You are on page 1of 259

MODUL AJAR

Judul Matakuliah

MEKANIKA FLUIDA

Disusun oleh:
Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc

PROGRAM STUDI FISIKA TEKNIK


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
November 2013

i
Halaman Pengesahan

A. PENYUSUN
1. Nama : Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc
2. NIP : 19670620 199303 1 003
3. Pangkat/Golongan : Lektor/IIIc
4. Jabatan sekarang : Penata

B. DESKRIPSI MATAKULIAH
1. Nama Matakuliah : Mekanika Fluida
2. Kode : TNF 2126
3. SKS :3
4. Semester :3
5. Sifat : Wajib
6. Matakuliah prasyarat : Mekanika

C. SILABUS MATAKULIAH
Hukum-hukum dasar fisika dalam mekanika fluida. Sifat-sifat fluida. Statika
fluida. Dinamika fluida: aliran dalam saluran tertutup, saluran terbuka dan di
sekitar benda serta metode pengukuran fluida. Similaritas dan analisis dimensi.
Hukum-hukum dasar mekanika dan sifat-sifat fluida

Yogyakarta, 15 November 2013


Penyusun,

Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc


NIP. 19670620 199303 1 003

ii
Daftar Isi

Halaman Pengesahan________________________________________________ ii
Daftar Isi ________________________________________________________ iii
Daftar Gambar ____________________________________________________ vi
Daftar Tabel______________________________________________________ xii
MODUL I. KONSEP DAN DEFINISI _________________________________1
A. Cakupan Mekanika Fluida_______________________________________1
B. Konsep Kontinum _____________________________________________3
C. Sifat Fluida di Satu Titik ________________________________________4
D. Medan Tekanan _______________________________________________8
MODUL II. STATIKA FLUIDA_____________________________________12
A. Kerangka Acuan _____________________________________________12
B. Hukum Pascal _______________________________________________13
C. Ragam Tekanan ______________________________________________16
D. Tekanan Mutlak, Relatif & Hampa _______________________________19
E. Persamaan Dasar Fluida Statik __________________________________21
F. Pengukuran Tekanan __________________________________________28
G. Gaya Pada Permukaan Terendam ________________________________38
H. Pengapungan ________________________________________________40
MODUL III. SIFAT-SIFAT FLUIDA _________________________________48
A. Definisi Fluida _______________________________________________49
B. Viskositas___________________________________________________52
C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian _____________________________54
D. Tekanan Uap ________________________________________________57
E. Kompresibilitas ______________________________________________59
F. Tegangan Permukaan __________________________________________60
G. Kapilaritas __________________________________________________64
MODUL IV. DESKRIPSI ALIRAN __________________________________72
A. Ragam Cara Pandang Aliran ____________________________________72
B. Kinematika Fluida ____________________________________________79
C. Visualisasi Aliran ____________________________________________86
D. Penyajian Data Aliran _________________________________________93
MODUL V. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN _________________________95

iii
A. Pendekatan Analisis __________________________________________95
B. Neraca Integral Massa _________________________________________97
C. Neraca Integral Momentum Linier ______________________________101
D. Neraca Integral Momentum Angular ____________________________109
E. Neraca Integral Energi ________________________________________118
MODUL VI. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN PADA CV DIFERENSIAL 122
A. CV diferensial silindrik _______________________________________122
B. CV diferensial kubik _________________________________________127
MODUL VII. ANALISIS DIFERENSIAL ALIRAN ____________________131
A. Analisis Diferensial vs. Integral ________________________________131
B. Neraca Diferensial Massa _____________________________________133
C. Neraca Diferensial Momentum _________________________________146
MODUL VIII. ALIRAN INVISID __________________________________167
A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial) ____________________________168
B. Solusi Analitik ______________________________________________169
C. Aliran Invisid 2-D ___________________________________________173
D. Solusi Numerik _____________________________________________175
MODUL IX. ALIRAN VISKOS ____________________________________181
A. Aliran Laminer & Turbulen ___________________________________181
B. Lapisan Batas_______________________________________________182
C. Persamaan Lapisan Batas _____________________________________184
D. Penyelesaian Blasius _________________________________________190
E. Analisis Integral Momentum von Kärmän ________________________192
MODUL X. ALIRAN DALAM SALURAN TERTUTUP ________________198
A. Analisis Dimensional ________________________________________198
B. Faktor Gesekan _____________________________________________200
C. Kerugian Head ______________________________________________200
D. Macam Persoalan Aliran ______________________________________202
E. Pengukuran Aliran ___________________________________________202
MODUL XI. ALIRAN DALAM SALURAN TERBUKA ________________214
A. Klasifikasi Aliran ___________________________________________215
B. Aliran Seragam _____________________________________________218
C. Lompatan Hidrolik __________________________________________224
D. Pengukuran Aliran___________________________________________228
MODUL XII. ALIRAN EKSTERNAL _______________________________231

iv
A. Aliran Eksternal vs. Internal ___________________________________231
B. Gaya Hambat & Angkat ______________________________________232
MODUL XIII. KESERUPAAN & PEMODELAN ______________________238
A. Dimensi ___________________________________________________238
B. Nirdimensionalisasi __________________________________________239
C. Analisis Dimensi ____________________________________________240
D. Ekstrapolasi Model-Prototipe __________________________________245

v
Daftar Gambar

Gambar 1. Contoh-contoh terapan mekanika fluida ________________________4


Gambar 2. Densitas di satu titik _______________________________________5
Gambar 3. Gaya pada sebuah elemen fluida ______________________________6
Gambar 4. Elemen dalam fluida statik __________________________________6
Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan ______________8
Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy_____________________________________9
Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida ______________________________14
Gambar 8. Prinsip dongkrak mobil ____________________________________16
Gambar 9. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida ______________________17
Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida ___________________17
Gambar 11. Tabung berbentuk U _____________________________________18
Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida______________________18
Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur, tekanan
vakum dan tekanan mutlak _____________________________________20
Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis __________________21
Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana
tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________23
Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis dalam kerangka
koordinat dipercepat dengan percepatan angular a ___________________24
Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana
tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________25
Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480) _____________27
Gambar 19. Barometer fluida ________________________________________28
Gambar 20. Barometer digital ________________________________________28
Gambar 21. Piezometer _____________________________________________30
Gambar 22. Manometer U sederhana __________________________________31
Gambar 23. Manometer U Terbalik ___________________________________32
Gambar 24. Manometer 1-kaki besar __________________________________33
Gambar 25. Manometer 2- fluida ______________________________________35
Gambar 26. Manometer berkaki miring ________________________________35
Gambar 27. Tabung Bourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kana n) ____________37
Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum________________37
Gambar 29. Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam _______________39
Gambar 30. Gaya- gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda _______41

vi
Gambar 31. Benda mengapung, melayang dan tenggelam __________________42
Gambar 32. Gunung es mengapung di permukaan laut karena densitas es
(padat) lebih rendah daripada air laut (cair) ________________________43
Gambar 33. Gaya apung pada benda___________________________________44
Gambar 34. Kestabilan benda celup (immersed body) _____________________45
Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body) ______________________45
Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara _____46
Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air ____46
Gambar 38. Dok kapal tenggelam sebagian _____________________________47
Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton sedang menjalani perbaikan di
atas dok kapal _______________________________________________47
Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial ______________________50
Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan ______________________________51
Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida________________________________52
Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang
mencerminkan pengaruh viskositas fluida__________________________53
Gambar 44. Efek Coanda ___________________________________________53
Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu ________________54
Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress, ) dengan laju
regangan geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida _____55
Gambar 47. Efek perubahan mendadak laju geser pada viskositas semu
fluida gayut-waktu ____________________________________________57
Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal ________________________58
Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal ________________________58
Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga _____________60
Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air ____________________60
Gambar 52. Gaya- gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan ______61
Gambar 53. Komponen gaya-gaya pada butiran fluida_____________________62
Gambar 54. Dua permukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun ________63
Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat_________64
Gambar 56. Efek kapilaritas _________________________________________65
Gambar 57. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom
fluida yang mendaki di atas permukaan bebas ______________________66
Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom
fluida yang membenam di bawah permukaan bebas __________________67
Gambar 59. Kenaikan air dan penurunan Hg sebagai fungsi diameter pipa
kapilar _____________________________________________________69
Gambar 60. Efek kapilaritas _________________________________________70

vii
Gambar 61. Dalil Transport Reynolds _________________________________74
Gambar 62. Analisis pergerakan sensor mikron untuk pemantauan
lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian ______76
Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia
dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian _____________________76
Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan metode Lagrangian
dan Eulerian _________________________________________________78
Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida ___________79
Gambar 66. Ragam gerak yang bisa dialami oleh elemen fluida _____________80
Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida _________________________80
Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding, dan irrotasional di jauh
dinding _____________________________________________________82
Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida ____________________82
Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida _______________84
Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida _______________85
Gambar 72. Visualisasi aliran melalui sebuah bola _______________________87
Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline ________________________87
Gambar 74. Kontur tekanan dan streamline pada NASCAR ________________88
Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada
pesawat terbang ______________________________________________88
Gambar 76. Deskripsi pathline _______________________________________89
Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry
(PIV) ______________________________________________________89
Gambar 78. Deskripsi streakline ______________________________________90
Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take-off and
Landing)____________________________________________________90
Gambar 80. Streakline berupa vortex ujung sayap ________________________91
Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe
berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS) _______91
Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline _______________92
Gambar 83. Timelines yang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen
digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan
batas (boundary layer). ________________________________________93
Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal
dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar ______________________93
Gambar 85. Peta vektor kecepatan ____________________________________94
Gambar 86. Peta kontur tekanan ______________________________________94
Gambar 87. Contoh CV diam ________________________________________96

viii
Gambar 88. Contoh CV bergerak _____________________________________96
Gambar 89. Contoh CV berdeformasi__________________________________97
Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran ______________98
Gambar 91. Aliran melalui CV diam __________________________________99
Gambar 92. Tangki terbuka berisi air _________________________________100
Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube _______103
Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket __________________104
Gambar 95. Sudu turbin air Pelton ___________________________________106
Gambar 96. Struktur lengkap turbin Pelton ____________________________107
Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton ______________________107
Gambar 98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku_________110
Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular ______________________111
Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri) dan turbin aliran
radial (kanan) _______________________________________________112
Gambar 101. Skema turbin aliran radial _______________________________113
Gambar 102. Komponen kecepatan pada sudu turbin_____________________115
Gambar 103. Prinsip kerja turbin Hero ________________________________116
Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar
turbin _____________________________________________________117
Gambar 105. CV diferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar _______123
Gambar 106. Profil kecepatan aliran laminer dalam pipa __________________126
Gambar 107. Diagram faktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds _____127
Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi sebagai fungsi kecepatan
aliran _____________________________________________________127
Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring _________128
Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring ___________________130
Gambar 111. Analisis integral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan) _________132
Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial _________________________134
Gambar 113. Vortex garis dan spiral _________________________________140
Gambar 114. Gradien garis singgung pada streamline ____________________141
Gambar 115. Makna fisis stream function _____________________________142
Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function _________________143
Gambar 117. Streamline vortex garis spiral ____________________________145
Gambar 118. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang x- y____________________________________148
Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang x- z ____________________________________148

ix
Gambar 120. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang y- z ____________________________________149
Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh terhadap medan
kecepatan aliran, bukan tekanan ________________________________157
Gambar 122. Syarat batas di antarmuka 2- fluida ________________________159
Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas__________________________159
Gambar 124. Gaya geser dalam aliran Couette berkembang penuh __________163
Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar______________________163
Gambar 126. Aliran fluida Newtonian, laminer, steady, dan inkompresibel
dalam pipa _________________________________________________165
Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a______170
Gambar 128. Medan tekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga _173
Gambar 129. Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak __________177
Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar __178
Gambar 131. Kontur streamline _____________________________________179
Gambar 132. Kontur kecepatan______________________________________179
Gambar 133. Kontur tekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa _______180
Gambar 134. Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b) _________183
Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal 
terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan
y terhadap panjang plat (L) ____________________________________185
Gambar 136. Normalisasi tekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas,
waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan
viskositas kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L _________186
Gambar 137. Grafik tebal lapisan batas per x (/x) sebagai fungsi Rex _______192
Gambar 138. Tebal lapisan batas () pada berbagai posisi x dari hulu plat
untuk berbagai kecepatan _____________________________________192
Gambar 139. CV dalam lapisan batas _________________________________193
Gambar 140. Venturimeter _________________________________________203
Gambar 141. Orificemeter__________________________________________205
Gambar 142. Tabung Pitot _________________________________________208
Gambar 143. Setup tabung Pitot _____________________________________209
Gambar 144. Rotameter ___________________________________________210
Gambar 145. Gaya- gaya yang bekerja pada apungan _____________________211
Gambar 146. Macam- macam geometri apungan ________________________213
Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan ______________217
Gambar 148. Saluran terbuka _______________________________________219

x
Gambar 149. Saluran terbuka ragam dinding ___________________________224
Gambar 150. Lompatan hidrolik _____________________________________224
Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1) ___________________________________226
Gambar 152. Aliran deras (Fr>1,0) __________________________________227
Gambar 153. Notch berbentuk sembarang _____________________________228
Gambar 154. Notch-V _____________________________________________229
Gambar 155. Notch trapesium ______________________________________230
Gambar 156. Aliran eksternal _______________________________________232
Gambar 157. Pemisahan aliran pada aerofoil ___________________________234
Gambar 158. Efek pemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat
aerofoil ____________________________________________________235
Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen___________235
Gambar 160. Kurva Cd bola dan silinder ______________________________236
Gambar 161. Model dan prototipe mobil ______________________________241
Gambar 162. Prototipe dam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan
model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b) __________243
Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b) _____________244

xi
Daftar Tabel

Tabel 1. Nilai tegangan permukaan beberapa cairan .............................................63


Tabel 2. Langkah- langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik .......133
Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän .......................196
Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa.......................................198
Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen ....................................................201

xii
MODUL I.
KONSEP DAN DEFINISI

Deskripsi
Mekanika Fluida (MF) adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat fluida. Bidang ini
sangat luas penerapannya mengingat fluida adalah bagian dari kehidupan
manusia. Oleh karena itu, modul dibuka dengan ulasan tentang cakupan dari
Mekanika Fluida, lalu diikuti dengan konsep-konsep dasar, peristilahan dan
definisinya, dan ditutup dengan rangkuman.
Seperti halnya ilmu lainnya, bangunan Mekanika Fluida (MF) didirikan di atas
cara-cara pandang dan buah-buah pemikiran (konsep) kolektif ilmuwan tentang
sifat fluida yang dibangun secara sistematis melalui pendekatan ilmiah. Beserta
konsep datang istilah dan definisi. Istilah adalah sekedar sebutan, sedangkan
definisi adalah makna terbatas dari suatu konsep. Pembatasan makna sengaja
dibuat untuk sejauh mungkin menghindari keambiguan atau kerancuan. Dengan
demikian, ilmu bisa secara bersama-sama dikembangkan, dihimpun, dan
dikomunikasikan dengan efektif oleh manusia sedunia sebagai bagian dari
peradaban.
Sasaran belajar:
1. Menjelaskan cakupan Mekanika Fluida (MF)
2. Memberikan gambaran penerapan MF dalam dunia nyata
3. Menjelaskan konsep kontinum dan batas-batas keberlakuannya
4. Menjelaskan konsep partikel fluida
5. Mendefinisikan densitas, tekanan, dan tegangan (stress).

A. Cakupan Mekanika Fluida


Mekanika Mekanika adalah ilmu fisika yang berurusan dengan benda diam dan
bergerak dalam pengaruh gaya-gaya.
1) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda diam disebut
statika, dan
2) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda bergerak
disebut dinamika.
Mekanika Mekanika fluida adalah ilmu yang berurusan dengan watak fluida
Fluida dalam keadaan diam (statika fluida) atau fluida dalam keadaan
bergerak (dinamika fluida), dan interaksi fluida dengan padatan atau
fluida lain pada permukaan batasnya. Mekanika fluida sering juga
disebut dinamika fluida dengan memandang fluida diam sebagai
kasus khusus dari fluida bergerak dengan kecepatan nol.
Statika Fluida Statika fluida menangani persoalan fluida diam. Contoh: fluida
dalam gelas, fluida dalam bejana bertekanan, fluida dalam waduk,
dll.
Fluida diam berada dalam keadaan setimbang (resultan gaya yang

1
bekerja padanya sama dengan nol). Dalam fluida diam (fluida tidak
mengalir) tidak terdapat tegangan geser (shear stress).
Dinamika Dinamika fluida menangani persoalan fluida bergerak, atau biasa
Fluida disebut mengalir. Aliran terjadi akibat resultan gaya yang bekerja
padanya tidak sama dengan nol.
Contoh fenomena aliran bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya:
1) Aliran air di badan sungai.
2) Aliran air bersih dalam sistem pipa di rumah-rumah.
3) Aliran air limbah dalam saluran drainase.
4) Aliran lumpur Sidoarjo, Jawa Timur.
5) Aliran awan panas dan lahar dari gunung Merapi, Jawa
Tengah.
6) Aliran udara (angin) atmosfir bumi.
7) Aliran fluida pada segala fenomena alami dan fenomena
buatan manusia.
Kategori Mekanika fluida dibagi dalam beberapa kategori, menurut riwayat
Mekanika perkembangannya, yaitu:
Fluida
1) Hidrodinamika: ilmu tentang gerak fluida yang praktis
inkompresibel semisal cairan, khususnya air, dan gas pada
kecepatan rendah. Subkategori hidrodinamika adalah
hidrolika, yang berurusan dengan aliran cairan dalam pipa
dan kanal terbuka.
2) Dinamika gas: ilmu tentang gerak fluida yang mengalami
perubahan densitas signifikan, semisal aliran gas melalui
nozel pada kecepatan tinggi.
3) Aerodinamika: ilmu tentang gerak gas (khususnya udara)
melalui benda semisal pesawat terbang, roket, dan mobil pada
kecepatan tinggi atau rendah.
4) Kategori khusus lainnya: meteorologi, oseanografi, dan
hidrologi yang berurusan dengan aliran yang terjadi secara
alamiah.
Kepentingan Penguasaan mekanika fluida esensial bagi insinyur teknik (fisika,
Mekanika kimia, mesin, nuklir, sipil, dan lain-lain) karena banyak persoalan
Fluida
(desain, operasi atau perawatan) yang ditangani melibatkan aliran zat
dalam fase cair atau gas. Sedikit gambaran tentang persoalan tersebut
adalah aliran pada:
1) Sistem teknik untuk menuai energi dari alam, misalnya:
kincir air, turbin air, turbin angin, dan pemanas air tenaga
surya.
2) Peralatan untuk menggerakkan aliran fluida, misalnya: untuk
cairan adalah pompa dan untuk gas adalah kipas, blower atau

2
kompresor.
3) Sistem pembangkit listrik dengan tenaga air (PLTA), tenaga
uap (PLTU), tenaga gas (PLTG), tenaga uap dan gas
(PLTGU), tenaga panas bumi (PLTPB), dan tenaga nuklir
(PLTN).
4) Kendaraan penumpang atau barang di darat (mobil, truk, bus,
kereta api), di laut (kapal, kapal selam), dan di udara (balon
gas, pesawat udara).
5) Sistem transportasi fluida untuk mendistribusikan air bersih,
menyalurkan bahan bakar minyak dan gas, mengumpulkan air
limbah kota.
6) Sistem proses yang begitu banyak dijumpai dalam industri
kimia yang melibatkan proses-proses pembakaran,
pencampuran, pengadukan, pemanasan, pendinginan,
pemisahan, dll.

B. Konsep Kontinum
Konsep Fluida, sebagaimana materi lainnya, tersusun dari molekul-molekul
Kontinum yang jumlahnya fantastis. Dalam 1 cc udara pada keadaan ruang
terdapat sekitar 1020 molekul. Teori apapun yang digunakan untuk
menjelaskan gerak molekul demi molekul akan menjadi sangat-
sangat rumit atau bahkan di luar jangkauan kemampuan kita
sekarang. Pendekatan paling halus saat ini paling-paling hanya
memperhitungkan sekelompok molekul yang bisa dinyatakan
sifatnya secara statistik, bukan memperhitungkan individu molekul.
Kebanyakan urusan keteknikan melibatkan watak curahan fluida
(makroskopik) daripada watak molekul demi molekul (mikroskopik).
Dalam kebanyakan kasus, enaknya fluida diperlakukan sebagai
distribusi tinerus (continuous distribution) dari materi atau sebut
saja kontinum.
Sudah barang tentu, anggapan kontinum tidak berlaku pada segala
keadaan. Konsep kontinum tidak berlaku jika jumlah molekul per
unit volume sangat-sangat sedikit sehingga wataknya menjadi
bergantung pada waktu akibat berubah-ubahnya distribusi molekul
terhadap waktu.

3
Gambar 1. Contoh-contoh terapan mekanika fluida

Perlakuan fluida sebagai kontinum sahih jika dalam volume terkecil


yang dikaji terkandung cukup banyak molekul sehingga sifat rerata
statistiknya mengandung arti. Dalam hal ini sifat makroskopik fluida
dianggap beragam secara tinerus/sinambung dari titik ke titik dalam
ruang, sehingga dengan demikian konsep titik dalam matematika
bisa diterapkan untuk analisis fenomena fluida. Dari sini jelas tampak
bahwa kesahihan konsep kontinum bergantung lebih pada macam
informasi yang diinginkan atau pada cara pandang daripada sifat
alami (nature) fluida itu sendiri.

C. Sifat Fluida di Satu Titik


Densitas Sifat-sifat fluida pada berbagai keadaan beragam dari titik satu ke
di satu titik/ titik lain. Berikut kita ulas definisi sejumlah variabel fluida di satu
partikel fluida
titik.
Densitas fluida didefinisikan sebagai massa per satuan volume.
Densitas, , pada suatu titik dalam fluida didefinisikan sebagai:
m
  lim
V V V
dengan m adalah massa yang terdapat di dalam volume V, dan  V
adalah volume terkecil yang melingkupi titik yang di situ rerata
statistik masih memiliki arti, dan besarnya sekitar 1 (m)3 . Fluida
seukuran  V ini disebut sebagai partikel fluida.

4
Domain Domain
m molekuler kontinum
V

V V

Gambar 2. Densitas di satu titik

Dalam kaitannya dengan definisi ini, konsep densitas di satu titik


secara matematis yang didefinisikan sebagai:
m
  lim
V 0 V
secara fisik tampak menjadi fiktif atau jadi-jadian. Walaupun
demikian, pendefinisian densitas secara matematis sangatlah
berguna, karena ia memungkinkan penggambaran aliran fluida
sebagai fungsi tinerus (continuous function). Dengan kata lain,
matematika jadi bisa dimanfaatkan untuk menganalisis fenomena
fluida. Oleh karena itu, dalam pendekatan kontinum, pendefinisian
sifat di satu titik secara matematiklah yang kita gunakan dalam
praktiknya.
Tegangan Tegangan (stress) didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Gaya
(stress) yang bekerja pada fluida ada 2 macam, yaitu gaya badan (body force)
di satu titik
dan gaya permukaan (surface force). Gaya badan bekerja tanpa
kontak fisik, yaitu akibat pengaruh medan gaya di sekitarnya, apakah
itu medan gravitasi, listrik atau magnet. Gaya permukaan bekerja
melalui kontak fisik di permukaan benda.
Gaya permukaan yang bekerja pada suatu bidang biasa diuraikan
menurut komponen tegak lurus dan komponen sejajar bidang
permukaan. Lihat Gambar 3. Gaya yang tegak lurus permukaan
disebut gaya normal (normal force), Fn , dan gaya yang sejajar
permukaan disebut gaya geser (shear force), Fs. Dengan demikian,
tegangan pun ada 2 macam, yaitu tegangan normal (normal stress)
dan tegangan geser (shear stress).

5
Fn
F

Fs

dA

Gambar 3. Gaya pada sebuah elemen fluida

Tegangan normal, , di satu titik didefinisikan sebagai:


Fn
  lim
A 0 A
dan tegangan geser, , di satu titik didefinisikan sebagai:
Fs
  lim
A0 A

Tekanan Untuk fluida statik, tegangan normal di satu titik bisa ditentukan dari
di satu titik penerapan hukum Newton kedua tentang gerak pada elemen fluida
(Hukum
Pascal)
(Gambar 4) yang volumenya mendekati nol.

Fs

s

Fx
y
z

x

Fy

Gambar 4. Elemen dalam fluida statik

Untuk benda diam, resultan gaya sama dengan nol.

6
F  0
Neraca gaya dalam arah-x adalah:
y
F  Fx  Fs sin    Fx  Fs 0
s
x

Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-x, yaitu


yz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai
menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan:
 Fx Fs 
lim   0
V 0
 yz sz 
atau:
  xx   ss  0

 xx   ss .
Menurut konvensi, tegangan normal bernilai positif untuk tarikan
(tension), dan sebaliknya negatif. Dengan kata lain, tegangan normal
adalah gaya tarik per satuan luas. Subskrip pertama pada notasi 
menandakan bidang kerja tegak lurus dengan sumbu-subskrip, dan
subskrip kedua menandakan arah kerja sejajar sumbu-subskrip. Misal
subskrip xx pada xx, x pertama menandakan bidang kerja yang tegak
lurus dengan sumbu-x, dan subskrip kedua menandakan arah kerja
yang sejajar dengan sumbu-x.
Neraca gaya dalam arah-y adalah:
xyz
F y  Fy  Fs cos   g 0
2
x xyz
F y  Fy  Fs
s
 g
2
0

Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-y, yaitu


xz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai
menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan:
 Fy Fs y 
lim    g   0
V 0 xz sz
 2
atau:
  yy   ss  0  0

 yy   ss .
Tegangan normal sebenarnya merupakan besaran tensor yang
mempunyai orientasi. Namun, ungkapan akhir yang diperoleh di atas
tidak membawa informasi sudut . Jadi tegangan normal di satu titik
dalam fluida statik tidaklah tergantung pada arah, dan dengan
demikian ia bisa disederhanakan dengan besaran skalar tekanan.

7
Karena tegangan normal memperhitungkan gaya tarik, sedangkan
tekanan memperhitungkan gaya tekan, maka keduanya berlawanan
tanda.
Pada fluida statik, tegangan geser tidak ada (karena fluida diam), dan
besarnya tekanan sama dengan tegangan normal tetapi berbeda tanda:
p   xx   yy   ss

Pada fluida dinamik, adanya tegangan geser menyebabkan


komponen-komponen tegangan normal di satu titik bolehjadi tidak
sama. Walaupun demikian, tekanan satu titik tetap sama dengan
rerata dari komponen-komponen tegangan normalnya:
   yy   ss 
p
xx

3
Perkecualian adalah untuk aliran dalam gelombang kejut (shock
waves) sebagaimana yang ditemukan di sekitar pesawat supersonik
atau di sekitar peluru dan ujung senapan (Gambar 5).

Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan

D. Medan Tekanan
Variasi sifat Aliran fluida terjadi karena perbedaan tekanan. Oleh karena itu,
titik demi titik deskripsi variasi tekanan dari titik satu ke titik lain (medan tekanan)
sangatlah penting dalam aliran fluida.
Medan tekanan dua dimensi secara umum adalah p = f(x, y).
Perubahan tekanan p antara dua titik dalam daerah yang terpisah
sejauh dx dan dy adalah turunan total dari p:
p p
dp  dx  dy
x y

8
Perubahan nilai p sepanjang jejak sembarang s (Gambar 6) adalah:
dp p dx p dy
 
ds x ds y ds
dan berdasarkan hubungan geometri:
dp p p
 cos   sin  
ds x y

y
Jejak s

ds
dy

dx

Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy

Pada prinsipnya jejak s dalam medan tekanan bisa dipilih secara


bebas, tetapi yang paling bermanfaat adalah:
1) jejak s yang menunjukkan garis tekanan-sama (isobar),
(dp/ds) = 0 dan
2) jejak s yang menunjukkan perubahan-tekanan maksimum,
(dp/ds) = maksimum.
Garis-garis isobar mudah ditentukan dengan menolkan (dp/ds), yaitu:
dp p p
 cos   sin    0
ds x y
Dari sini diperoleh

tan  dp ds 0  


p x 
p y 
atau
dy p x 

dx dp ds 0 p y 

Jadi sepanjang jejak yang kemiringannya didefinisikan oleh


persamaan ini akan didapati bahwa perubahan tekanan, dp = 0.

9
Jejak dengan (dp/ds) = maksimum bisa ditentukan dengan menolkan
turunan (dp/ds) terhadap sudut  , yaitu:
 dp  p p
    sin    cos   0
d
d  ds  x y
Dari sini diperoleh

tan  dP ds  maks 


p y 
p x 
yang secara grafis bisa digambarkan sebagai berikut:
2
 p   p 
2

    
 x   y  p
y

p
x

Apabila nilai sinus dan cosinus dalam ungkapan (dp/ds) diambil pada
sudut  di mana jejak (dp/ds) = maksimum, maka diperoleh:
dp

p p x  
p p y 
ds maks x p x   p
2
y 
2 y p x   p
2
y 
2

 p x   p y 
2 2

Hubungan terakhir ini setara dengan besarnya vektor (dp/ds) dengan


komponen arah-x (dp/dx) dan komponen arah-y (dp/dy); ini berarti
bahwa turunan tekanan ke arah maksimum bisa dituliskan dalam
notasi vektor berikut:
dp p p
i  j
ds maks x y
Operator Hubungan ini sering dijumpai sehingga diberi nama khusus sebagai
Gradien Gradien atau Grad dengan lambang , yang dalam koordinat
Cartesian 3D berarti:
  
Grad    i  j k
x y z
dengan
p p p
Grad  p   p  i  j k
x y z
Selain itu patut diperhatikan bahwa:

10
tan  dP ds 0  tan  dP ds  maks  
p x  p y 
  1
p y  p x 
Ini berarti: jejak dengan (dp/ds) = maksimum tegak lurus dengan
garis isobar.

Rangkuman
Mekanika Fluida (MF) mempelajari sifat dan watak fluida diam atau bergerak
dalam interaksinya dengan benda sekitarnya. Aplikasinya dalam industri sangat
luas, misal di industri kimia, industri petrokimia, pembangkit listrik, industri
minyak dan gas, industri makanan, dll. Fluida dalam bidang aplikasi tersebut jika
dilihat atau diraba tidak berkesan terpisah-pisah/diskrit layaknya butiran pasir. Di
sini fluida dipandang sebagai zat kontinum (biasa disebut sebagai cara pandang
makroskopik). Sudah tentu, konsep ini tidak sahih lagi bilamana kesan
Walaupun demikian, fluida biasa dianggap tersusun dari titik-titik partikel fluida.
Konsep partikel fluida lebih ditentukan oleh aspek pengukuran sifat fluida
daripada ukuran molekulnya. Partikel fluida adalah fluida dalam volume terkecil
yang memberikan hasil pengukuran sifat yang konsisten secara statistik. Konsep
titik partikel fluida bisa dipertemukan dengan konsep titik dalam matematika.
Bedanya, volume titik matematik mendekati nol, sedangkan titik partikel fluida
mendekati 1 (m)3 . Dalam cara pandang makroskopik, partikel fluida dapat
diperlakukan sebagai titik dalam matematika. Dengan demikian, matematika
dapat dipakai sebagai alat analisis dalam MF.

11
MODUL II.
STATIKA FLUIDA

Deskripsi
Fluida diam, walaupun terkesan jinak, bisa menimbulkan risiko besar jika volume
yang harus ditangani sangat banyak. Fluida diam dengan volume besar bisa
dijumpai misalnya dalam tangki penampung bahan bakar minyak di depo-depo
dan dalam bendungan (waduk). Volume fluida yang besar akan menimbulkan
gaya-gaya tekan yang besar pula.
Statika Fluida dalam modul ini mempelajari nasib fluida diam dan interaksinya
dengan tempat penampungnya. Variabel terpenting dalam kasus ini adalah
tekanan. Dengan memanfaatkan matematika, medan tekanan (distribusi tekanan)
dalam badan fluida bisa ditentukan. Dari sini, besar dan arah gaya-gaya yang
harus ditanggung oleh struktur penyimpan fluida diam bisa ditentukan. Informasi
gaya-gaya fluida statik ini berguna untuk perancangan struktur yang aman untuk
menampung fluida. Dalam modul ini juga diulas manometri (pengukuran tekanan
berdasarkan sifat fluida statik) dan pengapungan.
Sasaran belajar:
1. Menuliskan persamaan atur medan tekanan dalam fluida statik
2. Menerapkan persamaan atur medan tekanan fluida statik dalam analisis
3. Membedakan tekanan relatif (gage), tekanan vakum dan tekanan mutlak
4. Menyatakan tekanan dalam ukuran relatif dan mutlak
5. Menentukan nilai pembacaan tekanan dengan manometer
6. Menghitung gaya apung
7. Menghitung gaya yang bekerja pada permukaan terendam

A. Kerangka Acuan
Diam & Istilah diam dan bergerak adalah relatif. Gerak hanya bisa
Bergerak didefinisikan relatif terhadap kerangka acuan yang didefinisikan oleh
pengamat.
1) Benda dikatakan diam jika koordinat semua titik dalam
sebuah benda tak berubah terhadap waktu dan terhadap
kerangka acuannya.
2) Benda dikatakan bergerak jika koordinat semua titik dalam
sebuah benda berubah terhadap waktu dan terhadap kerangka
acuannya.
Kerangka acuan itu sendiri bergerak dengan kecepatan tetap tertentu
atau bahkan nol/diam (percepatan = 0), atau bergerak dengan
kecepatan berubah (percepatan  0).
Kerangka Kerangkan acuan dengan percepatan nol disebut inersial, sedangkan
Acuan dengan percepatan tidak nol disebut noninersial.
Inersial &

12
Noninersial Kerangka acuan inersial disebut juga kerangka acuan Galilean atau
Newtonian. Hukum-hukum fisika bisa ditransfer dari satu kerangka
acuan inersial satu ke lainnya tanpa perubahan. Dengan kata lain,
hukum-hukum fisika yang sama berlaku baik bagi pengamat yang
diam maupun bagi pengangat yang bergerak dengan kecepatan tetap.
Keadaan berbeda dijumpai pada kerangka acuan noninersial. Benda
bermasa m yang diam relatif terhadap kerangka acuan inersial akan
mengalami gaya sebesar nol. Namun, bagi pengamat dalam kerangka
acuan noninersial (dengan percepatan a) benda akan tampak seolah-
olah mengalami gaya sebesar –ma. Gaya yang sebenarnya tidak
sungguh ada pada benda tetapi seolah ada akibat percepatan kerangka
acuan disebut gaya fiktif atau gaya semu.
Sebagai kerangka acuan standar enaknya diambil bintang tetap di
langit, tetapi sayangnya ini tidak selalu praktis untuk berbagai
keperluan. Oleh karena itu, untuk praktisnya maka bumi diambil
sebagai kerangka acuan inersial. Walaupun bumi sendiri bergerak,
pengaruh gerak putar bumi pada sumbunya pada banyak kasus bisa
diabaikan. Hal ini bergantung pada eksperimen yang akan dilakukan
atau pada fenomena yang diamati apakah bumi bisa diambil sebagai
kerangka acuan atau tidak.
Secara umum, untuk fenomena dalam skala kecil, bumi bisa dianggap
sebagai kerangka acuan inersial. Namun, untuk fenomena dalam
skala besar semisal pergerakan udara atmosfir, bumi tidak bisa
dianggap sebagai kerangka acuan inersial karena efek percepatan
semu akan menyebabkan gaya Corriolis yang signifikan.

B. Hukum Pascal
Hk. Pascal: Sifat dasar dari fluida adalah tekanan. Tekanan biasa dikenali sebagai
Tekanan gaya tegak lurus permukaan per satuan luas yang dikenai oleh fluida
di 1 titik
pada dinding bejana. Tekanan juga berada di setiap titik di dalam
volume fluida.
Dalam fluida statik, sebagaimana ditunjukkan oleh analisis berikut,
tekanan (gaya tekan per satuan luas) di satu titik tidak bergantung
pada arah.

13
Ax = dy.dz
Ay = dx.dz ps.As
As = ds.dz

ds

px.Ax
dy
dz

dx

py.Ay

Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida

Perhatikan sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil)


berbentuk prisma segitiga dalam keadaan setimbang (Gambar 7.
Gaya tekan pada elemen fluida). Mengacu pada elemen ini bisa
ditentukan hubungan antara gaya tekan pxAx ke arah x, pyAy ke arah y,
dan psAs ke arah tegak lurus terhadap bidang bersudut kemiringan
sembarang .
 px.Ax bekerja tegak lurus pada bidang Ax = dy.dz
 py.Ay bekerja tegak lurus pada bidang Ay = dx.dz, dan
 ps.As bekerja tegak lurus pada bidang As = ds.dz.
Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada
gaya pemercepat, jumlah gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama
dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan
gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-x adalah nol sehingga:

F x  px Ax  ps As sin(   0
dy
p x dy.dz  ps ds.dz. 0
ds
p x dy.dz  p s dy.dz
Pembagian dengan dy.dz menghasilkan:
p x  ps
Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara
matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, ungkapannya
tetap seperti ini.

14
Resultan gaya arah-y adalah nol sehingga:

F y  p y Ay  ps As cos   g 12 dx.dy.dz  0
dx
p y dx.dz  ps ds.dz  g 12 dx.dy.dz  0
ds
Pembagian dengan dx.dz menghasilkan:
p y  p s  g 12 dy

Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara
matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, diperoleh hasil:
p y  ps

Dengan demikian maka:


p x  p y  ps

artinya, gaya tekan per satuan luas di satu titik sama besar ke segala
arah. Inilah yang disebut hukum Pascal. Pernyataan ini berlaku untuk
fluida diam.
Penerapan hukum Pascal bisa dijumpai, misalnya, pada alat dongkrak
dan pada mesin press untuk pencetakan plat logam. Arah gaya
dongkrak dan gaya tekan adalah tegak lurus dengan bidang dongkrak
dan bidang press piston. Sejalan dengan bergeraknya piston, maka
fluida bergerak pula (tidak statik lagi). Walaupun demikian, dinamika
fluida pada alat dongkrak dan mesin press bisa didekati sebagai
rangkaian keadaan statik.
Dongkrak Dua titik pada ketinggian yang sama dalam fluida diam (sinambung)
memiliki tekanan yang sama. Tekanan yang diberikan pada fluida
dalam wadah tertutup akan menaikkan tekanan di seluruh badan
fluida dengan kenaikan yang sama.
Pada Gambar 8, piston 1 dan 2 pada ketinggian yang sama. Jadi
tekanan pada piston 1 dan 2 sama besar.
p1  p 2
Namun, karena piston 2 berluas penampang A2 lebih besar daripada
piston 1 berluas penampang A1 , maka gaya F1 akan diperkuat sebesar
(A2 /A1 ) kali menjadi F2 .
F1 F2

A1 A2
atau:
A2
F2  F1
A1
Nisbah disebut faktor penguatan mekanik ideal (ideal mechanical
advantage).

15
Gambar 8. Prinsip dongkrak mobil

C. Ragam Tekanan
Ragam p Pertimbangkanlah sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat
arah vertikal kecil) vertikal dengan luas irisan sebesar A dan tinggi Z2 – Z1
(Gambar 9).
Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada
gaya pemercepat, jumlahan gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama
dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan
gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-z adalah nol:
p1 A  p 2 A  Az 2  z1 g  0
atau:
p2  p1   z2  z1 g
Jadi di dalam fluida yang mengalami percepatan gravitasi, tekanan
berkurang sejalan dengan pertambahan ketinggian ke arah atas.

16
p2 .A

z2

Fluida
dengan
densitas 

.A(z2 z1 )g
z1

p1 .A

Gambar 9. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida

Fluida dengan
p1 .A densitas  p2 .A

mg

Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida

Ragam p Selanjutnya pertimbangkan pula sebuah elemen fluida diferensial


arah (berukuran sangat kecil) horizontal (Gambar 10). Resultan gaya arah-
horizontal
x akan sama dengan nol:

F x  p1 A  p2 A  0
atau:
p1  p2
Artinya, tekanan fluida pada level sama adalah sama besar.
Kenyataan yang sama juga berlaku pada fluida dalam bejana U.
p pada level Tekanan pada level yang sama (Gambar 11) dalam badan fluida
sama kontinu akan sama besar, walaupun tidak terdapat jejak horizontal
langsung antara P dan Q.
Dari bahasan sebelumnya diketahui bahwa pR = pS . Karena
pR  pP  gh
pS  pQ  gh

17
maka dari kedua persamaan ini dapat diketahui bahwa pP = pQ.

P Q

R S

Gambar 11. Tabung berbentuk U

(p+dp)A

ds

pA  (Ads)gcos( )
z z+dz

Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida

Ragam p Sekarang akan ditinjau variasi tekanan pada sebuah elemen fluida
arah miring diferensial yang lebih umum dengan posisi miring (gabungan
komponen vertikal dan horizontal).
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida diferensial memberikan
kesetimbangan sbb:

 F  pA   p  dpA  Ads.g cos   0


 dp  ds.g cos   0
atau (pada batas ds  0):

  g cos 
dp
ds
Dalam arah vertikal,  = 0, sehingga

18
dp
  g
ds vertikal
Persamaan ini memperkirakan laju penurunan tekanan per kenaikan
posisi vertikal sebanding dengan densitas setempat.

D. Tekanan Mutlak, Relatif & Hampa


Satuan Satuan tekanan adalah N/m2 , dan biasa disebut satu pascal (Pa).
Tekanan
Karena satuan Pa sangat kecil untuk tekanan yang biasa dijumpai
dalam praktik, maka lebih banyak dipakai satuan kilopascal (1 kPa =
103 Pa) dan megapascal (1 MPa = 106 Pa).
Satuan tekanan lainnya meliputi bar, atm, kgf/cm2 , psi atau lbf/in2 .
 1 bar = 105 Pa = 0.1 MPa = 100 kPa
 1 atm = 101,325 Pa = 101,325 kPa = 1,01325 bar
 1 kgf/cm2 = 9,807 N/cm2 = 9,807.104 N/m2 = 9,807.104 Pa =
0,9807 bar = 0,9679 atm
 1 atm = 14,696 psi.
 1 kgf/cm2 = 14,223 psi.
TEKANAN Di ruang angkasa yang hampa gas, tekanan praktis nol. Kondisi
Mutlak, seperti ini bisa dihampiri di laboratorium apabila sebuah pompa
Relatif &
Hampa
vakum digunakan untuk menghampakan sebuah bejana. Tekanan di
dalam kehampaan disebut nol mutlak, dan semua tekanan yang
mengacu pada nilai ini disebut tekanan mutlak. Dengan kata lain,
tekanan mutlak (absolute pressure) adalah tekanan aktual di satu
titik.
Tekanan Kebanyakan alat pengukuran tekanan dikalibrasi untuk membaca nol
Relatif (gage di dalam atmosfir lokal, dan karenanya menunjukkan pembacaan
pressure)
tekanan relatif (gage pressure), pgage = pabs - patm .
Misalnya, alat ukur tabung-Bourdon hanya menunjukkan perbedaan
tekanan dalam fluida di mana Bourdon dipasang dengan tekanan
atmosfir. Dalam hal ini, tekanan acuannya adalah tekanan atmosfir –
bukan nol mutlak. Tekanan yang diperoleh dengan cara ini disebut
tekanan relatif (gage pressure).
Misal, jika tekanan terukur menggunakan alat yang diacukan ke
atmosfir adalah 50 kPa dan tekanan atmosfir adalah 101 kPa, maka
tekanan terukur bisa dinyatakan dalam dua cara, yaitu:
p = 50 kPa gage (relatif)
p = 101+50 = 151 kPa absolut

19
Tekanan Dengan tekanan atmosfir lokal sebagai acuan, maka tekanan terukur
Hampa bisa positif bisa pula negatif. Tekanan di bawah tekanan atmosfir
(vakum) 1
disebut tekanan vakum, pvakum = patm - pabs. Jadi, jika sebuah alat
pengukur tekanan dipasang pada sebuah tangki dan menunjukkan
tekanan vakum sebesar 31 kPa, artinya tekanan dalam tangki 31 kPa
di bawah tekanan atmosfir lokal. Jika tekanan atmosfir lokal adalah
101 kPa absolut maka tekanan aktualnya adalah (101-31) kPa = 70
kPa absolut.
Tekanan Tekanan atmosfir standar didefinisikan sebagai tekanan yang
atmosfir dihasilkan oleh kolom air raksa setinggi 760 mm (29.92 inHg atau
standar
10.3 m-air ) pada suhu 0°C (Hg = 13,595 kg/m3 ) dalam pengaruh
percepatan gravitasi standar (g = 9,807 m/s2 ). Tekanan 1 atm = 760
torr dan 1 torr = 133,3 Pa.

Tekanan mutlak
p = patm + pukur (abs)

Tekanan atm. lokal: Tekanan gauge


p = patm p = pukur (relatif)

Tekanan vakum
Tekanan atm. standar: p = pukur (relatif)
p = 131,325 kPa (abs)
p = 14,696 psia Tekanan
p = 760 mmHg (a) barometrik
p = 29,92 inHg (a) p = patm Tekanan mutlak
p = patm + pukur (abs)

Acuan mutlak
p = 0 (abs)

Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur,


tekanan vakum dan tekanan mutlak

1 Otto von Guericke melakukan eksperimen spektakuler dengan pompa udara. Tahun 1654,
Guericke menangkupkan dua belahan setengah bola (Magdeburg hemispheres) menjadi bola
berdiameter 35.5 cm (14 inches). Setelah udara didalamnya dikeluarkan dengan pompa, dua
kelompok yang terdiri dari delapan kuda tidak mampu memisahkan tangkupan setengah bola
walaupun bola hanya ditahan oleh udara sekitarnya. Inilah saat pertama diperagakan betapa
besarnya tekanan yang dihasilkan udara. Sumber: http://chem.ch.huji.ac.il/history/guericke.html

20
E. Persamaan Dasar Fluida Statik
Persamaan Elemen fluida yang dilukiskan pada (Gambar 14) mewakili fluida
Fluida Statik statik dalam kerangka acuan tanlembam (non-inertial) di mana
percepatan badan fluida, a = 0.
Resultan gaya yang bekerja pada elemen fluida bervolume  =
x yz adalah:
F  m badan fluida  a    0  0

P|y+y.Ay Ax = y.z
Ay = z.x
Az = x.y
P|z.Az

P|x .Ax y P|x+x .Ax

P|z+ z.Az z
x y

x
P|y .Ay z

Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis

Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Fbadan  i  g x   j g y   k  g z 


Fpermukaan  i P x  P
x  x
yz  jP y

 P y  y xz

 k P z  P z  z xy 
Dengan demikian resultan gaya  F menjadi:
ig x   j g y   k g x  
 
i P x  P x  x yz  j P y  P  y  y
xz 
k P z
 P z  z xy  0
dan setelah dibagi volume elemen  = xyz diperoleh:
 i  g x   j g y   k g z  
P x  x  P x P y  y
P P z  z  P z
 j k
y
i
x y z
yang pada batas (limit)   0 atau xyz  0 menjadi:

21
P P P
 ig x   j g y   k g z   i  j k
x y z
dan dalam notasi vektor ditulis:
g  P
dengan g = i.gx + j.gy + k.gz dan p = gradien tekanan. Persamaan ini
mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan vektor
gravitasi.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
vektor gravitasi.

Persamaan Apabila kerangka acuan analisis fluida mengalami percepatan (a  0),


Fluida Statik maka fluida akan mengalami gaya yang menyebabkannya bergerak
Semu –
Kerangka (Gambar 15). Namun, karena geraknya masih seperti gerak benda
acuan padat (solid body), maka analisisnya masih seperti pada fluida statik.
noninersial Oleh karena itulah fluida dikatakan berada dalam keadaan statik
linier semu (atau boleh juga disebut bergerak semu).
Dalam hal percepatannya linier, maka resultan gaya yang bekerja
pada elemen fluida adalah:

F  m badan fluida  a    a


Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Fbadan  i  g x   j g y   k  g z 

Fpermukaan  ir p r  p  r  r
rz  i p
 r

 p r     rz

 i z p z  p z  z rr 
Dengan demikian resultan gaya F menjadi:
ig x   j g y   k g x 
  
i p x  p x  x yz  j p y  p y  y xz  
k p z
 p z  z xy  a
dan setelah dibagi  = xyz diperoleh:
 i  g x   j g y   k g z  a 
p x  x  p x p y  y
py p z  z  p z
i  j k
x y z
yang pada saat volume elemen diciutkan sampai menjadi titik, atau
pada batas (limit)   0 atau xyz  0, menjadi:

22
p p p
 ig x   j g y   k g z  a  i  j k
x y z
dan dalam notasi vektor ditulis:
 g  a   p
dengan g = i.gx + j.gy + k.gz, a = i.ax + j.ay + k.az dan p = gradien
tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan
resultan vektor: g – a.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
resultan vektor: g – a.
Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan
dengan persoalan semisal fluida dalam tangki bahan bakar saat
kendaraan mengalami percepatan (lihat Gambar 15).

Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan


sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida

Persamaan Kasus berikut menggambarkan apa yang dialami fluida dalam wadah
Fluida Statik yang diputar sumbu tegaknya pada kecepatan angular tetap.
Semu –
Kerangka
Akibatnya, permukaan bebas fluida yang semula datar menjadi
acuan cekung. Ini dikenal sebagai gerakan vortex paksa (forced vortex).
noninersial
Setelah masa transien lewat (terhitung sejak putaran dimulai), fluida
angular
akan bergerak bersama-sama dengan wadahnya layaknya benda padat
(rigid body). Tidak ada deformasi, dan karenanya tidak ada pula
tegangan geser, dan setiap partikel fluida dalam wadah bergerak
dengan kecepatan putar yang sama.
Secara skematik, fenomena ini dilukiskan pada Gambar 16. Resultan
gaya yang bekerja pada fluida adalah:

F  m badan fluida  a    a


Kasus ini, mengingat geometri persoalannya, akan lebih mudah
dianalisis dalam kerangka koordinat silinder.
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan

23
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Fbadan  ir g r   i g   i z g z 


Fpermukaan  ir P r  P rz
r  r

 i P
 r
P  
rz
r   


 i z P z  P z  z rr 

P|z+ z.Az Ar = r.z


A = z.r
P|r(+ ).A Az = r.r
P|r+ r.Ar

z r

P|r.Ar r
r
z
P|r.A 
P|z.Az
r

Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis


dalam kerangka koordinat dipercepat dengan percepatan angular a

Dengan demikian resultan gaya F menjadi:


i r g r   i g    i z g z  
  
i r P r  P r  r rz  i P r  P r     rz 

 i z P z  P z  z rr  a
dan setelah dibagi  = rrz diperoleh:
 i r g r   i g    i z g z   a 
P r  r  P r P r      P r P z  z  P z
ir  i  iz
r r z
yang pada batas (limit)   0 atau rrz  0 menjadi:
P P P
 ir g r   i g   i z g z   a  ir  i  iz
r r z
dan dalam notasi vektor ditulis:
 g  a   P
dengan g = ir.gr + i.g + iz.gz, a = ir.ar + i.a + iz.az dan p = gradien

24
tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan
resultan vektor: g – a.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
resultan vektor: g – a.
Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan
dengan persoalan semisal fluida dalam tabung yang diputar dengan
kecepatan putar  radian/detik (lihat Gambar 17).


a a

g
g-a g g g g-a

Kerangka acuan Kerangka acuan


(wadah) diam, a=0 (wadah) bergerak, a0

Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan


sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida

Dalam gerak putar, percepatan angular a = V dengan V = r


sehingga a = (r) atau a = ir.(2r) + i.(0) + iz.(0). Dengan
vektor gravitasi g = ir.(0) + i.(0) + iz.gz, maka persamaan atur untuk
persoalan ini menjadi:
 ir 0  i 0  i z  g z    ir   2 r   i 0  i z 0 
p p p
ir  i  iz
r r z
atau
p
  2 r (a)
r
p
0 (b)
r
p
  g z (c)
z
Integrasi persamaan (a) memberikan:
pr ,  , z   12  2 r 2  f  , z  .

25
Persamaan (b) mengharuskan turunan parsial dari p(r,,z) terhadap 
sama dengan nol; ini hanya bisa terpenuhi apabila:
f  , z   f   tetapi f  , z   f z 
sehingga:
p r ,  , z   p r , z   12  2 r 2  f  z  .
Selanjutnya, turunan parsial dari p(r,z) terhadap z harus sama dengan
persamaan (c) sehingga
P df z 
   g z
z dz
atau
f z    g z z  C
dan p(r,z) menjadi
pr , z   12  2 r 2  g z z  C .
Tetapan C bisa ditentukan dengan menetapkan nilai tekanan pada
sebuah titik, katakanlah p(r=0,z=0) = p0 sehingga penyelesaiannya
menjadi:
p r , z   p 0  g z z  12  2 r 2 .
Dari persamaan ini bisa diketahui bagaimanakah bentuk permukaan
fluida statik yang mengalami percepatan angular. Caranya adalah
dengan menyusun ungkapan ini untuk ketinggian z, yaitu:
p0  pr , z   2 2
z  r  a  br 2  pers. parabola .
g z 2g z
Cara lainnya adalah dengan memanfaatkan kenyataan adanya isobar.
Pada isobar, perubahan tekanan nol sehingga:
dp   g z dz   2 rdr  0
atau:
2
dzisobar  rdr
gz
atau:
2
zisobar  r2  C
2g z
Ketinggian isobar yang mudah dievaluasi adalah di tengah-tengah
(r=0) permukaan bebas; katakanlah tinggi fluida di sini adalah hc,
sehingga persamaan menjadi:
2
zisobar  r 2  hc
2g z

26
Nilai hc bisa ditentukan berdasarkan neraca massa. Jika tinggi fluida
sebelum diputar adalah h0 , maka volume fluida dalam wadah
silindrik berjari-jari R adalah:
V  R 2 h0
Volume ini sama dengan volume paraboloid fluida berputar:
r R r R
2 2  2  R
2 2

V   z r 2rdr    r  hc 2rdr  R   hc 
r 0    4g z 
r 0
2g z
sehingga dari kedua persamaan terakhir diperoleh:
 2R2
hc  h0 
4g z
Dengan demikian maka persamaan ketinggian isobar – berarti juga
permukaan bebas – menjadi:
2
z isobar  h0 
2g z
r 2
 12 R 2 

Permukaan bebas pada beragam rpm

40

35

30

25 0
120
z (cm)

20 240
360
15 480

10

0
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
r (cm)

Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480)

27
F. Pengukuran Tekanan
Barometer Barometer (Gambar 19) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan atmosfir. Sebuah barometer sederhana terdiri dari tabung
sepanjang 76 cm lebih yang berisi air-raksa dan dipasang terbalik
pada sebuah bejana terbuka yang juga berisi air-raksa.
Ruang di atas tabung sesungguhnya tidak benar-benar hampa karena
terdapat uap air-raksa pada tekanan uap jenuhnya. Akan tetapi,
tekanan uap Hg pada suhu ruang sangatlah rendah, yaitu 0,173 Pa
pada suhu 20 o C.
Tekanan atmosfir dihitung menggunakan hubungan: patmosfir = gh,
dengan  densitas fluida di dalam barometer.
Gambar 20 memperlihatkan barometer digital modern.

Gambar 19. Barometer fluida

Gambar 20. Barometer digital

28
Tekanan Dalam fluida diam tekanan diteruskan sama ke segala arah dan
Fluida disebut sebagai tekanan statik.
Dalam fluida bergerak,
1) Tekanan statik diteruskan pada bidang yang paralel dengan
arah gerak.
2) Tekanan fluida yang diteruskan pada bidang tegak lurus arah
aliran lebih besar daripada tekanan statik karena gerak fluida
akan memberikan efek tambahan tekanan yang sebanding
dengan energi kinetik fluida (sehingga disebut tekanan
kinetik). Besarnya tekanan kinetik tidak dapat diukur secara
terpisah dari tekanan statik.
Jika tekanan statik dari fluida bergerak akan ditentukan, permukaan
pengukuran harus paralel dengan arah gerak aliran sehingga di situ
tidak ada energi kinetik fluida yang dikonversi menjadi energi
tekanan.
Jika fluidanya mengalir dalam pipa bundar maka permukaan
pengukuran harus tegak lurus terhadap arah radial. Penghubung
tekanan, dikenal sebagai tabung piezometer, harus rata dengan
dinding pipa sehingga aliran tidak terganggu: tekanannya kemudian
diukur dekat dinding di mana kecepatan fluida minimum dan
pembacaannya hanya akan mengalami sedikit kesalahan andaikan
permukaannya ternyata tidak betul-betul paralel dengan arah aliran.
Tekanan statik harus selalu diukur pada jarak tidak kurang dari 50
diameter dari belokan, sambungan, atau hambatan lainnya sehingga
garis-garis aliran nyaris paralel dengan dinding tabung.
Untuk keadaan dengan arus-lintas (cross-currents) atau pusaran
(eddies) perlu digunakan cincin piezometer (piezometer ring). Ini
terdiri dari 4 titik ukur tekanan (pressure tapping) yang dipasang
melingkar tabung masing-masing sejauh 900 ; keempatnya
dihubungkan oleh sebuah tabung melingkar yang dihubungkan
dengan piranti pengukuran tekanan. Dengan cara demikian,
pembacaan keliru karena aliran tak beraturan bisa dihindari, karena
kenaikan tekanan pada satu sisi biasanya disertai dengan penurunan
di sisi seberangnya; jadi dengan cincin piezometer diperoleh nilai
rata-rata tekanan.

29
Gambar 21. Piezometer

Piezometer Piezometer (Gambar 21) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan fluida di dalam bejana atau pipa. Alat ini berupa sebuah
tabung yang dipasang pada dinding bejana/pipa di mana cairan
berada sehingga cairan naik dalam tabung.
Tekanan gage bisa dihitung dari rumus: p1 = gh. Untuk mencegah
efek kapilaritas, tabung piezometer harus berdiameter ½ inch atau
lebih. Untuk mencegah pembacaan keliru, mulut tabung haruslah
tangensial terhadap gerak fluida.
Manometer Manometer adalah juga alat untuk mengukur tekanan fluida.
Manometer terdiri dari sebuah tabung lengkung yang berisikan satu
atau lebih cairan dengan densitas berbeda dan bersifat tidak
bercampur.
Manometer bisa digunakan untuk mengukur tekanan aktual (biasanya
relatif terhadap acuan atmosfir). Dalam hal ini, tekanan yang
diketahui nilainya (bisa jadi tekanan atmosfir) diberikan pada satu
ujung tabung manometer dan tekanan yang akan diukur dipasang
pada ujung lainnya.
Akan tetapi, manometer bisa juga digunakan untuk mengukur beda
tekanan. Jadi, tekanan ujung-ujung tabung manometerlah yang ingin
diukur daripada tekanan aktual di salah satunya. Manometer yang
digunakan untuk menentukan tekanan diferensial ini dikenal sebagai
manometer beda tekanan (diferensial pressure).
Manometer U Manometer tabung-U bermacam-macam bentuknya, yaitu:
1) sederhana
2) terbalik
3) berkaki besar
4) berfluida 2-macam
5) miring
Manometer U Gambar 22 memperlihatkan konstruksi dasar dari manometer U.
Sederhana

30
Karena X dan Y ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada
level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama:
p X  pY
dengan:
p X  p1  g a  h 
pY  p2  ga   m gh
sehingga:
p1  g a  h   p2  ga   m gh

p1  p2   m   gh

Nilai maksimum (p1  p2 ) yang bisa diukur dibatasi oleh ketinggian


manometer. Untuk mengukur perbedaan tekanan yang lebih besar
bisa dipilih fluida manometer dengan m lebih besar, dan untuk
mengukur perbedaan tekanan yang lebih kecil dengan akurat bisa
dipilih fluida manometer dengan m yang dekat dengan densitas
fluida .

1 2

 a

X Y
m

Gambar 22. Manometer U sederhana

31
m
X Y

a

1 2

Gambar 23. Manometer U Terbalik

Manometer U Manometer tabung-U terbalik (Gambar 23) digunakan untuk


Terbalik mengukur perbedaan tekanan cairan. Ruang di atas cairan di dalam
manometer diisi dengan udara yang bisa dimasukkan atau
dikeluarkan melalui katup di atas tabung guna mengatur level cairan
di dalam manometer. Dengan cara ini, tekanan acuan bisa diatur, dan
tidak terbatas pada 1 nilai tekanan acuan (tekanan atmosfir).
Karena X dan Y ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada
level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama:
p X  pY
dengan:
p X  p1  g a  h
pY  p2  ga   m gh
sehingga:
p1  g a  h   p2  ga   m gh

p1  p2     m gh
Fluida manometer tabung-U terbalik biasanya udara. Dalam kasus
ini, karena densitas udara (m ) jauh lebih kecil daripada densitas
cairan () maka:
p1  p2  gh
Manometer Dalam industri, manometer tabung-U sederhana mempunyai
1 kaki kekurangan karena memerlukan pembacaan di kedua kakinya.
Dengan membuat diameter satu kakinya lebih besar (Gambar 24)

32
maka naik-turunnya fluida di kaki ini menjadi sangat kecil – dapat
diabaikan – sehingga hanya diperlukan pembacaan pada kaki lainnya
yang lebih kecil.
Pada Gambar 24, OP mewakili level permukaan cairan saat tekanan
p1 sama dengan p2 . Begitu diberi tekanan, level di kaki kanan akan
naik sejauh h dan di kaki kiri turun sejauh h.
Volume fluida yang dipindahkan dari kaki-kiri ke kaki-kanan adalah:
Vkirikekanan  h 4 d 2
dengan d diameter kaki yang lebih kecil. Sejumlah inilah volume
fluida yang berkurang di sisi kiri sehingga levelnya turun dari O ke X
sebanyak:
 2
d2 d
h  h  2  h 
4

4 D D
dengan D diameter kaki yang lebih besar.

1 2

O P
h
X Y

D d

Gambar 24. Manometer 1-kaki besar

Penyamaan tekanan pada level XY (pX = pY) dengan:


  d 2 
p X  p1  ga  g h  h   p1  ga  gh1    
 D 
 

  d 2 
pY  p2  ga   m g h  h   p1  ga   m gh1    
 D 
 
memberikan:

33
  d 2 
p1  p2   m   gh1    
 D 
 
Dengan membuat d<<D maka nilai suku (d/D)2 akan jauh lebih kecil
dari 1 dan bisa diabaikan sehingga:
p1  p2   m   gh
dengan h adalah kenaikan fluida manometer di kaki sebelah kanan.
Lebih jauh lagi, jika densitas fluida () jauh lebih kecil daripada
densitas fluida manometer (m ) bisa diabaikan terhadap densitas
fluida manometer maka:
p1  p2   m gh
Manometer Perbedaan kecil pada tekanan gas biasa diukur dengan menggunakan
2-fluida manometer berfluida dua macam sebagaimana diperlihatkan pada
Gambar 25 dengan dengan densitas fluida pertama (1 ) dan fluida
kedua (2 ) dengan 2 >1 .
Dengan analisis serupa seperti sebelumnya, perbedaan tekanan di
titik 1 dan 2 bisa ditentukan dari hubungan berikut:
p1  p 2  1   g gh   2  1 gh

karena densitas gas jauh lebih rendah dari cairan ( g << 1 ) maka
pengaruhnya bisa diabaikan sehingga persamaan menjadi:
p1  p 2  1 gh   2  1 gh
Jika suku pertama di sisi kanan tanda “=” bisa dibuat jauh lebih kecil
dari pada suku maka persamaan bisa disederhanakan lebih lanjut
menjadi:
p1  p 2   2  1 gh

34
g 1 2

h

1

2

Gambar 25. Manometer 2-fluida

Manometer Manometer dengan kaki miring (Gambar 26) digunakan untuk


miring mengukur dengan skala ketelitian yang lebih tinggi.

Reservoir

15o

Gambar 26. Manometer berkaki miring

Keterbatasan Manometer, dengan berbagai bentuknya, walaupun merupakan alat


manometer yang sangat berguna dalam pengukuran tekanan, tetapi memiliki
beberapa kekurangan berikut:

35
1) Manometer, bisa dibuat untuk mengukur perbedaan tekanan
yang sangat kecil, tetapi tidak bisa enak digunakan untuk
perbedaan tekanan yang besar – walaupun bisa saja dibuat
rangkaian sejumlah manometer air-raksa untuk memperlebar
rentang pengukuran.
2) Sejumlah cairan tidak cocok untuk digunakan karena tidak
memberikan meniskus yang jelas. Tegangan permukaan bisa
juga menyebabkan kekeliruan pembacaan karena efek
kapilaritas; walaupun ini bisa dihindari dengan membuat
diameter tabung cukup besar – paling tidak 15 mm atau lebih.
Selain itu perlu diperhatikan bahwa saluran penghubung
manometer dan pipa atau bejana di mana cairan bertekanan
berada haruslah terisi cairan ini pula dan bebas dari
gelembung udara.
3) Respon pembacaan manometer lambat sehingga tidak cocok
untuk pembacaan tekanan yang berubah-ubah (berfluktuasi).
Kelebihannya, manometer tidak harus dikalibrasi terhadap standar
apapun; perbedaan tekanan bisa dihitung dari prinsip pertama (first
principles).
Tabung Tahun 1849 alat ukur tabung Bourdon dipatenkan di Perancis oleh
Bourdon Eugene Bourdon2 . Tabung Bourdon kini masih sangat luas digunakan
untuk mengukur tekanan beragam cairan dan gas, termasuk uap, air,
dan udara sampai tekanan 100.000 psi. Eugene Bourdon mendirikan
perusahaan Bourdon Sedeme Company untuk membuat
penemuannya.
Gambar 27 (sisi kiri) memperlihatkan alat ukur tekanan bernama
tabung Bourdon. Prinsip kerjanya secara skematik dilukiskan pada
gambar yang sama (sisi kanan). Tekanan yang akan diukur diteruskan
pada tabung lengkung yang bertampang lintang oval. Tekanan
cenderung menyebabkan tabung untuk melurus, dan defleksi ujung
tabung dihubungkan dengan sistem lengan-ayun ke jarum
perekam/penunjuk.
Alat ini luas dipakai untuk uap dan gas bertekanan. Tekanan yang
ditunjukkan adalah perbedaan antara yang terekam oleh sistem dan
tekanan luar (lingkungan), dan biasanya disebut sebagai tekanan
gauge (gauge pressure).
Gambar 28 memperlihatkan tabung Bourdon untuk pengukuran
tekanan relatif positif dan negatif (vakum).

2 Sumber: http://inventors.about.com/library/inventors/blbourdon.htm

36
Gambar 27. Tabung Bourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kanan)

Sisi Indikator Sisi Mekanik


dengan jarum & skala dengan tabung Bourdon
Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum

37
G. Gaya Pada Permukaan Terendam
Gaya tekan Penentuan gaya tekan horizontal pada permukaan terendam
horizontal (misalnya dinding bejana bertekanan, pintu air, dinding waduk)
sering dilakukan dalam statika fluida. Informasi ini penting dalam
proses perancangan struktur agar ia mampu menahan gaya tersebut
dengan aman.
Karena nilai tekanan beragam terhadap kedalaman, maka gaya tekan
pada suatu bidang bisa diperoleh dari integrasi tekanan pada seluruh
luasan bidang.
Mengacu Gambar 29, besarnya gaya tekan yang bekerja pada elemen
bidang yang diarsir sejauh y dari permukaan adalah:
dF  gy.dA  g sin  .dA
Gaya yang bekerja pada seluruh bidang adalah integral dari dF:
F   g sin  dA  g sin  dA
A A

Mengingat definisi pusat massa, G:


1
A A
G  dA

maka persamaan gaya bisa ditulis menjadi:


F  g sin   G A
Ini berarti, gaya tekan horizontal pada bidang adalah hasil kali dari
tekanan di pusat massa, gsin()G, dan luas bidang, A. Gaya ini
bekerja di suatu titik yang dinamakan titik pusat tekanan, P.

38

y A

G
P

Penampang A-A

Gambar 29. Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam

Titik pusat Letak titik pusat tekanan, P, bisa ditentukan berdasarkan neraca
tekanan momen. Dengan permukaan bebas sebagai acuan, maka:
 P F  dF
A

 P g sin   G A    g sin  dA


A

 P g sin   G A  g sin   2 dA


A

atau:
1 I0
A
P   2
dA 
G A
G A
Momen inersia luasan, I, lebih enak dihitung dengan acuan bukan
permukaan bebas melainkan pusat massa, karena letak pusat massa
adalah bawaan dari bidang. Momen luasan terhadap permukaan
bebas, I0 , oleh karena itu dipindahkan terhadap pusat massa, IG,
dengan menggunakan teorema sumbu paralel:
I O  I G  G A
2

Dengan demikian maka letak titik pusat tekanan adalah:

39
IG
P   G
G A
Jadi, pusat tekanan terletak di bawah pusat massa sejauh IG/(GA).
Nilai IG beberapa luasan adalah sebagai berikut:
 Persegi-empat dengan lebar b, tinggi h: A = bh dan IG =
bh3 /12.
 Lingkaran berjari-jari R: A =  R2 dan IG =  R4 /4.
Untuk permukaan yang tidak datar, perhitungan gaya tekan sama
seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Perhitungan letak titik pusat
tekanan walaupun rumit (dan tidak dibahas di sini), tetapi prinsipnya
sama.

H. Pengapungan
Prinsip Prinsip Archimedes menyatakan bahwa: gaya angkat pada benda =
Archimedes berat fluida yang dipindahkan benda.
Prinsip ini bisa dijelaskan berdasarkan persamaan dasar fluida statik
sebagai berikut.
Gambar 30 memperlihatkan sebuah benda dengan densitas massa b
tenggelam dalam fluida statik dengan densitas massa . Pada elemen
silindrik fluida setinggi h searah sumbu-y dengan luas penampang dA
bekerja:
1) gaya badan karena gravitasi,
2) gaya tekan ke bawah pada permukaan atas, dan
3) gaya tekan ke atas pada permukaan bawah.
Besarnya resultan gaya diferensial yang bekerja pada elemen fluida
adalah:
dFy  p1 dS1 cos1   p 2 dS 2 cos 2    b ghdA

atau:
dFy   p1  p 2  gh dA

karena p1  p 2  gh maka:


dFy     b ghdA .

Besarnya gaya total pada benda adalah jumlah dari resultan gaya
diferensial, dengan kata lain:
Fy      b ghdA     b g  hdA

Nilai  hdA tidak lain adalah volume benda, Vb, sehingga:

40
Fy     b gVb .

Persamaan ini menunjukkan bahwa resultan gaya arah-y terdiri dari 2


bagian, yaitu gaya apung (gVb ) dan gaya berat (b gVb ). Besarnya
gaya apung (gVb ) di sini tampak sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda.

p2 .dS2 .cos(2 )
2

2

ghdA
Bidang x- z
h dA
y
z
1
x

1
p1 .dS1 .cos(1 )

Gambar 30. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda

Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi jika sebuah benda dilepas
dari posisi awal terbenam dalam fluida:
1) Jika <b , maka benda akan mengalami resultan gaya negatif
sehingga benda akan bergerak turun sampai tenggelam di
dasar fluida.
2) Jika =b , maka resultan gaya pada benda nol sehingga ia
tetap tinggal melayang dalam fluida.
3) Jika >b (densitas fluida lebih besar daripada densitas
benda), maka benda akan mengalami resultan gaya positif
sehingga benda akan bergerak naik sampai ke permukaan
fluida lalu mengapung.
Untuk benda mengapung, volume benda yang tercelup bisa
ditentukan berdasarkan kesetimbangan gaya, di mana gaya apung
seimbang dengan gaya berat:

41
F  F apung  Fberat  0
atau:
gVcelup   b gVb  0
atau:
b
Vcelup  Vb .

Jadi, es dengan densitas kira-kira 0,9 densitas air akan tercelup 90%
volumenya dalam cairan (Gambar 32).

Benda
b<
mengapung

Fluida, 

Benda melayang
b =
(mengapung netral)

Benda
b >
tenggelam

Gambar 31. Benda mengapung, melayang dan tenggelam

42
Gambar 32. Gunung es mengapung di permukaan laut
karena densitas es (padat) lebih rendah daripada air laut (cair)

Benda Dalam keadaan mengapung, sebagian volume benda (V1 ) tercelup


mengapung dalam fluida berdensitas 1 , dan volume sisanya (V2 ) tercelup dalam
fluida berdensitas 2 (Gambar 33), maka:
 Gaya angkat pada bagian atas, F1  1V1 g , bekerja melalui
titik berat V1 di G1 .
 Gaya angkat pada bagian bawah, F2   2V2 g , bekerja melalui
titik berat V2 di G2 .
 Gaya angkat total, Ftotal  F1  F2  1V1 g   2V2 g
Benda pada Gambar 33 dalam posisi tidak setimbang karena G 1 dan
G2 tidak berada pada garis vertikal yang sama. Momen gaya yang
bekerja padanya akan menyebabkan benda bergerak putar ke kiri
sampai keadaan setimbang tercapai di mana pusat pengapungan
keseluruhan benda melalui titik berat benda itu.

43
F1

Fluida berdensitas 1

V1 G1

V2 G2

Fluida berdensitas 2
F2

Gambar 33. Gaya apung pada benda

Stabilitas Kestabilan putar penting diperhatikan dalam rancang bangun kapal


benda celup (atas air atau bawah air) supaya ia bisa tetap (kembali) tegak di atas
& apung
atau di dalam air saat mengalami gangguan (kecil) karena angin,
gelombang, atau arus laut.
Kestabilan putar bergantung pada letak relatif G, yaitu pusat gaya
berat (center of gravity) benda, terhadap B, yaitu pusat gaya apung
(center of buoyancy).
Pada benda celup (Gambar 34), seperti kapal selam:
1) Jika G di bawah B: benda stabil.
2) Jika G di atas B: benda tidak stabil.
3) Jika G berhimpitan dengan B: benda stabil netral.
Pada benda apung, seperti kapal laut atau :
1) Jika G di bawah B: benda selalu stabil.
2) Jika G di atas B: benda bisa stabil bisa tidak (Gambar 35).
Dalam kasus G di atas B, benda akan stabil jika gangguan kecil yang
menyebabkan benda miring diikuti oleh pergeseran letak G yang
menimbulkan momen pemulihan.
Kestabilannya ditentukan oleh tinggi metasentrik GM, yaitu jarak
antara titik G dan titik metasentrik M, yaitu titik perpotongan antara
garis perpanjangan vektor gaya apung dan garis simetri benda.
 Jika M di atas G (GM positif), benda stabil.
 Jika M di bawah G (GM negatif) maka benda tidak stabil.

44
Gambar 34. Kestabilan benda celup (immersed body)

Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body)

Mahkota Hiero (306-215 B.C.) mendengar desas-desus bahwa tukang emasnya


Emas Hiero telah mengganti sebagian emas mahkotanya dengan perak. Hiero
II, Raja
Syracuse
minta Archimedes (287-212 B.C.) memastikan apakah mahkotanya
emas murni atau bukan.
Archimedes harus mengembangkan metode pengujian yang tidak
merusak (nondestructive test). Berdasarkan prinsip pengapungan,
Archimedes menyeimbangkan mahkota dengan sebongkah emas
murni menggunakan neraca gantung di udara (Gambar 36).
1) Jika mahkota terbuat dari emas murni, maka volume
keduanya pasti sama.
2) Jika mahkota terbuat dari campuran perak maka volumenya
akan lebih besar.
Archimedes kemudian menimbang lagi keduanya menggunakan
neraca gantung, tetapi sekarang bukan di udara melainkan di dalam
air. Ternyata, neraca tidak seimbang, mahkota lebih ringan dari
bongkahan emas murni (Gambar 37). Dengan demikian terbuktilah

45
bahwa tukang emas sang raja telah berlaku tidak jujur.

Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara

Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air

Dok Kapal Dok kapal laut (Gambar 38), tempat di mana pekerjaan perawatan
Laut dan perbaikan dilakukan, juga menerapkan prinsip Archimedes.
Dengan prinsip pengapungan, kapal selam berbobot 6000 ton bisa
diangkat (Gambar 39) untuk dirawat/diperbaiki.

46
Gambar 38. Dok kapal tenggelam sebagian

Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton


sedang menjalani perbaikan di atas dok kapal

Rangkuman
Variabel penting dalam fluida diam adalah tekanan. Distribusi tekanan dalam
fluida diam dapat digambarkan oleh persamaan medan tekanan fluida statik
 g  a   p
Persamaan ini bisa diterapkan untuk analisis manometri, gaya-gaya tekan fluida
pada permukaan terendam, dan gaya apung. Efek kapilaritas dalam manometri
bisa dikoreksi dengan memperhitungan efek tegangan permukaan.

47
MODUL III.
SIFAT-SIFAT FLUIDA

Deskripsi
Fluida biasa dipahami sebagai zat cair atau gas. Namun, pengertian ini secara
ilmiah belum memadai karena tidak bisa dinyatakan dalam ukuran kefluidaan
suatu zat. Sebagai gantinya diperkenalkanlah suatu definisi fluida yang
memungkinkan pengukuran sifat kefluidaan zat. Sifat itu dikenal dengan sebutan
viskositas. Viskositas merupakan sifat unik fluida yang tidak akan dijumpai pada
zat padat. Selain viskositas, fluida memiliki beragam sifat-sifat lainnya, yaitu:
tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan tegangan permukaan.
Sasaran belajar:
1. Mendefinisikan fluida
2. Mengenali fluida newton dan non-newton berdasarkan grafik tegangan
geser lawan laju deformasi
3. Menuliskan persamaan viskositas newton berikut nama dan satuan
variabel-variabel di dalamnya
4. Menjelaskan pengertian tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan
tegangan permukaan beserta satuannya

Fluida: Dalam kehidupan sehari-hari biasa dikenal ada tiga macam keadaan
2 di antara benda: padatan, cairan, dan gas. Walaupun sebenarnya ada satu
beragam fase
di alam
keadaan lagi yang justru keberadaannya di alam jauh lebih banyak,
yaitu fase plasma.
Walaupun cairan dan gas memiliki perbedaan dalam berbagai hal,
keduanya memiliki kesamaan sifat yang membedakannya dari
padatan. Cairan dan gas bersifat fluid (bersifat mengalir) karena tidak
mempunyai kemampuan untuk menahan gaya secara tetap seperti
halnya padatan.
Sifat Fluida Segala karakteristik yang dimiliki suatu zat dan bisa diukur
disebut sifat. Di antara sifat yang sangat dikenal adalah tekanan p,
suhu T, volume V dan massa m, dan yang kurang dikenal adalah
viskositas, konduktivitas termal, modulus elastisitas, koefisien
ekspansi termal, tekanan uap dan tegangan permukaan.
Sifat biasa digolongkan intensif dan ekstensif.
Sifat intensif nilainya tidak tergantung pada jumlah zat. Contoh:
suhu, tekanan, dan densitas. Sifat ekstensif nilainya tergantung pada
ukuran zat. Contoh: massa, volume, momentum, dan energi.
Sifat spesifik adalah sifat ekstensif per satuan jumlah zat. Contoh:
volume spesifik (v = V/m), densitas massa ( = m/V) dan energi
spesifik (e = E/m).

48
A. Definisi Fluida
Pentingnya Dalam masyarakat ilmiah, segala kerancuan makna dalam
Definisi penggunaan istilah harus dihindari. Untuk itu setiap istilah ilmiah
diperkenalkan beserta definisinya. Definisi memang bersifat
membatasi pengertian, tetapi dengan demikian definisi membuat
makna istilah bisa menjadi lebih jelas.
Selain itu, ini yang lebih penting, pendefinisian istilah atau konsep itu
harus memungkinkan pengukuran sehingga manfaatnya secara
keilmuan dan dalam terapan menjadi luas.
Jadi, walaupun secara awam fluida telah dimengerti sebagai zat cair
atau gas, namun pengertian ini tidak cukup. Kita memerlukan definisi
yang memungkinkan kuantifikasi atau pengukuran yang terkait
dengan kefluidaan suatu zat.
Pendekatan Pendefinisian yang kita anut di sini akan mengambil pendekatan
makroskopik pada skala makroskopik, yang jauh lebih besar dari skala
(kontinum)
mikroskopik atau atomik atau molekuler.
Alih-alih dipandang sebagai atom-atom atau molekul-molekul diskrit
yang terpisah-pisah oleh jarak, fluida dipandang sebagai kontinum
tanpa jarak pisah, sebagaimana kesan yang kita tangkap melalui indra
fisik kita. Cara pikir makroskopik demikian disebut pendekatan
kontinum.
Kebanyakan fenomena yang dijumpai dalam mekanika fluida, baik
yang melibatkan cairan maupun gas, masuk dalam domain kontinum.
Dalam pendekatan kontinum, apa yang dikatakan sebagai sifat zat
menggambarkan karakteristik sekumpulan besar atom atau molekul
dalam skala yang jauh jauh lebih besar dari jarak antaratom atau
antarmolekul. Dengan anggapan kontinum ini maka sifat-sifat fluida
seperti densitas, tekanan, suhu, kecepatan dan lain-lain dianggap:
 terdefinisi pada titik-titik yang kecil tak berhingga, dan
 beragam secara kontinyu dari satu titik ke lain titik.
Watak molekuler & diskritnya diabaikan. Dengan demikian, sifat
fluida bisa dinyatakan sebagai fungsi tinerus/sinambung (continuous
function) dalam ruang dan waktu:
 densitas: ρ(r,t)
 kecepatan aliran: v(r,t)
 tekanan: p(r,t)
 suhu: T(r,t)
sehingga matematika bisa diterapkan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fluida..
Definisi Fluida didefinisikan sebagai bahan yang mengalami deformasi
Fluida terus-menerus akibat gaya geser yang bekerja padanya.
Istilah “deformasi terus-menerus” dalam bahasa keseharian disebut

49
“aliran”. Pemilihan gaya geser dalam definisi ini didasarkan pada
efek beda yang dialami fluida dari padatan saat menerima gaya geser.
Jadi, dengan definisi ini fluida bisa dibedakan dari padatan.
Secara matematik, definisi operasional fluida bisa dituliskan sebagai:
du
 
dy
dengan:
  adalah tegangan geser, yaitu gaya geser per satuan luas
(N/m2 )
  adalah viskositas, yaitu ukuran hambatan internal fluida
terhadap aliran (Pa.s)
 du dy adalah gradien kecepatan yang mewakili laju regangan
geser (1/s)
Gaya & Besarnya gaya per satuan luas disebut tegangan (stress). Menurut
Tegangan: komponen gayanya, tegangan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
Geser &
Normal 1) tegangan normal (normal stress) yang merupakan gaya
normal atau tegak lurus permukaan per satuan luas
permukaan, dan
2) tegangan geser (shear stress) yang merupakan gaya geser atau
tangensial permukaan per satuan luas permukaan.
Lihat Gambar 40.
Pada fluida diam, besarnya tegangan normal sama dengan tekanan,
tetapi pada fluida bergerak, besarnya tegangan normal tidak sama
dengan tekanan.

Fnormal
(tegak lurus permukaan dA)
F

Ftangensial
(sejajar permukaan dA)
dA

Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial

Tegangan Pada fluida diam tidak ada tegangan geser.


geser pada
fluida Tegangan geser muncul apabila fluida bergerak akibat gaya netto
mengalir yang bekerja padanya, tidak peduli apakah itu gaya geser atau bukan.

50
 Jika partikel-partikel fluida bergerak relatif terhadap lainnya,
berarti kecepatannya berbeda-beda sehingga bentuk asalnya
berubah.
 Jika kecepatan fluida di setiap titik sama, tidak akan ada
tegangan geser yang dihasilkan karena partikel-partikel fluida
satu terhadap lainnya relatif diam.
Fluida vs. Perbedaan watak antara fluida dan padatan sebagai tanggapan
Padatan terhadap gaya adalah sbb:
 Untuk padatan, regangan (strain) sebanding dengan tegangan
yang dideritanya (applied stress) selama batas elastiknya
tidak terlampaui. Untuk fluida, bukan regangan yang
sebanding dengan tegangan yang dideritanya melainkan laju
regangan (rate of strain).
 Regangan padatan, dalam batas elastisitasnya, sebanding
dengan tegangan yang dideritanya tetapi tidak bergantung
pada durasi pemberian gaya. Deformasi pada padatan bersifat
sementara, sehingga begitu gaya geser ditiadakan maka
deformasi pun lenyap dan padatan akan kembali ke bentuk
asalnya. Fluida tidak demikian. Deformasi yang dialaminya
bersifat terus-menerus selama gaya geser dikenakan padanya.
Deformasi juga bersifat permanen sehingga begitu gaya geser
ditiadakan maka fluida tidak akan kembali ke bentuk semula.
Dengan kata lain, padatan mampu menahan gaya geser atau shear
force dengan berdeformasi (berubah bentuk) – lihat Gambar 41.
Besarnya gaya geser F per satuan luas kontak A (disebut tegangan
geser atau shear stress, ) sebanding dengan regangan geser (shear
strain, ).
F
  
A

F
Tegangan geser,  
A

Gaya Geser, F

Padatan
Regangan geser, 
berubah bentuk
(berdeformasi)
sementara

Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan

Fluida tidak mampu menahan gaya geser sehingga ia berdeformasi

51
terus-menerus (mengalir) selama gaya geser masih terus
mengenainya – lihat Gambar 42. Besarnya gaya geser per satuan
luas (tegangan geser atau shear stress, ) sebanding dengan laju
regangan geser (shear strain rate, d /dt).
F d V
   
A dt h

F d V
Tegangan geser,    
A dt h

Plat atas bergerak Gaya Geser, F


secepat V
Fluida berubah
Laju regangan geser, bentuk terus-
d/dt = V/h h
menerus &
permanen
Plat bawah diam

Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida

B. Viskositas
Viskositas Viskositas () sebuah fluida menggambarkan hambatan internal
fluida untuk mengalir. Burung terbang atau ikan berenang (Gambar
43) mengalami hambatan yang berlawanan arah dengan arah
geraknya. Hambatan ini disebut gaya hambat (drag force) yang
besarnya bergantung pada faktor bentuk benda dan viskositas fluida.
Efek Coanda Pengaruh viskositas juga tampak pada fenomena efek Coanda di
mana arus aliran memperlihatkan kecenderungan mengikuti bentuk
benda yang dilaluinya (Gambar 44).
Satuan Satuan viskositas adalah kg/(m.detik), dan g/(cm.detik) (juga dikenal
Viskositas sebagai poise yang dilambangkan dengan P).
 1 centipoise (cP) = 1
100 poise.
 1 centipoise (cP) = 103 Pa.s.
Centipoise juga merupakan satuan yang enak dipakai karena
viskositas air pada suhu ruang kira-kira sebesar 1 centipoise.
Viskositas Viskositas () sering juga disebut sebagai viskositas dinamik.
dinamik &
Perbandingan viskositas dinamik () dan densitas () disebut sebagai
kinematik
viskositas kinematik ( ):



52
Besaran ini akan menjadi penting saat gaya viskos dan gaya gravitasi
yang signifikan ada bersamaan.

Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang
mencerminkan pengaruh viskositas fluida

Gambar 44. Efek Coanda

Viskositas Viskositas cairan secara umum berkurang sejalan dengan


Cairan peningkatan suhu. Viskositas cairan umumnya kira-kira berubah
dengan suhu T menurut hubungan:
ln    a  b. ln T 
Viskositas Viskositas gas secara umum bertambah sejalan dengan peningkatan
Gas suhu. Viskositas berbagai macam gas kira-kira berubah dengan suhu
T menurut hubungan:
n
T 
   0  
 T0 
dengan T adalah suhu mutlak, 0 adalah viskositas pada suhu mutlak

53
acuan T0 , dan n adalah pangkat empiris yang paling cocok dengan
data eksperimen.
Viskositas gas ideal tidaklah tergantung pada tekanan, tetapi
viskositas gas riil dan cairan biasanya bertambah sejalan dengan
peningkatan tekanan.
Viskositas cairan biasanya dua orde lebih besar daripada viskositas
gas pada tekanan atmosfir. Misal, pada 250 C, air = 1 cP dan udara =
10–2 cP.

Viskositas

Cairan

Gas

Suhu

Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu

C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian


Fluida Fluida Newtonian adalah fluida yang memenuhi hukum viskositas
Newtonian Newton, yaitu:
d du V
   
dt dy h
dengan:
  adalah tegangan geser atau shear stress (N/m2).
  adalah viskositas dinamik fluida (Pa.s).
 (du/dy) = laju regangan geser, rate of strain, atau gradien
kecepatan (1/s).
Semua gas dan kebanyakan fluida yang memiliki rumus molekul
sederhana dan berat molekul ringan seperti air, benzena, etil-alkohol,
CCl4 , heksana, dan kebanyakan larutan dari molekul sederhana
adalah fluida Newtonian.
Fluida non- Fluida non-Newtonian adalah fluida yang tidak memenuhi hukum
Newtonian viskositas Newton. Umumnya fluida non-Newtonian merupakan

54
campuran kompleks: lumpur, pasta, kecap, gel, larutan polimer, dll.
Fluida non-Newtonian (Gambar 46) banyak ragamnya dan sering
harus dihadapi oleh insinyur kimia/proses. Oleh karena itu,
berkembanglah bidang ilmu khusus yang mempelajari watak fluida
non-Newtonian yang dikenal sebagai rheologi.
Setiap garis dalam Gambar 46 bisa diwakili oleh persamaan
berbentuk:
n
 du 
  A  B 
 dy 
dengan A, B dan n konstanta. Untuk fluida Newtonian A = 0, B = 
dan n = 1.

Tegangan geser
(shear stress), 
Plastik
Plastik Bingham

Plastik semu

Newton

Dilatan

Fluida ideal,  = 0

Laju regangan geser


(shear strain rate), du/dy

Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress,  ) dengan laju regangan
geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida

Dalam Gambar 46 tertera adanya fluida ideal. Sesuai namanya,


fluida ini tidak nyata/riil, karena memang tidak ada fluida yang
memiliki viskositas nol. Fluida ideal adalah sekedar konsep yang
dibuat untuk memudahkan penyelesaian secara teoritik dengan cara
mengidealkan persoalan praktik.
Perilaku Fluida non-Newton memperlihatkan beragam perilaku:
Fluida Non-
Newtonian  Watak tak-tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tidak
tergantung pada durasi geseran bekerja.

55
 Plastik: tegangan geser harus mencapai nilai minimum
tertentu sebelum aliran mulai terjadi.
 Plastik-Bingham: seperti plastik, fluida ini menahan
tegangan geser yang kecil tetapi mengalir dengan mudah
begitu menderita tegangan geser yang besar. Contoh: pasta
gigi, jelli, dan sejumlah lumpur (misalnya lumpur IPAL –
Instalasi Pengolah Air Limbah).
 Plastik-semu (pseudo-plastic fluid): tiada tegangan geser
minimum yang diperlukan untuk terjadinya aliran dan. fluida
ini viskositasnya berkurang sejalan kenaikan gradien
kecepatan (rate of strain). Kebanyakan fluida non-Newton
masuk dalam kelompok ini. Contoh: larutan polimer, darah
dan bahan kolloid semisal tanah-liat, susu, dan semen.
Fluida plastik-semu juga disebut sebagai fluida bergeseran-melemah
(shear-thinning fluid). Pada laju geseran rendah (du/dy) fluida
bergeseran-melemah lebih viskos (kental) daripada fluida Newton,
dan pada laju geseran tinggi menjadi kurang viskos.
 Fluida dilatan (dilatant fluid): fluida ini viskositasnya
bertambah dengan kenaikan gradien kecepatan. Fluida
semacam ini tidaklah lazim, tetapi suspensi kanji dan pasir
berperilaku demikian. Fluida dilatan disebut juga sebagai
fluida bergeseran-menguat (shear-thickening fluid).
 Watak tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tergantung
pada durasi geseran bekerja.
 Fluida Thixotropik: fluida ini viskositas dinamiknya
bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja.
Contoh: cat jelli thixotropik (Gambar 47).
 Fluida Rheopektik: fluida ini viskositas dinamiknya
bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja.
Contoh: suspensi gips dalam air (Gambar 47).
 Fluda visko-elastik: fluida ini memiliki sifat elastik yang
memungkinkannya berwatak seperti pegas. Wataknya mirip
dengan fluida Newton tetapi jika dikenai geseran besar secara
tiba-tiba fluida ini berwatak seperti plastik. Contoh: putih
telur.

56
Viskositas semu
(apparent viscosity)
Rheopectic

Thixotropic

Saat laju geser


dinaikkan

Waktu

Gambar 47. Efek perubahan mendadak laju geser pada viskositas semu
fluida gayut-waktu

D. Tekanan Uap
Pengertian Tekanan, pada suhu tertentu, di mana suatu cairan akan mendidih
disebut tekanan uap. Tekanan uap tergantung pada suhu (tekanan uap
bertambah sejalan dengan kenaikan suhu).
Tekanan Uap Dalam konteks ini, hal yang biasa dipikirkan adalah suhu di mana
Air pendidihan terjadi. Misal, pada tekanan 1 atm (absolut) air mendidih
pada suhu 1000 C atau lebih.
Namun, terkait dengan tekanan uap, alur pemikirannya dibalik. Pada
suhu 1000 C air mendidih (berubah fase menjadi uap) pada tekanan 1
atm (absolut) atau kurang.
Mudah dipahami bahwa pendidihan pada suhu jauh di bawah 100 o C
bisa terjadi apabila tekanan pada air diturunkan sampai tekanan
uapnya. Contoh, tekanan uap air pada 10 o C adalah 0,01 atm. Oleh
karena itu, jika tekanan air pada suhu tersebut (10 o C) diturunkan
sampai nilai itu atau lebih rendah ( 0,01atm) maka air akan
mendidih.
Kavitasi Pendidihan pada suhu lingkungan ini sering terjadi dalam fluida yang
mengalir, misalnya pada sisi hisap sebuah pompa. Apabila
pendidihan semacam ini terjadi dalam cairan yang mengalir,
gelembung uap akan mulai tumbuh di daerah setempat yang
bertekanan sangat rendah dan kemudian lenyap (collapse) di daerah
hilir yang bertekanan tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai kavitasi
(cavitation).
Kavitasi bisa terjadi misalnya pada katup, turbin, dan pompa.
Efeknya selain menimbulkan suara berisik dan menimbulkan getaran

57
kavitasi juga bisa merusak geometri alat. Gambar 48 memperlihatkan
kavitasi yang terjadi di ujung baling-baling kapal, dan Gambar 49
memperlihatkan efek kavitasi pada rumah (casing) pompa
sentrifugal.
Kavitasi biasa muncul karena desain yang kurang bagus, karena
tertutupnya katup di hulu atau sisi isap pompa, atau karena
tersumbatnya penyaring.

Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal

Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal

58
E. Kompresibilitas
Kompresi- Volume spesifik, v, suatu bahan, apakah itu padatan, cairan atau gas
bilitas bisa berubah karena faktor suhu, T, dan tekanan, p. Jadi secara
umum,
 v   v 
dv    dp    dT
 p T  T  p
atau biasa ditulis ulang sebagai:
dv  vdp  vdT
dengan
1  v 
    
v  p T
adalah koefisien kompresibilitas (isotermal) yang memainkan
peranan sangat penting dalam mekanika fluida, dan
1  v 
  
v  T  p
adalah koefisien ekspansi volume isobarik.
Hubungan antara tekanan dan volume gas lebih enak diperoleh dari
persamaan sifat gas. Untuk gas ideal:
1  v  1   RT  RT   1  1
            
v  p T v p  p T v p  p  p
Jadi, kompresibilitas gas mengecil seiring dengan membesarnya
tekanan. Untuk udara pada tekanan 1 atm, nilai  = 1/atm = 10-5 m2 /N
= 10-5 /Pa.
Kompresibilitas cairan jauh lebih rendah daripada gas. Pada suhu 20
o C, untuk:

 Air  = 4610-11 m2 /N ≈ 4610-6 /atm.


 Hg  = 410-11 m2 /N ≈ 410-6 /atm.
 Benzena  = 9510-11 m2 /N ≈ 9510-6 /atm.
Bandingkan nilai-nilai ini dengan angka kompresibilitas tembaga
yang hanya 0,77610-11 m2 /N.
 cairan & Untuk cairan, perubahan tekanan yang terjadi dalam berbagai
gas permasalahan mekanika fluida tidaklah cukup besar untuk
menimbulkan perubahan densitas. Sebagai gambaran, untuk
memampatkan volume air sebesar 1% diperlukan kenaikan tekanan
sebesar 1% dibagi 4610-6 /atm yaitu 217 atm. Angka yang luar biasa
besar. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa efek
kompresibilitas diabaikan dan cairan dianggap sebagai fluida
inkompresibel.

59
Gas bisa juga diperlakukan sebagai fluida inkompresibel bila
perubahan tekanannya sangat kecil, tetapi efek kompresibilitas
biasanya tidak dapat diabaikan. Secara umum, efek kompresibilitas
menjadi penting apabila kecepatan fluidanya mencapai kira-kira
sepertiga kecepatan gelombang tekanan (kecepatan suara) di dalam
fluida.
Kecepatan suara di udara kira-kira 300an m/s, sepertiganya adalah
100-an m/s. Pada kecepatan sebesar ini, kenaikan tekanan yang
terlibat bisa mencapai 6000 Pa. Dengan udara sebesar 10-5 /Pa berarti
perubahan volumenya mencapai 600010-5 = 0,06 atau 6%.

Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga

F. Tegangan Permukaan
Fenomena Fenomena fisik yang memperlihatkan efek tegangan permukaan
Alam diperlihatkan pada gambar berikut – seekor serangga dapat hinggap
di atas permukaan air (Gambar 50). Fenomena ini juga diperlihatkan
oleh terbentuknya tetes-tetes air dari kran (Gambar 51).

Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air

60
Resultan Fenomena ini dapat dijelaskan dengan membayangkan apa yang
gaya di terjadi pada permukaan fluida dibandingkan dengan yang terjadi di
permukaan
dalam fluida (Gambar 52).
Molekul di dalam fluida mengalami gaya-gaya tarik ke segala arah
dan resultan gayanya sama dengan nol, tetapi tidak demikian halnya
molekul di permukaan fluida.
Molekul di permukaan fluida mengalami gaya kohesi netto yang
tegak lurus dengan permukaan. Molekul di permukaan memiliki
energi lebih besar daripada yang di dalam fluida. Oleh karenanya
diperlukan kerja untuk menggerakkan molekul-molekul di
permukaan untuk mengatasi gaya kohesi tersebut.
Tegangan Tegangan permukaan (, sigma) suatu fluida adalah kerja yang harus
permukaan diberikan untuk membawa molekul dari dalam ke permukaan fluida
untuk membentuk satu satuan luasan permukaan baru (J/m2 = N/m).
Tegangan permukaan sering pula dinyatakan dalam satuan dyne per
cm (1 dyne/cm = 0,001 N/m).
Surfaktan Tegangan permukaan suatu zat bisa sangat berubah akibat
penambahan zat yang disebut surfaktan (surfactants) semisal sabun
dan deterjen. Sabun dan deterjen bekerja menurunkan tegangan
permukaan air dan memungkinkannya menembus sela-sela di antara
serat pakaian sehingga pencucian lebih efektif.
Butiran fluida Tegangan permukaan adalah kecenderungan permukaan fluida untuk
berlaku seperti membran elastik teregang. Secara alamiah, cairan
cenderung meminimalkan luas permukaannya. Oleh karenanya,
butiran setetes cairan cenderung membentuk bulatan untuk
meminimalkan luas permukaannya. Untuk butir kecil ini, tegangan
permukaan akan menyebabkan kenaikan tekanan internal p untuk
mengimbangi gaya permukaan.

Gas

Permukaan bebas
(free surface)

Resultan gaya
kohesi tegak lurus Resultan gaya
permukaan bebas. Cairan kohesi nol.

Gambar 52. Gaya-gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan

61
(ppluar).r2

Tekanan gas di luar


butiran = pluar

2.r
Tekanan cairan di
dalam butiran = p

.2r

Gambar 53. Komponen gaya-gaya pada butiran fluida

Besarnya selisih tekanan di dalam butir dan tekanan luar p = (p –


pluar), bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya pada
setengah bola:

F y 0
Gaya tekan   Gaya permukaan   0
p  r 2    2r  0
sehingga
2
p 
r
Semburan Kesetimbangan gaya serupa bisa juga dibuat untuk jet (semburan)
cairan cairan silindris, hasilnya:

p 
r
Gelembung Perlakuan serupa bisa juga dilakukan untuk gelembung sabun yang
sabun mempunyai dua permukaan bebas seperti diperlihatkan pada Gambar
54.

62
(ppluar).r2 Tekanan gas di luar
gelembung = pluar

Selaput cairan
dengan 2 permukaan
(luar + dalam)
2.r

Tekanan gas di dalam


gelembung = p
.2r

Gambar 54. Dua permukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun

Dengan demikian kesetimbangan gaya-gayanya menjadi:

F y 0
Ftekan  Ftekan  F permukaan  0
dari dalam dari luar luar  dalam

pA  p luar A  2    2r   0
 p  pluar r 2  4r  0
sehingga:
4
p   p  p luar  
r
Permukaan Tegangan permukaan biasanya muncul hanya dalam situasi yang
bebas melibatkan permukaan bebas (batas cairan/gas atau cairan/padatan)
atau antarmuka (batas cairan/cairan). Tegangan pada antarmuka
cairan/cairan biasa disebut sebagai tegangan antarmuka (interfacial
tension).
Tabel berikut menyajikan nilai tegangan permukaan sejumlah cairan
pada suhu 200 C dalam kontak dengan udara atau uapnya (nilai di
antara keduanya biasanya kecil saja).

Tabel 1. Nilai tegangan permukaan beberapa cairan


No Cairan Tegangan permukaan,  (dyne/cm)
1 Air 72,75
2 Air raksa 435,50
3 Benzena 23,70
4 Etanol 22,75

63
No Cairan Tegangan permukaan,  (dyne/cm)
5 Gliserol 63,40
6 Metanol 22,61
7 n-Oktana 21,78

G. Kapilaritas
Adhesi Cairan naik atau turun di dalam tabung kapilar disebabkan oleh
& Kohesi tegangan permukaan. Tinggi naik/turunnya tergantung pada besar
relatif dari kohesi cairan dan adhesi cairan ke dinding bejana.
 Cairan naik dalam tabung bila basah (adhesi > kohesi), dan
 Cairan turun bila tidak basah (kohesi > adhesi).
Pembasahan Fluida membasahi sejumlah padatan dan tidak membasahi lainnya.
dan sudut Gambar 55 melukiskan sejumlah watak pembasahan yang mungkin
kontak
terjadi sewaktu sebutir cairan diteteskan pada permukaan padatan
horizontal. Sisa permukaan padatan ditutupi dengan udara sehingga
kedua fluida ada bersamaan.
Sudut kontak Gambar 55 (a) mewakili kasus cairan yang tidak membasahi
permukaan padatan. Misalnya adalah air di atas teflon atau air-raksa
di atas gelas bersih. Jika pembasahan tepat nol maka  = 1800 . Akan
tetapi, gaya gravitasi pada butiran cairan akan menekan dan
meratakannya sehingga sudut 1800 tidak pernah teramati.
Gambar (c) mewakili kasus cairan yang membasahi permukaan
padatan, misalnya air pada permukaan tembaga bersih. Sudut 
diukur di dalam cairan antara tepi permukaan cairan dan permukaan
padatan. Sudut ini disebut sudut kontak dan merupakan ukuran dari
kualitas pembasahan. Untuk pembasahan sempurna, di mana cairan
menyebar sebagai lapisan tipis seluas permukaan padatan,  = nol.
Dalam kebiasaan sehari-hari, cairan dikatakan membasahi permukaan
bila  kurang dari 900 dan tidak membasahi jika  lebih dari 900 .
Nilai  kurang dari 200 mewakili pembasahan kuat, dan nilai  lebih
dari 1400 mewakili non-pembasahan kuat.

  

a b c

Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat

64
Pentingnya Kapilaritas penting diperhatikan dalam pengukuran fluida bilamana
kapilaritas diameter tabung yang digunakan dalam pengukuran kurang dari
10mm
Kenaikan atau penurunan kapilar (h) dalam sebuah tabung (Gambar
56) bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya. Gaya-gaya
yang bekerja adalah gaya tegangan permukaan, gaya tekan, dan gaya
gravitasi.
Kenaikan Pada kasus pertama di mana fluida mendaki lebih tinggi dari
kapilar permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja
pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada
Gambar 57.

h d d

h

A B

Gambar 56. Efek kapilaritas

65
 Fpermukaan   d  cos 

 
Ftekan  Patm  d 2 
4 

h d CV  
Fberat   d 2 h  g
 4 

 
Ftekan  Patm  d 2 
4 

Gambar 57. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida
yang mendaki di atas permukaan bebas

Analisis Gambar 57 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control


kenaikan volume) kolom kapilar fluida yang mendaki di atas permukaan bebas.
kapilar
Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah:

F y  Ftekan  F permukaan  Fberat  Ftekan


ke atas ke bawah
0

dengan:
 Gaya tekan ke atas:

Ftekan  P atm A  Patm d 2
ke atas 4
 Gaya permukaan:
Fpermukaan   d cos  dengan  adalah sudut pembasahan
atau sudut kontak. (Jika tabung terbuat dari gelas dan
keadaannya bersih maka  = 0 untuk air dan sekitar 1400
untuk air-raksa)
 Gaya berat:
 
Fberat  mg    d 2 h  g dengan  adalah densitas cairan.
4 
 Gaya tekan ke bawah:

Ftekan  P atm A  Patm d 2
ke bawah 4
Karena gaya tekan ke atas dan ke bawah saling meniadakan karena
sama besar & berlawanan arah, maka kesetimbangan gayanya
menjadi:

66
F y  Fpermukaan  Fberat  0
atau:
 
 d cos     d 2 h  g  0
4 
sehingga ungkapan untuk kenaikan kapilar h menjadi:
4 cos 
h
gd

Penurunan Pada kasus kedua di mana fluida membenam lebih rendah dari
kapilar permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja
pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada
Gambar 58.

d F permukaan   d  cos 

 
Ftekan  Patm  d 2 
h 4 

 
H CV Fberat   d 2 H  g
B 4 


Ftekan  Patm  g h  H  d 2
4

Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida
yang membenam di bawah permukaan bebas

Analisis Gambar 58 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control


penurunan volume) kolom kapilar fluida yang membenam di bawah permukaan
kapilar
bebas. Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah:
F y  Ftekan  Fpermukaan  Fberat  Ftekan
ke atas ke bawah
0

dengan:
 Gaya tekan ke atas:

67

Ftekan  P atm  g h  H A  P atm  g h  H  d 2
ke atas 4
 Gaya permukaan: Fpermukaan   d cos  dengan  adalah
sudut pembasahan atau sudut kontak. Tanda minus
diperkenalkan supaya nilai besarnya gaya positif, sedangkan
arahnya sudah diperhitungkan dalam persamaan neraca gaya.
 
 Gaya berat: Fberat  mg    d 2 H  g dengan  adalah
4 
densitas cairan.
 Gaya tekan ke bawah:

Ftekan  P atm A  Patm d2
ke bawah 4
Kesetimbangan gayanya menjadi:

P atm  g h  H   d 2   d cos      d 2 H  g  Patm  d 2  0


4 4  4
atau:

gh d 2   d cos   0
4
sehingga ungkapan untuk penurunan kapilar h menjadi:
4 cos 
h
gd

68
Hg Air

30

25

efek kapilaritas (mm) 20

15

10

0
0 2,5 5 7,5 10 12,5 15 17,5 20
-5

-10
diameter pipa kapiler (mm)

Gambar 59. Kenaikan air dan penurunan Hg


sebagai fungsi diameter pipa kapilar

Koreksi efek Gambar 59 dan Gambar 60 melukiskan pentingnya efek kapilaritas,


kapilaritas terutama ketika melakukan pengukuran tekanan menggunakan
piezometer. Artinya, hasil pembacaan harus dikoreksi dengan efek
kapilar supaya diperoleh data yang akurat.
Pada manometer 2-kaki efek ini ada di kedua kakinya sehingga saling
meniadakan. Berbeda halnya pada manometer 1-kaki, efek kapilaritas
di kaki kiri dan kanan berbeda besarnya sehingga perlu
diperhitungkan untuk koreksi pembacaan.

69
Gambar 60. Efek kapilaritas

Contoh: Udara dialirkan melalui nozel ke dalam sebuah tangki air untuk
gelembung menghasilkan arus gelembung. Jika gelembung diinginkan agar
udara
berdiameter 2 mm, hitung berapa besar kelebihan tekanan udara pada
ujung nozel dibandingkan tekanan air sekelilingnya. Anggaplah
bahwa nilai tegangan permukaan antara udara dan air adalah
72,7.103 N/m.
Data:
Tegangan permukaan () = 72,7.103 N/m.
Jari-jari gelembung (r) = 1 mm.
Rumus:
2
p 
r
Perhitungan:
3
2 2  72 ,7.10 N
N
p   m
 145 ,5
r 1mm m2
Jadi, tekanan udara di ujung nozel harus lebih besar dari tekanan air
sekelilingnya sebanyak 145,4 N/m2 .
Contoh: Sebuah gelembung sabun berdiameter 50 mm berisikan tekanan 2 bar
gelembung (di atas tekanan atmosfir). Tentukan tegangan permukan pada saput
sabun
(film) sabun.
Data:
Jari-jari gelembung sabun (r) = 25 m = 0,025 m

70
p = 2 bar = 2.105 N/m2
Rumus tekanan di dalam gelembung sabun dan tegangan permukaan
() terkait oleh rumus:
4
p 
r
Perhitungan:

p  r 2.10
5 N
 0,025m N
  m2
 1250
4 4 m
Contoh: Air mempunyai tegangan permukaan sebesar 0,4 N/m. Dalam sebuah
sudut kontak tabung vertikal berdiameter 3 mm, air naik setinggi 6 mm di atas
permukaan air di luar tabung. Hitung sudut kontaknya.
Data:
Tegangan permukaan () = 0,4 N/m
Diameter tabung (d) = 3 mm = 0,003 m
Kenaikan kapilar (h) = 6 mm = 0,006 m
Rumus kenaikan kapilar karena tegangan permukaan diberikan oleh
persamaan:
4 cos 
h
gd
Perhitungan:

hgd 0,006m  1000 m3  9,812  0,003m


kg

cos     0,11
4 4  0,4 Nm

Jadi sudut kontaknya adalah  = 83,70 .

Rangkuman
Fluida didefinisikan sebagai zat yang terus mengalami deformasi selama
menanggung tegangan geser. Konstanta kesebandingan antara tegangan geser dan
laju deformasi mewakili sifat khas fluida yang disebut sebagai viskositas. Fluida
bisa digolongkan ke dalam kelompok fluida newton dan non-newton. Sifat fluida
newton bisa diwakili oleh persamaan viskositas newton.
Dalam aliran, tekanan lokal fase cair bisa saja lebih rendah dari tekanan uap
jenuhnya (pada suhu tertentu). Akibatnya, fluida berubah fase dari cair menjadi
uap. Fenomena ini (biasa disebut kavitasi) bisa menyebabkan kerusakan
permukaan padat dari alat keteknikan.

71
MODUL IV.
DESKRIPSI ALIRAN

Deskripsi
Berbeda dari zat padat yang memiliki bentuk tetap, fluida sangat mudah
mengalami deformasi yang terus-menerus. Akibatnya ragam gerak yang
dialaminya bisa sangat banyak – sebagaimana tercermin dari pola aliran fluida
yang terkesan rumit. Walaupun demikian, gerak rumit tersebut bisa diurai sebagai
tersusun dari gerak-gerak dasar. Sebagian anasir gerak tersebut sama seperti pada
zat padat (translasi, rotasi, deformasi linier), bedanya pada fluida ada unsur gerak
tambahan, yaitu deformasi geser. Modul ini mengulas penggambaran anasir gerak
dasar tersebut dalam ungkapan matematik tanpa memperhitungkan penyebab
pergerakan (kinematika fluida). Selain itu, karena bentuknya mudah berubah-
ubah, maka untuk mempelajari fluida lebih enak diambil ruang tertentu (control
volume, CV) sebagai basis analisis, bukan massa tertentu (control mass, CM)
seperti saat mempelajari zat padat. Namun, hukum alam dirumuskan menurut
basis CM. Oleh karena itu, persamaan dasar neraca massa, momentum, dan energi
harus diubah bentuknya supaya berlaku dalam pendekatan CV yang berbasis
ruang. Pengubahan tersebut mudah dilakukan dengan menerapkan dalil transport
Reynolds.
Sasaran belajar:
1. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV
dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu
2. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis
3. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana

A. Ragam Cara Pandang Aliran


Hukum dasar Ada 3 hukum dasar fisika yang berlaku dalam aliran fluida, kecuali
Fisika & untuk fenomena relativistik & nuklir, yaitu:
Hubungan
konstitutif  Hukum kekekalan massa
 Hukum kedua Newton tentang gerak
 Hukum pertama termodinamika
yang rumusan matematikanya berturut-turut adalah:
 Persamaan kontinuitas
 Persamaan momentum
 Persamaan energi
Hukum fisika berlaku umum untuk segala bahan. Oleh karena itu,
penerapan hukum fisika pada suatu fenomena yang melibatkan bahan
tertentu memerlukan pengetahuan sifat bahan itu.
Sifat bahan biasanya dinyatakan dalam hubungan sifat-sifat, yang

72
sayangnya sering disebut dengan istilah hukum juga, misal:
 hukum gas ideal (seharusnya hubungan sifat gas ideal),
 hukum viskositas newton (seharusnya hubungan sifat fluida
newtonian).
Hubungan sifat ini biasanya disebut hubungan konstitutif.
Jadi ingat-ingat, hukum berlaku untuk segala bahan, apakah itu
hukum kekekalan massa, hukum kedua Newton tentang gerak, atau
hukum pertama termodinamika. Sementara, hubungan konstitutif
berlaku untuk suatu bahan tertentu saja, misal:
 Hubungan sifat gas ideal,
 Hubungan sifat fluida Newtonian,
 Hubungan sifat fluida non-Newtonian, dll.
Kinematika Pengungkapan hukum-hukum fisika dalam bentuk matematik
Fluida memungkinkan pengembangan penggambaran analitik aliran fluida.
Modul ini akan mengulas penggambaran gerak fluida secara
matematik tanpa perlu memperhitungkan gaya-gaya dan momen-
momen penyebabnya.
Ilmu penggambaran gerak seperti ini disebut Kinematika Fluida.
Ragam Cara Aliran, atau gerak fluida, bisa digambarkan dengan beragam cara
Pandang pandang, yaitu:
Aliran
1) Cara pandang Integral:
a) cara pandang CM (control mass),
b) cara pandang CV (control volume),
2) Cara pandang Diferensial:
a) cara pandang Lagrangian, dan
b) cara pandang Eulerian.
Cara pandang integral dan diferensial berbeda dalam hal skala
pandang. Skala pandang berkaitan dengan resolusi atau kedetilan atau
kerincian pemandangan. Cara pandang integral melibatkan fluida
dalam skala besar (atau kerincian rendah), sedangkan cara pandang
diferensial melibatkan fluida dalam skala kecil/titik (kerincian
tinggi).
Cara pandang CM sepadan dengan Lagrangian, dan cara pandang CV
sepadan dengan Eulerian. Masing-masing berbeda hanya dalam skala
pandang.
Obyek pandang CM dan Lagrangian adalah massa, sedangkan obyek
pandang CV dan Eulerian adalah ruang.
Sistem (CM) Hukum-hukum dasar fisika bisa diterapkan langsung pada sistem
karena perumusan aslinya memang untuk sistem. Apa yang dimaksud
dengan istilah sistem adalah sejumlah massa beridentitas tetap atau

73
control mass (CM). Massa tidak bisa menembus batas sistem.
Transformasi Mengingat fluida mudah berubah bentuk dan bercampur-baur, kajian
CM ke CV lebih enak dilakukan pada suatu volume atau ruang (control volume-
CV) tertentu di mana fluida bisa mengalir keluar-masuk melaluinya.
Jadi berbeda dengan pada sistem (CM), massa pada CV dibiarkan
bisa menembus batas CV.
Perbedaan pendekatan antara CV dan CM menyebabkan hukum-
hukum fisika (yang aslinya dirumuskan untuk CM) tidak bisa
diterapkan begitu saja untuk CV. Ungkapan hukum dasar fisika perlu
ditransformasi dari rumusan untuk sistem (CM) ke rumusan untuk
CV. Ini ditempuh dengan Dalil Transport Reynolds (Reynolds
Transport Theorem - RTT).
Dalil Ungkapan Dalil Transport Reynolds untuk melakukan transformasi
Transport besaran B dari untuk sistem (CM) ke untuk CV adalah:
Reynolds
dBCM   
  bdV   bv  n dA
dt t CV CS

dengan:
B = besaran fisik (bisa massa, momentum, atau energi)
b = B per satuan massa
v = vektor kecepatan
n = vektor satuan normal (tegak lurus) permukaan
V = volume CV
A = luas permukaan
CS = permukaan batas CV
Lihat juga Gambar 61. Jika CV bergerak atau berdeformasi dengan
kecepatan tetap (v CS), maka vektor kecepatan diganti dengan
kecepatan relatif (v - v CS).

Dalil Transport Reynolds (DTR) digunakan untuk


mengubah penggambaran CM (sistem) menjadi
CM untuk analisis integral
  
bdV   bvr  n dA
dBCM
dt
 
t CV CS

Penggambaran DTR Penggambaran


Sistem (CM) CV

Gambar 61. Dalil Transport Reynolds

Deskripsi Gerak fluida bisa digambarkan dengan 2 macam metode, yaitu:


Gerak

74
 Penggambaran Lagrangian, yang sebutannya diambil dari
nama matematikawan Italia Joseph Louis Lagrange (1736-
1813).
 Penggambaran Eulerian, yang sebutannya diambil dari nama
matematikawan Swiss Leonhard Euler (1707-1783).
Deskripsi Dalam pendekatan Lagrangian, posisi & kecepatan partikel
Lagrangian individual atau control mass (CM) dijejaki/ditelusuri. Gerakan
partikel digambarkan berdasarkan hukum-hukum Newton.
Pendekatan ini sulit dipakai untuk analisis aliran karena:
 Secara makroskopik: bentuk badan fluida tidak tetap
karena partikel penyusunnya mudah berpindah.
 Secara mikroskopik: jumlah molekul fluida luar biasa banyak
+ interaksi antarmolekul sulit untuk dimodelkan.
Walaupun demikian, pendekatan ini berguna untuk penerapan
khusus, misalnya dalam analisis aliran semprotan, partikel, dinamika
gelembung, dan gas bertekanan sangat rendah (rarefied gases).
Untuk keperluan tertentu, gabungan metode Eulerian-Lagrangian
menjadi perlu diterapkan, misalnya dalam:
 Pemantauan lingkungan global dengan menggunakan Global
Environmental MEMS Sensors (GEMS). Simulasi pergerakan
sensor skala-mikron ini dilakukan dengan menggunakan
model partikel Lagrangian yang disertakan dalam medan
aliran hasil perhitungan CFD3 Eulerian (Gambar 62).
 Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia.
Pertama, CFD Eulerian digunakan untuk simulasi medan
aliran. Partikel Lagrangian untuk simulasi jejak sampah
serpihan pesawat (Gambar 63).
Deskripsi Suatu domain aliran atau control volume (CV) didefinisikan di mana
Eulerian fluida mengalir keluar-masuk. Variabel medan aliran didefinisikan
sebagai fungsi ruang dan waktu.
Medan tekanan, P=P(x,y,z,t)
Medan kecepatan, v  v x  x, y, z , t .i  v y  x, y, z , t . j  v z  x, y, z , t .k .

Medan percepatan, a  a x  x, y, z , t .i  a y x, y, z , t . j  a z  x, y, z , t .k


Ungkapan seperti ini pas untuk analisis differensial/rinci.

3 CFD = Computational Fluid Dynamics, yaitu suatu program komputer yang menyelesaikan
persamaan-persamaan aliran fluida, berdasarkan hukum-hukum fisika dan model-model semi-
empirik, untuk memprediksi medan aliran.

75
Gambar 62. Analisis pergerakan sensor mikron untuk pemantauan
lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian

Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia


dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian

Perbedaan Kedua pendekatan sebetulnya berbeda hanya dalam cara menentukan


dasar posisi dalam medan.
 Posisi dalam metode Lagrangian ditentukan secara relatif
berdasarkan Posisi acuan awal (saat t=0). Jadi, posisi dalam
ruang adalah variabel dependen terhadap waktu.
 Posisi dalam metode Eulerian ditentukan berdasarkan Posisi
geometrinya dalam ruang tidak bergantung waktu. Jadi, posisi

76
dalam ruang adalah variabel independen sama seperti waktu.
Lagrangian Lagrangian:
vs. Eulerian
1) Variabel independen: waktu
2) Variabel dependen:
a) Medan tekanan: p = p(t)
b) Medan kecepatan: v = v(t)
c) dengan posisi acuan: (xo, yo, zo) saat t = to.

Eulerian:
1) Variabel independen: posisi dan waktu
2) Variabel dependen:
a) Medan tekanan: p = p(x,y,z,t)
b) Medan kecepatan: v = v(x,y,z,t)
Titik temu Hukum Newton kedua pada satu partikel fluida adalah:
metode
Lagrangian & Fpartikel  m partikel a partikel
Eulerian
dengan:
dv partikel
a partikel 
dt
Namun, v partikel di satu titik pada waktu t kapanpun = v fluida
v partikel  v x partikel t , y partikel t , z partikel t , t 

Turunan waktu diperoleh dengan aturan berantai


v v v v
dv partikel  dx partikel  dy partikel  dz partikel  dt
x y z t
dv partikel v dx partikel v dy partikel v dz partikel v dt
a    
dt x dt y dt z dt t dt
Kemudian, karena:
dx partikel dy partikel dz partikel
 vx ,  vy ,  vz
dt dt dt
maka:
v v v v
a partikel   vx  vy  vz
t x y z
sehingga dalam notasi vektor, ungkapan percepatan ini bisa ditulis:
dv v
a  x, y , z , t     v   v
dt t

77
Suku-suku di sebelah kanan tanda = berarti:
 Suku pertama adalah percepatan lokal, yang nilainya = 0
untuk aliran steady.
 Suku kedua adalah percepatan advektif yg memperhitungkan
efek perpindahan partikel fluida ke lokasi baru dalam aliran di
mana kecepatan berbeda.
Operator turunan total d/dt disebut turunan material dan sering diberi
lambang khusus, D/Dt.

   v   
D d
Dt dt t
Operator ini merupakan sarana transformasi yang mempertemukan
pendekatan Lagrangian dan Eulerian (Gambar 64). Nama lain untuk
turunan material adalah: total, partikel, Lagrangian, Eulerian, dan
substantial. Suku advektif (v) bersifat nonlinier sehingga
persamaan diferensial aliran sulit untuk diselesaikan. Inilah yang
menjadi sumber dari beragam fenomena aliran yang sangat
menantang.

Turunan Material D/Dt digunakan untuk


mengubah penggambaran Lagrangian menjadi
Eulerian untuk analisis differensial

  v   
D
Dt t

Penggambaran D/Dt Penggambaran


Lagrangian Eulerian

Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan


metode Lagrangian dan Eulerian

Rekapitulasi Hasil diskusi tentang berbagai cara pandang terhadap penggambaran


gerak fluida bisa dirangkum dalam satu gambar seperti diperlihatkan
pada Gambar 65. Penggambaran CV untuk analisis integral bisa
diubah menjadi penggambaran diferensial dengan menciutkan CV
menjadi titik.

78
Analisis Integral
Dalil Transport Reynolds mengubah
penggambaran Sistem (CM) menjadi CV

Penggambaran DTR Penggambaran


Sistem (CM) CV

Untuk CV diferensi al (titik)

Penggambaran D/Dt Penggambaran


Lagrangian Eulerian

Turunan Material D/Dt mengubah


penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian
Analisis Differensial

Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida

B. Kinematika Fluida
Deskripsi Elemen fluida bisa mengalami 4 macam gerak:
kinematik
1) Translasi
2) Rotasi
3) Peregangan linier
4) Peregangan geser
Lihat pula Gambar 66. Karena fluida terus bergerak, gerakan &
deformasi paling baik digambarkan dalam laju:
1) Kecepatan: laju translasi
2) Kecepatan angular: laju rotasi
3) Laju regang linier
4) Laju regang geser
Laju Vektor laju translasi digambarkan sebagai vektor kecepatan.
Translasi
Dalam koordinat Cartesian:
v  v x .i  v y . j  v z .k

Dengan i, j dan k adalah komponen vektor satuan arah x, y dan z


berturut-turut.

79
Translasi

Rotasi

Peregangan
Linier

Peregangan
Geser

Gambar 66. Ragam gerak yang bisa dialami oleh elemen fluida


 vx y  y
 vx y

y+y

/2
 vy  vy
x  x x
y
x x+x x x+x
Saat t Saat t+t
Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida

Laju rotasi Laju rotasi di satu titik didefinisikan sebagai laju rotasi rerata dari
dua garis yang semula saling tegak lurus dan berpotongan di titik itu
(Gambar 67). Mengacu pada gambar tersebut, komponen arah z
vektor laju rotasi pada bidang xy dalam koordinat Cartesian bisa
dirumuskan sebagai berikut:

80
d    
 z  12
dt
 v 
 v t   
 vx y  y  vx y t 
 arctan y x  x y x arctan 
 x y 
 2 lim
1

t 0  t t 
 
 
 v y vx 
 12   
 x y 
Komponen arah x dan y vektor laju rotasi pada bidang yz dan zx
dalam koordinat Cartesian bisa ditentukan dengan cara serupa,
sehingga hasil selengkapnya adalah:
   x .i   y . j   z .k
 v v 
 x  12  z  y 
 y z 
 v x v z 
 y  12   
 z x 
 v v 
 z  12  y  x 
 x y 
atau, dalam notasi vektor:
  12 curl v 
 12   v
i j k
  
 12  x 
y z 
v x vy v z 

Vortisitas Curl (v) disebut sebagai vortisitas , suatu ukuran rotasi partikel
fluida & besarnya = 2 kali kecepatan angular  partikel fluida.
Ungkapan vortisitas dalam sistem koordinat cartesian adalah:
  curl v 
 v
i j k
  
  x 
y z 
v x vy v z 

dan dalam sistem koordinat silindrik adalah:

81
  curl v 
 v
er e ez 
  r 
r
 
z 
vr v vz 
Di daerah dengan vortisitas  = 0, aliran disebut irrotasional di
tempat lain, alirannya rotasional.
Fenomena aliran rotasional dan irrotasional mudah diamati efeknya
pada dedaunan atau sampah lain yang terbawa aliran sungai. Di dekat
pinggir sungai, dedaunan hanyut sambil berputar, sedangkan di
daerah tengah tidak berputar. Ini menunjukkan bahwa aliran di
daerah pinggir sungai bersifat rotasional, sedangkan di tengah aliran
irrotasional (vortisitas nol). Lihat Gambar 68.

Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding,


dan irrotasional di jauh dinding

v y y  y  v y t
y

y  y

y

y
x x  x
x  
vx x  x  vx x t
Elemen fluida Elemen fluida
Saat t Saat t+t

Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida

Laju regang Laju Regang Linier didefinisikan sebagai laju pertambahan panjang
linier per satuan panjang. Lihat Gambar 69. Pada bidang xy dalam

82
koordinat Cartesian, laju regang arah x dan y bisa ditentukan sebagai
berikut:
v x x  x  vx x t 
d x x v
 xx   lim  x
dt t 0 t x
v y y  y  v y t
y

d y y v y
 yy   lim 
dt t 0 t y
Dengan cara serupa bisa diperoleh laju regang arah z:
v z z  z  vz z t 
d z z vz
 zz   lim 
dt t 0 t z
Jadi, dalam koordinat Cartesian:
v x v y v z
 xx   yy   zz 
x y z
Selanjutnya, laju regang volumetrik dalam koordinat Cartesian bisa
ditentukan sebagai berikut:
 Vt  t 
  1
dV V   lim 1 Vt  t  V t
 lim  t 
V
dt t 0 V t t 0 t
 t  
t

 vx   vx t  

vy  vy
  x 
y  y
x  x
  y 
x y
Vt  t 
 x   y
   
 v 
 z  z z  z
 vz z
t 
 x 
 
Vt  xyz
Hasilnya, laju regang volumetrik menjadi:
dV V      yy   zz 
v x vy vz
 
x y z
xx
dt
 v

dV V   divv   laju pengembangan volume


dt
Dalam aliran inkompresibel, volume elemen fluida adalah tetap,
sehingga laju regang volumetriknya adalah nol.
Laju geser Laju regang geser  di satu titik didefinisikan sebagai laju
1-arah
pengurangan sudut antara dua garis yang semula saling tegak lurus &
berpotongan di titik itu (Gambar 70). Dalam koordinat Cartesian,

83
pada bidang xy:
d  t  t    t 
 xy     lim
dt t 0 t


 
v x y  y  v x y t  
 arctan 
 2 y  2
  lim
t 0 t

 lim
 
v x y  y  v x y
y 0 y
dv
 xy  x
dy

v x y  y 
 vx y t

y+y

y
(t) (t+t)
y
Elemen fluida Elemen fluida
Saat t Saat t+t
Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida

Laju geser Laju regang geser  di satu titik ≡ laju rerata pengurangan sudut antara
2-arah
dua garis yang semula saling tegak lurus & berpotongan di titik itu
(Gambar 71).
Dalam koordinat Cartesian, pada bidang xy, laju regang geser bisa
ditentukan sebagai berikut:
d  t  t    t 
 xy   12   lim
dt t 0 t
 vy   v y t  vx  
 v x y t  
y  y
  arctan  arctan 
x  x x

2 x y  2
  12 lim 
t 0 t

 12 lim
vy x  x
 vy
x

 lim
v x y  y  v x y 
x 0 x y 0 y
 v v 
 xy  12  y  x 
 x y 
Analisis laju regang geser bisa diperluas tidak hanya sebatas pada
bidang xy tetapi juga pada bidang yz & zx. Apabila hal tersebut

84
dilakukan, maka hasil akhir keseluruhannya akan menjadi sebagai
berikut:
 v v 
 xy  12  y  x 
 x y 
 v v 
 yz  12  z  y 
 y z 
 v x v z 
 zx  12   
 z x 

v x y  y 
 vx y t

y+y

y
(t) (t+t)
y
v y x  x  v y t
x

x
Elemen fluida Elemen fluida
Saat t Saat t+t

Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida

Laju regang Ungkapan laju regang geser diperlukan untuk mengevaluasi tegangan
dan tegangan geser fluida. Dalam koordinat Cartesian, Hubungan Tegangan & Laju
geser
regang geser adalah sbb:
 v v 
 xy   yx   .2 xy    y  x 
 x y 
 v v 
 yz   zy   .2 yz    z  y 
 y z 
 v x v z 
 zx   xz   .2 zx     
 z x 
Tensor laju Laju regang linier dan geser bisa digabung jadi satu tensor orde-2
regang (linier simetrik yang disebut tensor laju-regang. Tensor ini penting untuk
+ geser)
membuat hubungan tegangan & laju regang fluida

85
 xx  xy  xz 
 
 ij   yx  yy  yz 
 zx  zy  zz 
 
 v x  v y v x   v z v x  
 2      
 x  x y   x z  
 v v y  v y  v z v y 
 12  x   2   
 y x  y  y z 
 v x v z   v y v z  v z 
      2 
 z x   z y  z 
Untuk fluida Newtonian, hubungan tegangan permukaan & tensor
laju regang adalah:
 ij   .2 ij   ij  23   v  p 
 v x  v y v x   v z v x  
 2      
 x  x y   x z  
 v v y  v y  v z v y 
   x   2   
 y x  y  y z 
 v x v z   v y v z  v 
      2 z 
 z x   z y  z 
 23   v  p 0 0 
  0 3   v  p
2
0 

 0 0 2
3   v  p 

C. Visualisasi Aliran
Ragam Sementara kajian kuantitatif dinamika fluida menuntut matematika
metode lanjut, banyak yang bisa dipelajari dari visualisasi aliran. Visualisasi
visualisasi
aliran penting baik dalam eksperimen fisik (Gambar 72) maupun
dalam solusi numerik (CFD).
Ada banyak ragam metode visualisasi, yaitu:
1) Streamlines & streamtubes
2) Pathlines
3) Streaklines
4) Timelines
5) Teknik pembiasan
6) Teknik aliran permukaan

86
Gambar 72. Visualisasi aliran melalui sebuah bola

Streamline Streamline adalah kurva yang di mana-mana menyinggung vektor


(garisarus) kecepatan lokal sesaat. Garis busur
dr  dx.i  dy. j  dz.k
pada streamline akan parallel dengan vektor kecepatan lokal
v  v x .i  v y . j  v z .k

Lihat Gambar 73.


Penalaran geometrik akan membawa keduanya pada satu persamaan
untuk streamline berikut:
dr dx dy dz
  
v vx v y vz
Lihat contoh-contoh visualisasi aliran menggunakan streamline pada
Gambar 74 dan Gambar 75.

Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline

87
Gambar 74. Kontur tekanan dan streamline pada NASCAR

Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada


pesawat terbang

Streamtube Streamtube terdiri dari seikat streamlines (keduanya sama-sama


(Tabungarus) besaran sesaat). Fluida dalam streamtube selalu ada di situ & tidak
menembus batas tabungarus. Dalam aliran tak steady, pola streamline
bisa berubah-ubah terhadap waktu, tetapi laju aliran massa melalui
irisan tabungarus tetap sama.
Pathline Pathline adalah jejak aktual yang dilewati oleh partikel fluida
(garisjejak) individual sepanjang beberapa periode waktu. Lihat Gambar 76.
Seperti halnya vektor posisi material dari partikel fluida:
x partikel t , y partikel t , z partikel t 

88
lokasi partikel pada waktu t adalah:
t
xt   xt awal    vdt
t awal

Teknik eksperimen modern particle image velocimetry (PIV)


menggunakan garisjejak partikel (penjejak) untuk mengukur medan
kecepatan pada sebidang penuh dalam aliran ().

Gambar 76. Deskripsi pathline

Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry


(PIV)

Streakline Streakline adalah untaian lokasi partikel fluida yang telah melalui
(garisuntai) suatu titik dalam aliran secara berurutan. Streakline mudah dibuat
dalam eksperimen dengan menggunakan zat warna (dye) dalam
aliran air, atau asap dalam aliran udara. Lihat sampai .

89
Gambar 78. Deskripsi streakline

Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take -off and
Landing)

90
Gambar 80. Streakline berupa vortex ujung sayap

Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe


berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS)

Perbandingan Untuk aliran steady, streamlines, pathlines, dan streaklines identik.


streamline,
pathline & Untuk aliran tak steady, ketiganya bisa sangat beda.
streakline
1) Streamlines adalah gambaran medan aliran sesaat.
2) Pathlines & Streaklines adalah pola aliran yang membawa

91
riwayat waktu.
a) Streakline: jejak aliran satu-waktu dari untaian-partikel.
b) Pathline: jejak aliran untaian-waktu dari satu-partikel.
Lihat Gambar 82 yang memperlihatkan ketiga macam visualisasi
untuk medan aliran yang digambarkan oleh fungsi kecepatan berikut:
vx, y, t   vx .i  v y . j
 0,5  0,8 x .i
 1,5  2,5 sin t   0,8 y . j
Timeline Gariswaktu adalah sehimpunan partikel fluida berdekatan yang
(gariswaktu) awalnya dilepas pada waktu bersamaan. Gariswaktu bisa
dibangkitkan dengan menggunakan kawat gelembung hidrogen.

Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline

92
Gambar 83. Timelines yang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen
digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan batas
(boundary layer).

D. Penyajian Data Aliran


Peta Aliran Data aliran adalah sajian data sifat aliran yang beragam menurut
ruang dan/atau waktu. Data ini bisa dipetakan dengan beberapa cara,
yaitu:
 Peta Profil yang menunjukkan bagaimana nilai sifat skalar
bervariasi sepanjang arah yang diinginkan dalam medan
aliran.
 Peta Vektor berupa selarik panah yang menandai besar dan
arah sesaat dari sifat vektor.
 Peta Kontur yang memperlihatkan kurva-kurva sifat skalar
bernilai tetap dari besarnya sifat vektor sesaat.
Lihat Gambar 84 sampai Gambar 86.

Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal
dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar

93
Gambar 85. Peta vektor kecepatan

Gambar 86. Peta kontur tekanan

94
MODUL V.
ANALISIS INTEGRAL ALIRAN

Deskripsi
Analisis aliran dapat, menurut cara pandangnya, bisa dilakukan pada cakupan atau
resolusi yang kasar atau halus. Jika diibaratkan layar penampil, cakupannya bisa
keseluruhan layar atau piksel demi piksel (dalam keseluruhan layar juga). Jika
sasarannya mendapatkan nasib keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi
pada suatu CV (control volume), maka dilakukan analisis integral pada modul ini.
Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa, momentum dan energi di
dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial. Kedua pendekatan berbeda
hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral melihat persoalan dari
kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial melihat persoalan dari
kacamata kerincian. Walaupun resolusinya tidak rinci, analisis integral sangat
praktis digunakan dalam kegiatan keteknikan harian karena hanya membutuhkan
peralatan hitung sederhana dan dapat dikerjakan dalam orde waktu ½ jam saja.
Sasaran belajar:
4. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV
dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu
5. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis
6. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana

A. Pendekatan Analisis
Tiga Kebanyakan masalah teknik bisa dianalisis menggunakan satu dari
Pendekatan tiga pendekatan dasar: eksperimental, CV diferensial, dan CV
Analisis
integral. Kedudukan relatif ketiga pendekatan analisis itu adalah sbb:
 Pendekatan CV Diferensial: masalah dirumuskan secara
akurat sebagai besaran2 diferensial, dan solusi biasanya
diperoleh dengan mengandalkan metode numerik.
 Pendekatan Eksperimental: bersama2 dengan analisis
dimensional memberikan hasil sangat akurat, walaupun
makan waktu dan mahal.
 Pendekatan CV Integral: masalah dirumuskan cukup akurat
sebagai besaran2 integral, sangat cepat dan sederhana dan
biasanya memberikan jawaban yang cukup akurat untuk
kebanyakan tujuan teknik.
Modul ini membahas pendekatan CV Integral, atau sebut saja CV.
Pemilihan CV Suatu CV (control volume) bisa dipilih sebagai daerah dalam ruang
yang dilalui aliran fluida. Suatu CV dan CS (control surface)
pembatasnya bisa diam, bergerak, dan bahkan berubah bentuk
(berdeformasi) selama aliran berlangsung.

95
CV diam pas untuk analisis aliran yang melalui saluran diam semisal
penyembur air pemadam api (Gambar 87).
CV bergerak pas untuk analisis aliran yang melalui benda bergerak
semisal pesawat terbang (Gambar 88). Jika CV diambil diam, maka
aliran di dalamnya akan menjadi unsteady selama dan beberapa
waktu sesudah pesawat melewatinya. Dengan mengambil CV
bergerak, aliran yang semula unsteady menjadi steady karena pola
aliran setiap waktu menjadi sama.
CV berdeformasi adalah suatu keharusan dalam analisis aliran fluida
seperti yang berlangsung di dalam ruang bakar mesin piston-silinder.
Gerak terus-menerus piston menyebabkan volume di dalamnya
berubah-ubah secara periodik. Gambar 89 hanya memperlihatkan
keadaan CV sesaat, yang setiap saat berubah-ubah posisi secara
periodik.

CV diam, v CS=v CV=0

Gambar 87. Contoh CV diam

CV bergerak, v CS=v CV

Gambar 88. Contoh CV bergerak

96
CV berdeformasi

Gambar 89. Contoh CV berdeformasi

B. Neraca Integral Massa


Neraca Prinsip kekekalan massa adalah satu dari yang paling dasar di alam.
Integral
Massa Massa, seperti energi, adalah sifat yang kekal, dan tak dapat
diciptakan/dimusnahkan selama suatu proses. Namun, massa m dan
energi E bisa saling diubah menurut rumus yang diusulkan Albert
Einstein (1879–1955).
E  mc2
Untuk sistem tertutup (CM), tersirat kekekalan massa karena massa
sistem tetap selama suatu proses.
Untuk sistem terbuka (CV), massa bisa melewati batas sistem
sehingga jumlah massa yang masuk atau keluar CV harus ditelusuri.
Neraca Massa dalam CM:
mCM  C
atau
dm
0
dt CM
Menurut Dalil Transport Reynolds suku kiri:

  dV    v  ndA
dm
dt CM t CV CS

sehingga, Neraca Massa dalam CV menjadi:



 dV  CS  v  n dA  0
t CV

97
Suku pertama mewakili perubahan lokal massa dalam CV. Pada
keadaan steady nilai suku ini sama dengan nol sehingga ungkapan
menjadi:

 dV  CS  v  n dA  0
t CV
   
0

  v  n dA  0
CS

Suku kedua mewakili laju aliran massa netto keluar-masuk CV. Pada
keadaan steady, laju aliran massa masuk dan keluar seimbang. Jika
selain steady aliran juga inkompresibel maka ungkapan menjadi:

 v  ndA  0
CS

Penentuan Operasi dot antara vektor kecepatan dan vektor normal paling mudah
permukaan dievaluasi jika keduanya sejajar, baik searah (sudut 0o ) atau
CV
berlawanan arah (sudut antara keduanya 180 o ).
Karena vektor normal tegak lurus dengan permukaan CV, maka
permukaan CV (Control Surface) yang dilewati aliran fluida keluar-
masuk CV paling enak dipilih tegak lurus arah aliran sehingga vektor
kecepatan paralel dengan vektor satuan normal. Lihat Gambar 90.
Dengan demikian, maka:
 v  n  v . n cos0  v pd bagian keluar.

1

 v  n  v . n cos180   v pd bagian masuk.


  
1

Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran

98
Contoh Gambar 91 melukiskan bejana yang mempertemukan dua aliran
Analisis fluida menjadi satu. Untuk keperluan analisis, CV telah didefinisikan
dengan batas-batas diam yang diperlihatkan sebagai garis putus-
putus.
Perhatikan, untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian
keluar-masuknya fluida (posisi 1, 2 dan 3) telah dipilih tegak lurus
dengan arah aliran. Pada keadaan steady neraca massa menjadi:

CS
  v  n dA  0

  v  n dA    v  n dA
CS CS
   v  n dA  0
CS
1 2 3

 1v1 A1   2 v2 A2   3v3 A3  0
 m1  m2  m3  0
m3  m1  m2
Jika aliran juga inkompresibel, maka densitas tidak berubah atau
tidak berbeda di posisi 1, 2 maupun 3, sehingga persamaan menjadi:
 v1 A1  v2 A2  v3 A3  0
 Q1  Q2  Q3  0
Q3  Q1  Q2
dengan Q adalah debit aliran.

Gambar 91. Aliran melalui CV diam

Contoh Gambar 92 memperlihatkan sebuah tangki silindrik terbuka (kontak


Analisis dengan atmosfir) berdiameter 60cm dengan lubang keluaran
berdiameter 2,5cm.
Berapa waktu yang diperlukan untuk menguras air dari tangki dengan
gravitasi (g) jika tinggi air awalnya adalah 1m (Ho)?

99
Anggaplah kecepatan air keluar tangki bervariasi dengan ketinggian
(h) menurut hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh.

H0

Gambar 92. Tangki terbuka berisi air

Pertama-tama CV didefinisikan terlebih dahulu. Untuk kasus ini


paling enak CV didefinisikan berdeformasi mengikuti penurunan
level air. Dengan demikian, tidak ada laju aliran massa masuk ke
dalam CV, dan hanya ada laju aliran massa keluar dari CV.
Kedua, permukaan CV dipilih tegak lurus arah aliran sehingga
evaluasi aliran keluar CV menjadi mudah.
Ketiga, menyusun neraca massa dalam CV dengan menggunakan
persamaan neraca massa:

 dV  CS  v  n dA  0
t CV

Di sini, besarnya perubahan diferensial volume air dalam CV adalah


dV=A.dh dan air keluar dengan kecepatan v out. Persamaan menjadi:

 Adh  vout cos0Aout  0
t CV

Densitas air, karena tetap, bisa dikeluarkan dari integral sehingga:


dh
A   2 gh Aout  0
dt
Integrasi persamaan dengan batas bawah t=0 dan h=Ho =1m dan batas
atas t=t dan h=0 memberikan:

100
t 0
A 1
 dt  
t 0 Aout 2 g
 h 2 dh
h H 0

t
D d  2

2 0 H0 
2g


60cm 3cm2 0  1m 
2  9,8 sm2
 90,4 s
Jadi waktu yang dibutuhkan untuk pengurasan adalah 90,4 detik.

C. Neraca Integral Momentum Linier


Neraca Hukum dasar fisika kedua yang penting untuk analisis aliran (gerak
Momentum fluida) adalah hukum Newton kedua tentang gerak. Hukum ini bisa
Linier
dinyatakan sbb:
Laju perubahan momentum suatu sistem sama dengan gaya netto
yang bekerja pada sistem dan terjadi searah dengan gaya netto.
Pernyataan mengandung dua bagian penting, yaitu: pertama, hukum
ini mengacu pada suatu sistem tertentu, dan kedua, hukum ini
mencakup besar dan arah (besaran vektor). Oleh karena itu, untuk
menggunakan hukum ini pada CV, yang mengandung partikel fluida
beda (berarti sistem beda) sewaktu ditinjau pada waktu beda,
ungkapan perlu diubah bentuknya. Transformasi ungkapan hukum
dari untuk CM (sistem) ke untuk CV ini dilakukan dengan
menggunakan Dalil Transport Reynolds.
Neraca Momentum dalam CM adalah:
d mv 
  Fluar
dt CM
Menurut Dalil Transport Reynolds, suku kiri:
d mv 
  vdV   vv  ndA
dt CM t CV CS

sehingga, Neraca Momentum dalam CV menjadi:



 vdV  CS vv  n dA   Fluar
t CV
Suku pertama mewakili laju perubahan lokal momentum di dalam
CV. Pada keadaan steady, nilai suku ini sama dengan nol sehingga
neraca menjadi:

101

 vdV  CS vv  ndA   Fluar
t CV
   
0

 vv  ndA   F
CS
luar

Suku kedua mewakili laju netto aliran momentum keluar-masuk


batas-batas CV. Jika aliran selain steady juga inkompresibel, maka
neraca menjadi:
  vv  ndA   Fluar
CS

Komponen Dalam sistem koordinat Cartesian, neraca momentum bisa diurai


Cartesian menurut ketiga komponen arah x, y dan z berturut-turut sbb:

 vx dV  CS vx v  n dA   Fx
t CV


 v y dV  CS v y v  n dA   Fy
t CV

 vz dV  CS vz v  n dA   Fz
t CV
Contoh Gambar 93 memperlihatkan aliran fluida melalui streamtube. Jika
Analisis aliran steady, maka streamtube bisa dibayangkan sebagai sebuah
saluran tertutup seperti pipa, di mana tidak ada aliran yang
menembus keluar-masuk streamtube.
Untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian masuk &
keluar dipilih tegak lurus arah aliran.
Pada kasus ini,

 vdV  CS vv  n dA   Fluar
t CV
   
 0 , steady

Gaya luar yang bekerja pada fluida adalah gaya permukaan (akibat
tekanan) dan gaya berat (akibat gravitasi), sehingga neraca menjadi:

 vv  ndA   vv  n dA   pin  gzin Ain


     in
CS
     out
CS

 vin
2
Ain vout
2
Aout

  pout  gzout Aout


atau:
p out  gzout  vout
2
 
Aout  pin  gzin  vin2 Ain 
Pada kasus ini, supaya evaluasi integral bisa mudah dilakukan, profil
v in & v out telah dianggap seragam di CS in & out. Namun,
sesungguhnya profil v in & v out pada penampang CS in & out tidaklah

102
seragam, tetapi beragam (bervariasi).

 vv  n dA  vout


2
Aout
CS out vout

 vv  ndA
CS
 vin2 Ain n
in

vin
n zout


t CS
zin vdV  0

z=0

Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube

Apabila profil kecepatannya tidak seragam, maka efek distribusi


kecepatan perlu diperhitungkan dengan memperkenalkan sebuah
faktor koreksi fluks momentum, 
p out  gzout  vout
2
 
Aout  pin  gzin  vin2 Ain 
1
 2
v A  v 2 dA

Untuk aliran laminer dalam pipa berjari-jari R (profil v paraboloid):


 r2 
vr   vmaks 1  2 
 R 
vmaks  2v
sehingga:
r R 2
 r2 
1
 2 2  2v 
2
1  2  2rdr
v R r 0  R 
y 0

 4  y 2 dy  4 13 y 3 1   0

y 1

 4
3

Untuk aliran laminer nilai  jauh dari 1. Untuk aliran turbulen nilai 

103
biasanya mendekati 1 karena profil kecepatannya mendekati
seragam.

Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket

Contoh Gambar 94 memperlihatkan roket yang bergerak akibat efek jet


Analisis fluida, yaitu semburan gas hasil pembakaran.
Analisis pada jet fluida diperlukan untuk menentukan percepatan
yang dihasilkan saat awal roket dihidupkan. CV didefinisikan sebagai
bahan bakar sampai batas ujung nozel.
Untuk keperluan analisis, diambil tinjauan sesaat, yaitu waktu roket
mulai dihidupkan. Dengan demikian, CV bisa dipandang sesaat diam.
Tidak ada aliran fluida masuk ke CV dan hanya ada yang keluar dari
CV berupa gas hasil pembakaran.
Neraca massa:

 dV  CS  v  ndA  0
t CV
m
 v Aout  0
t
mCV
 v Aout  mout
t
Jadi, laju aliran massa keluar dari CV sama dengan laju pengurangan
massa CV (berarti massa bahan bakar).

104
Neraca momentum:

 vdV  CS vv  ndA   Fluar
t CV
 Fbadan  Fpermukaan
Gaya luar yang bekerja pada CV adalah:
 Gaya badan (berat bahan bakar + gas hasil pembakaran),
sebut saja Fb , dan
 Gaya permukaan (akibat tekanan & geseran oleh dinding
roket yang kontak dengan bahan bakar kepada CV), sebut saja
Fp .
Sebagai pendekatan, anggaplah gaya permukaan bisa diabaikan
terhadap gaya badan sehingga neraca momentum menjadi:


mv   vv  n dA  0
t CS out


mv  vout2 Aout   Fb  Fp
t

Fp  Fb  mv   vout
2
Aout
t
Ungkapan ini bisa disederhanakan dengan 2 pertimbangan berikut.
Besarnya Fb (berat bahan bakar) biasanya lebih kecil daripada gaya
semburan jet dan di sini dianggap bisa diabaikan. Laju lokal
perubahan momentum dalam CV pada saat yang ditinjau (CV
diam/belum bergerak) bisa diabaikan. Dengan demikian maka gaya
yang bekerja pada CV adalah:
Fp  vout
2
Aout

Akibat gaya aksi (ke bawah) ini, CV memberikan gaya reaksi yang
sama besar tetapi berlawanan arah (ke atas) kepada roket. Gaya
reaksi inilah yang mendorong dan melontarkan roket ke atas.
Freaksi   Faksi
Fdorong   Fp  vout
2
Aout  mout vout
Perhatikan, dari neraca massa didapat bahwa laju aliran keluar sama
dengan laju pengurangan bahan bakar. Jadi, gaya dorong roket sama
dengan hasil kali dari:
 laju pembakaran massa bahan bakar, dan
 kecepatan gas hasil pembakaran keluar dari nozel.

105
Gambar 95. Sudu turbin air Pelton

Contoh Salah satu perangkat teknik untuk mengubah energi aliran air
Analisis menjadi energi putar poros adalah turbin Pelton. Turbin ini berputar
akibat semburan air yang diarahkan pada bagian lekuk sudu-sudunya
(Gambar 95) yang dipasang radial di sekitar porosnya. Struktur
lengkapnya diperlihatkan pada Gambar 96.
Semburan air dari nozel menumbuk sudu-sudu turbin. Turbin
berputar dengan kecepatan . Dari analisis akan dicari ungkapan
torsi & daya yang dihasilkan turbin. Aliran yang terjadi pada turbin
diperlihatkan pada Gambar 97.
Anggapan analisis: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar sudu turbin
bisa didekati dengan gerak linier, shg di sini dipakai neraca
momentum linier, dan (3) aliran terbagi dua simetris oleh sudu.

106
Gambar 96. Struktur lengkap turbin Pelton

setelah meninggalkan bilah:


 V1x =  (V0  r).cos() + r
sebelum meninggalkan bilah:  V1y = + (V0  r).sin()
 V1x =  (V0  r).cos()

 V1y = + (V0  r).sin()

V0 V0  r r
Jet Sudu bergerak
A0 A0

sebelum meninggalkan bilah:


 V2x =  (V0  r).cos() 
 V2y =  (V0  r).sin() setelah meninggalkan bilah:
 V2x =  (V0  r).cos() + r
 V2y =  (V0  r).sin()

Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton

Neraca Neraca Massa:


Massa &

Momentum
dV    v  ndA  0
t 
Suku perubahan massa CV = nol karena aliran tetap (steady):

107

t 
d  0

Suku aliran massa melintas CV:

  v  ndA    v  ndA    v  ndA    v  ndA


0 1 2

  v0 A0  v1 A1  v2 A2


   Q0  Q1  Q2 
Dari neraca massa diperoleh: Q0 = Q1 + Q2 dengan Q0 = V0 A0 .
Neraca Momentum arah-x:

 vx dV   vx v  ndA   Fx
t    
0 , steady

Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran


tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:

 v v  ndA   v v  ndA   v v  ndA   v v  ndA


x x 0 x 1 x 2

 v0  v0 A    v0  r . cos   r  v1 A1


   v0  r . cos   r  v2 A2
  v0Q0   v0  r . cos   r Q1  Q2 
  Q0 v0  v0  r . cos   r 
  Q0 v0  r 1  cos 
Dari sini diperoleh:
Fx   Q0 v0  r 1  cos 
Neraca Momentum arah-y:

 v y dV   v y v  ndA   Fy
t    
0 , steady

Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran


tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:

 V V  ndA   v v  ndA   v v  ndA   v v  ndA


y y 0 y 1 y 2

  0 v0 A   v0  r . sin    r  v1 A1


   v0  r . sin    r  v2 A2
  v0  r . sin    r Q1  Q2 
0
Dari sini diperoleh:
Fy  0

Dengan vektor posisi sudu & gaya:

108
r  i 0  j  r   k 0
F  i Fx  j Fy  k Fz  i Fx  j 0   k 0 

Momen fluida menjadi:


M z  r  F  r Fx  rQ0 v0  r 1  cos 
sehingga pada turbin:
Torsi turbin  Momen fluida  M z
Daya turbin  Torsi turbin 

D. Neraca Integral Momentum Angular


Ulasan Gerak Benda kaku (rigid body) bisa mengalami 2 macam gerak, yaitu:
Angular
Benda Kaku  Translasi pusat massa.
 Rotasi pada pusat massa.
Gerak translasi bisa digambarkan dengan besaran linier semisal:
 Jarak linier l,
 Kecepatan linier v, dan
 Percepatan linier a.
dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum linier.
Gerak rotasi bisa digambarkan dengan besaran angular semisal:
 Jarak angular ,
 Kecepatan angular , dan
 Percepatan angular  .
dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum angular.
Hubungan besaran-besaran dalam gerak putar dan lurus bisa
dicermati pada Gambar 98.

109
v    r  r

a v
 v
  2r dl

d

r
dl  rd
dl d
v r  r
dt dt
dv d
a r  r
dt dt

Gambar 98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku

Kekuatan efek rotasi, disebut momen atau torsi. Besarnya momen ini
sebanding dengan nilai gaya yang menyebabkan putaran dan
jaraknya dari sumbu putar. Jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke
garis aksi gaya disebut lengan momen.
Torsi dM yang bekerja pada titik massa dm sejarak tegak lurus r dari
sumbu putar diungkapkan sebagai:
dM  r  dF  r 2 dm
Torsi total M yang bekerja pada seluruh massa m menjadi:
M   dM    r 2 dm  I

Besaran I adalah momen inersia benda di sekitar sumbu rotasinya.


Momen inersia adalah ukuran inersia benda terhadap rotasi.
Catatan: tidak seperti massa, inersia rotasional benda bergantung
selain pada nilai juga pada distribusi massa benda terhadap sumbu
rotasinya.
Momentum angular, atau momen momentum, dH dari titik massa dm
yang berputar dengan kecepatan  terhadap sumbu putarnya sejarak r
adalah:
dH  r  dm.v   r 2dm
Vektor momentum angular total H dari benda kaku berputar adalah:
H   dH   r 2dm

Vektor kecepatan angular bisa dikeluarkan dari integral karena sama


besar untuk semua titik massa benda kaku, sehingga:

110
H  r dm  I
2

Dalam gerak linier, laju perubahan momentum linier d(mv)/dt adalah


sama dengan gaya F. Analog dengan ini, maka laju perubahan
momentum angular d(I)/dt atau dH/dt adalah sama dengan momen
M, atau:
dH
M
dt
atau:
d r  mv
 rF
dt
Kesejajaran besaran linier dan angular diperlihatkan pada Gambar 99.

Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular

Neraca Neraca Momen Momentum dalam CM adalah:


Momentum
Angular dH
 M
dt CM

d r  mv 
  r  Fluar
dt CM

Menurut Dalil Transport Reynolds:


d r  mv 
   r  v dV    r  v v  ndA
dt CM t CV CS

sehingga, Neraca Momen Momentum dalam CV adalah:

111

  r  v dV  CS  r  v v  n dA   r  Fluar
t CV
Untuk aliran steady, suku perubahan momen momentum lokal dalam
CV sama dengan nol, sehingga persamaannya menjadi:

  r  v dV  CS  r  v v  ndA   r  Fluar
t CV
     
0

  r  v v  ndA   r  F
CS
luar

Jika selain steady aliran juga inkompresibel, maka densitas bisa


dikeluarkan dari integral dan persamaannya menjadi:
  r  v v  ndA   r  Fluar
CS

Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri)


dan turbin aliran radial (kanan)

Contoh Fluida masuk rumah turbin (volute) untuk menggerakkan sudu-sudu


Analisis turbin sehingga berputar dg kecepatan . Daya putar turbin
disalurkan ke kompresor melalui sumbu putar kopelnya (Gambar
100).
Secara skematik, struktur turbin diperlihatkan pada Gambar 101
untuk acuan analisis. Dari analisis akan dicari ungkapan torsi & daya
yang dihasilkan turbin.
Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) laju gerak putar turbin tetap.

112
Gambar 101. Skema turbin aliran radial

Persamaan neraca massanya adalah:



dV    v  n dA  0
t 
Suku pertama pada persamaan neraca massa adalah nol karena aliran
steady:

t 
dV  0

dan suku kedua bisa diuraikan sbb:

  v  ndA    v  ndA    v  ndA


1 2

   vr1 A1   vr 2 A2


   vr1 2r1h   vr 2 2r2 h
Jadi, dari neraca massa diperoleh hasil:
vr1 2r1  vr 2 2r2
m1  m2  m
Persamaan neraca momen momentumnya adalah:

 r  v d    r  v v  n dA   r  F 
t 
Suku pertama sama dengan nol karena aliran steady. Evaluasi suku
kedua memerlukan informasi vektor posisi, kecepatan dan normal
sbb:
r1  r1 .er  0.e  0.e z
r2  r2 .er  0.e  0.e z

113
v1  vr1 .er  v 1 .e  0.e z
v2  vr 2 .er  v 2 .e  0.e z
n1  1.er  0.e  0.e z
n2  1.er  0.e  0.e z
Suku kedua menjadi:

 r  v  v  ndA   r  v  v  ndA   r  v  v  ndA


1 2

 0.er  0.e  ez r1v 1   vr1 A1 


 0.er  0.e  ez r2 v 2  vr 2 A2 
 ez r1v 1 vr1 A1  r2 v 2 vr 2 A2 
 ez r1v 1 m1  r2 v 2 m2 
 ez r1v 1   r2 v 2 m
Dari sini diperoleh, momen yang bekerja pada fluida adalah:
M z  r1v 1   r2 v 2 m
Momen reaksi yang bekerja pada turbin, dengan demikian, menjadi:
T   M z  r1v 1   r2 v 2 m
Nilai r1 .v1 bisa ditentukan dari laju aliran & sudut sudu pengarah.
Evaluasi nilai r2 .v2 memerlukan informasi kondisi aliran pada sudu.
Nilai v2 bisa ditentukan dg analisis segitiga kecepatan (Gambar 102).
Dari gambar tampak bahwa:
v 2  r2  v2' . sin  
Dari segitiga kecepatan dan neraca massa bisa ditentukan bahwa:
vr 2 m 1
v 2'  
cos  2r2 h cos 
sehingga:
m
v 2  r2  tan 
2r2 h
Dengan demikian maka torsi turbin menjadi:
  . tan  
m
T   r1v 1  r2 r2   m

  2 r2 h 
dan daya turbin adalah:
P  T

114
Gambar 102. Komponen kecepatan pada sudu turbin

Contoh Turbin Hero bekerja dengan prinsip yang sama dengan penciprat air
Analisis taman (Gambar 103). Jika air dialirkan 20 liter per detik melalui
empat nozel berdiameter 1 cm yang terletak 60 cm dari sumbu putar,
tentukan daya poros turbin?
Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar turbin tetap.
Neraca Massa:

 d    v  ndA  0
t  
0 , steady

Suku pertama nol karena aliran steady, sedangkan suku kedua adalah:

  v  n dA    v  n dA
sumbu  4   v  n dA jet
  v z A sumbu  4 v A jet

  Qsumbu  Q jet

115
Gambar 103. Prinsip kerja turbin Hero

Dari neraca massa diperoleh:


Q jet  14 Qsumbu  14 20 menit
liter
 5000 cc
menit

Q jet cc
5000 menit
v jet    63,66 ms
A jet 
4 1 cm 2

Neraca Momen Momentum:



  r  v d    r  v v  n dA   r  F 

     
t
0, steady

Suku pertama nol karena aliran steady. Suku kedua memerlukan


informasi vektor-vektor berikut:
r1  0.er  0.e  0.e z
r2  r2 .er  0.e  0.e z
v1  0.er  0.e  v z .e z
v2  0.er  v 2 .e  0.e z
n1  0.er  0.e  1.e z
n2  0.er  1.e  0.e z
Suku kedua (laju netto aliran momen momentum) menjadi:

116
  r  v v  ndA    r  v v  ndA  4  r  v v  ndA
1 2

 4 r2 v 2  r2 v 2 A2 .ez


 4 r2 v 2  r2 Q jet .ez
 4.1000 mkg3 0,6m63,66  .0,6 ms 5000 ccs 1000000
3
m
cc

 1263,66  .0,6 Nm
s

Dari neraca momen momentum akhirnya diperoleh torsi yang bekerja


pada CV atau fluida adalah:
M z  12 63,66  .0,6  Nm
s

Jadi torsi T dan daya turbin adalah:


T   M z  12 .63,66  0,6 Nm
Daya  T  .12 .63,66  0,6 W
Persamaan ini dilukiskan pada Gambar 104.

Daya Torsi

21 9

Hundreds
18 8
7
Daya output (kW)

Torsi turbin (Nm)


15
6
12 5
9 4
3
6
2
3 1
0 0
0 200 400 600 800 1000
Laju putar turbin (rpm)

Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar
turbin

Lokasi puncak daya bisa ditentukan dengan menolkan turunan daya


terhadap laju putar:

117
d
Daya  0
d
d
  1263,66  0,6   0
d
12  63,66  2  0,6   0
atau:
63,66 rad rotasi 60s

2  0,6 s 2 rad menit
 507 rpm

E. Neraca Integral Energi


Neraca Neraca Energi dalam CM adalah:
Energi
dE
 Q W
dt CM
Menurut Dalil Transport Reynolds:

  edV   ev  n dA
dE
dt CM t CV CS

sehingga Neraca Massa dalam CV menjadi:



 edV   ev  n dA  Q W
t CV CS

Untuk aliran steady, suku laju perubahan lokal energi menjadi nol:

 edV  CS ev  ndA  Q W
t CV
   
0

 vv  ndA  Q W


CS

Untuk aliran steady sekaligus inkompresibel, persamaannya adalah:


  ev  n dA  Q W
CS

Bentuk- Energi spesifik, e adalah energi E per satuan massa m yang dibawa
bentuk energi oleh materi.
Ragam bentuk energi yang dibawa oleh massa materi antara lain:
1) Energi INTERNAL
a) Energi termal (terkait dengan gerak atom/molekul)
b) Energi tekanan (terkait dengan tekanan)
c) Energi kimia (terkait dengan reaksi kimia)

118
d) Energi nuklir (terkait dengan reaksi nuklir)
e) dll.
2) Energi POTENSIAL (efek medan gaya luar)
a) Energi potensial gravitasi
b) Energi potensial listrik
c) Energi potensial magnetik
3) Energi INERSIAL (kinetik)
Aliran steady Untuk aliran steady inkompresibel fluida ideal (tanpa gesekan) dalam
inkompresibel pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor & kerja,
fluida ideal
neraca massanya adalah:

 dV  CS  v  n dA  0
t CV
   
0

  v  n dA
CS
   v  n dA
CS
0
in out

 vA in  vA out  0


vin Ain  vout Aout
vin Ain  vout Aout
Neraca energinya adalah:

 edV  CS ev  n dA  Q W
t CV
    0
0

 ev  n dA
CS
  ev  n dA
CS
0
in out

Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel.


Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan
menjadi:
 u  p  12 v 2  gz  vA in   u  p  12 v 2  gz vA out  0

atau:
u in  pin  12 vin2  gz in  u out  p out  12 vout
2
 gz out
Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin =
uout dan persamaan akhirnya menjadi:
pin  12 vin2  gz in  p out  12 vout
2
 gz out
yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli yang terkenal itu.
Aliran steady Untuk aliran steady inkompresibel fluida riil (dengan gesekan) dalam
inkompresibel pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor, neraca
fluida ideal
massanya adalah:

119

 dV  CS  v  n dA  0
t CV
   
0

  v  n dA
CS
   v  n dA
CS
0
in out

 vA in  vA out  0


vin Ain  vout Aout
Neraca energinya adalah:

 edV  CS ev  n dA  Q Wgesekan
t CV
    0
0

 ev  n dA
CS
  ev  n dA
CS
 Wgesekan
in out

Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel.


Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan
menjadi:
 u  p  12 v 2  gz  vA in

  u  p  12 v 2  gz vA  out
 Wgesekan

atau:

u  p  12 v 2  gz
m  in

u  p  12 v 2  gz
m  out
 Wgesekan

atau:
Wgesekan
u in  pin  12 vin2  gz in  u out  p out  12 vout
2
 gz out 
m
Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin =
uout dan persamaan akhirnya menjadi:
Wgesekan
pin  12 vin2  gz in  p out  12 vout
2
 gz out 
m
Suku Wgesekan m
  pasti berdimensi sama dengan tekanan, sehingga
bisa disebut sebagai tekanan gesekan. Namun, istilah yang lebih
populer daripada tekanan gesekan adalah tekanan rugi gesekan
(pressure friction loss) atau lebih singkatnya tekanan rugi (pressure
loss).
Dengan demikian persamaan akhirnya menjadi:
pin  12 vin2  gzin  pout  12 vout
2
 gzout  prugi

Persamaan ini disebut sebagai persamaan Bernoulli ubahan (modified


Bernoulli equation).

120
Tekanan rugi Besarnya kerugian tekanan (prugi) secara umum tidak bisa ditentukan
secara analitik, kecuali pada kasus aliran yang sangat sederhana,
yaitu aliran laminer.
Oleh sebab itu, besarnya kerugian tekanan harus ditentukan secara
eksperimen. Untungnya, perencanaan, pelaksanaan, pengolahan data
eksperimen menjadi lebih mudah berkat bantuan metode analisis
nondimensional.
Contoh Tinjau kembali contoh pengurasan air dari tangki.
Analisis

2
Dalam contoh tersebut kecepatan aliran keluar dianggap mengikuti
hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh.
Keberlakuan anggapan ini bisa dijelaskan secara teoritik dengan
persamaan Bernoulli sebagai berikut.
p 2  12 v 22  gz 2  p1  12 v12  gz1

Dari neraca massa, v1 A1  v2 A2 , kecepatan di posisi 1 bisa


dinyatakan sebagai v1   A2 A1 v2 , sehingga persamaan menjadi:

 A2 
1
v 22 1    p1  p 2  g  z1  z 2 
  A1   0   
2
h
1

Nilai A2 /A1 bisa diabaikan terhadap 1, nilai p1 & p2 praktis sama


dengan tekanan atmosfir patm sehingga selisih keduanya sama dengan
nol, dan beda ketinggian z1 dan z2 adalah h. Dengan demikian,
persamaan di atas bisa disusun untuk mendapatkan ungkapan
kecepatan di posisi 2 sbb:
v2  2gh

121
MODUL VI.
ANALISIS INTEGRAL ALIRAN
PADA CV DIFERENSIAL

Deskripsi
Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan
dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya
mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu
CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan
pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa,
momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial.
Kedua pendekatan berbeda hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral
melihat persoalan dari kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial
melihat persoalan dari kacamata kerincian. Jika diibaratkan layar penampil, yang
dipandang dalam analisis integral keseluruhan layar, sedangkan dalam analisis
diferensial piksel demi piksel dalam keseluruhan layar. Jadi, manakala domain
analisis integral diperkecil dari CV (layar) menjadi CV-diferensial (piksel), maka
kedua pendekatan bertemu. Artinya, analisis integral pada CV-diferensial adalah
sama dengan analisis diferensial, demikian pula hasilnya.
Sasaran belajar:
7. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan
hasil analisis
8. Melakukan analisis integral pada CV diferensial pada kasus aliran yang
sangat sederhana

A. CV diferensial silindrik
Deskripsi Aliran fluida dalam pipa dimungkinkan oleh adanya perbedaan
persoalan tekanan (gradien tekanan) di hulu dan hilir pipa. Dalam persoalan ini
akan ditentukan dua hal:
 Agihan kecepatan radial.
 Gradien tekanan.
Untuk ini diperlukan pendekatan diferensial dengan CV sebagaimana
diperlihatkan pada Gambar 105. Anggapan:
 Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya
profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap.
 Fluidanya Newtonian.
 Fluida inkompresibel,  = tetap.
 Fluida mengalir ke arah aksial semata, atau v(x,r,) = tetap
dan v r(x,r,) = tetap.

122
Gambar 105. CV diferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar

Alat analisis Alat analisis:


Neraca Momentum (aliran arah-x saja)

 vdV  CS vv  ndA   Fluar
t CV
   
 0 ( aliran steady )

 v v  ndA
CS
x   vx v  n dA
CS
  Fx
in out

Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian


dvx
 yx  
dy
Neraca Suku-suku dalam neraca momentum bisa diuraikan sebagai berikut:
Momentum
F x  P.A x  P.A x  x   rx A r  r   rx A r
 P2rr  x  P2rr  x  x
  rx 2rx  r  r   rx 2rx  r

 
 vx v  n dA   Fx
    
CS

 v  v  ndA   v  v  ndA   v  v  ndA


x x x x x  x

 vx   vx A x  vx  vx A x  x
 0, aliran berkembang penuh
Hasilnya:

123
p2rr  x  p2rr  xx   rx 2rx r r   rx 2rx r  0
Per satuan volume elemen 2 rrx, persamaannya adalah:
p.r  p.r  rx .r r  r   rx .r r
 x  x x
 0
x r
Untuk CV yang diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume
elemennya mendekati nol), persamaan menjadi:
 dP  d
 r    rx .r   0
 dx  dr
atau:
 dP 
d  rx .r    rdr
 dx 
Dalam persamaan ini,
 tekanan hanya fungsi x saja, p = p(x), dan karena aliran
dianggap berkembang-penuh maka gradien tekanan (dP/dx) =
tetap.
 tegangan geser hanya fungsi r saja, rx = rx(r).
Integral persamaan memberikan:
r  dP  C1
 rx   
2  dx  r
Syarat batas untuk persamaan ini adalah:
1) Tegangan geser minimum (= 0) di tengah-tengah pipa (r = 0).
2) Kecepatan aliran = nol di permukaan pipa (r = R).
Penerapan syarat batas pertama mensyaratkan C1 = 0 sehingga
r  dP 
 rx   
2  dx 
Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif
sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:
dvx r  dP 
   
dr 2  dx 
Dengan penyelesaian umum:
r 2  dP 
vx     C2
4   dx 
Penerapan syarat batas kedua mensyaratkan:
R 2  dP 
C2    
4   dx 

124
sehingga:

R 2  dP    r  
2
r 2  dP  R 2  dP 
v x r         1    
4   dx  4   dx  4   dx    R  
Persamaan menunjukkan bahwa kecepatan aliran maksimum di pusat
saluran (r = 0):
R 2  dP 
v maks   
4   dx 
sehingga persamaan akhirnya bisa ditulis sebagai:
  r 2 
v x r   v maks 1    
  R  
Lihat Gambar 106. Dengan profil kecepatan paraboloid (putaran
parabola) seperti ini, maka kecepatan reratanya bisa ditentukan sbb:

v x r dA
1
A
v

1
rR
  r 2 

R 2  vmaks 1   R   2rdr
r 0  
r R
v  2 2 r3 
 maks r  4 2 
R2  R  r 0
 12 v maks
Jadi:
R 2  dP 
v  12 vmaks   12  
4   dx 

125
Aliran laminer Air, pipa 1cm (jari2)

1
0,75

Posisi radial (cm)


0,5
0,25
0
-0,25
-0,5
-0,75
-1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Kecepatan (cm/s)

dP/dx=1Pa/m, Re 500 dP/dx=4Pa/m, Re 2000

Gambar 106. Profil kecepatan aliran laminer dalam pipa

Persamaan R 2  dP 
Hagen- Dari ungkapan v  12 vmaks   12   bisa disusun persamaan
Poiseuille 4   dx 
untuk mengevaluasi gradien tekanan:
 dP  8v 32 v
  2 
 dx  R D2
Inilah persamaan Hagen-Poiseuille yang terkenal itu.
Dengan persamaan ini, besarnya penurunan tekanan yang dialami
oleh fluida yang mengalir laminer dalam pipa sepanjang L bisa
dihitung sbb:
xL
32v 32v
 P  
x 0 D
2
dx 
D2
L

Persamaan ini bisa disusun-ulang menjadi:


64 L 1 2 64 L 1 2 L1 2
 P  v D 2 v  2 v  f v

D Re D D2

64
dengan faktor friksi laminer f  .
Re
Faktor friksi lazim disajikan dalam bentuk diagram f sebagai fungsi
Re sebagaimana disajikan pada Gambar 107. Diagram f selengkapnya
untuk aliran laminer dan turbulen dikenal sebagai diagram Moody.
Lihat pula Gambar 108 yang melukiska penurunana tekanan vs.
kecepatan aliran.

126
1

0,1

f=64/Re
0,01

0,001
1,E+02 1,E+03 1,E+04 1,E+05 1,E+06 1,E+07 1,E+08
Re

Gambar 107. Diagram faktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds

Pdrop Aliran Laminer Air - Pipa 2cm (dia.)

9 0,35
8 0,30
7
Pa per 100m pipa

0,25
6
Faktor friksi

5 0,20

4 0,15
3
0,10
2
1 0,05

0 0,00
0 1 2 3 4 5 6
Kecepatan aliran (cm/s)

Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi


sebagai fungsi kecepatan aliran

B. CV diferensial kubik
Deskripsi Aliran fluida pada bidang miring dimungkinkan oleh adanya gaya
persoalan gravitasi. Dalam persoalan ini akan ditentukan Agihan kecepatan
radial. Untuk mudahnya, sumbu x diambil sejajar dengan bidang
miring.
Anggapan:
 Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya
profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap.

127
 Fluidanya fluida Newton.
 Fluida incompressible,  = tetap.
 Fluida mengalir ke arah x semata, atau Vy(x,y,z) = tetap dan
Vz(x,y,z) = tetap.

yx |y+y
L P|x
y
x P|x+x

 yx |y

Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring

Alat analisis Alat analisis:


Neraca Momentum (aliran arah-x saja)

 vdV  CS vv  ndA   Fluar
t CV
   
 0 ( aliran steady )

 v v  ndA
CS
x   vx v  n dA
CS
  Fx
in out

Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian


dvx
 yx  
dy
Neraca Suku-suku dalam neraca momentum bisa diurai sebagai berikut:
momentum
 F  P.A  P.A x  x   yx .A   yx .A  g. sin  
x y  y y

  yx .x   yx .x  xy.g . sin  


y  y y

 
 vx v  n dA   Fx
    
CS

 v  v  ndA   v  v  ndA   v  v  ndA


x x x x x  x

 vx   vx A x  vx  vx A x  x
 0, aliran berkembang penuh

128
Hasilnya:
 yx .x y  y   yx .x y  xy.g. sin    0

Dibagi dg volume elemen x y:


 yx   yx
  .g. sin    0
y  y y

y
Diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume elemennya
mendekati nol):

 yx   .g. sin    0
d
dy
Di sini, tegangan geser hanya fungsi y saja, yx = yx(y) sehingga hasil
integrasinya adalah:
 yx    .g . sin  . y  C1
Syarat batas untuk persamaan ini adalah:
1) Tegangan geser minimum (= 0) di permukaan bebas (y=L).
2) Kecepatan aliran = nol di dinding (y=0).
Penerapan syarat batas pertama memberikan:
0   .g. sin  . y  C1
C1  .g. sin  .L
Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif
sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:
 y
  .g .L sin  1  
dvx

dy  L
dengan penyelesaian umum:
.g.L sin    y2 
vx  y    y    C2
  2 L 
Syarat batas kedua mensyaratkan C2 = 0, sehingga hasil akhirnya
menjadi:
 .g .L sin    y2 
vx y   y  
  2L 
 .g .L2 sin    y 1  y  
2

   2  
  L L 
Di permukaan (y/L=1), kecepatan aliran bernilai maksimum (v x,maks):
 .g .L2 sin  
v x ,maks  1
2

129
Dari sini persamaan kecepatan bisa juga ditulis:
y  y 
2

v x  y   2v makx   12   
 L  L  

Profil kecepatan menurut persamaan ini dilukiskan pada Gambar 110.

Profil kecepatan pd bidang miring

10 20 30 derajat

1,0

0,8
y (mm)

0,6

0,4

0,2

0,0
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5
Kecepatan aliran (m/s)

Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring

130
MODUL VII.
ANALISIS DIFERENSIAL ALIRAN

Deskripsi
Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan
dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya
mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu
CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan
pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa,
momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial.
Informasi distribusi sifat aliran memberikan gambaran apakah pola aliran yang
terjadi sesuai harapan untuk suatu kebutuhan atau tidak. Sifat ini membuat analisis
diferensial sangat berguna dalam proses penciptaan dan perbaikan rancangan
keteknikan. Namun, mengingat kerumitan sifat aliran geometri keteknikan,
analisis diferensial membutuhkan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, dalam
praktiknya, analisis diferensial dilakukan secara numerik menggunakan perangkat
lunak CFD.
Sasaran belajar:
9. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan
hasil analisis
10. Menuliskan dan menjelaskan makna suku-suku dalam persamaan
diferensial aliran massa, momentum dan energi
11. Melakukan analisis diferensial pada kasus aliran yang sangat sederhana

A. Analisis Diferensial vs. Integral


Analisis Analisis integral berguna untuk menentukan efek keseluruhan dalam
Diferensial CV. Namun, analisis ini tidak bisa memberikan pengetahuan rinci
vs. Integral
tentang medan aliran dalam CV. Artinya, analisis integral tidak bisa
memberikan pengetahuan tentang distribusi tekanan, kecepatan dan
besaran aliran lainnya dalam CV. Lihat Gambar 111. Inilah
pentingnya analisis diferensial seperti yang telah diperlihatkan pada
modul sebelumnya.

131
Gambar 111. Analisis integral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan)

Persamaan Persamaan atur aliran fluida dalam analisis diferensial berbentuk


Diferensial persamaan diferensial. PD aliran bisa diperoleh dengan tiga cara:
1) Menerapkan persamaan integral aliran pada CV diferensial –
seperti telah diperagakan pada modul sebelumnya.
2) Menerapkan dalil divergensi (Gauss/Divergence Theorem)
pada persamaan integral aliran.
3) Menerapkan operator material.
Cara pertama ditempuh dengan menggunakan dalil limit, yaitu
dengan menciutkan CV menjadi sekecil-kecilnya sampai batas
menjadi titik. Cara kedua ditempuh dengan menggunakan dalil
divergensi:
 
V   GdV  A G  ndA
      
pengembangan G penambahanG netto
dalam volume lewat permukaanV

Dalil divergensi ini memungkinkan transformasi integral volume


dari divergensi suatu vektor menjadi integral luasan yang menyapu
seluruh permukaan CV, atau sebaliknya.
Cara ketiga ditempuh dengan menggunakan operator material:

  v   
D
Dt t
Persamaan diferensial yang diperoleh pada prinsipnya bisa
diselesaikan secara analitik atau numerik (dengan bantuan komputer).
Namun, dalam praktiknya hanya sedikit persoalan yang bisa
diselesaikan secara analitik. Oleh sebab itu, dan berkat berkat
semakin ampuhnya perangkat komputer, maka penyelesaian secara

132
numerik dengan CFD4 kini memainkan peranan penting dalam
analisis aliran fluida.
Garis besar langkah kerja analisis secara analitik dan numerik hampir
sama. Ini bisa dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Langkah-langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik


Langkah Dinamika Fluida Analitik Dinamika Fluida Numerik
(Analytical Fluid Dynamics) (Computational Fluid
Dynamics)
1 Menyiapkan persoalan & geometri, mengidentifikasi semua dimensi
dan parameter

2 Mendaftar semua anggapan, pendekatan, penyederhanaan, dan syarat-


batas

3 Menyederhanakan PDE Membuat grid / diskritisasi PDE

4 Mengintegralkan persamaan Menyelesaikan sistem persamaan


aljabar, termasuk syarat awal dan
5 Menerapkan syarat awal & batas batas
untuk menyelesaikan konstanta
integrasi.

6 Memeriksa & mengolah hasil Memeriksa & mengolah hasil

B. Neraca Diferensial Massa


Neraca Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan
diferensial kontinuitas. Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan
massa
kontinuitas ini dengan kedua cara secara bergantian.
Cara pertama. Penurunan persamaan kontinuitas pada CV diferensial
diawali dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang
sangat kecil. Lihat Gambar 112.
Neraca massa integral pada CV ini adalah:

dV    v  n dA  0
t CV CS

4 CFD adalah kependekan dari Computational Fluid Dynamics. Istilah CFD kini biasa dipakai
sebagai sebutan untuk program komputer untuk prediksi aliran fluida.

133
v y|y+y.Ay Ax = y.z
Ay = z.x
Az = x.y
v z|z.Az

v x|x.Ax y v x|x+x.Ax

v z|z+z.Az z
x y

x
v y|y.Ay z

Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial

Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neraca massa per satuan


volume menjadi:
 
  dV    v  n dA  0
1
lim
V 0 V
 t CV 
 
CS


lim  
 vx  x  x
 vx x
 
v y y  y  v y y


vz z  z  vz z 
0

x 0  t x y z 
z 0  
y 0

atau:
   
 v x  v y  v z  0
t x y z
         
 div  v  v

atau:

   v  0
t
Persamaan ini bisa juga disajikan dalam bentuk berbeda dengan
menguraikan persamaan:
   
 v x  v y  v z  0
t x y z
lalu mengumpulkan suku-suku uraiannya:
     v v y v z 
 vx  vy  vz    x   0
t x y z  x y z 
laju perubahan
                
laju perubahan densitas karena gerak fluida laju peregangan volume
               
densitas lokal
 div v v
d D
diferensial material atau total  
dt Dt

134
sehingga diperoleh:
D
   v  0
Dt

Cara kedua. Suku kedua dalam persamaan neraca massa integral pada
CV

dV    v  n dA  0
t CV CS

adalah integral luasan vektor v. Berdasarkan dalil divergensi, integral


luasan ini bisa diubah menjadi integral volume menggunakan identitas
berikut:

   GdV   G  ndA
   
V
A  
pengembangan G penambahanG netto
dalam volume lewat permukaanV

Dengan G = v, penerapan dalil ini pada persamaan neraca massa


menghasilkan:

 dV  CS   v dV  0
t CV

atau:

 dV     v dV  0
CV
t CV

atau:
  
  t    v dV  0
CV 
Integral ini berlaku untuk CV sembarang, berarti:

   v   0
t

135
Analisis Integral (Resolusi Rendah)
Dalil Transport Reynolds mengubah penggambaran
Sistem (CM) menjadi CV

Penggambaran DTR Penggambaran


Sistem (CM) CV

Titik Massa k e CM CV k e Titik Ruang

Penggambaran D/Dt Penggambaran


Lagrangian Eulerian

Turunan Material D/Dt mengubah


penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian
Analisis Differensial (Resolusi Tinggi)

Cara ketiga. Kedua cara pertama diturunkan dari persamaan neraca


integral, dari ruang (CV) ke titik ruang (CV diferensial, Eulerian).
Cara ketiga diturunkan dari titik massa (Lagrangian) ke titik ruang
(Eulerian) menggunakan menggunakan operator diferensial material.
Untuk titik massa m persamaan neraca massanya adalah:
Dm
0
Dt
Untuk titik ruang V, persamaan menjadi:
m
 v   m  0
t
dengan m=V. Penyulihan m ke dalam persamaan ini menghasilkan:
V 
 v   V   0
t
Penguraian persamaan ini memberikan:
 V
V    v   V  V v     0
t t
Pembagian dengan volume dan sedikit manipulasi menghasilkan:
   V 
   v   V   v     0
t V  t      
dV dt

dengan suku kedua adalah diferensial material dari V. Dari uraian


dalam modul tentang kinematika telah dijelaskan bahwa:
1 dV dV V 

V dt dt
adalah laju regang volumetrik yang besarnya sama dengan divergen

136
kecepatan sehingga persamaan menjadi:

    v   v     0
t
Persamaan ini bisa dibawa ke dalam 2 bentuk, yaitu:

    v   v     0
t    v  

   v   0
t
atau:

 v        v 0
t   
D
Dt

D
   v  0
Dt
Pada keadaan steady,  .v   v     0 . Jika    v  positif
maka v    negatif dan sama besarnya, dan begitu pula sebaliknya.
Jadi secara fisik bisa dibuat penafsiran berikut. Dengan pemahaman
bahwa   v  menggambarkan laju pengembangan volume, maka
v    mungkin bisa dipahami sebagai laju perpindahan volume.
Rekapitulasi Neraca massa Integral
Neraca

dV    v  n dA  0
Massa
t CV CS

Neraca massa Diferensial



   v   0
t
D
   v  0
Dt
Secara umum, persamaan diferensial massa, biasa disebut persamaan
kontinuitas, tidak bisa sendirian digunakan untuk menyelesaikan
medan aliran. Akan tetapi, persamaan ini bisa digunakan untuk:
 Mencari komponen kecepatan yang kurang.
 Menentukan apakah medan kecepatan inkompresibel atau
tidak.
Sistem Dalam sistem koordinat silindrik, ungkapan neraca massa (persamaan
Koordinat kontinuitas) adalah sebagai berikut:
Silindrik

137

   v   0
t
  1  1   
 rer  e  ez    vr er  v e  vz ez   0
t  r r r  z 
 1 
 rvr   1  v    vz   0
t r r r  z
Bentuk Untuk aliran steady kompresibel, persamaan kontinuitas menjadi:
khusus

   v   0

 t
0

  v   0
atau:

vx    v y    vz   0 ... (cartesian)
x x x
1  1 
rvr   v    vz   0 ... ( silindrik )
r r r  z
Untuk aliran inkompresibel ( = tetap), persamaan kontinuitas
menjadi:
D
   v  0
Dt
0

  v  0
 v  0
atau:

vx    v y    vz   0 ... (cartesian)
x x x
1 
rvr   1  v    vz   0 ... ( silindrik )
r r r  z
Contoh Dua dari 3 komponen kecepatan medan aliran 3-D steady
analisis inkompresibel diketahui:
 v x = ax 2 + by2 + cz2
 v z = axz + byz2
dengan a, b, dan c konstan. Bagaimanakan ungkapan v y?
Untuk aliran steady inkompresibel berlaku:
D
   v  0
Dt
 0 , karena steady
& inkompresibel

Jadi:

138
v  0
v x v y v z
  0
x y z
v y  v v 
  x  z 
y  x z 
atau:
v y
 2ax  ax  2byz 
y
dan hasilnya adalah:
v y  3axy  by 2 z  f x, z 
Contoh Komponen tangensial dari kecepatan medan aliran 2-D
analisis inkompresibel berpusar adalah v  = K/r dengan K konstan.
Bagaimanakan ungkapan kecepatan radial v r?
Untuk aliran steady inkompresibel berlaku:
v  0
atau:
1 rv r 1 v v z
  0
r r r  z
0, 2 D

rv r v  K
    
r    r 
rv r
0
r
dan hasilnya:
rv r  f  , t 

C

C
vr 
r
Jika C=0 (berarti v r=0) pola alirannya berbentuk vortex garis. Jika
C0 (berarti v r0) pola alirannya berbentuk vortex spiral; jika positif
arah spiral ke luar, dan sebaliknya ke dalam.

139
Vortex garis Vortex garis berspiral

Gambar 113. Vortex garis dan spiral

Stream Dalam matematika diferensial, untuk sebuah fungsi sinambung


Function  (x,y) berlaku hubungan:
   

x y y x
atau:
   
 0
x y y x
Perbandingan ungkapan ini dengan persamaan kontinuitas 2D
inkompresibel:
 
vx  v y  0
x y
menunjukkan hubungan:
 
vx  dan v y  
y x
Mengingat sepanjang streamline gradien garis singgungnya adalah:
dy v y
 atau vx dy  v y dx  0
dx vx
(lihat Gambar 114), maka dari sini diperoleh hubungan:
 
dy  dx  0
y y
d  0
Ini berarti  = konstan sepanjang streamline, sehingga  disebut

140
stream function.

Gambar 114. Gradien garis singgung pada streamline

Makna Fisis Neraca massa untuk aliran steady inkompresibel adalah:


Stream
Function
 v  ndA   dQ  0 atau dQ  v  n dA

Mengacu Gambar 115, di mana fluida mengalir melalui elemen luas


dA per satuan kedalaman (= ds), komponen vektor yang terlibat
adalah:
 
v  vxi  v y j  i j
y x
n  n x i  n y j  cos i  sin   j

sehingga:
dQ  v  n dA
 
 cos ds  sin  ds
y     x   
dy  dx

 
 dy  dx
y x
Hasilnya,
dQ  d atau Q  
Dengan kata lain, selisih nilai stream function  = debit aliran.

141

CS


v
n
dx

ds dy

Gambar 115. Makna fisis stream function

Stream Dalam sistem koordinat silindrik, persamaan kontinuitas adalah:


Function
1 
dalam
Koordinat rvr   1  v    vz   0
r r r  z
Silindrik
Stream Function dalam bidang r :
 
vr  dan v  
r r
Stream Function dalam bidang rz :
1  1 
vr  dan vz  
r z r r
Vortisitas Hubungan stream function dan kecepatan memungkinkan evaluasi
vortisitas aliran. Dengan:
 
vx  dan v y  
y x
maka vortisitas aliran menjadi:
v y vx   2  2 
  2 z      
x y  x y 
Untuk aliran irrotasional, misalnya pada aliran invisid fluida ideal
(=0), vortisitas  =0, sehingga:
 2  2
 0
x 2 y 2
 2  0
Jadi,  mengikuti persamaan Laplace.
Contoh Tinjaulah vortex garis pada aliran inkompresibel, planar, steady.
analisis Komponen kecepatan alirannya adalah:

142
 ur = 0
 u = K/r
dengan K konstan. Bagaimanakah ungkapan stream function  (r, )?
Penyelesaian:
 K
v   
r r
   K ln r   f  
dan:
1 
vr  0
r 
f    0
1
r
f    C
sehingga:
   K ln r   C
  C 
 
r e  K 

Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 116.

r untuk beragam stream function (C=0, K=2)

2,0

1,5

1,0

0,5

0,0
y

-2,0 -1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0


-0,5

-1,0

-1,5

-2,0
x

0 1 2 3 4 Stream Function

Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function

143
Contoh Tinjaulah vortex garis spiral pada aliran inkompresibel, planar,
analisis steady. Komponen kecepatan alirannya adalah:
 ur = C/r
 u = K/r
dengan C dan K konstan. Tentukan ungkapan stream function  (r,
).
Penyelesaian:
 K
v   
r r
   K ln r   f  
dan:
1  C
vr  
r  r
f    C

f    C
sehingga:
   K ln r   C
  C 
 
r e  K 

Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 117.

144
r untuk stream function = 0, 1 & 2 (C=1, K=11)

0 1 2 v-tangensial

30

20

10
y

0
-30 -20 -10 0 10 20 30

-10

-20

-30
x

Gambar 117. Streamline vortex garis spiral

Fungsi Kurva  konstan adalah streamline dari aliran.


Potensial
Kecepatan Dalam pokok bahasan statika fluida diperoleh pengetahuan bahwa
garis isobar (tekanan konstan) tegak lurus dengan gradien tekanan
yang sejajar dengan potensial gravitasi.
Analog dengan ini, menarik untuk diketahui suatu fungsi yang tegak
lurus dengan streamline. Karena streamline menggambarkan
kecepatan, maka sebutlah fungsi yang tegak lurus dengannya sebagai
fungsi potensial kecepatan,  .
Pada  konstan,
dy vy

dx  C vx
Menurut geometri, garis  = C tegak lurus dengan  = C jika:
dy dy
  1
dx  C dx  C
atau:
dy 1 1 v
   x
dx  C dy dx  C v y vx vy

145
Jadi, pd  konstan:

dy dx   C  
vx
vy
v x dx  v y dy  0
dan
 
d  dx  dy  0
x y
v x v y

Dengan demikian, maka vektor kecepatan bisa dituliskan sebagai:


 
v  vx .i  v y . j  .i  . j
x y
v  
Selanjutnya, dari neraca massa diperoleh:
v  0
    0
 2  0
Rekapitulasi Satu fungsi arus  menggantikan dua variabel kecepatan v x dan v y.
Sekali  diketahui, maka v x dan v y bisa dihitung.
Potensial kecepatan  tegak lurus dengan  . Potensial kecepatan
berlaku dalam 2D dan 3D, sedangkan stream function hanya ada
dalam 2D.
Kepentingan fisik:
 Kurva  konstan adalah streamline dari aliran.
 Selisih  antar streamline sama dengan laju aliran antara
streamline.
 Nilai  meningkat ke kiri arah aliran dalam bidang xy,
“konvensi sisi-kiri.”

C. Neraca Diferensial Momentum


Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan Navier-
Stokes (N-S). Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan N-S
ini dengan kedua cara secara bergantian.
Cara pertama. Penurunan persamaan N-S pada CV diferensial diawali
dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang sangat kecil.
Neraca integral momentum pada CV adalah:

146

vd   vv  n dA   F
t 
Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neracanya adalah:
 t  vd  vv  n dA  lim  F
lim  lim
    V      V 
V 0 V 0 V 0 V
   
suku 3 suku  2 suku 1

Suku pertama melibatkan gaya-gaya eksternal yang bekerja pada CV,


yaitu gaya badan karena gravitasi dan gaya permukaan. Gaya
permukaan per satuan luas (tegangan) normal dan geser dilukiskan
pada Gambar 118 sampai Gambar 120.
Mengacu pada gambar-gambar tersebut maka suku pertama menjadi:

lim
F  lim 
x  Fbadan  F permukaan 

V 0 xyz V 0 
 V 
  xx x  x   xx x  yx   yx  zx   zx z 
 y  y
lim g x    z  z
y
V 0  x y z 
 
 xx  yx  zx
 g x   
x y z

  xy x  x   xy x  yy   yy   zy 
lim
F y 
 lim  g y  
y  y y

 zy z  z z
V 0 xyz V 0 x y z 
 
 xy  yy  zy
 g y   
x y z

  xz x  x   xz x  yz   yz   zz z 
lim
F z 
 lim  g z  
y  y y

 zz z  z
V 0 xyz V 0 x y z 
 
  yz  zz
 g z  xz  
x y z

147
y
yy |y+y

yx|y+y

xy |x+x

xx| x y xx| x+x

xy |x x

yx|y

yy |y

Gambar 118. Tegangan normal dan geser yang bekerja


pada permukaan yang tegak lurus bidang x-y

z
zz|z+z

zx|z+z

xz|x+x

xx| x z xx| x+x

xz|x x

zx|z

zz|z

Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja


pada permukaan yang tegak lurus bidang x-z

148
z
zz|z+z

zy |z+z

yz|y+y

yy |y z yy |y+y

yz|y y

zy |z

zz|z

Gambar 120. Tegangan normal dan geser yang bekerja


pada permukaan yang tegak lurus bidang y-z

Hasilnya adalah:

lim
F  g     ij
V 0 xyz
dengan:
 ij  tensor tegangan
 xx  yx  zx 
     
   ij   i  j  k    xy  yy  zy 
 x y z 
 xz  yz  zz 
 
 xx x   yx y   zx z 
   xy x   yy y   zy z 
 
  xz x   yz y   zy z 
 

Suku kedua (fluks momentum netto) adalah:

149
 vv  n dA  lim vv   vvx  x vv 
y y  y
 vvy 
x  x
 lim
x y
lim
V 0 xyz x 0 x y 0 y
vvz  z  z  vvz  z
 lim
z 0 z
vvx  vv vvz
  
y

x y z
 v x v y v z   v v v 
 v       v x  vy  v z 
 x  y  z   x y z 

 v   ( dari neraca massa )
t

  v v v 
 v    v x  vy  v z 
t  x y z 

Suku ketiga (laju perubahan momentum lokal) adalah:


 t  vd  t vxyz 
lim  lim
V 0 xyz  0 xyz

 lim v 
t
 0

v 
  v
t t

Gabungan ketiga suku dalam persamaan utuh menjadi:


v    v v v 
 v v    v x  vy  v z   g     ij
t  t   t  x y z 
 nol

 v v v v 
   vx  vy  v z   g     ij
 t   x   y   z 
Dv
 diferensial total / material 
Dt

atau:
Dv
  g     ij
Dt

Cara kedua. Suku kedua dalam persamaan neraca momentum integral


pada CV

vd   vv  n dA   F
t 
adalah integral luasan vektor vv. Berdasarkan dalil divergensi,

150
integral luasan ini bisa diubah menjadi integral volume menggunakan
identitas berikut:

   GdV   G  ndA
   
V
A  
pengembangan G penambahanG netto
dalam volume lewat permukaanV

Dengan G = vv, penerapan dalil ini pada suku kedua menghasilkan:

 vv  ndA     vvdV


A V

sehingga persamaan neraca momentum menjadi:



 vdV  CS vv  n dA  CV gdV  CV  ij  n dA
t CV
 
   vvdV   g     ij dV

  t
CV  CV

Karena integral ini berlaku untuk CV sembarang, maka integran di kiri


sama dengan di kanan:

   vv  g     ij
t
(Ungkapan ini dikenal juga sebagai persamaan Cauchy.) Persamaan ini
bisa disusun ke dalam bentuk ungkapan sebagaiman diperoleh dari cara
penurunan pertama sbb:
v
   vv  g     ij
t
v 
 v  v  v    v   v 
t t
 v    
   v   v   v     v  
 t       t     
Dv  0 ( neraca massa )

Dt

Dv
  g     ij
Dt
Tensor Tensor tegangan merupakan fungsi dari tensor regangan, seperti halnya
tegangan tegangan geser fluida merupakan fungsi laju regang geser. Hubungan
&
regangan
keduanya bisa dinyatakan sbb:

151
 ij   p  23   v  ij   2 ij
 ij  fungsi delta
 v j vi 
 ij  tensor regangan  12   

 xi x j 
xi , x j , xk  x, y, z (berturut  turut )
 p  23   v 0 0    xx  yx  zx 
   
 ij   0 p  23   v 0    2  xy  yy  zy 
 p  23   v   
 0 0  xz  yz  zz 
Penjelasan Ungkapan tegangan normal di atas dirumuskan berdasarkan penalaran
tambahan berikut ini. Analog dengan tegangan geser, tegangan normal dipandang
berasal dari tekanan statik dan hubungan viskositas dengan peregangan
linier dan volumetrik:
 xx   p   2 xx    v 
 yy   p   2 yy    v 
 zz   p   2 zz    v 
Dengan  merupakan bawaan modulus curah fluida. Tegangan normal
rata-ratanya adalah:
  13  xx   yy   zz 
  p   2  3   v
1 D
  p   2  3 
 Dt
Jika dianggap tekanan hanya bergantung pada densitas , dan tidak
bergantung pada laju perubahan densitas D/Dt, maka (2+3) haruslah
bernilai nol, sehingga =2/3. Oleh karena itulah maka ungkapan
tegangan normal menjadi:
 xx   p   2 xx  23   v    p  23   v    2 xx
 yy   p   2 yy  23   v    p  23   v    2 yy
 zz   p   2 zz  23   v    p  23   v    2 zz
atau ringkasnya:
 ii   p  23   v    2 ii
Persamaa Untuk fluida Newtonian, divergen tegangannya adalah:
n N-s
Fluida
Newtonian

152
 
 
 p 2   v x  v y  v z  v x  v x  v x 
  x  3 x   v  x  x  y  x  z  x  x  x  y  y  z  z 
 
 p 2   v x  v y  v z  v y  v y  v y 
. ij      v            
y 3 y x y y y z y x x y y z z 
 
  p  2    v    v x    v y    v z    v z    v z    v z 
 z 3 z x z y z z z x x y y z z 
                           
v v z
  
z


atau:
 p 2  v 
  x  3 x   v     x    v x 
 p 
 2  v
. ij    3   v        v y 
 y y y 
 p 2  v 
  3   v        v z 
 z z z 

Dengan demikian, persamaan N-S menjadi:


Dvx p  v
  g x   23   v        vx
Dt x x x
Dv p  v
 y  g y   23   v        v y
Dt y y y
Dv p  v
 z  g z   23   v        vz
Dt z z z
atau:

 g  p  23   v     v     v
Dv

Dt
Persamaan Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan, divergen
N-s Fluida tegangannya adalah:
Newtonian
 konstan  
 
 p 2  v 
  x  3 x   v     x    v x 
 p  v 
. ij    23   v        v y 
 y y y 
 p 2  v 
  3   v        v z 
  
 z z     z  2 v z 
 
 v

 v 
 z z 
atau:

153
 p 1  
  x    3 x   v   v x  
2

  
p   
. ij      13   v   2 v y 
y  y 

    
   13   v   2 v z  
p
 z  x  

Dengan demikian persamaan N-S menjadi:


Dvx p   
  g x     13   v   2 vx 
Dt x  x 
Dv y p   
  g y     13   v   2 v y 
Dt y  y 
Dvz p   
  g z     13   v   2 vz 
Dt z  z 
atau:


Dv
Dt

 g  p   13   v    2 v 
Persamaan Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan dan densitas
N-s Fluida konstan, divergen tegangannya adalah:
Newtonian
 konstan  p   p
 
 konstan    13   v    vx      2 vx 
 x x   x 
 p 1   p

. ij    3   v    v y     v y 
2
 y y   y 
 p    p 
  13     v    vz      vz 
2

 z z 0,  C   z 
Dengan demikian persamaan N-S menjadi:
Dvx p
  g x    2 v x
Dt x
Dv p
 y  g y    2 v y
Dt y
Dv p
 z  g z    2 vz
Dt z
atau:
Dv
  g  p   2 v
Dt
Persamaan ini bisa juga dituliskan dalam ungkapan vortisitas:

 g  p       v 
Dv

Dt

154
Persamaan Persamaan Euler adalah bentuk khusus persamaan N-S Newtonian
Euler: N-s densitas konstan dengan viskositas nol ( = 0) atau vortisitas nol
Newtonian
=0 ((v) = 0):
 konstan Dv x p
  g x 
Dt x
Dv y p
  g y 
Dt y
Dv p
 z  g z 
Dt z
atau:
Dv
  g  p
Dt
Perhatikan:
Jika fluida bergerak dipercepat seperti benda padat, maka persamaan
ini menjadi:
a  g  p
atau:
p   g  a 
Jika fluidanya diam, ungkapan ini menjadi persamaan fluida statik:
p  g
4 Persamaan Sistem Pers. N-S (massa & momentum) terdiri dari 4 persamaan
4 variabel dengan
4 variabel (p, v x, v y dan v z). Dengan ini bisa dihitung:
1) Tekanan (p) untuk medan kecepatan yang diketahui.
2) Kecepatan (v x, v y, v z) dan tekanan (p) untuk geometri, syarat
batas (boundary conditions, BC), dan syarat awal (initial
conditions, IC) yang diketahui.
v  0
Dvx p
  g x    2 v x
Dt x
Dv p
 y  g y    2 v y
Dt y
Dv p
 z  g z    2 vz
Dt z
Contoh Berikut adalah contoh menentukan medan tekanan dari medan
kecepatan. Andai diketahui medan kecepatan steady, 2-D,
inkompresibel:
v  v x i  v y j  ax  b i  cx  ay  j

Dari sini bisa ditentukan medan tekanan sbb. Periksa dulu

155
pemenuhan persamaan kontinuitas:
vx v y v z
v     aa 0

 x 
 y  z
a 0, 2 D
 a

Sesuai.
Lalu ditinjau komponen arah x & y dari persamaan Navier–Stokes.
Komponen kecepatan arah-x:
 
 
v v x v x v   g x  p
  x  v x  vy  vz x
 t x  y y  0 x
 0, steady ax b a cx ay    
 0 0, 2 D 
 
  2v  2vx  2vx 
  2  x
 
x
  
 y 2
z 2
 
 0 0 0, 2 D 
atau:
p
 ax  b a  
x
p
   a 2 x  ab
x
p    a 2 12 x 2  abx  f  y 
Komponen kecepatan arah-y:
 
 v y v y v y v y  p
  vx
 x
 vy  vz   g y 
 t  y   z  y
 ax  b  cx ay 
 0 , steady c a 0, 2 D 
 2 
 v  2
v  2
v 
  y

y

y

 x2 y2 z2 
 0 
 0 0, 2 D 

atau:
p
 ax  b c  cx  ay a   g y 
y
p
y

  g y  bc  a 2 y 
Solusi arah-y:
p
y

  g y  bc  a 2 y 
harus sama dengan turunan terhadap y dari solusi arah-x:

156
 
p    a 2 12 x 2  abx  f  y 
atau:
f  y 
0
y

  g y  bc  a 2 y 
f  y    g y 
 bc y  a 2 12 y 2  C
Hasil akhirnya adalah persamaan medan tekanan sbb:
p   g y  bcy  abx  12 a2 x2  y 2  C
Perhatikan, medan kecepatan dalam aliran inkompresibel
 tidak terpengaruh oleh nilai konstanta C dalam medan
tekanan atau oleh nilai tekanan mutlak,
 tetapi dipengaruhi oleh beda atau gradien tekanan.
Ini tampak dari persaman N-S:
Dv
  g  p   2v
Dt
Untuk menentukan konstanta C dalam persamaan medan tekanan
diperlukan acuan nilai p dalam medan aliran, atau dengan kata lain
diperlukan BC tekanan. Lihat contoh CFD berikut (Gambar 121).
Kedua kasus pada gambar tersebut identik (termasuk gradien
tekanan) kecuali nilai tekanannya. Medan kecepatan & pola
streamline yang diperoleh memperlihatkan bahwa medan kecepatan
dipengaruhi oleh gradien tekanan.

Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh


terhadap medan kecepatan aliran, bukan tekanan

Penyelesaian Ada ±80 penyelesaian eksak persamaan N-S. Penyelesaian linier


Eksak N-S (suku konvektif = nol, v   v  0 ) & nonlinear (suku konvektif 
nol, v   v  0 ).

157
Penyelesaian menurut bentuk geometri:
1) Couette shear flows
2) Steady duct/pipe flows
3) Unsteady duct/pipe flows
4) Flows with moving boundaries
5) Similarity solutions
6) Asymptotic suction flows
7) Wind-driven Ekman flows
Prosedur Prosedur penyelesaian persamaan N-S pada prinsipnya sama dengan
Penyelesaian penyelesaian persamaan diferensial umumnya, yaitu:
N-S
1) Rumuskan persoalan & geometri, kenali semua dimensi &
parameter terkait.
2) Buat anggapan, pendekatan, penyederhanaan dan BC (syarat
batas) selayaknya.
3) Sederhanakan PD sebanyak mungkin.
4) Integralkan persamaan.
5) Terapkan BC untuk menentukan tetapan integrasi.
6) Periksa hasil.
BC kritis dalam penyelesaian eksak, hampiran, & numerik. Dalam
penyelesaian analitik:
 No-slip BC.
 Interface BC
Dalam penyelesaian numerik (CFD), keduanya juga dipakai, plus
sejumlah BC yang muncul karena hal-hal khusus dalam pemodelan
CFD
 Inflow & outflow BC
 Symmetry & periodic BC
No-slip BC adalah syarat di mana fFluida yang menyentuh dinding
padat memiliki kecepatan sama dengan kecepatan dinding itu, atau
v fluida  vdinding .

Interface BC adalah berkenaan dengan keadaan saat dua fluida


bertemu di antarmuka (Gambar 122). Di antarmuka, kecepatan dan
tegangan geser harus sama di kedua muka.
v fluida , A  v fluida , B dan  muka, A   muka, B

Jika efek tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir


datar, maka:
p A  pB

158
Gambar 122. Syarat batas di antarmuka 2-fluida

Bentuk khusus antarmuka adalah permukaan bebas cairan.


v air  vudara
 du   du 
 air   udara        
 dy  air  dy  udara
 du 
   0
 dy  air
Karena udara << air. Seperti umumnya antarmuka, jika efek
tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir datar maka:
p A  pB

Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas

Contoh: Berikut diberikan contoh analisis pada aliran Couette berkembang


Aliran

159
Couette penuh (fully developed). Untuk geometri dan BC yang diberikan,
hitunglah medan kecepatan & aliran, dan taksirlah gaya geser per
satuan luas yang bekerja pada plat bawah.

Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat

Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas


Anggapan
1) 2D, vz=0, /z = 0
2) Aliran steady, /t = 0
3) Aliran paralel hanya ke arah-x, vy=0
4) Plat tak berhingga dalam arah x & z
5) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan
6) Gradien tekanan arah aliran = nol
7) Gravitasi bekerja dalam arah-y,
Boundary conditions
1) Plat bawah (y=0) diam: vx=0, vy=0, vz=0
2) Plat atas (y=h) bergerak: vx=v, vy=0, vz=0
Langkah 3: Penyederhanaan
Neraca massa
D
 
 v 0
Dt v x

v y v
 z
0 , inkompresibel x y z

0 , paralel 0 , 2 D

v x
0
x
Berarti aliran berkembang penuh
Neraca momentum arah-x:

160
 
 
v v x v x v p
  x  v x  vy  vz x

g x 
t x  y   z x
 0,steady 0 , berkem
0 , paralel
2D
 0
0
 bang penuh 
 2 
 v  2vx  2vx 
  2 x
 2 
x y 2 z 
 0 0, 2 D 
 2vx
0
y 2
Neraca momentum arah-y:
 
 
 v y v y v y v y  p
  vx  vy  vz   g y 
 t x 
y   z  y
 0 , steady 0 , aliran
0 , aliran 0, 2 D 
 paralel
paralel 
 
 
  2v y  2v y  2v y 
  2   2 

     
x  y 2
z 
 0 , aliran 0, 2 D 
 paralel 
p
 g y
y
Langkah 4: Integrasi Neraca Massa:
vx
 0  v x  vx  y 
x
Integrasi Neraca momentum arah-x:
 2vx
 0  v x  C1 y  C2
y 2
Integrasi Neraca momentum arah-y:
p
 g y  p  g y y  C3   gy  C3
y
Langkah 5: Penerapan Syarat Batas
 Di plat bawah (y=0) vx=0 sehingga C2=0
 Di plat atas (y=h) vx=v sehingga C1=v/h
Dengan demikian maka:
y
vx  v
h

161
Untuk tekanan, tidak ada BC khusus sehingga bisa diambil
suatu nilai acuan di posisi sembarang yang diketahui, misal di y=0,
p=p0 (C3 dinamai p0)
p  p0  gy
Dari sini tampak bahwa:
1) Besarnya tekanan sama dengan tekanan hidrostatik.
2) Tekanan bekerja secara independen dari aliran.
Langkah 6: Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi:
Solusi, v  vxi  v y j  vz k
y
 v i  0 j  0k
h
ke dalam persamaan kontinuitas:
v x v y v z
   000  0
x y z
Berarti persamaan kontinuitas terpenuhi.
Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi ke dalam persamaan
momentum arah-x:
 vx v v v  p   2v  2v  2v 
   vx x  v y x  vz x   g x     2x  2x  2x 
 t x y z  x  x y z 
 
  0  v 0  0  0   0  0   0  0  0
y v
 h h 
Berarti persamaan momentum juga terpenuhi. Dengan demikian solusi
yang diperoleh memang ternyata benar merupakan jawaban dari
persoalan yang diselesaikan.
Gaya geser Gaya geser per satuan luas (tegangan geser) yang bekerja pada fluida
di permukaan plat bawah (di bidang tegak lurus sb-y ke arah-x)
adalah:
Fgeser  v v y  v  v
  yx   2 yx    x       0   
A  y x  h  h
Lihat Gambar 124. Tegangan geser yang bekerja pada plat, menurut
hukum Newton ketiga, sama besar ttp berlawanan arah dg tegangan
geser fluida:
Fplat v
  w   yx   
A h

162
Gambar 124. Gaya geser dalam aliran Couette berkembang penuh

Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar

Viskometer Viskometer meter adalah alat ukur viskositas fluida yang terdiri dari
Putar silinder konsentrik sepanjang L, silinder dalam pejal berjari2 Ri dan
silinder luar berongga berjari2 Ro.
Lebar celah antara silinder sempit, sehingga (Ro-Ri) << Ri.
Aliran Couette terjadi pada celah sempit antarsilinder pada
Viskometer Putar ini. Dengan demikian, maka analisisnya sama
seperti telah dilakukan di atas.

163
Tegangan geser viskos yang bekerja pada elemen fluida di sebelah
silinder dalam kira-kira sama dengan:
v Ri
   yx   
Ro  Ri Ro  Ri
Torsi searah-jam total yang bekerja pada dinding silinder dalam
karena viskositas fluida adalah:
Ri
T   yx ARi   2Ri L Ri
Ro  Ri
Dalam kondisi steady, torsi searah-jam akibat viskositas T ini
diimbangi oleh torsi selawan-jam yang diberikan Tlawan .
Ri
Tlawan   yx ARi   2Ri L Ri
Ro  Ri
Oleh karena itu, viskositas fluida adalah:
Ro  Ri
  Tlawan
2 Ri3 L
Contoh: Aliran Poiseuille Berkembang Penuh adalah aliran laminer Fluida
Aliran Newtonian dalam keadaan steady dan inkompressibel dalam pipa
Poiseuille
bundar panjang tak-hingga berradius R = D/2.
Dalam analisis, pengaruh gravitasi diabaikan dan gradien tekanan
sepanjang aliran P/x adalah konstan.

Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat


Lihat Gambar 126.

Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas


Anggapan
1) Aliran steady, /t = 0
2) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan
3) Pipa panjang tak-hingga dalam arah-x.
4) Aliran paralel ke arah-x saja, vr = nol.
5) Gradien tekanan konstan bekerja dalam arah-x
6) Medan kecepatan simetri-sumbu tanpa pusingan, v = 0 dan
turunan parsial terhadap  adalah nol.
7) Efek gravitasi bisa diabaikan.
Syarat batas:
1) Di dinding (r=R) fluida diam: vr=0, v =0, vz=0
2) Di tengah (r=0) tegangan geser (gradien kecepatan) nol.

164
Gambar 126. Aliran fluida Newtonian, laminer, steady,
dan inkompresibel dalam pipa

Langkah 3: Penyederhanaan
Neraca massa
D
 
 v 0
Dt 1 rvr 1 v v x
 
0 , inkompresibel r r r  x
0 , paralel 0 , simetri

v x
0
x
Berarti aliran berkembang penuh, dan hanya merupakan fungsi r.
Neraca momentum arah-x:
 
 v v x v v 
  x  vr  v x  v x x 
 t r  r x 
 0 , steady 0 , paralel 0 , simetri 0 
 
p  1  v 1  2vx  2vx 
g   
 x x
 r x
 2  
 r r r r  x 2 
2
0  
 0 , simetri 0 
atau:
1  v x 1 p
r 
r r r  x
Dengan cara serupa, neraca momentum arah-r menghasilkan:
p
 0  p  px 
r
Artinya, p hanya bergantung pada x. Neraca momentum arah-
adalah nol.

165
Langkah 4: Integrasi Neraca Massa:
vx
 0  v x  vx r 
x
Integrasi Neraca momentum arah-x:
1  vx 1 dp
r 
r r r  dx
vx r 2 dp
r   C1
r 2 dx
r 2 dp
vx   C1 ln r   C2
4 dx
Langkah 5: Penerapan Syarat Batas
1) Di tengah (r=0) gradien vx=0 sehingga C1=0
2) Di dinding (r=R) vx=0 sehingga C1=(R2/4).(dp/dx)
Dengan demikian maka:

vx 
1 dp 2
4  dx

r  R2 
Langkah-6, yaitu verifikasi, bisa anda lakukan sendiri.

166
MODUL VIII.
ALIRAN INVISID

Deskripsi
Semua fluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida
bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida
akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat
disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya
akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil
hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas
sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas
(Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang
ideal atau invisid (tanpa viskositas). Aliran di luar lapisan batas bersifat invisid
dan akan diulas dalam modul ini, sedangkan aliran di dalam lapisan batas bersifat
viskos dan akan diulas dalam modul berikutnya.
Sasaran belajar:
12. Membedakan zona aliran viskos dan invisid
13. Mengungkapkan secara tertulis persamaan aliran fluida invisid
14. Mengenal hubungan persamaan aliran invisid dan persamaan Bernoulli

Aliran invisid Aliran invisid adalah aliran fluida ideal, atau aliran fluida yang tidak
memiliki viskositas ( = 0) sehingga tidak ada gaya viskos atau gaya
gesekan fluida.
Aliran fluida riil dengan viskositas   0 tidaklah invisid. Namun,
pengaruh viskositas terutama terasa di daerah dekat dinding dan tidak
begitu terasa di daerah yang jauh dari dinding. sehingga watak
alirannya sama seperti aliran tanpa viskositas (aliran invisid).
Ini bisa dipahami karena pengaruh viskositas sebagaimana diwakili
oleh gaya viskos adalah fungsi dari viskositas dan gradien kecepatan.
Nilai gradien kecepatan besar di dekat dinding, dan kecil atau bahkan
nol di jauh dinding. Oleh karena itu, pengaruh viskositas di jauh
dinding praktis nihil, bukan karena viskositasnya nol melainkan
karena gradien kecepatannya nol (berarti vortisitasnya juga nol atau
irrotasional).
Secara matematik, apakah gaya viskos bernilai nol
 karena viskositas nol, atau
 karena gradien kecepatan nol
tidak ada bedanya. Oleh karena itu, aliran fluida riil (dengan
viskositas   0) di daerah jauh dari dinding bisa digambarkan
wataknya sama dengan aliran invisid.
Zona aliran Kenyataan inilah yang membawa Ludwig Prandtl pada konsep
lapisan batas. Dalam konsep ini, aliran dibagi menjadi dua zona,

167
yaitu:
1) zona lapisan batas (boundary layer) berupa lapisan tipis
fluida di dekat dinding, yang semakin tipis sejalan dengan
semakin besarnya bilangan Reynolds, dan
2) zona invisid di luar lapisan batas.
Dalam zona invisid, pengaruh viskositas praktis nihil karena
vortisitas aliran praktis nol, dan persamaan diferensial aliran menjadi
sangat sederhana dan bisa diselesaikan secara analitik.
Subjek aliran invisid memiliki penerapan khusus dalam aerodinamika
dan hidrodinamika dan penerapan umum dalam aliran di sekitar
benda (external flow).
Aliran invisid biasa disebut juga aliran potensial karena persamaan
atur medan kecepatannya v merupakan fungsi dari potensial
kecepatan  .

A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial)


Persamaan Untuk aliran invisid dan aliran irrotasional steady dan inkompresibel,
aliran invisid persamaan kontinuitas atau neraca massanya adalah:
steady dan
inkompresibel v  0
dan persamaan neraca momentumnya adalah:
Dv
  g  p
Dt
Persamaan terakhir biasa disebut juga sebagai persamaan Euler.
Persamaan kontinuitas, seperti telah ditunjukkan dalam modul
sebelumnya, bisa diubah bentuknya menjadi 2 fungsi baru dengan
hanya satu variabel dependen, yaitu fungsi arus (stream function,  )
dan fungsi potensial kecepatan (velocity potential function,  ) yang
saling tegak lurus satu sama lain. Dari sini persamaan kontinuitas
bisa ditulis menjadi:
 
 2  0 dengan v x  dan v y  
y x
dan
 
 2  0 dengan v x  dan v y 
x y
yang mudah penyelesaiannya.
Persamaan Euler bisa disederhanakan dengan menggunakan identitas
vektor berikut:
Dv v

Dt t
 
  12 v 2  v    v 

168
yang dalam kasus steady dan irrotasional di sini menjadi:
Dv v
  12 v 2   v    v   12 v 2 
Dt t 
0
0

Penyulihan ke dalam persamaan Euler memberikan:


12 v 2   g  p
dan karena nilai percepatan gravitasi adalah –g dan g adalah gradien
dari gy maka persamaan bisa ditulis:
12 v 2    gy   p
 
 p  12 v 2  gy  0
atau:
p  12 v 2  gy  C
yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli.
Rekapitulasi Dengan demikian, maka penyelesaian aliran invisid (atau
irrotasional) steady inkompresibel bisa diperoleh dengan
menyelesaikan:
 persamaan fungsi arus atau fungsi potensial kecepatan untuk
mendapatkan medan kecepatan aliran, dan
 persamaan Bernoulli untuk mendapatkan medan tekanan
aliran.

B. Solusi Analitik
Contoh Berikut akan diperlihatkan bagaimana medan aliran bisa diperoleh
untuk aliran di sekitar silinder diam sepanjang tak-hingga (Gambar
127). Persamaan neraca massa sebagai fungsi arus dalam koordinat
silinder adalah:
 2 1  1  2
 2  0 atau   0
r 2 r r r 2  2
dengan
1  
vr  dan v  
r  r
Persamaan bisa diselesaikan dengan syarat batas berikut:
1) Lingkaran r = a adalah streamline. Kecepatan tegak lurus
streamline adalah nol sehingga di r = a berlaku vr  0 dan
    0 .
2) Garis  = 0, berdasarkan sifat simetri aliran, jugalah
streamline. Dengan demikian, di  = 0 berlaku v  0 dan

169
 r   0 .
3) Kecepatan arus bebas (di lokasi jauh dari silinder di mana
medan aliran praktis tidak terpengaruh oleh keberadaan
silinder), atau secara matematik di r = , sudut berapapun,
nilai v  = konstan.

r
v

r=a

Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a

Solusi: Persamaan diferensial fungsi arus bisa diselesaikan secara analitik


Pemisahan dengan menerapkan metode pemisahan variabel. Di sini solusi
Variabel
dianggap merupakan gabungan dari 2 fungsi terpisah yang masing-
masing bergantung hanya pada satu variabel bebas, radial saja dan
angular saja. Katakanlah solusinya adalah:
 r ,   F r G 
Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan diferensial
memberikan:
F r  F r  G  
r2 r   2
F r  F r  G  
Karena sisi kiri fungsi r saja dan sisi kanan fungsi  saja, maka
supaya penyelesaian ada untuk semua r dan  maka kedua sisi
haruslah konstan, yaitu sebesar katakanlah 2 . Dari sini persamaan
diferensial bisa diurai menjadi 2 persamaan dengan variabel bebas
yang terpisah:
G    2 G    0
sebuah persamaan diferensial linier orde-2 sederhana, dan
r 2 F r   rF r   2 F r   0
sebuah persamaan diferensial Euler. Solusinya keduanya adalah:
G   A sin    B cos 
F r   Cr   Dr 

170
Syarat batas pertama di r = a, yaitu     0 memberikan:



  A sin    B cos . Ca   Da   0
    

0

D  Ca 2
sehingga
 a 2 
 r ,    A sin    B cos .C  r   
 r 
Syarat batas kedua di  = 0, yaitu  r   0 mengharuskan B = 0,
karena sin() = 0 sehingga:
 a 2 
 r ,   AC sin   r   
 r 
Syarat batas ketiga di r = , sudut berapapun, mensyaratkan nilai
v  = konstan atau

lim vr2  v2  v2
r 

atau
   1 a 2 
2
  1 a 2  
2

lim A C  cos   r   1   sin   r   1   v2


2  2 2 2 2
r    r   r  
 
Limit ini berhingga hanya jika  = 1 sehingga dengan demikian maka
AC = v  dan fungsi arus menjadi:
 a2   a2 
 r ,   v sin   r    v r sin  1  2 
 r   r 
Dari sini maka bisa ditentukan komponen medan kecepatan aliran
sbb:
1   a2 
vr   v cos 1  2 
r   r 
dan
  a2 
v    v sin  1  2 
r  r 
Medan kecepatan alirannya adalah:
vr ,   vr er  v e
Titik stagnasi Di permukaan silinder (r = a), nilai komponen kecepatannya adalah:
vr  0
v  2v sin  
Di permukaan silinder besarnya kecepatan radial adalah nol

171
permukaan adalah sebuah streamline. Besarnya kecepatan di titik
permukaan pada sudut  = 180o (di depan) dan  = 0o (di belakang)
adalah nol. Titik-titik ini disebut titik stagnasi.
Medan Medan tekanan aliran selanjutnya bisa dihitung menggunakan
tekanan persamaan Bernoulli:
p  12 v 2  gy  C
Jika efek ketinggian bisa diabaikan, seperti misalnya dalam kasus
aliran udara di sekitar sayap pesawat, maka persamaan menjadi:
p  12 v 2  C
Pada arus bebas, tekanan dan kecepatannya adalah p dan v 
sehingga:
p  12 v 2  p   12 v 2  p 0
berarti di mana-mana dalam medan aliran invisid (juga aliran
irrotasional), tekanan stagnasi p0 adalah konstan.
Di permukaan silinder, di mana vr  0 dan v  2v sin   ,
tekanan bisa ditentukan sbb:
p  p0  12 v 2

 p0  12  0   2v sin  
2

 p0  2 v sin  
2

2

atau bisa juga ditulis:



p  p   12 v2 1  4 sin 2  
sehingga koefisien tekanannya (Cp ) menjadi:
p  p
Cp  
 1 4 sin 2   
2 v
1 2

Lihat Gambar 128.

172
2

Koefisien Tekanan, Cp
0
180 150 120 90 60 30 0
-1

-2

-3

-4
Sudut

Gambar 128. Medan tekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga

C. Aliran Invisid 2-D


Aliran invisid Persamaan Laplacian fungsi arus  dan potensial kecepatan  bersifat
2D linier. Artinya, berbagai macam solusi bisa digabungkan menjadi
solusi lainnya. Misalkan  1 dan  2 adalah solusi terpisah:
 2 1  0 dan  2 2  0
maka jumlahannya adalah solusi juga:
 2  1   2   0
Dengan menggunakan prinsip superposisi ini maka sejumlah
persoalan aliran invisid/potensial yang menarik bisa diperoleh dari
tiga macam solusi dasar, yaitu:
1) Arus seragam
2) Sumber atau isapan arus
3) Vortex
Solusi Arus Untuk arus seragam dengan kecepatan konstan U  searah sumbu-x:
Seragam
 
vx  U   
y x
 
vy  0   
x y
Integrasinya menghasilkan:

173
  U  y  C1
  U  x  C2
Karena kecepatan adalah diferensial dari kedua fungsi ini dan
tekanan diperoleh berdasarkan kecepatan, maka berapapun nilai C1
dan C2 tidak akan berpengaruh terhadap kecepatan dan tekanan
dalam aliran. Oleh karena itu kedua konstanta bisa diambil nol,
sehingga hasilnya:
  U y
  U x
Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:
  U  r sin  
  U  r cos 
Secara umum, arus seragam bisa membentuk sudut  sembarang
terhadap sumbu-x sehingga:
 
v x  U  cos   
y x
 
v y  U  sin     
x y
Integrasinya akan menghasilkan:
  U  y cos   x sin 
  U  x cos   y sin 
Persamaan ini berguna dalam persoalan sudut terbang (angle of
attack) pada airfoil.
Solusi Arus konstan bisa dibayangkan menyebar dari (atau mengumpul ke)
sumber atau garis (bukan titik) di pusat radial sepasang plat berjarak tetap.
isapan arus
garis
Dengan demikian, kecepatan radial pada posisi r sembarang
berbanding terbalik dengan r dan kecepatan angular nol, atau:
m 1  
vr   
r r  r
 1 
v  0   
r r 
Garis sumber/isapan adalah adalah singularitas dengan kecepatan
radial tak-hingga, dan  serta  tak terdefinisi. Dengan m adalah
suatu konstanta yang jika nilainya positif menggambarkan kekuatan
sumber arus, dan jika nilainya negatif menggambarkan kekuatan
isapan arus. Integrasinya memberikan:
  m
  m ln r 
Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:

174
 y
  m tan 1  
x

  m ln x 2  y 2 
Solusi vortex Jika kedudukan v r dan v  dalam sumber dan isapan garis
garis dipertukarkan maka diperoleh vortex garis:
1  
vr  0  
r  r
K  1 
v    
r r r 
Integrasinya menghasilkan:
   K ln r 
  K
Kekuatan vortex K di sini mempunyai dimensi yang sama dengan
kekuatan sumber atau isapan m, yaitu kecepatan dikali panjang.
Aliran vortex garis bersifat irrotasional di mana-mana kecuali di
pusat di mana vortisitasnya tak-hingga. Artinya, sirkulasi fluida di
sekitar pusat vortex tidak nihil.
Sirkulasi Sirkulasi didefinisikan sebagai integral garis selawan-jam dari busur
sepanjang ds, mengitari kurva tertutup C, dikalikan dengan
komponen kecepatan yang menyinggung kurva tersebut.
   v  ds   v x dx  v y dy  v z dz 
C C

D. Solusi Numerik
Analisis Penyelesaian analitik seperti yang telah dilakukan pada alinea
Numerik sebelumnya bisa mudah dilakukan hanya bila geometri persoalan
relatif sederhana. Jika geometri persoalan mulai menjadi rumit maka
penyelesaian secara analitik akan menjadi sulit atau bahkan tidak
mungkin didapatkan.
Untungnya, sejalan dengan keampuhan komputer, persoalan dengan
geometri serumit apapun bisa diselesaikan secara numerik. Dalam
analisis numerik, persamaan diferensial dalam domain kontinum
diubah menjadi persamaan aljabar dalam domain diskrit. Proses
pengubahan ini, biasa disebut diskritisasi, bisa ditempuh dengan
berbagai macam metode, antara lain, finite difference, finite volume,
finite element, boundary element, dlsb. Di sini hanya akan
diperlihatkan contoh penerapan metode beda hingga (finite
difference) dalam aliran invisid/potensial 2D (dua dimensi).
Persamaan Laplace fungsi arus dalam domain kontinum:

175
 2  2
  2  2 0
2

x y
Suku-suku diferensial pada dasarnya adalah fungsi limit berikut:
 

 2
x x  x , y x
 lim
x, y

x 2 x 0 x
 x  x , y
   x  x , y

x, y x, y

 lim x x
x  0 x
 x  x , y
 2 x , y   x  x , y
 lim
x  0 x  2

dan

 2  x , y  y
 2  x , y  y

x, y
lim
y 2 x 0 y  2

Sebagai pendekatan, alih-alih kecil tak-berhingga (mendekati nol), x


dan y diambil kecil berhingga sehingga diperoleh ungkapan:

 2  x  x , y
 2  x  x , y

x, y

x 2 x  2

dan

 2  x , y  y
 2  x , y  y

x, y

y 2 y  2

Dengan demikian persamaan fungsi arus bisa didekati dengan


ungkapan:
 x  x , y
 2  x  x , y
 x , y  y
 2  x , y  y
 0
x, y x, y

x  2
y  2

Dengan  = (x/y), persamaan ini bisa disusun menjadi ungkapan


untuk menghitung  di posisi (x,y) berikut:

 
 x  x , y
 x  x , y
2  x , y  y
 x , y  y

x, y

2 1  2 
Jika diambil  = 1, berarti x = y, maka persamaan menjadi sangat
sederhana:
 x  x , y
 x  x , y
 x , y  y
 x , y  y
 x, y

4
Dalam ungkapan sederhana, persamaan ini mengatakan bahwa nilai
fungsi arus di suatu lokasi adalah rata-rata dari nilai fungsi arus

176
tetangganya.

3,6m
10m/s 5m/s

1m

1m

2,4m

Gambar 129. Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak

Contoh Fluida mengalir melalui saluran membesar mendadak (Gambar 129).


Kecepatan masuk seragam 10 m/s, dan kecepatan keluar seragam
5 m/s. Lebar saluran masuk 1 m, dan saluran keluar 2 m. Pembesaran
saluran terjadi pada lokasi 1,2 m dari hulu.
Berikut akan ditentukan medan aliran menggunakan analisis
numerik.
Dalam analisis numerik ini diambil ukuran sel komputasi yang
lebarnya sama ke arah x dan y, yaitu sebesar 0,2 m seperti tampak
pada gambar. Nilai fungsi arus  di dalam saluran, yaitu di 123 titik
dalam Gambar 130, bisa dihitung serentak dengan menggunakan
persamaan:
 x  x , y
 x  x , y
 x , y  y
 x , y  y
 x, y

4
jika keadaan  di batas-batas saluran persoalan diketahui.
Untuk enaknya, di dinding bawah nilai  diambil nol.
Karena selisih dua fungsi arus sama dengan debit, sedangkan debit
masuknya per satuan kedalaman adalah (10 m/s)(1 m) = 10 m2 /s,
maka nilai  di dinding atas adalah 10 m2 /s.
Karena kecepatan masuk adalah seragam, maka nilai fungsi arus di
situ harus beragam secara linier menurut posisi ketinggiannya:
m2
 y 
y
 10
1m s

177
sehingga:
Di y = 1 m   = 10 m2 /s
Di y = 0,8 m   = 8 m2 /s
Di y = 0,6 m   = 6 m2 /s
Di y = 0,4 m   = 4 m2 /s
Di y = 0,2 m   = 2 m2 /s
Di y = 0   = 0 m2 /s
Begitu pula di saluran keluar, fungsi arus juga beragam secara linier
menurut posisi ketinggian:
m2
 y 
y
 10
2m s
dengan y = 0 di dinding bawah. Lihat Gambar 130. Hasil perhitungan
diperlihatkan dalam Gambar 131-Gambar 133.

 = 10m2/s
 = 10  = 10
=8
=6 =8
=4
=2 =6
=0
 = 0m2/s
=4

=2

=0
 = 0m /s
2

Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar

178
Gambar 131. Kontur streamline

Gambar 132. Kontur kecepatan

179
Gambar 133. Kontur tekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa

180
MODUL IX.
ALIRAN VISKOS

Deskripsi
Semua fluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida
bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida
akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat
disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya
akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil
hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas
sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas
(Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang
ideal atau invisid (tanpa viskositas) sehingga dimungkinkan analisis analitik dan
numerik seperti telah ditunjukkan dalam modul sebelumnya.
Sasaran belajar:
1. Membedakan aliran laminer dan turbulen
2. Menjelaskan efek viskositas pada sifat aliran sewaktu kontak dengan
permukaan padat
3. Menjelaskan konsep lapisan batas
4. Mengenal penyelesaian Blasius dan metode analisis integral momentum
von Karman

A. Aliran Laminer & Turbulen


Macam Aliran Berdasarkan pengamatan sederhana disadari bahwa ada 2 macam
Viskos beda aliran viskos. Asap yang mengepul dari sebatang rokok awalnya
memperlihatkan pola aliran halus teratur, tetapi kemudian pola
alirannya berubah sama sekali menjadi sangat tak teratur dan tak
stabil. Watak serupa juga teramati pada air yang mengalir melalui
kran. Aliran dengan pola yang halus teratur disebut laminer,
sedangkan yang tak teratur disebut turbulen.
Percobaan Walaupun gejala laminer dan turbulen telah disadari sebelumnya,
Reynolds namun Reynoldslah yang pertama kali menggambarkan fenomena ini
secara kuantitatif dalam tahun 1883. Dalam percobaannya, air
dialirkan melalui pipa tembus pandang. Ke dalam air disuntikkan zat
warna di bagian hulu untuk membekaskan jejak aliran. Dari
percobaan, Reynolds menemukan bahwa apakah jejak aliran halus
teratur atau tidak bergantung selain pada kecepatan juga pada
diameter pipa, densitas fluida, dan viskositas fluida. Keempat
variabel ini digabung dalam satu parameter tak berdimensi:
vD
Re 

yang disebut bilangan Reynolds sebagai penghormatan kepada

181
Osborne Reynolds dan sumbangannya dalam mekanika fluida.
Untuk aliran dalam pipa ditemukan bahwa pada Re kurang dari 2300,
aliran bersifat laminer. Pada Re lebih dari 2300, gangguan sedikit
saja pada aliran akan menyebabkan transisi dari laminer ke turbulen,
sedangkan pada Re kurang dari 2300 aliran kebal terhadap gangguan
dan aliran tetap laminer. Dengan demikian, maka bilangan Re kritis
aliran dalam pipa adalah 2300.

B. Lapisan Batas
Konsep Aliran laminer kebal terhadap gangguan (stabil) karena viskositas
Lapisan memainkan peranan dominan dalam badan aliran. Sebaliknya, aliran
Batas
turbulen tidak stabil karena peran viskositas sebatas di daerah dekat
dinding saja. Di luar itu, peran inersia mendominasi watak aliran.
Semakin besar Re semakin tipis daerah pengaruh viskositas.
Kenyataan ini menuntun Ludwig Prandtl pada konsep lapisan batas
(boundary layer) pada tahun 1904.
Menurut hipotesis Prandtl, efek gesekan fluida pada bilangan
Reynolds tinggi terbatas hanya pada lapisan tipis dekat batas benda
(sehingga disebut lapisan batas), dan tidak ada perubahan tekanan
yang berarti selintang lapisan batas. Artinya, tekanan di dalam
lapisan batas sama dengan tekanan di luar lapisan batas (daerah aliran
invisid). Teori Prandtl memainkan peranan penting karena
penyederhanaan yang dibuatnya memungkinkan analisis aliran viskos
secara analitik. Tekanan, misalnya, bisa diperoleh dari eksperimen
atau teori aliran invisid, sehingga yang belum diketahui tinggal
komponen kecepatannya saja.

(a) Laminer

182
(b) Turbulen
Gambar 134. Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b)

Lapisan batas aliran fluida melalui sebuat lempeng datar bisa dilihat
pada Gambar 134. Pada gambar, gelembung-gelembung hidrogen
dilepaskan secara berkala dan hanyut terbawa aliran fluida. Dari
bentuk jejak alirannya tampak bahwa laju fluida di dekat lempeng,
yaitu dalam lapisan batas, lebih rendah daripada dalam arus bebas
(freestream).
Olakan (eddies) dalam aliran turbulen meningkatkan percampuran
fluida yang memang sebelumnya sudah ada karena viskositas.
Akibatnya, lapisan batas turbulen umumnya lebih tebal daripada
lapisan batas laminer. Ini bisa dilihat dalam contoh di atas yang
melukiskan aliran melalui lempeng datar.
Pentingnya Viskositas menyebabkan lekatnya molekul fluida pada dinding dan
Lapisan akibatnya molekul fluida di dekat permukaan padat mengalami
Batas
hambatan – lajunya melambat. Sejalan dengan ini, permukaan
padatan akan mengalami gaya hambat gesekan (friction drag force)
searah aliran… Gaya hambat inilah yang membuat pemahaman
lapisan batas menjadi demikian penting!
Lapisan batas menentukan sifat-sifat hambatan aliran fluida dan
aliran panas benda dalam aliran:
1) lebih banyak bahan bakar dikonsumsi oleh pesawat atau kapal
karena adanya lapisan batas;
2) laju aliran panas ke komponen mesin naik karena lapisan
batas dengan potensi akibat berupa kerusakan atau kegagalan
komponen;
3) jarak tempuh sebuah bola golf terhambat oleh adanya lapisan
batas.

183
C. Persamaan Lapisan Batas
Persamaan Dalam pasal ini akan diturunkan persamaan lapisan batas (Boundary
BL Layer – BL) dengan analisis orde nilai (order of magnitude analysis).
Dari pasal sebelumnya sudah diketahui bahwa Lapisan Batas
membantu, misalnya, penentuan hambatan (drag) dari benda di dalam
aliran. Ini memerlukan penaksiran pembentukan lapisan batas pada,
misalnya, lambung kapal. Untuk melakukan ini diperlukan
persamaan yang melukiskan aliran dalam lapisan batas. Persamaan
ini dikenal sebagai persamaan lapisan batas.
Sudah tentu, pada prinsipnya, aliran di mana saja dalam badan fluida
bisa digambarkan oleh persamaan-persamaan aliran yang diturunkan
berdasarkan hukum-hukum dasar fisika, yaitu persamaan kontinuitas,
momentum atau persamaan N-S. Dengan kata lain, apa yang
dikatakan sebagai persamaan BL adalah persamaan N-S dalam
bentuk khusus (yang lebih sederhana) untuk fenomena aliran di dekat
batas saluran.
Persamaan Untuk lebih mudah dan jelasnya di sini akan ditinjau aliran 2-D
BL 2-D inkompresibel.
Persamaan Navier-Stokes (NS) untuk aliran 2-D tanpampat
(incompressible) adalah sbb:
1) Kontinuitas:
𝜕𝑢 𝜕𝑣
+ =0
𝜕𝑥 𝜕𝑦

2) Momentum-x:
𝜕𝑢 𝜕𝑢 𝜕𝑢 𝜕𝑝 𝜕2 𝑢 𝜕2 𝑢
𝜌 + 𝜌𝑢 + 𝜌𝑣 =− + 𝜇 ( 2 + 2)
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦
atau
𝜕𝑢 𝜕𝑢 𝜕𝑢 1 𝜕𝑝 𝜕2 𝑢 𝜕2 𝑢
+𝑢 +𝑣 =− + 𝜐 ( 2 + 2)
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜌 𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦
3) Momentum-y:
𝜕𝑣 𝜕𝑣 𝜕𝑣 𝜕𝑝 𝜕2 𝑣 𝜕2 𝑣
𝜌 + 𝜌𝑢 + 𝜌𝑣 =− + 𝜇 ( 2 + 2)
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦
atau
𝜕𝑣 𝜕𝑣 𝜕𝑣 1 𝜕𝑝 𝜕2 𝑣 𝜕2 𝑣
+𝑢 +𝑣 =− + 𝜐 ( 2 + 2)
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜌 𝜕𝑥 𝜕𝑥 𝜕𝑦
dengan 𝜐 = (𝜇⁄𝜌) adalah viskositas kinematik.
Persamaan-persamaan ini tampak sangar. Persamaan Navier-Stokes
ini mewakili gerak fluida viskos secara eksak.
Pada Lapisan Batas, andil sejumlah suku-suku persamaan NS bernilai
kecil dan pengaruhnya lemah (suku lemah) dibandingkan suku-suku
dominan. Ini mudah dipahami dengan membayangkan gabungan
bobot seekor gajah dan seekor semut di badannya. Bobot seekor
semut RELATIF terhadap gajah tidaklah berarti dan bisa diabaikan
tanpa mengurangi ketelitian. Dengan demikian, persamaan NS bisa

184
diremas menjadi lebih sederhana sehingga menjadi lebih ramah.
Analisis orde Untuk bisa mengabaikan suku-suku lemah dalam persamaan Navier-
nilai Stokes diperlukan pengetahuan tentang ukuran nilai tiap-tiap suku
dalam kaitannya dengan yang lain. Ini disebut “analisis orde nilai”.
Akan tetapi, ada satu masalah dengan persamaan dalam bentuknya
kini. Setiap variabel mempunyai dimensi berbeda (yaitu kecepatan,
panjang, waktu dll.) Bagaimana bisa dilakukan pembandingan dari
nilai atau andil tiap-tiap suku?
Mudah, yaitu dengan cara menirdimensikan serta membakukan tiap-
tiap variabel sehingga skala nilai minimun dan maksimunya berada
dalam batas-batas yang sama (yaitu antara 0 dan 1).
Pembakuan Untuk membakukan nilai suku-suku maka diambil patokan nilai
nilai suku- untuk sejumlah variabel dasar yang mewakili fenomena aliran.
suku
Patokan-patokan nilai tersebut adalah sbb:
1) untuk panjang adalah L (skala panjang geometri plat),
2) untuk kecepatan adalah Ue (skala kecepatan arus bebas), dan
3) untuk waktu adalah L/Ue (skala waktu arus bebas menempuh
skala panjang geometri).
Gambar 135 merangkum pembakuan atau penirdimensian variabel
kecepatan dan posisi, dan Gambar 136 merangkum pembakuan atau
penirdimensian variabel waktu, viskositas dan tekanan.
Perlu diperhatikan cara penulisannya, variabel nir-dimensi dituliskan
dengan lambang yang sama, tetapi dengan tambahan tanda aksen.

Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal 
terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan y
terhadap panjang plat (L)

185
Gambar 136. Normalisasi tekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas,
waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan viskositas
kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L

Variabel nir- Dari apa yang dilukiskan dalam Gambar 135 dan Gambar 136
dimensi akhirnya diperoleh variabel-variabel nir-dimensi berikut:
x y
1) Ruang : x'  dan y ' 
L L
t U t
2) Waktu : t'   e
L Ue L
u v
3) Kecepatan : u'  dan v ' 
Ue Ue
 1
4) Viskositas kinematik :  '  
UeL Re
p
5) Tekanan : p' 
2 U e
1 2

Suku-suku nir-dimensi selanjutnya bisa disulihkan ke dalam


persamaan Navier-Stokes sehingga diperoleh bentuk nir-dimensinya
sebagai berikut:
u ' v'
1) Kontinuitas:  0
x' y '

u ' u ' u ' p' 1   2 u '  2 u ' 


2) Momentum-x:  u'  v'     
t ' x' y ' x' Re  x' 2 y ' 2 

v' v' v' p' 1   2 v'  2 v' 


3) Momentum-y:  u'  v'     
t ' x' y' y' Re  x' 2 y' 2 
Dari sini tampak bahwa persamaan NS nir-dimensi tidak banyak

186
berbeda bentuknya dari persamaan NS berdimensi.
Di sini juga telah diperkenalkan sebuah parameter nir-dimensi yang
disebut bilangan Reynold (Re = UeL/). Re merupakan ukuran relatif
efek konveksi terhadap efek difusi dalam aliran.
1) Pada Re besar, gesekan aliran tidak menjadi penting (kecuali
di dekat permukaan padatan di mana syarat nirgelincir
memainkan peranan penting).
2) Pada Re kecil, gesekan aliran memainkan peranan penting.
Berikut adalah sejumlah gambaran nilai bilangan Reynolds:
1) Butir air jatuh dalam udara, Re = 0,64
2) Bola golf melayang cepat, Re = 2105
3) Hiu pada kecepatan maksimum, Re = 8106
4) Boeing 747 menjelajah, Re = 7107
Persamaan NS sekarang dalam bentuk nir-dimensi yang
memungkinkan pembandingan langsung ukuran nilai tiap-tiap
sukunya satu sama lain. Berikut akan ditaksir nilai relatif tiap-tiap
suku dalam persamaan tersebut untuk melihat mana saja yang penting
dan kurang penting. Ini disebut analisis orde nilai – yang besar
dipertahankan, yang kecil diabaikan.
Analisis orde Pertama kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan
nilai pers. u ' v'
kontinuitas kontinuitas:  0
x' y '
1) Orde nilai kecepatan u’ adalah orde nilai u  U e atau
U e U e  1 . Dalam lapisan batas, nilai u terentang dari 0 di
permukaan plat (syarat nirgelincir) sampai maksimum U e di
tepi lapisan batas. Karena nilai u paling tinggi adalah sebesar
Ue, maka orde nilai u adalah Ue.

2) Orde nilai (u’/x’) adalah


u ' orde nilai u ' U e  0  U e
   1.
x' orde nilai x' L  0  L

3) Orde nilai (v’/y’) adalah 1 juga sebab akibat dari


u ' v'
  0 adalah orde nilai (v’/y’) dan (u’/x’) sama
x' y '
besarnya. Perhatikan, di sini yang penting adalah orde nilai
bukan nilainya itu sendiri. Contoh, andaikan nilai (u’/x’) =
11 = 1,1101 /s maka nilai (v’/y’) = 11/s = 1,1101 /s. Di
sini, nilai keduanya berbeda karena berlawanan tanda, tetapi
orde nilainya sama-sama 101 .

4) Orde nilai kecepatan v’ tidak bisa ditentukan langsung seperti

187
u’. Namun telah diperoleh bahwa (v’/y’) = 1. Dengan tebal
v' v  0  / U e v'
lapisan batas  maka    1 sehingga orde
y '   0  / L  '
nilai v’ adalah  ’.
Analisis orde Kedua, kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan momentum-
nilai pers.
Momentum-x u ' u ' u ' p' 1   2u '  2 u ' 
x:  u'  v'     
t ' x' y' x' Re  x' 2 y' 2 

u orde nilai u
 
U e  0 U e  1
1) Orde nilai
t orde nilai t L U e  0 L U e 

2) Orde nilai suku konveksi u’(u’/x’) adalah 11 = 1.

u ' U  0 U e   ' 1  1
' e
3) Orde nilai suku konveksi v' .
y '   0 L '

 2u' orde nilai u' x' 1  0


4) Orde nilai suku difusi   1
x' 2 orde nilai x' 1 0

5) Orde nilai suku difusi


 2u' orde nilai u' y' 1  '  0 1
   2
y'2 orde nilai y'  '0 '

6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara


berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari
pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam
persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau
1 11 11

u ' u ' u ' p'


 u '  v'  .
t ' x' y ' x'
Karena orde sisi kiri harus harus sama dengan sisi kanan,
p 
maka orde nilai pastilah 1 juga.
x 

7) Orde nilai (1/Re) ditentukan dengan cara berikut. Jika gradien


tekanan tidak ada, maka
1 11 11 11   
2

u  u  u  1   2 u   2 u  
 u      . Karena orde sisi kiri
t  x y  Re  x 2 y  2 

188
1   2u  2u 
= orde sisi kanan persamaan, maka orde   
Re  x 2 y  2 
adalah 1. Jadi, [orde (1/Re)](1+1/ ’2 ) = 1 atau [orde (1/Re)]
=  ’2 sebab nilai  ’2 << 1.
Analisis orde Terakhir, kita
tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan
nilai pers.
Momentum-y v' v' v' p' 1   2 v'  2 v' 
momentum-y:  u'  v'     
t ' x' y' y ' Re  x' 2 y' 2 

1) Orde nilai (v’/t’) adalah


v orde nilai v
 
v  0 U e v'
 '
t orde nilai t L U e  0 L U e  1
v'  '
2) Orde nilai suku konveksi u ' 1   '
x' 1
v'
3) Orde nilai suku konveksi v'   '1   '
y '

 2 v' orde nilai v' x'  '0


4) Orde nilai suku difusi   '
x'2 orde nilai x' 1 0

 2 v' orde nilai v' y' 1  0 1


5) Orde nilai suku difusi   
y'2 orde nilai y'  '0  '
6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara
berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari
pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam
persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau
 '   '   ' 

v' v' u ' p '


 u '  v'  . Karena orde sisi kiri harus harus
t ' x' y ' y '
p '
sama dengan sisi kanan, maka orde nilai pastilah  ’ juga.
y '
7) Orde nilai (1/Re) telah ditentukan sebesar  ’2 .
Orde nilai Berikut bisa dilihat persamaan nir-dimensi N-S dengan orde nilai
suku-suku dituliskan dalam tanda kurung di atas tiap-tiap suku:
pers. N-S
1 1

u ' v'
1) kontinuitas:  0
x' y '
1 11  ' 1 '  1   
2 11   
2

u ' u ' u ' p' 1   2 u '  2 u ' 


2) momentum-x:  u '  v'     
t ' x' y ' x' Re  x' 2 y ' 2 

189
   1    1      
2  1   

v' v' v' p' 1   2 v'  2 v' 


3) momentum-y:  u '  v'     
t ' x' y' y' Re  x' 2 y' 2 
Nilai  ’ biasanya kurang dari 0,01. Suku-suku dengan orde sebesar  ’
atau kurang bisa diabaikan relatif terhadap suku-suku berorde 1.
Untuk lapisan batas plat pada Re = 7 juta:
   10 3
  2  10 6
  3  10 9
Jadi, dibandingan dengan suku-suku berorde 1, suku-suku berorde  ’
sungguh seumpama semut disanding gajah, dan suku-suku  ’ 2 dan
 ’ 3 bahkan lebih kecil lagi. Dengan demikian, maka:
1) Persamaan kontinuitas bertahan.
2) Persamaan momentum-x berkurang satu suku yaitu suku
difusi arah-x.
3) Persamaan momentum- y bisa dihapus sama sekali.
Apa yang tinggal adalah persamaan lapisan batas yang terkenal itu:
u ' v'
1) Kontinuitas :  0
x' y '

u' u' u' p' 1  2 u'


2) Momentum-x :  u'  v'  
t ' x' y' x' Re y' 2

D. Penyelesaian Blasius
Metode Persamaan ini pertama kali diselesaikan oleh Blasius 5 pada kasus:
eksak
1) aliran laminer,
2) paralel di atas plat datar, dan
3) gradien tekanan nol.
Di sini, uraian rinci analisis Blasius tidak disertakan, tetapi hanya
diungkapkan hasilnya saja, yaitu:
1) Ketebalan lapisan batas () pada posisi x dari hulu plat adalah
 5 5
 
x U e x Re x
 .
2) Gradien kecepatan di permukaan plat adalah
5 H. Blasius, Grenzshichten in Flüssighkeiten mit kleiner Reibung, Z. Math. U. Phys. Sci., 1, 1908.

190
u U e
 0,332  U e
y y 0
x
.
3) Tegangan geser pada permukaan plat adalah
u U e
     0,332  U e
y y 0 x
.
4) Koefisien gesekan permukaan lokal (coefficient of local skin
friction) bisa ditentukan sebagai perbandingan tegangan geser
dan tekanan kinetik aliran bebas:

C fx  1
2 U e
2

atau
U e
  0,332  U e
x  0,664
C fx   0,664 
2 U e
1 2
U e x Re x
.
5) Koefisien gesekan permukaan total pada plat selebar W dan
sepanjang L bisa ditentukan sebagai perbandingan gaya gesek
pada plat per satuan luas plat dan tekanan kinetik aliran
xL

C 1
fx 2 U e2  Wdx
1
xL
C fL  x 0
  C fx dx
bebas:
1
2 U e2  WL L x 0
atau
xL
1 
C fL   0,664 dx
L x 0 U e x
atau

C fL 
0,664
L

U e
2 x   xL
x 0  2.C fx

atau
1,328
C fL 
Re L .

Secara visual, Gambar 137 memperlihatkan hubungan tebal lapisan


batas per jarak x dari hulu plat per x ( /x) dengan nilai bilangan Re
lokal (Rex). Dari sini tampak bahwa semakin besar Rex semakin tipis
ketebalan lapisan batas. Gambar 138 memperlihatkan dengan lebih
jelas pengaruh kecepatan aliran terhadap ketebalan lapisan batas.
Dari gambar tampak bahwa semakin tinggi kecepatan, semakin tipis
lapisan batas.

191
5

4
Tebal BL / x

0
1 10 100 1.000 10.000 100.000
Re lokal di posisi x, Rex

Gambar 137. Grafik tebal lapisan batas per x ( /x) sebagai fungsi Rex

Ve 0,1 cm/s Ve 1 cm/s Ve 10 cm/s

4
Tebal BL (cm)

0
0 200 400 600 800 1000
Posisi x (cm)

Gambar 138. Tebal lapisan batas ( ) pada berbagai posisi x dari hulu plat
untuk berbagai kecepatan

E. Analisis Integral Momentum von Kärmän


Metode Penyelesaian Blasius sangat terbatas dalam penerapannya hanya pada

192
pendekatan kasus BL laminer di atas permukaan datar. Namun, metode tersebut
sulit diterapkan pada situasi dengan fenomena yang lebih kompleks.
Untuk mengatasi ini, von Kärmän memperkenalkan sebuah metode
pendekatan yang dikenal sebagai Analisis Integral Momentum.
Sesuai dengan namanya, analisis dilakukan dengan berdasarkan pada
penerapan persamaan integral momentum pada CV lapisan batas
Gambar 139. Analisis berikut dilakukan pada keadaan aliran tunak
(steady), dan untuk tiap satuan kedalaman.

Garis Arus Daerah


CV BL Aliran invisid
(Streamline)

Daerah
 Aliran viskos

x
x x+x
Gambar 139. CV dalam lapisan batas

Persamaan integral momentum-x pada CV adalah:


 
 

 Fx   u V  n dA  t  udV
dengan:
F x  Ftekan  Ftekan  Ftekan  Fgeser
kiri kanan atas

 p  p x  x 
 p x  p x  x
 x
 2


 x  x
 x
 0 x
 
y  y 

 u v  ndA    u dy   u atas
Uem
2 2
dy
y 0 x y 0 x  x


t 
dV  0 (aliran tunak)

Ungkapan untuk matas bisa ditentukan dari neraca massa, dan


hasilnya adalah:
y  y 

matas    udy   udy


y 0 x y 0 x  x

Penyulihan suku-suku ini ke dalam persamaan momentum-x dan

193
pembangian hasilnya dengan x memberikan:
p  p p x  p x  x    x 
 x  x x
  x  x   0 
x 2  x 
 
   

 u   u dy  udy   udy
2 2
dy
x  x
Ue x  x
0 0 x 0 0 x

x x
Pada batas (limit) volume yang menciut mendekati nol persamaan ini
menjadi:
y  y 
d
  p   p
d d d
 0  y0u dy  U e dx  udy
2

dx dx dx y 0

atau
y  y 
dp d d d d
 p p  0   u dy  U e  udy
2

dx dx dx dx y 0
dx y 0

atau
y  y 
dp d d

dx
0  
dx y 0
u 2 dy  U e
dx  udy
y 0

atau
 
dp d d
  u 2 dy  U e
dx 0
 0   udy
dx dx 0
atau (untuk aliran inkompresibel)
0  dp d 
u U e  u dy
 dx dx 0
 

Inilah ungkapan integral momentum von Kärmän.
Untuk menerapkan persamaan ini diperlukan pengetahuan profil
kecepatan u sebagai fungsi jarak dari permukaan y. Akurasi hasil
akhir bergantung pada seberapa dekat profil kecepatan anggapan
dekat dengan yang sesungguhnya.
Contoh Sebagai contoh, persamaan integral momentum von Kärmän
diterapkan pada kasus yang telah diketahui jawaban eksaknya, yaitu
aliran laminer di atas plat datar yang telah diselesaikan oleh Blasius.
Dalam kasus ini, tekanan dalam aliran adalah seragam sehingga
gradiennya nol sehingga persamaan von Kärmän disederhanakan
menjadi:
0 d 
u U e  u dy
 dx 0

Penyelesaian awal didapat oleh Pohlhausen yang menganggap profil

194
kecepatan sebagai fungsi kubik:
u  a  by  cy 2  dy 3
Konstanta a, b, c, dan d bisa diperoleh dari syarat batas yang harus
dipenuhi oleh lapisan batas, yaitu:
1) No-slip condition: u  0 di y = 0.
2) Di tepi BL (y =  ) fluida mengalir dengan kecepatan arus
bebas: u  U e .

u
3) Di tepi BL (y =  ) gradien kecepatan nol:  0.
y

 2u
4) Tekanan di mana-mana seragam, sehingga  0 di y = 0.
y 2
Evaluasi keadaan di syarat batas memberikan:
1) Di y = 0, u  a  b.0  c.0 2  d .0 3  0 sehingga a = 0.
2) Di y =  , u  0  b.  c. 2  d . 3  U e .
u
3) Di y =  ,  b  2c.  3d . 2  0 .
y

 2u
4) Di y = 0,  2c  6d .0  0 sehingga c = 0.
y 2
Nilai b dan d selanjutnya bisa diperoleh dari 2) dan 3), hasilnya:
U U
d   e3 dan b  3d 2  3 e . Jadi profil kecepatannya adalah:
2 2
3
y  y
u 3
U e  12   U e
2
  
Penyulihan profil kecepatan ini ke dalam persamaan integral
momentum:
0 d 
u U e  u dy
 dx 0

dengan
du  1 3y 2  U
0      32 U e  12 3 U e    32 e
dy y 0     y 0 

memberikan:

 3 Ue   y  y
3
 3

d
U e2  32  12   1  32 y  12  y  dy
 
2  
dx 0          
 
Integrasi persamaan ini memberikan:

195
 3 Ue d
2 
 39
280
d
dx

U e2   39
280 U e2
dx
atau

 .d  140 dx
13
U e
yang hasil integrasinya adalah:
  140 x
2
1
 
2 140
x  13
140
x  13
2
2 13
U e U e x Re x
atau

 280
4,64
 13

x Re x Re x

Dari sini bisa ditentukan koefisien gesekan permukaan lokal:


Ue
 32
   3  x  3 1 Re x  0,646
C fx  1 0 2 
2 U e
1
2 U e2 U e x  Re x 4,64 Re x
dan integrasi koefisien ini dalam rentang x dari 0 sampai L
memberikan:
1,292
C fL  2.C fx 
Re x
Tabel 3 merangkum perbandingan hasil penyelesaian eksak (Blasius)
dan hasil penyelesaian pendekatan (von-Kärmän). Perbandingan ini
menunjukkan bahwa selisih hasil pendekatan  hanyalah sekitar 7%
dan Cf hanyalah sekitar 3%. Selisih ini bisa lebih sedikit jika profil
kecepatan yang dianggapkan bisa lebih mewakili profil aktualnya
dengan lebih akurat. Hasil ini menunjukkan bahwa metode
pendekatan layak digunakan jika metode eksak tidak memungkinkan
untuk dilakukan.

Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän


Parameter Penyelesaian Penyelesaian Selisih
eksak pendekatan
(Blasius) (von-Kärmän)
Ketebalan BL  5  4,64 7%
 
x Re x x Re x
Koefisien gesekan 0,664 0,646 3%
permukaan lokal C fx  C fx 
Re x Re x

196
Koefisien gesekan 1,328 1,292 3%
permukaan C fL  C fL 
Re L Re x

197
MODUL X.
ALIRAN DALAM SALURAN TERTUTUP

Deskripsi
Saluran tertutup mewakili perpipaan dan duct. Pipa dan duct sangat banyak
dijumpai penerapannya dalam kehidupan manusia. Akibat gesekan, fluida akan
mengalami penurunan tekanan. Oleh karena itu, untuk mengalirkannya dalam
saluran dibutuhkan penekanan dari luar. Aliran cairan dalam saluran tertutup bisa
digerakkan oleh penekanan akibat gaya gravitasi atau oleh pompa. Aliran gas
dalam saluran tertutup bisa digerakkan oleh penekanan oleh blower atau
kompresor. Dengan demikian, fokus bahasan modul ini adalah menentukan
penurunan tekanan yang dialami oleh fluida sewaktu mengalir dalam saluran
tertutup.
Sasaran belajar:
5. Melakukan analisis dimensional untuk perencanaan eksperimen
6. Mendefinisikan diameter ekuivalen (diameter hidrolik) dan panjang
ekuivalen saluran
7. Menggolongkan sifat aliran dalam saluran tertutup
8. Menghitung penurunan tekanan aliran akibat gesekan dalam saluran
tertutup
9. Menyebutkan dan menjelaskan prinsip kerja alat pengukuran kecepatan
aliran dalam saluran tertutup

A. Analisis Dimensional
Analisis Dalam modul sebelumnya telah dilakukan analisis diferensial aliran
dimensional laminer dalam pipa. Hasilnya adalah persamaan Poiseuille yang bisa
digunakan untuk menentukan penurunan tekanan yang dialami oleh
fluida yang mengalir dalam pipa.
Namun, penurunan tekanan aliran turbulen tidak bisa ditentukan
secara analitik. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang harus
ditempuh adalah eksperimen. Efisiensi eksperimen telah sangat
terbantu berkat analisis dimensional yang memungkinkan reduksi
jumlah variabel persoalan yang harus ditangani.
Dalam persoalan aliran dalam pipa, variabel yang terlibat beserta
dimensinya diperlihatkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa


Variabel Lambang Dimensi
1 Penurunan tekanan P MLt–2
2 Kecepatan v L t–1

198
3 Diameter pipa D L
4 Panjang pipa L L
5 Kekasaran permukaan pipa  L
6 Viskositas fluida  ML–1 t–1
7 Densitas fluida  ML–3

Menurut teorema Buckingham, cacah bilangan nirdimensi, , ada


sebanyak selisih #variabel dan #dimensi. Dalam kasus ini, cacah
variabel = 7 seperti tampak pada tabel di atas; dan cacah dimensi = 3
(M, L dan t). Dengan demikian maka cacah  adalah (7–3) = 4.
Karena #dimensi = 3, maka bisa diambil tiga variabel inti untuk
menyusun keempat bilangan nirdimensi . Dalam kasus ini
katakanlah diambil variabel: , V, dan D sebagai variabel ini, maka:
 1 = a . Vb . Dc . P
 2 = d . Ve . Df . L
 3 = g . Vh . Di . 
 4 = j . Vk . Dl . 
Dengan menyeragamkan dimensi suku-suku kiri dan kanan maka
akan diperoleh:
 1 = 1 . V2 . D0 . P atau  1 = P / (.V2 )
 2 = 0 . V0 . D1 . L atau  2 = L / D
 3 = 0 . V0 . D1 .  atau  3 =  / D
 4 = 1 . V1 . D1 .  atau  4 = .V.D/ = Re (bil.
Reynolds)
Keempat bilangan nirdimensi ini bisa dikumpulkan menjadi satu
sebagai:
 1 =  1 ( 2 ,  3 ,  4 )
atau
P / (.V2 ) =  1 ((L/D), (/D), Re)
Dari analisis sebelumnya telah diperoleh hubungan: P = .g.hL.
Penyulihan hubungan ini ke dalam persamaan terakhir diperoleh:
hL = (V2 /g).  1 ((L/D), (/D), Re)
atau bila dianggap hL tergantung secara linier terhadap (L/D) maka:
hL = (V2 /g).(L/D).  2 ((/D), Re).
Hasil ini memperlihatkan bahwa persoalan yang melibatkan banyak
variabel bisa diringkas hanya menjadi beberapa variabel penting saja.
Dalam kasus ini yang perlu diukur dalam eksperimen tinggal
hubungan antara hL dan fungsi  2 ((/D), Re). Fungsi  2 ((/D), Re)

199
biasa disebut dengan istilah faktor gesekan, f. Dengan demikian
persoalan dipermudah menjadi penentuan nilai faktor gesekan
sebagai fungsi (/D) dan Re – dua variabel bebas saja!

B. Faktor Gesekan
2 macam Cara penyajian data faktor gesekan ada dua macam, yaitu:
faktor
gesekan  Faktor gesekan Fanning, fF (= f/2), untuk pemakaian dengan
rumus: hL = 2fF (V2 /g).(L/D).
 Faktor gesekan Darcy, fD (= 2f), untuk pemakaian dengan
rumus: hL = fD (V2 /2g).(L/D).
Perlu dicatat bahwa:
 fF = Cf (koefisien gesekan kulit – skin friction coefficient).
 fD = 4.fF.
Dengan demikian, di dalam pemakaian data faktor gesekan harus
diperhatikan definisi mana yang dipakai – apakah definisi Fanning
atau Darcy.

C. Kerugian Head
Kerugian Dari analisis neraca energi dan persamaan Hagen-Poiseuille:
pada Pipa
Lurus hL = 32 VL / (gD2 )
atau dalam notasi fF:
hL = 32 [/(VD)] . (L/D) . (V2 /g) = (32/Re) . (L/D) . (V2 /g)
Pembandingan dengan rumus Fanning menunjukkan bahwa:
(32 / Re) = 2fF
atau
fF = 16 / Re
untuk aliran laminer.
Bagaimana dengan fF untuk aliran turbulen?
Nilai fF bisa ditentukan melalui eksperimen sebagai fungsi (/D) dan
Re. Berikut adalah angkuman faktor gesekan Fanning untuk segala
macam aliran:
Aliran Laminer (Re < 2300):
fF = 16 / Re.
Aliran Turbulen (Pipa halus, Re > 3000):
fF–(1/2) = 4.0 log10 {Re.fF(1/2)} – 0.40

200
Aliran Turbulen (Pipa kasar, dengan (D/)/(Re.fF(1/2)) < 0.01):
fF–(1/2) = 4.0 log10 {D/} + 2.28
Aliran Transisi Laminer-Turbulen:
fF–(1/2) = 4.0 log10 {D/} + 2.28 – 4.0 log10 {4.67(D/)/(Re.fF(1/2)) + 1}
Aliran dengan 4104  Re  108 dan 0  Re  0.05:
fF–(1/2) = –3.6 log10 {(6.9/Re) + [/(3.7D)](10/9)}, (teliti  1.5%)
Sejauh ini telah dibicarakan perhitungan rugi-rugi aliran di dalam
pipa lurus, lantas bagaimana dengan bentuk pipa yang tidak lurus
(sambungan, belokan, dan katup)?
Kerugian Untuk memperhitungkan rugi-rugi karena bentuk dipakai hubungan
pada Fitting berikut yang sepadan bentuknya dengan rumus Fanning:
hL = 2fF (V2 /g).(Leq/D)
dengan Leq = panjang ekuivalen, yaitu panjang pipa lurus yang
menghasilkan rugi-rugi sebesar rugi-rugi karena bentuk saluran; atau
dengan rumus:
hL = P / (.g) = K (V2 /g)
dengan K = koefisien rugi-rugi yang tergantung pada macam
sambungan (fitting).
Data-data K dan (Leq/D) untuk beberapa macam sambungan
diperlihatkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen


Sambungan (fitting) K Leq/D
Belokan 180o 1.6 75
Belokan 90o baku 0.7 32
Belokan 45o baku 0.35 15
Katup gate, bukaan ¼ 20 900
Katup gate, bukaan ½ 4.4 200
Katup gate, bukaan ¾ 0.85 40

Kerugian Terakhir, bagaimana perhitungan rugi-rugi untuk saluran yang


pada Pipa penampangnya tidak bundar?
Penampang
Sembarang Jawabnya: semua hubungan untuk pipa bundar bisa tetap digunakan
untuk saluan berpenampang sembarang dengan sekedar mengganti
diameter D dalam rumus dengan diameter-ekuivalen Deq yang
didefinisikan sebagai:
Deq = 4  (Luas potongan-melintang aliran) / (Keliling-saluran
yang dibasahi)

201
Keliling-saluran yang dibasahi fluida biasa disebut juga sebagai “jari-
jari hidrolik, Rh .” Contoh perhitungan Deq untuk pipa konsentris
dengan garis-tengah luar Do dan garis-tengah dalam Di adalah:
Luas potongan-melintang aliran = (Do 2 – Di2 )/4
Keliling-saluran yang dibasahi, Rh = (Do + Di)
Deq = 4  [(Do 2 – Di2 )/4] / [(Do + Di)]
 Deq = Do – Di

D. Macam Persoalan Aliran


3 Macam Faktor gesekan terkait dengan enam parameter aliran, yaitu:
Persoalan
1) Diameter pipa, D
2) Kecepatan rerata, v
3) Densitas fluida, 
4) Viscositas fluida, 
5) Kekasaran pipa, 
6) Rugi-rugi gesekan per satuan massa.
Jadi, jika diketahui 5 dari keenamnya maka satu parameter sisanya
bisa diperoleh dengan menggunakan diagram faktor-gesekan.
Ada tiga macam persoalan yang paling lazim, yaitu:
 Macam 1: Diketahui: D,  , , , Q Dicari: hf
 Macam 1: Diketahui: D,  , , , hf Dicari: Q
 Macam 1: Diketahui:  , , , hf, Q Dicari: D
Persoalan macam-1 bisa diselesaikan secara langsung, sedangkan
macam-2 dan 3 memerlukan coba-coba (trial and error).
Tiga persoalan dasar yang biasa dijumpai dalam perhitungan aliran-
pipa adalah sebagai berikut. Nilai parameter , , g, dan L sudah
tertentu.
1) Diketahui D, v (atau Q), hitung penurunan tekanan (persoalan
penurunan-tekanan).
2) Diketahui D, P, hitung kecepatan atau laju aliran (persoalan
laju-aliran).
3) Diketahui Q, P, hitung diameter D pipa (persoalan
penentuan ukuran pipa – sizing problem)

E. Pengukuran Aliran
Venturi meter Dalam alat ukur ini (Gambar 140) fluida dipercepat oleh karena

202
laluannya yang berupa kerucut dengan sudut  1 15-20o . Perbedaan
tekanan antara ujung hulu dan kerongkongan (throat) mewakili laju
aliran fluida.
Fluida kemudian diperlambat pada kerucut dengan sudut yang lebih
kecil  2 5-7o di mana sebagian besar energi kinetik diubah kembali
menjadi energi tekanan. Karena pengurangan luasan yang perlahan
maka tidak terbentuk vena-contracta dan luasan aliran minimum pada
kerongkongan sehingga koefisien kontraksinya sama dengan satu.
Konstruksi alat ukur ini mahal, tetapi sifat pemulihan energinya
tinggi sehingga bisa digunakan walaupun head tekanan yang tersedia
kecil.
Supaya pemulihan tekanannya besar, sudut kerucut hilir dibuat kecil
sehingga separasi lapisan-batas bisa dicegah dan gesekan
diminimalkan. Karena separasi tidak terjadi pada penampang-lintang
mengecil, kerucut hulu bisa dibuat lebih pendek daripada kerucut
hilir dengan hanya sedikit gesekan, sehingga ruang dan bahan bisa
dihemat.
Walaupun venturimeter bisa digunakan untuk pengukuran gas, tetapi
paling biasa digunakan untuk pengukuran cairan. Oleh karena itu,
pembicaraan berikut dibatasi pada fluida inkompresibel.

Throat
2 1

a b

Gambar 140. Venturimeter

Persamaan Persamaan dasar untuk venturimeter bisa diperoleh dari persamaan


Venturimeter Bernoulli untuk fluida inkompresibel antara dua irisan a dan b.
Gesekan diabaikan dan posisi venturimeter dianggap horizontal.

203
Jika Va dan Vb adalah kecepatan rata-rata di hulu dan hilir dan 
adalah densitas fluida, maka
pa  12 Va2  gha  pb  12 Vb2  ghb
karena ha = hb maka persamaan bisa disusun untuk kecepatan
menjadi:
2 p a  p b 
Vb2  Va2 

Hubungan kecepatan di a dan b bisa diperoleh dari persamaan
kontinuitas:
ma  mb
 aVa Aa   bVb Ab
untuk aliran inkompresibel a = b sehingga:
2
A 
Db2  Db 
Va  b Vb  4
 2
Vb    Vb   2Vb
Aa 4 Da  Da 
dengan Da = diameter pipa, Db = diameter kerongkongan (throat),
dan  = rasio diameter (Db /Da ). Jika Va dari kedua persamaan
dieliminasi maka:
2 pa  pb 

Vb2   2Vb 2


atau:
1 2 pa  pb 
Vb 
1  4 

Persamaan ini berlaku hanya untuk aliran fluida inkompresibel.


Untuk memperhitungkan rugi gesekan di antara lokasi a dan b,
persamaan ini dikoreksi dengan memperkenalkan sebuah faktor
empiris CV. Koefisien CV ditentukan secara eksperimen dan disebut
koefisien venturi.
Jika  < ¼ (atau Db kurang dari Da /4) maka pengaruh  bisa
diabaikan karena suku 1 1   4 menjadi sangat kecil dan error yang
diakibatkannya kurang dari 0,2 persen.
Untuk venturi berdesain baik, konstanta CV bernilai:
 sekitar 0,98 untuk pipa berdiameter 2 sampai 8 inch dan
 sekitar 0,99 untuk diameter yang lebih besar.
Venturimeter dengan desain yang memadai menghasilkan rugi
tekanan permanen sebesar lk. 10% dari beda tekanan venturi (pa –
pb ), dan 90% sisanya terpulihkan.
Laju aliran volumetrik. Kecepatan di kerongkongan venturi Vb
biasanya bukanlah merupakan besaran yang ingin diketahui.

204
Informasi aliran yang berguna secara praktis adalah laju aliran massa
dan volume melalui alat ukur. Laju aliran volume dihitung dari:
Q  Vb Ab
dan laju aliran massa dihitung sebagai perkalian Q dan densitas:
m Q  Vb Ab .
Berikut adalah dimensi baku dari venturimeter:
 Sudut kerucut masuk (2. 1 ) = 212o
 Sudut kerucut keluar (2. 2 ) = 5 sampai 15o
 Kerongkongan: panjang = diameter
Orificemeter Venturimeter konstruksinya relatif rumit, walaupun memiliki
kelebihan: handal, rugi-rugi tekanannya kecil, dan luas digunakan
(khususnya untuk volume aliran gas dan cairan yang besar). Untuk
jalur pipa kecil, karena rumitnya konstruksi, harga venturimeter
menjadi mahal. Oleh karena itu digunakan alat yang lebih sederhana,
yaitu: orificemeter.
Orificemeter terdiri dari orifice, yaitu sebuah plat datar yang
berlubang lingkar di tengahnya. Gambar 141 memperlihatkan dua
lubang-pencatat tekanan tepat di hulu dan di hilir orifice yang
dipasangi manometer.

Gambar 141. Orificemeter

Penempatan Ada tiga macam cara penempatan lubang-pencatat (tap) yang


lubang dikenal, dan koefisien orificemeter tergantung pada posisi lubang
pencatat
pencatat ini.
1) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa flange, jarak lubang-
pencatat hulu & hilir sama-sama 1 inch.
2) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa vena contracta, jarak
lubang-pencatat di hulu = ukuran diameter dalam pipa & di

205
hilir = 0,3-0,8 diameter dalam pipa.
3) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa pipa, jarak lubang-pencatat
di hulu = 2,5 kali diameter pipa nominal & di hilir = 8 kali
diameter pipa nominal.
Prinsip Kerja Prinsip kerja orifice. Prinsipnya identik dengan venturimeter.
Penurunan penampang lintang aliran yang melalui orifice akan
menaikkan head kecepatan yang disertai dengan penurunan head
tekanan, dan penurunan tekanan antara lubang-lubang pencatat
diukur menggunakan manometer.
Persamaan Bernoulli merupakan dasar keterkaitan antara kenaikan
head kecepatan dan penurunan head tekanan.
1 2 pa  pb 
Vb 
A 
2 
1   b 
 Aa 
Kesulitan dengan orificemeter, yang tidak dijumpai pada
venturimeter, terletak pada rumitnya penentuan Ab (vena contracta).
Luas vena-contracta biasa ditentukan berdasarkan keterkaitannya
dengan penampang lintang orifice (Ao ) yang disebut sebagai
koefisien kontraksi Cc:
Ab
Cc 
Ao
Dengan demikian, karena Vo .Ao = Vb .Ab maka Vo = Vb .Cc sehingga
Cc 2 pa  pb 
Vo  Vb Cc 
A 
2 
1  Cc2  o 
 Aa 
Namun persamaan ini kurang praktis sehingga diperkenalkan
koefisien discharge Co untuk memperhitungkan (a) parameter C c, dan
(b) rugi-rugi gesekan dalam alat, sehingga persamaan kecepatan
menjadi lebih sederhana:
Co 2 pa  pb 
Vo 
A 
2 
1   o 
 Aa 
atau:
Co 2 pa  pb 
Vo 
1  4 

dengan  = (Do /Da ).


Dengan demikian laju aliran Q melalui pipa dihitung dari persamaan:

206
Co Ao 2 pa  pb 
Q  Vo Ao 
1  4 
Co sangat bervariasi dengan rasio (Ao /Aa ) dan bilangan Reynolds.
Nilai Co bisa diambil 0,61 untuk alat ukur baku pada bilangan
Reynolds lebih dari 104 , walaupun nilai tersebut terasa berubah pada
nilai Reynolds yang lebih rendah.
Pemulihan tekanan orifice. Rugi tekanan permanen bergantung pada
nilai  = (Do /Da ). Untuk  = 0,5 rugi tekanan mencapai 73% dari
perbedaan tekanan orifice.
Venturi vs Dalam pembandingan kedua alat ukur harus dipertimbangkan pula
orifice biaya instalasi dan biaya operasi.
1) Plat orifice bisa mudah diubah untuk mengakomodasi
berbagai laju aliran yang sangat berbeda, sedangkan diameter
kerongkongan venturi tetap, sehingga rentang laju alirannya
dibatasi oleh batas praktis dari p.
2) Orificemeter menimbulkan kerugian tekanan permanen yang
besar karena adanya olakan pada sisi hilir plat orifice; bentuk
venturimeter mencegak pembentukan olakan sehingga rugi-
rugi permanen bisa dikurangi.
3) Orifice murah dan mudah dipasang. Venturimeter mahal, dan
harus difabrikasi dengan teliti. Orifice buatan sendiri
seringkali sangat memuaskan, sedangkan venturimeter praktis
selalu harus dibeli dari agen instrumen.
4) Kerugian head (berarti pula kerugian daya) pada orifice
berkali-kali lebih besar daripada pada venturi. Jadi, bila
orifice dipasang pada sebuah jaringan yang menyalurkan
fluida secara terus-menerus sepanjang waktu yang lama,
biaya rugi-rugi daya boleh jadi tidak seimbang dengan
penghematan biaya alat. Oleh karena itu, orifice paling baik
digunakan untuk tujuan pengujian atau kasus-kasus lain di
mana kerugian daya bukanlah faktor penting.
5) Orifice, walaupun kerugian dayanya besar, sangat luas
digunakan karena keluwesannya yang lebih besar, karena
pemasangan sebuah plat orifice baru dengan bukaan yang
berbeda mudah dilakukan – venturimeter tidak sedemikian
mudah diubah. Venturimeter digunakan hanya untuk instalasi
permanen.
6) Orificemeter memberikan pembacaan yang lebih tinggi
daripada venturimeter pada kecepatan yang sama.
Tabung pitot Tabung pitot adalah alat untuk mengukur kecepatan lokal sepanjang
sebuah garisarus (streamline). Tabung pitot (Gambar 142)
mempunyai dua tabung: yaitu tabung stagnasi (a) dan tabung statik
(b).
Mulut tabung-stagnasi (a) menantang arah aliran, sedangkan mulut

207
tabung-statik paralel dengan arah aliran. Kedua tabung dihubungkan
dengan manometer atau alat serupa untuk mengukur beda tekanan.
Tabung statik mengukur Pstatik, karena tidak ada komponen kecepatan
yang tegak lurus dengan mulutnya. Tabung stagnasi mengukur Pstatik
+ Pkinetik – atau dalam head, tabung stagnasi mengukur head tekanan
statik plus head kecepatan. Oleh karena itu, bacaan pada manometer
(hm ) akan terkait dengan head kecepatan (V2 /2g).

Gambar 142. Tabung Pitot

Analisis Analisisnya rincinya demikian. Penerapan persamaan Bernoulli pada


tabung Pitot titik a dan b memberikan:
Pa  12 Va2  gha  Pb  12 Vb2  ghb
karena di titik stagnasi (a) kecepatan Va = 0, maka persamaan
menjadi:
Pa  Pb Pa  Pb
Vb  2  2 g ha  hb   2  gd
 
Fluida dalam tabung mulai dari (a) sampai (b) berada dalam keadaan
diam sehingga dari persamaan statika:
Pa  g 12 d  ghm   m ghm  Pb

atau:
Pa  Pb   m   ghm  g 12 d

atau:
Pa  Pb  
2  2 m  1 ghm  gd
   
Penyulihan ungkapan ini ke dalam ungkapan Vb menghasilkan:

208
 
Vb  2 m  1 ghm
  

Gambar 143. Setup tabung Pitot


Setup tabung Setup tabung pitot berikut tersusun dari dua tabung konsentrik yang
Pitot disusun paralel dengan arah aliran; tekanan stagnasi diukur pada
ujung bukaan tabung bagian dalam. Lihat Gambar 143. Ujung dari
tabung konsentrik luar ditutup rapat dan sederetan orifice pada
permukaan lengkung memberikan indikasi akurat tentang tekanan
statik.
Supaya laju aliran tidak terlalu banyak terganggu, diameter instrumen
tidak boleh lebih dari 1/9 diameter pipa. Pengukuran akurat dari
tekanan stagnasi bisa diperoleh menggunakan sebuah tabung
berdiameter sangat kecil dengan ujung bukaannya tegak lurus dengan
arah aliran.
Tabung pitot mengukur kecepatan hanya pada sebuah filamen cairan,
dan karenanya bisa digunakan untuk memetakan distribusi tekanan
melintang pipa. Jika diinginkan pengukuran aliran total dari fluida
melalui pipa, kecepatan harus diukur pada berbagai jarak dari dinding
dan hasilnya diintegrasikan. Laju aliran total bisa dihitung dari hanya
satu bacaan apabila distribusi kecepatan melintang permukaannya
telah diketahui.
Kecepatan yang diperoleh dari pengukuran dengan tabung pitot yang
sempurna akan memenuhi persamaan:

209
 
V  2 m  1 ghm
  
Namun demikian, semua alat harus dikalibrasi dan terhadap hasil
pengukuran dikenakan sebuah faktor koreksi.
Rotameter Pada orificemeter, luasan hambatan (orifice) konstan dan penurunan
tekanan merupakan fungsi dari laju aliran.
Pada rotameter sebaliknya, penurunan tekanan konstan dan luasan
hambatan (orifice) fungsi dari laju aliran.
Rotameter terdiri dari sebuah tabung gelas tapered dengan diameter
terkecil di dasar. Tabung terdiri dari apungan yang bisa bergerak
bebas dengan penyangga pada dasar tabung. Jika fluida mengalir,
apungan menaik sampai beratnya diimbangi oleh gaya dorong fluida,
dan apungan mencapai posisi setimbangnya. Posisi inilah yang
menunjukkan laju aliran dan besarnya bisa dibaca pada skala di
sebelahnya yang biasanya ditorehkan pada tabung gelas.
Apungan distabilkan dengan adanya celukan helik yang membuatnya
berputar – dari sinilah nama rotameter diturunkan.
Bentuk-bentuk apungan lainnya bisa digunakan – termasuk bola pada
alat yang lebih kecil.

Gambar 144. Rotameter

Penurunan tekanan melalui apungan sama dengan beratnya dibagi


dengan penampang-lintang terbesar pada bidang horizontal. Luasan
untuk aliran adalah annulus yang dibentuk antara apungan dan
dinding tabung.
Rotameter, oleh karenanya, biasa dipandang sebagai orificemeter
dengan bukaan/celah beragam, dan rumus yang diturunkan untuk
orificemeter atau venturimeter tetap berlaku dengan hanya sedikit
perubahan.

210
Baik pada orificemeter maupun rotameter penurunan tekanan timbul
karena konversi energi tekanan menjadi energi kinetik (ingat
persamaan Bernoulli) dan rugi-rugi gesekan yang diperhitungkan
dalam koefisien discharge (CD).

Gambar 145. Gaya-gaya yang bekerja pada apungan

Analisis Analisis alirannya demikian. Informasi yang ingin dicari adalah


aliran ungkapan untuk menghitung debit aliran di posisi 2. Berdasarkan
persamaan Bernoulli, pada posisi 1 dan 2 (Gambar 145) berlaku
hubungan:
p1  12 V12  gh1  p 2  12 V22  gh2
atau:
 p1  p 2 
V22  V12  2  2  h1  h2 

Suku 2(h1 – h2 ) bernilai negatif. Jika pengaruh suku ini diabaikan
maka akibatnya prediksi V2 dari persamaan tersebut akan lebih besar
dari seharusnya. Namun, keuntungannya adalah diperolehnya
ungkapan yang lebih sederhana:

V22  V12  2
 p1  p2 

Hubungan V1 dengan V2 bisa diperoleh dari persamaan kontinuitas:
V1 A1  V2 A2
dengan A1 penampang tabung dan A2 penampang annulus (luasan di
antara tabung dan apungan), atau:
A2
V1  V 2
A1

211
sehingga ungkapan untuk V2 menjadi:

 p  p2 
2
A 
V  V  2   2 1
2 2
2
 A1 
2

atau:

V2 
1  p  p2 
2 1
1   A2 A1  
2

Selanjutnya kita manfaatkan hubungan gaya-gaya yang bekerja pada


apungan:

F y  Fapung  Fberat  Ftekan  Ftekan


ke atas ke bawah
 Fdrag  0

atau:
V f g   f V f g  p1 A1  p 2 A2  Fdrag  0

dengan f adalah densitas apungan, dan Vf adalah volume apungan.


Selanjutnya anggaplah A1 = A2 = Af yaitu luasan proyeksi apungan
searah aliran. Dari sini diperoleh ungkapan untuk penurunan tekanan
menjadi:

p1  p2   f   
Vf Fdrag
g
Af Af
Untuk mudahnya pengaruh Fdrag diabaikan, walaupun dengan akibat
prediksi nilai p1 – p2 menjadi lebih besar dari seharusnya, sehingga:
p1  p2  V
  f  1 f g
    Af
Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan kecepatan V2
menghasilkan:

1  V
V2  2 f  1 f g
1   A2 A1   
2
 Af
Ungkapan ini, karena pengabaian-pengabaian yang dilakukan
sewaktu penurunannya, akan memberikan nilai V2 yang lebih besar
dari yang seharusnya. Oleh karena itu, ungkapan debit aliran yang
diperoleh dari perkalian V2 .A2 perlu dikoreksi dengan sebuah faktor
menjadi:

CD A2  V
Q  CDV2 A2  2 f  1 f g
1   A2 A1   
2
 Af
dengan CD adalah koefisien hambat aliran dari apungan yang
tergantung pada:
1) bentuk apungan, dan
2) bilangan Reynolds (dihitung berdasarkan kecepatan aliran di

212
annulus dan diameter hidrolik rerata anulus).
Secara umum, apungan yang memberikan koefisien hambat hampir
konstan adalah yang bentuknya menimbulkan arus olakan dan
memberikan nilai CD yang rendah.
Koefisien apungan CD yang konstan timbul karena turbulensi, dan
karena alasan ini koefisien praktis tidak tergantung pada viskositas
fluida. Alat bisa dibuat relatif tidak peka erhadap perubahan densitas
fluida dengan memilih densitas apungan f. Jika densitas apungan
dua kali densitas fluida, maka posisi apungan tidak tergantung pada
densitas fluida.
Pemasangan Rotameter harus dipasang vertikal (dengan tabung-aliran tegak lurus
terhadap lantai) karena bekerja atas dasar gravitasi. Rentang
pengukuran rotameter bisa ditingkatkan dengan mengatur densitas
apungan. Untuk tekanan tinggi, tabung gelas diganti dengan tabung
logam. Jika tabung metal digunakan atau jika cairannya sangat gelap
atau kotor, untuk pembacaan diperlukan indikator eksternal.
Kelebihan rotameter adalah pembacaan visualnya yang langsung,
skalanya hampir linier, dan kerugian head konstan (dan kecil).
Rotameter tidak harus di pasang pada jalur pipa yang lurus di hulu
dan hilirnya.

Gambar 146. Macam-macam geometri apungan

213
MODUL XI.
ALIRAN DALAM SALURAN TERBUKA

Deskripsi
Saluran terbuka mewakili sungai dan kali alami serta kanal buatan manusia.
Aliran dalam saluran terbuka terjadi akibat gaya gravitasi karena perbedaan
ketinggian muka fluida di hulu dan hilir. Dengan demikian, fokus bahasan modul
ini adalah menentukan kecepatan aliran akibat beda ketinggian hulu-hilir.
Sasaran belajar:
10. Membedakan saluran terbuka dari saluran tertutup
11. Mendefinisikan radius hidrolik
12. Menggolongkan sifat aliran fluia dalam saluran terbuka
13. Menghitung kecepatan aliran fluida dalam saluran terbuka

Aliran Aliran saluran terbuka adalah aliran fluida cair dalam saluran dengan
Saluran permukaan bebas. Aliran ini pada praktiknya dijumpai pada kanal,
Terbuka
selokan, kali, sungai, dlsb.
Aliran dalam saluran terbuka didominasi oleh pengaruh gravitasi. Di
sini tidak ada pengaruh gradien tekanan, sebagaimana dijumpai pada
saluran dalam saluran tertutup, karena fluida di sepanjang saluran
kontak dengan atmosfir. Keberadaan permukaan bebas, yang
tekanannya di mana-mana atmosferik, membuat analisis menjadi
lebih ringan sekaligus lebih berat. Lebih ringan karena tidak adanya
gradien tekanan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja tinggal
gravitasi dan gesekan. Lebih berat karena bentuk permukaan bebas
tidak bisa diketahui di depan, sehingga profil kedalaman menjadi
persoalan tambahan yang harus diselesaikan, khususnya dalam
persoalan yang melibatkan gerakan gelombang.
Karena kerumitan persoalan aliran dalam saluran terbuka, maka
tinjauan dalam modul ini hanya akan bersifat pengenalan saja.
Pendekatan Fluida dalam saluran terbuka kontak dengan dinding dasar dan
1-dimensi pinggir saluran di mana berlaku keadaan nir-gelincir (no-slip
condition). Dengan demikian, aliran ke satu arah dalam saluran lurus
akan memiliki distribusi kecepatan tiga-dimensi. Distribusi kecepatan
aliran pada bidang irisan melintang saluran tidaklah sederhana.
Secara teknik biasa diambil pendekatan sangat sederhana dengan
menganggap aliran bersifat satu-dimensi dengan kecepatan v(x) pada
tiap luasan tampang lintang A(x) pada posisi x sepanjang saluran.
Karena densitas praktis konstan, maka berdasarkan persamaan
kontinuitas, debit aliran Q juga konstan sepanjang saluran
Q = v(x).A(x) = konstanta
Untuk aliran steady, persamaan Bernoulli juga bisa diterapkan di sini
dengan serta memperhitungkan efek gesekan. Antara titik 1 di hulu

214
dan 2 di hilir berlaku persamaan:
p1  12 v12  gh1  p 2  12 v 22  gh2  ghL
Jika kedua titik ada di permukaan bebas, maka tekanan keduanya
sama sehingga persamaan menjadi:
1
2 v12  gh1  12 v 22  gh2  ghL
Kerugian head gesekan hL
L v2
hL  f
Dh 2 g
sangat mirip dengan pada aliran steady dalam saluran tertutup dan
cukup bisa dikorelasikan dengan rumus Moody untuk aliran turbulen
dengan permukaan kasar:
1   Dh 2,51 
 2,0 log   
f 12
 3,7 Re f 1 2 
Bilangan Reynolds Re dievaluasi dengan menggunakan diameter
hidrolik Dh yang besarnya sama dengan 4A/P, dengan A adalah luas
penampang saluran dan P keliling basah saluran.
Pada kebanyakan analisis saluran terbuka, alih-alih diameter hidrolik
Dh digunakan radius hidrolik Rh yang besarnya sama dengan ¼ Dh
A
Rh  14 Dh 
P
Kelilih basah P hanya memperhitungkan panjang dinding saluran
pada penampang lintang saluran yang kontak dengan fluida,
sedangkan panjang permukaan bebasnya tidak diperhitungkan. Jadi,
pada saluran terbuka persegi selebar b dengan kedalaman air h:
A  bh
P  b  2h  bukan : 2b  2h
Aliran saluran terbuka biasanya turbulen karena dimensi fisik saluran
yang biasanya besar (dibandingkan pada pipa) dengan air
berviskositas kecil di dalamnya. Aliran laminer paling-paling
dijumpai pada aliran selapis tipis air di permukaan jalan dan landasan
pesawat terbang.

A. Klasifikasi Aliran
Klasifikasi Metode klasifikasi aliran saluran terbuka yang paling lazim adalah
aliran - berdasarkan laju perubahan kedalaman permukaan bebas. Kasus
berdasarkan
kedalaman
paling sederhana dan paling luas dianalisis adalah aliran seragam,
yaitu aliran steady dengan kedalaman fluida (berarti juga kecepatan
alirannya) konstan.
Keadaan aliran seragam dihampiri sebagai saluran lurus panjang

215
berluas penampang konstan dan slope (kemiringan) konstan. Saluran
dalam aliran seragam disebut bekerja pada kedalaman normal yn ,
sebuah parameter desain yang penting.
Jika kemiringan atau penampang lintang saluran berubah atau
terdapat penghalang dalam aliran, kedalaman akan berubah dan aliran
dikatakan beragam. Aliran dikatakan beragam perlahan jika
pendekatan satu-dimensi sahih, dan jika tidak maka aliran dikatakan
beragam cepat.
Dari sini maka klasifikasi aliran bisa dirangkum sbb:
1) Aliran seragam (kedalaman & kemiringan konstan
2) Aliran beragam
a) Beragam perlahan (satu dimensi)
b) Beragam cepat (multidimensi)
Biasanya peralihan dari aliran seragam menjadi aliran beragam cepat,
atau sebaliknya, diperantarai oleh daerah aliran beragam perlahan.
Aliran beragam perlahan bisa dianalisis dengan persamaan diferensial
orde-1, tetapi aliran beragam cepat biasanya membutuhkan
eksperimen atau teori potensial 3-D.
Klasifikasi Klasifikasi kedua berdasarkan bilangan tak berdimensi Froude Fr.
aliran – Untuk saluran segiempat atau saluran yang sangat lebar:
berdasarkan
bil. Froude v
Fr 
gy
dengan y adalah kedalaman fluida. Berdasarkan bilangan ini aliran
dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1) Aliran subkritis, jika Fr < 1,0
2) Aliran kritis, jika Fr = 1,0
3) Aliran superkritis, jika Fr > 1,0
Pengelompokkan seperti ini mirip dengan pada fenomena aliran gas
kompresibel. Pada aliran gas, klasifikasi dilakukan berdasarkan
bilangan Mach dikelompokkan menjadi aliran subsonik, sonik dan
supersonik. Bilangan Mach sendiri merupakan perbandingan antara
kecepatan aliran dan kecepatan rambat gelombang dalam gas
(= kecepatan suara).
Dengan analogi ini maka, Fr bisa ditafsirkan sebagai perbandingan
kecepatan aliran fluida dan kecepatan rambat gelombang permukaan
pada fluida.
1) Pada aliran kritis, kecepatan aliran tepat sama dengan
kecepatan perambatan gelombang permukaan.
2) Pada aliran subkritis, fluida mengalir lebih lambat daripada
kecepatan perambatan gelombang permukaan. Secara fisik,
aliran fluida di permukaan tampak tenang.
3) Pada aliran superkritis, fluida mengalir lebih cepat daripada

216
kecepatan perambatan gelombang permukaan. Secara fisik,
aliran fluida di permukaan tampak deras. Jika aliran fluida di
hilirnya subkritis, maka aliran akan terhambat sehingga fluida
membukit. Fenomena ini disebut sebagai lompatan hidrolik
(hydraulic jump).

Gelombang permukaan

c y y+ y c-v

CV Bergerak

Dasar saluran

Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan

Analogi Fr Sesungguhnya bilangan Froude memang analog dengan bilangan


dan Ma Mach. Uraian penjelasannya adalah sbb. Bayangkan fluida dalam
kanal selebar b. Di permukaan, gelombang setinggi  y merambat
dengan kecepatan tetap c ke arah fluida diam (dari kanan ke kiri).
Gelombang permukaan akan mengimbaskan aliran massa fluida
sebesar  v ke arah fluida diam.
Fenomena ini lebih mudah dianalisis dengan mengambil CV
bergerak mengikuti gelombang (Gambar 147). Dengan demikian
aliran menjadi steady.
Neraca massa pada CV adalah:

 dV    v  ndA  0
t  
0 , steady

  v  ndA kiri
   v  n dA
kanan
0

 c  by   c  v   b y  y   0  1
b

 cy  c  v  y  y   0

 cy  cy  cy  v y  y   0
  
0

217
sehingga:
y
v  c
y  y
Neraca energi pada CV adalah:

 edV   ev  n dA  Q W


   
t 0, tdk . ada
0, steady

 ev  ndA kiri


  ev  n dA
kanan
0

Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan &


penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan
Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka
persamaan Bernoulli tinggal menjadi:
1
2 c 2  gy  12  c  v2  g  y  y 
1
2 c 2  gy  12 c 2  cv  12 v 2  gy  gy

cv  12 v 2  gy

Penyulihan  v dari neraca massa memberikan:


2
y  y 
cc  12  c   gy
y  y  y  y 
y  1 y 
c2 1    gy
y  y  2 y  y 
y  y
c2  g
 1 y 
1  2 
 y  y 
Jika usikan gelombang jauh lebih kecil dari kedalaman ( y << y)
maka:
c 2  gy
atau:
c  gy
Jadi akar kuadrat dari gy tidak lain adalah kecepatan penjalaran
gelombang permukaan.

B. Aliran Seragam
Aliran Aliran saluran terbuka seragam adalah aliran dengan kedalaman
seragam fluida dan penampang lintang saluran yang tetap. Jika aliran
diketahui, kedalaman fluida bisa dihitung. Jika kedalaman maksimum

218
yang diijinkan diketahui, aliran maksimum bisa dihitung.

Gambar 148. Saluran terbuka

Persamaan Dalam aliran seragam kedalaman air tetap sebesar kedalaman


Chezy normalnya yn dan kecepatan konstan di sepanjang saluran.
Persamaan Bernoulli pada saluran dengan kemiringan (slope)
S = tan() dari hulu 1 ke hilir 2 dengan demikian menjadi:
gh1  gh2  ghL
atau:
h1  h2  hL
L v2
SL  f dengan Dh  4 Rh
Dh 2 g
atau:
12
 8g 
v    Rh S 1 2
 f 
Untuk bentuk dan kekasaran dasar saluran tertentu, nilai (8g/f)1/2
adalah konstan C. Dengan demikian maka persamaan kecepatan (dan
debit) menjadi:
v  C Rh S 
12

Q  vA
Inilah rumus Chezy yang dikembangkan pertama kalinya oleh
insinyur Perancis Antoine Chezy. Konstanta C disebut koefisien

219
Chezy yang nilainya beragam dari sekitar 30 m1/2 /s untuk saluran
kecil kasar sampai 90 m1/2 /s untuk saluran besar halus.
Persamaan Pada dasarnya, kerugian gesekan dalam aliran saluran seragam tidak
Manning begitu berbeda dari aliran pipa turbulen berkembang penuh dengan
koefisien gesekan:
 
 
1
  2, 0 log   Dh  2,51 
f 12  3,7 Re f 1 2 
    
 kecil sekali 

Saluran terbuka biasanya kasar dan bilangan Reynolds-nya melebihi


106 sehingga suku yang mengandung pembagian dengan Re bisa
diabaikan:
1   Dh 
 2,0 log 
f 12  3,7 
Persamaan ini bisa dicocokkan dengan ungkapan pendekatan yang
lebih sederhana berupa fungsi pemangkatan (bukan log) sbb:
13 13
     
f  0,18   0,113 
 Dh   Rh 
Jika faktor gesekan ini disulihkan ke dalam besaran C = (8g/f)1/2
dalam persamaan Chezy, maka:
12
 8g 
C
16
13 
Rh
 0,113 
Jika nilai ini disulihkan ke dalam persamaan Chezy maka diperoleh:
v  C Rh S 
12

12
 8g 
 Rh Rh S 
16 12
13 
0,113
  
tertentu

karena g konstan dan  bergantung hanya pada sifat fisik saluran,


maka persamaan bisa dinyatakan ringkas, untuk sistem metrik,
menjadi:
1 23
v Rh S
n
Inilah persamaan Manning dalam sistem metrik. Koefisien kekasaran
Manning n telah dipilih tak berdimensi dan sama nilainya untuk
sistem metrik maupun Inggris. Akibatnya, jika digunakan sistem
satuan Inggris, persamaan disesuaikan dengan faktor sebesar 1,49.
Faktor ini bisa dipahami melalui pemahaman dimensi berikut:

220
1
12 1 2  1 1
 8g  Lt  1 
 3  2 1
Dimensi  13 
adalah 1 3 L t  L1 3t 1
 0,113  L
Di sini dimensi waktu sama-sama bersatuan detik dalam sistem
metrik dan Inggris, tetapi dimensi panjang berbeda. Oleh karena itu,
faktor koreksinya adalah konversi panjang dari m ke ft dipangkatkan
1/3:

m1 3 s 1 3,2808 ft s 1 1,49 ft1 3 s 1


12
 8g 
13

 0,113 1 3    
  n n n
Dengan demikian, untuk sistem Inggris persamaan Manning menjadi:
1,49 2 3
v Rh S
n
Dalam persamaan ini,
 Rh adalah radius hidrolik, yaitu perbandingan antara luas
penampang aliran A dan keliling basah kanal P.
 S adalah kemiringan dasar kanal (ft/ft atau m/m).
 n adalah koefisien kekasaran Manning (n = 0,015 untuk
beton, n = 0,03 untuk kanal alami bersih, dan n = 0,01 untuk
kaca).
Debit aliran adalah hasilkali v dan luas penampang saluran A:
Q  vA
Catatan Selain persamaan Manning, sesungguhnya ada banyak persamaan
serupa lainnya, tetapi persamaan Manning adalah yang paling
populer. Walaupun begitu, hasil prediksinya tidak bagus untuk
saluran yang dalam-halus dan saluran dangkal-kasar. Dalam kasus
ini, sebaiknya dipilih rumusan faktor friksi.
Nilai koefisien Manning bisa berubah bergantung kedalaman air,
pertumbuhan vegetasi musiman, dan faktor lain semisal erosi dasar
saluran.
Contoh Kanal beton terbuka persegi panjang (n = 0,015) dirancang untuk
membawa aliran sebesar 2,28 m3 /s. Kemiringan kanal (slope, S)
adalah 0,006 m/m (beda ketinggian 6 m tiap jarak sejauh 1000 m).
Lebar kanal adalah 2 meter. Tentukan kedalaman normal yang terjadi
pada kanal ini.
Pertama, menghitung radius hidrolik R:
A 2 yn
R 
P 2  2 yn
Kemudian, menggunakan persamaan Manning:

221
1 23
v Rh S
n
1 2
Q  Av  A Rh 3 S
n
2
1  2 yn 3
2,28  2 y n   0,006
0,015  2  2 y n 
Hasilnya:
yn = 0,47m
Contoh Banjir bisa terjadi jika air meluap dari tepi kanal. Berapakah aliran
yang diijinkan dalam kanal beton bergeometri trapesium dengan
gambaran sebagai berikut:
Lebar dasar, b = 35 ft
Kedalaman normal, yn = 25 ft
Kemiringan dinding tepi kanal terhadap bidang datar,  = 20o
Kemiringan kanal (slope), S = 0,001 ft/ft
Karena dinding kanal terbuat dari beton, maka n = 0,015. Kemudian,
radius hidrolik Rh , berdasarkan geometri, bisa ditentukan
menggunakan hubungan berikut:
A y n b  y n cot 
Rh  
P y
b2 n
sin  
atau:
2535  25 cot20  2592
Rh    14 ,3 ft
25 181,2
35  2
sin 20 
Dari sini debit aliran bisa dihitung dengan rumus Manning dalam
sistem Inggris:
1,49 2 3
v Rh S
n
1,49 2 3
Q  Av  A Rh S
n
1,49
14,3 3 0,0003
2
 2592
0,015
ft3
 26,27
s
Kesimpulannya, aliran maksimum yang diijinkan = 26,27 cfs
Contoh Berapa laju aliran dalam kanal ragam dinding pada Gambar 149?
Untuk menyelesaikan persoalan aliran dalam kanal seperti ini, tiap

222
bagian beda kanal diperlakukan terpisah. Nilai A, R, P dan Q
ditentukan untuk tiap penampang bagian dengan koefisien kekasaran
berbeda.
Penampang berumput:
Penampang berumput ada 2, yaitu di sisi kiri dan kanan kanal. Debit
aliran pada tiap penampang bisa ditentukan sebagai berikut:
A 5  3 15 ft 2
Rh     1,88 ft
P 5  3 8 ft
sehingga:
1,49 2 3
QA Rh S
n
1,49
1,88 3 0,005
2
 15
0,03
ft3
 80,24
s
Jadi debit aliran pada kedua bagian saluran berumput adalah:
ft 3
Qberumput  2  80 ,24  160 ,48 cfs
s
Penampang Beton:

Rh 
A

5  6  30 ft 2  2,72 ft
P 5  3  3 11 ft
sehingga:
1,49 2 3
Qbeton  A Rh S
n
1,49
2,72 3 0,005
2
 30
0,015
ft 3
 410,6
s
Dengan demikian maka debit pada seluruh kanal adalah:
Qtotal = 410,6 + 160,48 = 571 cfs

223
5’ 5’ 5’

S=0,005ft/ft
3’
Rumput Rumput
n = 0,3 n = 0,3
3’
Beton
n = 0,015
Gambar 149. Saluran terbuka ragam dinding

CV

v1 y1 y2 v2

Gambar 150. Lompatan hidrolik

C. Lompatan Hidrolik
Teori Lompatan hidrolik (Gambar 150) terjadi dalam aliran yang
lompatan superkritis, yaitu saat fluida mengalir lebih cepat daripada kecepatan
hidrolik
perambatan gelombang permukaan. Berikut ini akan ditinjau teori
lompatan hidrolik (hydraulic jump) paling sederhana, di mana
lompatan dianggap terjadi pada bidang datar. Katakanlah lebar kanal
adalah b.
Neraca massa pada CV adalah:

 dV    v  n dA  0

  
t
0 , steady

  v  ndA kiri
   v  n dA
kanan
0

 v1 y1b  v2 y 2 b  0


atau:
v2 y 2  v1 y1
Neraca energi pada CV adalah:

 edV   ev  n dA  Q W


   
t 0, tdk . ada
0, steady

224
 ev  ndA kiri
  ev  n dA
kanan
0

Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan &


penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan
Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka
persamaan Bernoulli tinggal menjadi:
u1  12 v12  gy1  u 2  12 v 22  gy2
Kerugian head yang terjadi diredam menjadi kenaikan energi internal
sehingga:
 v12  v22 
ghrugi  u 2  u1   g   y1  y2 
 2g 
v12  v 22
hrugi   y1  y2
2g
Berdasarkan hasil analisis neraca massa maka:
v12  y2 
hrugi  1  12   y1  y2
2g  y2 
Neraca momentum pada CV adalah:

 vdV   vv  ndA   F
t  
0 , steady

 v1v1by1  v 2 v 2 by 2  g 12 y1by1  g 12 y 2 by 2

 v1 y1  v2 y2  g 12 y1  y2
2 2
 2 2

2 
 
2
v
v1   y1  2 2 y 2   g 12 y1  y 2
2 2

 v1 
Berdasarkan hasil analisis neraca massa, perbandingan v bisa diganti
dengan perbandingan y sehingga:
v1
2


1 y1
2
 y2
2
 

1 y 2 y1  y 2
2


2
1 y2 
 y1  y 2 
2g 4 y1
2
4 y1  y1  y 2  4 y1
 y1  2
y2
y2
Hasil ini bisa digunakan ke dalam persamaan head rugi:

225
v12  y12 
hrugi  1  2   y1  y2
2 g  y2 
1 y2  y12 
  y1  y 2 1  2   y1  y2

4 y1  y2 


1
4 y1 y 2

y1 y 22  y 23  y13  y12 y 2  4 y12 y 2  4 y1 y 22 

1
y 23  y13  3 y12 y 2  3 y1 y 22
4 y1 y 2       3    


  y 2  y1

Jadi rugi dissipasi lompatan hidrolik adalah:

hrugi 
 y 2  y1 
3

4 y1 y 2
Dari sini tampak bahwa kerugian disipasi terjadi hanya jika y2 > y1 ,
artinya lompatan hidrolik terjadi hanya jika aliran di hulu superkritis.

Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1)

226
Gambar 152. Aliran deras (Fr>1,0)

Klasifikasi Parameter utama yang mempengaruhi lompatan hidrolik adalah


lompatan
hidrolik  
bilangan Froude, Fr  v1  gy1 1 2 , aliran hulu. Bilangan Reynolds
dan geometri saluran hanya memberikan pengaruh sekunder. Dalam
aliran tenang (Gambar 151), dicirikan oleh Fr < 1, tidak mungkin
terjadi lompatan hidrolik. Dalam aliran deras (Gambar 152) bisa
terjadi lompatan hidrolik dengan ciri-ciri yang berbeda sesuai nilai
Fr. Berikut adalah salah satu cara klasifikasi lompatan hidrolik:
1) Pada Fr = 1,0 sampai 1,7 terjadi lompatan berayun dengan
gelombang-diam sepanjang kira-kira 4y2 ; disipasi energinya
rendah (< 5%).
2) Pada Fr = 1,7 sampai 2,5 terjadi lompatan lemah dengan
permukaan naik secara halus dengan gulungan kecil
gelombang; disipasi energinya 5 sampai 10%.
3) Pada Fr = 2,5 sampai 4,5 terjadi lompatan berosilasi tak
stabil; tiap lendutan tak teratur menghasilkan gelombang
besar yang bisa menjalar ke hilir bermil-mil jauhnya, merusak
tanah pinggir saluran dan struktur lainnya. Disipasi energinya
15 sampai 45%, dan kondisi ini tidak dianjurkan untuk desain.
4) Pada Fr = 4,5 sampai 9,0 terjadi lompatan steady, seimbang
baik dan stabil; dipandang sebagai keadaan terbaik untuk
desain dengan disipasi energi 45 sampai 70%.
5) Pada Fr > 9,0 terjadi lompatan kuat yang agak terputus-putus,
tetapi kinerjanya baik dengan disipasi energi 70 sampai 85%.

227
b h
H
dh

Gambar 153. Notch berbentuk sembarang

D. Pengukuran Aliran
Pengukuran Notch adalah bukaan pada sisi tangki atau tandon pengukuran yang
aliran merentang ke atas sampai permukaan bebas (free surface). Weir
adalah notch pada skala besar, yang digunakan misalnya untuk
mengukur aliran sebuah sungai, dan tepinya dibuat tajam (tipis) atau
memiliki lebar sepanjang arah aliran.
Metode untuk menentukan aliran teoritik melalui notch sama dengan
yang diadopsi untuk orifice besar.
Untuk notch berbentuk sembarang (Gambar 153), dengan pita selebar
b setebal dh pada kedalaman h di bawah permukaan bebas.
Luas pita, dA  b.dh
Kecepatan melalui pita, V  2 gh

Aliran melalui pita, dQ  V .dA  2gh  b  dh


Integrasi aliran dari h = 0 di permukaan bebas sampai h = H di dasar
notch memberikan aliran teoritis total:
h H h H
Q   dQ   2 gh.b.dh  2 g  h .b.dh
h 0 h 0

Untuk integrasi persamaan ini diperlukan pengetahuan ungkapan b


sebagai fungsi h.
Notch Untuk notch persegi dengan lebar b konstan sebesar B, ungkapan
persegi debitnya adalah:
h H
Q  2g B 
h 0
h .dh  2 g B 23 H 3 2

228
b h

 H

Gambar 154. Notch-V

Notch-V Untuk notch-V dengan sudut  (Gambar 154),


  1
b
tan   2
 2 H h
atau:
b  2H  h  tan 12  
sehingga ungkapan debit alirannya menjadi:
h H h H
Q  2g  h .b.dh  2 g 2 tan  
1
2  H  h  h .dh
h 0 h 0

atau:
h H
2 
Q  2 2 g tan   Hh3 2  h 5 2 
1
2
2
3 5  h 0
atau

2 g tan 12  H 5 2
8
Q
15
Dari sini jelas bahwa bentuk hubungan Q dan H yang diinginkan bisa
diatur dengan memilih bentuk notch yang sesuai.
Seperti halnya pada orifice, aliran aktual melalui notch atau weir bisa
ditentukan dengan mengalikan aliran teoritik dengan koefisien aliran
(discharge coefficient) untuk memperhitungkan kerugian energi dan
kontraksi penampang lintang aliran pada dasar dan sisi notch atau
weir.
Kecepatan aliran cairan menghampiri notch bisa dianggap sangat
kecil sehingga energi kinetiknya bisa diabaikan; selain itu bisa juga
diambil anggapan bahwa kecepatan melalui elemen horizontal pada
notch hanya tergantung pada kedalamannya di bawah permukaan
bebas.
Kedua anggapan ini memuaskan untuk aliran pada notch atau weir di
tepi tandon yang besar. Namun bila notch atau weir ditempatkan pada
tepi kanal sempit, kecepatan hampiran pada weir akan cukup berarti

229
dan head h yang menghasilkan aliran akan meningkat akibat energi
kinetik cairan yang menghampirinya pada nilai:
V12
x h
2g
dengan v 1 adalah kecepatan aliran pada kanal hampiran. Nilai v 1
diperoleh dari pembagian aliran dengan luas total penampang kanal
itu sendiri (bukan luas notch). Hasilnya, aliran melalui strip menjadi:
dQ  2gx.b.dh

½

Gambar 155. Notch trapesium

Notch Persamaan untuk aliran melalui notch trapesium (Gambar 155)


Trapesium diperoleh dari persamaan untuk notch persegi dan V, yaitu:
Qtrapesium  Q persegi  QV

dengan:
Qpersegi  2 g B 23 H 3 2

2 g tan 2H 5 2
8
QV 
15

230
MODUL XII.
ALIRAN EKSTERNAL

Deskripsi
Seperti tergambar dari sebutannya, aliran eksternal mewakili fenomena aliran
yang terjadi di sekitar suatu benda apapun. Dalam geraknya relatif terhadap fluida,
suatu benda akan mengalami gaya hambat dan gaya angkat. Modul ini mengulas
cara menentukan besarnya kedua gaya tersebut.
Sasaran belajar:
14. Membedakan aliran eksternal dari aliran internal
15. Menghitung besar dan menentukan arah gaya hambat dan gaya angkat
yang dialami suatu benda dalam pergerakannya di dalam fluida.

A. Aliran Eksternal vs. Internal


Aliran Pada modul-modul sebelumnya pembahasan terbatas pada aliran
eksternal vs. fluida yang melalui saluran berupa dinding padat. Saluran dikatakan
internal
tertutup jika aliran dibatasi sepenuhnya oleh permukaan dinding
padat, dan saluran dikatakan terbuka jika aliran dibatasi sebagian
oleh permukaan dinding padat dan sisanya terbuka atau kontak
dengan atmosfir. Semua aliran yang terjadi di sini dikatakan aliran
internal. Aliran internal digerakkan terutama oleh perbedaan tekanan
atau oleh perbedaan ketinggian.
Modul ini akan membahas aliran eksternal, yaitu aliran yang terjadi
di luar atau di sekitar benda yang terendam dalam fluida (Gambar
156). Aliran semacam ini terjadi, misalnya, di sekitar pesawat
terbang, kendaraan darat, kendaraan air, bangunan, dll. Akibat aliran
di sekitarnya, benda akan mengalami dua macam gaya, yaitu gaya
hambat (drag force) searah aliran, dan gaya angkat (lift force)
tegaklurus arah aliran.
Penerapan Pemahaman tentang aliran eksternal memungkinkan analisis gaya
hambat dan angkat pada benda. Ini diperlukan misalnya dalam
mendesain aspek aerodinamik turbin angin, pesawat terbang, mobil,
dlsb; atau aspek hidrodinamik kapal laut, kapal selam dan kendaraan
air lainnya, aliran di luar pipa pendingin kondenser, dll.

231
Gambar 156. Aliran eksternal

B. Gaya Hambat & Angkat


Gaya hambat Analisis aliran bisa dilakukan dengan menempatkan sistem koordinat
dan angkat pada benda. Analisis ini diperlukan untuk memperkirakan besarnya
gaya hambat dan angkat yang bekerja pada benda. Analisis analitik
hanya bisa dilakukan pada persoalan yang sangat disederhanakan.
Dalam praktiknya, analisis aliran di sekitar benda, terlebih lagi yang
memiliki geometri rumit, sangat mengandalkan korelasi empirik yang
diturunkan dari data eksperimen.
Sebuah benda yang terndam dalam aliran fluida akan mengalami
gaya-gaya tekan dan geser viskos. Untuk aliran 2D, resultan gaya-
gaya ini bisa diurai menjadi dua komponen: gaya angkat (lift force)
dan gaya hambat (drag force). Besarnya gaya angkat FL dan gaya
hambat FD ini bergantung pada: densitas fluida (), kecepatan aliran
bebas (V), ukuran/luas benda (A), serta bentuk dan orientasi benda
yang diwakili oleh koefisien gaya angkat CL dan koefisien gaya
hambat CD, yaitu:
FL  C L Fkinetik   C L 12 V2 A
FD  C D Fkinetik   C D 12 V2 A
Koefisien gaya angkat CL dan hambat CD ditentukan dari eksperimen
(menggunakan terowongan angin atau air) berdasarkan perbandingan
gaya-gaya tersebut dengan gaya kinetik:

232
 F  F
CL   L   1 L 2
 Fkinetik  2 V A
 F  F
C D   L   1 D2
 Fkinetik  2 V A
Koefisien gaya angkat CL dan hambat CD selain bergantung pada
geometri juga pada keadaan aliran sebagaimana tercermin dari
bilangan Reynoldsnya.
Ukuran luas geometri benda A ditentukan berdasarkan definisi yang
dibuat saat pengumpulan data dilakukan. Definisi A berbeda-beda
pada objek kajian yang berbeda sehingga perlu dicermati dengan baik
sebelum suatu korelasi digunakan. Misal,
 Pada silinder berdiameter D sepanjang L, A didefinisikan
sebagai luas tampak depan (frontal area) sebagaimana yang
dihadapi oleh aliran; jadi A = DL.
 Pada sayap pesawat, A bukan didefinisikan sebagai luas
tampak depan melainkan luas bentuk datar sayap (planform
area), yaitu hasilkali panjang tali busur (chord, c) airfoil dan
bentang sayap L; jadi A = cL.
Gaya Hambatan bentuk benda (profile drag) tersusun dari dua komponen,
hambat: yaitu hambatan gesekan (friction drag) akibat gesekan fluida di kulit
tekanan &
gesekan
permukaan benda, dan hambatan tekanan (pressure drag) akibat
perbedaan tekanan fluida di depan dan belakang benda.
Hambatan gesekan dan hambatan tekanan sangat bergantung pada
bentuk dan orientasi benda. Benda dengan permukaan yang lebih luas
akan mengalami gaya gesekan yang lebih besar. Hambatan tekanan
biasanya dominan untuk benda gemuk (blunt bodies) dan sangat kecil
untuk benda langsing (streamline). Besarnya hambatan tekanan
sebanding dengan perbedaan tekanan di depan dan belakang benda.

233
Gambar 157. Pemisahan aliran pada aerofoil

Pemisahan Pada kecepatan yang cukup tinggi, arus fluida bisa lepas dari
aliran permukaan benda sehingga terjadilah pemisahan aliran (flow
separation). Pemisahan aliran terjadi jika aliran dalam lapisan batas
tidak memiliki cukup energi kinetik untuk mengatasi kenaikan
tekanan arushilir. Untuk terjadinya pemisahan aliran diperlukan dua
syarat, yaitu:
 Gradien tekanan positif, (dp/dx) >0, dan
 Pemisahan aliran lapisan batas (boundary layer flow).
Pada aerofoil, jika sudut antara talibusur (chord) dan arus aliran lebih
besar dari nilai tertentu (beberapa belas derajat) maka terjadi
pemisahan aliran. Pemisahan aliran (Gambar 157) menyebabkan:
 Gaya angkat berkurang karena turunnya perbedaan tekanan di
bawah dan atas aerofoil, dan
 Gaya hambat bertambah karena naiknya perbedaan tekanan di
depan dan belakang aerofoil.
Dalam keadaan ini gaya angkat aerofoil anjlok, seakan kehilangan
gaya angkat. Peristiwa ini biasa disebut stall. Lihat Gambar 158.

234
Gambar 158. Efek pemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat
aerofoil

Ulasan Pengenalan konsep lapisan batas (1904) telah membawa kemajuan


lapisan batas signifikan dalam mekanika fluida. Konsep ini memungkinkan
pembagian medan aliran melalui dinding dalam dua daerah, yaitu:
 daerah lapisan batas (viskos), dan
 daerah invisid.
Lapisan batas yang terjadi di sekitar dinding permukaan datar tumbuh
makin tebal ke arus hilir. Pada bilangan Reynolds besar, gaya inersia
lebih besar daripada gaya viskos sehingga gaya viskos tidak bisa
mencegah fluktuasi fluida yang acak dan cepat. Akibatnya aliran
menjadi turbulen. Lihat Gambar 159.

Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen

235
Gambar 160. Kurva Cd bola dan silinder

Hambatan gesekan dinding jauh lebih besar dalam lapisan batas


turbulen, dibandingkan dalam lapisan batas laminer, karena gradien
kecepatannya lebih besar.
Pada saat yang sama, karena lebih tingginya kecepatan dalam daerah
dekat dinding, lapisan batas turbulen juga lebih mampu menahan
pemisahan aliran. Efek dari mundurnya lokasi pemisahan aliran
adalah lebih rendahnya hambatan tekanan. Ini tampak pada
penurunan mendadak nilai CD pada bilangan Reynolds ~5105 di
mana lapisan batas menjadi turbulen dan lokasi pemisahan aliran
mundur lebih ke belakang benda (Gambar 160). Di sini, ukuran wake
berkurang dan demikian pula hambatan tekanan.
Kenyataan ini bisa dan telah dimanfaatkan, misalnya, untuk menunda
terjadinya pemisahan aliran pada bola golf dengan cara membuat
cekungan-cekungan (dimples) di permukaannya. Efek dari
mundurnya lokasi pemisahan aliran adalah lebih rendahnya hambatan
tekanan, sehingga secara keseluruhan hambatan aliran bola golf
berkurang, dan bola golf bisa menjangkau jarak lebih jauh.
Contoh Suatu parasut dengan porositas rendah berdiameter 10m diameter
digunakan untuk menurunkan beban 100 kg. Berapakah kecepatan
jatuh terminal benda jika diketahui CD sebesar 1,2 dan densitas udara
1,2 kg/m3 .
Gaya-gaya yang bekerja pada kasus penjatuhan benda ini adalah gaya
berat dan gaya hambat. Pada saat awal mulai dilepas, parasut dan
benda bergerak dipercepat sampai saat keadaan terminal tercapai.
Setelah itu, karena gaya-gaya yang berkerja seimbang, percepatan
menjadi nol dan benda bergerak dengan kecepatan jatuh tetap
(disebut kecepatan terminal). Pada keadaan ini, neraca gaya arah-y
(arah jatuh):

236
d
mV   0   Fy
dt
FDrag  Fberat  0
atau:
CD 12 V jatuh
2
A  mg  0
atau:
mg
V jatuh 
C D 12 A
Jika dianggap massa parasut adalah 5 kg, maka:

V jatuh 
100  5kg.9,8m s 2   18,2  4,3m s 
1,2 12 1,2kg m 3  4 10m 
2

237
MODUL XIII.
KESERUPAAN & PEMODELAN

Deskripsi
Mekanika dikembangkan melalui pasangan metode teoritik dan eksperimental
yang keduanya saling melengkapi. Eksperimen yang berhasil memerlukan
perencanaan yang baik. Sebagai bagian penting dari perencanaan eksperimen
adalah analisis dimensional. Analisis dimensional memungkinkan reduksi jumlah
variabel berdimensi yang terlibat dalam eksperimen. Dengan demikian
eksperimen bisa dilaksanakan dengan jauh lebih efisien.
Sasaran belajar:
16. Menjelaskan pengertian dimensi, dimensi dasar, dimensi turunan, dan
sistem satuan
17. Menjelaskan kepentingan dan melakukan analisis dimensional
18. Membedakan keserupaan geometrik, kinematik, dinamik, dan keserupaan
total antara model dan prototip
19. Melakukan penskalaan dari model ke prototip

A. Dimensi
Dimensi Dimensi adalah ukuran kuantitas fisis semisal panjang, waktu,
massa. Satuan adalah pemberian angka pada suatu dimensi, misalnya
panjang dalam m, waktu dalam detik, dan massa dalam kg.
Dimensi ada 2 macam, yaitu:
1. Dimensi primer/dasar (fundamental)
2. Dimensi sekunder/turunan
Dimensi Dimensi dasar ada 7, yaitu:
dasar &
turunan 1. Massa m (kg)
2. Panjang L (m)
3. Waktu t (sec)
4. Suhu T (K)
5. Arus listrik I (A)
6. Jumlah cahaya C (cd)
7. Jumlah materi N (mol)
Ketujuh dimensi dasar ini bisa dikombinasikan untuk membentuk
semua dimensi turunan. Contoh:
 [Kecepatan] = [Panjang/Waktu] = [L/t]
 [Gaya] = [Massa Panjang/Waktu2 ] = [mL/t2 ]
Penentuan Dimensi yang dipandang dasar atau fundamental sebenarnya dipilih
dimensi begitu saja. Ilustrasinya demikian. Luas A adalah karakteristik yang
dasar
bisa diukur dari suatu objek, dan berarti luas adalah dimensi.

238
Dimensi luas = dimensi panjang dikuadratkan (A=L2 ).
Namun boleh juga dikatakan:
Dimensi panjang = dimensi luas diakarkuadratkan (L=A1/2 )
Jadi, tidak jelas mana dimensi yang lebih dasar daripada lainnya.
Walaupun demikian, sepintas tampak adanya hirarki kegunaan dalam
sehimpunan dimensi yang serupa. Oleh karena itu, sejumlah dimensi
sepakat dipilih begitu saja sebagai dimensi dasar, dan semua dimensi
yang terkait dengan dimensi dasar disebut sebagai dimensi turunan.
Dari sini bisa dipahami kenyataan bahwa kesepakatan tentang
dimensi dasar di dunia ini memang tidak hanya satu, tetapi lebih dari
satu. Ini bisa dilihat dari perbedaan dimensi dasar dalam dua sistem
satuan berikut:
 Sistem MLt – dengan massa sebagai dimensi dasar.
 Sistem FLt – dengan gaya sebagai dimensi dasar.
Satuan, dengan demikian, tidak lebih dari cara untuk mengangkakan
dimensi. Satuan memberikan skala angka yang bisa dipakai untuk
melakukan pengukuran kuantitas dalam suatu dimensi.
Skala angka satuan, berbeda dari dimensi, bersifat sembarang dan
tidak berurusan dengan hukum fisika. Gagasan tentang sistem satuan
lebih merupakan produk budaya atau peradaban silam yang beragam.
Jadi bisa dimengerti jika suatu dimensi memiliki beragamnya satuan
pengukuran. Akibatnya, makna suatu ukuran bergantung pada cara
bagaimana ia diperoleh, yaitu pada macam sistem pengangkaan yang
digunakan.

B. Nirdimensionalisasi
Nirdimensi- Persamaan fisika yang biasanya berdimensi bisa menjadi tak
onalisasi berdimensi jika setiap suku diskalakan dengan dimensi primer yang
terdapat dalam persamaan asalnya.
Dalam persoalan aliran fluida setidaknya ada 3 parameter penskala,
yaitu:
1. L,
2. V, dan
3. P0 - P,
sebab sedikitnya ada 3 dimensi primer dalam persoalan umum
(massa, panjang, dan waktu).
Keuntungan nirdimensionalisasi adalah:
1. Meningkatkan insight tentang parameter kunci.
2. Mengurangi jumlah parameter persoalan:
a. Lebih mudah dikomunikasikan,
b. Lebih sedikit eksperimen,
c. Lebih sedikit simulasi.

239
3. Memungkinkan ekstrapolasi hasil ke kondisi yang belum
diuji.
Nirdimensionalisasi bisa dilakukan jika persamaan atur suatu
fenomena sudah diketahui. Namun, dalam banyak persoalan aliran,
persamaan bisa tidak diketahui atau sulit diselesaikan:
1. Eksperimen satu-satunya cara untuk memperoleh informasi
andal.
2. Dalam kebanyakan eksperimen digunakan model skalaan
geometrik (untuk menghemat waktu & uang).
3. Keadaan dan hasil eksperimen harus diskalakan serawajar
sehingga hasilnya penuharti untuk prototip skala penuh.
Untuk itu perlu Analisis Dimensi.

C. Analisis Dimensi
Tujuan Tujuan utama analisis dimensi adalah:
1. Memperoleh parameter tak berdimensi yang membantu dalam
perancangan eksperimen (fisik dan/atau numerik) dan dalam
pelaporan hasil. Parameter tak berdimensi biasa ditandai oleh
lambang .
2. Memperoleh hukum penskalaan sehingga kinerja prototip bisa
diprediksi dari kinerja model.
3. Memperkirakan kecenderungan dalam hubungan antar-
parameter.
Butir-butir ini penting kaitannya dengan pemodelan, karena
eksperimen seringkali dilakukan pada skala model.
Teori Model Ada 3 syarat yang perlu dipenuhi agar terdapat
keserupaan (similarity) penuh antara sebuah model dan prototip.
1. Keserupaan Geometrik – bentuk model sama dengan
prototip. Setiap dimensi diskalakan dengan faktor yang sama.
2. Keserupaan Kinematik – kecepatan di tiap titik dalam
model sebanding dengan dalam prototip sebesar faktor skala
tetap.
3. Keserupaan Dinamik – semua gaya dalam model sebanding
dengan dalam prototip sebesar faktor skala tetap.
4. Keserupaan Total dicapai hanya jika semua 3 syarat di atas
terpenuhi. Ini tidak selalu mungkin diraih, misal: model kapal
& model sungai.
Keserupaan total, dengan kata lain, dipenuhi jika semua parameter
tak berdimensi  independen pada model dan prototipe bernilai
sama. Contoh parameter tak berdimensi  adalah bilangan Reynolds
Re, bilangan Froude Fr, koefisien Drag, CD, dll.
Contoh Tinjaulah eksperimen mobil. Pada kasus ini, yang penting untuk
diperoleh adalah gambaran gaya hambat aerodinamik yang dialami
mobil saat melaju. Secara umum, besarnya hambatan bisa dipikirkan

240
akan merupakan fungsi dari kecepatan udara relatif terhadap mobil,
sifat udara (densitas dan viskositas) serta dimensi mobil.
• Gaya hambat F = f(V,  , L)
• Melalui analisis dimensi, persoalan yang asalnya melibatkan
5 parameter berdimensi bisa direduksi menjadi hanya
melibatkan 2 parameter tak berdimensi 1  f  2  atau
C D  f Re .
Eksperimen biasanya dilakukan dalam skala model (Gambar 161).
Jika dari eksperimen dengan model mobil telah diperoleh hubungan
CD dan Re, maka hambatan aerodinamik dari prototipe pada Re yang
sama bisa diperkirakan sbb:
C D ,prototip  C D ,m odel
FD , p FD ,m

 pV L2 2
p p  mVm2 L2m
  p  V p 
2 2
 Lp 
FD , p  FD ,m     

 m  Vm   Lm 

Gambar 161. Model dan prototipe mobil

Teori Model Parameters tak berdimensi  bisa diperoleh dengan sejumlah metode,
Buckingham salahsatunya adalah Metode Pengulangan Variabel.
Metode ini dipopulerkan oleh Edgar Buckingham (1867–1940) &
pertama dipublikasikan oleh ilmuwan Rusia Dimitri Riabouchinsky
(1882–1962) pada tahun 1911.
Enam langkah:
1. Kenali parameter dlm masalah dan hitung jumlahnya n.
2. Daftarkan dimensi dasar tiap parameter.

241
3. Tentukan banyaknya dimensi dasar yang terlibat j. Gunakan j
sebagai taksiran reduksi #parameter. Hitung k yaitu
#parameter tak berdimensi , k = n - j.
4. Pilih j parameter pengulangan.
5. Susun  sebanyak k, dan otak-atik seperlunya.
6. Tulis hubungan fungsional akhir dan periksa aljabarnya.
Berikut adalah pedoman pemilihan parameter pengulangan:
1. Parameter pengulangan yang dipilih harus mewakili SEMUA
dimensi dasar.
2. Kelompok Parameter pengulangan terpilih sebaiknya tidak
bisa dijadikan tak berdimensi di antara mereka sendiri. Jika
tidak,  sisanya tak bisa dibentuk.
3. Ambil parameter lazim karena bisa muncul pada tiap .
4. Ambil parameter sederhana daripada parameter rumit.
5. Jangan pernah pilih variabel dependen supaya tidak muncul
dalam semua .
6. Jangan pernah ambil parameter yang sudah tak berdimensi.
7. Jangan pernah ambil dua parameter dengan dimensi sama
atau berbeda hanya pada pangkatnya.
8. Pilih konstanta berdimensi daripada variabel berdimensi
sehingga hanya satu  yang mengandung variabel berdimensi
itu.
Keserupaan Keserupaan total, dalam praktiknya bisa sangat sulit untuk dicapai.
Tanlengkap Oleh karena itu, seringkali dilakukan eksperimen dengan model yang
tidak serupa sepenuhnya dengan prototipe.
Sebagai contoh, kesulitan ini dijumpai pada aliran dalam saluran
terbuka. Aliran dengan permukaan bebas menghadirkan tantangan
unik dalam penyerupaan dinamika lengkap.
Untuk penerapan hidrolika (Gambar 162), kedalaman sangat kecil
dibandingkan lebar sungai. Jika geometri dibuat serupa, kedalaman
model jadi begitu kecil sehingga muncul masalah
 Efek tegangan permukaan (bilangan Weber) menjadi penting.
 Pengumpulan data menjadi sulit.
Jadi diambil model tak serupa yang membutuhkan koreksi/korelasi
empirik untuk mengekstrapolasi data model ke skala penuh.

242
(a)

(b)
Gambar 162. Prototipe dam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan
model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b)

Kesulitan yang sama juga dijumpai dalam pemodelan kapal laut


(Gambar 163). Untuk hidrodinamika kapal, keserupaan Fr
dipertahankan sementara Re dibiarkan berbeda. Hal ini dilakukan
karena keserupaan total, di mana parameter Re dan Fr harus sekaligus
cocok untuk model dan prototipe, tidak mungkin dicapai dalam
praktiknya. Mengapa? Simak keserupaan lengkap berikut:
Vp Lp Vm Lm
Rep   Rem 
p m
 m Vm Lm
atau : 
 p Vp Lp
dan

243
Vp Vm
Frp   Frm 
gL p gLm
12
V L 
atau : m   m 
V p  L p 

sehingga dari keduanya diperoleh syarat:


32
 m  Lm 

 p  L p 
Supaya Re & Fr keduanya cocok, viskositas fluida dalam uji model
3 ⁄2
𝜐𝑚 𝐿
merupakan fungsi skala: = ( 𝐿𝑚 ) . Hal ini jelas tidak selalu bisa
𝜐𝑝 𝑝
dicapai.

(a)

(b)
Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b)

244
D. Ekstrapolasi Model-Prototipe
Ekstrapolasi Walaupun pencocokan nilai semua  pada model dengan  suaian
keserupaan pada prototipe tidak selalu bisa dilakukan, untungnya dalam sejumlah
tanlengkap
kasus keserupaan tanlengkap seperti ini, ekstrapolasi hasil uji pada
model masih bisa dilakukan untuk memperoleh taksiran pada
prototipe skala penuh.
Contoh: pengukuran gaya hambat model truk dalam terowongan
angin yang memiliki kecepatan maksimum 70 m/s. Model yang
digunakan serupa sageometri berskala 1/16 sepanjang 0,991 m.
Bagian uji terowongan angin cukup besar sehingga efek
penyumbatan (blockage) tidak perlu dirisaukan.
Udara dalam terowongan angin bersuhu dan tekanan sama dengan
udara yang mengalir lewat prototipe. Aliran yang disimulasikan
adalah pada kecepatan prototipe Vp = 60 mi/h (26,8 m/s).
Hal pertama yang dilakukan adalah menyamakan Re:

Dari sini diperoleh kecepatan uji model Vm sebesar:

Angka ini 6 kali lebih besar dari kecepatan maksimum yang bisa
dicapai terowongan angin, dan aliran jadi supersonic (>346 m/s).
Bilangan Mach pada prototipe (0,080) tidak cocok dengan pada
model (1.28). Jelas tidak mungkin bilangan Reynolds pada model
disamakan dengan pada prototipe menggunakan model &
terowongan angin ini. Lalu bagaimana?

245
Pilihan untuk atasi keserupaan tanlengkap:
1. Gunakan terowongan angin lebih besar. Perusahaan
biasanya melakukan uji pada model mobil skala 3/8 dan truk
atau bus skala 1/8 dalam terowongan angin yang sangat besar.
Besarnya model dibuat agar sumbatan/blockage (rasio luas
muka model & tampang lintang saluran uji) < 7,5%.
2. Gunakan fluida beda. Terowongan air bisa mencapai
bilangan Reynolds lebih besar daripada terowongan angin
untuk ukuran yang sama, tetapi biaya instalasi & operasinya
lebih mahal.
3. Naikkan tekanan dan/atau setel suhu udara untuk
menaikkan kemampuan bilangan Reynolds maksimum
(terbatas).
4. Jalankan terowongan angin di dekat kecepatan
maksimum, dan ekstrapolasi hasilnya ke bilangan Reynolds
skala penuh.
Data gaya hambat FD dari hasil uji terowongan angin model truk
skala 1/16 dengan panjang 0,991 m, tinggi 0,257 m, dan lebar 0,159
m diperlihatkan pada tabel.

Akan ditaksir besarnya gaya hambat aerodinamik pada prototip yang


melaju 26,8 m/s.
Anggaplah udara dalam terowongan angin sama dengan yang
mengalir melalui prototipe, suhu 25°C dan tekanan atmosferik.
Besarnya CD dan Re untuk model bisa dihitung berdasarkan data pada
tabel, misal:

246
Dan hasil seluruhnya dalam grafik adalah:

Besarnya bilangan Re prototipe:

Bilangan Reynolds prototipe 6 kali lebih besar daripada model.


Karena Re keduanya tidak sama, maka di sini tidak bisa dicapai
keserupaan dinamik.
Walaupun demikian, dari gambar CD vs. Re tampak bahwa
Ketaktergantungan pada Re bisa dicapai — pada Re > sekitar 5 
105 , CD menetap sekitar 0,76.
Dari sini, ekstrapolasi ke prototipe skala penuh bisa dilakukan denga
anggapan CD tetap dengan kenaikan Re sampai nilainya untuk
prototipe.
Taksiran hambatan aerodinamik prototipe adalah:

Ctt: tidak ada jaminan bahwa angka ekstrapolasi ini benar.

247