You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semenjak umat manusia menghuni planet bumi ini, sebenarnya mereka
sudah seringkali menghadapi masalah-masalah kesehatan serta bahaya kematian
yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan hidup yang ada di sekeliling
mereka seperti benda mati, mahkluk hidup, adat istiadat, kebiasaan dan lain-lain.
Namun oleh karena keterbatasan ilmu pengetahuan mereka pada saat itu, maka
setiap kejadian yang luar biasa dalam kehidupan mereka selalu diasosiasikan
dengan hal-hal yang bersifat mistik, seperti wabah penyakit sampar yang
berjangkit di suatu tempat dianggap sebagai kutukan dan kemarahan dewata.
Masalah kesehatan merupakan masalah yang sangat penting yang di hadapi
oleh masyarakat kita saat ini . Semakin maju teknologi di bidang kedokteran
,semakin banyak pula macam penyakit yang mendera masyarakat. Hal ini tentu
sajadi pengaruhi oleh faktor tingkah laku manusia itu sendiri. Tapi apakah benar
hanya faktor tingkah laku saja yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat?
Sebelum membahas tentang masalah kesehatan masyarakat tentunya lebih baik
jika kita memahami konsep dari kesehatan masyarakat itu terlebih dahulu.

B. Rumusan Masalah
Pada makalah ini akan di bahas mengenai konsep dari kesehatan masyarakat,
yaitu antara lain:
1. Bagaimana konsep dasar sehat dan kesehatan?
2. Bagaimana sejarah perkembangan kesehatan masyarakat?
3. Bagaimana periode perkembangan ilmu kesehatan?
4. Bagaimana perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia?
5. Bagaimana sejarah dan perkembangan kesehatan masyarakat di negara
berkembang?
6. Apa ruang lingkup dan permasalahan dalam sejarah kesehatan masyarakat?
7. Apa definisi kesehatan masyarakat?
8. Bagaimana perkembangan promosi kesehatan di Indonesia?
9. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah perkembangan
pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Serta perkembangan kesehatan mayarakat
di Indonesia.

D. Ruang Lingkup Penulisan

E. Sistematika Penulisan
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Sehat dan Kesehatan


1. Pengertian Kesehatan
Menurut Undang-Undang RI. No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan,
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang
memungkinkan setiap orang hidup secara produktif secara social dan ekonomi.
Menurut WHO, kesehatan adalah kondisi dinamis meliputi kesehatan
jasmani, rohani, social, dan tidak hanya terbebas dari penyakit, cacat, dan
kelemahan.Dikatakan sehat secara fisik adalah orang tersebut tidak memiliki
gangguan apapun secara klinis.Fungsi organ tubuhnya berfungsi secara baik,
dan dia memang tidak sakit.Sehat secara mental/psikis adalah sehatnya pikiran,
emosional, maupun spiritual dari seseorang. Ada suatu kasus seseorang yang
memeriksakan kondisi badannya serba tidak enak, akan tetapi secara
klinis/hasil pemeriksaan dokter menunjukan bahwa orang tersebut tidak sakit,
hal ini bisa disebabkan karena orang tersebut mengalami gangguan secara
mental/psikis yang mempengaruhi keadaan fisiknya. Contoh orang yang sehat
secara mental adalah tidak autis, tidak stress, tidak mengalami gangguan jiwa
akut, tidak mempunyai masalah yang berhubungan dengan kejiwaan, misalnya
kleptomania, psikopat, dan lain-lain. Penderita penyakit hati juga merupakan
contoh dari orang yang tidak sehat mentalnya, karena tidak ada seorang dokter
bedah jantung sekalipun yang bisa menghilangkan poenyakkit ini dengan
peralatan bedahnya.
Sedangkan dikatakan sehat secara social adalah kemampuan seseorang
untuk berinteraksi dengan lingkungan di mana ia tinggal. Contoh orang yang
tidak sehat social diantaranya adalah seorang Wanita Tuna Susila (WTS).
Kemudaian orang dengan katagori sehat secara ekonomi adalah orang yang
produktif, produktifitasnya mengantarkan ia untuk bekerja dan dengan bekerja
ia akan dapat menunjang kehidupan keluarganya.
2. Hubungan keempat faktor penentu kesehatan
Keempat faktor yang telah dijelaskan di atas adalah saling berkaitan.
Ketika salah satu sakit maka yang lainnya akan sakit atau terganggu. Misalnya,
seseorang sedang menderita sakit gigi, ia akan cenderung mudah marah karena
rasa sakit yang ditahannya. Kemarahan yang timbul itu kemudian berimbas
kepada orang-orang yang ada di sekitarnya sehingga mudah marah kepada siapa
saja yang dilihatnya. Efek dari sakit gigi itu juga jadi terganggunya aktifitas
sehari-hari baik itu bekerja di rumah atau di kantor, sehingga produktifitas
kerjanya terganggu.
3. Pengertian Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Menurut Proff. Winslow dari Universitas Yale (Leavel and Clark, 1958),
“ilmu kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit,
memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi
melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi
lingkungan, control infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang
kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan,
untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek social,
yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar
kehidupan yang adekuat untuk menjaga kesehatannya”.
4. Upaya untuk kesehatan.
Upaya-upaya tersebut diantaranya adalah:
a. Upaya Pemeliharaan Kesehatan Kuratif : tindakan pengobatan Rehabilitatif :
upaya pemeliharaan atau pemulihan kesehatan agar penyakitnya tidak
semakin terpuruk dengan mengkonsumsi makanan yang menunjang utnuk
kesembuahan penyakitnya.
b. Upaya Peningkatan Kesehatan Preventif : upaya pencegahan terhadap suatu
penyakit Promotif : upaya peningkatn kesehatan Sarana Kesehatan yang
Mendukung Upaya Kesehatan berdasarkan UU RI No 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan: Puskesmas Dokter praktek Toko obat Praktek bidan
Rumah sakit khusus Rumah sakit Apotek Pedagang besar farmasi
Laboratorium Sekolah dan akademi kesehatan Balai pelatihan kesehatan
Sarana kesehatan lainnya.

B. Sejarah Perkembangan Kesehatan Masyarakat.


Perkembangan Kesehatan Masyarakat tidak terlepas dari sejarah Kesehatan
Masyarakat (Public Health), yaitu tidak terlepas dari dua tokoh mitologi Yunani
Asclepius atau Aesculapius dan Higea. Aesculapius adalah seorang dokter
pertama, yang tampan dan pandai telah melakukanpengobatan bahkan bedah
dengan prosedur yang baik. Sedangkan Higea adalah asistennya yang cantik dan
melakukan pencegahan penyakit dan mengajarkan kepada masyarakat untuk hidup
bersi, melaksanakan hidup seimbang, kebersihan diri menghindari dari makanan
dan minuman yang kotor dan beracun, makan makanan yang bergizi dan cukup
istirahat.
Pada akhirnya kedua orang ini akhirnya menjadi suami istri. Mengabungkan
dua aliran kesehatan yang berbeda tapi tidak saling bertentangan, saling
behubungan satu sama lain. Aliran Aesculapius cenderung menunggu terjadinya
penyakit atau setelah sakit yaitu melalui Pengobatan atau Kuratif. Sedangkan
aliran Higea cenderung melakukan pencegahan penyakit (preventif) serta upaya-
upaya peningkatan (promosi) kesehatan. Mitologi tersebut menjadi inspirasi bagi
embrio Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
Dari cerita mitos yunani dalam perkembangan kesehatan masyarakat timbul
garis pemisah antara Asclepius dan Higeia dalam menangani masalah-masalah
kesehatan yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan
pencegahan atau proventif (preventive health care).
Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan yang dilakukan
antara lain :

No Pendekatan Kuratif Pendekatan Preventif


1. Dilakukan terhadap sasaran secara Sasaran atau pasien adalah masyarakat (bukan
individual, kontak terhadap pasien perorangan, masalah yang dihadapi adalah
hanya sekali saja dan cukup jauh. masalah masyarakat bukan masalah individual,
hubungan bersifat kemitraan.

2. Pendekatan kuratif cenderung bersifat Lebih menggunakan pendekatan proaktif yaitu


reaktif, artinya hanya menunggu mencari masalah, tidak hanya menunggu pasien
masalah datang/ penyakit. dating tetapi harus turun ke masyarakat mencari
dan mengidentifikasi masalah yang ada di
masyarakat. Dan melakukan tindakan.

3. Cenderung melihat dan menangani Melihat klien sebagai sebagai mahluk yang
klien lebih kepada system biologis utuh, dengan pendekatan yang holistik.
atau hanya melihat secara partial terjadinya penyakit tidak semata-mata karena
manusia, padahal manusia terdiri dari terganggunya system biologi, individual, tetapi
kesehatan bio-psikologis dan social. harus secara menyeluruh.

Di era Clininal Science (era ilmu klinik) tahun 1900-1950 perawatan


kedokteran berjalan seiring dengan kemajuan teknologinya, sasaran
perawatan/pelayanan kedokteran menjadi lebih tua, yaitu masyarakat sebagai satu
kesatuan social dan individu, dengan memandang pada lingkungan hidup, keadaan
social dan lain-lain yang senantiasa merupakan factor-faktor yang perlu
diperhitungkan dalm timbulnya penyakit.Dengan beralihnya pandangan tersebut
maka muncullah era pelayanan kedokteran berikutnya, yang disebut “Era
Kesehatan Masyarakat”(public health). Era yang dirintis oleh sarjana-sarjana
Inggris (Edwin Chadwick & Winslow) dimana perawatan/pengobatan kedokteran
yang semua berorientasi klinis mengalihkannya ke orientasi masyarakat.

C. Periode-Periode Sejarah Perkembangan Kesehatan Masyarakat


Sejarah Panjang Perkembangan Kesehatan Masyarakat dimulai sebelum
ilmu pengetahuan modern yaitu sebelum perkembangan ilmu pengetahuan (Pre-
scientific) dan sesudah ilmu pengetahuan (scientific period).
1. Periode Sebelum Ilmu Pengetahuan
Dari kebudayaan Babylonia, Mesir, Yunani dan Roma telah tercatat
bahwa manusia telah melakukan usaha penanggulangan masalah-masalah
kesehatan masyarakat dan penykit. Yaitu adanya peraturan tertulis yang
mengatur tentang pembuangan air limbah atau drainase, pembangunan
pemukiman perkotaan, pengaturan air minum dan sebainya. Yaitu adanya
catatan bahwa telah dibangunnya latrin (tempat pembuangan kotoran umum)
dengan alas an karena tinja menimbulkan bau tak sedap meskipun bukan karena
kesehatan (Greene, 1984). Dari dokumen lain tercatat bahwa pada zaman
Romawi kuno telah dikeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan
masyarakat mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan adanya binatang-
binatang yang berbahaya dan menimbulkan bau, dan sebagainya bahkan
pemerintah kerajaan melakukan supervise atau peninjauan ke tempat-tempat
minuman, warung makan, tempat prostitusi dsb (hanlon. 1974).
Kemudian pada permulaan abad ke-1 sampai abad ke 7 adanya usaha-
usaha untuk mengatasi epidemic dan endemi penyakit kolera dan lepra , orang
sudah mulai memperhatikan masalah lingkungan, terutama hygiene dan sanitasi
lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin), pengusahaan air minum
yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah.
Pada abad ke-14 mulai terjadi wabah pes di China dan India. Pada tahun
1340 tercatat 13.000.000 orang meninggal dan setiap harinya terdapat 13.000
orang meninggal karena wabah pes di seluruh dunia. Disamping wabah pes,
wabah kolera dan tipus masih berlangsung.pada tahun 1603 sekitar 1 diantara 6
orang meninggal karena penyakit menular. Pada tahun 1759, 70.000 orang
penduduk Cyprus meninggal karena wabah dipteri, tipus, desentri dan
sebagainya.
Dari catatan-catatan diatas masalah kesehatan masyarakat khususnya
penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas namun upaya pemecahan
masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan pada
zamannya.
2. Periode Ilmu Pengetahuan
Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke- 18 dan awal abad ke-
19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia,
termasuk kesehatan. Masalah kesehatan dianggap merupakan masalah yang
kompleks, oleh sebab itu, pendekatan masalah kesehatan harus dilakukan secara
komprehensif, multisektoral.
Louis pateur telah berhasil menemukan vaksin untuk mencegah penyakit
cacar, Joseph Lister menemukan asam carbol untuk sterilisasi ruang operasi dan
William Marton menemukan ether sebagai anestesi pada waktu operasi.
Pada tahun 1832 Edwin Chadwich seorang pakar social melakukan
penyelidikan dan upaya kesehatan dengan hasil laporannya bahwa masyarakat
hidup di suatu kondisi sanitasi jelek, sumur penduduk berdekatan dengan aliran
air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah mengalir terbuka tidak
teratur, makanan dijual banyak dirubung lalat dan kecoa. Disamping itu
ditemukan sebagian masyarakat miskin yang berpenghasilan rendah sehingga
tidak mampu membeli makanan yang bergizi. Dan berdasarkan laporan yang
dilengkapi dengan analisis data statistic, akhirnya parlemen mengeluarkan
undang-undang yang mengatur upaya-upaya peningkatan kesehatan penduduk,
termasuk sanitasi lingkungan, sanitasi tempat kerja, pabrik, dsb.
Pada akhir abad ke-19ndan awal abad ke-20 mulai dikembangkan
pendidikan untuk tenaga kesehatan yang profesional. Pengembangan kurikulum
sekolah kedokteran sudah didasarkan kepada suatu asumsi bahwa penyakit dan
kesehatan itu merupakan hasil interaksi yang dinamis antara factor genetic,
lingkungan fisik, lingkungan social, kebiasaan perorangan dan pelayanan
kedokteran/kesehatan. Dari segi pelayanan kesehatan masyarakat, pada tahun
1855 pemerintah amerika telah membentuk departemen kesehatan yang
pertama kali dengan fungsi menyelenggarakan pelayanan lesehatan bagi
penduduk, termasuk pebaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.

D. Perkembangan Kesehatan Masyarakat di Indonesia


Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak
pemeintahan belanda adab ke-16. Upaya kesehatan masyarakat di mulai pada
tahun 1937 hingga 1934 dengan adanya upaya pemberantasan cacar dan kolera
yang sangat ditakuti masyarakat Indonesia waktu itu, pada tahun 1807 pada waktu
pemerintahan Gubernur Jenderal Daendeles, telah dilakukan pelatihan dukun bayi
dalam praktek persalinan. Upaya ini dilakukan dalam rangka penurunan angka
kematian bayi yang tinggi pada waktu itu. Akan tetapi upaya ini tidak berlangsung
lama, karena langkanya tenaga pelatih kebidanan. Selanjutnya pada tahun 1952
pada zaman kemerdekaan pelatihan secara cermat dukun bayi tersebut
dilaksanakan lagi sebagai penolong dan perawatan persalinan. Tidak kalah
pentingnya dalam mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah
berdirinya Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung di susul laboratorium lain
di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya dan yogyakarta pada tahun 1888,
mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan
penyakit, seperti malaria, lepra, cacar dan sebagainya. Pada tahun 1935 dilakukan
program pemberantasan pes dengan melakukan penyemprotan DDT terhadap
rumah-rumah penduduk dan juga vaksinasi massal. Tercatat 15.000.000 orang
telah memperoleh suntikan vaksinasi din tahun 1941 kemudian pada tahun 1925
Hydrich seorang petugas kesehatan pemerintah belanda melakukan pengamatan
terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-
Purwokerto pada waktu itu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya ia
menyimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini
adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan yang disebabkan oleh perilaku
penduduk itu sendiri. Masyarakat pada waktu itu membuanga sampah
disembarang tempat termasuk di kali yang airnya juga untuk di minum.
Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak penting perkembangn
kesehatan masyarakat di Indonesia adalah diperkenlkannya Konsep Bandung
(Bandung Plan) pada tahun 1951 oleh Dr. Y. Leimena dan dr. Patah. Dalam
konsep ini mulai diperkenalkan bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat,
aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti dalam
mengembangkan system pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak
boleh dipisahkan, baik di rumah sakit maupun di puskesmas. Selanjutnya pada
tahun 1956 dimulai kegiatan pengembangan masyarakat sebagai bagian dari upaya
pengembangan kesehatan masyarakat. Dan juga pada tahun yang sama dr. Y.
Sulianti mendirikan “Proyek Bekasi” sebagai proyek percontohan atau model
pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat pedesaan , di Indonesia dan
sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan. Selain itu proyek ini juga menekankan
pada pendekatan tim dalam pengelolaan program kesehatan. Untuk penerapan
konsep pelayanan terpadu ini terpilih 8 desa wilayah pengembangan masyarakat
yaitu Inderapura (sumatera Utara), Lampung, Bojong Loa (Jawa Barat), Sleman
(Jawa Tengah), Godean (Yogyakarta), Mojosari (Jawa Timur), Kesiman (Bali),
Barabai (Kalimantan Selatan). Kedelapan wilayah tersebut merupakan cikal bakal
system Puskesmas sekarang ini.
Pada bulan November 1967, dilakukan seminar yang membahas konsep
Puskesmas yang dibawakan oleh dr. Achmad Dipodilogo, yang mengacu kepada
Konsep Bandung dan Proyek Bekasi. Kesimpulan seminar ini adalah
disepakatinya system Puskesmas yang terdiri dari tipe, A, B, dan C. Dengan
menggunakan hasil-hasil seminar tersebut Departemen Kesehatan menyiapkan
rencana induk pelayanan kesehatan terpadu di Indonesia. Dan akhirnya pada tahun
1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskesmas adalah
merupakan system pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan
oleh pemerintah (departemen Kesehatan)menjadi pusat pelayanan kesehatan
masyarakat (PUSKESMAS). Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan
kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu,
menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan atau sebagian
kecamatan di kota madya atau kabupaten.
Kegiatan pokok Puskesmas mencangkup :
1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3. Gizi
4. Kesehatan lingkungan
5. Pencegahan penyakit menular
6. Penyuluhan kesehatan masyarakat
7. Pengobatan
8. Perawatan kesehatan masyarakat
9. Usaha kesehatan gizi
10. Usaha kesehatan sekolah
11. Usaha kesehatan jiwa
12. Laboratorium
13. Pencatatan dan pelaporan.
Pada tahun 1969 sistem Puskesmas hanya disepakati 2 saja, yakni tipe A dan
tipe B, dimana tipe A dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh
seorang paramedic saja. Dengan adanya perkembangan tenaga medis, maka
akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakannya perbedaan puskesmas tipe A dan
Tipe B, melainkan hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai oleh
seorang dokter dan pada tahun yang sama juga dikembangkan satu piranti
menajerial guna penilaian Puskesmas, yakni stratifikasi Puskesmas sehingga
dibedakan adanya
1. Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat baik.
2. Strata dua : Puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar
3. Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi dibawah rata-rata
Dan akhirnya pada tahun 1984 tanggung jawab Puskesmas ditingkatkan lagi,
dengan berkembangnya program paket terpadu kesehatan dan Keluarga Berencana
(POsyandu) program ini mencangkup :
1. Kesehatan Ibu dan Anak.
2. Keluarga Berencana
3. Gizi
4. Penanggulangan Penyakit diare
5. Imunisasi
Puskesmas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan
pengembangan Posyandu di wilayah kerjanya masing-masing.

E. Defenisi Kesehatan Masyarakat


Sudah banyak ahli kesehatan membuat batasan kesehatan masyarakat.
Secara kronologis batasan-batasan kesehatan masyarakat mulai dengan yang
sempit sampai batasan yang luas dapat diringkas seperti berikut ini. Batasan yang
paling tua, dikatakan bahwa kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi.
Upaya memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan adalah merupakan
kegiatan kesehatan masyarakat. Kemudian pada akhir abad ke-18 kegiatan
kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat
melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit melalui imunisasi.
Pada awal abad ke-19 kesehatan masyarakat diartikan suatu upaya integrasi antara
ilmu sanitasi dengan ilmu kedokteran. Sedangkan ilmu kedokteran itu sendiri
merupakan integrasi antara ilmu biologi dan ilmu social. Dalam perkembangan
selanjutnya, kesehatan masyarakat diartikan sebagai aplikasi dan kegiatan terpadu
antara sanitasi dan pengobatan (kedokteran) dalam mencegah penyakit yang
melanda penduduk atau masyarakat. Oloeh karena masyarakat sebagai objek
penerapan ilmu kedokteran dan sanitasi mempunyai aspek social ekonomi dan
budaya yang sangat kompleks. Akhirnya kesehatan masyarakat diartikan sebagai
aplikasi keterpaduan antra ilmu kedokteran, sanitasi, dan ilmu social dalam
mencegah penyakit yang terjadi di masyarakat.
Winslow (1920) membuat batasan kesehatan masyarakat yang sampai
sekarang masih relevan, sebagai berikut: kesehatan masyarakat (public health)
adalah ilmu dan seni: mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan
kesehatan, melalui :usaha-usaha pengorganisasian Masyarakat” untuk : perbaikan
sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit-penyakit menular pendidikan untuk
kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan
perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, pengembangan rekayasa social
untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam
memelihara kesehatannya.
Dari batasan tersebut tersirat bahwa kesehatan masyarakat adalah kombinasi
antara teori (ilmu) dan praktek (seni) yang bertujuan untuk mencegah penyakit,
memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan penduduk (masyarakat).
Ketiga tujuan tersebut sudah barang tentu saling berkaitan dan mempunyai
pengertian luas. Untuk mencapai ketiga tujuan pokok tersebut, winslow
mengusulkan cara atau pendekatan yang dianggap paling efektif adalah dengan
mengusulkan cara atau pendekatan yang dianggap paling efektif adalah melalui
“upaya-upaya pengorganisasian masyarakat” dalam rangka pencapaian tujuan-
tujuan Kesehatan Masyarakat, pada hakikatnya adalah menghimpun potensi
masyarakat atau sumber daya yang ada dalam masyarakat itu sendiri dalam upaya
preventif, kuratif, promotif, dan rehabilitative kesehatan meraka sendiri.
Batasan lain disampaikan oleh Ikatan Dokter Amerika (1948). Kesehatan
Masyarakat adalah ilmu dan seni memlihara, melindungi dan meningkatkan
kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Batasan
ini mencangkup pula usaha-usaha pengorganisasian masyarakat mencangkup pula
usaha masyarakat dalam pengadaan pelayanan kesehatan pencegahan dan
pemberantasan penyakit.
Dari perkembangan batasan kesehatan masyarakat seperti tersebut di atas
dapat di simpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan
sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu social, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.

F. Ruang Lingkup Kesehatan Masyarakat


Kesehatan masyarakat pada mulanya hanya mencakup 2 disiplin pokok
keilmuan, yakni ilmu bio-medis (medical biologi) dan ilmu-ilmu social (social
Sciences). Tetapi sesuai dengan perkembangan ilmu, maka disiplin ilmu yang
mendasari ilmu kesehatan masyarakat pun berkembang. Sehingga sampai saat ini
disiplin ilmu yang mendasari ilmu kesehatan masyarakat antara lain, mencakup :
ilmu biologi, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu fisika, ilmu lingkungan, sosiologi,
antropologi, psikologi, ilmu pendidikan, dsb. Oleh sebab itu ilmi kesehatan
masyarakat adalah merupakan ilmu yang multidisiplin.
Secara garis besar, disiplin ilmu yang menopang ilmu kesehatan masyarakat,
atau sering disebut sebagai pilar utama ilmu kesehatan masyarakat ini, antara lain
sebagai berikut :
1. Epidemiologi.
2. Biostatistik/statistic kesehatan.
3. Kesehatan Lingkungan.
4. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
5. Administrasi Kesehatan Masyarakat.
6. Gizi Masyarakat.
7. Kesehatan Kerja.
Masalah kesehatan masyarakat adalah multi kausal, maka pemecahannya
secara multidisiplin. Secara garis besar, upaya-upaya yang dapat dikategorikan
sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat antara lain sebagai berikut:
1. Pemberantasan penyakit, baik menular maupun tidak menular.
2. Perbaikan sanitasi lingkungan.
3. Perbaikan lingkungan pemukiman.
4. Pemberantasan vector.
5. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan masyarakat.
6. Pelayanan kesehatan ibu dan anak.
7. Pembinaan gizi masyarakat.
8. Pengawasan sanitasi tempat-tempat umum.
9. Pengawasan obat dan minuman.
10. Pembinaan peran serta masyarakat, dan sebagainya
G. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan Masyarakat
Masalah kesehatan merupakan suatu masalah yang sangat kompleks, yang
saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri.
Demikian pula pemecahan masalah kesehatan masyarakat, tidak hanya dilihat dari
segi kesehatannya sendiri, tapi harus dilihat dari seluruh segi yang ada
pengaruhnya terhadap masalah “sehat-sakit” atau kesehatan tersebut.

GEN

Lingkungan :
Fisik
Status Social ekonomi,
Pelayanan
kesehatan budaya, dsb
kesehatan

Perilaku

Perilaku

Keempat factor tersebut (gen, lingkungan, perilaku dan pelayanan


kesehatan) di samping berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling
berpengaruh satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal,
bilamana keempat factor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang
optimal pula. Salah satu factor saja berada dalam keadaan yang terganggu (tidak
optimal, maka status kesehatan akan tergeser ke arah di bawah optimal.
Ada tiga factor yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang yaitu
1. Penyebab penyakit
2. Manusia
3. Lingkungan hidup
Gangguang keseimbangan antara ke tiga factor tersebut menyebabkan
timbulanya penyakit.
1. Penyebab penyakit
Penyebab penyakit dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu :
a. Golongan exogen
Yaitu penyebab penyakit yang terdapat di luar tubuh manusia yang dapat
menyerang perorangan dan masyarakat.
Golongan endogen
Yaitu penyebab yang terdapat di dalam tubuh manusia yang dapat
menyerang perorangan dan masyarakat
b. Golongan exogen
Golongan exogen di bagi dalam :
1) Yang nyata dan hidup
Penyebab penyakit ini sering di sebut bibit penyakit, berupa bakteri,
virus, jamur, protozoa, cacing dan sebagainya.
2) Yang nyata tak hidup
a) Zat-zat kimia ; racun, asam, asam atau alkali kuat, logam dsb
b) Trauma (rupa paksa)
(1) Trauma elektrik : kena arus listrik
(2) Trauma mekanik : terpukul, tertabrak
(3) Trauma thermik : terbakar
c) Makanan : kekurangan beberapa zat makanan seperti protein, vitamin
atau kekeurangan makanan secara keseluruhan (kelaparan)
3) Yang abstrak
1. Bidang ekonomi : kemiskinan
2. Bidang social : sifat a-sosial; anti social
3. Bidang mental : kesusahan, rasa cemas, rasa takut

c. Golongan endogen
Penyebab penyakit golongan endogen terdiri atas complex sifat
seseorang yang dasarnya sudah ditentukan sejak lahir, yang memudahkan
timbulnya penyakit-penyakit tertentu
Ke dalam golongan ini termasuk antara lain:
1) Habitus (perawakan) misalnya habitus asthenicus yaitu perawakan yang
tinggi, kurus dan berdadad sempit dikatakan mudah terserang penyakit
tuberculosa.
2) Penyakit-penyakit turunan misalnya : asthma, buta warna, haemophili.
3) Factor usia : daya tahan tubuh pada bayi, anak-anak, orang dewasa dan
pada usia lanjut berbeda-beda.
2. Manusia sebagai tuan rumah
Berbicara tentang kesehatan, maka jelaslah manusia sebagai tuan rumah,
yaitu manusia yang dihinggapi penyakit merupakan factor yang sangat penting.
Bila seseorang dikenai sesuatu penyebab penyakit atau ditulari bibit
penyakit, belum tentu akan menjadi sakit, karena masih tergantung pada
beberapa hal.
Salah satu diantaranya yaitu daya tahan tubuh orang tersebut. Daya tahan
tubuh yang tinggi baik jasmani, rohani maupun sosialnya dapat menghindarkan
manusia dari berbagai jenis penyakit.
Daya tahan tubuh ini dapat dipertinggi dengan :
a. Makanan yang sehat, cukup kwalitas maupun kwantitasnya
b. Vaksinasi untuk mencegah penyakit infeksi tertentu
c. Pemeliharaan pembinaan kesemaptaan jasmani dengan olah raga secara
teratur.
d. Cara hidup yang teratur : bekerja, beristirahat, berekreasi, dan menikmati
hiburan pada waktunya.
3. Lingkungan hidup
Lingkungan hidup adalah segala sesuatu baik benda maupun keadaan
yang berada di sekitar manusia, yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia
dan masyarakat.
Lingkungan hidup ini dapat dibagi dalam empat golongan yaitu :
a. Lingkungan biologic
b. Lingkungan fisik
c. Lingkungan ekonomi.
d. Lingkungan mental social
Keempat macam lingkungan hidup ini masing-masing ada yang berguna
dan ada yang merugikan serta yang satu mempengaruhi yang lainnya secara
timbale balik.
a. Lingkungan biologic
b. Terdiri atas organisme-organisme hidup yang berada di sekitar manusia yang
merugikan.
c. Bibit-bibit penyakit seperti : bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing dan
sebagainya.
d. Binatang penyebar penyakit seperti : lalat, nyamuk, kutu-kutu dan
sebagainya
e. Organism-organisme sebagai hama tanaman atau pembunuh ternak yang
berguna.
Tumbuhan dan hewan sebagai sumber bahan makanan.Organism yang
berguna untuk industry misalnya untuk pembuatan antibiotika atau sebagai
bahan obat.
Lingkungan fisik
Terdiri atas benda-benda yang tak hidup yang berada di sekitar manusia.
Termasuk ke dalam golongan ini : udara, sinar matahari, tanah, air, perumahan,
sampah dan sebagainya.
Yang merugikan
1. Udara yang berdebu, mengandung gas-gas yang merugikan yang berasal
dari kendaraan bermotor maupun pabrik-pabrik
2. Iklim yamng buruk
3. Tanah yang tandus
4. Air rumah tangga yang buruk
5. Perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan
6. Pembuangan sampah dan kotoran yang tidak teratur yang berguna
7. Udara yang bersih
8. Tanah yang subur dengan iklim yang baik
9. Makanan, pakaian dan perumahan yang sehat
Lingkungan ekonomi
Lingkungan ekonimi merupakan lingkungan hidup yang abstrak.
Yang merugikan
1. Kemiskinan
2. Kwashiorkor (protein-calori malnutritions) pada anak-anak
3. Penyakit-penyakit karena kekurangan vitamin misalnya: Xerohthalmi,
scorbut, beri-beri.
Yang menguntungkan
1. Kemakmuran yang merata pada setiap warga masyarakat
Lingkungan mental social juga merupakan lingkungan hidup yang abstrak
Yang merugikan
2. Sifat-sifat a-sosial, anti social, kebiadaban, sifat mementingkan diri sendiri.
Yang menguntungkan
Sifat gotong-royong, patuh dan menghormati hokum-hukum yang berlaku
dalam masyarakat, berperi kemanusiaan berdasarkan ke-tuhanan Yang Maha
Esa.
Keempat macam lingkungan hidup di atas, saling pengaruh
mempengaruhi secara timbale balik. Kemiskinan bila disertai dengan sifat-sifat
a-sosial dan anti social, akan menyebabkan keruntuhan ahlak secara total.