You are on page 1of 41

MAKALAH

“PERSALINAN BERISIKO DAN TRAUMA MELAHIRKAN”

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan Maternitas II

Disusun Oleh:
Kelompok 1

Anggi Putri Utami C1AA16009


Dido Royadi C1AA16023
Ega Mulyana C1AA16027
Pahmi Ramdan C1AA16077
Rini Wahyuni C1AA16085
Risha Ayu Pratiwi C1AA16087
Vicky Ocktavya L. C1AA16111

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


SUKABUMI
Jalan Karamat No.36 Telp. (0266) 210215 Fax. (0266) 223709 Kota Sukabumi
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Persalinan Berisiko & Trauma Melahirkan”.

Tak lupa shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Besar
Muhammad SAW beserta keluarga para sahabat dan pengikutnya.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Keperawatan Maternitas II. Dalam penyusunan makalah ini kami banyak
mendapatkan saran, dorongan, serta keterangan-keterangan dari berbagai sumber
yang merupakan pengalaman yang tidak dapat diukur secara materi, sesungguhnya
pengalaman dan pengetahuan tersebut adalah guru terbaik bagi kami sebagai
penyusun. Oleh karena itu, dengan segala hormat dan kerendahan hati
perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak
mungkin kami sebutkan satu persatu yang telah membantu sehingga makalah ini
dapat diselesaikan.

Semoga amal baik yang telah mereka berikan kepada penyusun mendapat
imbalan yang setimpal bahkan berlipat dari Allah SWT. Akhirnya kami berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya. Amin.

Sukabumi, 10 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

BAB 1 : PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
1. Tujuan Umum 2
2. Tujuan Khusus 2

BAB 2 : PEMBAHASAN 3

A. Persalinan Berisiko 3
1. Distosia 3
2. Premature 16
3. Postmature 24
B. Trauma Melahirkan 27
1. Inkontinensia Urin pada Ibu Pos Partum 27
2. Fistula Genitalia 37

BAB 3 :PENUTUP 37

A. Kesimpulan 37
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita.


Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk
dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir (Decherney et al, 2007). Tujuan dari
pengelolaan proses persalinan adalah mendorong kelahiran yang aman bagi ibu
dan bayi sehingga dibutuhkan peran dari petugas kesehatan untuk mengantisipasi
dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan bayi, sebab
kematian ibu dan bayi sering terjadi terutama saat proses persalinan (Koblinsky et
al, 2006).

Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012


Angka Kematian Ibu (AKI) akibat persalinan di Indonesia masih tinggi yaitu
208/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 26/1.000 kelahiran
hidup (Kemenkes RI, 2013). Penyebab tingginya angka kematian ibu antara lain,
terlalu muda atau terlalu tua saat melahirkan, tidak melakukan pemeriksaan
kehamilan secara teratur, dan banyaknya persalinan yang ditolong oleh tenaga non
profesional (Koblinsky et al, 2006).

Proses persalinan bisa jadi momok yang menakutkan bagi ibu hamil,
sehingga jangan sampai proses tersebut diperburuk oleh kurangnya pemahaman
mengenai tanda awal persalinan. Mengetahui tanda-tanda awal persalinan
merupakan modal penting yang perlu dimiliki oleh setiap ibu hamil. Hal ini
bertujuan untuk mendeteksi adanya komplikasi yang beresiko pada saat persalinan
nanti, sehingga akan tercipta persalinan normal, aman bagi ibu dan bayinya
(Abdilla, 2011).

Tentunya semua ibu hamil di seluruh dunia menginginkan proses kehamilan


dan proses kehamilan yang lancar tanpa ada hambatan, tetapi nyatanya dalam

1
2

proses persalinan masih banyak risiko-risiko yang sering terjadi antara lain distosia,
persalinan premature bahkan persalinan postmature. Tidak hanya sampai di situ
setelah melahirkan pun, wanita akan dihadapkan dengan berbagai trauma
melahirkan seperti inkontinensia urine dan fistula genitalia, tentunya semua itu bisa
dicegah dengan penanganan yang tepat.

Melihat betapa pentingnya masalah di atas, kita sebagai calon tenaga


kesehatan khususnya perawat, harus mampu mengetahui masalah-masalah pada
persalinan yang berisiko dan trauma setelah melahirkan. Maka kami merasa tertarik
dan perlu untuk mempelajari lebih jauh dan membuat makalah tentang “Persalinan
Berisiko & Trauma Melahirkan”.

B. Rumusan Masalah

Atas dasar penentuan latar belakang di atas, maka kami dapat mengambil
perumusan masalah yaitu:

1. Bagaimana konsep dasar distosia?


2. Bagaimana konsep dasar persalinan premature?
3. Bagaimana konsep dasar persalinan postmature?
4. Bagaimana konsep dasar incontinensia urin pada ibu postpartum?
5. Bagaiman konsep dasar fistula genitalia?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui tentang
persalinan berisiko dan trauma melahirkan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui konsep dasar distosia.
b. Untuk mengetahui konsep dasar persalinan premature.
c. Untuk mengetahui konsep persalinan postmature.
d. Untuk mengetahui konsep dasar incontinensia urin pada ibu postpartum.
e. Untuk mengetahui konsep dasar fistula genitalia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Persalinan Beresiko
1. Distosia
a. Pengertian
Persalinan distosia adalah persalinan yang memerlukan bantuan dari luar
karena terjadi penyimpangan dari konsep eutosia 3P (power, passage, passenger)
(Manuaba,1998). Menurut Rustam Mochtar (1998), distosia adalah kesulitan dalam
jalannya persalinan. Sedangkan secara harfiah, distosia diartikan sebagai persalinan
sulit yang ditandai dengan kemajuan persalinan yang lambat (Al-fathdry, 2002).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Bobak (2004) bahwa “distosia adalah persalinan
yang panjang, sulit atau abnormal yang timbul akibat berbagai kondisi yang
berhubungan dengan lima faktor persalinan”.

b. Klasifikasi
1) Distosia Karena Kelainan Presentasi
Malpersentasi adalah semua persentasi janin selain vertex sementara
malposisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai
titik referens, masalah; janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi
kemungkinan menyebabkan partus lama. Kelainan letak, persentasi atau posisi:
a) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten
Yaitu persalinan persentasi belakang kepala.
b) Presentasi Puncak Kepala
Bila defleksinya ringan sehingga UUB merupakan bagian terendah.
c) Presentasi Muka
Dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal sehingga oksiput
tertekan pada punggung.

3
4

d) Presentasi Dahi
Kedudukan kepala berada antara fleksi maksimal dan defleksi maksimal
sehingga dahi merupakan bagian terendah.
e) Letak Sungsang
Janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di
bagian bawah kavum uteri.
f) Letak Lintang
Sumbu memanjang janin menyilang, sumbu memanjang ibu tegak lurus
atau mendekati 90 derajat.
g) Presentasi Ganda
Keadaan dimana disamping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai
tangan, lengan atau kaki, atau keadaan di samping bokong janin dijumpai
tangan.

2) Distosia Karena Kelainan Tenaga dan / His


a) Inersia uteri atau Hypotonic uterine countraction.
Kontraksi uterus lebih lemah, singkat dan jarang daripada normal. Keadaan
umum biasanya baik, dan rasa nyeri tidak seberapa.
b) His terlampau kuat atau Hypertonic uterine contraction (tetania uteri)
His yang terlalu kuat dan sering menyebabkan persalinan berlangsung
singkat tanpa relaksasi rahim. Hal ini dapat membahayakan bagi ibu karena
terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir (dapat menyebabkan ruptura uteri)
sedangkan bayi bisa mengalami perdarahan dalam tengkorak karena mendapat
tekanan kuat dalam waktu singkat.
c) Aksi uterus inkoordinasi atau uncoordinate hypertonic uterine contraction.
d) Sifat his yang tidak berubah dimana tidak ada koordinasi dan sinkronisasi
antara kontraksi dan bagian-bagiannya. Jadi kontraksi tidak efisien dalam
mengadakan pembukaan, apalagi dalam pengeluaran janin.
5

3) Distosia Karena Alat Kandungan dan Jalan Lahir


Meliputi alat kelamin luar dan dalam, adapun yang bisa mempengaruhi
kemajuan persalinan dapat dijabarkan sebagai berikut :
a) Pada Vulva
- Edema ditemukan pada persalinan lama yang disebabkan pasien dibiarkan
mengedan terus,jarang mempengaruhi kelangsungan persalinan.
- Stenosis pada vulva yang diakibatkan oleh radang dapat sembuh dan
meninggalkan jaringan perut sehingga mengalami kesulitan pada kala
pengeluaran sehingga diperlukan episiotomy yang cukup luas.
- Tumor dalam bentuk neoplasma.
b) Pada Vagina
- Septum vagina yang tidak lengkap menyebabkan kadang-kadang menahan
turunnya kepala janin sehingga harus dipotong dahulu.
- Stenosis vagina yang tetap kaku menyebabkan halangan untuk lahirnya
janin perlu dipertimbangkan seksio sesaria.
- Tumor vagina menyebabkan rintangan persalinan pervaginam,beresiko
kelancaran persalinan pervaginam.
c) Pada Uterus
- Posisi anterversio uteri (posisi uterus ke depan)pada kala 1 pembukaan
kurang lancar sehingga tenaga his salah arah,ajurkan ibu untuk tidur pada
posisi terlentang.
- Kelainan uterus seperti uterus sub septus dan uterus arkuatus yang
menyebabkan terjadinya letak lintang dan tidak bisa dikoreksi.biasanya
jalannya partus kurang lancar dan his kurang lancar yang menyebabkan
fungsi uterus kurang baik.
d) Kelainan pada Ovarium
- Kista ovarium, jika tempatnya di daerah fundus maka persalinan dapat
berlangsung normal.
- Jika kedudukan kista di pelvis minor,maka dapat menganggu persalinan
dan persalinan diakhiri dengan seksio saesaria.
6

4) Distosia Karena Kelainan Janin


a) Pertumbuhan Janin yang Berlebihan (Janin Besar)
Dikenal dengan makrosomia, atau giant baby adalah bayi dengan berat
badan diatas 4 kilogram.
b) Hydrosefalus
Hydrosefalus adalah keadaan dimana terjadi penimbunan cairan
serebrospinalis dalam pentrikel otak, sehingga kepala menjadi besar serta
terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam
pentrikel biasanya antara 500-1500 ml, akan tetapi kadang-kadang dapat
mencapai 5 liter. Hydrosefalus seringkali disertai kelainan bawaan lain seperti
misalnya spinabifida.
c) Anencefalus
Suatu kelainan congenital dimana tulang tengkorak hanya terbentuk dari
bagian basal dari os frontalis, os parietalis, dan os oksipitali, os orbita sempit
hingga nampak penonjolan bola mata.
d) Kembar Siam
Terjadi pada janin kembar, melekat dengan penyatuan janin secara lateral.
Pada banyak kasus biasanya terjadi persalinan premature. Apabila terjadi
kemacetan dapat dilakukan tindakan vaginal dengan merusak janin atau
melakukan section saesaria.
e) Gawat janin
Terjadi bila janin tidak menerima cukup oksigen, sehingga mengalami
hipoksia .

5) Distosia Karena Kelainan Panggul


a) Jenis Kelainan Panggul (Caldwell Moloy)
- Panggul ginekoid
- Panggul anthropoid
- Panggul android
- Panggul platipeloid
7

b) Perubahan Panggul Menurut Munro Kerr


- Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intruretin
- Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang panggul dan atau sendi
- Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang
- Perubahan bentuk karena penyakit kaki
1) Perubahan Bentuk Karena Kelainan Pertumbuhan Intrauretin
- Panggul naegele
- Panggul Robert
- Split pelvis
- Panggul asimilasi
2) Perubahan Bentuk Karena Penyakit pada Tulang Panggul dan atau Sendi
- Rakitis
- Osteoplasma
- Neoplasma
- Fraktur
- Atrofi
- Penyakit sendi

c. Etiologi
Distosia dapat disebabkan oleh:
1) Kelainan tenaga/power
2) Kelainan jalan lahir/ passage
3) Kelainan letak dan bentuk janin/ passanger

d. Manifestasi Klinis
1) Manifestasi klinik pada Ibu:
a) Gelisah
b) Letih
c) Suhu tubuh meningkat
d) Nadi dan pernafasan cepat
e) Edema pada vulva dan serviks
8

f) Bisa jadi ketuban berbau

2) Manifestasi klinik pada Janin:


a) DJJ cepat dan tidak teratur

e. Patofisiologi
His yang normal dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang
kemudian menjalar merata simetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi
kekuatan pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling dominan, kemudian
mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh hingga tekanan dalam ruang
amnion balik ke asalnya +10 mmHg.
Incoordinate uterin action yaitu sifat his yang berubah. Tonus otot uterus
meningkat juga di luar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena
tidak ada sinkronasi kontraksi bagian-bagiannya Tidak adanya koordinasi antara
kontraksi atas, tengah dan bawah menyebabkan tidak efisien dalam mengadakan
pembukaan.
Disamping itu tonus otot yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih
keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin. His ini
juga disebut sebagai incoordinate hipertonic uterin contraction. Kadang-kadang
pada persalinan lama dengan ketuban yang sudah lama pecah, kelainan his ini
menyebabkan spasmus sirkuler setempat, sehingga terjadi penyempitan kavum
uterin pada tempat itu. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran kontriksi.
Secara teoritis lingkaran ini dapat terjadi dimana-mana, tapi biasanya ditemukan
pada batas antara bagian atas dengan segmen bawah uterus. Lingkaran kontriksi
tidak dapat diketahui degan pemeriksaan dalam, kecuali kalau pembukaan sudah
lengkap sehingga tangan dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri.

f. Komplikasi
1) Komplikasi Maternal
a) Perdarahan pasca persalinan
b) Fistula Rectovaginal
9

c) Simfisiolisis atau diathesis, dengan atau tanpa “transient femoral


neuropathy”
d) Robekan perineum derajat III atau IV
e) Rupture Uteri
2) Komplikasi fetal
a) Brachial plexus palsy
b) Fraktura Clavicle
c) Kematian janin
d) Hipoksia janin , dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen
e) Fraktura humerus

g. Pemeriksaan Penunjang
1) Foto Rontgen
2) MRI
3) USG
4) X-ray

h. Penatalaksanaan
a) Penanganan Umum
a) Nilai dengan segera keadaan umum ibu dan janin
b) Lakukan penilaian kondisi janin: Denyut Jantung Janin
c) Kolaborasi dalam pemberian :
- Infus RL dan larutan NaCL isotonik (IV)
- Berikan analgesik berupa tramandol/ peptidin 25 mg (IM) atau morvin10
mg (IM)
d) Perbaiki keadaan umum
- Berikan dukungan emosional dan perubahan posisi
- Berikan cairan
b) Penanganan Khusus
a) Kelainan His
- Tekanan Darah diukur tiap 4 jam
10

- DJJ tiap 1/2 jam pada kala I dan tingkatkan pada kala II
- Pemeriksaan dalam
- Kolaborasi : Infus RL 5% dan larutan NaCL isotonic (IV), berikan
analgetik seperti petidin, morfin dan pemberian oksitosin untuk
memperbaiki his.
b) Kelainan Janin
- Pemeriksaan dalam
- Pemeriksaan luar
- MRI (Magnetic Resonance Imaging)
- Jika sampai kala II tidak ada kemajuan dapat dilakukan seksiosesaria
baik primer pada awal persalinan maupun sekunder pada akhir
persalinan.
c) Kelainan Jalan Lahir
- Dilakukan eksisi sebisa mungkin sehingga persalinan berjalan lancar.
- Jika sulit dan terlalu lebar, dianjurkan untuk melakukan SC.

i. Asuhan Keperawatan Distosia


1) Pengkajian
a) Identitas Klien
b) Riwayat Kesehatan
- Riwayat Kesehatan Dahulu
Yang perlu dikaji pada klien, biasanya klien pernah mengalami
distosia sebelumnya, biasanya ada penyulit persalinan sebelumnya seperti
hipertensi, anemia, panggul sempit, biasanya ada riwayat DM, biasanya ada
riwayat kembar dan lain-lain.
- Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya dalam kehamilan sekarang ada kelainan seperti: kelainan
letak janin (lintang, sunsang) apa yang menjadi presentasi dan lain-lain.
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit kelainan
darah, DM, eklamsi dan pre eklamsi.
11

c) Pemeriksaan Fisik
- Kepala: rambut tidak rontok, kulit kepala bersihtidak ada ketombe
- Mata: biasanya konjungtiva anemis
- Thorak, Inpeksi pernafasan : frekuensi, kedalam, jenis pernafasan, biasanya
ada bagian paru yang tertinggal saat pernafasan
- Abdomen: kaji his (kekuatan, frekuensi, lama), biasanya his kurang
semenjak awal persalinan atau menurun saat persalinan, biasanya posisi,
letak, presentasi dan sikap anak normal atau tidak, raba fundus keras atau
lembek, biasanya anak kembar/ tidak, lakukan perabaab pada simpisis
biasanya blas penuh/ tidak untuk mengetahui adanya distensi usus dan
kandung kemih.
- Vulva dan Vagina, lakukan VT : biasanya ketuban sudah pecah atau belum,
edema pada vulva/ servik, biasanya teraba promantorium, ada/ tidaknya
kemajuan persalinan, biasanya teraba jaringan plasenta untuk
mengidentifikasi adanya plasenta previa.
- Panggul: lakukan pemeriksaan panggul luar, biasanya ada kelainan bentuk
panggul dan kelainan tulang belakang.

2) Diagnosa Keperawatan
a) Nyeri berhubungan dengan tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi
tidak efektif
b) Resiko tinggi cedera janin berhubungan dengan penekanan kepala pada
panggul, partus lama, CPD
c) Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan hipermetabolisme,
muntah, pembatasan masukan cairan
d) Resiko tinggi cedera maternal berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak
karena persalinan lama, intervensi penanganan lama
e) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan rupture membrane, tindakan
invasive SC atau VT
f) Kecemasan berhubungan dengan persalinan lama
12

3) Intervensi Keperawatan
a) Nyeri b/d tekanan kepala pada servik, partus lama, kontraksi tidak efektif
Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi/ nyeri berkurang
Kriteria :
- Klien tidak merasakan nyeri lagi
- Klien tampak rileks
- Kontraksi uterus efektif
- Kemajuan persalinan baik
Intervensi :
- Kaji sifat, lokasi dan durasi nyeri, kontraksi uterus, hemiragic dan nyeri
tekan abdomen
R/ Membantu dalam mendiagnosa dan memilih tindakan, penekanan
kepala pada servik yang berlangsung lama akan menyebabkan nyeri
- Kaji intensitas nyeri klien dengan skala nyeri
R/ Setiap individu mempunyai tingkat ambang nyeri yang
berbeda, dengan skala dapat diketahui intensitas nyeri klien
- Kaji stress psikologis/ pasangan dan respon emosional terhadap kejadian
R/ Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat
memperberat derajat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan takut
nyeri
- Berikan lingkungan yang nyaman, tenang dan aktivitas untuk mengalihkan
nyeri, bantu klien dalam menggunakan metode relaksasi dan jelaskan
prosedur
R/ Teknik relaksasi dapat mengalihkan perhatian dan mengurangi nyeri
- Berikan dukungan social/ dukungan keluarga
R/ Dengan kehadiran keluarga akan membuat klien nyaman, dan dapat
mengurangi tingkat kecemasan dalam melewati persalinan, klien merasa
diperhatikan dan perhatian terhadap nyeri akan terhindari
- Kolaborasi dalam pemberian obat (narkotik dan sedatif) sesuai indikasi
R/ Pemberian narkotik atau sedative dapat mengurangi nyeri hebat
13

b) Resiko tinggi cedera janin b/d penekanan kepala pada panggul, partus lama,
CPD
Tujuan : Cedera pada janin dapat dihindari
Kriteria :
- DJJ dalam batas normal
- Kemajuan persalinan baik
Intervensi :
- Lakukan manuver Leopold untuk menentukan posis janin dan presentasi
R/ Berbaring tranfersal atau presensasi bokong memerlukan kelahiran
sesarea. Abnormalitas lain seperti presentasi wajah, dagu, dan posterior
juga dapat memerlukan intervensi khusus untuk mencegah persalinan yang
lama
- Kaji data dasar DJJ secara manual dan atau elektronik, pantau dengan
sering perhatikan variasi DJJ dan perubahan periodic pada respon terhadap
kontraksi uterus
R/ DJJ harus direntang dari 120-160 dengan variasi rata-rata percepatan
dengan variasi rata-rata, percepatan dalam respon terhadap aktivitas
maternal, gerakan janin dan kontraksi uterus.
- Catat kemajuan persalinan
R/ Persalinan lama/ disfungsional dengan perpanjangan fase laten dapat
menimbulkan masalah kelelahan ibu, stress berat, infeksi berat, haemoragi
karena atonia/ rupture uterus. Menempatkan janin pada resiko lebih tinggi
terhadap hipoksia dan cedera
- Infeksi perineum ibu terhadap kutil vagina, lesi herpes atau rabas klamidial
R/ Penyakit hubungan kelamin didapat oleh janin selama proses
melahirkan karena itu persalinan sesaria dapat diidentifikasi khususnya
klien dengan virus herpes simplek tipe II
- Catat DJJ bila ketuban pecah setiap 15 menit
R/ Perubahan pada tekanan caitan amnion dengan rupture atau variasi
deselerasi DJJ setelah robek dapat menunjukkan kompresi tali pusat yang
menurunkan transfer oksigen kejanin
14

- Posisi klien pada posisi punggung janin


R/ Meningkatkan perfusi plasenta/ mencegah sindrom hipotensif telentang

c) Resiko tinggi kekurangan cairan b/d hipermetabolisme, muntah, pembatasan


masukan cairan
Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda kekurangan volume cairan
Intervensi :
- Observasi penyebab kekurangan volume cairan
R/ Sebagai data dasar dalam menetapkan intervensi
- Kaji tanda-tanda dehidrasi
R/ Untuk mengetahui secara dini adanya tanda-tanda dehidrasi dan
ditangani cesara cepat dan tepat
- Ukur intake dan output cairan
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan
- Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai indikasi
R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan cairan

d) Resiko tinggi cedera maternal b/d kerusakan jaringan lunak karena persalinan
lama, intervensi penanganan lama
Tujuan : Tidak terjadi cedera
Kriteria :
- Persalinan adekuat untuk menghasilkan dilatasi
- Terjadi kelahiran tanpa komplikasi maternal
Intervensi :
- Kaji frekuensi kontraksi uterus
R/ Memberikan data dasar untuk menentukan intervensi selanjutnya
- Pantau kemajuan dilatasi servik dan pendataran
R/ Untuk mengetahui perkembangan dilatasi servik
- Pantau masukan dan haluaran
R/ Untuk mengetahui keseimbangan cairan tubuh
15

- Kaji adanya dehidrsi


R/ Untuk memberikan penanganan secara cepat dan tepat
- Beri oksitosin sesuai program
R/ Oksitosin berperan untuk merangsang kontaksi

e) Resiko tinggi infeksi b/d rupture membrane, tindakan invasive SC atau VT


Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria :
- Tidak didapatkan tanda-tanda infeksi
- Integritas kulit mengalami peningkatan (jika dilakukan SC)
Intervensi :
- Cuci tangan dengan sabun anti mikroba
R/ Untuk mencegah kontaminasi mikroba
- Gunakan universal precaution dan sarung tangan steril jika melakukan
Vaginal Toucher
R/ Mengurangi transmisi mikroba sebagai pencegahan infeksi
- Kaji suhu badan setiap 4 jam
R/ Peningkatan suhu tubuh merupakan tanda adanya infeksi
- Kaji turgor, warna, dan tekstur kulit ibu setelah dilakukan SC
R/ Untuk mengetahui adanya tanda-tanda infeksi
- Berikan perawatan luka yang tepat jika dilakukan SC pada ibu
R/ Perawatan luka yang tepat mengurangi resiko infeksi
- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi
R/ Antibiotik berperan sebagai anti infeksi

f) Kecemasan b/d persalinan lama


Tujuan : Klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.
Kriteria : Klien tidak cemas, penderita tenang, klien tidak gelisah.
Intervensi :
- Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.
R/ Untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan
16

- Beri penjelasan tentang kondisi janin


R/ Mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.
- Beri informasi tentang kondisi klien
R/ Mengembalikan kepercayaan dan klien.
- Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat
R/ Dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien
- Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan
R/ Membina hubungan saling percaya sehingga dapat mengurangi
kecemasan

2. Premature
a. Pengertian
Persalinan merupakan suatu diagnosis klinis yang terdiri dari dua unsur,
yaitu kontraksi uterus yang frekuensi dan intensitasnya semakin meningkat, serta
dilatasi dan pembukaan serviks secara bertahap (Norwitz & Schorge, 2008).
Persalinan prematur adalah suatu persalinan dari hasil konsepsi yang dapat
hidup tetapi belum aterm (cukup bulan). Berat janin antara 1000- 2500 gram atau
tua kehamilan antara 28 minggu sampai 36 minggu (Wiknjosastro, 2007).

b. Angka Kejadian
Di negara berkembang angka kejadian persalinan preterm jauh lebih tinggi
yaitu di India 30%, Afrika Selatan 15%, Sudan 31% dan Malaysia 10%. Angka
kejadian kelahiran preterm di Indonesia sekitar 19% dan merupakan penyebab
utama kematian perinatal (Kusumawati dkk, 2011 dalam Tri Anasari & Ika
Pantiawati, 2016).

c. Klasifikasi
Menurut usia kehamilannya maka prematur dibedakan menjadi
beberapa, yaitu:
1) Usia kehamilan 32 – 36 minggu disebut persalinan prematur (preterm)
17

2) Usia kehamilan 28 – 32 minggu disebut persalinan sangat prematur (very


preterm)
3) Usia kehamilan 20 – 27 minggu disebut persalinan ekstrim prematur (extremely
preterm)
Menurut berat badan lahir, bayi prematur dibagi dalam kelompok:
1) Berat badan bayi 1500 – 2500 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR)
2) Berat badan bayi 1000 – 1500 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahir
Sangat Rendah (BBLSR)
3) Berat badan bayi < 1000 gram disebut bayi dengan Berat Badan Lahi Ekstrim
Rendah (BBLER) (Krisnadi, 2009).

d. Faktor Risiko
1) Faktor Iatrogenik (Indikasi Medis pada Ibu/ Janin)
Pengakhiran kehamilan yang terlalu dini dengan seksio sesarea karena
alasan bahwa bayi lebih baik dirawat di bangsal anak daripada dibiarkan dalam
rahim. Hal ini dilakukan dengan alasan ibu atau janin dalam keadaan seperti
diabetes maternal, penyakit hipertensi dalam kehamilan dan terjadi gangguan
pertumbuhan intrauterin (Oxorn, 2003).

2) Faktor Maternal

a) Umur Ibu
Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20 – 35 tahun. Pada
kehamilan diusia kurang dari 20 tahun secara fisik dan psikis masih kurang,
misalnya dalam perhatian untuk pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi selama
kehamilannya. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun berkaitan dengan
kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering
menimpa diusia ini (Widyastuti, dkk, 2009).
b) Paritas Ibu

Para adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup
(Saifuddin, 2007). Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500
18

gram yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati, bila berat badan tidak diketahui,
maka dipakai umur kehamilan lebih dari 24 minggu (Sumarah, 2008).
Macam paritas menurut Varney (2008) dibagi menjadi:
- Primiparitas
Seorang wanita yang telah melahirkan bayi hidup atau mati untuk pertama kali.
- Multiparitas
Wanita yang telah melahirkan bayi hidup atau mati beberapa kali (sampai 5 kali
atau lebih).
c) Trauma
Terjatuh, setelah berhubungan badan, terpukul pada perut atau mempunyai
luka bekas operasi/ pembedahan seperti bekas luka SC merupakan trauma fisik pada
ibu yang dapat mempengaruhi kehamilan. Sedangkan trauma psikis yang dapat
mempengaruhi kehamilan ibu adalah stres atau terlalu banyak pikiran sehingga
kehamilan ibu terganggu (Oxorn, 2003).
Melakukan hubungan seksual dapat terjadi trauma kerena menimbulkan
rangsangan pada uterus sehingga terjadi kontraksi uterus (Bobak, 2004). Sperma
yang mengandung hormon prostaglandin merupakan hormon yang dapat
merangsang kontraksi uterus.
d) Riwayat Prematur Sebelumnya
Persalinan prematur dapat terjadi pada ibu dengan riwayat prematur
sebelumnya (Rayburn, 2001). Menurut Oxorn (2003) risiko persalinan prematur
berulang bagi wanita yang persalinan pertamanya preterm, dapat meningkat tiga
kali lipat dibanding dengan wanita yang persalinan pertamanya mencapai aterm.
Ibu yang tidak dapat melahirkan bayi sampai usia aterm dapat disebabkan
karena kandungan/ rahim ibu yang lemah atau faktor lain yang belum diketahui
jelas penyebabnya. Pemeriksaan dan perawatan antenatal yang ketat pada ibu hamil
yang pernah mengalami prematur sebelumnya merupakan cara untuk
meminimalkan risiko terjadinya persalinan prematur kembali. Selain itu kesehatan
ibu dan janin dapat dijaga semaksimal mungkin untuk menghindari besarnya
persalinan prematur dapat terulang dan membahayakan kelangsungan bayi yang
dilahirkan.
19

e) Plasenta Previa
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus,
baik posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang sempurna
menutupi os serviks (Varney, 2007). Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat
menutupi seluruh osteum uteri internum, sebagian atau tepi plasenta berada sekitar
pinggir osteum uteri internum (Wiknjosastro, 2007).
f) Inkompetensi Serviks
Inkompetensi serviks merupakan kondisi ketidakmampuan serviks untuk
mempertahankan kehamilan hingga waktu kelahiran tiba karena efek fungsional
serviks. Inkompetensi serviks ditandai dengan terjadinya pembukaan serviks tanpa
nyeri dan berakhir dengan ketuban pecah dini saat preterm, sehingga terjadi
kelahiran preterm, bahkan lahirnya bayi sebelum mampu bertahan hidup di luar
rahim. Gejala yang terjadi dapat berupa pengeluaran cairan vagina yang encer,
tekanan pada panggul, perdarahan per vaginam, dan ketuban pecah dini preterm,
namun pada sebagian besar wanita tidak terjadi gejala apapun (Norwitz & Schorge,
2008).
g) Infeksi Intra-Amnion
Infeksi intra-amnion merupakan infeksi yang terjadi akibat ketuban pecah
lebih dari 18 jam. Agar tidak terjadi infeksi ini harus menghindari ketuban pecah
lebih dari 18 jam dalam persalinan (Norwitz & Schorge, 2008).
h) Hidramnion
Hidramnion merupakan kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2
liter. Produksi air ketuban berlebih dapat merangsang persalinan sebalum
kehamilan 28 minggu, sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan dapat
meningkatkan kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) pada bayi
(Cunningham, 2006).
i) Hipertensi
Hipertensi yang menyertai kehamilan merupakan penyebab terjadinya
kematian ibu dan janin. Hipertensi yang disertai dengan protein urin yang
meningkat dapat menyebabkan preeklampsia/ eklampsia. Preeklampsia-eklampsia
dapat mengakibatkan ibu mengalami komplikasi yang lebih parah, seperti solusio
20

plasenta, perdarahan otak, dan gagal otak akut. Janin dari ibu yang mengalami
preeklampsia-eklampsia meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur
terhambatnya pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR), dan hipoksia (Bobak,
2004).
j) Malnutrisi
Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin seperti
prematuritas, gangguan pertumbuhan janin, kelahiran mati maupun kematian
neonatal/ bayi. Penentuan status gizi yang baik yaitu dengan mengukur berat badan
ibu sebelum hamil dan kenaikan berat badan selama hamil (Varney, 2007).

3) Faktor Janin
a) Gemelli
Proses persalinan pada kehamilan ganda bukan multiplikasi proses
kelahiran bayi, melainkan multiplikasi dari risiko kehamila dan persalinan
(Saifuddin, 2009). Persalinan pada kehamilan kembar besar kemungkinan terjadi
masalah seperti resusitasi neonatus, prematuritas, perdarahan postpartum,
malpresentasi kembar kedua, atau perlunya seksio sesaria (Varney, 2007). Berat
badan kedua janin pada kehamilan kembar tidak sama, dapat berbeda 50-1000
gram, hal ini terjadi karena pembagian darah pada plasenta untuk kedua janin tidak
sama. Pada kehamilan kembar distensi (peregangan) uterus berlebihan, sehingga
melewati batas toleransi dan sering terjadi persalinan prematur. Kematian bayi pada
anak kembar lebih tinggi dari pada anak kehamilan tunggal dan prematuritas
merupakan penyebab utama (Wiknjosastro, 2007).
b) Janin Mati Dalam Rahim (IUFD)
Kematian janin dalam rahim (IUFD) adalah kematian janin dalam uterus
yang beratnya 500 gram atau lebih dan usia kehamilan telah mencapai 20 minggu
atau lebih (Saifuddin, 2006).
c) Kelainan Kongenital
Kelainan kongenital atau cacat bawaan merupakan kelainan dalam
pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur.
Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan
21

sebagai BBLR atau bayi kecil. BBLR dengan kelainan kongenital diperkirakan 20%
meninggal dalam minggu pertama kehidupannya (Saifuddin, 2009).

4) Faktor Perilaku
a) Merokok
Merokok pada ibu hamil lebih dari 10 batang setiap hari dapat mengganggu
pertumbuhan janin dan risiko terjadinya prematuritas sangat tinggi (Sujiyatini,
2009).
b) Minum alkohol
Alkohol dapat mengganggu kehamilan, pertumbuhan janin tidak baik
sehingga kejadian persalinan prematur sangat tinggi pada ibu yang mengkonsumsi
minuman beralkohol (Sujiyatini, 2009).

e. Patofisiologi
22

f. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala persalinan prematur (Varney, 2004):
1) Kram seperti nyeri haid (mungkin sulit dibedakan dengan nyeri pada
ligamentum teres uteri)
2) Nyeri tumpul pada pinggang (berbeda dari nyeri pinggang yang biasa terjadi
pada kehamilan)
3) Nyeri atau tekanan suprapubis (mungkin sulit dibedakan dengan gejala saluran
kemih)
4) Sensasi tekanan atau terasa berat pada panggul
5) Perubahan karakter atau jumlah rabas vagina (lebih kental, lebih encer, encer,
bercampur darah, cokelat, bening).
6) Diare
7) Kontraksi uterus tidak terpalpasi (sangat nyeri atau tidak nyeri) yang dirasakan
lebih sering dari 10 menit sekali selama satu ja, atau lebih dan tidak kunjung
reda setalah berbaring
8) Ketubah pecah dini

g. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Hb
Yaitu untuk mengetahui apakah pasien mengalami anemia atau tidak, ini
berhubungan dengan persalinan preterm. Hb normal adalah 11 gr%.
2) Pemeriksaan Protein urin
Yaitu dilakukan untuk mengetahui preeklampsi.
3) USG
Dilakukan untuk mengetahui taksiran berat janin, posisi janin, dan letak
plasenta.
4) Amniosentesis
Untuk meliat kematangan beberapa organ janin, seperti rasio lesitin
sfingomielin, surfaktan, dan lain-lain (Arief M, dkk, 2001).
23

h. Komplikasi
Ibu setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering terjadi dan
mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka episiotomi. Bayi-bayi
preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih tinggi; Morales (1987) menyatakan
bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita amniositis memiliki risiko mortalitas
4 kali lebih besar, dan risiko distres pernapasan, sepsis neonatal, dan perdarahan
intraventrikuler 3 kali lebih besar (Wiknjosastro, 2007).

i. Penatalaksanaan
1) Pematangan Fungsi Paru
Sebelum persalinan paru-paru penuh dengan cairan yang mengandung
konsentrasi garam yang tinggi, sedikit protein, sedikit mukus dari kelenjar bronkus,
dan surfaktan dari sel alveoli tipe II. Jumlah surfaktan terus meningkat, terutama 2
minggu sebelum persalinan  Kortikosteroid Profilaksis.
2) Pemberian Antibiotika
Pada ibu dengan ancaman persalinan prematur dan terdeteksi adanya
vaginosis bakterial, pemeberian klindamisin (2 kali 300 mg sehari selama 7 hari)
atau metronidazol (2 kali 500 mg sehari selama 7 hari) akan bermanfaat bila
diberikan pada usia kehamilan <32 minggu.
Pada persalinan prematur yang disertai dengan pecahnya ketuban,
pemberian antibiotika terbukti menurunkan kejadian korioamnionitis dan
memperpanjang usia kehamilan.
3) Pemberian Tokolitik
Syarat pemberian tokolitik:
a) Memenuhi kriteria persalinan preterm
b) Pembukaa serviks kurang dari 4 cm
c) Usia kehamilan kurang dari 34 mingg
Tokolisis adalah penggunaan obat-obatan untuk menghambat kontraksi
uterus. Obat yang digunakan sangat toksik dan dapat menimbulkan efek samping
yang membahayakan ibu dan janin. Obat yang sering dipakai adalah agonis
betaadregenik (betamimetik) terbutalin, dan magnesium sulfat. Penelitian
24

menunjukkan bahwa tokolisis memperlama kehamilan unutk waktu yang singkat,


yiatu maksimal 24 hingga 48 jam, dan pada beberapa kasus mencapai tiga hingga
tujuh hari (Varney H, etc, 2010).

3. Postmature
a. Pengertian
Persalinan postmatur adalah persalinan dari kehamilan yang melewati 294
hari atau 42 minggu. Diagnosa usia kehamilan didapatkan dengan perhitungan usia
kehamilan dengan rumus Naegele atau dengan penghitungan tinggi fundus uteri
(Kapita Selekta Kedokteran, 1999).

b. Etiologi
Penyebab terjadinya persalinan post matur belum diketahui dengan jelas,
namun diperkirakan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu:
1) Masalah Ibu
a) Cervix belum matang
b) Kecemasan ibu
c) Persalinan traumatis
d) Hormonal
e) Factor herediter
2) Masalah Bayi
a) Kelainan pertumbuhan janin
b) Oligohidramnion

c. Tanda dan Gejala


1) Gerakan janin jarang ( secara subjektif kurang dari 7x / 20 menit atau secara
objektif kurang dari 10x / menit.
2) Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari:
a) Stadium I : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi sehingga
kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas.
25

b) Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan mekoneum (


kehijuan di kulit.
c) Stadium III : seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning pada kuku,
kulit dan tali pusat.
3) Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur
4) Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur
5) Rambut kepala lebih tebal.

d. Pengaruh terhadap Ibu dan Bayi


1) Ibu
Persalinan postmatur dapat menyebabkan distosia karena kontraksi uterus
tidak terkoordinir, janin besar, molding kepala kurang, sehingga sering dijumpai
partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, perdarahan post partum
yag mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas.
2) Bayi
Jumlah kematian janin atau bayi pada kehamilan 42 minggu 3x lebih besar
dari kehamilan 40 minggu. Pengaruh pada janin bervariasi, diantaranya berat janin
bertambah, tetap atau berkurang.

e. Pemeriksaan Penunjang
1) USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta.
2) Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
3) Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
4) Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban.
5) Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.
6) Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.
7) Pemeriksaan sitologi vagina.

f. Penatalaksanaan
1) Setelah usia kehamilan lebih dari 40- 42 minggu, yang terpenting adalah
monitoring janin sebaik – baiknya.
26

2) Apabila tidak ada tanda – tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat
ditunggu dengan pengawasan ketat.
3) Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kematangan cervik, apabila
sudah matang, boleh dilakukan induksi persalinan.
4) Persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat
merugikan bayi, janin postmatur kadang – kadang besar dan kemungkinan
disproporsi cephalopelvix dan distosia janin perlu diperhatikan. Selain itu janin
post matur lebih peka terhadap sedative dan narkosa.
5) Tindakan operasi section caesarea dapat dipertimbangkan bila pada keadaan
onsufisiensi plasenta dengan keadaan cervix belum matang, pembukaan belum
lengkap, partus lama dan terjadi gawat janin, primigravida tua, kematian janin
dalam kandungan,pre eklamsi, hipertensi menahun, anak berharga dan kesalahan
letak janin.

g. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan
yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama
(sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28
minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan
memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7
bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 – 8 bulan dan seminggu sekali pada bulan
terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar usia
kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.
Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter kandungan
merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui dengan tepat
tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu. Perhitungannya, jumlah
hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu dibagi 7 (jumlah hari dalam
seminggu).
27

B. Trauma Melahirkan
1. Inkontinensia Urine
a) Pengertian
Inkontinensia urin menurut International Continence Society didefinisikan
sebagai keluarnya urin secara involunter yang menimbulkan masalah sosial dan
higiene serta secara objektif tampak nyata (Prawirohardjo S., 1991). Sedangkan
menurut Edy Fakhrizal & Sri Wahyu Maryuni, 2014), inkontinensia urin
merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia yang mempengaruhi
kehidupan jutaan perempuan dan menyebabkan dampak sosio-ekonomi, fisik dan
psikologis yang serius serta hambatan dalam hubungan seksual, yang secara
keseluruhan akan mengakibatkan penurunan kualitas hidup, depresi dan menarik
diri dari pergaulan.

b) Klasifikasi
International Consultation on Incontinence membagi inkontinensia urine
menjadi 6, yaitu : Inkontinensia urine desakan, inkontinensia urine stress (tekanan),
inkontinensia urine campuran, Inkontinensia urine berlebih, Nokturnal Enuresis,
Post Micturition Dribbling dan Incontinencia continua.
Inkontinensia urin tekanan dan inkontinensia urin desakan merupakan dua
tipe yang paling sering terjadi. Inkontinensia urin tekanan merupakan inkontinensia
urin yang berhubungan dengan aktivitas fisik, didefinisikan sebagai keluarnya urin
yang tidak terkendali saat beraktifitas, bersin atau batuk. Inkontinensia urin tekanan
ini berhubungan erat dengan persalinan pervaginam dan paritas yang
mengakibatkan terjadinya disfungsi dasar panggul. Sedangkan inkontinensia urine
desakan disebabkan oleh gangguan pada kandung kemih dan uretra. Kedua jenis
inkontinensia ini merupakan tipe yang paling sering terjadi pada ibu postpartum.
Terkadang muncul gejala campuran dari kedua tipe inkontinensia ini, yang disebut
juga dengan inkontinensia urine campuran.
28

c) Angka Kejadian
Suatu riset menunjukkan bahwa perempuan begitu ketakutan atas
kemungkinan menderita inkontinensia urin dikemudian hari, sehingga mereka
mulai memilih persalinan seksio sesaria sebagaimana yang mereka dengar bahwa
persalinan pervaginam dapat merusak otot-otot dasar panggul, yang selanjutnya
akan mengakibatkan inkontinensia urin.
WHO menyatakan bahwa inkontinensia urin merupakan masalah kesehatan
yang cukup besar, diperkirakan lebih dari 200 juta orang di dunia mempunyai
masalah dalam berkemih. Data dari the Healthcare Cost and Utilization Project
menunjukkan bahwa kunjungan perempuan ke dokter, khususnya untuk berobat
inkontinensia urin meningkat dari 845 per 100.000 kunjungan pada tahun 1992
menjadi 1.845 per 100.000 kunjungan pada tahun 2000.
Prevalensi inkontinensia urin pada perempuan berkisar antara 3-55%
bergantung pada batasan dan kelompok usia, bervariasi di setiap negara yang
disebabkan oleh berbagai faktor. Pada suatu review sistematik, Thom dan Rortveit
mendapatkan prevalensi inkontinensia urin pascapersalinan sebesar 33%,
setengahnya adalah prevalensi inkontinensia urin tekanan, didapatkan pula bahwa
prevalensi inkontinensia urin tekanan dua kali prevalensi inkontinensia urin
desakan.
Di Indonesia, prevalensi inkontinensia urin yang sesungguhnya belum
diketahui secara pasti, hal ini disebabkan banyak orang yang menganggap
inkontinensia urin merupakan hal yang wajar setelah melahirkan dan kebanyakan
perempuan merasa malu untuk memeriksakan diri kepada tenaga kesehatan.
Diperkirakan pula adanya kecenderungan masyarakatuntuk berobat ke pusat
kesehatan nonformal,menyebabkan banyak kasus tidak tercatat sehingga data yang
ada menjadi kurang akurat. Kurangnya pengetahuan akan masalah gejala saluran
kemih bawah menyebabkan banyak sekali kasus gejala saluran kemih bawah yang
tidak terungkap dan menjadi fenomena gunung es. Walaupun gangguan ini sangat
mempengaruhi kualitas hidup, umumnya pasien tidak mencari pertolongan.
29

d) Etiologi & Faktor Risiko


Setiap kelahiran dapat menyebabkan kerusakan pada otot dasar panggul.
Pada saat kepala bayi keluar dari vagina, tekanan yang terjadi pada kandung kemih,
uretra dan terlebih pada otot dasar panggul serta penyokongnya dapat merusak
struktur ini. Sobekan atau tekanan yang berlebihan pada otot, ligamentum, jaringan
penyambung dan jaringan syaraf akan menyebabkan kelemahan yang progresif
akibat kelahiran bayi.
Menurut Edy Fakhrizal & Sri Wahyu Maryuni (2014), faktor-faktor risiko
yang mempengaruhi inkontinensia urin pasca persalinan adalah IMT, perubahan
berat badan selama kehamilan, cara persalinan, BBL bayi dan lama kala dua.
Sedangkan menurut ICS (1988) beberapa faktor risiko obstetrik seperti kehamilan,
paritas, cara lahir, persalinan pervaginam dengan bantuan vakum atau forsep,
episiotomi, ruptur perineum akibat episiotomi atau ruptur perineum spontan,
riwayat SIU saat hamil dan berat badan bayi telah dilaporkan oleh beberapa peneliti
mempengaruhi angka kejadian SIU pasca persalinan.

e) Patofisiologi
Inkontinensia urin disebabkan oleh gangguan fungsi penyimpanan dan
fungsi pengosongan traktus urinarius bagian bawah. Beberapa orang mengalami
gangguan pada sfingter uretra dan kandung kemih. Hal ini bisa terjadi pada saat
partus pervaginam dimana overaktifitas dari jumlah detrusor yang sama dapat
menjadi simptomatis dengan desakan inkontinensia. Adanya trauma saat
melahirkan dapat merusak otot dasar panggul, dimana hal ini dapat mengganggu
mekanisme kontinensia dimana uretra secara anatomis juga didukung oleh otot-otot
dasar panggul. Stres inkontinensia urin 95% disebabkan oleh persalinan
pervaginam.
Stres inkontinensia urin muncul ketika tekanan intrabdomen meningkat
tiba-tiba dan tekanan kandung kemih lebih besar dari tekanan uretral. Kenaikan
tekanan ini dapat disebabkan perubahan anatomi atau karena faktor neuromuskuler
sfingter. Kerusakan otot langsung menyebabkan berkurangnya kesanggupan untuk
menahan besarnya tekanan pada bladder neck sewaktu terjadi stres fisik. Kerusakan
30

vaskular akibat tekanan yang besar dari kepala janin dapat berpengaruh terhadap
otot dan saraf. Keadaan ini dapat terdeteksi pada saat batuk, tertawa, bersin, dan
gerakan-gerakan lainnya yang meningkatkan tekanan intraabdominal. Selanjutnya
tekanan pada kandung kemih meningkat disertai keluarnya urin pada penderita.

f) Komplikasi
Menurut Heit, Blackwell, dan Kelly (2008), komplikais fisik yang paling
umum terjadi pada penderita inkontinensia urin yaitu:
1) Infeksi kandung kemih
2) Infeksi uretra
3) Iritasi vagina

g) Terapi dan Penatalaksanaan


Hal yang penting dalam menilai wanita dengan inkontinensia urine adalah
dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap. Pemeriksaan awal tidak
selalu diagnostik, tetapi informasi yang didapat akan menuntun klinisi dalam
memilih test diagnostik yang diperlukan. Pada umumnya keluhan penderita yaitu:
- Kencing keluar pada waktu batuk, tertawa, bersin dan latihan.
- Keluarnya kencing tidak dapat ditahan.
- Kencing keluar menetes pada keadaan kandung kencing penuh.
Pemeriksaan fisik yang lengkap meliputi pemeriksaan abdomen, vaginal,
pelvis, rektal dan penilaian neurologis. Pada pemeriksaan abdomen bisa didapatkan
distensi kandung kemih, yang menunjukkan suatu inkontinensia luapan, dan
dikonfirmasi dengan kateterisasi. Inspekulo bisa tampak prolaps genital, sistokel
dan rektokel. Adanya urine dalam vagina terutama pasca histerektomi mungkin
mengetahui adanya massa pelvis.
Test sederhana dapat dikerjakan setelah pemeriksaan fisik untuk membantu
dalam menentukan tindakan selanjutnya. Test Q-tip (‘the cotton swab test’),
merupakan test sederhana untuk menunjukan adanya inkontinensia stres sejati.
Penderita disuruh mengosongkan kandung kemihnya, urine ditampung. Kemudian
spesimen urine diambil dengan kateterisasi. Jumlah urine dari kencing dan kateter
31

merupakan volume kandung kemih. Volume residual menguatkan diagnosis


inkontinensia luapan. Spesimen urine dikirim ke laboratorium.
Test diagnostik lanjut yaitu sistourethroskopi dan diagnostik imaging.
Sistourethroskopi dikerjakan dengan anestesi umum maupun tanpa anestesi, dapat
dilihat keadaan patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun divertikulum. Test
urodinamik meliputi uroflowmetri dan sistometri. Sistometri merupakan test yang
paling penting, karena dapat menunjukan keadaan kandung kemih yang hiperaktif,
normal maupun hipoaktif. Diagnostik imaging meliputi USG, CT scan dan IVP
yang digunakan untuk mengidentifikasi kelainan patologi (seperti fistel/tumor) dan
kelainan anatomi (ureter ektopik).
Test tambahan yang diperlukan untuk evaluasi diagnostik yaitu ‘Pessary
Pad Test’. Penderita minum 500 ml air selama 15 menit untuk mengisi kandung
kemih. Setelah ½ jam, penderita melakukan latihan selama 45 menit dengan cara :
berdiri dari duduk (10 kali), batuk (10 kali), joging di tempat (11 kali), mengambil
benda dari lantai (5 kali), dan mencuci tangan dari air mengalir selama 1 menit.
Test positif bila berat Pad sama atau lebih besar dari 1g. Test ini dapat menunjukan
adanya inkontinesia stres hanya bila tidak didapatkan kandung kemih yang tidak
stabil.
Pada umumnya terapi inkontinensia urine adalah dengan cara operasi. Akan
tetapi pada kasus ringan ataupun sedang, bisa dicoba dengan terapi konservatif.
Latihan otot dasar panggul adalah terapi non operatif yang paling populer, selain
itu juga dipakai obat-obatan, stimulasi dan pemakaian alat mekanis.

1) Latihan Otot Dasar Pinggul (‘Pelvic Floor Exercises’)


Kontinensia dipengaruhi oleh aktifitas otot lurik urethra dan dasar pelvis.
Fisioterapi meningkatkan efektifitas otot ini. Otot dasar panggul membantu
penutupan urethra pada keadaan yang membutuhkan ketahanan urethra misalnya
pada waktu batuk. Juga dapat mengangkat sambungan urethrovesikal kedalam
daerah yang ditransmisi tekanan abdomen dan berkontraksi secara reflek dengan
peningkatan tekanan intraabdominal, perubahan posisi dan pengisian kandug
kemih.
32

Pada inkompeten sfingter uretra, terdapat hilangnya transmisi tekanan


abdominal padauretra proksimal. Fisioterapi membantu meningkatkan tonus dan
kekuatan otot lurik uretra dan periuretra.
Pada kandung kemih neurogrik, latihan kandung kemih (‘bladder training)
telah menunjukan hasil yang efektif. Latihan kandung kemih adalah upaya melatih
kandung kemih dengan cara konservatif, sehingga secara fungsional kandung
kemih tersebut kembali normal dari keadaannya yang abnormal.

2) Obat-Obatan
a) Alfa Adrenergik Agonis
b) Efedrin
c) Phenylpropanololamine
d) Estrogen

3) Stimulasi Elektrik
Metode ini paling sedikit diterima dalam terapi walaupun sudah rutin
digunakan selama 2 dekade. Prinsip stimulasi elektrik adalah menghasilkan
kontraksi otot lurik uretra dan parauretra dengan memakai implant/non-implant
(anal atau vaginal) elektrode untuk meningkatkan tekanan uretra. Aplikasi stimulasi
dengan kekuatan rendah selama beberapa jam per hari selama beberapa bulan.
Terdapat 64 % perbaikan penderita dengan cara implant, tapi metode ini
tidak populer karena sering terjadi efek mekanis dan morbiditas karena infeksi.
Sedang stimulasi non-implant terdiri dari generator mini yang digerakkan dengan
baterai dan dapat dibawa dalam pakaian penderita dan dihubungkan dengan
elektrode anal/vaginal. Bentuk elektrode vaginal : ring, Hodge pessary, silindris.\

4) Alat Mekanis (‘Mechanical Devices’)


a) Tampon : Tampon dapat membantu pada inkontinensia stres terutama bila
kebocoran hanya terjadi intermitten misal pada waktu latihan. Penggunaan
terus menerus dapat menyebabkan vagina kering/luka.
33

b) Edward Spring : Dipasang intravagina. Terdapat 70 % perbaikan pada


penderita dg inkontinensia stres dengan pengobatan 5 bulan. Kerugian terjadi
ulserasi vagina.
c) Bonnas’s Device: Terbuat dari bahan lateks yang dapat ditiup. Bila ditiup dapat
d) mengangkat sambungan urethrovesikal dan urethra proksimal.

Penatalaksanaan stres inkontinensia urine secara operatif dapat dilakukan


dengan beberapa cara meliputi :
1) Kolporafi anterior
2) Uretropeksi retropubik
3) Prosedur jarum
4) Prosedur sling pu
5) Periuretral bulking agent
6) Tension vaginal tape (TVT)

2. Fistula Genitalia
a. Pengertian

Fistula adalah terjadinya hubungan antara rongga alat dalam dengan dunia
luar. Fistula genetalis adalah terjadinya hubungan antara traktus genitalia dengan
traktus urinarius atau, gastrointestinal dan dapat ditemukan satu atau gabungan dua
kelainan secara bersamaan.
34

b. Patofisiologi
a) Sebab Obstetrik
Terjadinya penekanan jalan lahir oleh kepala bayi dalam waktu lama, seperti
pada partus lama  iskemi kemudian nekrosis lambat, atau akibat terjepit oleh alat
pada persalinan buatan  kejadian ini sering ditemukan di negara berkembang,
dengan pelayanan rujukan yang sulit dijangkau, terbanyak berupa fistula urogenital.
b) Sebab Ginekologik
a) Proses keganasan, radiasi, trauma operasi atau kelainan kongenital.
b) Lebih jarang, kecuali di negara maju, fistula akibat prosesginekologis 
tersering paling banyak adalah fistula vesikovaginal pasca histerektomi.
Lokasi terbanyak pada apeks vagina ukuran 1-2 mm terjadi akibat terjepit
oleh klem atau terikat oleh jahitan.

c. Klasifikasi
1) Tergantung Pada Lokalisasi Kebocoran
a) Fistula yang Berhubungan dengan Terurinarius
- Fistula vesikovagina
- Fistula uretrovagina
- Fistula Ureterovagina
- Fistula vesikouterina
- Fistula uretrovesikouterina
- Fistula multipel
Diagnosis
Anamnesis:
- Keluhan kencing dari vagina, ‘ngompol’ atau inkontinensia urin
- Onset gejala:
Cepat, bila akibat robekan/tertembus/tergunting, ditandai hematuri onset
lebih lambat (7-14 hari) bila diakibatkan penekanan yang menimbulkan
iskemi-nekrosis dan dari jenis keluhan terbanyak dapat diduga terjadi
fistula vesikovagina.
35

Hubungan kelainan pola miksi dengan lokasi fistula:


- Ngompol terus menerus, dan pasien tidak pernah ingin miksi lagi,
menandakan kebocoran dari kandung kemih. Jika disertai ‘menouria’
dipastikan jenis fistel vesikouterina.
- Ngompol terus sedikit-sedikit tapi masih ingin miksi, maka kebosoran dari
salah satu ureter  ureterovagina.
- Tidak ngompol, tapi kencing keluar dari vagina, kebocoran pada uretra
distal. Tapi jika mengenai bagian sfingter, ngompol terus.

Pemeriksaan Fisik:
- Inspekulo, jika ukuran fistula cukup besar atau mengisi kandung kencing
dengan biru metilen dan tempat keluarnya larutan diidentifikasi.
- Cara lain : setelah pengisian kandung kemih dengan biru metilen, dipasang
tiga buah tampon, disimpan pada vagina, pasien diminta berjalan,
kemudian tampon dikeluarkan. Dilihat tampon mana yang terwarnai.
- Pemeriksaan dengan kateter/sonde.

Pemeriksaan Radiologis:
- IVP, sistografi

Pemeriksaan Endoskopi:
- Sistoskopi

b) Fistula yang Berhubungan dengan Saluran Pencernaan:


- Fistula rektovagina, terletak pada jarak > 3 cm proksimal dari sfingter ani
eksterna.
- Fistula anovagina, terletak dekat dengan sfingter ani eksterna.
- Fistula intestinouterina.
- Fistula intestinovagino.
- Fistula intestinoperinei.
36

Diagnosis
Anamnesis:
- Inkontinensia feses/flatus dari vagina.

Pemeriksaan Fisik:
- Inspeksi : dapat terlihat fistula jika besar. Luka lama bekas ruptur perinei
tingkat 3 yang tidak terkoreksi mudah dilihat langsung.
- Inspekulo : melihat lokasi keluarnya feses, dari ostium uteri ataukah pada
vagina, lebih baik jika diberikan norit dalam dietnya.
- Pemeriksaan endoskopi dengan rektoskopi

d. Pengelolaan Fistula Genetalia


1) Konservatif bila fistula traktusurinarius kecil, dengan drainase urin kontinyu.
2) Pra operasi : persiapan fisik, lab, antibiotika profilaksis, persiapan kolon bila
perlu.
3) Waktu reparasi, tergantung sebab:
a) Trauma operasi  segera, saat operasi tsb, atau ditunda jika diketahui
pasca operasi.
b) Obstetrik  3 bulan pascasalin, kecuali fistula fekalis dilakukan setelah
3-6 bulan.
4) Radiasi  2 tahun.
5) Pasca operasi drainase urin kateter terpasang, latihan pemulihan sejak hari ke
7, antibiotika profilaksis, tidak berhubungan seks selama 3 bulan.
6) Terminasi kehamilan pasca fistula obstetrik dengan seksio primer.
7) Reparasi ulang bila diperlukan, setelah 3-6 bln pasca operasi pertama.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
Semoga makalah dari kelompok kami dapat berguna bagi rekan-rekan dan
semoga makalah kami dapat menjadi suatu acuan untuk kedepannya. Untuk Kritik
dan saran akan kami terima untuk membentuk makalah yang lebih baik lagi
kedepannya.

37
DAFTAR PUSTAKA

Anasari, T & Pantiawati, I. (2016). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan


Preterm Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Jurnal
Kebidanan, Vol. VIII, No. 01, 94-109. Purwokerto: Akademi Kebidanan
YLPP Purwokerto.

Fakhrizal, E. & Maryuni, S. W. (2016). Inkontinensia Urin Pascapersalinan dan


Faktor-Faktor Risiko yang Memengaruhinya. JIK, Jilid 10, Nomor 2, Hal.
67-70. Pekanbaru.

Pinem, L. H., Setyowati, & Gayatri, D. (2012). Pencegahan Inkontinensia Urin pada
Ibu Nifas dengan Paket Latihan Mandiri. Jurnal Keperawatan Indonesia,
Vol. 15, No. 1, 47-52. Jakarta.

http://askeprhynatutu.blogspot.com/2014/11/askep-distosia.html?m=1 (Diunduh
pada 10 September 19.00 WIB).
http://stepmysteryqueen.blogspot.com/2011/02/my-ktis-gambaran-stres-
inkontinensia.html?m=1 (Diunduh pada 10 September 19.15 WIB).
https://dokumen.tips/documents/askep-pada-ibu-dengan-fistula-generalia.html
(Diunduh pada 10 September 19.30 WIB).
https://edoc.site/inkontinensia-urin-post-partumdoc-pdf-free.html (Diunduh pada
11 September 08.00 WIB).
https://edoc.site/persalinan-post-matur-pdf-free.html (Diunduh pada 11 September
08.20 WIB).
http://www.academia.edu/11904485/Distosia (Diunduh pada 11 September 08.30
WIB).