You are on page 1of 24

ABSTRAK

Telah dilakukan penelitian tentang zat psikoaktif baru merupakan kelas yang
berkembang dan dinamis, obat disalahgunakan di Amerika Serikat. Cannabinoid sintetis
menyebabkan keracunan massal 33 orang di satu lingkungan Kota Amerika Serikat
dalam sebuah acara yang digambarkan dalam pers populer sebagai wabah "zombie"
karena munculnya orang-orang yang mabuk. Dilakukan pengujian pada serum, darah
utuh, dan sampel urin dari 8 pasien di antara 18 yang dibawa ke rumah sakit setempat
serta menguji sampel produk "dupa" herbal "AK-47 24 Karat Gold," yang terlibat dalam
wabah tersebut. Sampel dianalisis dengan menggunakan LC-QTOF/MS singkatan dari
liquid chromatography-quadrapole time-of-flight mass spectrometry. Memberikan hasil
Cannabinoid sintetis methyl 2- (1- (4-fluorobenzyl) -1H-indazole-3-carboxamido) -3-
methylbutanoate (AMB-FUBINACA, juga dikenal sebagai MMB-FUBINACA atau
FUB-AMB) diidentifikasi dalam AK-47 24 Emas Karat pada konsentrasi rata-rata (±
SD) sebesar 16,0 ± 3,9 mg per gram. Metabolit asam diesterifikasi ditemukan dalam
serum atau seluruh darah dari ke delapan pasien, dengan konsentrasi berkisar antara 77
sampai 636 ng per mililiter.

Kata Kunci : Wabah “zombie”, Cannabinoid sintetis, AMB-FUBINACA, AK-47 24


Emas Karat.

1
BAB I

LATAR BELAKANG

Obat yang banyak disalahgunakan sedang dalam proses periode proliferasi dan

diversifikasi, seiring dengan meningkatnya tantangan yang dihadapi oleh tenaga

kesehatan di bidang kegawatdaruratan dan kritis, tenaga profesional terkait

penyalahgunaan zat, psikiater, dan ahli toksikologi. Zat psikoaktif yang baru menjadi

alternatif bagi pengguna menggantikan zat yang lebih tua seperti amfetamin, heroin,

kokain, dan ganja. Dari lebih dari 540 zat psikoaktif baru yang telah dilaporkan ke

United Nation Office on Drugs and Crime, Cannabinoid sintetis merupakan kelas yang

paling cepat berkembang, dimana lebih dari 177 jenis yang telah di identifikasi oleh

agensi pada tahun 2014 dan 24 Cannabinoid sintetis baru dilaporkan oleh Europol pada

2015. Pada awalnya, Cannabinoid sintetis dikembangkan oleh ahli kimia dan ilmuan

farmasi di Amerika Serikat dan Eropa sebagai ligan untuk mempelajari sistem

endocannabinoid. Cannabinoid sintetis tidak memiliki kesamaan struktural dengan

tanaman cannabinoid Δ9-tetrahydrocannabinol (Δ9-THC) yang ditemukan pada

cannabis. Cannabinoid sintetis kemudian disalahgunakan dari tujuan awalnya yaitu

sebagai dari alat penelitian pada tahun 2008 saat campuran herbal yang dikenal sebagai

merek "Spice" (di Eropa) dan "K2" (di Amerika Utara) ditemukan mengandung JWH-

018 dan CP 47,497-C8.9 Sejak saat itu, Cannabinoid sintetis mulai dikembangkan di

Laboraturium Klandestin di China dan Asia Selatan dan didistribusikan oleh pengecer

"darknet" (misalnya, Silk Road, Silk Road 2.0, dan Pandora), pengedar narkoba jalanan,

dan kelompok kriminal terorganisir sebagai alternatif dari obat tradisional yang biasa

disalahgunakan penggunaannya.

2
BAB II

METODE PENELITIAN

Dilakukan pengujian pada serum, darah utuh, dan sampel urin dari 8 pasien di

antara 18 yang dibawa ke rumah sakit setempat serta menguji sampel produk "dupa"

herbal "AK-47 24 Karat Gold," yang terlibat dalam wabah tersebut. Sampel dianalisis

dengan menggunakan LC-QTOF/MS singkatan dari liquid chromatography-quadrapole

time-of-flight mass spectrometry.

Beberapa bungkus produk (AK-47 24 Karat Gold) dan sampel darah dan urin

dari 18 pasien dikirim ke Laboratorium Toksikologi Klinis dan Biomonitoring

Lingkungan di Universitas California, San Francisco. Sampel dianalisis dengan

menggunakan liquid chromatography-quadrupole time-of-flight mass spectrometry (LC-

QTOF/MS) (Agilent LC 1260-QTOF/MS 6550). Analisis kuantitatif dari tiap obat atau

metabolit yang dikonfirmasi dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran

isotop dengan kalibrasi kurva 10 titik.

Gambar 1. AK-47 24 Karat Gold Yang Terbungkus Foil Mengandung Produk Herbal
Yang Diambil Dari Seorang Pasien Yang Terlibat Dalam Wabah. Tampak juga tiga dari
delapan kantung biru kecil yang mengandung bahan herbal teraglutinasi.

3
BAB III

ANALISIS DAN HASIL.

A. Analisis

1. Analisis Bahan Yang Ditemukan Oleh Polisi

Analisis LC-QTOF/MS dari produk herbal menunjukkan adanya

sinyal unik pada konsentrasi 1 mg per mililiter, yang berhubungan

dengan AMB-FUBINACA. Sinyal tersebut direferensikan silang dan

dikonfirmasi dengan perbandingan dengan standar analitik dan literatur

yang dipublikasi. Konsentrasi AMB-FUBINACA pada beberapa sampel

produk berkisar antara 14,2 sampai 25,2 mg per gram, dengan

konsentrasi rata-rata (± SD) 16,0 ± 3,9 mg per gram (Tabel 1). AMB-

FUBINACA dikonfirmasi dari usapan yang diambil dari bagian dalam

pembungkus foil.

Tabel 1. Konsentrasi AMB-FUBINACA Dari Delapan Bungkus

Kecil Bahan Tanaman Yang Diperoleh Dari AK-47 24 Karat

Gold.*

Bungkus Konsentrasi AMB-FUBINACA

(mg/g)

1 14,5

2 16,1

3 14,5

4 15,2

4
5 14,2

6 12,5

7 25,2

8 16,1

Rata-rata (+SD) dari 16,0+3,9

semua bungkus

2. Analisis Darah Dan Urin Dari Pasien

Tidak ada senyawa induk AMB-FUBINACA yang terdeteksi

dalam darah atau urin pasien, namun metabolit asam de-esterifikasinya,

asam2-(1-(4-fluorobenzyl)-1H-indazole-3-carboxamido)-3-

methylbutanoic, terdeteksi pada setiap pasien, dengan konsentrasi serum

berkisar antara 77 sampai 636 ng per mililiter (atau ppb) (Tabel 2).

Konsentrasi urin dari metabolit asam AMB-FUBINACA adalah 165 ng

per mililiter pada sampel Pasien C dan berada di bawah batas deteksi

pada sampel Pasien E. Tidak ada obat terlarang lainnya yang ditemukan

pada sampel yang diperoleh dari pasien. Dalam satu rangkaian sampel

serum serial (dari Pasien C), dijumpai adanya klirens obat saat

konsentrasi serum menurun dari 245 menjadi 155 ng per mililiter selama

periode 14 jam.

Tabel 2. Konsentrasi Metabolit Asam AMB-FUBINACA Dan Obat Lain Yang

Ditemukan Pada Sampel Pasien.*

Pasien dan Jenis Tanggal Waktu Konsentrasi Obat Lain yang

Sampel Pengambilan Pengambilan Metabolit Terdeteksi

5
Asam AMB-

FUBINACA

mg/ml

Serum Pasien A 12 Juli 17:25 636 ND

Serum Pasien B 12 Juli 13:35 232 Fenilpropanolam

in

Pasien C

Serum 1 12 Juli 14:23 245 ND

Serum 2 13 Juli 04:30 155 Lorazepam

Urin 12 Juli NA 165 Fenilpropanolam

in

Serum Pasien D 12 Juli 16:45 377 ND

Pasien E

Serum 1 12 Juli NA 101 Mirtazapin,

difenhidramin

Urin 1 12 Juli NA <15 Mirtazapin,

difenhidramin

Urin 2 14 Juli NA <15 Mirtazapin,

difenhidramin

Serum Pasien F 12 Juli 13:15 77 ND

Serum Pasien G 12 Juli 19:30 159 Metadon

Darah Pasien H 12 Juli 14:30 68 ND

*Sampel serum dari tujuh pasien yang diperoleh pada saat pasien datang

ke departemen gawat darurat, konsentrasi rata-rata (+SD) metabolit asam

6
AMB-FUBINACA adalah 247,8+183,2 ng per mililiter. Konsentrasi

metabolit asam AMB-FUCINABA 15 ng per mililiter adalah batas bawah

pendeteksian. NA adalah tidak tersedia, dan ND tidak terdeteksi.

B. Hasil

Cannabinoid sintetis metil 2-(1-(4-fluorobenzyl)-1H-indazol-3-

karboksamido)-3-methylbutanoate (AMB-FUBINACA, yang juga dikenal

sebagai MMB-FUBINACA atau FUB-AMB) diidentifikasi dalam AK-47 24

Karat Gold dengan konsentrasi rata-rata 16,0 ± 3,9 mg per gram. Metabolit asam

de-esterifikasi ditemukan dalam serum atau sampel darah lengkap pada delapan

pasien, dengan konsentrasi berkisar antara 77 sampai 636 mg per mililiter.

7
BAB IV

PEMBAHASAN

AMB-FUBINACA tergolong cannabinoid sintetis indazol kuat yang

mencerminkan evolusi lanjutan struktur kimia dari agonis reseptor cannabinoid

(Gambar 2).

AMB - FUBINACA

Formula : C21H22FN3O3

8
Gambar 2. Evolusi Struktur Cannabinoid Sintetis

Penjelasan Gambar :

 Untuk masing-masing cannabinoid, konsentrasi efektif in vitro dibutuhkan untuk

respon maksimal 50% (EC50) dan struktur molekul ditunjukkan.

 Struktur metabolit asam metil 2- (1- (4-fluorobenzil) -1H-indazol-3-

karboksamido) -3-metilbutanoat (AMB-FUBINACA) juga ditunjukkan.

 Tanda panah oranye dua sisi menunjukkan periode di mana cannabinoids ini

diamati oleh Universitas California, San Francisco, Laboratorium Toksikologi

9
Klinik dan Laboratorium Biomonitoring Lingkungan selama proses pengurasan

cannabinoid sintetis.

 Bagian struktur merah dalam struktur molekul menunjukkan motif struktural

baru di dalam cannabinoid sintetis. Metabolit asam AMB-FUBINACA

ditunjukkan dengan lokasi hidrolisis ester yang disorot dalam warna hijau.

 Perhatikan bahwa nilai EC50 yang diberikan berasal dari pengujian fluorometrik

in vitro potensi membran pada sel yang ditransfeksi dengan reseptor cannabinoid

manusia 1 dan tidak harus sesuai dengan potensi agen ini pada manusia. 9-THC

menunjukkan 9-tetrahydrocannabinol.

Cannabinoid sintetis dilarutkan menjadi bentuk larutan, dimasukkan pada

substrat herbal inert, dan dikonsumsi dengan cara dibakar seperti rokok yang mirip

dengan ganja. Dalam 8 tahun terakhir, Cannabinoid sintetis dikaitkan dengan efek

samping yang serius. Efek buruk yang paling sering dilaporkan oleh pengguna

diantaranya rasa kantuk, rasa ringan seperti melayang, dan detak jantung cepat atau

tidak teratur. Manifestasi klinis yang lebih parah, diantaranya psikosis, delirium,

kardiotoksisitas, kejang, cedera ginjal akut, hipertermia, dan kematian.

Depresi sistem saraf pusat (SSP) mirip dengan aktivitas agonis reseptor

Cannabinoid yang poten 1 yang dilaporkan pada banyak Cannabinoid sintetis,

kardiotoksisitas mungkin disebabkan oleh penghambatan subunit kanal alfa kalium pada

kardiomiosit, dan gejala otonom mungkin disebabkan oleh afinitas dari beberapa

Cannabinoid untuk reseptor serotonin 2B. Beberapa Cannabinoid sintetis juga memiliki

aktivitas agonis terhadap reseptor dopamin in vitro, dan perubahan substansial pada

10
sinyal dopamin dijumpai pada pengguna cannabinoid di tengah sindrom penghentian

yang parah.

Sintetik cannabinoid pada mulanya disintesa oleh seorang doktor di bidang

kimia organik yang bernama Jhon W. Huffman yang merupakan seorang ahli riset dari

universitas Clemson di Amerika. Jhon W. Huffman dan timnya pada tahun 1990-an

telah berhasil mensintesa sekitar 20-an jenis sintetik cannabinoid. Latar belakang

penelitiannya adalah pencarian terhadap obat-obatan sintetis yang mampu

menyembuhkan penyakit multisklerosis, pereda nyeri pada pasien HIV/AIDS maupun

pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Ia dan timnya sama sekali tidak menduga

hasil risetnya ini ternyata sekarang banyak disalahgunakan sebagai narkoba yang

berbahaya bagi pemakainya.

Menurut United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC),

beberapa synthetic cannabinoid telah digunakan untuk tujuan pengobatan:

1. Rimonabant (Acomplia®)

Sebuah antagonis reseptor CB1 selektif yang digunakan untuk mengobati

obesitas untuk beberapa waktu, namun ditarik dari pasar karena menunjukkan efek

samping yang parah.

11
2. Nabilone (Cesamet®)

Sebuah cannabinoid sintetis yang digunakan untuk pengobatan anoreksia dan

efek antiemetik tersebut; (misalnya pada pasien kanker di bawah kemoterapi.)

struktur kimianya berkaitan erat dengan tetrahydrocannabinol (THC) yaitu zat

utama psikoaktif dalam ganja yang akan menghasilkan efek halusinasi.

3. Dronabinol (Marinol®)

Sintetik yang memproduksi THC murni yang diterapkan pada beberapa pasien

sclerosis (penyakit progresif yang muncul akibat sistem kekebalan tubuh yang

secara keliru menyerang selaput pelindung saraf atau mielin dalam otak dan saraf

tulang belakang) dan pasien yang menderita rasa sakit yang parah.

12
Cannabinoid sintetis AB-FUBINACA (Gambar 2) dikembangkan oleh Pfizer

dan dipatenkan di tahun 2009. AB-FUBINACA pertama kali diidentifikasi dalam

produk cannabinoid sintetis di Jepang pada tahun 2012 dan ditetapkan sebagai zat

terkontrol Jadwal I di Amerika Serikat pada bulan Januari 2014.

Kasus AMB – FUBINACA :

1. Pada tanggal 3 Juli 2014, sebuah analog ester dari AB-FUBINACA, metil 2-(1-

(4-fluorobenzyl)-1Hindazole-3-karboksamido)-3-metilbutanoat

(AMBFUBINACA), ditemukan dalam sebuah produk yang disebut "Train

Wreck 2" di Louisiana dan segera dilarang melalui peraturan darurat yang

dikeluarkan oleh Louisiana.

2. Baru-baru ini, AMB-FUBINACA muncul di sebuah produk yang ditemukan di

New York yang mengakibatkan tingginya jumlah pasien rawat inap pada pagi

hari tanggal 12 Juli 2016, dan membuat sebuah blok di daerah Bedford-

Stuyvesant di Brooklyn menjadi apa yang digambarkan oleh pers awam sebagai

"zombieland".

Penelitian farmakologis in vitro terbaru tentang kerja AMB-FUBINACA pada

reseptor cannabinoid 1 menunjukkan bahwa 85 kali lebih kuat daripada Δ9-THC dan 50

13
kali lebih kuat dari JWH-018, yang ditemukan pada wabah awal produk cannabinoid

sintetis “K2”. Potensi AMB-FUBINACA mirip dengan efek depresan SSP yang kuat

yang menyebabkan perilaku "mirip zombie" pada pengguna yang dilaporkan dalam

keracunan massal ini. Deskripsi yang ditemukan di forum narkoba online (misal,

Reddit) mengenai AMB-FUBINACA menggunakan istilah seperti "potennya diluar

dunia ini" sehubungan dengan efeknya, yang digambarkan secara subyektif mirip

dengan Δ9-THC.

Meskipun berpotensi overdosis, cannabinoid sintetis yang makin poten menjadi

populer di kalangan pengedar narkoba dan pengguna karena murah dan potensi

pengencerannya menjadi produk dalam jumlah besar. Permintaan dari internet untuk

pembelian bubuk AMB-FUBINACA baru-baru ini menunjukkan harga $ 1,95 sampai $

3,80 per gram ($ 1.950 sampai $ 3.800 per kilogram). Seperti ditunjukkan pada Tabel 1,

konsentrasi rata-rata AMB-FUBINACA yang ditemukan dalam paket yang diperoleh

dari tempat kejadian yang diterangkan dalam laporan ini adalah 16,0 mg per gram.

Untuk mendapatkan produk 16 mg per gram, produsen dapat mencampur 1 kg AMB-

FUBINACA dengan 66,7 kg bahan tanaman dan menghasilkan sekitar 15.625 paket,

masing-masing berisi 4 g produk, dengan harga online rata-rata $ 35 per paket.

Tanpa adanya senyawa induk, AMBFUBINACA, dari sampel biologis yang

dianalisis sangat khas untuk zat psikoaktif poten kerja pendek. Untuk obat yang paling

banyak diesterifikasi, seperti AMB-FUBINACA, hidrolisis terjadi dengan cepat setelah

asupan, dan metabolit asam yang sesuai dapat terdeteksi dalam sampel biologis; namun,

senyawa induk hanya dapat dideteksi pada kadar rendah. Contohnya, satu-satunya nilai

serum lain yang dilaporkan dalam literatur untuk senyawa induk cannabinoid sintetis

indazol yang diesterifikasi (5F-AMB, 0,19 ng per mililiter) berada jauh di bawah

14
kisaran yang kami temukan pada metabolit dari sampel biologis yang diperoleh saat

wabah ini.

Konsentrasi metabolit AMB-FUBINACA yang ditemukan pada sampel serum

dalam rangkaian kasus ini mirip dengan kisaran yang ditemui pada sampel pasien

dengan keracunan yang disebabkan oleh cannabinoid sintetis indazol yang berbeda

(ADBPINACA) yang menyebabkan delirium parah saat wabah di Georgia tahun 2013.

Perubahan perilaku berat yang ditemukan pada pasien di New York City dan dilaporkan

oleh pers sesuai dengan aktivitas cannabinoid poten AMB-FUBINACA; keracunan

akibat agen ini tidak biasa dimana depresi SSP yang ekstrem tidak disertai takikardia,

aritmia, kejang, hipertermia, kardiotoksisitas, dan cedera ginjal akut yang biasanya

ditemukan terkait dengan cannabinoid sintetis dosis tinggi atau poten. Pada wabah New

York dan Georgia, mungkin ada bias seleksi terhadap kasus yang lebih berat karena

sebagian besar sampel yang dianalisis diperoleh dari rumah sakit yang menerima pasien

yang paling terintoksikasi.

Penyebab sekelompok intokskasi serius akibat obat baru biasanya tidak asing

bagi komunitas medis hingga kasus ini pertama kali dijabarkan dalam rangkaian kasus.

Identifikasi agen penyebab memerlukan kolaborasi antara laboratorium klinis,

profesional kesehatan, lembaga penegak hukum, dan ahli kimia organik sintetis

sehingga informasi tentang agen penyebab dapat disebarluaskan. Analisis zat psikoaktif

baru membutuhkan lebih dari sekadar panel obat biasa yang digunakan di departemen

gawat darurat dan sangat bergantung pada platform analitik yang lebih canggih yang

memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dengan cepat senyawa yang sebelumnya

belum dilaporkan. Riwayat klinis yang diberikan oleh para profesional medis membantu

analisis toksikologi dengan menyingkirkan agen yang sudah dikenal dengan baik seperti

15
kokain, heroin, dan metamfetamin. Lembaga penegak hukum yang terlibat selama

wabah mungkin dapat menyediakan produk dan perlengkapan yang dikumpulkan saat

intoksikasi massal untuk proses analisis. Hal ini penting sekali terutama jika konsentrasi

obat atau metabolitnya dalam sampel biologis rendah. Yang terakhir, kemampuan untuk

memprediksi dan dengan cepat menghasilkan standar referensi untuk obat baru dan

metabolitnya memungkinkan untuk proses identifikasi zat psikoaktif baru yang tidak

diketahui sebelumnya dimana standar referensi komersial tidak tersedia selama

beberapa bulan setelah identifikasi senyawa. Kolaborasi dalam wabah AMB-

FUBINACA ini mampu mengkarakterisasi cannabinoid sintetis penyebab hanya dalam

17 hari.

16
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan dan Analisis Menurut Pendapat Saya

Cannabinoid sintesis menyebabkan keracunan massal 33 orang di satu

lingkungan Kota Amerika Serikat dalam sebuah acara yang digambarkan dalam pers

populer sebagai wabah "zombie" karena munculnya orang-orang yang mabuk. Setelah

Dilakukan pengujian pada serum, darah utuh, dan sampel urin dari 8 pasien di antara 18

yang dibawa ke rumah sakit setempat serta menguji sampel produk "dupa" herbal "AK-

47 24 Karat Gold," yang terlibat dalam wabah tersebut. Sampel dianalisis dengan

menggunakan LC-QTOF/MS singkatan dari liquid chromatography-quadrapole time-of-

flight mass spectrometry, menghasilkan cannabinoid metil sintetis 2- (1- (4-

Fluorobenzyl) -1H-indazole-3-karboksamido) -3-methylbutanoate (AMB-FUBINACA,

juga dikenal sebagai MMB-FUBINACA atau FUB-AMB) dan diidentifikasi kadar AK-

47 24 Karat Gold dengan konsentrasi rata-rata 16,0 ± 3,9 mg per gram.

AMB-FUBINACA adalah contoh dari kelas yang muncul dari “ultrapotent”

cannabinoids sintetis dan menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Potensi AMB-

FUBINACA mirip dengan efek depresan SSP yang kuat yang menyebabkan perilaku

"mirip zombie" pada pengguna yang dilaporkan dalam keracunan massal ini.

Sintetik cannabinoid pada mulanya disintesa oleh seorang doktor di bidang

kimia organik yang bernama Jhon W. Huffman yang merupakan seorang ahli riset dari

universitas Clemson di Amerika. Jhon W. Huffman dan timnya pada tahun 1990-an

17
telah berhasil mensintesa sekitar 20-an jenis sintetik cannabinoid. Latar belakang

penelitiannya adalah pencarian terhadap obat-obatan sintetis yang mampu

menyembuhkan penyakit multisklerosis, pereda nyeri pada pasien HIV/AIDS maupun

pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Ia dan timnya sama sekali tidak menduga

hasil risetnya ini ternyata sekarang banyak disalahgunakan sebagai narkoba yang

berbahaya bagi pemakainya.

Cannabinoid sintetis dilarutkan menjadi bentuk larutan, dimasukkan pada

substrat herbal inert, dan dikonsumsi dengan cara dibakar seperti rokok yang mirip

dengan ganja. Dalam 8 tahun terakhir, Cannabinoid sintetis dikaitkan dengan efek

samping yang serius. Efek buruk yang paling sering dilaporkan oleh pengguna

diantaranya rasa kantuk, rasa ringan seperti melayang, dan detak jantung cepat atau

tidak teratur. Manifestasi klinis yang lebih parah, diantaranya psikosis, delirium,

kardiotoksisitas, kejang, cedera ginjal akut, hipertermia, dan kematian.

Penelitian telah menunjukkan bahwa cannabinoids sintetik (SC) yang 2 untuk

100 kali lebih kuat daripada Δ9-tetrahydrocannabinol. Di satu sisi, ini berarti bahwa efek

menguntungkan ganja juga bisa dialami dengan cannabinoid sintetik, dan efek ini

termasuk anti-inflamasi, anti-kejang, analgesik dan efek pertumbuhan anti-kanker.

Sama seperti yang terjadi secara alami THC, SC dapat menginduksi keadaan relaksasi

dan euforia, dapat meningkatkan denyut jantung dan membantu satu "disconnect" dari

kehidupan nyata.

Di sisi lain, itu berarti bahwa cannabinoids sintetis dapat menjadi lebih

berbahaya daripada senyawa alami, Efek samping yang dilaporkan bahan kimia ini

termasuk: pusing dan agitasi, pikiran balap, mulut kering, jantung berdebar, napas cepat

18
dan nyeri dada, kejang, halusinasi, kebingungan, mual dan muntah. penggunaan jangka

panjang dapat menyebabkan gagal ginjal dan serangan jantung.

Sejauh ini, beberapa senyawa/golongan Cannabinoid sintetik telah digunakan

untuk tujuan pengobatan dibalik efek sampingnya yang banyak memiliki efek buruk

bagi tubuh. Seperti Rimonabant (Acomplia®) merupakan sebuah antagonis reseptor

CB1 selektif yang digunakan untuk mengobati obesitas untuk beberapa waktu, namun

ditarik dari pasar karena menunjukkan efek samping yang parah, Nabilone (Cesamet®)

merupakan sebuah cannabinoid sintetis yang digunakan untuk pengobatan anoreksia

dan efek antiemetik tersebut; (misalnya pada pasien kanker di bawah kemoterapi), dan

Dronabinol (Marinol®) merupakan sintetik yang memproduksi THC murni yang

diterapkan pada beberapa pasien sclerosis (penyakit progresif yang muncul akibat

sistem kekebalan tubuh yang secara keliru menyerang selaput pelindung saraf atau

mielin dalam otak dan saraf tulang belakang) dan pasien yang menderita rasa sakit yang

parah.

Namun, sejauh ini belum ditemukan juga penelitian lebih lanjut mengenai efek

baik AMB-FUBINACA yang merupakan golongan sintesis Cannabinoid untuk

digunakan sebagai suatu pengobatan.

19
B. Saran Menurut Pendapat Saya

AMB-FUBINACA merupakan suatu zat psikoaktif baru yang pengunaannya

disalah gunakan dalam masyarakat. Zat-zat yang tergolong sebagai synthetic

cannabinoid sendiri biasanya memang sering disalahgunakan meski diakui memiliki

beragam manfaat medis.

Menurut pendapat saya, seiring bertambahnya jumlah dan zat psikoaktif baru,

jenis koordinasi dari berbagai lembaga ini penting sekali untuk dilakukan untuk

penyelesaian wabah yang tepat waktu di masa depan dan juga segera mungkin

menyebarluaskan zat psikoaktif baru yang telah di temukan dalam masyarakat.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Dunia laporan obat 2015. Wina: Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan,
2015.
2. Pusat Pemantauan Eropa untuk Obat dan Ketergantungan Obat. Zat psikoaktif
baru di Eropa: update dari Uni Eropa Sistem Peringatan Dini. Luksemburg:
Publikasi Kantor Uni Eropa, 2016.
3. Pemantauan Pusat Eropa untuk Obat dan Ketergantungan Obat. EMCDDA-
Europol 2015 laporan tahunan pada implementa-tion Keputusan Dewan
2005/387 / JHA. Luksemburg: Publikasi Kantor Uni Eropa, 2016.
4. Mechoulam R, Gaoni Y. Sebanyak syn-tesis dari dl-delta-1-
tetrahydrocannabinol, konstituen aktif ganja. J Am Chem Soc 1965; 87: 3273-5.
5. Banister SD, Stuart J, Kevin RC, et al. Efek fluor bioisosteric di synthet-ic obat
cannabinoid desainer JWH-018, AM-2201, UR-144, XLR-11, PB-22, 5F-PB-
22, APICA, dan STS-135. ACS Chem Neurosci 2015; 6: 1445-1458.
6. Banister SD, Moir M, Stuart J, et al. Farmakologi dari indole dan indazole syn-
sintetik obat cannabinoid desainer AB- FUBINACA, ADB-FUBINACA, AB-
PINACA, ADB-PINACA, 5F-AB-PINACA, 5F-ADB-PINACA, ADBICA, dan
5F-ADBICA. ACS Chem Neurosci 2015; 6: 1546-1559.
7. Longworth M, Banister SD, Mack JB, Kaca M, Connor M, Kassiou M. The 2-
alkil-2H-indazole regioisomers dari syn-sintetik cannabinoids AB-
CHMINACA, AB-FUBINACA, AB-PINACA, dan 5F-AB-PINACA yang
mungkin kotoran manufaktur dengan kegiatan cannabimimetic. Forensik
Toxicol 2016; 34: 286-303.
8. Banister SD, Longworth M, Kevin R, et al. Farmakologi dari valinate dan ters-
leu-cinate cannabinoids sintetis 5F-AMBICA, 5F-AMB, 5F-ADB, AMB-
FUBINACA, MDMB-FUBINACA, MDMB-CHMICA, dan analog mereka.
ACS Chem Neurosci 2016; 7: 1241-1254.
9. Auwärter V, Dresen S, Weinmann W, Müller M, Putz M, Ferreiros N. 'Spice'
dan campuran herbal lainnya: dupa berbahaya atau desainer cannabinoid obat? J
Mass Spec-trom 2009; 44: 832-7.

21
10. Drug Enforcement Administration. Bahan kimia yang digunakan dalam
“bumbu” dan “K2” jenis produk sekarang di bawah kontrol federal dan
peraturan: DEA akan mempelajari apakah untuk per-manently kontrol lima zat.
1 Maret 2011(https://www.dea.gov/pubs/pressrel/ pr030111.html).
11. Tertinggi Nichols D. Hukum: sisi gelap kimia obat. Nature 2011; 469: 7.
12. Winstock AR, Barrett M, Ferris J, Maier L. Obat Global Survey 2016: apa yang
kita pelajari dari GDS2016. London: Obat Global Sur-vey, 2016 (https:
//www.globaldrugsurvey.com / wp-content / uploads / 2016/06 / pengecap -
Key-TEMUAN-DARI-GDS2016.pdf).
13. Auwärter V, Dargan PI, Wood DM. Sintetis cannabinoid agonis reseptor.
Dalam: Dargan PI dan Kayu DM, eds. Zat psikoaktif Novel: klasifikasi,
farmakologi, dan toksikologi. London: Elsevier Academic Press, 2013: 317-43.
14. Vandrey R, Dunn KE, Fry JA, Girling ER. Sebuah penelitian survei untuk
mengkarakterisasi penggunaan produk Spice (cannabinoids sintetis). Obat
Alkohol Tergantung 2012; 120: 238-41.
15. Barratt MJ, Cakic V, Lenton S. Pat-terns penggunaan cannabinoid sintetis di
Aus-tralia. Obat Alkohol Rev 2013; 32: 141-6.
16. Buser GL, Gerona RR, Horowitz BZ, et al. Cedera ginjal akut terkait dengan
cannabinoid sintetik merokok. Clin Tox-icol (Phila) 2014; 52: 664-73.
17. Schwartz MD, Trecki J, Edison LA, Steck AR, Arnold JK, Gerona RR. Sebuah
wabah sumber com-mon delirium parah yang berhubungan dengan paparan
novel syn-sintetik cannabinoid ADB-PINACA. J Emerg Med 2015; 48: 573-80.
18. Trecki J, Gerona RR, Schwartz MD. Sintetis penyakit yang berkaitan dengan
cannabinoid dan kematian. N Engl J Med 2015; 373: 103-7.
19. Wiley JL, Lefever TW, Marusich JA, et al. Evaluasi generasi pertama
cannabinoids sintetis pada mengikat pada reseptor non-cannabi-noid dan baterai
dari in vivo tes pada tikus. Neuropharmacology 2016; 110: 143-53.
20. Rominger A, Cumming P, Xiong G, et al. Efek detoksifikasi akut campuran
herbal 'Spice Emas' pada ketersediaan dopamin D2 / 3 reseptor: a [18F]
fallypride studi PET. Eur Neuropsychopharmacol 2013; 23: 1606-1610.

22
21. Buchler IP, Haye MJ, Egde SG, et al, penemu;.. Pfizer Inc, penerima
pengalihan. Derivatif indazole. Tidak ada paten Intl. PCT / IB2009 / 26 Februari
000432. 2009.
22. Uchiyama N, Matsuda S, Wakana D, Kikura-Hanajiri R, derivatif indazole
Goda Y. New cannabimi-metic, N- (1-amino-3-metil-1-oxobutan- 2-yl) -1-
pentil-1H-indazole-3-carboxamine (AB-PINACA) dan N- (1-amino-3-metil-1-
oxobutan-2-yl) -1- (4-Fluorobenzyl) - 1H-indazole-3-carboxa mide (AB-
FUBINACA) diidentifikasi sebagai obat de-penandatangan dalam produk ilegal.
Forensik Toxicol 2013; 31: 93-100.
23. Drug Enforcement Administration, Departemen Kehakiman. Jadwal zat yang
dikendalikan: perpanjangan penempatan tempo-rary dari PB-22, 5F PB-22, AB-
FUBINACA dan ADB-PINACA dalam Jadwal I zat yang dikendalikan
bertindak. Perintah terakhir. Fed Regist 2016; 81: 6175-7.
24. DHH menambahkan dua senyawa mari-juana sintetis baru ke daftar dilarang.
Baton Rouge: Louisiana Departemen Kesehatan. 3 Juli 2014
(http://new.dhh.louisiana.gov/ index.cfm / ruang berita / detail / 3059).
25. Rosenberg E, Schweber N. 33 Tersangka-ed dari kelebihan dosis ganja sintetis
di Brooklyn. Waktu New York. 12 Juli 2016
(http://www.nytimes.com/2016/07/13/ nyregion / k2-sintetis-ganja-overdosis-in-
brooklyn.html).
26. Holpuch A. Lebih dari 30 orang jatuh sakit di overdosis obat massal jelas di
New York. Penjaga. July 13, 2016 (http:// www.theguardian.com/us-
news/2016/jul/13/ more-than-30-people-fall-ill-in-apparent -mass-drug-
overdose-in-new-york).
27. Akamatsu S, Yoshida M. Fragmentation of synthetic cannabinoids with an
isopro-pyl group or a tert-butyl group ionized by electron impact and
electrospray. J Mass Spectrom 2016;51:28-32.
28. A look so far into my use of FUB-AMB. Reddit research chemicals forum, 2016
(http://www.reddit.com/r/research chemicals/comments/4dre6j/a_look_so_far
_into_my_use_of_fubamb/).
29. Andersson M, Diao X, Wohlfarth A, Scheidweiler KB, Huestis MA. Metabolic
profiling of new synthetic cannabinoids AMB and 5F-AMB by human

23
hepatocyte and liver microsome incubations and high-resolution mass
spectrometry. Rapid Com-mun Mass Spectrom 2016;30:1067-78.
30. Shanks KG, Behonick GS. Death after use of the synthetic cannabinoid 5F-
AMB. Forensic Sci Int 2016;262:e21-4.
31. Tyndall JA, Gerona R, De Portu G, et al. An outbreak of acute delirium from
expo-sure to the synthetic cannabinoid AB-CHMINACA. Clin Toxicol (Phila)
2015;53: 950-6.

24