You are on page 1of 16

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Desember 2017 pukul 13.30

WITA sampai selesai, bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu, tabung reaksi 10 buah,

labu takar 50 mL 1 buah, labu takar 25 mL 1 buah, pipet skala 25 mL 1 buah, pipet

skala 10 mL 1 buah, botol gelap 3 buah, botol semprot 1 buah dan seperangkat

instrumen spektrofotometer UV-Vis.

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan yaitu larutan KMnO4 0,001 M, KMnO4 0,002

M, KMnO4 0,005 M, KMnO4 0,0005 M, K2CrO4 0,001 M, K2CrO4 0,002 M, K2CrO4

0,005 M, H2SO4 1 M dan aquades.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Penentuan λ maks Larutan KMnO4, K2CrO4, Campuran KMnO4


0,0005M dengan K2CrO4
Langkah penentuan panjang gelombang maksimum larutan KMnO4 antara

lain, diukur absorbansi larutan pada salah satu konsentrasi dengan panjang

gelombang pada daerah 500 nm sampai 550 nm. Selanjutnya dibuat kurva hubungan

panjang gelombang dan absorbansi. Selanjutnya ditentukan panjang gelombang

maksimum pada panjang gelombang yang memberikan absorbansi paling besar yaitu

pada daerah 530 nm. Kemudian ditentukan pula panjang gelombang larutan K2CrO4

dengan panjang gelombang pada daerah 350 nm sampai 450 nm. Selanjutnya dibuat

kurva hubungan panjang gelombang dengan absorbansi dan ditentukan panjang

gelombang maksimum pada panjang gelombang yang memberikan absorbansi paling

besar yaitu pada daerah 370 nm.

3.3.2. Penentuan Koefisien Absorpsi

Langkah dalam penentuan koefisien absorpsi yaitu diukur absorbansi larutan

KMnO4 0,001 M, KMnO4 0,002 M, KMnO4 0,005 M pada panjang gelombang 530

nm, kemudian diukur pula absorbansi larutan K2CrO4 0,001 M, K2CrO4 0,002 M,

K2CrO4 0,005 M pada panjang gelombang 370 nm. Selanjutnya dihitung absortifitas

molar ( ε ) rata-rata dari kalium kromat dan kalium permanganat tersebut.

3.3.3. Penentuan Konsentrasi Kromat dan Mangan dalam Campuran

Langkah dalam penentuan konsentrasi kromat dan mangan dalam campuran

antara lain, dicampurkan larutan kalium kromat 0,001 M dengan kalium permanganat

0,0005 M dan ditambahkan H2SO4 1 M dengan perbandingan volume antara lain: (5


mL larutan K2CrO4 0,001 M + 20 mL larutan KMnO4 0,0005 M + 1 mL larutan

H2SO4 1 M) dimasukkan dalam tabung reaksi sebagai sampel 1, (10 mL larutan

K2CrO4 0,001 M + 15 mL larutan KMnO4 0,0005 M + 1 mL larutan H2SO4 1 M)

dimasukkan dalam tabung reaksi sebagai sampel 2, (15 mL larutan K2CrO4 0,001 M

+ 10 mL larutan KMnO4 0,0005 M + 1 mL larutan H2SO4 1 M) dimasukkan dalam

tabung reaksi sebagai sampel 3, (20 mL larutan K2CrO4 0,001 M + 5 mL larutan

KMnO4 0,0005 M + 1 mL larutan H2SO4 1 M) dimasukkan dalam tabung reaksi

sebagai sampel 4. Kemudian diukur absorbansi masing-masing campuran pada

panjang gelombang 530 nm ( λ 1) dan panjang gelombang 370 nm ( λ 2).

Selanjutnya dihitung konsentrasi kromat dan mangan dalam campuran pada masing-

masing larutan sampel.

3.4 Tekhnik Analisis Data

3.4.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Larutan KMnO4, K2CrO4,


Campuran KMnO4 0,0005 M dengan K2CrO4

Panjang gelombang maksimum ditentukan dengan cara membuat kurva

hubungan antara panjang gelombang dan absorbansi, dimana daerah panjang

gelombang dengan serapan maksimum merupakan panjang gelombang maksimum.

3.4.2 Penentuan Koefisien Absorpsi

Nilai koefisien absorpsi molar ( ε 1) dan ( ε 2) ditentukan berdasarkan

pengukuran absorbansi larutan murni KMnO4 dan K2CrO4, sehingga diperoleh

koefisien absorpsi masing-masing larutan dengan menggunakan persamaan:


A
ε 
Cl

Dimana : ε = koefisien absorpsi


A = absorbansi
l = tebal kuvet (1 cm)
C = konsentrasi

3.4.3 Penentuan Konsentrasi Kromat dan Mangan dalam Campuran

Dengan mengukur absorbansi campuran pada panjang gelombang

maksimum 530 nm dan 370 nm, maka konsentrasi mangan (C1) dan kromat (C2)

dalam campuran dapat ditentukan dengan menggunakan persamaaan:

 
λ 2 ε 2  Aλ 1  λ 1 ε 2  Aλ 2
C1 =    
λ 1 ε 1  λ 2 ε 2 .λ 1 ε 2  λ 2 ε 1

 
λ 1 ε 1  Aλ 2  λ 2 ε 1  Aλ 1
C2 =    
λ 1 ε 1  λ 2 ε 2 .λ 1 ε 2  λ 2 ε 1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan

4.1.1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum K2CrO2 dan KMnO4

4.1.1.1 Penentuan maks Larutan K2CrO4

Tabel 4.1 Data Pengamatan Penentuan maks Larutan K2CrO4


Panjang Gelombang (nm) Absorbansi
350 2,419
360 2,822
370 2,926
380 1,276
390 1,420
400 1,268
410 0,826
420 0,531
430 0,368
440 0,243
450 0,149

3.5
3
2.5
Absorbansi

2
1.5
1
0.5
0
340 350 360 370 380 390 400 410

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.1 Grafik Hubungann antara Panjang Gelombang dan Absorbansi


4.1.1.2 Penentuan maks Larutan KMnO4

Tabel 4.2 Data Pengamatan Penentuan maks Larutan KmnO4


Panjang gelombang (nm) Absorbansi
500 1,256
510 1,509
520 1,730
530 1,804
540 1,754
550 1,720

1.8

1.6

1.4
Absorbansi

1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
490 500 510 520 530 540 550 560

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.2 Grafik Hubungan Antara Panjang Gelombang dan Absorbansi


4.1.2. Penentuan Koefisien Absorpsi

4.1.2.1 Koefisien Absorpsi Larutan K2CrO4

Tabel 4.3 Data Penentuan Koefisien Absorpsi pada λ 370 nm


Sampel [ K2CrO4] Absorbansi ε ε1 rata-rata

1 0,001 M 1,395 1395


2 0,002 M 1,377 688,5 783,5667
3 0,005 M 1,336 267,2

4.1.2.2 Koefisien Absorpsi Larutan KMnO4

Tabel 4.3 Data Penentuan Koefisien Absorpsi pada λ 530 nm



Sampel [ KmnO4] Absorbansi ε
ε 2 rata-rata
1 0,001 M 1,815 1815
2 0,002 M 2,328 1164 1144,867
3 0,005 M 2,278 455,6

4.1.3 Penentuan Konsentrasi Kromat dan Mangan dalam Campuran

Absorbansi Konsentrasi
Sampel. K2CrO4 KMnO4
0,001 M 0,005 M 1maks 2maks
Cr Mn
370 nm 530 nm
-18
1 5 mL 20 mL 0,634 0,692 2,9588 x 10 2,025 x 10-18

2 10 mL 15 mL 0,694 0,512 6,599 x 10-18 4,517 x 10-18

3 15 mL 10 mL 0,830 0,325 1,1825 x 10-17 8,093x 10-18

4 20 mL 5 mL 0,942 0,156 1,633 x 10-17 1,118 x 10-17


4.4 Pembahasan

Mangan (Mn) merupakan logam keempat setelah besi, aluminium dan

tembaga yang paling banyak dikonsumsi. Mangan mempunyai warna abu-abu seperti

besi dengan kilap metalik sampai submetalik. Kebutuhan akan mangan meningkat

seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan baja. Sedangkan baja memegang

peranan sangat penting dalam peradaban manusia. Konsumsi baja merupakan salah

satu indikator tingkat kemajuan dan kemakmuran suatu negara. Salah satu ferroalloy

yang banyak digunakan untuk pembuatan baja adalah ferromangan (Fe-Mn). Mangan

ditambahkan kedalam baja agar baja menjadi lebih keras tanpa membuat baja menjadi

lebih rapuh.

Kromat (Cr) merupakan logam kelima setelah besi. Ion kromium (VI)

memiliki bilangan oksidasi +2, +3, +6. Ion-ion kromat bewarna kuning sedangkan

dikromat bewarna jingga. Senyawa yang terbentuk dari ion kromium (VI) bersifat

asam. Ion-ion kromat dan dikromat merupakan zat pengoksidasi yang kuat sedangkan

jika diasamkan, akan membentuk ion-ion dikromat. Toksisitas logam Cr kromium

secara alami merupakan unsur esensial yang dibutuhkan oleh tubuh dan terdapat

dalam hewan, tumbuhan maupun tanah. Kromium dapat berbentuk cairan, padatan

maupun gas dan terdapat dialam dalam 3 jenis valensi yaitu kromium (0), kromium

(III) dan kromium (VI). Kromium (III) merupakan unsur esensial yang dibutuhkan

tubuh dalam reaksi enzimatis untuk metabolisme gula, protein dan lemak. Kromium

(III) memiliki sifat toksisitas yang rendah dibandingkan dengan kromium (VI).
Mangan (Mn) dan kromat (Cr) merupakan logam golongan transisi yang

terdapat pada golongan VI-B untuk kromat dan golongan VII-B untuk mangan yang

sama-sama berdiri pada periode keempat dalam tabel periodik unsur. Mangan dan

kromat dapat dianalisis dengan menggunakan alat instrument berupa

Spektrofotometer Uv-Vis. Karena dengan menggunakan alat ini, dapat diketahui daya

serap atau absorbansi dari masing-masing unsur yang diukur pada panjang

gelombang tertentu.

Hasil penelitian dalam percobaan ini menunjukkan bahwa dalam penentuan

panjang gelombang maksimum untuk larutan K2CrO4 yang diukur pada panjang

gelombang 350-450 nm memiliki absorbansi sebesar 2,419 sampai 0,149 dengan

larutan berwarna kuning. Dengan pengukuran ini dapat diperoleh grafik hubungan

antara panjang gelombang dan absorbansi. Namun, grafik yang diperoleh pada

larutan K2CrO4 ini tidak linier, disebabkan karena data yang diperoleh pada saat

pengukuran dengan Spektrofotometer Uv-Vis tidak tepat dan tidak akurat.

Seharusnya, grafik yang diperoleh harus sesuai dengan teori yaitu grafik yang linier.

Hasil pengukuran ini tidak jauh berbeda dengan pengukuran pada penentuan panjang

gelombang maksimum larutan KMnO4, karena grafik hubungan antara panjang

gelombang dan absorbansi yang diperoleh juga tidak linier.

Grafik dari data pengukuran telah diperoleh, sehingga dapat pula ditentukan

harga koefisien absorpsi dari masing-masing unsur. Harga koefisien absorpsi dapat

diperoleh dengan faktor perbandingan antara harga absorbansi (A) dan konsentrasi

(C) serta tebal kuvet (l). Dalam percobaan ini diperoleh harga rata-rata koefisien
absorpsi untuk larutan K2CrO4 yaitu sebesar 783,5667 yang diukur pada panjang

gelombang 370 nm. Sedangkan harga rata-rata koefisien absorpsi untuk larutan

KMnO4 yaitu sebesar 1144,867 yang diukur pada panjang gelombang 530 nm. Hal ini

menunjukkan bahwa, perbandingan harga rata-rata dari masing-masing larutan jauh

berbeda. Dimana, harga rata-rata KMnO4 sangat besar dibandingkan dengan harga

rata-rata K2CrO4.

Harga rata-rata koefisien absorpsi masing-masing unsur telah diperoleh,

sehingga dapat diperoleh nilai konsentrasi kromat (Cr) dan mangan (Mn) dalam suatu

campuran. Untuk konsentrasi kromat berturut-turut diperoleh dengan harga 2,9588 x

10-18 sampai 1,633 x 10-17 pada panjang gelombang 370 nm. Sedangkan untuk

konsentrasi mangan berturut-turut diperoleh dengan harga 2,025 x 10-18 sampai 1,118

x 10-17 pada panjang gelombang 530 nm.


BAB V
SIMPULAN

Mangan dan kromat merupakan logam golongan transisi yang berdiri pada

periode empat dalam tabel periodik unsur. Mangan dan kromat masing-masing

memiliki karakteristik tersendiri, sehingga dapat diukur dengan Spektrofotometer Uv-

Vis. Untuk K2CrO4 dapat diukur dengan panjang gelombang 370 nm, sedangkan

KMnO4 dapat diukur dengan panjang gelombang 530 nm. Dapat pula diperoleh harga

koefisien absorpsi rata-rata pada masing-masing unsur. Untuk K2CrO4, harga

koefisien rata-ratanya yaitu sebesar 783,5667. Sedangkan untuk KMnO4 yaitu sebesar

1144,867.
Lampiran Analisis Data

4.2.1 Penentuan Koefisien Absorpsifitas

4.2.1.1 Untuk larutan K2CrO4

A1 1,395
𝜀1 = = = 1395
C.l 0,001 M x 1 cm

A2 1,377
𝜀2 = = = 688,5
C.l 0,002 M x 1 cm

A3 1,336
𝜀3 = = = 267,2
C.l 0,005 M x 1 cm

𝜖1 + 𝜀2 + 𝜀3
𝜀rata−rata =
3
1395+688,5+267,2 2350,7
= =
3 3

= 783,5667

4.2.1.2 Untuk larutan KMnO4

A1 1,815
𝜀1 = = = 1815
C.l 0,001 M x 1 cm

A2 2,328
𝜀2 = = = 1164
C.l 0,002 M x 1 cm

A3 2,278
𝜀3 = = = 455,6
C.l 0,005 M x 1 cm

𝜖1 + 𝜀2 + 𝜀3
𝜀rata−rata =
3
1815+1164+455,6 3434,6
= =
3 3
= 1144,867

4.2.3 Penentuan Konsentrasi Kromat dan Mangan dalam Campuran

4.2.3.1 Penentuan Konsetrasi untuk Kromat

Penetapan konsentrasi Kromat dalam campuran (C1)

 
λ 2 ε 2  Aλ1  λ1 ε 2  Aλ 2
C1 =    
λ1 ε1  λ 2 ε 2  λ1 ε 2  λ 2 ε1

Konsentrasi Kromat pada sampel 1

(530)(1144,87)  0,634  (370)(1144,87)  0,692


C1 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

384698,0973  293131,6613
=
3,094669 10 22

91566,436
=
3,094669 10 22

= 2,958810 18 M

Konsentrasi Kromat pada sampel 2 :

(530)(1144,87)  0,694  (370)(1144,87)  0,512


C1 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

421104,8573  216883,5413
=
3,094669 10 22

204221,316
=
3,094669 10 22

= 6,599 10 18 M


Konsentrasi Kromat pada sampel 3 :

(530)(1144,87)  0,83  (370)(1144,87)  0,325


C1 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

503626,85  137670,22
=
3,094669 10 22

365956,63
=
3,094669 10 22

= 1,183 10 17 M

Konsentrasi Kromat pada sampel 4 :

(530)(1144,87)  0,942  (370)(1144,87)  0,156


C1 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

571586,132  66081,704
=
3,094669 10 22

505504,428
=
3,094669 10 22

= 1,633 10 17 M


Penetapan konsentrasi Mangan dalam campuran (C2)
 
λ1 ε1  Aλ 2  λ 2 ε1  Aλ1
C2 =    
λ1 ε1  λ 2 ε 2  λ1 ε 2  λ 2 ε1

Konsentrasi Mangan pada sampel 1

(370)(783,567)  0,692  (530)(783,567)  0,634


C2 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

200624,409  263294,071
=
3,094669 10 22

 62669,662
=
3,094669 1022

= 6,599 10 18 M

Konsentrasi Mangan pada sampel 2

(370)(783,567)  0,512  (530)(783,567)  0,694


C2 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

148438,8693  288211,493
=
3,094669 1022

 139772,622
=
3,094669 1022

= 4,517 1018 M

Konsentrasi Mangan pada sampel 3


(370)(783,567)  0,352  (530)(783,567)  0,83
C2 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

94223,89167  34469,9767
=
3,094669 10 22

 250467,085
=
3,094669 1022

= 8,0931018 M

Konsentrasi Mangan pada sampel 4

(370)(783,567)  0,156  (530)(783,567)  0,942


C2 =
(370)(783,567)  (530)(1144,87)  (370)(1144,87)  (530)(783,567)

45227,468  391203,494
=
3,094669 1022

 345976,026
=
3,094669 1022

= 1,1181017 M