You are on page 1of 20

PROPOSAL

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING DENGAN ROLE


PLAYING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP
KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KELAS X

DI SUSUN OLEH :
NAMA : HESTI
NIM : 15140012

PROGRAM PENDIDIKAN BIOLOGI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ARRAHMANIYAH
DEPOK
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
senantiasa menganugerahkan rahmat dan hidayah Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda alam yakni nabi
besar Muhammad SAW yang dengan segenap perjuangan telah menuntun manusia
kepada jalan yang lebih baik. Dalam penulisan proposal yang berjudul “ Pengaruh
Model Pembelajaran Snowball Throwing Dengan Role Playing terhadap Hasil Belajar
Siswa Pada Konsep Keanekaragaman Hayati di Kelas X SMAN 1 Cikulur“ ini penulis
menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dari awal hingga akhir
penulisan proposal ini, sehingga pada akhirnya proposal ini dapat terselesaikan..
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan
terimakasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang secara langsung maupun
tidak langsung telah memberi support baik moril maupun spiritual.

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................


DAFTAR ISI ....................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................


A. Latar Belakang Masalah .......................................................................
B. Rumusan Masalah ...............................................................................
C. Tujuan ...................................................................................................
D. Manfaat Penelitian ................................................................................

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................


A. Pengertian model pembelajaran ...........................................................
B. Ruang Lingkup Lingkungan Sekolah ..................................................
C. Fungsi dan Peranan Sekolah .............................................................
D. Motivasi Belajar ....................................................................................
E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar ...........................
F. Pengaruh Lingkungan Sekolah terhadap Motivasi Belajar ...................
G. Hipotesis ...............................................................................................

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .............................................................


A. Desain Penelitian ..................................................................................
B. Populasi dan Sampel ............................................................................
C. Tekhnik Pengumpulan Data .................................................................
D. Metode Analisis Data ............................................................................

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................


BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Pendidikan memiliki peranan yang penting bagi pengembangan kualitas
pendidikan . berbagai upaya telah dilakukan guna meningkatkan mutu pendidikan,
dengan harapan akan dapat menciptakan pendidikan yang berkualitas, salah satu
upaya yang telah dilakukan adalah dengan pengembangan kurikulum.
Pengembangan kurikulum saat ini lebih menekankan pada bagaimana siswa belajar
dan bukan apa yang dipelajari siswa. Pengembangan kurikulum saat ini juga
mengubah dari pembelajaran yang semula hanya transfer ilmu pengetahuan kepada
siswa menjadi bagaimana siswa itu belajar dengan sendirinya dan menepatkan
seorang guru sebagai fasilitator yang mampu memotivasi peserta didik. Semua hal
tersebut telah dilakukan sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan, sehingga
dapat menciptakan pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan adalah suatu usaha menumbuh kembangkan potensi sumber
daya manusia melalui kegiatan pengajaran. Pendidikan bukanlah sesuatu yang
bersifat statis melainkan sesuatu yang bersifat dinamis sehingga selalu menuntut
adanya perbaikan yang dilangsungkan terus menerus. Proses pendidikan
memberikan kesempatan bagi seseorang agar dapat mengembangkan segala
potensi yang mereka miliki menjadi kemampuan yang semakin lama semakin
meningkat dilihat dari aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kemampuan ini
akan diperlukan oleh individu tersebut untuk kehidupannya dalam bermasyarakat,
serta berkontribusi pada kesejahteraan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu
suatu kegiatan pembelajaran memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa
Pendidikan selalu mengalami pembaharuan dalam rangka mencari struktur
kurikulum sistem pendidikan, model pembelajaran, dan metode pembelajaran yang
efektif dan efisien
Berbagai mata pelajaran yang ada di dalam dunia pendidikan salah satunya
yaitu mata pelajaran biologi, mata pelajaran biologi diperkenalkan kepada siswa
semenjak menginjak sekolah menengah pertama (SMP) hingga perguruan tinggi
mata pelajaran biologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Manfaat
mempelajari biologi diantaranya adalah mempelajari makhluk hidup, melestarikan
lingkungan dan peduli terhadap alam sekitar.
Tetapi banyak permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran biologi
di setiap sekolah. Permasalahan yang sering dijumpai dalam proses pembelajaran
biologi adalah hasil belajar siswa. Permasalahan Pembelajaran biologi di antaranya
adalah siswa sering cepat lupa mengenai konsep-konsep yang telah diajarkan oleh
guru sehingga guru harus menyampaikan sebuah konsep secara berulang. Guru
berperan aktif dalam pembelajaran menjelaskan materi kepada siswa, memberikan
contoh-contoh soal dan memberikan soal latihan kepada siswa sesuai dengan
contoh yang dijelaskan sebelumnya, namun ketika diberikan persoalan baru yang
berkaitan dengan materi tersebut, sebagian besar siswa masih banyak yang merasa
bingung dan belum dapat menjelaskannya. Hal ini berdampak pada hasil belajar
siswa yang sebagian besar masih belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan
Minimum (KKM) yang ditentukan yaitu 75 tidak lebih dari 40%
Sejalan dengan itu, mereka memberikan penjelasan bahwa mempelajari
biologi kadang membuat mereka merasa bosan . tidak jarang saat pembelajaran
berlangsung banyak siswa yang malas dan jenuh untuk mengikuti pelajaran biologi
sehingga tercipta suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan karena guru
mendominasi kegiatan pembelajaran dikelas sehingga tidak terjadi hubungan timbal
balik antara guru dan peserta didik,
Kerugian jika masalah tersebut dibiarkan maka hasil belajar siswanya akan
rendah dan kurang nya minat siswa untuk memahami pembelajaran biologi
sedangkan jika masalah ini diteliti, kita dapat mengetahui pembelajaran terbaik
setelah menggunakan model pembelajaran. Maka dari itu diadakannya penelitian
dengan menggunakan model yang inovatif akan membuat siswa menjadi lebih aktif
saat pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengambil judul “ pengaruh
model pembelajaran snowball throwing dengan role playing terhadap hasil belajar
siswa konsep keanekaragaman hayati di kelas x SMAN 1 Cikulur “

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengemukakan masalah yang
perlu di bahas. Adapun masalah tersebut adalah :
Bagaimana hasil belajar siswa di SMAN 1 Cikulur?
Adakah pengaruh model pembelajaran snowball throwing dengan role playing
terhadap hasil belajar siswa pada konsep keanekaragaman hayati di kelas X SMAN
1 Cikulur?

C. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah mendapatkan informasi
mengenai “ pengaruh mdel pembelajaran snowball throwing dengan role playing
terhadap hasil belajar siswa pada konsep keanekaragaman hayati dikelas X SMAN 1
Cikulur”
Manfaat penilitian
Pada hakikatnya suatu penelitian yang dilaksanakan oleh seseorang diharapkan
akan mendapatklan manfaat tertentu. Begitu pula dengan penelitian ini diharapkan
mendatangkan manfaat antara lain :
Siswa
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternative pembelajaran untuk
meningkatkan keaktifan siswa sehingga hasil belajar meningkat
Guru
Hasil penelitian ini di harapkan dapat digunakan sebagai evaluasi bagi guru dalam
melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar dan pendidik
khususnya dalam penggunaan model pembelajaran.
Sebagai bahan pertimbangan dan acuan guru dalam usaha meningkatkan mutu
pendidikan dan pembelajaran.
Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif untuk
meningkatkan mutu pendidikan di SMAN 1 Cikulur
Peneliti
Dapat menambah wawasan dan pengalaman serta terampil dalam memilih dan
melaksanakan model pembelajaran yang efektif bagi peserta didik
BAB II
LANDASAN TEORI

A. KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI


Adalah keseluruhan variasi makhluk hidup mencakup kesatuan ekologis di
tempat hidupnya. Dalam keanekaragaman hayati, dijumpai berbagai variasi bentuk,
jumlah, penampilan, serta sifat yang tampak di tingkat yang berbeda. Setiap makhluk
hidup mempunyai ciri khas. Ciri khas tersebut ada yang sama dan ada yang berbeda
dari makhluk hidup lain. Berdasarkan persamaan dan pula perbedaan yang dimiliki,
beberapa jenis makhluk hidup bisa dimasukkan satu kelompok. Perbedaan atau
variasi dan persamaan yang tampak di antara makhluk hidup dalam kelompok itulah
yang jadikan dasar untuk membaginya menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil
lagi.Variasi di makhluk hidup terjadi karena pengaruh gen dan lingkungan.
Berdasarkan hal itu, keanekaragaman hayati tampak dalam tiga tingkatan, yaitu
keanekaragaman tingkat gen, spesies, dan pula ekosistem.

1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Gen


Keanekaragaman hayati tingkat gen berasal dari adanya variasi susunan perangkat
dasar gen di setiap individu dalam satu spesies. Susunan perangkat gen itulah yang
menentukan ciri dan sifat yang dimiliki oleh suatu individu. Setiap individu yang ada
dalam satu spesies mempunyai susunan perangkat dasar gen yang khas.
Jadi, tak ada dua individu yang mempunyai susunan perangkat dasar gen yang
sama. Hal itu mengakibatkan adanya variasi di individu- individu yang berada dalam
satu spesies. Contoh yang paling mudah diamati ialah keanekaragaman di wama
bunga bugenvil.
Susunan perangkat gen inilah yang menentukan ciri dan sifat yang dimiliki oleh suatu
individu. Jadi, meskipun termasuk jenis/spesies yang sama, masing-masing individu
mempunyai faktor genetik yang berbeda sehingga terbentuklah variasi dalam satu
keturunan.
Selain ditentukan oleh faktor genetik, ciri yang terlihat atau fenotipe pula ditentukan
oleh lingkungan atau adaptasi terhadap lingkungan. Boleh dikatakan dalam satu
keturunan yang mempunyai faktor genetik atau genotipe yang sama namun hidup di
lingkungan berbeda akan mempunyai fenotipe yang berbeda pula. Hal inilah yang
memunculkan keanekaragaman tingkat gen.
Secara alami, keanekaragaman hayati tingkat gen bisa terjadi karena pengaruh
adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungan. Secara buatan keanekaragaman
hayati terjadi karena peranan manusia, contohnya persilangan dan mutasi.

2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Jenis atau Spesies


Keanekaragaman hayati tingkat jenis tampak dari adanya variasi bentuk,
penampakan, dan frekuensi antara spesies yang satu dan spesies yang lain.
Contohnya, kenanga, sirsak, dan pula srikaya ialah tanaman yang berbeda, namun
masih termasuk satu family yang sama atau Annonaceae. Begitu pula ayam, itik, dan
angsa termasuk kedalam satu familia Gulliformeae.
3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Berbagai individu yang berbeda spesies yang saling berinteraksi dengan sesamanya
dan dengan lingkungan, akan membentuk ekosistem yang mempunyai sistem
kehidupan khas.
Contohnya, hutan bakau, sabana, hutan hujan tropis, serta daerah salju. Spesies
yang berinteraksi dengan lingkungan atau faktor abiotik yang berbeda akan
membentuk ekosistem yang berbeda pula. Faktor abiotik meliputi iklim, air, tanah,
kelembapan, udara, cahaya serta suhu.
Kondisi abiotik yang berbeda akan mengakibatkan spesies yang hidup dalam
lingkungan tersebut beradaptasi dan menampakkan ciri-ciri yang khas sehingga
menjadi khas di ekosistem yang terbentuk.
Sebagai contoh, pohon kelapa marapu beradaptasi di lingkungan pantai dan menjadi
tumbuhan atau spesies yang khas daerah pantai. Pohon bakau mampu beradaptasi
di lingkungan payau atau rawa sehingga akan membentuk ekosistem hutan bakau
dan menjadi tumbuhan khas di ekosistem tersebut.

B. BELAJAR DAN HASIL BELAJAR


a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan keterkaitan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan
pengetahuan baru. Trianto (2011: 16) mengungkapkan bahwa belajar bukanlah
semata-mata mentransfer pengetahuan yang ada di luar dirinya, tetapi belajar lebih
pada bagaimana otak memproses pengalaman baru dengan pengetahuan yang
dimilikinya dalam format 11
b. Teori Belajar
Teori belajar pada dasarnya merupakan penjelasan mengenai bagaimana terjadinya
belajar atau bagaimana informasi diproses di dalam pikiran siswa.
Winataputra (2008: 1.6-6.15) menjelaskan beberapa teori belajar sebagai berikut.
Teori Belajar Behavioristik Teori belajar behavioristik mendefinisikan bahwa belajar
merupakan perubahan tingkah laku, khususnya perubahan kapasitas siswa untuk
beperilaku (yang baru) sebagai hasil belajar, bukan sebagai hasil proses
pematangan (atau pendewasaan) semata. Perubahan perilaku manusia sangat
dipengaruhi oleh lingkungan yang akan memberikan beragam pengalaman kepada
seseorang.
Teori Belajar Kognitif Teori belajar kognitif memandang bahwa pada dasarnya setiap
orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa
dipengaruhi oleh tingkat-tingkat perkembangan dan pemahamannya atas dirinya
sendiri. Setiap orang memiliki kepercayaan, ide-ide dan prinsip yang dipilih untuk
kepentingan dirinya.
Teori Belajar Sosial Teori ini menjelaskan tentang pengaruh penguatan dari luar diri
atau lingkungan seorang siswa, dan aktifitas kognitif dari dalam diri siswa
digabungkan dengan filsafat dasar teori belajar humanistik, yaitu “memanusiakan
manusia”, terhadap kemampuan 12 siswa belajar melalui cara “modelling” atau
mencontoh perilaku orang lain. 4)
Teori Belajar Humanistik Teori belajar humanistik manjelaskan bahwa belajar
merupakan suatu proses di mana siswa mengembangkan kemampuan pribadi yang
khas dalam bereaksi terhadap lingkungan sekitar. 5)
Teori Belajar Konstruktivis Teori belajar konstruktivis memaknai belajar sebagai
proses mengonstruksi pengetahuan melaluai proses internal seseorang dan interaksi
dengan orang lain.
Hasil belajar akan dipengaruhi oleh kompetensi dan struktur intelektual seseorang.
Hasil belajar dipengaruhi pula oleh tingkat kematangan berpikir, pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya, serta faktor lainnya seperti konsep diri dan percaya diri
dalam proses belajar. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
teori belajar yang mendukung model kooperatif tipe snowball throwing adalah teori
belajar konstruktivis, karena teori tersebut menekankan pada aktivitas siswa dalam
mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Seperti halnya snowball throwing, yang
membuat setiap siswa ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk dapat
memahami materi pelajaran yang disampaikan.

C. PENGERTIAN HASIL BELAJAR


Hasil belajar menurut Sudjana (1990:22) adalah kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajaranya. Dari pengertian tadi dapat
disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang
dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar.
Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar, yakni : informasi verbal,
kecakapan intelektul, strategi kognitif, sikap dan keterampilan. Sementara Bloom
mengungkapkan tiga tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang
yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu : kognitif, afektif dan
psikomotorik (Sudjana, 1990:22).
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu :
1. Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi
belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial
ekonomi, faktor fisik dan psikis.
2. Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, terutama
kualitas pengajaran.
Hasil belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990:56), melalui proses belajar
mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut.
1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar
intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia
akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan
apa yang telah dicapai.
2. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan
dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari orang lain
apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.
3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama
diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain, kemauan
dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan kreativitasnya.
4. Hasil belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif), yakni
mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif (sikap) dan
ranah psikomotorik, keterampilan atau perilaku.
5. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri
terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan mengendalikan
proses dan usaha belajarnya.
Pengertian model pembelajaran
Model pembelajaran snowball throwing
Snowball Throwing berasal dari dua kata yaitu “snowball” dan “throwing”. Kata
snowball berarti bola salju, sedangkan throwing berarti melempar, jadi Snowball
Throwing adalah melempar bola salju. Pembelajaran Snowball Throwing merupakan
salah satu model dari pembelajaran kooperatif. Pembelajaran Snowball Throwing
merupakan model pembelajaran yang membagi murid di dalam beberapa kelompok,
yang dimana masing-masing anggota kelompok membuat bola pertanyaan. Dalam
pembuatan kelompok, siswa dapat dipilih secara acak atau heterogen.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Snowball Throwing
adalah suatu model pembelajaran yang membagi murid dalam beberapa kelompok,
yang nantinya masing-masing anggota kelompok membuat sebuah pertanyaan pada
selembar kertas dan membentuknya seperti bola, kemudian bola tersebut dilempar
ke murid yang lain selama durasi waktu yang ditentukan, yang selanjutnya masing-
masing murid menjawab pertanyaan dari bola yang diperolehnya.
b. Langkah-Langkah Pembelajaran Model Snowball Throwing adalah sebagai
berikut:
Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua
kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran.
Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian
menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompoknya.
Kemudian masing-masing murid diberi satu lembar kerja untuk menuliskan
pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua
kelompok.
Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu murid ke murid
yang lain selama kurang lebih 5 menit.
Setelah tiap murid mendapat satu bola/satu pertanyaan, diberikan kesempatan
kepada murid untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola
tersebut secara bergantian.
Guru bersama dengan murid memberikan kesimpulan atas meteri pembelajaran
yang diberikan.
Guru memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman muridakan materi
pembelajaran. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral
dan tugas di rumah
Menurut Hamdayama (2014: 116) kelebihan pada model pembelajaran kooperatif
tipe snowball throwing antara lain:
a. Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan karena siswa seperti bermain
dengan melempar bola kertas kepada siswa lain.
b. Siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berfikir karena
diberi kesempatan untuk membuat soal dan diberikan kepada siswa lain.
c. Membuat siswa siap dengan berbagai kemungkinan karena siswa tidak tahu soal
yang dibuat temanya seperti apa.
d. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
e. Pendidik tidak terlalu repot membuat media karena siswa terjun langsung dalam
praktik.
f. Pembelajaran menjadi lebih efektif.
g. Aspek kognitif, efektif, dan psikomtor dapat tercapai. Disamping terdapat
kelebihan tentu saja model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing juga
mempunyai kelemahan.
Menurut Hamdayama (2014: 161) kelemahan model snowball throwing adalah
sebagai berikut.
a. Sangat bergantung pada kemampuan siswa dalam memahami materi sehingga
apa yang dikuasai siswa hanya sedikit.
b. Ketua kelompok yang tidak mampu menjelaskan dengan baik tentu menjadi
penghambat bagi anggota lain untuk memahami materi sehingga diperlukan waktu
yang tidak sedikit untuk siswa mendiskusikan materi pelajaran.
c. Tidak ada kuis individu maupun penghargaan kelompok sehingga siswa saat
berkelompok kurang termotivasi untuk bekerja sama tapi tidak menutup
kemungkinan bagi guru untuk menambahkan pemberian kuis individu dan
penghargaan kelompok.
d. Memerlukan waktu yang panjang.
e. Murid yang nakal cenderung untuk berbuat onar.
f. Kelas sering kali gaduh karena kelompok dibuat oleh murid. Berdasarkan pendapat
ahli di atas,
dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe snowball throwing
memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah melatih kedisiplinan murid dan
saling memberi pengetahuan. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan waktu
yang panjang, dan siswa nakal cenderung berbuat onar.

Model pembelajaran Role Playing


Pengertian model pembelajaran role playing
Role playing adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif dimana
menekankan lebih kepada siswa bermain peran sebagai orang lain. Jill hadfield
megatakan role playing adalah permainan yang menggerakkan fisik didalamnya ada
aturan tujuan sehingga dapat membuat peserta merasa senang.
Basri syamsuri mengatakan role playing ini aktivitasnya didalam kelas dan seolah
olah peserta didik sedang membayangkan berada diluar kelas tapi bila dikondisikan
mendukung akan dibuat diluar kelas.
Jadi Model Pembelajran Role Playing adalah suatu model penugasan yang
berbentuk permainan, pemainan tersebut bisa dilakukan lebih dari sendiri
(berkelompok) sehingga tiap siswa akan memiliki peranan tertentu. Penugasa bisa
dalam bentuk pelajaran yang bisa meningkatkan daya imajinatif atau penghayalan
tiap siswa. Dalam proses pembelajaran akan membuat siswa memerankan sutau
tokoh yang ditugaskan.
Pada saat action nya dalam kelas akan melibatkan berbagai subjek seperti
emoosional dan pengamatan masalah yang dihadapi dalam permainan peran. Selain
itu praktik seperti tanya jawab antar murid akan sering terjadi sehingga pembelajaran
akan menjadi lebih efektif (departemen pendidikan nasional). Bodiono memaparkan
pembelajaran akan menjadi maksimal bila terdapat kebebasan dalam setiap
berpendapat, organisasi, menghargai keputusan yang diberikan. Didalam permainan
Role Playing ini akan sering terjadi musyawarah, debat pendapat sehingga harus
dilakukan proses pemungutan suara, bagi yang suara sedikit harus menerima
kekalahan dan harus aktiv dalam kegiatan yang dimusyawarahkan sehinga tujuan
pembelajran tercapai. Maka landasan dari pembelajaran ini adalah keaktivan yang
dilakukan oleh semua murid.

Dalan mengatur kelas akan dilakukan pembagian kelompok, dilakukan oleh guru.
Guru akan memberi suatu topik yang akan dilakukan dalam permainan, peranan dan
peragaan dari tiap siswa akan disesuaikan berdasarkan skenario. Siswa diberi
kebebasan berimprofisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.

Langkah-langkah model pembelajaran role playing


Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.
Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari
sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar.
Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.
Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah
dipersiapkan.
Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang
sedang diperagakan.
Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk
membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok.
Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
Guru memberikan kesimpulan secara umum.
Evaluasi.
Penutup.

kelebihan role playing


Ada beberapa keunggulan dengan menggunakan metode role playing, di antaranya
adalah:
dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping
merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan.
Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan
penuh antusias.
Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta
menumbuhkan rasa kebersamaan.
Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam
proses belajar.
Kelemahan metode role playing
Disamping memiliki keunggulan, metode role playing juga mempunyai kelemahan, di
antaranya adalah :
Bermain peran memakan waktu yang banyak.
Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya
jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal
dengan baik apa yang akan diperankannya.
Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung.
Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan
secara sungguh-sungguh.
Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

HIPOTESIS
Hipotesis berasal dari kata hipo yang memiliki kurang atau lemah dan tesih atau
thesis yang berarti teori yang disajikan sebagai bukti. Dalam hal ini hipo di artrikan
lemah dan tei diartikan teori, proporsisi atau pernyataan. Jadi hipotesi adalah
pernyataan yang masih lemah kebenaranya dan masih perlu dibuktikan
kenyataanya, hipotesi dapat diterima dan dapat ditolak, diterima jika dalam penelitian
membenarkannya dan ditolak jika menyangkal atau menolak kenyataan.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat
pertanyaan (Sugiyono, 2016: 96). Hipotesis dalam penelitian ini adalah “Terdapat
pengaruh yang signifikan pada penerapan model pembelajaran snowball throwing
dengan role playing terhadap hasil belajar pada konsep keanekaragaman hayati
dikelas x SMAN 1 Cikulur.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Waktu dan tempat penelitian
pelaksanaan penelitian pada bulan april – mei 2018. Penelitian dilakukan di SMAN
1 Cikulur. Tempat penelitian ini beralamt di julat,cikulur kabupaten lebak provinsi
banten.
Populasi dan sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut
“Sugiyono”populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang dapat di tetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari kemudian di tarik kesimpulannya . adapun yang menjadi
populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SMAN 1 Cikulur yang berjumlah
70 siswa yang terdiri dari 30 siswa perempuan dan 40 siswa laki laki.
Sampel
Sampel adalah sebagian wakil dari sebuah populasi yang diteliti. Dinamakan
penelitian sampel bila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian
sampel, yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat
kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.
Didalam penelitian apabila populasi kurang dari 100 lebih baik diambilsemua
sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika populasinya
lebih besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.
Berdasarkan pada pedoman tersebut dalam penelitian ini penulis dan melalui
persetujuan dari guru yang menentukan bahwa dari semua siswa yang diambil
sample untuk penelitian peneliti sebanyak 40 siswa.
Tekhnik pengambilan data
Observasi
Adapun metode observasi (pengamatan) adalah metode ilmiah sebagai pengamatan
dan pencatatan secara sistematis dari fenomena fenomena yang diselidikinya.
Penulis melakukan penelitian secara langsung kelokasi penelitian untuk mengetahui
langsung bahan ataundata yang berthubungan dengan lingkungan sekolah di MTs
Daarul Muawwanah.
Metode quesioner
Yaitu daftar pertanyaan yang telah tertulis dan tersusun rapi yang akan di tanyakan
kepada responden, atau dijalankan tanpa mempergunakan daftar pertanyaan yang
tersusun rapi akan tetapi menggunakan gambar gambar dimana responden
memberikan komentar komentar terhadap gambar gambar tersebut berupa outline
saja. Metode ini dapat dibagi menjadi dua macam:

Angket
Angket yaitu suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu
masalah atau bidang yang akan diteliti. Untuk memperoleh data, angket disebarkan
kepada responden (orang orang yang menjawab yang diselidiki), terutama pada
penelitian survei. Adapun anmgket yang disebarkan kepada responden.
Wawancara (interview)
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara
lisan dalam mana dua atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung
informasi informasi atau keterangan keterangan.
Metode analisis data
Data yang telah di himpun dari penelitian ini, diusahakan untuk memudahkan
pengambilan keputusan secara objektif dengan menggunakan analisis data statistik
(product moment) dengan langkah langkah sebagai berikut :
Analisis pendahuluan, analisis ini merupakan tahap pengolahan data yang akan
dimasukan kedalam tabel distribusi frekuensi dengan pengolahan seperlunya,
dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
N = jumlah sampel
Mx = rata rata X (untuk menentukan selisih penyeimbang X )
SDx = rata rata x2
My = rata-rata Y (untuk menentukan selisih penyeimbang Y)
Sdy = Rata-rata y
Analisis uji hipotesis, yaitu tahap proses penghitungan hasil kedua angket
dikorelasikan yaitu antara angket pengaruh lingkungan sekolah dengan angket
motivasi belajar siswa, dengan menggunakan rumus korelasi product moment yaitu
sebagai berikut :
Keterangan :
Rxy = koefisien korelasi antara x dan y
Xy = x kali y,x = 0 ;y = 0
SDx = standar variabel x
Sdy = standar deviasi variabel y
N = jumlah subyek yang diteliti
X = X-M dan y = Y-M
Analisis lanjut, setelah diperoleh hasil-hasil, koefisien korelasi antara variabel X dan
Y, berikutnya menghubungkan hasil r (koefisien korelasi) dengan nilai r yang ada
pada tabel untuk taraf signifikan 5% dan taraf signifikansi 1%.
Bila nilai r dari koefisien korelasi sama atau lebih besar dari pada nilai r yang ada
pada tabel, maka hasilnya signifikan. Jika nilai r dari koefisien korelasi lebih kecil dari
pada nilai r yang ada pada tabel, maka hasilnya non signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.trigonalmedia.com
Zakiyah darajat, ilmu pendidikan islam, (Jakarta: Bumi Aksara,2008)
http://id.scribd.com
http://blogspot.com
http://www.google.com
Hasbullah, dasar-dasar ilmu pendidikan
http://taufikudin.wordpress.com
ewintribengkulu.blogspot.co.id