengan demikian dapat diketahui bahwa proses pembelajaran akan berjalan dengan baik
apabila sarana dan prasarana pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa sudah terpenuhi. Prasarana pembelajaran
meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku
bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah serta berbagai media pembelajaran lainnya (Wulandari, dkk: 2014:
26). Oleh karena itu, tidak lengkapnya sarana dan prasarana di sekolah dapat menyebabkan kesulitan belajar siswa.
Berdasarkan analisis deskriptif terhadap faktor kesulitan belajar siswa, diperoleh bahwa persentase faktor
materi pelajaran adalah 79,34% yang termasuk dalam kategori menghambat. Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh bahwa hampir semua siswa menganggap materi hereditas merupakan materi hafalan dan hitungan
sehingga mereka menganggap bahwa materi ini membosankan sehingga sulit dipelajari dan dipahami. Hal serupa
juga didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan Sinaga (2015: 80) bahwa materi pelajaran merupakan faktor
yang menghambat siswa dalam mempelajari materi pelajaran hereditas. Ini ditunjukkan dengan persentase pada
faktor materi pelajaran sebesar 68,11% termasuk dalam kategori menghambat. Siswa menganggap bahwa materi
hereditas merupakan materi yang sulit dan merupakan salah satu materi yang berisi biologi kuantitatif sehingga
sulit untuk mempelajarinya.
Berdasarkan analisis deskriptif terhadap faktor kesulitan belajar siswa, diperoleh bahwa persentase faktor
media adalah 61,50% yang termasuk dalam kategori menghambat. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa
terdapat beberapa siswa yang tidak menyukai buku bacaan dan acara televisi yang membahas seputar hereditas
dan pewarisan sifat dan terdapat beberapa siswa juga tidak pernah membaca bacaan seputar hereditas kerna
menganggap bahwa tidak menambah pengetahuan mereka dalam mempelajari materi tersebut. Hal ini juga
didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Hasruddin dan Putri (2016: 274) bahwa media massa merupakan
faktor yang berpengaruh terhadap kesulitan belajar siswa dengan persentase pengaruh faktor media massa
sebesar 67,01%. Seperti yang dikutip dalam Slameto (2010: 70) bahwa mass media yang baik akan memberi
pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya. Sebaliknya mass media yang jelek juga
berpengaruh jelek terhadap siswa. Sebagai contoh, siswa yang suka nonton film atau membaca cerita-cerita
detektif, pergaulan bebas akan berkecendrungan untuk berbuat seperti tokoh yang dikagumi dalam cerita tersebut,
karena pengaruh dari jalan ceritanya.

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Kesulitan belajar siswa
kelas XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis tahun pembelajaran 2016/2017 pada materi hereditas yang paling tinggi
berdasarkan aspek kognitif adalah pada aspek kognitif soal C6 yaitu sebesar 73,88% sedangkan untuk kesulitan
belajar siswa yang paling tinggi berdasarkan indikator pembelajaran yaitu pada indikator ke-5 yaitu menjelaskan
keterkaitan gen, DNA-RNA-polipeptida dan sintesis protein sebesar 62,37%. (2) Faktor penyebab kesulitan belajar
siswa pada materi hereditas di kelas XII IPA SMA Negeri 1 Batang Kuis tahun pembelajaran 2016/2017 terdiri dari
faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang menyebabkan siswa kesulitan dalam mempelajari materi
hereditas adalah inteligensi, minat, dan motivasi. Sedangkan faktor eksternal yang menyebabkan siswa kesulitan
dalam mempelajari materi hereditas adalah suasana rumah, materi pelajaran dan media massa.

11
Jurnal Pelita Pendidikan Vol. X No. X. Bulan 201x ISSN 2338-20xx (cetak)
Maisyarah et al. ISSN 2502-32xx (online)
Halaman : 001 - 012

UCAPAN TERIMA KASIH


Terima kasih kepada dosen pembimbing, Dr. Hasruddin, M.Pd, yang telah banyak memberikan banyak
masukan dan saran hingga terselesaikannya penelitian ini. Selain itu, ucapan terimakasih juga disampaikan kepada
Bapak Drs. Ramlan, M.Pd, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Batang Kuis serta Bapak Drs. Rengkap Sitepu dan Ibu
Supini, S.Pd, selaku guru Biologi SMA Negeri 1 Batang Kuis yang telah membimbing selama penelitian berlangsung
serta siswa-siswi kelas X MIA yang telah banyak membantu selama penelitian berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Aswirna, P., (2012), Peningkatan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Kimia dengan Penerapan Cooperative
Learning Model Jigsaw pada Kelas X IPA 3 di SMA Negeri 1 Padang, Jurnal Al-Ta’lim, 1 (2) : 158-165.
Dalyono, (2015), Psikologi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Faisal, (2015), Mengintegrasikan Revisi Taksonomi Bloom Kedalam Pembelajaran Biologi, Jurnal Sinsmat, IV (2) :
102-112
Haambokoma, C., (2007), Nature and Cause of Learning Difficulties in Genetics at High School Level in Zambia,
Journal of International Development and Cooperation, 13 (1) : 1-9.
Hasruddin, Putri, S., E., (2014), Analysis of Students’ Learning Difficulties in Fungi Subject Matter Grade X Science of
Senior High School Medan Academic Year 2013/2014, International Journal of Education and Research, 2 (8):
269-276.
Narwoto, (2013), Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Prestasi Belajar Teori Kejuruan Siswa SMK, Jurnal
Pendidikan Vokasi, 3 (2) : 222: 233.
Roini, C., (2013), Organisasi Konsep Genetika pada Buku Biologi SMA Kelas XII, Jurnal Edubio, 1 (1) : 1-60.
Sapuroh (2010), Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Memahami Konsep Biologi pada Konsep Monera, Skripsi,
FMIPA, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Sardini, Buwono, S., Parijo (2013), Pengaruh Minat Belajar Terhadap Hasil Belajar Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas XI
IPS MAN Pontianak, Artikel Penelitian, Universitas Tanjung Pura, Pontianak.
Sianturi, S., Gultom, T., (2016), Analisis Kesulitan Belajar dan Hubungannya dengan Hasil Belajar Siswa pada Mata
Pelajaran Biologi Siswa Kelas X di SMA Negeri 1 Sidikalang Tahun Pembelajaran 2015/2016. Jurnal Pelita
Pendidikan, 4 (1) : 170-178.
Siregar dan Nara, (2010), Teori Belajar dan Pembelajaran, Ghalia Indonesia, Bogor.
Sunyono, Wirya, W., Suyanto, E., Suyadi, G., (2009), Identifikasi Masalah Kesulitan dalam Pembelajaran Kimia SMA
Kelas X di Provinsi Lampung, Jurnal Pendidikan MIPA (JPMIPA), 10 (2) : 305-320.
Syah, M., (2012), Psikologi Belajar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Tekkaya, C., Ozkan, O., Sungur, S., (2001), Biology Concepts Perceived As Difficult by Turkish High School Students,
Hacettepe Universitesi Fakultesi Dergisi, 21 : 145-150.
Topcu, M., S., Pekmez, E., S., (2009), Turkish Middle School Students’ Difficulties in Learning Genetics Concepts,
Journal of Turkish Science Education, 6 (2) : 55-62.
Winkel, W.S., (2009), Psikologi Pengajaran, Media Abadi, Yogyakarta.
Wulandari, M., Djaja, S., Suharso, P., (2014), Analisis Kesulitan Belajar Akuntansi Pada Materi Jurnal Penyesuaian
(Studi Kasus Pada Siswa Kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Pakusari Tahun Ajaran 2013-2014), Jurnal Edukasi, 1 (2):
23-27.

12