You are on page 1of 11

1

Peta Sebaran Burung di Kampus Universitas Negeri Surabaya

Yeni Nur Afifah*, Retno Setya Pratiwi, Yolanda Hanani Shofiyullah, Reni
Ambarwati

KS Srigunting Jurusan Biologi


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Surabaya

ABSTRAK
Kampus Universitas Negeri Surabaya merupakan salah satu kampus yang
memiliki potensi untuk mendukung kegiatan konservasi burung baik secara
langsung melalui perlindungan potensi habitat maupun secara tidak langsung
sebagai tempat pendidikan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk
memperbarui data dan memetakan keanekaragaman dan kemelimpahan burung di
kampus Unesa, baik di kampus Ketintang maupun di kampus Lidah Wetan. Hasil
penelitian didapatkan bahwa indeks keanekaragaman burung di kampus
Universitas Negeri Surabaya yaitu 2,282. Hal tersebut menunjukkan bahwa
keanekaragaman burung di kampus Universitas Negeri Surabaya termasuk
kategori sedang. Spesies burung yang paling sering ditemukan saat pengambilan
data di kampus Unesa adalah burung Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster)
dengan jumlah total 47 individu dengan nilai indeks kemelimpahan sebesar 22,5%
(dominan). Sedangkan burung yang jarang ditemukan di Kampus Unesa yaitu
burung Cipoh kacat (Aegithina tiphia) dan burung Layang-layang asia (Hirundo
rustica) dengan jumlah total 2 individu dan nilai indeks kemelimpahan sebesar
0,2% (nondominan).
Kata kunci: Keanekaragaman burung, Kemelimpahan burung, Universitas
Negeri Surabaya
ABSTRACT

The Surabaya State University campus is one of the campuses that have
the potential to support bird conservation activities both directly through the
protection of habitat potential and indirectly as a place for conservation
education. This study aims to update the data and map the diversity and
abundance of birds on the Unesa campus, both on the Ketintang campus and on
the Lidah Wetan campus. The results showed that the bird diversity index at the
State University of Surabaya campus was 2,282. This shows that bird diversity on
the Surabaya State University campus is in the medium category. The most
common bird species when collecting data on the Unesa campus is the Cucak
kutilang bird (Pycnonotus aurigaster) with a total of 47 individuals with an
abundance index value of 22.5% (dominant). Whereas birds are rarely found on
Unesa Campus, namely Cipoh kacat (Aegithina tiphia) and Layang-layang asia
(Hirundo rustica) with a total of 2 individuals and an abundance index value of
0.2% (nondominant).

Key Word: Diversity Bird, Abundance Bird, State University Of Surabaya


*Penulis korespondensi:
e-mail: yeni13afifah@gmail.com
2

PENDAHULUAN
Salah satu fauna yang memiliki keanekaragaman tingkat spesies yaitu
burung, serta menjadi sumber inspirasi dan memberikan kesenangan kepada
masyarakat Indonesia karena keindahan suara dan bulunya. Indonesia memiliki
keanekaragaman burung yang tinggi, yaitu mencapai 1605 jenis burung pada
tahun 2013 dan laporan terbaru menunjukkan bahwa kekayaan burung di
Indonesia mencapai 1666 jenis (Burung Indonesia, 2014). Kegiatan konservasi
burung selama ini masih cenderung dilakukan di daerah yang dilindungi, hutan
primer, hutan yang belum terganggu, atau ditekankan kepada jenis tertentu yang
keberadaannya terancam punah (Andira dkk., 2014).
Berdasarkan Peraturan Menteri RI Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan
Kota, pohon-pohon yang ditanam di hutan kota sebaiknya merupakan penghasil
bunga atau buah (vector) yang digemari oleh satwa, seperti burung, kupu-kupu
dan sebagainya.
Al-Haq dkk. (2011) menyatakan bahwa di Kampus Ketintang Universitas
Negeri Surabaya terdapat 12 jenis burung. Hal ini merupakan salah satu potensi
untuk mendukung kegiatan konservasi burung baik secara langsung melalui
perlindungan potensi habitat maupun secara tidak langsung sebagai tempat
pendidikan konservasi. Ambarwati (2011) menyatakan bahwa suatu lokasi
berpotensi sebagai lokasi birdwatching bagi pemula apabila memiliki
keanekaragaman burung yang cukup banyak, jumlahnya cukup melimpah, dan
memiliki rimbunan pohon yang sedang, tidak seperti di hutan. Kampus Unesa
terlebih kampus Unesa Lidah memiliki lahan terbuka hijau yang cukup luas dan
disinyalir terdapat banyak burung disana, namun belum ada penelitian terkait
burung disana.

TUJUAN
Berdasarkan pendahuluan diatas, penelitian ini bertujuan untuk memperbarui
data dan memetakan keanekaragaman dan kemelimpahan burung di kampus
Universitas Negeri Surabaya.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan dengan
metode observasi karena menggunakan metode pengumpulan data melalui
pengamatan langsung di lokasi. Lokasi penelitian dilakukan pada dua tempat,
yaitu kampus Ketintang Unesa dan kampus Lidah Wetan Unesa, sedangkan proses
identifikasi dilakukan di Laboratorium Taksonomi Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Surabaya. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli
2018. Alat yang diperlukan untuk penelitian ini adalah teropong binokuler 7x40,
buku identifikasi, kamera Coolpix dan buku pengamatan.
Pengambilan sampling jenis burung dilaksanakan pada pagi hari pukul
06.00-08.00 WIB dan sore hari pukul 15.00-17.00 WIB. Metode yang digunakan
untuk inventarisasi burung di kampus Universitas Negeri Surabaya adalah metode
3

perhitungan konsentrasi (concentration point count). Cara melakukan metode ini


adalah menentukan titik-titik pengamatan yang merupakan pusat ditemukan
burung paling banyak (ditentukan berdasarkan survey awal). Selanjutnya mencatat
ciri morfologis dan jenis burung yang sedang melintas atau bertengger di atas
pohon. Jangka waktu yang ditentukan adalah 15 menit sebelum peneliti bergerak
ke titik selanjutnya.
Data burung dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Keanekaragaman
diukur berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (Odum, 1993), yaitu
dengan rumus berikut.
Ni Ni
H=  N
ln
N

Keterangan:

H = Indeks keanekaragaman Shannon;

Ni = Jumlah suatu jenis;

N = Jumlah seluruh jenis yang ada dalam contoh.


Tingkat keanekaragaman dapat dianalisis dalam beberapa kriteria Odum
(1993) yakni:
H < 1,0 : keanekaragaman termasuk ke dalam kategori rendah.
1,0 ≤ H ≤ 3,322 : keanekaragaman termasuk ke dalam kategori sedang.
H > 3,322 : keanekaragaman termasuk ke dalam kategori tinggi.
Kelimpahan digunakan untuk mengetahui kepadatan individu dalam suatu
ekosistem. Untuk menghitung kelimpahan relatif digunakan rumus (Sriyanto,
2013) yaitu :

Keterangan:
Di = kelimpahan relatif (%) ;
ni = jumlah individu setiap jenis ;
N = jumlah total individu

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil penelitian yang dilakukan di Kampus Universitas Negeri Surabaya
menunjukkan bahwa terdapat 19 spesies burung yang dijumpai dan tertera pada
Tabel 1.
4

Tabel 1. Jenis-jenis burung yang dijumpai di Kampus Universitas Negeri


Surabaya
Status
No. Famili Nama Ilmiah Nama Lokal
Perlindungan

1. Aegithinidae Aegithina tiphia Cipoh kacat Tidak dilindungi

2. Alcedinidae Todirhampus chloris Cekakak sungai Tidak dilindungi

3. Apodidae Collocalia linchi Walet linci Tidak dilindungi

4. Ardeidae Ardeola speciosa Blekok sawah Tidak dilindungi

5. Artamidae Artamus leucorynchus Tidak dilindungi


Kekep babi

6. Campephagidae Pericrocotus cinnamomeus Tidak dilindungi


Sepah kecil

7. Geopelia striata Perkutut jawa Tidak dilindungi

8. Columbidae Streptopelia chinensis Tidak dilindungi


Tekukur biasa

9. Dicaeidae Dicaeum trochileum Cabai jawa Tidak dilindungi

10. Lonchura leucogastroides Tidak dilindungi


Bondol jawa

11. Lonchura maja Bondol haji Tidak dilindungi


Estrildidae
12. Lonchura punctulata Tidak dilindungi
Bondol peking

13. Hirudinidae Hirundo rustica Layang-layang asia Tidak dilindungi

14. Nectariniidae Cinnyris jugularis Madu sriganti Tidak dilindungi

15. Passeridae Passer montanus Gereja erasia Tidak dilindungi

16. Picidae Dendrocopos macei Caladi ulam Tidak dilindungi

17. Pycnonotus aurigaster Tidak dilindungi


Cucak kutilang
Pycnonotidae
18. Pycnonotus goiavier Merbah cerukcuk Tidak dilindungi

19. Zosteropidae Zosterops palpebrosus Tidak dilindungi


Kacamata biasa
5

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa terdapat 19 spesies dari famili


yang berbeda-beda. Pada Tabel 1, menunjukkan bahwa terdapat 15 famili dari
keseluruhan burung yang ditemukan di kampus Universitas Negeri Surabaya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penetapan
Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, 19 spesies burung yang diteramati di
kampus Unesa tersebut memiliki status tidak dilindungi.

Tabel 2. Keanekaragaman dan Kemelimpahan burung di Kampus Universitas


Negeri Surabaya
Jumlah Kemelimpahan
No. Nama Ilmiah Keanekaragaman
Individu (%)

1. Aegithina tiphia 0.333 0.2 (nondominan)

2. Todirhampus chloris 1 0.5 (nondominan)

3. Collocalia linchi 39.665 18.9 (dominan)

4. Ardeola speciosa 0.834 0.4 (nondominan)

5. Artamus leucorynchus 2.667 1.3 (nondominan)

6. Pericrocotus cinnamomeus 1.167 0.6 (nondominan)

7. Geopelia striata 15 7.2 (dominan)

8. Streptopelia chinensis 8.836 4.2 (subdominan)

9. Dicaeum trochileum 17.666 8.4 (dominan)


2.282
10. Lonchura leucogastroides 7.666 (Keanekaragaman 3.7 (subdominan)
sedang)
11. Lonchura maja 7.834 3.7 (subdominan)

12. Lonchura punctulata 4.667 2.2 (subdominan)

13. Hirundo rustica 0.333 0.2 (nondominan)

14. Cinnyris jugularis 10.334 4.9 (subdominan)

15. Passer montanus 34.002 16.3 (dominan)

16. Dendrocopos macei 1.166 0.6 (nondominan)

17. Pycnonotus aurigaster 47 22.5(dominan)

18. Pycnonotus goiavier 8.668 4.1 (subdominan)

19. Zosterops palpebrosus 0.5 0.2 (nondominan)

Perhitungan indeks keanekaragaman menurut Shannon-Wienner, jenis


burung di kampus Universitas Negeri Surabaya termasuk keanekaragaman sedang
6

dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 2,282 seperti yang tertera pada Tabel
2. Indeks keanekaragaman tersebut berada pada rentang nilai 1,0 ≤ H ≤ 3,322
yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang (Odum, 1993).
Hasil perhitungan menunjukkan indeks kemelimpahan dengan kategori
yang beragam yaitu nondominan, subdominan, dan dominan. Spesies burung yang
paling sering ditemukan saat pengambilan data di kampus Unesa adalah burung
Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan jumlah total 47 individu dengan
nilai indeks kemelimpahan sebesar 22,5% (dominan). Cucak kutilang merupakan
burung yang tersebar luas penyebarannya. Jenis ini sering mengunjungi daerah
terbuka dan banyak menghabiskan waktu untuk makan di atas tanah (Andira,
2014). Sedangkan burung yang jarang ditemukan di Kampus Unesa yaitu burung
cipoh kacat (Aegithina tiphia) dan burung layang-layang asia (Hirundo rustica)
dengan jumlah total 2 individu dan nilai indeks kemelimpahan sebesar 0,2%
(nondominan).

Tabel 3. Distribusi burung di Kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya

Lokasi
No. Nama Ilmiah F.
F.Teknik F. MIPA Ranunesa F. ISH
Ekonomi

1. Aegithina tiphia - - - - √

2. Todirhampus chloris - - - - -

3. Collocalia linchi √ √ √ √ √

4. Ardeola speciosa √ - √ - -

5. Artamus leucorynchus - - - - -

6. Pericrocotus
√ - - √ -
cinnamomeus

7. Geopelia striata √ √ √ √ -

8. Streptopelia chinensis √ √ √ √ -

9. Dicaeum trochileum √ √ √ √ √

10. Lonchura
- √ - √ √
leucogastroides

11. Lonchura maja - - - - √

12. Lonchura punctulata - √ - - -

13. Hirundo rustica - - √ - -

14. Cinnyris jugularis √ - - √ √


7

15. Passer montanus √ √ √ √ √

16. Dendrocopos macei - - - √ -

17. Pycnonotus aurigaster √ √ √ √ √

18. Pycnonotus goiavier √ √ - √ √

19. Zosterops palpebrosus - - - - -

Keterangan:

- = tidak ditemukan
√ = ditemukan

Tabel 4. Distribusi burung di Kampus Lidah Wetan Universitas Negeri Surabaya

Lokasi
No. Nama Ilmiah
Rektorat FIP FBS FIK Masjid

1. Aegithina tiphia - - - - -

2. Todirhampus chloris √ - - - -

3. Collocalia linchi √ √ √ √ √

4. Ardeola speciosa - - - - -

5. Artamus leucorynchus √ - - √ -

6. Pericrocotus
- √ - - -
cinnamomeus

7. Geopelia striata √ √ √ √ √

8. Streptopelia chinensis √ √ √ √ √

9. Dicaeum trochileum √ √ √ √ √

10. Lonchura
√ - √ √ -
leucogastroides

11. Lonchura maja √ - √ √ √

12. Lonchura punctulata √ - - - -

13. Hirundo rustica - - - - -

14. Cinnyris jugularis √ √ √ √ √

15. Passer montanus √ √ √ √ √

16. Dendrocopos macei √ - √ √ -

17. Pycnonotus aurigaster √ √ √ √ √


8

18. Pycnonotus goiavier √ √ √ √ -

19. Zosterops palpebrosus - √ - - -

Keterangan:

- = tidak ditemukan

√ = ditemukan

(a) (b)
Gambar 1. Peta Sebaran Burung: (a) Kampus Ketintang; (b) Kampus Lidah
Wetan

Masing-masing burung tersebut memiliki habitat yang berbeda-beda pada


vegetasi yang terdapat di Kampus Universitas Negeri Surabaya. Burung-burung
yang ada di Kampus Universitas Negeri Surabaya memanfaatkan vegetasi di
wilayah tersebut untuk bertengger, bersarang dan mencari makan. Vegetasi yang
sering didatangi oleh burung yaitu pohon trembesi (Samanea saman), pohon
angsana (Pterocarpus indicus), pohon lamtoro (Leucaena leucocephala), pohon
jati (Tectona grandis), pohon kersen (Muntingia calabura L.) dan pohon
flamboyan (Delonix regia).
Pada penelitian ini, terdapat burung Caladi ulam (Dendrocopos macei).
Penemuan jenis kaladi ini menjadi menarik karena menunjukkan bahwa terdapat
kelompok pohon yang sudah tua (Ridwan, 2015). Ini sesuai perilakunya yang
menyukai vegetasi hutan tua yang akan digunakan untuk membuat lubang sarang
dan mencari makan berupa serangga yang terdapat di batang pohon (MacKinnon
et al. 1998). Lubang tempat jenis kaladi tersebut bersarang ditemukan di pohon
angsana yang terdapat pada titik pengamatan Fakultas Ekonomi, area gedung
rektorat dan Fakultas Bahasa dan Seni.
Persebaran burung yang dominan yaitu terletak pada area gedung rektorat.
Pada area gedung rektorat ditemukan burung Cekakak sungai, Wallet linci, Kekep
babi, Perkutut jawa, Tekukur biasa, Cabai jawa, Bondol jawa, Bondol haji, Bondol
peking, Madu sriganti, Gereja erasia, Caladi ulam, Cucak kutilang dan Merbah
cerukcuk. Hal tersebut dikarenakan pada area gedung rektorat memiliki lahan
yang luas dengan ditumbuhi oleh pepohonan dan vegetasi yang mendukung
9

kehadiran burung. Semakin beranekaragam struktur habitat (keanekaragaman


jenis tumbuhan dan struktur vegetasi) maka akan semakin besar keanekaragaman
satwa (Dewi, 2012).

KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa
keanekaragaman burung di kampus Universitas Negeri Surabaya yaitu 2.282 yang
menunjukkan kategori sedang. Kemelimpahan burung di kampus Universitas
Negeri Surabaya yang sering dijumpai yaitu burung Cucak kutilang (Pycnonotus
aurigaster) dengan jumlah total 47 individu dengan nilai indeks kemelimpahan
sebesar 22,5% (dominan). Sedangkan burung yang jarang ditemukan di Kampus
Unesa yaitu burung Cipoh kacat (Aegithina tiphia) dan burung Layang-layang
asia (Hirundo rustica) dengan jumlah total 2 individu dan nilai indeks
kemelimpahan sebesar 0,2% (nondominan).

UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Ibu Reni Ambarwati S.Si.,
M.Sc. selaku dosen pembimbing. Selain itu ucapan terimakasih penulis ucapkan
kepada teman-teman KSB Srigunting yang telah membantu dalam proses
pengambilan data di kampus Ketintang dan Lidah Wetan Universitas Negeri
Surabaya serta memberi dukungan dan motivasi dalam melakukan kegiatan
penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Reni. 2011. Potensi Kebun Binatang Surabaya sebagai Tempat
Pembelajaran Konservasi Burung. Prosiding Seminar Nasional Sains
2011. Surabaya: Program Pascasarjana Unesa.
Andira, Ayu, Nurdin, Jabang, dan Novarino, Wilson. 2014. Struktur Komunitas
Burung Pada Tiga Tipe Habitat di Kampus Universitas Andalas, Padang.
Jurnal Biologi Universitas Andalas. Volume 3 (3) : 227-230.
Lussetyowati, Tutur. 2011. Analisa Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan,
Studi Kasus Kota Martapura. Prosiding Seminar Nasional AVoER ke-3.
Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
MacKinnon, J., Phillipps, K., Balen B.V. 2010. Panduan Lapangan Pengenalan
Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: Burung
Indonesia.
Odum. 1993. Ekologi Umum (Terjemahan). New York: McGraw Hill.
Swastikaningrum, H., Hariyanto, S., Irawan, B., 2012. Keanekaragaman Jenis
Burung Pada Berbagai Tipe Pemanfaatan Lahan di Kawasan Muara Kali
Lamong, Perbatasan Surabaya-Gresik Berk Penel Hayati 17: 131-138
Ridwan, Muhammad. dkk. 2015. Hubungan keanekaragaman burung dan
komposisi pohon di Kampus Kentingan Universitas Sebelas Maret
10

Surakarta, Jawa Tengah. PROSSEMNAS MASY BIODIV INDON. Vol 1


(3). Hal 660-666. Diakses tanggal 21 Maret 2018.